Anda di halaman 1dari 4

WARTA-WIPTEK, Volume 17 Nomor : 01 Januari 2009, ISSN 0854-0667

23

EFEK EKSTRAK DAUN LEGUNDI (Vitex trifolia) TERHADAP MORTALITAS ULAT


GRAYAK (Spodoptera litura)
Oleh : R a h a y u M.1)

ABSTRACT
The objectives of the experiment to understand the effect of legundi leaves extract on armyworm
(S. litura) mortality. The experiment was conducted in green house faculty of Agriculture Haluoleo
University. The experiment was arranged in randomized block design, with five level treatments ie: not
extract of legundi leaves (Ao), 100g extract of legundi leaves (A1),150g extract of legundi leaves (A2),
200g extract of legundi leaves (A3) and Decis 2,5 EC appriate of dosage recommendation.
Result at experiment show that application of legundi leaves can be push down the attack of
armyworm. The higher application the concentration of the legundi leaves extract being the higher on
armyworm mortality.
Key words : mortality, legundi leaves, armyworm.

PENDAHULUAN
Kedelai (Glycine max L Merr.)
merupakan tanaman kacang-kacangan yang
sangat dikenal oleh masyarakat dan
memiliki peranan penting dalam upaya
peningkatan
gizi
keluarga
karena
mengandung protein 48%, lemak 19% dan
karbohidrat 24%, juga dapat dijadikan
sebagai bahan baku industri untuk
pembuatan cat, vernis, tinta dan antibiotik.
Selain itu dapat dijadikan sebagai pakan
ternak
dalam
bentuk
bungkil
(Pracaya,1995).
Nilai prospek ekonomi dari kedelai
yang cukup baik menyebabkan budidaya
tanaman tersebut cukup intensif dilakukan
petani. Dalam upaya budidaya tanaman
kacang kedelai, hambatan utama yang
dihadapi oleh petani adalah gangguan hama
dan penyebab penyakit.
Banyak jenis hama yang ditemukan
pada pertanaman kedelai. Salah satu hama
yang sering merusak tanaman kedelai adalah
ulat grayak (Pracaya,1995).
Pengendalian
hama
kedelai
umumnya
masih
dilakukan
dengan
menggunakan pestisida sintetik. Penggunaan
pestisida yang tidak bijaksana akan
mengakibatkan dampak negatif, seperti
timbulnya strain hama yang resisten,
resurgensi hama, terbunuhnya musuh alami,
1

dan organisme bukan sasaran, masalah


residu dan pencemaran lingkungan (Untung,
1993). Oleh karena itu perlu alternatif
pengendalian lain yang ramah lingkungan.
Alternatif yang perlu dicobakan
adalah dengan menggunakan pestisida yang
berasal dari tumbuhan karena mudah terurai
di alam. Apabila diperoleh suatu cara yang
tepat, maka bahan dari tumbuhan tersebut
dapat dikembangkan menjadi usahatani
industri (Kardinan, 1999).
Vitex trifolia mempunyai potensi
untuk dimanfaatkan sebagai pestisida nabati,
bagian tanaman yang dapat digunakan daun
dan batang. Daun legundi mengandung
minyak atsiri dan alkaloid. Kandungan
alkaloid pada daun 8,7% dan kandungan
minyak atsiri pada daun berkisar 0,28%
(Heyne, 1978). Efektivitas daun legundi
dalam menekan serangan hama belum
diketahui secara pasti, oleh karena itu sangat
dibutuhkan penelitian untuk mengetahui
efek ekstrak daun legundi terhadap
mortalitas S. litura.
Penelitian
bertujuan
untuk
mengetahui efek berbegai konsentari ekstrak
daun legundi dalam menekan serangan
S.litura.

WARTA - WIPTEK, Volume 17 Nomor : 01 Januari 2009, ISSN 0854-0667

) Staf Pengajar pada Jurusan Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Haluoleo, Kendari.

23

24

BAHAN DAN METODE

Tempat dan Waktu


Penelitian ini berlangsung selama tiga bulan
dimulai sejak Maret sampai Mei 2008.
Bahan dan Alat
Bahan yang digunakan dalam
penelitian ini yaitu : benih kacang kedelai,
serangga uji S. litura, daun legundi (Vitex
trifolia), kangkung segara (Ipomea aquatica
L.), madu 10%, aquades, polybag, tanah,
pupuk kandang dan pasir.
Alat yang digunakan yaitu stoples
plastik, kain terico, karet gelang, parang,
timbangan, kuas kecil dan alat tulis menulis.
Rancangan Penelitian
Rancangan penelitian ini disusun
berdasarkan Rancangan Acak Kelompok
(RAK) yang terdiri atas lima perlakuan
yaitu:
L0 = perlakuan kontrol;
L1 = ekstrak daun legundi 100g/300ml air;
L2= ekstrak daun legundi 150g/300ml air;
L3 = ekstrak daun legundi 200g/300ml air;
L4 = Decis 2,5 EC= 0,5 ml-1. Setiap
perlakuan diulang tiga kali.
Perbanyakan Serangga Uji
Serangga uji diperoleh dari lapang
selanjutnya dibiakkan di laboratorium. Larva
tersebut dimasukkan ke dalam kurungan
serangga yang berukuran 70cm x 50cm.
Larva diberi pakan daun kangkung segar dan
diganti setiap hari untuk menjaga kesegaran
dan kebersihan kurungan pemeliharaan .
Ketika larva memasuki instar terakhir
dipindahkan ke kurungan yang lain dan
dasar kurungan diberi tanah untuk larva
tersebut berkepompong. Ngengat yang
terbentuk diberi larutan madu 10% yang
diserapkan pada kapas sebagai pakannya.
Serangga tersebut dipelihara sampai
generasi kedua (F2) untuk digunakan
sebagai serangga uji.
Ekstrak daun legundi dilakukan
dengan cara yaitu daun legundi dikeringkan
lalu ditumbuk sampai halus kemudian
ditambahkan 300ml air dan didiamkan
selama 24 jam, setelah itu disaring dan siap
untuk diaplikasikan.

Persiapan Media Tanaman


Media tanam yang digunakan adalah
polybag dengan perbandingan tanah, pupuk
kandang dan pasir 1:1:1. Benih ditanam
sebanyak tiga biji per polybag. Jarak antara
perlakuan 0,5m sedang jarak antar kelompok
1m. Penyiraman dilakukan setiap pagi dan
sore hari. Penyiangan dilakukan dengan
mencabut gulma yang ada di sekitar
tanaman.
Investasi Serangga Uji ke Tanaman
Investasi serangga pada saat
tanaman berumur empat minggu dengan
masing-masing 10 ekor larva per polybag.
Aplikasi Perlakuan
Aplikasi dilakukan sesuai dengan
perlakuan yang telah ditentukan. Aplikasi
dilakukan satu hari setelah investasi
serangga uji.
Pengamatan
Pengamatan dilakukan terhadap
mortalitas S litura yaitu 12 jam , 24 jam, 36
jam dan 48 jam setelah aplikasi. Mortalitas
seragga uji dapat dihitung dengan persamaan
(Prijono,1988)

A
P = ------------------------- x 100%
B
P = Persentase mortalitas
A = Jumlah serangga yang mati
B = Jumlah serangga yang diamati

Analisis Data
Data
dianalisis
dengan
menggunakan sidik ragam dan dilanjutkan
dengan Uji Beda Nyata Terkecil (BNT) pada
taraf kepercayaaan 95%.

HASIL DAN PEMBAHASAN


Berdasarkan
hasil
penelitian
diperoleh rata-rata mortalitas S. litura pada
12, 24, 36 dan 48 jam setelah aplikasi seperti
pada Tabel.

WARTA - WIPTEK, Volume 17 Nomor : 01 Januari 2009, ISSN 0854-0667

25

Tabel. Rata-Rata Mortalitas S. litura pada 12, 24, 36 dan 48 jam Setelah Aplikasi (JAS)
Perlakuan
Rata-rata mortalitas S. litura ( JAS)
1
24
36
48
A0 = Kontrol
x
0,00
0,00
0,00
0,00
Y
0,99e
0,99d
0,99d
0,99d
A1 = 100g/300ml air
x
10,00
30,00
40,00
60,00
Y
18,44d
33,00c
39,14c
50,85c
A2 = 150g/300ml air
x
20,00
43,33
50,00
66,66
Y
26,56c
41,07cb
45,00cb
54,78c
A3 = 200g/300ml air
x
36,00
53,33
66,66
83,33
Y
37,22b
47,00b
54,99b
66,14b
A4 = Decis 2,5 EC
x
86,66
100,00
100,00
100,00
Y
89,19a
89,19a
89,19a
89,19a
BNT 95%
5,19
12,03
10,25
6,10
Keterangan : Angka yang diikuti oleh huruf yang sama berbeda tidak nyata pada taraf
kepercayaan 95%.

Berdasarkan Tabel di atas diketahui bahwa


semakin tinggi konsentrasi ekstrak daun
legundi maka semakin tinggi mortalitas S.
litura. Pada pengamatan 12 jam setelah
aplikasi pada berbagai konsentrasi ekstrak
daun legundi masih memperlihatkan
mortalitas yang rendah. Hal ini diduga
karena kandungan bahan aktif yan terdapat
pada
daun
legundi
belum
dapat
memperlihatkan reaksi karena membutuhkan
waktu yang relatif lama dibandingkan
dengan kerja pestisida sintetik
Pada pengamatan 24 jam setelah
aplikasi terjadi peningkatan mortalitas larva,
sedangkan pada perlakuan A4 sudah
menunjukkan mortalitas 100%. Hal ini
disebabkan karena kandungan racun
pestisida sintetis bekerja dengan cepat
dibanding dengan pestisida nabati. Hal ini
sesuai dengan pendapat (Kemala, 1993,
Kardinan, 1999) bahwa pestisida sintetik
hasilnya dapat segera terlihat dan efeknya
dibandingkan dengan pestisida nabati.
Pada perlakuan A3 (200/300 ml air)
menunjukkan mortalitas larva yang lebih
tinggi dibandingkan perlakuan A2 dan A1.
Hal ini diduga karena pada perlakuan A3
konsentrasi
ekstrak
lebih
tinggi
dibandingkan dengan perlakuan A2 dan A1
sehingga kandungan alkaloid dan minyak
atsiri yang terdapat dalam daun legundi pada
perlakuan A3 lebih banyak sehingga
menyebabkan mortalitas larva lebih tinggi
pula.

Pada pengamatan 36 jam setelah


aplikasi, tingkat mortalitas larva semakin
tinggi. Hal ini terlihat pada perlakuan A3
yang mencapai 66,66%, dan pada
pengamatan 48 jam setelah aplikasi tingkat
mortalitas sudah mencapai 83,33% . Hal ini
menunjukkan bahwa penggunaan daun
legundi dapat menekan S. litura dan
memperlihatkan hasil yang hampir sama
dengan perlakuan pestisida sintetik. Jadi
dapat disimpulkan bahwa daun legundi
dapat digunakan sebagai pestisida nabati
untuk menekan S. litura.
Gejala yang nampak pada larva
setelah dilakukan penyemprotaan ekstrak
daun legundi menyebabkan gerakan larva
menjadi lamban, kemampuan makan
berkurang dan mengeluarkan cairan yang
berwarna
hijau.
Selanjutnya
terjadi
perubahan
warna
menjadi
kuning
kecoklatan, coklat kehitaman kemudian
menjadi hitam. Selain itu karena daun
legundi mempunyai bau yang sangat tajam
yang menyebabkan penurunan kemampuan
makan larva. Sebagian larva yang masih
hidup membentuk pupa namun pupa yang
terbentuk tidak sempurna dan tidak sempat
menjadi imago.

KESIMPULAN
Berdasarkan
hasil
penelitian
disimpulkan bahwa ekstrak daun legundi

WARTA - WIPTEK, Volume 17 Nomor : 01 Januari 2009, ISSN 0854-0667

26

dapat dijadikan sebagai pestisida nabati


untuk menekan S. litura. Semakin tinggi
konsentrasi ekstrak daun legundi yang
diberikan semakin tinggi mortalitas larva S.
litura.

DAFTAR PUSTAKA
Heyne, 1978. Tanaman berguna Indonesia Jilid
IV. Departemen Kehutanan Jakarta.

Kardinan,1999. Pestisida Nabati, Ramuan dan


Aplikasi. Penebar Swadaya, Jakarta.
Pracaya , H., 1995. Hama dan Penyakit
Tanaman. Penebar Swadaya, Jakarta.
Kemala, S., 1993. Pemanfaatan Pestisida Nabati
di Indonesia (Harapan dan Tantangan).
Prosiding
Seminar
Pemanfaatan
Pestisida Nabati. Bogor.
Untung,K.1993. Pengantar Pengelolaan Hama
Terpadu. Gadjah Mada University
Press,Yogyakarta.

WARTA - WIPTEK, Volume 17 Nomor : 01 Januari 2009, ISSN 0854-0667