Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kata Reptilia berasal dari kata reptum yang berarti melata. Reptilia merupakan kelompok
hewan darat pertama yang sepanjang hidupnya bernafas dengan paru-paru. Ciri umum kelas ini
yang membedakan dengan Kelas yang lain adalah seluruh tubuhnya tertutup oleh kulit kering
atau sisik. Kulit ini menutupi seluruh permukaan tubuhnya dan pada beberapa anggota ordo atau
sub-ordo tertentu dapat mengelupas atau melakukan pergantian kulit baik secara total maupun
sebagain. Pengelupasan secara total misalnya pada anggota sub-ordo ophidia dan pengelupasan
sebagian pada anggota sub-ordo lacertilia. Sedangkan pada ordo chelonia dan crocodilia sisiknya
hampir tidak pernah mengalami pergantian atau pengelupasan. Kulit pada Reptil memiliki sedikit
sekali kelenjar kulit.
Reptilia termasuk dalam vertebrata yang pada umumnya tetrapoda, akan tetapi pada
beberapa diantaranya tungkainya mengalami reduksi atau hilang sama sekali seperti pada
serpentes dan sebagian lacertilia. Reptilia yang tidak mengalami reduksi tungkai umumnya
memiliki 5 jari atau Pentadactylus dan setiap jarinya bercakar. Rangkanya pada Reptilia
mengalami osifikasi sempurna dan bernafas dengan paru-paru.
Semua Reptil bernafas dengan paru-paru. Jantung pada Reptil memiliki 4 lobi, 2 atrium
dan 2 ventrikel. Pada beberapa Reptil sekat antara ventrikel kanan dan ventrikel kiri tidak
sempurna sehingga darah kotor dan darah bersih masih bisa bercampur. Reptil merupakan hewan
berdarah dingin yaitu suhu tubuhnya bergantung pada suhu lingkungan atau poikiloterm. Untuk
mengatur suhu tubuhnya, Reptil melakukan mekanisme basking yaitu berjemur di bawah sinar
matahari. Saluran ekskresi Kelas Reptilia berakhir pada kloaka. Ada dua tipe kloaka yang
spesifik untuk ordo-ordo reptilia. Kloaka dengan celah melintang terdapat pada ordo squamata
yaitu sub-ordo lacertilia dan sub-ordo ophidia. kloaka dengan celah membujur yaitu terdapat
pada ordo chelonia dan ordo crocodilia.
Pada anggota lacertilia, lidah berkembang baik dan dapat digunakan sebagai ciri penting
untuk identifikasi. Semua Reptil memiliki gigi kecuali pada ordo testudinata. Pada saat
1

jouvenile, Reptil memiliki gigi telur untuk merobek cangkang telur untuk menetas, yang
kemudian gigi telur tersebut akan tanggal dengan sendirinya saat mencapai dewasa. Beberapa
jenis reptil memiliki alat pendengaran dan ada yang yang dilengkapi telinga luar ataupun tidak.
Pada beberapa jenis lainnya, alat pendengaran tidak berkembang. Mata pada Reptil ada yang
berkelopak dan ada yang tidak memiliki kelopak mata. Kelopak mata pada reptil ada yang dapat
digerakkan dan ada yang tidak dapat digerakkan dan ada juga yang berubah menjadi lapisan
transparan.
Penyu

merupakan

reptil

yang

hidup

di

laut

serta

mampu

dalam jarak yang jauh di sepanjang kawasan Samudera Hindia, Samudra Pasifik dan

bermigrasi
Asia

Tenggara. Keberadaannya telah lama terancam, baik dari alam maupunkegiatan manusia yang
membahayakan populasinya secara langsung maupuntidak langsung. Jumlah ini sebenarnya
masih menjadi perdebatan karena Nuitja(1992) menyebutkan hanya lima jenis yang ditemukan,
dimana Caretta caretta dinyatakan tidak ada. Namun demikian, beberapa peneliti
mengungkapkan bahwa Caretta caretta memiliki daerah jelajah yang meliputi Indonesia
(Limpus et al.1992, Charuchinda et al. 2002).
Pergeseran fungsi lahan yang menyebabkan kerusakan habitat pantai danruaya pakan,
kematian penyu akibat kegiatan perikanan, pengelolaan teknik-teknik konservasi yang tidak
memadai, perubahan iklim, penyakit, pengambilan penyu dan telurnya serta ancaman predator
merupakan factor penyebab penurunan populasi penyu.
Selain itu, karakteristik siklus hiduppenyu sangat panjang (terutama penyu hijau, penyu sisik dan
penyu tempayan) dan untuk mencapai kondisi stabil (kelimpahan populasi konstan selama 5
tahun terakhir) dapat memakan waktu cukup lama sekitar 30 40 tahun, maka sudah
seharusnya pelestarian terhadap satwa langka ini menjadi hal yang

mendesak. Kondisi inilah

yang menyebabkan semua jenis penyu di Indonesia diberikan status dilindungi oleh Negara
sebagaimana tertuang dalam PP Nomor 7 tahun 1999 tentangPengawetan Jenis-jenis Tumbuhan
dan Satwa yang Dilindungi.
1.2 Rumusan Masalah
Rumusan masalah dari makalah ini adalah sebagai berikut:
2

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Bagaimana evolusi pada reptil


Bagaimana struktur morfologi dan anatomi dari ordo testudinata ?
Bagaimana Fisiologi pada ordo Testudinata
Bagaimana klasifikasi kelas ordo Testudinata (chelonia)?
Bagaimana Reproduksi pada testudinata (chelonia) ?
Bagaimana system peneluran pada chelonia ?
Bagaimana siklus hidup pada chelonia ?
Apa manfaat dari ordo testudinata bagi kehidupan?

1.2 Tujuan
Tujuan dari makalah ini adalah sebagai berikut:
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Mengetahui evolusi pada reptil ?


Mengetahui struktur morfologi dan anatomi dari ordo testudinata ?
Mengetahui Fisiologi pada ordo Testudinata
Mengetahui sistem pengklasifikasian kelas ordo Testudinata (chelonia)?
Mengetahui Reproduksi pada testudinata (chelonia) ?
Mengetahui system peneluran pada chelonia ?
Mengetahui siklus hidup pada chelonia ?
Mengetahui manfaat dari ordo testudinata bagi kehidupan?

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Evolusi Reptil
Evolusi Reptilia

Fosil reptilia tertua ditemukan di batuan yang berasal dari akhir masa karboniferus , berumur
sekitar 300 juta tahun. Leluhurnya adalah salah satu amfibia di masa Devon. Dalam dua
gelombang besar radiasi adaptif, reptilia menjadi vertebrata darat yang dominan dalam suatu
dinasti yang bertahan selama lebih 200 juta tahun.
Penyebaran reptilia utama pertama kali terjadi pada awal masa premium, yaitu masa terakhir
Paleozoikum, dan menjadi dua cabang evolusi utama yaitu
1.

Sinapsida, cabang tersebut meliputi beranekaragam reptilian yang mirip mamalia yang

disebut terapsida, tremasuk organism yang merupakan leluhur mamalia.


2.

Sauropsida, cabang tersebut menghasilkan semua amniota modern kecuali mamalia.

Sauropsida terbagi mrenjadi dua sub cabang relative awal dalam sejarahnya :
a.

Anapsida, kura-kura adalah satu-satunya jenis yang selamat dari kelompok reptilia.

b.

Diapsida, kadal, ular, dan buaya adalah diapsida yang masih hidup saat ini yang

diklasifikasikan sebagai reptilia. Dinosaurus dan beberapa kelompok reptilia lain yang sudah
punah juga merupakan anggota diapsida . Analisis kladistik memberikan buktio yang kuat bahwa
burung adalah kerabat terdekat yang masih hidup bagi dinosaurus yang sudah punah tersebut .
Dinosaurus dan Pterosaurus. Radiasi reptilia yang paling besar terjadi untuk kedua
kalinya.Selama akhir masa trias (sedikit lebih dari 200 juta tahun silam) dan terutama ditandai
asal mula keanekaragaman dua kelompok reptilia : dinosaurus yang hidup di darat, pterosaurus,
atau reptilia terbang. Kelompok ini merupakan vertebrata yang dominan di bumi selama jutaan
tahun. Pterosaurus memiliki sayap terbentuk dari membran kulit yang diregangkan pada dinding
tubuh, sepanjang tungkai depan, sampai ke ujung jari yang memanjang. Serat kaku memberikan
penyokong bagi kulit sayap. Dinosaurus, suatu kelompok yang sangat beranekaragam dalam hal
bentuk tubuh, ukuran, dan habitat, termasuk hewan terbesar yang pernah menghuni daratan.
Berlawanan yang selama ini berlaku bahwa dinosaurus adalah makhluk yang lamban,
terdapat semakin banyak bukti bahwa banyak dinosaurus yamh merupakan hewan yang sangat
lincah,bergerak cepat, dan pada beberapa spesies bersifat sosial para ahli paleontologi juga telah
menemukan taanda-tanda adanya pengasuhan oleh induk pada dinosaurus. Pedebatan terus
berlangsung mengenai topic apakah dinosaurus merupakan hewan indotermik, yang mampu
4

mempertahankan suhu tubuh tetap konstan melalui metabolisme. Beberapa bukti anatomis
menndukung hipotesis ini tetapi debagian ahli sangat meragukannya. Iklim saat zaman
Mesozoikum relatif hangat dan tetap,dan daptasi tingkah laku seperti berjemur mungkin telah
cukup nutuk mempertahankan suhu tubuh yang, khususnya bagi dinosaurus darat. Selain itu,
sinosaurus besar memiliki rasio luas permukaan tubuh terhadap volume tubuh yang kecil
sehingga mengurangi pengaruh fluktuasi suhu udara terhadap suhu internal hewan itu.
Selama masa kretaseus, masa terakhir zaman Mesozoikum, iklim menjadi lebih sejuk dan lebih
bervariasi. Ini merupakan periode kepunahan missal dan kecuali untuk beberapa dinosaurus yang
bertahan hidup sampai keawal zaman Senozoikum, seemua reptilia tarsebut punah pada akhir
kretaseus.
2.2 Struktur Morfologi dan Anatomi Chelonia
2.2.1

Struktur Morfologi
Secara

morfologi, penyu

mempunyai keunikan-keunikan tersendiri dibandingkan

hewan-hewan lainnya. Tubuh penyu terbungkus oleh tempurung atau karapas keras yang
berbentuk pipih serta dilapisi oleh zat tanduk. karapas tersebut mempunyai fungsi sebagai
pelindung alami dari predator. Penutup pada bagian dada dan perut disebut dengan plastron. Ciri
khas penyu secara morfologis terletak pada terdapatnya sisik infra marginal (sisik yang
menghubungkan antara karapas, plastron dan terdapat alat gerak berupa flipper. Flipper pada
bagian depan berfungsi sebagai alat dayung dan flipper pada bagian belakang befungsi sebagai
alat kemudi. Pada penyu-penyu yang ada di Indonesia mempunyai ciri-ciri khusus yang
dapat dilihat dari warna tubuh, bentuk karapas, serta jumlah dan posisi sisik pada badan dan
kepala penyu. Penyu mempunyai alat pecernaan luar yang keras, untuk mempermudah
menghancurkan, memotong dan mengunyah makanan.
Leher yang berlipat
Penyu sisik laut dapat menarik leher mereka ke dalam tempurungnya (the Cryptodira, yang dapat
menarik leher mereka dan melipatnya dibawah spine-nya; dan Pleurodira, yang dapat melipat
leher mereka ke samping)
Kepala
5

Penyu sisik memiliki kelenjar dekat matanya yang menghasilkan air mata bergaram yang
berfungsi untuk membuang garam berlebih dari tubuhnya yang diambil dari air yang mereka
minum. penyu sisik memiliki keistimewaan berupa kemampuan penglihatan malam hari yang
hebat yang disebabkan oleh sejumlah besar sel batang pada retina mereka. penyu memiliki
penglihatan warna dengan kekayaan subtipe cone dengan sensitivitas antara hampir Ultraviolet
(UV A) hingga Merah. Penyu sisik memiliki sebuah mulut lebar yang kokoh. Penyu sisik
menggunakan rahangnya untuk memotong dan mengunyah makanan. Sebagai pengganti gigi,
rahang atas dan bawah pada penyu sisik dilapisi oleh deretan tulang yang keras. Penyu sisik
menggunakan lidahnya untuk membantu mengunyah makanan, tapi mereka tidak dapat, tidak
seperti kebanyakan reptil, menjulurkan lidahnya untuk menangkap makanan.
Tempurung
Tempurung penyu sisik bagian atas disebut carapace. Tempurung bagian bawah yang
membalutnya disebut plastron. Carapace dan plastron tersambung pada sisi-sisi penyu sisik oleh
strukur tulang yang disebut bridges. Lapisan bagian dalam pada penyu sisik terbuat dari sekitar
60 tulang yang meliputi porsi tulang belakang dan rusuk, yang berarti bahwa penyu sisik tidak
dapat merangkak keluar dari tempurungnya. Pada penyu sisik, lapisan luar tempurung dilapisi
oleh sisik-sisik keras yang disebut scute yang merupakan bagian dari kulit luarnya, atau
epidermis. Scute terbuat dari protein berserat yang disebut keratin yang juga membentuk sisik
pada reptil lainnya. Scute ini tumbuh melebihi lapisan-lapisan antara tulang-tulang tempurung
dan menambah kekuatan tempurung. penyu sisik tidak memiliki scute yang keras.

Kulit dan pergantian kulit


Seperti yang telah dijelaskan di atas, lapisan luar tempurung adalah bagian dari kulit, masingmasing scute (atau piring) pada tempurung merupakan sebuah sisik yang termodifikasi.
Tempurung tersebut terdiri dari kulit dengan sisik-sisik yang lebih kecil, sama seperti kulit reptil
lainnya. Penyu sisik tidak berganti kulit dalam satu kali proses, seperti yang dilakukan oleh ular,
tapi secara berlanjut, dalam potongan-potongan yang kecil (terkadang terlihat seperti potongan
plastik tipis).

Anggota badan
Penyu sisik dan memiliki kaki berbentuk dayung (flipper) sebagai pengganti kaki. Penyu
terbang dalam air, menggunakan gerakan naik-turun pada kaki dayung depan untuk
menciptakan gaya dorong; kaki belakang tidak digunakan untuk berenang tapi mungkin
digunakan untuk penyeimbang. Penyu jantan biasanya tidak pernah meninggalkan lautan,
sedangkan betina harus naik ke daratan untuk menetaskan telur. Mereka bergerak sangat lamban,
menyeret badan mereka dengan kaki dayungnya. Kaki dayung belakang mereka digunakan untuk
menggali lubang telur dan mengisinya kembali dengan pasir ketika telur-telurnya sudah
ditetaskan.
2.2.2 Struktur Anatomi
2.3 Fisiologi Testudinata
Kura-kura memiliki paru-paru dan menghirup udara. Kemampuan mereka untuk tetap di bawah
air untuk waktu yang lama dapat membuat mereka tampak lebih seperti ikan dengan insang,
tetapi mereka reptil yang harus permukaan untuk bernapas. Ada beberapa adaptasi fisiologi
penyu yang memungkinkan organisme untuk menggunakan oksigen lebih efisien dan menahan
efek samping dari permukaan jarang.
Pernapasan Khusus
Kura-kura dapat mengisi paru-paru mereka sangat cepat ketika mereka permukaan. Penyu
belimbing dapat mengontrol laju napas mereka, mengambil dalam jumlah besar dari udara untuk
mengisi jaringan mereka selama kunjungan dek jarang. Dalam hal ini, mereka agak menyerupai
ikan paus, yang adalah mamalia. Cukup sering, kura-kura hanya akan memerlukan satu napas
sebelum menyelam lagi besar. Penelitian telah menunjukkan lebih dari lima puluh persen paruparu pertukaran kapasitas melalui napas tunggal.
Oksigen Penyimpanan
Beberapa kura-kura bisa tidur selama berjam-jam sambil tetap sepenuhnya terendam. Mereka
dapat berenang jarak jauh antara napas, juga. Hal ini karena darah dan jaringan menyimpan
oksigen lebih mudah daripada yang umum di hewan lain. Mereka memiliki lebih banyak sel
darah merah dan hemoglobin yang lebih untuk transfer oksigen. Otot-otot mereka mengandung
jumlah besar mioglobin, yang mengangkut oksigen lebih banyak sepanjang jaringan selama
berenang panjang. Kura-kura juga menunjukkan kapasitas pembawa oksigen yang luar biasa
dalam paru-paru mereka yang relatif besar. Saat berenang jarak jauh, mereka harus permukaan
untuk udara setiap 20 sampai 30 menit. Pada saat istirahat, mereka dapat hidup dengan anaerob
(tanpa udara) respirasi selama berjam-jam.
7

Resistensi terhadap CO2


Efek samping dari respirasi jarang adalah penumpukan karbon dioksida dalam aliran darah. CO2
ditukar dengan setiap napas yang keluar dari manusia, tetapi kura-kura harus membawa produk
limbah dengan mereka sampai mereka permukaan. Hati penyu memiliki desain tiga-bilik khusus
yang memungkinkan spesies untuk mentolerir penumpukan karbon dioksida.
Metabolisme
Metabolisme penyu lambat. Ini berarti tubuh mereka tidak meminta nutrisi atau oksigen sesering
metabolisme yang cepat. Selain itu, proses internal kura-kura beroperasi secara berbeda selama
penyelaman yang panjang, sistem aliran darah ke sistem otak, jantung dan saraf dan jauh dari
organ-organ lain, yang telah beradaptasi untuk mengatasi kelangkaan oksigen. Dalam beberapa
kasus, denyut jantung bisa lambat untuk kecepatan satu mengalahkan setiap sembilan menit.
Penyu hitam di Teluk California sering mengubur dirinya sendiri di dasar laut dan hibernate
melalui bulan-bulan musim dingin.
Oksigen Tambahan
Beberapa spesies penyu yang mampu membawa air dalam melalui hidung dan mulut dan ekstrak
oksigen tambahan. Lapisan faring pada spesies ini berfungsi sebagai semacam insang
menyediakan sumber-sumber sekunder oksigen. Jenis lain membawa air melalui rongga dekat
anus, yang juga berfungsi seperti insang untuk mengambil oksigen beberapa dari air sekitarnya.
Proses ini tidak menyediakan sebagian besar pasokan oksigen binatang itu mereka hanya
menambah udara yang diambil pada saat bernafas permukaan.
2.4 Klasifikasi Ordo Testudinata
Jenis-jenis Penyu di Indonesia. Ada tujuh spesies penyu di dunia. enam diantaranya ditemukan di
perairan Indonesia. yaitu :
Terbagi 2 famili

: Cheloniidae dan Dermochelidae

Famili Cheloniidae

1. Penyu hijau (Chelonia mydas)


Kingdom
: Animalia
Filum
: Chordata
Sub filum
: Vertebrata
Class
: Reptilia
Sub class
: Anapsida
Ordo
: Testudinata (Hirth, 1971)
Sub ordo
: Cryptonia
Famili
: Cheloniidae
Genus
: Chelonia
8

Spesies

: Chelonia mydas

2. Penyu sisik (Eretmochelys imbricata)


Kingdom
: Animalia
Phylum
: Chordata
Sub phylum
: Vertebrata
Kelas
: Reptilia
Ordo
: Testudinata
Sub Ordo
: Cryptodira
Family
: Cheloniidae
Genus
: Eretmochelys
Spesies
: Eretmochelys imbricate
3. Penyu Kemps ridley (Lepidochelys kempi)
Kingdom
: Animalia
Phylum
: Chordata
Sub phylum
: Vertebrata
Kelas
: Reptilia
Ordo
: Testudinata
Sub Ordo
: Cryptodira
Family
: Cheloniidae
Genus
: Lepidochelys
Spesies
: Lepidochelys kempi
4. Penyu lekang (Lepidochelys olivacea)
Kingdom
: Animalia
Phylum
: Vertebrata
Class
: Reptilia
Ordo
: Testudinata
Family
: Carettochelyidae
Genus
: Lepidochelys
Spesies
: Lepidochelys olivacea
5. Penyu pipih (Natator depressus)
Kingdom
: Animalia
Phylum
: Chordata
Sub phylum
: Vertebrata
Kelas
: Reptilia
Ordo
: Testudinata
Sub Ordo
:Cryptodira
Family
: Cheloniidae
Genus
: Natator
Spesies
: Natator depressus
6. Penyu tempayan (Caretta caretta)
Kingdom
: Animalia
9

Phylum
Sub phylum
Kelas
Ordo
Sub Ordo
Family
Genus
Spesies

: Chordata
: Vertebrata
: Reptilia
: Testudinata
: Cryptodira
: Cheloniidae
: Caretta
: Caretta caretta

Famili Dermochelidae : Penyu belimbing (Dermochelys coriacea)


Kingdom
: Animalia
Phylum
: Vertebrata
Class
: Reptilia
Ordo
: Testudinata
Family
: Dermochelyidae
Genus
: Dermochelys
Spesies
: Dermochelys coriacea
2.3 Reproduksi

Penyu laut adalah adalah hewan yang menghabiskan hampir seluruh hidupnya di bawah
permukaan laut. Induk betina dari hewan ini hanya sesekali kedaratan untuk meletakkan teluttelurnya di darat pada substrate berpasir yang jauh dari pemukiman penduduk. Untuk penyu
hijau, seekor Induk betina dapat melepaskan telur-telurnya sebanyak 60 150 butir, dan secara
alami tanpa adanya perburuan oleh manusia, hanya sekitar 11 ekor anak yang berhasil sampai
kelaut kembali untuk berenag bebas untuk tumbuh dewasa.
Penyu membutuhkan kurang lebih 15-50 tahun untuk dapat melakukan perkawinan.
Selama masa kawin, penyu laut jantan menarik perhatian betinanya dengan menggosokgosokkan kepalanya atau menggigit leher sang betina. Sang jantan kemudian mengaitkan
tubuhnya ke bagian belakang cangkang si betina. Kemudian ia melipat ekornya yang panjang ke
10

bawah cangkang betina. Beberapa jantan dapat saling berkompetisi untuk merebut perhatian si
betina. Hanya penyu laut betina yang pergi ke pantai untuk bersarang dan menetaskan telurnya.
Penyu laut jantan jarang sekali kembali ke pantai setelah mereka menetas. Penyu laut pergi untuk
menetaskan telurnya ke pantai dimana mereka dulu dilahirkan.
Penyu betina naik ke pantai untuk bertelur. Dengan kaki depannya, mereka menggali lubang
untuk meletakkan telur-telurnya. Kemudian mereka mengisi lubang itu dengan telur-telurnya
sebanyak kurang lebih 100 butir (bahkan mungkin lebih). Kemudian mereka dengan hati-hati
menutup kembali lubang tersebut dengan pasir dan meratakan pasir tersebut untuk
menyembunyikan atau menyamarkan letak lubang telurnya. Setelah proses melelahkan ini
selama kurang lebih 1-3 jam berakhir, mereka kembali ke laut.
Penyu umumnya lambat dan canggung apabila berada di darat, dan bertelur adalah hal
yang sangat melelahkan, Penyu yang sedang bertelur sering terlihat mengeluarkan air mata,
padahal sebenarnya mereka mengeluarkan garam-garam yang berlebihan di dalam tubuhnya.
Beberapa penyu dapat menghentikan proses bertelur apabila mereka terganggu atau merasa
dalam bahaya. Oleh karena itu, sangat penting diketahui bahwa jangan mengganggu penyu yang
sedang bertelur.
E.

Masa Bertelur

Penyu mengalami siklus bertelur yang beragam, dari 2 8 tahun sekali. Sementara penyu
jantan menghabiskan seluruh hidupnya di laut, betina sesekali mampir ke daratan untuk bertelur.
Penyu betina menyukai pantai berpasir yang sepi dari manusia dan sumber bising dan cahaya
11

sebagai tempat bertelur yang berjumlah ratusan itu, dalam lubang yang digali dengan sepasang
tungkai belakangnya. Pada saat mendarat untuk bertelur, gangguan berupa cahaya ataupun suara
dapat membuat penyu mengurungkan niatnya dan kembali ke laut. Penyu yang menetas di
perairan pantai Indonesia ada yang ditemukan di sekitar kepulauan Hawaii. Penyu diketahui
tidak setia pada tempat kelahirannya.
Beberapa peneliti pernah melaporkan bahwa presentase penetasan telur hewan ini secara
alami hanya sekitar 50 % dan belum di tambah dengan adanya beberapa predator-predator lain
saat mulai menetas dan saat kembali kelaut untuk berenang. Tidak banyak regenerasi yang
dihasilkan seekor penyu. Dari ratusan butir telur yang dikeluarkan oleh seekor penyu betina,
paling banyak hanya belasan tukik (bayi penyu) yang berhasil sampai ke laut kembali dan
tumbuh dewasa. Predator alami di daratan misalnya kepiting pantai (Ocypode saratan,
Coenobita sp.), Burung dan tikus. Dilaut, predator utama hewan ini antara lain ikan-ikan besar
yang berada di lingkungan perairan pantai faktor perburuan oleh manusia.

Sejak menetas tukik-tukik akan mencari makan tidak jauh dari pantai tempatnya menetas.
Sampai saat ini para ahli penyu belum mengetahui persis siklus hidup panjang penyu-penyu itu.
Tidak ada yang tahu kemana penyu-penyu kecil itu pergi antara 5-20 tahun. Jadi penyu-penyu
yang

bertelur

sekarang

ini

adalah

penyu-penyu

yang

menetas

30

tahun

lalu.

Di tempat-tempat yang populer sebagai tempat bertelur penyu biasanya sekarang dibangun
stasiun penetasan untuk membantu meningkatkan tingkat kelulushidupan (survival). Di
Indonesia misalnya terdapat stasiun penetasan di:

Pantai selatan Jawa Barat (Pangumbahan, Cikepuh KSPL Chelonia UNAS)


pantai selatan Bali (di dekat Kuta)
Kalimantan Tengah (Sungai Cabang FNPF)
12

pantai selatan Lombok


Jawa Timur (Alas Purwo)
Bengkulu (Retak ilir Muko-muko)

Ancaman terhadap penyu


Sebagian orang menganggap penyu adalah salah satu hewan laut yang memiliki banyak
kelebihan. Selain tempurungnya yang menarik untuk cendramata, dagingnya yang lezat ditusuk
jadi Sate penyu berkhasiat untuk obat dan ramuan kecantikan. Terutama di Tiongkok dan Bali,
penyu menjadi bulan-bulanan ditangkap, disantap, tergusur dari pantai, telurnyapun diambil.
Meski sudah adaPeraturan Pemerintah Nomor 7 tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan
dan Satwa, yang melindungi semua jenis penyu, perburuan terhadap hewan yang berjalan lamban
ini terus berlanjut.
Penyu laut telah mengalami penurunan yang dramatis dalam jumlah populasi dalam jangka
waktu terakhir ini. Bahkan beberapa spesies terancam kepunahan dalam waktu yang dekat. Di
alam, penyu-penyu yang baru menetas menghadapi ancaman kematian dari hewan-hewan seperti
kepiting, burung, dan reptilia lainnya seperti biawak.
Ancaman yang paling besar bagi penyu di Indonesia, seperti juga halnya di seluruh dunia, adalah
manusia. Pembangunan daerah pesisir yang berlebihan telah mengurangi habitat penyu untuk
bersarang. Penangkapan penyu untuk diambil tellur, daging, kulit, dan cangkangnya telah
membuat populasi penyu berkurang. Di beberapa negara, penduduk masih mengambili telur
penyu untuk dikonsumsi. Telur-telur itu dapat ditemui di pasar. Penyu hijau termasuk penyu yang
dimanfaatkan secara berlebihan (over eksploitasi ) oleh penduduk Indonesia. Mereka dibunuh
untuk diambil dagingnya. Bali merupakan konsumer terbesar penyu laut. Mereka menggunakan
penyu dalam upacara-upacara adat mereka. Ribuan penyu telah terbunuh untuk memenuhi
permintaan pasar di Bali.
2.4 Siklus Hidup

13

BAB III
14

KESIMPULAN dan SARAN

3.1 Kesimpulan

Dari pembahasan diatas dapat disimpulkan:


Kelas Reptilia dibagai menjadi 4 ordo, yaitu Rhyncocephalia (contohnya: Tuatara),
Chelonia (contohnya: Penyu, Kura-kura, dan Bulus), Squamata (Contohnya: Serpentes,
Lacertilia, dan Amphisbaena) dan Crocodilia (contohnya: Buaya, Aligator, Senyulong, dan
Caiman).
Chelonia adalah reptilia yang memiliki cangkang. Cangkang bagian atas disebut karapaks,
sedangkan bagian bawahnya disebut plastron. Cangkang merupakan bagian dari tulang belakang
dan modifikasi tulang rusuk yang berfungsi sebagai pelindung dari pemangsanya. Chelonia yang
hidup di laut adalah penyu hijau (Chelonia mydas) dan penyu belimbing (Dermochelys coriacea)
yang memiliki kaki berbentuk dayung untuk berenang. Cangkang chelonia lebih tipis
dibandingkan Chelonia darat. Contoh chelonia darat adalah kura-kura paua (Chelodina
novaeguineae). Chelonia termasuk hewan berumur panjang hingga mencapai 200 tahun.
3.2 Saran
Saran yang dapat kami ajukan dalam makalah ini adalah diharapkan kepada para pembaca
dan juga penulis semoga isi makalah ini dapat menambah hasanah pengetahuan kita mengenai
Zoologi Vertebrata khususnya kelas Reptil pada ordo Testudinata dan penulisan makalah ini
dapat menjadi latihan bagi penulis untuk lebih baik dalam penulisan makalah selanjutnya.

15

DAFTAR PUSTAKA

Anonim.2014. Bilangan Kuantim. (Online) http://www.ilmukimia.org/2013/05/bilangan-

kuantum.html (Diakses pada tanggal 3 Desember 2014)


Carera Herzigovina, Rio.2013. Model Atom Mekanika

Kuantum/

Modern.

(Online) http://www.rainbow-chz.info/2012/02/model-atom-mekanika-kuantum

modern.html, (Diakses pada tanggal 3 Desember 2014)


http://id.wikipedia.org/wiki/Asas_larangan_Pauli
Kita,
Kimia.2000.Bilangan-Bilangan

Kuantum.(Online)

(http://bebas.vlsm.org/v12/sponsor/Sponsor-Pendamping/Praweda/Kimia/0225%20Kim

%202-10c.htm .(Diakses pada tanggal 4 Desember 2014)


Khoirun, Hanif. 2013.Bilangan Kuantum. (Online) http://aboutscienceworld.blogspot.

com/2013/03/makalah-bilangan-kuantum.html. (Diakses pada tanggal 4 Desember 2014)


Mraz,
Jaltson.2013.Azas
Larangan
Pauli.(Online).http://centraleducation.blogspot.com/2012/02/asas-larangan-pauli.html, (Diakses pada tanggal 4

Desember 2014)
Sudarmo, Unggul. 2006. Kimia untuk SMA/MA Kelas XI. Jakarta ; Phibeta

16