Anda di halaman 1dari 14

"KONSEP DIRI"

CHARACTER BUILDING

MAKALAH
Diajukan Untuk Memenuhi salah satu Syarat Kelulusan MataKuliah
Character Building

Disusun Oleh :

Syarifah Rachmawati

42.5C.11

42120815

JURUSAN PENYIARAN
AKADEMI KOMUNIKASI BINA SARANA INFORMATIKA
JATIWARINGIN
2013

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah S.W.T karena atas limpahan Rahmat-Nya penulis dapat
menyelesaikan Makalah yang berjudul Konsep Diri. Makalah ini disusun guna memenuhi
nilai UTS matakuliah Character Building.
Pada kesempatan kali ini penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada :
1. Bapak Didin Saepudin selaku dosen mata kuliah Character Building.
2. Keluarga penulis yang selalu memberi dukungan dan kasih sayang.
3. Teman-teman penulis yang telah membantu penulis.
Akhir kata penulis memohon maaf atas kesalahan dan kekurangan dalam penyusunan
Makalah ini,penulis sangat mengharapkan adanya kritik dan saran dari berbagai pihak demi
kesempurnaan Makalah ini.

Jakarta, Desember 2014

Penulis

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Salah satu penentu dalam keberhasilan perkembangan adalah konsep
diri. Konsep diri (self consept) merupakan suatu bagian yang penting dalam setiap
pembicaraan tentang kepribadian manusia. Konsep diri merupakan sifat yang unik
pada manusia, sehingga dapat digunakan untuk membedakan manusia dari makhluk
hidup lainnya.
Konsep diri seseorang dinyatakan melalui sikap dirinya yang merupakan
aktualisasi orang tersebut. Manusia sebagai organisme yang memiliki dorongan untuk
berkembang yang pada akhirnya menyebabkan ia sadar akan keberadaan dirinya.
Perkembangan yang berlangsung tersebut kemudian membantu pembentukan konsep
diri individu yang bersangkutan.
Perasaan individu bahwa ia tidak mempunyai kemampuan yang ia miliki.
Padahal segala keberhasilan banyak bergantung kepada cara individu memandang
kualitas kemampuan yang dimiliki. Pandangan dan sikap negatif terhadap kualitas
kemampuan yang dimiliki mengakibatkan individu memandang seluruh tugas sebagai
suatu hal yang sulit untuk diselesaikan, maka dari itu sangatlah penting untuk seorang
perawat memahami konsep diri. Memahami diri sendiri terlebih dahulu baru bisa
memahami klien.
Penulisan makalah ini dilatar belakangi karena perlu adanya pemahaman
tentang konsep diri dan kedudukannya dalam kehidupan sehari-hari. Manusia adalah
makhluk biopsikososial yang unik dan menerapkan system terbuka serta saling
berinteraksi. Manusia selalu berusaha untuk mempertahankan keseimbangan
hidupnya. Keseimbangan yang dipertahankan oleh setiap individu untuk dapat
menyesuaikan diri dengan lingkungannya.

Konsep diri belum ada saat dilahirkan, tetapi dipelajari dari pengalaman unik
melalui eksplorasi diri sendiri. Dipelajari melalui kontak sosial dan pengalaman
berinteraksi dengan orang lain.

B. Rumusan Masalah
Dari beberapa masalah yang dibahas dapat dirumuskan sebagai berikut :
1.
2.
3.
4.

Apa pengertian kebutuhan konsep psikosial dan konsep diri?


Bagaimana rentang respon konsep diri positif dan negatif?
Apa saja komponen konsep diri?
Apa pengembangan konsep diri?

C. Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan dalam makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui pengertian kebutuhan konsep psikosial dan konsep diri.
2. Bagaimana rentang respon konsep diri positif dan negatif.
3. Apa saja komponen konsep diri.
4. Bagaimana pengembangan konsep diri.

D. Tujuan Pembelajaran
Tujuan pembelajaran dari pembahasan ini adalah sebagai berikut :
1. Memahami defenisi konsep diri.
2. Mengidentifikasi langkah-langkang mempertahankan konsep diri.
3. Mengidentifikasi manfaat konsep diri,
4. Memahami faktor-faktor yang mempengaruhi konsep diri.
5. Memahami komponen atau bagian dari konsep diri.
6. Mengidentifikasi hambatan dalam membangun konsep diri.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Defenisi Konsep Diri


Menurut para ahli :

Seifert dan Hoffnung (1994) mengatakan Misalnya, mendefinisikan konsep diri

sebagai suatu pemahaman mengenai diri atau ide tentang konsep diri.
Santrock (1996) mengatakan Menggunakan istilah konsep diri mengacu pada

evaluasi bidang tertentu dari konsep diri.


Atwater (1987) mengatakan Konsep diri adalah keseluruhan gambaran diri, yang
meliputi persepsi seseorang tentang tentang diri, perasaan, keyakinan, dan nilai-nilai

yang berhubungan dengan dirinya.


Burns (1982) mengatakan Konsep diri adalah hubungan antara sikap dan keyakinan

tentang diri kita sendiri.


Pemily (1984) mengatakan Konsep diri sebagai sistem yang dinamis dan kompleks
diri keyakinan yang dimiliki seseorang tentang dirinya, termasuk sikap, perasaan,

persepsi, nilai-nilai dan tingkah laku yang unik dari individu tersebut.
Cawagas (1983) mengatakan Konsep diri mencakup seluruh pandangan individu
akan dimensi fisiknya, karakteristik pribadinya, motivasinya, kelemahannya,

kelebihannya atau kecakapannya, kegagalannya, dan sebagainya.


Stuart dan Sudeen (1998) mengatakan Konsep diri adalah semua ide, pikiran,
kepercayaan

dan

pendirian

yang

diketahui

individu

tentang

dirinya

dan

mempengaruhi individu dalam berhubungan dengan orang lain.

Secara keseluruhan dapat disimpulkan bahwa konsep diri adalah cara seseorang untuk
melihat dirinya secara utuh dengan semua ide, pikiran, kepercayaan, dan pendirian yang
diketahui individu dalam berhubungan dengan orang lain.

B. Rentang Respon Konsep Diri


1. Aktualisasi Diri : Pernyataan diri tentang konsep diri yang positif dengan latar
belakang pengalaman nyata yang sukses dan dapat diterima.
2. Konsep Diri Positif : Apabila individu mempunyai pengalaman yang positif dalam
beraktualisasi diri dan menyadari hal hal positif maupun yang negative dari dirinya.
3. Harga Diri Rendah : Individu cenderung untuk menilai dirinya negative dan merasa
lebih rendah dari orang lain.

4. Identitas Kacau : Kegagalan individu mengintegrasikan aspek aspek identitas masa


kanak kanak ke dalam kematangan aspek psikososial kepribadian pada masa dewasa
yang harmonis.
5. Depersonalisasi : Perasaan yang tidak realistis dan asing terhadap diri sendiri yang
berhubungan dengan kecemasan, kepanikan serta tidak dapat membedakan dirinya
dengan orang lain.

Konsep diri merupakan faktor penting didalam berinteraksi. Hal ini disebabkan oleh
setiap individu dalam bertingkah laku sedapat mungkin disesuaikan dengan konsep diri.
Kemampuan manusia bila dibandingkan dengan mahluk lain adalah lebih mampu
menyadari siapa dirinya, mengobservasi diri dalam setiap tindakan serta mampu
mengevaluasi setiap tindakan sehingga mengerti dan memahami tingkah laku yang dapat
diterima oleh lingkungan.
Dengan demikian manusia memiliki kecenderungan untuk menetapkan nilai-nilai
pada saat mempersepsi sesuatu. Setiap individu dapat saja menyadari keadaannya atau
identitas yang dimilikinya akan tetapi yang lebih penting adalah menyadari seberapa baik
atau buruk keadaan yang dimiliki serta bagaimana harus bersikap terhadap keadaan
tersebut. Tingkah laku individu sangat bergantung pada kualitas konsep dirinya
yaitu konsep diri positif atau konsep diri negatif.

Menurut

Brooks

dan

Emmart

(1976)

orang

yang

memiliki konsep

diri

positif menunjukkan karakteristik sebagai berikut :


A. Konsep diri positif ( + )
Merasa mampu mengatasi masalah. Pemahaman diri terhadap kemampuan
subyektif untuk mengatasi persoalan-persoalan obyektif yang dihadapi.
Merasa setara dengan orang lain. Pemahaman bahwa manusia dilahirkan tidak
dengan membawa pengetahuan dan kekayaan. Pengetahuan dan kekayaan

didapatkan dari proses belajar dan bekerja sepanjang hidup. Pemahaman tersebut
menyebabkan individu tidak merasa lebih atau kurang terhadap orang lain.
Menerima pujian tanpa rasa malu. Pemahaman terhadap pujian, atau penghargaan
layak diberikan terhadap individu berdasarkan dari hasil apa yang telah dikerjakan
sebelumnya.
Merasa mampu memperbaiki diri. Kemampuan untuk melakukan proses refleksi
diri untuk memperbaiki perilaku yang dianggap kurang.
B. Konsep diri negatif ( - )
Peka terhadap kritik. Kurangnya kemampuan untuk menerima kritik dari orang
lain sebagai proses refleksi diri.
Bersikap responsif terhadap pujian. Bersikap yang berlebihan terhadap tindakan
yang telah dilakukan, sehingga merasa segala tindakannya perlu mendapat
penghargaan.
Cenderung merasa tidak disukai orang lain. Perasaan subyektif bahwa setiap
orang lain disekitarnya memandang dirinya dengan negatif.
Mempunyai sikap hiperkritik. Suka melakukan kritik negatif secara berlebihan
terhadap orang lain.
Mengalami hambatan dalam interaksi dengan lingkungan sosialnya. Merasa
kurang mampu dalam berinteraksi dengan orang-orang lain.

C. Langkah Langkah Mempertahankan Konsep Diri


1. Bersikap Obyektif Dalam Mengenali Diri Sendiri
Jangan abaikan pengalaman positif atau pun keberhasilan sekecil apapun yang
pernah dicapai. Lihatlah talenta, bakat dan potensi diri dan carilah cara dan
kesempatan untuk mengembangkannya. Janganlah terlalu berharap bahwa Anda
dapat membahagiakan semua orang atau melakukan segala sesuatu sekaligus.
2. Hargailah Diri Sendiri
Tidak ada orang lain yang lebih menghargai diri kita selain diri kita sendiri.
Jikalau kita tidak bisa menghargai diri sendiri, tidak dapat melihat kebaikan yang
ada pada diri kita sendiri, tidak mampu memandang hal baik dan positif terhadap
diri, bagaimana kita bisa menghargai orang lain dan melihat hal kebaikan yang

ada dalam diri orang lain secara positif. Jika kita tidak bisa menghargai orang lain,
bagaimana orang lain bisa menghargai diri kita?
3. Jangan Memusuhi Diri Sendiri
Peperangan terbesar dan paling melelahkan adalah peperangan yang terjadi dalam
diri sendiri. Sikap menyalahkan diri sendiri secara berlebihan merupakan pertanda
bahwa ada permusuhan dan peperangan antara harapan ideal dengan kenyataan
diri sejati (real self). Akibatnya, akan timbul kelelahan mental dan rasa frustrasi
yang dalam serta makin lemah dan negatif konsep dirinya.
4. Berpikir Positif Dan Rasional
We are what we think. All that we are arises with our thoughts. With our
thoughts, we make the world.
Jadi, semua itu banyak tergantung pada cara kita memandang segala sesuatu, baik
itu persoalan maupun terhadap seseorang. Jadi,

kendalikan

pikiran

kita

pikiran itu mulai menyesatkan jiwa dan raga.

Secara keseluruhan dapat disimpulkan bahwa langkah membangun konsep diri adalah :
1.
2.
3.
4.
5.

Belajar menyukai diri sendiri atau cinta diri sendiri.


Kembangkan pikiran positive thinking.
Hubungan interpersonal harus dibina dengan baik.
Pro-aktif atau sikap yang aktif menuju yang positive.
Menjaga keseimbangan hidup.

jika

D. Faktor Faktor yang Mempengaruhi Konsep Diri


Burns (1993) menyebutkan bahwa secara garis besar ada lima faktor yang
mempengaruhi perkembangan konsep diri, yaitu :
1.
2.
3.
4.
5.

Citra fisik, merupakan evaluasi terhadap diri secara fisik,


Bahasa, yaitu kemampuan melakukan konseptualisasi dan verbalisasi,
Umpan balik dari lingkungan,
Identifikasi dengan model dan peran jenis yang tepat,
Pola asuh orang tua.

Hurlock (1973) yang mengungkapkan bahwa faktor faktor yang mempengaruhi


perkembangan konsep diri diantaranya adalah :
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Fisik,
pakaian,
Nama dan nama panggilan,
Intelegensi,
Tingkat aspirasi,
Emosi,
Budaya,

8. Sekolah dan perguruan tinggi,


9. Status sosial ekonomi, dan keluarga.
Lerner dan Spanier (1993) mengatakan Perkembangan seseorang selain
ditentukan oleh kondisi dirinya, juga dikaitkan dengan kehidupan kelompok dalam
lingkungan masyarakatnya pada setiap tahap perkembangan yang dilaluinya.
Garbarino (1992) mengatakan Pada prinsipnya dalam proses perkembangan
manusia bisa dilihat dalam perspektif ekologi. Dalam perspektif ini individu berintraksi
dengan lingkungan. Interaksi tersebut mebuat kedua elemen saling memperngaruhi satu
sama lain dan membentuk sistem dalam beberapa tingkatan, yang terdiri dari
microsystems, mesosystems, exosystems, dan macrosystems.

E. Komponen atau Bagian dari Konsep Diri


1. Identitas Diri
Peran yang berbeda, kesadaran diri akan diri sendiri, pengenalan diri yang ada
tentang internal individual.
2. Citra Diri
Pandangan atau persepsi tentang diri kita sendiri, bukan penilaian orang lain
terhadap dirinya.
3. Harga Diri
Berupa penilaian atau evaluasi dirinya terhadap hasil yang didapat baik internal
maupun eksternal yang merupakan proses pencapaian ideal diri.
4. Ideal Diri
Suatu yang kita harapkan atau harapan individu terhadap dirinya yang akan dinilai
oleh personal lain.
5. Peran
Merupakan pola sikap, prilaku, posisi dimasyarakat atau fungsi dirinya baik di
lingkungan masyarakat, keluarga, atau komunitas.

F. Hambatan Dalam Membangun Konsep Diri


Potensi yang dimiliki seseorang bisa berkembang atau tidak, itu tergantung pada
pribadi yang bersangkutan dan lingkungan dia berada. Beberapa hambatan yang sering
terjadi dalam pengembangan potensi diri adalah sebagai berikut :
1. Hambatan yang berasal dari lingkungan; Lingkungan merupakan salah satu
faktor penghambat dalam pengembangan potensi diri. Hambatan ini antara
lain disebabkan sistem pendidikan yang dianut, lingkungan kerja yang tidak
mendukung semangat pengembangan potensi diri, dan tanggapan atau
kebiasaan dalam lingkungan kebudayaan.
2. Hambatan yang berasal dari individu sendiri; Penghambat yang cukup besar
adalah pada diri sendiri,misalnya sikap berprasangka, tidak memiliki tujuan
yang jelas, keengganan mengenal diri sendiri, ketidak mampuan mengatur diri,
pribadi yang kerdil, kemampuan yang tidak memadai untuk memecahkan
masalah, kreativitas rendah, wibawa rendah, kemampuan pemahaman
manajerial lemah, kemampuan latih rendah dan kemampuan membina tim
yang rendah.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Konsep diri adalah cara seseorang untuk melihat dirinya secara utuh dengan semua ide,
pikiran, kepercayaan, dan pendirian yang diketahui individu dalam berhubungan dengan orang
lain. Sangatlah penting bagi seorang perawat untuk memahami konsep diri terlebih dahulu
harus menanamkan dalam dirinya sendiri sebelum melayani klien, sebab keadaan yang dialami
klien bisa saja mempengaruhi konsep dirinya, disinilah peran penting perawat selain memenuhi
kebutuhan dasar fisiknya yaitu membantu klien untuk memulihkan kembali konsep dirinya.
Ada beberapa komponen konsep diri yaitu identitas diri yang merupakan intenal
idividual, citra diri sebagai pandangan atau presepsi, harga diri yang menjadi suatu tujuan, ideal
diri menjadi suatu harapan, dan peran atau posisi di dalam masyarakat.Untuk membangun
konsep diri kita harus belajar menyukai diri sendiri, mengembangkan pikiran positif,
memperbaiki hubungan interpersonal ke yang lebih baik, sikap aktif yang positif, dan menjaga
keseimbangan hidup.
Semua yang kita lakukan pasti ada manfaatnya begitu juga dalam memahami konsep diri,
kita menjadi bangga dengan diri sendiri, percaya diri penuh, dapat beradaptasi dengan
lingkungan, dan mencapai sebuah kebahagiaan dalam hidup.

DAFTAR PUSTAKA

Online, Kapuk. Kamis-Juli-2010, Askep Klien Dengan Gangguan Konsep Diri


http://kapukpkusolo.blogspot.com
Stuart, Gail W. 2002, Buku Saku Keperawatn Jiwa Edisi 5. Jakarta : EGC
Stuart, Gail W dan Sandra J., Sundeen. 2002Buu Saku Keperawatan Jiwa Edis, Jakarta : EGC