Anda di halaman 1dari 53

LAPORAN AKUNTABILITAS KINERJA

DIREKTORAT BINA OBAT PUBLIK DAN


PERBEKALAN KESEHATAN

DIREKTORAT JENDERAL BINA KEFARMASIAN DAN


ALAT KESEHATAN
KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
TAHUN 2013

DAFTAR

ISI

KATA PENGANTAR

iii

IKHTISAR EKSEKUTIF

iv

BAB I : PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

B. MAKSUD DAN TUJUAN

C. STRUKTUR ORGANISASI, TUGAS POKOK DAN FUNGSI ..

D. SISTEMATIKA .

BAB II : PERENCANAAN DAN PERJANJIAN KINERJA .

A. PERENCANAAN KINERJA ..

1. Visi ..

2. Misi .

3. Tujuan ....

4. Sasaran ..

5. Indikator Kinerja dan Target

6. Kebijakan

7. Output Program .

B. PERJANJIAN KINERJA .. 11
BAB III : AKUNTABILITAS KINERJA 13
A. PENGUKURAN KINERJA . 13
B. SUMBER DAYA ... 14
1. Sumber Daya Manusia . 14
2. Sumber Daya Anggaran ... 15
C. ANALISIS AKUNTABILITAS KINERJA TAHUN 2013 16
1. Indikator Pertama ... 16
a. Kegiatan Yang Terkait Langsung Dengan Indikator Pertama ... 16
b. Kegiatan Lain Yang Mendukung Indikator Pertama ... 17
c. Analisis Capaian Indikator Kinerja Pertama . 17
2. Indikator Kedua .. 22
a. Kegiatan Yang Terkait Langsung Dengan Indikator Kedua .. 22
b. Kegiatan Lain Yang Mendukung Indikator Kedua .. 22
c. Analisis Capaian Indikator Kinerja Kedua 22
i

3. Indikator Ketiga .. 26
a. Kegiatan Yang Terkait Langsung Dengan Indikator Ketiga .. 26
b. Kegiatan Lain Yang Mendukung Indikator Ketiga .. 26
c. Analisis Capaian Indikator Kinerja Ketiga 27
4. Indikator Penunjang .. 30
a. Jumlah Pengadaan Dalam Rangka Mendukung Kegiatan
Direktorat Bina Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan .. 30
b. Dukungan Manajemen Administrasi Perkantoran . 31
D. REALISASI ANGGARAN 32
BAB IV : PENUTUP 36
LAMPIRAN PERSENTASE KETERSEDIAAN OBAT DAN VAKSIN... 37
DAFTAR TABEL . 40
DAFTAR GAMBAR .. 41

ii

IKHTISAR EKSEKUTIF

Laporan Akuntabilitas Kinerja merupakan agenda rutin yang disusun setiap


Tahun Anggaran berakhir. Setiap Instansi Pemerintah berkewajiban untuk menyusun
Laporan Akuntabilitas Kinerja (LAK) atas pelaksanaan kegiatan selama 1 (satu)
tahun, baik keberhasilan maupun kegagalan. Sebagai laporan atas pelaksanaan
kegiatan tahun 2013, Direktorat Bina Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan
berkewajiban untuk menyusun Laporan Akuntabilitas Kinerja (LAK) atas pelaksanaan
kegiatan selama 1 (satu) tahun tersebut.
Informasi yang tertuang dalam LAK 2013 harus dapat memenuhi kebutuhan
pengguna internal dan eksternal. Laporan Akuntabilitas Kinerja Direktorat Bina Obat
Publik dan Perbekalan Kesehatan berfungsi sebagai sarana untuk menyampaikan
pertanggungjawaban kinerja kepada Direktur Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat
Kesehatan, dan seluruh pemangku kepentingan baik yang terkait langsung maupun
tidak langsung. Selain itu, juga menjadi sumber informasi untuk perbaikan dan
peningkatan kinerja secara berkelanjutan.
LAK merupakan sarana bagi Direktorat Bina Obat Publik dan Perbekalan
Kesehatan untuk mengkomunikasikan dan menjawab tentang apa yang sudah
dicapai dan bagaimana proses pencapaian hal-hal yang telah direncanakan dan
ditetapkan dalam Penetapan Kinerja. Oleh karena itu, Rencana Kinerja Tahunan
(RKT), Penetapan Kinerja (Tapja) dan LAK Direktorat Bina Obat Publik dan
Perbekalan Kesehatan tidak terlepas dari Rencana Strategis Kementerian Kesehatan
Tahun 2010 2014 yang telah disarikan dalam Indikator Kinerja Utama dan
Penetapan Kinerja tahun 2013.
Hasil capaian kinerja tahun 2013 menunjukkan bahwa secara umum Direktorat
Bina Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan telah memenuhi sasaran yang
ditargetkan. Pencapaian sasaran Direktorat Bina Obat Publik dan Perbekalan
Kesehatan diukur dengan menggunakan Indikator Kinerja sebagai berikut:
Sasaran : Meningkatnya sediaan farmasi yang memenuhi standar dan terjangkau oleh
masyarakat dan terpenuhinya kebutuhan obat esensial generik dan vaksin di
sarana pelayanan kesehatan.

iv

Indikator Kinerja

Target

Realisasi

Capaian

Target

2011
Persentase
ketersediaan obat
dan vaksin
Persentase
Penggunaan Obat
Generik di Fasilitas
Pelayanan
Kesehatan
Persentase
Instalasi Farmasi
Kabupaten/Kota
sesuai standar

Realisasi

Capaian

Target

2012

Realisasi

Capaian

2013

85%

87%

102,35%

90%

92,85%

103,17%

95%

96,93%

102,03%

65%

81,59%

125,5%

70%

82,80%

118,29%

75%

85,49%

113,98%

65%

71%

109,23%

70%

71,63%

102,33%

75%

79,48%

105,97%

Direktorat Bina Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan memiliki komitmen


yang kuat dalam mengoptimalkan pemanfaatan seluruh sumber daya yang dimiliki.
Dalam rangka evaluasi yang bermutu, maka dilakukan analisis atas pelaksanaan
kegiatan tahun 2013. Capaian kinerja sebagai hasil yang diperoleh berdasarkan
pendayagunaan sumberdaya menjadi salah satu strength Direktorat Bina Obat Publik
dan Perbekalan Kesehatan. Sedangkan uraian permasalahan yang dihadapi
merupakan Weaknesses dan dijawab dalam upaya peningkatan kinerja indikator
yang disusun berdasarkan kemampuan melihat peluang dan tantangan di masa
mendatang.
Dari hasil analisis tersebut, beberapa strategi pemecahan masalah yang dapat
dijadikan masukan dan/atau bahan pertimbangan untuk merumuskan rencana kinerja
tahun 2014, adalah sebagai berikut:
1. Perlu dialokasikan dana obat dan vaksin baik di Pusat maupun di Daerah, dan
Dana Alokasi Khusus.
2. Perlu dilaksanakan advokasi kepada Pemerintah Provinsi dan Kabupaten/Kota
untuk peningkatan alokasi anggaran obat.
3. Perlu peningkatan koordinasi internal dan eksternal khususnya dalam hal
perencanaan dan pelaksanaan kegiatan Direktorat Bina Obat Publik dan
Perbekalan Kesehatan.
4. Perlu optimalisasi manajemen SDM (pegawai) melalui pemanfaatan kompetensinya untuk menunjang kegiatan yang telah direncanakan.
5. Melaksanakan peningkatan kualitas SDM dalam pengelolaan obat di Instalasi
Farmasi Kabupaten/Kota dan melakukan pembinaan SDM pengelola obat secara
berkesinambungan.

BAB I
PENDAHULUAN

A.

LATAR BELAKANG
Sebagaimana diamanatkan dalam Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 7 Tahun 1999
tentang Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah, setiap instansi pemerintah sebagai unsur
penyelenggara pemerintah eselon II dan eselon I diwajibkan menyusun laporan akuntabilitas
kinerja untuk mempertanggungjawabkan pelaksanaan tugas pokok dan fungsinya, serta
kewenangan pengelolaan sumber daya dan kebijakan yang dipercayakan kepadanya,
berdasarkan perencanaan strategis (Renstra) yang telah dirumuskan sebelumnya.
Berdasarkan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 72 Tahun 2012 tentang
Sistem Kesehatan Nasional (SKN), di dalam subsistem sediaan farmasi, alat kesehatan dan
makanan dijelaskan bahwa pemerintah menjamin keamanan, khasiat, manfaat, dan mutu
sediaan farmasi, alat kesehatan, dan makanan melalui pembinaan, pengawasan, dan
pengendalian secara profesional, bertanggung jawab, independen, transparan, dan berbasis
bukti ilmiah. Karena obat merupakan kebutuhan dasar manusia yang tidak tergantikan dalam
pelayanan kesehatan, maka obat tidak boleh diperlakukan sebagai komoditas ekonomi
semata.
Dalam

pelayanan

kesehatan,

obat

dapat

menyelamatkan

kehidupan

dan

meningkatkan kualitas kesehatan. Akses terhadap obat, terutama obat esensial merupakan
salah satu hak asasi manusia, dengan demikian penyediaan obat esensial merupakan
kewajiban bagi pemerintah di semua level mulai dari Pusat, Provinsi dan Kabupaten/Kota.
Direktorat Bina Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan dalam memenuhi amanat
Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 7 Tahun 1999

tentang Akuntabilitas Kinerja Instansi

Pemerintah dan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 72 Tahun 2012 tentang
Sistem Kesehatan Nasional (SKN) kemudian menyusun Laporan Akuntabilitas Kinerja
Instansi Pemerintah (LAKIP) Tahun 2013 yang mengacu kepada Peraturan Menteri
Kesehatan Nomor: 988/Menkes/Per/XI/2006 tentang Petunjuk Pelaksanaan Penyusunan
Laporan Akuntabilitas Kinerja di Lingkungan Departemen Kesehatan sebagai bahan masukan
guna pembuatan Laporan Akuntabilitas Kinerja Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat
Kesehatan Tahun 2013.

B.

MAKSUD DAN TUJUAN


Tujuan penyusunan Laporan Akuntabilitas Kinerja Direktorat Bina Obat Publik dan
Perbekalan Kesehatan Tahun 2013 adalah sebagai berikut :
1.

Sebagai pertanggungjawaban keberhasilan ataupun kegagalan dalam pelaksanaan


program yang digunakan sebagai bahan evaluasi akuntabilitas kinerja.

C.

2.

Penyempurnaan dokumen perencanaan untuk periode yang akan datang.

3.

Penyempurnaan pelaksanaan program dan kegiatan untuk periode yang akan datang.

4.

Penyempurnaan berbagai kebijakan yang diperlukan.

STRUKTUR ORGANISASI, TUGAS POKOK, DAN FUNGSI


STRUKTUR ORGANISASI
DIREKTORAT BINA OBAT PUBLIK DAN PERBEKALAN KESEHATAN
(Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor: 1144/MENKES/PER/ VIII/2010)

DIREKTUR
BINA OBAT PUBLIK DAN
PERBEKKES
SUBBAGIAN
TATA USAHA

SUBDIT ANALISIS DAN


STANDARDISASI
HARGA OBAT

SUBDIT PENYEDIAAN
OBAT PUBLIK &
PERBEKKES

SUBDIT PENGELOLAAN
OBAT PUBLIK DAN
PERBEKKES

SUBDIT
PEMANTAUAN DAN
EVALUASI PROGRAM
OBAT PUBLIK DAN
PERBEKKES

SEKSI ANALISIS
HARGA OBAT

SEKSI PERENCANAAN
PENYEDIAAN OBAT
PUBLIK & PERBEKKES

SEKSI STANDARDISASI
PENGELOLAAN OBAT
PUBLIK & PERBEKKES

SEKSI PEMANTAUAN
PROGRAM OBAT
PUBLIK & PERBEKKES

SEKSI
STANDARDISASI
HARGA OBAT

SEKSI PEMANTAUAN
KETERSEDIAAN OBAT
PUBLIK & PERBEKKES

SEKSI BIMBINGAN DAN


PENGENDALIAN OBAT
PUBLIK & PERBEKKES

SEKSI EVALUASI
PROGRAM OBAT
PUBLIK & PERBEKKES

KJF

Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor: 1144/MENKES/PER/VIII/2010


tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Kesehatan RI, Direktorat Bina Obat Publik
dan Perbekalan Kesehatan mempunyai tugas melaksanakan penyiapan perumusan dan

pelaksanaan kebijakan, penyusunan norma, standar, prosedur dan kriteria, serta pemberian
bimbingan teknis dan evaluasi di bidang obat publik dan perbekalan kesehatan.
Dalam rangka melaksanakan tugas tersebut di atas, Direktorat Bina Obat Publik dan
Perbekalan Kesehatan menyelenggarakan fungsi sebagai berikut :
1. Penyiapan perumusan kebijakan di bidang analisis dan standardisasi harga obat,
penyediaan dan pengelolaan obat publik dan perbekalan kesehatan, serta pemantauan
dan evaluasi program obat publik dan perbekalan kesehatan;
2. Pelaksanaan kegiatan di bidang analisis dan standardisasi harga obat, penyediaan dan
pengelolaan obat publik dan perbekalan kesehatan, serta pemantauan dan evaluasi
program obat publik dan perbekalan kesehatan;
3. Penyiapan penyusunan norma, standar, prosedur, dan kriteria di bidang analisis dan
standardisasi harga obat, penyediaan dan pengelolaan obat publik dan perbekalan
kesehatan, serta pemantauan dan evaluasi program obat publik dan perbekalan
kesehatan;
4. Penyiapan bahan pemantauan, evaluasi, dan penyusunan laporan pelaksanaan kebijakan
di bidang pengelolaan obat publik dan perbekalan kesehatan.
D.

SISTEMATIKA
Laporan Akuntabilitas Kinerja Direktorat Bina Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan
Tahun 2013 ini menjelaskan pencapaian kinerja Direktorat Bina Obat Publik dan Perbekalan
Kesehatan selama Tahun 2013. Capaian kinerja tersebut dibandingkan juga dengan kinerja
tahun sebelumnya sebagai tolok ukur keberhasilan tahunan organisasi, sedangkan realisasi
tahun 2013 akan dibandingkan dengan realisasi tahun sebelumnya dan juga dibandingkan
dengan target akhir tahun Renstra (2014).
Analisis atas capaian kinerja terhadap rencana kinerja memungkinkan diidentifikasinya
sejumlah celah kinerja untuk perbaikan kinerja di masa yang akan datang. Analisis atas
pencapaian tahun ini dengan target akhir tahun Renstra menggambarkan daya yang masih
diperlukan untuk mencapai target. Dengan kerangka berpikir tersebut, sistematika penyajian
Laporan Akuntabilitas Kinerja Direktorat Bina Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan Tahun
2013 adalah sebagai berikut:

Bab I: Pendahuluan, menjelaskan secara ringkas mengenai latar belakang, maksud dan
tujuan penulisan laporan, tugas pokok, fungsi dan struktur organisasi Direktorat Bina Obat

Publik dan Perbekalan Kesehatan, serta sistematika penyajian laporan.


Bab II: Perencanaan dan Perjanjian Kinerja, menjelaskan tentang visi dan misi, tujuan
dan sasaran, indikator kinerja dan target, serta kebijakan dan program Direktorat Bina
3

Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan di Tahun 2013. Selain itu bab ini juga menjelaskan
mengenai muatan Rencana Strategis Kementerian Kesehatan RI untuk periode 2010

2014 dan penetapan kinerja tahun 2014.


Bab III: Akuntabilitas Kinerja, menjelaskan mengenai pengukuran kinerja, pencapaian
kinerja tahun 2013 dan perbandingannya dengan tahun sebelumnya, analisis akuntabilitas
kinerja dan realisasi anggaran, serta sumberdaya manusia dan anggaran yang digunakan,
dikaitkan dengan pertanggungjawaban publik terhadap pencapaian sasaran strategis

Direktorat Bina Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan untuk tahun 2013.
Bab IV: Penutup, berisi kesimpulan atas Laporan Akuntabilitas Kinerja Direktorat Bina
Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan tahun 2013.

BAB II
PERENCANAAN DAN PERJANJIAN KINERJA

A. PERENCANAAN KINERJA
Perencanaan kinerja merupakan perencanaan yang disusun dengan selaras mulai dari
Rencana Jangka Panjang, Jangka Menengah, dan Tahunan. Indikator kinerja disusun
berdasarkan program, kebijakan, dan sasaran yang telah ditetapkan dalam sasaran stategis.
Perencanaan kinerja disusun sebagai pedoman bagi pelaksanaan tugas pokok dan fungsi
secara sistematis, terarah dan terpadu.
Berdasarkan Lampiran Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 17 tahun 2007
tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005 2025, salah satu
sasaran Pembangunan Jangka Panjang Tahun 2005 2025 adalah mewujudkan bangsa yang
berdaya saing. Untuk memperkuat daya saing bangsa, pembangunan nasional dalam jangka
panjang diarahkan untuk mengedepankan pembangunan sumber daya manusia yang
berkualitas. Langkah yang ditempuh antara lain dengan pembangunan kesehatan yang
dilaksanakan melalui peningkatan upaya kesehatan, pembiayaan kesehatan, sumber daya
manusia kesehatan, obat dan perbekalan kesehatan yang disertai oleh peningkatan
pengawasan, pemberdayaan masyarakat, dan manajemen kesehatan.
Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor: 1144/MENKES/PER/ VIII/2010,
tugas melaksanakan penyiapan perumusan dan pelaksanaan kebijakan, dan penyusunan
norma, standar, prosedur, dan kriteria, serta pemberian bimbingan teknis dan evaluasi di
bidang obat publik dan perbekalan kesehatan adalah tugas Direktorat Bina Obat Publik dan
Perbekalan Kesehatan.
Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 5 tahun 2010 tentang rencana Pembangunan
Jangka Menengah Nasional Tahun 2010 2014, dalam Rencana Aksi Bidang Kesehatan,
kegiatan prioritas terkait dengan obat adalah peningkatan ketersediaan obat publik dan
perbekalan kesehatan. Kegiatan prioritas, sasaran, indikator, dan target tahun 2010 2014
dalam RPJMN dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Kegiatan prioritas, Sasaran, Indikator, dan Target tahun 2010 2014 dalam RPJMN
Kegiatan Prioritas

Sasaran

Indikator

Peningkatan

Meningkatnya

Persentase ketersediaan

Ketersediaan Obat

ketersediaan obat

obat dan vaksin

Publik dan Perbekalan

esensial generik di

Kesehatan

sarana pelayanan

Target
2010

2011

2012

2013

2014

80

85

90

95

100

kesehatan dasar

Berdasarkan

Keputusan

Menteri

Kesehatan

Republik

Indonesia

Nomor

32/MENKES/SK/1/2013 tentang Rencana Strategis Kementerian Kesehatan, Tahun 2010


2014, dinyatakan bahwa sasaran hasil program kefarmasian dan alat kesehatan adalah
meningkatnya sediaan farmasi dan alat kesehatan yang memenuhi standar dan terjangkau oleh
masyarakat. Untuk mencapai sasaran hasil tersebut, maka kegiatan yang dilakukan antara lain
Peningkatan

Ketersediaan

Obat

Publik

dan

Perbekalan

Kesehatan

dengan

luaran

meningkatnya ketersediaan obat esensial generik di sarana pelayanan kesehatan dasar.


Indikator pencapaian luaran tersebut pada tahun 2014 adalah persentase ketersediaan obat
dan vaksin sebesar 100%, persentase penggunaan obat generik di fasilitas pelayanan
kesehatan sebesar 80%, dan persentase instalasi farmasi Kab/Kota sesuai standar sebesar
80%.
Dalam Rencana Strategis Kementerian Kesehatan tersebut, tampak bahwa dalam
menunjang Program Kefarmasian dan Alat Kesehatan dilakukan berbagai kegiatan, antara lain
sebagaimana tertuang dalam Rencana Aksi Kegiatan Direktorat Bina Obat Publik dan
Perbekalan Kesehatan. Upaya-upaya yang dilakukan diharapkan dapat memiliki dampak yang
signifikan terhadap pembangunan kesehatan melalui peningkatan ketersediaan obat publik dan
perbekalan kesehatan.
1.

VISI
Visi Direktorat Bina Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan adalah terjaminnya
ketersediaan, pemerataan, serta keterjangkauan obat dan perbekalan kesehatan.

2.

MISI
Untuk mencapai ketersediaan, pemerataan, serta keterjangkauan obat dan
perbekalan kesehatan ditempuh melalui misi sebagai berikut :
a. Meningkatkan manajemen pengelolaan obat dan perbekalan kesehatan yang efektif
dalam menjamin ketersediaan obat dan perbekalan kesehatan.
b. Mengendalikan harga dalam upaya pemerataan dan keterjangkauan obat esensial
c. Meningkatkan peran serta pemerintah daerah dalam manajemen logistik obat.

d. Meningkatkan profesionalisme SDM baik di pusat maupun di daerah dalam


manajemen logistik obat.
e. Menciptakan tata kelola kepemerintahan yang baik
3.

TUJUAN
Adapun tujuan dari didirikannya Direktorat Bina Obat Publik dan Perbekalan
Kesehatan adalah terselenggaranya penyediaan obat publik dan perbekalan kesehatan
dalam rangka meningkatkan ketersediaan, pemerataan, serta keterjangkauan obat dan
perbekalan kesehatan.

4.

SASARAN
Meningkatnya sediaan farmasi yang memenuhi standar dan terjangkau oleh
masyarakat dan terpenuhinya kebutuhan obat esensial generik dan vaksin di sarana
pelayanan kesehatan.

5.

INDIKATOR KINERJA DAN TARGET


Untuk dapat mencapai kinerja secara terarah maka diperlukan penetapan indikator
kinerja dan target. Indikator kinerja Direktorat Bina Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan
yang tertuang Renstra Revisi yaitu persentase ketersediaan obat dan vaksin, persentase
penggunaan obat generik di fasilitas pelayanan kesehatan, dan persentase Instalasi
Farmasi Kabupaten/Kota yang sesuai standar. Indikator kinerja Direktorat Bina Obat
Publik dan Perbekalan Kesehatan yang tertuang dalam Rencana Kerja Pemerintah yaitu
persentase ketersediaan obat dan vaksin dengan target sama seperti yang tercantum di
dalam Renstra Revisi.
Berikut ini adalah tabel yang berisi sasaran, indikator kinerja dan target Direktorat
Bina Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan dari tahun 2010 2014 yang tertuang di
dalam Renstra Revisi.

Tabel 2. Sasaran, Indikator Kinerja, dan Target Direktorat Bina Obat Publik dan
Perbekalan Kesehatan.

SASARAN

INDIKATOR KINERJA

Meningkatnya

Persentase Ketersediaan

sediaan farmasi

Obat dan Vaksin

dan alat kesehatan

Persentase Penggunaan

yang memenuhi

Obat Generik di Fasilitas

standar dan

Pelayanan Kesehatan

terjangkau oleh

Persentase Instalasi

masyarakat

Farmasi Kabupaten/Kota

TARGET
2010

2011

2012

2013

2014

80%

85%

90%

95%

100%

60%

65%

70%

75%

80%

60%

65%

70%

75%

80%

Sesuai Standar

Untuk menyamakan persepsi dalam operasionalisasi pencapaian indikator, maka


telah dirumuskan Definisi Operasional dari masing-masing indikator seperti tercantum
pada Tabel 3.
Tabel 3. Definisi Operasional Indikator Kinerja Direktorat Bina Obat Publik dan Perbekalan
Kesehatan.

NO

INDIKATOR

Persentase
ketersediaan obat dan
vaksin

URAIAN
Pengertian :
Persentase tersedianya obat dan vaksin selama 18 bulan bagi
pelayanan kesehatan dasar di sarana pelayanan kesehatan
pemerintah.
Perhitungan :
Menghitung persentase ketersediaan
menggunakan rumus berikut :

obat/vaksin

dengan

Catatan :

Jumlah obat/vaksin yang tersedia adalah : Sisa stok + total


penggunaan.
Total penggunaan dihitung kumulatif dari Januari tahun
tersebut.
Kebutuhan adalah : persediaan ideal yang dibangun dengan
perhitungan pemakaian rata-rata / bulan tahun sebelumnya
dikali 18 bulan.

Persentase
penggunaan obat
generik di fasilitas
pelayanan kesehatan

Pengertian :
Persentase penggunaan obat generik terhadap penggunaan
seluruh obat di fasilitas pelayanan kesehatan pemerintah.
Catatan :
1. Obat generik INN (lihat UU No. 36).
2. Fasilitas Pelayanan Kesehatan Pemerintah adalah Rumah
Sakit dan Puskesmas.
Perhitungan :
Menghitung persentase penggunaan obat generik di Rumah
Sakit dan Puskesmas menggunakan rumus berikut :

Catatan : Jumlah sampel 132 puskesmas dan 132 rumah sakit


pemerintah.
3

Persentase Instalasi
Farmasi
Kabupaten/Kota yang
sesuai standar

Pengertian :
Persentase Instalasi Farmasi Kabupaten/Kota yang sesuai
standar terhadap Instalasi Farmasi Kabupaten/Kota seluruh
Indonesia.
Catatan : Sesuai standar rmemenuhi skor minimal 60%. Cara
dan contoh perhitungan terlampir.
Perhitungan :
Persentase Instalasi Farmasi Kabupaten/Kota yang sesuai
standar (S) dihitung dengan rumus sebagai berikut :

6.

KEBIJAKAN
Kebijakan adalah arah atau tindakan yang dilakukan untuk mencapai tujuan. Adapun
kebijakan Direktorat Bina Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan tersebut adalah :
a. Advokasi penyediaan anggaran sesuai kebutuhan serta efisiensi pembiayaan obat
melalui penerapan prinsip farmakoekonomi.
b. Pengendalian harga obat khususnya obat esensial generik.
c. Mengatur regulasi terkait dengan jaminan ketersediaan dan keterjangkauan obat.
d. Pengadaan obat generik, obat program, dan vaksin yang efektif, efisien, transparan,
akuntabel dan tepat sasaran.
e. Penerapan kebijakan pengelolaan obat satu pintu di Provinsi dan Kabupaten/Kota
(One Gate Policy).

f.

Peningkatan kapasitas SDM melalui bimbingan dan pembekalan tenaga kefarmasian


tentang manajemen logistik obat.

g. Penerapan wilayah bebas korupsi, wilayah birokrasi bersih dan melayani dalam
meningkatkan tata kelola pemerintahan yang baik.
7.

OUTPUT PROGRAM
Dalam pencapaian tujuan dan sasaran, Direktorat Bina Obat Publik dan
Perbekalan Kesehatan mendukung pelaksanaan program kefarmasian dan alat kesehatan
melalui serangkaian kegiatan. Output dari kegiatan tersebut dapat dilihat pada Tabel 4.
Tabel 4. Kegiatan dan Output Direktorat Bina Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan
Tahun 2013.
NO
1.

KEGIATAN
Penyusunan daftar harga obat generik,
obat program dan perbekalan kesehatan

OUTPUT
Daftar harga obat generik (SK Menkes)
E-Catalogue

2.

Penyusunan Petunjuk Pelaksanaan ECatalogue

Buku Petunjuk Pelaksanaan E-Catalogue

3.

Evaluasi Pengadaan dan Penerimaan


Obat, Perbekalan Kesehatan, dan Vaksin

Laporan Pelaksanaan Pengadaan Obat dan


Vaksin

4.

Pertemuan Penyusunan Rencana


Kebutuhan Obat Nasional

Dokumen Rencana Kebutuhan Obat Nasional

5.

Pertemuan Penyusunan Rencana


Kebutuhan Obat Embarkasi Haji

Dokumen Rencana Kebutuhan Obat


Embarkasi Haji di Indonesia

6.

Stok Opname Obat Buffer Stok Pusat

Laporan stok obat buffer yang ada di Instalasi


Farmasi Nasional

7.

Monitoring Ketersediaan Obat dan Vaksin

Laporan Ketersediaan Obat dan Vaksin dari


Provinsi dan Kabupaten/Kota

8.

Pertemuan Evaluasi dan Perencanaan


Monitoring Harga Obat dan Nama Dagang

Laporan analisis harga obat generik dan


merk dagang

9.

Pemantapan Penerapan E-Catalogue

Laporan hasil pelaksanaan E-Catalogue

10.

Monitoring Harga Obat Generik,Nama


Dagang dan Perbekalan Kesehatan di
Apotik

Dokumen berupa daftar harga obat generik


dan nama dagang di setiap Provinsi

11.

Pengadaan Obat, Vaksin, dan Perbekalan


Kesehatan

12.

Pengembangan Software E-Logistic


System

Software E-Logistic System yang lebih


aplikatif dan sempurna

13.

Pertemuan Evaluasi Program Obat Publik


dan Perbekalan Kesehatan

Laporan hasil evaluasi dan rekomendasi


mengenai program obat publik dan
perbekalan kesehatan untuk tahun yang akan
datang

Tersedianya obat, vaksin, perbekalan


kesehatan, dan reagen screening darah
Terdistribusinya obat, vaksin dan
perbekalan kesehatan

10

14.

Monitoring Penggunaan Obat Generik di


Sarana Pelayanan Kesehatan

Laporan penggunaan obat generik di Rumah


Sakit dan Puskesmas

15.

Rapat Konsultasi Teknis

Laporan dan rekomendasi

16.

Penyusunan Prosedur Tetap Pengelolaan


Obat di Instalasi Farmasi Nasional

Buku Prosedur Tetap Pengelolaan Obat di


Instalasi Farmasi Nasional

17.

Penyusunan Prosedur Tetap Pengelolaan


Obat Haji di Arab Saudi

Buku Prosedur Tetap Pengelolaan Obat Haji


di Arab Saudi

18.

Peningkatan Kapasitas SDM Instalasi


Farmasi Nasional

Jumlah SDM yang mendapatkan materi


kompetensi pengelolaan obat

19.

Pembekalan Tenaga Kefarmasian


Terhadap Pedoman Obat Publik dan
Perbekalan Kesehatan Tahun 2012

Laporan berisi jumlah tenaga kefarmasian


yang mendapatkan pembekalan

20.

Pembekalan Tenaga Kefarmasian Dalam


Pengelolaan Vaksin

Laporan berisi jumlah tenaga kefarmasian


yang mendapatkan pembekalan

21.

Pembekalan Tenaga Kefarmasian Tentang


Pengelolaan Obat di Arab Saudi

Jumlah Penanggung jawab Program


Kefarmasian di Provinsi yang mendapat
pembekalan mengenai pengelolaan obat Haji

22.

Pemilihan Tenaga Kefarmasian


Berprestasi Tingkat Provinsi dan
Kabupaten/Kota

Terpilihnya tenaga pengelola obat berprestasi


di tingkat Provinsi dan Kabupaten/Kota

23.

Bimbingan Teknis Manajemen


Pengelolaan Obat Publik dan Perbekalan
Kesehatan di sektor pemerintah

Laporan hasil pembinaan di Instalasi Farmasi


Kabupaten/Kota

24.

Penerimaan dan Stok Opname Obat dan


Perbekalan Kesehatan Haji di Arab Saudi

Laporan Penerimaan Obat dan Stok Obat Haji


di Arab Saudi

25.

Operasional Instalasi Farmasi Nasional

Tersedianya dukungan yang diperlukan untuk


operasionalisasi Instalasi Farmasi Nasional

26.

Peningkatan Sarana dan Prasarana di


Instalasi Farmasi Nasional

Tersedianya sarana dan prasarana yang


dibutuhkan Instalasi Farmasi Nasional

27.

Administrasi Umum Satuan Kerja

28.

Penyusunan Laporan Akuntabilitas Kinerja

Buku LAKIP tahun 2013

29.

Penyusunan Laporan Tahunan

Buku Laporan Tahunan Tahun 2013

30.

Penyusunan RKAKL Tahun 2014

Dokumen RKAKL Tahun 2014

31.

Penyusunan Rencana Program 2014

Daftar kegiatan dan program tahun 2014

32.

Penyusunan Laporan SAK dan SIMAK


BMN

Laporan Keuangan dan BMN

33.

Pemusnahan Obat Kadaluarsa

Laporan berupa dokumen obat yang


dimusnahkan

34.

Peningkatan Kinerja Pegawai Direktorat


Bina Obat Publik dan Perbekalan
Kesehatan

Meningkatnya Kinerja Pegawai Direktorat


Bina Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan

Tersedianya honor pengelola anggaran


yang diterima oleh yang berhak
Tersedianya sarana dan prasarana yang
dibutuhkan dalam rangka administrasi
perkantoran
Terselenggaranya kegiatan rapat-rapat
kordinasi baik internal maupun eksternal
Terpeliharanya sarana kantor dan
kendaraan operasional kantor

11

35.

Peningkatan Kapasitas SDM di Dalam


Negeri dan di Luar Negeri

Jumlah pegawai yang mengikuti kegiatan


penambah pengetahuan di bidang
Manajemen Pengelolaan Obat di dalam
maupun luar negeri

36.

Fasilitasi Teknis Manajemen Obat Publik


dan Perbekalan Kesehatan

Laporan pelaksanaan kegiatan yang


melibatkan Direktorat Bina Obat Publik dan
Perbekalan Kesehatan

37.

Kegiatan Lintas Sektor/Lintas Program

Laporan pelaksanaan kegiatan Lintas


Sektor/Lintas Program yang melibatkan
Direktorat Bina Obat Publik dan Perbekalan
Kesehatan

38.

Pengadaan Alat Pengolah Data

Tersedianya alat pengolah data

Pembahasan Penyusunan Petunjuk


Pelaksanaan Sampling Obat Pelayanan
Kesehatan Dasar (PKD)

Buku Petunjuk Pelaksanaan Sampling Obat


Pelayanan Kesehatan Dasar (PKD)

39.

40.

Penyusunan Rencana Kebutuhan Obat


Rumah Sakit

41.

Pilot Project E-Logistic System di Provinsi


DI.Yogyakarta

42.

Koordinasi Penyusunan Laporan Kegiatan

43.

Penyusunan Daftar Orphan Drug

44.

Penyusunan Daftar Formularium Nasional


Bahan Medis Habis Pakai

45.

Pertemuan Pembahasan E-Catalogue


Tahun 2014

46.

Pertemuan Pembahasan Software ELogistic System

47.

Pertemuan Pembahasan ISO 9001 : 2008

48.

Penyusunan Rencana Kebutuhan Obat


Dalam Rangka Pelaksanaan BPJS I

49.

Sosialisasi E-Catalogue Tahun 2014

50.

Kajian Biaya Kapitasi Pelayanan


Kefarmasian

51.

Pemusnahan Obat Kadaluarsa di Arab


Saudi

52.

Bimbingan Teknis Software E-Logistic


System dan Analisis Ketersediaan Obat

Dokumen Rencana Kebutuhan Obat Rumah


Sakit
Laporan hasil pelaksanaan Pilot Project ELogistic System di Provinsi DI.Yogyakarta
Dokumen Laporan Kegiatan
Tersusunnya Daftar Orphan Drug
Tersusunnya Daftar Formularium Nasional
Bahan Medis Habis Pakai
Laporan hasil Pembahasan E-Catalogue
Tahun 2014
Laporan hasil Pembahasan Software ELogistic System
Laporan hasil Pembahasan ISO 9001 : 2008
Dokumen Rencana Kebutuhan Obat Dalam
Rangka Pelaksanaan BPJS I
Laporan hasil Sosialisasi E-Catalogue Tahun
2014
Laporan hasil Kajian Biaya Kapitasi
Pelayanan Kefarmasian
Laporan berupa dokumen obat yang
dimusnahkan di Arab Saudi
Laporan hasil Bimbingan Teknis Software ELogistic System dan Analisis Ketersediaan
Obat

12

B.

PERJANJIAN KINERJA
Perjanjian

kinerja

yang

diformulasikan

dalam

penetapan

kinerja

merupakan

pernyataan komitmen yang merepresentasikan tekad dan janji untuk mencapai kinerja yang
jelas dan terukur dalam rentang waktu satu tahun. Penetapan kinerja disepakati antara
pengemban tugas dengan atasannya (performance agreement). Penetapan kinerja juga
merupakan ikhtisar rencana kinerja tahunan yang telah disesuaikan dengan ketersediaan
anggarannya, yaitu setelah proses anggaran (budgeting process) selesai.
Aktualisasi kinerja sebagai realisasi penetapan kinerja dimuat dalam Laporan
Akuntabilitas Kinerja (Performance Accountability Report). Perjanjian kinerja Direktorat Bina
Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan Tahun 2013 dapat dilihat pada Tabel 5.

Tabel 5. Target Perjanjian Kinerja Direktorat Bina Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan
Tahun 2013.
INDIKATOR KINERJA

TARGET TAHUN 2013

a. Persentase Ketersediaan Obat dan Vaksin

95 %

b. Persentase Penggunaan Obat Generik di Fasilitas Pelayanan

75 %

Kesehatan
c.

Persentase Instalasi Farmasi Kabupaten/Kota Sesuai Standar

75 %

13

BAB III
AKUNTABILITAS KINERJA

A.

PENGUKURAN KINERJA
Pengukuran kinerja merupakan proses sistematis dan berkesinambungan untuk
menilai keberhasilan atau kegagalan pelaksanaan kegiatan sesuai dengan program,
kebijakan, sasaran dan tujuan yang telah ditetapkan dalam mewujudkan visi dan misi
Direktorat Bina Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan.
Pengukuran

kinerja

juga

merupakan

kegiatan

manajemen,

khususnya

membandingkan tingkat kinerja yang dicapai dengan standar, rencana atau target dengan
menggunakan indikator kinerja yang telah ditetapkan, sehingga diperoleh gambaran tingkat
keberhasilan pencapaian dari masing-masing indikator.
Berdasarkan pengukuran kinerja tersebut diperoleh informasi tentang masing-masing
indikator agar dapat ditindaklanjuti dalam perencanaan program/kegiatan di masa yang akan
datang, sehingga setiap program/kegiatan yang direncanakan dapat lebih berhasil dan
berdaya guna. Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Nomor: 32/MENKES/SK/2013
tentang Rencana Strategis Kementerian Kesehatan Tahun 2010-2014, Direktorat Jenderal
Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan melaksanakan Program Kefarmasian dan Alat
Kesehatan dengan fokus prioritas program Peningkatan ketersediaan, keterjangkauan,
pemerataan, keamanan, mutu, dan penggunaan obat dan alat kesehatan.
Prioritas program tersebut menjadi prioritas program semua satuan kerja di
lingkungan Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan termasuk Direktorat
Bina Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan.
Sesuai dengan dokumen Rencana Strategis Kementerian Kesehatan yang
dituangkan ke dalam Rencana Aksi Kegiatan Direktorat Bina Obat Publik dan Perbekalan
Kesehatan, ditetapkan beberapa indikator dengan target tahunan. Untuk tahun 2010 2014,
indikator Direktorat Bina Obat Publik dan Perbekalan kesehatan dapat dilihat pada Tabel 6.

14

Tabel 6. Target dan Capaian Indikator Kinerja Direktorat Bina Obat Publik dan Perbekalan
Kesehatan Tahun 2010 2014.
REALISASI (%)

TARGET (%)
INDIKATOR

SASARAN

KINERJA

Meningkatnya
sediaan farmasi
dan alat
kesehatan yang
memenuhi
standar dan
terjangkau oleh
masyarakat

2010

2011

2012

2013

2014

2010

2011

80

85

90

95

100

82

87

Persentase
ketersediaan
obat dan vaksin
Persentase
Penggunaan
Obat Generik di
Fasilitas
Pelayanan
Kesehatan
Persentase
Instalasi
Farmasi
Kabupaten/Kota
sesuai standar

B.

2012

2013

92,85

96,93

2014

60

65

70

75

80

82

82,80

85,49

60

65

70

75

80

32,8

71

71,63

79,48

SUMBER DAYA
Dalam mencapai kinerjanya, Direktorat Bina Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan
didukung oleh beberapa sumber daya antara lain Sumber Daya Manusia dan Sumber Daya
Anggaran.
1. Sumber Daya Manusia.
Keadaan pegawai di lingkungan Direktorat Bina Obat Publik dan Perbekalan
Kesehatan sampai akhir tahun 2013 berjumlah 35 orang dengan rincian sebagai berikut :
a.

Menurut Jabatan :

b.

= 14 orang

Jabatan Fungsional

Staf

= 21 orang

0 orang

Menurut Golongan:

c.

Jabatan Struktural

Golongan II

4 orang

Golongan III

= 21 orang

Golongan IV

= 10 orang

Menurut Pendidikan:

S2 dan Apoteker

4 orang

S2

2 orang

Apoteker

= 14 orang

Dokter gigi

Sarjana Farmasi

= 1 orang

1 orang

15

Sarjana Ekonomi

= 1 orang

Sarjana Sosial

= 2 orang

Sarjana Komputer

= 1 orang

Sarjana Administrasi Negara

= 1 orang

D3 Farmasi

= 4 orang

D3 Manajemen Informatika

= 1 orang

SMA

= 3 orang

Komposisi SDM berdasarkan jenis pendidikan adalah sesuai dengan Gambar 1.


Gambar 1. Kekuatan SDM Dit. Bina Oblik & Perbekkes

Kekuatan SDM Dit. Bina Oblik & Perbekkes

2. Sumber Daya Anggaran


Anggaran dalam DIPA Direktorat Bina Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan tahun
2013 adalah Rp. 1.432.201.818.000,- dengan realisasi sebesar Rp. 1.364.727.015.474,dengan realisasi dalam persen 95,29 %

16

Tabel 7. Realisasi Anggaran DIPA Direktorat Bina Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan
Satuan Kerja

Alokasi (Rp.)

Realisasi
Rp.

1.364.727.015.474

95,29

Direktorat Bina Obat


Publik dan Perbekalan

1.432.201.818.000

Kesehatan

C.

ANALISIS AKUNTABILITAS KINERJA TAHUN 2013.


1. Indikator Kinerja Pertama: Persentase Ketersediaan Obat dan Vaksin
a. Kegiatan yang Terkait Langsung dengan Indikator Kinerja.
1) Penyusunan Petunjuk Pelaksanaan E-Catalogue obat. Dengan tersusunnya
petunjuk pelaksanaan tersebut diharapkan dapat memberikan panduan dan
kemudahan bagi seluruh instansi pemerintah yang akan melakukan proses
pengadaan obat generik menggunakan E-Catalogue obat.
2) Pemantapan penerapan E-Catalogue obat. Kegiatan ini bertujuan agar tata cara
penggunaan dan kebijakan tentang E-Catalogue obat dapat lebih dipahami oleh
penggunanya baik produsen maupun konsumen.
3) Pertemuan Pembahasan e-catalogue tahun 2014. Kegiatan ini bertujuan untuk
persiapan dan pembahasan dalam rangka menyusun e-catalogue tahun 2014.
4) Sosialisasi e-catalogue Tahun 2014. Kegiatan ini bertujuan agar e-catalogue 2014
dan penggunaannya dapat lebih dipahami oleh pengguna, industri, maupun
distributor.
5) Penyusunan Daftar Harga Obat Generik, Obat Program, dan Perbekalan
Kesehatan. Kegiatan ini bertujuan untuk memperoleh harga acuan obat generik,
obat program, dan perbekalan kesehatan yang akan digunakan dalam proses
penyusunan e-catalogue.
6) Pertemuan Evaluasi dan Perencanaan Monitoring Harga Obat dan Nama Dagang.
7) Penyusunan Daftar Formularium Nasional Bahan Medis Habis Pakai. Kegiatan ini
bertujuan untuk menyediakan daftar bahan medis habis pakai yang bisa
digunakan.
8) Monitoring ketersediaan obat dan vaksin. Diperoleh data ketersediaan obat pada
masing masing Kabupaten/Kota dan diketahui obat-obat yang kosong sehingga
dapat dipenuhi baik dari buffer stok provinsi maupun nasional sehingga
ketersediaan obat di pelayanan kesehatan dapat terpenuhi.

17

9) Penyusunan rencana kebutuhan obat nasional. Mendapatkan data kebutuhan obat


secara nasional yang digunakan untuk menyusun e-catalogue (daftar harga
elektronik) yang digunakan untuk penetapan harga dalam pengadaan obat pada
instansi pemerintah dalam upaya pemenuhan ketersediaan obat.
10) Penyusunan rencana kebutuhan obat Pelayanan Kesehatan Dasar. Merencanakan
obat untuk pelayanan kesehatan dasar agar perencanaan sesuai kebutuhan
sehingga ketersediaan obat pelayanan kesehatan dasar dapat dijamin sesuai
kebutuhan.
11) Penyusunan

Rencana

Kebutuhan

Obat

Pelayanan

Kesehatan

Rujukan.

Mendapatkan data kebutuhan obat rujukan yang digunakan untuk menyusun ecatalogue (daftar harga elektronik) yang digunakan untuk penetapan harga dalam
pengadaan obat pada instansi pemerintah dalam upaya pemenuhan ketersediaan
obat.
12) Penyusunan Rencana Kebutuhan Obat Pelayanan Program Kesehatan. Kegiatan
ini bertujuan untuk merencanakan kebutuhan obat pelayanan program kesehatan
agar ketersediaan obat pelayanan program kesehatan dapat dijamin sesuai
dengan kebutuhan.
13) Penyusunan rencana kebutuhan obat embarkasi haji. Merencanakan obat untuk
embarkasi haji agar perencanaan sesuai kebutuhan sehingga ketersediaan obat
haji dapat dijamin sesuai kebutuhan.
14) Pengadaan obat, vaksin, dan perbekalan kesehatan. Pengadaan obat, vaksin, dan
perbekalan kesehatan diperlukan dalam upaya pemenuhan kebutuhan obat dan
vaksin untuk program kesehatan.
15) Evaluasi pengadaan dan penerimaan obat, perbekalan kesehatan dan vaksin.
Hasil evaluasi dapat memetakan permasalahan yang mungkin ditemui dalam
pengadaan obat di instansi pemerintah sehingga pengadaan obat tidak terkendala
dan obat dapat tersedia sesuai waktu yang direncanakan.
16) Penerimaan dan Stok Opname obat dan perbekkes haji di Arab Saudi. Mengetahui
ketersediaan obat untuk pelayanan kesehatan jemaah haji.
b. Kegiatan Lain yang Mendukung Indikator Kinerja.
1) Pengembangan e-logistic system
2) Pemantauan kualitas obat di instalasi farmasi kab/kota. Dapat memastikan obat
yang dibeli oleh pemerintah untuk pelayanan kesehatan dasar adalah obat yang
berkualitas guna pemenuhan ketersediaan obat di pelayanan kesehatan dasar.
Untuk tahun 2013 direvisi menjadi kegiatan penyusunan pedoman pemantauan
kualitas obat pelayanan kesehatan dengan tujuan agar obat yang diuji hasilnya
18

dapat ditindaklanjuti dengan kebijakan yang jelas antara Badan POM sebagai
Pengawas Obat dan Kemenkes sebagai pembuat kebijakan dan berkewenangan
dalam pembinaan pada produsen apabila ada produk yang Tidak Memenuhi
Syarat (TMS).
3) Monitoring harga obat generik, nama dagang, dan perbekalan kesehatan di Apotik.
4) Penyusunan Daftar Orphan Drug.
5) Kajian Biaya Kapitasi Pelayanan Kefarmasian.
c. Analisis Capaian Indikator Kinerja Pertama.
Kondisi yang Dicapai
Obat yang dipantau ketersediaannya merupakan obat indikator yang digunakan
untuk pelayanan kesehatan dasar dan obat yang mendukung pelaksanaan program
kesehatan. Jumlah item obat dan vaksin yang dipantau adalah 144 item yang terdiri
dari 135 item obat untuk pelayanan kesehatan dasar dan 9 item vaksin untuk imunisasi
dasar. Data ketersediaan obat di Instalasi Farmasi Kabupaten/Kota diambil sebagai
gambaran ketersediaan obat di pelayanan kesehatan dasar. Capaian tahun 2013
ketersediaan obat dan vaksin rata-rata sebesar 96,93%. Angka ini diperoleh dari ratarata ketersediaan 144 item obat dan vaksin indikator secara nasional. Angka masing
masing provinsi dapat dilihat pada tabel 8.
Tabel 8. Persentase Ketersediaan Obat dan Vaksin Tahun 2013
NO
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19

PROVINSI
NAD
SUMATERA UTARA
SUMATERA BARAT
RIAU
KEPULAUAN RIAU
JAMBI
SUMATERA SELATAN
BENGKULU
BANGKA BELITUNG
LAMPUNG
DKI JAKARTA
BANTEN
JAWA BARAT
JAWA TENGAH
JOGYAKARTA
JAWA TIMUR
KALIMANTAN BARAT
KALIMANTAN TENGAH
KALIMANTAN TIMUR

PERSENTASE
KETERSEDIAAN
106,23
105,93
163,15
137,11
151,70
127,17
87,77
187,63
167,13
93,16
78,71
188,83
109,21
183,09
219,27
84,29
158,80
80,86
138,00

19

20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33

KALIMANTAN SELATAN
BALI
NUSA TENGGARA BARAT
NUSA TENGGARA TIMUR
SULAWESI SELATAN
SULAWESI TENGGARA
SULAWESI TENGAH
SULAWESI UTARA
GORONTALO
SULAWESI BARAT
MALUKU
MALUKU UTARA
PAPUA
PAPUA BARAT

189,31
207,27
158,65
124,89
161,06
118,08
101,17
178,52
145,62
91,74
70,87
78,80
112,79
167,08

Gambar 2. Gambaran Ketersediaan Obat dan Vaksin Tahun 2010 - 2013 dalam
Persentase

Persentase ketersediaan obat di tiap provinsi bervariasi antara 70,87% sampai


dengan 219,27%. Dari 33 Provinsi ketersediaan obat dan vaksin paling rendah adalah
Provinsi Maluku sebesar 70,87% dan paling tinggi adalah Provinsi DI Yogyakarta
sebesar 207,27%, rata-rata adalah 96,93% dengan capaian sebesar 102,03%.
Capaian tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan capaian tahun 2012, yaitu 92,85.%.

20

Gambar 3. Grafik Capaian Realisasi Terhadap Target tahun 2010 - 2013

Tahun 2010 target 80% tercapai sebesar 82%, apabila dibandingkan dengan
target maka capaian sebesar 102,5%. Tahun 2011 target 85% tercapai 87%,
dibandingkan dengan target maka capaian sebesar 102,35%. Tahun 2012 target 90%
tercapai sebesar 92,85%, apabila dibandingkan dengan target maka capaian kinerja
indikator ini sebesar 103,17%.
Gambar 4. E-Procurement Award

Tahun 2013, pengembangan e-catalogue obat generik mulai dilaksanakan dan


diterapkan. Atas pengembangan e-catalogue obat generik dan partisipasi dalam
penerapannya, Kementerian Kesehatan menerima e-Procurement Award dari LKPP.
Target capaian persentase indikator ketersediaan obat dan vaksin pada tahun
2013 adalah sebesar 95%, dicapai realisasi sebesar 96,93%. Dengan demikian
apabila dibandingkan dengan target tahun 2013 sebesar 95% maka capaian kinerja
indikator persentase ketersediaan obat dan vaksin tersebut adalah sebesar 102,03%.

21

Apabila dilihat dari grafik capaian terhadap target tahun 2010 sampai tahun 2013 tidak
membentuk garis lurus akan tetapi berfluktuasi namun setiap tahun mencapai target.
Capaian

tahun

2013

sebesar

102,03%

merupakan

capaian

paling

rendah

dibandingkan capaian tahun 2010, 2011, dan 2012. Hal ini disebabkan antara lain oleh
perubahan peraturan dalam penetapan harga obat untuk pengadaan pemerintah yang
semula menggunakan SK Menkes menjadi katalog elektronik dan perubahan metode
pengadaan yang semula lelang atau penunjukkan langsung menjadi e-purchasing
melalui LPSE. Penggunaan sistem baru ini memerlukan proses adaptasi pada satker
sebagai pengguna, industri sebagai penyedia obat, dan distributor. Hal ini berdampak
dalam hal pengadaan obat di Pusat (obat program kesehatan), Provinsi, dan
Kabupaten/Kota sehingga ada beberapa obat yang tidak dapat diadakan dan hal ini
berdampak pada ketersediaan.
Untuk menjamin ketersediaan obat dan vaksin tersebut, Direktorat Bina Obat
Publik dan Perbekalan Kesehatan berkoordinasi dengan Ditjen P2PL, Ditjen Bina Gizi
dan Kesehatan Ibu dan Anak (Ditjen Bina GKIA), Ditjen BUK, Setjen dalam menyusun
paket pengadaan obat dan vaksin termasuk perbekalan kesehatan. Untuk memenuhi
kebutuhan program kesehatan dan haji antara lain vaksin haji, obat AIDS dan PMS,
Obat TB Paru, Obat Filariasis, Obat Gizi, Obat P2M, Obat/Vaksin Flu Burung, Obat
dan Perbekalan Kesehatan Haji, Obat Emergency Haji, Obat Kesehatan Ibu, Obat
Kesehatan Anak, Reagen Screening Darah, Obat Buffer Stock Pusat, Obat Buffer Stok
Provinsi, Obat Poliklinik, Obat Buffer Stock Bencana dan Obat Emergency Haji.
Serapan anggaran untuk pengadaan obat dan vaksin tersebut di atas sebesar
Rp 1.349.258.184.203,- dari alokasi anggaran yang tersedia termasuk APBN-P
sebesar Rp 1.406.568.155.000,- atau serapannya sebesar 95,93%. Pelaksanaan
proses paket pengadaan obat dan vaksin dimaksud sampai dengan distribusinya ke
Dinas Kesehatan Provinsi sepenuhnya merupakan tanggung jawab Direktorat Bina
Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan.
Dalam rangka merealisasikan capaian indikator kinerja, Direktorat Bina Obat
Publik dan Perbekalan Kesehatan melakukan strategi antara lain sebagai berikut:
Strategi:
a) Peningkatan anggaran melalui APBN maupun APBD I dan APBD II, yang
dialokasikan untuk penyediaan obat dan vaksin.
b) Mengintensifkan

advokasi

kepada

Pemerintah

Daerah

Provinsi

dan

Kabupaten/Kota.
c) Mendorong komitmen Pemerintah Daerah Provinsi dan Kabupaten/Kota untuk
menyediakan obat dan vaksin.
22

d) Memfasilitasi Dinas Kesehatan Provinsi dan Kabupaten/Kota untuk mengadvokasi


Pemerintah Daerah setempat terkait penyediaan obat dan vaksin.
e) Melakukan dekosentrasi biaya distribusi obat dan vaksin yang teralokasi dalam
APBN.
f)

Meningkatkan kualitas perencanaan, pengelolaan, dan monitoring evaluasi obat.

g) Untuk menjamin ketersediaan obat dan vaksin di daerah terpencil, perbatasan dan
kepulauan oleh karena perbedaan letak geografis maka perlu disusun sistem
pengelolaan obat secara khusus.
Permasalahan:
a) Masih ada Pemerintah daerah yang belum mengalokasikan anggaran untuk obat
secara optimal karena kurangnya komitmen Pemerintah Daerah Provinsi dan
Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota dalam mengalokasikan anggaran bagi
penyediaan obat dari APBD sehingga biaya untuk obat mengandalkan anggaran
DAK walaupun pada setiap pertemuan selalu disampaikan bahwa anggaran DAK
untuk obat hanya bersifat sementara.
b) Dengan adanya perubahan penetapan harga obat untuk pengadaan pemerintah
dari SK Menkes secara manual ke harga obat secara elektronik (e-catalogue obat)
dan perubahan metode pengadaan yang semula lelang atau penunjukkan
langsung menjadi e-purchasing melalui LPSE, diperlukan proses adaptasi baik
pada satker sebagai pengguna, industri sebagai penyedia obat, dan distributor. Hal
ini mempengaruhi pengadaan obat di setiap jenjang dan berdampak pada
ketersediaan obat.
Upaya program yang dilakukan untuk meningkatkan kinerja indikator persentase
ketersediaan obat dan vaksin tersebut adalah :
a)

Mengalokasikan dana obat dan vaksin baik di Pusat maupun Daerah.

b) Mengalokasikan Dana Alokasi Khusus (DAK).


c) Advokasi kepada Pemerintah Provinsi dan Kabupaten/Kota untuk peningkatan
alokasi anggaran obat.
d) Menerbitkan harga obat secara elektronik (e-catalogue) pada awal tahun sehingga
tidak mengganggu proses pengadaan
e) Sosialisasi e-catalogue obat dan penerapannya melalui mekanisme e-purchasing
kepada satker sebagai pengguna, industri sebagai penyedia obat, dan distributor
agar semua pihak memperloleh pemahaman yang sama.

23

2. Indikator Kinerja Kedua: Persentase Penggunaan Obat Generik di Fasilitas


Pelayanan Kesehatan
a. Kegiatan yang Terkait Langsung dengan Indikator Kinerja.
Monitoring penggunaan obat generik di sarana pelayanan kesehatan. Dengan
adanya kegiatan ini diperoleh data penggunaan obat generik di sarana pelayanan
kesehatan, di pelayanan kesehatan dasar (puskesmas) dan di pelayanan kesehatan
rujukan (rumah sakit).
b. Kegiatan Lain yang Mendukung Indikator Kinerja.
1) Evaluasi program obat publik dan perbekalan kesehatan. Dari kegiatan ini
didapatkan data penggunaan obat generik dan permasalahan yang dihadapi dalam
penulisan resep obat generik terutama di rumah sakit sehingga pemerintah pusat
dapat merancang kebijakan apa yang perlu dibuat guna meningkatkan
penggunaan obat generik di rumah sakit. Dengan demikian biaya yang digunakan
untuk obat lebih efisien dengan tidak mengurangi efek terapi bagi pasien.
2) Fasilitasi teknis manajemen obat publik dan perbekalan kesehatan. Dengan
kegiatan ini dapat disampaikan kebijakan kewajiban penggunaan obat generik di
pelayanan

kesehatan

pemerintah

pada

pertemuan

yang

diadakan

oleh

penanggung jawab program obat publik di Provinsi. Peserta pertemuan tersebut


dari Kabupaten/Kota dan rumah sakit sehingga dapat dilakukan advokasi
peningkatan penggunaan obat generik di rumah sakit.
3) Rapat konsultasi teknis. Dalam pertemuan ini disampaikan kebijakan kebijakan
penting terkait obat publik dan perbekalan kesehatan termasuk kebijakan
kewajiban penulisan resep obat generik sehingga dihimbau untuk meningkatkan
penggunaan obat generik di rumah sakit.
c. Analisis Capaian Indikator Kinerja Kedua
Kondisi yang Dicapai
Target tahun 2013 ditetapkan sebesar 75% dan realisasi 85,49% dimana
capaian penggunaan obat generik di pelayanan kesehatan dasar (puskesmas)
sebesar 96,11% dan untuk pelayanan kesehatan rujukan (rumah sakit) sebesar
74,87%. Dengan demikian bila dibandingkan terhadap target tahun 2013 capaian
kinerja indikator persentase penggunaan obat generik di fasilitas pelayanan kesehatan
tersebut adalah sebesar 113,98%. Data capaian indikator ini untuk seluruh Provinsi di
Indonesia dapat dilihat pada Tabel 9.
24

Tabel 9. Data Persentase Penggunaan Obat Generik per Provinsi


Tahun 2013
NO
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33

PROPINSI
ACEH
SUMUT
SUMBAR
RIAU
KEPRI
BENGKULU
JAMBI
SUMSEL
LAMPUNG
BABEL
BANTEN
DKI JAKARTA
JATENG
JABAR
DI YOGYAKARTA
JAWA TIMUR
BALI
NTB
NTT
KALBAR
KALTIM
KALTENG
KALSEL
SULUT
SULBAR
SULTRA
SULSEL
SULTENG
GORONTALO
MALUKU
MALUT
PAPUA
PAPUA BARAT
RATA-RATA

RATA-RATA
PUSKESMAS

RATA-RATA
RS

RATA-RATA

98,96%
99,29%
99,86%
88,09%
90,21%
93,25%
96,68%
87,55%
85,70%
100,00%
97,09%
95,50%
96,40%
98,37%
98,80%
96,88%
99,68%
99,50%
100,00%
95,73%
92,47%
95,52%
97,76%
99,68%
97,55%
96,96%
100,00%
91,45%
97,17%
97,28%
99,36%
88,77%
100,00%
96,11%

91,04%
63,88%
90,35%
57,99%
83,04%
63,07%
67,38%
80,18%
66,51%
89,59%
60,66%
66,31%
66,39%
69,44%
83,23%
51,54%
68,21%
74,50%
81,72%
78,22%
61,76%
75,60%
76,89%
82,74%
76,71%
86,60%
71,69%
68,94%
77,83%
81,23%
93,26%
76,15%
88,04%
74,87%

95,00%
81,59%
95,11%
73,04%
86,63%
78,16%
82,03%
83,87%
76,11%
94,80%
78,88%
80,91%
81,40%
83,91%
91,02%
74,21%
83,95%
87,00%
90,86%
86,98%
77,12%
85,56%
87,33%
91,21%
87,13%
91,78%
85,85%
80,20%
87,50%
89,26%
96,31%
82,46%
94,02%
85,49%

25

Gambar 5. Grafik Target dan Persentase Penggunaan Obat di Puskesmas dan Rumah
Sakit Tahun 2010 2013 serta Target Tahun 2014

Apabila dilihat dari tahun 2010 sampai 2013 peningkatan capaian menunjukan
angka yang kecil, ini berarti capaian sudah mendekati angka maksimum karena
capaian di rumah sakit tidak mengalami peningkatan yang bermakna.
Penggunaan obat generik di rumah sakit tahun 2013 bervariasi antara 51,54%
sampai dengan 93,26% dengan rata-rata nasional adalah sebesar 74,87% dan di
Puskesmas juga bervariasi antara 85,70% sampai dengan 100% dengan rata-rata
nasional 96,11%, ini dapat dilihat pada Tabel 9.
Gambar 6. Grafik Capaian Persentase Penggunaan Obat Generik
di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tahun 2010 2014

26

Gambar 7. Kenaikan Persentase Capaian Penggunaan Obat Generik terhadap Target


Tahun 2010 2013

Persentase penggunaan obat generik di sarana Pelayanan Kesehatan


Pemerintah menunjukan peningkatan baik di sarana pelayanan kesehatan dasar
(Puskesmas) maupun di pelayanan kesehatan rujukan (rumah sakit).
Tahun 2010 penggunaan obat generik di Puskesmas 75,6%, di rumah sakit
53,35% dengan angka rata-rata 64,45%. Capaian terhadap target tahun 2010 sebesar
107,47%. Tahun 2011, capaian penggunaan obat generik di Puskesmas 96,73% dan
di rumah sakit 66,45%, rata-rata 81,59%. Capaian terhadap target tahun 2011 adalah
125,52% (mengalami kenaikan 17,14% dibanding tahun 2010). Tahun 2012,
penggunaan obat generik di Puskesmas sebesar 95%, rumah sakit 70,61%, sehingga
rata-rata penggunaan obat generik di fasilitas pelayanan kesehatan sebesar 82,80%,
dengan demikian, maka capaian terhadap target 70% pada tahun 2012

adalah

sebesar 118,29% (mengalami kenaikan dari tahun 2011 sebesar 1,21%).


Tahun 2013, penggunaan obat generik di Puskesmas sebesar 96,11%, rumah
sakit 74,87%, sehingga rata-rata penggunaan obat generik di fasilitas pelayanan
kesehatan sebesar 85,49%, dengan demikian capaian terhadap target 75%

pada

tahun 2013 adalah sebesar 113,99% (mengalami kenaikan dari tahun 2012 sebesar
2,69%). Dapat dilihat pada gambar 5, 6, dan 7.
Permasalahan:
Belum terbangunnya sistem pelaporan yang rutin tentang penggunaan obat
generik terutama dari Rumah Sakit ke Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota yang akan
diteruskan ke Provinsi dan Pusat.

27

Upaya Penyelesaian Masalah:


Perlu dibangun sistem pelaporan penggunaan obat generik dari unit pelayanan
ke instansi penanggung jawab kesehatan di daerah (Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota
dan Provinsi).
3. Indikator Kinerja Ketiga: Persentase Instalasi Farmasi Kabupaten/Kota yang sesuai
Standar
a. Kegiatan yang Terkait Langsung dengan Indikator Kinerja.
1) Peningkatan sarana dan prasarana di instalasi farmasi nasional. Dengan
lengkapnya sarana dan prasarana instalasi farmasi nasional obat dapat disimpan
sesuai standar.
2) Pembekalan Tenaga Kefarmasian terhadap Pedoman Obat Publik dan Perbekalan
Kesehatan tahun 2012.
3) Pembekalan Tenaga Kefarmasian dalam pengelolaan vaksin. Menambah
pengetahuan pengelola obat di Provinsi dalam pengelolaan vaksin agar dapat
mengelola vaksin sesuai standar penyimpanan vaksin yang lebih spesifik dan
diharapkan Provinsi dapat mentransfer ilmunya ke pengelola obat di IFK sehingga
IFK dapat dikondisikan sesuai standar penyimpanan obat dan vaksin.
4) Operasional Instalasi Farmasi Pusat. Dengan adanya biaya operasional maka
semua kebutuhan dalam pengelolaan obat dapat dipenuhi termasuk dalam
pemeliharaan kebersihan, pemenuhan keperluan pendistribusian obat yang
menjadikan pengelolaan sesuai standar yang ditetapkan.
b. Kegiatan Lain yang Mendukung Indikator Kinerja.
1) Penyusunan Prosedur Tetap Pengelolaan Obat di Instalasi Farmasi Nasional.
Dengan adanya Protap Pengelolaan Obat di Instalasi Farmasi Nasional diharapkan
pengelolaan obat buffer stok nasional berjalan dengan baik walaupun terjadi
pergantian sumber daya manusia tidak akan mempengaruhi pengelolaan obat dan
perbekalan kesehatan.
2) Bimbingan teknis manajemen pengelolaan obat publik dan perbekalan kesehatan
di sektor pemerintah. Dengan memberikan bimbingan pada pengelola obat di
Kabupaten/Kota yang pengelolaannya digolongkan masih di bawah standar yang
ditetapkan diharapkan ke depan Instalasi Farmasi Kabupaten/Kota (IFK) yang
diberikan bimbingan teknis akan mencapai standar.
3) Pemilihan pengelola obat berprestasi di instalasi farmasi provinsi dan kab/kota.
Ajang ini dapat digunakan sebagai alat untuk mendorong dan memotivasi
pengelola IFK untuk meningkatkan IFK menjadi sesuai standar.
28

4) Stok opname obat Buffer Stock Pusat. Mendapatkan data stok obat dengan
mengetahui kondisi obat termasuk tanggal kadaluwarsanya sehingga langkah
langkah untuk pembenahan dapat dilakukan.
5) Pemusnahan Obat Kadaluarsa di Arab Saudi.
6) Penyusunan Prosedur Tetap Pengelolaan Obat Haji di Arab Saudi. Dengan
tersusunnya Protap Pengelolaan Obat Haji di Arab Saudi akan memberikan acuan
yang jelas bagi petugas farmasi yang melaksanakan pelayanan obat untuk
pelayanan kesehatan bagi Jemaah Haji.
7) Pembekalan Tenaga Kefarmasian tentang pengelolaan obat di Arab Saudi.
8) Bimbingan Teknis Software E-Logistic System dan Analisis Ketersediaan Obat
9) Pilot project E-Logistic System di DIY
c. Analisis Capaian Indikator Kinerja Ketiga.
Kondisi yang dicapai
Untuk mendapatkan data Instalasi Farmasi sesuai standar Direktorat Bina Obat
Publik dan Perbekalan Kesehatan melakukan penilaian terhadap Instalasi Farmasi
Kabupaten/Kota. Penilaian dilakukan dengan instrumen yang mencakup 3 aspek yaitu
sumber daya manusia pengelola obat dengan bobot 40%, sarana dan prasarana bobot
40% serta biaya operasional bobot 20%. Tata cara penilaian dan skoring dapat dilihat
pada lampiran 1.
Apabila Instalasi Farmasi Kabupaten/Kota sudah memiliki skoring nilai di atas
60%, maka dapat dikatakan sudah sesuai standar. Data Instalasi Farmasi
Kabupaten/Kota yang mencakup ketiga aspek tersebut diperoleh dari kegiatan
bimbingan teknis ke instalasi farmasi kabupaten/kota dan hasil laporan dari dinas
kesehatan provinsi.
Tabel 10. Data Instalasi Farmasi Kabupaten/Kota Sesuai Standar Tahun 2013
NO
1
2
3
4
5
6
7
8
9

PROVINSI
NAD
SUMATERA UTARA
JAMBI
BENGKULU
SUMATERA BARAT
BANGKA BELITUNG
RIAU
KEPULAUAN RIAU
SUMATERA SELATAN

JUMLAH IFK

JUMLAH IF
KABUPATEN/KOTA
SESUAI STANDAR

23
33
11
10
19
7
12
7
15

13
17
11
10
19
7
10
7
9

PERSENTASE
(%)
56,52
51,52
100,00
100,00
100,00
100,00
83,33
100,00
60,00
29

10 LAMPUNG
11 DKI JAKARTA
12 BANTEN
13 JAWA BARAT
14 JAWA TENGAH
15 YOGYAKARTA
16 JAWA TIMUR
17 BALI
18 KALIMANTAN BARAT
19 KALIMANTAN TIMUR
20 KALIMANTAN SELATAN
21 KALIMANTAN TENGAH
22 SULAWESI SELATAN
23 SULAWESI TENGAH
24 SULAWESI TENGGARA
25 SULAWESI BARAT
26 SULAWESI UTARA
27 GORONTALO
28 NUSA TENGGARA BARAT
29 NUSA TENGGARA TIMUR
30 MALUKU
31 MALUKU UTARA
32 PAPUA BARAT
33 PAPUA
JUMLAH

14
6
8
26
35
5
38
9
14
14
13
14
24
11
12
5
15
6
10
21
11
9
11
29
497

8
2
8
26
34
5
35
8
12
11
11
11
24
9
9
5
11
4
8
12
6
7
8
18
395

57,14
33,33
100,00
100,00
97,14
100,00
92,11
88,89
85,71
78,57
84,62
78,57
100,00
81,82
75,00
100,00
73,33
66,67
80,00
57,14
54,55
77,78
72,73
62,07
79,48

Gambar 8. Grafik IFK sesuai Standar Tahun 2010 2013, target 2014

30

Target tahun 2013 ditetapkan sebesar 75% dan realisasinya sampai dengan
akhir tahun sebesar 79,48%. Dengan demikian, bila dibandingkan terhadap target
tahun

2013

maka

capaian

kinerja

indikator

persentase

instalasi

farmasi

kabupaten/kota sesuai standar adalah sebesar 105,97%.


Kesimpulannya adalah bahwa jumlah Instalasi Farmasi kabupaten/kota yang
sesuai standard (skoring nilai di atas 60%) adalah sebanyak 395 IFK dari jumlah
Instalasi Farmasi Kabupaten/Kota yang ada sebanyak 497 instalasi farmasi.
Instalasi Farmasi

Kabupaten/Kota yang sesuai standar di setiap Provinsi

sangat bervariasi karena penilaian berhubungan dengan fisik bangunan dan sarana
sehingga kenaikan nilai sangat dipengaruhi oleh anggaran pembangunan sarana.
Pada tahun 2010 persentase yang sesuai standar sangat kecil hanya mencapai
32,8%. Tahun 2011 dengan adanya peluang dana DAK untuk obat bisa direalokasikan
untuk pembangunan sarana gudang maka nilai IFK yang sesuai standar mengalami
kenaikan dan ditambah lagi dengan adanya bantuan dari Anggaran Global Fund yang
dialokasikan untuk pembangunan sarana dan prasarana. Tahun 2012 sudah dibangun
20 IFK.
Permasalahan:
a) Belum optimalnya komitmen Pemerintah Daerah Provinsi dan Pemerintah Daerah
Kabupaten/Kota dalam mengalokasikan anggaran yang memadai untuk sarana
prasarana dan biaya operasional untuk pengelolaan obat di Instalasi Farmasi
Kabupaten/Kota.
b) Jumlah tenaga kefarmasian yang terbatas dan kompetensi yang belum sesuai
c) Seringnya mutasi tenaga kefarmasian yang bertugas di Instalasi Farmasi
Kabupaten/kota mempengaruhi manajemen pengelolaan obat.
Upaya Peningkatan Kinerja Indikator Ketiga Persentase Instalasi Farmasi sesuai
Standar:
a) Memberikan bantuan penyediaan sarana dan prasarana yang memadai untuk
pengelolaan

obat

dan

vaksin

sehingga

Dinas

Kesehatan

Provinsi

dan

Kabupaten/Kota mampu menjaga kualitas obat (melalui DAK bidang kefarmasian).


b) Melakukan peningkatan kapasitas SDM dalam pengelolaan obat di Instalasi
Farmasi Provinsi dan Kabupaten/Kota.
c) Melakukan sosialisasi pedoman yang ada terkait pengelolaan obat dan perbekalan
kesehatan.
d) Melakukan pembinaan SDM pengelola obat secara berkesinambungan.

31

e) Peningkatan komitmen Pemerintah Daerah Provinsi dan Kabupaten/Kota dalam


hal penyediaan anggaran bidang kesehatan termasuk obat, vaksin dan perbekalan
kesehatan agar ditetapkan dalam bentuk nilai persentase dari APBD-nya yang
besarannya dapat menjamin ketersediaan obat, vaksin dan perbekalan kesehatan.
Untuk hal ini perlu diperkuat dan didukung SK Menteri Dalam Negeri.
f)

Intensifikasi upaya advokasi kepada Pemerintah Daerah Provinsi dan Pemerintah


Daerah Kabupaten/Kota dalam hal penyediaan anggaran obat dan vaksin
bersumber APBD.

g) Dekonsentrasi biaya distribusi obat dan vaksin yang teralokasi dalam APBN.
h) Peningkatan kualitas pengelolaan obat melalui peningkatan kapasitas SDM
Kefarmasian yang dilakukan secara berkesinambungan.
i)

Memberikan bantuan penyediaan sarana prasarana melalui DAK bidang


Kefarmasian sehingga kualitas obat tetap terjamin.

j)

Menyusun dan merevisi pedoman pengelolaan obat.

k) Bimbingan teknis pengelolaan obat.


l)

Mengusulkan Hibah Global Fund untuk pembangunan sarana dan prasarana serta
penguatan Manajemen Pengelolaan Obat di Provinsi dan Kab/Kota melalui
program Supply Chain Management (SCM).

4. Indikator Penunjang
a. Jumlah Pengadaan Dalam Rangka Mendukung Kegiatan Direktorat Bina Obat Publik
dan Perbekalan Kesehatan terdapat dalam Tabel 11.
Tabel 11. Jumlah Pengadaan di Direktorat Bina Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan
No

Pengadaan

Penyediaan Vaksin Reguler

Penyediaan Vaksin Inactivated


Polio (IPV)
Penyediaan Vaksin DPT-HB-Hib

Pagu

Realisasi

Persentase

475.764.603.000,00

475.764.603.000,00

100,00%

9.478.815.000,00

9.049.611.824,00

95,47%

27.669.172.000,00

27.609.442.707,00

99,78%

15.167.557.000,00

2.131.136.541,00

14,05%

3.864.152.000,00

2.018.569.754,00

52,24%

4.318.329.000,00

1.327.447.691,00

30,74%

17.998.223.000,00

13.100.422.795,00

72,79%

Penyediaan Obat Buffer Stok


Provinsi
Penyediaan Obat Buffer Stok
Pusat
Penyediaan Obat Buffer Bencana/
KLB/Penanganan Darurat/
Emergency
Penyediaan Obat Penyakit
Menular
Penyediaan Obat Filariasis

7.920.724.000,00

5.439.383.165,00

68,67%

Penyediaan Obat AIDS dan PMS

229.942.938.000,00

224.818.659.253,00

97,77%

3
4
5
6

32

10

Penyediaan Obat Malaria

39.464.947.000,00

38.026.163.154,00

96,35%

11

Penyediaan Obat TB Paru

69.743.682.000,00

69.218.648.906,00

99,25%

12

124.995.399.000,00

123.318.256.200,00

98,66%

24.284.728.000,00

23.171.797.677,00

95,42%

2.500.000.000,00

2.481.259.240,00

99,25%

15

Penyediaan Reagen Screening


Darah
Penyediaan Obat dan Perbekkes
Haji
Obat dan Perbekalan Emergency
Haji
Penyediaan Obat Kesehatan Ibu

820.000.000,00

645.009.235,00

78,66%

16

Penyediaan Obat Kesehatan Anak

8.714.129.000,00

6.403.725.981,00

73,49%

17

Penyediaan Obat Gizi

24.999.079.000,00

20.706.817.234,00

82,83%

18

Penyediaan Obat Poliklinik


Depkes Pusat
Penyediaan Vaksin Meningitis Haji
dan Umrah
Operasi Surya Baskara Jaya

892.824.000,00

3.372.610,00

0,38%

176.404.878.000,00

176.216.177.500,00

99,89%

2.678.472.000,00

1.130.534.034,00

42,21%

25.891.904.000,00

21.582.502.360,00

83,36%

56.000.000.000,00

51.922.530.000,00

92,72%

37.600.000.000,00

37.519.475.400,00

99,79%

17.813.191.000,00

14.266.922.600,00

80,09%

13
14

19
20
21
22
23

24

Penyediaan Anti Psikosis /


Kesehatan Jiwa
Penyediaan Reagen NAT
(APBNP)
Penyediaan Tambahan Vaksin
Meningitis Umrah (Pemanfaatan
Relokasi Anggaran Kemenkes
2013)
Penyediaan Tambahan Obat IMS
& OI Penderita HIV/AIDS
(Pemanfaatan Realokasi
Anggaran Kemenkes 2013)

b. Dukungan Manajemen Administrasi Perkantoran.


1) Administrasi umum satuan kerja. Pendukung pelaksanaan program dan kegiatan
direktorat termasuk di dalamnya honor pengelola satuan kerja, biaya keperluan
opretasional kantor, dan ATK.
2) Penyusunan RKAKL tahun 2014. Digunakan untuk menyusun dokumen kegiatan
yang menjadi pendukung capaian indikator.
3) Penyusunan rencana program 2014. Menyusun perencanaan program kegiatan
satu tahun mendatang.
4) Penyusunan laporan SAK dan BMN. Guna membuat laporan keuangan dan
Laporan Barang Milik Negara yang mana Direktorat Bina Obat Publik dan
Perbekalan Kesehatan mengelola barang persediaan yaitu obat yang secara
berkala harus dilaporkan.
5) Pengadaan alat pengolah data. Mendukung pelaksanaan pekerjaan untuk
meningkatkan kinerja dalam mencapai target indikator.

33

6) Peningkatan kinerja pegawai Direktorat Bina Obat Publik dan Perbekalan


Kesehatan. Meningkatkan semangat pegawai untuk menjalankan tugas dalam
upaya mencapai target indikator.
7) Peningkatan kapasitas sumber daya manusia di luar negeri. Menambah
pengetahuan pegawai dengan cakrawala yang lebih luas.
8) Penyusunan Laporan Akuntabilitas Kinerja. Tersusunnya LAKIP sebagai alat
mengukur capaian kinerja Instansi.
9) Pemusnahan obat kadaluarsa. Ini dilakukan agar obat yang ED tidak tersimpan
lagi di dalam IF nasional sehingga obat dapat di susun dan tertata sesuai aturan
penyimpanan.
10) Penyusunan Laporan Tahunan. Dapat digunakan sebagai referensi penyusunan
program tahun mendatang.
11) Kegiatan Lintas Sektoral / Lintas program untuk mempermudah koordinasi.
D.

REALISASI ANGGARAN
Direktorat Bina Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan dalam melaksanakan tugas
pokok dan fungsi didukung oleh anggaran DIPA Direktorat Bina Obat Publik dan Perbekalan
Kesehatan Tahun 2013 dengan alokasi Rp 1.432.189.818.000,00 setelah optimalisasi,
sementara realisasinya Rp 1.364.737.015.454,00 (95,29%).

Tabel 12. Realisasi Anggaran tahun 2013


No

1
2
3
4
5
6
7

8
9

Kegiatan
Kegiatan yang mendukung
indikator Persentase Ketersediaan
Obat dan Vaksin
Pengadaan Obat, Vaksin, dan
Perbekalan Kesehatan
Penyusunan Daftar Formularium
Nasional Bahan Medis Habis Pakai
Pertemuan Pembahasan E-Catalogue
Tahun 2014
Penyusunan Rencana Kebutuhan
Obat Nasional
Penyusunan Rencana Kebutuhan
Obat Rumah Sakit
Penyusunan Rencana Kebutuhan
Obat Embarkasi Haji
Pertemuan Evaluasi dan
Perencanaan Monitoring Harga Obat
dan Nama Dagang
Penyusunan Petunjuk Pelaksanaan
e-Catalogue
Penyusunan Daftar Orphan Drug

Pagu

Realisasi

Prosentase

1.410.552.178.000,00

1.349.829.936.967,00

95,70%

448.080.000,00

314.890.000,00

70,28%

513.960.000,00

247.220.000,00

48,10%

638.333.000,00

555.905.000,00

87,09%

375.155.000,00

308.365.000,00

82,20%

241.188.000,00

222.512.050,00

92,26%

447.998.000,00

396.155.000,00

88,43%

255.440.000,00

177.647.000,00

69,55%

448.080.000,00

351.593.200,00

78,47%

34

10

11

12

13
14
15
16
17
18
19

1
2
3
4

1
2

3
4
5

6
7
8
9

10

Penyusunan Daftar Harga Obat


Generik, Obat Program, dan
Perbekes
Monitoring Harga Obat Generik,
Nama Dagang, dan Perbekalan
Kesehatan di Apotek
Evaluasi Pengadaan dan Penerimaan
Obat, Perbekalan Kesehatan, dan
Vaksin
Monitoring Ketersediaan Obat dan
Vaksin
Penyusunan Rencana Kebutuhan
Obat Pelayanan Kesehatan Dasar
Penyusunan Rencana Kebutuhan
Obat Pelayanan Kesehatan Rujukan
Penyusunan Rencana Kebutuhan
Obat Pelayanan Program Kesehatan
Sosialisasi E-Catalogue Tahun 2014

445.780.000,00

336.010.000,00

75,38%

686.940.000,00

547.902.300,00

79,76%

252.600.000,00

240.600.000,00

95,25%

759.710.000,00

645.503.100,00

84,97%

525.760.000,00

273.600.000,00

52,04%

435.760.000,00

337.529.800,00

77,46%

373.840.000,00

272.805.000,00

72,97%

625.505.000,00

559.173.000,00

89,40%

Kajian Biaya Kapitasi Pelayanan


Kefarmasian
Pemantapan Penerapan e-catalog

473.520.000,00

201.830.000,00

42,62%

580.885.000,00

419.009.550,00

72,13%

569.930.000,00

564.585.350,00

99,06%

414.045.000,00

388.889.275,00

93,92%

241.320.000,00

235.312.950,00

97,51%

584.970.000,00

575.146.400,00

98,32%

95.360.000,00

93.257.700,00

97,80%

74.420.000,00

0%

495.145.000,00

0%

151.010.000,00

142.728.400,00

94,52%

Penyusunan Prosedur Tetap


Pengelolaan Obat di Instalasi Farmasi
Nasional
Penyusunan Prosedur Tetap
Pengelolaan Obat Haji di Arab Saudi
Stok Opname Obat Buffer Stok Pusat

117.300.000,00

100.150.000,00

85,38%

265.710.000,00

158.324.950,00

59,59%

94.500.000,00

57.698.400,00

61,06%

Penerimaan dan Stok Opname Obat


dan Perbekes Haji di Arab Saudi
Pemilihan Pengelola Obat Berprestasi
di Instalasi Farmasi Provinsi dan
Kab/Kota
Pembekalan Tenaga Kefarmasian
Terhadap Pedoman Obat Publik dan
Perbekes Tahun 2012

851.610.000,00

839.116.750,00

98,53%

425.990.000,00

265.900.000,00

62,42%

565.340.000,00

0%

Kegiatan yang mendukung


indikator Persentase Penggunaan
Obat Generik di Fasilitas
Pelayanan Kesehatan
Evaluasi Program Obat Publik dan
Perbekes
Monitoring Pengunaan Obat Generik
di Sarana Pelayanan Kesehatan
Pembahasan Penyusunan Juklak
Sampling Obat PKD
Rapat Konsultasi Teknis
Kegiatan yang mendukung
indikator Persentase Instalasi
Farmasi Kab/Kota Sesuai Standar
Peningkatan Kinerja SDM Instalasi
Farmasi Nasional
Implementasi Standar Mutu ISO
9001:2008 dalam Pengelolaan Obat
Publik dan Perbekalan Kesehatan
Pemusnahan Obat Kadaluarsa di
Arab Saudi
Pemusnahan Obat Kadaluarsa

35

11

Pembekalan Tenaga Kefarmasian


dalam Pengelolaan Vaksin
Pembekalan Tenaga Kefarmasian
dalam Pengelolaan Vaksin (Lanjutan)
Fasilitasi Teknis Manajemen Obat
Publik dan Perbekalan Kesehatan
Bimbingan Teknis Manajemen
Pengelolaan Obat Publik dan
Perbekalan Kesehatan di Sektor
Pemerintah
Pertemuan Pembahasan E-Logistyc
System
Sarana Pendukung Instalasi Farmasi

309.985.000,00

303.387.050,00

97,87%

731.335.000,00

381.138.000,00

52,12%

194.220.000,00

130.778.752,00

67,34%

631.650.000,00

449.264.700,00

71,13%

307.952.000,00

265.880.000,00

86,34%

579.991.000,00

63.649.300,00

10,97%

285.560.000,00

234.301.000,00

82,05%

839.220.000,00

323.178.300,00

38,51%

19

Pembekalan Tenaga Kefarmasian


Tentang Pengelolaan Obat di Arab
Saudi
Bimbingan Teknis Software E-Logistic
System dan Analisis Ketersediaan
Obat
Pilot Project E-Logistyc System di DIY

310.414.000,00

153.722.600,00

49,52%

20

Pengembangan e-logistyc System

432.640.000,00

159.770.000,00

36,93%

Kegiatan yang mendukung


Indikator Penunjang
Administrasi Umum Perkantoran

1.234.625.000,00

999.217.738,00

80,93%

119.880.000,00

105.606.500,00

88,09%

Penyusunan Laporan Akuntabilitas


Kinerja
Penyusunan Laporan Tahunan

98.400.000,00

89.496.700,00

90,95%

Penyusunan Rencana Program 2014

170.100.000,00

161.799.050,00

95,12%

Penyusunan RKAKL 2014

87.480.000,00

81.355.050,00

93,00%

Penyusunan Laporan SAK dan BMN

230.640.000,00

218.054.400,00

94,54%

Peningkatan Kinerja Pegawai Dit.


Bina Obat Publik dan Perbekes
Peningkatan Kapasitas Sumber Daya
Manusia Luar Negeri
Perangkat Pengolah Data dan
Komunikasi
Kegiatan Lintas Sektoral / Lintas
Program
Pertemuan Pembahasan ISO 9001 :
2008
Koordinasi Penyusunan Laporan
Kegiatan
TOTAL

364.944.000,00

360.637.000,00

98,82%

536.970.000,00

272.036.376,00

50,66%

171.620.000,00

156.220.000,00

91,03%

288.060.000,00

168.225.796,00

58,40%

245.820.000,00

0%

65.370.000,00

0%

1.432.189.818.000,00

1.364.737.015.454,00

95,29%

12
13
14

15
16
17

18

8
9
10
11
12

Dari Tabel 12, tampak bahwa dalam hal penyelesaian kegiatan-kegiatan di Direktorat
Bina Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan, kinerja dapat diperoleh melampaui target
pencapaian tanpa harus menghabiskan seluruh anggaran. Dengan demikian, Direktorat Bina
obat Publik dan Perbekalan Kesehatan telah berhasil melakukan penghematan (efisiensi)
realisasi anggaran.
36

BAB IV
PENUTUP

Pelaksanaan kegiatan Direktorat Bina Obat Publik dan Perbekalan


Kesehatan tahun 2013 dilakukan sesuai tugas dan fungsi yang tertuang dalam
Peraturan

Menteri

Kesehatan

Nomor:

1144/Menkes/Per/VIII/2010

tentang

Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Kesehatan Republik Indonesia yang secara
rinci diuraikan menggunakan acuan Rencana Strategis Kementerian Kesehatan
tahun 2010 2014.
Direktorat Bina Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan telah merealisasikan
anggaran sebesar Rp 1.364.727.015.474 dari alokasi dana yang disediakan dalam
DIPA sebesar Rp 1.432.201.818.000,- dengan persentase sebesar 95,29 %.
Pada dasarnya, Direktorat Bina Publik dan Perbekalan Kesehatan

telah

berhasil melaksanakan kegiatan tahun 2013 sesuai perencanaan yang telah


ditetapkan. Tiga

indikator telah mencapai target, yaitu indikator Persentase

Ketersediaan Obat dan Vaksin, Persentase Penggunaan Obat Generik di Fasilitas


Pelayanan Kesehatan, dan Persentase Instalasi Farmasi Kabupaten/Kota yang
sesuai Standar. Capaian indikator tersebut telah dievaluasi sehingga pada tahun
2014 diupayakan akan mencapai target yang telah ditetapkan dalam dokumen
penetapan kinerja.
Diharapkan Laporan Akuntabilitas Kinerja Direktorat Bina Obat Publik dan
Perbekalan Kesehatan ini dapat dimanfaatkan untuk bahan evaluasi kinerja bagi
yang membutuhkan, penyempurnaan dokumen perencanaan periode yang akan
datang, penyempurnaan pelaksanaan program dan kegiatan yang akan datang, dan
penyempurnaan berbagai kebijakan yang diperlukan.

37

Lampiran 1. Indikator Persentase Instalasi Farmasi Kabupaten/Kota Sesuai Standar

Indikator Persentase Instalasi Farmasi Kabupaten/ Kota Sesuai Standar


Dari Jumlah 497 Kabupaten/ Kota di seluruh Indonesia, 395 Kabupaten/ Kota
memenuhi standar penilaian minimal Instalasi Farmasi Kabupaten/ Kota yang dianggap
memenuhi syarat (79,48%).
Skor total minimal yang digunakan sebagai standar untuk Instalasi Farmasi yang
memenuhi syarat adalah 60. Skoring/ penilaian meliputi unsur SDM (40%), Sarana dan
Prasarana (40%), Pembiayaan (20%).
Hal-hal tentang Instalasi Farmasi Kabupaten/Kota :
1. Pelatihan yang harus dikuti SDM Farmasi IFK :
a. Pelatihan Manajemen Pengelolaaan Obat Tk Kab/Kota
b. Pelatihan Cara Distribusi obat yang baik (CDOB)
c. Pelatihan Pengelolaan Obat dengan Hardware dan Software
d. Pelatihan Pengelolaan Pergudangan /Warehouse (storage, pemusnahan obat)
e. Pelatihan Cara Penyimpanan obat yang baik (good storage practice)
f.

Pelatihan Pengelolaan Obat Program (TB, vaksin, HIV, dll)

g. Pelatihan Advokasi
2. Sarana Pengamanan IFK
a. Alarm
b. Pemadam kebakaran
c. Teralis
d. Pagar (Pintu pengaman yaitu Pintu besi, CCTV)
3. Sarana Penyimpanan dan Distribusi
a.

Rak

i.

Tangga (Tangga besi lipat/ lurus

b.

Palet

j.

Trolley (Trolley/ kereta dorong roda 4)

c.

Lemari Narkotika

k. Generator

d.

Kulkas,

l.

e.

Cold room, Cold box

m. Mobil

f.

Air Conditioning

n. Motor

g.

Ventilator

o. Speed boat

h.

Termometer/ hygrometer)

Handforklift

38

4. Sarana Administrasi
a.

Mebeulair

b.

Pengolah data (Komputer PC/ laptop, Printer Laser/ dot matrik Mesin Tik)

c. Alat komunikasi ( Telepon, Faksimili)


d. Sarana Informasi ( Televisi, Intercomm, Jaringan internet )
5. Penggunaan Biaya Operasional
a. Biaya operasional untuk pekerjaan administrasi (ATK dan computer supply, Biaya
listrik, telepon, internet dan air, Biaya cetak dan penggandaan, Biaya ketahanan tubuh
b. Handling cost Biaya distribusi
c. Biaya pemeliharaan gedung, kendaraan dan genset

39

BOBOT PENILAIAN
NO

UNSUR YANG DINILAI

I.

SDM,

BOBOT

KET

BOBOT 40 %

1. Penanggungjawab

2. Perbandingan SDM

3. Peningkatan SDM

II.

KRITERIA

- Apoteker

- S1 Farmasi/D3 Farmasi

- AA/SMF

- Tenaga Kesehatan lain/lain-lain

- Jumlah SDM > 7

- Jumlah SDM 5- 7

- Jumlah SDM 3 - 4

- Jumlah SDM < 2

- Mengikuti semua pelatihan

- Jika mengikutiseparo atau >

- Jika separo

- Tidak mengikuti pelatihan

SARANA DAN PRASARANA,


4. Struktur Organisasi

5. Luas Tanah

BOBOT 40 %

- UPTD

- Dibawah Seksie farmasi

- Lain-lain

- 1000 m2

500 m2 1000 m2

- < 500 m
6. Luas Bangunan

8. Sarana Pengaman

- > 300 m
- 300 m

7. Status Gedung

- Milik Sendiri

- Sewa

- Memiliki semua sarana

Pengaman
- Memiliki 2 3 sarana pengaman

- Hanya 1 sarana pengaman

- Tidak memiliki sarana

Pengaman

40

III

9. Sarana

- Memiliki Semua sarana

Penyimpanan dan

Penyimpanan

Distribusi

- Memiliki 7 13

- Memiliki 3 6

- Memiliki 1 2

- Tidak memiliki

10. Sarana

- Memiliki Semua Sarana Adm

Administrasi

- Memiliki 3 4 sarana

- Memiliki 1 2 sarana

- Tidak memiliki sarana Adm

ANGGARAN DAN BIAYA OPERASIONAL, BOBOT 20 %


11. Biaya Operasional

- Memiliki biaya ops

- Tidak memiliki biaya ops

12. Penggunaan biaya - BO Mencakup ketiganya

operasional

13.Anggaran perkapita

- Hanya 2 dari 3

- Hanya 1

- > Rp. 9.000

- Rp 5.000 9.000

- < Rp. 5000

41

LAMPIRAN 2
PERSENTASE KETERSEDIAAN OBAT DAN VAKSIN
PERIODE B12 TAHUN 2013
NASIONAL
NO

NAMA OBAT

KEMASAN

KEBUTUHAN
TAHUN 2013

TOTAL PENGGUNAAN

SISA STOK PER

BULAN DES 2012 S/D

30 NOVEMBER

BULAN NOV 2013

2013

JUMLAH OBAT

DAN VAKSIN

KETERSEDIAAN

7=5+6

8=7/4

Alopurinol tablet 100 mg

tablet

36,741,378

19,229,747

23,104,455

42,334,202

115.22%

Aminofilin tablet 200 mg

tablet

32,367,841

16,672,133

14,346,644

31,018,777

95.83%

Aminofilin injeksi 24 mg/ml

tablet

1,010,547

417,058

501,929

918,987

90.94%

Amitripilin tablet salut 25 mg (HCL)

tablet

6,105,441

2,348,886

3,957,380

6,306,266

103.29%

Amoksisilin kapsul 250 mg

kapsul

105,686,877

50,006,118

38,234,288

88,240,406

83.49%

Amoksisilin kaplet 500 mg

kaplet

537,766,318

281,166,035

291,406,496

572,572,531

106.47%

Amoksisilin sirup kering 125 mg/ 5 mg

botol

15,290,917

8,827,830

9,609,045

18,436,875

120.57%

Metampiron tablet 500 mg

tablet

182,539,479

104,102,605

98,494,679

202,597,283

110.99%

Metampiron injeksi 250 mg

ampul

3,099,226

1,528,820

1,599,428

3,128,248

100.94%

10

Antasida DOEN I tablet kunyah, kombinasi :Aluminium


Hidroksida 200 mg + Magnesium Hidroksida 200 mg

tablet

330,010,245

167,904,308

157,741,630

325,645,937

98.68%

11

Anti Bakteri DOEN saleb kombinasi : Basitrasin 500 IU/g +


polimiksin 10.000 IU/g

tube

3,203,739

1,459,492

1,393,982

2,853,474

89.07%

Antihemoroid DOEN kombinasi : Bismut Subgalat 150 mg +

supp

1,478,236

735,472

552,473

1,287,945

87.13%

12
13
14

Heksaklorofen 250 mg
Antifungi DOEN Kombinasi : Asam Benzoat 6% + Asam Salisilat

pot

3%
Antimigren : Ergotamin tartrat 1 mg + Kofein 50 mg

tablet

Antiparkinson DOEN tablet kombinasi : Karbidopa 25 mg +

tablet

1,628,366

640,547

1,130,178

1,770,725

108.74%

6,538,399

2,435,922

2,458,231

4,894,153

74.85%

150,345

49,529

57,691

107,220

71.32%

2,358,049

1,105,384

1,193,384

2,298,768

97.49%

tablet

340,682,306

176,528,800

126,672,199

303,200,999

89.00%

tablet

9,155,228

2,591,429

3,719,081

6,310,510

68.93%

Asam Asetisalisilat tablet 500 mg (Asetosal)

tablet

2,601,517

857,123

1,069,150

1,926,273

74.04%

20

Atropin sulfat tablet 0,5 mg

tablet

1,991,758

562,679

1,116,270

1,678,949

84.29%

21

Atropin tetes mata 0,5%

botol

35,022

14,622

18,522

33,144

94.64%

22

Atropin injeksi l.m/lv/s.k. 0,25 mg/mL - 1 mL (sulfat)

ampul

539,197

192,160

287,865

480,025

89.03%

23

Betametason krim 0,1 %

krim

5,755,275

2,957,901

2,704,064

5,661,965

98.38%

24

Deksametason Injeksi I.v. 5 mg/ml

ampul

14,415,848

5,986,406

6,705,837

12,692,243

88.04%

25

Deksametason tablet 0,5 mg

tablet

300,226,668

149,039,596

150,072,810

299,112,407

99.63%

26

Dekstran 70-larutan infus 6% steril

botol

2,983,469

1,966,614

1,000,827

2,967,441

99.46%

27

Dekstrometorfan sirup 10 mg/5 ml (HBr)

botol

6,835,227

3,641,599

3,253,281

6,894,880

100.87%

28

Dekstrometorfan tablet 15 mg (HBr)

tablet

124,225,667

49,938,265

58,003,223

107,941,489

86.89%

29

Diazepam Injeksi 5mg/ml

ampul

2,040,659

795,984

1,713,432

2,509,416

122.97%

30

Diazepam tablet 2 mg

tablet

37,895,932

12,062,348

23,844,018

35,906,365

94.75%

31

Diazepam tablet 5 mg

tablet

5,768,851

2,270,600

4,542,372

6,812,972

118.10%

32

Difenhidramin Injeksi I.M. 10 mg/ml (HCL)

ampul

6,624,732

2,141,358

3,172,726

5,314,084

80.22%

33

Diagoksin tablet 0,25 mg

tablet

7,778,533

3,185,350

5,113,193

8,298,543

106.69%

34

Efedrin tablet 25 mg (HCL)

tablet

36,176,115

14,820,819

13,057,891

27,878,710

77.06%

35

Ekstrks belladona tablet 10 mg

tablet

20,825,531

6,608,098

10,263,884

16,871,982

81.02%

36

Epinefrin (Adrenalin) injeksi 0,1% (sebagai HCL)

ampul

1,621,856

454,397

704,348

1,158,745

71.45%

37

Etakridin larutan 0,1%

botol

769,775

331,975

431,788

763,763

99.22%

38

Fenitoin Natriun Injeksi 50 mg/ml

ampul

89,475

21,229

64,658

85,887

95.99%

39

Fenobarbital Injeksi I.m/I.v 50 mg/ml

ampul

926,935

189,822

547,371

737,193

79.53%

40

Fenobarbital tablet 30 mg

tablet

25,873,858

9,556,079

14,569,666

24,125,745

93.24%

41

Fenoksimetil Penisilin tablet 250 mg

tablet

2,255,883

813,619

1,278,460

2,092,079

92.74%

42

Fenoksimetil Penisilin tablet 500 mg

tablet

3,976,891

1,407,220

2,429,553

3,836,773

96.48%

43

Fenol Gliserol tetes telinga 10%

botol

1,182,712

387,709

783,908

1,171,617

99.06%

44

Fitomenadion (Vit. K1) injeksi 10 mg/ml

ampul

5,034,528

2,184,401

2,541,697

4,726,099

93.87%

45

Fitomenadion (Vit. K1) tablet salut gula 10 mg

tablet

17,655,327

8,314,081

7,652,031

15,966,112

90.43%

46

Furosemid tablet 40 mg

tablet

15,961,933

8,560,477

9,307,094

17,867,571

111.94%

47

Gameksan lotion 1 %

botol

1,059,419

618,048

441,379

1,059,427

100.00%

48

Garam Oralit I serbuk Kombinasi : Natrium 0,70 g ,Kalium klorida


0,30 g, Tribatrium Sitrt dihidrat 0,58 g

sach

46,047,937

19,580,480

23,457,743

43,038,223

93.46%

49

Gentian Violet Larutan 1 %

botol

2,257,820

1,229,205

1,181,926

2,411,131

106.79%

50

Glibenklamida tablet 5 mg

tablet

56,488,673

27,020,735

32,061,921

59,082,656

104.59%

15

Levodopa 250 mg

16

Aqua Pro Injeksi Steril, bebas pirogen

17

Asam Askorbat (vitamin C) tablet 50 mg

18

Asam Asetisalisilat tablet 100 mg (Asetosal)

19

vial

42

NASIONAL
NO

NAMA OBAT

KEMASAN

KEBUTUHAN
TAHUN 2013

TOTAL PENGGUNAAN

SISA STOK PER

BULAN DES 2012 S/D

30 NOVEMBER

BULAN NOV 2013

2013

JUMLAH OBAT

DAN VAKSIN

KETERSEDIAAN

7=5+6

8=7/4

51

Gliseril Gualakolat tablet 100 mg

tablet

368,900,378

222,050,154

184,384,831

406,434,985

110.17%

52

Gliserin

botol

3,706,973

2,332,470

756,488

3,088,958

83.33%

53

Glukosa larutan infus 5%

botol

6,339,081

1,905,708

3,013,309

4,919,017

77.60%

54

Glukosa larutan infus 10%

botol

275,831

98,100

169,291

267,391

96.94%

55

Glukosa larutan infus 40% steril (produk lokal)

ampul

616,452

325,088

472,516

797,604

129.39%

56

Griseofulvin tablet 125 mg, micronized

tablet

26,115,814

10,787,285

14,866,387

25,653,672

98.23%

57

Haloperidol tablet 0,5 mg

tablet

3,841,418

1,618,510

2,523,240

4,141,750

107.82%

58

Haloperidol tablet 1,5 mg

tablet

10,635,642

5,065,709

7,199,850

12,265,559

115.33%

59

Haloperidol tablet 5 mg

tablet

5,093,137

2,757,655

4,273,471

7,031,126

138.05%

60

Hidroklorotiazida tablet 25 mg

tablet

80,079,223

52,902,920

21,547,652

74,450,572

92.97%

61

Hidrkortison krim 2,5%

tube

7,370,766

3,898,846

3,757,915

7,656,761

103.88%

62

Ibuprofen tablet 200 mg

tablet

63,225,521

30,989,691

27,380,385

58,370,076

92.32%

63

Ibuprofen tablet 400 mg

tablet

71,559,108

34,382,751

34,253,631

68,636,382

95.92%

64

Isosorbid Dinitrat Tablet Sublingual 5 mg

tablet

11,721,833

4,540,920

8,885,071

13,425,991

114.54%

65

Kalsium Laktat (Kalk) tablet 500 mg

tablet

215,793,410

103,283,253

99,050,428

202,333,681

93.76%

66

Kaptopril tablet 12,5 mg

tablet

55,391,360

27,987,345

24,569,208

52,556,553

94.88%

67

Kaptopril tablet 25 mg

tablet

103,261,367

53,783,430

54,885,709

108,669,139

105.24%

68

Karbamazepim tablet 200 mg

tablet

5,528,909

2,968,687

3,345,623

6,314,310

114.21%

69

Ketamin Injeksi 10 mg/ml

597,739

100,930

367,235

468,165

78.32%

70

Klofazimin kapsul 100 mg microzine

kapsul

2,268,599

1,093,134

926,000

2,019,134

89.00%

71

Kloramfenikol kapsul 250 mg

kapsul

62,485,884

29,426,095

29,446,447

58,872,542

94.22%

72

Kloramfenikol tetes telinga 3 %

botol

17,647,929

10,064,890

7,193,599

17,258,489

97.79%

73

Kloraniramina mealeat (CTM) tablet 4 mg

tablet

646,187,787

352,716,274

308,967,154

661,683,428

102.40%

74

Klorpromazin injeksi i.m 5 mg/ml-2ml (HCL)

ampul

5,821,838

3,709,142

2,630,361

6,339,503

108.89%

75

Klorpromazin injeksi i.m 25 mg/ml (HCL)

ampul

216,884

47,967

153,468

201,435

92.88%

76

Klorpromazin tablet salut 25 mg (HCL)

tablet

10,123,877

4,671,487

5,142,995

9,814,482

96.94%

77

Klorpromazin HCl tablet salut 100 mg (HCL)

tablet

12,552,718

5,718,001

9,579,338

15,297,339

121.86%

Anti Malaria DOEN Kombinasi Pirimetamin 25 mg + Sulfadoxin

tablet

3,585,606

1,262,032

1,288,060

2,550,092

71.12%

12,476,443

7,467,662

5,578,031

13,045,693

104.56%

108,313,585

54,657,270

60,890,922

115,548,192

106.68%

22,869,557

10,476,708

12,545,963

23,022,671

100.67%

4,626,081

2,436,082

2,337,661

4,773,743

103.19%

78
79
80
81

vial

500 mg
Kotrimosazol Suspensi Kombinasi :Sulfametoksazol 200 mg +

botol

Trimetoprim 40 mg/ 5 ml
Kotrimosazol DOEN I (dewasa) Kombinasi : Sulfametoksazol 400
mg, Trimetoprim 80 mg

tablet

Kotrimosazol DOEN II (pediatrik) Kombinasi : Sulfametoksazol

tablet

100 mg, Trimetoprim 20 mg

tablet

82

Kuinin (kina) tablet 200 mg

83

Kuinin Dihidrokklorida injeksi 25% -2 ml

454,800

297,128

531,377

828,505

182.17%

84

Lidokain injeksi 2% (HCL) + Epinefrin 1 : 80.000-2 ml

vial

7,895,129

4,499,967

5,311,875

9,811,841

124.28%

85

Magnesium Sulfat inj (IV) 20% -25 ml

vial

199,738

72,830

89,723

162,553

81.38%

86

Magnesium Sulfat inj (IV) 40% -25 ml

vial

330,795

160,311

244,565

404,876

122.39%

87

Magnesium Sulfat serbuk 30 gram

sach

13,517

3,069

8,945

12,014

88.88%

88

Mebendazol sirup 100 mg / 5 ml

botol

30,349

9,393

16,514

25,907

85.36%

89

Mebendazol tablet 100 mg

tablet

2,048,135

533,179

906,957

1,440,136

70.31%

90

Metilergometrin Maleat (Metilergometrin) tablet salut 0,125 mg

tablet

13,496,864

6,147,373

6,438,907

12,586,280

93.25%

91

Metilergometrin Maleat injeksi 0,200 mg -1 ml

ampul

2,867,774

1,351,033

1,353,894

2,704,927

94.32%

92

Metronidazol tablet 250 mg

tablet

32,560,494

13,815,377

17,057,013

30,872,390

94.82%

93

Natrium Bikarbonat tablet 500 mg

tablet

35,942,591

16,827,971

21,309,419

38,137,390

106.11%

94

Natrium Fluoresein tetes mata 2 %

botol

301,519

161,088

191,349

352,437

116.89%

95

Natrium Klorida larutan infus 0,9 %

botol

1,873,012

1,985,305

867,406

2,852,711

152.31%

96

Natrium Thiosulfat injeksi I.v. 25 %

ampul

113,074

20,792

54,040

74,832

66.18%

97

Nistatin tablet salut 500.000 IU/g

tablet

2,892,119

982,652

1,800,930

2,783,582

96.25%

98

Nistatin Vaginal tablet salut 100.000 IU/g

tablet

3,521,164

1,714,809

2,307,833

4,022,642

114.24%

99

91.20%

ampul

Obat Batuk hitam ( O.B.H.)

botol

7,594,207

4,096,417

2,829,446

6,925,863

100 Oksitetrasiklin HCL salep mata 1 %

tube

5,522,378

1,733,985

2,280,975

4,014,960

72.70%

101 Oksitetrasiklin injeksi I.m. 50 mg/ml-10 ml

vial

654,266

449,109

224,012

673,121

102.88%

102 Oksitosin injeksi 10 UI/ml-1 ml

ampul

4,644,722

1,999,100

1,556,512

3,555,612

76.55%

103 Paracetamol sirup 120 mg / 5 ml

botol

16,616,812

10,567,900

6,642,277

17,210,176

103.57%

104 Paracetamol tablet 100 mg

tablet

23,421,018

11,001,135

13,769,305

24,770,440

105.76%

105 Paracetamol tablet 500 mg

tablet

720,242,482

391,291,341

341,997,577

733,288,918

101.81%

106 Pilokarpin tetes mata 2 % (HCL/Nitrat)

botol

1,543,926

1,174,948

727,356

1,902,304

123.21%

107 Pirantel tab. Score (base) 125 mg

tablet

14,620,822

5,529,522

7,894,386

13,423,908

91.81%

43

NASIONAL
NO

NAMA OBAT

KEMASAN

KEBUTUHAN
TAHUN 2013

TOTAL PENGGUNAAN

SISA STOK PER

BULAN DES 2012 S/D

30 NOVEMBER

BULAN NOV 2013

2013

JUMLAH OBAT

DAN VAKSIN

KETERSEDIAAN

7=5+6

8=7/4

108 Piridoksin (Vitamin B6) tablet 10 mg (HCL)

tablet

244,575,456

125,195,842

126,634,012

251,829,854

109 Povidon Iodida larutan 10 %

botol

4,078,766

1,664,949

1,224,784

2,889,733

70.85%

110 Povidon Iodida larutan 10 %

botol

3,337,799

954,064

1,617,416

2,571,479

77.04%

111 Prednison tablet 5 mg

tablet

219,167,208

105,196,392

85,875,794

191,072,186

87.18%

112 Primakuin tablet 15 mg

tablet

21,775,804

8,001,690

21,805,219

29,806,909

136.88%

113 Propillitiourasil tablet 100 mg

tablet

7,467,236

2,613,969

4,469,695

7,083,664

94.86%

114 Propanol tablet 40 mg (HCL)

tablet

4,777,147

2,232,280

4,541,396

6,773,676

141.79%

115 Reserpin tablet 0,10 mg

tablet

771,009

289,193

265,431

554,624

71.93%

116 Reserpin tablet 0,25 mg

tablet

19,275,427

8,736,310

11,230,094

19,966,404

103.58%

117 Ringer Laktat larutan infus

botol

10,516,896

6,297,499

5,341,529

11,639,028

110.67%

118 Salep 2-4, kombinasi: Asam Salisilat 2% + Belerang endap 4%


119 Salisil bedak 2%

tube
kotak

102.97%

3,182,571

1,576,737

1,573,828

3,150,565

98.99%

3,846,436

2,068,031

1,783,186

3,851,217

100.12%

120 Serum Anti Bisa Ular Polivalen injeksi 5 ml (ABU I)

vial

64,437

41,703

13,770

55,473

86.09%

121 Serum Anti Bisa Ular Polivalen injeksi 50 ml (ABU II)

vial

2,727

623

1,619

2,242

82.20%

122 Serum Anti Difteri Injeksi 20.000 IU/vial (A.D.S.)


123 Serum Anti Tetanus Injeksi 1.500 IU/ampul (A.T.S.)
124 Serum Anti Tetanus Injeksi 20.000 IU/vial (A.T.S.)

vial
ampul
vial

7,480

3,989

1,038

5,027

67.20%

179,216

93,482

50,100

143,582

80.12%

234,135

18,250

157,496

175,746

75.06%

125 Sianokobalamin (Vitamin B12) injeksi 500 mcg

ampul

19,588,634

13,674,803

4,660,784

18,335,587

93.60%

126 Sulfasetamida Natrium tetes mata 15 %

botol

2,674,677

1,637,489

1,190,191

2,827,680

105.72%

127 Tetrakain HCL tetes mata 0,5%

botol

747,233

68,260

501,716

569,976

76.28%
101.52%

128 Tetrasiklin kapsul 250 mg

kapsul

63,927,978

30,131,513

34,768,954

64,900,467

129 Tetrasiklin kapsul 500 mg

kapsul

28,922,494

13,046,456

15,114,550

28,161,006

97.37%

130 Tiamin (vitamin B1) injeksi 100 mg/ml

ampul

8,324,631

4,031,686

3,426,368

7,458,053

89.59%

131 Tiamin (vitamin B1) tablet 50 mg (HCL/Nitrat)

tablet

302,431,227

167,187,856

128,205,033

295,392,889

97.67%

132 Tiopental Natrium serbuk injeksi 1000 mg/amp

ampul

128,458

170,046

44,457

214,503

166.98%

133 Triheksifenidil tablet 2 mg

tablet

18,839,500

10,258,817

12,134,892

22,393,709

118.87%

vial

3,833,869

1,608,094

1,450,266

3,058,360

79.77%

405,270,082

204,047,886

180,477,287

384,525,173

94.88%

134 Vaksin Rabies Vero


135 Vitamin B Kompleks tablet

tablet

VAKSIN
136 BCG

vial

2,882,530

1,453,235

442,462

1,895,697

65.77%

137 T T

vial

2,126,071

1,449,632

404,720

1,854,353

87.22%

138 D T

vial

1,892,211

1,017,477

205,919

1,223,396

64.65%

139 CAMPAK 10 Dosis

vial

5,891,506

4,093,907

622,165

4,716,072

80.05%

140 POLIO 10 Dosis

vial

5,123,173

2,617,697

756,384

3,374,080

65.86%

141 DTP-HB

vial

4,995,588

2,653,087

1,152,520

3,805,607

76.18%

142 HEPATITIS B 0,5 ml ADS

vial

5,711,913

2,457,175

1,200,965

3,658,140

64.04%

143 POLIO 20 Dosis

vial

326,250

401,093

77,805

478,898

146.79%

144 CAMPAK 20 Dosis

vial

167,352

87,784

24,977

112,761

67.38%

96.93%

44

DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1.

Indikator Persentase Instalasi Farmasi Kabupaten/Kota Sesuai


Standar.

Lampiran 2.

38

Persentase Ketersediaan Obat dan Vaksin Periode B12 Tahun


2013..

42

45

DAFTAR TABEL
Tabel 1.

Kegiatan Proritas, Sasaran, Indikator, dan Target tahun 2010


2014 dalam RPJMN..

Tabel 2.

Sasaran, Indikator Kinerja, dan Target Direktorat Bina Obat Publik


dan Perbekalan Kesehatan.

Tabel 3.

13

Target dan Capaian Indikator Kinerja Direktorat Bina Obat Publik


dan Perbekalan Kesehatan Tahun 2010 2014.....

Tabel 7.

10

Target dan Perjanjian Kinerja Direktorat Bina Obat Publik dan


Perbekalan Kesehatan.

Tabel 6.

Kegiatan dan Output Direktorat Bina Obat Publik dan Perbekalan


Kesehatan

Tabel 5.

Definisi Operasional Indikator Kinerja Direktorat Bina Obat Publik


dan Perbekalan Kesehatan.

Tabel 4.

15

Realisasi Anggaran DIPA Direktorat Bina Obat Publik dan


Perbekalan Kesehatan.

17

Tabel 8.

Persentase Ketersediaan Obat dan Vaksin Tahun 2013.

19

Tabel 9.

Data Persentase Penggunaan Obat Generik per Provinsi Tahun


2013..

25

Tabel 10.

Data Instalasi Farmasi Kab/Kota Sesuai Standar Tahun 2013.

29

Tabel 11.

Jumlah Pengadaan di Direktorat Bina Obat Publik dan Perbekalan


Kesehatan... 32

Tabel 12.

Realisasi Anggaran Tahun 2013..

34

46

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Kekuatan SDM Direktorat Bina Obat Publik dan Perbekalan


Kesehatan.

16

Gambar 2. Gambaran Ketersediaan Obat dan Vaksin Tahun 2010 2013


dalam Persentase...

20

Gambar 3. Grafik Capaian Realisasi Terhadap Target Tahun 2010


2013...

21

Gambar 4. E-Procurement Award.

21

Gambar 5. Grafik Target dan Persentase Penggunaan obat di Puskesmas


dan Rumah Sakit Tahun 2010 2013 serta Target 2014.

26

Gambar 6. Grafik Capaian Persentase Penggunaan Obat Generik di Fasilitas


Pelayanan Tahun 2010 2014.......
Gambar 7. Kenaikan

Persentase

Capaian

Penggunaan

obat

26

Generik

Terhadap Target Tahun 2010 2013.


Gambar 8. Grafik IFK Sesuai Standar Tahun 2010 2013, Target 2014...

27
30

47