Anda di halaman 1dari 10

DK PEMICU 1

By. Agus Darmanto

MAJOR HISTOCOMPABILITY COMPLEX (MHC)


Definisi
MHC kompleks adalah sekelompok gen pada kromosom tunggal (kromosom 6) yang dikode
antigen MHC. Besar serta kecil antigen, histokompatibilitas (juga disebut antigen
transplantasi) menengahi penolakan cangkokan antara dua genetik individu yang berbeda.
imunologi

Self dan non self dikendalikan oleh MHC class I dan II Gen MHC, yang

merupakan lokus yang paling polimorfik dikenal pada vertebrata. Gen MHC mengkodekan
permukaan sel protein (kelas I dan II MHC molecules) yang menunjukkan antigen peptida ke
sel T.1,2
Klasifikasi
Molekul pada MHC pada manusia dapat di bagi menjadi 3 golongan yaitu:1
1. MHC class 1
2. MHC class 2
3. MHC class 3
a. Molekul MHC-1
Molekul MHC 1 terdiri dari dua poli peptida, rantai berat polimorfik dan rantai ringan
nonpolimorfik yang disebut b2 mikroglobulin. Kelas I molekul mempresentasikan peptida
kecil kepada citotoxic T limphoocytes (CTLs), secara efektif memperkenalkan sel kepada
sistem kekebalan tubuh. Peptida ini biasanya self peptida, jika sel menjadi terinfeksi virus
atau jenis parasit intraseluler (Gambar 2a), maka sel yang terinfeksi menyajikan peptida
asing dari menyerang yang parasit. CTLs menyelidiki permukaan sel, mencari bukti infeksi.
Setiap CTL adalah unik, Reseptor sel-T (TCR) sangat spesifik pada permukaannya yang
mengikat

Kompleks MHC-antigen. CTLs juga memiliki molekul adhesi CD8

pada

permukaannya yang menstabilkan interaksi antara sel-sel T dan sel menyajikan dengan
mengikat kelas I MHC molekul. Jika dianggap sebagai benda asing, CTLs menjadi aktif,

dan sekali diaktifkan, sel T akan berproliferasi dan semua klon mencari dan menghilangkan
sel yang terinfeksi yang menyajikan peptida asing. MHC 1 diekspresikan pada hampir semua
sel bernukleus.1,2,3,4
b. Molekul MHC-2
Kelas II molekul diekspresikan pada antigen presenting cel ( APC ), seperti makrofag.
mereka berfungsi untuk menyajikan peptida untuk pembantu sel T . sel T helper memainkan
beberapa peran penting, termasuk mengaktifkan makrofag dan limfosit B. Makrofag mencari
dan menelan virus ekstraseluler , bakteri dan fragmen dari penjajah parasit lainnya. Mereka
mencerna mangsanya dan menggunakan kelas II molekul untuk menyajikan sampel peptida
untuk sel T helper. Sel T Helper memiliki molekul CD4 pada permukaan mereka untuk
menstabilkan interaksi mereka selama presentasi. Jika peptida diakui sebagai asing , maka sel
T helper diaktifkan untuk mencari dan mengaktifkan makrofag lain . Kelas II molekul juga
diekspresikan pada sel B ( Gambar 2c ) . Ketika imunoglobulin pada permukaan mengikat sel
B terhadap antigen asing, sel B mengalami proliferasi dan dia klon sel plasma yang
mensekresi antibodi menjadi . itu antibodi mengikat dan tag penyerbu asing sehingga sistem
kekebalan tubuh secara efisien dapat menghilangkannya. Namun, sebelum sel B dapat
menjadi aktif , harus menyajikan antigen untuk pembantu sel T untuk memastikan bahwa
antigen tersebut asing. MHC 2 diekpresikan hanya terbatas pada sel B, makrofag dan sel
dendritik.1,2,3,4
c. Molekul MHC-3
pembentukan komponen beberapa sitokin dan molekul lain ditentukan oleh molekul
MHC-3. Sejumlah protein yang ekspresinya ditentukan molekul MHC-3 antara lain adalah
komponen komplemen (C2,C4), faktor B properdin, TNF dan Limfotoksin, beberapa jenis
enzim dan molekul pembawa yang diperlukan dalam proses antigen. 1,2,3

ALERGI OBAT
Alergi obat adalah respon abnormal seseorang terhadap bahan obat atau metabolitnya
melalui reaksi imunologi yang dikenal sebagai reaksihipersensitivitas yang terjadi selama
atau setelah pemakaian obat. Alergi obat masuk kedalam penggolongan reaksi simpang obat
( adverse drugreaction), yang meliputi toksisitas, efek samping, idiosinkrasi,intoleransi dan
alergi obat. Toksisitas obat adalah efek obat berhubungan dengan kelebihan dosis obat.
Efek samping

obat

adalahefek

obat

selain khasiat

utama

yang

timbul

karena

sifat farmakologiobat atau interaksi dengan obat lain. Idiosinkrasi adalah reaksi obat yang
timbul tidak berhubungan dengan sifat farmakologi obat, terdapatdengan proporsi bervariasi
pada populasi dengan penyebab yang tidak diketahui. Intoleransi adalah reaksi terhadap obat
bukan karena sifatfarmakologi, timbul karena proses non imunologi. Sedangkan alergi obat
adalah respon abnormal terhadap obat atau metabolitnya melalui reaksi imunologi. 4,5
Sebagian kecil substansi obat mempunyai berat molekul besar (insulin, antisera,
ekstrak organ) dan bersifat imunogenik sehingga dapat langsung merangsang sistem imun

tubuh. Tetapi ada beberapa jenis obat dengan berat molekul relatif rendah yang bersifat
imunogenik tanpa bergabung dengan karier. Antigen yang bersifat tidak lengkap seperti ini
merupakan kompleks obat danprotein yang disebut sebagai hapten. Hapten dapat membentuk
ikatan kovalendengan protein jaringan yang bersifat stabil, dan ikatan ini akan tetap utuh
selamadiproses

di

makrofag

dan

dipresentasikan

kepada

sel

limfosit

hingga

sifatimunogeniknya stabil.4,5
Setelah

pajanan

awal

maka

kompleks

obat-karier

akan

merangsang

pembentukanantibodi dan aktivasi sel imun dalam masa laten yang dapat berlangsung selama
10-20 hari. Pada pajanan berikutnya periode laten menjadi lebih singkat karena
antigentersebut sudah dikenal oleh sistem imun tubuh melalui mekanisme pembentukan sel
memori (reaksi anamnestik). Alergi obat merupakan reaksi hipersensitivitas yang dapat
digolongkan menjadi 4tipe menurut Gell dan Coombs.1,4
Jenis obat penyebab alergi sangat bervariasi dan berbeda menurut waktu, tempat dan
jenis. Pada umumnya laporan tentang obat tersering penyebab alergi adalah golongan
penisilin, sulfa, salisilat, dan pirazolon. Obat lainnya yaitu asam mefenamat, lfenotiazin,
fenergen, dilantin, dn tridion. Namun demikian yang palinf sering dihubungkan dengan
alergi adalah penisilin dan sulfa. Alergi obat biasanya tidak terjadi pada paparan pertama.
Sensitisasi imunologik memerlukan paparan awal dan tenggang waktu beberapa lama (masa
laten) sebelum terjadi reaksi alergi. 4
Alegenitas obat bergantung dari berat molekul. Obat dengan berat molekul yang kecil
tidak dapat langsung merangsan sistem imun bila tidak bergabung dengan bahan lain untuk
bersifat sebagai alergen, di sebut sebagai hapten. Sedangkan obat dengan berat molekul besar
akan langsung merangsang sistem imun tubuh.4

PENISILIN DAN BETALAKTAM


Alergi terhadap b-laktam obat umumnya dilaporkan, terutama alergi penisilin. Reaksi
obat yang disebabkan oleh beta-laktam yang paling umum adalah makulopapular atau
morbilliform dan urtikaria. Namun, reaksi anafilaktik parah dapat terjadi dan memang terjadi
pada kesempatan langka. Semua penisilin mengandung cincin beta-laktam dan cincin
tiazolidin. Penisilin secara intrinsik reaktif karena cincin beta- laktam. Karena

ketidakstabilannya, cincin beta laktam mudah membuka memungkinkan gugus karbonil


amida untuk membentuk hubungan dengan kelompok amino dari residu lisin pada protein. 5
Manifestasi Klinis
Gambaran lesi erupsi obat yang seringkali ditemukan adalah jenis eksantema
morbiliformis (sekitar 95%) yang umumnya tidak menimbulkan kematian atau kesakitan
yang bermakna. Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, penting bagi dokter untuk dapat
mengenali reaksi simpang obat yang berat seperti SHO, SSJ, serta NET. Terdapat beberapa
parameter klinis serta laboratorium yang mengarahkan kecurigaan kita terhadap reaksi
simpang obat yang berat.Berbagai parameter tesebut terdapat dalam tabel. 4, 5,6
Gejala klinis alergi obat dapat berupa gejala ringan sampai berat . Erupsi kulit
merupakan gejala klinis yang paling sering, dapat berupa pruritus, urtikaria, purpura,
dermatitis kontak, eritema multiform, eritema nodosum, erupsi obat fikstum, reaksi
fotosensitivitas, atau reaksi yang lebih berat dermatitis eksfoliatif dan erupsi vesikobulosa
seperti pada sindrom Stevens-Johnson. Gejala klinis yang memerlukan pertolongan adekuat
segera adalah reaksi anafilaksis karena dapat terjadi renjatan. Gejala klinis dapat berupa
hipotensi, spasme bronkus, edema laring, angioedema, atau urtikaria generalisata.4,5,6

Gejala Klinis Alergi Obat


Anafilaksis

edema laring, hipotensi, bronkospasme


urtikaria/angioedema, pruritus, ruam makulopapular morbiliform,

Erupsi kulit

erupsi obat fikstum, dermatitis kontak, vaskulitis, eritema


nodusum,

eritema

multiform,

nekrolisis

epidermal

toksik,

sindrom

dermatitis

Stevens-Johnson,
eksfoliatif,

reaksi

fotosensitivitas
anemia hemolitik, neutropenia, trombositopenia
Kelaianan hematologik
pneumonitis interstisialis/alveolar, edema paru, fibrosis paru
Kelainan pulmonal
reaksi kolestasis, destruksi hepatoseluler
Kelainan hepatic
nefritis interstisialis, glomerulonefritis, sindrom nefrotik
Kelainan renal

Penyakit serum

Demam obat

Vaskulitis sistemik

Limfadenopati

Demam dapat merupakan gejala tunggal alergi obat, atau bersama gejala klinis lain,
yang timbul beberapa jam setelah pemberian obat (tetapi biasanya pada hari ke 7-10), dan
menghilang dalam waktu 48 jam setelah penghentian obat atau sampai beberapa hari
kemudian. Diduga demam terjadi akibat pelepasan mediator sitokin. Beberapa jenis obat

diduga dapat bersifat pirogen langsung, misalnya amfoterisin B, simetidin, dekstran besi,
kalsium, dan dimerkaprol.4,5,6
PEMERIKSAAN
Uji Laboratorium :
a. Uji invivo
Uji kulit yang tepat dilakukan memakai bahan yang bersifat imunogenik yaitu
determinan antigen dari obat atau metabolitnya. Bahan uji kulit harus bersifat non iritatif
untuk menghindari positif palsu. Uji ini manfaatnya sangat terbatas karena baru sedikit sekali
determinan antigen obat yang sudah diketahui dan tersedia untuk uji kulit. Dengan uji kulit
hanya dapat diidentifikasi alergi terhadap makro molekul: insulin, antisera, ekstrak organ,
sedang untuk mikromolekul sejauh ini hanya dapat diidentifikasi alergi terhadap penisilin
saja.4,5,6
Uji provokasi dapat memastikan diagnosis alergi obat, tetapi merupakan prosedur
diagnostik terbatas karena mengandung resiko yang berbahaya yaitu terjadinya anafilaksis
sehingga hanya dianjurkan dilakukan ditempat yang memiliki fasilitas dan tenaga yang
memadai. Karena itu maka uji provokasi merupakan indikasi kontra untuk alergi obat yang
berat misalnya anafilaksis, sindroma Steven Johnson, dermatitis eksfoliatif, kelainan
hematology, eritema vesiko bulosa. Uji provokasi dilakukan setelah eliminasi yang lamanya
tergantung dari masa paruh setiap obat.4,5,6
b. Uji in vitro
Uji in vitro untuk alergi obat lebih lazim digunakan dalam penelitian. Pemeriksaan
yang dilakukan antara lain IgG dan IgM spesifik, uji aglutinasi dan lisis sel darah merah,
RAST, uji pelepasan histamin,uji sensitisasi jaringan (basofil/lerkosit serta esai sitokin dan
reseptor sel), sedangkan pemeriksaan rutin seperti IgE total dan spesifik, uji Coombs, uji
komplemen dan lain-lain bukanlah untuk konfirmasi alergi obat.4,5,6

PENATALAKSANAAN DAN PENGOBATAN


Dasar utama penatalaksanaan alergi obat adalah penghentian obat yang dicurigai
kemudian mengatasi gejala klinis yang timbul.
a. Penghentian obat

Kalau mungkin semua obat dihentikan dulu,kecuali obat yang memang perlu dan
tidak dicurigai sebagai penyebab reaksi alergi atau menggantikan dengan obat lain. Bila obat
tersebut dianggap sangat penting dan tak dapat digantikan, dapat terus diberikan atas
persetujuan keluarga, dan dengan cara desensitisasi.4,5,6
b. Pengobatan
Manifestasi klinis ringan umumnya tidak memerlukan pengobatan khusus. Untuk
pruritus, urtikaria atau edema angionerotik dapat diberikan antihistamin misalnya,
diphenhidramin, loratadin atau cetirizine dan kalau kelainan cukup luas diberikan pula
adrenalin subkutan dengan dosis 0,01 mg/kg/dosis maksimum 0,3 mg/dosis. Difenhidramin
diberikan dengan dosis 0,5 mg/kg/dosis, 3 kali/24 jam. CTM diberikan dengan dosis 0,09
mg/kg/dosis, 3-4 kali/24 jam. Setirizin, dosis pemberian sesuai usia anak adalah : 2-5 tahun:
2.5 mg/dosis, 1 kali/hari; > 6 tahun : 5-10 mg/dosis, 1 kali/hari. Loratadin, dosis pemberian
sesuai usia anak adalah : 2-5 tahun: 2.5 mg/dosis,1 kali/hari; > 6 tahun : 10 mg/dosis, 1
kali/hari. Feksofenadin, dosis pemberian sesuai usia anak adalah : 6-11 tahun : 30 mg/hari, 2
kali/hari; > 12 tahun : 60 mg/hari, 2 kali/hari atau 180mg/hari, 4kali/hari. Bila gejala klinis
sangat berat misalnya dermatitois eksfoliatif, ekrosis epidermal toksik, sindroma Steven
Johnson, vaskulitis, kelainan paru, kelainan hematologi harus diberikan kortikosteroid serta
pengobatan suportif dengan menjaga kebutuhan cairan dan elektrolit, tranfusi, antibiotik
profilaksis dan perawatan kulit sebagaimana pada luka bakar untuk kelainan-kelainan
dermatitis eksfoliatif, nekrosis epidermal toksik dan Sindroma Steven Johnson.4,5,6
Prednison diberikan sebagai dosis awal adalah 1-2 mg/kg/hari dosis tunggal pagi hari
sampai keadaan stabil kira-kira 4 hari kemudian diturunkan sampai 0,5 mg/kg/hari, dibagi 3-4
kali/hari dalam 4-10 hari. Steroid parenteral yang digunakan adalah metil prednisolon atau
hidrokortison dengan dosis 4-10 mg/kg/dosis tiap 4-6 jam sampai kegawatan dilewati disusul
rumatan prednison oral. Cairan dan elektrolit dipenuhi dengan pemberian Dekstrosa 5%
dalam 0,225% NaCl atau Dekstrosa 5% dalam 0,45% NaCl dengan jumlah rumatan dan
dehidrasi yang ada.4,5,6
Perawatan lokal segera dilakukan untuk mencegah perlekatan, parut atau kontraktur.
Reaksi anafilaksis harus mendapat penatalaksanaan adekwat secepatnya. Kortikosteroid
topikal diberikan untuk erupsi kulit dengan dasar reaksi tipe IV dengan memperhatikan
kaidah-kaidah yang telah ditentukan. Pemilihan sediaan dan macam obat tergantung luasnya
lesi dan tempat. Prinsip umum adalah : dimulai dengan kortikosteroid potensi rendah. Krim
mempunyai kelebihan lebih mudah dioles, baik untuk lesi basah tetapi kurang melindungi
kehilangan kelembaban kulit. Salep lebih melindungi kehilangan kelembaban kulit, tetapi
sering menyebabkan gatal dan folikulitis. Sediaan semprotan digunakan pada daerah kepala

dan daerah berambut lain. Pada umumnya steroid topikal diberikan setelah mandi, tidak
diberikan lebih dari 2 kali sehari. Tidak boleh memakai potensi medium sampai tinggi untuk
daerah kulit yang tipis misalnya muka, leher, ketiak dan selangkangan.4,5,6

EVALUASI DAN PENCEGAHAN


Anamnesis riwayat kemungkinan alergi obat sebelumnya penting untuk selalu
dilakukan walaupun harus dinilai dengan kritis untuk menghindari tindakan berlebihan.
Misalnya ruam kulit setelah pemberian ampisilin pada seorang anak belum tentu karena
alergi obat. Bila dokter telah mengetahui atau sangat curiga bahwa pasiennya alergi terhadap
obat tertentu maka hendaknya ia membuatkan surat keterangan tentang hal tersebut yang
akan sangat berguna untuk upaya pencegahan pada semua keadaan.4
Semakin sering seseorang memakai obat maka akan semakin besar pula kemungkinan
untuk timbulnya alergi obat. Jadi pemakaian obat hendaknya dengan indikasi kuat dan bila
mungkin hindari obat yang dikenal sering memberikan sensitisasi pada kondisi tertentu
(misalnya aspirin pada asma bronkial).4
Cara pembuatan obat harus diperbaiki dengan mengurangi dan menghilangkan bahan
yang potensial dapat menjadi penyebab alergi, atau bahan yang dapat menyebabkan reaksi
silang imunogenik. Contohnya adalah pembuatan vaksin bebas protein hewani, atau antibodi
dari darah manusia.4

PROGNOSIS PASIEN
Prognosis pasien ini bagus karena reaksi yang timbul tidak bersifat akut jadi masih
dapat untuk di tangani namun prognosis kekambuhannya kurang baik karena akan timbul
reaksi alergi lagi jika dierikan obat yang sama. 4
Daftar Pustaka
1. Baratawidjaja, Karnen Garna; Iris Rengganis, 2010, IMUNOLOGI DASAR, penerbit
FKUI, Jakarta

2. Penn, Dustin J,2002, Major Histocompatibility Complex (MHC), University of Utah, Salt
Lake City, Utah, USA
3. Rao, Shridar, 2006, Major Histocompatibility Complex (MHC), JJMMC, Davbgere
4. Sudoyo, Aru W, et al , 2006, Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, penerbit FKUI, Jakarta
5. Javadi, Mohammadreza, et al, 2013,

Penicillin Allergy and Cross-reactivity with other

Beta-lactams, Journal of Pharmacology Care, Tehran Iran


6. Borges, Mario Snchez, 2013, Hypersensitivity reactions to non beta-lactam antimicrobial
agents, a statement of the WAO special committee on drug allergy, World Allergy
Organization Journal, Venezuela.