Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN PRAKTIKUM

ALAT UKUR DAN PENGUKURAN

MULTIMETER 2 DAN OSILOSKOP 1


di susun untuk memenuhi tugas
mata kuliah Praktek Alat Ukur dan Pengukuran
Muhammad Abdullah Anshori, Ir. MMT.

Oleh
Kelompok 5 / JTD 1B
M. ROBITH ZAKKI A. / 05 / 1341160036
NORA ASTERIA / 11 / 1341160028
RIFKY LAZUARDI S. / 17 /1341160041
WAHYU NARDIANTO / 23 / 1341160030

JARINGAN TELEKOMUNIKASI DIGITAL


TEKNIK ELEKTRO
POLITEKNIK NEGERI MALANG
TAHUN 2013

Tujuan :

1. Mengertahui karakteristik multimeter SUNWA dan OSILOSKOP


2. Mengetahui perbedaan antara multimeter SUNWA dan OSILOSKOP
3. Mengetahui kelebihan dan kekurangan antara multimeter SUNWA dengan
OSILOSKOP
4. Mempelajari prinsip kerja Osiloskop
5. Mempelajari bermacam-macam penggunaan Osiloskop

Alat-alat yang di gunakan :


1 Multimeter SUNWA
1 Osiloskop
1 BNC T konektor
1 BNC to BNC
1 BNC to Banana
1 Generator Fungsi
Kabel penghubung

Pendahuluan Multimeter
Multimeter (amperemeter, voltmeter, dan ohmmeter) menggunakan "gerak
d'Arsonval". Instrumen tunggal dapat di pergunakan untuk melakukan tiga fungsi
pengukuran atau mungkin bahkan lebih. untuk menghubungkan rangkaian yang
sesuai ke gerak d' Arsonval, maka doperlukan saklar fungsi (function switch) Untuk
mengetahui fungsi dan sifatnya, bacalah spesifikasi alat tersebut.
Pada pengukuran tegangan (DC maupun AC) perlu diperhatikan sensitivitas yang
dinyatakan dalam OHM/V. Tahanan dalam Voltmeter (R d) = batas ukur x sensitivitas.
Dalam memilih batas ukur pengukuran tegangan perlu diperhatikan faktor keamanan
dan ketelitian, dengan memulai skala yang cukup besar (untuk keamanan alat).
Ketentuan akan paling baik, jika penunjukkan jarum pada daerah dekat skala
maksimum. Dalam memilih batas ukur untuk pengukuran resistansi, ketelitian akan
paling baik bial penunjukkan jarum pada daerah pertengahan skala.
Gerak pada multimeter mempunyai arus skala penuh sebesar 50 PIKO A dan
tahanan dalam (Rd) 2000 OHM. Pada rangkuman 5000 V saklar di pindahkan ke
posisi 1000 V, tetapi kawat penghubung untuk pengukuran (test laod) harus di
hubungkan ke terminal DC 5000 V. Cara pencegahan yang umum pada pengukuran

tegangan tetap dilakukan, karena sensitivitas yang cukup tinggi (20kOHM/V) (D.
Cooper William : 80).
Syarat-syarat dan langkah penggunaan Multimeter :
1. Pengujian pada kondisi siap pakai
Batere
dengan menghidupkan multimeter pada kondisi "sumber tegangan pada
switch ON/OFF dan pada kondisi AC ( test batere).
Fuse
Dengan menghubung singkat kedua colok dan posisi switch pada ( ohm ),
maka akan diketahui fuse mana yang ursak pada kondisi ohm yang berbeda.
Kalibrasi
Instrumen di hubung singkat, kemudia zero adjusment diubah-ubah hingga
jarum pada kondisi nol.
Osiloskop banyak dipergunakan untuk mengukur gelombang sinyal listrik
yang tergambar pada layar tabung sinar katoda ( cathode ray rube -CRT)
Pada dasarnya suatu Osiloskop dapat dibagi menjadi tiga bagian utama, yaitu :
1. bagian tabung sinar kathoda
2. bagian penguat horisontal
3. bagian penguat vertikal
2. Petunjuk penggunaan yang tertera dalam alat
Multimeter SUNWA
Dioda dan fuse protection
untuk menghindari kerusakan multimeter akibat overload.
20 K DC dan 9 K AC. Untuk pengukuran DC multimeter mempunyai resistansi
dalam 20 KOHM, sedangkan AC 9 KOHM. Resistansi total dapat dicari dengan
mengalikan dengan skalanya
Pendahuluan Osiloskop
Osiloskop banyak digunakan unutk mengukur gelombang sinyal listrik yang
tergambar pada layar tabung kathoda (cathode ray tube).
Pada dasarnya suatau osiloskop dapat dibagi menjadi tiga bagian utama yaitu :
1. Bagian tabung kathoda
2. Bagian penguat horizontal

3. Bagian pengauat vertical


Tabung sinar kathoda merupakan inti dari osiloskop. Bagian ini berfungsi
untuk mengubah sinyal lsitrik manjadi gambanr yang tertampil pada layar. Tabung
sinar kathoda dibuat dari bahan gelas yang didalamnya hampa udara, serta
dilengkapi dengan bagian penembak electron, bagian plat pembelok berkas electron
pada layar.
Penembak electron (electron gun) berfungsi untuk membangkitkan berkas
electron dengan kecepatan tingggi. Electron dibangkitkan oleh kathoda, kemudian
dipercepat dengan tegangan yang tinggi dan akhirnya electron tersebut menembak
layar. Pada saat electron menembuk layar, maka layar aka terlihat berpendar.
Bagian plat pembelok berfungsi untuk mengontrol arah berkas electron. Jika
berkas elek tron melalui celah antara kedua celah antara kedua palt pembelok,
maka electron tersebut akan dibelokan. Kemana arah electron yang dibelokan
tergantung pada arah dan besar tegangan yang diberikan pada alat tersebut.
Bagian layar merupakan bagian utama diamna gambar dapat diamati. Pada
sisi dalam layar dilapisi dengan bahan phosphor. Phosphor akan mengleuarkan
cahaya berpendar jika ada electron menumbuk dengan kecepatan tinggi. Sehingga
pada ;ayar akan terdapat gambar atau hanya berpendar. Karena simpanga berkas
electron sesuai dengan sinyal masukan yang diberikan, maka gambar yang terdapat
pada layar juga akan sesuai dengan bentuk gelombang tegangan input

Bagian penguat horisotal berfungsi untuk memperkuat sinyal yang diberikan pada
sumbu X. setelah sinyal tersebtu diperkuat outputnya diberikan pada alat pembelok.
Dengan demikian tegangan [ada plat pembelok akan susuai dengan inputnya.
Seperti halnya bagian penuat horisontal, pengaut vertikal juga berfungsi untuk
memperkuat sinyal input yang diberikan pada sumbu Y. setelah sinyal tersebut

diperkuat, maka outputnya diberikan pada palt pembelok, sehingga gambat atau
simpangan berkas elcekton akan sesuai dengan sinyal inputnya.
Dengan adanya dua macam palt pembelok berkas electron, maka pada layar akan
terliaht gambar yang dibangun oleh dua sinyal X dan Y.
Jika pada sumbu X dipasang tegangan yang naik linier terhadap waktu maka pada
layar akan tergambar bentuk gelombang tegangan sinyal yang dipasang pada input
Y sebagai fungsi waktu.

Penggunaan Osiloskop
1. Mengukur Tegangan Searah Bolak Balik

Kesalahan yang mungkin timbul pada pengukuran tegangan mungkin


disebabkan oleh kalibrasi osiloskop, pengaruh imprdansi input, kabel
penghubung serta gangguan parasitic.

Untuk mengurangi kesalahan yang disebabkan oleh impedansi input dilakukan


dengan memperhitungkan maupun dengan kalibarasi dari osiloskop serta
penggunaaan probe yang sesuai.

Besar tegangan sinyal langsung dapat diketahui dari gambar pada layar dengan
mengetahui nilai voltn yang digunakan

Osiloskop mempunyai impedansi input yang realtif besar, jadi dalam mengukur
rangkaian dengan impedansi rendah, maka impedansi input osisloskop dapat
dianggap

2. Mengkur
Fasa

Beda

Pengukuran
fasa antara dua
sinyal
dapat
dilakukan dengan dua buah cara yaitu:

beda
buah

Dengan osiloskop dual trace

Dengan metoda lissa jous


A. Dengan Osiloskop Dual Trace
Sinyal pertama dihungkan pada kanal A. sedangkan sinyal kedua
dihubungkan pada kanal B osiloskop. Pada layar osiloskop akan didapat
bentuk teganan keuda sinyal tersebut dimana beda fasanya dapat
langsung ditentukan.

B. Dengan Metode Lissajous


Sinyal pertama dihungkan pada input Y. sedangkan sinyal kedua
dihubungkan pada input X

Pada layar akan didpat suatu lintasan berbentuk lingkaran garis lurus atau
elips dapat langsung ditentukan beda fasa antara kedua siyal tersebut.

Gambar Lissajous untuk dua frekuensi yang sama tetapi berbeda fasa
a) Kontruksi gambar yang terjadi pada layar
b) Gambar yang terjadi untuk beberapa harga beda fasa

Prosedur Percobaan
Catatan :
1. pelajari osiloskop terlebih dahulu

2. selama percobaan berlangsung, Volt/Div, Time/Div, dan gain amplifier harus


pada kedudukan kalibrasi

a. Melakukan Kalibrasi
1. Hubungkan osiloskoap denga tegangan jala jala
2. Saklar power pada posisi ON
Tunggulah beberapa saat sampai pada layar akan muncul berkas
electron.
3. Aturlah posisi gambar pada layar, sehigga terleltak di tengah tengah.
Jika gambar masih bergerak terus, maka aturkah posisi tombol sinkronasi
sampau gambara yang diam.
4. Hubungkan terminal input A dengan terminal kalibrasi pada panel depan
osiloskop
5. Amati bentuk gelombang dan tinggi amplitudonya. Amplitude sinyal
kelibrasi harus sesuai dengan yang tertera pada osiloskop
6. Ukur tegangan serta periodenya utnuk beberapa harga Volt/Div dan
Time?div
7. Ukangi langakah langakh diatas untik input kanal B

b. Mengukur Tegangan Searah


1. atur tegangan output sumber daya searah sebesar 4 volt, diukur dengan
multimeter
2. hubungkan input kanal A dengan output sumber daya searah.
3. Saklar osiloskop pada DC, bacalah beberapa tegangan yang diukur oleh
osiloskop
Gambar bentuk gelombagn dan tentukan Volt/div serta Time/div

c. Mengukur Tegangan Bolak Balik


1. Atur frekuensi generator fungsi 1kHz gelombang sinus, dengan tegangan
sebesar

2Vms diukur dengan voltmeter elektronik


2 kemudian ukur tegangan dengan osiloskop
Gambar bentuk gelombangaya den tentukan Volt/Div serta Time/Div

d. Mengukur Ferekuensi (Cara Langsung)


1. Habungkan output dari generator fungsi dengan input kana A. saklar
fungsi dari generato diletakan pada posisi sinus
2. Amati bentuk gelombang yang tertera pada layar, ukurlah ferkuensi.
Kemudian catatlah penunjukan frekuensi dari generator fungsi.
3. Bandingkan hasil pengukuran frekuensi dengan osiloskop saat ditunjukan
oleh generator, apakah ada perbedaan ?
4. Ulangi langkah 2 dan 3 untuk gelombang gigi gergaji atau segitiga dan
gelombang segi eempat
Gambar masing masing bentuk gelombangnya dan tentukan Volt/div
serta Time/div.

e. Mengukur Beda Fasa


1. Rangkai seperti gambar R

2. Atur generator fungsi pada frekuensi 1kHz gelombang sinus dengan


tegangan sebesar 2Vpp.
3. Hubungkan generator fungsi dengan input pergeseran fasa
4. Hubungkan kanal A dengan input pergeseran fasa (kanal A mengukur
tegangan generator fungsi), dank anal B dihubungkan dengan output
penggeser fasa.

5. Ukur dan gambar beda fasa antara sinyal input dan output rangkaian
penggeser fasa dengan menggunakan :
a) Metoda Lissajous (mode X-Y pada CRO)
b) Metoda Osiloskop Dual Trace
Untuk beberapa kedudukan potensio R.

Prosedur Percobaan
1. Amati secara fisik, multimeter SUNWA
Catatlah perbedaan yang ada pada SUNWA
2. Buatlah rangkain seperti pada gambar di bawah

3. Aturlah multimeter pada posisi Volt AC (untuk BBC dan SUNWA)


4. Aturlah tegangan Generator Fungsi 6Vpp,gelombang sinus.
5. Aturlah frekuensi Generator Fungsi mulai dari frekuensi terndah sampai
frekuensi tertinggi (sesuai dengan table).Ukurlah tegangan keluaranya
menggunakan multimeter BBC dan SUNWA,dengan skala yang sama.
6. Buatlah grafik dari pengukuran tegangan fungsi frekuensi.Apakah ada
perbedaan hasil pengukuran antara multimeter BBC dan SUNWA?kalau ada
mengapa?
7. Buatlah rangkaian seperti pada gambar dibawah.

8. Ukurlah tegangan pada R1 dengan menggunakan multimeter BBC dan SUNWA.


Catatlah hasilnya.
9. Hitungkah secara matematis tegangan pada R! (VR1) berdasarkan teori yang
ada.

10. Bandingkan

hasil

perhitungan

anda

dengan

pengukuran,apakah

ada

perbedaan.kalu ada apa penyebabnya.


1. Tabel Grafik dari pengukuran tegangan fungsi frekuensi
Frekuens
i (Hz)
50 Hz
100 Hz
200 Hz
500 Hz
1000 Hz
3000 Hz
5000 Hz

V avometer
( Volt )
1,1 V
1,1 V
1, 1 V
0,9 V
0,8 V
0,7 V
0,7 V

V osiloskop
( Volt )
4V
4V
4V
4V
4V
4V
4v

T
(s)
17,5 mS
15 mS
5 mS
1,75 mS
0,9 mS
300 s
175 S

Frekuensi
( Hz )
57,14 Hz
66,67 Hz
200 Hz
571,43 Hz
1111,11 Hz
3333,33 Hz
5714,28 Hz

Rumus
T = satu gelombang x time/div
F=

1
T

Kesimpulan
Bedasarkan hasilnya, menurut kelompok kami semakin besar frekuensimya maka
semakin kecil voltnya bila di ukur dengan multimeter SUNWA. Dan pada pengukuran
T semakin besar frekuensi semakin kecil hasilnya juga frekuensinya semakin besar