Anda di halaman 1dari 31

LAPORAN KASUS :

BENIGN PROSTATE HYPERPLASIA


(BPH)
Oleh
: Yuli Adiyanti 2009730120
Pembimbing
: dr. Wiyoto Sukardi, Sp.B
Stase Bedah
Rumah Sakit Umum Daerah Cianjur
Kepaniteraan Klinik Fakultas Kedokteran dan Kesehatan
Universitas Muhammadiyah Jakarta
2015

Identitas Pasien
Nama
: Tn. I
Usia
: 70 Tahun
Jenis Kelamin
: Laki-laki
Alamat
: Curug Manye - Cianjur
Pekerjaan
: Petani
Status
: Menikah
Suku
: Sunda
Agama
: Islam
Tanggal Masuk RS : 16 April 2015
Ruangan
: Samolo 1

Anamnesis : Autoanamnesis
Keluhan Utama :
Buang air kecil tidak lancar sejak 1 bulan
sebelum masuk rumah sakit.

Riwayat Penyakit Sekarang


Pasien mengatakan buang air kecil tidak lancar sejak 1
bulan
sebelum masuk rumah sakit, pasien sering
mengedan saat pertama akan buang air kecil, tetapi air
kemih yang keluar tidak lancar (keluar sedikit-sedikit),
terkadang dengan perubahan posisi miring urine dapat
keluar sedikit. Pasien merasakan ingin segera buang air
kecil kembali dan seperti tidak dapat ditahan tetapi pada
saat awal buang air kecil pasien harus menunggu untuk
memulai kencing. Setelah buang air kecil pasien sering
merasa tidak terpuaskan, pancaran air kencing saat akhir
menetes dan dirasakan nyeri. Beberapa saat setelah
kencing pasien sering merasakan ingin buang air kecil
kembali.
Riwayat demam, keluar kencing berpasir, kencing bercampur
darah, nyeri di pinggang dan terbangun saat malam hari
untuk buang air kecil disangkal.

RPD
keluhan

: Pasien belum pernah mengalami


seperti ini sebelumnya.

Riw. Pengobatan : Pasien mengatakan pernah


berobat
sebelumnya dan dilakukan
pemasangan
selang pipis selama satu satu
bulan terakhir
yang diganti oleh pasien
selama satu minggun
sekali.

Riw. Alergi

: Tidak terdapat alergi obat

Score : 28 (Berat)

Pemeriksaan Fisik
Keadaan Umum : Tampak Sakit Sedang
Kesadaran
: GCS 15 (E4 M6 V5)
Compos Mentis
Tanda-Tanda Vital
Tekanan Darah : 120/80 mmHg
Nadi
: 80 kali/menit, reguler
Respirasi Rate
: 20 kali/menit
Suhu
: 36,5o C

Status Generalis

Kepala : Normochepal
Rambut : Hitam, tidak rontok, distribusi merata
Mata
: Konjungtiva anemis (-/-)
Alis mata madarosis (-/-)
Sklera Ikterik (-/-)
Refleks Cahaya (+/+)
Pupil Isokhor
Hidung : Sekret (-/-), Epitaksis (-/-), septum
deviasi (-/-)
Mulut
: Mukosa bucal lembab, Stomatitis (-)
Leher
: KGB dan kel. Tyroid tidak ada
pembesaran

Thorax

Inspeksi
: Simetris, Retraksi (-), otot napas
tambahan (-),
ictus cordis tidak tampak
Palpasi
: Vocal fremitus antara kanan dan
kiri sama,
ictus cordis teraba setinggi ics
5 midclavikula
sinistra
Perkusi
: Sonor pada kedua lapang paru,
batas paru
jantung setinggi ics 4-5
midclavikula sinistra
Auskultasi : Vesikuler (+/+), ronkhi (-/-),
wheezing (-/-)
Bunyi jantung I&II normal,
murmur (-/-), gallop
(-/-)

Abdomen
Inspeksi : Bentuk abdomen normal, skar (-), eritema
(-)
Auskultasi : Bising usus (+) normal
Perkusi : Timpani pada 4 kuadran abdomen.
Palpasi
: Nyeri tekan pada 4 kuadran abdomen
(-)
hepatomegali (-), splenomegali
(-),
Ekstremitas
atas
Akral : hangat/hangat
Udem : -/-/ Krepitasi : -/-/ Nyeri Tekan :
-/-

bawah
hangat/hangat

-/-

Status Urologi
Regio Costovetebralis
Inspeksi :
Warna kulit sama dengan sekitarnya, tanda radang (-),
hematom (-), tidak tampak massa
Palpasi :
Massa tumor (-), ballotemen ginjal (-), nyeri tekan
costovetebral (-)
Perkusi :
Nyeri ketok (-)
Regio Suprapubic
Inspeksi :
Kesan datar, tidak tampak massa
Palpasi :
Nyeri tekan (-)

Regio Genitalis Eksterna


Penis
Inspeksi : Warna lebih gelap dari sekitarnya, disunat (+),
Ostium Urethra
Eksterna di ujung penis
Palpasi
: Massa (-) nyeri tekan (-)
Scrotum
Inspeksi
massa (-)
Palpasi
tekan (-)

: Warna lebih gelap dari sekitarnya, udema (-),


: Tampak dua buah testis, kesan normal, nyeri

Rectal Toucher
Spincter ani baik, Mukosa rectum licin, Rectum tidak
kolaps, Massa pada
recti (-)
Pemeriksaan prostat :
Pole atas tidak teraba, Sulcus prostat tidak teraba,

RESUME

Anamnesis
Pasien laki-laki berumur 70 tahun datang dengan
keluhan :
Buang air kecil tidak lancar
Keluhan dirasakan sudah 1 bulan yang lalu
Pasien harus mengedan agar air kencingnya
keluar
Pasien merasakan buang air kecil tidak tuntas
atau tidak puas
Pasien merasa BAK menjadi lebih sering dan air
kencing yang keluar menetes dan terasa sakit
IPSS = 28
Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan Prostat :
Pole atas tidak teraba

Differntial Diagnosis :
Retensio Urine etc. Benign Prostate Hyperplasia
Retensio Urine etc. Vesikolitiasis

Rencana Pemeriksaan Penunjang :


USG Prostat
Foto BNO-IVP

Working Diagnosis :
Retensio Urine etc. Benign Prostate Hyperplasia
Rencana Penatalaksanaan :
Open Prostatectomy

Tinjauan Pustaka
BENIGN PROSTATE HYPERPLASIA

Definisi..
Suatu kondisi terjadinya hiperplasia kelenjar
periureteral yang mendesak jaringan prostat ke
perifer sehingga menutup canalis uretra secara
parsial maupun total.
BPH merupakan pembesaran kelenjar prostat yang
bersifat jinak yang hanya timbul pada laki-laki yang
biasanya pada usia pertengahan atau lanjut.
Pada usia 40an, seorang pria mempunyai
kemungkinan terkena BPH sebesar 25%. Menginjak
usia 60-70 tahun, kemungkinannya menjadi 50%.
Dan pada usia diatas 80 tahun, akan menjadi 90%.
Presti JC. Smiths General Urology, in Neoplasm of The Prostate Gland. 16 th
edition. USA : Lange Medical Books/McGraw-Hill Company, 2004. Pg.399-420

WebMD, Mens Health, Human Anatomy section, topic of Prostate Gland, Subject of
Prostate Picture, Definition, Function, Condition, Test, and Treatment. Last reviewed on
April 28th 2010 by WebMD, downloaded from

Epidemiologi
BPH merupakan tumor jinak yang paling sering pada
laki-laki dan insidennya berdasarkan dari umur.
20% Pada Laki-laki usia 41-50 tahun
50% Pada laki-laki usia 51-60 tahun
> 90% Pada laki-laki usia > 80 tahun
Pada umur 55 tahun, kira-kira sebanyak 25% pria
mengeluhkan gejala voiding symptoms.
Pada umur 75 tahun, 50% dari pria mengeluhkan
penurunan dari pancaran dan jumlah dari
pembuangan urin.

Presti JC. Smiths General Urology, in Neoplasm of The Prostate Gland.


16th edition. USA : Lange Medical Books/McGraw-Hill Company, 2004.

Etiologi
Terdapat 2 faktor yang erat kaitannya dengan BPH yaitu;
Peningkatan kadar dihidrotestosteron (DHT) dan proses
aging (menjadi tua) (McConnell, 1995).
Beberapa hipotesis yang diduga sebagai penyebab
timbulnya hiperplasia prostat adalah :
1) Teori dihidrotestoteron,
2) Adanya ketidakseimbangan antara estrogen dan
testosteron,
3) Interaksi antara sel stroma dan sel epitel prostat,
4) Berkurangnya kematian sel (apoptosis) dan
5)
Teori stem sel
Presti JC. Smiths General Urology, in Neoplasm of The Prostate Gland.
16th edition. USA : Lange Medical Books/McGraw-Hill Company, 2004.

Sel
Strem

5-alfa reduktase
dan reseptor
endogen

Proses
Menua
Ketidakseimbangan
hormon ( estrogen
dan testoteron)

Interaksi Sel
Epitel dan
Stroma

Berkurangny
a sel yang
mati

Hiperplasia pada epitel dan stroma pada


kelenjar prostat
Penyempitan lumen ureter
prostatika
Aliran urin
terhambat
Retensi urin
Hidrouret
er
Hidronefritis
Fungsi
ginjal

Frekuens

Peningkatan tekanan
intravesika
Hiperirritable pada
bladder
Peningkatan kontraksi otot detrusor dari
buli-buli
Hipertropi otot detrusor
trabekulasi
Terbentuknya sekula-sekula dan divertikel
buli-buli
Intermitte

Disuria

Urgensi

hesisten

Terminal

Manifestasi Klinis
Obstruksi
Hesitansi : Harus menunggu
pada permulaan miksi
Poor stream : Pancaran
Miksi Lemah
Intermitensi : Kencing tibatiba berhenti dan lancar
kembali (miksi terputus)
Terminal dribbling : Menetes
pada akhir miksi
Sensation of incomplete
bladder emplyying : Rasa
belum puas setelah miksi

Iritasi
Frekuensi : Bertambahnya
frekwensi miksi
Nokturia : Miksi pada
malam hari
Urgensi : Miksi sulit
ditahan
Disuria : Nyeri pada waktu
miksi

Diagnosis

Ringan : 0 7 Watchfull Waiting


Sedang :8 19 Medikamentosa
Berat : 20 35 Operasi

Derajat Hiperplasia Prostat pada Pemeriksaan


ColokColok
Dubur
dubur
Sisa
Penatalaksanaan
I

volume
urin
< 50ml

Penonjolan
Konservatif
prostat, batas
atas mudah
diraba
II
Penonjolan
50-100ml
Pembedahan
prostat jelas
(transuretra resection)
batas atas dapat
dicapai
III
Batas atas
>100 ml Reseksi endoskopik, bila
prostat tidak
prostat cukup besar
dapat diraba
pembedahan terbuka
IV
Retensi
Membebaskan
urin total penderita dari retensi

Penatalaksanaan

Watchfull Waiting
Jangan mengkonsumsi kopi atau alkohol setelah
makan malam
Kurangi konsumsi makanan atau minuman yang
mengiritasi buli-buli (kopi atau cokelat)
Batasi penggunaan obat-obatan yang
mengandung fenilpropanolamin
Kurangi makanan pedas dan asin, dan
Jangan menahan kencing terlalu lama
Medikamentosa
Alpha Blocker
5 alpha-reduktase inhibitor
Fitoterapi

Indikasi absolute dilakukan operasi adalah :


Retensi urin berulang (berat), yaitu retensi urin
yang gagal dengan pemasangan kateter urin
sedikitnya satu kali
Infeksi saluran kencing berulang
Gross hematuria berulang
Batu buli-buli
Insufisiensi ginjal
Divertikula buli-buli
Operasi Konvensional :
Transurethral resection of the prostate (TURP)
Transurethral incision of prostate
Open simple prostatectomy
Terapi Minimal Invasive :
Laser
Transurethral electrovaporization of the prostate
Hypertermia

DAFTAR PUSTAKA

Potts, J.M. Essential Urology: A Guide to Clinical Practice. Humana


Press Inc., Totowa, NJ. Pg 191
Schwartz.Manual of Surgery,in Urology, Benign Prostatic
Hyperplasia.Mc Graw Hills Companies. 2006. Pg. 1061
Snell, Richard S. Clinical Anatomy For Medical Students 6th edition in
cavitas Pelvis Part II.Lippincot William & Wilkins Inc. 2006. USA.
Pg.350-352.
Presti JC. Smiths General Urology, in Neoplasm of The Prostate
Gland. 16th edition. USA : Lange Medical Books/McGraw-Hill
Company, 2004. Pg.399-420
WebMD, Mens Health, Human Anatomy section, topic of Prostate
Gland, Subject of Prostate Picture, Definition, Function, Condition,
Test, and Treatment. Last reviewed on April 28th 2010 by WebMD,
downloaded from
http://men.webmd.com/picture-of-the-prostate. on April 2th 2011.
UNSW Embriology, Categories of Genital, Prostate, Subject of
Prostate development Overview. Last modified on October 28th 2010
by Dr Mark Hill, downloaded from
http://php.med.unsw.edu.au./embryology/index.php/title=prostate_d

TERIMA KASIH, ,