Anda di halaman 1dari 19

BAB I

STATUS PASIEN
I.

II.

IDENTITAS PASIEN
Nama

: Tn. I

Usia

: 70 Tahun

Jenis Kelamin

: Laki-laki

Alamat

: Curug Manye - Cianjur

Pekerjaan

: Petani

Status

: Menikah

Suku

: Sunda

Agama

: Islam

Tanggal Masuk RS

: 16 April 2015

Ruangan

: Samolo 1

ANAMNESIS - Autoanamnesis
Keluhan Utama :
Buang air kecil tidak lancar sejak 1 bulan sebelum masuk rumah sakit.
Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien mengatakan buang air kecil tidak lancar sejak 1 bulan sebelum masuk
rumah sakit, pasien sering mengedan saat pertama akan buang air kecil, tetapi air kemih
yang keluar tidak lancar (keluar sedikit-sedikit), terkadang dengan perubahan posisi
miring urine dapat keluar sedikit. Pasien merasakan ingin segera buang air kecil
kembali dan seperti tidak dapat ditahan tetapi pada saat awal buang air kecil pasien
harus menunggu untuk memulai kencing. Setelah buang air kecil pasien sering merasa
tidak terpuaskan, pancaran air kencing saat akhir menetes dan dirasakan nyeri.
Beberapa saat setelah kencing pasien sering merasakan ingin buang air kecil kembali.
Riwayat demam, keluar kencing berpasir, kencing bercampur darah, nyeri di
pinggang dan terbangun saat malam hari untuk buang air kecil disangkal.

Riwayat Penyakit Dahulu


Pasien menyatakan keluhan tidak bisa BAK sebelumnya disangkal.

Riwayat Pengobatan
Pasien mengatakan pernah berobat sebelumnya dan dilakukan pemasangan selang pipis
selama satu satu bulan terakhir yang diganti oleh pasien selama satu minggun sekali.
Riwayat Alergi
Pasien menyangkal adanya alergi terhadap obat.
III. PEMERIKSAAN FISIK
Keadaan Umum
Kesan sakit

: Tampak sakit sedang

Kesadaran

: Compos Mentis

GCS

: 15 (E4 M6 V5)

Tanda Vital
Tekanan Darah : 120/80 mmHg
Nadi

: 80 kali/menit

Respirasi Rate : 20 kali/menit


Suhu

: 36,5o C

Status Generalis
Kepala

: Normocephal

Wajah
Mata
Hidung
Mulut
Telinga

: Simetris
: Isokor (+/+), konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-)
: Sekret (-), septum deviasi (-)
: Mukosa bibir lembab (-), kering (-)
: Normotia, sekret (-/-), darah (-/-)

Leher

: Pembesaran KBG (-), pembesaran kel. Tiroid (-)

Thorax
Paru-paru
- Inspeksi
- Palpasi

: Normochest, pergerakan dada simetris, tidak ada luka bekas operasi


: Tidak ada pergerakan dada yang tertinggal, nyeri tekan (-), vokal

- Perkusi
- Auskultasi

fremitus sama simetris dekstra sinistra.


: Sonor di seluruh lapangan paru
: Vesikular (+/+) normal, Rh (-/-), Wh (-/-), stridor (-/-)

Jantung

Inspeksi
Palpasi
Perkusi
Auskultasi

: Ictus cordis tidak tampak


: Ictus cordis teraba
: Redup
: BJ I/II Normal, gallop (-), murmur (-)

Abdomen

Inspeksi
Auskultasi
Palpasi
Perkusi

: Datar, abdomen setinggi dada


: Bising usus (+) normal
: Supel, nyeri tekan abdomen (-), pembesaran hepar/lien (-)
: Timpani pada 4 kuadran abdomen (+)

Inguinal

: Pembesaran KGB (-)

Anogenital

: Laki-laki, normal

Ekstremitas
Atas
Bawah

: Akral hangat, RCT < 2detik, sianosis (-), edema(-)


: Akral hangat, RCT < 2 detik, sianosis (-), edema (-)

Kulit

: Sianosis (-), Ikterik (-), Turgor baik

Status Lokalis : Rectal Toucher

Tonus spincter ani baik


Mukosa rectum licin
Rectum tidak kolaps
Massa pada recti (-)
Pemeriksaan prostat : Pole atas tidak teraba, sulcus prostat tidak teraba, permukaan

rata, konsistensi kenyal, nyeri tekan (-)


Handscoon : Tidak ada darah,lendir,feses yang menempel pada jari
IV.

RESUME
Anamnesis
Pasien laki-laki berumur 70 tahun datang dengan keluhan :
-

Buang air kecil tidak lancar


Keluhan dirasakan sudah 1 bulan yang lalu
Pasien harus mengedan agar air kencingnya keluar
Pasien merasakan buang air kecil tidak tuntas atau tidak puas
Pasien merasa BAK menjadi lebih sering dan air kencing yang keluar menetes
dan terasa sakit

- IPSS = 28
Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan prostat :
- Pole atas tidak teraba
- Sulcus prostat tidak teraba
V.

DIFFERENT DIAGNOSIS
Retensio urine etc. Benign Prostate Hyperplasia
Retensio urine etc. Vesicolitiasis

VI.

RENCANA PEMERIKSAAN PENUNJANG


USG Prostat
Foto BNO-IVP

VII. WORKING DIAGNOSIS


Retensio urine etc. Benign Prostate Hyperplasia
VIII. RENCANA PENATALAKSANAAN
- Tindakan Operasi : Open Prostectomy

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
BENIGN PROSTATE HYPERPLASIA
A.

Definisi
Benign prostate hyperplasia merupakan suatu kondisi terjadinya hiperplasia kelenjar
periureteral yang mendesak jaringan prostat yang asli ke perifer sehingga menutup
calnalis urethral secara partial maupun complete.

B.

Epidemiologi
BPH merupakan tumor jinak yang paling sering pada laki-laki dan insidennya
berdasarkan dari umur. Prevalensi dari hasil studi otopsi BPH menunjukkan
peningkatan kira-kira sebanyak 20% pada pria dengan umur 41-50 tahun, menjadi 50 %

pada pria dengan umur 51-60 tahun dan menjadi > dari 90% pada pria > dari 80 tahun.
Walaupun bukti klinis dari penyakit lebih jarang muncul, gejala dari obstruksi prostat
juga berhubungan dengan umur. Pada umur 55 tahun, kira-kira sebanyak 25% pria
mengeluhkan gejala voiding symptoms (gejala saat berkemih). Pada umur 75 tahun,
50% dari pria mengeluhkan penurunan dari pancaran dan jumlah dari pembuangan urin.
Faktor resiko dari BPH masih belum terlalu dimengerti. Beberapa hasil studi
menyebutkan predisposisi genetik dan beberapa studi lainny memberi perhatian pada
perbedaan ras. Kira-kira 50% dari pria dibawah umur 60 tahun yang telah menjalani
operasi pembedahan BPH mungkin memiliki suatu bentuk genetika dari penyakit.
Bentuk ini paling banyak merupakan bentuk autosomal dominan trait.
C.

Anatomi, Fisiologi dan Histologi Prostate


1. Lokasi
Prostat merupakan organ kelenjar fibromuskular yang mengelilingi urethra pars
prostatica. Prostat mempunyai panjang kurang lebih 3 cm dan terletak di antara
collum vesicae (batas superior) dan diaphragm urogenitale (batas inferior).
Prostat dikelilingi oleh capsula fibrosa. Di luar capsula terdapat selubung fibrosa
yang merupakan bagian lapisan visceral fascia pelvis. Prostat yang berbentuk
kerucut mempunyai basis prostatae yang terletak di superior dan berhadapan dengan
collum vesicae dan apex prostatae yang terletak di inferior dan berhadapan dengan
diaphragm urogenitale. Kedua ductus ejaculatorius menembus bagian atas facies
posterior prostatae untuk bermuara ke urethra pars prostatica pada pinggir lateral
utriculus prostaticus

Hubungan:

Ke superior : Basis prostatae berhubungan dengan collum vesicae. Otot polos


prostate terus melanjut tanpa terputus dengan otot polos collum vesicae. Urethra
masuk pada bagian tengah basis prostatae

Ke inferior : Apex prostatae terletak pada fascies superior diaphragm


urogenitale. Urethra meninggalkan prostate tepat di atas apex pada fascies anterior

Ke anterior : Facies anterior prostatae berbatasan dengan symphysis pubica,


dipisahkan oleh lemak ekstraperitoneal yang terdapat di dalam spatium
retropubicum (cavum retzius). Selubung fibrosa prostate dihubungkan dengan aspek
posterior os pubis oleh ligament puboprostatica. Ligamenta ini terletak di samping

kanan dan kiri linea mediana dan merupakan penebalam fascia pelvis
Ke posterior: Facies posterior prostatae berhubungan erat dengan facies
anterior ampulla recti dan dipisahkan dari rectum oleh septum retrovesicale (fascia
Denonvillier). Septum ini dibentuk pada masa janin oleh fusi dinding ujung bawah
excavation retrovesicalis peritonealis, yang semula meluas ke bawah sampai ke

corpus perineale.

Ke lateral : fascies lateralis prostatae difiksasi oleh serabut anterior musculus


levator ani pada saat serabut ini berjalan ke posterior dari pubis.
2. Struktur Prostat
Kelenjar prostat yang jumlahnya banyak tertanam di dalam campuran otot polos dan
jaringan ikat, dan ductusnya bermuara ke urethra pars prostatica.
Prostat secara tidak sempuran terbagi menjadi lima lobus. Lobus anterior terletak di
depan urethra dan tidak mempunyai jaringan kelenjar. Lobus medius atau lobus
medianus adalah kelenjar berbentuk baji yang terletak di antara urethra dan ductus

ejaculatorius. Permukaan atas lobus medius berhubungan dengan trigonum vesicae,


bagian ini mengandung banyak kelenjar. Lobus posterior terletak di belakang urethra
dan di bawah ductus ejaculatorius, juga mengandung kelenjar. Lobi prostatae dexter
dan sinister terletak di samping urethra dan dipisahkan satu dengan yang lain oleh
alur vertical dangkal yang terdapat pada fascies posterior prostatae. Lobi laterals
mengandung banyak kelenjar.3

3. Vaskularisasi dan Persarafan


a. Arteriae : Cabang arteria vesicalis inferior dan arteria rectalis media.
b. Vena : Vena membentuk plexus venosus prostaticus, yang terletak di antara
capsula prostatica dan selubung fibrosa. Plexus venosus prostaticus menampung
darah dari vena dorsalis profunda penis dan sejumlah venae vesicales, selanjutnya
bermuara ke vena iliaca interna.
c. Aliran Limfe : Pembuluh limf dari prostate mengalirkan cairan limf ke nodi iliaci
interni.
d. Persarafan : Persarafan prostat berasal dari plexus hypogastricus inferior. Saraf
simpatis merangsang otot polos prostat saat ejakulasi.
4. Fungsi Prostat
Fungsi prostat adalah menghasilkan cairan tipis seperti susu yang mengandung asam
sitrat dan fosfatase asam. Cairan ini ditambahkan pada semen pada waktu ejakulasi.
Bila otot polos pada capsula dan stroma berkontraksi , secret yang berasal dari
banyak kelenjar diperas masuk ke urethra pars prostatica. Sekret prostat bersifat
alkalis dan membantu menetralkan suasana asam di dalam vagina.3
5. Histologi
Menurut konsep terbaru, kelenjar prostat merupakan suatu organ campuran yang
terdiri atas berbagai unsure glandular dan non glandular. Setiap zona glandular

memiliki fitur arsitektur dan stroma yang spesifik. Telah ditemukan lima
daerah/zona tertentu yang berbeda secara histology maupun biologi, yaitu :

a. Zona Anterior
Sesuai dengan lobus anterior, tidak punya kelenjar, terdiri atas stroma
fibromuskular. Zona ini meliputi sepertiga kelenjar prostat.
b. Zona Perifer
Sesuai dengan lobus lateral dan posterior, meliputi 70% massa kelenjar prostat.
Zona ini rentan terhadap inflamasi dan merupakan tempat asal karsinoma prostat
terbanyak.
c. Zona Sentralis
Lokasi terletak antara kedua duktus ejakulotarius, sesuai dengan lobus tengah
meliputi 25% massa glandular prostat. Zona ini resisten terhadap inflamasi. Zona
pusat relative tahan terhadap kanker dan penyakit lainnya.
d. Zona transisional
Zona ini bersama-sama dengan kelenjar periuretra disebut juga sebagai kelenjar
preprostatik. Merupakan bagian terkecil dari prostat, yaitu kurang lebih 5% tetapi
dapat melebar bersama jaringan stroma fibromuskular anterior menjadi benign
prostat hyperplasia (BPH)
e. Kelenjar-kelenjar Periuretra
Bagian ini terdiri dari duktus-duktus kecil dan susunan sel-sel asinar abortif
tersebar sepanjang segmen uretra proksimal
Dalam semua zona, baik saluran dan asinus , dipisahkan oleh epitel sekresi.
Dalam setiap zona, terdapat lapisan sel basal di bawah lapisan sekretori, serta
diselingi sel-sel endokrin-parakrin.

D.

Etiologi
Hingga sekarang etiologi dari BPH masih belum diketahui secara pasti, tetapi
beberapa penelitian secara laboratorium maupun klinik menyebutkan bahwa terdapat 2
faktor yang erat kaitannya dengan BPH yaitu; peningkatan kadar dihidrotestosteron
(DHT) dan proses aging (menjadi tua).

Beberapa hipotesis yang diduga sebagai

penyebab timbulnya hiperplasia prsostat adalah ; 1) teori dihidrotestoteron, 2) adanya


ketidakseimbangan antara estrogen dan testosteron, 3) interaksi antara sel stroma dan
sel epitel prostat, 4) berkurangnya kematian sel (apoptosis) dan 5) teori stem sel.4
1. Teori Dihidrostestosteron
Dihidrotestosteron atau DHT adalah metabolit androgen yang sangat penting pada
pertumbuhan sel-sel kelenjar prostat. Dibentuk dari testosteron didalan sel prostat
oleh enzim 5-reduktase dengan bantuan koenzim NADPH. DHT yang telah
terbentuk berikatan dengan reseptor androgen (RA) yang membentuk kompleks
DHT-RA pada inti sel dan selanjutnya terjadi sintesis protein growth factor yang
menstimulasi pertumbuhan sel prostat. Pada berbagai penelitian dikatakan bahwa
kadar DHT pada BPH tidak jauh berbeda dengan kadarnya pada prostat normal,
hanya saja pada BPH, aktivitas enzim 5-reduktase dan jumlah reseptor androgen
lebih banyak pada BPH. Hal ini menyebabkan sel-sel prostat pada BPH lebih sensitif
terhadap DHT sehingga replikasi sel lebih banyak terjadi dibandingkan dengan
prostat normal.
2. Ketidakseimbangan antara estrogen-testosteron
Pada usia yang semakin tua, kadar testosteron menurun, sedangkan kadar estrogen
relatif tetap sehingga perbandingan antara estrogen : testosteron relatif meningkat.
Telah diketahui bahwa estrogen di dalam prostat berperan dalam terjadinya
proliferasi sel-sel kelenjar prostat dengan cara meningkatkan sensitifitas sel-sel
prostat terhadap rangsangan hormon androgen, dan menurunkan jumlah kematian
sel-sel prostat (apoptosis). Hasil akhir dari semua keadaan ini adalah, meskipun
rangsangan terbentuknya sel-sel baru akibat rangsangan testosteron menurun, tetapi
sel-sel prostat yang telah ada mempunyai umur yang lebih panjang sehingga massa
prostat jadi lebih besar.
3. Interaksi sel stroma dan sel epitel
Cunha (1973) membuktikan bahwa diferensiasi dan pertumbuhan sel epitel prostat
secara tidak langsung dikontrol oleh sel-sel stroma melalui mediator (grwoth factor)

tertentu. Setelah sel-sel stroma mendapatkan stimulasi DHT dan estradiol, sel-sel
stroma mensintesis suatu growth factor yang selanjutnya mempengaruhi sel-sel
stroma itu sendiri secara intrakrin dan autokrin, serta mempengaruhi sel-sel epitel
secara parakrin. Stimulasi itu menyebabkan terjadinya proliferasi sel-sel epitel
maupun sel stroma.
4. Berkurangnya kematian sel prostat
Program kematian sel prostat (apoptosis) pada sel prostat adalah mekanisme
fisiologik untuk mempertahankan homeostasis kelenjar prostat. Pada apoptosis
terjadi kondensasi dan fragmentasi sel yang selanjutnya sel-sel yang mengalami
apoptosis akan difagositosis oleh sel-sel disekitarnya kemudian didegradasi oleh
enzim lisosom. Pada jaringan normal, terdapat keseimbangan antara laju proliferasi
sel dengan kematian sel. Pada saat terjadi pertumbuhan prostat sampai pada prostat
dewasa, penambahan jumlah sel-sel prostat baru dengan yang mati dalam keadaan
seimbang. Berkurangnya jumlah sel-sel prostat yang mengalami apoptosis
menyebabkan jumlah sel-sel prostat secara keseluruhan menjadi meningkat sehingga
menyebabkan pertambahan massa prostat.
5. Teori Sel Stem
Untuk mengganti sel-sel yang telah mengalami apoptosis, selalu dibentuk sel-sel
baru. Di dalam kelenjar prostat dikenal suatu sel stem, yaitu suatu sel yang
mempunyai kemampuan berproliferasi sangat ekstensif. Kehidupan sel ini sangat
tergantung pada keberadaan hormon androgen, sehingga jika hormon ini kadarnya
menurun seperti yang terjadi pada kastrasi, menyebabkan terjadinya apoptosis.
Terjadinya proliferasi sel-sel pada BPH dipostulasikan sebagai ketidaktepatnya
aktivitas sel stem sehingga terjadi produksi yang berlebihan sel stroma maupun sel
epitel.
E.

Patogenesis
Pembesaran prostat menyebabkan penyempitan lumen uretra prostatika dan
menghambat aliran urine. Keadaan ini menyebabkan peningkatan tekanan intravesikal.
Untuk dapat mengeluarkan urine, buli-buli harus berkontraksi lebih kuat guna melawan
tahanan itu. Kontraksi yang terus menerus ini menyebabkan perubahan anatomic bulibuli berupa hipertrofi otot detrusor, trabekulasi, terbentuknya selula, sakula, dan
divertikel buli-buli. Perubahan struktur pada buli-buli tersebut, oleh pasien dirasakan

10

sebagai keluhan pada saluran kemih bagian bawah atau lower urinary tract symptom
(LUTS) .
Tekanan intravesikal yang tinggi diteruskan ke seluruh bagian buli-buli tidak
terkecuali pada kedua muara ureter. Tekanan pada kedua muara ureter ini dapat
menimbulkan aliran balik urine dari buli-buli ke ureter atau terjadi refluks vesikoureter.
Pada BPH terjadi rasio peningkatan komponen stroma terhadap epitel. Pada prostat
normal rasio stroma dibanding dengan epitel adalah 2:1, sedangkan pada BPH, rasionya
meningkat menjadi 4:1, hal ini menyebabkan pada BPH terjadi peningkatan tonus otot
polos prostat dibandingkan dengan prostat normal. Dalam hal ini massa prostat yang
menyebabkan obstruksi komponen statik sedangkan tonus otot polos yang merupakan
komponen dinamik sebagai penyebab obstruksi prostat.
Gejala iritasi disebabkan karena hipersensitivitas otot destrusor berarti bertambahnya
frekuensi miksi, nokturia, miksi sulit ditahan dan disuria. Gejala obstruksi terjadi
karenadestrusor gagal berkontraksi cukup lama sehingga kontraksi terputus-putus.
Apabila vesika menjadi dekompesasi maka akan terjadi retensi urin sehingga pada akhir
miksi masih ditemukan sisa urin dalam kandung kemih dan rasa tidak tuntas pada akhir
miksi. Jika keadaan ini berlanjut pada suatu saat akan terjadi kemacetan total sehingga
penderita
Sel
Strem

tidak
lagireduktase
mampudan
miksi. Proses
Karena
produksiInteraksi
urin terus
terjadi, pada
suatu saat
5-alfa
Berkurangnya
Sel Epitel
Menua

vesika tidak reseptor


lagi mampu
tekanan intravesika
terus
endogen menampung urin sehingga
sel yang mati
dan Stroma
meningkat. Apabila tekanan vesika lebih tinggi dari tekanan sfincterdan kronik
Ketidakseimbangan hormon

menyebabkan refluks vesikoureter,


hidroureter,
hidronefrosis, dan gagal ginjal. Proses
( estrogen
dan testoteron)
kerusakan ginjal dipercepat bila terjadi infeksi. Pada waktu miksi penderita harus selalu
mengedan sehingga
Hiperplasia
lama-kelamaan
pada epitelmenyebabkan
dan stroma padahernia
kelenjaratau
prostat
hemoroid. Karena selalu
terdapat sisa urin, dapat terbentuk batu endapan di dalam kandung kemih. Batu ini
Penyempitan lumen ureter prostatika

dapat menambah keluhan iritasi dan menimbulkan hematuria. Batu tersebut dapat pula
menyebabkan cyctisis dan bila terjadi refluks dapat menyebabkan pyelonefritis.
Aliran urin terhambat

Retensi urin

Peningkatan tekanan intravesika

Hidroureter

Hiperirritable pada bladder

Hidronefritis

Peningkatan kontraksi otot detrusor dari buli-buli

Fungsi ginjal

Hipertropi otot detrusor trabekulasi


Terbentuknya sekula-sekula dan divertikel buli-buli

11
Frekuensi

Intermitten

Disuria

Urgensi

hesistensi

Terminal Dribbling

F.

Manifestasi Klinis
Obstruksi prostat dapat menimbulkan keluhan pada saluran kemih maupun
keluhan di luar saluran kemih. Lower Urinary Track Symptom terdiri atas gejala
obstruksi dan gejala iritatif seperti terlihat pada tabel di bawah.

Obstruksi

Iritasi

Hesitansi (sulit kencing)


Pancaran Miksi Lemah
Intermitensi (Kencing tiba-tiba

Frekuensi (Anyanganyangan)
Nokturia
(Sering
kencing

berhenti dan lancar kembali)


Miksi Tidak Puas
Menetes setelah miksi

malam hari)
Urgensi (Merasa ingin kencing

yang tidak bisa ditahan)


Disuria (Rasa tidak enak saat
kencing)

G.

Diagnosis

12

The third International consultation on BPH menganjurkan untuk menganamesa


keluhan miksi terhadap setiap pria berumur 50 tahun atau lebih jika ditemukan
prostatismus lakukan pemeriksaan dasar standar kemudian jika perlu dilengkapi dengan
pemeriksaan tambahan. Pemeriksaan standar meliputi :
1. Hitung skor gejala, dapat ditentukan dengan menggunakan skor IPSS (International
Prostate Symptom Score, IPSS) :
Untuk menilai tingkat keparahan dari keluhan pada saluran kemih sebelah bawah,
beberapa ahli/organisasi urologi membuat sistem skoring yang secara subyektif
dapat diisi dan dihitung sendiri oleh pasien. Sistem skoring yang dianjurkan oleh
WHO adalah International Prostatic Symptom Score (I-PSS). Sistem skoring I-PSS
terdiri atas tujuh pertanyaan yang berhubungan dengan keluhan miksi (LUTS) dan
satu pertanyaan yang berhubungan dengan kualitas hidup pasien. Setiap pertanyaan
yang berhubungan dengan keluhan miksi diberi nilai 0 sampai dengan 5, sedangkan
keluhan yang menyangkut kualitas hidup pasien diberi nilai dari 1 hingga 7. Dari
skor I-PSS itu dapat dikelompokkan gejala LUTS dalam 3 derajat, yaitu : Ringan,
Sedang dan berat.

13

Ringan : 0 -7 (Watchfull waiting)


Sedang : 8 - 19 (Medikamentosa)
Berat : 20 35 (Operasi).
2. Riwayat penyakit lain atau pemakai obat yang memungkinkan gangguan miksi.
3. Pemeriksaan fisik khususnya colok dubur.

14

4. Pemeriksaan Tambahan :
Pemeriksaan uroflowmetri (pengukuran pancaran urin pada saat miksi)
Untuk mengukur laju pancaran urin miksi. Laju pancaran urin ditentukan oleh
daya kontraksi otot dekstrusor, tekanan intravesika dan resistensi urethra. Angka
normal laju pancaran urine ialah 10-12 ml/dtk dengan puncak laju pancaran
mendekati 20 mL/dtk. Pada obstruksi ringan, laju pancaran melemah menjadi 68mL/dtk dengan puncaknya sekitar 11-15 mL/dtk. Semakin berat derajat
obstruksi semakin lemah pancaran urin yang dihasilkan.
Pemeriksaan TRUS-P (Transrectal Ultrasonography of the prostate)
Pemeriksaan serum PSA (Prostatic spesific antigen)
H.

Pemeriksaan Penunjang

Laboratorium
Sedimen urine diperiksa untuk mencari kemungkinan adanya proses infeksi atau
inflamasi pada saluran kemih. Pemeriksaan kultur urine berguna dalam mencari jenis
kuman yang menyebabkan infeksi dan sekaligus menentukan sensitifitas kuman
terhadap beberapa antimikroba yang diujikan.
Faal ginjal diperiksa untuk mencari kemungkinan adanya penyulit yang mengenai
saluran kemih bagian atas, sedangkan gula darah dimaksudkan untuk ,mencari
kemungkinan adanya penyakit diabetes melitus yang dapat menimbulkan kelainan
persarafan pada buli-buli (buli-buli neurogenik).

15

- Pencitraan
Foto polos abdomen berguna untuk mencari adanya batu opak di saluran kemih,
adanya batu/kalkulosa prostat dan kadangkala dapat menunjukkan bayangan bulibuli yang penuh terisi urine, yang merupakan tanda dari suatu retensi urine.
Pemeriksaan IVP dapat menerangkan kemungkinan adanya: (1) kelainan pada
ginjal maupun ureter berupa hidroureter atau hidronefrosis, (2) memperkirakan
besarnya kelenjar prostat yang ditunjukkan oleh adanya indentasi prostat/filling
defect (pendesakan buli-bli oleh kelenjar prostat) atau ureter disebelah distal yang
berbentuk seperti mata kail atau hooked fish dan (3) penyulit yng terjadi pada bulibuli yaitu adanya trabekulasi, divertikel, atau sakulasi buli-buli. Pemeriksaan ini
sekarang tidak direkomendasikan pada BPH.
I.

Penatalaksanaan
Ada beberapa pilihan terapi BPH, dimana terapi spesifik dapat diberikan untuk
pasien kelompok tertentu. Untuk pasien dengan gejala ringan (symptom score 0-7),
dapat dengan hanya dilakukan watchful waiting. Terapi paling akhir yang dilakukan
adalah operasi. Indikasi absolute dilakukan operasi adalah :

Retensi urin berulang (berat), yaitu retensi urin yang gagal dengan
pemasangan kateter urin sedikitnya satu kali
Infeksi saluran kencing berulang
Gross hematuria berulang
Batu buli-buli
Insufisiensi ginjal
Divertikula buli-buli

1. Watchful waiting
Pilihan terapi ini ditujukan untuk pasien BPH dengan skor I-PSS < 7, yaitu
keluhan ringan yang tidak menganggu aktivitas sehari-hari. Pasien tidak diberikan
terapi apapun dan hanya diberi penjelasan ,mengenai sesuatu hal yang mungkin
dapat memperburuk keluhannya, misalnya :
a. Jangan mengkonsumsi kopi atau alkohol setelah makan malam
b. Kurangi konsumsi makanan atau minuman yang mengiritasi buli-buli (kopi atau
cokelat)
c. Batasi penggunaan obat-obatan yang mengandung fenilpropanolamin
d. Kurangi makanan pedas dan asin, dan
e. Jangan menahan kencing terlalu lama
Secara periodik pasien diminta untuk datang kontrol dengan ditanya keluhannya
apakah menjadi lebih baik, disamping itu dilakukan pemeriksaan laboratorium,

16

residu urine, atau uroflometri. Jika keluhan miksi bertambah jelek, perlu dipikirkan
memilih terapi lain.
2. Medikamentosa
a. Penghambat Alpha (Alpha Blocker)
Prostat dan dasar buli-buli manusia mengandung adrenoreseptor-1 , dan prostat
memperlihatkan respon mengecil terhadap agonis. Komponen yang berperan
dalam mengecilnya prostat dan leher buli-buli secara primer diperantarai oleh
reseptor 1a. Penghambatan terhadap alfa telah memperlihatkan hasil berupa
perbaikan subjektif dan objektif terhadap tanda dan gejala BPH pada beberapa
pasien. Penghambat alfa dapat diklasifikasikan berdasarkan selektifitas reseptor
dan waktu paruhnya.
b. Penghambat 5- Reduktase (5-Reductase inhibitors)
Finasteride adalah penghambat 5- Reduktase yang bekerja menghambat
testosterone menjadi dyhydratestosteron. Obat ini mempengaruhi komponan
epitel prostat, yang menghasilkan pengurangan kelenjar dan memperbaiki gejala.
Dianjurkan pemberian terapi ini selama 6 bulan, guna melihat efek maksimal
terhadap ukuran prostat (reduksi 20%) dan perbaikan gejala-gejala.4
c. Terapi kombinasi
Terapi kombinasi antara penghambat alfa dan penghambat 5- Reduktase
memperlihatkan bahwa penurunan symptom score dan peningkatan aliran urin
hanya ditemukan pada pasien yang mendapatkan hanya Terazosin. Penelitian
terapi kombinasi sedang diteliti lebih lanjut.
d. Fitoterapi
Fitoterapi adalah penggunaan tumbuh-tumbuhan dan ekstrak tumbuh-tumbuhan
untuk tujuan medis. Fitoterapi paling umum untuk BPH adalah

palmetto

(Serenoa repens), African plumb (pygeum africanum), dan South African Star
Grass (Hypoxis rooperi). Saw Palmetto adalah Phytotherapy paling sering
digunakan untuk LUT. Permixon, sebuah liposterolic ekstrak repens S.
(diekstraksi dari kelapa muda di bagian tenggara Amerika Serikat dan Hindia
Barat) adalah persiapan yang paling banyak dipelajari. Secara tepatnya
mekanisme kerja repens S. masih belum jelas. Namun, penelitian baru
menunjukkan kontraksi epitel, terutama di zona transisi, menunjukkan
kemungkinan
mekanisme aksi, namun perubahan volume prostat atau PSA belum diamati.
Tersedia informasi tentang saw palmetto ekstrak terdiri sebagian besar dari dalam
percobaan in vitro dan penelitian di Eropa, yang banyak telah membatasi nilai

17

seperti dicatat oleh peneliti. Keterbatasan serupa telah diamati dalam beberapa
studi menilai bentuk lain terapi alternatif. Tidak ada data dari yang dirancang
dengan baik, jangka panjang, acak, penelitian plasebo-terkontrol untuk
menunjukkan bahwa terapi alternatif memiliki efek pada jangka panjang hasil
atau perkembangan penyakit.
3. Operasi Konvensional
a. Transurethral resection of the prostate (TURP)
Sembilan puluh lima persen simple prostatectomy dapat dilakukan melalui
endoscopy. Umumnya dilakukan dengan anestesi spinal dan dirawat di rumah
sakit selama 1-2 hari. Perbaikan symptom score dan aliran urin dengan TURP
lebih tinggi dan bersifat invasive minimal. Resiko TURP adalah antara lain
ejakulasi retrograde (75%), impoten (5-10%) dan inkontinensia urin (<1%).
b. Transurethral incision of the prostate
Pasien dengan gejala sedang dan berat, prostat yang kecil sering terjadi
hyperplasia komisura posterior (menaikan leher buli-buli). Pasien dengan
keadaan ini lebih-lebih mendapat keuntungan dengan insisi prostat. Prosedur ini
lebih cepat dan kurang menyakitkan dibandingkan TURP. Retrograde ejakulasi
terjadi pada 25% pasien
c. Open simple prostatectomy
Jika prostat terlalu besar untuk dikeluarkan dengan endoskopi, maka enukleasi
terbuka diperlukan. Kelenjar lebih dari 100 gram biasanya dipertimbangkan untuk
dilakukan enukleasi. Open prostatectomy juga dilakukan pada BPH dengan
divertikulum

buli-buli,

batu buli-buli dan

pada posisi litotomi

tidak

memungkinkan. Open prostatectomy dapat dilakukan dengan pendekatan


suprapubik atau retropubik.
4. Terapi Minimal Invasive
a. Laser
Dua sumber energy utama yang digunakan pada operasi dengan sinar laser adalah
Nd :YAG dan Holomium : YAG
Keuntungan operasi dengan sinar laser :
Kehilangan darah minimal
Sindroma TUR jarang terjadi
Dapat mengobati pasien yang sedang menggunakan antikoagulan
Dapat dilakukan out patient procedure
Kerugian operasi laser
Sedikit jaringan untuk pemeriksaan patologi
Pemasangan kateter postoperasi lebih lama
Lebih iritatif

18

Biaya besar
b. Transurethral electrovaporization of the prostate
Transurethral electrovaporization of the prostate adalah terapi menggunakan
resekstoskop. Arus tegangan tinggi menyebabkan penguapan jaringan karena
panas, meghasilkan cekungan pada uretra pars prostatika. Prosedurnya lebih lama
dari TUR
c. Hyperthermia
Hipertermia dihantarkan melalui kateter transuretra. Bagian alat lainnya
mendinginkan mukosa uretra. Namun jika suhu lebih rendah dari 45C, alat
pendingin tidak diperlukan
d. Transuretral needle ablation of the prostate
Transuretral needle ablation of the prostate menggunakan kateter khusus yang
dimasukan melalui uretra
e. High Intensity Focused Ultrasound
High Intensity Focused Ultrasound berarti melakukan ablasi jaringan dengan
panas. Ultrasound probe ditempatkan pada rectum
f. Intrauteral stents
Intrauteral stents adalah alat yang ditempatkan pada fossa prostatika dengan
endoskopi dan dirancang untuk mempertahankan uretra pars prostatika tetap
paten
g. Transurethtral ballon dilatation of the prostate
Balon dilator prostat ditempatkan dengan kateter khusus yang dapat
melebarkan fossa prostatika dan leher buli-buli. Lebih efektif pada prostat yang
ukurannya kecil. Tehnik ini jarang digunakan sekarang ini.

19