Anda di halaman 1dari 29

I.

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Energi radiasi dari matahari merupakan salah satu bentuk energi alternatif
yang dimanfaatkan untuk berbagai kepentingan guna menggantikan energi bahan
bakar minyak. Salah satu pemanfaatan dari energi radiasi matahari yang banyak
digunakan adalah sebagai alat pengering energi surya (Thamrin dan Anton, 2011).
Agar dapat memanfaatkan energi radiasi matahari untuk proses pengeringan
digunakan suatu perangkat untuk mengumpulkan energi radiasi matahari yang
sampai ke permukaan bumi dan mengubahnya menjadi energi panas yang
berguna. Perangkat ini disebut dengan kolektor surya (Kristanto dan James, 2004).
Kolektor surya merupakan suatu alat yang dapat berfungsi untuk
mengumpulkan energi matahari yang masuk yang diubah menjadi energi thermal
yang kemudian energi tersebut diteruskan ke fluida. Kolektor surya memiliki
beberapa komponen seperti transmisi, refleksi dan absorbsi. Komponen transmisi
dapat diperoleh dengan menggunakan kaca, refleksi dari elemen cermin dan
absorber dari bahan aluminium atau kuningan yang dilapisi dengan permukaan
benda hitam (Erlina dan Imam, 2009).
Dengan adanya kebutuhan bahan bakar minyak yang semakin meningkat
saat

ini,

menjadikan

penduduk

dunia

khususnya

di

Indonesia

mulai

mengantisipasinya dengan mencari sumber energi alternatif. Salah satu cara yang
dapat diambil adalah dengan memanfaatkan energi matahari untuk mengurangi
pemakaian bahan bakar minyak. Alternatif ini dapat digunakan untuk berbagai
proses pengeringan, salah satunya pada proses pengeringan kerupuk.
Proses pengeringan kerupuk mentah bertujuan untuk menghasilkan bahan
dengan kadar air tertentu. Kadar air yang terkandung dalam kerupuk mentah akan
mempengaruhi kualitas dan kapasitas pengembangan kerupuk dalam proses
penggorengan selanjutnya. Tingkat kekeringan tertentu diperlukan kerupuk
mentah untuk menghasilkan tekanan uap yang maksimum pada proses
penggorengan sehingga gel pati kerupuk bisa mengembang. Pengeringan kerupuk
juga bertujuan untuk pengawetan, pengurangan ongkos transportasi dan
mempertahankan mutu (Koswara, 2009).

Pada umumnya pengeringan kerupuk dilakukan dilapangan terbuka jika


cuaca dianggap cukup cerah. Pengeringan dengan sistem konvensional ini
mempunyai banyak kelemahan-kelemahan antara lain pengeringan sering harus
dilakukan berulang kali, bahan mudah bercampur dengan bahan bahan kotor
dari sekitarnya, pengeringan memerlukan waktu yang cukup lama, tidak aman
dari gangguan orang-orang dan binatang, hasil pengeringan kurang baik karena
debu serta polusi udara (Ginting dkk, 2013).
Dengan membuat suatu alat pengering surya yang memanfaatkan energi
alternatif dari sinar matahari maka diharapkan dapat mengatasi kelemahan proses
pengeringan konvensional yang selama ini dipakai oleh para pembuat kerupuk di
Indonesia, sehingga diperoleh cara yang lebih efisien.
1.2 Perumusan Masalah
Permasalahan yang akan dibahas pada penelitian ini adalah bagaimana
merancang suatu alat pengering surya yang memiliki nilai efisiensi yang cukup
tinggi dengan kadar kelembaban yang rendah. Selain itu juga pada waktu
pengujian alat pengering surya tipe rak yang telah dirancang, berapakah laju dan
waktu pengeringan yang dibutuhkan untuk menghasilkan sampel kerupuk dengan
kualitas yang baik.
1.3 Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah:
1. Mendapatkan suatu alat pengering surya tipe rak yang memiliki nilai
efisiensi yang cukup tinggi dangan kelembaban yang rendah.
2. Menentukan nilai massa air yang dikeringkan, laju massa air yang
dikeringkan per jam, laju pengeringan rata rata, serta nilai efisiensi
pengeringan.

1.4 Kontribusi Penelitian


Penelitian ini memberikan kontribusi sebagai berikut:
1. Memberikan informasi dan pengetahuan baru khususnya dalam
pengembangan sumber energi alternatif baru berupa alat pengering surya.

2. Memberikan informasi bagi mahasiswa yang ingin melanjutkan penelitian


mengenai sumber energi alternatif terbaru.
3. Memberikan manfaat dalam hal pengembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi (IPTEK).
II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Energi Radiasi Matahari
Energi radiasi matahari atau energi surya merupakan salah satu sumber
energi yang tidak akan pernah habis. Energi surya dipancarkan ke bumi secara
radiasi, yaitu perpindahan panas dalam bentuk gelombang elektromagnetik tanpa
medium perantara (Burlian dan Aneka, 2011). Radiasi matahari dapat digunakan
untuk menghasilkan energi termal untuk air, bisa juga digunakan sebagai sumber
pemanas pada siklus pemanas mesin sebagai tenaga gerak. Kegunaan yang lain
dari energi matahari adalah menghasilkan listrik melalui penggunaan sel
photovolyalic (Gurning, 2010).
Energi surya menjadi salah satu sumber pembangkit daya selain air, uap,
angin, biogas, batubara, dan minyak bumi. Teknik pemanfaatan energi surya mulai
muncul pada tahun 1839, yang ditemukan oleh A.C. Becquerel. Ia menggunakan
kristal silikon untuk mengkonversi radiasi matahari, namun sampai tahun 1955
metode ini belum benyak dikembangkan. Selama kurun waktu lebih dari satu abad
itu, sumber energi yang banyak digunakan adalah minyak bumi dan batubara.
Upaya pengembangan kembali cara memanfaatkan energi surya baru muncul lagi
ada tahun 1958 (Nitipraja, 2008).
Pada prinsinya energi surya daat dikonversi menjadi energi bentuk lain
sehingga langsung dapat digunakan untuk menunjang kegiatan industri. Teknik
pemanfaatannya dapat mengikuti salah satu dari cara berikut:
1. Pemanfaatan energi panas
2. Konversi menjadi energi listrik
3. Pemanfaatan molekul proses fotosintesis atau proses biologis.
Saat ini, telah banyak peneliti yang mengembangkan berbagai jenis aplikasi
teknologi yang mengambil manfaat dari energi surya. Meskipun, pada
kenyataannya tidak banyak dari aplikasi teknologi tersebut yang dimanfaatkan
untuk jangka waktu panjang di masyarakat atau bahkan hanya sebatas penelitian

saja. Beberapa aplikasi teknologi yang memanfaatkan energi surya yang telah
berhasil dikembangkan diantaranya pemanasan air, distilasi air, penerangan
ruangan, kompor matahari, pengeringan hasil pertanian, sistem fotovaltik, dan lain
lain.
2.2 Pengeringan
Pengeringan merupakan proses pengeluaran air dari suatu bahan pertanian
menuju kadar air kesetimbangan dengan udara sekeliling atau pada tingkat kadar
air tertentu sehingga dapat memperlambat laju kerusakan produk akibat dari
serangan jamur, enzim, dan aktivitas serangga. Proses pengeringan merupakan
proses pemindahan panas dan uap air secara simultan, yang memerlukan energi
panas untuk menguapkan kandungan air yang dipindahkan dari permukaan bahan
yang dikeringkan oleh media pengering yang berupa panas udara yang dihasilkan
oleh kolektor. Proses pengeringan memerlukan energi panas untuk menguapkan
kandungan air yang dipindahkan dari permukaan bahan oleh media pengering
yang biasanya adalah udara. Proses tersebut dipengaruhi oleh kecepatan aliran
udara, suhu udara pengering dan kelembaban udara pengering (Nitipraja, 2008).
Terdapat dua peristiwa yang terjadi selama proses pengeringan, yaitu:
a) Proses perpindahan panas ialah proses yang terjadi karena perbedaan
temperatur, dimana panas yang dialirkan akan meningkatkan suhu bahan
yang lebih rendah dan menyebabkan tekanan uap air di dalam bahan lebih
tinggi dari tekanan uap air di udara.
b) Proses perpindahan massa ialah proses yang terjadi karena kelembaban
relatif udara pengering lebih rendah daripada kelembaban relatif bahan,
sehingga panas yang dialirkan di atas permukaan bahan akan meningkatkan
uap air bahan sehingga tekanan uap air akan lebih tinggi dari tekanan uap
udara ke pengering.
Pada prinsipnya pengeringan biasanya akan melibatkan dua kejadian yaitu
panas harus diberikan pada bahan yang akan dikeringkan, dan air harus
dikeluarkan dari dalam bahan. Dua fenomena ini menyangkut perpindahan panas
ke

dalam dan perpindahan massa keluar. Adapun

faktor-faktor yang
4

mempengaruhi dalam kecepatan pengeringan adalah luas permukaan, perbedaan


suhu sekitar, kecepatan aliran udara, dan tekanan udara.
Kadar air pada suatu bahan dapat ditentukan berdasarkan basis basah dan
basis kering. Basis basah adalah persen massa air yang terkandung pada komoditi
dibandingkan terhadap massa seluruh, yaitu massa bahan kering ditambah massa
air yang terkandung. Untuk menghitung kadar air basis basah digunakan rumus
perhitungan (Burlian dan Aneka, 2011):
Ka=

Ba
x 100
( Ba+ Bk )

.............................. (1)
Dimana: Ka = Kadar air basis basah (%)
Ba = Massa air dalam bahan (gram)
Bk = Massa bahan kering mutlak (gram)
Laju massa air yang dikeringkan menggunakan perhitungan :
M o M 1
W a=
Waktu pengeringan
............................. (2)
Dimana: Wa = Laju massa air yang dikeringkan (gram/menit)
Mo = Massa air dalam bahan (gram)
M1 = Massa bahan produk kering (gram)
Laju pengeringan rata-rata dapat dituliskan dengan persamaan :
= Pengurangan massa air(gram)
W
Waktu pengeringan( menit)
................................ (3)

Dimana: W

= Laju pengeringan rata-rata (gram/menit)

2.3 Efisiensi Pengeringan


Efisiensi pengeringan mempunyai arti penting untuk nilai kualitas kerja dari
alat pengering tenaga surya yang dirancang. Kualitas kerja dari alat pengering
tenaga surya meliputi aspek konversi energi dan perpindahan massa. Aspek
konversi energi ditujukan oleh efisiensi kolektor, sedangkan aspek perpindahan

massa dinyatakan dengan laju pelepasan massa air dari produk udara yang
memanasinya (Thamrin dan Anton, 2011).
Efisiensi pengeringan dinyatakan sebagai perbandingan kalor yang
digunakan untuk penguapan kandungan air dari bahan yang dikeringkan terhadap
energi radiasi matahari yang tiba di pengering. Pada proses pengeringan suatu
bahan, kalor yang digunakan untuk pengeringan adalah :
Qe=( mbmk ) x hfg .................................. (4)
Dimana: mb = Berat bahan sampel awal (kg)
mk = Berat bahan sampel setelah pengeringan (kg)
hfg = Entalpi penguapan pada temperatur rata-rata sampel (kJ/kg)
Adapun untuk energi yang tiba pada alat pengering menggunakan perhitungan :
Qrs= A . Ir . t

................................

(5)
Dimana: A = Luas pelat kolektor (m2)
Ir = Intensitas radiasi surya (Watt/m2)
t = Waktu yang dibutuhkan untuk pengeringan (s)
Sehingga persamaan efisiensi pengeringan dapat dituliskan sebagai berikut :
=

Qe
x 100
Qrs

Dimana:

................................. (6)

= Efisiensi pengeringan (%)

Qe = Energi kalor penguapan (kJ)


Qrs = Energi kalor radiasi (kJ)
2.4 Alat Pengering Tenaga Surya
Alat pengering tenaga surya merupakan suatu alat yang mengubah energi
surya menjadi energi termal atau panas, sehingga bisa digunakan untuk
mengeringkan bahan pangan tanpa menggunakan bahan bakar fosil. Alat
pengering tenaga surya termasuk salah satu cara paling efektif untuk
memanfaatkan energi yang dapat diperbaharui. Alat pengering tenaga surya dapat
mengurangi ketergantungan terhadap listrik dan bahan bakar minyak, sehingga
mengurangi pencemaran lingkungan. Alat pengering tenaga surya terdiri dari 4

bagian utama yaitu kolektor, ruang plenum atau pengumpul panas, ruang
pengering, dan ventilasi.
Berdasarkan cara pemanfaatan energi surya, maka dikenal 2 macam alat
pengering energi surya (Burlian dan Aneka, 2011):
1.

Tipe radiasi langsung, dimana pengering jenis ini bekerja dengan cara meneruskan
radiasi langsung menuju bahan.

2.

Tipe radiasi tidak langsung dimana panas didapat dari dinding penyekat. Untuk
mempertahankan panas digunakan sekat transparan (kaca yang di buat lubang).
Berdasarkan prinsip kerja alat pengering energi surya terdiri atas dua jenis
pengering, yaitu:

1.

Pengering sistem pasif, merupakan Pengeringan system pasif memanfaatkan


radiasi surya dan kecepatan angin tanpa sumber energi lain selain energi surya.

2.

Pengering sistem hybrid, merupakan memanfatkan tenaga surya dengan tambahan


sumber energi lain seperti listrik, bahan bakar, dan lain-lain.
2.5 Kolektor Surya
Kolektor surya merupakan salah satu alat penyerap panas matahari yang
berfungsi untuk mengubah energi panas menjadi energi listrik. Kolektor surya
dapat didefinisikan sebagai sistem perpindahan panas yang menghasilkan energi
panas dengan memanfaatkan radiasi sinar matahari sebagai sumber energi utama
(Arikundo, 2014). Ketika cahaya matahari menimpa absorber pada kolektor surya,
sebagian cahaya akan dipantulkan kembali ke lingkungan, sedangkan sebagian
besarnya akan diserap dan dikonversi menjadi energi panas, lalu panas tersebut
dipindahkan kepada fluida yang bersirkulasi di dalam kolektor surya untuk
kemudian dimanfaatkan guna berbagai aplikasi.
Komponen komponen utama yang umumnya dimiliki oleh kolektor surya
adalah (Gurning, 2010):
1. Cover berfungsi untuk mengurangi rugi panas secara konveksi menuju
lingkungan
2. Absorber berfungsi untuk menyerap panas dari radiasi cahaya matahari

3. Kanal berfungsi sebagai saluran transmisi fluida kerja


4. Isolator berfungsi meminimalisasi kehilangan panas secara konduksi dari
absorber menuju lingkungan
5. Frame berfungsi sebagai struktur pembentuk dan penahan beban kolektor
Berikut adalah tipe tipe kolektor surya yang telah dikembangkan
(Nitipraja, 2008):
1. Kolektor Surya Pelat Datar
Sistem ini berupa kontak terinsulasi dan tahan air, terdiri dari pelat absorber
berwarna hitam pekat yang terletak di bawah penutup transparan (bisa 1
atau 2 lapis penutup transparan). Air atau fluida pengkonduksi dialirkan di
dalam pipa yang berada di bawah pelat absorber, untuk dipanaskan dan
hasilnya bisa dimanfaatkan untuk berbagai keperluan.
2. Konsentrator
Biasanya
berupa
logam
parabola
(cermin

parabola)

untuk

mengkonsentrasikan radiasi surya ke dalam absorber (receiver) yang berada


di pusatnya. Kekuatan panas terletak pada posisi absorber harus selalu
berada di fokus parabola.
3. Kolektor Surya Tabung Hampa
Untuk pemanas air terdiri dari jajaran tabung kaca (seperti tabung lampu
neon). Terdapat 3 tipe, yaitu:
a. Tipe 1 (Glass-Glass) tubes. Terdiri dari dua tabung kaca yang disatukan
pada bagian ujung ujungnya. Di dalam tabung dilapisi dengan lapisan
tertentu berwarna hitam yang berfungsi sebagai absorber sekaligus dapat
menahan kehilangan energi radiasi. Tabung dibuat vakum untuk
mengurangi kehilangan panas akibat konduksi dan konveksi. Tidak
seefisien tipe 2, tetapi sangat kuat terhadap kebocoran.
b. Tipe 2 (Glass-Metal) tubes. Terdiri dari tabung tunggal. Di dalam tabung
terdapat aluminium berbentuk pelat atau lengkung yang berhubungan
dengan pipa berisi air untuk dipanaskan. Pelat aluminium biasanya
dilapis dengan lapisan tertentu. Tipe ini sangat efisien tetapi rawan
dengan kebocoran, akibat sambungan antarakaca dan logam, karena
tingkat pemuaian kaca dan logam tidak sama, sehingga setelah beberapa

lama terkena panas dan dingin akan terjadi penyusutan dan


pengembangan material yang menyebabkan kebocoran.
c. Tipe 3 (Glass-Glass-Water Flow Path) tubes. Air berada di dalam tabung.
Permasalahan muncul jika tabung pecah, maka air panas tumpah kemana
mana.
2.6 Pengering Surya Tipe Rak
Mesin pengering tipe rak (Tray Dryer) mempunyai bentuk persegi dan di
dalamnya terdapat rak rak yang digunakan sebagai tempat bahan yang akan
dikeringkan, bahan diletakkan diatas rak rak yang diletakkan dalam ruang
tertutup dan hanya disediakan lubang lubang untuk saluran udara masuk, saluran
ke luar uap air yang dihembuskan oleh blower. Suhu pada proses pengeringan
buah dan sayuran yang aman adalah 35 - 63oC. Suhu idealnya adalah 48oC. Pada
suhu ini pengeringan berlangsung cukup cepat tetapi sedikit merusak enzim.
Enzim yang penting akan rusak bila suhu melebihi 60oC.
Mesin pengering tipe rak dengan suatu ruang pengering, dengan sistem
pemanasan tidak langsung (direct drying) dapat digunakan untuk mengeringkan
beberapa produk hasil pertanian. Kelebihan pengering ini adalah suhu
pengeringan yang lebih seragam, karena bentuk dan ukuran antara ruang
pengering dan heat exchanger sama. Sehingga distribusi suhu ada tiga bagian
(atas, tengah dan bawah) sama. Rak pada mesin pengering tipe rak ini terbuat dari
stainless steel untuk mengamankan produk dari kontaminasi akibat korosi (Erlina
dan Imam, 2009).

(Sumber Yani dkk., 2009)


Gambar 1. Pengering Surya Tipe Rak
Alat pengering ini dibuat dua bagian yaitu kolektor surya dan ruang
pengering. Kolektor surya ini berfungsi sebagai penguat termal sehingga udara
yang berada di dalam kolektor ini menjadi lebih panas sehingga udara luar masuk
kedalam kolektor dan diteruskan ke ruang pengering. Bahan yang ada di dalam
ruang pengering akan mengalami pemanasan sehingga bahan tersebut
menguapkan air yang dikandung sampel dan dibawa keluar melalui cerobong.
Untuk mempercepat proses pengeringan maka di bagian atas ruang
pengering dipasang ventilator, karena ventilator ini berfungsi untuk menarik udara
basah dari dalam ruang pengering sehingga ruangan menjadi lebih kering. Untuk
menambah keefektifan kolektor pemanas, maka alat penyerap dicat hitam,
sehingga radiasi surya yang lewat melalui penutup teransparan diserap oleh pelat
penyerap panas dan kemudian diradiasikan kembali ke seluruh ruang antara
penutup dengan pelat penyerap. Udara panas yang keluar dari kolektor masuk ke
dasar ruang pengering kemudian bersirkulasi keatas melalui bahan yang
dikeringkan. Udara yang bergerak ke atas ini akan mengeringkan bahan yang
berada di dalam setiap rak, sehingga kadar kandungan air dari bahan akan
berkurang.
2.7 Kerupuk
Kerupuk adalah suatu jenis makanan kering yang terbuat dari bahan-bahan
yang mengandung pati cukup tinggi. Pengertian lain menyebutkan bahwa kerupuk
merupakan jenis makanan kecil yang mengalami pengembangan volume
membentuk produk yang porus dan mempunyai densitas rendah selama proses
penggorengan. Demikian juga produk ekstrusi akan mengalami pengembangan
pada saat pengolahannya.
Pengembangan kerupuk merupakan proses ekspansi tiba-tiba dari uap air
dalam struktur adonan sehingga diperoleh produk yang volumenya mengembang
dan porus. Pada dasarnya kerupuk mentah diproduksi dengan gelatinisasi pati
adonan pada tahap pengukusan, selanjutnya adonan dicetak dan dikeringkan. Pada

10

proses penggorengan akan terjadi penguapan air yang terikat dalam gel pati akibat
peningkatan suhu dan dihasilkan tekanan uap yang mendesak gel pati sehingga
terjadi pengembangan dan sekaligus terbentuk rongga-rongga udara pada kerupuk
yang telah digoreng.
Pembuatan kerupuk secara umum terdiri dari tiga tahap penting, yaitu
pembuatan adonan, pencetakan adonan dan pengeringan (Koswara, 2009).
1) Pembuatan Adonan Kerupuk
Pembuatan adonan kerupuk merupakan tahap yang penting dalam
pembuatan kerupuk mentah. Pembuatan adonan kerupuk dilakukan dengan
mencampurkan bahan utama dan bahan-bahan tambahan yang diaduk secara
merata, lalu diuleni dengan tangan sehingga dihasilkan adonan yang liat dan
homogen.
Dengan cara lain, pembuatan adonan kerupuk dilakukan dengan
mencampurkan bagian tepung tapioka, air, garam, gula, telur, bumbu dan
daging ikan yang telah dilumatkan dengan alat penggilingan daging, sehingga
diperoleh campuran seperti bubur. Campuran tersebut selanjutnya dicampurkan
kembali dengan sisa tepung tapioka sehingga terbentuk adonan yang homogen.
Pencampuran adonan dihentikan bila adonan tidak lengket di tangan atau pada alat
pencampuran.
Pembuatan adonan kerupuk di daerah Jawa Timur dapat dilakukan dengan
proses panas atau proses dingin. Pada proses panas, bahan tambahan dimasak
dahulu kemudian dicampur dengan tepung tapioka dan diaduk sampai adonan
merata. Sedangkan dengan proses dingin, semua bahan langsung dicampur dan
diaduk sampai adonan merata.
2) Pencetakan Adonan Kerupuk
Pencetakan adonan kerupuk dimaksudkan untuk memperoleh bentuk dan
ukuran yang seragam. Keseragaman ukuran penting untuk memperoleh
penampakan dan penetrasi panas yang merata sehingga memudahkan proses
penggorengan dan menghasilkan kerupuk goreng dengan warna yang seragam.
Pencetakan adonan kerupuk dapat dibuat menjadi bentuk silinder, lembaran
dan melingkar. Pencetakan adonan kerupuk berbentuk silinder dilakukan dengan

11

tangan untuk membuat adonan berukuran panjang 25 30 cm dan diameter 4 5


cm. Selanjutnya adonan berbentuk silinder tersebut dikukus sehingga diperoleh
tekstur yang kenyal. Kemudian didinginkan selama dua malam, selanjutnya diiris
dengan pisau sehingga diperoleh lembaran kerupuk mentah dengan ketebalan
yang sama sekitar 1- 2 mm.
Adonan kerupuk bentuk lembaran dicetak dengan menggunakan alat
penggiling mie. Dengan alat ini ketebalan adonan kerupuk dapat diatur sesuai
dengan yang diinginkan. Pencetakan adonan berbentuk lembaran dilakukan
dengan ketebalan 0.7 1.4 mm sehingga diperoleh bentuk lembaran, lalu
dipotong dengan pisau menjadi ukuran sesuai keinginan, misalnya 4 x 4 cm 2 atau
berbentuk bulat.
Pencetakan adonan bentuk melingkar, dilakukan dengan alat pencetakan
yang disebut gencetan. Di Palembang alat tersebut dinamakan sangku. Daya
tampung alat pencetak ini sebesar 5 kg adonan dengan kapasitas kerja 15 kg/jam.
Adonan dimasukan kedalam pencetak berbentuk silinder yang bagian bawanya
tertutup lempengan dengan 1 2 buah lubang yang bergaris tengah 1 2 mm.
Selanjutnya penekanan dilakukan sehingga adonan keluar dari lubang tersebut dan
ditampung dalam piring kecil yang digerakkan melingkar.
3) Pengeringan Kerupuk
Proses pengeringan kerupuk mentah bertujuan untuk menghasilkan bahan
dengan kadar air tertentu. Kadar air yang terkandung dalam kerupuk mentah akan
mempengaruhi kualitas dan kapasitas pengembangan kerupuk dalam proses
penggorengan selanjutnya. Tingkat kekeringan tertentu diperlukan kerupuk
mentah untuk menghasilkan tekanan uap yang maksimum pada proses
penggorengan sehingga gel pati kerupuk bisa mengembang. Pengeringan kerupuk
bertujuan juga untuk pengawetan, pengurangan ongkos transportasi dan
mempertahankan mutu.
Proses pengeringan dapat dilakukan dengan penjemuran di bawah sinar
matahari atau dengan oven yang biasa dilakukan untuk skala laboratorium.
Keuntungan pengeringan dengan oven yaitu suhu dan waktu pemanasan dapat

12

diatur. Akan tetapi daya tampungnya terbatas dan biaya operasionalnya cukup
mahal. Pengeringan dengan menggunakan panas matahari selain biayanya murah,
juga mempunyai daya tampung yang besar. Tetapi cara ini sangat tergantung pada
cuaca dan pengeringan tidak dapat diatur.
Waktu pengeringan dengan oven pada suhu 60 70oC akan dicapai sekitar 7
8 jam. Sedangkan jika menggunakan oven pada suhu 55oC memerlukan waktu
15 20 jam. Pengeringan dengan panas matahari memerlukan waktu selama dua
hari, bila cuaca cerah dan sekitar 4 5 hari bila cuaca kurang cerah. Dari proses
pengeringan ini, dihasilkan kerupuk mentah dengan kadar air sekitar 14 % atau
kerupuk mentah yang mudah dipatahkan.

III.METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Pendekatan Desain Fungsional
Pada alat pengering surya tipe rak terdapat beberapa bagian dengan masing
masing fungsinya, yaitu:
Ventilator
Alas Tabung
(Pelat Aluminium)

13

Cerobong
Atap Rak
Pengering

Rak rak
pengeringan
Kolektor surya

Kaca
cermin

Dinding Ruang
Pengering

Isolator

Gambar 2. Karangka Alat pengering Rak


1. Ventilator
Ventilator berfungsi untuk menarik udara basah dari dalam ruang
pengering sehingga ruangan menjadi lebih kering. Dimana ventilator
diletakkan pada bagian paling atas ruang rak pengeringan, diatas
cerobong. Hal ini dilakukan agar udara dari dalam ruang pengeringan
yang keluar melalui cerobong ditarik oleh ventilator dan dibuang ke luar.
2. Cerobong
Cerobong berfungsi sebagai jalan untuk udara keluar melalui ventilator.
Dimana cerobong diletakkan diatas atap ruang pengeringan yang terbuat
dari kaca yang telah dilapisi dengan pelat aluminium.
3. Alas Tabung
Alas Tabung dibuat dari aluminium yang dipasang diantara atap ruang
pengeringan dan cerobong berfungsi untuk menyatukan kedua sisi atap
dan cerobong. Dimana pelat aluminium akan dilobangi, sehingga udara
yang terdapat didalam ruang pengeringan dapat keluar melalui cerobong.
4. Atap Rak Pengering
Atap rak pengering berfungsi sebagai penutup ruang pengeringan yang
sekaligus menghubungkan ruang pengeringan dengan cerobong dan
ventilator.
5. Dinding Ruang Pengeringan

14

Dinding ruang pengeringan berfungsi sebagai penutup rak pengering


yang terdapat didalam ruang pengeringan. Hal ini dilakukan agar bahan
yang dikeringkan tidak terkontaminasi dengan benda luar dan juga agar
panas yang salurkan dari kolektor surya memenuhi seluruh bagian ruang
pengeringan dan keluar melalui cerobong.
6. Rak Pengering
Rak Pengering berfungsi sebagai tempat sampel berupa kerupuk basah
yang akan dikeringkan. Rak pengeringan disusun berlapis sebanyak 3 rak
di dalam ruang pengeringan.
7. Kaca Cermin
Kaca cermin berfungsi sebagai penyerap radiasi panas dari matahari.
Dimana kaca cermin akan dipasang pada bagian atas ruang kolektor
surya.
8. Kolektor Surya
Kolektor surya berfungsi sebagai tempat untuk mengumpulkan energi
radiasi matahari yang diserap oleh kaca hingga kemudian energi tersebut
diubah menjadi energi kalor dan disalurkan ke fluida.
9. Isolator
Penambahan isolator dimaksudkan agar panas yang telah ditampung oleh
kolektor tidak merambat keluar, karena isolator bersifat tidak bisa atau
sulit melakukan perpindahan panas.
3.2 Pendekatan Desain Struktural
Berikut ini adalah penjelasan struktur alat pengering surya tipe rak yang
akan dirancang.
3.2.1 Perancangan Kerangka
Kerangka dibuat dengan menggunakan besi siku yang disusun dengan
ukuran tertentu seperti gambar dibawah ini.

15

Ruang
Pengeringan
Kolektor
Surya

Gambar 3. Karangka Alat pengering Rak


Kerangka alat pengering surya ini terdiri atas dua bagian yaitu ruang
pengeringan dan kolektor surya yang masing masing bagian tersebut diperkokoh
dengan menggunakan baut dan mur dan dicat berwarna hitam.
3.2.2 Perancangan Dinding Rak dan Kaca Penyerap Panas Pada Kolektor
Setelah membuat kerangka alat pengering surya, kemudian pada tahap ini
dilakukan pembuatan dinding rak pengering yang terbuat dari kaca biasa dan
penyerap panas pada bagian kolektor yang terbuat dari kaca cermin. Dimana pada
dinding rak pengering, kaca berbentuk persegi panjang yang terdiri dari dua
bagian yaitu dinding bagian samping (kanan-kiri) dengan ukuran 100 cm x 50 cm
dan dinding bagian depan-belakang dengan ukuran 100 cm x 100 cm. Sedangkan
untuk ukuran kaca penyerap panas pada kolektor yaitu 150 cm x 50 cm.
150 cm

50 cm

Gambar 4. Ukuran Kaca Cermin Pada Bagian Kolektor

100
cm

100
cm
16

50
cm

100
cm

(a)
(b)
Gambar 5. (a) Ukuran Dinding Kaca Rak Pengering Bagian Samping
(b) Ukuran Dinding Kaca Rak Pengering Bagian Depan
3.2.3 Perancangan Atap Pada Rak Pengering
Atap pada bagian rak pengering dibuat dari kaca berbentuk trapesium
dengan ukuran seperti gambar dibawah ini:

20 cm
30 cm
50 cm
50 cm
50 cm

(a)

(b)

Gambar 6. (a) Ukuran Atap Bagian Depan-Belakang Pada Rak Pengering


(b) Ukuran Kaca Bagian Samping (kanan-kiri) Pada Rak Pengering

3.2.4 Perancangan Kolektor


Pada tahap ini kolektor dibuat dengan menggunakan seng yang
bergelombang yang besarnya sama dengan reflaktor yaitu persegi panjang dengan
ukuran 150 cm x 50 cm yang di cat dengan warna hitam.

17

150 cm
50 cm

Gambar 7. Ukuran Seng Bergelombang (Kolektor)


3.2.5 Perancangan Isolator
Pada tahap ini isolator dibuat dengan menggunakan triplek dengan ukuran
150 cm x 50 cm yang nantinya akan diletakkan dibagian paling bawah.
150 cm

50 cm

Gambar 8. Ukuran Triplek (Isolator)


3.2.6 Perancangan Rak Pengering
Pada tahap ini rak pengeringan dibuat dari jaring baja dimana masing
masing sisinya berbentuk persegi panjang dengan ukuran 100 cm x 50 cm yang
disusun pada kerangka alat pengering sedemikian rupa sehingga menghasilkan 3
rak dengan jarak masing masing rak 25 cm.
100 cm

50 cm

Gambar 9. Ukuran Rak Pengering


3.2.7 Perancangan Cerobong dan Alas Tabung
Cerobong pada rak pengering dibuat dari plat aluminium berukuran 30 cm x
60 cm yang digulung dan dilas hingga berbentuk tabung. Sedangkan alas tabung
dibuat berukuran lebih besar dari lingkar tabung yaitu 50 cm x 50 cm.

18

30 cm
60 cm
50 cm
50 cm

(a)

(b)

Gambar 10. (a) Ukuran Cerobong


(b) Ukuran Alas Tabung (Pelat Aluminium)
3.3 Pertimbangan Percobaan
3.3.1 Waktu dan Tempat
Penelitian akan dilaksanakan dalam 3 tahapan yaitu tahap perancangan alat,
tahap pengujian alat, dan analisa hasil. Dimana sampel kerupuk untuk pengujian
alat diambil dari rumah produksi kerupuk dan kemplang RIZKY milik Hj. Yanti
Mala yang beralamatkan di Jl. KHM Asyik RT 29 No. 56 3/4 Ulu, Palembang.
Adapun uraian waktu dan tempat penelitian sebagai berikut:
1. Perancangan Alat
Waktu

: Maret - April 2015

Tempat

: Laboratorium Teknik Kimia Politeknik Negeri Sriwijaya

2. Pengujian Alat
Waktu
: April - Mei 2015
Tempat
: Laboratorium Teknik Kimia Politeknik Negeri Sriwijaya
3. Analisa Hasil
Waktu

: Mei - Juni 2015

Tempat

: Laboratorium Teknik Kimia Politeknik Negeri Sriwijaya

3.3.2 Alat dan Bahan

19

a) Alat yang digunakan pada penelitian adalah sebagai berikut:


1. Termometer, yang digunakan untuk mengukur temperatur pada saat
pengujian alat pengering.
2. Timbangan, yang digunakan untuk menimbang kerupuk sebelum dan
sesudah dikeringkan.
3. Pisau, yang digunakan untuk mengiris potongan kerupuk yang masih
basah.
4. Nampan, yang digunakan untuk proses pengeringan manual tanpa
menggunakan alat pengeringan surya.
b) Bahan yang digunakan pada penelitian adalah sebagai berikut:
1. Irisan adonan kerupuk ikan gabus sebagai bahan uji alat pengering
sebanyak 5 kg.
3.3.3 Perlakuan dan Analisis Statistik Sederhana
Metode pengujian yang digunakan adalah metode eksperimental yaitu
pengamatan langsung terhadap pengujian yang dilakukan secara seksama dengan
melakukan pengukuran-pengukuran. Pengujian dilakukan dibagi menjadi dua
jenis, yaitu pengujian dengan menggunakan alat pengering yang telah dirancang
dan pengujian langsung tanpa menggunakan alat pengering.
Hasil pengujian kemudian dianalisa kadar airnya untuk mengetahui massa
kering maksimum dari kerupuk. Untuk mengetahui massa kering maksimum
dapat diperoleh dengan menentukan banyaknya kadar air dalam kerupuk yang
berhasil dikeluarkan selama proses pengeringan dengan persamaan:
kadar air=

ab
x 100
a

..................................................................................

(7)
dengan:
a = massa kerupuk sebelum pengeringan
b = massa kerupuk setelah pengeringan
Adapun untuk mengetahui keefektifan alat pengering yang dalam hal ini
adalah mengetahui waktu minimum pada kadar kering yang maksimum,
digunakan analisis grafik. Data yang diperoleh dimasukkan ke dalam tabel,
kemudian hubungan keseluruhan data ditampilkan dalam bentuk grafik. Untuk

20

memperoleh temperatur-temperatur yang diinginkan guna mengetahui keefektifan


alat dalam hal kecukupan panas, dilakukan pengukuran temperatur pada
lingkungan, pada pelat kolektor, dan pada ruangan pengering (rak pengering).
Temperatur lingkungan diukur menggunakan termometer air raksa dengan range
pengukuran 0 oC 50 oC, sedangkan untuk temperatur kolektor dan rak digunakan
termokopel dengan range pengukuran -20 oC 137 oC.
3.4 Pengujian
Pengujian dilakukan dengan dua metode, yaitu pengujian dengan
menggunakan alat pengering dan pengujian tanpa alat pengering. Variabel
pengujian yang digunakan dalam pengujian ini adalah massa kerupuk basah
sebagai variabel tetap dan waktu pengeringan sebagai variabel berubah.
3.4.1 Pengujian menggunakan alat pengering
Berikut ini merupakan tabel pengamatan untuk pengujian dengan
menggunakan alat pengering. Pengeringan ini dilakukan dalam 3 periode
pengujian dengan selang waktu 7 hari, dimana pada setiap periode pengujian alat
pengering kerupuk dilakukan selama 7 jam.
Tabel 1. Tabel pengamatan proses pengeringan kerupuk setiap jam
menggunakan alat pengering surya.
Waktu
pengeringan
10:00
11:00
12:00
13:00
14:00
15:00
16:00
17:00

M1*)
(gram)
500
500
500
500
500
500
500
500

M2*)
(gram)

Ka*)
(%)

Keterangan

*) M1 merupakan massa basah kerupuk, M2 merupakan massa kering kerupuk, dan Ka


merupakan kadar air kerupuk setelah pengeringan.

3.4.2 Pengujian Tanpa Alat Pengering

21

Tabel di bawah ini merupakan tabel pengamatan untuk proses pengujian


tanpa alat pengering. Kerupuk yang dikeringkan dijemur langsung di bawah sinar
matahari. Pengujian yang dilakukan tanpa alat pengering dilakukan sama seperti
pada saat menggunakan alat pengerin surya, dimana pengeringan dilakukan dalam
3 periode pengujian dengan selang waktu 7 hari, dan pada setiap periode
pengujian alat pengering kerupuk dilakukan selama 7 jam.
Berikut

ini

merupakan

tabel

pengamatan

untuk

pengujian

tanpa

menggunakan alat pengering surya.


Tabel 2. Tabel pengamatan proses pengeringan kerupuk setiap jam tanpa
menggunakan alat pengering surya.
Waktu
pengeringa
n
10:00
11:00
12:00
13:00
14:00
15:00
16:00
17:00

M1*)
(gram)

Hari ke 1
M2*)
(gram)

Hari ke 2
M3*)
(gram)

Ka*)
(%)

Keterangan

500
500
500
500
500
500
500
500

*) M1 merupakan massa basah kerupuk, M2 dan M3 merupakan massa kering kerupuk, dan Ka
merupakan kadar air kerupuk setelah pengeringan.

3.4.3 Temperatur Pengeringan


Temperatur pengeringan terdiri dari temperatur lingkungan, temperatur
kolektor dan temperatur ruang pengering selama proses pengeringan berlangsung.
Berikut ini merupakan tabel pengamatan dari temperatur pengeringan.

Tabel 3. Tabel pengamatan temperatur selama proses pengeringan


berlangsung.

22

Pengujian I
Waktu
Minggu ke-1
TK
TR
Pengeringan TL
o
o
( C) ( C) (oC)
10:00
11:00
12:00
13:00
14:00
15:00
16:00
17:00

Pengujian II
Minggu ke-2
TL
TK
TR
o
o
( C) ( C) (oC)

Pengujian III
Minggu ke-3
TL
TK
TR
o
o
( C) ( C) (oC)

*) TL adalah temperatur lingkungan, TK adalah temperatur kolektor, TR adalah temperatur


ruangan pengering

3.5 Prosedur Percobaan


1. Menempatkan alat pengering dengan bagian kolektornya menghadap
matahari.
2. Menyiapkan sampel berupa kerupuk ikan gabus yang masih basah,
termometer air raksa dan timbangan untuk pengujian.
3. Sebelum melakukan pengujian pengeringan, terlebih dahulu diukur massa
bahan basah kerupuk yang akan dikeringkan.
4. Kemudian melakukan pengujian, dimana bahan yang berupa kerupuk basah
diletakkan di dalam rak ruang pengering.
5. Mengukur massa bahan dan mencatat perubahan suhu yang terjadi tiap
jamnya, masing masing pada lingkungan, ruang kolektor dan ruang
pengering setiap satu jam sekali. Pengujian dilakukan sampai tercapai kadar
air yang diinginkan yaitu 14%.
6. Untuk pengujian yang menggunakan cara pengeringan langsung tanpa
menggunakan alat pengering surya, dilakukan dengan cara menghamparkan
kerupuk di bawah sinar matahari secara langsung.
3.5.1 Diagram Alir Pelaksanaan Penelitian

23

Mulai

Studi Literatur

Perencanaan dan Perancangan Alat

Pengujian Alat

Data eksperimen sesuai dengan


teori?
tidak

ya
Analisa data, pembahasan dan kesimpulan

Penyusunan laporan

Selesai

Gambar 11. Diagram Alir Penelitian

3.5.2 Diagram Alir Perancangan Alat

24

Mulai
Desain keseluruhan alat
Perancangan desain fungsional Komponen-komponen alat
Fungsi masing-masing komponen
Pendimensian tiap komponen
Perancangan desain struktural
Penggambaran tampak depan, samping dan belakang alat
Persiapan bahan baku

Proses pengerjaan perancangan komponen

Penggabungan komponen-komponen

Selesai
Gambar 12. Diagram Alir Perancangan Alat Pengering Surya.

3.5.3 Diagram Alir Proses Pengeringan

25

Kerupuk basah

Alat pengering diletakkan menghadap matahari


Pemotongan kerupuk basah menjadi lebih tipis dengan ketebalan 1 cm

Penimbangan kerupuk basah sebanyak 500 gram

Penyusunan kerupuk yang telah ditimbang di rak pengering

Memasukkan rak pengering ke dalam alat pengering dan memulai proses pengeringa

elakukan pengamatan terhadap kerupuk yang dikeringkan pada tiap jam dengan menimbang massa

Pengukuran temperatur lingkungan, pelat kolektor dan ruangan pengering pada tiap j

Kerupuk kering

Gambar 13. Diagram Alir Proses Pengeringan Sampel Kerupuk Ikan Gabus
Dengan Menggunakan Alat Pengering Surya.

26

Kerupuk basah

Pemotongan kerupuk basah menjadi lebih tipis dengan ketebalan 1 cm

Penimbangan kerupuk basah sebanyak 500 gram

Penyusunan kerupuk yang telah ditimbang di tampa kayu

Meletakkan kerupuk yang telah disusun di bawah sinar matahari

kan pengamatan terhadap kerupuk yang dikeringkan pada tiap jam dengan menimbang massa keru

Kerupuk kering

Gambar 14. Diagram Alir Proses Pengeringan Kerupuk Ikan Gabus Tanpa
Menggunakan Alat Pengering Surya.

27

IV.

No
1.
2.

3.

4.
5.

JADWAL PELAKSANAAN

Rincian Kegiatan

Jan

Pelaksanaan Bulan
Feb Mar Apr Mei

Juni

Juli

Persiapan pelaksanaan
tugas akhir
Studi literatur dan
persiapan proposal
tugas akhir
Pelaksanaan tugas akhir
(Perencanaan dan
perancangan alat,
pengujian alat dan
analisa sampel)
Pembuatan laporan dan
artikel
Seminar tugas akhir

28

DAFTAR PUSTAKA
Arikundo, F.R. 2013. Rancang Bangun Prototype Kolektor Surya Tipe Plat Datar
Untuk Penghasil Panas Pada Pengering Produk Pertanian dan Perkebunan.
Skripsi pada program Strata 1 Departemen Teknik Mesin Fakultas Teknik
Universitas Sumatera Utara, Medan.
Burlian, F. dan A. Firdaus. 2011. Kaji Eksperimental Alat Pengering Kerupuk
Tenaga Surya Tipe Box Menggunakan Kosentrator Cermin Datar. Prosiding
Seminar Nasional AVoER ke-3. Jurusan Teknik Mesin, Universitas
Sriwijaya. Palembang, 26-27 Oktober 2011. hal. 95-109.
Erlina, Diah Mufti dan Imam Tazi. 2009. Uji Model Alat Pengering Tipe Rak
Dengan Kolektor Surya. Jurusan Fisika UIN Maulana Malik Ibrahim,
Malang.
Ginting, Maksi et al. 2013. Alat Pengering Singkong Tenaga Surya Tipe Kolektor
Berpenutup Miring. Prosiding Semirata FMIPA Universitas Lampung, 2013.
hal.445-449.
Gurning, Tamba. 2010. Kajian Eksperimental Pengaruh intensitas Cahaya dan laju
Aliran Terhadap Efisiensi Termal Dengan Menggunakan Solar Energy
Demonstration Type LS-17055-2 Double Spot Light. Universitas Sumatera
Utara, Medan.
Koswara, Sutrisno. 2009. Pengolahan Aneka Kerupuk. http://Ebookpangan.com.
Diakses pada 2 Desember 2014.
Kristanto, Philip dan James Laeyadi. 2004. Kolektor Surya Prismatik. Jurnal
Teknik Mesin 2.1: pp-22.
Nitipraja, Frima Agung. 2008. Rancangan Alat Pengering Dengan Kolektor Surya
Pelat Datar Yang Menggunakan Air Sebagai Media Penyimpanan Panas
Untuk Pengeringan Gabah. Institut Pertanian Bogor, Bandung.
Thamrin, Ismail dan Anton Kharisandi. 2011. Rancang Bangun Alat Pengering
Ubi Kayu Tipe Rak Dengan Memanfaatkan Energi Surya. Prosiding
Seminar Nasional AVoER ke-3. Jurusan Teknik Mesin, Universitas
Sriwijaya. Palembang, 26-27 Oktober 2011. hal. 49-54.
Yani, Endri et al. 2009. Analisa Efisiensi Pengeringan Ikan Nila Pada Pengering
Surya Aktif Tidak Langsung. Vol.2, No.31, Thn. XVI April 2009. Jurusan
Teknik Mesin, Universitas Andalas.

29