Anda di halaman 1dari 11

Diktat RCC untuk program BKJT VI

II. CRACKING

Merupakan satu teknologi proses yang digunakan di pengilangan yang berfungsi


untuk merengkah/memotong rantai hydrocarbon dengan molekul rantai panjang
menjadi light hydrocarbon pada kondisi temperatur dan tekanan tertentu.
Perengkahan yang dilakukan dapat dicapai dengan High pressure dan
temperature tinggi dalam bentuk reaksi konvensional akan tetapi dengan
keberadaan katalis maka perengkahan tersebut dapat dilaksanakan pada
temperature lebih rendah dan tekanan operasi moderat.
Sumber molekul hydrocarbon berantai panjang berasal dari fraksi hasil distilasi
crude oil yang di umpankan ke system setelah di re-vaporized.
Proses pemecahan rantai hydrocarbon rantai panjang menjadi hydrocarbon
berantai lebih pendek terjadi secara random dengan bentuk ikatan rantai yang
bermacam-macam . Sebagai contoh sederhana dapat dilihat seperti dibawah ini :

Teori Cracking

19

Diktat RCC untuk program BKJT VI

Dalam bentuk ikatan kimia (Bond) dapat dituliskan :

Hal yang perlu dicatat bahwa peristiwa perengkahan (cracking) secara global
memerlukan pasokan energi yang sangat besar karena energi tersebut
diperlukan untuk memotong rantai hydrocarbon panjang.

2.1 Thermal Cracking


Proses thermal cracking biasanya terjadi pada range temperature 450 750 C
dan tekanan yang bias mencapai 70 Atm dengan produk yang dihasilkan
biasanya memiliki bentuk double bond (alkene) dalam proporsi yang besar.
Peristiwa Thermal Cracking tidak terjadi dalam bentuk ionic intermediates seperti
halnya Catalytic Cracking, tetapi dalam bentuk ikatan Carbon Carbon (Carbon
bond) yang pecah membentuk atom carbon dengan ujung rantai sebuah electron
tunggal (mekanisme homolitic), hal ini dikenal sebagai bentuk Free Radical

Teori Cracking

20

Diktat RCC untuk program BKJT VI

R1-CH 2-CH 2-R 2

R1-CH 2 + CH 2-R 2

Karena reaktifitas radikal bebas tersebut maka mekanisme reaksi beerlangsung


dalam waktu yang sangat singkat
Energy aktivasi untuk reaksi thermal cracking diperkirakan empat kali energy
aktifasi reaksi catalytic cracking.
Tahap-tahapan utama proses thermal cracking adalah :
Initiation :
Molekul tunggal hydrocarbon pecah menjadi 2 buah radikal bebas, hanya
sebagian kecil dari molekul feed yang terlibat secara actual dalam proses ini
akan tetapi reaksi ini sangat berperanan dalam pembentukan radikal bebas
yang men drive reaksi cracking secara keseluruhan.

Teori Cracking

21

Diktat RCC untuk program BKJT VI

Proses pecahnya chemical bond antara 2 buah atom carbon dapat


dituliskan :
CH3CH3 2 CH3

Hydrogen Abstraction
Mekanisme dimana radikal bebas mengambil sebuah atom hydrogen dari
molekul hydrocarbon lain dan menyebabkan molekul tersebut menjadi
radikal bebas.
CH3 + CH3CH3 CH4 + CH3CH2

Radical Decomposition
Free radical kemudian pecah menjadi dua molekul yakni alkene (olefin) dan
free radikal yang lain. Olefin atau alkene tersebut selanjutnya dapat menjadi
produk hasil cracking
CH3CH2 CH2=CH2 + H

Radical Addition
Reaksi kebalikan dari radical Decomposition dimana radical bereaksi
dengan alkene (olefin) membentuk satu free radical berukuran besar,

Teori Cracking

22

Diktat RCC untuk program BKJT VI

mekanisme ini merupakan langkah pembentukan produk aromatic bila feed


stock yang digunakan bersifat heavier.
CH3CH2 + CH2=CH2 CH3CH2CH2CH2

Termination
Merupakan tahap akhir dari mekanisme cracking dimana 2 buah radikal
bebas bereaksi membentuk produk yang tidak mengandung radikal bebas
lain.
CH3 + CH3CH2 CH3CH2CH3
CH3CH2 + CH3CH2 CH2=CH2 + CH3CH3
Dalam tahap terminasi ini dikenal dua macam istilah yakni :
- Recombination : merupakan kombinasi 2 macam radikal bebas
membentuk satu macam molekul berukuran besar
- Disproportionation : Mekanisme dimana satu radikal melepas satu atom
hydrogen membetuk hydrocarbon berantai tunggal (alkana) dan rantai
ganda (alkene)

Teori Cracking

23

Diktat RCC untuk program BKJT VI

2.2 Catalytic Cracking


Pada saat ini peristiwa perengkahan katalitik tidak bisa dilepaskan dari peran
Acid katalis atau Zeolite yang mempromote mekanisme heterolytic. Acid katalis
tersebut memiliki komposisi katalis yang kompleks secara umum mengandung
Aluminosilicates
Oil yang di evaporasi akan contact dengan zeoilte catalyst pada temperature 520
C dan tekanan operasi rendah (moderat)
Dalam catalytic cracking distribusi produk yang terbesar diberikan dalam bentuk
rantai atom yang memiliki jumlah atom carbon 5 10 atom, khususnya petrol
atau gasoline dan bentuk ikatan alkana serta aromatics tinggi.
Site zeolite katalis mengambil pasangan electron dari hydrocarbon sehingga oil
memiliki ujung carbon ber ion positif, ion ini dikenal sebagai Carbocation

Teori lain menyatakan bahwa Carbocation tersebut terbentuk dari olefin pada
feed atau terjadi akibat efek panas akibat kontak katalis dengan oil saat pertama,
kali
Carbocation selanjutnya dapat terbagi menjadi Carbenium dan Carbonium ion.

Teori Cracking

24

Diktat RCC untuk program BKJT VI

Carbenium Ion R-CH2+ berasal dari penambahan ion positif pada olefin
(Bronsted acid site) atau karena lepasnya hydrogen beserta pasangan electron
dari molekul hydrocarbon (Lewis acid site)

R-CH=CH-CH2-CH2 -CH3 + H+

R-C+H-CH 2-CH2-CH2-CH3

R-CH2-CH2 -CH2-CH3

R-C+H-CH 2-CH2 -CH3

Bronsted site memiliki proton yang bias disumbangkan ke molekul olefin


sedangkan Lewis site akan mengambil electron pada molekul hydrocarbon
paraffinic. Kedua site inilah (Bronsted & Lewis) pada katalis merupakan
pembangkit ion Carbenium dan merupakan bagian dengan proporsi terbesar
dalam catalytic cracking.
Sedangkan ion Carbonium CH5+ terbentuk karena adanya penambahan ion H+
pada molekul paraffin, bersifat kurang stabil dan terikat lemah pada sisi acid site
katalis.
Teori Cracking

25

Diktat RCC untuk program BKJT VI

2.3 Residue Catalytic Cracking


Reduced Crude merupakan campuran hydrocarbon yang sangat kompleks terdiri
atas unsure parafinic, olefinic, Naphthene dan aromatic digunakan sebagai feed
unit RCU dan merupakan bottom produk unit CDU (primary processing) yang
memiliki rentang titil didih diatas 350 C. Sebagaian besar materialnya
mengandung mono/polynuclear naphtenes, mono/polynuclear aromatic, resin
dan asphaltenes. Residu memiliki density, Viskositas serta kandungan
Conradson Carbon,sulphur, Nitrogen dan Metal yang tinggi.
Sebagai suatu reaksi Catalytic, mekanisme reaksi sangatlah kompleks dan di
drive oleh pembetukan Carbocation.. Reaksi terjadi dalam kondisi temperature
tinggi (520 5540 C) dan tekanan moderat dengan pencampuran hydrocarbon
dan katalis yang harus baik dan waktu kontak yang pendek, apabila kondisi
tersebut tidak terpenuhi maka proses thermal cracking bisa terjadi

Reaksi-reaksi penting yang terjadi pada RFCC adalah sebagai berikut :


1. Cracking.
a. Paraffin terengkah menjadi olefin dan paraffin yang lebih kecil.
Cn H 2 n + 2
paraffin

Cm H 2 m + Cp H 2 p + 2
olefin

dimana n = m + P

paraffin

b. Olefin terengkah menjadi olefin yang lebih kecil.


Cn H 2n
olefin
Teori Cracking

CmH2m + CpH2p
olefin

dimana n = m + P

olefin
26

Diktat RCC untuk program BKJT VI

c. Aromatik (rantai samping) terengkah menjadi Aromatik dan Olefin.


ArCnH2n + 1

Ar CmH 2 m-1 + Cm H 2m
aromatic

dimana n = 2 m

olefin

d.Naphthene (cycloparaffin) terengkah menjadi olefin.


Cyclo-CnH2n+1

Cyclo CmH2m + CpH2p


Naphthene

Cyclo-CnH2n

olefin

CmH2m + CpH2p
olefin

dimana n = m + P

dimana n = m + P

olefin

cycloparaffin mengandung cincin cyclohexane,


Cyclo-Cn H 2 n

C6 H 12 + Cm H 2 m + Cp H 2 p
cyclohexane olefin

dimana n = m+p+6

olefin

Isomerisasi.

2.
a.

n-Olefin menjadi iso-Olefin


1- CnH2n

b.

trans-2-CnH2n

n-Paraffin menjadi iso-Paraffin.


n-CnH2n

iso-CnH2n

3. Hydrogen transfer.
a. Naphthene + Olefin

Aromatik + Paraffin

b. Cyclo aromatisasi.

Teori Cracking

27

Diktat RCC untuk program BKJT VI

C6 H 12 + 3C5 H 10

C6 H 6 + 3C5 H 12

Olefin menjadi paraffin dan aromatik.

c.

4C6 H 12

3C6 H 14 + C6 H 6

4. Alkyl grup transfer/transalkylation.


C6 H 4 (C6 H 4)

5.

C6 H 12 + Cm H 2 m + Cp H 2 p

Cyclisasi olefin menjadi naphthene.


C7 H 14

CH 3-cyclo-C6 H 11

6. Dealkylasi.
Iso-C3H 7-C6H 5
7.

C6H 6 + C 3H 6

Dehydrogenasi.
n-C8H 18

C8H 16 + H 2

8. Reaksi kondensasi.
CH = CH 2 + R 1CH = CH R 2

+ 2 H2
R2
R1

Secara total, reaksi resids catalytic cracking memerlukan pasokan energi karena
bersifat Endothermik walaupun pada tahap tertentu dari sebagian reaksi
berlangsung secara Eksothermik (isomerisasi).

Teori Cracking

28

Diktat RCC untuk program BKJT VI

Resids Catalytic cracking memiliki selectivity yang tinggi untuk menghasilkan


produk utamanya gasoline serta low yields dalam menghasilkan off gas bila
dibandingkan dengan proses coking ataupun hydroconversion.

Teori Cracking

29