Anda di halaman 1dari 12

MAKALAH MONITORING PASIEN CEPHALGIA DI RUANG

DAHLIA
RUMAH SAKIT Prof. Dr. MARGONO SOEKARJO
PURWOKERTO

Disusun oleh:
RISMALINDA LAGONAH, S. Farm
14811198

PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER


RSUD PROF. DR. MARGONO SOEKARJO
PURWOKERTO
2015

BAB I
PENDAHULUAN
A. DEFINISI

Cephalgia merupakan nyeri dikepala. Cepha berarti kepala dan ischialgia artinya nyeri.
Cephalgia atau nyeri kepala termasuk keluhan yang umum dan dapat terjadi akibat banyak sebab.
Nyeri kepala adalah perasaan sakit atau nyeri, termasuk rasa tidak nyaman yang menyerang
daerah tengkorak (kepala) mulai dari kening kearah atas dan belakang kepala. dan daerah wajah.
Sakit kepala adalah rasa sakit atau tidak nyaman antara orbita dengan kepala yang berasal dari
struktur sensitif terhadap rasa sakit. IHS tahun 1988 menyatakan bahwa nyeri pada wajah
termasuk juga dalam sakit kepala. Kini penanganan akan sakit kepala sudah memiliki standarisasi
dari IHS untuk membedakan akan cluster headache, migrain, tension headache dan dengan nyeri
kepala lainnya(1).
Cephalgia termasuk keluhan yang umum dan dapat terjadi akibat banyak sebab yang
membuat pemeriksaan harus dilakukan dengan lengkap. Sakit kepala kronik biasanya disebabkan
oleh migraine, ketegangan, atau depresi, namun dapat juga terkait dengan lesi intracranial, cedera
kepala, dan spondilosis servikal, penyakit gigi atau mata, disfungsi sendi temporomandibular,
hipertensi, sinusitis, dan berbagai macam gangguan medis umum lainnya

(1)

B. ETIOLOGI
Cephalgia dapat disebabkan adanya kelainan organ-organ dikepala, jaringan sistem persarafan
dan pembuluh darah. Sakit kepala kronik biasanya disebabkan oleh migraine, ketegangan, atau
depresi, namun dapat juga terkait dengan lesi intrakranial, cedera kepala, dan spondilosis
servikal, penyakit gigi atau mata, disfungsi sendi temporomandibular, hipertensi, sinusitis,
trauma, perubahan lokasi (cuaca, tekanan) dan berbagai macam gangguan medis umum lainnya.

C. EPIDEMIOLOGI

Faktor resiko terjadinya sakit kepala adalah gaya hidup, kondisi penyakit, jenis kelamin, umur,
pemberian histamin atau nitrogliserin sublingual dan faktor genetik. Prevalensi sakit kepala di USA
menunjukkan 1 dari 6 orang (16,54%) atau 45 juta orang menderita sakit kepala kronik dan 20 juta
dari 45 juta tersebut merupakan wanita. 75 % dari jumlah di atas adalah tipe tension headache yang
berdampak pada menurunnya konsentrasi belajar dan bekerja sebanyak 62,7 %. Menurut IHS, migren
sering terjadi pada pria dengan usia 12 tahun sedangkan pada wanita, migren sering terjadi pada usia
lebih besar dari 12 tahun. IHS juga mengemukakan cluster headache 80 90 % terjadi pada pria dan
prevalensi sakit kepala akan meningkat setelah umur 15 tahun. 5

D. FISIOLOGI
Nyeri (sakit) merupakan mekanisme protektif yang dapat terjadi setiap saat bila ada jaringan
manapun yang mengalami kerusakan, dan melalui nyeri inilah, seorang individu akan bereaksi dengan
cara menjauhi stimulus nyeri tersebut. Rasa nyeri dimulai dengan adanya perangsangan pada reseptor
nyeri oleh stimulus nyeri. Stimulus nyeri dapat dibagi tiga yaitu mekanik, termal, dan kimia.
Mekanik, spasme otot merupakan penyebab nyeri yang umum karena dapat mengakibatkan
terhentinya aliran darah ke jaringan (iskemia jaringan), meningkatkan metabolisme di jaringan dan
juga perangsangan langsung ke reseptor nyeri sensitif mekanik. 4
Termal, rasa nyeri yang ditimbulkan oleh suhu yang tinggi tidak berkorelasi dengan jumlah
kerusakan yang telah terjadi melainkan berkorelasi dengan kecepatan kerusakan jaringan yang timbul.
Hal ini juga berlaku untuk penyebab nyeri lainnya yang bukan termal seperti infeksi, iskemia
jaringan, memar jaringan, dll. Pada suhu 45 0C, jaringanjaringan dalam tubuh akan mengalami
kerusakan yang didapati pada sebagian besar populasi. 4
Kimia, ada beberapa zat kimia yang dapat merangsang nyeri seperti bradikinin, serotonin,
histamin, ion kalium, asam, asetilkolin, dan enzim proteolitik. Dua zat lainnya yang diidentifikasi
adalah prostaglandin dan substansi P yang bekerja dengan meningkatkan sensitivitas dari free nerve
endings. Prostaglandin dan substansi P tidak langsung merangsang nyeri tersebut. Dari berbagai zat
yang telah dikemukakan, bradikinin telah dikenal sebagai penyebab utama yang menimbulkan nyeri

yang hebat dibandingkan dengan zat lain. Kadar ion kalium yang meningkat dan enzim proteolitik
lokal yang meningkat sebanding dengan intensitas nyeri yang dirasakan karena kedua zat ini dapat
mengakibatkan membran plasma lebih permeabel terhadap ion. Iskemia jaringan juga termasuk
stimulus kimia karena pada keadaan iskemia terdapat penumpukan asam laktat, bradikinin, dan enzim
proteolitik.4
Semua jenis reseptor nyeri pada manusia merupakan free nerve endings. Reseptor nyeri banyak
tersebar pada lapisan superfisial kulit dan juga pada jaringan internal tertentu, seperti periosteum,
dinding arteri, permukaan sendi, falks, dan tentorium. Kebanyakan jaringan internal lainnya hanya
diinervasi oleh free nerve endings yang letaknya berjauhan sehingga nyeri pada organ internal
umumnya timbul akibat penjumlahan perangsangan berbagai nerve endings dan dirasakan sebagai
slow-chronic-aching type pain.
Nyeri dapat dibagi atas dua yaitu nyeri akut (fast pain) dan nyeri kronik (slow pain). Nyeri akut,
merupakan nyeri yang dirasakan dalam waktu 0,1 detik setelah stimulus diberikan. Nyeri ini
disebabkan oleh adanya stimulus mekanik dan termal. Signal nyeri ini ditransmisikan dari saraf
perifer menuju korda spinalis melalui

serat A dengan kecepatan mencapai 6-30 m/detik.

Neurotransmitter yang mungkin digunakan adalah glutamat yang juga merupakan neurotransmitter
eksitatorik yang banyak digunakan pada CNS. Glutamat umumnya hanya memiliki durasi kerja
selama beberapa milidetik.4
Nyeri kronik, merupakan nyeri yang dirasakan dalam waktu lebih dari 1 detik setelah stimulus
diberikan. Nyeri ini dapat disebabkan oleh adanya stimulus mekanik, kimia dan termal tetapi stimulus
yang paling sering adalah stimulus kimia. Signal nyeri ini ditransmisikan dari saraf perifer menuju
korda spinalis melalui

serat C dengan kecepatan mencapai 0,5-2 m/detik. Neurotramitter yang

mungkin digunakan adalah substansi P.4


Meskipun semua reseptor nyeri adalah free nerve endings, jalur yang ditempuh dapat dibagi
menjadi dua pathway yaitu fast-sharp pain pathway dan slow- chronic pain pathway. Setelah
mencapai korda spinalis melalui dorsal spinalis, serat nyeri ini akan berakhir pada relay neuron pada

kornu dorsalis dan selanjutnya akan dibagi menjadi dua traktus yang selanjutnya akan menuju ke
otak. Traktus itu adalah neospinotalamikus untuk fast pain dan paleospinotalamikus untuk slow pain.4
Traktus neospinotalamikus untuk fastpain, pada traktus ini, serat A yang mentransmisikan nyeri
akibat stimulus mekanik maupun termal akan berakhir pada lamina I (lamina marginalis) dari kornu
dorsalis dan mengeksitasi second-order neurons dari traktus spinotalamikus. Neuron ini memiliki
serabut saraf panjang yang menyilang menuju otak melalui kolumn anterolateral. Serat dari
neospinotalamikus akan berakhir pada, area retikular dari batang otak (sebagian kecil), nukleus
talamus bagian posterior (sebagian kecil), kompleks ventrobasal (sebagian besar). Traktus lemniskus
medial bagian kolumn dorsalis untuk sensasi taktil juga berakhir pada daerah ventrobasal. Adanya
sensori taktil dan nyeri yang diterima akan memungkinkan otak untuk menyadari lokasi tepat dimana
rangsangan tersebut diberikan.4
Traktus paleospinotalamikus untuk slow pain, traktus ini selain mentransmisikan sinyal dari serat
C, traktus ini juga mentransmisikan sedikit sinyal dari serat A. traktus ini , saraf perifer akan hampir
seluruhnya berakhir pada lamina II dan III yang apabila keduanya digabungkan, sering disebut dengan
substansia gelatinosa. Kebanyakan sinyal kemudian akan melalui sebuah atau beberapa neuron
pendek yang menghubungkannya dengan area lamina V lalu kemudian kebanyakan serabut saraf ini
akan bergabung dengan serabut saraf dari fast-sharp pain pathway. Setelah itu, neuron terakhir yang
panjang akan menghubungkan sinyal ini ke otak pada jaras antero lateral. Ujung dari traktus
paleospinotalamikus kebanyakan berakhir pada batang otak dan hanya sepersepuluh ataupun
seperempat sinyal yang akan langsung diteruskan ke talamus. Kebanyakan sinyal akan berakhir pada
salah satu tiga area yaitu nukleus retikularis dari medulla, pons, dan mesensefalon, area tektum dari
mesensefalon, regio abu-abu dari peraquaductus yang mengelilingi aquaductus Silvii. Ketiga bagian
ini penting untuk rasa tidak nyaman dari tipe nyeri. Dari area batang otak ini, multipel serat pendek
neuron akan meneruskan sinyal kearah atas melalui intralaminar dan nukleus ventrolateral dari
talamus dan ke area tertentu dari hipotalamus dan bagian basal otak. 4

E. KLASIFIKASI

Sakit kepala dapat diklasifikasikan menjadi sakit kepala primer, sakit kepala sekunder,
dan neuralgia kranial, nyeri fasial serta sakit kepala lainnya. Sakit kepala primer dapat dibagi
menjadi

migraine,

tension

type

headache,

cluster

head

ache

dengan

sefalgia

trigeminal/autonomik, dan sakit kepala primer lainnya. Sakit kepala sekunder dapat dibagi
menjadi sakit kepala yang disebabkan oleh karena trauma pada kepala dan leher, sakit kepala
akibat kelainan vaskular kranial dan servikal, sakit kepala yang bukan disebabkan kelainan
vaskular intrakranial, sakit kepala akibat adanya zat atau withdrawal, sakit kepala akibat
infeksi, sakit kepala akibat gangguan homeostasis, sakit kepala atau nyeri pada wajah akibat
kelainan kranium, leher, telinga, hidung, dinud, gigi, mulut atau struktur lain di kepala dan
wajah, sakit kepala akibat kelainan psikiatri.7

BAB II. MONITORING


A. STUDI KASUS
Ny. Wairah (50 Th) masuk RS pada tanggal 7 Aprili 2015 melalui IGD dengan keluhan
nyeri kepala hilang timbul memberat dalam 3 hari hingga tidak dapat beraktifitas. Nyeri
semakin berat saat beraktifitas, leher terasa kencang, serta penglihatan kabur. Kurang lebih 4
tahun yang lalu, Ny. Wairah pernah masuk RS dengan keluhan yang sama. Saat masuk IGD
Ny. Wairah diberikan Injeksi Ranitidin 25 mg, Injeksi Ketesse 50 mg, Analsik tablet, dan
IVFD RL 20 TPN.
Vital Sign
TD

130/80 mmHg

HR

68 x/ menit

RR

22 x/menit

Suhu :

36,2 o C

Diagnosa Klinis

Cephalgia

Diagnosa Topik

Suprasella

Diagnosa Etiologi

Tumor Suprasella

Monitoring tanda-tanda vital


Nama Pasien :

INSTALASI FARMASI RSUD PROF. DR. MARGONO SOEKARJO PURWOKERTO

PEMANTAUAN PASIEN HARIAN


Parameter Penyakit
Parameter TTV
TD
HR
RR
Suhu

Wairah

7/4/2015
130/80
68
22
36,2

8/4/2015
120/60
72
18
36,4

9/4/2015
130/80
74
20
36,4

Tanggal
10/4/2015
110/70
88
20
36

No RM

938417

Hasil pemeriksaan laboratorium


Parameter

Nilai Normal

Tanggal
7/4/2015

Hb
Leukosit
Hematokri

12.00 -16.00 g/dL


4800-10800 /uL

12.2
7720

t
Eritrosit
Trombosit
MCV
MCH
MCHC
RDW
MPV
Basofil
Eosinofil
Batang
Segmen
Limfosit
Monosit

37-47
4.2-5.4 /uL
150.000-450.000
79.0-99.0 fL
27.0-31.0 pg
33.0-37.0
11.5-14.5
7.2-11.1 fL
0.0-1.0
2.0-4.0
2.0-5.0
40.0-70.0
25.0 -40.0
2.0-8.0

L 34
4.6
318.000
75.2
26.8
35.6
12.9
10.1
0.3
3.9
0.3
43.3
44.4
7.8

Gambaran
Hasil Gambaran Darah Tepi
Eritrosit : Mikrositik, Hipokromik
Lekosit : Baik
Trombosit : Baik
Kesan : Anemia Defisiensi Besi

Pemberian obat oral


Tanggal
7/4/2015
P

Nama Obat

Analsik

Si

So

8/4/2015
M

Si

So

Dosis

3x1
Tablet

Pemberian obat Intravena

7 2

Si

So

Si

So

Dosis
Nama Obat

7/4/2015
P

Si

So

8/4/2015

Tanggal
9/4/2015

Si

So

Si

10/4/2015
So

Si

So

&
Rute

Ranitidin
Ketesse
Ketorolac

375 cc
125 cc
20mg i.v

9
9

Pemberian Infus Intravena Kontinyu


7/4/2015
P

Nama Obat

Si

So

8/4/2015

Tanggal
9/4/2015

Si

So

Si

10/4/2015
So

Si

So

Dosis

IVFD RL 20

TPN

Deskripsi obat

a) Fe Sulfat
Indikasi : anemia defisiensi besi
Dosis:
Dosis dewasa untuk anemia defisiensi besi
200 mg tablet once a day
Dosis

1. Premature neonates 2-4mg elemental iron/kgBB/day maximum daily dose 15mg


2. Infants 3mg elemental iron/kgBB/day
Efek Samping : Konstipasi, Iritasi saluran cerna, mual muntah

Konseling : Walaupun penyerapan paling baik ketika perut kosong, sediaan besi dapat diminum
setelah makan untuk mengurangi efek samping gastrointestinal. Warna tinja dapat berubah

b) PRC
Indikasi : Anemia simptomatik, anemia karena keganasan, anemia aplastik, anemia hemolitik, anemia
defisiensi berat dengan ancaman gagal jantung
Dosis : 10-20 ml/kgBB

B. PEMBAHASAN
An. Aghisni Riskiana (8 Th) masuk RS pada tanggal 10 Februari 2015 dengan
keluhan pucat, badan lemas, badan letih, lesu. Pada bulan November tahun 2014, An.
Aghisni Riskiana pernah masuk RS dengan keluhan yang sama. An. Aghisni Riskiana
memperoleh Tranfusi PRC, Lasix 20mg iv dan tablet Fe sulfat . Saat masuk RSMS,
pasien di cek darahnya di laboratorium untuk mengukur darah lengkapnya, Pada
monitoring pertama, tanggal 10 Februari 2015 pasien sudah mendapatkan terapi tranfusi
PRC dengan dosis 375cc. Namun Hb Pasien masih rendah dengan nilai Hb 5.5. Pada
anemia, penurunan nilai Hb dibawah 6g/dL atau kehilangan darah dengan cepat >3040% volume darah, maka pengobatan terbaik adalah dengan transfusi sel darah merah.
Transfusi sel darah merah merupakan komponen pilihan untuk mengobati anemia dengan

tujuan utama adalah memperbaiki oksigenisasi jaringan. Kemudian pasien mendapatkan


injeksi lasix yg berisi furosemide 20 mg. Tujuan dari pemberian Lasix untuk mengurangi
cairan di dalam tubuh pasien. Karena jika tidak berikan, ditakutkan dengan banyaknya
cairan yang masuk ke dalam tubuh akan menyebabkan gangguan cardiovascular.
Pada monitoring kedua, tanggal 11 Februari 2015 An. Aghisni Riskiana (8 Th)
mendapatkan terapi yang sama yaitu Tranfusi PRC 125cc pada pagi dan sore hari. Pada
tanggal ini, Hb pasien masih rendah yaitu 5.1.
Pada monitoring ketiga, tanggal 12 Februari 2015 pasien mendapatkan tambahan
terapi yaitu obat oral Fe sulfat. Pada kasus ini, nilai MCV dan MCV pasien rendah
dibawah nilai normal. Nilai MCV sebesar 65.9, dan nilai MCH sebesar 18.9. dari kedua
hal ini menunjukan bahwa pasien mengalami anemia mikrositik hipokromik atau dengan
kata lain pasien mengalami anemia defisiensi besi. Sehingga pemberian suplemen besi
sangat dibutuhkan untuk menangani kekurangan besi pada pasien. Tablet Fe Sulfat
diberikan 1 kali sehari pada pasien.
Pada monitoring hari keempat, tanggal 13 Februari 2015 pasien sudah tidak
mengeluh lemah, letih, lesu dan sudah tidak terlihat pucat. Nilai Hb pada pasien sudah
mengalami peningkatan yaitu Hb sebesar 10.2 g/dL. Kemudian nilai eritrosit pasien
sudah normal yaitu sebesar 4.4 /uL. Hasil pengukuran MCV, MCH dan MCHC pada
pasien juga sudah menunjukan nilai normal.
Pada tanggal 14 Februari 2015 An. Aghisni sudah diizinkan untuk pulang karena
dirasa kondisinya sudah membaik, obat yang dibawa pulang oleh An. Aghisni yaitu tablet
Fe Sulfat.

C. KESIMPULAN
Berdasarkan pada Pembahasan diatas maka dapat disimpulkan :
1. Tn. M didiagnosa Anemia defisiensi besi dilihat dari nilai MCV dan MCH
2. Pengobatan sudah rasional dan tidak muncul DRP
DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2001.BioTrends.. Jakarta. Volume 4 No.1


Anonim. 2011. Pedoman Interpretasi Data Klinik. Kementrian Kesehatan Republik
Indonesia.
Djajadiman Gatot. 2002. Penatalaksanaan Transfusi pada Anak dalam Updates in
Pediatrics Emergency. Jakarta. Balai Penerbit FKUI. Halaman: 28-41
Khusun H, Yip R.1999. World Health Organization Hemoglobin Cut-Off Points for
the Detection of Anemia Are Valid for An Indonesian Population. J Nutr. ;
129:1669-74
Kliegman RM . 2007 . Nelson Textbook of Pediatrics. 18th ed. Philadelphia: Elsevier
Inc.
Nathan DG, Orkin SH,. 2008. Hematology of Infancy and Childhood. 7th ed.
Philadelphia: Saunders;
Ronald A. Sacher. 2004. Tinjauan Klinis Hasil Pemeriksaan Laboratorium, Edisi 11,
EGC. Jakarta.
Sari M, dkk. 2001. Estimating the prevalence of anaemia: a comparison of three
methods. Bulletin of the World Health Organization. 79:506-11
Strauss RG,dkk. 1996. Transfusi darah dan komponen darah, dalam Nelson Ilmu
Kesehatan Anak (Nelson Textbook of Pediatrics). Jakarta. EGC. Volume 2 Ed
15. Halaman 1727-1732