Anda di halaman 1dari 16

7

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Kerangka Teoritis
2.1.1 Pengertian Belajar
Belajar dan permasalahannya sudah merupakan kodrat manusia sepanjang
masa, sejak ia dilahirkan hingga akhir hayatnya. Masalahmasalah belajar akan
selalu muncul seiring dengan perkembangan yang dialami oleh masing - masing
individu dimana saja, kapan saja dan oleh siapa saja. Bila siswa belajar, maka
akan terjadi perubahan mental pada diri siswa. Syarat perkembangan mental
dinyatakan oleh Dimyati dan Mudjiono (2009: 6) (1) Pertumbuhan jasmani telah
siap; (2) Individu belajar baik atas dorongan sendiri ataupun dorongan dari
lingkungan sekitar.
Dengan belajar terus menerus terjadi perubahan tingkah-laku seperti dari
yang tidak tahu menjadi tahu. Belajar bertujuan membuat perubahan-perubahan
yang lebih baik daripada sebelumnya. Dengan belajar akan mengubah tingkah
laku seseorang dari yang tidak tahu menjadi tahu, dari tidak paham menjadi
paham dari kurang terampil menjadi lebih terampil dan dari kebiasaan lama
menjadi kebiasaan baru, serta bermanfaat bagi lingkungan maupun individu itu
sendiri. Seperti yang diungkapkan Gagne dalam Sagala (2009: 17) yang
menyatakan bahwa:
Belajar adalah perubahan yang terjadi dalam kemampuan manusia yang
terjadi setelah belajar terus menerus, bukan hanya disebabkan oleh
proses pertumbuhan saja, belajar terjadi apabila suatu stimulus bersama
dengan isi ingatan mempengaruhi siswa sedemikian rupa sehingga
perbuatannya berubah dari waktu ke waktu setelah ia mengalami situasi
tadi.
Menurut Hamalik (2010: 27-28), belajar adalah: 1). Modifikasi atau
memperteguh kelakuan melalui pengalaman (learning is defined as the
modification or strengthening of behavior throught experiencing). Artinya belajar
merupakan suatu proses, suatu kegiatan bukan suatu hasil atau tujuan. 2). Belajar
adalah sutu proses pengubahan tingkah laku individu melalui intraksi lingkungan.

Menurut Bahri dan Zain (2009: 10) belajar adalah proses perubahan
perilaku berkat pengalaman dari latihan. Arti tujuan kegiatan adalah perubahan
tingkah laku baik yang menyangkut pengetahuan, keterampilan maupun sikap,
bahkan meliputi segenap aspek organisme atau pribadi.
Berdasarkan pengertian belajar tersebut di atas, dapat disimpulkan belajar
merupakan suatu proses mental yang dialami oleh masing - masing individu
untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari interaksi
individu yang dialaminya dengan lingkungan.
Setiap perilaku belajar tersebut selalu ditandai oleh ciri - ciri perubahan
yang spesifik antara lain seperti yang dikemukakan oleh Sagala (2009 : 53) antara
lain:
1) Belajar menyebabkan perubahan pada aspek-aspek kepribadian yang
berfungsi terus-menerus, yang berpengaruh pada proses belajar
selanjutnya.
2) Belajar hanya terjadi melalui pengalaman yang bersifat individual.
3) Belajar merupakan kegiatan yang bertujuan, yaitu arah yang ingin
dicapai melalui proses belajar.
4) Belajar menghasilkan perubahan yang menyeluruh, melibatkan
keseluruhan tingkah laku secara integral.
5) Belajar adalah proses interaksi.
6) Belajar berlangsung dari yang paling sederhana sampai pada
kompleks.
Menurut Bruner dalam Wilis (2006: 77), Belajar melibatkan tiga proses
yang berlangsung hampir bersamaan. Ketiga proses itu ialah (1) memperoleh
informasi baru, (2) transformasi informasi, dan (3) menguji relevansi dan
ketepatan pengetahuan. Dari pembahasan tersebut ditegaskan bahwa ciri khas
belajar adalah perubahan, yaitu belajar menghasilkan perubahan perilaku dalam
diri peserta didik. Belajar menghasilkan perubahan perilaku yang secara relatif
tetap dalam berpikir, merasa dan melakukan pada diri peserta didik. Perubahan
tersebut terjadi sebagai hasil latihan, pengalaman dan pengembangan yang
hasilnya tidak dapat diamati secara langsung.

2.1.2 Aktivitas Belajar


Pada prinsipnya belajar adalah berbuat. Berbuat untuk mengubah tingkah
laku harus di lakukan kegiatan. Tidak ada belajar kalau tidak ada aktivitas. Oleh
karena itu aktivitas merupakan prinsip atau asas yang sangat penting dalam
interaksi

belajar-mengajar.

Aktivitas

belajar

siswa

tidak

cukup

hanya

mendengarkan dan mencatat seperti yang lazim terdapat dalam sekolah sekolah
tradisional. Aktivitas belajar adalah suatu aktivitas yang sadar akan tujuan. Tujuan
dalam belajar adalah terjadinya perubahan dalam individu seutuhnya.
Berbagai jenis kegiatan dapat diciptakan di sekolah diantaranya: 1).
Mendengarkan penyampaian tujuan. 2). Mendengarkan penyajian masalah. 3).
Melakukan percobaan. 4). Melakukan diskusi. 5). Mendengarkan/memperhatikan
presentasi kelompok. 6). Menjawab pertanyaan, 7). Bertanya tentang penjelasan
kesimpulan yang kurang jelas. 8). Mengambil kesimpulan dari pembelajaran.
2.1.3 Hasil Belajar
Setiap kegiatan belajar akan berakhir dengan hasil belajar. Hasil belajar
tiap siswa di kelas terkumpul dalam himpunan hasil belajar kelas. Bahan mentah
hasil belajar terwujud dalam lembar-lembar jawaban soal ulangan atau ujian, dan
yang berwujud karya atau benda. Semua hasil belajar tersebut merupakan bahan
yang berharga bagi guru dan siswa. Bagi guru, hasil belajar siswa di kelasnya
berguna untuk melakukan perbaikan tindak mengajar dan evaluasi. Bagi siswa,
hasil belajar tersebut berguna untuk memperbaiki cara-cara belajar lebih lanjut.
Oleh karena itu, pada umumnya guru mengadakan analisis tentang hasil belajar
siswa di kelasnya. Dimyati dan Mudjiono (2009: 256 ).
Dalam sistem pendidikan nasional rumusan tujuan pendidikan, baik
tujuan kurikuler maupun tujuan instruksional, menggunakan klasifikasi hasil
belajar dari Benyamin Bloom dalam Sardiman (2009: 23-24) yang secara garis
besar membaginya menjadi tiga ranah, yakni kognitif, afektif, psikomotoris.
1). Ranah kognitif berkenaan dengan hasil belajar intelektual yang terdiri
dari enam aspek, yakni mengingat, memahami, aplikasi, analisis, evaluasi, dan
menciptakan. Kedua aspek pertama disebut kognitif tingkat rendah dan keempat
aspek berikutnya termasuk kognitif tingkat tinggi. 2). Ranah afektif berkenaan

10

dengan sikap yang terdiri dari lima aspek, yakni penerimaan, jawaban atau reaksi,
penilaian, organisasi, dan internalisasi. 3). Ranah psikomotoris berkenaan dengan
hasil belajar keterampilan dan kemampuan bertindak.
Ini berarti bahwa dengan berakhirnya suatu proses belajar, maka seseorang
atau siswa memperoleh suatu hasil belajar. Seperti yang dikemukakan oleh
Sudjana (2005: 22) bahwa, Hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang
dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya.

2.2. Pengertian Model Pembelajaran


Secara umum istilah model diartikan sebagai kerangka konseptual yang
digunakan sebagai pedoman melakukan suatu kegiatan (Sagala, 2009: 175).
Sedangkan pembelajaran merupakan upaya untuk meningkatkan proses belajar.
Adapun Joyce dalam Trianto (2009: 22) mengatakan:
model pembelajaran adalah suatu perencanaan atau suatu pola yang
digunakan sebagai pedoman dalam merancang pembelajaran di kelas atau
pembelajaran dalam tutorial dan untuk menentukan perangkat-perangkat
pembelajaran termasuk di dalamnya buku-buku, film, komputer,
kurikulum dan lain-lain.
Jadi, model pembelajaran adalah kerangka konseptual yang digunakan
sebagai pedoman dalam melakukan suatu kegiatan untuk mendukung proses
belajar mengajar.

2. 3. Tinjauan Tentang Model Pembelajaran Inkuiri terbimbing


Inkuiri dalam Bahasa Inggris Inquiry berarti pernyataan atau pemeriksaan,
penyelidikan. Inkuiri sebagai suatu proses umum yang dilakukan manusia untuk
mencari dan memahami informasi. Jadi pembelajaran inkuiri adalah model yang
membawa siswa secara langsung ke dalam proses ilmiah dalam waktu yang relatif
singkat. Trianto (2009: 166-167).
Inkuiri tidak hanya mengembangkan kemampuan intelektual tetapi seluruh
petensi yang ada, termasuk pengembangan emosional dan pengembangan
keterampilan. Pada hakikatnya inkuiri ini merupakan suatu proses yang bermula

11

dari merumuskan masalah, merumuskan hipotesis, mengumpulkan bukti, menguji


hipotesis, menarik kesimpulan sementara dan menguji kesimpulan sementara.
Pendekatan inkuiri terbagi menjadi tiga jenis berdasarkan besarnya intervensi
guru terhadap siswa atau besarnya bimbingan yang diberikan oleh guru kepada
siswanya. Ketiga jenis pendekatan inkuiri tersebut adalah : 1). Inkuiri terbimbing
(Guided Inquiri ). 2). Inkuiri Bebas (Free Inquiry Approach). 3). Inkuiri bebas
yang dimodifikasi ( Modified Free Inquiry Approach).
2.3.1. Inkuiri terbimbing (Guided Inquiry )
Pembelajaran inkuiri terbimbing (Guided Inquiry) yaitu suatu model
pembelajaran inkuiri yang dalam pelaksanaannya guru menyediakan bimbingan
atau petunjuk cukup luas kepada siswa. Sebagian perencanaannya dibuat oleh
guru, siswa tidak merumuskan problem atau masalah. Dalam pembelajaran Inkuiri
terbimbingguru tidak melepas begitu saja kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh
siswa. Guru harus memberikan pengarahan dan bimbingan kepada siswa dalam
melakukan kegiatan-kegiatan sehingga siswa yang berpikir lambat atau siswa
yang mempunyai kemampuan berpikir rendah tetap mampu mengikuti kegiatankegiatan yang sedang dilaksanakan dan siswa mempunyai intelegensi tinggi tidak
memonopoli .kegiatan.
Inkuiri terbimbing biasanya digunakan terutama bagi siswa yang belum
berpengalaman belajar dengan pendekatan inkuiri. Pada tahap-tahap awal
pengajaran diberikan bimbingan lebih banyak yaitu : Pernyataan dan pertanyaan
pengarah selain dikemukakan langsung oleh guru juga diberikan melalui
pertanyaan yang terdapat dalam LKS (Lembar Kerja Siswa). agar siswa mampu
menemukan sendiri arah dan tindakan-tindakanyang harus dilakukan untuk
memecahkan permasalahan yang disodorkan oleh guru. Oleh sebab itu LKS
dibuat untuk membimbing siswa dalam melakukan percobaan dan menarik
kesimpulan.
Guru mempunyai peran aktif dalam menentukan permasalahan dan tahaptahap pemecahannya, dengan ini siswa belajar lebih beorientasi pada bimbingan
dan petunjuk dari guru hingga siswa dapat memahami konsep-konsep pelajaran,
mampu menyelesaikan masalah dan menarik suatu kesimpulan secara mandiri.

12

2.3.2. Inkuiri Bebas (Free Inquiry Approach)


Pada umumnya model ini digunakan bagi siswa yang telah berpengalaman
belajar dengan model inkuiri. Karena model inkuiri bebas ini menempatkan siswa
seolah-olah bekerja seperti seorang ilmuwan. Siswa diberi kebebasan menentukan
permasalahan, menemukan dan menyelesaikan, dan merancang prosedur atau
langkah-langkah yang diperlukan.
Bimbingan guru sangat sedikit atau bahkan tidak diberikan sama sekali.
Salah satu keuntungan belajar dengan model ini adalah adanya kemungkinan
siswa dalam memecahkan masalah dan mempunyai alternatif pemecahan masalah
lebih dari satu cara, karena tergantung bagaimana cara mereka mengkonstruksi
jawabannya dan ada kemungkinan siswa menemukan cara dan solusi yang baru
atau belum pernah ditemukan oleh orang lain.
Sedangkan belajar dengan model ini mempunyai beberapa kelemahan,
antara lain: 1) waktu yang diperlukan relatif lama. 2) kemungkinan topik yang
diplih oleh siswa di luar konteks kurikulum. 3) membutuhkan waktu yang lama
untuk memeriksa hasil yang diperoleh siswa, 4) karena topik yang diselidiki
kelompok kemungkinan berbeda menyebabkan kelompok lain kurang memahami
topik yang diselidiki, sehingga diskusi tidak berjalan sesuai yang diharapkan.
2.3.3. Inkuiri Bebas yang Dimodifikasi ( Modified Free Inquiry Approach)
Model ini merupakan kolaborasi atau modifikasi dari model inkuiri
terbimbing dan inkuiri bebas. Meskipun begitu permasalahan yang akan dijadikan
topik untuk diselidiki tetap diberikan atau mempedomani acuan kurikulum yang
telah ada.. Namun bimbingan yang diberikan lebih sedikit dari inkuiri terbimbing
dan tidak terstruktur.
Dalam pendekatan inkuiri jenis ini guru membatasi memberi bimbingan,
agar siswa berupaya terlebih dahulu secara mandiri, dengan harapan agar siswa
dapat menemukan sendiri penyelesaiannya. Namun, apabila ada siswa yang tidak
dapat menyelesaikan permasalahannya, maka bimbingan dapat diberikan secara
tidak langsung dengan memberikan contoh-contoh yang relevan dengan
permasalahan yang dihadapi, atau melalui diskusi dengan siswa dalam kelompok
lain.

13

2.4 Tahapan Model Pembelajaran Inkuiri Terbimbing


Menurut Karli dan Yuliarianingsih dalam Andriani, dkk., (2011) Sintak
model pembelajaran inkuiri terbimbing serta perilaku guru dan siswa adalah:
Tabel 2.1 Sintaks Model Pembelajaran Inkuiri Terbimbing
Fase
1) Penyajian

Perilaku Guru dan Siswa


masalah Guru membawa situasi masalah kepada siswa.

atau menghadapkan Permasalahan yang di ajukan adalah permasalahan


siswa pada situasi sederhana yang menimbulkan keheranan. Hal ini
teka teki

diperlukan untuk memberikan pengalaman kepada


siswa, pada tahap ini biasanya dengan menunjukkan
contoh fenomena ataupun demonstrasi.

2) Pengumpulan

dan Guru membimbing siswa mengumpulkan informasi

verifikasi data

tentang peristiwa yang mereka lihat dan mereka alami


pada tahap penyajian masalah . Siswa mengumpulkan
informasi

3). Eksperimen

Guru

membimbing

informasi

melalui

siswa

untuk

percobaan.

mendapatkan

Siwa

melakukan

eksperimen untuk menguji secara langsung mengenai


hipotesis atau teori yang sudah diketahui sebelumnya
4). Mengorganisir data

Guru

mengajak

siswa

merumuskan

penjelasan,

dan merumuskan

kemungkinan besar akan ditemukan siswa yang

penjelasan

mendapatkan

kesulitan

dalam

mengemukakan

informasi yang diperoleh berbentuk uraian penjelasan.


Siswa siswa yang demikian didorong untuk dapat
memberi penjelasan yang tidak begitu mendetail.
5).

Analisis

tentang Guru meminta siswa untuk menganalisis pola-pola

proses inkuiri

penemuan mereka berupa kesimpulan. Tahap ini siswa


dapat menuliskan kekurangn dan kelebihan selama
kegiatan berlangsung pada saat kegiatan berlangsung
dengan bantuan guru diperbaiki secara sistematis.

14

2.5. Kelebihan dan Kelemahan Model Pembelajaran Inkuiri Terbimbing


2.5.1. Kelebihan model pembelajaran inkuiri terbimbing
Kelebihan model pembelajaran inkuiri terbimbing menurut Suryobroto
(2009: 185), antara lain :
1) Membantu siswa mengembangkan atau memperbanyak persediaan dan
penguasaan keterampilan dan proses kognitif siswa.
2) Membangkitkan gairah pada siswa misalkan siswa merasakan jerih payah
penyelidikannya, menemukan keberhasilan dan kadang-kadang kegagalan.
3) Memberi kesempatan pada siswa untuk bergerak maju sesuai dengan
kemampuan.
4) Membantu memperkuat pribadi siswa dengan bertambahnya kepercayaan
pada diri sendiri melalui proses-proses penemuan.
5) Siswa terlibat langsung dalam belajar sehingga termotivasi untuk belajar.
6) Strategi ini berpusat pada anak, misalkan memberi kesempatan kepada
merekadan guru berpartisipasi sebagai sesama dalam mengecek ide. Guru
menjadi teman belajar,terutama dalam situasi penemuan yang jawabanya
belumdiketahui.

2.5.2. Kelemahan model pembelajaran inkuiri terbimbing


Kelemahan model pembelajaran inkuiri terbimbing menurut Suryobroto
(2009: 186) adalah sebagai berikut:
1) Dipersyaratkan keharusan ada persiapan mental untuk cara belajar ini.
2) Pembelajaran ini kurang berhasil dalam kelas besar, misalnya sebagian waktu
hilang karena membantu siswa menemukan teori-teori atau menemukan
bagaimana ejaan dari bentuk kata-kata tertentu.
3) Harapan yang ditumpahkan pada strategi ini mungkin mengecewakan siswa
yang sudah biasa dengan perencanaandan pembelajaran secara tradisional jika
guru tidakmenguasai pembelajaran inkuiri.

15

2.6. Model Pembelajaran Konvensional


Model Pembelajaran konvensional sering juga di sebut dengan
pembelajaran tradisional, dimana siswa ditempatkan sebagi objek belajar yang
berperan sebagai penerima informasi secara pasif dan guru sebagai objek aktif.
Pembelajaran konvensional ini terus berkembang dikalangan sekolah-sekolah
dengan alasan menuntaskan materi atau dengan kata lain menyelesaikan materi
dalam satu semester.
Dari hasil observasi, penulis melihat MAN Siabu Kabupaten Mandailing
sering

menggunakan

pembelajaran

konvensional,

dimana

dalam

proses

pembelajaran sering menggunakan metode ceramah dan penugasan.


2.6.1. Metode Ceramah
Bahri dan Zain (2009: 97) mengatakan bahwa :
Metode ceramah adalah cara penyajian pelajaran yang dilakukan guru
dengan penuturan atau penjelasan lisan secara langsung terhadap siswa.
Metode ini mempunyai beberapa kelebihan dan kekurangannya sebagai
berikut :
1) Kelebihan Metode Ceramah
a.

Guru mudah menguasai kelas,

b.

Mudah mengorganisasikan tempat duduk/kelas,

c.

Dapat diikuti oleh jumlah siswa yang besar,

d.

Mudah mempersiapkan dan melaksanakan,

e.

Guru mudah menerangkan pelajaran dengan baik.

2) Kekurangan Metode Ceramah


a.

Mudah menjadi verbilisme (pengertian kata-kata),

b.

Yang visual menjadi rugi, yang auditif (mendengar) yang besar


menerimanya,

c.

Bila selalu digunakan dan terlalu lama, membosankan,

d.

Guru menyimpulkan bahwa siswa mengerti dan tertarik pada


ceramahnya, ini sukar sekali,

e.

Menyebabkan siswa menjadi pasif.

16

2.6.2. Metode Tugas


Bahri dan Zain (2009: 85) mengatakan bahwa :
metode penugasan

adalah metode penyajian bahan dimana guru

memberikan tugas tertentu agar siswa melakukan kegiatan belajar.


1) Kelebihan metode Tugas
a.

Lebih merangsang siswa dalam melakukan aktivitas belajar individual


atau kelompok,

b.

Dapat mengembangkan kemandirian siswa di luar pengawasan guru,

c.

Dapat membina tanggung jawab dan disiplin siswa,

d.

Dapat mengembangkan kreativitas siswa.

2) Kekurangan metode Tugas


a.

Siswa sulit dikontrol, apakah benar ia mengerjakan tugas atau orang lain,

b.

Khusus

tugas

kelompok,

jarang

yang

aktif

mengerjakan

dan

menyelesaikannya adalah anggota tertentu saja, sedangkan anggota


lainnya tidak berpartisipasi dengan baik,
c.

Tidak mudah memberikan tugas yang sesuai dengan perbedaan


individual siswa,

d.

Sering memberikan tugas yang monoton (tidak bervariasi) dapat


menimbulkan kebosanan siswa.

2.7. Kajian Tentang Materi


2.7.1. Usaha
Usaha dilambangkan dengan huruf W (Work), digambarkan sebagai
sesuatu yang dihasilkan oleh Gaya (F) ketika Gaya bekerja pada benda hingga
benda bergerak dalam jarak tertentu. Ada dua hal yang perlu diperhatikan pda
usaha yaitu: (1) penerapan gaya, dan (2) arah pergerakannya. Untuk kasus yang
paling sederhana, dimana gaya konstan dan gerak yang berada dalam garis lurus
ke arah gaya,
Secara matematis, usaha yang dilakukan oleh gaya yang konstan didefinisikan
sebagai hasil kali perpindahan dengan gaya yang searah dengan perpindahan.
Persamaan matematisnya adalah : W = Fs

17

Gambar 2.1 Usaha pada suatu benda


W adalah usaha, F adalah besar gaya yang searah dengan perpindahan dan s
adalah besar perpindahan. Apabila gaya konstan tidak searah dengan perpindahan,
sebagaimana pada gambar di bawah, maka usaha yang dilakukan oleh gaya pada
benda didefinisikan sebagai perkalian antara perpindahan dengan komponen gaya
yang searah dengan perpindahan. Komponen gaya yang searah dengan
perpindahan adalah F cos

Gambar 2.2 Gaya yang membentuk sudut


Secara matematis dirumuskan sebagai berikut :

Hasil perkalian antara besar gaya (F) dan besar perpindahan (s) di atas
merupakan bentuk perkalian titik atau perkalian skalar. Usaha masuk dalam
kategori besaran skalar. Satuan usaha dalam Sistem Internasional (SI) adalh joule
Sebuah gaya melakukan usaha apabila benda yang dikenai gaya
mengalami perpindahan. Contoh, seseorang menenteng buku sambil diam di
tempat. Walaupun memberikan gaya pada buku tersebut, sebenarnya tidak
melakukan usaha karena buku tidak melakukan perpindahan. Ketika menjinjing
buku sambil berjalan lurus ke depan, ke belakang atau ke samping, juga tidak
melakukan usaha pada buku. Pada saat menjinjing tas, arah gaya yang diberikan
ke atas, tegak lurus dengan arah perpindahan. Karena tegak lurus maka sudut yang
dibentuk adalah 90o. Cos 90o = 0, karenanya berdasarkan persamaan di atas, nilai
usaha sama dengan nol. Contoh lain adalah ketika mendorong tembok sampai
banjir keringat jika tembok tidak berpindah tempat maka tidak melakukan usaha.

18

2.7.2. Energi
Energi memiliki massa, dan menempati ruang. Energi, di sisi lain, adalah
abstrak. Tidak bisa dilihat, dicium, atau merasakan bentuk energi. Energi datang
dengan bentuk gelombang elektromagnetik dari matahari, dan dirasakan Energi
dan dirasakan sebagai energi panas, energi tertangkap oleh tanaman dan mengikat
molekul materi bersama-sama, melainkan dalam makanan yang kita makan, dan
menerimanya melalui pencernaan Beberapa energi yang dibahas dalam bab ini
adalah sebagai berikut:
1) Energi potensial
Sebuah benda dapat menyimpan energi berdasarkan posisinya. Energi
yang disimpan dan diadakan di ketinggian disebut energi potensial (EP) karena
energi yang disimpan memiliki potensi untuk melakukan usaha. Ketika busur
ditarik, energi disimpan di haluan. Busur dapat melakukan usaha pada panah.
Sebuah band karet membentang memiliki energi potensial karena posisi relatif
dari bagian-bagiannya. Jika karet gelang adalah bagian dari menjepret, ia mampu
melakukan usaha.Energi kimia dalam bahan bakar juga merupakan energi
potensial. Hal ini sebenarnya energi posisi di tingkat submikroskopik.
Energi potensial, gravitasi atau tidak, memiliki signifikansi hanya jika
terjadi perubahan ketika ada usaha atau mengubah ke energi bentuk lain. berikut
ini merupakan contoh energi potensial gravitasi, sehingga energi potensial
dinyatakan dalam persamaan:
Ep = m.g.h
Dimana :

Ep = energi potensial (joule)


m = massa (kg)

g = percepatan gravitasi (m/s2)


h = ketinggian terhadap titik acuan (m)
Gambar 2.3 Energi potensial suatu benda

19

2) Energi kinetik
Energi kinetik adalah energi yang berkaitan dengan suatu benda. jadi
setiap energi yang bergerak, dikatakan energi kinetik. Meski gerak suatu benda
dapat dilihat sebagai suatu sikap relatip, namun penentuan kerangka acuan dari
gerak harus tetap dilakukan untuk menentukan gerak itu sendiri.

Persamaan energi kinetik adalah :


=

1
2
2

Dimana
Ek = Energi kinetiki ( joule)
m = massa benda ( kg)
v

= besar kecepatan gerak suatu benda (m/s)

3) Hukum kekekalan energi mekanik


Penjumlahan energi potensial dan energi kinetik di namakan energi mekanik
Em = Ep + Ek
Dimana
Em = Energi mekanik (Joule)
Ep = Enegi potensial (Joule)
Ek = Energi kinetik (Joule)
Hukum kekekalan energi mekanik menyatakan Jumlah energi potensial dan
kinetik selalu konstan selama tidak ada gaya luar yang mempengaruhinya.
2.7.3. Perubahan energi dan hukum kekekalan energi
Energi dapat di ubah dari satu bentuk kebentuk yang lain. sebuah buku
yang di pegang tinggi di udara memiliki energi potensial. pada saat buku di
jatuhkan, energi potensialnya hilang karena ketinggian di atas tanah berkurang.
pada saat yang sama, buku itu mempunyai energi kinetik, karena kecepatannya
bertambah. jadi pada peristiwa tersebut terjadi perubahan energi potensial menjadi
energi kinetik.
Sering kali perubahan energi melibatkan perpindahan energi dari satu
benda kebenda lainnya. Sebagai contoh pada saat menarik busur panah, orang

20

tersebut memberikan energi kepada busur panah. pada busur panah yang
melengkung tersimpan energi potensial yang kemudian di ubah menjadi energi
kinetiki ketika anak panah dilepaskan pada tarikannya. Contoh perubahan energi
yang lain adalah energi kinetik pelompat galah yang berlari diubah menjadi energi
potensial dari galah yang melengkung yang selanjutnya diubah menjadi energi
potensial atlet yang sedang naik keatas. Air terjun mempunyai energi potensial
yang di ubah menjadi energi kinetik oleh bilah-bilah turbin selanjutnya di ubaah
menjadi energi listrik.
Masing-masing contoh tersebut, perpindahan energi diringi dengan adanya
usaha. Busur pada anak panah. air melakukan usaha pada bilah- bilah turbin.
pengamatan tersebut memberikan pengertian yang lebih jauh mengenai hubungan
antara usaha dan energi. Usaha dilakukan ketika energi dipindahkan dari satu
benda kebenda lainnya.
Ketika energi dipindahkan atau diubah ternyata tidak ada energi yang
hilang. Ini merupakan salah satu prinsif yang paling penting dalam fisika dapat
dinyatakan sebagi berikut: Energi total tidak berkurang juga tidak bertambah pada
proses apapun. Energi dapat di ubah dari satu bentuk kebentuk yang lainnya dan
dapat dipindahkan dari satu benda kebenda yang lain, tetapi jumlah totalnya tetap
konstan.

2.8. Kerangka Konseptual


Dalam proses pembelajaran, siswa berada dalam posisi proses mental yang
aktif dan guru berfungsi mengkondisikan terjadinya pembelajaran. Pembelajaran
didefenisikan sebagai pengorganisasian, penciptaan atau pengaturan suatu kondisi
lingkungan sebaik-baiknya yang memungkinkan terjadinya belajar pada siswa.
Pembelajaran juga diartikan sebagai proses belajar mengajar. Dengan demikian
ada dua komponen utama dalam pembelajaran yaitu guru dan siswa yang saling
berinteraksi.
Dalam pembelajaran fisika, masalah yang selama ini dialami adalah
kurangnya pemahaman siswa terhadap materi yang disampaikan. Masalah lainnya
adalah kebanyakan siswa tidak menyukai pelajaran fisika karena sulit dengan

21

banyaknya rumus-rumus yang digunakan, juga disebabkan karena kurangnya


variasi dalam pembelajaran sehingga siswa merasa bosan sehingga belajar
bermakna tidak dapat diperoleh siswa.
Salah satu cara yang dapat menolong siswa untuk belajar secara bermakna
dapat dilakukan dengan model pembelajaran inkuiri terbimbing. Model
pembelajaran inkuiri terbimbing merupakan model pembelajaran yang dapat
menunjukkan konsep ilmu secara sistematis yaitu dimulai dari inti permasalahan
sampai pada bagian yang mempunyai hubungan satu sama lain sehingga dapat
membentuk pengetahuan dan mempermudah pemahaman suatu materi pelajaran.
Penggunaan model pembelajaran inkuiri terbimbing sebagai kerangka isi
akan dapat mempengaruhi kemampuan siswa dalam mempelajari informasi baru,
karena merupakan kerangka dalam bentuk abstraksi atau ringkasan konsep-konsep
dasar tentang apa yang dipelajari dan hubungannya dengan materi yang telah ada
dalam struktur kognitif siswa. Dengan menggunakan model pembelajaran inkuiri
terbimbing diharapkan dapat berpengaruh terhadap hasil belajar siswa di kelas
eksperimen.
Untuk melihat adanya pengaruh peningkatan hasil belajar siswa tersebut
akan dilakukan pengajaran pada materi pokok Usaha dan energi ada dua kelas
dengan model pembelajaran yang berbeda di kelas XI-1 dengan model
pembelajaran inkuiri terbimbing dan Kelas XI-2 dengan model pembelajaran
konvensioanl. Untuk melihat kemampuan awalnya, pada kedua kelas akan
diberikan pretes dengan soal yang sama. Kemampuan awal siswa pada kedua
kelas harus sama. Pengujian statistik yang dilakukan yaitu uji t dua pihak yang
digunakan menganalisis data pretes untuk mengetahui kemampuan awal siswa
sama pada kedua kelompok sampel. Uji t satu pihak digunakan pada saat
menganalisis data postes untuk mengetahui pengaruh perlakuan yaitu model
pembelajaran inkuiri terbimbing terhadap hasil belajar siswa.

22

2.9. Hipotesis Penelitian


Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini dengan kerangka konseptual di
atas adalah sebagai berikut :
Ho

: Tidak ada pengaruh model pembelajaran inkuiri terbimbing


terhadap hasil belajar siswa pada materi pokok usaha dan energi
di kelas XI semester I MAN Siabu T.P 2012/2103

Ha

: Ada pengaruh model pembelajaran inkuiri terbimbing terhadap


hasil belajar siswa pada materi pokok usaha dan energi di kelas
XI semester I MAN Siabu T.P 2012/2013.