Anda di halaman 1dari 75

Prof. Dr.

Suryanto
Universitas Muhammadiyah Purwokerto

GEOMETRI TRANSFORMASI
Sebagian besar merupakan saduran bebas dari
Transformation Geometry (George E. Martin)
Khusus untuk kuliah di kelas penerjemah sendiri
Tidak diperjualbelikan

2012
1

PEMBUKAAN

1.1 Penyegaran tentang Geometri


a. Setiap segitiga merupakan segitiga samakaki?

b. Perhatikan barisan 3, 5, 8, 13, 21, 34, . . .


Lukislah persegi (bujur-sangkar) ABCD, dengan panjang sisi 8 cm.
Misalkan titik P terletak pada sisi AB dan titik Q terletak pada sisi BC
sedemikian sehingga AP = BQ = 3 cm. Lukislah ruas garis PQ.
Tentukan titik R pada ruas garis PQ, dan titik S pada ruas garis DC,
sedemikian sehingga PR = CS = 3 cm. Lukislah ruas garis RS.
Lukislah persegi-panjang KLMN, sedemikian sehingga KLM
merupakan paduan dari bangun SDPR dan bangun APG, sedangkan
MNK merupakan paduan dari bangun RQCS dan bangun QBA.
(a). Berapakah luas persegi-panjang KLMN?
(b) Berapakah luas persegi (bujursangkar) ABCD?

c. Perhatikan barisan 3, 5, 8, 13, 21, 34, . . .


Lukislah persegi (bujur-sangkar) ABCD, dengan panjang sisi 13 cm.
Misalkan titik P terletak pada sisi AB dan titik Q terletak pada sisi BC
sedemikian sehingga AP = BQ = 5 cm. Lukislah ruas garis PQ.
Tentukan titik R pada ruas garis PQ, dan titik S pada ruas garis DC,
sedemikian sehingga PR = CS = 5 cm. Lukislah ruas garis RS.
Lukislah persegi-panjang KLMN, sedemikian sehingga KLM
merupakan paduan dari bangun SDPR dan bangun APG, sedangkan
MNK merupakan paduan dari bangun RQCS dan bangun QBA.
(a). Berapakah luas persegi-panjang KLMN?
(b) Berapakah luas persegi (bujursangkar) ABCD?

1.2 Beberapa Simbol yang Lazim dalam Matematika


N adalah symbol atau lambang untuk himpunan semua bilangan asli

Z
Q

adalah symbol atau lambang untuk himpunan semua bilangan bulat


adalah symbol atau lambing untuk himpunan semua bilangan

rasional
R adalah symbol atau lambing untuk himpunan semua bilangan nyata

adalah symbol atau lambing untuk

1.3 Fungsi
a. Diketahui dua himpunan A = {} dan B = {}. Carilah hasilkali Cartesian
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.

dua himpunan tersebut!


Apakah yang disebut relasi?
Apakah yang disebut fungsi?
Apakah yang disebut fungsi into (injektif)?
Apakah yang disebut fungsi onto (surjektif)?
Apakah yang disebut korespondensi satu-satu?
Apakah yangh disebut pemetaan
Operasi biner

1.4 Grup
Himpunan semua bilangan bulat, dengan operasi penjumlahan
(1) Jika a, b Z, maka a+b Z
(2) Jika a, b, c Z maka (a+b) + c = a + (b + c)
(3) Ada 0 Z (ada bilangan bulat 0), yang bersifat bahwa a+e = e+a = a,
untuk setiap a

Z . Bilangan 0 ini disebut elemen identitas pada

penjumlahan bilangan bulat.


(4) Untuk setiap a Z (untuk setiap bilangan bulat a),, ada b

Z, yang

bersifat bahwa a+b = b+a = 0. Bilangan b demikian itu lazim dinyatakan


dengan symbol a, dan dinamai lawan dari a, atau invers dari a pada
operasi penjumlahan.
Definisi
Himpunan tidak kosong H, dengan operasi biner

, disebut grup apabila

memenuhi keempat sifat berikut.


(A1) H mempunyai sifat tertutup atau sifat ketertutupan pada operasi *
(Artinya: jika a,b

H, maka a*b

H)

(A2) Himpunan H mewmpunyai sifat asosiatif pada operasi *.


Artinya: jika a,b,c H, maka (a*b)*c = a*(b*c)
(A3) Himpunan H mempunyai sifat identitas
(Artinya: Ada e

H, yang bersifat a*e = e*a = a untuk setiap a

H.

unsur e demikian itulah yang disebut elemen identitas pada operasi *


(A4) Himpunan H mempunyai sifat invers.
(Artinya, untuk setiap a

H ada f(a)

H yang bersifat a*f(a) = f(a)*a =

e, elemen identitas dari H nggotae merupakan elemen identitas.


Kelompok 4 sifat itu dinamai Aksioma Grup

Grup Rotasi
Rotasi (Perputaran) dikatakan berarah positif jika arah putar berlawanan
dengan arah putar jarum jam.
Rotasi (Perputaran) dikatakan berarah negatif jika arah putar sama dengan
arah putar jarum jam
Misalkan ABC adalah segitiga sama sisi, dan titik P adalah titik berat dari
segitiga itu. Misalkan pula bahwa

adalah rotasi 120o (bukan -120 )


o

sekeliling titik P (terhadap titik P), bayangan (hasil) rotasi dari titik A adalah titik
B,. bayangan dari titik B adalah titik C, dan bayangan dari titik C adalah titik A.
Dengan sImbol, dapat dinyatakan bahwa jika
dengan sudut rotasi 120o, maka
samping itu, (
)(A) = A, (

adalah rotasi sekeliling titik P,

(A) = B, (B) = C, dan

(C) = A. Di

)(A) = ( (A)) = (B ) = C, dan (

o
o

)(B) = B, dan (

)(C) = C.

Transformasi yang bersifat bahwa bayangan (hasil) transformasi setiap titik


adalah titik itu sendiri, disebut transfor5masi identitas, dan lazim dinyatakan
dengan symbol (huruf Yunanai yang namanya iota). Selanjutnya komposisi .

dinyatakan juga dengan symbol

dinyatakan juga dengan simbol

, komposisi

dst.

Perhatikan tabel komposisi rotasi

dengan dirinya sendiri sebagai

berikut.

Operasi

Perhatikan G = { ,

(1) Tampak bahwa hasil komposisi setiap dua anggota dari G menjadi
anggota dari G juga.
(2) Karena komposisi fungsi bersifat asosiatf, maka komposisi anggota dari G

(iota)
Jadi dapat disimpulkan bahwa dengan (pada, terhadap) operasi komposisi
transformasi, himpunan G merupakan grup (Salah satu gruuup
traaansformasi).,
Banyaknya anggota dari grup G, disebut juga orde dari G. Jadi G di atas
merupakan grup berordo 3.

[ ot

= t ehingga to ,

da

} dengan operasi komposisi fungsi.

juga bersifat asosiatif.


(3) Ada G, sedemikian sehingga to = ot = t untuk setiap t G
(4) Untuk setiap t G.ada s G sedemikian sehingga tos = sot =

c. Grup permutasi
d. Grup transformasj

Bab 1
PENDAHULUAN
1.1

Transformasi dan Kolineasi

Geometri Euclides
Geometri yang biasanya diajarkan di sekolah-sekolah, sebagian besar adalah
Geometri Euclides, yaitu geometri hasil pemikiran seorang Yunani, bernama
Euclides. Geometri yang asli dari Euclides ditulis dalam 13 jilid buku berjudul
Elements. segera setelan berakhirnya tahun 300 SM.
Untuk mempermudah pemahaman grometri ada pakar geometri yang merupakan
kajian geometri dengan menggunakan aljabar. Hasil perpaduan geometrid an
aljabar itu disebut geometri analitik. Untuk membedakannya, geometri yang asli
dari Euclides itu doisebut jug geometri sintetik.
Di samping itu, ada yang menyusun kajian geometri Euclides dengan
menggunakan vector, kajian geometri dengan menggunakan keterhubungan
dan ketidak hubungan himpunan, kajian geometri dengan menggunakan
transformasi.

Fungsi
Fungsi dari himpunan H ke himpunan K ialah perkawanan antara anggotaanggota himpuna H dan sebagian atau seluruh anggota dari himpunan K
sedemikian sehingga, setiap anggota dari himpunan H mempunyai tepat satu
(tidak lebih dari satu dan tidak kurang dari satu) kawan yang merupakan anggota
dari himpunan K.
Jika pada perkawanan itu anggota yang berbeda dari himpunan H mempunyai
kawan yang berbeda pula di himpunan K, maka fungsi itu disebut fungsi satusatu, atau fungsi yang injektif, atau fungsi satu-satu, atau fungsi into.
Jika pada perkawanan itu setiap anggota dari himpunan K menjadi kawan dari
anggota himpunan H, maka fungsi itu disebut fungsi yang surjektif, atau fungsi
onto.
Jika perkawanan itu sekaligus into dan onto, atau sekaligus injektif dan
surjektif, maka fungsi atau perkawanan itu disebut korespondensi satu-satu
dari H ke K, atau kotrespondensi satu-satu antara H dan K.
Fungsi disebut juga pemetaan, Fungsi darib himpunan H ke himpunan K disebut
juga pemetaan dari himpunan H ke himpunan K.
Operasi biner
Operasi biner pada himpunan H ialah fungsi yang mengawankan setiap pasang
anggota (boleh sama) dari H dengan satu anggota dari suatu himpunan.
Apakah yang disebut transformasi?
Transformasi ialah korespondensi satu-satu dari himpunan semua titik pada
suatu bidang (datar) ke himpunan itu sendiri.
Definisi

Transformasi bidang datar, atau transformasi bidang, disingkat transformasi,


ialah korespondensi satu-satu dari himpunan semua titik di suatu bidang
(datar) ke himpunan itu sendiri.
Definisi itu nengandung juga pengertian bahwa jika ditentukan sebuah
, maka untuk setiap titik P ada tepat satu titik Q, sedemikian

transformasi
sehingga

(P) = Q, dan sebaliknya, untuk setiap titik R ada tepat satu titik S,

sedemikian sehingga R =

(S).

Definisi
Geometri Transformasi ialah geometri Euclides yang pengkajiannya (pembahasannya) menggunakan transformasi.
Dalam uraian selanjutnya, setiap transformasi dinyatakan dengan huruf Yunani
(kecil). Selain itu jika adalah suatu transformasi, dan H B maka { (T)|T
H} dinyatakan dengna sibol (H) saja,

Huruf Yunani
Dalam uraian selanjutnya, terutama untuk menyatakan transformasi digunakan
huruf Yunani. Huruf-huruf Yunani atau abjad Yunani adalah sebagai berikut
Huruf
Kapital

Huruf
Kecil

Nama

Huruf
Kecil

Nama

Alfa

Huruf
Kapital

Huruf
Kapital

Huruf
Kecil

Nama

Beta

Kappa

Sigma

Gamma

Lambda

Tau

Delta

Mu

Upsilon

Epsilon

Nu

Fi

Zeta

Ksi

Khi

Eta

Omikron

Psi

Teta

Pi

Omega

10

Iota

Rho

1.2 Notasi
Selanjutnya akan digunakan simbol atau notasi berikut.
(a)

Huruf A, B, C, dst menyatakan titik.

(b)

AB, BC, BD, dst menyatakan jarak antara dua titik.


AB = jarak antara titik A dan titik B, atau panjang ruas garis AB
BC = jarak antara titik B dan titik C, dst.

(c)

A-B-C menyatakan bahwa A, B, dan C adalah titik yang berbeda dan


terletak pada suatu garis lurus, dengan titik B terletak di antara titrik A dan

(d)
(e)

titik C, sehingga AB + BC = AC.


suu
r
AB menyatkan garis (lurus) yang melalui titik A dan titik B.
uuu
r
suu
AB dan BA menyatakan sinar garis yang berpangkal di titik A, dan melalui
titik B

(f)

AB menyatakan ruas garis yang titik pangkal dan ujungnya adalah titik A

dan titik B.
(g)

uuur
uuu
r
ABC menyatakan sudut yang kakinya adalah BA dan BC

(h)

m ABC menyatakan besar sudut ABC atau ukuran sudut ABC

(i)

adalah symbol untuk kongruen dengan

(j)

aX + bY + c = 0 menyatakan persamaan garis (lurus)

(k)

ax + by + c = 0 menyatakan bahwa titik (x,y) terletak pada garis yang


persamaannya aX + bY + c = 0

(l)

g h, dibaca garis g tegaklurus pada garis h , atau g tegaklurus pada h

(m) g // h, dibaca garis g sejajar dengan garis h , atau g sejajar dengan h


Teorema Kekongruenan Segitiga (Teorema Kongruensi Segitiga)
(n)

S,Sd,S.

Jika

AB

DE

, A

D, dan

AC

DF

maka ABC DEF.


(p)

Sd,S,Sd. Jika A

D,

AB

DE , dan B

E, maka

ABC DEF
(q)

S,Sd,Sd. Jika

AB

DE

, B

ABC DEF

11

E, dan C

F, maka

(r)

S,S,S.
FD

:Jika

AB

, maka ABC

DE

, BC

EF

, dan C A

DEF

(s)

N = himpunan semua bilangan asli (bulat positif)

(t)

Z = himpunan semua bilangan bulat

(u)

Q = himpunan semua bilangan rasional

(v)

R = himpunan semua bilangan real (nyata)

(w)

Misalkan B adalah himpunn semua titik dari suatu bidang dan H


sedangkan

B,

adalah suatu tarnsformasi pada bidang itu, maka

bayangan (hasil) transformasi dari H dinyatakan dengan symbol

(H).

Dengan kata lain, (H) adalah singkatan dari { (a) | a H}


(1) Simbol (iota) digunakan untuk menyatakan transformasi identitas. Setiap
titik merupakan hasil transformasi dari dirinya sendiri, Dengan kata lain, (T)
= T untuk setiap titik T , atau (x,y) = (x,y) untuk setiap (x,y).
(2) Simbol P digunakan untuk menyatakan refleksi ke titik P.
Contoh: Jika O adalah titik asal, atau titik berkoordinat (0,0), maka

((x,y)) = (-x,-y) untuk setiap (x,y).


(3) Simbol g digunakan untuk menyatakan refleksi ke garis g. Jadi, jika
sumbu X disebut garis h, sedangkan sumbu Y disebut garis v, maka
h ((x,y)) = (x,-y) dan v ((x,y)) = (-x,y) untuk setiap (x,y).
AB
(4) Simbol AB digunakan untuk menyatakan translasi menurut vector
AB
, yaitu translasi yang arahnya sama atau sejajar dengan vector

dan

jaraknya sama dengan panjang ruas garis AB .


(5) Simbol P ,30 digunakan untuk menyatakan rotasi sekeliling titik P,
dengan sudut rotasi 30o,
Perhatikan bahwa

P ,180 ((x,y)) = P ((x,y)) untuk setiap (x,y),

Selanjutnya transformasi

P ,180 ((x,y)) disebut juga setengah putaran

sekeliling titik P.

12

Kolineasi dan Isometri


Ada beberapa transformasi khusus yang akan dibahas di dalam uraian selanjutnya. Beberapa transformasi yang perlu diperhatikan lebih dulu adalah kolineasi
dan isometri.
Definisi
Kolineasi ialah transformasi yang bersifat bahwa himpunan bayangan semua
titik pada setiap garis (lurus) juga merupakan garis (lurus).
Dapat dikatakan bahwa kolineasi ialah transformasi yang memetakan setiap
garis menjadi garis lagi.

13

Untuk membuktikan bahwa hasil (bayangan) trqansformasi

dari garis

g adalah garis h perlu dilakukan 2 bagian:


Pertama tunjukkan bahwa bayangan (hasil) transformasi setiap titik dari
garis g terletak padab garis h.
Kedua tunjukkan bahwa setiap titik dari garis h merupakan hasil
(bayangan) transformasi titik dari garis g.

Contoh Kolineasi
Perhatikan pemetaan , dengan rumus ((x,y)) = (-x + y/2 , x+2)..
Jika dimisalkan bayangan (peta, atau nilai fungsi) dari (x,y) adalah (x,y), maka
terdapat hubungan x = -x + y/2 dan y = x+2. Hubungan ini ekuivalen dengan
hubungan x = y 2 dan y = 2(x + y - 2).
(1) Misalkan (x,y) adalah sebarang titik dari garis aX + bY + c = 0, maka
ax + by + c = 0
Substitusi x = -x + y/2 dan y = x + 2 menghasilkan hubungan
a(y-2) + 2b(x+y-2) + c = 0
2bx + (a+2b)y (2a+4b-c) = 0.

14

Hal ini menunjukkan bahwa, pada transformasi

, peta (bayangan) dari

sebarang titik dari garis aX + bY + c = 0 terletak pada garis 2bX+(a+2b)Y


(2a+4b-c)= 0
(2) Sebaliknya, apabila (x,y) adalah sebarang titik pada garis
2bX+(a+2b)Y(2a+4b-c)= 0,
maka dengan substitusi x = -x+y/2 dan y = x+2, menghasilkan
2bx + (a+2b)y (2a+4b-c) = 0
2b(-x+y/2) + (a+2b)(x+2) (2a+4b-c) = 0
ax + by + c = 0.
Hal ini menunjukkan bahwa, pada transformasi

, setiap titik di garis 2bX+

(a+2b)Y(2a+4b-c)= 0 merupakan bayangan dari titik di garis


aX + bY + c = 0 . (2)

Dari (1) dan (2) dapat disimpulkan bahwa transformasi

merupakan suatu

kolineasi.

Contoh Transformasi yang Bukan Kolineasi


Perhatikan pemetaan , dengan rumus ((x,y)) = (x,y3).
Misalkan P(x1,y1), Q(x2,y2), dan R(x3,y3) adalah tiga titik dengan 0 < y1 < y2 < y3,
dan terletak pada garis Y = mX + n, dengan 0 < m <

, maka

(y2 y1)/(x2 x1) = (y3 y1)/(x3 x1) = m.


Bayangan (hasil pemetaan) ketiga titik itu pada transformasi

adalah titik

P(x1,y1), Q(x2,y2,), dan R(x3,y3), dengan x1 = x1, x2 = x2, x3 = x3, y1 = y13,


y2 = y23, dan y3 = y33.
Hubungan-hubungan ini menghasilkan:

15

= (y2 y1)/(x2 x1) = (y23 y13)/(x2 x1)


= (y22 + y2y1 + y12)(y2 y1)/(x2 x1)

= (y22 + y2y1 + y12)(m), dan

= (y3 y1)/(x3 x1) = (y33 y13)/(x3 x1)


= (y32 + y3y1 + y12)(y3 y1)/(x3 x1)

= (y32 + y3y1 + y12)(m)

Mungkinkah A = B?
Agar A = B, syaratnya adalah:
(y32 + y3y1 + y12) = (y22 + y2y1 + y12),
(y32 y22) + (y3y1 y2y1) = 0.
(y3 y2)(y3 + y2) + (y3 - y2)(y1) = 0
(y3 y2)(y3 + y2 + y1) = 0. Karena syarat ini tidak mungkin dipenuhi, maka A
B.
Hal ini menunjukkan bahwa bayangan titik P, Q, R, tidak terletak pada satu garis.
Jadi, transformasi

tersebut bukan kolineasi.

Definisi
Jika adalah transformasi yang bersifat bahwa, untuk setiap titik P dan Q,
jarak antara titik (P) dan titik (Q) sama dengan jarak antara titik P dan titik Q,
maka disebut isometri.
Dikatakan juga bahwa isometri ialah transformasi yang mempertahankan
jarak, atau melestarikan jarak.
1.3 Soal-soal
(1) Pemetaan-pemetaan berikut ini adalah pemetaan dari himpunan semua titik
dari suatu bidang koordinat Cartesius ke himpunan itu sendiri. Jelaskan yang
mana di antara pemetaan berikut yang merupakan transformasi.
(i)

((x,y)) = (x3,y3),

(ii)

(iii)

((x,y)) = (x3-x,y)

(iv)

(v)

((x,y)) = (-x,x+3)

((x,y)) = (cos x, sin y)

((x,y)) = (2x,3y)
(vi) ((x,y)) = (3y,x+2)

16

(2)

Jika adalah suatu transformasi, jelaskan apakah pernyataan berikut ini benar
(i)

Jika (P) = (Q), maka P = Q.

(ii)

Untuk setiap titik A, ada titik B sedemikian sehingga (A) = B.

(iii)

Untuk setiap titik C, ada titik D sedemikian sehingga (D) = C

(iv)

Setiap transformasi merupakan kolineasi

(v)

Kolineasi merupakan pemetaan yang onto.


Diketahui bahwa adalah pemetaan pada bidang koordinat Cartesius.

(3)

Isilah petak-petak kosong di bawah ini, dengan Ya atau Tidak, sesuai


dengan rumus untuk ((x,y)) yang ditentukan.

((x,y)) =

Sifat atau

(|x|,|y|)

Jenis
adalah surjektif
adalah injektif
adalah transformasi
adalah isometri
adalah kolineasi

(e ,e )

(x ,x )

(x3-x2,y)

(x-2,y-2)

(2y,x-2)

(-y,-x)

Bab 2
SIFAT-SIFAT TRANSFORMASI
2.1 Grup Transformasi
Perhatikan rotasi segitiga sama-sisi sekeliling titik beratnya dengan sudut
rotasi 120o
Rotasi (Perputaran) dikatakan berarah positif jika arah putar berlawanan dengan
arah putar jarum jam. Rotasi (Perputaran) dikatakan berarah negative jika arah
putar sama dengan arah putar jarum jam
Misalkan ABC adalah segitiga sama sisi, dan titik P adalah titik berat dari
segitiga itu. Misalkan pula bahwa dengan rotasi 120 o (berarti arah putarnya

17

positif) positif)sekeliling titik P (terhadap titik P), bayangan (hasil) rotasi dari titik A
adalah titik B,. bayangan dari titik B adalah titik C, dan bayangan dari titik C
adalah titik A.
Dengan kata lain, jika

adalah rotasi (perputaran) sekeliling titik P, dengan

arah rotasi positif, dan sudut rotasi 120 o, maka (A) = B, adan
dan (C) = a. Selanjutnya (
Diperoleh juga sifat bahwa (
dan (

)(A) = ( (A)) = (B ) = C.

(B) = C,

)(A) = A, (

)(B) = B,

)(C) = C. Transformasi yang bersifat bahwa bayangan

(hasil) transformasi setiap titik adalah titik itu sendiri, disebut transfor5masi
identitas, dan lzim dinyatakan dengan symbol (huruf Yunanai yang namanya
iota). Selanjutnya komposisi .
komposisi

dinyatakan dengan symbol

dinyatakan dengan symbol

Perhatikan tabel komposisi rotasi

dan

dst.

dengan dirinya sendiri sebagai berikut.


Operasi

Kita namai himpunan { ,

(1) Tampak bahwa hasil komposisi setiap dua anggota dari G menjadi
anggota dari G juga.
(2) Karena komposisi fungsi bersifat asosiatf, maka komposisi anggota
dari G juga bersifat asosiatif.
(3) Ada G, sedemikian sehingga to = ot = t untuk setiap t G
(4) Untuk setiap t G.ada s G sedemikian sehingga tos = sot =
(iota)
Definisi
Himpunan tidak kosong, H dengan operasi biner f, disebut grup jika mdemiliki
(1) Hasil operasi setiap anggota dari H juga merupakan anggota dari H.
18

} itu himpunan G.

keempa6 sifat berikut:

(2) Operasi pada anggota-anggota dari H bersifat asosiatif.


(3) Ada anggota darinH, misalnya e, yang bersifat bahwa hasil operasi pada
pasangan sebarang anggota a dari H dan e, adalah a.
(4) Untuk setiap anggota x dari H, ada y dalam H, yang bersifat bahwa hasil
operasi x dan y adalah e tersebut.
Sifat (1) disebut sifat tertutup, atau sifat ketertutupan.
Sifat (2) disebut sifat asosiatif
Sifat (3) disebut sifat keberadaan elemen identitas (e disebut elemen identitas)
Sifat (4) disebut sifat keberadaan invers setiap anggota dari H.
Kesimpulan
Dengan operasi komposisi transformasi, G merupakan grup.,
Banyaknya anggota dari grup G, disebut juga ordo dari G. Jadi G di atas
merupakan grup berordo 3.

Perhatikan himpunan semua bilangan bulat, Z, dan operasi penjumlahan (+)


pada bilangan bulat.
(1) a+b Z, untuk setiap a,b Z
(2) (a+b)+c = a+(b+c), untuk setiap a,b,c Z,
(3) Ada 0 Z, sedemikian sehingga a+0 = 0+a = a, untuk setiap a Z.
(4) Untuk setiap bilangan a Z ada bilangan -a Z, sedemikian sehingga
a+(-a) = 0.
Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa himpunan semua bilangan bulat
dengan operasi penjulahan merupakan grup, Dinyatakan juga bahwa (Z,+)
merupakan suatu grup.
Jika G dengan operasi f merupakan grup, dan f(a,b) = f(b,a) untuk setiap a dan b
dalam G, maka G disebut grup yang komutatif, atau grup abelian.
19

Definisi
Suatu transformasi disebut transformasi identitas, dan dinyatakan dengan
huruf (iota), jika (P) = P untuk setiap titik P.

Perhatikan
Pemetaan merupakan transformasi jika dan hanya jika memiliki dua sifat,
yaitu:
(1) jika P dan Q dua titik yang berbeda, atau P Q, maka (P) (Q), dan
(2) untuk setiap titik B ada tepat satu titik A sedemikian sehingg B = (A).
Berdasarkan sifat ini, dapatlah disimpulkan bahwa jika adalah transformasi,
maka, inversnya, yaitu

juga merupakan transformasi.

Jika pemetaan dan adalah transformasi, apakah komposisinya, yaitu

o dan o juga merupakan transformasi?


Penyelidikan
Misalkan dan adalah transformasi, sedangkan P adalah sebarang titik.
(I)

Karena adalah transformasi, maka ada tepat satu titik R sedemikian


sehingga (P) = R. Karena adalah transformasi, maka ada tepat satu
titik Q sedemikian sehingga (R ) = Q.
Jadi ada tepat satu titik Q sedemikian sehingga ( (P)) = Q. Dengan kata
lain, ada tepat satu titik Q sedemikian sehingga ( o )(P) = Q.

(II) Karena adalah transformasi, maka ada tepat satu titik T sedemikian
sehingga (T ) = P. Karena adalah transformasi, maka ada tepat satu
titik Q sedemikian sehingga (Q) = T.
Jadi ada tepat satu titik Q sedemikian sehingga ( (Q)) = P. Dengan kata
lain, ada tepat satu titik Q sedemikian sehingga ( o )(Q)) = P.
20

Dari (I) dan (II) dapat disimpulkan bahwa apabila dan adalah
transformasi, maka o juga merupakan transformasi.
Dengan cara serupa (analog) dapat dibuktikan bahwa apabila dan adalah
transformasi, maka o juga merupakan transformasi.
Sifat itu dirumuskan sebagai teorema sebagai berikut.
Teorema 2.1
Jika dan adalah transformasi, maka o dan o juga merupakan
transformasi
Grup Transformasi
(a ) Misalkan G adalah suatu himpunan transformasi. Apabila untuk setiap
dan dalam G, , hasil kali (komposisi) mereka, yaitu o juga menjadi
anggota dari G , maka dikatakan bahwa G mempunyai sifat tertutup atau
sifat ketertutupan.
(b) Himpunan transformasi G dikatakan mempunyai sifat asosiatif jika
[

o(

o )](P) = [(

o(

) o ](P)

untuk setiap titik P, dan setiap , , dalam G. .


(c) JikaG suatu himpunan transformasi, dan menjadi anggota dari G, maka
dikatakan bahwa G mempunyai sifat identitas.
(d) JikaG suatu himpunan transformasi, dan invers dari setiap anggota dariG
juga menjadi anggota dariG, maka dikatakan bahwa G mempunyai sifat
invers.
(e) MisalkanG adalah suatu himpunan transformasi. Apabila o = o untuk
setiap dan dalam G, , maka dikatakan bahwa G mempunyai sifat
komutatif.

21

Definisi
(1) Himpunan transformasi dengan operasi komposisi, (G,o), disebut grup
transformasi atau grup jika memiliki sifat tertutup, sifat asosiatif, sifat
keberadaan elemen identitas, dan sifat invers.
(2) Apabila (G,o) adalah grup transformasi yang memiliki sifat komutatif, maka
(G, o) disebut grup yang komutatif atau grup abelian.

Contoh
MisalkanG adalah himpunan tidak kosong, dan setiap anggotanya merupakan
transformasi, Dapat dibuktikan bahwa dengan operasi komposisi (o),G
mempunyai sifat invers dan sifat tertutup, makaG mempunyai sifat identitas.
Buktikan!
Bukti
Misalkan G adalah himpunan transformasi yang tidak kosong. Misalkan G
memiliki sifat invers dan sifat tertutup.
(a) Karena G tidak kosong, maka ada transformasi G.
1
(b) Karena G mempunyai sifat invers, maka G.
1
1
(c) Karena , G, dan G mempunyai sifat tertutup, maka o G.
1
1
Karena o = dan o
G, maka G. Jadi, G memiliki sifat identitas.

Kesimpulan: Apabila G adalah himpunan transformasi yang tidak kosong, dan


memiliki sifat invers dan sifat tertutup, maka G memiliki sifat identitas.
Teorema 2.2
(1)

Himpunan semua transformasi merupakan grup.

(2)

Himpunan semua kolineasi merupakan grup.


Bukti
(1)

Misalkan G adalah himpunan semua transformasi.

22

a. Karena G adalah himpunan semua transformasi, maka


anggota dari G, dan untuk setiap transformasi

b. Misalkan

dan

(iota) menjadi

, berlaku sifat

= . Jadi, G mempunyai sifat identitas.

adalah anggota dari G. Maka

mupun

merupakan
korespondensi satu-satu antara himpunan semua titik pada satu bidang
datar dan himpunan itu juga. Oleh karena itu, komposisi dari keduanya
juga merupakan korespondensi satu-satu, dari himpunan semua titik
pada bidang itu dan himpunan itu sendiri. Berarti

dan

menjadi anggota dari G. Jadi, G mempunyai sifat tertutup.


c. Karena G adalah himpunan semua transformasi, maka setiap anggota
dari G merupakan korespondensi satu-satu dari himpunan semua titik di
suatu bidang ke himpunan sendiri, sehingga terhadap operasi komposisi
fungsi (komposisi atau perkalian transformasi) berlaku sifat asosiatif.
Jadi G mempunyai sifat asosiatif [Lihat Penjelasan di bawah].
d. Karena setiap korespondensi satu-satu mempunyai invers dan inversnya
juga merupakan korespondensi satu-satu, maka setiap anggota dari G
mempunyai invers, dan invers itu juga menjadi anggota dari G. Jadi, G
mempunyai sifat invers.
Kesimpulan: Himpunan semua transformasi (dengan operasi komposisi)
merupakan grup.
PENJELASAN
Misalkan f, g, h anggota dari G, maka f, g, dan h adalah korespondensi 1-1.
(i) Misalkan P Q.
Karena f, g, dan h pemetaan 1-1, maka: h(P) h(Q)
g(h(P)) g(h(Q))
f(g(h(P))) f(g(h(Q))).
Jadi f o g o h juga merupakan pemetaan 1-1

23

(ii) Karena f, g, h adalah korespondensi satu-satu, maka f(gh) = (fg)h, dan simbol
fgh menyatakan f(gh) maupun (fg)h.
Jika T sebarang titik, maka ada titik A, B, dan C, sehingga f(A) = T, g(B) = A,
dan h(C) = B. Hal ini berarti bahwa T = f(A) = f(G(B)) = f(g(h(C)). Berarti ada
titik C sedemikian sehingga Kar = (fg)(h(C) atau T = [f o(goh)](C) = [(fog)oh](C).
Karena T adalah titik sebarang, maka hubungan itu menunjukkan bahwa
f o (g o h) = (f o g) o h.
Jadi G memiliki sifat asosiatif.
(2) Misalkan K adalah himpunan semua kolineasi.
a.Karena .., maka Ternyata K memiliki sifat identitas
b. Karena .., maka Ternyata K memiliki sifat tertutup
c. Karena .., maka Ternyata K memiliki sifat asosiatif
d. Karena .., maka Ternyata K memiliki sifat invers.

2.2 Beberapa Sifat Komposisi Transformasi


Selanjutnya, komposisi o kita tuliskan juga dengan singkat sebagai .
Demikian pula, komposisi o ( o ) kita tuliskan juga secara singkat sebagai

( ), atau, karena adanya sifat asosiatif, komposisi itu kita tuliskan lebih
singkat lagi sebagai . Maksudnya, simbol digunakan untuk
menyatakan komposisi o ( o ) maupun komposisi ( o ) o . .

24

Hal Khusus:
2
Komposisi o kita tuliskan juga sebagai ; komposisi o

kita tuliskan

3
1
juga sebagai , dst. Di samping itu, kita nyatakan juga sebagai ;

dan trasformasi identitas, iota, kita nyatakan juga sebagai

o .

1
m
m
Apabila = , maka invers dari dituliskan sebagai atau . Khusunya,

Jadi komposisi transformasi transformasi kita tuliskan secara singkat dalam


bentuk hasil kali atau perkalian transformasi, dan boleh dibaca sebagai hasil
kali atau perkalian, tetapi maknanya adalah komposisi..
Teorema 2.3
Misalkan , , dan adalah anggota dari grup transformasi.
(1)

Apabila = , maka = .

(2)

Apabila = , maka = .

(3)

Apabila = , maka = .

(4)

Apabila = , maka = .

(5)

1
1
Apabila = , maka = dan = .

Bukti
(1) Misalkan , , dan adalah anggota grup transformasi,dan = .
Karena G suatu grup transformasi, maka G, dan
1
1
1
1
= = ( ) = ( ) = ( ) = ( ) = = .
Jadi, apabila = , maka = .
CARA LAIN
(1) Misalkan , , dan adalah anggota dari grup transformasi G dan

maka ada ,

G, dan

1
1
( ) = ( )

25

1
1
( ) = ( )

=
= .
Jadi, apabila = , maka = .
(2)

= ( 1

(3)
(4)
(5)
(5)

Perhatikan
Misalkan dan adalah anggota dari grup transformasi, maka
( )-1

= ( )-1( )
= ( )-1( -1)

26

= ( )-1( -1)
= ( )-1( -1 -1)
= ( )-1[( )( -1 -1)]
= [( )-1( )]( -1 -1)
= ( -1 -1)
= -1 -1.
Hasil di atas dirumuskan sebagai teorema, sebagai berikut.
Teorema 2.4
1
1
Jika dan adalah anggota dari grup transformasi, maka ( )-1 = .

Ordo Grup dan Ordo Transformasi


Definisi

27

Jika grup transformasiG mempunyai tepat n anggota, maka dikatakan bahwaG


adalah grup berhingga yang berordo n.
Definisi
n
(1) Jika G dan n adalah bilangan bulat positif terkecil yang bersifat = ,

maka dikatakan bahwa adalah transformasi yang berordo n.


n
(2) Jika adalah suatu transformasi, tetapi , untuk n berapapun, maka

dikatakan bahwa adalah transformasi yang berordo takberhingga.


Contoh
(1) Misalkan adalah transformasi, yang merupakan rotasi (perputaran)
12
k
sekeliling titik asal O(0,0) dengan sudut rotasi 30 o. Maka = , tetapi
jika k adalah bilangan bulat positif yang lebih kecil dari 12. Jadi itu

merupakan transformasi yang berordo 12, dan himpunan


G = { , 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10, 11, } adalah grup berordo 12.
(2) Misalkan adalah transformasi, dengan aturan ((x,y)) = (x+1,y), maka
, dan n ((x,y)) = (x+n,y) untuk setiap bilangan asli n. Jelas bahwa
n
(x,y) (x+n,y) untuk bilangan asli berapapun. Jadi untuk bilangan
bulat positif n yang manapun. Dengan kata lain, adalah transformasi yang
berordo takberhingga, dan himpunan { , , 2, 3, 4, . . .} merupakan grup
berordo takberhingga.
Definisi
Jika adalah anggota dari grup G, dan setiap anggota dari G merupakan
perpangkatan dari , maka G disebut grup siklik dengan generator .

Simbol: Grup siklik dengan generator dinyatakan juga dengan simbol


Generator disebut juga pembangkit.

28

Suatu grup dapat mempunyai lebih dari satu generator.


Contoh
Misalkan adalah transformasi, yang merupakan rotasi (perputaran) sekeliling
titik asal O(0,0) dengan sudut rotasi 30o , dan
G = { , 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10, 11, }
Jika = 5, maka 1 = 5, 2 = 10, 3 = 3, 4 = 8, 5 = , 6 = 6,
= 11, 8 = 4, 9 = 9, 10 = 2, 11 = 7, dan 12 = .
Berarti 5 juga merupakan generator grup G. Dapat ditunjukkan bahwa 7
7

5
7

juga merupakan generator grup G. Jadi G =


=
=
.
Tetapi 2, 3, 4, dan 6 bukan generator grup G (Mengapa?)
Jika G adalah grup siklik dengan generator , , dan , maka grup itu dapat
pula dinyatakan dengan simbol

, ,

, dan setiap anggota dari grup siklik

demikian itu dapat dinyatakan sebagai komposisi dari m, n, dan p, dengan


m, n, p yang merupakan bilangan bulat.
Tabel Komposisi (Tabel Cayley)
Hasil komposisi anggota-anggota grup berhingga dapat disajikan dalam tabel,
yang lazim disebut tabel Cayley.
Contoh
Misalkan adalah transformasi rotasi sekeliling titik O, dengan sudut rotasi
sebesar 90o atau = Rot(O;90o). Grup yang dihasilkan oleh transformasi itu
adalah { , 2, 3, }, dan lazim dinyatakan dengan simbol C4.. Hasil komposisi
dari anggota-anggota grup dengan generator itu dapat disajikan dalam tabel
sebagai berikut.

C4
29

2
3

Perhatikan bahwa C4 =

2
3
3

2
3

2
3

Involusi
Salah satu transformasi yang mempunyai sifat khusus adalah transformasi yang
berordo dua. Karena memiliki sifat khas, maka transformasi yang berordo dua
diberi nama khusus, yaitu involusi. Jadi, involusi ialah transformasi yang
30

bukan transformasi identitas, tetapi kuadratnya merupakan transformasi


identitas.
2
1
Jika merupakan involusi, maka tetapi = . Dalam hal demikian, =

1 o = 1 o 2 = 1 o ( o ) = ( 1 o ) o = o = . Sebaliknya, jika 1 = ,
2
1
maka = o = o = .

Jadi, suatu transformasi yang bukan transformasi identitas, merupakan


involusi jika dan hanya jika inversnya adalah transformasi itu sendiri.
Contoh
Misalkan G = { h , v , O , }, dengan h ((x,y)) = (x,-y), v ((x,y)) = (-x,y),

O ((x,y)) = (-x,-y), dan ((x,y)) = (x,y). Hasil komposisi anggota-anggotanya


dapat disusun dalam tabel Cayley sbb.

h
v
O

h
v
O

V4

h
h

O
v

v
v
O

Tampak bahwa h , v , dan O merupakan involusi.

2.3 Soal-soal
1. Buktikan bahwa setiap himpunan transformasi mempunyai sifat asosiatif.
2. Jelaskan apakah pernyataan berikuf benar
a. Jika dan adalah transformasi, maka = jika dan hanya jika ada
31

O
O
v
h

titik P sedemikian sehingga (P) = (P).


1
1
b. Jika dan adalah transformasi dan = , maka = dan =

c. Jika G adalah grup, dan , G, maka = .


d.

adalah grup siklik

e. Jika dan adalah transformasi, maka ( )-1 = -1 -1.


3. Diketahui persegi-panjang ABCD. Tunjukkan 5 cara untuk membagi daerah
persegi-panjang itu menjadi dua daerah yang kongruen.
4. Buktikan bahwa himpunan semua permutasi dari (1,2,3,4,5) dengan operasi
komposisi merupakan grup.

Bab 3
TRANSLASI DAN SETENGAH-PUTARAN
3.1 Translasi
32

Jika H adalah domain dari fungsi f, atau subset dari domain fungsi f, maka
himpunan {f(x) | x H} kita nyatakan dengan symbol f(H). Jadi, kalau g adalah
suatu garis sebagai himpunan titik, sedangkan suatu transformasi, maka
himpunan { (P) | P g} kita nyatakan juga sebagai (g), dan disebut bayangan
garis g pada transformasi .
Demikian pula, jika G adalah himpunan titik-titik di bidang datar, dan membentuk
suatu bangun geometri, maka himpunan { (T) | T G} kita sebut juga bayangan
bangun geometri tersebut, dan dapat kita nyatakan dengan simbol (G).
Pengertian Translasi
Kalau dalam uraian dalam bab ini dan bab selanjutnya dikatakan bahwa
adalah pemetaan dengan persamaan
x ' ax by c

y ' dx ey f
yang dimaksud ialah bahwa ((x,y)) = (x,y) dengan x = ax + by + c dan
y = dx + ey + f untuk setiap titik (x,y) dalam bidang koordinat Cartesius.
Definisi
Translasi menurut vektor a i

+ b j

ialah pemetaan yang memetakan

setiap titik (x,y) ke titik (x+a,y+b).


Dalam bentuk sistem persamaan, translasi menurut vektor a i

+ b j

ialah

pemetaan yang memetakan setiap titik (x,y) ke titik (x,y) yang memenuhi system
persamaan
x' x a

y' y b
Dengan persamaan translasi itu, untuk setiap titik (x,y) tertentu tepat satu titik
(x,y), dan sebaliknya, untuk setiap titik (x,y) tertentu tepat satu titik (x,y).
Jadi translasi merupakan transformasi.
Translasi dalam Persamaan Matriks

33

Translasi yang memetakan titik P ke titik Q, dinyatakan dengan simbol

PQ

Translasi ini memetakan setiap titik dengan jarak dan arah yang ditentukan oleh
PQ . Jadi translasi itu dapat disebut juga sebagai translasi menurut
vektor
vektor

PQ

PQ
Apabila P = (a,b), Q = (c,d), maka vektor
sehingga translasi

PQ

adalah (c-a) i + (d-b) j

memetakan setiap titik (x,y) ke titik (x + c-a , y + d-b). Jika

bayangan dari (x,y) pada translasi itu dinyatakan sebagai (x,y) maka dalam
persamaan matriks, translasi itu dapat dituliskan sebagai berikut

( xy '' )

( xy +ca
+db )

( xy '' )

( xy )

atau
+

ca
(db
)

Jadi, setiap pasang titik (P,Q) menentukan tepat satu translasi

P ,Q

Hal ini dinyatakan sebagai teorema sebagai berikut.


Teorema 3.1
Setiap pasang titik (P,Q) menentukan tepat satu translasi yang memetakan titik P
ke titik Q.
Translasi disebut juga pergeseran atau geseran..

Teorema 3.2
Kalau A, B, C, adalah tiga titik yang nonkolinear (tidak segaris), maka AB = CD
jika dan hanya jika segiempat ABDC berbentuk jajaran genjang.

34

Apakah translasi merupakan kolineasi?


Penyelidikan
(1) Jika translasinya adalah iota, maka translasi itu merupakan kolineasi.
(2) Misalkan AB , adalah translasi yang bukan iota. Misalkan persamaan
translasi AB adalah x = x + a dan y = y + b.
Jika (x,y) sebarang titik pada garis pX + qY + r = 0, maka px + qy + r = 0,
dan dengan substitusi terdapat
p(x-a) + q(y-b) + r = 0

atau px + qy + (r-pa-qb) = 0.

Berarti titik (x,y) terletak pada garis pX + qY + (r-pa-qb) = 0. Garis ini sejajar
dengan garis pX + qY + r = 0. Karena (x,y) adalah titik sebarang dari garis
pX + qY + r = 0, maka dapat disimpulkan bahwa bayangan setiap titik pada
garis pX + qY + r = 0 pada translasi itu terletak pada garis
pX + qY + (r-pa-qb) = 0. Karena translasi merupakan korespondensi satusatu, maka setiap titik pada garis pX + qY + (r-pa-qb) = 0 adalah bayangan
dari titik di garis pX + qY + r = 0.
Jadi dapat disimpulkan bahwa translasi merupakan suatu kolineasi.
Di samping itu, bayangan garis lurus g pada translasi merupakan garis yang
sejajar dengan garis g itu.
3.2 Dilatasi
(1) Pengertian Dilatasi
Pada setiap kolineasi, bayangan pemetaan garis selalu merupakan garis.
Translasi merupakan kolineasi yang khas, yaitu bahwa pada translasi bayangan
setiap garis lurus adalah garis lurus yang sejajar (atau berimpit) dengan garis
semula. Transformasi yang memiliki sifat terakhir ini, yaitu transformasi yang
bersifat bahwa (g) // g [atau berimpit] untuk setiap garis g, disebut dilatasi.
Karena bayangan garis pada translasi juga merupakan garis yang sejajar (atau
berimpit) denga ngaris asalnya, maka translasi juga merupakan dilatasi

35

Perbesaran
Misalkan P adalah titik (a,b), k sebuah konstan yang bukan nol, sedangkan
k ; P adalah transformasi dengan persamaan

'
x =k ( xa ) +a
y' =k ( yb )+ b

Jika T(x,y) sebarang titik, dan bayangannya pada transformasi ini adalah T(x,y),
maka TP =
TP =
=
=

(xa)2 +( yb)2

dan

( x ' a)2 +( y 'b)2


k 2 (xa)2 +k 2( yb)2
|k| ( xa)2 +( yb)2

= |k| TP.
Transformasi demikian disebut perbesaran, dengan factor k, dan pusat P(a,b).
Khususnya, perbesaran dengan factor k, dan pusat O(0,0) mempunyai
persamaan

x ' =kx
y' =ky

Akan kita selidiki bayangan garis pada perbesaran dengan factor k dan pusat
P(a,b).
(I) Misalkan T(x,y) adalah titik sebarang pada garis mX + nY + r = 0, dan
bayangan pada perbesaran itu adalah T(x,y), maka berlaku hubungan
mx + ny + r = 0 .. (1)
Karena

x' =k ( xa ) +a
y' =k ( yb )+ b

maka

x = (x a)/k + a . (2)

dan

y = (y b)/k + b . (3)

Substitusi (2) dan (3) ke dalam (1) menghasilkan


m[(x-a)/k + a] + n[(y-b)/k + b] + r = 0
m(x-a + ka) + n(y-b + kb) + kr = 0
36

mx + ny + (-ma + mka nb + nkb + kr) = 0.


Hal ini menunjukkan bahwa, pada perbesaran tersebut,
bayangan setiap titik dari garis mX + nY + r = 0
terletak di garis mX + nY + (-ma + mka nb + nkb + kr) = 0.
(II) Sebaliknya, misalkan (x,y) adalah sebarang titik dari garis
mX + nY + (-ma + mka nb + nkb + kr) = 0, maka
mx + ny + (-ma + mka nb + nkb + kr) = 0.
m(x-a + ka) + n(y-b + kb) + kr = 0
m[(x-a)/k + a] + n[(y-b)/k + b] + r = 0
mx + ny + r = 0
Hal ini menunjukkan bahwa, pada perbesaran tersebut, setiap titik dari garis
mX + nY + (-ma + mka nb + nkb + kr) = 0 merupakan bayangan dari titik di
garis mX + nY + r = 0.
Dari (I) dan (II) dapat disimpulkan bahwa, pada perbesaran tersebut, bayangan
garis mX + nY + r = 0 adalah garis mX + nY + (-ma + mka nb + nkb + kr) = 0.
Kedua garis itu sejajar. Jadi, perbesaran merupakan dilatasi.
Teorema 3.3
Translasi merupakan dilatasi. Jika P

Q, maka pada translasi

PQ

, tidak ada

titik yang menjadi bayangan transformasi dirinya sendiri, akan tetapi apabila g //
PQ, maka

PQ

(g) = g.

PERHATIKAN
Pengertian (definisi) dilatasi oleh beberapa pakar atau di dalam beberapa buku
tidak sama (tidak seragam). Ada buku (pengarang buku) yang menyebut
perbesaran tersebut di atas dilatasi, sehingga translasi tidak termasuk dilatasi.
Objek yang Menetap
Definisi

37

Jika pada suatu transformasi f, suatu objek B merupakan bayangan transformasi


dari dirinya sendiri, maka dikatakan juga bahwa transformasi itu menetapkan
objek B tersebut, atau menjadikan objek B itu sebagai objek menetap.
Jika pada transformasi f ada titik T yang bersifat f(T) = T, maka pada transformasi
itu, titik T disebut titik invariant (invariant point) atau titik menetap (fixed point).
Jika pada transformasi f ada garis g yang bersifat f(g) = g, maka pada
transformasi itu, garis g disebut garis invariant (invariant line) atau garis
menetap (fixed line).
Perhatikan bahwa kalau suatu garis merupakan garis menetap, belum tentu
bahwa titik-titiknya juga merupakan titik menetap.
Contoh
Misalkan diketahui titik P(a,b) dan Q(c,d), dengan c a, dan garis g dengan
persamaan Y =

db
ca

X + e. Jika T(x,y) adalah sebarang titik pada garis g,

carilah bayangan dari dari titik T pada transformasi

PQ

Penyelesaian
..........

y =

db
ca

x + e.

Ternyata bayangan dari titik T(x,y) terletak pada garis g.


Selanjutnya, karena translasi itu suatu korespondensi satu-satu, maka setiap titik
pada garis g juga merupakan bayangan dari titik pada garis g. Jadi, bayangan
dari garis g pada translasi

PQ di atas adalah garis g sendiri. Dapat

disimpulkan bahwa pada translasi

PQ

di atas, garis g merupakan garis

menetap. Tetapi titik-titik pada garis g bukan titik menetap.


Definisi

38

Jika pada suatu transformasi f, sifat S dari setiap objek dimiliki oleh bayangan
transformasi dari objek yang bersangkutan, maka sifat S itu disebut sifat
invarian, pada transformasi f itu, dan dikatakan juga bahwa transformasi f itu
mempertahankan (melestarikan) sifat S.
3.3 Grup Translasi dan Grup Dilatasi
Apakah himpunan semua translasi merupakan grup?
Teorema 3.4
(1) Himpunan semua translasi (dengan operasi komposisi) merupakan grup
abelian.
(2) Himpunan semua dilatasi (dengan operasi komposisi) merupakan grup.
Simbol
Selanjutnya simbol T

hanya digunakan untuk menyatakan grup translasi yang

merupakan himpunan semua translasi, sedangkan simbol D hanya digunakan


untuk menyatakan grup dilatasi yang merupakan himpunan semua dilatasi.
3.4 Setengah-Putaran
Jika P adalah suatu titik di bidang koordinat Cartesius, P adalah pemetaan yang
memetakan setiap titik T pada bidang koordinat itu sehingga bayangannya
adalah titik T yang bersifat TP = TP dan m TPT = 180o, maka pemetaan itu
disebut pemetaan setengah-putaran sekeliling titik P, atau secara singkat
setengah-putaran sekeliling titik P, atau lebih singklat lagi setengah-putaran
saja. Definisi yang menjelaskan persamaannya adalah sebagai berikut.

Definisi
39

Setengah-putaran sekeliling titik P(a,b), yang dinyatakan dengan symbol P ,


adalah pemetakan dengan persamaan
x ' x 2a

y ' y 2b
Setengah-putaran sekeliling titik O(0,0) adalah pemetaan dengan persamaan
x ' x

y' y
Setengah putaran sekeliling titik P dinyatakan dengan symbol

Matriks setengah putaran


x ' x

Persamaan setengah putaran y ' y dapat dinyatakan dalam persamaan


matriks
Oleh karena itu, matriks

( xy '' )
(10 10 )

(10 10 )( xy)

disebut matriks setengah putaran

sekeliling titik asal O(0,0).


Teorema 3.5
(1) Setengah-putaran merupakan dilatasi involutori, yaitu dilatasi yang juga
merupakan involusi.
(2) Titik tengah antara sebarang titik A dan titik P (A) adalah titik P.
(3) Titik T merupakan titik menetap pada P , jika dan hanya jika T = P.
(4) Garis g merupakan garis menetap pada P , jika dan hanya jika titik P
terletak pada garis g.
Teorema 3.6
Jika T adalah titik tengah antara titik A dan titik B, maka T A = AB

40

= B T

Bukti
Misalkan koordinat titik A adalah (a-p,b-q), dan koordinat titik B adalah (a+p,b+q),
maka koordinat titik T adalah (a,b).
Jika P(x,y) adalah titik sebarang, maka:
A (x,y) = (-x+2a-2p,-y+2b-2q)
( T

A )(x,y)

T ( A (x,y)) =

T (-x+2a-2p,-y+2b-2q)

= (x-2a+2p + 2a , y-2b+2q + 2b)


= (x + 2p , y + 2q)
Vektor

AB

adalah vector 2p

+ 2q j

AB (x,y) = (x + 2p , y + 2q)
T (x,y) = (-x + 2a , -y + 2b)
( B

T )(x,y)

B (-x+2a,-y+2b)

= (x-2a + 2a+2p , y-2b + 2b+2q)


= (x+2p,y+2q)
Karena P itu adalah titik sebarang, maka dapat disimpulkan bahwa apabila T
adalah titik tengah dari

AB

maka T A =

AB

= B T

Teorema 3.7
(1) Komposisi tiga setengah-putaran merupakan setengah-putaran.
(2) Apabila A, B, C, adalah tiga titik yang tidak segaris, maka C B A = D ,
sedemikian sehingga segi-empat ABCD berbentuk jajargenjang.
Teorema 3.8
Jika diketahi titik A, B, dan C, maka ada tepat satu titik D yang memenuhi
persamaan AB = D C
Teorema 3.9

41

Untuk setiap titik A, B, dan C, berlaku hubungan C B A = A B C .


Teorema 3.10
Gabungan dari himpunan semua translasi dan himpunan setengah-putaran, pada
operasi komposisi, merupakan grup.
Definisi
Grup yang terdiri atas gabungan dari himpunan semua translasi dan himpunan
setengah-putaran, pada operasi komposisi, disebut grup yang dibangkitan oleh
setengah-putaran.
[Alasannya ialah karena, menurut Teorema 3.6, setiap translasi dapat
dinyatakan sebagai hasilkali (hasil komposisi) dua buah setenganputaran]
Simbol
Grup yang dibangkitkan oleh setengah-putaran dinyatakan dengan symbol H.

42

3.5 SOAL-SOAL
1. Misalkan g adalah garis dengan persamaan aX + bY + c = 0, sedangkan P
adalah titik (0,3), dan Q adalah titik (3,0).
a. Carilah bayangan dari g pada translasi

OP .
3 =

b. Carilah bayangan dari g pada transformasi


c. Carilah bayangan dari g pada translasi
d. Carilah bayangan dari g pada translasi

OQ
PQ

e. Carilah bayangan dari g pada transformasi


2.Translasi dan Setengah-Putaran
a.Jika Q = AB (P) , maka AB

(30 03)

(03 30)

P ( AB )-1 = Q . Buktikan!

b. Jika P = (-3,2), carilah bayangan garis Y = 5X + 7, pada transformasi P .

c. Jika P Q, berapakah ordo dari PQ ?


3.Benar atau salahkah pernyataan-pernyataan di bawah ini?
a. Hasilkali (hasil komposisi) dua involusi merupakan sebuah involusi atau
iota.
b. Jika g // h, sedangkan

adalah dilatasi, maka

(g) dan

(h)

sejajar dengan g
c. Jika A, B, dac C adalah titik yang ditentukan, maka ada titik D yang
memenuhi hubungan

AB

DC

4.Carilah transformasi yang persamaannya

x ' =x +3
'
y =y 8

5. Dengan menggunakan Teorema 3.9, buktikan bahwa perkalian (komposisi)


dua translasi bersifat komutatif.

Bab 4
43

REFLEKSI
4.1 Persamaan untuk Refleksi
Refleksi ke garis m, yang dinyatakan dengan simbol m ,ialah pemetaan dengan
persamaan dengan aturan
m (P) =

jika Pterletak pada garis m


{Q , jika P tidak terletakP ,pada
garis m ,dan garis mmenjadi sumbu dari PQ

untuk setiap titik P


Teorema 4.1
(1) Refleksi m merupakan involusi (transformasi involutori) yang
mempertukarkan paruh-bidang yang dibentuk oleh garis m.
(2) Refleksi m menetapkan titik P jika dan hanya jika P terletak pada garis m.
(3) Refleksi m menetapkan titik-titik pada garis g jika dan hanya jika g = m.
(4) Refleksi m menetapkan garis h jika dan hanya jika h = m atau h m.
Perhatikan
Setiap garis membagi bidang datar menjadi 3 bagian, yaitu: garis lurus itu sendiri,
dan 2 paruh bidang. Maksud bagian 1 dari Teorema 4.1 di atas ialah bahwa
bayangan setiap titik di salah satu paruh bidang terhadap garis itu terletak pada
paruh bidang yang lain.
Teorema 4.2
Jika m adalah garis dengan persamaan aX + bY + c = 0, maka persamaan dari

m adalah
x ' x 2a (ax by c ) /(a 2 b 2 )

2
2
y ' y 2b(ax by c ) /(a b )

Matriks Refleksi Khusus

44

Jika

1 0

= 0 1 dan

1 0

= 0 1 , maka, untuk setiap (x,y) berlaku


x
X
y =

hubungan

1 0 x


0 1 y =

x

y

dan

x x
x
Y

y y = y
Jadi,

memetakan setiap titik (x,y) ke titik (x,-y), sedangkan

memetakan
setiap titik (x,y) ke titik (-x,y). Dengan kata lain,

merefleksikan

(mencerminkan)
setiap titik di bidang koordinat terhadap sumbu X, sedangkan

merefleksikan
(mencerminkan) setiap titik di bidang koordinat terhadap sumbu Y. Oleh karena
Itu, matriks-matriks di atas, berturut-turut, disebut matriks refleksi terhadap
sumbu X dan matriks refleksi terhadap sumbu Y.

45

4.2 Beberapa Sifat Refleksi


Beberapa sifat refleksi sudah disebut di dalam seksi-seksi sebelum ini, terutama
di dalam Teorema 4.1. Beberapa sifat lain yang dimiliki oleh refleksi akan
ditunjukkan dalam seksi ini.
Teorema 4.3
Refleksi merupakan suatu isometri.
Bukti
Akan dibuktikan bahwa untuk setiap dua titik A dan B, berlaku sifat AB = AB.
Ada beberapa kemungkinan:
(1)
(2)

A dan B terletak pada g


A terletak pada g, sedangkan B tidak terletak pada g, tetapi garis AB
tegaklurus pada g.

(3)

A terletak pada g, sedangkan B tidak terletak pada g, tetapi garis AB


tidak tegaklurus pada g.

(4)
(5)
(6)

A dan B keduanya tidak terletak pada garis g, keduanya terletak sepihak


terhadap garis g, sedangkan garis AB tegaklurus pada g.
A dan B keduanya tidak terletak pada garis g, garis AB // garis g
A dan B keduanya tidak terletak pada garis g, keduanya terletak sepihak
terhadap garis g, sedangkan garis AB tidak tegaklurus pada g dan juga tidak
sejajar dengan g.
(7) A dan B keduanya tidak terletak pada garis g, keduanya terletak berlawanan
pihak terhadap garis g, tetapi garis AB tegaklurus pada g.
(8) A dan B keduanya tidak terletak pada garis g, keduanya terletak berlawanan
pihak terhadap garis g, tetapi garis AB tidak tegaklurus pada g.

Bukti untuk kemungkinan (1)

46

Bukti untuk kemungkinan (2)


Bukti untuk kemungkinan (3)
Bukti untuk kemungkinan (4)
Bukti untuk kemungkinan (5)
Bukti untuk kemungkinan (6)
Bukti untuk kemungkinan (7)
Bukti untuk kemungkinan (8)
Teorema 4.4
Isometri merupakan kolineasi yang mempertahankan besar sudut dan sifat-sifat
kediantaraan, sebagai titik tengah ruas garis, sebagai ruas garis, sebagai sinar,
sebagai segitiga, sebagai sudut, dan ketegaklurusan.

4.3 Simetri
Definisi
Isometri disebut disebut simetri untuk himpunan H, apabila (H) =
H.
Garis g disebut garis simetri (sumbu simetri) untuk himpunan H, jika
H.

47

g (H) =

Titik T disebut titik simetri (titik pusat simetri) untuk himpunan H, jika

T (H) =

H.
Teorema 4.5
Jika H adalah himpunan titik pada bidang koordinat Cartesius, maka himpunan
semua simetri dari H merupakan grup.
Jika H ialah himpunan semua titik pada bidang datar, maka simetri pada H
adalah isometric. Oleh karena itu, Teorema 4.5 di atas menghasilkan teorema
berikut ini.
Teorema 4.6
Himpunan semua isometri merupakan grup.
Definisi
(1) Himpunan semua simetri pada himpunan H disebut grup simetri dari H,
atau grup simetri untuk H.
(2) Grup isometri ialah himpunan semua simetri untuk himpunan semua titik
pada suatu bidang (yang selalu dapat dianggap sebagai bidang koordinat
Cartesius), dengan operasi komposisi.
Simbol
Grup simetri dari himpunan H dinyatakan dengan symbol H .
Grup isometri bidang dinyatakan dengan simbol I .
Perhatikan bahwa V4 yang dibicarakan di Bab 3, dengan opetasi komposisi
transformasi, merupakan grup simetri untuk persegi-panjang, yang bukan
persegi.

4.4 Soal-soal
1. Buktikan bahwa setiap anggota dari H merupakan isometri.

48

2. Isilah tempat kosong dalam daftar berikut, dengan isian yang cocok
dengan ketentuan untuk baris yang bersangkutan.
No.

Persamaan Garis m

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.

X=0
Y=0
Y=X
Y=X
X=2
Y = -3
Y = -3

Y = 2X
3X + 4Y + 7 = 0

Titik P

m (P)

(x,y)

(x,y)
(-2,3)
(-4,-1)
(x,y)
(5,3)
(0,3)
(-y,-x)

(3,4)

(x,y)
(2,3)

(-8,3)
(-3,0)
(x,y)
(4,3)
.

3. Carilah bayangan dari titik-titik (0,0), (1,-3), (-2,1), dan (2,4), pada refleksi
ke garis dengan persamaan Y = 2X 5.

Bab 5
ISOMETRI DAN ROTASI

49

5.1 Isometri
Perhatukan dua titik sebarang A(x1,y1) dan B(x2,y2). Jika T(a,b) juga titik
sebarang, maka bayangan kedua titik A dan B pada setengan putaran

adalah, berturut-turut,
A = T (x1,y1) = (-x1+2a,-y1+2b) dan
B =

T (x2,y2) = (-x2+2a,-y2+2b)

Jarak antara A dan B adalah AB =

(x + x ) +( y + y )
2

= AB. Jadi,

setengah-putaran merupakan isometri. Karena setiap translasi dapat dinyatakan


sebagai hasil kali setengah lingkaran, maka dikatakan bahwa setengah putaran
membangkitkan grup H , yang merupakan gabungan dari himpunan semua
translasi dan himpunan setengah-putaran, dan setiap anggota dari grup itu
merupakan isometri.
Refleksi juga membangkitkan grup, yaitu grup isometri, grup I, karena dapat
dibuktikan bahwa setiap isometri merupakan refleksi atau hasil kali dari refleksi.
Kita perhatikan beberapa hal tentang isometri.
Misalkan P dan Q adalah dua titik yang berbeda, dan merupakan titik menetap
pada isometri

. Misalkan P dan Q terletak pada garis g, maka

(P) = P

dan (Q) = Q. Jika R adalah titik pada garis g (tetapi tidak berimpit dengan P
dan tidak berimpit dengan Q), maka jarak antara P dan R sama dengan jarak
antara

(P) dan

jarak antara

(R); demikian pula jarak antara Q dan R sama dengan

(Q) dan

jarak antara P dan


jarak antara Q dan

(R). Berarti jarak antara P dan R sama dengan

(R); demikian pula jarak antara Q dan R sama dengan


(R). Hal ini menunjukkan bahwa

Kesimpulan:

50

(R) = R.

Apabila suatu isometri mempunyai dua titik menetap pada suatu garis, maka
bayangan setiap titik pada garis itu merupakan titik menetap, yang berarti bahwa
garis tadi merupakan garis menetap, titik demi titik.
Selanjutnya dimisalkan K, L, dan M adalah tiga titik yang tidak kolinear, sedangkan

(K) = K,

adalah isometri yang bersifat bahwa

(M) = M. Jika P adalah sebarang titik, maka jarak


(L), dan

(L) = L, dan

(P) ke titik

(K),

(M), berturut-turut, sama dengan jarak titik P ke titik K, L, dan

M,
(K) = K,

Karena

(L) = L, dan

(M) = M, maka jarak titik

(P) ke

titik K, L, dan M, berturut-turut sama dengan jarak titik P ke titik K, L, dan M.


(P) berimpit dengan titik P. Karena titik P itu

Hal ini menunjukkan bahwa titik

adalah titik sebarang, maka dapat disimpulkan bahwa

merupakan

transformasi identitas.
Hasil di atas dirumuskan sebagai teorema sebagai berikut.
Teorema 5.1
(a) Setiap isometri yang menetapkan dua titik tentu menetapkan setiap titik
pada garis yang melalui kedua titik itu.
(b) Setiap isometri yang menetapkan tiga titik yang tidak kolinear
merupakan transformasi identitas.
Selanjutnya dimisalkan P, Q, dan R adalah tiga titik yang tidak kolinear, sedangkan

dan

adalah isometri yang bersifat bahwa

(P) =
Karena

(P), (Q) =

suatu isometri, maka

juga merupakan isometri. Karena


(R) =

(R), maka

-1

(Q), dan
-1

(R) =

(R).

dan komposisi (hasil kali)

(P) =

(P) = P,

(R) = R.

51

(P), (Q) =

-1

-1

(Q), dan

(Q) = Q, dan

-1

Jika S adalah sebaran titik, maka jarak titik

-1

(S) ke tiga titik P, Q, R

yang tidak kolinear, berturut-turut sama dengan jarak titik S ke titik P, Q, R. Hal
ini menunjukkan bahwa

-1

(S) = S.

Karena S itu adalah titik sebarang, dapat disimpulkan bahwa


untuk setiap titik T. Jadi dapat disimpulkan bahwa
transformasi identitas dan, oleh karena itu,

-1

-1

(T) = T

merupakan

= .

Hasil ini dirumuskan sebagai teorema sebagai berikut.


Teorema 5.2
Jika

dan

(Q), dan

(Q) =

maka

adalah isometri yang bersifat bahwa


(R) =

(P) =

(P),

(R). untuk tiga titik P, Q, R yang tidak kolinear,

Perhatikan
Teorema 5.2 menyatakan bahwa kalau ada isometri yang menetapkan tiga titik
yang tidak kolinear, maka isometri itu adalah satu-satunya isometri yang menetapkan ketiga titik itu. Dengan kata lain, kalau P, Q, R, adalah tiga titik yang
tidak kolinear, maka hanya salah satu dari dua kemungkinan berikut yang benar:
(1)
(2)

tidak ada isometri yang menetapkan ketiga titik itu,


ada tepat satu isometri yang menetapkan ketiga titik itu.

Teorema 5.3
Jika

adalah isometri yang menetapkan dua titik, maka

merupakan

refleksi atau transformasi identitas.

Selanjutnya kita perhatikan isometri


Misalkan C adalah suatu titik, dan
(C) = C, tetapi

(T)

yang menetapkan tepat satu titik


adalah isometri, yang bersifat bahwa

T, jika T bukan C.

Misalkan P adalah titik sebarang, bukan titik C, dan

(P) = P, maka P

P. Dibuat garis sumbu dari ruas garis PP. Namai garis sumbu itu garis s.

52

Karena

adalah isometri dan

(C) = C, maka CP = CP. Berarti titik C


s (C) = C dan

terletak pada garis s. Oleh karena itu,

s (P) = P.

(P), maka s . (C) = C dan

Karena C = (C) dan P =

s .

(P) = P. Hal ini menunjukkan bahwa isometri

s .

menetapkan dua titik,

yaitu C dan P.
Menurut Teorema 5.3,
Seandainya

s .

s .
= , mak

merupakan isometri atau merupakan refleksi.

-1

s , sehingga

s menetapkan setiap titik pada

menetapkan lebih dari satu titik, karena


garis s.
Kesimpulan

s .

merupakan suatu refleksi, misalnya

t . s

-1

, sehingg

= t . s

Hasil ini dirumuskan sebagai Teorema 5.4 sebagai berikut.


Teorema 5.4
Jika

adalah isometri yang menetapkan tepat satu titik, maka

merupakan hasil kali dari dua refleksi.


Teorema 5.5
Isometri yang menetapkan titik tentu merupakan refleksi atau merupakan hasil
kali dari dua refleksi.
Perhatikan
(1) Karena refleksi merupakan isometri, maka hasilkali dari refleksi juga
merupakan isometri.
(2) Untuk setiap garis g, berlaku hubungan

g . g

= , yaitu bahwa

transformasi identitas atau isometri identitas dapat dinyatakan sebagai


hasilkali dari dua refleksi.
Misalkan

adalah isometri yang bukan transformasi identitas,

sedangkan P adalah titik sebarang dan

(P) = P, maka P

Misalkan garis s adalah sumbu dari ruas garis PP, maka


s (P) = P.
53

P.

s . (P) =

Karena s .
Teorema 5.5)

adalah isometri yang menetapkan titik P, maka (menurut

s .

merupakan refleksi atau hasilkali dari dua refleksi.

Hal ini menunjukkan bahwa ada refleksi


sehingga

s .

= n . m

dan n

, sedemikian

(Faktor di ruas kanan, mungkin ada

yang merupakan transformasi identitas). Kita peroleh bahwa

= s .

n . m . Jadi dapatlah dirumuskan Teorema sebagai berikut.

Teorema 5.6
(a) Hasil kali dua atau lebih refleksi merupakan isometri.
(b) Setiap isometri merupakan refleksi, atau dapat dinyatakan sebagai hasilkali
dari dua refleksi, atau hasilkali dari tiga refleksi.
Perhatikan.
(1) Dua atau beberapa ruas garis dikatakan kongruen jika ruas-garis ruas-garis
itu sama panjang.
(2) Dua atau lebih sudut dikatakan kongruen dikatakan kongruen jika sudutsudut itu sama besar.
(3) Dua segitiga dikatakan kongruen jika ada korespondensi satu-satu antara
keenam kompenen segitiga (tiga sudut dan tiga sisi) sedemikian sehingga
setiap komponen yang bersesuaian kongruen.
(4) Tiga atau lebih segitiga dikatakan kongruen apabila setiap dua segitiga dari
segitiga-segitiga itu kongruen.
Teorema 5.7
Jika PQR
(P) = A,

ABC, maka ada tepat satu isometri


(Q) = B, dan

yang bersifat bahwa

(R) = C.

Teorema 5.8
(1) Dua ruas garis kongruen jika dan hanya jika ada satu isometri yang
memetakan ruas garis yang satu ke ruas garis yang lain.

54

(2) Dua sudut kongruen jika dan hanya jika ada satu isometri yang
memetakan sudut yang satu ke sudut yang lain.
(3) Dua ruas garis kongruen jika dan hanya jika ada satu isometri yang
memetakan segitiga yang satu ke segiotiga lain.

5.2 Rotasi
Rotasi sekeliling titik P dengan sudut berarah
simbol

P ,

o , yang dinyatakan dengan

adalah transformasi yang menetapkan titik P (memetakan titik P

ke titik P) dan memetakan titik sebarang T yang tidak berimpit dengan P ke titik T
sedemikian sehingga PT = PT dan sudut berarah TPT berukuran

o .

Titik P itu disebut titik pusat rotasi. Sudut berarah itu disebut sudut rotasi, dan
ditetapkan sebagai sudut berukuran positif jika dari sinar garis PT ke sinar garis
PT, arah putarnya berlawanan dengan arah putar jarum jam.
Rotasi sekeliling suatu titik dengan sudut rotasi 0 o ialah iota (transformasi
identitas).
Misalkan

P ,

memetakan titik A ke titik A dan memetakan titik B ke titik B.

Jika P, A, dan B kolinear, maka P, A, dan B juga kolinear dan AB = AB.


Jika P, A, dan B tidak kolinear, maka APB

APB , dengan AB = AB.

Jadi, dapat disimpulkan bahwa rotasi adalah suatu isometri.


Teorema 5.9
Setiap rotasi merupakan isometri.
Teorema 5.10
(1) Rotasi yang bukan iota menetapkan tepat satu titik, yaitu titik pusat rotasi.

55

(2) Pada rotasi

P ,

, bayangan setiap titik pada lingkaran yang berpusatkan

titik P adalah titik yang terletak pada lingkaran itu juga.

5.3 Matriks Rotasi


Salah satu transformasi bidang adalah rotasi (perputaran) bidang koordinat sikusiku, sekeliling (mengitari) titik asal O(0,0) dengan sudut rotasi (sudut putar) .
Pada rotasi ini setiap titik P(x,y) dipetakan ke titik P(x,y), yang memiliki sifatsifat sebagai berikut.
(1)

OP = OP
(2) Besar sudut POP sama dengan = (jika ukuran sudut ini dinyatakan
dengan bilangan positif, maka arah perputaran adalah sama dengan arah
putar jarum jam).

uuu
r
Dalam penulisan di atas, OP menyatakan panjang (besar) vector OP . Demikian
uuuu
r
OP
'.
pula, OP menyatakan panjang vector
r
uuu
r
r
uuu
r
2
2
j
OP
i
OP
Jadi,
= x + y , dan OP = |
| = ( x) ( y ) .
Misalkan sudut antara OP dan sumbu X adalah . Berdasarkan kedua sifat itu,
dengan menggunakan aljabar vektor, dapat diperoleh hal-hal sebagai berikut.
r
r
uuu
r
r
r
OP = x i + y j = (OP cos ) i + (OP sin ) j
r
r

= (OP cos ) + (OP sin ) j


r
uuuu
r
r
OP ' = x i + y j
r
r

i
= OP cos( + ) + OP sin( + ) j
r
r

= OP (cos cos - sin sin ) i + OP(sin cos + cos sin ) j

56

r
= [(OPcos ) cos - (OPsin ) sin ] i +
r
[(OPsin ) cos + (OPcos ) sin ] j
r
= [(OP cos ) cos - (OP sin ) sin ] i +

[(OP sin ) cos + (OP


cos ) sin ] j
r
r

i
= [(x cos ) - (y sin )] + [(y cos ) + (x sin )] j .

Jadi,

x = x cos - y sin

dan

y = y cos + x sin

x.cos y.sin

x.sin y.cos

atau

x '

y ' =

atau

x '
cos

y ' = sin

cos

Matriks sin

sin

cos
disebut matriks rotasi, untuk rotasi sekeliling titik asal

sin x

cos y

O(0,0), dengan sudut rotasi .


Matriks rotasi ini memetakan setiap titik (x,y) dalam bidang koordinat ke titik
(x cos - y sin , y cos + x sin ) dalam bidang koordinat itu juga.
Jika rotasi sekeliling titik O(0,0) dilakukan dengan sudut putar sebesar tadi
tetapi dengan arah putar yang berlawanan dengan arah putar di atas, maka
dikatakan bahwa rotasi yang baru ini adalah rotasi sekeliling titik O(0,0) dengan
sudut putar - .

57

Matriks rotasi sekeliling titik O(0,0) dengan sudut rotasi - adalah


cos( ) sin( )

sin( ) cos( )

cos
sin

atau

sin

cos

Persamaan rotasi sekeliling titik P(a,b), dengan sudut rotasi .adalah


x- a = (x-a) cos

(y-b) sin

dan y - b = (yb) cos

+ (x-a) sin

( x a ).cos ( y b).sin

( x a ).sin ( y b).cos

atau

x ' a

y ' b =

atau

x ' a
cos

y ' b = sin

sin x a

cos y b

5.4 Rotasi dan Refleksi


Misalkan g adalah garis (lurus) yang melalui titik asal, O(0,0), dan
membentuk sudut dengan sumbu X positif, sedangkan T(x,y) adalah
sebarang titik. Apabila diterapkan rotasi sekeliling titik O(0,0), dengan sudut
rotasi - , lalu diterapkan refleksi terhadap sumbu X, dan kemudian diterapkan
rotasi sekeliling titik O(0,0), dengan sudut rotasi , maka:
(1) bayangan titik T(x,y) pada
(2) bayangan titik T1 pada

O ,

adalah titik T1,

adalah titik T2

(3) bayangan terakhir dari titik T(x,y) adalah titik T, yang merupakan
bayangan titik T2 pada

O , .

Koordinat titik T1 adalah (x1,y1) dengan


x1 = x cos

+ y sin

dan

y1 = -x sin

+ y cos

Koordinat titik T2 adalah (x2,y2) dengan


x2 = x cos

+ y sin

dan y2 = - (-x sin

Koordinat titik T adalah (x,y) dengan

58

+ y cos

x =

dan

y =

Bayangan terakhir dari titik T adalah bayangan cermin dari titik seandainya titik T
direfleksikan (dicerminkan) terhadap garis g. Dengan kata lain, rangkaian
ketiga transformasi tersebut sama dengan refleksi terhadap garis g. Jika

menyatakan refleksi terhadap garis g itu, maka F g sama (ekuivalen) dengan


komposisi

O , . X . O,

Sifat itu dapat dinyatakan dengan notasi

atau

cos

= sin

g =

O , X

O ,

sin 1 0 cos( ) sin( )


cos 2



cos 0 1 sin( ) cos( ) = sin 2

sin 2

cos 2

Bab 6
KOMPOSISI REFLEKSI
6.1 Translasi dan Rotasi
Menurut Teorema 5.6, setiap isometri adalah refleksi, atau hasil kali dari dua
refleksi, atau hasil kali dari tiga refleksi. Jadi, setiap isometri dapat dinyatakan
sebagai salah satu dari tiga bentuk berikut.
(1) g
(2) n . m
(3) r . q . p

59

Dimisalkan g dan h adalah dua garis (berbeda) yang sejajar, titik G terletak pada
garis g, dan titik H terletak pada garis h, sedemikian sehingga garis GH
tegaklurus pada garis g dan h tersebut. Jarak berarah dari garis g ke garis h,
ialah jarak berarah dari titik G ke titik H.
Dimisalkan lagi K adalah titik pada garis g, yang tidak berimpit dengan titik G.
Selanjutnya, dimisalkan G =

h (G) dan K =

' (K), maka menurut Teorema

3.1 dan Teorema 3,2:


(1)

KK '

= '

(2) segiempat GKKG berbentuk persegipanjang, dan


(3) garis h merupakan garis sumbu ruas garis GG dan ruas garis KK.
Oleh karena itu,
=

h (K) = K. Kemudian, dimisalkan J =

g (H), maka JH

' .

Perhatikan bahwa

'

GH .
merupakan translasi dengan dua kali vector

Kita peroleh hasil-hasil sbb.


(a)
(b)

h . g (J) = h (H) = H = ' (J)


h . g (K) = h (K) = K = ' (K)

60

(c)

h . g (G) = h (G) = G = ' (G).

Menurut Teorema 5.2, dari ketiga hubungan ini dapat disimpulkan bahwa
h . g =

'

= ( GH )2

Hasil itu dirumuskan menjadi teorema sebagai berikut.


Teorema 6.1
Jika g dan h dua garis berbeda yang sejajar, maka hasil kali

h . g

merupakan translasi dengan arah tegak lurus pada garis g dan h dan dengan
jarak berarah yang sama dengan dua kali jarak berarah dari garis g ke garis h.
Dalam uraian yang menghasilkan Teorema 6.1 di atas, titik H merupakan titik
tengah ruas garis GG. Menurut Teorema 3.6,

H G =

'

G' H .

Gabungan dari sifat ini dan Teorema 6.1 menghasilkan teorema berikut.
Teorema 6.2
Jika g dan h adalah dua garis (berbeda) yang sejajar, dan ada garis yang
tegaklurus pada garis g di titik G dan tegaklurus pada garis h di titik H, maka
h g = ( GH )2 =
Di atas kita peroleh hubungan

'

H G

= H G , jika titik H merupakan titik

tengah ruas garis GG. Menurut Teorema 6.2 di atas, jika garis g tegaklurus pada
garis m di titik G, dan garis h tegaklurus pada garis m di titik H, maka

H G =

h g .
Sekarang, misalkan

PR

adalah translasi yang bukan identitas, dan titik Q

adalah titik tengah ruas garis PR, maka

Q . P =

PR . Selanjutnya, jika p

adalah garis melalui titik P dan tegalklurus pada garis PR, dan q adalah garis
melalui titik Q dan tegaklurus pada garis PR, maka
PR

61

q . p

= Q . P =

Jadi, p // q dan

PR

= q . p . Hasil ini dirumuskan sebagai teorema,

sebagai berikut.
Teorema 6.3
Setiap translasi merupakan hasil kali (komposisi) dari dua refleksi pada dua garis
sejajar. Sebaliknya, hasilkali dua refleksi pada dua garis sejajar merupakan
suatu translasi.

Misalkan p, q, r adalah tiga garis (berbeda) yang sejajar satu sama lain, sedangkan garis b adalah garis yang tegaklurus pada garis p di titik P, tegaklurus pada
garis q di titik Q, dan tegaklurus pada garis r di titik R, maka ada tepat satu titik G
pada garis b dan tepat satu titik H pada garis b, yang memenuhi hubungan
1
. Q . P = G
R

dan

Q . P . 1
R

H.

Kedua persamaan ini dapat dituliskan sebagai hubungan berantai:


Q . P =

R . G

= H . R

Ini berarti ada tepat satu titik G dan tepat satu titik H pada garis b, yang memenuhi hubungan

Q . P =

R . G

= H . R . Hal ini menunjukkan

bahwa ada tepat satu garis g, yaitu garis yang melalui titik G dan tegaklurus pada
garis b, dan tepat satu garis h, yaitu garis yang melalui titik H dan tegaklurus
pada garis b, yang memenuhi hubungan

q . p

r . g =

Hasil ini dirumuskan sebagai teorema, yaitu teorema sebagai berikut.


Teorema 6.4
62

h . r

Jika garis p, q, r, bersama-sama tegaklurus pada suatu garis b, maka ada tepat
satu garis g dan tepat satu garis h, yang keduanya tegaklurus pada garis b,
sedemikain sehingga

q . p

= r . g

= h . r

Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa jarak berarah dari titik P ke titik Q
sama dengan jarak berarah dari titik G ke titik R, dan sama dengan jarak berarah
dari titik R ke titik H.
T-----P-----T----Q----T-------G------------R--------------------S
a

c+d

Karena SG = TG, maka gambar menunjukkan bahwa 2a + 2b + c = d + c+d,


sehingga d = a+b, yang berarti bahwa GR = PQ. Jadi, kalau titik P, Q, dan R
sudah ditentukan, maka titik G dapat dicari (dilukis), karena sudah dapat
diketahui jaraknya terhadap titik R.
Dari persamaan transformasi itu, dapat diketahui bahwa kalau titik P di sebelah
kiri titik Q, maka titik G terletak disebelah kiri titik R.
Teorema 6.5
Untuk setiap dua titik P dan Q, transformasi
hasil kali

PQ

dapat dinyatakan sebagai

h . g , dengan g sebarang garis yang tegak lurus pada garis PQ,

sedangkan h adalah garis tegak lurus pada garis PQ yang letaknya tertentu oleh
(tergantung pada) garis g.
Teorema 6.6
Apabila p, q, r, adalah garis-garis yang tegak lurus pada garis b, maka hasil kali
(komposisi) r q p

merupakan suatu refleksi pada sebuah garis s yang tegak

lurus pada garis b.


Teorema 6.7

63

Jika g dan h adalah dua garis yang berpotongan di titik T, dan besar sudut
berarah dari g ke h adalah

, maka h . g

T , 2

Teorema 6.8
Setiap rotasi dapat dinyatakan sebagai hasil kali (komposisi) dua refleksi pada
dua garis yang berpotongan. Sebaliknya, hasil kali (komposisi) dua refleksi pada
dua garis yang berpotongan meruapakan suatu rotasi.

TA ,
TB , dan
TC ,
Jika ditentukan tiga sinar garis (yang berlainan)

P dan tepat satu sinar garis


TQ , yang
maka ada tepat satu sinar garis T
TP ke
TC dan sudut berarah dari
TC
bersifat bahwa sudut berarah dari
TQ sama dengan sudut berarah dari
TA ke
TB . Jika garis a adalah
ke

garis TA, garis b adalah garis TB, garis c adalah garis TC, garis p adalah garis
TP, dan garis q adalah garis TQ, maka sifat di atas dapat dirumuskan dalam
bentuk hubungan taransformasi, menjadi Teorema 6.9, Teorema 6.10, dan
Teorema 6.11 sesuai dengan Teorema 6.4, Teorema 6.5, dan Teorema 6.6,
sebagai berikut.
Teorema 6.9
Jika p, q, dan r, adalah tiga garis yang melalui titik T, maka ada garis g dan h,
sedemikian sehingga

q p = r g

= h r . Kedua garis g dan h itu juga

melalui titik T.

64

Teorema 6.10
Untuk setiap rotasi

T , dan garis g yang melalui titik T, ada tepat satu garis h,

yang melalui titik T sedemikian sehingga

h g , dan ada tepat satu garis m

yang melalui titik T sedemikian sehingga

g m .

Teorema 6.11
Jika g, h, dan m adalah tiga garis yang melalui satu titik T, maka hasil kali
m . h . g
Karena

merupakan refleksi ke suatu garis yang melalui titik T.


T , 180 =

, maka dari Teorema 6.10 dapat dihasilkan teorema

berikut.
Teorema 6.12
Setengah putaran

dapat dinyatakan sebagai hasil kali (komposisi) dua

refleksi ke sebarang dua garis yang berpotongan tegaklurus di titik T.


Untuk setiap garis g dan setiap titik T, berlaku hubungan

g g

= PP

T , 0 = .
Rotasi mempunyai tepat satu titik menetap, sedngkan translasi yang bukan
identitas tidak mempunyai titik menetap. Dengan memperhatikan hal-hal ini,
dapat dihasilkan teorema berikut.
Teorema 6.13
(1) Jika hasil kali dari dua refleksi tidak merupakan transformasi identitas, maka
hasil kali itu merupakan sebuah translasi atau merupakan satu rotasi.
(2) Jika hasil kali dari dua refleksi merupakan transformasi identitas, maka hasil
kali itu sekaligus merupakan translasi dan rotasi, yaitu translasi identitas
yang sekaligus merupakan rotasi identitas.

65

6.2 Titik Menetap dan Involusi


Titik Menetap atau Titik Invarian
Titik T disebut titik menetap pada transformasi
merupakan titik menetap paada transformasi
transformasi

jika

(T) = T. Jika titik T

, maka dikatakan juga bahwa

menetapkan titik T.

Hasil kali tiga refleksi yang sudah kita bicarakan terbatas pada tiga refleksi ke
garis-garis yang sejajar dan tiga refleksi ke garis-garis yang melalui satu titik
(berpotongan di satu titik).
Menurut Teorema 5.5, isometri yang mempunyai titik menetap adalah refleksi
atau hasil kali dua refleksi. Rotasi juga mempunyai satu titik menetap, tetapi
rotasi kan juga merupakan refleksi terhadap suatu garis yang melalui titik pusat

66

rotasi. Kecuali hal-hal itu, isometri yang mempunyai titik menetap ialah tarnslasi
dengan vektor nol. Karena translasi yang bukan identitas tidak mempunyai titik
menetap, sedangkan rotasi yang bukan identitas hanya mempunyai satu titik
menetap, maka dapat dirumuskan teorema sebagai berikut.
Teorema 6.14
a. Isometri yang mempunyai tepat satu titik menetap adalah rotasi.
b. Isometri yang mempunyai titik menetap adalah rotasi atau refleksi.

Isometri Involutori
Ingat bahwa involusi ialah transformasi yang berordo dua. Jadi involusi adalah
transformasi yang bukan transformasi identitas tetapi inversnya adalah
transformasi itu sendiri.
Isometri involutori yang ialah isometri yang merupakan involusi. Jadi
isometri involutori adalah isometri yang bukan transformasi identitas, tetapi
inversnya adalah isometri itu sendiri.
Misalkan adalah isometri involutori (isometri yang merupakan involusi,
isometri yang bukan transformasi identitas tetapi bersifat

= ). Karena

bukan trans-formasi identitas, maka ada titik P dan Q sedemikian sehingga


(P) = Q

P.

67

Karena P =

(P) =

(P) = ( (P)) = (Q), maka

mempertukarkan titik P dengan Q (Maksudnya: titik P adalah bayangan dari titik

Q, dan sebaliknya, titik Q adalah bayangan dari titik P). Oleh karena itu,
menetapkan titik tengah dari ruas garis PQ. Dapat disimpulkan bahwa

adalah rotasi atau refleksi. Karena rotasi yang merupakan involusi hanya
setengah-putaran, maka

merupakan refleksi atau setengah putaran.

Kesimpulannya dapat dirumuskan menjadi teorema sebagai berikut.


Teorema 6.15
Transformasi yang merupakan isometri involutori adalah refleksi atau setengah
putaran.
Selanjutnya dapat dibuktikan teorema berikut.
Teorema 6.16
Rotasi yang bukan transformasi identitas, yang menetapkan sebuah garis lurus
adalah setengah putaran.

Bab 7
ISOMETRI
7.1 Isometri Genap dan Isometri Ganjil
Hasilkali dua refleksi merupakan suatu translasi atau merupakan suatu rotasi.
Translasi yang bukan identitas tidak mempunyai titik menetap, sedangkan rotasi
yang bukan identitas mempunyai tepat satu titik menetap. Karena refleksi
mempunyai takberhingga banyaknya titik menetap, maka translasi (yang bukan

68

identitas) maupun rotasi (yang bukan identitas) tidak mungkin merupakan


refleksi.
Jadi, tidak ada hasil kali dari dua refleksi yang berbeda (dan bukan identitas)
yang merupakan refleksi.
Dapat pula dikatakan bahwa tidak ada tiga garis g, h, m, yang memenuhi
m . h

persamaan

= g untuk refleksi-refleksi yang berbeda dan bukan

identitas/iota.
Mengapa tidak ada 3 garis yang demikian? Karena
atau satu titik tetap saja, sedangkan

m . h

mempunyai nol

mempunyai titik tetap yang

takberhingga banyaknya.
Jika suatu isometri dapat dinyatakan sebagai hasilkali n refleksi, maka isometri
itu dapat pula dinyatakan sebagai hasilkali dari n+2 refleksi, n+4 refleksi, n+6
refleksi, dst., karena hasilkali trasformasi tidak akan berubah jika kita kalikan
dengan

g . g

Definisi
(a) Isometri yang sama dengan hasilkali dari refleksi yang banyaknya genap,
disebut isometri genap.
(b) Isometri yang sama dengan hasilkali dari refleksi yang banyaknya ganjil,
disebut isometri ganjil..
Hasilkali dari dua refleksi (yang bukan identitas) tidak mungkin merupakan
refleksi (yang bukan identitas); tetapi hasilkali dari tiga refleksi mungkin
merupakan satu refleksi (Perhatikan Teorema 6.11).
Misalkan ditentukan sebuah titik R dan dua garis (yang berbeda) p dan q,
maka ada garis r melalui titik R dan ada garis g, sedemikian sehingga
q . p

= g . r

Bukti

69

(a) Jika p // q, dipilih garis r yang melalui titik R dan sejajar dengan p dan q.
Menurut Teorema 6.4 ada garis g sedemikian sehingga

q . p

g .

r
(b) Jika p dan q tidak sejajar, namailah titik potong antara garis p dan garis q itu
titik C. Dipilih garis r yang melalui titik C dan titik R. Dalam hal demikian,
misalkan sudut berarah dari p ke q itu

, kemudian lukislah garis g

melalui titik C sedemikian sehingga sudut berarah dari r ke g juga


q . p

maka

g . r . (Teorema 6.9)

Jadi, jika ditentukan sebuah titik R dan dua garis (yang berbeda) p dan q, maka
ada garis r melalui titik R dan ada garis g, sedemikian sehingga

q . p

g . r
Selanjutnya kita perhatikan perkalian sebarang 4 refleksi

d . c . b .

a ,
Diketahui garis a, b, c, dan d. Ditunjuk sebarang titik A pada garis a. Menurut
hasil di atas, ada garis g melalui titik A dan ada garis h, sedemikian sehingga =
c . b

h . g .

Setelah garis h tertentu, ada garis r melalui titik A dan ada garis s, sedemikian
sehingga

d . h

= s . r

Karena garis a, g, dan r melalui satu titik, yaitu titik A, maka ada garis m yang
melalui titik A sedemikian sehingga
Kita peroleh hubungan
. r . g . a

r . g . a

d . c . b . a

= m . [Teorema 6.11]
d . h . g . a

= s

= s . m

Hasil ini dirumuskan sebagai teorema sebagai berikut.


Teorema 7.1
Setiap hasilkali dari 4 refleksi dapat dinyatakan sebagai hasilkali dari 2 refleksi.
Berdasarkan Teorema 7.1 ini, kalau n adalah bilangan genap yang lebih besar
dari 3, maka hasil kali dari n refleksi dapat dinyatakan sebagai hasilkali dari 2

70

refleksi, dan kalau n adalah bilangan gamjil yang lebih besar dari 3, maka
hasilkali dari n refleksi dapat dinyatakan sebagai hasilkali dari 3 refleksi.
Sifat ini menunjukkan bahwa suatu isometri tidak mungkin sekaligus genap dan
ganjil.
Teorema 7.2
Isometri genap merupakan hasilkali dari dua refleksi.
Isometri ganjil merupakan suatu refleksi atau hasilkali dari 3 refleksi.
Tiadak ada isometri yang sekaligus merupakan isometri genap dan isometri
ganjil.
Teorema 7.3
Isometri involutori yang merupakan isometri genap, adalah setengah putaran.
Isometri involutori yang merupakan isometri ganjil adalah refleksi
Teorema 7.4
Himpunan semua isometri genap merupakan grup.
Simbol
Grup yang merupakan himpunan semua transformasi genap, dinyatakan dengan
simbol E
Teorema 7.5

Untuk setiap titik T, setiap gsris g, dan setiap isometri


. g . 1

(g)

dan

berlaku hubungan

. T . 1

= (T )

Teorema 7.6
a. Untuk setiap isometri genap
sudut , berlaku hubungan
C , . 1

, setiap titik A, B, C, dan setiap ukuran


. AB . 1

(C ),

71

(A ). (B)

dan

b. Untuk setiap isometri ganjil


, berlaku hubungan
1

, setiap titik A, B, C, dan setiap ukuran sudut

. AB . 1

(A ). (B)

. C , .

dan

(C ),

Teorema 7.7
Jika A dan B adalah dua titik yang berbeda, sedangkan
A,

adalah rotasi yang bukan iota, maka

A,

dan

B ,

B ,

Teorema 7.8
g . h

= h . g

jika dan hanya jika g = h atau g h

Teorema 7.9
a. Jika

+ o

= 0o, maka hasil rotasi dengan sudut

rotasi dengan sudut o merupakan suatu translasi.


0o, maka hasil rotasi dengan sudut
b. Jika o + o
dengan rotasi dengan sudut

diikuti dengan
o

diikuti

merupakan suatu rotasi dengan sudut

o + o .
c. Hasil dari suatu translasi diikuti dengan rotasi dengan sudut 0 o, yang bukan
rotasi identitas, merupakan rotasi dengan sudut o
d. Hasil dari suatu rotasi dengan sudut o , yang bukan rotasi identitas,
diikuti dengan translasi, merupakan suatu rotasi dengan sudut o .
e. Hasil dari tarslasi diikuti dengan translasi, merupakan suatu translasi.

7.2 Grup Dihedral

72

Di Bab 4 sudah didefinisikan simetri, garis simetri, dan titik simetri, yaitu sebagai
berikut.
(a) Isometri

disebut simetri untuk himpunan H, apabila (H) = H.

(b) Garis g disebut garis simetri atau sumbu simetri untuk himpunan H, jika
g (H) = H.
(c) Titik T disebut titik simetri (titik pusat simetri) untuk himpunan H, jika
T (H) = H.
Segi-empat beraturan (persegi atau bujursangkar) mempunyai 4 sumbu simetri,
dan 1 titik simetri.
Misalkan ABCD adalah persegi yang titik-titik sudut A(a,0), B(0,a), C(-a,0), dan
D(0,-a), dengan a > 0, sedangkan

dengan sudut rotasi +90o, dan

adalah refleksi terhadap sumbu X, maka

adalah rotasi sekeliling titik asal, O(0,0),

2 ,

2 ,

persegi itu mempunyai 8 simetri (yang berbeda), yaitu ,

3 , ,

3 . Himpunan kedelapan simetri itu merupakan grup simetri

untuk persegi ABCD.


Grup itu disebut grup dihedral persegi ABCD, dan lazim dinyatakan dengan
symbol D4. Jadi D4 adalah {,

2 ,

3 , ,

2 ,

3 }.

Tabel Cayley untuk D4 adalah sebagai berikut.


D4

2
3

2
3

2
2
3

2
3

Himpunan semua isometri genap dalam D4 adalah { ,

3
3

2
3

2

3

2

3

D1 adalah grup simetri dari segitiga sama-kaki yang tidak sama-sisi.


D2 adalah grup simetri dari persegi-panjang (yang bukan persegi)
D3 adalah grup simetri dari segitiga sama-sisi.
73

}.

2
2
3

2
3

3
3

Untuk setiap bilangan bulat positif n ada grup dihedral D n.


Subgrup dari Dn, yang terdiri atas semua isometri genap dalam D n, dinyatakan
dengan symbol Cn. Subgrup itu dinyatakan dengan symbol C n karena merupakan
grup cyclic berordo n.
Teorema 7.10
Untuk setiap bilangan bulat positif n, ada poligon yang memiliki grup simetri D n
dan poligon yang memiliki grup simetri Cn.

E, maka ABC DEF B

A A A A A A
74

E, maka ABC DEF

75