Anda di halaman 1dari 26

KULIAH LAPANGAN

MATA KULIAH GEOMORFOLOGI

JUDUL LAPORAN

INTERPRETASI MORFOLOGI SUNGAI CIBOGO CITATAH PADALARANG


MELALUI STUDI LAPANGAN DAN CITRA SATELIT

Kelas :
Geologi B

FAKULTAS TEKNIK GEOLOGI


UNIVERSITAS PADJADJARAN
SUMEDANG
2013

DAFTAR ISI

Daftar Isi...................................................................................................................... i
Abstrak ........................................................................................................................ii
BAB I .......................................................................................................................... 1
1.1 Latar belakang .................................................................................................. 1
1.2 Tujuan ............................................................................................................... 2
1.3 Waktu dan Lokasi ............................................................................................. 2
BAB II ......................................................................................................................... 2
2.1 Geologi Umum ..................................................................................................... 3
2.1.1 Fisiografi Regional ......................................................................................... 3
2.1.2. Stratigrafi Regional....................................................................................... 3
2.1.3 Tektonik dan Struktur Geologi Regional......................................................... 4
2.1.4 Geologi Sejarah Regional .............................................................................. 5
BAB III ........................................................................................................................ 7
BAB IV...................................................................................................................... 20
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................. 26

Abstrak

Kuliah lapangan geomorfologi ini dilakukan bersamaan dengan kuliah


lapangan geologi dasar dengan metode observasi lapangan. Kuliah lapangan ini
dilakukan di daerah Padalarang Desa Cipatat Sungai Cibogoh. Kami melaksanakan
observasi sepanjang sungai cibogoh dan melakukan plotting 4 lokasi sepanjang pola
aliran sungai dari hilir ke hulu Pada lokasi pertama ditemukan kekar tarik (Tensinal
Joint) yang terisi oleh mineral karbonat dan pada lokasi tersebut ditemukan lipatan
recumbent fold yang mengindikasikan daerah tektonik.Lokasi pertama yaitu sungai
yang terletak dibawah jembatan memiliki koordita S 06 5006.3 / E 1072446.0 .
Pada lokasi kedua dengan koordita S 06 5006.7 / E107 2445.8 ditemukan lapisan
terra rosa yang mengindikasikan bentangalam karst yang dimana pola aliran
sungainya multi basinal
Lokasi ketiga ditemukan struktur sedimen sekuder yaitu bioturbation yang
menununjukan sungai ci bogoh dulunya merupakan lingkungan pengendepan purba
dengan koordiat S 06 5009.6 / E 107 2447.1 dan lokasi terakhir ditemukan zona
off set dan ekspoliasi yang merupakan zona hancuran.Pada daerah padalarang
merupakan bentang alam karst yang dilalui sungai cibogoh dengan pola aliran
multibasinal.

BAB I
PENDAHULUAN
Indonesia memiliki bentang alam yang kompleks, selain dengan cincin api
nya indonesia juga memiliki bentang alam karst. Indonesia diperkirakan memiliki
kurang lebih 15,4 juta hektar kawasan Karst atau 20 persen dari total luas wilayah
Indonesia. Karst merupakan topografi unik yang terbentuk akibat adanya aliran air
pada bebatuan karbonat (biasanya berupa kapur, dolomit atau marmer). Proses
geologi ini, terjadi selama ribuan tahun, menghasilkan permukaan yang luar biasa
mulai dari pembentukan lubang-lubang vertikal, sungai-sungai dan mata air bawah
tanah, hingga gua dan sistem drainase bawah tanah yang kompleks (BPLHD Jawa
Barat, 2009). Menurut Eko Haryono (2009) Karst berarti lahan gersang berbatu.
Istilah ini di negara asalnya sebenarnya tidak berkaitan dengan batugamping dan
proses pelarutan, namun saat ini istilah kras telah diadopsi untuk istilah bentuklahan
hasil proses perlarutan.
Salah satu kawasan kawasan Karst yang terdapat di Jawa Barat adalah
kawasan

Karst

Citatah-Rajamandala

yang

membentang

dari

Rajamandala

(perbatasan Kab. Bandung Barat-Cianjur) sampai Padalarang dengan panjang


kurang lebih 27 Km. Secara Administratif kawasan karst Citatah termasuk kedalam
Kecamatan Cipatat Kabupaten Bandung Barat dengan luas wilayah 10.320 ha
berupa lahan sawah 1.794 ha dan tanah darat 8.526 ha.

1.1 Latar belakang


Daerah kuliah lapangan kali ini termasuk pada Peta Geologi

Lembar

Arjawinangun dan terdiri dari litologi yang bervariasi dengan aspek geomorfologi,
stratigrafi, struktur geologi yang menarik untuk dipelajari karena belum semuanya

terungkap dengan jelas dan terperinci. Ditinjau dari morfologinya, daerah ini memiliki
banyak sekali kenampakan-kenampakan yang menarik, seperti halnya terdapat
bukit-bukit

yang

terjadi

karena

aktivitas

tektonik.

Selain

mempelajari

kenampakannya, kelompok juga mempelajari bagaimana awal pembentukannya.


1.2 Tujuan
Tujuan dari dilaksanakannya kuliah lapangan ini adalah untuk mengetahui unsurunsur dan proses-proses geomorfologi yang sudah terjadi dan yang sedang berjalan
dan untuk mempelajari gambaran umum dari struktur geologi yang didalamnya
mencakup batuan penyusun, asal mula dan strukturnya.
1.3 Waktu dan Lokasi
Kuliah lapangan ini dilaksanakan pada tanggal 27 Mei 2012 yang berlokasi di
dalam wilayah kecamatan Bantarujeg, Kabupaten Majalengka, Propinsi Jawa Barat.
Secara geografis daerah ini terletak pada posisi antara 1081000 BT - 1081500
BT dan 65730 LS - 70230 LS

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Bentang Alam Terpatahkan
Patahan atau seringkali juga disebut sesar (fault) adalah gejala geologi yang
berhubungan dengan pergerakan kulit bumi. Bila sesar ini sampai ke permukaan
bumi maka akan mempengaruhi bentuk roman muka bumi di tempat itu, dengan
demikian mempengaruhi bentuk bentangalam. Bila dapat mengetahui bentuk
bentangalam maka dapat pula ditafsirkan adanya pensesaran di suatu daerah.
Sesar dapat dibagi atas sesar naik, sesar normal, dan sesar mendatar atau
sesar geser jurus (strike-slip fault, wrench fault, tear fault) tergantung kepada arah
pergerakan. Sesar naik dijumpai bila blok di bawah bidang patahan bergerak relatif
ke atas, sedangkan pada sesar normal terjadi sebaliknya. Pada sesar geser jurus
dan sesar mendatar, atau disebut juga sesar horisontal, gerakanterjadi bersesuaian
dengan arah jurus. Gerakan ini adalah gerakan mendatar. Bila blok relatif bergerak
ke kiri dalam hal kita menghadap bidang patahan, dinamakan sinistral, sedangkan
sebaliknya dinamakan dextral. Pada umumnya sesar yang dijumpai di alam
merupakan gabungan antara gerakan-gerakan tersebut.
2.2 Bentang alam terlipatkan
Batuan endapan terbentuk dengan cara pengendapan bahan-bahan yang
dibawa oleh air. Oleh karena itu, pada waktu pembentukannya batuan endapan
berada dalam keadaan mendatar atau horisontal. Keanekaragaman bahan
mempengaruhi batuan endapan sehingga akan terbentuk berlapis-lapis dan
perlapisannya terletak secara horisontal. Berkaitan dengan hal tersebut, dalam
posisi normal makin ke arah atas letaknya maka dengan sendirinya makin muda.
Dalam stratigrafi, hukum tersebut dinamakan hukum superposisi. Bila tenaga asal

dalam (endogen) bekerja pada daerah itu maka batuan endapan akan mengalami
gangguan. Mungkin letaknya tidak horisontal lagi atau justru terlipat membentuk
lipatan (fold) baik antiklin maupun sinklin, atau bahkan tersesarkan (fault). Sebagai
akibat dari kekerasan batuan endapan yang berlainan antara satu lapisan dengan
lapisan lainnya, maka batuan semacam ini membentuk bentangalam tersendiri yang
khas. Erosi akan mengambil bagian di tempat-tempat lemah yaitu pada batuan yang
lunak dan bagian yang keras akan menonjol membentuk bukit-bukit. Biasanya bukit
ini memanjang sejajar dengan arah pelapisan. Dengan cara mengetahui bentuk
bentangalamnya, mengetahui arah lembah dan sistem perbukitannya dapat dengan
mudah ditafsirkan batuan dan struktur geologi yang ada di daerah tersebut.
Bentangalam ini kadang-kadang terlihat dengan mudah pada peta topografi dan
potret udara atau citra satelit.

2.3 bentang alam karst


Bentangalam karst termasuk bentuk bentangalam yang penting, dan banyak
pula ditemukan di Indonesia. Bentuk ini sangat erat berhubungan dengan batuan
endapan yang mudah melarut. Oleh karena itu dengan mengetahui bentuk
bentangalamnya, pada umumnya orang dapat mengetahui jenis batuannya,
terutama juga oleh karena bentuk bentangalam karst sangat karakteristik dan
mempunyai tanda-tanda yang mudah dikenal baik di lapangan, pada peta topografi
maupun

pada

potret

udara

dan

citra

satelit.

Bentangalam

ini

terutama

memperlihatkan lubang-lubang, membulat atau memanjang, gua-gua dan bukitbukit


yang berbentuk kerucut. Di dunia, daerah yang ditutupi bentangalam karst tersebar
di Perancis Selatan, Spanyol Utara, Belgia, Yunani, Jamaika, beberapa negara
Amerika Selatan, dan beberapa negara bagian di Amerika Serikat (Tenesse,
Indiana, Kentucky). Sebenarnya kata karst berasal dari nama suatu pegunungan di

Yugoslavia yang berbentangalam spesifik ini. Di Indonesia bentangalam karst dapat


ditemukan di beberapa daerah di pulau Jawa, yaitu Jampang di Selatan Jawa Barat,
pegunungan Sewu di Kulon Progo Jawa Tengah, daerah perbukitan Rembang di
Jawa Timur, dan beberapa daerah di Sulawesi Tengah. Di Irian Barat bentangalam
karst ditemukan di Kepala Burung pada formasi Klasafet, sedangkan di Sumatera
ditemukan, terutama di Sumatera Selatan dan Aceh.
Indonesia memiliki bentang alam yang kompleks, selain dengan cincin api
nya indonesia juga memiliki bentang alam karst. Indonesia diperkirakan memiliki
kurang lebih 15,4 juta hektar kawasan Karst atau 20 persen dari total luas wilayah
Indonesia. Karst merupakan topografi unik yang terbentuk akibat adanya aliran air
pada bebatuan karbonat (biasanya berupa kapur, dolomit atau marmer). Proses
geologi ini, terjadi selama ribuan tahun, menghasilkan permukaan yang luar biasa
mulai dari pembentukan lubang-lubang vertikal, sungai-sungai dan mata air bawah
tanah, hingga gua dan sistem drainase bawah tanah yang kompleks (BPLHD Jawa
Barat, 2009). Menurut Eko Haryono (2009) Karst berarti lahan gersang berbatu.
Istilah ini di negara asalnya sebenarnya tidak berkaitan dengan batugamping dan
proses pelarutan, namun saat ini istilah kras telah diadopsi untuk istilah bentuklahan
hasil proses perlarutan.
2.3 Pola aliran
Pola pengaliran adalah hubungan antara satu sungai dengan sungai lainnya
atau hubungan antara air permukaan yang mengalir melalui lembah-lembah.
Hubungan tersebut akan membentuk suatu pola atau pattern.
Pola pengaliran dasar yang diperlihatkan pada Gambar 3.2 (Howard,
1967; dalam Van Zuidam, 1983), yaitu:

1. Pola pengaliran mendaun (dendritik) terjadi karena kekerasan batuan relatif sama
(homogen) dan lereng tidak terlalu curam. Hubungan antar satu sungai dengan
sungai lainnya seperti daun atau pohon dengan cabangcabangnya. Bila sudut antara
tiap-tiap cabang sama, maka dinamakan pinnate.
2. Pola pengaliran sejajar (paralel) terjadi seperti pada pola pengaliran dendritik
tetapi lereng agak terjal sehingga air bergerak dengan cepat dan tidak sempat
bergabung satu sama lainnya, melainkan berjajar.
3. Pola pengaliran menangga (trellis) terdapat di daerah yang terlipat. Kekerasan
batuan yang berselang-seling antara yang lemah dan yang keras mengakibatkan
sungai berbelok-belok. Kadang-kadang memotong batuan keras dan menyusuri
batuan lemah. Sungai dinamakan subsekuen bila menyusuri bagian lemah yang
sejajar dengan jurus lapisan batuan, sedangkan
konsekuen bila memotongnya. Obsekuen ialah anak sungai yang sejajar
dengan sungai konsekuen tetapi bertentangan arah. Sedangkan resekuen ialah
anak sungai yang sejajar dan searah dengan sungai konsekuen. Pola ini dapat
memberi keterangan tentang daerah terlipat, antiklin, siklin, dan kubah.
4. Pola pengaliran membulat (annular) terjadi pada batuan yang telipat dan
lipatannya membentuk kubah (dome).
5. Pola pengaliran memancar (radial) terjadi pada daerah yang terlipat ataupun
gunungapi. Terutama pada daerah bergunungapi, pola ini sangat sering dijumpai
dan merupakan salah satu ciri utamanya. Sungai-sungai mengalir dari satu pusat ke
segala arah, memancar (radial) atau disebut juga centrifugal. Bila sebaliknya yaitu
pola sungai memancar tetapi bearah ke dalam (pusat)
disebut dengan pola pengaliran centripetal.

6. Pola pengaliran menyudut terjadi di daerah yang banyak terpatahpatah atau


banyak terdapat retakan sehingga sungai terpengaruh oleh letak retakan-retakan
tersebut yang merupakan daerah lemah. Bila sudut antara sungai-sungai itu runcing,
maka pola pengaliran dinamakan angulate. Sedangkan bila bersudut hampir tegak
dinamakan rectangular. Pola pengaliran jenis ini sangat penting peranannya dalam
menganalisis struktur geologi suatu daerah untuk eksplorasi mineral.
7. Di daerah berawa-rawa dan dekat muka laut orang biasanya menemukan pola
pengaliran deranged atau contorted yaitu pola yang memperlihatkan aliran sungai
yang tidak menentu, serta tepi sungai yang tidak
jelas, bercampur baur dengan rawa. Di Kalimantan Selatan, sekitar
Banjarmasin, pola pengaliran sungai semacam ini sering dijumpai.
8. Pola pengaliran multi-basinal sering dijumpai pada bentuk lahan karst yang
didominasi oleh batugamping. Pola tersebut dicirikan oleh aliran sungai yang tidak
menerus karena beralih menjadi sungai bawah tanah akibat adanya proses
pelarutan.

BAB III
PEMBAHASAN
3.1 citra satelit
Jika dilihat melaui citra satelit, bentang alam karst akan tampak berbeda dari
kenampakan alam yang kain. Bentang alam karst akan mudah diamati dan dikenali
secara jelas. Walaupun secara pengamatan citra satelit maupun foto udara, masih
ada tipe tipe khas yang mencirikannya. Secara teori, bentang alam karst dapat
dikenali melalaui warna putih yang tergambar, warna putih ini dihasilkan oleh batu
gamping yang merupakan komposisi utama dari bentang alam karst ini. Selain dari
kenampakan warna, biasanya terlihat lubang-lubang yang disebut dengan doline
maupun uvala, dimana keduanya

merupakan ciri dari suatu bentang alam ini,

namun sayangnya, di formasi rajamandala ini tidaj dapat ditemukan doline maupun
uvala yang menjadi ciri dari bentang alam ini. Seperti yang terlihat pada gambar
yang diperoleh melaui citra satelit ini. Namun hanya dengan warrna saja, bentang
alam karstini dapat diamati.
Pada lokasi ini sungai dominan dengan karst di mana akan membuat lokasi
sungai terlihat berbeda dari sungai yang biasanya. Pada daerah sungai cibogoh ini
banyak terdapat air terjun yang merupakan hasil dari sesar dan juga aktifitas dari
tenaga endogen berupa pelapukan yang membuat terdapat jatuhan jatuhan yang
berubah menjadi air terjun. Bila di lihat dari titik awal sungai yang kami lihat disana
masih berupa sungai dengan bentukan V yang merupakan tanda sungai tersebut
masih berusia muda dimana masih terjadi pengikisan ke daerah dalam sungai yang
dominan dibandingkan dengan pengikisan ke bagian pinggian sungai.

Kenampakan di citra satelit yang akan ditampilkan dibawah tak begitu terlihat
sungai cibogoh ini, hanya terlihat berupa garis-garis kecil yang terbaca pada citra
satelit tersebut.

Fisiografi Pulau Jawa Bagian Barat

3.2 Stasiun dilapangan


Morfologi yang dapat diamati pada studi lapangan ini adalah pada
pengamatan

mengenai warna

pada

objek serta

perbandingannya

dengan

kenampakan pada media, maka dari itu hal yang dapat dideskripsi adalahsebagai
berikut :
3.2.1 stasiun 1
Lokasi pertama yaitu sungai yang terletak dibawah jembatan memiliki koordita
S 06 5006.3 / E 1072446.0 Pada stasiun pertama hal yang dapat diamati suatu
sungai dengan aliran air yang kecil. Walaupun begitu tipe sungai adalah perenial,
sungai yang mengalir sepanjang tahun. Hanya dengan melihat kenampakannya dari
batuan sekitarnya yang merupakan didominasi oleh batu gamping sebagai ciri
daerah bentang alam karst. Pada stasiun pertama kenampakan yang dapat dilihat
seperti gambar berikut.

Disamping aliran sungai ini terlihat vegetasi yang cukup lebat dengan warna hijau
yang mendominasi. Hal inilah yang akan terlihat pada citra satelit.
3.2.2 Stasiun 2
Pada lokasi kedua dengan koordita S 06 5006.7 / E107 2445.8 ditemukan
lapisan terra rosa yang mengindikasikan bentangalam karst yang dimana pola aliran
sungainya multi basinal

Pola pengaliran multi-basinal sering dijumpai pada bentuk lahan karst yang
didominasi oleh batugamping. Pola tersebut dicirikan oleh aliran sungai yang tidak
menerus karena beralih menjadi sungai bawah tanah akibat adanya proses
pelarutan. Seperti pada lokasi pertama, disekeliling lokasi pengaliran ini terdapat
vegetasi yang lebat dengan dominasi warna hijau yang dapat dilihat melalui citra
satelit. Selain itu adanya pembalikan yang merupakan salah satu jenis dari lipatan
juga dapat terlihat melalui. Sinklin adalah hasil interpretasi dari daerah ini yang
menyebabkan lekukan dari sungai ini. Batu gamping yang ada ini juga dapat terlihat
melaui citra satelit dengan warna putih
3.2.3 Stasiun 3
Pada lokasi ini terletak pada koordinat struktur sedimen sekuder yaitu
bioturbation yang menununjukan sungai cibogo dulunya merupakan lingkungan
pengendepan purba dengan koordiat S 06 5009.6 / E 107 2447.1. morfologi yang
dapat dilihat seperti pada gambar berikut ;

Dapat terlihat ini merupakan sebuah air terjun. Air terjun biasanya terbentuk oleh
adanya sesar namun berbeda dengan daerah bentang alam karst ini terutama pada
lokasi ini terbentuk karena adanya pelarutan batu gamping oleh air yang akhirnya
melarutkan batu gamping tersebut yang membentuk suatu air terjun. Hal yang
memperkuat adanya pelarutan ini adalah batu disekitar ini yang berlubang-lubang.
Selain itu, ciri bentang alam karst juga ditemukannya terrartossa . Bila batugamping
sudah terlarut biasanya akan meninggalkan bagianbagian yang tidak dapat larut
dalam air, oleh karena itu akan terbentuk persenyawaan karbonat. Pada umumnya
sisa-sisa ini berkomposisi besi, berwarna merah atau merah coklat. Sisa-sisa ini
dinamakan terra rossa.
3.2.4 Stasiun 4
lokasi terakhir ditemukan zona off set dan ekspoliasi yang merupakan zona
hancuran. Offset tersebut dapat dilihat melalui peta geologi maupun citra satelit
berupa tanda tanda yang telah ditentukan.

Gambar diatas merupakan kenampakan dari aliran sungai diatas dari air
terjun yang telah dideskripsikan sebelumnya. Dengan aliran sungai yang laminasi
dikarenakan landainya sungai ini.

Pada gambar, diatas dapat dilihat sebuah aliran sungai tipe V, dimana sungai
yang terdapat pada slope atau kemiringan yang curam dengan tingkat erosi yang
terjadi secara vertikal oleh karenanya terbentuk sungai yang semakin mendalam.

Gambar diatas terlihat kemiringan dengan tingkat elevasi yang berbeda.

3.3 sketsa

BAB IV
KESIMPULAN
Dari seluruh pembahasan yang telah diuraikan pada bab-bab sebelumnya mengenai
dasar-dasar geomorfologi dan bentang alam di daerah Bantarujeg dan sekitarnya,
maka dapat ditarik beberapa kesimpulan , yaitu :
1. Terdapat beberapa bentang alam, diantaranya :
a. Bentang alam vulkanik
-

Bentang alam vulkanik yang berada di daerah kuliah lapangan


mempunyai kemiringan yang berbeda disebabkan oleh beberapa
tenaga endogen dan struktur geologi .

b. Bentang alam telipat tersesarkan


-

Pada stasiun 1

terdapat bentang alam terlipat tersesarkan dengan

litologi batuan sediem yang berupa antiklin.

c. Bentang alam karst


-

Terdapat gamping terumbu pada stasiun 4 di Desa Panyingkiran


Kabupaten Majalengka diakibatkan oleh adanya pengangkutan akibat
laut dangkal.

2. Terdapat beberapa formasi pada kuliah lapangan geomorfologi diantaranya :


a. Formasi Citalang berumur N21-N22 (Plio-Pleistosen) merupakan endapan
volkanik-klastik pada lingkungan nonmarin-transisi, dan merupakan
endapan pertama yang mengarah dari selatan ke utara setelah Bogor
Trough dan West Java Basin membentuk level yang sama, sekaligus
membuktikan

pengangkatan

Bogor

Trough

dan

berakhir

dengan

terinversikannya Sesar Baribis.


b. Formasi Subang

(lempung) yang tersingkap akan lebih ke selatan

mendekati Kab. Sumedang di tempat pengangkatan lebih intensif. Formasi


Subang (N18-N21), Pliosen dibentuk dalam lingkungan transisi-shallow

marine, dalam kondisi Bogor Trough dan West Java Basin pada level
space of accommodation yang sama.
c. Formasi Halang mempunya dua anggota yaitu formasi halang atas dan
formasi halang bawah. Formasi Halang Bawah terdiri dari breksi
gunungapi yang bersifat andesitik sampai basaltik, batulempung, tuf dan
konglomerat. Formasi

Halang Atas terdiri dari batupasir tufaan,

batulempung, dan konglomerat. Formasi ini berumur Miosen Tengah


sampai Miosen Atas.
d. Formasi Cinambo merupakan formasi tertua yang berdasarkan kandungan
fosil foraminifera adalah berumur Miosen Bawah sampai Miosen Tengah.
Formasi ini dibagi dua, yaitu: anggota batupasir (bagian bawah), dan
anggota Serpih (bagian atas). Anggota batupasir mempunyai ciri
perlapisan tebal dengan sisipan serpih, batulempung tipis, batupasir
gampingan, tuf, batulempung, dan batulanau. Anggota Serpih terdiri dari
batulempung

dengan

sisipan

batupasir,

batugamping,

batupasir

gampingan, dan batupasir tufaan.

3. Struktur geologi yang berkembang di daerah kuliah lapangan diantaranya


adalah adanya indikasi sesar naik yang dipengaruhi oleh aktivitas tektonik.

4. Dapat diketahui bahwa dari abstraksi yang dipaparkan, diketahui bahwa


sungai cibogoh merupakan salah satu contoh dari aktivitas tektonik, namun
pada daerah ini juga merupakan hasil dari aktivitas vulkanik, dan dapat dilihat
dari peta geologi Pulau Jawa bagian barat pada daerah ini terdapat endapan
volkanik kwarter sama seperti yang ada pada daerah bandung yang dominan
dengan endapan volkanik kwarter. Dari batuan-batuan dan singkapan yang
ditemukan pada lapangan dapat terlihat hasil dari endapan tersebut terlihat
sangat jelas berupa sill yang memanjang.

DAFTAR PUSTAKA

Djuri, 1973, Peta Geologi Regional Lembar Arjawinangun, PPPG, Bandung .


Montgomery, Carla W .,1951 . Enviromental Geology 7th edition. McGraw-Hill
Companies.,United States.
Zuidam, Van R.A., 1983. Guide to geomorghologic-aerial photographic
interpretatiom and mapping., ITC, Enschede The Netherland.

http://www.mail-archive.com/iagi-net@iagi.or.id/msg11663.html (diakses
pada 21 Juni 2013, 02.09)
http://file.upi.edu/Direktori/FPIPS/JUR._PEND._GEOGRAFI/195901011989011YAKUB_MALIK/KONDISI_FISIOGRAFI_DAN_GEOLOGI_REGIONAL_JAWA_BARAT
.pdf (diakses pada 21 Juni 2013, 3.03)
https://maps.google.com/maps?ftr=earth.promo&hl=en (diakses pada 21 Juni
2013, 03.30)