Anda di halaman 1dari 15

Detail Desain PLTM Sepakek

BAB II
GAMBARAN UMUM
2.1. LOKASI PEKERJAAN
Secara administratif rencana lokasi PLTM Sepakek terletak di Desa
Sepakek Kecamatan Pringgarata Kabupaten Lombok Tengah. Lokasi ini
dapat dicapai melalui jalan negara dari

Kota Mataram ke arah

Kabupaten Lombok Timur sampai di Desa Pemepek, tepatnya di


perlintasan saluran Jurangsate. Kemudian dilanjutkan menyusuri jalan
inspeksi saluran + 2,5 km ke arah selatan sebelum terjunan bangunan
BJS.3.

Lokasi PLTMH
Sepakek

Gambar 2.1 Peta Lokasi PLTM Sepakek

CV. VRANGLOID RAIT

2-1

Detail Desain PLTM Sepakek

2.2. KONDISI PROYEK


2.2.1.

Topograf

Secara umum kondisi topografi di sekitar lokasi pekerjaan sebagian


besar landai dengan kemiringan 8-15%. Berdasarkan hasil pengukuran
topografi saluran bagian hulu sampai dengan rencana lokasi head
pond relatif landai. Lokasi head pond sampai dengan powerhouse
kemiringan relatif lebih curam dengan beda tinggi + 3,00 m. Peta
topografi lokasi pekerjaan hasil pekerjaan pengukuran topografi dapat
dilihat pada gambar dibawah ini.

Gambar 2.2 Peta Topografi Lokasi PLTM Sepakek

CV. VRANGLOID RAIT

2-2

Detail Desain PLTM Sepakek

2.2.2.
A.

Geologi Lokasi Proyek

Morfologi
Berdasarkan kondisi lapangan, morfologi daerah sekitar lokasi PLTM
Sepakek

dan

sekitar

Kecamatan

Pringgarata

berada

pada

morfologi dataran. Lokasi PLTM Sepakek berada pada sempadan


Sungai Lenek anak sungai Babak yang memiliki lebar Iembah + 7
meter.
Proses geomorfologi yang ada di lokasi rencana Site PLTM adalah
daerah pengendapan sedimen aluvial yang membentuk dataran
hingga daerah sempadan sungai, sedangkan lembah sungai yang
berstadia dewasa tersebut masih memiliki jeram-jeram di atas
batuan dasar batuan beku lava andesit.
B.

Stratigrafi/ Lithologi
Berdasarkan kondisi lapangan, litologi yang tersingkap di lokasi
PLTM Sepakek antara lain sedimen lepas berupa lempung, pasir,
lanau, breksi dan batuan beku lava andesit.
Lava dan Breksi Aridesit di lokasi PLTM Sepakek tersingkap di
bagian dasar sungai Lenek dan setempat pada tebing sungai, abuabu hingga coklat yang sebagian telah mengalami pelapukan.
Breksi dan lava batuan beku andesit mi termasuk dalam satuan
batuan Formasi Lokopiko (Qvl) berumur Pleistosen akhir.

CV. VRANGLOID RAIT

2-3

Detail Desain PLTM Sepakek

Gambar 2.3 Kondisi Batuan di Daerah Sekitar Lokasi PLTM Sepakek


Berdasarkan Peta Geologi Regional dan hasil pengamatan sebaran
litologi, daerah ini secara umum disusun oleh kelompok batuan
Breksi dan Lava Kelompok Formasi Lokopiko (Qvl) berumur
Pleistosen akhir, di bawah sedimen aluvial berumur Holosen,
secara tidak selaras.
C.

Struktur Geologi
Berdasarkari pengamatan di lapangan struktur geologi yang
nampak di permukaan sedikit atau jarang terdapat kekar batuan
yang dijumpai pada batuan yang tersingkap. Indikasi struktur
geologi berupa struktur sesar juga tidak terbentuk.

2.3. KONDISI KELISTRIKAN NTB


Kebutuhan listrik di NTB terus meningkat dari tahun ke tahun seiring
dengan berkembangnya penduduk dan perekonomian NTB. Produksi
listrik pada tahun 2010 mencapai 849,21 juta Kwh meningkat dari
tahun sebelumnya yang mencapai 790,15 juta Kwh. Listrik yang
terjual juga mengalami peningkatan, dengan besaran mencapai
775,97 juta Kwh dengan jumlah pelanggan mencapai 389.798
pelanggan.

Kondisi

eksisting

Sistem

Kelistrikan

NTB

dapat

digambarkan seperti pada table-tabel berikut :


Tabel 2.1
Banyaknya Produksi, Penyaluran, Penjualan, Pelanggan
KVA Terpasang Pada PLN Cabang Mataram, Sumbawa dan
Bima Tahun 2010

CV. VRANGLOID RAIT

2-4

Detail Desain PLTM Sepakek

URAIAN
1. Produksi Tenaga
Power Production

2. Disalurkan
Distribution

3. Terjual / Sold

4. Pelanggan / Customer

5. Daya Tersambung
Connected Capacity

Kota

Satuan

Total

Mataram

Kwh

Sumbawa

Kwh

Bima

Kwh

NTB

Kwh

Mataram

Kwh

Sumbawa

Kwh

Bima

Kwh

NTB

Kwh

Mataram

Kwh

Sumbawa

Kwh

Bima

Kwh

NTB

Kwh

Mataram
Sumbawa
Bima
NTB
Mataram
Sumbawa
Bima
NTB

Pelanggan
Pelanggan
Pelanggan
Pelanggan
kVA
kVA
kVA
kVA

587,935,04
9
132,521,42
0
128,750,44
9
849,206,91
8
562,591,71
5
129,972,61
6
119,162,49
8
811,645,73
8
545,692,93
5
118,609,49
3
111,665,92
4
775,968,35
1
239,178
73,664
76,956
389,798
224,365
67,608
60,967
372,939

Tabel 2.2
Banyaknya Produksi, Penjualan, Pelanggan "VA" Tersambung
Pada PLN Cabang Mataram, Sumbawa & Bima Tahun 2010
URAIAN
1. Produksi Sendiri
2. Pemakaian
Sendiri)
3. Produksi Mesin
Sewa
4. Penjualan

kWH

325.44801

Sumbaw
a
58.87380

kWH

28.083.265

2.843.545

9.587.951

40.514.760

kWH

262.487.04
8
545.692.93
5

57.674.28
4
111.665.9
24

393.809.27
2
775.968.35
1

5. Susut

kWH

73.647.94
0
118.609.4
93
11.024.97
2
73.664
67.607.80
0

7.619.383

62.825.822

76.956
60.966.85
5

389.798
372.939.48
5

6. Pelanggan

Satuan

kWH

Pelanggan

7. VA Tersambung

kVA

Mataram

44.181.468
239.178
244.364.83
0

Bima
70.07328

Jumlah
455.349

Tabel 2.3
Jumlah Kwh Terjual Per Bulan Pada PLN Cab. Mataram,
Sumbawa dan Bima

CV. VRANGLOID RAIT

2-5

Detail Desain PLTM Sepakek

Bulan
1. Januari
2. Pebruari
3. Maret
4. April
5. Mei
6. Juni
7. Juli
8. Agustus
9. September
10. Oktober
11. Nopember
12. Desember
Jumlah

Mataram
43.148.272
41.108.329
39.580.517
41.520.656
41.947.308
38.190.734
41.934.042
43.952.791
45.869.454
46.239.559
46.620.735
45.277.568

sumbawa
9.431.346
9.086.094
9.245.716
9.121.900
9.881.672
10.214.724
9.681.951
9.739.749
10.416.200
10.533.230
10.267.639
10.707.318

Bima
9.371.201
8.656.689
8.919.861
8.836.143
9.381.078
9.137.260
9.211.658
9.260.501
9.647.532
9.799.216
9.442.267
9.770.263

Jumlah
61.950.819
58.851.112
57.746.094
59.478.699
61.210.058
57.542.718
60.827.651
62.953.041
65.933.186
66.572.005
66.330.641
65.755.149

515.389.964

118.327.539

111.433.669

745.151.172

Tabel 2.4
Jumlah VA Tersambung Per Bulan Pada PLN Cabang
Mataram,Sumbawa dan Bima
Bulan
1. Januari / January
2. Pebruari / Pebruary
3. Maret / Martch
4. April / April
5. Mei / May
6. Juni / June
7. Juli / July
8. Agustus / August
9. September / September
10. Oktober / October
11. Nopember / November
12. Desember / December
2009
2008
2007
2006

Mataram
224.837
227.474
228.555
232.383
232.613
232.750
233.078
233.306
233.401
234.119
238.042
244.365

Sumbawa
64.591
64.790
64.952
65.145
65.170
65.210
65.029
65.029
65.360
65.542
67.543
67.608

Bima
57.738
57.855
58.034
58.115
58.413
58.520
58.662
58.751
59.057
59.214
59.953
60.967

Jumlah
347.167
350.119
351.540
355.642
356.196
356.480
356.769
357.086
357.818
358.875
365.538
372.939

221.652
210.814
197.462
189.274

64.400
59.639
53.019
49.532

57.354
53.833
52.130
48.987

343.406
324.286
302.611
287.793

CV. VRANGLOID RAIT

2-6

Detail Desain PLTM Sepakek

2.4.
2.5.
2.6.
2.7.
2.8.
2.9.
2.10.
2.11.
2.12.
2.13.
2.14.
2.15.
2.16.
2.17.
2.18.
2.19.
2.20.
2.21.
2.22.
2.23.
2.24.

CV. VRANGLOID RAIT

Gambar 2.4 Singel Line Diagram Kelistrikan Lombok

2-7

Detail Desain PLTM Sepakek

2.25.

SISTEM PENGEMBANGAN SDA DI PULAU LOMBOK

2.26.

Pulau Lombok terdiri dari 4 Kabupaten dan 1 kota, yaitu

Kabupaten Lombok Utara, Kabupaten Lombok Barat, Lombok Tengah


dan Lombok Timur serta Kota Mataram dengan potensi sumber air
yang sangat berbeda. Lombok Barat mempunyai sumber air yang
besar dengan ketersediaan lahan yang terbatas, sedangkan Lombok
Tengah dan Lombok Timur memiliki sumber air yang kecil sementara
ketersediaan lahannya cukup luas.
2.27.

Berdasarkan kondisi hidrologis dan geografis tersebut, di

daerah Lombok telah dilakukan penyusunan konsep pendistribusian air


lintas Derah Airan Sungai (DAS) dan lintas Kabupaten, yaitu:
1) Studi Lombok Island Water Resources Development tahun 1975
oleh Konsultan Crippen.
2) Studi Jurang Sate Extension tahun 1986, oleh Konsultan Mac
Donald.
2.28.

Konsep Pendistribusian air lintas DAS dan lintas Kabupaten di

Pulau Lombok dapat dilihat pada gambar dibawah ini.


2.29.

2.30.
2.31.
2.32.
2.33.
2.34.

CV. VRANGLOID RAIT

2-8

Detail Desain PLTM Sepakek

SKEMA JARINGAN INTERKONEKSI LOMBOK SELATAN

2.35.

S.Enda-Enda
S.Babak

S.Keru
S.Lenek U

S.Lenek S

S.Rutus

S.BENDUNG

S.Gading

S.Sade

S.Kermit

Terara
BR SRI (Paok Dengkol)

HLD BABAK-RENGGUNG-RUTUS

Temusik

Otak Desa

S.Kelambu

Pelolat

HLD RUTUS
S.Ganti

G.Joged

Sidemen

Bendung

Gde Bongoh

BD. Babak

S.Sesaot

S.Renggung

Sungai Bangka
Benjor

Bd. Lantan
S.Bekanga

S.Sri Gangga

Bd. Jengguar

Rutus

JKG/PKG

Otak Desa

E. Sade

S.Jangkok

S.Gambir

Sesaot-GEB

Keru Feder

Simbe

PD. Duri

Renggung

Jurang Sate

Ses-Fed

Parung

Lenek
JB-HLD

Sungai Bangka

S.Dalem

PELAPAK

Sakra

BJS.1
Bd. Keru

HLD JANGKOK- BABAK

Sal Jurang Sate

Swangi

Tundak

Sal Jurang Batu

BJS - 20

S.Sekot

Jr. Batu
TB. Nangka

S.Ranget

Grunung

Katon

S.Remining

Mujur - 1

Montang

E. Surabaya
Bun Topang
BT.Kantar

Montong Gamang
Nyurbaya

Mujur - 2

Pelambik

Mata Maling

JSHLR

S.Midang

S PALUNG

Kulem

S. Palung

S.Midang

S.Dodokan

Penendem

S.Lajut

Surabaya

Supl. Ses-Geb

E. Pare

Kuripan

Gebong

S.Mangkung

BT.Terang

Mencongah

Bd. Bile remong

S Leneng
Batujai

E. Batu Nampar

Bertais
Keterangan :

Majeli

Jalur Saluran

Pengga
Rep Pencor

Bendung
Pamotan

Divertion (Bang Bagi Utama)


Waduk

Gegutu
Ireng Daya

Sungai

Mataram

KAB.LOMBOK BARAT

KAB.LOMBOK TENGAH

KAB.LOMBOK TIMUR

Gambar 2.5 Konsep Pendistribusian air lintas DAS dan lintas Kabupaten di
Pulau Lombok
CV. VRANGLOID RAIT

2-9

Detail Desain PLTM Sepakek

2.36.
2.37.

HIGH LEVEL DIVERSION (HLD) JANGKOK BABAK


High Level Diversion (HLD) Jangkok Babak dibangun

untuk memenuhi kebutuhan air irigasi DI Jurangsate seluas + 10.450


ha. Bangunan utama yang terdapat pada sistim interkoneksi HLD
Jangkok Babak ini antara lain : Bendung Jangkok, Sesaot Feeder, Keru
Feeder dan Bendung Jurangsate.
2.38. Kondisi prasarana SDA tersebut diatas diuraikan secara rinci
didalam sub bab dibawah ini.
2.39.
2.5.1.
Kondisi Bendung
2.40. Berdasarkan hasil survey pada beberapa titik di Bangunan
Utama sistem Interkoneksi dapat dijelaskan sebagai berikut :
2.41. a.
2.42.

Bendung Jangkok
Bendung ini berlokasi di Kabupaten Lombok Barat di

bangun pada tahun 1985. Bendung bertipe Ogee ini mempunyai


lebar 65 m, tinggi crest bendung diatas dasar sungai awalnya
11,5 m dan mempunyai tinggi jagaan 5,5 m, direncanakan mampu
mengalirkan debit banjir maksimum 1.690 m3/dt.

Pada saat ini

kondisi tubuh bendung cukup baik dan terawat. Bendung Jangkok


merupakan bagian paling hulu dalam sistem High Level Diversion
JangkokBabak-Keru dan direncanakan menyuplai 6 m3/dt ke HLD.
2.43.

Kondisi

saat

ini

suplai

air

dari

Bendung

Jangkok

diperkirakan maksimal 4 m /dt dikarenakan sedimen yang ada


menyebabkan kapasitas saluran HLD jadi sangat berkurang dari
rencana 6m3/dt .

2.44.
2.45.
CV. VRANGLOID RAIT

Gambar 2.6 Tampak Hilir Bendung Jangkok


2 - 10

Detail Desain PLTM Sepakek

2.46. b.
2.47.

Bendung Sesaot
Bangunan buatan Belanda ini merupakan bendung tipe

Broad Crested Weir (Gambar 2.2) ini mempunyai lebar mercu 53


m dengan tinggi jagaan 1,3 m. Pada awalnya bendung ini
direncanakan dengan tinggi 3 m dari dasar sungai dan
mengalirkan debit banjir maksimum 90 m3/dt.
2.48.

Rencana awalnya bendung ini menyuplai debit 1,5m 3/dt

untuk HLD Jangkok-Babak.


2.49.
Kondisi saat ini sebenarnya potensi Sungai Sesaot masih
sangat besar akan tetapi saluran dari bendung Sesaot ke Sesaot
Feeder diperkirakan tidak mampu mengalirkan debit lebih besar
dikarenakan saluran tanah yang mudah berlumpur.

2.50.
2.51.

Gambar 2.7 Mercu bendung Bendung Sesaot

2.52.
2.53. c.
2.54.

Bendung Keru
Bendung ini dibangun

dari

pasangan

batu

kali,

mempunyai lebar mercu bendung 40 m, dimana tinggi mercu dari


dasar

sungai

10,5

m.

Bendung

ini

direncanakan

mampu

mengalirkan debit banjir rencana 862 m 3/dt dengan tinggi air


maksimal di atas mercu 3,2 m.
2.55.

Saat ini air dari Bendung Keru juga dimanfaatkan untuk

Pembangkit

Listrik

Tenaga

Mikrohidro,

seperti

terlihat

pada

Gambar 2.6 berikut.


2.56.
CV. VRANGLOID RAIT

2 - 11

Detail Desain PLTM Sepakek

2.57.
2.58.
2.59.
2.5.2.

Gambar 2.8 Tampak PLTM Keru 34 KW

Pintu Pengatur Bangunan Utama

2.60.
2.61.

a.
Bendung Jangkok
Intake pada bendung ini berukuran lebar 2,5 m dan

tinggi air rencana 1,9 m. Pintu Irigasi ini merupakan jenis pintu
geser dengan hoist yang sampai saat ini masih berfungsi cukup
baik, walaupun ada kebocoran sedikit.
2.62.
b.
Bendung Sesaot
2.63.
Direncanakan untuk mengalirkan Qmax kebutuhan 3
m3/dt, dimana maksimal head diatas crest bendung 0.6 m. Dari
ke tiga pintu Intake yang ada terdapat kerusakan pada satu pintu
dikarenakan

rusaknya

ulir

pemutar

sehingga

kapasitas

penyaluran juga jadi berkurang


2.64.
2.5.3.

Bangunan Pengukur Debit

2.65.
2.66.

a.
Bendung Jangkok
Bangunan ukurnya merupakan tipe Crump Weir dengan

lebar 3 m dan didesain untuk mengalirkan debit 6 m 3/dt. Kondisi


bangunan ukur saat ini masih berfungsi dengan baik menyalurkan
air ke High Level Diversion walaupun dengan kapasitas yang
sudah berkurang. Akan tetapi kondisi dan penempatan Peilschaal
(Gambar 3.7) sudah tidak sesuai lagi karena berada di depan
pintu penguras sehingga pembacaannya menjadi tidak akurat,
sehingga perlu penggantian Peilschaal (penempatan ulang).
2.67.

CV. VRANGLOID RAIT

2 - 12

Detail Desain PLTM Sepakek

2.68.
2.69.

Gambar 2.9 Bangunan ukur Bendung Jangkok

2.70.
2.71.
2.72.
2.73.
2.74.
2.75.
2.76.
2.77.
2.78.
2.79.
2.80.
2.81.

Gambar 2.10 Kondisi Peilschaal di depan pintu Penguras


Bendung Jangkok

2.82.
2.83.

b.
Bendung Sesaot
Secara umum bangunan ukur debit (Gambar 3.8) di

saluran Induk Sesaot ini sudah tidak berfungsi baik. Hal ini dapat
dilihat bangunan Drempel Weir yang sudah tidak menghasilkan
aliran kritis melainkan aliran tenggelam sehingga besarnya debit
tidak

terukur

dengan

baik.

Hal

ini

disebabkan

besarnya

sedimentasi di saluran di upstrem maupun downstreamnya.

CV. VRANGLOID RAIT

2 - 13

Detail Desain PLTM Sepakek

2.84.
2.85.
Gambar 2.11 Bangunan ukur Bendung Sesaot
2.86.
Kondisi Saluran

2.5.4.

2.87. Permasalahan utama di sepanjang saluran HLD dan Jurang Sate


secara umum adalah sedimentasi dan pengambilan liar yang tidak
terkontrol.
2.88.
a.
Sesaot Feeder
2.89.
Pada bagian upstream dari bangunan Sesaot Feeder
(Gambar 3.9), merupakan saluran utama dari bendung Sesaot.
Akan tetapi kondisi salurannya yang sebagian merupakan saluran
alam tanpa talud pasangan sangat rawan terhadap longsor,
sehingga material lumpurnya dapat terbawa masuk ke HLD
Jangkok-Babak-Keru melalui Sesaot Feeder.

2.90.
2.91.

Gambar 2.12 Tampak penampang saluran di upstream Sesaot


Feeder

2.92.
2.93.
2.94.

b.

CV. VRANGLOID RAIT

Saluran Jurang Sate


2 - 14

Detail Desain PLTM Sepakek

2.95.

Pada beberapa titik diantara BJS 1 sampai dengan BJS 8

kondisi saluran tergerus dan longsor. Hal ini disebabkan pasangan


batu kosong yang ada di bagian atas longsor menyebabkan tidak
adanya penopang yang kuat untuk freeboard.

2.96.
2.97.
2.98.

Gambar 2.13 Freeboard Saluran Jurang Sate yang tergerus

CV. VRANGLOID RAIT

2 - 15