Anda di halaman 1dari 22

MIOPIA PATOLOGIS

Fach Rayni Primisasiki

ANATOMI MATA

Konjungtiva
Konjungtiva merupakan membran mukosa yang transparan dan tipis
yang membungkus permukaan posterior kelopak mata (konjungtiva
palpebralis) dan permukaan anterior sklera (konjungtiva bulbaris)

Sklera dan Episklera


Sklera adalah pembungkus fibrosa pembungkus mata di bagian luar, yang
hampir seluruhnya terdiri atas kolagen.
Episklera adalah jaringan elastik halus dan tipis yang kaya akan
pembuluh darah yang membungkus permukaan luar sklera bagian anterior

Kornea
Kornea merupakan selaput bening mata dan bagian mata yang tembus
cahaya.

Sudut Bilik Mata Depan


Sudut bilik mata depan dibentuk oleh jaringan korneosklera dan pangkal
iris. Pada bagian ini terdapat pengeluaran cairan humor aqueous.

Lensa
Jaringan ini berasal dari ektoderm permukaan yang berbentuk lensa
didalam mata dan bersifat bening. Lensa berbentuk bikonveks dan terletak
di dalam bilik mata belakang.

Retina

Retina adalah lembaran jaringsn saraf berlapis yang tipis dan semi
transparan yang melapisi bagian dalam dua pertiga posterior dinding bola
mata.

FISIOLOGI MELIHAT

Proses refraksi: kornea aqueous humour pupil lensa


vitreous humour retina
Kornea merefraksi cahaya lebih banyak dibandingkan lensa.
Pembiasan sinar terkuat dilakukan oleh kornea dimana 40
dioptri dari 50 dioptri pembiasan sinar masuk kornea.
Lensa hanya berfungsi untuk menajamkan bayangan yang
ditangkap saat mata terfokus pada benda yang dekat dan
jauh.
Kontraksi dan dilatasi pupil terjadi pada kondisi dimana
intensitas cahaya berubah dan ketika kita memindahkan arah
pandangan kita ke benda atau objek yang dekat dan jauh.
Setelah cahaya mengalami refraksi, melewati pupil dan
terfokus pada retina akan menghasilkan sebuah bayangan
yang kecil dan terbalik, tahap terakhir dalam proses visual
adalah perubahan energi cahaya menjadi aksi potensial yang
dapat diteruskan ke korteks serebri.

MIOPIA PATOLOGIS

Definisi
Miopia patologis menurut American Academy of
Ophtalmology (AAO) disebutkan dengan istilah
miopia tinggi atau miopia degeneratif.
Miopia patologis adalah miopia dengan ukuran lebih
dari 6 dioptri (D) disertai kelainan pada fundus okuli
dan pada panjangnya bola mata sampai terbentuk
stafiloma postikum yang terletak pada bagian
temporal papil disertai dengan atrofi korioretina.

MIOPIA PATOLOGIS

Klasifikasi miopia berdasarkan ukuran dioptri


lensa
yang
dibutuhkan
untuk
mengkoreksikannya :
1. Ringan : lensa koreksinya 0,25 s/d 3,00
Dioptri
2. Sedang : lensa koreksinya 3,25 s/d 6,00
Dioptri.
3. Berat : lensa koreksinya > 6,00 Dioptri

MIOPIA PATOLOGIS

Etiologi
Faktor Keturunan
Cara transmisi dari miopia patologis adalah autosomal
resesif, autosomal dominan, sex linked dan derajat
miopia yang diturunkan ternyata bervariasi.
Faktor Perkembangan
Faktor prenatal: penyakit ibu yang dikaitkan dengan
penderita miopia kongenital adalah hipertensi
sistemik, toksemia, dan penyakit retina.
Faktor perinatal: kelahiran prematur yakni berat badan
lahir kurang dari 2500 gram. Brain menyebutkan bahwa
hal ini berkaitan dengan defek mesodermal yang
berkaitan dengan prematuritas

MIOPIA PATOLOGIS

Patogenesis

Teori Mekanik
Terjadinya miopia degeneratif disebabkan karena
peregangan sklera. Peregangan ini dapat terjadi pada
sklera yang normal ataupun yang sudah lemah.
Perlemahan sklera diduga juga menjadi penyebab
membesarnya bola mata. Perlemahan ini dapat
disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu:
- Kongesti sklera
- Inflamasi sklera
- Malnutrisi
- Endokrin
- Keadaan umum
- Skleromalasia

MIOPIA PATOLOGIS

Patogenesis
Teori Biologi
Faktor timbulnya miopia terdapat pada jaringan ektodermal
yaitu retina, sedangkan jaringan mesodermal di sekitarnya
tetap normal.
Retina tumbuh lebih menonjol dibanding dengan koroid dan
sklera. Pertumbuhan retina yang abnormal ini diikuti dengan
penipisan sklera dan peregangan koroid. Koroid yang peka
terhadap regangan akan menjadi atrofi.
Seperti diketahui pertumbuhan sklera berhenti pada janin
berumur 5 bulan sedangkan bagian posterior retina masih
tumbuh terus sehingga bagian posterior sklera menjadi paling
tipis

MIOPIA PATOLOGIS

Gejala Klinis
- Penurunan tajam penglihatan (visus)
- Floaters
- Asthenopia
- Cephalgia
- Fotopsia
- Metamorfopsia
- Diplopia
- Penurunan rigiditas okular

MIOPIA PATOLOGIS

Diagnosis Banding
- Age-Related Macular Degeneration
- Ocular Histoplasmosis (pada umumnya
tersebar pada fundus)
- Tilted Disc
- Gyrate Atrophy
- Toxoplasmosis

MIOPIA PATOLOGIS

Diagnosis
- Status Refraksi > 6 dioptri
- Status Okulomotor strabismus, nistagmus
- Segmen Anterior mata lebih besar, kornea lebih
datar dan tipis, pupil dilatasi, bilik mata depan lebih
dalam.
- Lensa prevalensi katarak tinggi
- Vitreous vitreous floaters
- Perubahan diskus optikus Myopic Crescents
- Perubahan retina perifer Lattice Degeneration
- Sklera Stafiloma posterior
- Koroid Lacquer cracks
- Perubahan area makula Fuch spot

Myopic Crescents pada miopia.

Stafiloma posterior pada miopia.

Latice Degeneration pada miopia tinggi.

Lacquer cracks di dekat makula pada miopia.

Gambaran Fuchs'spot di daerah makula pada myopia.

MIOPIA PATOLOGIS

Penatalaksanaan
- Koreksi refraksi
- Modifikasi lingkungan
- Tindakan operatif
- Fotokoagulasi laser
- Pengawasan TIO
- Pendidikan penderita/edukasi

MIOPIA PATOLOGIS

Komplikasi
- Floaters
- Skotoma
- Trombosis koroid dan perdarahan koroid
- Ablasio retina
- Glaukoma simpel
- Katarak

MIOPIA PATOLOGIS

Prognosis
Prognosis pasien dengan miopia patologis
bervariasi dilihat dari perubahan yang
muncul pada retina dan okular. Pemeriksaan
retina, pemeriksaan yang penting untuk
dilakukan.

TERIMA KASIH