Anda di halaman 1dari 13

Petrologi

Diferensiasi Magma

Disusun Oleh
Raed Abdat
270110130155

Universitas Padjajaran
Fakultas Teknik Geologi
2014

Diferensiasi Magma
Oleh: Raed Abdat
Abstrak
Manusia sudah lama mengenal apa itu magma, meskipun kebanyakan hanya
mengetahui bahwa magma merupakan cairan panas kental yang keluar dari perut bumi.
Manusia membuat peralatan dari batuanyang dipakai untuk membuat peralatan dari batuan
yang dipakai berbagai keperluan sepertitombak, mata panah dan sebagainya.
Pada 20 juta tahun sebelum masehi, zona tubrukan lempeng Australia dengan
lempeng Asia terkunci dan menyebabkan menunjamnya lempeng Australia dibawah lempeng
Asia. Penunjaman ini berlangsung hingga sekarang dan menyebabkan munculnya gununggunung api disebelah barat Pulau Sumatra dan juga sebelah selatan Pulau Jawa.Indonesia
yang dikelilingi gunung api ini, turut menyumbang bahan baku utama membuatcandi, batuan
hitam adalah bahan baku candi terbuat dari magma yang membeku yangdisebut Batuan Beku.
Batuan Beku banyak sekali terdapat di sekitar gunung vulkanik danIndonesia menjadi tempat
yang memiliki cadangan batuan beku terbanyak

Pendahuluan
Magma terbentuk dalam mantel dan kerak bawah (lower crust). Keluar kepermukaan
karena memiliki berat jenis lebih ringan (lebih tidak padat) or less denser dari batuan
sekitarnya. Magma dapat mengalami kritasilasi secara parsial (sebagian) ataupun secara
keseluruhan pada kedalaman yang bervariasi dalam kerak, atau dapat mengalami kristalisasi
dekat permukaan bumi. Atau secara sederhana produk dari kristalisasi magma adalah batuan
beku. Ketika magma mendekati permukaan dan berhenti kemudian, akan membentuk batuan
beku volkanik (ektrusif). Sementara yang terbentuk di kedalaman dan mengalami kristalisasi
disana akan membentuk batuan beku plutonik (intrusif).
Maka, untuk mempertajam dan memfokuskan
bahasan dalam makalah ini , penulis mnngajukan rumusan permasalahan sebagai berikut
1. Bagaimana suatu larutan magma berdiferensiasi
2. Apa saja jenis-jenis dan karakteristik dari berbagai hasil diferensiasi magma

Tinjauan Pustaka dan Pembahasan


Magma merupakan cairan silika panas yang suhunya berkisar antara 600 -1300
derajat celcius (atau sekitar 1200-2400 derajat farenheit) dengan keadaan dimana setiap 1
kilometer suhu berbeda sekitar 25 derajat celcius. Magama tersusun atas SiO2, Al2O3, MgO,
FeO, CaO,Na2O, K2O,Cr2O3,TiO2, ditambah dengan gas dan H2O. Tapi kebanyakan
magma juga memiliki hal-hal lain yang masuk tercampur. Sebagai contoh, biasanya
mengandung potongan-potongan mineral yang baik belum meleleh, atau telah dipadatkan
(atau mengkristal) dari keadaan cair bersama magma yang mendingin.
Meskipun magma dapat keluar di berbagai tempat yang meiliki zona lemah, ada tiga
lingkungan di mana magma biasa keluar dari perut bumi, karena mekanisme yang membantu
untuk membuat zona lemah yang dapat dengan mudah ditembus magma.
Pegunungan pertengan laut
Peleburan terjadi di bawah pegunungan pertengahan laut, di mana lempeng tektonik
yang meluncur menjauh dari satu sama lain. Di suatu tempat, batuan mantel panas meningkat
dalam arus yang bergerak lambat. Peleburan terjadi pada kedalaman yang relatif dangkal
(kurang dari 50 kilometer) karena dua alasan. Pertama, semakin rendah batuan litosfer
meleleh karena mereka dipanaskan oleh batuan yang lebih panas di bawah ini. Kedua, batuan
mantel naik meleleh karena tekanan pada mereka menurun karena mereka bergerak ke atas.
Lapisan Hot Spot
Peleburan terjadi di tempat di mana batuan mantel panas memanaskan dasar litosfer.
Tempat-tempat ini disebut bulu mantel atau hot spot. Litosfer tidak retak, seperti halnya di
pegunungan di tengah laut, tapi bergerak di atas hot spot stasioner. Salah satu contoh yang
terkenal adalah di mana lempeng Pasifik meluncur diatas hot spot dan menghasilkan gunung
berapi membentuk Kepulauan Hawaii.
Zona Lempeng subduksi
Batuan juga meleleh di zona subduksi lempeng, di mana dasar laut litosfer ditarik ke
bawah ke dalam mantel. Peleburan biasanya dimulai pada kedalaman kurang dari 100
kilometer. Suhu leleh menjadi lebih rendah dalam lingkungan ini karena semua air yang
terperangkap dalam batuan dasar laut dan dalam sedimen tanah liat yang dibawa turun
bersama lempeng.

Magma umumnya terbentuk di tiga lingkungan. Mereka (kiri ke kanan): pegunungan


di tengah laut, lapisan hot spot dan zona subduksi lempeng. Sumber: Wikimedia gambar oleh
Woudloper
Magma dapat mengalami perubahan komposisi nya, menjadi magma yang bersifat
lain oleh proses-proses sebegai berikut :

Hibridasi : Pembentukan magma baru karena pencampuran dua magma


yang berlainanjenisnya.
Sinteksis :Pembentukan magma baru karena proses asimilasi dengan batuan samping
Anateksis : Proses pambentukan magma dari peleburan batuan pada kedalaman yang
sangat besar.
Dari magma dengan kondisi tertentu ini selanjutnya mengalami differensiasi magma.
Diferensiasi magma sendiri adalah keadaan dimana magma membeku sendiri dan terpisah
perlahan sesusai dengan unsur/ bahan yang berbeda, dari keadaan awal yang homogen
dalam skala besar menjadi masa batuan beku dengan komposisi yang bervariasi.
Proses-proses diferensiasi magma meliputi :

Fragsinasi ialah pemisahan kristal dari larutan magma,karena proses kristalisasi


berjalan tidak seimbang atau kristal-kristal pada waktu pendinginan tidak dapat
mengikuti perkembangan. Komposisi larutan magma yang baru ini terjadi terutama
karena adanya perubahan temperatur dan tekanan yang menyolok dan tiba-tiba.
Crystal Settling/Gravitational Settling adalah pengendapan kristal oleh gravitasi
dari
kristal-kristal berat Ca, Mg, Fe yang akan memperkaya magma pada bagian
dasar waduk. Disini mineral silikat berat akan terletak dibawah mineral silikat ringan.
Liquid Immisibility ialah larutan magma yang mempunyai suhu rendah akan pecah
menjadi larutan yang masing-masing akan membeku membentuk bahan yang
heterogen.
Crystal Flotation adalah pengembangan kristal ringan dari sodium dan potassium
yang akan memperkaya magma pada bagian atas dari waduk magma.

Vesiculation adalah proses dimana magma yang mengandung komponen seperti


CO2, SO2, S2, Cl2, dan H2O sewaktu naik kepermukaan membentuk gelembunggelembung gas dan membawa serta komponen volatile Sodium (Na) dan
Potasium(K).
Difussion ialah bercampurnya batuan dinding dengan magma didalam waduk magma
secara lateral.
DERET REAKSI BOWEN

Pada awal abad ke 20, Bowen , N.L.,seorang ahli petrologi melakukan serangkaian
percobaan di Laboratorium, hasil percobaan ini ialah suatu deret diferensisasi magma yang
menjelaskan bahwa selama ini seluruh batuan beku berasal dari satu sumber batuan induk .
Berikut deret reaksi Bowen,

Deret Diskontinu

Deret Kontinu

Deret diskontinu, Deret ini dibangun dari mineral ferro-magnesian sillicates. Dalam deret
diskontinyu, satu mineral akan berubah menjadi mineral lain pada suhu tertentu dengan melakukan
melakukan reaksi terhadap sisa larutan magma. Bowen menemukan bahwa pada suhu tertentu, akan
terbentuk olivin, yang jika diteruskan akan bereaksi kemudian dengan sisa magma, membentuk
pyroxene. Jika pendinginan dlanjutkan, akan dikonversi ke pyroxene,dan kemudian biotite [sesuai
skema]. Deret ini berakhir ketika biotite telah mengkristal, yang berarti semua besi dan magnesium
dalam larutan magma telah habis dipergunakan untuk membentuk mineral.

Bila pendinginan terjadi terlalu cepat dan mineral yang telah ada tidak sempat bereaksi
seluruhnya dengan sisa magma, akan terbentuk rim [selubung] yang tersusun oleh mineral
yang terbentuk setelahnya.
Deret Kontinu, Deret ini dibangun dari mineral feldspar plagioklas. Dalam deret kontinyu,
mineral awal akan turut serta dalam pembentukan mineral selanjutnya. Dari bagan, plagioklas kaya
kalsium akan terbentuk lebih dahulu, kemudian seiring penurunan suhu, plagioklas itu akan bereaksi
dengan sisa larutan magma yang pada akhirnya membentuk plagioklas kaya sodium. Demikian
seterusnya reaksi ini berlangsung hingga semua kalsium dan sodium habis dipergunakan. Karena
mineral awal terus ikut bereaksi dan bereaksi, maka sangat sulit sekali ditemukan plagioklas kaya
kalsium di alam bebas.

Bila pendinginan terjadi terlalu cepat, akan terbentuk zooning pada plagioklas
[plagioklas kaya kalsium dikelilingi plagioklas kaya sodium].
KRISTALISASI MAGMA
Kristalisasi adalah proses pembentukan bahan padat dari pengendapan larutan, melt
(campuran leleh), atau lebih jarang pengendapan langsung dari gas. Kristalisasi juga
merupakan teknik pemisahan kimia antara bahan padat-cair, di mana terjadi perpindahan
massa (mass transfer) dari suat zat terlarut (solute) dari cairan larutan ke fase kristal padat.
Proses Kristalisasi Magma,Karena magma merupakan cairan yang panas, maka ionion yang menyusun magma akan bergerak bebas tak beraturan. Sebaliknya pada saat magma
mengalami pendinginan, pergerakan ion-ion yang tidak beraturan ini akan menurun, dan ionion akan mulai mengatur dirinya menyusun bentuk yang teratur. Proses inilah yang disebut
kristalisasi.
Pada proses ini yang merupakan kebalikan dari proses pencairan, ion-ion akan saling
mengikat satu dengan yang lainnya dan melepaskan kebebasan untuk bergerak. Ion-ion
tersebut akan membentuk ikatan kimia dan membentuk kristal yang teratur. Pada umumnya
material yang menyusun magma tidak membeku pada waktu yang bersamaan.Kecepatan
pendinginan magma akan sangat berpengaruh terhadap proses kristalisasi, terutama pada
ukuran kristal.
Apabila pendinginan magma berlangsung dengan lambat, ion-ion mempunyai
kesempatan untuk mengembangkan dirinya, sehingga akan menghasilkan bentuk kristal yang
besar. Sebaliknya pada pendinginan yang cepat, ion-ion tersebut tidak mempunyai
kesempatan bagi ion untuk membentuk kristal, sehingga hasil pembekuannya akan

menghasilkan atom yang tidak beraturan (hablur), yang dinamakan dengan mineral gelas
(glass).
Pada saat magma mengalami pendinginan, atom-atom oksigen dan silikon akan saling
mengikat pertama kali untuk membentuk tetrahedra oksigen-silikon. Kemudian tetahedratetahedra oksigen-silikon tersebut akan saling bergabung dan dengan ion-ion lainnya akan
membentuk inti kristal dan bermacam mineral silikat. Tiap inti kristal akan tumbuh dan
membentuk jaringan kristalin yang tidak berubah. Mineral yang menyusun magma tidak
terbentuk pada waktu yang bersamaan atau pada kondisi yang sama. Mineral tertentu akan
mengkristal pada temperatur yang lebih tinggi dari mineral lainnya, sehingga kadang-kadang
magma mengandung kristal-kristal padat yang dikelilingi oleh material yang masih
cair.Komposisi dari magma dan jumlah kandungan bahan volatil juga mempengaruhi proses
kristalisasi.
Karena magma dibedakan dari faktor-faktor tersebut, maka penampakan fisik dan
komposisi mineral batuan beku sangat bervariasi. Dari hal tersebut, maka penggolongan
(klasifikasi) batuan beku dapat didasarkan pada faktor-faktor tersebut di atas. Kondisi
lingkungan pada saat kristalisasi dapat diperkirakan dari sifat dan susunan dari butiran
mineral yang biasa disebut sebagai tekstur. Jadi klasifikasi batuan beku sering didasarkan
pada tekstur dan komposisi mineralnya.
Jenis Kristalisasi Berdasarkan Proses Utama Dipandang dari asalnya, kristalisasi
dapat dibagi menjadi 3 proses utama :
1. Kristalisasi dari larutan ( solution ) : merupakan proses kristalisasi yang umum
dijumpai di bidang Teknik Kimia : pembuatan produk-produk kristal senyawa anorganik
maupun organic seperti urea, gula pasir, sodium glutamat, asam sitrat, garam dapur, tawas,
fero sulfat dll.
2. Kristalisasi dari lelehan ( melt ) : dikembangkan khususnya untuk pembuatan
silicon single kristal yang selanjutnya dibuat silicon waver yang merupakan bahan dasar
pembutan chip-chip integrated circuit ( IC ). Proses Prilling ataupun granulasi sering
dimasukkan dalam tipe kristalisasi ini.
3. Kristalisasi dari fasa Uap : adalah proses sublimasi-desublimasi dimana suatu
senyawa dalam fasa uap disublimasikan membentuk kristal. Dalam industri prosesnya bisa
meliputi beberapa tahapan untuk.
Asimilasi magma
Proses ini dapat terjadi pada saat terdapat material asing dalam tubuh magma seperti adanya
batuan disekitar magma yang kemudian bercampur, meleleh dan bereaksi dengan magma
induk dan kemudian akan mengubah komposisi magma.
Dalam proses asimilasi, terkadang batuan-batuan yang ada di sekitar magma chamber yang
kemudian masuk ke dalam magma membeku sebagai satu bentuk inklusi batuan yang disebut

dengan xenolith. Namun bentukan inklusi ini juga dapt terbentuk sebagai suatu inklusi kristal
yang disebut dengan xenocrsyt.

Sebagai ringkasan, Jakcson (1970) memberikan gambaran skematis mengenai prosesproses differensiasi magma dalam suatu magma chamber. Kemudian dihasilkanlah skema
seperti berikut ini:
Skema differensiasi magma menurut Jackson K.C.(1970)
Dr. Lucas Donni Setiadji, seorang petrologist yang juga merupakan dosen Jurusan Teknik
Geologi FT-UGM menyatakan bahwa Diferensiasi (Differentiation) merupakan suatu proses
yang menghasilkan magma turunan (derivative magmas) yang berbeda komposisi kimia dan
mineralogi dari Primitive Parental Magma atau yang kita sebut sebagai magma induk. Secara
umum proses diferensiasi dianggap terjadi dalam reservoir magma di dalam kerak
(kedalaman < 10 km), dimana magma dalam kondisi yang stagnan, mendingin secara
perlahan dan memiliki waktu ysng cukup untuk mengkristal. Proses diferensiasi yang paling
penting adalah Kristalisasi Fraksinasi (fractional crystallization), sedangkan proses lainnya
antara lain asimilasi dan magma mixing.
Magma mixing
terjadi saat dua jenis magma yang berbeda bertemu dan kemudian bercampur menjadi satu
menghasilkan satu jenis magma lain yang homogen yang disebut dengan magma turunan.
Magma turunan ini biasanya bersifat pertengahan dari kedua jenis magma yang bercampur.
Sebagai contoh, magma andesitic dan dacitic kemungkinan adalah magma intermediet yang
terbentuk dari hasil pencampuran magma asam dan magma basa. Kedua jenis magma ini dpat
bertemu apabila dalam suatu regional terdapat 2 magma chamber yang memiliki potensi dan
berjarak tidak jauh dan kemudian terjadi intrusi magma berupa sill atau dike dari salah
satu magma chamber lalu intrusi ini mencapai magma chamber yang lain. Dari intrusi yang
menerobos dan bertemu denganmagma chamber inilah kemudian terjadi proses pencampuran
2 jenis magma yang berbeda menghasilkan satu jenis magma baru yang bersifat tengahan dari
2 jenis magma yang bercampur tersebut.
Intrusi dan Ekstrusi Magma
Pada batuan intrusif terdapat 2 golongan, yaitu konkordan dan diskordan. Konkordan
merupakan bentuk intrusi yang sejajar perlapisa batuan, sedangkan diskordan merupakan
bentuk intrusi yang arahnya memotong perlapisan batuan,
Konkordan terbagi empat yaitu
1. Sill, tubuh batuan yang berupa lembaran dan sejajar dengan perlapisan batuan
disekitarnya.
2. Laccolith, tubuh batuan beku yang berbentuk kubah (dome), dimana perlapisan
batuan yang asalnya datar menjadi melengkung akibat penerobosan tubuh batuan ini,

sedangkan bagian dasarnya tetap datar. Diameter laccolih berkisar dari 2 sampai 4 mil
dengan kedalaman ribuan meter.
3. Lopolith, bentuk tubuh batuan yang merupakan kebalikan dari laccolith, yaitu bentuk
tubuh batuan yang cembung ke bawah. Lopolith memiliki diameter yang lebih besar
dari laccolith, yaitu puluhan sampai ratusan kilometer dengan kedalaman ribuan
meter.
4. Paccolith, tubuh batuan beku yang menempati sinklin atau antiklin yang telah
terbentuk sebelumnya. Ketebalan paccolith berkisar antara ratusan sampai ribuan
kilometer.
Diskordan terbagi menjadi tiga, yaitu
1. Dyke, yaitu tubuh batuan yang memotong perlapisan disekitarnya dan memiliki
bentuk tabular atau memanjang. Ketebalannya dari beberapa sentimeter sampai
puluhan kilometer dengan panjang ratusan meter.
2. Batolith, yaitu tubuh batuan yang memiliki ukuran yang sangat besar yaitu > 100
km2 dan membeku pada kedalaman yang besar.
3. Stock, yaitu tubuh batuan yang mirip dengan Batolith tetapi ukurannya lebih kecil

Tipe dan Sifat Magma


Magma dapat dibedakan berdasarkan kandungan SiO2. Dikenal ada tiga tipe magma, yaitu:
1. Magma Basaltik (Basaltic magma) SiO2 45-55 %berat; kandungan Fe dan Mg tinggi;
kandungan K dan Na rendah.
2. Magma Andesitik (Andesitic magma) SiO2 55-65 %berat, kandungan Fe, Mg, Ca, Na
dan K menengah (intermediate).
3. Magma Riolitik (Rhyolitic magma) SiO2 65-75 %berat, kandungan Fe, Mg dan Ca
rendah; kandungan K dan Na tinggi.
Tiap-tiap magma memiliki karakteristik yang berbeda. Rangkuman dari sifat-sifat mangma
itu seperti terlihat di dalam Tabel.
Rangkuman Sifat-sifat Magma
Batuan
Tipe Magma Beku yang Komposisi Kimia
dihasilkan

Basaltik

Andesitik

Rhyolitik

Temperatur

Viskositas

Kandungan
Gas

Basalt

45-55 SiO2 %,
kandungan Fe, Mg,
dan Ca tinggi,
1000 1200oC Rendah
kandungan K, dan
Na rendah.

Rendah

Andesit

55-65 SiO2 %,
kandungan Fe, Mg,
800 1000oC
Ca, Na, dan K
menengah.

Menengah

Menengah

Rhyolit

65-75 SiO2 %,
kandungan Fe, Mg,
dan Ca rendah,
650 800 oC
kandungan K, dan
Na tinggi.

Tinggi

Tinggi

Temperatur magma tidak diukur secara langsung, melainkan dilakukan di


laboratorium dan dari pengamatan lapangan.
Jika membahasa tentang Magma atau Batuan Beku kita tidak akan terlepas
dari Bowen Series. Berikut adalah skema dari Bowen Series.
Magma mengandung gas-gas terlarut. Gas-gas yang terlarut di dalam cairan magma
itu akan lepas dan membentuk fase tersendiri ketika magma naik ke permukaan bumi.
Analoginya sama seperti gas yang terlarut di dalam minuman ringan berkaborasi di dalam
botol dengan tekanan tinggi. Ketika, tutup botol dibuka, tekanan turun dan gas terlepas
membentuk fase tersendiri yang kita lihat dalam bentuk gelembung-gelembung gas. Juga
sering kita lihat ketika pemberian meali bagi para pemenang balap kenderaan. Kepada
mereka diberikan minuman di dalam botol dan kemudian mereka mengkocok-kocok botol
tersebut sebelum membuka tutupnya. Kemudian, ketika tutup botol yang telah dikocok itu
dibuka, maka tersemburlah isi botol tersebut keluar. Demikian pula halnya dengan magma
ketika keluar dari dalam bumi. Kandungan gas di dalam magma ini akan mempengaruhi sifat
erupsi dari magma bila keluar ke permukaan bumi.
Viskositas adalah kekentalan atau kecenderungan untuk tidak mengalir. Cairan
dengan viskositas tinggi akan lebih rendah kecenderungannya untuk mengalir daripada cairan
dengan viskositas rendah. Demikian pula halnya dengan magma.
Viskositas magma ditentukan oleh kandungan SiO2 dan temperatur magma. Makin
tinggi kandungan SiO2 maka makin rendah viskositasnya atau makin kental. Sebaliknya,
makin tinggi temperaturnya, makin rendah viskositasnya. Jadi, magma basaltik lebih mudah
mengalir daripada magma andesitik atau riolitik. Demikian pula, magma andesitik lebih
mudah mengalir drripada magma riolitik
Berdasarkan jumlah kehadiran dan asal-usulnya, maka di dalam batuan beku terdapat
mineral utama pembentuk batuan (essential minerals), mineral tambahan (accessory
minerals) dan mineral sekunder (secondary minerals).
1. Essential minerals, adalah mineral yang terbentuk langsung dari pembekuan magma,
dalam jumlah melimpah sehingga kehadirannya sangat menentukan nama batuan beku.
2. Accessory minerals , adalah mineral yang juga terbentuk pada saat pembekuan magma
tetapi jumlahnya sangat sedikit sehingga kehadirannya tidak mempengaruhi penamaan
batuan. Mineral ini misalnya kromit, magnetit, ilmenit, rutil dan zirkon. Mineral esensiil dan
mineral tambahan di dalam batuan beku tersebut sering disebut sebagai mineral primer,
karena terbentuk langsung sebagai hasil pembekuan daripada magma.
3. Secondary minerals adalah mineral ubahan dari mineral primer sebagai akibat pelapukan,
reaksi hidrotermal, atau hasil metamorfisme. Dengan demikian mineral sekunder ini tidak ada
hubungannya dengan pembekuan magma. Mieral sekunder akan dipertimbangkan
mempengaruhi nama batuan ubahan saja, yang akan diuraikan pada acara analisis batuan
ubahan. Contoh mineral sekunder adalah kalsit, klorit, pirit, limonit dan mineral lempung.

4. Gelas atau kaca, adalah mineral primer yang tidak membentuk kristal atau amorf. Mineral
ini sebagai hasil pembekuan magma yang sangat cepat dan hanya terjadi pada batuan beku
luar atau batuan gunungapi, sehingga sering disebut kaca gunungapi (volcanic glass).
5. Mineral felsik adalah adalah mineral primer atau mineral utama pembentuk batuan beku,
berwarna cerah atau terang, tersusun oleh unsur-unsur Al, Ca, K, dan Na. Mineral felsik
dibagi menjadi tiga, yaitu felspar, felspatoid (foid) dan kuarsa. Di dalam batuan, apabila
mineral foid ada maka kuarsa tidak muncul dan sebaliknya. Selanjutnya, felspar dibagi lagi
menjadi alkali felspar dan plagioklas.
6. Mineral mafik adalah mineral primer berwarna gelap, tersusun oleh unsur-unsur Mg dan
Fe. Mineral mafik terdiri dari olivin, piroksen, amfibol (umumnya jenis hornblende), biotit
dan muskovit.
Pemerian dan pengenalan mineral pembentuk batuan beku tersebut secara megaskopik sudah
harus dikuasai oleh para praktikan, seperti diberikan pada kuliah dan praktikum kristalografimineralogi serta dipraktekkan lagi pada acara I pengenalan mineral pembentuk batuan,
praktikum petrologi ini. Untuk mengetahui genesa masing-masing mineral pembentuk batuan
tersebut di atas, praktikan dianjurkan untuk mempelajari Reaksi Seri Bowen yang terdapat di
dalam buku-buku literatur Petrologi (misal Middlemost, 1985, Magmas and magmatic rocks,
Longman, Inc., London, 266 p).

Daftar Pustaka
Buku
1.Syafri, Ildrem.2003. Modul Petrologi.Bandung: Pusat Pendidikan dan Pelatihan
Geologi(PPPG)
Non-Buku
1. http://apitnoparagon.wordpress.com/2010/01/21/deret-reaksi-bowen-bowensreaction-series/
2. http://ongkiboomy.blogspot.com/2013/04/geokimia-magma.html
3. http://tambangunp.blogspot.com/2013/03/magma-pembentukan-dan-evolusi.html
4. http://theotherofmyself.wordpress.com/2012/05/31/batuan-beku-intrusif/
5. http://wingmanarrows.wordpress.com/geological/petrologi/batuan-beku/
6. http://www.sridianti.com/pengertian-magma.html