Anda di halaman 1dari 8

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Evaporasi
Evaporasi atau penguapan adalah proses perubahan wujud zat dalam keadaan cairan
menjadi gas. Sebuah zat dapat menguap dalam salah satu dari dua cara yang ada, yaitu dengan
berubah menjadi uap di permukaan, seperti ketika air menguap di tempat terbuka , atau dengan
cara mendidihkan, yaitu dengan mengubah menjadi uap baik di dalam substansi maupun di
permukaannya[1]. Sebuah padatan dapat menguap dengan pelelehan menjadi cairan, yang
kemudian menguap; atau dengan mengubah langsung menjadi uap, atau sublimasi. Laju
penguapan zat tergantung pada suhunya permukaan, tekanan, dan kelembaban.
Rata-rata molekul tidak memiliki energi yang cukup untuk lepas dari cairan. Bila tidak
cairan akan berubah menjadi uap dengan cepat. Ketika molekul-molekul saling bertumbukan
mereka saling bertukar energi dalam berbagai derajat, tergantung bagaimana mereka
bertumbukan. Terkadang transfer energi ini begitu berat sebelah, sehingga salah satu molekul
mendapatkan energi yang cukup buat menembus titik didih cairan. Bila ini terjadi di dekat
permukaan cairan molekul tersebut dapat menguap.

2.2.Evaporator
Evaporator merupakan sebuah alat yang berfungsi mengubah sebagian atau
keseluruhan sebuah pelarut dari sebuah larutan dari bentuk cair menjadi uap[1]. Dua prinsip
kerja dasar yang ada pada evaporator yaitu: untuk menukar panas dan untuk memisahkan uap
yang terbentuk dari cairan[2]. Evaporator umumnya terdiri dari tiga bagian, yaitu penukar
panas, bagian evaporasi (tempat di mana cairan mendidih lalu menguap), dan pemisah untuk
memisahkan uap dari cairan lalu dimasukkan ke dalam kondensor untuk diembunkan atau
digunakan untuk peralatan lainnya[2].
Hasil atau produk yang diinginkan dari evaporator biasanya dapat berupa padatan atau
larutan pekat (berkonsentrasi). Larutan yang sudah dievaporasi bisa saja terdiri dari beberapa

komponen volatil (mudah menguap).Evaporator biasanya digunakan dalam industri kimia dan
industri makanan.[1]
2.3 Jenis Evaporator[3]
2.3.1 Berdasarkan Konstruksinya
Beberapa jenis evaporator berdasarkan konstruksinya yaitu:
A. Horizontal Tube Evaporator
Evaporator ini merupakan jenis yang paling klasik dan sederhana , sehingga banyak
digunakan untuk keperluan-keperluan kecil dengan teknologi sederhana. Evaporator ini
tidak memberikan kondisi untuk terjadinya sirkulasi cairan, sehingga koefisien transfer
panasnya rendah. Pengendapan kerak terjadi di luar pipa, sehingga sulit untuk dibersihkan.
Berikut adalah skemanya.

B. Basket Evaporator
Evaporator jenis ini memberikan kondisi sirkulasi cairan yang baik, sehingga koefisien
transfer panasnya besar, menjadikan perpindahan panas lebih efisien. Pengendapan kerak
terjadi di dalam pipa sehingga lebih mudah dibersihkan. Berikut adalah skemanya.

C. Standard Vertical Tube Evaporator


Pada jenis ini, cairan mengalir dalam pipa sedangkan steam pemanas mengalir di dalam
shell. Cairan dalam tabung mendidih, uap yang timbul bergerak ke atas dengan membawa
cairan. Sirkulasi aliran dalam pipa terjadi karena beda rapat massa yang terjadi karena
perbedaan fasa antara fluida dalam pipa. Berikut ini adalah skemanya.

D. Long Tube Vertical Evaporator

Untuk memperbesar kecepatan sirkulasi cairan dengan harapan koefisien perpindahan


panas semakin tinggi, pipa-pipa perpindahan panas dibuat lebih panjang. Aliran cairan,
setelah masuk ruang uap untuk dipisahkan dengan uap yang terbentuk, kembali ke bawah
di luar evaporator. Berikut adalah skemanya:

E. Vertical Tube Evaporator with Forced Circulation


Pada jenis ini, sirkulasi cairan untuk memperbesar koefisien perpindahan panas dibantu
dengan pompa. Pipa tidak terlalu panjang. Sirkulasi berjalan cepat, sehingga larutan dalam
evaporator lebih homogen. Adanya pompa membuat alat ini lebih mahal. Karena alliran
keluar pipa cepat, maka pemisahan uap-cairan dalam ruang uap menajdi lebih sulit,
sehingga diperlukan baffle, yang lebih baik dan ruang pemisah yang lebih besar di bagian
atas. Berikut ini adalah skemanya.

2.3.2 Berdasarkan Jumlah Efeknya


Dua jenis evaporator berdasarkan jumlah efeknya ,yaitu efek tunggal dan majemuk.
Evaporator efek tunggal merupakan jenis evaporator dimana produk hanya melalui satu buah
badan penguapan dan panas diberikan oleh satu luas permukaan panas saja.
Di dalam proses penguapan dapat digunakan dua, tiga , empat , atau lebih badan
penguapan dalam sekali proses, hal inilah yang disebut dengan evaporator efek majemuk.
Penggunaan evaporator efek majemuk berpinsip pada penggunaan uap yang dihasilkan dari
evaporator sebelumnya. Tujuan penggunaan evaporator efek majemuk adakah untuk
menghemat energi panas secara keseluruhan hingga akhirnya dapat mengurangi biaya
produksi.
Keuntungan evaporator efek majemuk adalah penggunaan uap yang efisien. Uap bekas
dari evaporator pertama , digunakan lagi untuk memanaskan pada evaporator kedua, kemudian
uap bekas dari evaporator kedua digunakan lagi untuk evaporator berikutnya, dan begitu
seterusnya hingga evaporator terakhir. Berikut ini adalah skema dari evaporator majemuk
triple effects.

2.4 Efisiensi Evaporator[3]


Efisiensi evaporator menandakan keidealan kinerja dari evaporator tersebut. Besar
kecilnya efisiensi ini dipengaruhi banyaknya energi panas yang hilang dan banyaknya
perpindahan panas yang terjadi pada evaporator(berkaitan dengan koefisien perpindahan
panas). Semakin besar energi panas yang hilang, maka efisiensi akan semakin kecil dan
semakin besar koefisien pindah panasnya maka efisiensi akan semakin besar. Oleh karena itu
beberapa hal yang perlu diperhatikan antara lain:
1. Gerakan fluida. Semakin cepat gerakan fluida dalam evaporator, makin besar juga nilai
koefisien pindah panasnya, sehingga kecepatan transfer panas semakin tinggi.
2. Kadar zat terlarut, umumnya viskositas larutan akan semakin tinggi. Hali ini akan
mengakibatkan

koefisien

transfer

massa

menurun

sehingga

memperlambat

perpindahan panas.
3. Pada evaporator dengan konveksi alami, dimana gerakan fluida diakibatkan oleh beda
suhu, maka koefisien perpindahan panas dipengaruhi oleh beda suhu. Semakin beasr
beda suhu, semakin tinggi juga koefisien transfer panas.
4. Penyebab terjadinya endapan perlu dicegah karena sangat mempangruhi perpindahan
panas.
5. Untuk bahan yang sensitif terhadap panas, maka suhu penguapan diusahakan rendah
dengan cara menurunkan tekanan operasi. Selain itu, waktu tinggal juga diusahakan
tidak terlalu lama
6. Energi terbesar pada evaporator adalah untuk penguapan. Usaha penghematan panas
perlu dilakukan agar efisiensi juga semakin besar. Salah satu caranya yaitu dengan

menerapkan evaporator efek majemuk, dimana uap yang timbul dari evaporator
digunakan kembali untuk pemanas evaporator berikutnya.