Anda di halaman 1dari 7

RANGKUMAN:

MERJER, AKUISISI, DAN DIVESTASI

TUGAS MANAJEMEN KEUANGAN LANJUTAN

Oleh:
Citra Sarasmitha

2015250960

Husnunnida Maharani

2015250964

Monica Audrey Jaya S.

2015250968

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI AKUNTANSI


FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2015

Bentuk Dasar Akuisisi


Ada tiga prosedur dasar yang dapat digunakan suatu perusahaan untuk mengakuisisi
perusahaan lain:
1. Merger atau konsolidasi: merger adalah penyatuan suatu perusahaan dengan yang
lain. Konsolidasi hampir sama dengan merger, tetapi sebuah perusahaan yang baru
dibuat dari penyatuan tersebut.
2. Akuisisi saham: pembelian saham perusahaan dengan pertukaran uang tunai, saham,
atau surat berharga lainnya
3. Akuisisi aset: sebuah perusahaan dapat secara efektif mengakuisisi perusahaan lain
dengan membeli sebagian atau seluruh asetnya.
Klasifikasi akuisisi terbagi menjadi 3 jenis, yaitu:
1. Akuisisi horisontal: akuisisi sebuah perusahaan dalam industri yang sama dengan
penawar (perusahaan yang saling berkompetisi dalam pasar).
2. Akuisisi vertikal: sebuah akuisisi vertikal melibatkan perusahaan-perusahaan di
tahapan yang berbeda pada proses produksi. Misalnya pengakuisisian perusahaan
agen perjalanan oleh perusahaan penerbangan.
3. Akuisisi konglomerat: akuisisi dimana penawar dan perusahaan target tidak
berhubungan satu sama lain. Misalnya pengakuisisian perusahaan makanan oleh
perusahaan komputer.
Sinergi
Suatu akuisisi dapat dikatakan menguntungkan apabila nilai yang dihasilkan oleh
penggabungan kedua perusahaan lebih besar daripada nilai perusahaan saat mereka berdiri
sendiri-sendiri. Apabila Vab berarti nilai perusahaan apabila terjadi akuisisi dan Va serta Vb
berarti nilai perusahaan masing-masing, maka dapat dirumuskan:
Vab > Va + Vb
Perbedaan yang di dapat dari nilai perusahaan setelah akuisisi dibandingkan
perusahaan yang berdiri sendiri-sendiri disebut dengan incremental net gain (perolehan
bersih tambahan) dan dilambangkan dengan V
V = Vab (Va + Vb)
Pada saat V bernilai positif, maka hal ini berarti bahwa akuisisi menciptakan sinergi.
Jadi dapat disimpulkan bahwa, sinergi adalah perolehan bersih tambahan yang bernilai positif
yang terjadi akibat penggabungan dua perusahaan melalui merger atau akuisisi.

Sumber sinergi
Sumber-sumber sinergi terdiri dari 3 jenis, yaitu:
1. Sinergi operasional: Kombinasi dari beberapa operasi sehingga dapat menekan biaya
dan menaikkan penghasilan. Sinergi operasional muncul dari perusahaan yang
melakukan ekspansi pada bisnis yang sama sehingga dapat menekan biaya rata-rata
karena biaya tetap menurun (memperoleh economic of scale), atau melakukan
diversifikasi ke sektor yang masih berkaitan (related diversification), misal
perusahaan garmen yang bergabung dengan perusahaan tekstil, perusahaan rokok
yang bergabung dengan perusahaan perkebunan tembakau.
2. Sinergi finansial: Sinergi finansial berasal dari penghematan yang dinikmati
perusahan yang berasal dari sumber pendanaan. Jenis sinergy ini diperoleh dari
akuisisi konglomerat.
3. Sinergi manajemen: sinergi yang dinikmati oleh perusahaan karena kombinasi dari
beberapa manajemen. Misalnya manjemen perusahaan A kurang efisien dibandingkan
dengan manajemen perusahaan B, maka merger dapat menjadi jalan untuk
meningkatkan efisiensi. Peningkatan efisiensi disini mensyaratkan kedua perusahaan
yang digabung memiliki bidang kegiatan yang sama (akuisisi horisontal)
Efek samping akuisisi terhadap keuangan
Terdapat berbagai efek samping akuisisi terhadap keuangan, dua diantaranya yang paling
sering terjadi adalah:
1. Pertumbuhan EPS (Earning per share)
2. Diversifikasi / penganekaragaman bidang usaha.
Perlu diketahui bahwa pertumbuhan EPS dan diversifikasi mungkin dipandang sebagai suatu
keuntungan dari akuisisi, namun pada prakteknya pertumbuhan EPS dan diversifikasi belum
tentu memberikan nilai tambah pada keuangan perusahaan.
Biaya pemegang saham atas berkurangnya risiko
Aktivitas merger dan akuisisi dinyatakan sukses apabila terjadi peningkatan nilai bagi
pemegang kepentingan perusahaan dan meningkatkan kesejahteraan pemegang saham. Hal
ini sesuai dengan konsep maximization wealth of stakeholders, yang dicerminkan oleh laba
per lembar saham. Bagi manajemen, hal ini diasosiasikan dengan terjadinya perubahan
kinerja yang positif. Namun pada prakteknya, pada beberapa perusahaan yang melakukan
merger tidak terdapat perbedaan pada rate of return pemegang saham yang signifikan setelah

merger dan akuisisi terjadi, hal ini menunjukkan bahwa merger dan akuisisi tidak
mengandung nilai yang positif bagi investor pada beberapa perusahaan yang melakukan
merger.
NPV dari suatu merger
Terdapat beberapa motivasi merger dan akuisisi yang dikemukakan oleh para ahli
yaitu untuk meningkatkan kesejahteraan pemegang saham karena adanya peningkatan
ketidaksempurnaan dalam External Capital Market, meningkatkan Net Present Value dan
menciptakan Internal Capital Market, serta mengurangi variabilitas earning. Merger dan
akuisisi tentunya diharapkan menciptakan suatu nilai tambah bagi perusahaan. Kehadiran
nilai tambah ini merupakan indikasi dari keberhasilan proses merger dan akuisisi itu sendiri.
Namun disisi lain dikatakan bahwa merger dan akuisisi tidak dapat meningkatkan nilai bagi
shareholders dan manajemen apabila ditinjau dari return saham. Hal ini seirama dengan
pernyataan bahwa merger dan akuisisi menghasilkan negative returns. Merger bagi
pengakuisisi dianggap sebagai investasi net present value (NPV) negatif.
Pengambilalihan Perusahaan (Friendly Versus Hostile Takeovers)
Menurut Setiawan (2008), pengambilalihan perusahaan berdasarkan sikap manajer
perusahaan target dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu secara friendly takeover dan hostile
takeover. Apabila perusahaan pengakuisisi berencana untuk meneruskan arah manajemen
perusahaan target dan mempertahankan manajer kunci, maka disebut friendly. Sedangkan
apabila perusahaan pengakuisisi merencanakan perusahaan secara substansial pada kebijakan
manajemen serta penggantian manajer perusahaan target disebut hostile takeover.
a. Friendly Takeover
Pengambilalihan perusahaan dengan friendly takeover harus disepakati oleh
perusahaan pengakuisisi dan perusahaan target. Prosedur untuk melaksanakan
pengambilalihan secara friendly takeover adalah mengidentifikasi perusahaan yang
akan menjadi target akuisisi, menentukan harga beli yang bersedia dibayarkan kepada
perusahaan target, manajer perusahaan yang akan membeli menghubungi perusahaan
target untuk melakukan negoisasi. Apabila manajer perusahaan target setuju, maka
mereka memberi rekomendasi pada pemegang saham bahwa pengambilalihan tersebut
memberi keuntungan bagi kedua pihak dan jika pemegang saham perusahaan target
menyetujui, maka pengambilalihan dapat dilaksanakan melalui pembayaran tunai atau
dengan saham perusahaan.

b. Hostile Takeover
Hostile Takeover terjadi apabila perusahaan target yang akan diakuisisi keberatan
dengan alasan harga yang ditetapkan terlalu rendah (undervalued) atau mungkin
karena manajer takut kehilangan pekerjaan atau kerabatnya. Apabila hal itu terjadi,
perusahaan yang ingin membeli perusahaan lain dapat saja melakukan negoisasi
secara langsung dengan pemegang saham target.
Taktik Defensif
Manajer perusahaan target sering menolak upaya pengambilalihan. Penolakan dapat
mengarah pada tindakan hukum dan persaingan. Tindakan manajerial untuk mengalahkan
upaya pengambilalihan dapat membuat pemegang saham perusahaan target lebih baik apabila
memunculkan penawaran premi yang lebih tinggi dari perusahaan lain.
a. The Corporate Charter
The Corporate Charter terdiri dari anggaran dasar dan anggaran rumah tangga
perusahaan yang menetapkan aturan tata kelola perusahaan. The Corporate Charter
menetapkan kondisi yang memungkinkan untuk pengambilalihan. Perusahaan sering
mengubah The Corporate Charter untuk membuat akuisisi lebih sulit.
b. Perjanjian Pembelian Kembali dan Penghentian
Manajer perusahaan target mungkin mencoba untuk menegosiasikan perjanjian
penghentian. Perjanjian penghentian merupakan kontrak di mana perusahaan setuju
untuk membatasi kepemilikan sahamnya di perusahaan target. Dalam pembelian
kembali yang ditargetkan, perusahaan membeli sejumlah saham sendiri dari investor
individu, biasanya dengan premi yang cukup besar. Premi tersebut dapat dianggap
sebagai pembayaran kepada penawar potensial untuk menghilangkan upaya
pengambilalihan secara unfriendly takeover.
c. Exclusionary Self-Tenders
Sebuah exclusionary self-tender merupakan kebalikan dari pembelian kembali yang
ditargetkan di mana perusahaan membuat penawaran tender untuk jumlah tertentu
dari saham milik sendiri dan tidak termasuk pemegang saham yang ditargetkan.
d. Poison Pills dan Share Rights Plans
Poison pills adalah taktik yang dirancang untuk mengusir calon pelamar. Poison pills
merupakan perangkat keuangan yang dirancang untuk membuat keidakmungkinan
bagi perusahaan yang akan diakuisisi tanpa persetujuan dari manajemen.

Apakah Merjer Memberikan Nilai Tambah


Merjer selalu memberikan nilai tambah ekonomi karena merger merupakan salah satu
alternatif perluasan usaha secara eksternal berupa penggabungan usaha di mana beberapa
perusahaan menjalankan usaha secara bersama-sama dalam satu kesatuan akuntansi. Dengan
akses pasar atau dana yang relatif murah karena kapasitas hutang yang semakin besar serta
kemampuan baik dalam hal teknologi dan manajerial setelah perusahaan melakukan merger,
perubahan yang terjadi adalah pada kinerja perusahaan dan pada penampilan finansial
perusahaan yang praktis membesar dan meningkat, sehingga dengan peningkatan ini
diharapkan memberi nilai tambah yang lebih baik kepada investor ataupun calon investor.
Kondisi dan posisi keuangan perusahaan yang mengalami perubahan ini tercermin dalam
pelaporan keuangan.
Dampak Perpajakan dari Akuisisi
Apabila sebuah perusahaan membeli perusahaan lain, transaksi dapat dikenakan pajak
atau bebas pajak. Dalam akuisisi kena pajak, pemegang saham perusahaan target dianggap
telah menjual saham mereka, dan mereka akan memiliki keuntungan atau kerugian modal
yang akan dikenakan pajak. Dalam akuisisi bebas pajak, akuisisi dianggap sebagai pertukaran
bukan penjualan, sehingga tidak ada capital gain atau loss terjadi pada waktu transaksi. Para
pemegang saham dalam perusahaan target harus mempertahankan kepemilikan saham di
penawar. Ada dua faktor yang perlu dipertimbangkan ketika membandingkan akuisisi bebas
pajak dan pajak akuisisi, yaitu efek capital gain dan efek write-up. Efek capital gain
mengacu pada fakta bahwa para pemegang saham perusahaan target mungkin harus
membayar pajak capital gain dalam akuisisi kena pajak. Mereka mungkin menuntut harga
yang lebih tinggi sebagai kompensasi, sehingga meningkatkan biaya merjer. Ini adalah biaya
akuisisi kena pajak.
Status pajak akuisisi juga mempengaruhi nilai dinilai dari aset jual perusahaan. Dalam
akuisisi kena pajak, aset perusahaan penjual yang dinilai kembali dari nilai buku historis
mereka untuk estimasi nilai pasar saat ini. Ini adalah efek write-up, dan itu penting karena itu
berarti bahwa beban penyusutan diakuisisi pada aset perusahaan dapat ditingkatkan dalam
akuisisi kena pajak.
Akuntansi untuk Akuisisi
Sebelum tahun 2001, ketika salah satu perusahaan mengakuisisi perusahaan lain,
penawar harus memutuskan apakah akuisisi akan diperlakukan sebagai pembelian atau

penyatuan kepentingan untuk tujuan akuntansi. Metode akuntansi pembelian untuk pelaporan
akuisisi mensyaratkan bahwa aset perusahaan target dilaporkan pada nilai pasar wajar pada
buku penawar. Dengan metode ini, aset disebut goodwill yang diciptakan untuk tujuan
akuntansi. Goodwill merupakan selisih antara harga beli dan estimasi nilai pasar wajar dari
aktiva bersih (aset dikurangi kewajiban) yang diperoleh. Aturan baru mengatakan bahwa
setiap tahun perusahaan harus menilai nilai goodwill pada neraca mereka. Jika nilai telah
turun, maka perusahaan harus mengurangi penurunan, namun jika tidak, maka tidak
diperlukan adanya amortisasi.
Going Private dan Leverage Buyout
Going private merupakan apa yang terjadi ketika saham milik publik di sebuah
perusahaan diganti dengan kepemilikan lengkap oleh grup pribadi, yang mungkin
memasukkan unsur manajemen yang ada. Akibatnya, saham perusahaan yang diambil dari
pasar (jika itu adalah saham yang diperdagangkan di bursa, maka terdaftar) dan tidak lagi
diperdagangkan. Salah satu hasil dari going private adalah bahwa pengambilalihan melalui
penawaran tender tidak bisa lagi terjadi karena tidak ada saham yang dimiliki publik. Dalam
hal ini, sebuah LBO (atau, lebih khusus, sebuah MBO) bisa menjadi pertahanan
pengambilalihan. Namun, itu hanya pertahanan untuk manajemen. Dari sudut pandang
pemegang saham, sebuah LBO adalah pengambilalihan.
Divestasi
Divestasi merupakan pengurangan beberapa jenis aset baik dalam bentuk finansial
atau barang, dapat pula disebut penjualan dari bisnis yang dimiliki oleh perusahaan. Motif
untuk melakukan divestasi di antaranya adalah perusahaan dapat berfokus pada area bisnis
terbaik yang dapat dilakukannya, untuk memperoleh keuntungan, nilai perusahaan yang telah
melakukan divestasi lebih tinggi daripada nilai perusahaan sebelum melakukan divestasi, dan
unit bisnis tersebut tidak menguntungkan lagi.