Anda di halaman 1dari 20

Injeksi Air (Water Flooding

)
1. Mekanisme Pendesakan
Proses penginjeksian air (water flooding) dari permukaan bumi ke dalam reservoir minyak adalah
didasarkan pada suatu kenyataan bahwa air aquifer berperan sebagai pengisi atau pengganti minyak yang
terproduksi, disamping berperan sebagai media pendesak. Sedangkan pertimbangan dilakukan water
flooding adalah bahwa sebagian besar batuan reservoir bersifat water wet (sifat kebasahan), sehingga fasa
air lebih banyak ditangkap oleh batuan akibatnya minyak akan terdesak dan bergerak ketempat lain
(permukaan sumur). Untuk reservoir minyak yang mempunyai viskositas lebih 200 cp akan sulit dilakukan
proses injeksi air karena akan terjadi fingering yang hubungannya dengan mobilitas. Begitu pula dengan
reservoir yang heterogen akan cenderung fingering (Gambar 4.1.), maka perlu ditambah polimer untuk
mengurangi masuknya air pada zona-zona yang permeable. Untuk reservoir strong water drive percuma
dilakukan injeksi air, lebih baik jika dilakukan pada reservoir depletion drive.
Injeksi air merupakan salah satu metode EOR yang paling banyak dilakukan sampai saat ini.
Pemakaian injeksi air sebagai metode untuk menaikkan perolehan minyak dimulai pada tahun 1880 setelah
John F.Carll menyimpulkan bahwa air tanah dari lapisan yang lebih dangkal dapat membantu produksi
minyak. Tujuan untuk dilakukannya injeksi air adalah untuk mengimbangi penurunan tekanan reservoir
dengan menginjeksikan air ke dalam reservoir.
2. Screening Criteria
Pertimbangan lain dilakukan injeksi air adalah :
a. Saturasi minyak sisa (Sor) cukup besar
b. Recoverynya 30% _ 40% dari original oil in place (OOIP)
c. Air murah dan mudah diperoleh
d. Mudah menyebar ke seluruh reservoir dan kolom air memberikan tekanan yang cukup besar
dan efisiensi penyapuan yang cukup tinggi.
e. Berat kolom air dalam sumur injeksi turut menekan, sehingga cukup banyak mengurangi
besarnya tekanan injeksi yang perlu diberikan di permukaan, jika dibandingkan dengan injeksi
gas, dari segi berat air sangat menolong.
f. Efisiensi pendesakan air juga cukup baik, sehingga harga Sor sesudah injeksi air = 30% cukup
mudah didapat.
3. Gambar Skematis Mekanisme

Injeksi Gas (Gas Flooding)
1. Mekanisme Pendesajan
Proses injeksi gas immiscible pada prinsipnya sama dengan proses injeksi air (water flooding). Usaha ini
terutama ditujukan untuk meningkatkan energi dorong dalam reservoir, yaitu dengan melakukan penginjeksian
fluida gas melalui sumur-sumur injeksi, sedang minyaknya diproduksikan pada sumur-sumur produksi dengan
pola geometri tertentu. Dengan proses tersebut diharapkan minyak yang masih tertinggal di rongga pori-pori
batuan akan mampu didesak ke permukaan.
Gas yang diinjeksikan biasanya merupakan gas hidrokarbon. Injeksi gas dilakukan jika terdapat sumber
gas dalam jumlah yang sangat besar dan cukup dekat dengannya,termasuk gas dari hasil produksi lapangan itu
sendiri. Injeksi gas dapat diterapkan untuk mempertahankan tekanan (pressure maintenance), atau juga dapat
mengambil minyak yang tersembunyi di bagian atas reservoir yang terhalang oleh patahan atau bongkah garam
(salt dome) yang sering disebut dengan “attic oilt”. Penggunaan gas sebagai fluida pendesak yang tidak
bercampur sudah berlangsung cukup lama, tetapi akhir-akhir ini sudah tidak begitu digunakan lagi karena
pendesakannya tidak effisien, dan kini peranannya diganti oleh air.
Beberapa alasan yang mendasari tidak efisiennya gas sebagai fluida pendesak, antara lain:
a. Gas biasanya bersifat tidak membasahi terhadap batuan reservoir, oleh karena itu gas akan bergerak
melalui rongga pori-pori yang lebih besar dan bergerak lebih cepat (by-pass) dari minyak. Bila
saturasi gas telah ada sebelumnya, maka gas tersebut akan menempati rongga-rongga pori yang lebih
besar, sehingga gas yang diinjeksikan akan mendesak lebih banyak gas daripada minyak.
b. Fluida gas mempunyai viskositas yang relatif jauh lebih kecil dari minyak, sehingga gas cenderung
melewati minyak bukan mendesaknya.
c. Karena gas merupakan fluida yang tidak membasahi (non wetting) dan menempati rongga pori-pori
yang lebih besar dimana aliran paling mudah terjadi, maka hal ini lebih lanjut akan mengakibatkan
kenaikan yang cepat sekali pada permeabilitas relatif gas dan sebaliknya akan menurunkan secara
drastis harga permeabiltas relatif minyak. Dengan bertambah besarnya permeabilitas relatif gas,
maka akan besar pula mobilitasnya dan ini menyebabkan semakin buruknya problem
channeling,sehingga akan didapatkan harga saturasi minyak residual (Sor) yang- cukup besar pada
akhir proses pendesakan gas.
Salah satu faktor dari geometri reservoir yang dapat mempengaruhi operasi injeksi gas adalah kemiringan
lapisan reservoir. Dengan harga kemiringan (λ) lapisan yang cukup besar, kemungkinan terjadinya efek gravity
segregation juga semakin besar. Keuntungan yang didapat dengan timbulnya efek gravity segregation ini adalah
meningkatkan efisiensi pendesakan. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada persamaan fraksi aliran di bawah
ini :

Berdasarkan Persamaan (4-1) terlihat bahwa efek gravity segregation akan mencapai harga maksimum
jika :
a. Harga permeabilitas minyak besar.
b. Viscositas minyak rendah, sedangkan rapat massanya besar.
c. Penampang aliran (A) besar.
d. Mempunyai kemiringan lapisan yang besar.
e. Kecepatan penginjeksian rendah.
Dengan.adanya efek gravity segregation ini, maka harga fraksi aliran yang didapat akan semakin kecil,
sehingga Sg akan bertambah. Dengan demikian akan memperbesar recovery minyak sampai gas breaktrough
injeksi tercapai.

Adanya slug CO2 oleh cairan yang diikuti dengan air (Injeksi slug CO 2 dan air secara bergantian). dapat dilakukan dengan beberapa cara sebagai berikut: Injeksi CO2 secara kontinyu selama proyek berlangsung. yaitu dengan menginjeksikan carbonat water ke dalam reservoir. kemudian minyak yang keluar diproduksikan melalui sumur produksi (Gambar 4. Sama seperti cara pertama dan kedua. sehingga minyak akan lebih banyak terdesak keluar dari media berpori. Tujuan utama adalah untuk terjadi percampuran yang lebih baik terhadap minyak sehingga akan mengurangi viskositas dari minyak serta mengembangkan sebagian volume minyak sehingga dengan demikian penyapuan akan lebih baik. Dalam pelaksanaan ini. Injeksi Carbonate Water (Injeksi slug CO 2 diikuti air). maka diharapkan efisiensi pendesakan akan lebih baik. Untuk cara yang pertama. yaitu dengan menginjeksikan sejumlah gas CO 2 yang telah direncanakan melalui sumur-sumur injeksi yang telah ada. Gambar Skematis Mekanisme Pendesakan . Mekanisme dasar injeksi CO2 adalah bercampurnya CO2 dengan minyak dan membentuk fluida baru yang lebih mudah didesak dari pada minyak reservoir awal. gas yang dibawa dengan menginjeksikan terus menerus gas CO 2 ke dalam reservoir maka diharapkan gas CO 2 ini dapat melarut dalam minyak dan mengurangi viskositasnya. dapat mengembangkan volume minyak dan merefraksi sebagian minyak. dapat menaikkan densitas (sampai tahap tertentu. Proses pelaksanaannya sama seperti pada proses EOR lainnya. 2. Sebenarnya carbonat water adalah percampuran antara air dengan gas CO 2 (reaksi CO2 + H20) sehingga membentuk air karbonat yang digunakan sebagai injeksi dalam proyek CO 2 flooding. kemudian karena adanya air yang berfungsi sebagai pendorong.Injeksi Gas CO2 1. Mekanisme Pendesakan Injeksi gas CO2 atau sering juga disebut sebagai injeksi gas CO 2 tercampur yaitu dengan menginjeksikan sejumlah gas CO2 ke dalam reservoir dengan melalui sumur injeksi sehingga dapat diperoleh minyak yang tertinggal. Ada empat jenis mekanisme pendesakan injeksi CO 2. maka minyak yang telah tersapu dan akan diproduksikan melalui sumur produksi. Untuk cara yang keempat sebenarnya sama dengan cara yang ketiga tetapi disini lebih banyak fluida digunakan CO2 untuk lebih melarutkan minyak setelah proses penyapuan terhadap pendesakan minyak. Adanya slug CO2 oleh cairan yang diikuti injeksi air dan CO 2 (Injeksi CO2 dan air secara simultan). Pada cara yang ketiga. gas CO2 yang diinjeksikan.15). pembentukan slug ini untuk lebih dapat mencampur gas CO2 ke dalam minyak. yaitu membentuk slug penghalang dari CO 2 yang kemudian diikuti air sebagai fluida pendorong. Untuk cara yang kedua. yang kemudian diikuti dengan penurunan densitas).

Miscibility dapat dicapai pada tekanan diatas 1500 psi pada beberapa reservoir. CO2 dapat diperoleh dari gas buangan atau dari reservoir yang mengandung CO 2. Kenaikan densitas d. Untuk mengurangi fingering maka diperlukan injeksi slug water. Pengembangan volume minyak b. d.3. CO2 merupakan zat yang tidak berbahaya. Injeksi CO2 bertindak sebagai solution gas drive sekalipun fluida tidak bercampur sempurna. Permukaan fluida campur (miscible front) jika rusak akan memperbaiki diri. i. Penurunan viscositas c. CO2 dengan air akan membentuk asam karbonik yang sangat korosif. penguapan. CO2 mudah larut di air menyebabkan air mengembang dan bersifat agak asam. c. Screening Criteria 4. Kelarutan CO2 di air dapat menaikkan volume yang diperlukan selama bercampur dengan minyak. Viskositas yang rendah dari setiap gas CO 2 bebas pada tekanan reservoir yang rendah akan menyebabkan penembusan yang lebih awal pada sumur produksi sehingga mengurangi effisiensi penyapuan. g. Membentuk fluida bercampur dengan minyak karena ekstraksi. Sedangkan beberapa kekurangan injeksi CO2 adalah seabagai berikut : a. b. f. Sifat-sifat CO2 Perubahan sifat kimia fisika yang disebabkan oleh adanya injeksi CO 2 adalah: a. e. c. Diperlukan injeksi dalam jumlah yang besar (5 – 10 MCF gas untuk memproduksi satu STB minyak). Sumber CO2 biasanya tidak diperoleh ditempat yang berdekatan dengan proyek injeksi CO 2 sehingga memerlukan pemipaan dalam jarak yang panjang. h. g. CO2 akan bercampur dengan minyak yang telah berubah menjadi fraksi C 2-C6. Ekstraksi sebagian komponen minyak 4. b. e. Injeksi CO2 mengembangkan minyak dan menurunkan viskositas. d. . gas yang tidak mudah meledak dan tidak menimbulkan problem lingkungan jika hilang ke atmosfir dalam jumlah yang relatif kecil. Injeksi alternatif slug CO 2 dan air memerlukan sistem injeksi ganda dan hal ini akan menambah biaya dan kerumitan sistem. dan pemindahan kromatologi. Kelebihan dan Kekurangan Ada beberapa alasan (kelebihan utama). viskositas minyak lebih rendah dari pada minyak reservoir sehingga menyebabkan fingering dan penembusan yang belum waktunya. sehingga dilakukan injeksi CO2 yaitu : a. Setelah fluida tercampur terbentuk. f.

fuel gas. Dalam injeksi gas yang mengembun dan injeksi tercampur pada kontak pertama. Sifat-sifat Gas Kering Faktor-faktor yang menjadi sifat-sifat untuk gas-gas Hidrokarbon. dan nitrogen. Proses ini memerlukan tekanan injeksi yang besar c. gas buangan. Injeksi gas kering biasanya memerlukan daerah injeksi yang luas (1000 acre). d. Injeksi gas yang menguapkan berbeda dengan injeksi gas yang mengembun maupun dengan injeksi tercampur pada kontak pertama (first contact miscible flood). . atau nitrogen biasanya cukup tinggi sehingga membatasi pemakaian metode daya dorong gas yang menguapkan pada reservoir dengan kedalaman kira-kira 5000 ft atau lebih. Pada dua metode terakhir. nitrogen. dan campuran N 2 & CO2: a. Reservoir yang cocok untuk injeksi ini adalah karbonat dan sandstone dengan tingkat stratifikasi yang tinggi dan kurang heterogen. Pada injeksi gas yang menguapkan. Lebih ekspansif daripada propana atau gas yang diperkaya. Kelebihan dan Kekurangan Kelebihan dari injeksi gas kering pada tekanan tinggi adalah: a. sebab reservoir minyak harus kaya komponen C2-C4 b. 2. Injeksi yang menguapkan bukanlah proses pendesakan fluida. sejumlah kecil dinding pelarut tersebut dipertahankan untuk pendesakan yang efektif. Penyapuan vertikal dapat diperbaiki melalui penyebaran melintang (transverse dispersion) dengan mempertimbangkan volume yang besar dari gas terlarut yang diinjeksikan. Tidak ada masalah yang terjadi pada ukuran slug sehubungan dengan injeksi secara kontinyu. Gas Hidrokarbon murni banyak yang digunakan karena pada saat ini murah dan tersedia dalam jumlah yang cukup. Mobility ratio pada injeksi gas yang menguapkan secara keseluruhan rendah. Banyak injeksi yang menguapkan dilakukan pada reservoir tipis atau yang memiliki tebal 10 ft. ketercampuran pendorong gas dapat dicapai dengan gas hidrokarbon kering (lean hydrocarbon). Mobility ratio pada injeksi gas yang menguapkan secara keseluruhan lebih rendah dibandingkan dengan injeksi gas yang mengembun atau injeksi tercampur pada kontak pertama. Perbedaan penting lainnya antara ketiga metode tersebut adalah bahwa pada injeksi gas yang menguapkan. Mekanisme Pendesakan Pada tekanan tinggi. gas-gas pengganti memerlukan tekanan yang lebih besar.Injeksi Gas Kering Pada Tekanan Tinggi 1. Efisiensi pendesakan mendekati 100%. Screening Criteria 3. Proses ini terbatas. Gas dapat diinjeksikan kembali. b. Kekurangan dari injeksi gas kering pada tekanan tinggi adalah: a. produksi pelarut menurunkan penyapuan tercampur. c. Viscositas untuk gas hidrokarbon & N2 4. gas produksi dapat ditekan sampai tekanan tercampur dan diinjeksikan kembali untuk mempertahankan pendesakan tercampur. gas produksi dapat ditekan sampai tekanan tercampur dan diinjeksikan kembali untuk mempertahankan pendesakan tercampur. Tekanan tercampur dengan gas alam. Kompressibilitas untuk gas-gas alam & N 2 b. Biaya yang diperlukan untuk gas alam mahal.

Karena berat jenis gas ditentukan oleh berat molekul tiap penyusun gas. Harga gas mahal c. Di bawah ini diberikan beberapa parameter yang penting untuk menentukan kelarutan gas dalam minyak: 1. Kekurangan a. 3. Mengembangkan percampuran pada tekanan yang relatif rendah. Bila tekanan reservoir turun. Pada suhu dan tekanan tertentu kelarutan gas dalam minyak berkurang dengan berkurangnya berat jenis gas. Sangat baik untuk seluruh minyak sisa b. 4. sehingga seluruh fluida reservoir berbentuk cairan. 6. Viscositas untuk gas hidrokarbon & N2 5. Pengaruh Komposisi Minyak Berat jenis zat cair yang rendah menunjukkan konsentrasi zat cair hidrokarbon dengan berat molekul rendah. Screening Criteria 4. akan naik dengan naiknya berat jenis API minyak 2. Pencampuran Thermodinamika Selama injeksi gas ke dalam reservoir minyak. d. Pengaruh Tekanan Kelarutan gas berharga tetap pada tekanan di atas tekanan gelembung minyak. Pengaruh Suhu Kelarutan gas dalam minyak berkurang dengan naiknya suhu. Ukuran slug yang besar memperkecil problem-problem yang akan terjadi dalam perencanaan slug. maka perlahan-lahan akan terjadi pencampuran antara dua fluida tersebut sehingga komponen akan menjadi lebih serupa. maka gas mulai terbebaskan dan hanya sebagian gas saja yang masih tertinggal (larut) di dalam cairan 2. Kompressibilitas untuk gas-gas alam & N 2 b. karena pada tekanan tersebut tidak ada gas terbebaskan pada saat minyak menuju ke sumur produksi. Tipe pendesakan ini disebut condensing gas drive. Kemudian fasa gas dan minyak hanya sebentar dipisahkan oleh bidang antar muka dan selanjutnya terjadi pencampuran. Pengaruh Komposisi Gas Kelarutan gas dalam minyak berkurang dengan konsentrasi penyusun dengan berat molekul yang rendah dalam gas itu. Oleh sebab itu. Percampuran dapat dilakukan kembali jika terjadi kehilangan di reservoir. pengaruh komposisi minyak terhadap kelarutan gas dalam minyak. Mekanisme Pendorongan Injeksi gas diperkaya (enrich gas drive) adalah suatu usaha peningkatan recovery minyak sisa dalam pori-pori batuan reservoir. Kelebihan a. c. Penjarian viskositas mempengaruhi disipasi slug . sepanjang fluida reservoir tidak berbeda secara keseluruhan komposisinya. Gravity override terjadi pada formasi yang tipis b. Seperti diketahui bahwa berat jenis turun dengan naiknya oAPI. Sifat-sifat Gas yang Diperkaya a.Injeksi Gas yang Diperkaya 1. maka harus ada hubungan antara berat jenis gas dengan kelarutan. dll). butana. dan mencapai tekanan di bawah tekanan gelembung. dengan menginjeksikan gas alam kering (relatif lebih banyak methana) yang telah diperkaya oleh komponen intermediate (propana. Gambar Skematis Mekanisme Injeksi 3.

Pada proses Flue Gas. Gas inert akan lebih suka tinggal sebagai residu pada saat abandonment dari pada gas alam. kemudian gas dimasukkan kedalam water scrubber untuk membersihkan uap air dari gas yang selanjutnya gas dikirim ke alat pengering (dryers). pada reservoir dengan permeabilitas yang kecil.Water Separator. Setelah itu gas engine exhaust ini siap diinjeksikan dengan kompressor ke dalam sumur injeksi. kemudian dengan melalui head exchange terlebih dahulu dimasukkan ke dalam kolom distilasi dimana gas N2 yang sangat ringan ini akan dihasilkan dari puncak kolom distilasi. yang dipisahkan dari udara. b. maka dari sini dihasilkan flue gas yang dengan kompressor siap diinjeksikan ke dalam sumur injeksi. gas yang dipakai adalah gas yang dihasilkan dari gas sisa pembakaran mesin.Injeksi Gas Inert 1. Sebagai bahan dasar sama dengan pada proses flue gas yaitu udara dan gas alam. Instalasi untuk memisahkan gas inert dari gas alam yang dihasilkan sumur produksi akan dipasang jika diperlukan. Kelebihan a. Akan tetapi N2 dan minyak dapat bercampur pada suatu kondisi tertentu melalui proses penggandaan kontak. kemudian kompressor dan pompa untuk menginjeksikan gas ke dalam reservoir. udara dengan kompresor disalurkan melalui separator air. maka diperlukan instalasi khusus yang mengolah gas yang akan diinjeksikan. . Pada proses Cryogenic N2. d. Sifat-sifat Gas Inert Gas yang tidak reaktif (inert gas) seperti N2 murni atau campuran yang didominasi N2 dapat dijadikan alternatif pengganti gas alam. Korosi dalam operasi yang memakai boiler dan atau gas sisa pembakaran untuk pendesakan minyak secara tercampur b. yang selanjutnya siap diinjeksikan dengan kompresor nitrogen 2. 4. injeksi gas ini akan mencegah terjadinya perembesan minyak ke dalam zona tudung gas. hasil pembakaran gas alam akan diperoleh gas hasil pembakaran atau gas inert sebanyak 5 sampai 10 kali volume gas alam yang dibakar. sebab memerlukan tekanan yang tinggi untuk dapat bercampur. Mekanisme Pendesakan Pada suatu lapangan dimana dilakukan injeksi gas inert selain fasilitas produksi yang biasa ada seperti block station. c. Pada proses Gas Engine Exhaust. Gas hasil sisa pembakaran ini sebelum diinjeksikan ke dalam sumur juga dilewatkan melalui Nox. Jika tudung gas ada. Hasil dari beberapa percobaan mengindikasikan bahwa N 2 tidak cocok sebagai bahan pendesak tercampur (miscible displacement agent). Injeksi gas akan menghasilkan perolehan lebih banyak jika dibandingkan dengan pendesakan air. Peraturan seperti ini mungkin membatasi atau melarang injeksi dengan gas alam. Kekurangan a. dari sini gas yang dihasilkan dialirkan melalui Nox reaktor ntuk membatasi kadar Nox di dalam gas. dan Dryers. Adanya breakthrough (tembus gas) dari gas nitrogen yang diinjeksikan pada sumur-sumur produksi merupakan masalah yang serius dan juga masalah dalam hal pembiayaan. yang dimaksud adalah untuk memproduksikan nitrogen murni. Screening Criteria 3. sebagai bahan dasar adalah gas alam yang dimasukkan kedalam ketel uap (boiler). Realisasi penyediaan gas alam kemungkinan tidak akan stabil karena harga dan persediaan gas alam dimasa datang akan dikontrol oleh pemerintah. Prosesnya. 5. yang dengan perbandingan tertentu dipakai sebagai bahan bakar mesin.

WW . Beberapa sifat batuan dapat mempengaruhi terhadap injeksi alkalin.1 % berat dan ukuran slugnya sekitar 15% volume pori. Beberapa mekanisme yang ada. Perubahan Kebasahan. dan penghancuran rigid interfacial film. Hal ini disebabkan karena selain ikut mendesak. Konsentrasi NaOH. Hasil pengamatan laboratorium menunjukkan bahwa kondisi optimum pada injeksi alkaline dicapai dengan konsentrasi NaOH 0. yaitu water wet menjadi oil wet dan oil wet menjadi water wet. sedangkan reseistivitas alkalin dengan batuan reservoir dapat ditentukan di laboratorium. Zat tambahan lain yang sering dipakai adalah larutan elektrolit NaCl yang digunakan sebagai preflush. pH dan salinitas yang optimum serta konsentrasi asam pada minyak di reservoir yang mencukupi akan menyebabkan terjadinya emulsifikasi di formasi. perubahan kebasahan. Akibat dari mekanismemekanisme tersebut secara makroskopis adalah adanya perbaikan areal dan volumetric sweep efficiency. Padatan film dengan injeksi alkaline akan pecah atau larut terbawa gerakan minyak sisa. maka ia akan melipat membentuk simpul-simpul yang mengakibatkan minyak tidak dapat keluar dari media berpori. yaitu dengan perubahan mobilitas ratio atau perubahan permeabilitas minyak-air. API < 30 °API Viskositas < 200 cp Salinitas < 20000 ppm Minimum Saturasi Minyak Kedalaman < 8000 ft Jenis Formasi Sandstone Permeabilitas Rata-rata 20 mD Temperatur < 200 °F Wettabilitas Pref. Bahan kimia yang menghasilkan pH tinggi pada konsentrasi yang rendah adalah NaOH. maka batuan water wet berubah menjadi oil wet b) Zat perubah kebasahan bereaksi dengan organic acid dan menurunkan tegangan antarmuka c) Konsentrasi zat perubah kebasahan turun sehingga batuan berubah lagi menjadi water wet d) Minyak akan lepas dari batuan dan mengalir bersama dengan air injeksi Sedangkan pada perubahan oil wet menjadi water wet terjadi penurunan tegangan antarmuka yang menjadikan batuan berubah menjadi water wet Perubahan Rigid Interfacial Tension. jika jumlahnya cukup banyak dapat mendesak slug alkalin karen mengendapnya hidroksida-hidroksida yang tidak dapat larut. Bila film ini masuk ke dalam ruang pori yang kecil. Limestone dan dolomit bersifat tidak reaktif dan reaksi dengan komponen silika di dalam batu pasir sangat lambat dan tidak lengkap. yaitu penurunan tegangan antarmuka. emulsifikasi. maka untuk menaikkan bilangan kapiler dilakukan dengan menurunkan tegangan antarmuka sampai ribuan kali atau lebih. Bila viskositas dan kecepatan konstan. Mekanisme Pendesakan Injeksi alkaline merupakan proses yang sederhana dan relatif tidak mahal dalam pelaksanaannya. Secara mikroskopis adalah merubah minyak yang tidak dapat bergerak (immobile) dalam media berpori menjadi dapat bergerak (mobile). tetapi prosesnya sangat lambat. Gypsum dan anhydrit jika jumlahnya melebihi dibandingkan dengan jumlahnya yang ada di dalam tracer akan menyebabkan mengendapnya Ca(OH)2 dan membuat slug NaOH menjadi tidak efektif. Emulsifikasi. Penurunan Tegangan Antarmuka. Dari pengalaman di lapangan. tetapi memiliki mekanisme pendesakan yang kompleks. sebab pH yang tinggi akan mengakibatkan penurunan tegangan permukaan minyak. ternyata dapat meningkatkan recovery minyak sampai 20%. 2. Pada water wet menjadi oil wet.Injeksi Alkaline 1. penggunaan kosurfaktan ini. Clay dengan kapasitas pertukaran ion yang tinggi dapat menghasilkan slug NaOH dengan menukar hidrogen dari sodium. terjadi: a) Konsentrasi zat perubah kebasahan naik. Ion divalen dalam air di reservoir. Perubahan kebasahan dimaksudkan untuk mengurangi atau menghilangkan tekanan kapiler. yaitu dengan emulsifikasi dan penurunan tegangan permukaan. Screening Criteria Injeksi alkalin atau kaustik merupakan suatu proses dimana pH air injeksi dikontrol pada kisaran harga 12-13 untuk memperbaiki perolehan minyak. surfaktan juga turut melarutkan minyak. Pemilihan bahan dilakukan berdasarkan pH tertinggi. Film ini akan hancur dan masuk ke dalam minyak. Terdapat dua kemungkinan perubahan kebasahan. Bahan kimia injeksi ini paling murah dibandingkan dengan bahan untuk injeksi kimia lainnya. untuk menggerakkan air formasi yang tidak cocok dengan komposisi slug surfaktan. Hasil penelitian laboratorium menunjukkan bahwa dengan menginjeksikan emulsi minyak dalam air (water in oil emulsion) hasilnya akan lebih baik dibanding injeksi dengan air.

4. c. e. maka konsumsi alkalinnya akan semakin besar. Hal-hal yang perlu diperhatikan sehubungan dengan pengaruh karakteristik reservoir ini adalah : 1. dan viskositas minyak yang rendah. Luas Permukaan. konsentrasi NaOH harus cukup. Struktur dan Geologi Reservoir Hal-hal yang perlu dihindari adalah : Reservoir dengan sesar dan rekahan yang memungkinkan terjadinya distribusi minyak yang tidak merata. karena konsentrasi NaOH yang berlebihan akan menyebabkan emulsifikasi yang sebaliknya (air dan minyak) atau tidak terjadi emulsi sama sekali. salinitas yang rendah. 2. d. Meningkatkan mobilitas dan permeabilitas minyak. Reservoir dengan tingkat perlapisan yang tinggi. Tidak cocok untuk reservoir dengan heterogenitas batuan yang besar. Biaya paling murah dibandingkan dengan injeksi kimia lainnya. Meningkatkan sweep efficiency dan emulsifikasi. b. Terjadi perubahan wettabilitas. Dapat menurunkan tegangan permukaan b. Parameter yang Mempengaruhi Konsentrasi NaOH. . Minyak yang tersisa setelah injeksi alkalin pada matrik oil-wet adalah berbentuk film. Kandungan kimia pada fluida reservoir dan injeksi air hangat sangat berpengaruh mekanisme dalam injeksi alkalin. Kekurangan a. Kedalaman dan Temperatur Dari hasil pengukuran di laboratorium didapatkan bahwa dengan semakin dalam dan semakin tinggi temperatur reservoir.3. Agar didapat emulsi minyak dalam air pada proses emulsifikasi di formasi. c. Dengan demikian injeksi alkalin akan tidak efektif pada batuan yang mempunyai luas permukaan yang besar seperti batu lempung dan silt. minyak yang tersisa akan lebih besar bila luas permukaan batuan semakin besar. 5. Tegangan antar muka akan minimum pada range pH dan konsentrasi NaOH tertentu. Ketebalan total reservoir yang jauh lebih besar dari ketebalan minyak. Heterogenitas batuan yang tinggi dan perkembangan porositas serta permeabilitas yang rendah. Luas zona minyak yang kecil atau zona minyak yang tipis di atas aquifer yang tebal. Komposisi Fluida Reservoir. SG yang rendah. Karakteristik Reservoir. Membentuk film pada matriks batuan oil wet. Ketebalan film ini tergantung pada kualitas pendesakan emulsinya. Kelebihan a. Tidak cocok untukreservoir dengan kondisi P &T yang tinggi.

Jika minyak reservoir lebih sukar bergerak dibandingkan dengan air pendesak. Meningkatkan recovery. Kekurangan a. b. e. akan meningkatkan viskositas air sebagai fluida pendesak. dengan harapan perolehan minyaknya akan lebih besar. Meningkatkan sweep efficiency dan emulsifikasi. sehingga effisiensi pendesakan dan recovery minyak rendah. d.Injeksi Polymer 1. Mekanisme pendesakannya sangat kompleks. Meningkatkan viskositas fluida pendesak sehingga menurunkan mobilitas air. Penambahan polimer ke dalam air injeksi dimaksudkan untuk memperbaiki sifat fluida pendesak. Polimer ini berfungsi untuk meningkatkan efisiensi penyapuan dan invasi. sehingga Sor yang terakumulasi dalam media pori yang lebih kecil akan dapat lebih tersapu dan terdesak. hal ini akan menyebabkan air cepat terproduksi. Salinitas dan keasaman reservoit yang tinggi akan merusak ikatan kimia polymer. Biaya operasional relatif murah. maka air cenderung menerobos minyak. . sehingga mobilitas air sendiri menjadi lebih kecil dari semula dengan demikian mekanisme pendesakan menjadi lebih efektif. Kelebihan a. 2. Screening Criteria API < 25 °API Viskositas < 100 cp Salinitas < 20000 ppm Kedalaman < 8000 ft Jenis Formasi Sandstone atau Carbonat Permeabilitas Rata-rata 20 mD Temperatur < 200 °F Wettabilitas Pref. Mekanisme Pendesakan Injeksi polimer pada dasarnya merupakan injeksi air yang disempurnakan. Injeksi polimer dapat meningkatkan perolehan minyak yang cukup tinggi dibandingkan dengan injeksi air konvensional. Pengaplikasiannya lebih sederhana. WW 3. Penambahan sejumlah polimer ke dalam air. b. c. 4.

5. Gambar Skematis Mekanisme Pendesakan polymer .

dan H+. sehingga tidak dapat bergerak dapat dikeluarkan dengan menginjeksikan larutan surfaktan. Mekanisme Pendesakan Larutan surfactant yang merupakan microemulsion yang diinjeksikan ke dalam reservoir. Hal ini dilakukan untuk mencegah terjadinya fingering dan chanelling. maka hal-hal diatas harus diperhatikan. Sejumlah besar fluida (sekitar 15 – 60% atau lebih) diinjeksikan ke dalam reservoir untuk mengurangi tegangan antarmuka antara minyak dan air. Di satu pihak polymer melindungi bank ini sehingga tidak terjadi fingering menerobos zone minyak dan di lain pihak melindungi surfactant bank dari terobosan air pendesak. Konsep pertama adalah larutan yang mengandung surfactant dengan konsentrasi rendah diinjeksikan. Mobilitas slug surfactant harus lebih kecil dari mobilitas minyak dan air di depannya. Selain kedua additive di atas. Percampuran surfactant dengan minyak membentuk emulsi yang akan mengurangi tekanan kapiler. Surfactant memulai perannya sebagai zat aktif permukaan untuk menurunkan tegangan permukaan minyak-air. akibatnya kemampuan untuk menurunkan tegangan permukaan minyak-air semakin menurun. sehingga dapat meningkatkan perolehan minyak. salinitas air formasi yang sangat tinggi. yang merupakan pembatas antara batuan reservoir dan gelembung-gelembung minyak. Akibatnya ikatan antara gelembung-gelembung minyak akan semakin besar dan adhesion tension semakin kecil. Pada surfaktan flooding kita tidak perlu menginjeksikan surfaktan seterusnya. API < 25 °API Viskositas < 100 cp Salinitas < 20000 ppm Kedalaman < 8000 ft Jenis Formasi Sandstone Permeabilitas Rata-rata 20 mD Temperatur < 200 °F Wettabilitas WW or OW 3. Pada dasarnya ada dua konsep yang telah dikembangkan dalam penggunaan surfactant untuk meningkatkan perolehan minyak. Screening Criteria Untuk memperbaiki kondisi reservoir yang tidak diharapkan. Dalam hal ini. seperti konsentrasi ion bervalensi dua. Molekul-molekul surfactant yang mempunyai rumus kimia RSO 3H akan terurai dalam air menjadi ionion RSO3. micelles yang terbentuk bisa berupa dispersi stabil air di dalam hidrokarbon atau hidrokarbon di dalam air. Pada konsep kedua. . Agar efektivitas slug surfactant dalam mempengaruhi sifat kimia fisika sistem fluida di dalam batuan reservoir dapat berjalan baik. maka perlu ditambahkan bahanbahan kimia yang lain seperti cosurfaktan (umumnya alkohol) dan larutan NaCl. maka surfactant yang ada dalam slug surfactant menjadi menipis. Misalnya mobilitas masing-masing larutan harus dikontrol. Surfactant + cosurfactant harganya cukup mahal.akan bersinggungan dengan gelembung-gelembung minyak. dimana minyak yang terjebak oleh tekanan kapiler. maka diharapkan tidak ada lagi minyak yang tertinggal. Ion-ion RSO3. Mula-mula bersinggungan dengan permukaan gelembung-gelembung minyak melalui film air yang tipis. melainkan diikuti dengan fluida pendesak lainnya. Surfactant dilarutkan di dalam air atau minyak dan berada dalam jumlah yang setimbang dengan gumpalangumpalan surfactant yang dikenal sebagai micelle. larutan surfactant dengan konsentrasi yang lebih tinggi diinjeksikan ke dalam reservoir dalam jumlah yang relatif kecil (3 – 20% PV). Setelah minyak dapat bergerak. yang perlu diperhatikan dalam operasi surfaktan flooding adalah kualitas dan kuantitas dari zat tersebut. Jika adsorbsi yang terjadi kuat sekali. yaitu air yang dicampur dengan polymer untuk meningkatkan efisiensi penyapuan dan akhirnya diinjeksikan air. Persoalan yang dijumpai pada injeksi surfactant adalah adsorbsi batuan reservoir terhadap larutan surfactant. Injeksi surfactant ini ditujukan untuk memproduksikan residual oil yang ditinggalkan oleh water drive. serta absorbsi batuan reservoir terhadap larutan dan kondisi-kondisi lain yang mungkin dapat menghambat proses surfaktan flooding. 2. Adsorbsi batuan reservoir pada slug surfactant terjadi akibat gaya tarik-menarik antara molekul-molekul surfactant dengan batuan reservoir dan besarnya gaya ini tergantung dari besarnya afinitas batuan reservoir terhadap surfactant.Injeksi Surfactant 1. sehingga terbentuk oil bank yang kemudian didesak dan diproduksikan. Parameter yang Mempengaruhi Injeksi Surfactant Adsorbsi. Ia akan mempengaruhi ikatan antara molekul-molekul minyak dan juga mempengaruhi adhesion tension antara gelembung-gelembung minyak dengan batuan reservoir. Slug surfactant setelah diinjeksikan kemudian diikuti oleh larutan polimer.

Terjadi degradasi ikatan kimia pada temperatur reservoir yang tinggi. Gambar Skema Mekanisme Pencampuran Injeksi 7. Menurunkan tegangan antar muka. Surfactant di dalam air akan mudah terurai menjadi ion RSO3. Clay. Hal ini disebabkan karena ikatan kimia yang membentuk NaCl adalah ikatan ion yang sangat mudah terurai menjadi ion Na+ dan ion Cl-. Salinitas. c. Konsentrasi surfactant yang digunakan makin pekat. disebabkan oleh sifat clay yang suka air (Lyophile) menyebabkan adsorbsi yang terjadi besar sekali. Biaya operasional relatif mahal. Dapat diaplikasikan bersama dengan polymer. Menurunkan tekanan kapiler. 4. b. Kelebihan a. maka akan membentuk HCl dan RSO3Na. begitu juga halnya dengan molekul-molekul surfactant. 5. Kekurangan a. maka akan semakin besar adsorbsi yang diakibatkannya mencapai titik jenuh. Salinitas air formasi berpengaruh terhadap penurunan tegangan permukaan minyak-air oleh surfactant. Gambar Skema Mekanisme Pendesakan . Konsekuensinya bila pada operasi injeksi surfactant terdapat garam NaCl. 6. NaCl untuk konsentrasi garam-garam tertentu akan menyebabkan penurunan tegangan permukaan minyak-air tidak efektif lagi.dan H+. Meningkatkan efisiensi pendesakan.Konsentrasi Slug Surfactant. Konsentrasi surfactant juga berpengaruh besar terhadap terjadinya adsorbsi batuan reservoir pada surfactant. b. Clay yang terdapat dalam reservoir harus diperhitungkan karena clay dapat menurunkan recovery minyak. dimana HCl dan RSO3Na bukan merupakan zat aktif permukaan dan tidak dapat menurunkan tegangan permukaan minyak-air. d.

kcal/kg. Hal tersebut mengakibatkan pendesakan lebih efektif dan saturasi minyak yang tersisa lebih rendah pada bagian yang tersapu dari lapisan minyak. 2. Proses pendesakan panas sangat simpel dan dapat berfungsi sebagai water flood. kcal/kg. . kg/m3.C. Air mempunyai kapasitas panas yang rendah dibanding steam. Kekurangan a. Perlu adanya treatment khusus untuk mengontrol korosi. kcal/kg. Air panas di dalam reservoir akan mengalir secara kontinyu ke lapisan yang lebih dingin kemudian secara berangsur-angsur akan terjadi kehilangan panas sehingga akhirnya temperatur mendingin sampai tercapai temperatur reservoir mula-mula pada daerah yang terpanasi. Distribusi temperatur dalam zone yang terpanasi tergantung kepada kehilangan panas di cap rock dan base rock.C. kg/m3. w = densitas air. b. Vt = kecepatan front temperatur T. b. dan kenaikkan recovery minyak biasanya disertai dengan tingginya WOR (Water Oil Ratio). 4. Temperatur yang lebih tinggi dalam hot water channels akan mengurangi oil/water viscosity ratio. Co = kapasitas panas spesific minyak.C. Vtr = kecepatan front tracer. Air panas akan mendingin lebih cepat dalam jari-jari yang kecil (small fingers). m/hari. Mula-mula minyak akan didesak oleh air dingin sebelum front panas sampai. kg/m3 . m/hari. swelling. tetapi kecepatan leading edge tidak bergantung pada kehilangan panas. Penambahan keuntungan dari injeksi air panas biasanya terjadi setelah breakthrough air dingin pada sumur produksi.  = porositas. cw = kapasitas panas spesific air. Design dan operasinya sebagian besar dapat menggunakan fasilitas water flood. Bank air yang mendingin secara kontinyu akan terbentuk di depan zona yang terpanasi. Screening Criteria API >10 °API Viskositas 100-1000 cp Komposisi Tidak kritis Kedalaman 400-1000 ft Jenis Formasi Sandstone atau limestone Permeabilitas Rata-rata 20 mD Saturasi Minyak >40 %PV Temperatur Tidak kritis Tekanan Tidak kritis 3. Hubungan kecepatan dengan kapasitas panas menurut Dietz adalah sebagai berikut : Keterangan : cm = kapasitas panas spesific material matrix. o = densitas minyak. Berangsur-angsur kemudian kehilangan panas dari hot water channels akan menambah temperatur reservoir dengan cara konduksi. fraksi. Efisiensi pendesakan lebih baik dari water flood conventional. c. Mekanisme Pendesakan Air yang diinjeksikan dalam reservoir dipanaskan terlebih dahulu sampai temperatur air lebih tinggi dari temperatur reservoir mula-mula dan lebih rendah dari temperatur penguapan air. Vtr (1   ) mcm  Soroco  1 Vt  (1  Sor ) wcw Zona yang terpanasi dan bagian atau bank air yang mendingin akan segera terakumulasi setelah injeksi air panas dimulai. problem scale. dan emulsi. tetapi dengan laju yang lebih lambat.Injeksi Air Panas 1. m = densitas material matrix. Hal ini akan mengurangi viscositas minyak dan meningkatkan efek water drive. Akibat dari hot water drive lebih buruk daripada cold water drive sebab hot water kurang viscous dibandingkan dengan cold water. Sor = saturasi minyak tersisa. sehingga panas berjalan lambat dalam reservoir. Kelebihan a. Tetapi hakikatnya masih mendorong minyak dingin. fraksi. Kecepatan ini berbanding lurus dengan flux air dan tergantung pada kapasitas panas air dan batuan.

gradient geathermal. Ti = temperatur dalam pipa. ft. uap berubah menjadi air panas karena temperatur turun akibat pelepasan panas dari uap ke batuan dan fluida teservoir. Pada proses ini uap diinjeksikan untuk memanaskan dan mendesak minyak berat ke sumur produksi. 2 rto to Kh  l2    Tst  b  l  a  Qwb  Kh  rto to  2 Kehilangan panas di sumur injeksi. °F/ft. . Ada dua macam injeksi uap yang dapat dilakukan yaitu: Stimulasi uap (steam soak). Fluida panas meninggalkan generator mengalir melalui stream line di permukaan menuju ke well head. f(t) = fungsi konduksi panas transient. Mekanisme Pendesakan Proses pelaksanaan injeksi uap hampir sama dengan injeksi air. panjang tubing. °F. Keterangan: Qwb = laju kehilangan panas di dasar sumur. Hal ini disebabkan karena adanya perpindahan panas dari fluida panas ke formasi di sekitar lubang sumur. μto = koefisien overall heat transfer. Kh = konduktivitas panas formasi. temperatur geothermal permukaan. Hal ini di maksudkan untuk mengurangi pengaruh panas terhadap casing yang sudah disemen. Kehilangan panas cukup besar pada rate injeksi rendah dan formasi sand yang tipis. Kehilangan panas pada injeksi uap terjadi sejak uap keluar dari generator hingga uap tersebut mencapai reservoir. Pengurangan kehilangan panas dalam proyek injeksi uap yang lebih besar di lubang sumur. Pendesakan Uap. sehingga pada saat produksi lapisan di sekitar sumur menjadi bersih dan permeabilitasnya dapat meningkat. BTU/jam-ft2-0F. Uap tidak hanya menyebabkan viskositas minyak turun dengan kenaikan temperatur. Kehilangan panas di permukaan disebabkan oleh perpindahan panas konduksi melalui pipa dan isolasinya. Tahap pertama. maka digunakan tubing berisolasi. 0F. sumur ditutup beberapa minggu agar uap dapat memanaskan minyak yang ada disekeliling lubang sumur agar menjadi encer (viskositas rendah). tak berdimensi. Uap diinjeksikan secara terus-menerus melalui sumur injeksi dan minyak yang didesak akan diproduksikan melalui sumur produksi yang berdekatan. 2 K ins l  Ti  To  Qsurface   ro  K ins    ri  ho ro ln  Keterangan: Kins= konduktivitas thermal isolasi. Kandungan panas uap sebagian akan hilang dipermukaan. Hal ini akan menjadi kritis apabila formasi underburdendan overburden berupa shale. BTU/jam. Pada proses ini terdapat tiga tahap kejadian. dalam sumur injeksi serta di lapisan cap rock dan base rock yang berhubungan dengan pengembangan zone uap. rto = jari-jari luar tubing. 0F. Laju kehilangan panas di sumur injeksi ini jumlahnya lebih besar dibandingkan di streamline. dan pada seat ini uap diinjeksikan kembali untuk mengulangi proses tersebut. °F. sedangkan pada bagian dalam dan luar pipa disebabkan oleh konveksi. d. Pada sand yang tipis. Tst b L a = = = = temperatur uap. sumur dibuka dan diproduksikan sampai laju produksi menurun. sejumlah panas akan hilang pada overburden dan underburden. tetapi juga menyebabkan pendesakan minyak. Tahap kedua.c. BTU/jam-ft. in. in. ho = koefisien kombinasi untuk konveksi dan radiasi. ro = jari-jari luar pipa. sejumlah uap kualitas tinggi diinjeksikan ke dalam sumur dengan rate injeksi yang besar. BTU/jam-ft2-°F. Kehilangan Panas di Permukaan. Keadaan ini akan menyebabkan terjadi kehilangan sebagian panas yang disebabkan karena adanya perbedaan temperatur fluida di sekelilingnya. ft. Pada steam soak sumur injeksi dan produksi adalah sama. l = panjang pipa. To = temperatur di luar pipa. ri = jari-jari dalam dari isolasi. BTU/jam-ft-°F. Injeksi Uap 1.ft. Pada tahap ketiga.0F. Kehilangan panas yang terjadi dapat diperkecil dengan memberi isolasi pada stream line. Metoda ini dapat berlangsung dengan baik pada reservoir yang dangkal. Pada saat uap mengalir ke dalam batuan yang mengandung minyak.

ft2/hari. Kehilangan panas ke cap rock den base rock dapat dinyatakan sebagai fraksi dari total injeksi panas    1 t Wc  1   e td erfc  t D  2 D  1    t D      Keterangan : tD = tak berdimensi.Kehilangan Panas di Reservoir. ft. = ketebalan formasi. t h = waktu. α = diffusivitas panas. . hari.

Terjadinya problem korosi. ehingga efisiensi pendesakan lebih efektif. b. d. Terjadinya kehilangan panas di seluruh transmisi. sehingga perlu pemasangan isolasi pada pipa. karena adanya panas yang hilang dalam formasi. Uap mempunyai kandungan panas yang lebih besar dari pada air. Oleh karena itu secara keseluruhan efisiensi e. Spasi sumur harus rapat. f. Screening Criteria API Viskositas Komposisi Kedalaman Jenis Formasi Permeabilitas Rata-rata Porositas Temperatur Tekanan 10-34 °API ≤ 15000 cp Tidak kritis ≤ 3000 ft Sandstone atau carbonate ≥ 250 mD ≥ 20 % ≤ 700 °F ≤ 1500 psia 3. 5. Efisiensi pendesakan sampai 60 % OOIP. formasi pada bagian atas akan tersaturasi steam. scale maupun emulsi. sehingga efisiensi pendesakan pada formasi bagian atas sangat baik. b. Kekurangan a. Recovery lebih besar dibandingkan dengan injeksi air panas untuk jumlah input energi yang sama. tergantung pada faktor heterogenitas batuan. c. Gambar Skematik Mekanisme Pendesakan Proses Stimulasi Uap Proses Pendesakan Uap . Karena adanya perbedaan gravitasi. Kecenderungan terjadinya angket oil sangat besar. Di dalam formasi akan berbentuk zone steam dan zone air panas. d. Pendesakan vertikalnya kurang baik. dimana masing-masing zone ini akan mempunyai peranan terhadap proses pendesakan minyak ke sumur produksi. Kelebihan a.2. c. 4.

maka forward combustion digolongkan ke dalam: a. Combination of forward combustion and water flood (partially quenched combustion atau pemadaman sebagian pembakaran). Screening Criteria API < 40 °API Viskositas ≤ 1000 cp Komposisi Komponen aspal dapat membantu deposisi coke Kedalaman < 500 ft Jenis Formasi Sandstone dengan porositas tinggi Permeabilitas Rata-rata > 100 mD Saturasi 40-50 %PV Temperatur > 150 °F Net Pay >10 ft . Dalam injeksi pada in-situ combustion dapat dibagi tiga tahapan. Wet combustion dan c. artinya udara injeksi bukan udara kering. Tahap Penyalaan. Forward Combustion.Injeksi In Situ Combustion 1. sehingga pembakaran dapat berlangsung di dekat sumur produksi dengan sumber O2 berasal dari sumur injeksi. Apabila saturasi gas reservoir kecil (S g = Sgc. dimana pembakaran dalam reservoir dapat berlangsung bila terdapat cukup oksigen (O 2) yang diinjeksikan dari permukaan. downhole burner. bergerak merambat ke arah sumur injeksi. Jenis combustion ini arah pergerakan muka pembakaran searah dengan arah pergerakan udara injeksi. yaitu : bahan bakar. Udara yang diinjeksikan melalui sumur injeksi membentuk cerobong-cerobong udara ke arah sumur produksi. Tiga faktor utama yang menentukan perambatan pembakaran. Minyak akan lebih mudah bergerak dengan naiknya temperatur sehingga sebagian minyak terdesak akan menjauhi zone pembakaran. yaitu penyalaan spontan dan penyalaan buatan. Jenis-jenis In-Situ Combustion Berdasarkan perambatan pembakaran ini In-Situ Combustion dibagi dalam forward combustion dan reverse combustion. 2. Berdasarkan kadar air terhadap udara injeksi forward combustion. Metode penyalaan menjadi dua. Mekanisme Pendesakan In-situ combustion adalah proses pembakaran sebagian minyak dalam reservoir untuk mendapatkan panas. spontan dan penyalaan buatan. Penyalaan terjadi di sekitar sumur produksi. di bawah harga ini gas tidak dapat bergerak). Dry combustion. Arah pergerakkan muka pembakaran pada jenis ini berlawanan dengan arah pergerakkan udara injeksi. maka gas akan sulit mengalir dan akan menghalangi pencampuran oksigen dengan bahan bakar. Tersedianya oksigen yang cukup. Dalam penyalaan spontan akan terjadi nyala apabila temperatur formasi telah mencapai temperatur nyala. hot fluid injection dan chemical. Suatu pembakaran diawali dengan penyalaan dan panas yang dihasilkan akan merambat secara konduksi. Muka pembakaran bergerak dari sumur injeksi ke sumur produksi pada forward combustion. Campuran bahan bakar dengan oksigen akan terbakar pada temperatur tertentu. oksigen.Udara yang diinjeksikan dapat ditambah air. dan kasus ini dekenal dengan sebutan “liquid blocking”. b. Tahap ini bertujuan untuk menaikkan harga saturasi gas di reservoir sampai mencapai harga saturasi kritis (S gc). Bila keadaan ini berlarut-larut. Reverse Combustion. maka Krg = 0). dan temperatur. Tahap Lanjutan Pembakaran. crude oil sekitarnya akan ikut terbakar setelah temperatur nyalanya tercapai. yaitu : Tahap Sebelum Penyalaan. Minyak produksi reserve combustion dilihat dari pergerakan muka pembakaran berbeda dengan minyak produksi forward combustion 3. maka pembakaran dapat padam. Penyalaan ini membutuhkan electrical meter. reaksi antara oksigen dengan crude oil dan panas hasil pembakaran (oksidasi) akan mencapai temperatur nyala dari crude oil. Dalam penyalaan spontan. Untuk penyalaan buatan membutuhkan bantuan untuk mencapai temperatur nyala. yaitu dengan menginjeksikan gas ke dalam reservoir.

4. g. pemanasan reservoir dengan menggunakan injeksi uap lebih murah dibandingkan forward combustion. sementara harga jual pada umumnya lebih rendah dibandingkan dengan minyak ringan. Kecuali untuk minyak yang memberikan coke dalam jumlah kurang dari 1 lb/cuft dan ketebalan reservoir 10 ft atau kurang. b. biaya pemanasan dengan menggunakan injeksi uap menjadi lebih besar. sebaliknya digunakan untuk memanaskan lapisan oil-bearing. salah satu proses mungkin dapat lebih murah tergantung pada konsumsi bahan bakar dan kedalaman reserevoir. Tetapi perbandingan udara terhadap minyak yang dibutuhkan tinggi. tekanan dan laju injeksi panas yang tertentu. 6. Untuk ketebalan. d. c. Jika jarak yang harus dipanasi dalam reservoir bertambah. Kekurangan a. Minyak yang kental dan berat cocok untuk in-situ combustion sebab memberikan bahan bakar yang diperlukan. interbedded shale dan tudung serta dasar batuan. Gambar Skematik Pendesakan . In-situ combustion memiliki kecenderungan hanya menyapu minyak bagian atas daerah minyak sehingga penyapuan vertikal pada formasi yang sangat tebal biasanya buruk. 5. d. Kehilangan panas di lubang sumur yang bertambah karena bertambahnya kedalaman akan membuat forward combustion lebih menguntungkan. Instalasi in-situ combustion memerlukan biaya investasi yang besar. Kebanyakan panas yang dihasilkan dari in-situ combustion tidak digunakan dalam pemanasan minyak. biaya injeksi uap menjadi relatif lebih menguntungkan dibandingkan dengan udara. Kelebihan a. Endapan coke yang semakin meningkat dapat membuat injeksi uap lebih menguntungkan. Namun jika harga bahan bakar meningkat. c. b. pemanasan dengan menggunakan combustion lebih menguntungkan. e. f. Jika ketebalan pasir berkurang dan tekanan bertambah. Jika laju injeksi berkurang. combustion lebih menguntungkan dibandingkan injeksi uap. tetapi instalasi permukaan mengkonsumsi bahan bakar lebih sedikit dibandingkan peralatan air panas atau generator uap.

Mekanisme Pendesakan 2.Injeksi Mikroba 1. Screening Criteria .