Anda di halaman 1dari 9

TUGAS HUKUM ANGKASA

UJIAN KOMPETENSI DASAR IV
Invantri Graham O.A/ E0011165

Soal
1. Apakah isi Space Treaty 1967 terkait dengan UU RI tentang itu, asas hukum internasional
apa yang dipakai acuan, jelaskan!
2. Apakah isi Resolusi PBB 1721 (XVI) 1961 kaitannya dengan kegiatan ruang angkasa?
3. Bagaimana aspek hukum pada Direct Broadcasting by Satellites?
4. Bagaimana tanggung jawab negara kaitannya dengan kerugian yang ditimbulkan oleh benda
ruang angkasa?
Jawab :
1.

Aturan hukum internasional mengenai pemanfaatan ruang angkasa yaitu

dengan

diterimanya Resolusi Majelis Umum PBB No. 1348 tanggal 13 Desember 1958 tentang
“Question of the Peaceful Uses of Outer Space”. Hal tersebut merupakan dasar
dibentuknya United Nations Committee on the Peaceful Uses of Outer Space
(UNCOPUOS) tahun 1959, yang merupakan sebuah komite ad hoc yang ditugaskan
untuk meneliti segala sesuatu yang berkaitan dengan ruang angkasa. Prinsip-prinsip
dalam deklarasi tersebut oleh Majelis Umum PBB berhasil dituangkan dalam sebuah
perjanjian internasional, yaitu “Treaty on Principles Governing the Activities of States in
the Exploration and Uses of Outer Space, including the Moon and Outer Celestial
Bodies” tanggal 27 Januari 1967, yang dikenal sebagai Space Treaty 1967. Space Treaty
1967 ditinjau dari segi praktis pemanfaatan ruang angkasa, akan muncul persoalan tata
tertib hukum berkaitan dengan wilayah perbatasan ruang udara dan ruang angkasa di tiap
negara. Membahas wilayah perbatasan ruang udara dan ruang angkasa, akan
berhubungan pula dengan beberapa hal, yaitu:
 Sifat dan luas wilayah ruang angkasa di mana hukum ruang angkasa berlaku,
 Macam dan bentuk kegiatan manusia yang diatur di wilayah tersebut,

Instrumen penerbangan (flight instrumentalities) dan alat-alat penunjang apa saja
yang menjadi objek ilmu hukum ruang angkasa.

Maka berdasarkan hal tersebut, Space Treaty 1967 dapat dikatakan mengatur hal
mengenai Ruang Angkasa. Di dalam Undang-undang di Indonesia tidak mengatur secara

diterapkan dan berlaku terhadap ruang angkasa.A/ E0011165 khusus mengenai eksplorasi dan eksploitasi ruang angkasa karena Indonesia tidak termasuk negara yang meratifikasi Space Treaty tersebut. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi berjalan secara cepat dan dinamis termasuk dalam bidang telekomunikasi dan pertelevisian. Isi resolusi dapat kita tinjau kembali pada 28 Desember 1961. Dijelaskan dalam UndangUndang Nomor 1 tahun 2009 tentang Penerbangan tidak mengatur mengenai Ruang Angkasa. 2. Salah satu temuan paling penting adalah mengenai satelit siaran langsung yang didasari oleh pemikiran untuk mendapatkan suatu bentuk siaran televisi melalui satelit secara langsung tanpa melalui . yakni dengan Resolusi 1721 (XVI) 20 Desember 1961.” Namun Panitia baru dapat mulai bekerja setelah keanggotaannya ditambah dari 18 negara menjadi 28 negara dengan berlandaskan pada perwakilan wilayah geografis. Maka sangat jelas bahwa memang peranan Majelis Umum PBB sangat besar dalam rangka menentukan arah kegiatankegiatan negara-negara di ruang angkasa. bulan dan benda-benda langit ini bebas untuk dieksploitasi serta digunakan oleh semua negara sesuai dengan Hukum Internasional dan tidak dibenarkan untuk dijadikan objek pemilikan. bahwa Hukum Internasional dan juga Piagam PBB. Meskipun Indonesia tidak meratifikasi ketentuan Space Treaty.TUGAS HUKUM ANGKASA UJIAN KOMPETENSI DASAR IV Invantri Graham O. namun demikian Indonesia menundukkan diri terhadap ketentuan Space Treaty sebagai suatu perjanjian Ruang Angkasa yang telah diterima secara universal. Hal ini terbukti dengan dibentuknya United nations Committee on the Peaceful Uses of Outer Space (UNCOPUOS) pada tahun 1959 melalui Resolusi Majelis Umum No. 3. ditaati karena perjanjian merupakan undang-undang bagi yang membuat. Hal tersebut sesuai dnegan asas pacta sun servanda yang artinya apa yang dijanjikan dalam perjanjian internasional harus dipatuhi. namun mengatur perihal penerbangan udara sipil saja. pada waktu ituMajelis Umum Perserikatan BangsaBangsa dengan secara bulat menyepakati prinsip. 1472 (XVI) 12 Desember 1959 dengan judul “International Cooperation in dealing with the Peaceful Uses of Outer Space. bulan dan benda-benda langit lainnya dan bahwa ruang angkasa.

dan mempererat hubungan persahabatan dan . Terkait dengan Siaran Langsung Melalui Satelit (Direct Broadcasting By Satellit ).TUGAS HUKUM ANGKASA UJIAN KOMPETENSI DASAR IV Invantri Graham O. hasutan. Komite hukum UNCOPUOS tersebut berhasil menginventarisasi kesembilan prinsip yang telah disepakati.Pada tahun 1978.A/ E0011165 sistem pemancar ulang atau yang sering disebut sebagai Direct Broadcasting by Satellite.Dengan adanya spill over pada DBS maka akan menimbulkan permasalahan dan dampak negative seperti propaganda. maka peluberan baik yang disengaja maupun tidak sengaja mungkin terjadi. Sistem siaran tersebut dapat langsung ke rumah penduduk tanpa melalui stasiun bumi perantara.Kemunculan satelit siaran langsung selain memberikan manfaat yang luas bagi masyarakat juga memunculkan beberapa permasalahan hukum. dimana sub-komite hukum ini ditugaskan untuk merumuskan prinsip prinsip pengaturan siaran langsung melalui satelit. dimana kesembilan prinsip tersebut masih bersifat umum dan hampir merupakan petikan dari prinsip yang sebelumnya dicantumkan dalam Space Treaty 1967. tindakan mencampuri urusan dalam negeri suatu negara dimungkinkan terjadi. yaitu sebagai berikut: a. Maksud dan Tujuan. Untuk menangani masalah siaran langsung melalui satelit secara internasional. menurut International Telecomunication Union (ITU) yang dimaksud dengan siaran melalui satelit adalah suatu siaran radio komunikasi yang dipancarkan kembali (retransmitted) melalui stasiun radio angkasa luar yang dimaksudkan untuk penerimaan langsung oleh umum baik perseorangan maupun masyarakat (group). Aktivititas Negara di bidang DBS harus tunduk pada syarat-syarat tertentu.Pada tahun 1976 telah dirumuskan suatu prinsip yang dikenal dengan sembilan prinsip komite PBB. Permasalahan yang timbul antara lain mengenai peluberan (spillover) siaran. seperti peningkatan pemahaman bersama. Pengiriman sinyal DBS biasanya meliputi lebih dari satu negara. karena arah pancaran dari satelit tidak dapat secara tepat mengikuti garis batas negara. Kesembilan prinsip tersebut merupakan suatu upaya dalam mencari jalan tengah dari perbedaan pendapat antara negara maju dan negara berkembang. PBB telah menyerahkan penangannya kepada SubKomite Hukum dari UNCOPUOS.

Menegaskan mengenai cara penyelesaian sengketa secara damai sebagaimana ditemukan dalam pasal 33 Piagam PBB. kewajiban akan dipikul oleh. h. . dan semua ketentuan internasional mengenai hubungan persahabatan dan kerjasama antarnegara. termasuk Piagam PBB. Aktivitas DBS harus sesuai dengan hukum internasional. organisasi tersebut. Setiap negara memiliki hak yang samauntuk melakukan aktivitas di bidang DBS.indungi dan setiap negara didorong untuk bekerjasama i. Kewajiban negara Negara memikul kewajiban internasional atas aktivitas yang dilakukannya atau yang dilakukan pihak lain di bawah yurisdiksinya. g. Selain ada isu dan prinsip yang telah berhasil disepakati ada isu isu yang belum disetujui dalam sidang sidang UNCOPOUS antara lain: a. Hak dan Manfaat. baik f. b. maupun negara-negara yang terlibat di dalamnya. Dalam hal pelaku aktivitas adalah organisasi antar pemerintahan. persetujuan-persetujuan ITU yang relevan. Hak dan Kewajiban Konsultasi. Notifikasi kepada PBB. Kerjasama ini harus mengacu pada persetujuan-persetujuan antara e.TUGAS HUKUM ANGKASA UJIAN KOMPETENSI DASAR IV Invantri Graham O. mengenai masalah ini melalui pembentukan pembentukan perjanjianinternasional. Hak Cipta dan Hak-Hak terkait Hak-hak ini harus di. negara yang bersangkutan. Penerapan Hukum Internasional. d. dan hak asasi manusia. Konsultasi dan perjanjian antar Negara.A/ E0011165 kerjasama antarnegara dan masyarakat demi kepentingan pemeliharaan perdamaian dan keamanan internasional. Negara harus selalu melaporkan/memberitahukan kepada PBB mengenai aktivitas DBS-nya. Menetapkan bahwa konsultasi mengenai masalah-masalah yang timbul dari aktivitas DBS internasional harus segera dilakukan apabila suatu negara memintanya. Space Treaty 1967. Penyelesaian Sengketa secara Damai. internasional. Kerjasama Internasional Aktivitas DBS harus didasarkan pada upaya meningkatkan kerjasama c.

A/ E0011165 Khususnya mengenai masalah seperti peluberan radiasi sinyal satelit. Isi siaran. cara hidup. 1948 Pengaturan internasional mengenai Direct Broadcast Satellite hingga saat ini dapat dibedakan anatara Domestic Direct Broadcast Satellite (DDBS) yaitu pengaturan internasional untuk DBS domestik. dan international Direct Broadcasting Satellite (IDBS). setiap orang berhak mengeluarkan pendapat dan menyiarkan pendapatnya tanpa terhalang oleh suatu pembatasan. yang terpenting antara lain sebagai berikut: . produksi dan pertukaran acara. dan permusuhan antar masyarakat. baik internasional maupun domestik.TUGAS HUKUM ANGKASA UJIAN KOMPETENSI DASAR IV Invantri Graham O. maka Negara ini boleh mengambil tindakan yang sah menurut hokum internasional terhadap siaran demikian. kecuali peluberan dalam batas batas yang ditentukan oleh peraturan peraturan ITU yang ditentukan oleh peraturan peraturan ITU yang relevan. Free Flow of Information Konsep ini dapat dilihat dari dua segi. Dilarang menyiarkan bahan bahan atau informasi yang merusak perdamaian dan keamanan. budaya. b. kebencian rasial atau bangsa. Konsep ini didasari pada The Universal Declaration of Human Rights. tradisi dan bahasa setempat. Negara dan badan penyiar di dalam wilayahnya yang bekerja sama dengan dengara lain mengenai penyiaran(programming). yang dimaksudkan untuk mencampuri urusan dalam negeri Negara lain atau yang merusak dasar dasar peradaban. c. Menurut konsep ini. Dalam penggunaan satelit DBS. isi siaran. Bila DBS disiarkan kea rah suatu Negara asing tanpa persetujuan tegas dari Negara penerima ini. ide perang. yaitu: segi hak kedaulatan negara (soverign rights) dan segi hak-hak perseorangan (individu). Setiap Negara harus bersedia member segala bantuan untuk menghentikan siaran yang melanggar hukum. d. militerisme. Siaran yang melanggar Hukum atau yang tidak dapat diterima .

2. 6.A/ E0011165 1. Alokasi frekuensi yang akan digunakan untuk kepentingan satelit DBS Alokasi frekuensi yang digunakan untuk staiun bumi Rencana penempatan slot satelit tersebut di geostasionari orbit Mengenai perubahan pembagian slot dan frekuensi Masalah spill-over Bila terjadi perselisihan antara negara yang berkaitan dengan kemampuan IDBS. serta mengatur pula mengenai pertanggung jawaban internasional atas kerugian yang terjadi akibat jatuhnya pesawat angkasa. UNESCO juga menekankan kembali keberadaan dari pasal 19 Universal Declaration of Human Rights. UNESCO pada awal tahun 1972 telah menghasilkan sebuah deklarasi. yang artinya negara peluncur harus bertanggung jawab secara mutlak untuk membayar ganti rugi atas kerugian yang disebabkan oleh benda angkasanya terhadap permukaan bumi atau terhadap pesawat udara dalam penerbangan. yaitu Declaration of Guiding Principles on the Use of Satellite of Broadcasting untuk kepentingan kebebasan informasi. maka negara penyebab kerugian itu bertanggung jawab terhadap kerusakan hanya jika kerusakan tersebut disebabkan oleh kesalahannya atau kesalahan personil yang di bawah tanggung jawabnya. lukaluka atau bentuk lain terganggunya kesehatan seseorang atau hilangnya atau rusaknya harta milik negara atau milik pribadi. 3. Pada Pasal III disebutkan bahwa “In the event of damage being caused else where than on the surfase of the Earth to a space object of one launching State or to persons or property on board such a space object by a space object of another launching State. Pasal II di sebutkan bahwa “A launching State shall be absolutely liable to pay compensation for damage caused by its space object on the surface of the Earth or ro aircraft in flight”. 5. dan pertukaran kebudayaan lebih banyak. Selain itu. Yang dimaksud dengan pengertian damage (kerugian) seperti yang diatur dalam ketentuan di atas ini telah diatur pada Pasal I item a yaitu yang berarti kematian. Sedangkan pada Pasal IV ayat 1 disebutkan dalam hal kerugian terhadap benda angkasa . 4. personil atau benda-benda yang ada di dalam benda angkasa tersebut yang berada di luar permukaan bumi oleh benda angkasa milik negara peluncur lainnya. Liability Convention 1972 adalah merupakan penjabaran dari Pasal VII Space Treaty 1967 yang mengatur secara lebih rinci tentang masalah-masalah yang berkenaan dengan kerugian yang ditimbulkan akibat benda-benda angkasa.TUGAS HUKUM ANGKASA UJIAN KOMPETENSI DASAR IV Invantri Graham O. atau badan hukum atau harta benda organisasi internasional antar pemerintah”. 4. penyebaran pendidikan. the letter shall be liable only of the damage is due to its fault or the fault of persons for whom it is responsible” atau dengan kata lain dalam hal terjadi kerugian terhadap benda angkasa dari satu negara peluncur.

A/ E0011165 negara peluncur atau terhadap personil atau benda yang berada dalam benda angkasa tersebut yang berada di luar permukaan bumi oleh benda angkasa milik negara peluncur lainnya. Badan hukum. 6. “Bilamana dua atau lebih negara bersama meluncurkan sebuah benda angkasa. Negara peserta dalam suatu peluncuran bersama dapat . Sedangkan pada Pasal V menyebutkan bahwa : 1. Pesawat angkasa milik negara lain. Bila kerugian pada negara ketiga terjadi pada permukaan bumi atau terhadap pesawat udara dalam penerbangan.Manusia (individu atau perorangan).TUGAS HUKUM ANGKASA UJIAN KOMPETENSI DASAR IV Invantri Graham O. maka tanggung jawab kedua negara yang menyebabkan kerusakan terhadap negara ketiga harus didasarkan pada kesalahan kedua negara penyebab kerusakan atau kesalahan personil di bawah tanggung jawab masing-masing kedua negara yang menyebabkan kerusakan tersebut. kedua negara penyebab kerusakan harus bertanggung jawab secara bersama dan sendiri-sendiri terhadap negara ketiga dengan ketentuan sebagai berikut : a. mempunyai hak untuk menuntut penggantian kepada negara peserta lainnya yang ikut dalam peluncuran bersama tersebut. mereka secara bersama atau sendiri-sendiri bertanggung jawab atas setiap kerusakan yang disebabkan oleh mereka. dan kerusakan tersebut berakibat pada negara ketiga atau terhadap orang-orang atau badan hukum yang secara yuridis berada di negara ketiga tersebut. 7. Dari keempat pasal tersebut di atas ini dapat ditarik kesimpulan bahwa kerugian yang harus dipertanggung jawabkan secara internasional oleh negara peluncur adalah terhadap : 1. Lingkungan alam. 3. b. Bila kerugian terjadi bukan pada permukaan bumi tetapi pada benda angkasa negara ketiga atau terhadap orang-orang atau benda yang berada dalam benda angkasa. 2. 2. maka kedua negara yang menyebabkan kerusakan bertanggung jawab mutlak terhadap negara ketiga. Permukaan bumi. Pesawat udara yang sedang dalam penerbangan. 5. Negara peluncur yang telah membayar ganti rugi atau kerugian. badan hukum atau organisasi internasional antar pemerintah). Harta benda (milik negara. 4.

dapat menuntut ganti rugi atas kerusakan tersebut kepada negara peluncur. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pihak-pihak yang bertanggung jawab atas kerugian akibat pesawat angkasa yaitu 1. Bila negara yang warga negaranya menjadi korban. “Negara yang menderita kerugian baik orang-orang pribadi atau badan hukum yang secara yuridis berada dibawahnya. Negara-negara yang bekerjasama dalam proyek angkasa. Bila negara yang warga negaranya menjadi korban atas peristiwa yang terjadi di negara lain (state of nationality) belum melakukan penuntutan. atau negara yang wilayahnya mengalami kerusakan belum mengajukan tuntutan atau belum memberitahukan akan mengajukan tuntutan. 2. dengan memperhatikan kerusakan yang dialami oleh penduduk tetap. negaralain dapat melakukan penuntutan atas kerusakan yang dialami terhadap alam.A/ E0011165 membuat perjanjian tentang besarnya tanggung jawab keuangan yang menjadi kewajiban mereka terhadap hal-hal yang merupakan tanggung jawab mereka bersama atau tanggung jawab mereka sendiri-sendiri. Sedangkan adapun pihak-pihak yang dapat menjadi pihak penuntut diatur pada Pasal VIII yaitu : 1. 3. Negara pemilik pesawat angkasa. . badan hukum yang secara yuridis berada diwilayahnya melakukan tuntutan kepada negara peluncur. Yang dimaksud dengan negara peluncur (lauching state) adalah negara yang meluncurkan atau ikut berperan serta dalam pelaksanaan peluncuran benda angkasa (pesawat angkasa) serta negara yang wilayah atau fasilitasnya digunakan untuk peluncuran benda angkasa (Pasal I sub c Liability Convention 1972). Perjanjian tersebut harus tanpa mengurangi adanya hak satu negara yang menderita kerusakan untuk memperoleh semua ganti rugi berdasarkan konvensi ini dari setiap atau semua negara peluncur secara bersama dan atau sendiri-sendiri. Negara yang wilayah atau fasilitasnya digunakan untuk meluncurkan benda angkaa harus dianggap sebagai peserta dalam peluncuran bersama”.TUGAS HUKUM ANGKASA UJIAN KOMPETENSI DASAR IV Invantri Graham O. 3. dapat mengajukan tuntutan kepada negara peluncur”. negara lain. 2.Negara peluncur. Dengan demikian Pasal V Liability Convention 1972 mengatur mengenai tanggung jawab secara tanggung renteng (joint and several liability) yang harus dilakukan oleh negara-negara yang berperan dalam pelaksanaan peluncuran benda angkasa. orang. 3.

negara tersebut dapat meminta negara lain untuk mengajukan tuntutan terhadap negara peluncur atau dengan catatan menyatakan maksudnya atas dasar konvensi ini. Negara tersebut dapat juga mengajukan tuntutannya melalui Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa dengan ketentuan keduanya adalah anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa”.A/ E0011165 Dengan demikian terlihat bahwa hanya negara saja yang dapat menuntut ganti rugi atau negara sebagai wakil dari warga negaranya yang menderita kerugian. Saluran diplomatik. Pada Pasal X mengatur mengenai masalah besarnya ganti rugi yang tidak diketahui besar jumlahnya. Melalui Sekretaris Jenderal Perseriatan Bangsa-Bangsa dengan syarat bahwa negara yang dituntut juga harus sebagai anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa. . karena jenis-jenis kerugian tertentu seperti yang diakibatkan oleh kontaminasi biologi.TUGAS HUKUM ANGKASA UJIAN KOMPETENSI DASAR IV Invantri Graham O. 2. Melalui negara lain apabila negara penuntut tidak memiliki hubungan diplomatik. kimia atau bahan nuklir tidak akan segera tampak tetapi akan tampak dalam waktu yang lama. radiology. 3. harus diajukan melalui saluran diplomatik. Tuntutan ganti rugi dilakukan dengan pembayaran kompensasi yaitu dapat melalui lembaga-lembaga yang telah ditentukan oleh Pasal IX yang menyebutkan : “Tuntutan ganti rugi kepada negara peluncur atas kerugian.Dengan demikian untuk melakukan tuntutan ganti rugi dapat dilakukan dengan melalui : 1. maka pihak negara penuntut memiliki waktu 1 (satu) tahun sampai besarnya kerugian diketahui sehingga dapat memperbaiki tuntutannya dan mengajukan dokumen tambahan. contoh kasus jatuhnya satelit Cosmos 954 yang membawa bahan uranium seberat 110 kilogram milik negara Rusia (d/h Uni Soviet) di daerah hutan tundra yang bersalju di wilayah territorial negara Kanada pada tanggal 4 Januari 1978. Bila negara tersebut tidak mempunyai hubungan diplomatik dengan negara peluncur.Ketidak tahunan besarnya ganti rugi ini adalah wajar.