Anda di halaman 1dari 22

BAB I

PENDAHULUAN
1.1

LatarBelakang
Matematika merupakan ilmu pasti yang bersifat universal dan berkaitan

erat dengan ilmu lainnya baik ekonomi, fisika, maupun biologi. Keterkaitan
matematika dengan ilmu biologi berkembang sejalan dengan perkembangan
jaman dan teknologi yang ada. Salah satu perkembangan tersebut adalah
penerapan matematika dalam bidang genetika.
Genetika sebagai ilmu pewarisan sifat dari generasi ke generasi,
dikembangkan oleh para ilmuwan dalam berbagai bidang seperti peternakan dan
pertanian melaluipemuliaan hewan dan tanaman. Pemuliaantersebut dilakukan
dengan tujuan untuk mendapatkan bibit unggul. Sifat-sifat yang diinginkan pada
varietas dan strainunggul diseleksi dari beberapa generasi dan kemudian dijadikan
bibit unggul.
Dalam bidang pertanian, pemuliaan tanamandikembangkan dengan
menyilangkan beberapa varietas tanaman yang berbeda sifat dan diteliti selama
bertahun-tahun untuk mendapatkan varietas unggul baru yang diinginkan. Usaha
pemuliaan tanaman di Indonesia banyak dilakukan oleh peneliti bidang pertanian,
seperti pemuliaan tanaman padi oleh Renan Subantoro, dkk pada tahun 2009.
Melalui jurnal penelitiannya dikatakan bahwa hasil benih F1 ditanam sampai F16
membutuhkan waktu 5 sampai 10 tahun untuk memperoleh hasil yang baik dan
dapat diandalkan. Hasil penelitian berupa benih F16 diuji di laboratorium untuk
mengetahui deskripsi varietas dan karakteristik di berbagai lahan dan iklim. Jika
varietas padi baru tersebut memenuhi karakteristik sebagai varietas unggul, maka
F16 dapat dikatakan sebagai varietas unggul baru padi. Dalam penelitian tersebut,
Renan Subantoro, ddk, melakukan persilangan tanaman padi varietas lokal
Rajalele dengan varietas Sintanur, IR 64, Menthik Wangi dan Pandan Wangi.
Hasil penelitian tesebut hanya sampai pada benih F1, sehingga tidak dapat
diketahui bahwa hasil benih persilangan tersebut merupakan varietas unggul atau
sebaliknya.

1

Berdasarkan sudut pandang matematika sebagai ilmu yang universal,
permasalahan tersebut dapat diatasi dengan mengaplikasikan aljabar linier yaitu
diagonalisasi matriks. Diagonalisasi matriks merupakan suatu alat perhitungan
yang dapat digunakan untuk mempermudah mengetahui pewarisan genotip pada
keturunan yang tak hingga dibandingkan dengan menyilangkan satu per satu
induk selama bertahun-tahun untuk mendapatkan keturunan terbaik. Komponenkomponen dalam matriks yang didiagonalkan dapat diperoleh dari peluang
pemunculan genotip turunan ke-n untuk kombinasi dari kedua induk.
Dengan berpegang pada prinsip-prinsip pewarisan sifat Mendel dan
diagonalisasi matriks, distribusi pola pewarisan sifat untuk mendapatkan bibit
unggul dapat diselidiki dan ditentukan dengan menyesuaikan pada karakteristik
bibit unggul tanaman padi. Padi dikatakan sebagai varietas unggul jika padi yang
dihasilkan berumur genjah, anakan produktif banyak, rasa nasi enak serta tahan
terhadap hama dan penyakit.
Berdasarkan persoalan tersebut, maka judul yang diambil dalam penelitian
adalah “Penerapan Diagonalisasi Matriks untuk Menyelidiki Pewarisan
Genotip dalam Pemuliaan Tanaman Padi”

1.2

Tujuan
Tujuanpenelitianiniadalah untuk menerapkan diagonalisasi matriks dalam

pemuliaan tanaman padi, sehinggadistribusi pewarisan genotip dari hasil
persilangan tersebut dapat diketahui dan ditentukan sebagai varietas unggul atau
sebaliknya.

1.3

Manfaat
Manfaatyang dapat diperoleh dari penelitianiniyaitu dapat menerapkan

diagonalisasi matriks untuk menyelidiki pewarisan genotip pada pemuliaan
tanaman padi.

2

Data yang digunakan merupakan data penelitian pemuliaan tanaman padi yang telah dilakukan oleh Renan Subantoro.1.4 Ruang Lingkup Ruang lingkup penelitian ini antara lain: 1. 2. Penelitian untuk menyelidiki pewarisan genotip ini hanya difokuskan pada persilangan tanaman padi yang sudah menghasilkan benih F1. 3 . dkk pada tahun 2009.

Silang ganda (double cross) merupakan persilangan antara F1 dan F1 dari persilangantunggal. Pelepasan varietas padi hasil persilangan pertama kali dilakukan pada tahun 1943 dengan varietas Bengawan. Persilangan padi dapat terjadi secara alami maupun buatan. serta meningkatkan mutu rasa dan nilai gizi beras. Silang tunggal (single cross) merupakan persilangan padi yang hanya melibatkan duatetua (parental) saja. Pemuliaan tanaman padi melalui persilangan dimulai pada sekitar tahun 1920.1 Pemuliaan Tanaman Padi Pemuliaan tanaman merupakan suatu metode yang secara sistematik merakit keragaman genetik menjadi suatu bentuk yang bermanfaat bagi kehidupan manusia (Makmur. tapi secara sistematis pemuliaan padi dilakukan sejak didirikannya IRRI di Filiphina. Menurut Harahap (1972). pemulia padi diarahkan pada lahan dengan pemupukan yang rendah. atau tanaman kurang responsif terhadap pemupukan. Silang balik (backcross) merupakan persilangan F1 dengan salah satu tetuanya. tahan terhadap serangan hama dan penyakit. 1985).Hasil dari pemuliaan yangdikenal yaitu seperti rajalele dan pandanwangi yang merupakan salah satu ras lokal. c. 4 . b. Silang puncak (top cross) merupakan persilangan antara F1 dan tetua lainnya. Persilangan padi secara alamidilakukan dengan bantuan angin sedangkan persilangan buatan dibantu oleh manusia yang lebih dikenal dengan pemuliaan padi.BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2. Sampai pada tahun 1960. Selanjutnya pemuliaan padi terus berkembang dengan tujuan untuk memperbaiki kualitas padi lokal agar berumur genjah. dengan memanfaatkan gene poolyang dibangun melalui introduksi tanaman. d. Terdapat banyak metode untuk menyilangkan padi secarabuatan diantaranya : a.

2. Dalam hal ini tanaman tinggi akan tetap menghasilkan tanaman tinggi dan tanaman pendek akan selalu menghasilkan tanaman pendek. dan kemudian Mendel diakui sebagai Bapak Genetika. 5 . yaitu tanaman yang jika menyerbuk sendiri tidak akan menghasilkan tanaman yang berbeda dengan induknya. melainkan ilmu yang mempelajari seluk-beluk alih informasi hayati dari generasi ke generasi. Tanaman tinggi hasil persilangan tersebut dibiarkan menyerbuk sendiri dan keturunannya memperlihatkan nisbah (perbandingan) tanaman tinggi terhadap tanaman pendek sebesar 3 : 1. Dengan menyilangkan galur murni tinggi dan galur murni pendek. Oleh karena cara berlangsungnya alih informasi hayati tersebut mendasari adanya perbedaan dan persamaan sifat di antara individu organisme. Mendel menggunakan kacang ercis varietas tinggi yang disilangkan dengan kacang ercis varietas pendek. Genetika dikatakan sebagai ilmu pengetahuan dimulai menjelang abad ke19 ketika seorang biarawan Austria bernama Gregor Johann Mendelberhasil melakukan analisis yang cermat dengan interpretasi yang tepat atas hasilhasilpercobaan persilangan pada tanaman kacang ercis (Pisum sativum).2 Pewarisan Genotip 2.2. Tanaman yang dipilih adalah tanaman galur murni. Mendel erciskarenatanamaniniberumurtidak menggunakan biji lama. Menurut Suryo (2012). Mendel mendapatkan semua tanaman yang bergenotip tinggi.1 Genetika Secara etimologi kata „genetika‟ berasal dari bahasa latin yaitu „genos‟ yang berarti asal mula kejadian. maka dengan singkat dapat pula dikatakan bahwa genetika adalah ilmu tentang pewarisan sifat. Deduksi mengenai pola pewarisan sifat tersebut menjadi landasan utama bagi perkembangan genetika sebagai suatu cabang ilmu pengetahuan. tetapi genetika bukanlah ilmu tentang asal mula kejadian kehidupan. memilikibungasempurnadanmemilikitujuhsifatdenganperbedaan yang mencolok.

warnabiji (hijau-kuning). 3. Gamet dari ercis biji bulat W dan ercis biji kerut w. 2. Salah satu prinsip segregasi dalam percobaan Mendel tersaji pada gambar 1. permukaanbiji (halus-keriput).2.2 Pewarisan Sifat Mendel Pewarisan sifat berdasarkan percobaan persilangan yang dilakukan oleh Mendel yaitu: a. Prinsip-prinsip pada persilangan monohibrid Mendel tersebut dikenal dengan Hukum Segregasi. Gamet-gamet tersebut dibiarkan menyerbuk sendiri.2. Persilangan monohibrid Mendel melakukan persilangan monohibrid pada biji ercis dengan tujuh sifat beda yaitutinggi tanaman (tinggi-pendek). bentukpolong (rataberlekuk). warnakotiledon (hijau-kuning). Induk ercis biji bulat (WW) disilangkan dengan ercis biji kerut (ww). Hasil persilangan menghasilkan benih F1 dengan sifat biji bulat (Ww) yang bergamet W dan w. dan mempunyai langkah-langkah sebagai berikut: 1. warnabunga (ungu-putih). 6 . Hasil persilangan F1 menghasilkan F2 seperti yang tersaji pada gambar 1. danletakbunga (aksial-terminal).

F1 yang dibiarkan menyerbuk sendiri menghasilkan keturunan generasi kedua (F2) dengan nisbah genotip WW : Ww : ww  1 : 2 : 1 atau dengan nisbah fenotip Bulat : Kerut  3 : 1 . Diagram Persilangan Monohibrid untuk Sifat Bentuk Biji Keterangan: P : Parental (induk) WW : Genotip ercis biji bulat ww : Genotip ercis biji kerut Gamet : Selbenih (W dan w) F1 : Filial (keturunan) pertama F2 : Filial (keturunan) kedua Berdasarkan diagram persilangan tersebut diketahui bahwa persilangan biji ercis dengan induk biji bulat dominan (WW) bergamet W dan biji berkerut resesif (ww) bergamet w menghasilkan keturunan atau filial generasi pertama (F1) yaitu biji bulat resesif (Ww) bergamet W dan w.Biji bulat P: Biji berkerut Gamet: ww x WW W w Biji bulat F1: Ww W dan w Gamet F1: Penyerbukan sendiri : F1 x F1 Ww x Ww F2: Gamet W w W WW (Bulat) Ww (Bulat) w Ww (Bulat) ww (Kerut) Gambar 1. 7 .

Hasil persilangan menghasilkan F2 dengan sifat kombinasi dari kedua induk ercis. Induk ercis kuning-bulat (GGWW) disilangkan dengan ercis hijau-kerut (ggww). Hasil persilangan menghasilkan benih F1 dengan sifat kuning bulat (GgWw) yang bergamet GW. Persilangan dihibrid Penelitian Mendel menyangkut dua pasang alel atau gen menghasilkan perumusan hukum yang kedua yaitu hukum pemisahan dan pengelompokkan secara bebas. Persilangan dihibridyang dilakukan oleh Mendel yaitu persilangan antara ercis berbiji kuning-bulat dan ercis berbiji hijau-kerut dengan langkahlangkah sebagai berikut: 1. 8 . gW dan gw. 3. Gw. 2. Gamet-gamet tersebut dibiarkan menyerbuk sendiri sehingga terjadi persilangan antara F1 dan F1.b. Persilangan dihibrid tersebut dapat dilihat pada gambar 2. Gamet dari ercis kuning-bulat GW dan ercis hijau-kerut gw.

gW dan gw) F1 : Filial (keturunan) pertama F2 : Filial (keturunan) kedua 9 . Diagram Persilangan Dihibrid untuk Sifat Warna dan Bentuk Biji Keterangan: P : Parental (induk) GGWW : Genotip ercis biji kuning-bulat ggww : Genotip ercis biji hijau-kerut Gamet : Selbenih(GW. gW dan gw Gamet F1: Penyerbukan sendiri : F1 x F1 GgWw x GgWw F2: Gamet GW Gw gW gw GW GGWW GGWw GgWW GgWw Kuning bulat Kuning bulat Kuning bulat Kuning bulat Gw gW gw GGWw GGww GgWw Ggww Kuning bulat Kuning kerut Kuning bulat Kuning kerut GgWW GgWw ggWW ggWw Kuning bulat Kuning bulat Hijau bulat Hijau bulat GgWw Ggww ggWw ggww Kuning bulat Kuning kerut Hijau bulat Hijau kerut Gambar2. Gw. Gw.Hijau berkerut Kuning Bulat P: Gamet: ggww x GGWW GW gw Kuning bulat GgWw F1: GW.

Berdasarkan gambar 2. . semakin banyak pasangan alel atau gen... dan seterusnya untuk n hibrid. maka jumlah gamet yang terbentuk adalah 2 2 . genotip akan mempunyai 31 macam serta fenotip 21 macam..3 Matriks 10 ... Jika jenis persilangan adalah trihibridatau 2 pasang alel.. dan macam genotip berjumlah 3 2 serta 2 2 macam fenotip. atau disebut sebagai persilangan monohibridmaka jumlah gamet yang akan terbentuk pada F1 sebanyak 21 . mengenai persilangan dua sifat beda tersebut dapat dideskripsikan bahwa hasil persilangan generasi pertama (F1) menghasilkan 4 macam gamet masing-masing dengan kemungkinan 1 4 . Hubungan antara jumlah pasangan alel dengan jumlah gamet yang dihasilkan. Genotip dan Fenotip F2 Jumlah Jumlah gamet Jumlah macam Jumlah macam pasangan alel pada F1 genotip pada F2 fenotip pada F2 1 2 3 2 2 4 9 4 3 8 27 8 4 16 81 16 . Tiap pasang alel akan menambah jumlah kelas genotip sebanyak 3 n dan jumlah kelas fenotip sebanyak 2 n . Persilangan n hibrid Menurut Crowder (1993).. 2. n 2n 3n 2n Jika jumlah pasangan alel 1 yaitu misal A dan a. Hubungan Jumlah Pasangan Alel dengan Jumlah Gamet. maka jumlah kelas genotip dan fenotip yang mungkin ada pada F2 juga meningkat. dengan n adalah jumlah pasangan gen. c. Tabel 1. .. jumlah macam genotip dan fenotip pada F2 terdapat pada tabel berikut. . Melalui diagram segi empat Punnett tersebut dapat ditentukan nisbah genotip persilangan dihibrid yaitu GGWW : GGWw : GgWW : GgWw : GGww : Ggww : ggWW : ggWw : ggww  1 : 2 : 2 : 4 : 1 : 2 : 1 : 2 : 1 dan nisbah fenotipnya adalah 9 : 3 : 3 : 1 .

dkk.   Pandang matriks A  aij . Secara lengkap ditulis A  aij yaitu matriks A yang elemen-elemennya a ij dimana indeks i menyatakan baris ke-i dan indeks j menyatakan kolom ke-j dari elemen tersebut. Jadi matriks bujursangkar adalah 11 . c34 dan lain-   lain.Matriksadalahhimpunan skalar yang disusun secara segi empat menurut baris dan kolom serta dibatasi dengan atau .1 Jenis-jenis Matriks Jenis-jenis matriks berdasarkan banyaknya baris. danlain-lain. banyaknya kolom serta elemen-elemen dalam suatu matriks antara lain: 1.2. (2010).MenurutSutojo. Matriks Bujursangkar Suatu matriks A dengan jumlah baris n dan jumlah kolom n disebut matriks bujursangkar ordo n ditulis Ann . sehingga penulisan matriksbesertaukuran atau ordonya (matriksdengan m barisdan n kolom ) dapat juga ditulis Amn . i  1.3. C  . Bmn danseterusnya. T.m dan j  1.n yang berarti bahwa banyaknya baris =m serta banyaknya kolom = n.Bentukumumdari Amn adalah : Amn  a11 a   21    a m1 a12 a 22  am2  a1n   a 2 n       a mn  dengan a mn disebutelemendari A yang terletakpadabaris m dankolom n. 3. Skalar-skalar tersebut disebut Penulisanmatriksbiasanyamenggunakanhurufbesar sebagai elemen A. 2.   matriks.3. b21 . Matriks Baris Suatu matriks yang hanya terdiri dari satu baris disebut matriks baris atau vektor baris. Matriks Kolom Matriks kolom merupakan matriks yang hanya terdiri dari satu kolom. 2. B.2.3. sedangkanelemen-elemennya dengan huruf kecil misalnya a11 .

Matriks Simetrik   Dinyatakan dalam bentuk entri individual. baik segitiga bawah atau segitiga atas disebut matriks segitiga (triangular). suatu matriks A  aij adalah simetrik. 4. jika dan hanya jika aij  a ji untuk semua nilai i dan j. Matriks Nol Sebuah matriks yang seluruh entrinya adalah bilangan nol disebut matriks nol (zero matrix). jika ukurannya penting maka dapat menuliskannya sebagai 0 mn untuk matriks nol m n. a 22 .matriks yang memiliki jumlah baris sama dengan jumlah kolom. Matriks Diagonal Suatu matriks bujursangkar yang semua entrinya yang tidak terletak pada diagonal utama adalah nol disebut sebagai matriks diagonal. 5. Sebuah matriks nol dapat dinyatakan sebagai 0. 8.3. Suatu matriks. Jika A adalah matriks m r dan B adalah matriks r  n maka hasil kali (product) AB adalah matriks m n yang entri-entrinya ditentukan 12 . Jika ukurannya penting maka ditulis I n untuk matriks identitas n  n. 6. Misal matriks bujursangkar 3x3:  a11 a12 A  a 21 a 22 a31 a32 a13  a 23  a33  Entri a11 . 2.2. a33 pada matriks A merupakan diagonal utama dari matriks A. Matriks Identitas Matriks bujursangkar dengan bilangan 1 pada diagonal utama dan 0 pada entri-entri lainnya disebut matriks identitas yang dinyatakan dengan I. Matriks Segitiga Matriks bujursangkar yang semua entri diatas diagonal utamanya adalah nol disebut matriks segitiga bawah dan matriks bujursangkar yang semua entri dibawah diagonal utamanya adalah nol disebut matriks segitiga atas. 7.2 Perkalian Matriks Definisi 2.3.

2004). determinan matriks A didefinisikan a 21 a 22  sebagai berikut: det  A  a11 a12 a 21 a 22 1  a11a 22  a12 a 21 2.3 Determinan Matriks Definisi 2. Determinan Matriks Ordo 3 3  a11 a12 Misal diketahui matriks A  a 21 a 22 a31 a32 a13  a 23  .3. yaitu det  A  a11a22a33  a12a23a31  a13a21a32   a13a22a31  a11a23a32  a12a21a33  2 13 .3.sebagai berikut. Kalikan entrientri yang bersesuaian dari baris dan kolom tersebut dan kemudian jumlahkan hasil yang diperoleh (Anton & Rorres. Angka det  A disebut determinan dari A (Anton & Rorres. 2004). Notasi lain untuk determinan adalah simbol . Berdasarkan definisi tersebut maka syarat perkalian dua buah matriks adalah jumlah kolom pada matriks pertama harus sama dengan jumlah baris pada matriks kedua. 2. sehingga A merupakan determinan dari matriks A. Misalkan A adalah suatu matriks bujur sangkar. 1. pisahkanlah baris i dari matriks A dan kolom j dari matriks B.1.3. untuk mencari determinan a33  matriks berordo 3 3 tersebut dapat menggunakan metode Sarrus. Untuk mencari entri pada baris i dan kolom j dari AB. Determinan Matriks Ordo 2  2 a12  a Misal matriks A   11  . Fungsi determinan dinotasikan dengan det dan mendefinisikan det  A sebagai jumlah dari semua elementer bertanda dari A. Perhitungan determinan matriks bujursangkar untuk setiap ordo mempunyai cara perhitungan yang berbeda.

2004).3. Jika A adalah suatu matriks bujursangkar. maka invers dari A dinyatakan dengan simbol A 1 . dimana untuk setiap 1  i  n dan 1  j  n . 2004). Teorema 2.Persamaan berikut merupakan rumus perhitungan untuk mencari nilai invers dari suatu matriks. Determinan dari matriks A berukuran n  n . 14 .3.2. Secara matematis dapat ditulis sebagai berikut: det  A  a1 j C1 j  a2 j C2 j    anj Cnj 3 dengan j sebarang disebut ekspansi kofaktor sepanjang kolom ke-j.3. dapat dihitung dengan mengalikan entri-entri pada sebarang baris atau kolom dengan kofaktor-kofaktornya dan menjumlahkan hasil kali-hasil kali yang diperoleh. Determinan Matriks Ordo n  n Determinan Matriks Ordo n  n dapat dihitung dengan menggunakan metode ekspansi kofaktor. maka minor dari entri a ij dinyatakan sebagai M ij dan didefinisikan sebagai determinan dari submatriks yang tersisa setelah baris ke-i dan kolom ke-j dihilangkan dari A. 2. maka A dinyatakan sebagai matriks singular (Anton & Rorres. Definisi 2. Jika matriks B tidak dapat didefinisikan.4 Invers Matriks Definisi 2. Jika A adalah matriks bujursangkar. maka A disebut dapat dibalik dan B disebut invers dari A.3.3. dan jika terdapat matriks B yang ukurannya sama sedemikian rupa sehingga AB  BA  I . sehingga AA 1  A1 A  I .3.4. Adapun yang dimaksud dengan kofaktor yaitu didefinisikan sebagai berikut. det  A  ai1Ci1  ai 2 Ci 2    ain Cin 4 dengan i sebarang disebut ekspansi kofaktor sepanjang baris ke-i. Jika A dapat dibalik.3. Bilangan 1 i j M ij dinyatakan sebagai C ij dan disebut sebagai kofaktor dari entri a ij (Anton & Rorres.

maka dapat ditulis kembali Ax  x sebagai Ax  Ix atau  A  I x  0 6 Persamaan (6) mempunyai penyelesaian jika A  I  0 7 Persamaan (7) disebut sebagai persamaan karakteristik A. 2004). Kriteria bahwa suatu matriks dapat didiagonalkan tersaji pada teorema berikut.4. Untuk mencari nilai eigen matriks A yang berukuran n  n. 2. 2011). Jika nilai-nilai eigen diketahui. maka transpose dari matriks C ij disebut sebagai adjoin dari A. maka pernyataan berikut ekuivalen.Suatu matriks bujur sangkar A dikatakan dapat didiagonalkan jika terdapat matriks P yang mempunyai invers sedemikian sehingga P 1 AP adalah matriks diagonal.5.Jika A suatu matriks n  n. Teorema 2.5 Diagonalisasi Matriks Definisi 2. 2.5. Skalar  disebut nilai eigen dari A dan x dikatakan vektor eigen yang bersesuaian dengan  (Anton & Rorres.4 Nilai Eigen dan Vektor Eigen Definisi2.1 5 adj  A det  A dengan det  A  0 dan adj  A adalah matriks adjoin dari A. Misal matriks A 1  A  aij  dan kofaktor dari elemen aij adalah C ij . Matriks P disebut mendiagonalkan A (Anton & Rorres.Misalkan A suatu matriks n  n. yaitu Ax  x untuk suatu skalar  . 15 . maka vektor tak nol x di dalam R n dinamakan vektor eigen dari A jika Ax adalah kelipatan skalar dari x. Mencari nilai eigen berarti menghitung determinan tersebut sehingga diperoleh nilai-nilai  . maka akan diperoleh vektor-vektor eigen x yang bersesuaian dengan nilai eigen  . dan nilai-nilai tersebut dimasukkan ke persamaan (6).

Pembuktian teorema 2. 2 . sehingga Ap1  1 P1 dengan 1  i  n. pn  yaitu matriks yang kolom-kolomnya p1 . A mempunyai n vektor eigen yang bebas linier. Langkah 2 : Cari n vektor eigen yang bebas linier. A mempunyai n vektor eigen yang bebas linier (Anton & Rorres.5 tersebut dibuktikan dengan dua cara. maka terdapat matriks P yang mempunyai invers sedimikian sehingga P 1 AP adalah matriks diagonal.n .. pn menyatakan vektor-vektor kolom dari P. diperoleh langkah-langkah untuk mendiagonalkan matriks A yaitu: Langkah 1 : Cari nilai eigen dari matriks A. p2 . 2 . maka AP  1 p1 . maka: AP  PD  Pij nn diag 1 .Maka kolom-kolom dari AP adalah Ap1 . 2 p2 . 2 . pn . p2 . 2011). maka P mempunyai invers. Oleh karena Ap1  1 P1 dengan 1  i  n . 2. pn adalah vektor-vektor eigen yang bersesuaian. Misal P  Pij nn dan P 1 AP  D dengan D  diag 1 .1. Akibatnya 1 .n Dan P   p1 . 2 . p2 . dan karena vektor-vektor kolom dari P bebas linier.n merupakan nilai-nilai eigen dari A dan p1 . Misalkan A dapat didiagonalkan. Berikut pembuktian dari pernyataan 1 ke 2.n pn   PD dengan D  diag 1 . Berdasarkan kedua pembuktian tersebut. Sedangkan pembuktian teorema 2. Jadi. pn 16 . Oleh karena P mempunyai invers maka vektor-vektor kolom dari P tidak nol dan bebas linier.n . terbukti bahwa P 1 AP  D. p2 . Ap n . 2 . 2 .5 dari pernyataan 2 ke 1 yaitu: Misalkan A mempunyai n vektor eigen yang bebas linier p1 . p2 . Ap 2 . misalkan p1 . p2 .r dengan r  n. yaitu dari pernyataan 1 ke 2 dan dari pernyataan 2 ke 1.  n   1 p1 . A dapat didiagonalkan. misalkan 1 . pn dengan nilai-nilai eigen yang bersesuaian 1 . 2 p 2 . n p n  dengan p1 . Jadi.

p2 . maka P 1 AP  D untuk suatu matriks diagonal D. sehingga A  PDP 1 dan akibatnya An  PD n P 1 .Langkah 3 : Bentuk matriks P yang mempunyai p1 . pn sebagai vektor-vektor kolomnya. p2 . BAB III 17 . pn . Langkah 4 : P 1 AP akan menjadi matriks diagonal dengan entri diagonalnya nilai-nilai eigen yang bersesuaian dengan vektor-vektor eigen p1 .

1 Data Data yang digunakandalam penelitianinimerupakandata hasil penelitian pemuliaan tanaman padi yang telah dilakukan oleh Renan Subantoro.METODOLOGI PENELITIAN 3.) Varietas Lokal Menjadi Varietas Lokal yang Unggul”dan Study Pustaka. sedangkan data hasil persilangan disajikan pada tabel 3. Data Deskripsi Varietas Padi yang Disilangkan No Varietas Tinggi Jumlah Umur Umur Tanaman Anakan Berbunga Tanaman (cm) (batang) (hari) (hari) 1 Rajalele 135 35 120 146-155 2 Sintanur 96 42 96 115-125 3 Menthik Wangi 106 31 110 140 4 Pandan Wangi 104 40 110 140 5 IR-64 74 50 78 110-120 Tabel 3. Data Hasil Penelitian Persilangan Tanaman Padi No 1 2 3 4 3. Data mengenai deskripsi varietas tanaman padi yang menjadi bahan persilangan disajikan pada tabel 2. Tabel 2. dkk pada tahun 2009 dengan jurnal yang berjudul “Pemuliaan Tanaman Padi (Oryza Sativa L.2 Persilangan Antar Varietas Hasil Persilangan (20 Butir/varietas) (Butir) Rajalele (Bunga Jantan) X Sintanur (Bunga Betina) Rajalele (Bunga Jantan) X Menthik wangi (Bunga Betina) Rajalele (Bunga Jantan) X Pandan wangi (Bunga Betina) Rajalele (Bunga Jantan) X IR-64 (Bunga Betina) 1 _ _ 1 Keterangan Menghasilkan benih F1 Belum menghasilkan benih F1 Belum menghasilkan benih F1 Menghasilkan benih F1 MetodaAnalisis 18 .

Sri Wahyuningsih dan Rossi Prabowo. Membuat Diagram Persilangan 19 . serta umur berbunga dan umur tanaman dikelompokkan menjadi genjah. Masing-masing karakteristik akan dikelompokkan kedalam 3 kategori. untuk jumlah anakan produktif dikategorikan menjadi banyak.Rangkaiantahapanalisi digambarkan pada diagram alir berikut. Mendefinisikan Genotip Varietas Padi Tahappertama yaitu mendefinisikan genotip dari varietas padi yang telah menghasilkan benih F1 pada persilangan tanaman padi varietas lokal oleh Renan Subantoro. sedang dan umur dalam. yaitu untuk tinggi tanaman mempunyai kategori tinggi. Mulai Mendefinisikan Gen Varietas Padi Membuat Diagram Persilangan Membuat sistem persamaan Penerapan Diagonalisasi Matriks Hasil Penyelidikan Pewarisan Genotip PenentuanVarietas Unggul Selesai Gambar3. sedang dan pendek. yaitu persilangan antara varietas Rajalele dengan Sintanur dan Rajalele dengan IR-64. Diagram AlirRangkaianTahapAnalisis Berikutketerangan diagram alirtahapanalisis : 1. 2. Ketiga varietas padi tersebut akan ditentukan genotipnya berdasarkan data deskripsi varietas padi pada tabel 2. sedang dan sedikit.

dengan asumsi bahwa hasil penyelidikan pewarisan genotip pada tahap sebelumnya telah memenuhi karakteristikkarakteristik varietas unggul padi. Penerapan Diagonalisasi Matriks Tahap ke-4Penerapan diagonalisasi matriks dilakukan dengan mendiagonalkan matriks yang dibuat sesuai sistem persamaan pada tahap sebelumnya. sehingga elemen-elemen matriks tersebut merupakan nilai kemungkinan dari pewarisan sifat untuk keturunan kedua (F2). Membuat Sistem Persamaan Tahap ke-3 dalam penelitian ini membuat sistem persamaan dari nilai-nilai kemungkinan pewarisan sifat untuk keturunan kedua (F2) yang didapatkan dari diagram persilangan pada tahap ke-2. 3. Varietas Unggul Tahap ke-6 dari penelitian ini yaitu menentukan hasil persilangan merupakan varietas unggul atau sebaliknya. dimana berdasarkan perhitungan tersebut dapat diketahui nisbah pewarisan genotip pada generasi ke-n untuk masing-masing varietas padi yang disilangkan. Melalui diagram persilangan akan didapatkan nilai kemungkinan atau peluang pewarisan sifat untuk keturunan kedua (F2). Hasil Penyelidikan Pewarisan Genotip Tahap ke-5 yaitu hasil penyelidikan pewarisan genotip diperoleh berdasarkan hasil perhitungan diagonalisasi matriks.4.Tahap ke-2 adalah membuat diagram persilangan antara varietas Rajalele dengan Sintanur dan diagram persilangan antara Rajalele dengan IR-64 sesuai genotip yang telah ditentukan pada tahap pertama. BAB IV 20 . 6.0. 5. 4.Perhitungan proses diagonalisasi matriks dilakukan dengan bantuan software MATLAB 7.

2 RencanaAnggaranBiaya Adapunperkiraan biaya yang akandikeluarkanselamapenelitiansebagaiberikut : Tabel6. 700.000.PELAKSANAAN PENELITIAN 4.- DAFTAR PUSTAKA 21 . 2009).700.000. 500.- 3 Pengolahan Data Rp. 300.- 4 PenyusunanLaporan Rp.Adapunjadwalpenelitianini sebagaiberikut : Tabel5.- 2 Pengumpulan Data Rp.JadwalPenelitian Bulan No NamaKegiatan 1 StudiPustaka 2 Pengumpulan Data 3 UsulanPenelitian 4 Pengolahan Data 5 PenyusunanLaporan 6 HasilPenelitian Desember Januari Keterangan : : Ada kegiatan : Tidakadakegiatan 4.000.000. 200.000.- Jumlah Rp. 1.1 TempatdanWaktuPenelitian Penelitianmenggunakan data yang diperolehdarijurnal penelitian (Subantoro.AnggaranBiaya No Keperluan Dana Yang Dibutuhkan 1 StudiPustaka Rp.

Aljabar Linier Elementer. Jakarta.V. Genetika untuk Strata 1. Teori dan Aplikasi Aljabar Linier & Matriks. 2010. 2004. Crowder.php/Mediagro/ article/download/552/673diaksestanggal 13November 2014) Suryo. Yogyakarta. PT. Gadjah Mada University Press. Gadjah Mada University Press. 2012.ac. Erlangga. 1993. dkk. C. Philippines.) Varietas Lokal Menjadi Varietas Lokal yang Unggul. 1985. Makmur. Sutojo. Z.et al. dkk. P. Breeding Rice Varieties for Indonesia. 2009. Yogyakarta. 1972.Anton.unwahas. Harahap. ANDI Offset. 22 . L. R. Pemuliaan Tanaman Padi (Oryza Sativa L. Subantoro. A. H dan Rorres. T. Jakarta.id/publikasiilmiah/index.(http://www. Bina Aksara. Pokok-pokok Pemuliaan Tanaman Amris Makmur. Genetika Tumbuhan. IRRI. Yogyakarta.