Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pada 31 Mei 1962, atas arahan Presiden RI Soekarno, dibentuk Panitia Austronautika
oleh Perdana Menteri Ir. H. Juanda (selaku Ketua Dewan Penerbangan RI) dan R.J. Salatun
(selaku Sekretaris Dewan Penerbangan RI). Untuk mendukung langkah tersebut, pada 22
September 1962 dibentuklah Proyek Roket Ilmiah dan Militer Awal (PRIMA) afiliasi AURI dan
Institut Teknologi Bandung.1 Proyek PRIMA berhasil membuat dan meluncurkan dua roket seri
Kartika berikut telemetrinya pada tahun 1964.Pada 27 November 1963, dibentuklah Lembaga
Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) dengan Keputusan Presiden (Keppres) Nomor
236 Tahun 1963 tentang LAPAN, untuk melembagakan penyelenggaraan program-program
pembangunan kedirgantaraan nasional. Dalam hal penyempurnaan organisasi LAPAN, telah
dikeluarkan beberapa Keppres, dengan yang terkini yakni Keppres Nomor 9 Tahun 2004 tentang
Lembaga Non-Kementerian.Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) adalah
2

lembaga

pemerintah

nonkementerian

Indonesia

yang

bertugas

melaksanakan

tugas

pemerintahan di bidang penelitian dan pengembangan kedirgantaraan dan pemanfaatannya. 4


bidang utama LAPAN yakni penginderaan jauh, teknologi dirgantara, sains antariksa, dan
kebijakan dirgantara. Dengan keberhasilan tersebut, Panitia Antariksa mengusulkan perlu
dibentuknya wadah resmi untuk menampung kegiatan keantariksaan yang kemudian dilanjutkan
dengan pembentukan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) dan Dewan
Penerbangan berubah nama menjadi Dewan Penerbangan dan Antraiksa Nasional Republik
Indonesia (DEPANRI).

1 http://id.wikipedia.org/wiki/Lembaga_Penerbangan_dan_Antariksa_Nasional#Sejarah_Pembentukan pada tanggal


16 Desember 2014

2 http://id.wikipedia.org/wiki/Lembaga_Penerbangan_dan_Antariksa_Nasional diakses pada tanggal 16 Desember


2014

Keterlibatan

Indonesia,

dipengaruhi

oleh

perkembangan

internasional

dalam

bidang

keantariksaan. Kemajuan dan perkembangan kegiatan antariksa disadari bahwa memberi peluang
kemanfaatan yang cukup besar namun disisi lain mempunyai peluang menimbulkan dampak
negatif bagi kehidupan manusia, bahkan jika dilakukan secara tak bertanggung jawab dapat
menghancurkan dunia dan membinasakan umat manusia. Melihat kemungkinan konsekuensi
tersebut, PBB

dengan resolusi Majelis Umum Nomor 1348 (XIII), 13 Desember 1958,

membentuk komite sementara atau "Ad Hoc Committee on the Peaceful Uses of Outer Space"
yang mempunyai tugas meneliti masalah - masalah keantariksaan termasuk yang berkaitan
dengan aspek hukum kegiatan antariksa sehingga dapat memberikan jaminan bahwa kemajuan
kegiatan antariksa dari negara-negara dapat memberikan manfaat bagi semua negara tanpa
membeda-bedakan tingkat kemajuan ekonomi dan teknologi
sementara

dari negara-negara. Komite

tersebut kemudian ditetapkan menjadai komite dengan sebutan UNCOPUOS,

beradsarkan Resoulusi Majelis Umum Nomor 1472 (XIV), 12 Desember 1959. UNCOPUOS
mempunyai tugas: (i). menetapkan usaha yang akan dilakukan/ disponsori PBB untuk
mendorong negara-negara dam pengembangan dan pemanfaatan kemajuan iptek antariksa bagi
pembangunan nasional dan (ii) mengkaji dan merumuskan aturan-aturan hukum internasional
mengenai eksplorasi dan eksploitasi antariksa untuk maksud damai. Dari mandat yang diterima,
UNCOPUOS telah merumuskan berbagai resolusi yang berkaitan dengan antariksa dan telah
disyahkan/ ditetapkan oleh PBB, satu diantaranya adalah "Resolusi Nomor 2222(XXI), 19
Desember 1966, menetapkan " Treaty on Principles Governing the Activities of States in the
Exploration and the Uses of Outer Space, including the Moon and other Celetial Bodies" dan
treaty tersebut terbuka untuk ditanda tangani negara-negara sejak 27 Januari 1967 dan
diberlakukan sebagai hukum positif (entry into force) sejak 10 Oktober 1967. Treaty tersebut
dikenal sebagai " Space Treaty, 1967" .3

3 Sumardi, Juajir. 1996. Hukum Ruang Angkasa. Pradnya Paramita. Jakarta.

Kegiatan LAPAN, sejak dimulainya PELITA I, tahun 1967, dalam bidang keantariksaan,
ditekankan

kepada

kegiatan

yang

langsung

mendukung

kegiatan

pembangunan

nasional.Kegiatan tersebut dapat dikatakan merupakan kegiatan pemanfaatan antariksa (space


application).Makalah ini
dikembangkan LAPAN

akan menjelaskan

kegiatan dan program kedirgantaraan yang

dalam menunjang pembangunan nasional dan keterkaitan terhadap

sistem pertahanan nasional.


B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana Peran Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional dalam Pertahanan dan
Keamanan di Indonesia ?
2. Apa Fungsi dan Manfaat dari Remote Sensing atau Pengideraan jauh yang merupakan
bidang dari Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional yang kaitannya dengan
Pertahanan dan Keamanan di Indonesia ?

BAB II
PEMBAHASAN
C. Peran Lembaga Penerbangan dan Antariksa dalam Pertahanan dan Keamanan Di
Indonesia
Berdasarkan Undang - Undang Nomor 20 tahun 1982 tentang Ketentuan Pokok
Pertahanan Keamanan Negara (Hankamneg) menyatakan "bahwa pertahanan keamanan negara
Republik Indonesia merupakan upaya untuk mewujudkan satu kesatuan Hankamneg dalam
rangka wawasan nusantara guna mencapai tujuan nasional yaitu untuk melindungi segenap
bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan
kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia. Undang - Undang Nomor 20 Tahun
1982 tersebut juga memuat bahwa penegakan kedaulatan negara juga

mencakup wilayah

dirgantara. Pengertian dirgantara mencakup ruang udara dan antariksa termasuk orbit geostasioner (GSO) di atas wilayah Republik Indonesia berada di bawah kedaulatan dan yuridiksi
negara Indonesia.

Pasal 30 ayat (3) huruf a dan penjelasannya menyatakan bahwa tugas

penegakan kedaulatan hanya di wilayah udara (airspace). Hal ini, tentu saja menimbulkan
persepsi atau tafsiran ganda yang dapat melemahkan karena sepertinya bahwa di luar wilayah
udara (wilayah antariksa) bukanlah merupakan wilayah yang tidak perlu dipertahankan
kedaulatannya.
Berdasarkan Konsepsi Ketahanan Nasional diperoleh pemahaman bahwa implementasi
Konsepsi Ketahanan Nasional diarahkan untuk meningkatkan ketahanan bangsa Indonesia baik
di bidang ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya, maupun pertahanan keamanan. Peningkatan
Ketahanan Nasional berlangsung secara berkelanjutan artinya bahwa Ketahanan Nasional yang
meningkat memberikan peluang bagi upaya pengembangan Kedirgantaraan Nasional dan

meningkatnya Kedirgantaraan Nasional memberikan kontribusi bagi pembangunan nasional


yang dapat meningkatkan Ketahanan Nasional atau Kedirgantaraan Nasional berperan sebagai
satu kekuatan dalam menyelesaikan berbagai masalah kepentingan nasional termasuk menunjang
peningkatam Ketahanan Nasional.4 Untuk kepentingan tersebut di atas khususnya penyelarasan
kepentingan nasional, pertahanan keamanan dan kepentingan Indonesia dalam fora internasional,
LAPAN sebagai sekretariat DEPANRI , telah berupaya untuk menyusun rumusan kebijakan
nasional, pengaturan dan pendayagunaan dirgantara bagi pembangunan nasional, dan
mengkoordinasikan kegiatan dan upaya-upaya pemanfaatan kedirgantaraan berupa studi dan
pengkajian terhadap aspek teknis, sosio-ekonomi, politik dan hukum kedirgantaraan. Kebijakan
nasional kedirgantaraan ditujukan untuk menetapkan landasan yang mantap dalam rangka
meningkatkan produktifitas, efisiensi dan efektifitas upaya kedirgantaraan nasional termasuk
untuk meningkatkan partisipasi Indonesia secara berkelanjutan dalam kegiatan-kegiatan
dirgantara regional dan internasional. Salah satu upaya yang telah di syahkan dalam Kongres
Kedirgantaraan Nasional, 1998, adalah Konsepsi Kedirgantaraan Nasional yaitu cara pandang
dan sikap bangsa Indonesia tentang dirinya dan lingkungan dirgantara baik yang merupakan
wilayah kedaulatan atau yang merupakan kawasan kepentingan nasional sebagai satu kesatuan
utuh, berdasarkan Pancasila dan UUD 1945, Wawasan Nusantara dan Ketahanan Nasional.
Berdasarkan Konsepsi Kedirgantraan Nasional memuat pemahaman strategis dan mendasar
antara lain:5

Wilayah nasional yaitu wilayah yang berada di bawah kedaulatan dan yuridiksi negara
yang berdimensi daratan, perairan, dan dirgantara yang batas-batasnya dilakukan

berdasarkan hukum nasional dengan memperhatikan hukum internasional yang berlaku.


Dirgantara nasional yaitu dimensi ruang di dirgantara terdiri dari ruang udara yang
merupakan wilayah kedaulatan nasional dan antariksa yang merupaka kawasan
kepentingan nasional.

4 http://educ4study.com/pengertian-lembaga-penerbangan-dan-antariksa-nasional/ diakses pada tanggal


17 Desember 2014
5 "Konsepsi Kedirgantaraan Nasional", Sekretariat DEPANRI, 1998

Kedirgantaraan adalah segala sesuatu yag berkaitan dengan dirgantara, serta segala daya
upaya bangsa Indonesia dalam mendayagunakan dan melestarikan dirgantara untuk
perwujudan Wawasan Nusantara dan peningkatan Ketahanan Nasional .

Selain telah disusun dan disyahkannya Konsepsi Kedirgantaraan Nasional, telah pula dilakukan
ratifikasi perjanjian-perjanjian internasional keantaraiksaan, seperti Liability Convention 1972
berdasarkan Keppres Nomor 5 Tahun 1996, Registration Convention, 1975 berdasarkan Keppres
Nomor 20 Tahun 1997, dan Rescue Agreement, 1968 berdasarkan Keppres Nomor 4 tahun 1999
telah memberikan landasan hukum dan lingkup yang lebih luas dalam penyusunan peraturan peraturan yang menagtur berbagai aspek kegiatan keantariksaan di Indonesia dan landasan yang
mantap bagi sikap dan posisi Indonesia dalam pembentukan dan ikut sertanya Indonesia dalam
perjanjian internasional, misalnya sikap Indonesia terhadap posisi orbit geostasioner (GSO).
Penginderaan Jauh Menunjang Sistem Pertahanan Nasional Penginderaan jauh, secara
teoritis, adalah suatu cara pemantauan tentang sifat dan kondisi suatu objek atau fenomena alam
di permukaan bumi untuk mendapatkan informasi tentang objek itu sendiri ataupun sekitarnya
tanpa harus kontak langsung dengan obyek tersebut, yang dilakukan melalui suatu pengukuran
atau pengamatan dengan menggunakan sensor yang ditempatkan pada wahana pesawat udara,
balon udara, roket atau satelit. Karena sensor ditempatkan pada suatu wahana di atas permukaan
bumi (antariksa) maka penginderaan jauh dapat menyediakan informasi atau data tentang obyek
dan lingkungan dalam cakupan yang luas dibandingkan dengan metode survei darat. Jika sensor
tersebut ditempatkan di satelit maka pengamatan atau pengukuran terhadap obyek atau fenomena
alam diatas permukaan bumi akan pemantauan yang dilakukan makin intense dan
berkesinambungan. Sebagai contoh, satelit Landsat dapat memantau suatu kawasan dengan
luasan 185 km x 185 km dengan periode liputan ulang untuk memantau daerah yang sama dalam
16 hari.Sedangkan satelit lingkungan dan cuaca seperti NOAA dan GMS dapat meliput kawasan
yang lebih luas dan peride ulang yang lebih singkat, masing-masing 12 jam dan 1 jam. Dengan
teknologi penginderaan jauh ini, dapat diperoleh kebutuhan informasi kondisi sumberdaya alam
dan lingkungan secara efisien, dan akurat dan komprehensif. Secara praktis, penginderaan jauh
adalah suatu sistem untuk mendapatkan informasi objek atau fenomena alam dan lingkungan di
atas dan pada permukaan bumi melalui serangkaian subsistem penerimaan, pengolahan dan

pengguna.Khusus untuk penginderaan jauh satelit, sistem tersebut terdiri dari ruas antariksa
(wahana antariksa; satelit, roket), ruas bumi (sistem penerima dan stasiun bumi), ruas pengguna
(sistem pengolahan data dan interpretasi). Dalam bidang penginderaan jauh, LAPAN mempunyai
fungsi penelitian dan pengembangan (litbang) teknologi dan pemanfaatan penginderaan jauh dan
sebagai bank data penginderaan jauh nasional. Litbang teknologi penginderaan jauh diarahkan
untuk meningkatkan kemampuan dan penguasaan teknologi akuisisi data dan stasiun bumi untuk
"low bit rate" (laju kecepatan rendah transmisi data), teknologi pengolahan dan interpretasi
termasuk model pemanfaatan data penginderaan jauh (optik dan radar) dan pemantapan sistem
pelayanan pengguna. Sedangkan pemanfaatan data satelit penginderaan jauh diorientasikan pada
pelayanan kebutuhan pengguna baik masyarakat umum, pengguna khusus ataupun pemerintah.
Pelayanan untuk kepentingan pertahanan dan keamanan negara antara lain adalah pelayanan
data untuk pembebasan

sandera yang pernah terjadi di Mapanduma, Timika, Irian Jaya,

pemantauan batas wilayah, P. spadan - Ligitan, latihan gabungan, operasi kemanusian di berbagai
daerah konflik, inventarisasi pantai strategis, pengamanan kekayaan dan sumberdaya alam di
wilayah perairan laut Indonesia,

perkembangan kawasan permukiman khususnya kawasan

permukiman padat yang berkaitan dengan kamtibmas (keamanan dan ketertiban masyarakat) dan
sebagainya.
Sebagai bank data penginderaan jauh nasional, LAPAN dipercayakan oleh pemerintah
untuk mengoperasikan stasiun bumi satelit penginderaan jauh di Parepare untuk menerima,
merekam, mengolah dan mendistribusikan data satelit Landsat-TM, ERS, SPOT dan JERS-1.
Selain itu, juga dipercayakan untuk mengoperasikan stasiun bumi satelit lingkungan dan cuaca di
Kalisari, Jakarta dan Biak, Irian Jaya.
D. Fungsi & Manfaat Pengideraan Jauh / Remote Sensing dalam Hubungannya
Dengan Pertahanan dan Keamanan Wilayah Negara Indonesia
Sabins (1996) dalam Kerle, et al. (2004) menjelaskan bahwa penginderaan jauh atau
Remote sensing adalah ilmu untuk memperoleh, mengolah dan menginterpretasi citra yang telah
direkam yang berasal dari interaksi antara gelombang elektromagnetik dengan sutau objek.
Sedangkan menurut Lillesand and Kiefer (1993), Penginderaan jauh adalah ilmu dan seni untuk

memperoleh informasi tentang suatu objek, daerah atau fenomena melalui analisis data yang
diperoleh dengan suatu alat tanpa kontak langsung dengan objek, daerah atau fenomena yang
dikaji.6
Data penginderaan jauh diperoleh dari suatu satelit, pesawat udara balon udara atau
wahana lainnya. Data-data tersebut berasal rekaman sensor yang memiliki karakteristik berbedabeda pada masing-masing tingkat ketinggian yang akhirnya menentukan perbedaan dari data
penginderaan jauh yang di hasilkan.Pengumpulan data penginderaan jauh dapat dilakukan dalam
berbagai bentuk sesuai dengan tenaga yang digunakan. Tenaga yang digunakan dapat berupa
variasi distribusi daya, distribusi gelombang bunyi atau distribusi energi. Analisa data
penginderaan jauh memerlukan data rujukan seperti peta tematik, data statistik dan data
lapangan. Hasil nalisa yang diperoleh berupa informasi mengenai bentang lahan, jenis penutup
lahan, kondisi lokasi dan kondisi sumberdaya lokasi. Informasi tersebut bagi para pengguna
dapat

dimanfaatkan

untuk

membantu

dalam

proses

pengambilan

keputusan

dalam

mengembangkan daerah tersebut. Keseluruhan proses pmulai dari pengambilan data, analisis
data hingga penggunaan data tersebut disebut Sistem Penginderaan Jauh. Penginderaan Jauh
merupakan terjemahan dari istilah remote sensing,7 adalah ilmu, teknologi dan seni dalam
memperoleh informasi mengenai objek atau fenomena di (dekat) permukaan bumi tanpa kontak
langsung dengan objek atau fenomena yang dikaji, melainkan melalui media perekam objek atau
fenomena yang memanfaatkan energi yang berasal dari gelombang elektromagnetik dan
mewujudkan hasil perekaman tersebut dalam bentuk citra. Pengertian 'tanpa kontak langsung' di
sini dapat diartikan secara sempit dan luas. Secara sempit berarti bahwa memang tidak ada
kontak antara objek dengan analis, misalnya ketika data citra satelit diproses dan ditransformasi
menjadi peta distribusi temperatur permukaan pada saat perekaman. Secara luas berarti bahwa
kontak dimungkinkan dalam bentuk aktivitas 'ground truth', yaitu pengumpulan sampel lapangan

6 http://remotesensing1a.blogspot.com/ diakses pada tanggal 17 Desember 2014


7 file.upi.edu/Direktori/FPIPS/JUR._PEND...LILI.../makalah_Guru.pdf diakses pada tanggal 17
Desember 2014

untuk dijadikan dasar pemodelan melalui interpolasi dan ekstrapolasi pada wilayah yang jauh
lebih luas dan pada kerincian yang lebih tinggi.8
Pada awalnya penginderaan jauh kurang dipandang sebagai bagian dari geografi,
dibandingkan kartografi. Meskipun demikian, lambat laun disadari bahwa penginderaan jauh
merupakan satu-satunya alat utama dalam geografi yang mampu memberikan synoptic overview
--pandangan secara ringkas namun menyeluruh-- atas suatu wilayah sebagai titik tolak kajian
lebih lanjut. Penginderaan jauh juga mampu menghasilkan berbagai macam informasi keruangan
dalam konteks ekologis dan kewilayahan yang menjadi ciri kajian geografis. Di samping itu, dari
sisi persentasenya, pendidikan penginderaan jauh di Amerika Serikat, Australia dan Eropa lebih
banyak

diberikan

oleh

bidang

ilmu

(departemen,

'school'

atau

fakultas)

geografi.

Dari segi metode yang digunakan, dikenal metode penginderaan jauh manual atau visual dan
metode penginderaan jauh digital. Penginderaan jauh manual memanfaatkan citra tercetak atau
'hardcopy' (foto udara, citra hasil pemindaian skaner di pesawat udara maupun satelit) melalui
analisis dan interpretasi secara manual/visual9. Penginderaan jauh digital menggunakan citra
dalam format digital, misalnya hasil pemotretan kamera digital, hasil pemindaian foto udara yang
sudaH tercetak, dan hasil pemindaian oleh sensor satelit, dan menganalisisnya dengan bantuan
komputer. Baik metode manual maupun digital menghasilkan peta dan laporan. Peta hasil
metode manual dapat dikonversi menjadi peta tematik digital melalui proses digitisasi (sering
diistilahkan digitasi). Metode manual kadangkala juga dilakukan dengan bantuan komputer,
yaitu melalui proses interpretasi di layar monitor (on-screen digitisation), yang langsung
menurunkan peta digital.10

8 "Urgensi Pengesahan Perjanjian Mengenai Prinsip-prinsip Yang Mengatur Kegiatan Negara-Negara Dalam
Eksplorasi dan Penggunaan Antariksa, TermasukBulan dan Benda-benda Langit Lainnya", LAPAN, 1998, Jakarta

9 file.upi.edu/Direktori/FPIPS/JUR._PEND...LILI.../makalah_Guru.pdf diakses pada tanggal 17


Desember 2014
10 http://pengertian-definisi.blogspot.com/2011/09/penginderaan-jauh-remote-sensing.html diakses pada tanggal 17
Desember 2014

Metode analisis citra digital menurunkan peta tematik digital secara langsung. Peta-peta digital
tersebutd dapat di-'lay out' dan dicetak untuk menjadi produk kartografis (disebut basis dat
kartografis), namun dapat pula menjaid masukan (input) dalam suatu sistem informasi geografis
sebagai basis data geografis. Peta-peta itu untuk selanjutnya menjaid titik toak para geografiwan
dalam menjalankan kajian geografinya.

Manfaat Pengideraan Jauh / Remote Sensing


Pertahanan dan keamanan nasional pada dasarnya sesuai dengan UUD 1945 ditujukan

untuk melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan
kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia.
Perubahan lingkungan sebagai dampak negatif pembangunan nasional mempunyai keterkaitan
dengan pertahanan dan keamanan. Pemantauan perubahan ekstrim dinamika atmosfer seperti
pemantauan ozon, pemantauan fenomena alam El Nino

dan La Nina, pencemaran udara

pemantauan radiasi matahari yang mempunyai pengaruh terhadap kondisi dan dinamika atmosfer
dilakukan oleh LAPAN dan telah diperoleh model-model terkait. Model model prediksi
perubahan ekstrim iklim, pemantauan kondisi ozon, pencemaran udara dan gas rumah kaca,
model pengukuran radiasi matahari yang semuanya
pertahanan dan keamanan nasional.

dapat dimanfaatkan untuk keperluan

Perubahan atmosfer dapat mempengaruhi komunikasi

gelobang radio dan sebagainya.

Pemanfaatan Penginderaan Jauh Untuk Identifikasi Pantai Strategis


Kegiatan identifikasi pantai strategi dengan menggunakan teknologi penginderaan jauh

satelit dan sistem informasi geografi (SIG) dilakukan secara bersama dengan BPPIT Dephankam
dengan sasaran untuk mendapatkan lokasi pendaratan yang tepat (cocok) bagi kepentingan
pertahanan bagi latihan dan untuk menangkal serangan musuh.

Selain itu juga untuk

kepentingan keamanan yaitu pengawasan terhadap potensi penyelundupan. Dari data satelit
penginderaan jauh dapat diekstraksi dan diamati parameter-parameter yang diperlukan antara
lain adalah bentuk pantai, geomorfologi, penutup dan tata guna lahan, elevasi pantai, sedimentasi
dan akses jalan ke dan dari pantai.

Pengamananan Perairan Laut Indonesia dan Sumber daya Alam


Indonesia adalah negara kepulauan yang terdiri dari 17, 508 pulau dan dengan posisi

geografis yang strategis antara dua samudra, dengan garis pantai mencapai 81.000 km dan
wilayah perairan termasuk ZEE seluas 5,8 km2.

Berdasarkan hukum laut internasional

(UNCLOS, 1982), Indonesia mempunyai kedaulatan wilayah atas perairan pedalaman, perairan
nusantara, dan laut wilayah. Indonesia juga mempunyai kedaulatan atas kekayaan alam di ZEE
dan landas kontinen tapi tidak mempunyai hak kedaulatan di kawasan tersebut dan mempunyai
kewenangan tertentu seperti ke pabeanan, imigrasi, bea cukai, dan karantina kesehatan pada
zona tambahan. Hak dan kewenangan tersebut kemudian tertuang dalam berbagai peraturan
dan perundang-undangan nasional, Indonesia mempunyai hak penuh atas dan hak eklusif di
landas kontinen Indonesia, hak berdaulat untuk melakukan eksplorasi dan eksploitasi,
pengelolaan dan konservasi sumbserdaya alam hayati dan non hayati dari dasar laut dan tanah di
bawahnya serta air di atasnya dan kegiatan-kegiatan lainnya untuk eksplorasi dan eksploitasi
ekonomi pada ZEE. Semua kegiatan yang dilakukan pada wilayah perairan, landas kontinen dan
ZEE seperti pertambangan dan perikanan tangkap harus mendapatkan ijin dari pemerintah
Republik Indonesia. Namun karena luasnya wilayah perairan Indonesia, maka cukup sulit bagi
pemerintah

Indonesia untuk dapat mengawal wilayah perairannya, diperlukan armada laut

dengan perlengkapan yang handal, dana yang besar dan SDM yang handal, dan teknologi yang
dapat memberikan informasi secara periodik dan berkesinambungan tentang potensi perikanan
(kawasan potensi ikan), kondisi lingkungan laut seperti pencemaran (tumpahan minyak). Dari
data satelit lingkungan dan cuaca (NOAA dan GMS), LAPAN telah mengembangkan model
pemanfaatan pemantauan suhu permukaan laut dan pemantauan kawasan potensi ikan.
Berdasarkan model tersebut, LAPAN telah melakukan uji operasional pelayanan informasi suhu
permukaan laut dan informasi kawasan potensi penangkapan ikan di wilayah laut lepas atau
ZEE. Usaha tersebut dilakukan bekerjasama dengan berbagaipihak seperti KUD, perusahaan
swasta penangkapan ikan,dan sebagainya. Untuk masa mendatang, operasi pelayanan informasi
kawasan potensi ikan kepada para nelayan dapat melibatkan pangkalan angkatan laut sehingga
dapat mengamankan potensi perikanan nasional dari kegiatan "illegal fishing" sekaligus dapat

mengawal dan melindungi nelayan-nelayan Indonesia dari berbagai ancaman seperti bajak laut,
serangan nelayanasing dan dapat mencegah terjadinya konflik antar nelayan.11
Data satelit penginderaan jauh dapat dimanfaatkan untuk berbagai tujuan lain yang terkait
dengan masalah kelautan antra lain adalah dapat dijadikan sebagai masukan untuk pembuatan
Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI), revisi peta navigasi laut, pemantauan kualitas perairan
laut (kekeruhan, pencemaran, klorofil), pemetaan bathimerti, identifikasi hutan mangrove,
terumbu karang, memungkinkan pemantauan konvoi armada tempur di laut, pemantauan
perubahan cuaca, pemantauan arah angin dan gelombang, pemantauan badai di laut, pemantauan
pulau-pulau kecil dan terasing dan sebagainya. Potensi - potensi tersebut mempunyai keterkaitan
dengan hal pertahanan nasional serta keamanan.

Pemanfaatan Lain Teknologi Penginderaan Jauh/ Remote Sensing


Menunjang Sistem Pertahanan Nasional Selain kegiatan pemanfaatan penginderaan

jauh seperti tersebut di atas,

teknologi penginderaan jauh mempunyai peluang untuk

dimanfaatkan antara lain:program pemantauan kawasan perbatasan, revisi peta topografi,


inventarisasi, identifikasi dan pemantauan pangkalan dan fasilitas latihan berupa instalasi
strategis, sarana dan prasarana jalan dan jembatan, pemetaan bentuk dan penggunaan lahan,
pemanfaatan untuk kehutanan (kebakaran hutan dll), pertanian (luas panen, produktifitas,
kekeringan), perkebunan, iklim (perubahan iklim), pemantauan dampak perubahan ekstrim
dinamika iklim (banjir, kekeringan, dll), pemantauan perkembangan kawasan perkotaan dan
permukiman, pemetaan daerah kota rawan kejahatan, dan sebagainya.
LAPAN dalam lima tahun terakhir telah mengembangkan berbagai model untuk
keperluan tersebut dan telah dihasilkan antara model operasi untuk pemantauan kekeringan
lahan, pemantauan kebakaran hutan, pemantauan perkembangan perkotaan dan permukiman,
pemantauan daerah rawan longsor dan banjir, pemantauan luas panen.

11 "Pemanfaatan Teknologi Inderja Satelit UntukKepentingan Pertahanan Keamanan Negara",BPPIT-Dephankam,


1998, Jakarta

BAB IV
PENUTUP
Kesimpulan
1. Peranan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional ( LAPAN ) sangat diperlukan
oleh Negara Indonesia apalagi di dalam menjaga pertahanan dan keamanan Nasional
,mengingat begitu luasnya wilayah Indonesia maka LAPAN bermanfaat dalam
pengideraan Jauh / Remote Sensing.Hal Berdasarkan Undang - Undang Nomor 20 tahun
1982 tentang Ketentuan Pokok Pertahanan Keamanan Negara (Hankamneg) menyatakan
"bahwa pertahanan keamanan negara Republik Indonesia merupakan upaya untuk
mewujudkan satu kesatuan Hankamneg dalam rangka wawasan nusantara guna mencapai
tujuan nasional yaitu untuk melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah
Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut
melaksanakan ketertiban dunia. Maka dari itu pemerintah mengimplementasikan hal itu
dengan adanya LAPAN.
2. Pertahanan dan keamanan nasional pada dasarnya sesuai dengan UUD 1945 ditujukan
untuk melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan

kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban


dunia.

Perubahan lingkungan

sebagai

dampak negatif pembangunan nasional

mempunyai keterkaitan dengan pertahanan dan keamanan. Pemantauan perubahan


ekstrim dinamika atmosfer seperti pemantauan ozon, pemantauan fenomena alam El
Nino dan La Nina, pencemaran udara pemantauan radiasi matahari yang mempunyai
pengaruh terhadap kondisi dan dinamika atmosfer dilakukan oleh LAPAN dan telah
diperoleh model-model terkait.

Model model prediksi perubahan ekstrim iklim,

pemantauan kondisi ozon, pencemaran udara dan gas rumah kaca, model pengukuran
radiasi matahari yang semuanya dapat dimanfaatkan untuk keperluan pertahanan dan
keamanan nasional. Perubahan atmosfer dapat mempengaruhi komunikasi gelobang radio
dan sebagainya.

Saran
1. Pemerintah perlu mengembangkan LAPAN agar menjadi lebih baik lagi kedepan dan
menjadikan LAPAN sebagai Lembaga terdepan di dalam pertahanan dan keamanan
Nasional
2. Perlu mencari tenaga tenaga terdidik dan ahli guna mengembangkan LAPAN agar
tercipta inovasi inovasi baru yang bermanfaat bagi kesejahteraan bangsa dan negara

DAFTAR PUSTAKA
Sumardi, Juajir. 1996. Hukum Ruang Angkasa. Pradnya Paramita. Jakarta.
"Konsepsi Kedirgantaraan Nasional", Sekretariat DEPANRI, 1998
"Pemanfaatan Teknologi Inderja Satelit Untuk Kepentingan Pertahanan Keamanan Negara",
BPPIT-Dephankam, 1998, Jakarta
"Urgensi Pengesahan Perjanjian Mengenai Prinsip-prinsip Yang Mengatur Kegiatan Negara
Negara Dalam Eksplorasi dan Penggunaan Antariksa, Termasuk Bulan dan Benda-benda Langit
Lainnya", LAPAN, 1998,Jakarta
Website
http://id.wikipedia.org/wiki/Lembaga_Penerbangan_dan_Antariksa_Nasional#Sejarah_Pembent
ukan
http://pustakaazham.blogspot.com/2011/07/laporan-iv-lapan-lembaga-penerbangan.html
http://educ4study.com/pengertian-lembaga-penerbangan-dan-antariksa-nasional/
https://primamoklet.wordpress.com/tag/lapan/

http://kelompok12geounpad10.blogspot.com/2011/10/pengertian-remote-sensing_6653.html
http://remotesensing1a.blogspot.com/
lbprastdp.staff.ipb.ac.id/files/.../Minggu-14-Pengantar-remote-sensing.pd..
file.upi.edu/Direktori/FPIPS/JUR._PEND...LILI.../makalah_Guru.pdf
http://id.wikipedia.org/wiki/Penginderaan_jauh

TUGAS UJIAN KOMPETENSI DASAR IV


HUKUM ANGKASA
MAKALAH
PERAN LAPAN dan Fungsi Dari Penginderaan Jauh (Remote Sensing)
Dosen Pengampu : Bapak Hero Prahartono, S.H., M.Hum

Makalah ini di susun guna memenuhi Tugas Ujian Kompetensi Dasar IV (UKD IV)
Disusun
Invantri Graham O.A
E0011165
FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2014