Anda di halaman 1dari 10

Ibn Sarraj dan Pemikiriannya

Oleh: Ihsan Sa’dudin

A. Pendahuluan
Ilmu-ilmu bahasa Arab diantaranya adalah ilmu al Qur’an,
ilmu al Hadits, ilmu al Ushul al Fiqh ilmu an Nahw dan al Shurup,
ilmu al lughah wa Fiqh al Lughah, ilmu Balaghah, ilmu Ushul an
Nahw, ilmu al Ashwat, ilmu al Dilalah, ilmu al Ushlub, dan ilmu al
Adab.
Namun pemakalah hanya akan membahas salah satu dari
ilmu-ilmu itu, yaitu ilmu Ushul al Nahw. Sebagaimana Ushul Fiqh,
ushul al Nahw diformulasikan sesudah nahwu. Ushul al Nahw
merupakan prinsip-prinsip yang melandasi ilmu nahwu dalam
berbagai persoalan dan aflikasinya. Ilmu al Ushul al Nahw tidak
hanya menyoroti sumber-sumber, dalil-dalil, dan prinsip-prinsip
perumusan nahwu sebagai ilmu, melainkan juga mengkaji
berbagai perbedaan pendapat dikalangan ahli nahwu dalam
memahami

fenomena-fenomena

bahasa

Arab

sejak

masa

Jahiliyah hingga masa pembukuan bahasa, khususnya Nahwu.
B. Pembahasan
1. Biografi
Ulama nahwu ini bernama lengkap Abu Bakr Muhammad
bin Sahl an- nahwi al-baghdadi. Dia salah seorang murid
Mubarrad. Ibn Sarraj sangat cerdas, pintar, dan konsisten belajar
kepada gurunya (baca: Mubarrad)berbagai ilmu bahasa Arab dan
gramatikanya, kemudian dia juga mempelajari ilmu mantiq dan
musik. Setelah Mubarrad meninggal, dia melanjutkan studinya
dengan berguru kepada Az-zujaj, dan bersamanya dia belajar alKitab karya Sibawaih.

1

Nahw. yaitu al.Ushul fi an-Nahw. dan sebagainya. Ia berusaha membuat dasar-dasar yang melandasi verifikasi dan penyimpulan kaidah-kaidah nahwu.Setelah itu. syarh sibawaih.ushul fi An. Ibn Sarraj membagi kalam ke dalam tiga bagian. fi’il ¸dan hurup – sama seperti 2 . kitab mujmal al-Ushul. namun sampai sekarang karyanya abadi dan masih dijadikan salah satu buku rujukan ilmu gramatika bahasa arab.Nahw) banyak mengambil literatur dari al-muqtdhab karya al-mubarrad. isim. kitab ihtijaj al-Farra. Akan tetapi.ushul fi An. Al-Mubarrad. Pemikiran Ada beberapa pemikiran Ibn Sarraj yang terdapat dalam kitab al. diantaranya: Pembahasan pertama yang dibahas dalam buku al-ushul fi an-nahwi adalah masalah pembagian kalam. kitab isytiqoq. 2.Muqtadhab karya gurunya. namun ada satu karya tulis Ibn Sarraj yang membahas secara mendetail dan konfrehensif tentang gramatika bahasa Arab.Nahw) lebih baik dan lengkap dari kitab al. Berbagai karya dia ciptakan. Dalam buku al-madaris an-nahwiyah diriwayatkan seorang murid Ibn Sarraj pernah berkata bahwa kitab karya Ibn Sarraj (al. baik aliran bashrah maupun kuffah. Ibn Sarraj ini meninggal pada tahun 316 H. dengan sikap rendah hatinya Ibn Sarraj mengatakan bahwa dalam bukunya itu (alushul fi An.karya Ibn Sarraj yang lainnya seperti. Karya. Beliau adalah orang pertama yang merumuskan Ushul al-nahw berdasarkan karya Sibawaih yaitu alKitab. dia memberikan perhatian besar terhadap ilmu gramatika bahasa Arab dan memberikan berbagai kritikan pada al-Kitab-nya Sibawaih.

Makna di sini terbagi dua bagian. Pengertian Isim adalah kata yang menunjukkan makna. Fi’il dalam pandangan Ibn Sarraj adalah kata yang menunjukkan makna dan waktu. hadir atau mustaqbal. ‫الفعل هو ما دل على معنى وزمان وذالك الزمان إما ماض وإما حاضر‬ ‫وإما مستقبل‬. tapi kata itu hanya berupa kata yang mempunyai makna keterangan waktu saja. ‫ شخص‬dan ‫غير شخص‬. Waktu ini dibagi menjadi tiga bagian. Tapi. ‫ وذالك المعنى يكون شخصا وغير‬. madhi. menunjukkan makna dan terikat oleh waktu. meskipun dalam contoh isim ghair sakhsin ada kata yang menunjukkan waktu. Jika kita lihat pengertian isim dan fi’il. Ada hal yang berbeda ketika pengertian ‫ معنى‬dalam fi’il. kedua ‫ معنى‬tersebut mempunyai pengertian yang berbeda.‫المسم هو ما دل على معنى مفرد‬ ‫شخص‬. Sedangkan contoh dari isim bermakna ghair sakhsin adalah ‫ الضرب واللكيل والظيين والعليم والييوم والليية والس اعة‬dan sebagainya.yang terikat waktu-. Contoh dari isim bermakna sakhsun adalah ‫رجل وفرس وحجر وعمر وبكر‬. keduanya sama menunjukkan kepada sesuatu yang bermakna (‫)معنى‬. haadir. yaitu ‫الليلة‬ ‫ واليوم والساعة‬. ‫صلى زيد‬ 3 .pendapat ulama nahwu sebelumnya-. dan mustqbal. tidak menerangkan kata itu terjadi pada masa madhi. Sedangkan ‫ معنى‬pada pengertian fi’il. misalnya. ‫ معنى‬pada pengertian isim hanya menunjukkan makna saja dan tidak terikat oleh waktu. contoh. dan lain sebagainya.

maka mashdar harus mempunyai satu bentuk dan tidak beragam bentuknya. 4 . Kemudian. kata ‫ صلى‬menjelaskan bahwa ritual sholat sudah dikerjakan pada waktu dulu (past tense). yaitu ‫شييييربا وشييييربا ومشييييربا وشييييرابا‬. sedangkan fi’il menunjukkan pada waktu yang mua’yyan atau fi’il itu terikat oleh waktu. ‫يصلى زيد‬ Kata yang mempunyai makna dan terikat waktu hadir adalah kata ‫ يصييلى‬. Dia dengan argumentasinya kalau mashdar itu asal kata dari sebuah kata. kata. Pandangan Ibn Sarraj ini berbeda berpandangan dengan bahwa pandangan fi’il gurunya. tidak hanya mempunyai makna tapi juga makna itu terikat oleh waktu. Pendapatnya itu berdasarkan pemahaman dia bahwa mashdar menunjukkan pada waktu yang bebas (muthlaq). contoh kata yang bermakna waktu hadir. Ibn Sarraj menjelaskan dalam bukunya al-ushul fi an. Contoh. Penjelasan ketiga dari pembagian kalam adalah hurup.nahwi. kata itu menjelaskan bahwa ritual sholat sedang dilaksanakan pada waktu sekarang (present tense).Pada kalimat di atas. merupakan asal Az-zujaj. dengan artian mashdar adalah asal kata dan fi’il adalah istiqaq dari mashdar. hurup adalah ‫الحرف ما ليجوز ان يخبر عنه لكما يخبر عن المسم‬. Ibn Sarraj memandang bahwa semua fi’il merupakan derifasi (istiqaq) dari isim mashdar. contoh mashdar dari ‫ شرب‬adalah ‫شربا وشربا مشيربا‬ ‫ وشرابا‬. ‫شربت لكوبا من القهوة‬ Kata ‫ شربت‬merupakan fi’il hasil istiqaq dari mashdarnya.

dalam istilah lain dikenal dengan sebutan ‫حرف العطف‬. yaitu ‫ السين‬dan ‫ مسوف‬. Hurup yang menghubungkan isim dengan fi’il. Contoh kalimat ‫ قام وقعد وألكل وشرب‬. kalimat ‫ مسيفعل‬dan ‫مسوف يفعل‬. Kalimat ‫ يقييوم زيييد‬tidak berhubungan dengan kalimat selanjutnya ‫يقعد عمرو‬. 4. hurup ‫ الييواو‬pada kalimat berada diantara ‫ زيييييد‬dan ‫ عميييير‬merupakan penghubung antara keduanya. Hurup yang hanya melekat pada isim. Hurup yang masuk ke dalam fi’il. yaitu hurup ‫اللف‬ ‫واللم‬. jika melihat kalimat ‫عمرو إلى‬ Hurup ‫ إليييى‬pada kalimat di atas tidak memberikan penjelasan tentang Amr. 5. Bentuk asal dari kalimat tersebut adalah ‫يقوم زيد يقعد عمييرو‬. sehingga tidak menempati kedudukan khabar dari Amr. Contoh kalimat ‫ جيياء زيييد وعميير‬. yaitu: 1. Hurup yang menghubungkan kalimat dengan kalimat. contoh. ketika ada hurup ‫ إن‬di awalnya menjadikan kalimat 5 .Hurup adalah sesuatu yang tidak menempati kedudukan khabar. Contoh ‫الرجل منطلق‬ Kata ‫ منطلق‬pada kalimat di atas menempati kedudukan khabar (sebagai penjelas dan khabar dari mubatada ‫)الرجل‬. Tapi. Contoh kata ‫الرجل‬ 2. Contoh. Pada penjelasan hurup ini. dijelaskan beberapa tempat dan kedudukan hurup. ‫إن يقييم زيييد يقعييد عمييرو‬. Akan tetapi. Hurup yang menghubungkan fi’il dengan fi’il. Hurup yang menghubungkan satu isim dengan isim lainnya. Contoh kalimat ‫مررت بزيد ومضيت الى عمرو‬ 6. 3.

Seperti ‫ ان واخواتها‬. Bentuk awal kalimat tersebut sebelum datangnya ‫ان واخواتها‬. kemudian fi’il dengan isim. Hurup awamill fi al-asma’. setelah datangnya ‫ ان‬menjadikan mubtada manshub karena kedudukannya sebagai isim inna dan khabar marfu karena kedudukannya sebagai khabar inna. Contoh isim dengan isim. dan mempunyai arti “cincin yang terbuat dari perak”. yaitu hurup yang menyambungkan isim dengan isim. Bentuk awal dari mubtada adalah marfu bil ibtida dan khabar marfu bil mubtada.pertama ‫ يقوم زيد‬sebagai syarat dan kalimat kedua ‫يقعد عمرو‬ sebagai jawab as-syarat. Sehingga mempunyai arti “saya lewat ke depan Zaed”. Kemudian. ‫مررت بزيد‬ Dalam kalimat di atas hurup ‫ ب‬merupakan hurup yang menyambungkan fi’il ‫ مررت‬dengan isim ‫زيد‬. menurut Ibn Sarraj terbagi dua bagian. Akan tapi. ‫زيد قائم‬ 6 . ‫خاتم من فضة‬ Hurup ‫ ميين‬dalam kalimat di atas merupakan hurup yang menyambungkan isim dengan isim. ‫إن زيدا قائم‬ Hurup ‫ ان‬pada kalimat di atas merupakan hurup yang masuk pada mubtada dan khabar. Bentuk lainnya dari hurup adalah hurup yang masuk pada mubtada dan khabar. dalam hal ini hurup ini mempunyai tugas menasb kan isim dan merofakan khabar. contoh selanjutya dari hurup yang menyambungkan isim dengan fi’il.

Bentuk asal kalimat tersebut sebelum ada adat al-jazimah ‫ب زيد قهوة‬ ‫يشر ب‬ 7 .Kemudian bagian kedua dari kedudukan hurup yang hanya masuk pada fi’il. (‫أريد أن أذهب )منصوب‬ (‫لم يذهب مومسى الى المدينة )مجزوم‬ Hurup. karena pada fi’il itu tidak terdapat hurup illat. tidak pada isim. contoh Tidak boleh Tidak boleh ‫لم زيد‬ ‫اريد ان عمرو‬ Bagian lain dari kedudukan hurup yang masuk pada isim dan fi’il. Contohnya.hurup yang digaris bawahi di atas tidak bisa masuk ke dalam isim. yaitu mengganti harakat asalnya menjadi sukun atau mengambil hurup dari fi’il itu. Contohnya Hurup pada fi’il Hurup pada isim ‫أيقوم زيد‬ ‫أزيد أخوك‬ Pemikiran Ibn Sarraj selanjutnya adalah mengenai adat aljazimah pada fi’il mudhari. Contoh menghilangkan harakat ‫ب زيد قهوة‬ ‫لم يشر ب‬ Kata yang digaris bawahi merupakan fi’il mudhari yang diganti harakat asalnya menjadi sukun. adat al-jazimah pada fi’il mudhari mempunyai dua fungsi. Hurup ini mempunyai tugas menasab dan menjazmkan fi’il.

seperti ‫لست ولستما و لسن وعساك وعساه‬. ‫قرأت لكتابا ليس غير‬ Menurut mereka. contoh ‫قرأت لكتابا ل غير‬ Hal ini berbeda dengan Ibn Sarraj. Dia berpendapat bahwa ‫ ليس‬dan ‫ عسى‬adalah hurup. Bentuk asal dari kalimatnya adalah ‫يرمى مومسى الحجر‬ Pembahasan selanjutnya mengenai ‫ ليس‬dan ‫ عسى‬. Jumhur ulama berpendapat bahwa ‫ ل‬tidak boleh menepati tempat ‫ليس‬.Fungsi yang kedua adalah mengambil hurup dari fi’il yang sebelumnya ada adat al-jazimah. Jumhur ulama nahwu Basrah berpendapat bahwa ‫ لييييس‬dan ‫عسيييى‬ merupakan bentuk fi’il naqis apabila disambungkan dengan dhamir. Ibn Sarraj berbeda pandangan dengan mereka. dia berpendapat kalimat keduanya di atas benar. karena tidak ada bentuk mudhari dan amr dari keduanya dan tidak ada derifasinya. Namun. jika ‫ لييييس‬itu diganti menggunakan ‫ ل‬maka itu yang tidak boleh. antara ‫قرأت لكتابا ليس غير‬ 8 . kalimat di atas benar dan tidak ada hal yang perlu dipermasalahkan. karena di memandang bahwa ‫ ل‬bisa menggantikan kedudukan ‫ ليس‬. Namun. Contoh ‫لم يرمِ مومسى الحجر‬ Kata yang digaris bawahi merupakan fi’il naqis yang hurup illatnya dihilangkan karena sebelm fi’il naqis tersebut ada adat al-jazimah. Contohnya. Jadi.

Ibn Sarraj berbeda pendapat dalam memandang ini. 9 atau . Pandangan jumhur ulama nahwu pada kata ‫مييا‬ ‫ ل م‬dalam kalimat ‫لما جاءنى ألكرمته‬ sebagai hurup wujud li wujud. Dia berpendapat bahwa ‫ لما‬di sana merupakan dhurup yang bermakna ‫حين‬ dalam istilah lain keterangan waktu.Dan ‫قرأت لكتابا ل غير‬ Dipandang benar menurut Ibn Sarraj dan dari aspek kedudukan irabnya tidak ada yang berbeda diantara keduanya. Tidak bermakna keterangan waktu yang menerangkan waktu sebuah pekerjaan. Namun.

Jilid 1 dan jilid 2. 10 . Rwawaiy.‘Arabiy. Nasyatuhu. 1997. Tanpa Tahun. Makkah: al-Maktabah al-Faisaliyah. Kepanjen: Dream Litera. 1976. Nasyatun Nahwi wa Tarikh Asyharun Nuhat. Al inshaf fi masail al khilaf baina al nahwiyin al bashriyin wa al kufiyin. Mesir: Dar al maarif. Mulloh. Shalah. Al syaikh al imam kamal al din abi al barakat abdu al rahman ibnu Muhammad bin abi said al nahwi. Tathowwuruhu. Al-Suyuti. Dhoif. Al Hind: Hida Abad. Madarisuhu. Muhammad. 2014. Syauqi. Tanpa Tahun. Al Basith fi Ushulin Nahwi wa Madarisihi. al-Iqtirah fi Usul al-Nahw. Kairo: Darul Gharib. Al-Anbary. al-Khilaf baina al Nahwiyin Dirasah wa tahlil wa taqwim. al madaris al nahwiya. An-Nahwu Al. Tamim. Al-Tawil. Kairo: Dar Al Maarif. Rijaluhu. 1984. Kairo: Dar al Thalai’.Daftar Pustaka Tantawi. 2005.