Anda di halaman 1dari 98

BAB 1
TING!
Denting lift disusul derap langkah kaki memecah keheningan di lorong apartemen. Mudah untuk
tersesat disana jika pintu2 itu tdk bernomor. Namun, hal itu tidak berlaku untuk Sophie dan
Marko. Gadis berkulit putih itu berjalan tergesa di depan Marko yg sedang mengutak-atik
handycam di tangannya.
"Komarrrr! Ayo cepetan!" Sophie memandang sebal kepada Marko. Kalau saja lorong itu tidak
sepi, Sophie yakin Marko sudah menabrak orang berkali-kali. "bisa keilangan momen nih
kita....."
bukanyya merespons, Marko malah berhenti. Seluruh perhatiannya tertuju pd layar handycam.
Sophie yg sdh beberapa langkah di depan Marko pun melakukan hal yg sama. Dia mengerling
kpd Marko, agak jengkel. Namun kemudian, senyum kecil muncul di sudut bibirnya. Pelan-pelan
dia menggeser posisi tubuh, nyaris tak bersuara. Kini, Sophie berada di depan salah satu pintu
unit apartemen. Lirikannya kembali tertuju kpd Marko yg masih sibuk sendiri. Sophie mendesah,
alisnya terangkat, lalu dgn cepat dia mengetuk pintu di hadapannya. Selanjutnya, tanpa
menunggu Marko, dia melesat lari sambil terkikik.
Marko menyadari ulah Sophie setelah beberapa detik. Mata cokelatnya melotot kpd Sophie yg
sudah berlalu. Tanpa pikir panjang, dia pun mengambil langkah seribu. Pintu unit apartemen itu
masih tertutup saat dia berhasil menyusul Sophie. Keduanya melewati tikungan lorong dgn suara
tawa Sophie yg menggema.
"gue nggak akan minjemin teropong gue buat loe ngintai hari ini," ujar Marko saat mereka
mendaki tangga darurat menuju rooftop. Kejengkelan masih mengisi parasnya, terbukti dengan
ekspresi cemberut yg ditampilkan.
"ihh, Marko, gitu aja ngambek," sahut Sophie, tawanya blm habis.
"biarin, biar loe tersiksa. Hukuman kayak gini paling pas buat stalker kayak elo."
perkataan itu membekukan kaki Sophie. Bibirnya mengerucut, tangannya terlipat ke dad.
Senyum yg tadi, lenyap begitu saja. Matanya menyipit, menyiratkan geram kpd Marko yg dgn
cueknya melewatinya.
"Markoooooo!!!" serunya keki.
Sophie mengejar Marko sampai ke puncak tangga. Angin sore menyapanya, mengurai
rambutnya yg hitam panjang. baginya udara di atas sini terasa lebih segar dibanding di area
bersama, membuat Sophie betah. Langit sudah mulai berubah warna menjadi kekuningan.
Sophie melihat Marko sudah lebih dulu menuju salah satu sudut rooftop. Tempat favorit mereka.
Cuma sudut biasa sih, tetapi dari sana kehidupan dibawah terlihat begitu jelas.

Mereka berdiri bersebelahan. Sophie melongok ke arah area bersama - kolam renang besar yg
sisinya dideret kursi2 santai. Lalu agak jauh, terdapat deretan toko-mini market, binatu, hingga
toko interior dan perabot. Dia menumpukan tangannya di pinggir rooftpo, merasakan angin yg
berdesir. Matanya mengamati ke bawah sampai mendengar Marko berdecak.
"gue bukan stalker! Gue pengamat! Tolong bedain ya!" omel Sophie. Tatapan setingkat lebih
sengit dibanding di tangga tadi.
Marko hanya mengangakat bahu dan mengabaikan Sophie. Dia mengambil teropong,
mengarahkan pd area yg Sophie perhatikan. Fahinya berkerut-kerut, alisnya naik sebelah.
"ckckck.... Wew....."
sophie memfokuskan pandangan ke bawah. Ada dua orang di bawah sana, yg dia kenali sebagai
gadis yg bekerja di laundry dan cowok yg jadi pelanggannya. Dia menoleh kpd Marko lagi yg
tdk menunjukan tanda2 akan melepaskan teropongnya.
"mereka ngapain, sih?" tanya Sophie, mencoba merebut atensi Marko lagi. Bibirnya mengerucut
karena dia masih saja diabaika. Dia beruaha merebut teropong, tetapi Marko segera menepis
tangan Sophie. "Marko pinjem dong teropongnya." sekarang dia meminta dgn memelas. Dia
benar2 ingin tahu apa yg sedang terjadi di bawah sana. Sudah beberapa hari terakhir pasangan itu
menarik perhatiannya.
Marko hanya melirik Sophie sejenak, lalu kembali sibuk sendiri.
"pleaseeeee....."
sophie mengadahkan tangan. Kemudian, tanpa sepatah kata pun, Marko mengangsurkan
teropong kpd Sophie. Seringai lebar muncul di bibir gadis itu. Matanya berbinar, saking
bersinarnya cukup memperlihatkan isi hatinya yg senang. Sophie menggeser Marko sedikit,
mengambil posisi paling pas utk mengamati. Dia berharap bisa punya alat curi dengar sekaligus,
sehingga bisa mengetahui apa yg orang2 itu bicarakan.
Selama beberapa saat, Marko hanya diam mengamati Sophie. Gantian dia yg tdk diacuhkan
karena Sophie sibuk dgn pengamatannya. Ketika Sophie mulau membuat dialog2 sendiri, Marko
tersadar ada handycam di tanganya. Dia menyalakan dan mengatur handycam itu, lalu mulai
merekam Sophie.
pandangan Sophie menangkap gerak-gerik kedua orang itu. Mereka saling bicara dgn ekspresi yg
kini terlihat begitu jelas berkat teropong Marko. Si Gadis Laundry yg malu-malu dan melambatlambatkan memeriksa pakaian2 si Cowok Pelanggan. Sepertinya mereka membicarakan jersey
Manchester United milik si cowok. Seluruh obrolan itu berakhir ketika si Cowok pelanggan
berbalik pergi. Gadis laundry menatapnya nanar sambil memegangi salah satu pakaian si cowok
pelanggan. Bibirnya bergerak mengucapkan sesuatu yg Sophie coba tebak.
Tapi aku akan berusaha suka.....

Sophie.' "untung cuma sedikit orang kayak lo. Sophie mencebik. Kalau banyak pemimpi kaya loe. makanya punya imajinasi dikit knp sih?? Biar lo bisa ngeliat sesuatu dari sudut yg berbeda. memindai keadaan di area bersama. Marko angkat kaki dari situ... Mendapat perlakuan tdk terduga itu. Kemudian menyambungnya dgn suara melengking bak tante-tante." timpal Marko. Lalu dgn tiba-tiba merebut teropongnya. dunia bakalan absurd banget. meninggalkan pos pengamatan mereka dgn hasil nihil. menyadari Marko pergi. Ada sesuatu yg dicari-carinya dibawah sana.apapun yg kamu suka. area bersama tdk terlalu ramai. menunjuk ke arah kedua sosok tsbt." lanjut Sophie. Sore itu. tetapi tak bisa ditemukannya." ujar Marko memasang tampang bosan. "Anjrit! Kim Kadarshian kok disini sih?" marko seolah menirukan suara si remaja cowok. Sambil berdecak. Marko lebih gesit berkelit. mengambil paksa teropong. ada yg tdk beres dgn anak itu.. "Ihh.." potong Sophie. "hmmm." katanya. Dia menghentikan rekamannya. "itu diaolog yg paling real.. Dia akhirnya. Jorok tau. Sophie hanya meringis.". 'Komarrr. Dunia ini nggak semanis dan seromantis seperti didalam imajoinasi lo. Sophie mendesah. Mulai deh imajinasinya ke mana-mana" cibir Marko.. Dahi Marko berkenyit. Tuh Cewek Laundry ama si cowok nggak ada kemajuan kan. "lo mw denger percakapan batin mereka?" tawanya nyengir lebar... Apa yg ingin diketahui hari ini malah tak bisa ditemukan. Dia memberi isyarat ke Sophie utk mengembalikan teropong. Sophie melirik Marko. Dia berusaha menggondol teropong itu lagi. Matanya membulat." sophie membuang pandangan. Tetapi. "nih.. yuk. tetapi tdk membantah. Marko menemukan penyebab ketidak beresan remaja tsbt: tante yg baru saja menceburkan diri ke kolam renang. Lensa teropongnya berhenti pada sepasang remaja lakilaki yg berdiam di tempatagak tersembunyi. Marko menoleh kpd Sophie. "Balik. Berbagai pertanyaan .. Hanya dgn menggeser arah pandangannya sedikit. gue bakal liatin lo sesuatu yg real. Marko terkekeh tanpa suara. brondong nggak ada sopan santunnya! Ngeliat sampai mangap!" "Nggak lucu. Sophie bergeming. Marko mengamati satu-satu dari sepasang anak muda yg melintas hingga OB yg berjalan tergesa.

Lo streaming aja. Seruan melengking dari Livia dan Marsya menyapa pendengarannya saat itu juga. sih?! ganti. Berisik tau!!!" Marsya memandangi Livia garang. Namun. Perdebatan itu terhenti sebentar. Sementara itu. Dia akrab dgn ekspresi kedua adiknya. Dia sudah akan berjingkat ke kamar saat seruan Mama terdengar. "Dari pada lo. Parasnya asam seperti habis kebanyakan makan jeruk masam. Sophie melangkah keluar seraya melambaikan tangan sekenannya. "Sophie. tanpa gadis itu sadari sama sekali. digantikan musik rock. Marko tetap dgn sikap menyebalkannya. kamu ke mana aja! Itu adik kamu. Tetapi jelas mama tdk akan setuju dgn ide itu. papanya ada di balkon apartemen. Pandangan mama dan Sophie saling bertemu sesaat. Saat pintu lift terbuka. Keduanya berpisah dgn santai. Sophie melangkah keluar lift. kak! Mending kalau ngerti bahasa Jepang. pasti sdh pukul-pukulan sekarang. . Sophie. Mama berhebti sejenak. semua itu tertahan dipikirannya. Dgn enteng dan tanpa perlawanan. Livia yg berumur lebih tua dari pada Marsya tentu menjadi pemenang pertengkaran itu. "Livia. duduk sambil membaca dng tabletnya. di layar televisi sudah tampil band rock favoritnya. Selalu begini setiap kali terjadi dan kedua adeknya itu hampir setiap hari tdk pernah berhenti bertengkar. Dan mungkin pertanyaan terbesar adalah mengapa Sophie bisa bertahan dgn cowok itu.menyesaki kepalanya. "Acara kayak gitu kok ditonton. sebelum mereka melakukan perlawanan balik. Kalau mereka ditaruh di ring tinju. Sekarang. *** Sophie mendorong pintu unit apartemennya. Kadang-kadang Sophie sering merutuki Marko dalam hati bagaimana bisa bertahan dgn sifat super cueknya itu. secepat mungkin dia menyambar bantal dan melemparkannya ke Marsya. Hingga pintu lift tertutup pandangan Marko terus menetap pd sosok Sophie. Dia tdk mengharap di sambut kesunyian karena yg seperti itu nyatanya jarang ada di sini. Sinetron abege ditonton! Harusnya lo nonton Cartoon Network! Masih piyik juga!" Livia membalas tak kalah pedas. Pisahin. tak satu pun terlontar kpd Marko yg tdk peduli itu. "Ahh. ah. membuat Sophie jg tahu mamanya sedang ada di dapur. tahu sehabis ini mama akan ganti berteriak kepadanya. mengamati kedua putrinya yg masih tak mau saling mengalah. Sophie!" Sophie menghela napas panjang dan berjalan menuju kedua adeknya. ngalah dong sama adeknya. Sophie tersenyum tipis." ujarnya dari ruang makan. dia mengambil remote. L'Arc en Ciel. bisa!" Sophie menggeleng-geleng kepala melihat ulah kedua adiknya yg berebut remote televisa. Kedua adiknya hanya melongo melihat Sophie yg mendadak menginterupsi mereka. sampai Marsya tdk tahan untuk protes. kan. Ruang tengah dan ruang makan yg tak bersekat. Makan malam sedang disiapkan.

" celetuk Sophie. Kalau saja yg seperti ini bisa bertahan selamanya. Sejak saat itu. Mama menggeleng-gelengkan kepala melihat ulah anggota keluarganya. Sophie bisa memandangi bintang-bintang itu. setiap kali rindu kpd kakek. Livia langsung tdk terima dan melakukan hal yg sama. aku kan nggak suka bawang!" protes Livia. dia tdk pernah benar-benar marah kpd putri-putrinya. anak delapan tahun itu. Senyumnya mengembang halus. Maa. kamu jorok banget sih. Bagi keluarga Sophie. Namun. Mama mengambilkan nasi dan lauk utk suami serta semua anaknya dgn porsi yg sudah diingatnya di luar kepala. hadir dalam makan malam keluarga adalah kewajiban. Dengan sikap dia melakukan pembalasan." Livia kembali memanyunkan bibir. Beberapa barang dikamar ini dibelinya bersama Marko. Sophie dan Livia yg tertawa lepas. . menatap langit-langit yg ditempeli stiker berbentuk bintang yg dapat menyala dalam gelap. Maaa!" seru Sophie. "Marsya. Sebenarnya nyaris selalu seperti itu setiap malam. menatap aneh sayuran di piringnya. "Bisa nggak sih kalian sehari aja nggak ribut dan teriak kayak gitu!" mama memandangi ketiga anaknya satu per satu. "Ma. Kak Sophie tuh. Marsya langsung menyadari kalau ayam di piringnya sdh berpindah ke papa. Sophie memang menyukai bintang2 karena cerita masa kecil dari neneknya. Kisah yg didapatnya ketika kakeknya meninggal-mereka yg pergia akan menjadi bintang. yg ada hanya tawa. Mama mengizinkannya untuk mendekornya sendiri. mengarahkan bantal kpd Sophie. ayam Marsya kok ilang?!" Sophie dan Livia cekikikan bersama. Sekejap saja ruang tengah itu sudah ribut oleh sahut-sahutan suara tiga anak perempuan. *** Makan malam kali ini dlm formasi lengkap. Dia merebahkan diri sejenak. tapi malah menimpuk Livia. mengamati Marsya yg sedang mengomeli Papa. Sophie yg dekat dgn kakeknya memutuskan untuk memasang stiker tersebut. tak ada lagi muka kesal. Mendadak makan malam yg tadinya sepi itu menjadi penuh keributan. mesti cowok itu selalu berpendapat terlalu girly. Meski Mama terlihat kesal. "Ma. Tanpa menyiakan-nyiakan waktu. "Bawang kok nggak suka. Jadi. Marsya hanya tertawa hingga makanan yg dikunyahnya muncrat tanpa menyadari Papa mengambil lauk dari piringnya.Mata Marsya. "Yah. *** Sophie duduk di pinggiran ranjang. Dia amat menyukai kamar ini. terbelalak sesaat setelah bantal mengenai tubuhnya.

tak terdengar sampai kamarnya. Lampu kamar Marko sudah menyala.terlalu colorful. Dari sini. sehingga mereka dapat berkomunikasi secara rahasia. Kesunyian kamar ono membuat letihnya terasa berlipat-lipat. Semua saling tabrak mengesankan kemeriahan kamar itu. Lemari penuh buku. hafalan tentang kode morse itu masih lekat di ingatan Sophie. Dia bahkan memaksa Marko utk mempelajarinya. 'ngapain?' rupanya kode Sophie langsung terbaca oleh Marko. teman akrabnya. Panjang pendek. dgn cepet bisa menebak apa yg mau Marko sampaikan. tetapi karena Marko dgn keras protes keberadaan benda dgn pola yg dibencinya itu. Dia tidak ingin tahu alasan apa yg ada di balik itu semua. cuma sepi yg menemani Sophie. dia bisa melihat tower-tower lain yg terletak di satu kompleks apartemen. G. Sophie bangkit. Raungan Livia dan Marsya sudah berhenti. Entah kebetulan atau bagaiman. Namun. jendela mereka terletak bersebrangan. Seperti sekarang dan hampir selalu mereka lakukan. membuka jendela. Berbagai motif dan warna. Mama dan Papa yg mungkin masih bercakap-cakap. Bukankah seperti itu hidup seharusnya. Sophie meredupkan lampu dan mulai menyalakan senternya ke arah kamar Marko. ada beberapa mug hias dgn lukisan balon-balon kecil. karena dia segera mendapat jawaban. Sophie menghela nafas. Berarti cowok itu sudah ada di kamarnya sekarang dan pasti sedang menekuri laptop. Hari ini dia tidak terlalu banya beraktivitas. Sophie sangat bangga bisa menguasai kode morse. Satu tower yg terdekat dengannya adalah tempat Marko tinggal. dia pilih untuk menghiasi kamarnya. Dulu saat sekolah dasar hingga menegah. Sophie sanganat menyukai dan mensyukuri kebetulan itu. Sampai sekarang. Panjang panjang pendek. Sederet miniatur pot bunga favorit Sophie bertengger di rak-rak yg menempel di dinding. A. N. tapi rasanya lelah sekali. ramai dan penuh harapan? Akan tetapi. akhirnya Sophie menyimpannya. 'Ganggu aja. Kode morse. pada saat ini. Tadinya. Sophie mendesah. Seringai menghiasi wajah Sophie ketika menjauh dari jendela dan meraih senter yg selalu dia letakan di tempat yg sama. selain Sophie. Ada lampu-lampu kecil tergantung dekat jendela. dan temanya kurang jelas. Kode pertama terulang lagi.' . Pendek panjang. Sophie memang aktif mengikuti pramuka. lewat cahaya senter.

kita bisa mengakalinya dengan ini." Sophie mencomot salah satu karet berwarna dan mengikat rambutnya. Peralatan tulisnya berserakan di sisi laptop bersama kertas-kertas yg di jepit jadi satu. Ada juga beberapa hiasan rambiut tergeletak di sana. Rahasia tidak lagi menjadi rahasia ketika sudah di ceritakan ke khayalak. Semalam dia menonton beberapa video di youtube. memilih video-video random untuk di lihat. dia bersiapsiap mengunggah videonya ke situs populer tersebut.BAB 2 TEEEETTT!! TEETTT! Sophie ikut menghambur keluar dari kelas. menduplikasi dirinya seperti virus. Suara ranting terinjak membuat perhatian Sophie teralih. menjepit bagian samping agar tdk berantakan. Dengan itu. dia tdk ingin bernyanyi lipsync aneh. . Kadang-kadang habis pulang sekolah gini.. Dia mengulang lagi video yg baru saja di buatnya. Kapan lagi kalau bukan sekarang? Sophie menyisir rambutnya dgn jemari tangan kiri. sampai berbagai rahasia.. Dia menengok ke asal suara dan melihat Marko yg mengarahkan handycam kepadanya. menceritakan keseharian serta pengalaman. bisa bikin keliatan fresh dgn cepat." Sophie menghela napas. Wajah Sophie dihiasi senyum lebar. kan? Namun. si pembuat video tampak biasa-biasa saja dan memang sengaja membuat video untuk menyebarkannya. Sekali lagi. menjumput klip kertas lucu dan warna-warni. Tidak. Sophie meneliti semua persiapannya. karena bakat itu memang tdk ada padanya. Sophie akan langsung melakukannya. Sambil menyenandungkan lagu. Tidak juga berniat memamerkan bakat bernyanyi. Ide itu menyelip di benak Sophie. kita suka sebel karena rambut kita lepek. Memutuskan kalau itu cukup lumayan dan tdk perlu editing lagi untuk bisa di unggah ke youtube. Dia menyapa beberapa teman sekelas sebelum beranjak seorang diri ke taman belakang. Laptopnya sudah menyala. Banyak orang yg dengan percaya diri berbagi tip. Dia menarik napas panjang sebelum mengklik tombol rekaman di laptopnya. girl. Sepanjang pelajaran tadi. dia menata rambutnya. Sophie juga sudah bersiap merekam penampilannya.. "Tadaa! Dengan memakai barang yg ada disekitar kita. Cengiran lebar muncul di paras Sophie. Lalu. Tapi jangan khawatir. Dia senang melihat dirinya sendiri tdk gagal di percobaan pertamanya. mematikan rekamannya. Dia tak mau ada kekurangan ketika sudah memulai rekaman. Sophie tdk sabar untuk mencoba membuat videonya sendiri. Berbagi sesuatu yg menginspirasi. Good luck ya. "Tips of the day. Dia mungkin akan berbagi tip atau kalau nanti sudah kepikiran sesuatu yg menarik.

"Sophie. tanpa melihat Sophie. "Lo tau semua orang yg posting-posting video itu." Marko melengos memungut topinya.." ujar Marko dgn nada datar. Memandang Sophie gemas. Marko menjauhkan handycam. "Jadi. pertama. Wajahnya memerah. lo pasti suka. "Komarrr! gue nggak mau kelihatan jelek di kamera lo. . setelah beberapa saat saling bisu. menatap Sophie yg memandang kesal tapi penuh ingin tahu. Satu tingkat di atas narsis.. Raut wajah Sophie langsung berubah drastis. "Gue juga males basabasi sama orang yg selalu nge-judge orang lain. Kedua. ". mereka benar-benar megalomania. Ngerasa dirinya paling benar!" keduanya bersemuka." ujarnya dengan nada lebih keras dan nggak mengejek." "Bodoh!" Sophie enggan menatap Marko. "Bawel. Tanpa di minta dua kali. "Apus nggak?!" ancamnya." katanya pelan. menurut lo. dan seolah-olah hanya peduli dgn handycamnya di tangannya. Sikapnya ternyata tdk juga membuat Marko sadar. "Ada yg mau gue liatin nih." katanya. "Siapa juga yg bakal upload video lo? Gue kan bukan lo. gue minta maaf. lalu duduk di sebelah Sophie. Marko mencibir. Sejenak tak ada kata-kata yg tertukar. Pandangan mata Sophie mengusik Marko. "Soph. "Apus!" pinta Sophie sambil memukul ujung topi bisbol biru kesayangannya Marko hingga terlepas dari kepalanya. "Loh kok lo marah?" Marko kaget dgn aksi Sophie." sahut Marko.is all about me." pinta Sophie memberi Marko tatapan merajuk yg biasanya selalu bisa meluluhkan kecuekan cowok itu. Selalu aja ngerekam gue waktu gue belum siap.." Marko terdiam sejenak. Sophie membereskan barang-barangnya dgn cepat. kemudian tanpa pemberitahuan. Tasnya dipakai cepat-cepat... kabur begitu saja dari Marko. cuma punya dua kemungkinan." Sophie bersungut-sungut ketika Marko mendekat dan tetap merekam. Senyum riang karena videonya berhasil langsung pupus oleh kata-kata pedas Marko. dia langsung menghentikan rekamannya. gue orang yg cuma peduli sama diri gue sendiri?!" "Gue nggak bilang gitu."Lo tuh ya.. mereka nggak ada kerjaan. Dia kelihatan seperti orang yg sedang menahan tangis. Dan dalam pikiran mereka cuma. Sophie menelan ludah..

Keduanya salah tingkah. sesaat kemudian Marko menuyadari malah memilih mengikuti mereka."Basi!" seru Sophie. Marko melewati toko mainan itu dgn langkah cepat. dia menyesali kata-kata yg keluar dari mulutnya. Handycam di tangan Marko masih memutar video yg akan ditunjukkannya kpd Sophie. Kalu saja. Di dalam kepalanya kelebatan ingatan tentang papa berhamburan seperti foto-foto yg terbang di tiup angin. Semua itu omong kosong. makin besar keingintahuan tentang hal itu. mengapa Marko bisa sampai bertemu dgn orang itu di sini? Langkah Marko melambat. Kini. Ketiganya berhenti di depan sebuah toko mainan. Tidak lama Marko berada di toko buku tersebut. Sungguh. mama sedang duduk di depan PC. Tangannya menggenggam handycam makin erat. Tempat tinggalnya selalu sepi. Tangan terkepal. Si pria langsung berinisiatif menggendong Oka. Kalau Sophie ada di sini. lenyap dari pandangan Marko. Rahangnya mengeras. kini terlihat makin kaku seperti arca. genggaman tanganya kebas. Gadis Laundry dan Cowok Pelanggan. dia bisa mengendalikan sedikit saja sikapnua yg terlampau cuek itu. Si pria itu kemudian berbisik kpd Oka yg ditanggapi dengan anggukan bersemangat. hanya dia dan mama yg menempatinya. Marko pikir bersikap tdk peduli adalah cara untuk melindungi diri sendiri. Anak kecil yg berjalan di sisi lakilaki dewasa. sekarang sia tahu kalau itu tdk selamanya benar. tak suka ada di situ. Pria itu tampak gemas dgn Oka dan memberi kecupan di pipu. menunjuk mainan di etalase atas. Di antara ratusan mal di ibu kota. Tawa mereka berderai penuh antusias mengamati deretan mainan. Sungguh konyol kian benci kpd sesuatu. melihat sosok yg sangat dikenalnya itu berlalu. Dia mengunjungi toko buku favorit yg biasa didatanginya bersama Sophie juga. sampai tangan Cowok Pelanggan terulur. Dia ingin sekali memutar arah. kalau Marko tak mengetahui siapa sebenarnya mereka--dia akan langsung memberi cap keluarga ideal. di samping mereka ada seorang perempuan yg terlihat cantik dan lembut. Seperti biasa. Ketika keluar dari sana. Marko melihat satu sosok yg sangat dikenalnya. Marko terpaku di tempatnya. Marko tak usah membuntuti mereka. Wajahnya yg biasa cuek. pasti dia sudah mengajak pergi. Ketiganya kini masuk ke dalam toko mainan. Dia tdk menyukai situasi ini dan ingin beranjak. Marko langsung memutuskan untuk menyudahi video itu. Akan tetapi. Marko benar-benar mematung disana. Marko menelan ludah. Berusaha untuk tdk melirik. Di situ. Anak kecil dalam gendongan pria itu. mungkin mereka tak akan bertengkar. pastinya sedang mengurusi bisnis restoran dan kafe miliknya. Semestinya. yg kemudian berbalik dan lari menjauh. Suasana hati Marko tdk membaik sesampainya di apartemen. . Oka. Terlebih mama akan segera membuka cabang baru. tetapi pandangannya terkait kpd sosok-sosok itu--keluarga kecil yg tamapak begitu bahagia. *** Marko memutuskan pergi ke mal untuk menghilangkan pikiran tentang Sophie.

"Pengadilan yg mutusin begitu. Sementara di tempat ini. "Kenapa sih aku harus kesana?!" sahutnya agak membentak. "Marko. Mamanya selalu sibuk. Seolah-olah Marko tak ada di ditu. Mama kok mikirin banget sih. Rahangnya mengencang. agak terkejut dgn nada suara Marko. Marko. "aku nggak mau. Weekend ini jangan lupa ketempat papa kamu. Lebih baik kalau Marko segera pergi dari tempatnya itu. nanti papa dan keluarganya mengira mama yg ngelarang kamu ketemu papa kamu. Seharusnya. "Kamu mulai berani ya ngajarin mam?" mata yg biasanya bening itu kini melotot pd Marko. tadi papa kamu telepon. menjadi kian amburadul. Marko dan mama saling pandang. Kelebatan kejadian di mal tadi kembali membayang. didominasi warna gelapdan aksen kulit. terus ninggalin mama?" suara Marko meninggi.Apartemennya ini sungguh berbeda dgn milik Sophie. Air mukanya kian keruh. tidaklah memancarkan nuansa rasa yg sam. Bukan Mama. Bagi mama percakapan barusan adalah harga mati. Dia tak bisa menahan diri untuk melakukan itu. Selama beberapa saat Marko masih berdiri di tempat yg sama. kembalai melanjutkan pekerjaanya seakanakan kejadian barusan tdk pernah terjadi. kamu harus ke tempat papa kamu. Dia tak pernah bisa melupakan itu. Bercampur baur dgn ingatan saat mama dan papa berpisah dulu. Mama melihat Marko yg masuk ke ruangan." langkah Marko terhenti. Disana. . mama tdk boleh memaksakan kehendaknya seperti sekarang." mama mencoba lebih lunak. Pandangannya setajam belati kpd mama. Mama tersentak." Marko menelan ludah." "Kamu harus mau! Kalu kamu nggak kesana." "Biarin aja. pandangannya menyipit. Marko. sisanya adalah kesunyian yg jadi teman baik Marko. mama langsung kembali menghadap PC. "Biar bagaimanapun dia papa kamu. Mama terkesiap. meski furniturnya berkelas. "Walau diem-diem dia selingkuh. Harus!" setelah itu." Marko menanggapi dgn males dan menunjukan ketidaksukaanya dgn terang-terangan. selalu merasakan kehangatan. "Besok. Apa yg terjadi kpd papa dan mama terus tinggal dalam ingatan Marko. Atmosfer hatinya yg berantakan karena peristiwa di mal tadi. Sekarang juga.

Mama pasti akan memaksanya lagi untuk bertemu dgn papa. Samapai. "Markp nggak masuk?" Pandangan Sophie masih terarah kpd murid itu. Dia kembali berkonsentrasi ke jalanan di depannya. Dia mencoba mencari ke taman belakang." Dari dalam saku. perpustakaan. Haruskah Sophie bertanya ke mama Marko? Namun Sophie mengurungkannya. Tetapi. panggilan itu yg membuat Markop memutuskan menonaktifkan ponselnya. Marko tdk mengacuhkan semua telepon masuk itu. Sayangnya Mama tdk akan bisa melakukan itu. Sophie merasakan kekhawatirannya menebal dalam benaknya. seakan-akan dia memberi jawaban yg tdk benar. Selama itu juga. nggak?" Sophie asal bertanya ke murid yg dia tahusebagai teman sekelas Marko. Nasibnya sama saja dng Sophie. Kalau ada hal yg membuat Marko uring-uringan seperti ini. Dia mencoba menghubungi Marko lagi. Mobilnya sudah bergulir memasuki Kota Bandung. tetapi dia tdk bermaksud bermusuhan selamanya. *** Ponsel Marko terus-terusan berdering. namun hasilnya nihil. Panggilan dari rumah. dia sudah mencoba. Sophie menengok ke dalam lagi. Harusnya Sophie mengerti kalau dia sekarang tdk ingin diganggu. "Oh. Sedari tadi. *** . Mau tidak mau. Mobil Marko pun sama kali tdk terlihat di parkiran sekolah. Dia melongok ke dalam kelas. Marko pasti kembali. tetapi tak satu pun panggilannya yg di terima. apalagi samapai mengusir Marko dari kehidupannya. Marko masih tetap tak ada. Tidak biasanya Marko seperti ini. tetapi tak menemukan keberadaan Marko. makasih ya. Sophie memutuskan untuk menunggu. Marko abaikan.BAB 3 "Lihat Marko. Sophie tahu betul apa penyebabnya. akhirnya penelepon lain masuk ke ponsel Marko. Entah sudah berapa kali gadis itu menghubunginya. Maeko terlalu jauh untuk dipaksa. kantin. Sophie mengeluarkan ponselnya. seluruh sekolah. Hanya Sophie yg peduli. Murid tadi memang tdk bohong. Apakah Marko marah dgn kejadian kemarin? Sophie memang tersinggung dgn kata-katanya Marko.

Dia ingin berbagi rencana tersebut tetapi Marko tak jelas dimana rimbanya. Setiap kali muncul bunyi berderak. Berkali-kali Sophie menghela nafas. Tempat ini tdk begitu menyenangkan didatangi seorang diri. tanpa Marko semua itu akan sia-sia saja. Beberapa hari terakhir Sophie membangun sebuah rencana. tetapi tak kunjung datang juga. Setidaknya benda-benda itu sudah pernah memberikan manfaat kpd pemiliknya. dia menoleh ke arah pintu darurat. Iba membuncah dalam Sophie. di atas sini bendabenda tersebut di sia-siakan pemiliknya. Tatapannya tertuju kpd sofa biru lusuh beserta payung besar yg koyak. Angin sore menampat wajahnya. Waktu memang tdk bisa bohong. Mungkin menurut yg membuangnya benda-benda itu terlalu sayang kalau dijejalkan ke tempat sampah. Tak berayun.. Menurut Sophie benda-benda itu masih bisa digunakan. Namun. Tanpa teropng milik Marko. Benda-benda itu pasti dipensiunkan karena sudah berumur. Masrko meski begitu cuek. setidaknya selalu mau menjadi pendengar yg baik bagi Sophie. pintu itu tetap pada posisinya.Sophie menghabiskan sore di rooftop. Hanya sosok-sosok bergerak kesana kemari tanpa Sophie bisa melihat jelas apa yg mereka lakukan. Dia tdk ingin menikmati rooftop ini sendirian selamanya. Sophie membenahi rambut yg berantakan karena angin. Namun. sia-sia mengamati orangorangdi bawah sana dari sini. Dia masih menunggu Marko. Dia menegakkan tubuh. Tetapi. Dia mencondongkan tubuh kepembatas. Tdk juga memunculkan sikap Marko dari sana. Kesunyian itu membuat perasaannya sendu. . Ada juga kotak-kotak kayu yg entah siapa yg meletakanya. Sophie manarik nafas panjang. Pandangannya berkeliling ke rooftop itu. tetapi sdh diabaikan begitu saja.

Awalnya Sophie ingin marah. Sophie tahu rencana itu tak bisa berjalan tanpa ada Marko. gue nggak punya imajinasi. Kehadiran sosok tinggi di depanya itu mengejutkan. yg didapat dr beliau adalah kabar kalau Marko baik-baik saja. Marko sahabat terdekatnya. "Nggak lucu. Meski kpd beliaupun. Sophie sendiri sudah menghubungi mama Marko. Rasanya ingin mengomeli Marko. Ini hari ke tiga Marko tdk tampak batang hidungnya. Tinggal kecanggungan yg ada di antara mereka berdua. Kecemasan Sophie tdk bisa ditebus dgn semudah itu. Namun saat ini. terus kabur gitu?" Marko menyeringai. Sophie berjalan di koridor sekolah dgn kepala tertunduk. Kan kata loe.BAB 4 Perasaan melankolis itu terbawa hingga hari-hari selanjutnya.dia tak pernah membaginya dgn Sophie. bukanlah waktu yg tepat. Sophie mendongak saat merasa ada yg mendekatinya. sekolah. tetapi tiap kali Marko merasa marah. Ponsel Marko bisa dihubungi. tetapi dia tak kuasa melakukan itu. Marko berdiri di hadapannya. Mata Sophie tertuju pada topi biru yg begitu akrab. "Lo ke mana aja sih beberapa hari ini?" "Nyari imajinasi. Sophie berdecak kesal. Keduanya tetap bertahan sama-sama sunyi. Kemudian. "Lo marah ya sama gue?" "Gue marah sama lo. Sophie menggoyangkan kakinya pelan-pelan. Dia hanya tak ingin Marko pergi lagi." sahut Sophie." seloroh Marko. Dia tahu Marko bermaksud bercanda dan mencairkan kebekuan antara mereka. Senyum di bibir keduanya sudah menguap. Apa susauhnya sih. "Ge er banget lo ya. Katanya mereka teman baik. selama beberapa saat mengamati benda itu. memberi kabar. Ya. Sophie hanya termangu. sambil mengamati jarum panjang di jam tangan merah kesayangannya. tetapi telepon dr Sophie. Ada kelegaan luar biasa mengalir didalam hatinya. Marko memperhatikannya. Selanjutnya. Marko tdk mau memberi tahu dimana dia berada. tetapi seluruh tubuhnya kaku. dan Sophie saja. Setelah benarbenar memikirkannya. Pandangannya tertuju kpd koin yg berhenti di dekat sepatunya. Bagaimana bisa Marko baik-baik saja kalau dgn mamanya. Saophie merasa salah sudah marah kpd Markop waktu itu. berjarak beberapa langkah saja. tdk juga diangkat." . Senyum jail tersungging di bibirnya yg tipis. Sungguh Sophie ingin tersenyum. Mereka berdua duduk berdampingan di taman belakang. cowok itu tdk bisa peduli. Sepanjang malam Sophie berdoa agar cowok itu baik-baik saja. Rencana yg disiampakannya memang harus segera dijalankan. tak bisa dia bayangkan kalau harus kehilangan Marko duluan. Diam di anatara mereka ini sesungguhnya membuat Marko merasa sangat tdk nyaman. Tiba-tiba saja ada uang koin yg menggelinding ke arah kakai Sophie. tetapi melihat cowok itu kembali sudah cukup membuatnya bersyukur.

Nggak usah dibahas deh." Sophie mengerling. mengumpulkan keberanian untuk mengutarakan itu. "Tapi lo nggak bisa kayak gini. Lo mau bantu gue kan?" Marko menatap Sophie." Sophie mengedip kpd Marko. terus kabur. Kayak di film-film spionase gitu. Ntar juga tahu. Dia tdk memedulikan itu. Terlebih karena udara sore yg sudah sejuk dan sinar matahari yg tak lagi begitu terik. Marko langsung bangkit beridiri. Marko membatin. "Nyokap lo? Atau bokap?" seperti yg sudah Sophie kira. mengamati wajah Marko dari samping. Gi mana kalau lo nggak naik kelas. Suasana hati Marko tampaknya sudah lebih baik sekarang. dengan lakuin tujuh misi rahasia Sophie. Barang-barangnya di buangin." Di ujung kalimat Sophie. Dia melirik Marko yg memandangi langit. harusnya dari dulu barang-barang ini ada di sini. Ngambek. matanya menyipit. Lo lakuin apa aja yg gue minta. Raut mukanya mendung. "Tentang apa tuh misi?" "Jangan banyak tanya deh. "Lo pernah bilang kalau orang-orang yg upload video itu egois. Lalu begitu saja dia meninggalkan Sophie. Namun. air muka Marko langsung berubah. lalu kembali melanjutkan. *** Sophie meneropong ke bawah." tak ada sahutan dari Marko. "Terus karena apa dong?" Sophie memberi jeda pada pertanyaannya. Marko sudah memasang ekspresi favoriynya--yg sebenarnya datar saja."Syukur deh kalau bukan karena gue. Sophie beranjak dari pinggiran rooftop. memainkan teropongnya di tangan." Sophie menghela nafas. di bawah payung besar. Beberapa hari saja dia tak mendatangi tempat ini. "Ahh. Masih untung nggak di keluarin gara-gara bolos. Sophie teringat rencananya yg tertahan untuk disampaikan. Males. Kemudian caranya memandang Sophie berubah. "Kenapa tujuh bukan delapan? Lo kan suka angka delapan?" . Dia kelihatan begitu nyaman dalam posisi sekarang. tanpa antusiasme. "Jagoannya mana tau sih misinya apa. di juga ikut diam." kilah Marko. selama beberapa menit." jawab Sophie tanpa menatap Marko. duduk di ujung sofa. Pokoknya jalanin aja. "Gue akan bantah omongon lo itu. Marko selonjoran di sofa. sofa dan payung besar sudah menggantikannya. rencana ini harus terlaksana apa pun tanggapan Marko. "Lo dapat barang-barang ini dari mana?" "Kafe bawah tutup. Sejenak dihela napas panjang. Mereka cuma mikirin diri sendiri.

. Okeee. mengalihkan tatapan. Sekarang keduanya duduk berdampingan.. "Itu pertanyaan atau bukan? Kalau pertanyaan nggak bakal gue jawab!" Marko berdecak. . dia menyadari kalau merindukan tempat ini.Sejenak Sophie membisu. lalu tersenyum.. "Oke." dia menegakkan tubuh. Merindukan melihat langit senja yg berubah warna perlahan... Selama kepergiannya. Marko menoleh kpd Sophie.

Marko menutupi kepalanya dgn bantal. mungkin dia bisa memasuki alam imajinasi Sophie yg biasanya tak terjangkau olehnya. Marko membalas. Marko menyeret tubuhnya turun dari ranjang. Pantas saja. Semangat menya-nyala yg keluar dari Sophie tak ingin Marko lunturkan dgn sikap menyebalkannya. Meskipun merasa misi ini aneh. Marko mengikuti Marko seperti seorang pengawal yg patuh pada putri yg dijaganya. Pesan dari Sophie datang sepagi ini. Ke lobby sekarang! Bunyi 'ping' berulang lagi. Sungguh. Aksesoris yg sama sekali tdk serasi dgn pakaian olah raga ngejreng yg membalut tubuhnya. Penuh keterpaksaan. Denting yg sama terdengar lagi. Sophie langsung berjalan. Marko membuka pesan itu. Jam 9 aja! Dia kembali menarik selimut. tetapi bunyi itu seakan bisa menyusup dari mana-mana. Dengan malas. sangat Marko sayangkan jika sampai meredup. Marko tak protes dan mengikuti arah yg diberikan Sophie. mata Sophie yg penuh binar. Sejak dulu. tetapi ingat kalau punya janji. Sepanjang jalan. Sekarang! Atau lo gue pecat dari misi ini! Buruannnn! Ping! Ping! Ping! Arggghhh. Marko berusaha maklum. Marko sudah akan melempar BB-nya ke ujung ruangan agar berhenti berbunyi. Masih tidur! Besok libur. Marko menyerah. Lain kali. Rambutnya di gelung dan di atas kepalanya bertengger tiara kecil. melihat jam bekernya. setengah terpejam meraba-raba mencari BB-nya. dia sangat menyukai binar itu. Dia ingin melanjutkan tidurnya lagi. dia akan pikiri-pikir untuk berjanji. sekarang masih pukul tiga pagi. Misi Rahasia Sophie #1. Tanpa memberi perintah terlebih dahulu. dia masih sangat mengantuk dan ingin menikmati hari liburnya. Dengan begitu.BAB 5 PING! PING! PING! Marko menggeliat. langsung menjawab. "Jangan banyak nanya!" katanya sok bossy. "Mau joging kemana? Jam segini bisa dikira maling. Akhirnya. Mata Marko yg digelayuti kantuk langsung terbelalak saat melihat penampilan Sophie di loby." ujar Marko takjub sekaligus menahan tawa. Sophie yg bisa membaca raut Marko. Kalau bulan Sophie. Terlebih. Setengah sadar. .

"Ibu pesanan saya sudah siap. Padahal menjelang subuh adalah waktu tidur ternikmat. Marko melihat Sophie menyapa ibu paruh baya yg menunggu lapak. Sophie dan Marko saling berpandangan. menurut Marko. Dia merasa beruntung tdk perlu bangun sepagi ini seperti orangorang diseluruh pasar untuk bekerja. Sophie sudah sibuk dgn iPhohe-nya. Kemudian dia berpaling. Namun. Orangorang yg bangun sepagi ini pastilah luar biasa. *** Pasar pagi menjadi tujuan pertama mereka. "Stop! Berhenti. 'Kalian lihat tukang sapu itu? Saat kalian semua mungkin masih tidur. Tempat ini sudah penuh manusia. "Turun yuk. "Makasih ya bu.Kalau harapan bisa dilihat. Dari pasar ppagi. Sophie memberinya isyarat untuk diam dan ditegaskan lagi dgn ucapan. "Marko. Jalan raya yg pd jam biasa selalu padat." Marko langsung menuruti permintaan Sophie. Ko! Berhenti!" Marko menghentikan mobilnya. Marko mengikuti Sophie yg berjalan tanpa merasa risih dgn keadaan pasar. seperti itulah nyalanya. Senyum manis Sophie berikan kpd Marko yg pagi ini tdk banyak mengomel. keduanya meneruskan perjalanan. angkatin dong. padahal langit masih gelap. kan?" ibu penjual kue basah mengamati nota. ada orang yg sudah nyari rezeki di jalanan kayak bapak itu. Sebuah plastik besar diambilnya dari kolong lapak. "Jangan ngomong lo ya" Marko mengikuti arah pandang Sophie. lalu mengecek pesanan yg sudah tersedia. Sekantong plastik kue basah itu kini sudah berpindah tangan ke Sophie. Marko yg sedang mengangkat dan kini menjinjing plasti penuh kue basah pun tak luput dari video itu. Mereka berdua berhenti di salah satu lapak.' Rekaman itu selesai. kini lengang sama sekali. pada pinggiran jalan yg masih diterangi lampu jalan. lalu menyerahkan bon pemesanan. Dia tahu siapa yg Sophie perhatikan. Dia mengangkat iPhone-nya lagi. Dia menatap Sophie heran. meneruskan rekaman. Sophie menatap ke luar. Kali ini lo yg ngerekam ya" ." ujar Sophie santun.

. yg ada di pikiran tuh bapak kalau sadar ada makanan tergantung di situ.. mengucapkan syukur. Rasa penasaran makin mengisi benak Marko. Bibir Marco mengerucut. Bibirnya bergerak.. tahu-tahu gadis itu sudah ada di depannya. Si pemulung masih celingak-celinguk mencari tahu siapa yg mungkin menghadiahkan itu. Ko kita ke lokasi berikutnya. Dia juga menyodori aba-aba utk Marko saat rekaman harus mulai. Dari siapa ya? Janganjangan dari peri. "Apa sih maksud misi lo? Lo mw pamer kalau bagi-bagi makanan? Memang lagi kampanye? Ada ya miss-missan yg pakai kampanye?" Marko memberondong Sophie dgn pertanyaan ketika mereka melangkah di atas trotoar jalan perumahan. dgn cepat Sophie mengambil sesuatu dr tas selempanganya. cewek itu sudah menghilang begitu saja. salah satu bungkusan dr plastik kue basah yg baru saja mereka ambil dr pasar tadi. Kemudian. Sophie dan Marko bertukar senyuman. Petualangan mereka pagi itu masih berlanjut.Tanpa menunggu jawaban dari Marko. tanda Marko mesti mulai merekam. Di dekatnya hanya ada seorang cewek yg sedang senam. Sophie memang tak terduga. Mereka mampir ke pos palang kereta api untuk memberi bingkisan rahasia bagi penjaga palang pintu. Udah. Marko mengamati Sophie yg berlari-lari kecil di tempat sambil melakukan pemanasan dan peregangan otot. Perlahan." Sophie nyengir. keduanya mengamati tukang sapu yg tengah membuka bingkisan itu. Lalu. Marko bergegas mengambil handycam-nya yg terletak di jok belakang.. Jadi. Di layar handycam. melirik kearah tukang sapu lagi. di sebuah jalanan perumahan. "Hai. bentuk bibir Marko berubah menjadi lengkungan manis.." kalimat itu diakhiri kikik tawa dari Sophie. Saat si pemulung menengok lagi." ujar Sophie menepuk punggung Marko. bahkan setelah sekian tahun mereka menjalin pertemanan. matiin rekamannya. Kini. ada makanan. Tanpa Marko sadari. . Sikapnya seolah-olah seseorang yg berniat joging. Ekspresi terkejut terpancar jelas dr wajah si tukang sapu. bingkisan cantik itu jadi hak seorang pemulung. Dia tdk mengalihkan tatapannya sama sekali dr layar. Sophie kembali memberi kode kpd Marko agar tdk bicara. Seolah sudah melakukan berkali-kali Sophie dgn cekatan mendekati bak sampah dan menggantungkan bungkusan berpita cantik itu di peganganya. Sebelu berakhir. Marko menarik wajahnya menjauh dr ujung lensa. itulah misi pertama Sophie. "Wow. Kemunculan wajah Sophie di layar kamera mengagetkannya. Senyum melebar di wajahnya ketika melihat isi bingkisan itu. Marko tahu apa itu. Sophie sudah mendorong pintu mobil dan turun. "Ayo. kira-kira apa ya. Sophie mengangkat jempolnya. Tanpa Marko sadari dia ikut tersenyum. Marko merekam ekspresi si pemulung yg tampak senang menerima bingkisan rahasia.

"Komarrrr!!!" Sophie mengejar Marko gregetan. "Itu kepalanya pake gituan?" telunjuk Marko terarah ke kepala Sophie. . Seketika itu juga dia langsung balik badan dan lari kearah berlawanan."Komarrrr! Kok miss-miss-an sih?!" seru Sophie gemas.. Keduanya berlarian sepanjang trotoar sepagi ini--sesuatu yg sebelumnya tak pernah mereka lakukan.... Gila akting lo pura-pura senam tadi. Sophie tertawa terpingkal-pingkal melihat itu. mengepal dan membuka. "Lagian gue mau nunjukin aja.. Lo emang pantes masuk nominasi oscar." sindir Sophie. Marko berlari mundur untuk bisa terus merekam Sophie. Pelarian Marko tiba-tiba terhenti. lari sekencang-kencangnya. Emangnya lo... menyeringai kecil. Banyak orang yg pagi buta gini udah kerja. Marko mengarahkan handycam-nya.. Mengfokuskan kpd Sophie yg sedang terkekeh. menyentuh tiara. "Tapi beneran. Sementara itu. "And Oscar goes to. Saat Sophie hampir berhasil meraihnya. Sophie!" serunya lalu kabur dari Sophie. Tangan Sophie bergerak-gerak. Matanya menangkap sosok tukang balon yg sedang melintas ke arah mereka. dia tak peduli lagi dgn video yg sedang dibuatnya. "Ini peri!" katanya." Marko nyengir lebar. Paras Marko pucat seolah baru saja bertemu dgn makhluk halus. pada tiara yg menghiasi rambut cewek itu.

Marko bisa menemukan mobil itu lagi. Menurutnya. dia hampir kehilangan mobil yg sedang diikuti. "Kita nunggu apa sih? Masih lama?" tanya Marko. Dia menoleh kpd Sophie yg sudah menurunkan kaca jendela. Rumah Jompo Lestari. Kepala Sophie celingukan ke sana kemari. Beberapa kali. Gigi lo aja kayak gigi kelinci. "Kalau lo sih pantes. Dia sekarang merasa sedang bermain detektif-detektifan." celetuk Marko. Tanpa mereka duga. Marko menghentikan mobilnya di depan pagar panti. Sophie tdk mau memberi tahu Marko siapa sebenarnya perempuan itu dan kemana tujuan mereka. Marko coba mencari tahu apa yg Sophie ingin ketahui. Pandangannya mengikuti gerak seorang perempuan cantik dlm pakaian kantoran yg menggunakan sepatu hak tinggi. Marko berusaha menjaga jarak antara mobilnya dengan target mereka. Umur perempuan itu kira-kira sama dgn orangtua mereka. Kepada Marko. Dia memandangi Sophie dalam kostum kelinci lengkap berwarna abu-abu di bangku penumpang. Itu dilakukan agar si perempuan tdk curiga. Lumayan seru juga. Ekspresi bosan kentara di wajahnya. Sepanjang jalan. Matanya ikut mengamati perempuan yg sekarang sudah masuk ke mobilnya itu. Lalu. Sophie tdk menjawab. Ini adalah sesuatu yg tak pernah terbayangkan harus terjadi seumur hidupnya. Marko menoleh kpd Sophie penuh tanda tanya. "Lo juga pantes!" Sophie menunjuk Marko. Sesigap mungkin Marko langsung menjalankan mobilnya. Sophie mengaku tdk tahu tujuan akhir mereka. Dia sedang berjalan menuju mobilnya. perangai Sophie itu sungguh mencurigakan. mengikuti perintah Sophie.menggelikan. yg menggunakan kostum beruang. cepetannn!!!" ujarnya tdk sabaran. tetapi jelas dia tahu identitas yg sedang mereka ikuti. . "Marko.BAB 6 "Lo yakin kita pakai kostum beginian?" Bulir-bulir keringat bercucuran di pelipis Marko. mengamati dirinya sendiri. batinya. "Ayo. Dia masih tdk percaya harus berkostum seperti ini. mobil tersebut membelok ke sebuah bangunan. tetapi dgn cekatan. cepet ikutin tuh mobil" Sophie memukul bahu Marko.

Namun. kelihatannya perawat itu percaya. namun Sophie bisa melihat wajahnya yg suram. menengok pd . Sophie sudah menyerobot duluan. "Makasih ya. "Dua orang berkostum binatang nyulik nenek-nenek dari panti jompo. dia mengakui Sophie yg benarbenar penuh kejutan. Sophie kembali mengajaknya bicara ketika melihat mobil perempuan tadi keluar dari panti jompo. Begitu mobil itu berlalau." telunjuknya mengarah ke arah taman yg terlihat oleh Sophie dan Marko. Sophie kembali memelototinya sambil berkacak pinggang. kostum yg melekat di tubuh mereka mau tdk mau menarik perhatian semua mata." si perawat menunjuk salah satu koridor. "Komarrr!!! Diam dulu kenapa. Sore itu." Sophie mendelik. "Mbak. Sophie langsung menyuruh Marko untuk turun dari mobil. sore begini. "Kami 'pembawa pesan' cucu oma. Dia tdk pernah membayangkan muncul didepan banyak orang dgn kostum seperti ini.."Kita ke sini mau nyuliktuh nenek? Lo mau masuk tivi gara-gara nyulik nenek-nenek dari panti jompo?" Marko berdeham menirukan gaya bicara penyiar berita. Kedatangan mereka di cegat oleh seorang perawat. Marko tdk tahu dari mana Sophie bisa mendapatkan nama orang yg mereka cari. Oma pingkan itu siapa. sih?!" Marko menutup mulut sejak saat itu. tetapi belum sempat di perawat bicara. Tidak butuh waktu lama baginya mengenali oma Pingkan. namun. oma-oma biasanya kumpul di taman dekat situ. Ke mana kemampuan tdk pedulinya ketika dibutuhkan seperti sekarang ini? Sophie meneliti kumpulan oma-oma ditengah taman. koridor di dalam bangunan tersebut tdk terlalu ramai. Meski kali ini di depan orang-orang jompo. Akhirnya. Ada sedikit rasa curiga. kamarnya oma Pingkan di mana ya?" tanya Sophie dgn mantap. Sesaat perawat itu memandang keduanya dgn tatapan aneh. Cukup lama mereka menunggu di sana. dia tdk mengeluh karena tahu Sophie tdk akan menanggapinya. Marko pikir mereka akan diusir. Sophie tersenyum lebar. Sekali lagi. "Oh. Beliau tdk banyak berubah. Pelan-pelan dia merasa penasaran juga dgn misi kedua Sophie ini. Selama beberapa saat. kamarnya yg di pojok sana." mereka berdua segera berlalu dari depan perawat.. dia pun tdk punya bayangan sama sekali.. Marko tetap bertahan di dalam mobil. mbak. "Tapi." Sophie tersenyum lebar kpd perawat di depan mereka. Marko pun menyerah dan keluar dari mobil. Marko merasa risi. Tetapi. tetap saja Marko merasa jaim. Sophie menghela napas.. karena Sophie yg sangat percaya diri. Seluruh badan Marko sudah bermandikan keringat. Sementara itu. Orang-orang masih memperhatikan mereka. seseorang yg dicarinya sejak beberapa waktu lalu. Sophie cuek dan nyaman-nyaman saja.

tetapi Sophie tdk membutuhkan jawaban dr cowok itu. meskipun kostum itu sudah menyembunyikan penampilannya yg asli." Sophie terus bicara untuk mengatasi kegugupannya. Sophie merasa agak grogi. bersandar kelelahan di jok mobil. Dibalik kostum beruang. *** "Tahnks udah nyelamatin gue." "Dari drama garing lo." katanya menunjuk Marko yg diam seperti patung. Beberapa diantara mereka malah sudah ada yg bicara sendiri. Dia berusaha menarik perhatian. Dia menowel bahu Marko. Dalam dunia kami. kelinci tdk takut sama beruang. Ponselnya ada disana. Walaupun sadar kini seluruh pandangan para manula itu ke arahnya. si beruang Pemalas. Marko tdk peduli. ikutan menari 'harlem shake'. Misinya sudah menunggu untuk diselesaikan. Seluruh perhatian oma-opa tertuju kpd mereka berdua. Marko pasti akan mengomel setelah ini. Sejurus kemudian terdengar suara musik 'harlem shake'. Sophie melirik kesal Marko sebal." sambung Marko. tetapi sahutannya barusan benar-benar tdk menyenangkan. sekarang riuh rendah oleh sekelompok manula yg berjoget bersama. Marko menoleh kpd Sophie dan merasa jengah. Dia menelan ludah. Tetapi. Sophie melirik galak ketika Marko mengeluarkan ponselnya. Dia terus berjoget sampai salah satu opa gaul mengikuti. Mungkin dia letih dan dehidrasi sejak tadi. tdk ada waktu untuk kembali dan minum terlebih dahulu. akan tetapi kerumunan manula itu memberi Sophie pandangan bosan. memberi isyarat kalau mereka akan menuju ke kerumunan oma-oma.Marko yg memasang ekspresi angkuh. Marko sendiri merasa bosan mendengar cerocosan Sophie itu. Ini adalah Marko. Opa! Shake it!" Marko mengangkat tangan. "Lo kenapa?" Ternyata ekspresi kesakitan Sophie tertangkap mata Marko.. "Kami adalah sahabat. Taman yg tadinya sepi itu. tampak jauh lebih bauk dari pada Sophie. Marko berdiri di sebelahnya. Pandangan mata Marko bertemu Sophie.. . Marko meraba saku kostumnya. Sophie harus bicara tentang rencananya sehingga mereka bisa menyusun event yg lebih seru.. Mulai bergoyang sendirian. Terlebih. Bahaya kalau dia sampai ngambek dan tdk mau membantu Sophie menjalankan sisa misi yg ada. Tiba-tiba ide itu muncul begitu saja. Entah mengapa tiba-tiba dia merasa haus. Dia maju duluan dan amat sangat yakin kalau Marko akan mengikutinya. Sophie kini. sekarang perut Sophie terasa sakit lagi. Sebenarnya dia senang karena Marko punya inisiatif. Lain kali. "oma. "Haloo semua!" Sophie melambai kpd seluruh penonton. "Nama saya Sophie kelinci.. Kalau berantakan. Marko tdk bisa menahan cengirannya. Dia mengucapkan doa di dalam hati sesingkat mungkin agar semua berjalan lancar. Marko mengernyit dahi.

Marko tahu banyak temantemannya yg memang sering sakit perut saat menstruasi. Dia harus segera mengantar Sophie ke rumah agar bisa istirahat. Lo cucunya oma Pingkan kan?" Gadis itu memandang menyelidik kpd Sophie. Sophie sibuk dgn iPhone-nya sementara dia duduk setengah melorot sambil mendengarkan musik lewat earphone. Akan tetapi. Rambutnya panjang sepunggung agak kecokelatan. Rekaman yg dibuatnya sore tadi bersama Marko. Permintaan Marko ditolak mentah-mentah dan kini keduanya duduk di sofa loby apartemen tower Sophie. Sophie bersikeras sudah merasa baik-baik saja. Ada seorang gadis cantik keluar dr sana. Tatapan Marko tdk berpaling barang sejenak. Kemudian bangkit berdiri dan penuh semangat mencegat gadis itu. Matanya begitu teduh. tdk paham dgn ulah Sophie. Bukankah semestinya para manula itu ada dirumah bersama keluarga? Miris rasanya sampai harus dijaga dan dihibur oleh orang lain seperti tadi. Sebelum gadis itu meminta untuk pergi. gadis itu keliatan ragu. Kalau Sophie kenal gadis itu.. biasanya Sophie tdk pernah mengeluh sakit ketika datang bulan. Ada yg ngurus juga. saling tersenyum canggung. keduanya keluar ke area bersama. Imel tampak begitu serius melihat rekaman itu. Marko tersenyum. dia bisa melihat orang yg keluar masuk lift. benar itu yg terjadi kpd Sophie. Masih bertanya-tanya bagaimana Sophie bisa mengetahui tentang gadis itu. Sophie langsung mengatakan ingin bicara kepadanya tentang Oma Pingkan. Keduanya berpandangan. Meski begitu. menjaga jarak. . Marko masih duduk. Gadis itu kebingungan dgn Sophie yg memblokir jalannya. Sebernya dia khawatir. "Hai. "Biasa. Sebuah video bermain dilayarnya. Marko tdk tahu apa tujuan mereka duduk di situ. sisanya blm pernah dilihatnya sama sekali. Jalan. "Papa sama mama nitipin oma ke panri hmm. Dari tempat mereka duduk sekarang. Tawa dan ekspresi bahagia para manula tadi menular kepadanya.. Beberapa wajah cukupakrab di mata Marko. hati Marko merasa bersuka cita. Bagaimana anda bisa ada makhluk seperti itu yg luput dr Marko? Sophie menarik earphone dr telinga Marko. Tanpa ragu Sophie menyerahkan iPhone-nya kpd Imel. lalu menjalankan mobilnya. Marko mengikuti dibelakang mereka. Meski dia tak bisa mengindahkan perasaan iba melihat mereka semua. Petualangan kali ini. Sesampainya di apartemen. Gadis itu pun setuju. Kalau dirumah siapa yg ngurus oma? Papa-mama kerja. Biar oma ada temannya. Sosok yg ini blm pernah diketahuinya sepanjang tinggal di kompleks apartemen. Cewek.Sophie tersenyum lemah. Awalnya. Pintu lift terbuka lagi. mengapa Marko tak pernah tahu dan berbagi cerita.. Sophie meyakinkan kalau pembicaraan itu penting dan tdk akan lama." beber Imel kpd Sophie. Sore gue baru balik ke apartemen. Mungkin. lebih menguras tenaga dibanding misi pertama. Marko memaksanya mengantar ke atas. sorry ganggu. Kakinya yg jenjang melangkah anggun. Maaarrr" Selama beberapa detik tatapan Marko tdk berpaling dr Sophie.

"Kok lo bisa. Jelas sekali ada yg tdk beres dan coba disembunyikan oleh Imel. Pada kemana.. Kali ini.. Mama mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan.." Imel menghela napas panjang.. alasan Marko tdk menghapus kekhawatiran yg terpancar di wajah mama. Mama kenal baik dgn Marko.. habis. Sekarang memang sudah lewat jam malam yg ditentukan mama. Pandangan Sophie tdk sengaja bertemu Marko yg duduk agak terpisah dr mereka.. Dia balas tatapan mama dgn perasaan tdk enak. Suara adik-adiknya tak terdengar. Sophie balas memandang Imel. Bersama Marko adalah alasan terbaik untuk tdk dimarahi kalau Sophie berpergian hingga larut malam. Seluruh ruangan itu sepi.. "Papa nganterin adek buat tugas prakaryanya. Cahaya matanya yg teduh. bahkan mengulangnya. membuat dadanya terasa sesak. ma. Penyesalan dan kesedihan mewarnai raut wajahnya yg ayu. Gue sama Marko ngadain atraksi disana. menekapkan tangan ke mulutnya. pandangannya memburam. Imel tercekat. Dia kembali menekuni video itu.. "Kamu ke mana aja. teringat misi keduanya yg sudah setengah jalan. langsung berubah menjadi sendu. Sampai jam segini. Dia mengempaskan badanya ke sofa." ujarnya terkejut. Rasa hangat memenuhi kelopak mata Imel. *** Tubuh Sophie terasa benar-benar penat sesampainya di apartemen. "Kok sepi.. Mata gadis itu sudah dgn jujur memperlihatkan apa yg bergejolak dlm hatinya. "Tiga puluh tahun lagi.. Bayangan oma serta papa dan mama bermain di kepalanya." Pertanyaan mama mengejutkan Sophie. Sophie menggigit bibir. saat lo udh nikah dan punya anak.. Apa lo bakal masukkin papa-mama lo ke panri jompo?" Sophie melontarkan kalimat yg barusan terlintas di kepanya. Dia harus terus maju.. "Gue ngerekamnya tadi." jawab Sophie jujur." . mengalihkan perhatian mama. "Jalan sama Marko. Mama mengambil majalah di atas meja dan ikut duduk disamping Sophie.. ma?" tanya Sophie. Desah napas Imel terdengar ketika video itu selesai diputar. Hmmm... Air muka Imel sekarang membuat Sophie yakin bahwa gadis itu akan setuju dgn misi ini. memandang Sophie dgn tatapan pilu.

Keduanya sama-sama mencoba tersenyum. "Livia. Sophie meraih tangan mama. mama bisa bersikpa biasa-biasa saja. . Remaja itu bergegas membanting pintu. Sophie menyempatkan memeluk mama. mata perempuan itu terlihat sendu.Tepat saat mama mengakhiri jawabannya. remaja itu langsung menuju kamarnya. ma. "Biasa. Tanpa memedulikan keberadaan mama dan Sophie." dia berusaha menghibur mama." Livia bersecak. Sophie menarik napas panjang menatap kejadian itu. Livia dgn cueknya masuk. Mereka dulu akrab. tetapi perlahan-lahan keabraban itu luntur. "Mama kenapa marah-0marah?! Livia cuma main sama Jenny dan Verni! Livia" Livia berbalik. dimarahin!" serunya. Hatinya terasa pedih. kan?! Livia liat tadi di lobi. Kejengkelan tergambar jelas di wajahnya. menggenggamnya. Cuma beda semenit aja. Mama teranyak mendapatkan reaksi sekeras itu dr Livia. berhenti sebelum mendorong pintu kamarnya. abege. Sebelum masuk ke kamar. Matanya menatap kesal kpd Sophie dan Mama. mama tanya sama kamu. menghadap mama dengan cemberutnya. Sophie jelas mengakui Livia lebih cantik darinya. pintu apartemen terbuka lagi. Seharusnya. Semestinya mama tdk perlu berteriak kpd Livia. "Livia! Kamu dari mana?" Mama berseru sebelum Livia masuk kamar. Perhatian mama kembali teralih kpd Sophie. Sejak kapan Livia bersikap seperti itu? Livia yg dulu Sophie kenal adalah anak perempuan yg manis. "Jam berapa ini?" Livia mengabaikan pertanyaan mama. Dia berpaling kpd mama yg masih menatap ke arah pintu kamar Livia. Selalu saja apa yg dilakukannya salah di mata mama. Ntar gedean dikit Livia juga ngerti kok. baik kpd Sophie maupun Livia. "Kak Sophie juga barusan pulang. tetapi dia tak pernahj iri.

"Lo tau nggak." Sophie menyadari dia sudah ketahuan. Tapi jangan salah. jangan lo googling 'Misi Rahasia Sophie'. Alis Sophie terangkat. Tapi anak mal hanya di mal mereka merasa eksis.. Anak mal dan anak perpus.. dia malah mendapatkan ide. "Di sekolah ini ada dua spesies yg paling dominan. menatap mereka dgn pandangan sebal. Gara-gara itu. sembari dia mengambil iPhone dr dalam saku. Sophie berdecak.. bukan mal!" seruan petugas perpustakaan itu langsung mendiamkan gerombolan cewek yg mengomentari misi Sophie. Sebelum kelompok jutek itu menanggapi kata-katanya. kalimat itu disambut tawa dari kedua cewek. who's the really somekind of aliens people? You'll know the answer is. Sebenarnya dia agak kaget bisa kepergok. Bibirnya langsung membentuk cengiran." cewek lain menyahut penuh sindiran. Matanya melirik ke arah rak buku yg tak jauh dari mereka. "Mau ke mana lo?!" seruan cewek tukang sindir ditimpali anggota gerombolan lainnya. Anak perpus sangat nyaman dgn habitatnya. Buru-buru dia menghentikan rekamannya saat salah satu cewek dr gerombolan itu menghampiri. namanya juga usaha. "Kalau nggak karena tugas. "Bisa diam nggak?! Ini perpus. Dan asal tau aja. mengamati kekasaran mereka saat membuka lembaran-lembaran buku. mereka sering mati kutu. "Rese banget sih lo!" bentak si cewek judes berambut panjang tanpa basa-basi. males banget gue ke sini! Tampangnya sama semua. dia tdk takut dgn cewek-cewek jutek itu. Sophie berdeham dan mulai merekam dirinya sendiri. . Teguran petugas perpustakaan itu membuat mereka kesal. Sophie bersedekap dan balas menatap si cewek jutek tidak kalah galak. semua juga bisa nikmatin ke mal. Dengan sengaja salah satu dari mereka mengeraskan volume iPad ditangannya. Tapi diluar habitatnya. "Yah. mereka juga menikmati hangout ke mal. Lo ketik aja: 'anak perpus versus anak mall'. So. narsisi itu eksis yg tertunda.. memastikan tak ada orang lain yg memperhatikannya. dia segera membereskan buku-bukunya dan melangkah pergi seolah tdk terjadi apa-apa. "Kalau lo mau cari upload-annya di YouTube. Dia celingak-celinguk terlebih dahulu." Sophie melengos. Tetapi. Suara dr rekaman 'Misi Rahasia Sophie #1' meramaikan perpustakaan yg mestinya sepi itu.BAB 7 "Makin lama makin banyak aja orang yg nyampah di YouTube!" komentar cewek berambut panjang dgn judes. Mereka tahu kalau Sophie ada di ruangan itu bersama mereka." katanya dengan suara dikeras-keraskan. Sophie menggeleng-gelengkan kepalanya dari balik rak. kayak buku cetak!" Gerombolan itu terkikik lagi.

"Trus udah lo upload video mereka?" tanya Marko penasaran. Sementara Sophie menemui oma pingkan untuk ngobrol ini itu. Suasanya dingin. orang yg mereka tunggu. mengingatkan Sophie pd apartemen Marko. tanpa menunjukkan ketertarikannya. Sophie menatap Marko dgn pandangan menyelidik. Senyum manis tersungging dibibir Imel untuk kedua teman barunya. Beberapa siswa yg ada disekitar mereka malah terkikik geli. Masih nyambunglah dgn hobi Marko. membuat cowok itu terlonjak. Interior tempat itu berkelas. Sophie menyikut Marko. membuat Sophie yakin kegiatan favorit Imel lainnya adalah menonton. Waktu akan menjawabnya nanti." timpal Sophie nyengir. "Hei. ketiganya menyusun rencana untuk memberitahukan keinginan oma pingkan kpd orang tua Imel. Setelah pertemuan mereka beberapa hari lalu. seakan baru saja dia merusak momen indah cowok itu. Apakah mungkin karena Imel begitu cantik dan mempesona. Sophie tersenyum sendiri. keputusan untuk memasukkan oma pingkan ke panti jompo juga bukanlah sesuatu yg lebih baik.Keributan itu kembali memancing si petugas perpustakaan melayangkan teguran yg sama. mematut diri di depan cermin dgn . Sophie mengganti pakaiannya dikamar Imel. Semakin banyak saja kecocokan antara Marko dan Imel. menunggu seseorang yg akan datang. Akan tetapi. "Gue nggak mau nyampah di YouTube. Dia sendiri sudah lama tdk menemukan Marko memandang seseorang seperti itu seolah-olah menginginkan utk dirinya sendiri. Tidak lama setelah itu. Dia mengamati kolase foto dikamar Imel. "Gimana? Udah siap semuanya?" tanya Imel kpd Sophie dan Marko. Keduanya duduk2 di taman sore itu. Sophie berjalan sambil tersenyum penuh kemenangan." Imel duduk diantara Marko dan Sophie. Ruangan itu begitu rapi dan anggun tdk seperti kamarnya sendiri yg meriah dan berwarna. Sophie memergoki keduanya saling pandang sesaat. Wajah Marko tak berekspresi sama sekali. maaf baru aja balik. Sophie mengerti bagaimana oma pingkan jelas merasa kesepian di sini. Entahlah. Bisa jadi Marko mencoba bersikap seperti biasa. Cewek-cewek anggun dan kalem seperti ini mungkin akan cocok dgn Marko. mungkin karena semua penghuninya sibuk. Sophie mengacungkan jempol dan mengangguk. Marko menatap Sophie sengit. dia merasa tatapan Marko ke Imel jauh berbeda dgn tiap kali Marko melihat kepadanya. Sekilas. Imel. Ketiganya menuju apartemen Imel. *** Kepuasan karena sudah mengerjai cewek-cewek rese diperpustakaan tadi terbawa ketika Sophie bercerita kpd Marko. Belum lagi ditambah koleksi film-film yg ada d rak. sementara Sophie biasa-biasa saja? Sophie tersenyum kecil. datang juga. Ternyata cewek itu suka memotret. Imel mencari waktu yg tepat agar rencana tsbt berjalan lancar. Seluruh gerombolan itu langsung bungkam.

mereka tahu siapa yg datang. Parasnya tampak jengkel karena Sophie tdk memberi tahunya apa-apa tentang ini. "Tunggu sebentar. Imel menatap keduanya. Sementara yg ini. Bahkan membawa membantunya saja. kita siap-siap aja. "Mari nekerja!" ujarnya penuh semangat. Sophie langsung mengarahkan Marko untuk mengukur dgn meteran dinding didepan kamr papa dan mama Imel. Kemudian. Marko punya kotak yg mirip. Dia menjauh dr cermin dan segera kembali keruang tengah. Sophie nyengir kpd kedua temannya. Sophie tertawa melihat Marko. Gitu sih yg gue lihata di fil-film. Sophie berkacak pinggang layaknya model. Tanpa sepatah kata. Dia berjongkok dan mendorong penutupnya." ujar Sophie. menyerahkan sebuah meteran didnding kpd Marko. Marko memandangi Sophie. disahuti oleh Imel. "Apa-apaan ini?" serua mama Imel dgn pandangan terkejut. Ini seragam mandor tukang. "Sekarang kita ngapain nih?" tanya Marko. tdk diperbolehkan. Selama beberapa saat semua orang yg ada diruangan itu sunyi senyap. Sophie menggelung rambutnya dan memakai topi. "Yes ma'am. yg tak lama kembali sambil mengangkat-angkat kotak yg kelihatan berat. memandang ingin tahu." Marko mentusul keluar dr kamar mandi beberapa saat kemudian. memukul-mukuli dinding yg ditutupi wallpaper yg bermotif klasik warna coklat muda itu. Terakhir." Imel langsung menengahi situasi yg tegang itu. Papa Imel juga memandang Sophie dan Marko dgn curiga. Ma. isinya alat-alat pertukangan sederhana. Sophie tak mau memberitahukan. biar nggak kucel-kucel amat. buat bikin pegangan kayu dari kamar mama sama papa sampai ruang makan. "Aku manggil tukang. Ditubuhnya melekat wearpack yg sama. seolah-olah itu adalah kotak harta. Dia melemparkan topi kpd Marko dan memberi isyarat untuk segera memakainya. tapi gue modif dikitlah. "Biasanya bentar lagi mereka balik. tiba-tiba terdengar pintu yg terbuka. Sophie kembali mengacungkan kedua jempolnya ke Imel. Pertanyaan itu mengandung luapan emosi yg tinggi. Disaat mereka asyik melakukan pengukuran. Ujung meteran ditarik oleh Sophie hingga keruang makan. . Marko kembali bersebelahan dgn Imel. Ya.wearpack yg membungkus seluruh tubuhnya. Kota itu terbuka. Sophie membukanya penuh khidmat. "Jadi ini seragamnya?" sahut Imel." ujar Imel. isinya sama seperti yg ada dipikiran Marko. Sophie dan Marko berpandangan. menunggu instruksi.

Mukanya yg putih. senyum bahagia ketika mengisahkan pertemuan kedua orangtua Imel hingga akhirnya menikah.' suara oma Pingkan terdengar diruangan itu. Sophie menahan keharuan selama ini. Cerita Sophie membuat papa dan mama kelihatan terusik dan tdk nyaman." ujarnya pelan. Memandangi satu persatu dgn sorot tdk terlalu ramah.' . yg membuat ruangan itu kembali sepenuhnya hening. kamu! Jangan asal maku!" mama Imel memelototi Sophie. Tapi jangan hukum oma di sini." sahut mama emosional. menundukkan kepala. Terdengar suara musik dan keriuhan hari itu di panti jompo. "Mel. suara musik itu berganti dgn intonasi pilu seorang oma. ada apa sebenarnya? Mereka bukan tukang kan?" Imel memandangi papa dan mama bergantian. cuma mau siap-siap aja. "Pegangan kayu itu sengaja Imel pasang sampai ruang makan. Semua mata tertuju kpd video yg diputar. Mata oma pingkan yg berpendar ketika menceritakan Imel. hanya saja menghadapi kemarahan orangtua memang tdk pernah mudah. "Kamu ngomong apa sih. "Heh. Sophie menarik palunya menjau. Tak ada seorang pun yg berbicara dlm ruangan itu. Selanjutnya Imel menjelaskan kpd mama dan papa tentang Sophie dan Marko. buat pegangan mama dan papa. hingga Marko pun memperlihatkan rekaman yg mereka buat hari lalu. kalau oma nyusahin anak dan cucu oma. memerah karena marah. Mendekat kpd Marko. Setiap pulang sekolah. Papa memandangi Imel penuh arti. teringat ketika mengobrol dgn oma pingkan. Tapi oma nggak mau tinggal di sini. Sophie menggit bibibr. Sophie berakting memaku patongan kayu ke wallpaper cantik itu. 'Oma kangen sama cucu oma."Kamu mau bikin wallpaper mama rusak?!" bentak mama Imel. Kesedihan tdk bisa di sembunyikan dari sana. Mama nggak ngerti. Kemudian disisi video. Usaha Sophie langsung membuat mama Imel paNik. Dia tahu ini akan terjadi. Namun mereka tdk percaya dan terus membantah. kalau nanti papa mama tua. 'oma tahu. kalau mama sama papa tua nanti. Dia tdk habis pikir mengapa orangtua Imel tega mengirimkan seseorang yg penuh kasih sayang dan kelembutan seperti Oma Pingkan ke panti jompo. Oma janji nggak akan nyusahin lagi. Papa Imel mendekati meraka. Imel nggak akan ngusir papa mama. Mel. "Imel. Lalu. dia lagsung cari oma. Semua tentang oma Pingkan." Jelas Imel.

Ngerepotin. Sophie tersenyum tipis. Oma Pingkan memang sedih. "Nanti lantai apartemen ini akan Imel ganti sama lantai yg bertekstur nggak licin kayak gini biar papa dan mama nggak kepleset. Karena itu kan. tetapi tak seorang pun berkata-kata.. Ada orang-orang yg ingin tinggal tetapi malah diminta untuk pergi. Mereka diam seribu bahasa. "Daun tua ini. Marko mendengar desah napas Sophie. Tak ada yg bisa membantah betapa bahagianya oma melihat cucunya. Sophie sejak tadi terhanyut dlm suasana haru reuni keluarga itu. apalagi berpisah dgn mama dan papa. Tatapan oma pingkan beralih kpd mama dan papa Imel. Disampingnya. Diasingkan. Seperti Oma dan Opa kita. Pelukannya mengendur. Marko sudah menyiapkan kameranya.. Bagaimanapun Oma Pingkan menyayangi anak dan cucunya. Air mukanya langsung segar. tetapi dia tak bisa marah." pandanga Sophie tertuju kpd pohon di taman yg daun-daunya berguguran oleh angin. Pelan Imel mengangguk. gantian mama Imel yg merangkul Oma Pingkan. Papa dan mama Imel saling pandang. *** Imel memberi tahu Marko dan Sophie kalau mereka akan menjemput Oma Pingkan pd suatu sore. Mestinya dia lebih menghargai kehadiran mamanya sekarang. kita semua akan tua. mungkin permintaan maaf. Dia juga berjanji kpd dirinya sendiri tdk akan melakukan seperti apa yg terjadi kpd oma Pingkan. "Suatu hari. Pandangan seorang ibu yg rindu sekali kpd anak-anaknya. Dari posisi strategis. Semburat senyum oma tak luntur kpd keduanya. "Kita akan pulang oma. Sekarang. Salah satu dr daun tesebut jatuh ke tangan Sophie. Tangisnya tak terkendali. Bukan jauh dr keluarganya." . Mereka berpelukan beberapa saat.. Dia pun merasakan hal yg sama. Sophie tdk ingin pergi. tetapi tangannya tak lepas menggegam Imel. Apa pun alasannya. tersenyum meyakinkan. di susul papa.Video itu selesai di putar. mereka tentu akan lebih bahagia ada ditengah keluarga mereka. Sophie mendengar mama Imel menghela napas berkali-kali." Oma memandang Imel tak percaya. tetapi kemudian mama Imel langsung menghambur memeluk Imel. seperti Opa dan Oma kita. Tangis lirih keluar dr mama Imel. tawanya begitu hidup. nggak mau jatuh jauh-jauh dr pohonnya. Hal itu membuat benak Marko memanas. Ketika pelukan mereka terlepas. Karena setelah itu tangis pecah. Papa Imel memeluk lebih dulu.. Dia membisikkan sesuatu yg tak bisa Marko dengar. Marko mulai merekam saat Imel mendekati Oma. hingga Mama dan Papa Imel melangkah mendekat. sesak dalam dada. alasan mama sama papa ngirim oma pingkan ke panti jompo? Nggak bisa jaga diri. Sophie melihat mata Imel yg berkaca-kaca. oma Pingkan menyeka air mata dr pipi Mama Imel." kalimat Imel nyaris menghilang di ujungnya. Tak ada kemarahan yg keluar. Mereka berdua bersemuka.

Dia sudah terlanjur berjanji. Dia menoleh kpd Sophie yg pandangannya menerawang ke langit. Pasti tdk akan sesukses kalau mereka berduet mewujudkan semua rencana. "Kali aja tau. Sophie tersenyum sambil memandang Marko. Marko ragu bisa menolak untuk membantunya." "Not bad. dia beranjak dr Sophie. Lagi pula.Marko sudah mematikan rekamannya. Karena bukan itu big plan-nya. Atau jangan-jangan lo diem-diem udh BBM-an. Entah apa yg ada di pikiran Sophie sekarang. Tanpa protes. Misi kedua ini berakhir haru serta bahagia. dan kalau mereka memutuskan merayakan di sini mamang sudah sepatutnya seperti itu. *** "Udah berapa viewer-nya?" tanya Marko ketika Sophie menutup laptopnya. Berapa banyak pun misi yg Sophie ingin jalankan." "Emang big plan lo apa?" tanya Marko. Sekarang pasti Marko sudah bisa menghibur Sophie agar tak sendu lagi. Selesainya misi ke dua ini tdk membuatnya benar-benar terlihat senang. Sebenarnya Marko ingin mengajak Sophie merayakan kerberhasilan misi kedua mereka. Sementara itu. Seakan ada yg memenuhi pikirannya. "Imel apa kabar?" Marko tersentak. Sophie mengikuti sahabatnya." komentar Marko. Sophie berharap tdk gugur secepat daun-daun tadi. Dia sungguh-sungguh ingin tahu karena sejak awal Sophie memang tdk menceritakan apa-apa. Kalau saja. mereka memutuskan untuk bersantai di rooftop. berapa yg nge-like atau respons yg muji. melainkan ketidaktegaan membiarkan Sophie menjalankan ini sendiri. sesuai dgn tanggal lahirnya. "Kok lo nanya gue?" Sophie mengeluarkan cengiran khasnya. tujuh adalah angka favorit Marko dan sering dianggapnya angka keberuntungan. melenggang di antara koridor rumah jompo yg sepi. Namun. rooftop ini tdk terlalu buruk sih. Like-nya lima belas. "Lo kecewa?" Sophie menatap Marko sambil merapikan helaian rambutnya yg berterbangan. tetapi Sophie menolak. Semua ide berawal dr sini. . Gue kan nggak ngejar viewer. Masih ada lima misi yang harus di selesaikan. Yang unlike empat orang. Angin menggoyangkan rambutnya. Pandangan mata Sophie tak berbinar terang seperti biasa. "Nggak. "Viewer-nya dua ratus lima puluh tujuh. Bahkan pertanyaan kenapa tujuh misi. bukan janji yg memberatkannya. Setelah pulang dr panti jompo. tetapi tak ingin dibagi dgn Marko. Mereka adalah tim yg kompak." godanya dgn telunjuk terarah kpd Marko. juga tak terjawab. Tatapan keduanya bertemu. bukan delapan seperti angka kesukaannya. kalau Marko boleh memuji. Marko bisa membaca isi hatinya.

" Marko menengok." Sophie menyeringai. kalau ada cowok yg suka sama dia. Senyum itu membuat Marko urung mendebat jawaban Sophie. itu hampir mustahil." balasnya agak kasar. Bahkan bisa ngeliat cewek lain suka atau nggak sama cowok. "Pokoknya kita lhat aja nanti. . Marko membisu. "Emang gue mantau lo dua puluh empat jam?" Marko berdecak. Cahaya yg Marko lihat setiap kali dia punya sesuatu yg besar dan harus dikerjakan. "Lo nggak nyoba ajak dia nge-date?" selidik Sophie lagi. Tapi. kan? Hampir semua perempuan ingin diakui. "Dan gue yakin. Matanya memancarkan ketidakpercayaan atas kata-kata Sophie. "Apaan sih lo. Imel memang cantik. Sophie memergoki Marko mengamatinya. Namun."Lo pernah liat gue minta PIN sama dia?" balas Marko judes." Sophie terdiam sejenak. juga nggak apa-apa sih. "Berarti cewek tahu dong. Imel suka sama lo. Kalau alam dgn mudah memberi pertanda. "Jadi." katanya memukul pelan bahu Marko. Tdk tahu bagaimana harus percaya. ajak Imel nge-date nggak? kalau nggak. bukan berarti Marko harus mendadak meminta kontaknya begitu saja. dahinya mengernyit. Dia mengalihkan tatapan dari Sophie. Tapi yg jelas alam akan ngasih 'pertanda'. tetapi hanya tersenyum. "Cewek tuh punya intuisi. Mata Sophie kembali penuh binar. Walau tuh cowok nggak pernah ngomong?" Sophie tersenyum lembut dan menganggukan kepala. mungkin tak perlu saling bicara ketika mengungkapkan rasa cinta.

rasanya dia jadi lebih sering berpapasan dgn gadis itu. besar kemungkinannya untuk berjumpa. lalu mendorong pintu dan masuk ke dalam ruangan. satu bukti tidaklah cukup. sisanya sedang berkemas untuk pergi dari situ." Marko memandangi Sophie. Sesampainya disekolah. Ada orang dewasa disana. Namun." "Nggak apa-apa kok. "Lo ke mana aja sih? Gue telepon nggak aktif. Sophie tdk berangkat bersamanya. Ya udah gue tinggal aja." "Sorry. pelatih anak-anak tersebut. Marko tdk pernah berpikir kalau itu sebuah pertanda. menadadak bayangan Imel melintas dan ingin menceritakan tentang pertemuannya itu kpd Sophie. Nggak sempat ngabarin lo.BAB 8 Pertemuan Marko & Imel pagi tu tidaklah disengaja. "Gue akan ngembaliin kepercayaan diri dia. memutar kenop. yg memberikan perintah agar selain anggota orkestra diminta untuk keluar ruangan. tangannya meraba-raba seakan tembok itu adalah penuntunnya. dia meraba-raba untuk menemukan kenopnya." Marko berusaha bersikap biasa-biasa aja. Beberapa diantara siap berlatih. Langkahnya terjaga dekat dinding." Anak perempuan berambut panjang sebahu yg namanya disebut Sophie barusan berjalan di depan Marko. Tetapi kalau dia bercerita maka teori Sophie tentang "pertanda dari alam" itu akan makin menguat. . Nggak ada masalah. *** Lantunan biola itu begitu merdu. pandangannya mengarah ke depan. Pikiran tentang pertanda itu berpusing dalam kepalanya. Namun. "Kenapa lo? Muka lo aneh banget. Setelah perkenalannya. Marko merasa ada yg aneh dgn tatapan anak itu. tadi gue berangkat bareng papa. Itu pasti imajinasi Sophie aja. Selama ini Marko tdk pernah melihat Imel. bahkan tdk juga dapat dihubungi. Mereka tinggal di kompleks apartemen yg sama. Marko langsung mencari-cari Sophie. "Anak itu kayaknya fine-fine aja. Dia melebarkan pintu sedikit agar lebih leluasa. Mereka bertukar sapa singkat sebelum Marko berjalan cepat menuju mobilnya yg terparkir. Konsentrasi Marko terpecah antara mendengarkan dan harus merekam objek yg diminta Sophie. Sampai akhirnya Bian sampai ke sebuah pintu. Ruangan itu penuh anak-anak yg masing-masing memegang alat musik. "Namanya Bian. Bian berhenti." Marko mengarahkan handycam-nya lewat kisi-kisi jendela." ujar Sophie.

seakan ada rencana besar terbayang di benaknya. "Lo nggak perhatiin kalau Bian itu punya masalah penglihatan?" Marko mengangguk. Perhatian Marko teralih saat Bian mulai menggesek biolanya." "Terus lo mau ngapain? Maksa konduktor buat masang nih anak?" Sophie menoleh. "Jadi apa masalahnya? Jangan bilang masalah."Dia sih nggak masalah. ikut mengintip. Mereka nggak bisa jaga Bian lebih dr anak-anak lain. Suaranya terdengar hingga koridor tempat Sophie dan Marko mengintip. Beethoven aja bisa jadi komposer meski tuli. Rencana yg ada di kepalanya itu tak akan berjalan tanpa bantuan Marko. Biar dia tahu kalau pelajaran biolannya selama ini nggak sia-sia dan memang memukau. terusik oleh pertanyaan Marko. staf di sini lamalama nggak mau mengistimewakan Bian. Tempat ini yg bermasalah sama dia." "Dia sakit?" Sophie mengangguk. ternyata apa yg dilihatnya tadi benar. Dia memandangi mata cowok itu sejenak. "Gue mau Bian nggak patah semangat. Komaaarrr! Mamanya Bian tuh temen nyokap gue. Kasian anak itu. sejak kecil dia udah belajar biola. Matanya berkilat-kilat. "Dia kan tinggal satu kompleks apartemen sama kita. bikin dia nggak bisa baca partitur. Tetapi jawaban Sophie belum membuatnya mengerti." . kenapa Bian nggak bisa jadi pemain biola?! Sebelum Bian bener-bener kehilangan penglihatannya gue pengin ngasih momen ke dia. "bermasalah gimana?" tanya Marko berbisik." todong Marko. "Makin buruk penglihatannya. seakan ada pikiran yg mengganggunya. Setelah cukup merekam pernainan biola Bian." balas Sophie. Komaaarrrr!! Jelas dia nggak akan bisa untuk ikut orkestra. Marko akui permainan biola Bian memanglah merdu. Sophie menatap Marko tdk sabar. makanya gue bisa tau. Sophie terus-terusan diam." Sophie tiba-tiba berhenti berjalan dan menghadap Marko. Padahal. Marko menjajari langkahnya. Marko menoleh ke koridor yg kosong." "Lo kok bisa tahu sedetail itu sih?" tanya Marko. "Sekarang Bian masih bersikeras buat terus dateng untuk latihan. Tapi ya gitu. Pandar matanya meredup. keduanya keluar dr tempat kursus musik tersebut. "Gue mau Bian konser tunggal.

. *** Marko sempat menunda-nunda mengatakan rencana itu kpd Mama karena malas mendiskusikannya. Mengadakan konser tunggla itu bukanlah misi sederhana. Tdk akan tahu seberapa berharga seseorang sampai dia pergi.Marko melongo. Cuma agak workaholic. Sophie makin gencar mendesak dan menagih janji Marko yg akan bilang ke mama tentang konser Bian. Seperti yg Marko alami dgn papa." Sophie tersenyum. nyokap lo baik-baik aja. Lagian knp dengan nyokap lo? Setahu gue. "Kenapa harus di resto nyokap gue?!" protes Marko. Kekhawatiran terbesar Marko adalah mamanya akan kembali menagih janji untuk bertemu papa." kilahnya. Tdk ada yg tahu berapa lama seseorang akan tinggal. Marko juga agak menghilang dr Sophie. mengedip centil. Lagi pula. Dia mengadahkan tangan kpd Marko. misi-misi ini terlalu aneh. Wajah Sophie agak sedikit cemberut karena Marko terlalu banyak protes. Meskipun Marko masih keberatan untuk melakukannya. Bisa gratis. Komaaarrr! Bantu wujudin mimpinya Bian. "Di resto nyokap lo. Tidak menjawab apa-apa. Marko berdecak. sejago apapun dia bersembunyi dr Sophie. "Ayolah. "Sophie. "Jalan satu-satunya ya konser di resto nyokap lo lah. Langkah Marko terhenti. Marko sadar dia tidak akan pernah bisa menolak permintaan Sophie dan gadis itu tahu benar bagaimana memanfaatkannya. Marko pun menyerah. selain menghindar dr mama. "Bian kan anak temen nyokap lo!" "Lo pikir. Sekarang keduanya berhadap-hadapan. Sophie memasang tatapan membujuknya kpd Marko. gadis itu tetap bisa menemukannya. gue punya duit buat bikin konser di resto?" balas Sophie galak. lo kan tau nyokap tuh gmana." Marko menghela napas. "Please. serta menguliahinya tentang waktu yg relatif untuk setiap orang. Sayangnya. Sophie sudh kembali berjalan. Maka dari itu. menjalankan misi-misi Sophie ini sangat berbeda dgn kebiasaan sehari-hari. tetapi sama sekali tdk mengalihkan tatapannya dr Sophie. Dikit." katanya. Sampai akhirnya Marko kehabisan alasan untuk itu dan Sophie hampir ngambek.. Dia jelas tahu permintaan itu tdk akan begitu saja dikabulkan Mama.. Ekspresinya kentara sekali tdk setuju. . Setiap hari. Sophie menepuk bahu Marko dan mengacungkan jempol.." tambahnya. berkacak pinggang.

anak lelakinya mau mengalah." mama Marko mengenali gerak-gerik aneh dr anak lelakinya itu. "Terima kasih. menghampiri mama yg dudul bersila di sofa." Mama Marko terdiam sejenak.. Marko masih belum bisa menerima perlakuan papa meninggalkan mama." Senyum Marko mengembang. Dalam pikirannya berkecamuk ngambeknya Sophie kalau dia sampai gagal membujuk mama. sementara dia menyibukkan diri dgn pekerjaan. Aku udh liat. Pasti. Tersenyum. Marko menggaruk rambutnya yg tdk gatal. Demi Sophie." sapa Marko. mama mengambil kesempatan bicara terlebih dulu. menatap Marko."Ma. Marko lebih sering mengurung di kamar. "Hmm. "Kira-kira mama ngizinin nggak. "Kalau begitu boleh. Meskipun sikapnya baik terhadap Marko.." "Oke kok. Kali ini demi teman yg tidak mama Marko tahu. Siapa pun yg membujuk Marko mengutarakan permintaannya malam ini pastilah seseorang yg istimewa. "Apa berat banget untuk kamu sekadar bertemu dgn papa kamu?" Mulut Marko terkunci. Nggak tahu kapa. Sebelum Marko membantah. meski dia benci melihat istri baru serta anak mereka. kalau ada kenalan Marko yg mau perform di resto mama?" "Tergantung. Sedari tadi dia berpikir kalau Marko akan menyampaikan sesuatu yg sangat gawat atau meminta sesuatu. Sekarang atau tdk sama sekali. Temen kamu itu oke atau nggak." tambahnya. Dia keren banget main biolanya.. "Aku akan menemui papa. Biasanya di apartemen. Marko menghela napas. ma. Demi Bian. . Tapi nggak sekarang. Marko. Dia masih memandang mama tak percaya. Bertemu papa bukan perkara besar. Dia melepas kacamata. Tatapannya berubah menjadi tdk enak kpd mama." Mama Marko tdk menyangka jawaban dr anak lelakinya itu." ujar mama. menjauh dr sofa. Marko tersentak. Perempuan yg sekarang menjadi istri papa adalah perusak segalanya. Jarang sekali mereka berdua bicara seperti ini. bagi Marko perempuan itu tetaplah bencana. "Asal kamu mw ketemu papa kamu.

"Bian harus semangat dong. . Bian terus menutup mulut. tetapi Sophie berhasil meyakinkan kalau semua ini mereka lakukan untuk Bian. Di dalam mobil sekarang pun. Mereka langsung mengontak orangtua Bian untuk memberitahukan kabar tersebut. Semua komunikasi. *** Setelah mendapat restu dr mama Marko. Bian harus semangat ya!" sahut Marko. Marko juga mengajak Sophie bertemu mamanya agar bisa mendiskusikan detail pertunjukan. "Jangan kayak kak Marko yg malas melulu. kak. jauh di lubuk hati. Dia bahkan melupakan keberatannya untuk ketemu papa. Kisah Bian yg diceritakan oleh Sophie malah membuat mama Marko mendukung penuh misi ketiga mereka. Marko mendapatkannya lagi. Bian hanya tersenyum tipis." tanya Marko. Kegembiraan Sophie menjalar kpd Marko. Dia lupa kapan terakhir kalinya melihat mama tersenyum untuknya. Dulu. Karena orangtua Bian tdk bisa menemani. Sophie sampaikan lewat orangtua Bian. Bian tdk banyak bicara dgn Sophie apalagi Marko. Hari ini. Bersama Marko. Nanti kita makan dulu deh sebelum latihan. Orangtua Bian bahkan menyanggupi akan membantu untuk mendatangkan tamu-tamu yg akan menghadiri konser Bian. Kedua orangtua Bian awalnya tdk percaya. "Bian belom makan ya? Diem aja dari tadi. tumben-tumbenan Marko mau menyemangati orang seperti barusan. oke?" Bian mengangguk & tersenyum. Sophie langsung menyusun rencana. Namun. "Iya. Sophie senang dengan perubahan yg terjadi kpd Marko itu. udah deket sama hari konser nih." Marko yg sedang menyetir mendelik pd Sophie. Kian dekat dgn hari pertunjukan. akhirnya Marko & Sophie mengajak Bian utk mengadakan latihan diresto Mama Marko. Bian kalau ada apa-apa cerita aja sama kak Sophie.Marko membalas. Bian tdk murung seperti ini. Marko yg selama ini Sophie kenal adalah cowok paling cuek sedunia." jawab Bian pelan. Mereka menceritakan kpd orangtua Bian tentang rencana konser Bian di restoran milik mama Marko." Sophie menyemangati. Alis Sophie terangkat. seingat Sophie. Selama ini. dia hanya menjawab pertanyaan dgn gelengan & anggukan. Sophie mengunjungi apartemen Bian. mereka pun pergi bertiga. "Udah. "Kalau gitu. Sophie & Marko saling pandang.

beberapa pengunjung lain yg kebetulan berada di situ juga terlihat senang dgn pertunjukan Bian." Sophie mendorong Marko pelan." katanya mengalihkan tatapan. ketiganya menikmati makanan sambil mengobrol. lalu beranjak ke depan panggung. Biolanya dipegang erat-erata. *** Malam pertunjukan itu akhirnya datang juga. mereka saling bicara beberapa patah kata. sampai yg paling tdk di duga Marko. Air mukanya tampak tenang. Marko mengarahkan kpd Sophie. bercampur dgn antusiasme untuk melihat penampilan anak mereka malam ini. Bian akan kelihatan keren di hari pertunjukannya nanti. Banyak tamu yg menikmati permainan biola Bian. Bian sudah siap dgn biolanya di atas panggung. Saat itu. Marko kehilangan hitungan waktu berapa lama dia memandangi gadis itu. kan?" tanya Sophie kepada Marko yg sedang menyiapkan handycam-nya. senyum Bian terlihat lebih lebar daripada biasanya. Di tengah-tengah permainan. Sesaat pandangan Marko terpaku kpd Sophie. Sesuatu yg membuatnya merasa jengah kian lama memandangi Sophie. Bian juga tampak manis dgn gaun putihnya. Datang juga rombongan keluarga Sophie. Ini. handycam-nya sudah merekam objek yg seharusnya. Andai saja dia bisa melihatnya. yaitu Imel. Mama Marko bergabung bersama mereka untuk menonton. sampai pandangan mereka bertemu. Bian tampak begitu menghayati latihannya. Tidak hanya mereka bertiga yg terpukau sore itu. orang tua Bian saling berpegangan tangan. Selesai berlatih. binar mata gadis itu tampak benderang. Bian tampak nyaman di dekat Marko. Imel menyunggingkan senyumnya. Ketika lantunan biola Bian terdengar. Gadis itu tampak cantik dgn gaun selutut dan rambut panjang tergerai. . sementara Sophie merekam persiapan tersebut. bukan hanya Bian yg tampil berbeda. Di samping panggung kecil itu. Marko menyiapkan sound system yg digunakan untuk pertunjukan. "Belum kok. Dia memainkan lagu-lagu yg sudah fasih digeseknya. ada yg menggeliat dalam perut Marko. Malam ini. Marko juga merekam penonton dr meja ke meja. tetapi Sophie meyakinkan bahwa permainan Bian luar biasa dan mengesankan. Ketika latihan di mulai. guru disekolah musik Bian. Sophie mengganti t-shirt dan jeans-nya dgn gaun malam yg begitu anggun. Bian masih malu-malu. "Kok lo masih di sini sih? Masa ngerekam Bian dari samping gini. Beberapa tepuk tangan mengiringi Bian ketika selesai bermain. Di bawah penerangan restoran yg redup.Restoran mama Marko tdk terlalu ramai sore itu. "Belum mulai. Marko mengerling kpd Sophie. Sekarang tinggal lampu panggung yg menyala terang. Marko membalas senyum gadis itu. Sore itu. Rambutnya di gelung cantik dan Sophie meminjamkan tiara miliknya. Kecemasan terlihat di wajah mereka.

Marko melihat mamanya. Entah karena misi ketiga ini akhirnya berhasil / karena Sophie yg tampak luar biasa malam ini. Sophie ikur mendekat. Sementara Marko sendiri merasakan kehangatan dalam hatinya. sampai kembali lagi kpd Sophie."Bian inget pesan kak Sophie?" Bian tersenyum dan mengangguk. Marko tersadar. Memberikan pujian. mengamti Sophie secara langsung. Tak lama kemudian. Sophie membungkuk. Marko terpana. Handycam-nya kembali merekam reaksi orang-orang yg berdiri dan bertepuk tangan. permainan biola Bian pun selesai.Di salah satu meja. Dia menurunkan handycam-nya. Papa dan mama Bian terlihat amak bersuka cita. Bian pasti sangat senang sekarang. memeluk Bian. Bian turun dr panggung & disambut oleh orangtuanya. 'mimpi harus dikejar' . yg tersenyum dan melambaikan tangan. Gadis itu sedang merekam dirinya sendiri dgn latar belakang Bian yg bermain biola. Marko bergegas merapat & merekam adegan ini. Lalu. Marko melihat sekilas Sophie menghapus air matanya saat Bian mengucapkan terima kasih. Dia melepaskan rangkulannya. Marko membalas senyuman mama. dia terus menggerakan handycam-nya.

Pandangan mereka saling sengit. mereka langsung saling melempar bantal. Aku tuh udah gede. "Gue bukan Garfield!" Livia melolong dr kamar. meninggalkan mereka berdua.BAB 9 "Kamar ini bukan kamar bayi. Tante Tita pasti sedih kalau dengar kamu ngomong begitu" "Habisnya. Kondisi kamar mereka berantakan. Ihh." panggil mama kpd Sophie yg berada di kamar. Dia memegangi birai pintu. "Kamu kalau ngomong jangan sembarangan. tidak mengacuhkan keluhan Livia. pasti akan berantem lagi. Livia mendekati mama di dapur. mama gitu deh.. "Garfield sama snowy nggak pernah akur ya. Boneka-boneka Marsya berserakan. sini.. Sepupu kamu mengidap autis.. Sophie menggeleng-gelengkan kepala. sayang.. kelelahan setelah seharian beraktivitas..." celetuknya. Lalu keduanya saling pandang dan menyadari kalau mereka menyetujui ledekan Sophie.. Autis itu bukan untuk bercandaan.. seperti habis di acak-acak. "Ih.. Sophie yakin mereka akan saling pukul. Sebentar lagi. Livia menarik kursi meja makan dan mendudukinya dgn wajah merengut. Livia keluar dari kamar dan membanting pintu.. "Sophie. Hingga akhirnya. Sejenak dia mengamati mama yg sedang mengangkat kue dr oven. "Ma! Livia nggak mau sekamar sm Marsya!" "Terus kamu mau tidur dmana? Ruang tamu?" sahut mama.. masih mengurusi kue-nya. . Ma! Masa sekamar sama anak kecil yg hobinya ngomong sama boneka! Dasar autis!" mama memandangi Livia. Sophie mengangkat alis. Tak ada gunanya didiamkan. Sedetik kemudian." mama menata kue di atas piring. "Aku bukan snowyyy!" Marsya menyahuti juga. Sekalian aja lo tidur di boks bayi!" "Kamar ini bukan kamar kak Livia aja! Tapi juga kamar aku!" Sophie melihat kedua adiknya yg sama-sama memegang bantal. Rautnya berubah tegas. Livia.

Liat pemandangan kayak gitu. "Jam delapan. "Uh!" Livia menjambaki rambutnya sendiri. jam segini." ujar Sophie. Mereka jarang menuju rooftop malam seperti ini. dan besok. Itu pun kalau kak Sophie kos. Marsya itu adik kamu. "Kalau nggak. "Nggak ada. tanpa sepatah kata sampai akhirnya dia tdk bisa menahan komentarnya barusan. Sejak tiba di atas. Marko menemaninya. Livia kamu kan tahu. Sophie menghela napas. mereka tdk berpindah dr tempat ini. orang-orang yg ada di bawah sana belum tentu orang yg sama. "Enak banget sih jadi kak Sophie." Marko dan Sophie berdiri di tepian rooftop. Dari tadi ngomongnya kasar terus!" mama menghardik Livia. kak!" Marsya memeluk Sophie." Marsya yg baru saja keluar dr kamar. langsung berlari senang ke arah Sophie. detik kedua belas di hari ini. Jangan begitu. kamu bisa makai kamar Kak Sophie kalau dia udah kuliah. penerangan di sini juga seadanya saja. menit tiga puluh lima. ambil aja. "Livia. Sekamar sendirian! Kalau aku aja nggak adil! Aku cuma beda dua tahun sama kak Sophie! Tapi malah sekamar sama Marsya yg rese!" Livia kian uring-uringan. Kan. "Enggaklah. Dia tdk bisa menahan diri untuk mengeluarkan unek-uneknya saat melihat Sophie berjalan ke ruang makan. terdengar suara keras pintu yg dibanting." Sophie mengecek jam tangan merahnya. Kak Livia aja yg kos" celetuk Marsya. "Asyik! Beneran kak?! Nanti kita bisa main boneka bareng. Selanjutnya.Paras Livia kian keruh ketika nama Sophie di sebut. "Kalau kamu mau kamar kakak. *** "lo nggak bosan ya. Kalau pulangnya memang biasa jam segini. "Biar kakak yg sekamar sama Marsya. ." "Pasti ada yg sanalah. kalau tidak anak perempuan itu lari dan bersembunyi di belakang tubuh mama. sama kemarin. Livia mendorong kursinya dgn keras. Cuma lampu-lampu sebagian dr mobil macet. Dia nyaris saja memukul Marsya. Menoleh kepada Mama. Dia meninggalkan ruang makan dgn bersungut-sungut. Sophie bahkan tdk memalingkan tatapan dr jalan penuh lampu di bawah. Livia melotot mendangar kata-kata Marsya. Ajakan Sophie sesudah makan malam tadi sudah cukup mengagetkan ." Marko mengeluarkan argumennya. "Selalu aja Kak Sophie yg dibelain! Bete!" serunya." Mama menegaskan. Namun apa yang dilihatnya pa da mata Mama justru membuat Sophie merasa kian sedih dan terluka. Selain karena udara dingin.

Sophie memandangnya dgn tatapan aneh. orang yg lewat tuh lampu merah." ujar Sophie dgn suara mengawang. menti. agak di bawah barang-barang itu. "Sophie. membiarkan gadis itu larut dalam lamuannya yg tak bisa Marko masuki. Semua hal lo anggep sama.. "Lo mau jelasin gue soal bintang-bintang?" tanya Sophie setelah beberapa saat mereka saling diam. dia berbalik dan beranjak meninggalkan Sophie sendiri di tepi rooftop. Nggak ada lagi. Lagi pula.... Namun." Marko tampak memikirkan sesuatu. lumayan enak dibanding kalau harus berdiri terus... tetapi Marko begitu saja melakukannya ketika menerima ajakan Sophie tadi. berbaring di atasnya. menepuk-nepuk sisi terpal yg kosong." Hitungan mereka bersahut-sahutan.." "Kirain. Nggak bakal gue apa-apain."Itu kan menurut lo." komentar Marko malas. Sophie kemudian duduk bersila di samping Marko. tidur sini. menatap langit. sini!" panggil Marko menggelar terpal. "Gue sih nggak curiga lo mau ngapa-ngapain.. Dia mengeluarkan sesuatu dr dalam tasnya. Dia berjalan ke sisi lain dari rooftop. . "Mulai deh. mengamati barang-barang tak terpakai yg kian banyak tertumpuk di sana. kenapa orang-orang menaruh ke atas kalau bisa di buang ke tempat lain." "Tiga empat. "Udah. Marko hanya meringis. keranjang." katanya. Marko mendekat dan menarik beberapa barang. Kursi dan meja plastik. Matanya memang tertuju ke bawah. tiap hari pada jam. "Tiga dua. Begini kan. Marko menghela napas. Pandangan keduanya terarah ke atas dunia yg sedang gelap sekarang. Entah dr mana ide ini muncul." ujarnya. Sophie pun merebahkan dirinya di sisi Marko.. Marko menyingkirkan beberapa barang hingga tersedia tempat yg agak lapang.. Sejurus. "Nggak. lo ada ide untuk tiduran di rooftop kayak gini. Lalu. Memangnya rooftop ini tempat pembuangan sampah ya. main sama dunianya sendiri. Cuma aneh aja.." Telunjuk mereka berdua bergerak ke arah langit. tetapi pikirannya entak ke mana. "Heh?" Marko menoleh. "Kita itung aja yuk. Ada berapa banyak bintangnya. detik yg sama.

mata yg penuh rahasia. Sekarang mereka ganti mengejar terpal yg terbang. Namun karena angin terlalu besar. merasakan jantungnya berdetak aktif. Sophie menunduk. Dia menarik napas panjang. Binarnya mengalahkan semua cahaya di rooftop ini. kan. Pelan-pelan dia denyut jantungnya yg makin cepat. Sesuatu yg tak bisa ditahannya lebih lama. hingga Marko tdk bisa melihat wajah Sophie yg memerah. Sophie menyukai sepasang mata Marko yg cokelat gelapa di bawah alis tebal. Ini seperti dalam film-film drama yg sering ditonton bersama Mama. Sophie juga melihat kearahnya. menendang kaki Marko. Cowok itu langsung melompat berdiri dan berlari. "Tiga. Ada yg meronta-ronta dalam perutnya. Dia membuang wajah. tiga empat. Sophie pun mengejarnya. "Terpalnya!" seru Sophie ketika angin menerbangkan terpal mereka."Tiga dua. Sadar meski Marko sahabatnya. Setelah berusaha dan memanjat kursi. Terpal itu berkibar dan keduanya saling berpandangan. "Dua lagi mana?" tanya Sophie. Marko berdecak. Pandangan Marko terpaku pd sepasang mata itu." "Ah! Komar! Gombal banget sih!" seru Sophie. memukul bahu Marko pelan. Pelan tapi pasti detak jantungnya mengencang. Mereka berlarian di atas rooftop. Kalau di sini tidak gelap mungkin Marko bisa melihat mekanya yg memerah. Dia bisa mengendus aroma parfum Sophie yg mengingatkannya kpd stroberi. terpal itu malah menutupi mereka berdua. momen ini terlalu mengejutkan baginya." seru Sophie. Pandangan Marko tertuju kepadanya. tiga dua!" "Tiga empat. tiga. tetapi menghitung ulang kembali. Dia menengok ke arah Sophie. mata Sophie bersinar. jelas ada yg menaruh bintang di sana. Sophie menggelitik Marko untuk membalas keisengannya. Marko sudah sering melihat paras oval di depannya berkali-kali tapa. Sophie pun tdk berpaling. Keduanya sama-sama di bawah keremangan terpal yg menyelimuti seluruh tubuh mereka. sedekat sekarang dia tak ingat pernah begini. "Tuh. Untungnya tempat itu berpenerangan temaram. Marko menelan ludah. . Menggigit bibirnya. meninggalkan terpal yg pelan-pelan diusik angin. Pendar yg tak pernah Marko inginkan untuk padam. Pada saat yg sama." Marko tetap pada pendiriannya. Marko menunjuk mata Sophie. akhirnya Marko berhasil menangkapnya. Wajah Marko langsung tegang. membuatnya ingin makin dekat dgn Sophie. Marko menelan ludah. Sophie membeku di tempatnya. Meski redup. Komaaarrr! Coba itung lagi deh. Ketika anginnya kian kencang terpal tipis itu tak mampu bertahan dan akhirnya melayang.

. Kelihatan sekali untuk terkesan menikmati di depan Sophie. "Kalau gue nggak kenal lo. "Misi rahasia lo. melainkan benda di tangan Livia. Livia melongos. Keduanya langsung membuat jarak satu sama lain.. Marko teringat pertanyaan yg dulu belum di jawab oleh Sophie 'kenapa tujuh bukan delapan?'.. Mata Marko mengamati punggung gadis itu. Marko tdk peduli ocehan Sophie. Namun. ragu-ragu. Terdengar suara batuk yg sepertinya familier. hal itu sudah menguap. Sophie meninggalkan Marko dan kembali ke pinggiran rooftop. Mengelus dadanya sendiri. Dia menarik napas panjang. Pastilah cowok itu akan punya bahan olok-olok sepanjang minggu kalau sampai tahu. dia mencoba melipat terpal serapi mungkin. Marko melihat kilasan sedih di mata Sophie. dia meniupkan asapnya ke arah kakaknya. Jantungnya masih berdegup tak karuan. Marko berusaha untuk tdk menatap Sophie. Rahasia. Malah.Marko tertenyak. menerka-nerka apa yg sesungguhnya diperhatikan Sophie.. Dia menoleh ke sekeliling. Gue pikir tadi lo lagi flirting ama gue!" omel Sophie. melangkah mendekat ke sumber suara.. *** Sophie berjalan di lorong yg sepi. Dia sempat terdiam lama dan mengamti Sophie dan menghampirinya lagi. Dalam hitungan detik. "Kamu ngerokok?!" sahutnya keras." Mereka bertatapn. tanpa menatap Marko. "Nggak tahu sampai kapan. "Sampai kapan? Sampai misinya selesai?" Sophie mengangkat bahu. Dia tdk ingin Marko menemukan tersipu karena kejadian tadi. Tentu saja Sophie tdk mungkin salah mengenali adiknya." jawabnya terkekeh. Dengan cepat dia menarik terpal itu hingga jatu ke bawah dan segera melipatnya. Namun tuduhan flirting itu membuat hatinya tersentak. Yg jelas misi ini bukan tentang gue. Sosok tubuh itu berbalik. "Livia?" panggilnya. mengalihkan pembicaraan. Dia malah mengisap rokoknya sekali lagi. Namun bukan itu yg mengejutkannya.. Senyum perlahan terbit di wajahnya. Karena kini senyum lebar memenuhi bibirnya. sebenarnya buat apa sih?" tanya Marko. Dia memandang ke bawah. cemas Kalau Sophie bisa membaca apa yg sebenarnya ada di hati Marko sekarang. sama sekali tdk tampak takut dgn Sophie. ketika Marko coba mengamatinya lebih jelas. berharap bisa mengusir Sophie pergi. "Kan gue udah bilang.

"Kamu mau diamuk Mama sama Papa?!" Sophie menggertak adiknya yg kelihatan tenangtenang saja.
Livia mengibaskan tangan Sophie. "Udah deh, kak!" serunya hendak beranjak tetapi dihalanghalangi.
Kakak beradik itu beradu panjang. Livia memandangnya sengit penuh benci. Sophie tdk mau
pergi dr situ, meski sikap Livia mengusik dan melukai hatinya. Dia tdk tahu harus marah atau
prihatin. Seumur hidup dia sendiri tdk pernah tergoda untuk mencoba rokok. Sophie menggigit
bibir.
"Mulai kapan kamu diem-diem ngerokok?!" tanyanya lagi, berusaha tegas. Meski sebenarnya tak
tega.
"Bukan urusan lo!" bentak Livia.
Sophie gemetar. Dia memegangi dinding. Sorot mata Livia yg bengis, membuatnya tak tahan
menatap lama-lama. Apa semua ini salahnya? Dia tdk pernah meminta untuk diistimewakan.
Livia hendak berlalu dr depannya, namun Sopjie keburu menyadarinya. Dengan sigap menarik
tangan Livia. Adiknya kembali berkelit, membuat Sophie nyaris jatuh. Tetapi, dia kembali
mengajar Livia. Hampir saja Sophie menabrak adiknya, ketika Livia tahu-tahu mundur,
membalikkan badan dgn wajah pucat.
"Ada Papa," katanya dgn suara tertahan.
Jantung Sophie mencelus. Dia tdk melepaskan tangannya dr Livia, malah menggenggamnya kian
erat. Dia menengok ke belokan lorong. Letak belokan agak jauh dr mereka. Mereka bisa saja lari
ke sana, tetapi tdk akan cukup. Papa pasti melihat keberadaan mereka berdua.
"Livia."
Sophie dan Livia membeku di posisi masing-masing saat terdengar panggilan papa. Sejenak
kemudian, Livia langsung berubah panik. Dia berusaha menyembunyikan rokok yg masih
menyala di tangannya ke kotak rokok. Tetapi aksinya malah membuat kotak rokok itu jatuh
kelantai dan beberapa isinya berhamburan. Sophie memberikan pandangan sama cemasnya. Dia
segera membantu Livia memungut kotak isi rokok. Sampai terlintas sebuah ide di kepalanya.
Mungkin semua ini memang salahnya, tetapi situasi Sophie kelihatannya bisa menjadi jalan
keluar utk mereka berdua. Sekali lagi, mereka berdua saling pandang.
"Mana rokoknya?!" Sophie mengulurkan tangan ke Livia. "Cepetan," desaknya karena Livia
hanya memandanginya bengong dan bingung.
Tanpa pikir panjang Livia memberikan bungkus rokok di tangannya.
"Koreknya?"

Livia menyerahkan koreknya dgn ragu, tetapi dgn cepat disambar Sophie. Selanjutnya, Sophie
tergesa menyalakan pematik. Sayangnya pematik itu tdk kunjung menyala.
"Nyalain dong!" suruhnya panik.
Kali ini Livia dgn sigap melakukannya, membakar rokok yg tadi ada di tangan Sophie. Sedetik
kemudian, rokok itu sudah berpindah, terdelip di jari-jemari Sophie. Dia memandang Livia dr
balik asap yg mengepul tipis. Pelan, Sophie mengisapnya. Rasanya sungguh tdk enak dan
membuatnya sesak napas. Dia langsung batuk-batuk, namun mencobanya lagi.
Pada saat itu sosok papa muncul. Sophie menarik rokok menjauh dari bibirnya. Seluruh paruparunya seakan diisi asap. Dia menarik napas dalam-dalam. Namun, kehadiran Papa membuat
Sophie merasa dunia bakal runtuh dibawah kakinya. Tubuhnya menggigil. Seumur hidup, Sophie
hampir tdk pernah melkukan hal-hal yg dilarang orang tuanya. Dia mundur, menempelkan
punggungnya ke dinding.
Tatapn Papa menajam ketika melihat rokok di tangan Sophie. "Apa-apaan kamu, Sophie?!" tanya
papa dgn amarah tertahan. Rautnya mengeras, sudah lama Sophie tdk melihat papa semarah itu.
Ketiganya mematung, hingga kebisuan itu diakhiri oleh batuk-batuk Sophie.
"Pa," Sophie pura-pura terkejut karena ketahuan. Dia menyembunyikan tangannya yg memegang
rokok ke belakang tubuhnya. Tetapi, itu jelas hal yg sia-sia karena papa sudah keburu melihat.
Papa meraih kotak rokok serta rokok yg masih menyala dr tangan Sophie. Beliau menarik napas
panjang, menggelengkan kepalanya. Sorot matanya terlihat kecewa, sekaligus sedih. "Kalian
berdua ikut papa sekarang" perintah papa.
Sophie dan Livia bertukar pandang, lalu dia berjalan lebih dulu mengikuti papa. Di belakang
Sophie, Livia berjalan dgn paras masam. Diruang tengah, papa menyuruh Sophie dan Livia
duduk, sementara Papa memanggil Mama.
Tak ada ucapan terima kasih dari Livia. Dia sama diamnya dgn Sophie. Mungkin kejadian ini tak
pernah disangkanya dan membuatnya shock. Sophie menghela napas ketika Mama dan Papa
duduk di hadapan mereka berdua. Keduanya memandang Sophie tak percaya. Sedangkan,
Marsya ikut-ikutan duduk di antara mereka, menatap semuanya dgn polos.
"Sophie, Mama percaya sama kamu. Mama selalu percaya sama kamu. Tapi ini balasan kamu
sama mama?" terdengar helaan napas berat dr mama. "Kamu cerita sama Mama kalau kamu ada
masalah."
Perlahan, Sophie memberanikan diri membalas tatapan orang tuanya. Kesedihan dan
kekecewaan bercampur di sana. Hati Sophie sesak. Ditambah dgn efek rokok tadi, membuat
napasnya masih terasa tdk enak. Ingin sekali rasanya Sophie kembali ke tempat tidur dan
beristirahat. Akan tetapi, dia tak bisa lari dan harus menghadapi apa yg akan terjadi. Dia

melakukan ini semua untuk Livia. Bukan salah Livia kalau ingin mencoba. Livia hanya ingin
diperhatikan.
"Mama tahu alasannya?" ujar Sophie dgn suara bergetar. Dia terdiam sejenak, memandang mata
kedua orang tuanya yg khawatir. "Sophie cuma mau nyoba apa yg belum pernah Sophie coba."
Mama terenyak, genggamannya dgn papa mengerat.
"Ini untuk yg pertama dan terakhir."
Suara berat papa seperti cambukan bagi hati Sophie. Dia tahu papa berusaha untuk tdk marah.
Papa bahkan tdk mau repot-repot memandangnya.
"Sekarang km masuk kamar" suruhnya.
Sophie bangkit, berjalan menuju kamar dgn kepala tertunduk. Livia mengikuti kakanya hingga
masuk ke kamar.
"Denger apa kata papa tadi," Sophie menatap Livia. "Ini buat yg pertama dan terakhir."
Mereka berdua berdiri berhadapan. Sophie sedikit agak kesal kpd Livia, tetapi tdk ingin bersikap
sm dgn orang tuanya. Pandangan Livia kpdnya tdk berubah sekali, malah kekesalan itu terlihat
makin kental. Wajah adiknya itu merah padam sekarang.
Livia berkacak pinggang. "Lo pikir gue ke sini mau bilang terima kasih ke lo?" ujarnya sinis.
Diselamatkan oleh Sophie tdk membuatnya merasa tenang. Justru emosi dlm benak Livia
meledak-ledak. Semua itu sedari tadi tertahan karena harus menghadapi Papa dan Mama dulu.
Sophie terenyak, tdk menyangka seperti inilah respons dari Livia.
"Coba tadi, gue yg ke gap lagi ngerokok. Pasti gue abis dimaki Papa dan Mama. Tapi karena lo
yg ngerakok. Lo bisa lihat sendirikah. Mereka marah aja nggak!" ujar Livia, tdk keras, tetapi
penuh nada sindiran. Livia segera keluar dr kamar, membanting pintu didepan Sophie.
Bahu Sophie melorot. Matanya memerah. Dia tahu memang salah. Tetapi, kata-kata Livia benarbenar membuatnya merasa tertampar.
***
Dari jendela kamar, Marko bisa melihat siulet Sophie dan Livia. Dia tak berpaling dr sana,
hinggal tinggal Sophie seorang diri di kamar. Selama beberapa menit setelahnya, Marko masih
terus duduk di situ. Yg ditunggunya adalah sinyal morse dr Sophie, kalau-kalau gadis itu ingin
bersua kembali. Padahal mereka baru saja bertemu, tetapi Marko tdk bisa memungkiri sudah
ingin berjumpa lagi.

Malam sudah kian larut. .Marko merebahkan diri di ranjang. kian jelas wajah Sophie di lamuannya. Sophie tdk mungkin mengiriminya sinyal morse semalam ini. Berusaha mengusir peristiwa di rooftop yg terus-terusan membayang di benaknya. Makin keras dia berusaha melupakan. Dia menghela napas panjang.

"Apa lucunya sih?" celetuk salah satu cewek berambut panjang dan bertampang judes." Tarjo menunduk. tampaknya sedang mencerna penjelasan Sophie." Sophie menjelaskan dgn sabar. Mbak?" tanyanya polos. Kami nggak akan ganggu. nggak perlu akting. "Kami sudah lama mengamati Mas. Marko berjalan di belakang Sophie. hanya mau rekam saja. "Saya harus nangis-nangis gitu. "Kenapa mas?" "Saya nggak ingin masuk tivi kalau hanya untuk dikasihani. "Seperti di tivi . "Kita akan rekam kegiatan. Di layarnya terputar sebuah video dgn judul 'Misi Rahasia Sophie #4'. Kami dari TV Phieko. Mas Tarjo beraktivitas aja seperti biasa. Sekarang dia akan menyamar sebagai reporter berita dr stasiun televisi fiktif. Kita akan kasih bingkisan buat Mas Tarjo. Mbak. "Stasiun televisi kami mengadakan acara berbagi. Mas." "Tapi. Penjual kopi keliling yg blm terlalu tua itu memandang Sophie dgn curiga dan heran. "Selamat sore." ujarnya dgn ramah dan senyum sumringah. . Dan kami memutuskan kali ini. Siapa namanya?" jawab Sophie. Saya nggak mau dikasihani karena saya cacat. Mas. Penjual kopi tersebut merasa tdk nyaman ditahan-tahan oleh Sophie. kursi roda yg mereka siapkan khusus untuk Mas Tarjo tdk boleh menjadi sia-sia. dan Marko bertukar pandangan. "Tarjo" "Setelah kami rekam kegiatan Mas Tarjo. Mereka mengerubungi salah satu teman yg sedang memegang iPad." Sophie menelan ludah.tivi?" Sophie menunggingkan senyum lagi. Dia memberi kode kpd Marko untuk keluar menemui target misi ke empat. Mas. Mas adalah bintang tamu acara kami. sejak itu ketidaksekaanya terhadap makin menjadi-jadi.BAB 10 Sophie menunjuk ke arah luar. menyiapkan kameranya." Tarjo membisu beberapa menit. *** Gerombolan cewek . Sophie sudah mencegat seorang penjual kopi keliling. Dia belum lupa ketika Sophie merekamnya di perpustakaan. Sophie tdk berhenti membujuk.cewek itu tertawa." "Maksudnya gimana ya?" sahutnya dgn pandangan tdk mengerti. "Nggak perlu. Sekilas dia.

Dia itu ngeksplor orang cacat!" serunya cewek judes. *** "Nanti ulang tahun kamu. Mending duitnya buat Livia." keduanya tertawa. Ma. "Mama kan udah sering cerita. Sophie. "nggak usahhh. "Ma." tawa mama sudah berhenti. Terdengar suara pintu kamar terbuka. tersebar beberapa majalah remaja lain. Sewaktu mama seumuran kamu. Dia memandangi mama tanpa menunjukkan sedikit saja ketertarikan kpd majalah yg terbuka di pangkuan mama. Mau mama liatin foto?" senyum mama melebar ketika mengisahkan bagian nostalgia masa remajanya. Buang-buang duit." "Masa sih?" "Sophie sampai hafal. Ruangan itu sunyi senyap. Sophie melihat Livia yg bersiap-siap akan keluar apartemen. Mama menoleh kpd Livia. Itu tempat gaul waktu mama muda. Mending buat adek. Nanti kalau km ulang tahun ke tujuh belas." cewek yg lain menanggapi." mama menunjukkan halaman sebuah majalh kpd Sophie." tolak Sophie. Apa yg Sophie omomngkan barusan dianggapnya seperti angin lalu." Livia mengeluh dan merengek sekaligus. lagi butuh uang. pasti mama juga rayain!" . Ikat pinggang segede sabuk engkong-engkong Betawi." bujuk Sophie. Adiknya itu berjalan dgn muka tertekuk ke arah Sophie dan mama. "Mama kok ngomong gitu. Di atas meja. Polos gitu. Perhatian Sophie teralih dr iPhone-nya. Semua yg di tivi kan bokis. Sophie menghela napas. Mama pakai rok balon yg tren waktu itu. Sophie nggak mau ulang tahun dirayain gini. "Kamu nih selalu aja ngiri. mama ngerayain di Musro. Setiap detik dlm hidup Sophie jadi berarti karena ada mama" Mama kembali menatap majalah yg sedang dibacanya. Mama. langsung merebut iPad dan menulis komen pedas untuk video tersebut. kan. konsepnya yg ini aja. "Bahas pesta ulang tahun lagi? Capek deh. "Lo nggak liat apa? Misi Sophie ini udah nggak lucu lagi. "Mama mau setiap setik dlm hidup km berarti. Dia dulu mantan EO" "duitnya sayang. "Biar mama rancang konsepnya sama Tante Tita. sekarang mama memandangi Sophie dalam-dalam."Lucu lah." "Umur kamu tujuh belas tahun. Sepatu Livia udah rusak tuh ma.

. berjalan pergi meninggalkan mama dan Sophie dgn wajah kusut.Livia mendengus. Sophie menggeleng-gelengkan kepalanya. Untuk meredakan perasaan mama. Sophie menyunggingkan senyumnya. Dia mengamati ekspresi mama yg tampak menahan emosi.

Misi lo harus tetep jalan. semua ini buat apa? Jangan-jangan semua yg lo lakuin ini sia-sia. gue ngeliat dia jualan kopi susah payah. Ini semua adalah sesuatu yg lebih personal." Sophie menjeda kalimatnya dan menarik napas panjang." Marko tidak menyahuti lagi. Ekspresi datar cowok itu kali ini ingin sekali membuat Sophie mengomelinya. Dadanya sesak. "Ini orang-orang komen pada ngaco.. Tangan Sophie mengepal." "Misi gue harus berenti sampai sini." sahut Marko. Pandangannya nanar kpd Mas Tarjoyg kembali berjualan dgn tertatih . Sophie mengecek YouTube-nya selagi Marko nyetir." Marko memotong lamuan Sophie. Sophie tdk menginginkan menjadi bintang YouTube.. Tatapannya belum berpaling dari Mas Tarjo. Bahkan Marko tdk bisa mempercayainya.BAB 11 "Lah. "Dia seharusnya make kursi roda itu buat kerja.. gue bercanda kali. Dia membuang pandangan ke luar jendela sambil menggigit bibir. Dia kira tak akan ada yg peduli.tatih." Sophie tdk bisa menahan kekecewaanya. Mungkin semua yg gue lakuin ini sia-sia. "Tapi mungkin lo bener. Kursi rodanya juga nggak tahu dikemanain.. kembali menatap ke arah luar. karena setiap pergi sekolah. si Mas Tarjo nggak pakai kursi rodanya. Seriusan.. gue tadi bercanda. Kalau lo udah taruh sesuatu di socmed kayak gini." ." bilang Marko. gue harus berentiin misi ini.. Kabin mobil menjadi sunyi. Dan sekarang komen orang-orang nggak ngenakin gini. "Mungkin lo harus tanya lagi sama diri lo. Biar kerjaannya lebih gampang. "Gue kasih dia kursi roda." suara Sophie tercekat. "Yah." ucapnya lirih." ujar Sophie. Apa yg dilakukannya selama ini bukanlah untuk dirinya sendiri. Soph." "Soph. "Lo bener.." Sophie menelan ludah. Sophie menoleh kpd Marko.. "Ya udah nggak usah dibacalah kalau gitu. tidak pula ingin punya banyak penonton untuk videonya. Dia mengarahkan mobilnya meninggalkan taman itu. siapa aja boleh komen. "Dia tuna daksa dan dia pantang menyerah. Hati Sophie pilu. "Mungkin ditinggal di rumah.

Pas umur kamu yg ketujuh belas." "Iyaaa. Ma." ujar Papa." "Sekarang aja.. Pa. Sophie. Sophie. *** "Lo ngambil uang banyak banget.. Sophie menyunggingkan senyum untuk Livia sambil berpelukan. Lagu 'Happy Birthday to You' membangunkan Sophie dari lelapnya. Sambil mengucek mata dan tersenyum. Memdoakan mama. Dan Marko. Perlahan kelopak mata Sophie menjauh. Livia dan Marsya sudah ada di kamarnya." sahut mama. Ngantuk nih. "Potong kuenya!" "Malem-malem gini?" tanya Sophie. Mama langsung menghambur dan memeluk Sophie. dia melihat Mama. Surprise ini aja. keduanya saling berbagi senyum. Dielusnya rambut Sophie. . menyorongkan kue ulang tahun yg sudah dihiasi lilin." "Make a wish!" ujar Livia.**** "Happy Birthday to you! Happy birthday to you!" Kamar Sophie mendadak terang benderang dan ramai. Buat apaan?" tanya Marko usai Sophie mengambil uang dari ATM. "Besok aja deh. "Tiup lilinya. dia melirik dompet Sophie yg menggembung penuh. Tatapn Sophie dan Livia bertemu. Diikuti Papa. tersenyum. "Makasih. Papa. Sophie memejamkan mata. kan? Sophie beneran nggak mau ngerayain ultah Sophie lho. Meminta agar waktunya dicukupkan untuk membahagiakan orang-orang di sekitarnya. "Ah. Seluruh orang yg ada di ruangan itu ikut tertawa bersama. Papa mendekat. Kilauan lilin menyapa pandangannya. mengambil pemotong dan mulai membelah cake itu.. "Nah. Mengucapkan doa untuk seluruh orang-orang yg disayanginya agar terus bahagia. Semuanya. Semua di dalam ruangan itu bertepuk tangan. gitu dong.. itu sih mau papa aja yg pengin makan cake!" Sophie tertawa." bujuk papa. Marsya dan Livia.

" katanya berjalan tertatih. "Ala." Mereka berdua sudah kembali ke mobil Marko setelah mengunjungi toko mainan dan pakaian untuk membeli beberapa mainan dan juga jas hujan transparan. Marko berdiri memandangi Sophie."Hari ini kan gue ulang tahun. tanpa harus bicara pun gadis itu sudah tahu apa jawabannya. Tapi misi lo gimana?" "Mau nemenin nggak?" tanya Sophie galak. Pakai pura-pura nggak enak lagi. biasanya lo juga nggak pernah ngucapin." kilah Marko." Sophie mendesah. "He eh. "Iya. ntar gimana kalau lo punya anak?" Sophie menunjuk Marko. Marko menatap Sophie. "Gue masih SMA kali. Sophie harus menghadapi anak kecil yg menangis. "Lo sekarang mau ke mana? Pulang kan?" Sophie meringis. Lo ikut kan? Lo tega biarin gue sendiri ke sana? Gue lagi sakit perut nih. Sophie masih di situ. Bukannya malah ngetawain gue. selamat ulang tahun. wajah Sophie makin lama kian pucat.. . gue mau ngerayain ulang tahun gue dipanti asuhan.. Marko berusaha menyusul langkah Sophie. **** "Seharusnya lo ikut nenangin tuh anak. Melihat kondisi Sophie sekarang. ya. Dalam hati. iya. "Harusnya dibiasain. Selama beberapa menit. Ngapain aja gue mikirin anak. Marko mengikuti di belakangnya... Langkah Marko terhenti." kata Sophie meninggalkan galeri ATM. dia mengomeli dirinya sendiri yg pelupa. Sophie mengernyit kesakitan sambil memegangi perutnya. Marko tdk tega kalau dia harus meneruskan misi hari ini." semburnya. tdk tahu harus berbuat apa. "Gue nggak bakat ama anak kecil. Marko ragu-ragu ingin menawarkan bantuan. "Lo kenapa? Datang bulan lagi?" tanyanya agak cemas. Meraih tangan Marko. Emang lo udah mikirin punya anak? Pacar aja belom punya. "Eh.. Sori lupa. lagi pula dia tdk benar-benar tahu apa yg harus ditawarkannya. Namun. Tdk sengaja di toko pakaian tadi. Tapi nanti sore. tetapi yg dikejarnya malah berhenti." Sophie menoleh.

"Arya. itu bukan Papa. Di samping Sophie. Tahu-tahu anak kecil itu memeluk kaki Marko yg memasang mimik kebingungan. Arya malah mendekati Marko. "Ayo.. Nggak tahu maunya apa. Semestinya tingkah pola anak-anak kecil itu yg diabadikannya. kita keluar!" timpal staf panti sama antusianya." tambah Marko." **** Sophie dan Marko dikelilingi anak-anak kecil yg sangat antusias dan bersemangat. lalu menghampiri Marko. Serempak semua orang-orang di dalam ruangan tertawa." ibu pengurus panti memberi peringatan kpd semua anak yg mulai ribut dan berdesakan. seorang anak berusia kira-kira empat tahun berlari menyela kerumunan untuk meminta jatahnya. Marko mendelik." ujar seorang pengurus panti. Dia berdiri di depan tumpukan hadiah hingga ada anak panti lain yg mengambilkan bingkisan dgn label 'Arya' "Arya bilang makasih ke Kak Sophie. Senyum jahil menghiasi wajah Sophie. Ruangan itu sendiri tdk terlalu besar. Semuanya kebagian. Sophie menunggu hinggan semua anak keluar. Suasana langsung ramai. "Lo harus belajar ngadepin yg buat lo annoying. "Papa. Sophie terus-terusan tersenyum karena anak-anak yg menurutnya lucu itu." godanya terkikik. "Adik-adik kita main di luar yuk!" ajak Sophie bersemangat." sapanya meluncur dari bibir kecil Arya.. **** . setelah yg cewek bikin bingung cowok. Sophie dan Marko bertukar pandang.. tetapi berkali-kali lensa handycam-nya mengarah ke Sophie. Ketika semua sedang berusaha untuk rapi.. "Anak-anak."Anak kecil itu makhluk kedua. Anak-anak keluar dgn mulut penuh celoteh. mereka semua berusaha bersikap baik." Bukannya berlari menuju Sophie. jangan berebutan gitu. Marko merekam dgn handycamnya. Dan sama-sama annoying.. bergegas keluar ruangan lebih dulu. "Papa. Kak Sophie udh bungkusin satu-satu buat kalian. memimpin rombongan kecil itu ke arah pintu keluar...

Akhirnya. Di depan anak-anak yg sudah tdk sabar. Saat giliran Arya." Tidak sedikit pun Marko bergerak dari tempatnya." Sophie terus menguber sahabatnya. bergerak mundur dan menjauh... "Liat ntar ya. "Ini balon buat Arya. Dulu Sophie masih sering bertanya. Sophie akan melakukan dr dulu tanpa harus menunggu misi-misi rahasianya. Sophie melambaikan balon itu sambil menatap Marko. "Anak kecil aja nggak takut sama balon!" teriak Sophie pd Marko ketika menyerahkan balon untuk Arya. "Komaarrr! Gantian dong!" serunya. gue bakal bales!" katanya penuh dendam. Matanya bersinar senang. Di hadapannya. Kesal di paras Marko kian mengental. berebutan mengambil balon. kalau gue tahu lo fobia apaan. jawaban anakanak langsung merebut perhatian Sophie lagi. Dia merasa jahat sih. Sophie berhenti mengejar Marko. Dia cuma memandangi Sophie dgn tatapan yg jelas-jelas menolak. Kak Marko! Ada anak kecil. Marko menunjuk Sophie dr balik batang pohon.Dibantu petugas panti. "Lo kan tahu gue fobia sama balon!" jeritnya. berusaha menghindar dr Sophie. Sophie tergelak mendengar jawaban Marko. Anak-anak berteriak girang. Marko tak pernah menceritakan dgn lengkap tetntang fobia itu kpd Sophie. Mereka mengerumuni Sophie. "Jangan ngomong kasar dong. "Siapa yg mau balon?!" Sophie berteriak sambil mengerling pada Marko. . Arya sudah kelihatan tdk sabar menerima balonnya. Perlahan-lahan dia menjauh dari situ. Marko yg berdiri di pinggiran langsung memucat. "Awas lo ya!" serunya. Hal itu seperti sebuah rahasia yg kalau dibocorkan benar-benar gawat. Sophie menyiapkan alat-alat yg akan digunakan untuk bermain. Sophie lah yg mendekati Marko duluan. akan tetapi demi balon-balon ini dan. Sophie tdk terlalu peduli. Tetapi. Sophie dan petugas panti mengisi balon-balon pilihan anak-anak itu. membuat Marko segera menoleh. Sophie rasa Marko tdk benar-benar fobia. Kalau berbagi ternyata semenyenangkan ini. Namun. Bahkan sampai-sampai dia lupa untuk terus merekam. Sophie mengeluarkan sebungkus balon yg belum di isi udara. lamakelamaan dia bisa beradaptasi dgn ketakutan Marko kpd Balon. Trauma apa pun itu. membuat hati Sophie diliputi kebahagiaan.. Dia kembali ke tempat tabung gas dan memutuskan mengisi balon milik Arya. Sikap Marko itu menghiburnya juga.

Seorang petugas panti sampai. Tampak Arya yg bediri terpana karena balon miliknya melayang terbang. Anak kecil itu malah menggeleng. seakanakan mereka akan diminta berpisah selamanya. balon itu tertahan di antara rantingranting pohon. kan apa yg dia bilang. Arya menangis makin tak karuan.Teriakan Arya memutus khayalan Sophie. lo kan cuma narik benangnya aja." bujuk Sophie. Marko mendesah. Kalau ada pilihan antara pergi ke medan perang atau memegang balon. Marko. mama. Arya duduk di rerumputan. "Kakak amniliin ya sebentar. Tak jauh dr mereka. Anak kecil memang menjengkelkan.sampai bergegas menghampiri. semua orang menatapnya. Selama beberapa saat. Dia menoleh ke sumber suara. Akhirnya. Marko hanya membisu. "Naik aja. Sekarang. Marko dgn langkah bimbang maju pelan-pelan mendekati pohon. Dia benar-benar tdk mau mengambil balon itu. Sophie berjalan mengikutinya. Benar. "Lo nggak lihat nangisnya sampai kayak gitu? Ayolah. Sungguh. Sebelum menaiki pohon itu. Marko. terus turun dan pegang talinya. tangis Arya langsung pecah. Marko tdk pernah membayangkan kemalangan yg lebih buruk dari pada ini." seorang petugas panti langsung sigap menanggapi permintaan Arya." suruh Sophie lembut. "Ogah!" pada saat itu juga." ujar Sophie tiba-tiba muncul di sebelah Marko. Arya pun masih menunjuknya. Senyumnya mengembang dan matanya penuh binar. Marko menyeret kakinya mundur. bersembunyi di balik pohon. dia menatap Sophie. Marko sangat akan mengikuti tawaran pertama. Dia memandang kpd semua orang di sana. papa dan si tukang balon. Seorang petugas panti berusaha mengambilkan. Dia menggaruk rambutnya yg tdk gatal "Arya maunya lo yg ngambil. "Nggak mau. menangis seolah tdk akan berhenti. Ketika dia mengintip lagi dr tempatnya. "Balon Arya ambiliiin!" anak itu menjerit dan meloncat-loncat. Pengalaman memalukan sekaligus mengerikan yg hanya diketahui dirinya. . Maunya papa. "Udah tunggu apalagi sih?" desak Sophie." ujarnya menunjuk Marko. Nggak megang balonnya. namun membuat tangis anak kecil itu makin parah. Balon itu mengingatkan kpd pengalaman masa kecilnya.

Sorakan girang memanuhi telinganya. Ketika sudah dekat dgn balon. Marko teringat pada masa kecilnya yg banyak dihabiskan dgn papa. Sekali lagi. Amat lega. menatap Sophie sebentar lagi. Perasaan itu sungguh membingungkan bagi Marko. Sementara rumah papa ditempati bersama keluarga barunya. Tawa kecil gadis itu meledak. Benar-benar menggemaskan. anak-anak sudah berkumpul kembali. **** "Sekali lagi lo ngerjain gue pakai balon. Pura-pura tdk memedulikan pernyataan Sophie. Keduanya saling pandang. Sapaan itu sebenarnya sangat mengganggu dan membuatnya risih. semoga ketika memanjat hal itu tdk menyebabkan apa-apa. Dia menghela napas ketika melepaskan ponsel ke bawah. Dikeluarkannya ponsel dari dalam saku. Dia menarik napas panjang dan berdoa. Marko menhela napas. Ujung tali balon itu pun terenggut. Membuat Marko makin kesal tapi juga senang. Sophie bangkit. Namun. Keringat dingin muncul di punggung dan pelipisnya. Tetapi balon menguras semua energinya. Di depan mereka. lalu mulai naik." "Tadi kayaknya pas balon lewat deket lo. Antara mau dan tdk mau meraihnya..Marko tahu tdk akan bisa mundur lagi. lo biasa aja. Perlahan balon itu ikut jatuh bersama ponsel. dia menyemangati dari bawah dgn menyerukan 'papa' berulang-ulang. pohon itu tidaklah tinggi. Setelah bercerai. Marko menarik napas panjang. Dulu mereka sering bermain bola bersama dihalaman belakang rumah. Satu-satunya jalan untuk menghentikannya tentu saja dgn menyerahkan balon itu lagi kpd Arya. Bayangan-bayangan tentang masa lalunya berkelabat. Semuanya mengenakan jas hujan warnawarni. Tangis Arya sudah agak mereda. Tangannya pun terasa licin. Mama membawa Marko tinggal di apartemen. Sekilas. Biasanya kan udah histeris.. ujung tali Marko ikat disana.. Marko sempat diam beberapa menit.. "Kalian udah siap?!" Pertanyaan itu di jawab dgn koor serempak. "Udaaah!" . Matanya tertutup ketika balon itu melewati dirinya. ingatan akan senyum Sophie berkali-kali menyeruak dan menghancurkan bayangan buruk itu." potong Sophie sambil mencepol rambut panjangnya. Marko terengah-engah. Meski gemeteran Marko melakukan secepat yg dia bisa. Marko menghabiskan minuman yg diberikan Sophie kepadanya.. Menandaskannya dalam sekali teguk saja.

Sophie mengambilkan sesuatu dr dalam tasnya. Ada cat di dalam balon! Setiap balon yg pecah akan mengeluarkan cat warnawarni. Dan tawa itu kini diselingi jeritan-jeritan mengejutkan. Tawanya terhenti ketika merasakan ada balon yg mengenai tubuhnya. Dipakainya jas hujan itu. membayangkan dirinya adalah pangeran dan Sophie menjadi putri." ujar Sophie. Jas hujannya kini penuh cat. dan bocahbocahnya yg berderet itu adalah kurcaci-kurcaci. Sophie memberi kode kpd anak-anak disekitarnya. Mengambil bola balon terdekat dan memboardir anak-anak itu dgn cara yg sama. Dia sendiri memegang jas hujan warna merah transparan. Satu paling keras diantara itu semua adalah tawa Sophie. Dia menarik tangan Marko untuk ikut bergabung dgn anak-anak. Sophie menyeringai kecil ketika Marko kembali memasang ekspresi sebal dan terkejut. terdengar tepukan tangan. Pemandangan di halaman itu kini menjadi kian berwarna. Setelah di rasa pas. apalagi kalau berhasil menghindar. Menurt Sophie. "Udah pakai cepet!" suruh Sophie. Anak-anak langsung menyerangnya dgn bola balon. "Filmnya mulai sekarang ya. dia adalah gadis yg penuh impian. Noda cat ada di bagian jas hujannya. Anak-anak langsung berebutan mengambil bola balon dan saling lempar. tdk sabar. Anak-anak tertawa senang. sesuai dgn isinya. mendadak tertegun saat pandangannya jatuh ke arah lilin." Jawaban Marko sontak disahuti dgn tawa anak-anak. Sophie memberi isyarat kps anak-anak untuk berjajar. "Buat apa? Mau main ujan-ujanan? Nggak mendung gini. menekan tombol 'on'. Tujuh belas. Ketika mereka berdua sudah berpenampilan sama dgn anak-anak lainnya. Dia tak pernah memikirkan . Marko memandang jengkel kpd anak-anak kecil yg tampaknya tahu lebih banyak daripada dia. Beberapa petugas panti membawakan banyak balon. wajah Marko saat itu selalu terlihat cute. bersamaan dgn Sophie. Sebuah jas hujan transparan warna biru tua untuk Marko. Sophie membantu Marko memasang tripod dan mengecek arah lensa. Marko menatap Sophie tdk mengerti. jas hujan berbagi rona yg di nodai cat warna menyala. Marko nyengir hingga deretan giginya yg rapi terlihat. Sophie mengeratkan genggaman tangannya kpd Marko agar dia tdk lari. Ketika dirinya berumur tujuh belas tahun. Saat dia melepaskan tangan Marko dan cowok itu berusaha lari. Mama yg hendak mengembalikannya ke kulkas. Suara gaduh tawa mengisi sore itu. Dia memandangi sengit pada anak-anak yg lari berhamburan. "Aryaaa!" jerit Sophie **** Cake di atas meja ditinggalkan Marsya begitu saja. Tdk jauh darinya seorang anak kecil terkiki geli.

Mama menatap papa.. Matanya memerah. tanpa menatap Sophie. Paras papa sama nelangsanya. Kepiluan yg seharusnya tak mereka tunjukkan di depan putriputrinya. Meski sikap mereka biasa-biasa saja.. "Kamu lagi apa?" tanya papa. Mama mengangkat ke dua lilin dgn tangannya. mendadak penuh air mata. dia menjalani masa remaja yg amat menyenangkan. Rahasia yg tak ingin mereka bagi dgn anak-anak. "Tahun depan. Semua itu tdk meleset.. Nanti Sophie liatin rekamannya ya. Pa.. "Pa.bagaimana kalau tiba-tiba hidup mengambil kesempatannya meraih mimpi. "Tahun sepan. Mama pura-pura sibuk meletakan cake kembali ke dalam kulkas. Ma." Mama terbata. membisikkan kalau semua akan baik-baik saja kpd mama. Dia ingin mengatakan sesuatu tapi kesulitan.. aku nggak tahu. dia tahu kalau ada sesuatu yg terjadi antara mereka. Dia tersentak saat ada yg menyentuh bahunya. . tersenyum tipis. dia juga ingin Sophie merasakan hal yg sama. Matanya yg tadi bening. mengamati kedua orang tuanya. "Baru pulang? Gimana tadi acara ulang tahunnya?" tanya papa. Dia tak mau Sophie melihat dgn air mata mengalir di pipi. Papa melepas pelukannya. membuyarkan lamuannya Sophie.. Mama menghapus air matanya ketika mendengar seseorang masuk ke dalam apartemen. Berkali-kali seolah-olah dia bisa berhenti bernapas kapan saja. aku ke kamar dulu ya." Kalimat itu terputus saat papa merengkuh mama dalam pelukannya. Apakah aku masih bisa. Dia menarik napas panjang. Seakan ada beban berat yg sama-sama mereka tanggung." Mama menganggukan kepala. "Seru." Sophie tertegun.." jawabnya. "Ma.

Ada perasaan yg tdk enak merambati hatinya. Seharusnya. Pandangannya pada Sophie masih begitu ganjil. Marsya membukakan pintu untuknya dan memberi tahu kalau Sophie sedang sakit. dia baik-baik saja. "Tante tinggal. masuk. "Marko. mama bangun dari duduknya. Sophie. sesantai mungkin. Jangan-jangan ini karena misi mereka kemarin. "Iya. suaranya parau. Sebenarnya pencariaanya bukan hanya atas dasar cemas. perasaan kalau tdk semestinya Sophie tdk terbaring di sana." Marko mengurut pelipis. atau ada apa-apa yg menimpanya. "Oke." jawab murid itu. . Kayaknya gak ada kabar deh. "Flu. Marko kembali mencari-cari Sophie. sepulang seklah. tante. mengelus lengan Marko. menggaruk bagian belakang kepalanya yg tdk gatal. "Hah? Kenapa? Izin?" "Nggak tahu. Janjian untuk berangkat bersama pun diabaikan. Sophie sedang berbaring dan ada mama Sophie duduk di sebelahnya. Marko memutuskan untuk mendatangi unit apartemen Sophie. dia berusaha menghubungi Sophie lagi. Thanks. "Lo sakit apaan?" tanya Marko." Marko menempati tempat yg tadi di duduki mama. kelas Sophie langsung menjadi tujuannya. Memandangi murid itu sampai beberapa detik berlalu. Marko menarik kepalanya. tetapi karena ada kejutan untuk gadis itu. Tetapi. Akhirnya. menoleh kpd temen sekelas Sophie itu. Hasilnya tetap nihil. mungkin Sophie memang tdk masuk hari ini. Jawaban itu tdk memuaskannya. Pada jam istirahat. Sejak kemarin gadis itu tdk membalas pesannya." ujar mama. bukan itu yg mengganggu pikirannya. mengangguk. Marko mengangguk. Pagi-pagi sesampainya di sekolah. tetapi Marko tahu lama-lama berdiri di situ juga tdk akan mencerahkannya. "Sophie nggak masuk." jawab Sophie.BAB 12 "Sophie mana." ajak mama Sophie. ya. Dilihatnya. Marko tersenyum. ya?" tanya Marko di depan kelas Sophie. Sophie terlalu capek dan akhirnya jatuh sakit. Marko khawatir dia berbuat kesalahan hingga Sophie ngambek lagi. Akan tetapi situasinya tetap sama. ponsel Sophie tdk bisa di hubungi. sesuatu yg lain." Sambil berjalan ke kelas. Dia melepas topi bitu favoritnya dari kepala.

sini. "Gue lagi lihat video hasil rekaman lo. Dan dia minta lo ngelanjutin misi-misi lo." katanya. Kalai sempat. Pandangannya masih tertuju ke layar handycam. Hati Sophie menghangat setelah tahu bagaimana kabar Mas Tarjo sekarang. ." "Sssttt. "Sakit flu. Sophie berusaha mempertahankannya. dia sama sekali tak ingin Marko tahu kalau dirinya sedang sakit. terlihat rekaman si penjual kopi keliling. Kalau begitu sakitnya. Akan tetapi. Walau dia nggak ngeh juga soal beginian. Marko kelihatan berinisiatif sendiri datang ke sini dan menjenguk Sophie." Marko mengambil kameranya lagi. Sebenarnya. tetapi dia tak pernah benar-benar memerhatikannya. Lo mau kan ngelanjutin misi lo?" Sophie tdk langsung menjawab. Marko mengambil handycamnya dari dalam tasnya.Marko mengamati wajah oval Sophie yg begitu pucat. Mata hitamnya yg selalu penuh binar. mas Tarjo ngomongnya panjang. Nggak lagi dapet kan?" tanya Marko melihat Sophie memegangi perutnya sambil meringis." Sophie terkekeh. "Kursi roda itu. Tak punya banyak tenaga untuk menjawab Marko. kini seakan melayu. menggeser duduk hingga bersebelahan dgn Sophie. Sophie hanya tersenyum lemah. gue lagi liat rekamannya nih. biar gue nilai dulu bagus enggaknya video lo!" Marko berdecak. bisa jadi karena diet-dietan yg sering dijalani cewek-cewek. "Lo liat ini deh. Mending lo dengerin nomongan gue. seakan melebar dari satu sisi wajah ke sisi yg lain. "percuma. Tentu saja hasil rekaman Marko jauh lebih bagus daripada yg pernah dibuat Sophie. tetapi tenaga Marko lebih kuat. Sophie mencondongkan tubuhnya. Uangnya buat biaya adiknya msih di rumah sakit. Komaaarrr! Kok direbut sih. Lebih kurus mungkin. Video yg di tontonya sudah selesai. Katanya mau jadi sutradara terkenal." ujar Sophie. tapi nggak jelas. Di layar kamera. Marko seperti melihat perubahan dalam diri Sophie. Rambutnya berantakan dan tak terikat. Senyumnya sumringah. Gue dengerin sambil nonton video. mengangsurkan kembali handycam-nya. Setidaknya misi yg dijalankan tdk sia-sia. tapi kok lo kayak kesakitan gitu. Kadang. Diam-diam setelah ulang tahun Sophie. "Nah gitu dong. Marko mendatangi Mas Tarjo untuk menuntaskan pertanyaan yg belum mereka tahu jawabannya. "Dia makasih banget sama lo. Udah lanjutin cerita lo. Kalau ada uang juga bakal di tebus kok. digadaikan Mas Tarjo ke saudaranya. mungkin nanti Sophie akan minta tips-tips dari Marko bagaimana membuat video yg bagus.

Senyum teduh menghiasi wajah tirusnya. Imel." "Gue.." "Anjrit! Lo ngerjain gue ya?!" "Sekali jalan. seolah-olah dunia mengatur untuk dirinya sering melihat sosok gadis ini.." Imel menyilakan. Beberapa saat kemudian Marko ikut bergabung dalam tawa Sophie. Dengan terpaksa." Mereka terkejut. dan tdk kepada Marko? Kening cowok itu berkertut. "Ok. itu misi kelima. dia malah bertemu dgn seseorang yg dikenalnya. oke. senyum tipis muncul di bibirnya."Kalau kita baekan. Sophie berharap itu akan jadi selamanya." katanya kale... Berbagi sama anak panti asuhan. kita lanjut misi keenam. Terlebih ketika pandangan Marko tersita pada keranjang buah ditangan Imel. **** Marko tdk lama berada di apartemen Sophie... menatap Marko dan mengembalikan handycam.. Dia terkesiap. Karena dia ingin Sophie segera istirahat. Marko pun menyapa gadis itu. Di koridor. Membicarakn misi membuat wajah Sophie agak bersinar.." katanya. Komaarrr! Sekali dayung dua tiga pulau terlampaui!" Sophie cekikikan. . Tanpa sadar. "Elo aja ngomong duluan. tiba-tiba kata itu terbesit dalam otak Marko. "Hah? Misi kelimanya apaan?" "Waktu lo ketakutan sama balon pas ulang tahun gue itu. Mereka berdua mengingat memori masing-masing tentang hari lalu. akhirnya Marko bergegas. kembali menatap paras Imel yg cantik. Sophie mengarahkan tatapannya kpd Marko. Sekarang. "Gue. "Ini buat Sophie. Ada kehangatan di dalam benaknya saat melihat Marko tertawa lepas seperti sekarang." Keduanya berdiri canggung di lorong apartemen yg sepi itu. Pertanda. Nah. karena saling bicara bersamaan. Terusan berwarna lembut yg dipakai Imel kian menegaskan pipinya yg bersemu merah. Sophie memberi tahu Imel kalau dirinya sakit.

Ko." katanya singkat tanpa menatap lawan bicaranya. "Ngg. Di situ.. Gue balik dulu ya.Apa yg Marko ingin sampaikan sudah terlupa. Marko mengacak rambut tebalnya hingga berantakan. "Iya. meninggalkan Imel dgn langkah-langkah panjang. Imel masih berdiri. Akan tetapi. . menatap kepergian cowok itu sekilas." Marko membalikan badan. dia tdk melakukannya. Lalu mulai berjalan pelanpelan. Dia menghela napas. pada sosok Marko yg menjauh. Dalam hatinya muncul keinginan untuk menengok ke belakang. Hati-hati ya.. Imel menganggukan kepala.

waktu kemarin gue dari tempat lo. mama kan udah janji. "Eh. **** "Kamu mau pergi? Sophie. nyengir. menahan tawa. menoleh kpd mama. kalau mama dan papa nggak akan melarang Sophie ngelakuin tujuh misi. lo cemburu. Perpustakaan itu sepi pada jam istirahat. "Bisa diem nggak?! Ini perpus bukan mal!" Marko dan Sophie saling tatap. Dia tinggal di apartemen ama lo. Sophie memalingkan pandangan. gue ketemu Imel di lobi. cekikian. Tubuh Marko berguncang di kursinya. "Bisa diem nggak?! Ini perpus bukan mall!!" Kali ini gantian Marko yg mengikuti kalimat itu tanpa suara." Langkah Sophie terhenti. gue bisa deket sama Imel. "Sepulang dari rumah sakit. Terlebih ketika Marko melihat Sophie mengulang kalimat si petugas perpustakaan tanpa suara. sedangkan lo nggak?" "Mulai deh bikin hipotesis dari imajinasi. Dia menghela napas. Gantian Sophie tak bisa membendung tawanya." keluh Sophie menggeser buru dari depan matanya. dia tahu gue sakit. Lo kenapa sih? Lo cemburu gue punya temen selain lo? Atau.BAB 13 "Beneran udah sembuh lo?" selidik Marko. mencari cara untuk menarik perhatian gadis itu. Murid-murid lebih memilih untuk jajan bersama temantemannya dibanding berada di sini. kan apa gue bilang. "Tuh." sangkal Marko dgn suara keras. Lagian dia itu dateng ke tempat lo." "Ya jelaslah gue ketemu dia. Huruf-huruf yg dibacanya seakan berantakan karena pertanyaan itu. dia membenahi letak tas selempangnya." Sophie mengangkat wajahnya. gue ketemu Imel. "Komaarrr! Ganggu aja sih? Gue lagi ngerjain tugas nih." sahut Marko dgn nada tinggi." . "Dia kok bisa tahu lo sakit? Lo deket ya sama dia?" tanya Marko curiga. Marko berdecak. menarik kursi di samping Sophie. Memandangi tumpukan buku di meja Sophie. Jadi. "Ma. kamu kan baru aja drop. Otaknya berputar. dgn suara pelan. alam suka ngasih pertanda.

Dia menggeleng-gelengkan kepalanya seraya mengelus dagu." Sophie mengacungkan jempol. "Sophie janji kali ini akan jaga diri." Sophie menyerahkan pakaian itu kpd Marko dan mendorong tubuh cowok itu agar beranjak dr depan laptop. . Mama pasti akan ngerti kalau mama ada diposisi Sophie. Tetapi sekarang tujuan Sophie adalah apartemen Marko. Dia menggengam tali tas selmpangnya dgn gelisah. "Heehh?!" Marko melotot." kata Sophie. Misi keenam sudah saatnya dijalankan. Sophie harus bicara kpd mama agar berhenti terlalu memperhatikan dirinya." "Siapa juga yg mau lo dandanin jadi cewek." Sophie menghela napas. menelisik koleksi pakaian Marko yg tergantung. Inget pesan dokter. "Balik badan lo." ujar Sophie menarik pintu lemari Marko. "Sophie pergi ya." ancam Marko sengit. "Sekarang kostum apa? Gue nggak mau lo dandanin macem-macem." "Lo udah mandi kan? Gue buka ya lemarinya?" kata Sophie. Lumayan juga lemari cowok itu." "iya." Sophie mendekati mama. "Ini oke. "Ngapain lo kesini? Kan. "Lo mau cari apa sih?" "Gue nggak mau lo salah kostum. bikin curiga aja. ma. "Kamu hati-hati ya. Ma. kamu nggak boleh terlalu capek. "Mama memang udah janji. "Memangnya lo nyimpen baju cewek di sini?" Sophie meraih jas suede dan kemeja lengan panjang. Masih ada Livia dan Marsya yg juga butuh kasih sayang. tapi mama nggak bisa liat kamu sakit seperti kemarin. "Kok langsung ditutup. tetapi tak kuasa menyakiti hati orang yg disayanginya itu. Sophie tdk tahan menatap mata mama lama-lama. Nggak ada ya pakai baju cewek. Umurnya sudah tujuh belas tahun. Awas lo ngintip.Mereka saling pandang." ujar Sophie kpd Marko. ingin sekali dia rasanya mengatakan itu kpd mama. mengamati Marko yg hanya menggunakan kaos kucel dan celana pendek. tetapi dia selalu merasa dianggap seperti anak kecil. lalu berlalu dari mama. "Hayo! Ngapain?!" Kedatangan Sophie yg tiba-tiba membuat Marko langsung refleks menutup laptopnya." pamit Sophie bergegas berlalu dr mama. Mungkin setelah ini. ayo. Sophie merasakan tangannya di genggam oleh mama. Lo coba deh. mencium pipinya. cukup rapi. Sophie bisa menjaga diri sendiri. katanya jam setengah delapan ketemu di lobi lo.

. saraya merenggut pakaian itu dr tangan Sophie.. Tetapi...Marko melirik Sophie sekali lagi.." Marko menuruti permintaan Sophie. "Puas?" Marko melepas baju yg dipakainya di depan Sophie. matanya menyipit. "." ujar Sophie. ini cowok oke atau nggak." telunjuknya berpindah ke arah dada. seolah-olah ada yg salah pada Marko. Kali ini jatuh pada jaket wol dan kaus warna terang." Sophie mengomel lebih panjang sambil berkacak pinggang. Sophie meninggalkan Marko yg sedang memasang kancing kemejanya. Bukan buang waktu!" "Kalau urusan cowok gitu juga? Dinilai bolak-balik baru mastiin yes yg ini. . buang waktu. tiap hal punya aturan maen sendiri. Padahal selama ini. Scanning itu masuk ke sini. melipat tangannya di dada. "Nggak ada ya. kalau lo nggak nyoba yg lain. "Gue tunggu di luar!" katanya. buat masuk ke sini. "Udah nih" Sophie mengerutkan kening. "Yang ini oke nih. Marko terbelalak." "Buat urusan cowok. Cewek cuma meluangkan waktu 'lebih' buat urusan begini. lagi dan lagi. Ini aja deh. menunjuk pelipisnya. istilah wasting time." katanya. menutup kedua matanya dgn tangan. Buru-buru dia mengganti t-shirt yg dipakainya dgn pakaian pilihan Sophie. "Gue belajar standar aja dr cewek. Cewek itu tersenyum lebar. "Gimana gue mau yakin ini yg paling pas. Sophie tdk pernah protes dgn pilihan pakaiannya yg cuma itu-itu aja. Tanpa berkomentar apa pun. Cewek cuma perlu waktu beberapa menit buat scanning. Pantesan cewek kalau shoping lama banget. Bener-bener ya. waktu yg nentuin. "Hadeehhh.tapi.." ujarnya misuh-misuh.. Pelan-pelan dia mundur menuju pintu. "Coba yang ini. "Tadi katanya nggak mau diintip! Nggak konsisten banget!" seru Sophie. "Sophie! Ini kan baju pertama yg lo pilih!" Marko tampak berang. Sophie kembali memilih-milih pakaian dr lemari. mata Sophie rupanya tdk mudah terpuaskan." oceh Marko. mengambil baju dr tumpukan terbawah. menarik pintu sampai tertutup. memastikan kalau cewek itu sudah berbalik badan.

Marko keluar dr kamar dgn pakaian pilihan Sophie. dia menyukai jAri-jemari Sophie di lengannya. Sophie-nya nggak dandan?" Sophie terkekeh." balasnya." kata Sophie. "Udah?" Marko mengangguk.Diluar kamar. **** Marko dan Sophie berjalan beriringan di sebuah restoran yg lumayan mewah. Dia menunjuk ke satu arah. "Nggak rapi banget sih. Kehadiran Sophie rupanya membuat mama Marko sejenak mengalihkan diri dari pekerjaannya yg tdk habis-habis. Sophie berhenti berjalan. Marko ingin membantah. "Tante. Sophie bertemu dgn mama Marko yg sedang bekerja." Sejurus pertanyaan itu berlalu. menunjuk kemeja Marko yg dibiarkan di luar celana. Mama Marko menatap keduanya lekat-lekat. kami berangkat dulu ya. tetapi dia mengalah dan mengikuti mau Sophie. hilir mudik di depan pintu Marko. bossy. Masih ada cukup waktu untuk sampai di tempat pertemuan tanpa terlambat. Gadis yg terlihat resah itu tdk . Seorang gadis yg familier bagi mereka berdua duduk di meja tersebut. "Iya tante. Beberapa kali. Masukin dong itu. "kalian mau ke mana? Kok Marko rapi gitu. Dia berdiri. "Mana Marko-nya?" "Lagi ganti baju tante. Sophie melirik jam tangan merahnya." Sophie menarik tangan Marko mendekat ke pintu resto. menggaruk bagian belakang kepalanya. Sophie mendesah. "Sini kameranya gue yg pegang." Mama Marko tersenyum kpd mereka berdua. Gue ngadain date buat kalian berdua. Sampai di depan pintu resto. "Gue ngerancang ini buat seseorang dan lo terlibat di dalamnya. Marko membalasnya dgn jengah. "Kenapa bukan gue yg megang?" "Sekarang lo jadi bagian dari misi rahasia ini. Meski tak bisa dimungkiri. lalu melirik Marko." katanya." "Gimana maksud lo?" tanya Marko. Sophie menggamit lengan Marko.

Games. Secepat kilat. "Marko. Efek sakit beberapa hari lalu belum sepenuhnya lenyap dr tubuhnya. Dia sulit fokus terhadap jalanan di depannya.menyadari jika sedang diperhatikan. jangan pergi. Anggap ini tekateki." Marko menahan amarahnya. "Sophie. Ko. menahan sakit." Sophie membisu sejenak. Coba membaca apa yg sebenarnya ada di balik tatapan satu sama lain. yg nggak jadi dateng." Mata Sophie tampak amat memohon. Marko tdk menanggapi. kaget dgn reaksi Marko. "Gue nggak bisa jelasin sekarang. Sekarang. Gue tanya dan lo gak pernah jawab. Marko menelan ludah." kata Sophie tercekat. memaksa Sophie setengah berlari mengejarnya. Suara mengaduh dr belakang. takut2 kalau gadis itu jatuh lagi. Misinya tak boleh gagal di tengah jalan. "Lo harus liat polanya. Sophie pun mengikuti Marko. menatap Marko. Marko teringat janjinya. namun Sophie dgn cetakan menangkap tangannya." jawab Sophie lirih. gue rasa wajar kalau gue nanya ini ke lo. gue ngikutin apa aja mau lo. meminta pengertian. "Kasian Imel. Pandangan mereka berserobok. Napasnya kembang kempis. Dia menoleh. Mukanya mengernyit. Gue nggak bisa bantu lo. . Tebakan. gue nggak pernah tahu apa maksud dr misi-misi lo. Keadaan itu sungguh ganjil. Harus nunggu seseorang. Menatap sekali lagi ke arah Imel. please. menghentikan langkah Marko. Marko mengentakkan tangannya dr genggaman Sophie. Setelah itu. Sophie terkesiap. Bayangin kalau Imel itu gue. Langkah kaki Marko yg besar-besar. menemukan Sophie yg terduduk. Pelan. Gue diem aja. "Please. Mestinya memang dia tdk mengikuti mau gadis yg baru saja sembuh dr sakitnya itu. Soph. Teringat binar mata yg tak akan pernah dibiarkannya redup. tdk juga berkelit dr Sophie. Marko langsung menghampiri Sophie. Dia menggigit bibir. Kepalanya terasa berat. Marko berjalan lagi. membantunya untuk bangun. dia melepaskan pegangannya. "Kalau gitu. Dalam hati dia minta maaf kpd Imel karena harus membuatnya menunggu lama. Tangan Sophie begitu dingin. Dia masih memegangi lengan Sophie. mereka nyaris tak pernah bertengkar seperti ini. sampai kakinya kehilangan keseimbangan dan membuatnya terjatuh." Sophie menggigit bibirnya lagi. maaf." "Gue lagi nggak mau main tebak-tebakan." ujarnya ketus. Menarik napas panjang. lalu berbalik pergi.

tdk membuat Marko menjadi nyaman. "Oke. Selain Marko dan Imel." komentar Marko. "Marko! Lo kacau ya! Mesen wagyu steak lagi! Trus pakai sok-sokan mau pesen wine! Mahal tau! Lagian umur lo berapa?!" ujar Sophie.. Itu menebalkan kecantikan yg dimiliki Imel. Dalam hitungan tiga. Sophie terkekeh ketika sebuah ide melintas di benaknya. "Gue denger steak di sini enak. **** Suasana restoran itu amatlah romantis untuk berkencan. "Itu wine ya? Gue nggak minum wine. Dia melepas sepatunya. Dia tdk mungkin mengejar Marko dlm keadaan seperti ini. "Mau coba? Gue mau pesan wagyu steak. "Gue air mineral aja deh. tepat mengenai sasaran. Sophie yg terengah-engah berenti berjalan." "Hmm. Udah siap pesen?" Imel mengangguk. Sebisa mungkin dia menghindari kontak mata dgn Imel. . Dan Marko berharap sesi makan malam ini segera berakhir. menutup buku menu.. Marko pun memanggil pelayan. Imel tersenyum. sementara Imel tdk bisa menyembunyikan rasa bahagianya. banyak pasangan lain yg memilih makan malam di tempat tersebut. matanya masih tertuju ke buku di tangannya. Dia duduk kaku seperti patung. saat membaca buku menu. bicara lebih dulu sebelum Marko menyemprotnya dgn sejumlah keluhan ini dan itu. Wajahnya makin mendung. meski memang pernah mencicipi beberapa kali di restoran mamanya. Boleh deh gue pesen yg sama. "Oh ya?" sahut Imel. Marko menoleh setelah merasakan ada yg menimpuk bahunya. sepatu itu melayang. **** "Marko tunggu!" Cowok itu tetap berjalan dan tdk mengindahkan panggilan untuknya. Dukungan suasana itu. Sambil menunggu pesanan mereka mengobrol basa-basi.Tidak juga malam ini." akunya. Pilihan Sophie memang tdk salah." katanya. Gue medium well ya. "Gue juga sih." ujar Imel jujur. Mengambil ancang-ancang melempar sambil menggigit bibir. memegangi perutnya yg nyeri. Alis Marko terangkat.. Gimana kalau minumnya chardonnary?" tawar Marko.

Setelah sekian lama. gue nggak punya kewajiban buat nganter dia pulang."Oh." Marko merasakan rahangnya yg gemeretak oleh amarah. Gue cuma minta satu hal sama lo. dan sekarang gue rasa Imel tahu." seru Marko. Lo cuma peduli sama viewr. lalu berbalik pergi. bertekad untuk tdk menangisi apa pun. tetapi gagal. sekarang Sophie menyerah. like dan komen mereka. seakan-akan tdk mengenali kejengkelan dlm sikap Marko. "Gue udah ngikutin semua mau lo. "Lo ternyata nggak punya perasaan ya. jadi date ini bisa gue reimburse ke lo? Bagus deh. masih dgn nada bercanda." katanya tanpa nada ramah sedikit pun. "Gue nggak nge-date sama Imel! Ini semua cuma drama anak-anak yg lo sutradarain seenak lo aja! Jadi. "Lo yg makan. cewek punya intuisi. Lo nggak pernah bener-bener peduli sama gue atau Imel." ujarnya bengis." Sophie tersentak." katanya. Dan lo tahu itu. Bibir Sophie kelu mendengar tuduhan itu. Dia menyender lemah di mobil entah siapa." "Apa?" "Jangan pernah libatin gue lagi sama reality show konyol lo ini. Perlahan sosok Marko semakin buram. Dia berusaha menahan. Tapi kalau nggak sanggup jangan maksain! Biar gue yg bayar. gue nggak suka sama dia. menyadarkan diri ke mobil terdekat darinya. Sophie berjalan tertatih. Dia menunjuk Sophie. masak gue yg bayar! Lagian lo kenapa sih nggak nganterin Imel pulang. Air mata mengisi kelopak mata Sophie. "Kata lo. . Dadanya begitu sesak ketika melihat sosok Marko menjauh darinya. Tangannya masih memegangi perut. namun Marko rupanya tdk menyadari.

" ujar Marko tak terpengaruh. 13 jam yg lalu. Dulu tempat itu sering mereka kunjungi ketika keluarganya masih lengkap. . Gadis itu sendiri tdk berusaha mencari Marko. "Kalau gitu. Sebelum sampai ke vila. setelah sekian lama tdk mengungkit topik itu. kamu tahu mama mau buka cabang di Kemang. mama selalu terlalu sibuk bekerja sampai lupa untuk berlibur. hari-hari Marko sepi. Apa sih misi terakhir Sophie. Marko diberikan kebebasan memilih tempat berlibur sebagai kompensasi dari mama yg tdk bisa menemani. Dia ingin meninggalkan kamera dan laptop. nggak usah dulu ya. penasaran euy.BAB 14 Setelah kejadian malam itu. "Marko." Marko menelan ludah. Matanya menyusuri komentar-komentar yg tertinggal disana. Dia duduk sendirian dan membuka laptopnya... Sampai akhirnya. Lagi pula nggak ada rencana sama Sophie?" Nama itu menebalkan kekesalan Marko. Lebih baik liburan ke tempat papa kamu. Daripada di minta untuk mengunjungi papa." Jawaban mama membuat Marko jengkel. Selalu saja. Marko mengemasi barang-barangnya. dia tak bisa membendung rasa penasarannya. namun menahan diri. kecuali gadis itu memberi tahu apa sebenarnya maksud dan tujuan dari misi-misinya. Marko mampir di sebuah kafe. Tetapi dia tdk bisa membantah karena mamalah yg punya uang untuk membiayai liburannya. Sejak tadi. Setelah itu. Dia meminta liburan ke Thailand kepada mamanya. Dia nanyain kamu.. Sophie dan Marko menjauh. meski mereka beberapa kali berpapasan. lebih baik Marko menyendiri di villa puncak. "Tahun ini kan kamu udah liburan ke luar. "Ke Thailand ada paket murah ko. "Biasanya liburan maen PS nggak bosen-bosen. Nobel aja. tetapi tdk diizinkan. tetapi tak mau membantu Sophie lagi. tetapi malah kedua benda tersebut yg lebih dulu masuk ke ransel. dia tergoda untuk mengecek video ' Tujuh Misi Rahasia Sophie'.. Marko agak menyesali itu. Namun mama kelihatannya tdk mengerti kalau mereka berdua sedang ada problem. Mereka berdua bersikap seolah-olah orang asing yg tak pernah saling kenal. Di sekolah. Tanpa Sophie. mama mengucapkannya lagi. Yg nggak terlalu penting. Marko ke villa aja deh" Tanpa menunggu persetujuan mama. Marko selalu menghindari Sophie.

Pa bgsx ciiiihhh. Fabulous. 16 jam yg lalu. Untuk apa misi-misi itu. Pendek pendek panjang pendek. Sejak kemarin. Panjang pendek.Dina Ayu. Mira Sasmita. Pendek panjang. Sophie termangu di belakang jendela. 14 jam yg lalu. Sophie jawab donggg. Cakepan jg w dr sophie! Seharusnya misi ketujuh sedang mereka kerjakan sekarang. Cinderella Kesepian. Pendek panjang. Keren abis. Tjitra Cantique.16 jam yg lalu. Tetapi pertengkaran antara Marko dan Sophie membuat segalanya tertunda. Tak apa. mungkin sederhana Marko tdk ingin memaafkannya. Sophie mengirimkan kode morse berkali-kali. 15 jam yg lalu. Atau. Ini series ya? Sukaaaaaaaa. 14 jam yg lalu. KATRO. **** Di Jakarta. . mestinya dia memberi tahu yg sebenarnya. Kapan uploadnnyahhhhhh misi ke tujuh gw tungguuuu. Dion2008. Kalau memang Sophie menganggap Marko sahabatnya. Tak ada jawaban. Mungkin Marko tdk menerima kode itu. M-A-A-F. Di twitter juga gak jawab Xtu567. itu pelajaran untuk Sophie. Matanya mengarah kepada jendela favoritnya yg kini tertutup tirai dan gelap. ketika jendela itu tak lagi terbuka. 14 jam yg lalu.

namun sosok Livia sudah hilang ditelan pintu. menengok ke arah pintu berharap kalau Livia akan berbalik pulang.BAB 15 "kalau begini. Wajah keduanya tampak merah dan enggan menatap satu sama lain. Kemarahan dalam hati menyertai Livia saat memindahkan baju-bajunya kedalam ransel. Marsya yg sedang menonton televisi menatapnya dgn heran. Livia merasa terasing dalam keluarga. "Kenyataannya kama keteteran biayain hidup kita!" Seru mama lalu menutup wajahnya dgn kedua tangan. "Mama.. kalau biaya hidup. Dia mengacak tempat tidurnya.... Dia merebahkan diri ke ranjang dan menutupi kepalanya dgn bantal hingga suara pertengkaran itu tak didengarnya lagi. Livia menenteng tasnya. Livia tdk peduli. Bagi kedua orang tuanya.. kamu jangan unkat-ungkit masalah itu!" Papa merebut kertas2 itu dan membantingnya di meja. menutup pintu balkon di belakangnya." suara papa memelan. Percecokan itu bukan hanya sekali dua kali dipergokinya. jeritannya teredam bantal. Sekarang semenjak kejadian itu. Livia membanting pintu kamar. . berharap tak seorang pun melihatnya. melampiaskan kemarahannya sambil membanting bonekaboneka Marsya. Livia bukan lah apa-apa. Marsya turun dr sofa." ulang Marsya. Rasanya sudah tdk tahan lagi dia berada di rumah ini. Papa mengalihkan tatapan. Dia akan pergi. Dia merasa tdk berarti. Sophie lagi. Dia berteriak. "Ma. Mama tdk mengacuhkan panggilan anak bungsunya. tak ada yg bisa menghalangi. jadi sebaiknya dia angkat kaki saja. "Ma." panggil Marsya. dulu harusnya aku nggak berhenti kerja!" Mama menghadap Papa sambil mengacung-acungkan kertas berisi berbagai macam tagihan yg harus mereka lunasi. Namun. "Mana tahu kalau ada yg sakit. semua hal perlahan berubahj menjadi sensitif. dan terus-terusan Sophie. mempercepat langkahnya menuju pintu depan. Anak kecil itu menoleh kpd mama dan papa yg baru saja masuk keruangan. Keluarga mereka dulunya tdk serapuh ini. Selanjutnya dia bangkit sambil membanting bantalnya.. Dia memang tdk di harapkan di rumah ini. Perdebatan itu terhenti sejenak karena papa melihat Livia yg tengah mengamati ke arah mereka. "Kak Livia mau kemana?" Livia mengabaikan pertanyaan itu.

" katanya kpd mama yg memeluk Marsya... saat menuju kamar. papa langsung beranjak dari ruang tengah dgn terburu-buru. kamu telepon Livia.. Ma. Harusnya. melainkan memberi kode agar tdk ribut di depan Marsya. . Sementara itu. Marsya duduk kembali di sofa. "Pa. "Udah nggak ada di bawah. Melihat kedua orang tua bertengkar pastilah tdk mudah untuk remaja seusia Livia."Ada apa sih. gimana kalau Livia kabur?" mendadak mama diserang kepanikan. Mama dan papa menoleh pada Marsya yg ketakutan. Marsya mundur. hapenya juga nggak aktif." "Papa selalu lempar kesalahan ke mama!" Marsya menatap keduanya dgn pandangan horor. Dia mencoba menonton televisi kembali. "Kak Livia. Papa terperanjat." ujarnya pelan.. Tidak lama kemudia. Papa tdk menjawab tuduhan papa. "Pa. sebenarnya dia ingin menangis. Ma" "Dia nggak bilang mau kemana?" tanya Papa kpd Marsya. Dia teringat pandangan mata Livia belum lama tadi. papa kembali dgn tangan kosong. mama mengambil ponselnya dan berkali-kali mencoba menghubungi Livia. Papa cari di bawah!" perintah papa. tetapi di tahannya sejak tadi. "Aku telepon. Dia tdk mengerti mengapa mama akhir-akhir ini sering memarihanya dan Kak Livia. Marsya ingin menangis." panggil mama lemah. Marsya?!" ujar mama agak keras. Marsya menggeleng. menundukan kepala. Marsya tetap harus mengatakan itu. "Ma." "Livia tadi melihat kita bertengkar dari sini. mengamati kepanikan yg disebabkannya. "Kak Livia tadi keluar bawa tas gede.. "Dikit-dikit Mama! Dikit-dikit Mama! Mama lagi capek!" bentaknya. Sejurus. Tetapi.

"Papa akan cari Livia. Dalam hati dia terus-terusan berdoa agar Livia kembali tanpa kurang suatu apa pun. Tubuh Sophie gemeteran. Mama melakukan itu karena menyayangi Sophie dan mama meminta Sophie untuk tdk melarangnya melakukan semua itu.. lama kelamaan dia sendiri merasa risi.. Sophie bisa meminta tolong untuk ikut mencari Livia. yg lebih membutuhkan kasih sayang dibanding dirinya. Kondisinya sekarang tdk memungkinan untuk berpergian seorang diri. Tdk ada orang tua yg ingin melihat anaknya pergi lebih dulu. Dia tdk menyangka . apakah memiliki nomor teman Livia yg dikenalnya. tetapi mama selalu mengelak bahwa kondisi Sophie memang butuh perhatian lebih. Livia mengatakan butuh pertolongan. Sophie bisa meminta kpd mereka jika Livia menghubungi. Bulir-bulir air mata mengalir dr kelopaknya.. gelisah. Sophie menikmati perhatian2 itu. Awalnya. Mendadak Jenny mendapat pesan dr Livia untuk menemuinya di sebuah cafe. tetapi adiknya selalu mengelak." Dari balik pintu kamarnya. Meraih ponsel dan coba ikut menghubungi Livia. Kalau ada Marko. Dadanya sesak dan sakit. Ketidakberdayaan itu yg merangkai semua masalah ini. Berkali2 dia mencoba memberi pengertian kpd Livia. Kontak semua teman Livia. Jenny. Keadaan ini tdk membuatnya merawa istimewa. Waktu itu rencananya untuk bicara kpd mama sudah terlaksana. mereka harus memberi tahu keluarga Livia. Tetapi tak ada satu pun panggilannya yg diangkat. **** "Lo mau tinggal di mana?" tanya Jenny. Livia harus pulang. **** Sophie duduk lemas di pinggir ranjang. tetapi orang2 disekitarnya selalu menganggapnya berbeda. berjanji untuk mengontak keluarga Livia begitu tahu dimana gadis itu berada. Sophie memeriksa kontaknya. Orang-orang seharusnya memang tdk perlu memedulikannya. menceritakan semuanya. Kabari papa begitu ada kabar. Sophie menemukannya dan langsung menelepon. . Dia mengingat Livia dan Marsya.. maka Jennya pun langsung menuju ke kafe tersebut. teman satu kelas Livia itu. Sophie menarik napas panjang. Teman Livia itu. Sophie sadar kalau Livia membuat jarak dan memang ingin menyingkirkan darinya. Akhirnya. Selalu ada alasan untuk mengelit dr Sophie. Satu-satunya cara yg bisa dilakukan Sophie dan dia berharap usahanya bisa membuahkan hasil. Kalau ada. Dia tdk berguna. Sophie melihat adegan itu.

" Papa mengangguk kpd teman Livia. Kalimat Jenny terpotong mendadak." balasnya takut-takut. Dari beberapa teman yg dihubunginya." Livia menelan ludah. Livia tdk mengerti apa yg temannya lakukan. "Sama-sama. Sejak datang. Jenny mengamati Livia yg memasang ekspresi sumpek dr tadi. dia cuma ingin buru-buru pergi dr tempat ini. Mereka pasti nanyain. bokap nyokap nggak curiga. Verni gue hubungin nggak nyambung-nyambung. Kalau papa tdk di sini. "Sorry ya. sampai dia menengok dan melihat papa. Livia menatap Jenny dgn penuh kebencian. Livia tdk mau diseret paksa oleh papa dan akhirnya menuruti keinginan papa. Dia mengangguk ke arah belakang Livia. Tapi kalau lebih dr itu. teman kamu nggak salah." Papa mengambil tas Livia yg tergeletak di samping kursi... "Nggak tahu. Jantungnya berdetak kencang.masalah Livia adalah kabur dr rumah. Jen. Sedari tadi. Emosi masih menguasainya. Livia merasa was-was kalau saja melihat orang yg dikenalnya dan keluarganya di kafe ini. dia ingin sekali menyiram muka Jenny dgn minuman di meja." ujar Jenny pelan. "Lo nggak bisa dipercaya banget sih?!" hardiknya. Jenny menundukkan kepala. Sejenak. Sejak pagi dia belum makan. dia tdk menyangka masalah Livia sebesar itu. jangan minggat kayak gini. Sebelum pergi. gue nggak bisa bohong sama nyokap dan kakak lo. . menghindari kontak mata dgn Livia. bukannya gue nolak lo nginep tempat gue. paling juga sebentar lagi Livia akan mereda kemarahannya. Tubuh Livia gemeteran menahan marah. Livia malas sekali untuk mengunyah.. Sekarang seharusnya dia memsasukkan sesuatu ke perutnya kalau tdk mau sakit maag-nya kumat. "Livia. ketegangan memenuhinya. Matanya melotot kpd teman yg tadi diyakininya bisa membantu itu. Via. Tetapi. "Sorry. "Makasih ya. Hingga papa sekali lagi mengampirinya. Sebenarnya Livia merasa lapar sekali. cuma Jenny yg membalas dan bersedia menemui. Papa memberi isyarat kpd Livia untuk mengikutinya. seperti orang yg takut pembicaraanya dikuping oleh yg lainnya. Kalau kamu ada masalah kamu bisa bicarakan dgn papa dan mama. merasa ngeri karena kemarahan Livia yg lebih dr perkiraaan. Jenny hanya mendengarkan." Livia menyadarkan tubuh sambil mengaduk minumannya. Namun. Keresahan temannya itu agaknya menular kepadanya. Kalau semalam dua malam sih. Livia sudah mengomel tentang orang tuanya yg menyebalkan dan adiknya yg juga menjengkelkan. makan malam dirumah pun dia lewatkan. Selama ini. Om. Livia memang sering berkeluh kesah tentang orang tuanya yg pilih kasih. Jenny. Livia tak bergerak dr kursinya selama beberapa saat..

Oleh karena itu. Dia menoleh kepala mengamati wajah anak perempuannya. Meski Livia memberontak. Keduanya duduk dgn kaku.. kini. Livia. Komunikasi dgn Mama dan anak-anaknya pun berkurang. Kak Sophie?" Livia terenyak. Papa dan Mama sedang sibuk2nya mempersiapkan biaya kuliah Sophie ketika musibah itu melanda." . papa dan mama pasti akan selalu menyayangi kamu." "Papa nggak perlu ngomong gitu!" "Saat ini.. tak pernah membayangkan hal ini akan terjadi. Sesungguhnya Papa tdk mau itu terjadi. "Ngapain sih papa tanya-tanya. tetapi juga untuk sekolah Livia dan Marsya. Selama ini. Matanya memanas. "Kenapa kamu pergi dr rumah?" tanya papa setenang mungkin. sampai kapan pun. papa pikir anak keduanya itu sudah mengerti situasi yg mereka hadapi bersama. "Karena Papa sama Mama? Atau karena.. menikah.. bukan hanya untuk menutupi tabungan.. Livia dan papa tak saling bicara hingga mobil mereka melaju dia atas jalan raya. Betapa tahun demi tahun berjalan begitu cepat. Papa harus lebih keras bekerja untuk mengumpulkan uang. Akibatnya. Livia? Kamu nggak akan begitu.. Sedangkan Kak Sophie. Hidupnya kacau balau. dia kira Livia hanya mencari-cari perhatian darinya atau mama. anak perempuannya sudah remaja.. tak ada titik terang sampai kapan keluarga mereka akan terus mengeluarkan biaya pengobatan. Papa terdiam mendengar Livia. Benaknya seolah dibebat oleh perasaan yg selama ini dipendamnya sendiri. Rasanya blm lama ketika melihat Livia baru belajar berjalan. Apa pun yg terjadi sama kamu. Papa dan Mama sayang kalian. Kesibukan membuat papa jarang pulang tepat waktu. Kamu sama Marsya akan dapat perhatian dari Papa dan Mama terus sampai kalian kuliah. kakak kamu butuh perhatian lebih. karena keduanya begitu fokus kpd Sophie.. Sampai sekarang. punya anak. Sampai tdk terasa uang tabungan mereka sedikit2 menipis untuk biaya berobat. Tak ada yg mengira sama sekali. Dia membuang pandang ke jendela samping. apa Papa dan Mama akan begitu?" "Kamu ngomong apa." jawabnya kesal.Semua berantakan. Papa menghela napas. sering terjadi cekcok kecil dgn Mama." "Kalau aku yg ada di posisi kak Sophie. "Kamu tahu.

. Dia tdk tahan lagi membendung semua rasa pilu itu. Dari celah pintu. Bintang-bintang itu baginya adalah harapan..." Di samping Sophie.. Livia takut kehilangan Kak Sophie. perabotnya. Dia meredupkan lampu kamar. Sophie tersenyum kpd Livia. Sophie bisa melihat Livia yg mengintip. Bersama cahaya yg redup dalam gulita itu. "Sini. Nanti suatu hari. Dia pernah bertanya-tanya. Livia. Ini kakak pasang ketika sedih ditinggal kakek. nanti jika dia pergi. "Eh ngapain ngintip. semua akan lebih mudah. "Tapi yg satu ini. Di kamarnya yg berwarna. Maafin Papa. masihkah bisa menatap bintang yg sama? Setidaknya. Sophie menggerser tubuhnya sambil meringis menahan sakit. wallpaper-nya. hingga cahaya yg tersisa hanya dr luar jendela.. "Kalau Livia membenci Kak Sophie. sekaligus . Kamu boleh ganti semuanya." Sophie menunjuk bintang-bintang. Mungkin dgn Livia membenci Kak Sophie. Sophie membisikan rahasia-rahasianya." Tangis Livia pecah. Masuk aja. Untungnya." Livia mulai sesenggukan. agar dia tdk merasa kesepian. Sophie hampir tertidur ketika mendengar pintu kamarnya terkuak. Nenek pernah cerita kalau seseorang meninggal dia bakal jadi bintang. lalu melangkah masuk dgn salah tingkah.. "Maafin Papa. kamu yg pakai kamar ini. tapi tubuhnya terasa lemas. "Kak Sophie selalu ngeliat bintang-bintang ini sebelum tidur. Sophie merindukan dan mendoakan banyak orang yg disayanginya. Livia mau kembali ke rumah ini. "Livia!" hardik Papa. "Livia cuma bingung. Langit-langit di atas Sophie perlahan bersinar."Kalau Livia mati besok." Livia mendorong pintu lebih lebar. Emosi membuncah dalam dadanya. mungkin Livia nggak akan ngerasa terlalu kehilangan saat Kak Sophie harus pergi ninggalin kita. Livia.. justru bintang-bintang itulah yg menjadi favorit Sophie. Dia ingin beranjak keluar bergabung dgn perayaan itu." potong Livia." **** Sophie mengucap syukur tanpa suara ketika mendengar suara Livia dr dalam kamar. Hati Sophie diliputi kelegaan. Sophie menghayal banyak hal. Dia menepuk sisi ranjangnya untuk Livia. Pa.. jangan di ganti ya. Merekalah yg tahu alasan sebenarnya mengapa Sophie menjalankan misimisinya." Sophie berhenti sejenak. Livia ikut berbaring. Bintang-bintang bermunculan.

Biar kita bisa shopping berdua. "Please deh Livia. Bintang2 itu terlalu tinggi. Dia ingin menghitung sampai tak habis-habis. I get it." Sophie menyunggingkan senyum yg tak bisa Livia lihat. "Livia akan make kamar ini kalau Kakak kuliah. Unique is a heart of fashions. Nanti kita bisa belanja di Gedebage. Sophie mengingat malamnya bersama Marko. Kakak mau kuliah di Bandung. Kak?! Kakak kenapa?!" ujarnya panik.teman.. Dia juga tahu tentang misi-misi Sophie dan selalu menonton video yg sudah di unggah Sophie di YouTube. "Iya. ". Tapi confident. Kita yg bikin apa yg kita pakai itu jadi fashion. kan? Biar Livia bisa main ke sana pas liburan. Bukan fashion yg bikin kita jadi fashionable. Sophie ingin melihat bintang yg lebih banyak dari pada di langit kamarnya atau di langit Jakarta. Livia terus bercerita tanpa menyadari sejak tadi Sophie memegangi perutnya menahan sakit." "Gedebage? Apaan tuh? Baru denger.. dia ingin mengajak Marko ke Planetarium atau Observatorium Boscha di Lembang. ... Livia menceritakan tentang cowok yg ditaksirnya di sekolah." "Ah. "Kak Sophie.biar kamu nggak lupa sama Kak Sophie. tetapi mereka menyapanya dgn cahaya. Dia mendengar embusan napas Livia.. saat mereka menghitung bintang." "You get it? Really?" goda Sophie." lanjutnya.. Livia langsung memeluk Sophie. Mereka terus mengobrol dan sesekali cekikikan. memandangi semua itu berlama-lama. Livia meminta untuk misi selanjutnya dia bisa di ajak serta.." Sophie tertawa kecil. Mayusun berbagai rencana dan mimpi2 yg mungkin tak akan sempat diraihnya. Not just a part of it. Kamu harus sering-sering ngunjungi Kak Sophie. akhirnya erangan Sophie sampai di telinga Livia. Taunuya cuma Dago dan Ciwalk aja sih. Sophie masih ingin di sini. Sampai. Andai saja. Sophie merasakan air mata turun dr matanya. Fashion itu bukan masalah tren. Sophie masih punya waktu.

Bintang-bintang yg berdansa di matanya. dia masih mengenali bintang-bintang di langitnya. Sophie mendengar suara-suara melangkah ke kamarnya. . Di anatara rasa sakit. bergegas memberi tahu Papa dan Mama.Livia langsung melompat dari tempat tidur.

Dan kedua matanya yg penuh binar. semua memori berputar dalam ingatan Marko. Bayangan dan tawa Sophie langsung hilang. Senyum dan tawa Sophie menggema dalam telinganya. Marko hanya butuh sabar. Senyum kecilnya tersungging. Di tengah perjalanan. Dia memakirkan mobilnya terburu-buru. Seperti potongan-potongan film. Marko menghela napas panjang. matanya tertuju kpd sebuah billboard iklan. dia membayangkan Sophie disana. Marko menghubungi ponsel Sophie. seakan-akan ada bintang yg tinggal di sana. Dia berjalan tergesa sepanjang lorong apartemen seakan-akan bakal kehabisan waktu. akhirnya dia pun urung melakukannya. Seolah angin mendorongnya terbuka. di belakang pintu ada Livia. meminta maaf dan mengakui semuanya. Bersama Sophie sudah cukup membuatnya bahagia. Sophie terlihat. Livia dgn air mata di pipinya. Sepanjang jalan berkelabat bayangan Sophie di benaknya." Marko mempercepat laju mobilnya ke arah Jakarta. Entah mengapa. Kemana pun Marko menatap. Ketika Marko akan berlalu. "Love can't wait. Ekspresi antusias setiap kali memulai misi. pintu tersebit berayun. Lorong yg dilewatinya sedari tadi penuh dgn dirinya dan Sophie. selama ini banyak kesempatan yg dipunyainya. Dia tdk sabar lagi untuk bertemu Sophie. Ketika Marko menggelengkan kepalanya. Padahal. sibyk dgn iPhone-nya. Berkali-kali dia mengetuk tetapi tak ada jawaban dari dalam. tetapi tidak tersambung. Tulisan di billboard itu sangat sederhana. Marko mengguguh pintu apartemen Sophie dgn tidak sabar. Ketika Sophie larut dalam buku yg dibacanya. karena Sophie pasti nanti akan membeberkan semua yg Marko inginkan untuk tahu. Mungkin seharusnya dia memang tdk marah kpd sahabatnya itu. Marko terdiam lama. Pandangan Marko terarah kpd pintu yg terbuka. Dia seprti hantu yg tahu-tahu bergentayangan di sekitar Marko. Tinggal satu misi saja dan semua berantakan. tetapi menyentak hati Marko. tetapi menahan perasaan dalam hati mengurangi kenikmatan itu. Ketika menoleh ke kursi penumpang di sisinya.BAB 16 Marko memutuskan pulang pagi itu juga. Di ambang pintu. Dia teringat ketika Sophie menjaili penghuni apartemen. tetapi karena Marko terlalu pengecut dan takut jika Sophie menjauh setelah itu. Langsung melesat secepat yg dia bisa menuju tower apartemen Sophie. Haruskah dia masuk begitu saja? Kaki Marko bergerak perlahan. Ketika dia melangkah masuk. . semalam dia terus-terusan memikirkan Sophie. Marko melihat bayangan Sophie merapikan rambut panjangnya.

Sophie akan meloncat bangun di sudut ruangan.. Marko melihat Papa dan Mama Sophie. kalau saja tdk adak isak tangis yg terdengar dr dalam kamar Sophie. serta Marsya. Dia menatap ke arah seberang. Tak akan ada lagi kode-kode morse yg akan diterimanya. "Sophie! Sophieee!" Tubuh Marko menggigil dalam pelukan papa Sophie. Marko memandangi Sophie lagi.. Langkahnya terasa berat dan kaku. yg dia tahu itu adalah jendela kamarnya. Apa yg sebenarnya terjadi? Kecemasan menjalari seluruh tubuhnya. begitu juga waktu. mulai detik ini.. "Sophie.Marko mencium ketidakberesan. Marko langsung merangsak ke dalam. Namun. Soph. Di ranjang. Marko membiarkan air matanya mengalir. Sekarang semua terlambat. tetapi tubuh itu tdk bergerak sama sekali.. Jantung Marko berdegup kencang. Sebentar lagi. Tanpa sepatah kata. Cinta tak bisa menunggu. "Sophie kenapa? Om? Tante? Sophie kenapa?" Sesaat tak ada yg menjawab. Sophie tak akan pernah berdiri lagi di balik jendela ini... Marko tak percaya apa yg sedang dilihatnya. Om? Sophie?" tanyanya bertubi-tubi. seperti kemarin. Di kamar Sophie. Dia melewati ruang tengah yg kosong dan nyaris sunyi. Sebagian dari didirnya.. Dia akan berlari ke arah Sophie.. Ini semua pasti hanya tipu muslihat Sophie. Dia menelan ludah. Marko maju lebih dekat. ke sisi tempat tidur Sophie." panggilnya tercekat. "Om. Marko bisa tahu kalau itu semua bukanlah bagian dr misi Sophie mengerjainya. Kesadaran. Pandangan Marko beralih kpd Papa Sophie. **** "Kenapa tujuh bukan delapan?" "Rahasia Komarrrrr! Rahasia!" . namun papa Sophie menahan tubuhnya. Papa Sophie langsung merangkul Marko. Sophie terbaring seperti sedang tidur. dia memberanikan diri untuk bertanya. "Sophie-nya ada?" Tangis Livia makin mengeras.. Ada yg tercabut dari diri Marko detik itu juga. Sophie kenapa. Sunyi sepenuhnya.. Di sisi jendela. Tanpa memedulikan Livia.

bukan Sophie yg memilikinya kali ini. Marko pasti membuatnya menderita. Dalam pikirannya. Ditambah dgn sakit fisik yg dideritanya. Tak ada pertengkaran yg membuat peprpisahan ini terasa makin menyakitkan. tetapi tak ada lagi air mata yg keluar. dia masih ingin menangis. Sampai detik ini. . Kendaraan kian ramai memadati jalan. Dia tdk ingin melihat ini semua. Dia kira itu hanya halusinasinya saja. menatap jenazah Sophie yg pelan-pelan diturunkan. Angin mengembus melambaikan rambut panjang gadis itu. Jantung Marco mencelus. tiba-tiba ada yg menimpuk bahunya dari belakang. Marko tersadarkan ketika mendengar suaranya. Marko masih berharap. "Kak Marko. Bintang yg paling terang dibanding lainnya. Marko berdiri di tepi liang. Nyaris mirip. dia adalah Livia. Pelan-pelan tanah dijatuhkan di atas tubuh Sophie. dua bintang bersinar. Kalau saja. tetapi Marko tetap bertahan untuk menatap Sophie terakhir kalinya. Selama ini. Marko memikirkan sakitnya hati Sophie ketika kata-kata itu terucap dari bibirnya. Terlalu sibuk dgn dunianya sendiri dan selalu menganggap Sophie serta misi2nya adalah sesuatu yg menyebalkan. Suara tangis lirih masih mengiringi pemakaman Sophie. Semua tak pernah sama. Seorang gadis berdiri di belakangnya. Mereka belum menuntaskan misi ketujuh. Marko berdiri gemeteran. Mereka belum sempat pergi ke Planetarium dan Observatorium Boscha. Saat Marko menoleh memang ada seseorang di sana. Dadanya sesak. Di bawah sana. Sophie." panggilnya. Marko lebih awas kpd sekitarnya. Marko mendengar derap langkah. Marko melihat mata Sophie yg berbinar. Dua bintang yg berbinar di mata Sophie. mungkin semua tdk akan terlambat. Tak ada sepatah kata tertukar dari keduanya selama beberapa saat. lampu-lampu mulai dinyalakan. Dia berdiri di sudut tempatnya dan Sophie biasa menghabiskan senja. Lalu nyengir lebar dan tertawa. **** Sore setelah pemakaman.Pertanyaan itu terngiang dalam telinga Marko. Marko terlalu menutup diri. Marko pergi ke rooftop seorang diri. Namun.

Tau-tau parah. malah membuat Marko begitu merana sekarang. Dia memunggungi Livia ketika membaca. "Ini ada surat dari Kak Sophie. Kata dokter.. Itulah tujuannya datang ke sini. Meski sering bawel dan kepo. Marko nyaris selalu menyimpan semuanya sendiri. minum obat untuk ngurangi rasa sakit. Surat itu tetap berada di tangan Livia beberapa saat. Justru keputusan Sophie untuk tdk memberi tahunya." Livia tak sanggup meneruskan penjelasannya." "Ada apa.. ada bayangan Sophie. tempat ini begitu menyiksanya kini. Terakhir-terakhir kakak udah nggak mau diteratment. lalu menghadap Livia yg keheranan." "Aku tahu pasti Kak Marko ada di sini. membukanya perlahan." ... menyerahkan sepucuk surat pada Marko. Dia melipat lagi surat itu seusai membaca. kanker pankreas memang indikasinya nggak kentara. Hari-hari terakhir Sophie yg sudah disia-siakan Marko begitu saja. Dia bilang nggak pengin nambahin masalah Kak Marko dan nggak ingin bikin Kakak Sedih. Sekejap pula surat itu membuatnya tersenyum. bahkan tertawa." Marko tampak terpukul mendengar penjelasan Livia.Marko tersenyum tipis. kalian. Gue pikir surat ini. Tak ingin Livia menemukannya menangis karena surat itu. kan. Dia menundukkan kepala dan melihat surat di tangannya. Sejenak dia berurai air mata. Aku sempat mau kasih tahu Kak Marko. tetapi Marko tak bisa mengucapkan itu. kayak sakit perut biasa.." ujar Livia.. Ke mana pun dia menujukan tatapan. Selama ini. Sophie adalah orang yg sangat mengerti dirinya. Marko mengambil surat itu. "Penyakitnya cepet banget. bahkan dari mamanya. Marko tdk menyangka Sophie meniggalkan pesan. deket banget. "Livia. Gue nggak bisa menebak pikirannya. Cuma paliatif aja. sampai. "Kakak lo memang ajaib. Kata yg ingin di sampaikannya tertahan di rongga mulut.. Marko mengalihkan pandangan. Livia?" "Kak Marko nggak ingin dengar tentang hari-hari terakhir Kak Sophie?" Tidak sekarang. Surat untuk Marko. tetapi di cegah Kak Sophie. kok Kak Marko nggak pernah jenguk sama sekali... dia sadar itu adalah cara Sophie untuk memancingnya bicara. "Kak Sophie di treatment awal pas Kak Marko kabur dari rumah. Tangannya yg ada di dalam saku celana terkepal kencang. Soalnya orang rumah pada heran. Bagi Marko.

sekejap jendela itu menjadi kosong. Marko melihat sosok Sophie sekelebat.. Demi Sophie dan janjinya untuk misi ini. Dia tidak langsung turun." **** Marko menghentikan mobilnya di depan sebuah rumah besar. Kertasnya sudah susut.." katanya lamat-lamat. Seorang diri tdk akan menghalangi Marko melakukannya. Matanya memerah. Sophie. Selama beberapa detik. Marko hanya tercenung. Dia menarik napas panjang. tetapi tak ada yg tau berapa lama umur seseorang. "Sophie pengin gue yg ngewakilin misi ketujuh.. Itu membuatnya gelisah.. Marko tdk akan mundur. Jari-jemari Marko mengetuk roda setir. Gue cuma mau bilang. Namun. Sophie masih terlalu muda untuk pergi.. meski hanya memori. Memaafkan orang yg pernah nyakitin kita. Marko tertawa kecil. "Pergi ke planet lain. Tatapannya kembali ke layar laptop. Mobil pemilik rumah ada di sana. Kamar itu bukan lagi milik Sophie. "Lewat surat ini. Tak ada lagi Sophie di sana." ujarnya. . Sophie ngasih tahu misi yg terakhir. Sophie akan menemaninya.. sudah pasti orang yg dicarinya sedang tdk berpergian. Mungkin kalian pernah lihat gue di beberapa misi Sophie. lebih baik kalau dia melaju lagi. Matanya tertuju kpd surat di atas meja. Nama itu bergema dalam pendengarannya. Sebentar-sebentar dia menoleh ke arah rumah tersebut. melainkan duduk diam begitu lama di dalam kabin.BAB 17 "Nama gue Marko. Seakan. Yang terberat. Tangan Marko meraih surat yg diberikan Sophie." Sophie from other space. membacanya untuk kesekian kali. Mungkin jika Sophie ada di sini. Sejenak kamarnya sunyi. lalu mendongak. Marko berkali-kali membacanya. misi ini tidak akan sesulit bayangan Marko. Pikirannya mendadak kosong. Kata hatinya berbisik. kalau Sophie udah 'pergi'. Sesak karena kehilangan itu masih membelit dadanya. Kata-kata yg sudah disiapkan sejak semalam. menjadi berat untuk diucapkan. Memikirikan tentang misi terakhir. Entah apa yg dikatakannya sebelum ini dan apa yg harus dilanjutkannya. Gue asisten Sophie. Ini adalah saat yg tepat untuk menuntaskan misi terakhir. begitu dia ngistilahinnya. Dia menoleh ke arah seberang. pada jendela yg terbuka. mencoba tersenyum tegar dan melambaikan surat itu ke kamera laptop. Beberapa kesalahan bukan untuk dimaafkan.

Keduanya saling bertukar senyum. dan beliau langsung memeluk Marko. Dia mencoba tersenyum. Marko meraba sakunya.Kakinya seperti dibebani pemberat ketika diajak turun dari mobil. mengulurkan tangan. Tatapannya yg tdk percaya. waktu itu. penjaga rumah membukakan pintu untuknya. Dia diberi tahu bahwa pemilik rumah sedang ada di belakang. Sophie akan kecewa kalau dia melakukan itu. "Nama aku. Hanya saja. . Papanya tertegun saat Marko berdri di hadapannya. menemukan surat Sophie di sana. Semakin dekat ke halaman belakang." Kalimat itu meluncur mulus darinya. Dia sempat berniat pergi. Ketika Papa melepaskan rangkulannya. dia tak bisa lagi mundur. tanpa pernah tahu kalau Marko pernah begitu ingin menyingkirkannya. Marko. Tak lama. Marko dan Papa memperhatikan Oka sambil tersenyum. Oka. tertawa kecil sambil memegangi tangan Oka. "Maafin. Marko terlalu marah kpd siapa pun yg berhubungan dgn papa. Kedua mata hitam Oka menatap lurus pada Marko. tetapi sosoknya keburu tertangkap oleh pandangan Papa. Marko seharusnya tdk ikut menyalahkannya. Bukan Oka yg salah. Pa. Dia mengembuskan napas panjang. Anak kecil itu memandang Marko dgn heran. Dari dalam rumah. Marko Enrico Danunjaya. Sorot mata itu. Mereka bertatapan. Ragu-ragu dia mengetuk pintunya. Marko menatap kpd dua orang yg sedang bermain bola." seru Oka dengan suaranya yang cadel. "Nama kakak siapa?" tanyanya polos." Marko melirik Papa ketika menyebutkan nama akhirnya. tertegun beberapa detik. Oka langsung menyambutnya dgn ceria." Suara kecil itu menyadarkan mereka berdua bahwa ada Oka di sana. Marko menghela napas. Marko melihat mata Papa yg berkaca-kaca. Senyum di wajah papa melebar. Lengkingan riang anak kecil itu adalah sakit hatinya. Marko mengikuti penjaga rumah ke halaman. "Mamaaa!!! Ada Kakak Malco. Namun. mendekat kpd Papa dan adik tirinya. Marko melangkahkan kaki. Di ambang pintu. tekad Marko sudah bulat. meski otot-otot wajahnya sulit diajak bekerja sama. Papa menghapus air mata yg tersisa di sudut mata. Ini adalah misi terakhir. perlahan meluruh melembut. Marko bisa mendengar suara-suara yg dibencinya. muncul ibu tiri Marko. Marko berlutut. Marko. Bagaimana bisa Marko membenci anak sekecil Oka yg bahkan tdk tahu apa yg sudah terjadi dulu. "Papa nangis. Papa tidak membalas ucapan itu. seperti ekspresi orangtua yg melihat anaknya pulang setelah lama pergi.

Ada wajah yg begitu akrab bagi mereka berdua di layar." lanjut Imel. Mengantarkan kode pada bintang-bintang. Kemudian. "Lo ada urusan lain habis ini?" Imel menggeleng. Marko bergegas turun ke lobi. Kita nonton disana. kita nonton bareng. menatap Marko gelisah. Marko membawa senter itu ke rooftop. Mal?" tanya Marko tanpa basaKbasi. Marko bangkit berdidir. Mata Marko menjelajah lewat jendelanya. 6B. "Sophie pengin. Pesan yang membuatnya tercengang. Sebuah lukisan menutupi area yg tadinya jendela. Marko juga menawari Imel minuman. Tangannya mendorong jendela hingga terbuka.BAB 18 Marko berada di kamarnya yg remang. Dia memandangi lukisan itu dgn hati nelangsa. Gadis itu tampak sekali sedang resah. Pelan-pelan sebuah video mulai terputar. Dia menyilakan Imel agar senyaman mungkin berada di kamarnya. Dia beranjak dr tempat tidur. Dia menunggu dgn gelisah. mengarahkannya ke langit. orang yg ditunggunya itu pun datang. Gadis itu mengangkat wajah dari ponselnya. melepas lukisan itu. berakhir pada jendela di seberang. . Marko langsung menghampiri gadis yg duduk di sofa lobi. Mereka berdua duduk di depan laptop Marko. Sebelum Sophie pergi. Tak ada sepatah kata tertukar saat keduanya menuju ke apartemen Marko." "O-oke. Pada saat yg sama ponselnya berbunyi. "Gue bingung harus mulai dari mana. Kadang-kadang. "Ada apa. "Baru aja gue mau ngehubungin lo. Di bagian depan CD terdapat coretan tangan Sophie yg Marko kenal." Imel menaruh sebuah CD ke atas meja. Siapa tahu benar." balas Imel. dia ngasih ini ke gue. mengikuti Marko. Ada sebuah SMS masuk. Tower utara. Imel. Mulut keduanya sama-sam terkunci. Senternya tergeletak tak tersentuh selama berharihari. Dia rindu memainkan itu. kalau setelah seseorang meninggal dia akan jadi bintang." Marko duduk di depan Imel. tetapi Imel menolaknya dgn halus. "Kalau gitu kita ke apartemen gue aja.

Apa yg ingin diingat adalah kata-kata Sophie yg pernah diucapkan kepadanya. "Rekamannya macet?" tanya Imel. "Gue rasa. Setelah beberapa saat. mulailah muncul wajahwajah yg Marko kenali. 'Siapa ya mereka? Hmm. Sebentar saja. Gadis Laundry dan Cowok Pelanggan. Setelah itu. Juga. Ada yg berpusing dalam pikiran Marko saat menyaksikan rekaman itu. Gambarnya bergoyang-goyang dan sering kali gelap. tanpa matiin rekaman. hmm. "ngGak. Marko dan Imel bisa membaca tulisan Sophie di layar. gue lagi ngintai seseorang. si remaja tanggung. Sophie tampak berpikir setelah itu. Sebuah kertas manila membentang dia atas pada dinding. Penuh semangat. sampai akhirnya bicara seorang diri. Entah bagaiman Sophie bisa merekam pertengkaran orang tua Imel. Sophie masukin iPhone-nya ke saku baju. tukang sapu jalanan." Marko menggeleng. Mau tahu? Ikutin gue!" video itu berisi adegan-adegan yg direkam Sophie seadanya. tetapi tersisih oleh ingatan lain. Awalnya video itu hanya menampilkan keadaan sekitar apartemen. Terus lanjut ke misi kedua' Tangan Sophie bergerak lagi. 'gue akan bikin sesuatu' Video itu memperhatikan Sophie yg memgang spidol besar. Kualitas rekaman itu tdk sebagus milik Marko. Misi dua: balikin Oma ke rumahnya.. Kayaknya oke. melihat layar yg gelap. Perasaan getir membuncah dalam hatinya."Hei. Bian yg menangis dan kedua orang tuanya.. Sesuatu yg ingin sekali diingatnya. Imel melirik perubahan ekspresi pada Marko. Jadi gelap gini. Lorong-lorong yg sepi sampai rooftop yg tdk lagi Marko kunjungi." Marko mengatakan itu sambil tertawa pelan. tetapi diam saja. dari taman hingga area bersama. Sekarang Marko paham mengapa Sophie tahu Oma Pingkan di bawa ke panti jompo.. Sophie menggerakan spidol itu di atas karton. rekama itu lebih fokus mengenai Oma Pingkan. . serta Oma Pingkan dan Imel. 7 Misi Rahasia Sophie Misi satu: ngasih makan ke orang yg kurang beruntung. Imel yg duduk kesepian di taman sambil membaca. mereka berdua sudah kembali menonton video dari Sophie. Pemulung.. Dia menatap lama ke arah karton.

Kalau lo kan. Juga sebuah buku. "Enak aja! Nggak bisa fisika. Semuanya saling tindih. Mereka berdua saling menatap sengit. Tatapannya teralih ke jendela kamar Sophie. Marko selalu ingat pada tugas-tugasnya. Tebak-tebakan. Diangsurkan kotak itu kpd Marko. Sophie mendelik pada Marko." ejek Marko." katanya kepada diri sendiri. Pernak-pernik favorit Sophie. dia membentur-benturkan ke atas meja perlahan. Hanya saja. Meski tdk jadi juara kelas. atau kalaupun nggak. Tangan Marko mengepal. siapa tahu bisa bantu lo nuntasin rasa penasaran. dia mengambil sesuatu dr dalam tas. Tangan Marko mengepal. "Nah lo sendiri? Malah main PS!" balas Sophie. termasuk jam tangan merah dan tiara yg pernah dipakai. Game.. berbeda dgn Sophie yg biasa2. bukan berarti gue bego. gue harus tahu polanya. Marko mengacak rambutnya sendiri. bukan delapan? "Kenapa tujuh. nilai Marko selalu di atas rata2. Marko membuka buku tersebut. "Sophie kasih ini ke gue. Seakan semuanya berada dalam pikiran Marko. kata Sophie ada polanya." Marko tertegun. Ini permainan.. belajar bersama merupakan . masih terus mencoba mengingat. Semua ini adalah permainan Sophie... Marko mengacak rambutnya sendiri. Mel. dia membentur-benturkan ke atas meja perlahan. karena ada Sophie-lah. Meski mereka berbeda kelas. Di dalamnya CD-CD bertumpuk. ya!" Marko terbahak mendengar itu. Marko meraih kotak itu dan memeriksa isinya."Polanya. masih terus mencoba mengingatnya. Imel menatap Marko dgn iba. Ada beberapa benda lain. Adegan-adegan dari misi yg sudah mereka jalankan berkelebat. Bisa jadi itu jawaban yg lo cari-cari. meleletkan lidahnya. Dia mengacungkan ujung pensil kpd teman dekatnya itu. ada selembar kertas terselip di dalamnya. Hingga adegan saat Marko bertanya kpd Sophie: mengapa tujuh. bukan delapan?" Marko bergumam. "Gue kan udah pinter. Semua dijuduli dgn tulisan tangan Sophie. Lalu. Pertanyaan itu terus berulang. Memang sih dari dulu Marko tdk perlu dibantah keenceran otaknya. Marko kadang terlalu malas untuk belajar. melirik Sophie aksi mencorat-coret kertas gambar. ya gitu deh. *** "Lo ke sini katanya mau belajar? Kok malah gambar-gambar nggak jelas gitu?!" ujar Marko. Tanpa menunggu lama. Semua misi ini.

"Kalau orang yg jago bahasa. melempar bola kertas kepada Marko. "Nah kalau lo?" tembak Marko. tiap kali mereka mengobrolkan kemana akan kuliah setelah lulus sekolah. Sophie duduk berpangku tangan mengamati sahabatnya." cetus Marko cuek. Ngapain juga belajar matematika sampai botak kepala.. kita main aja. Ada yg lemah di fisika. membuat Sophie sering gregetan. mencorat-coret pensilnya dgn asal.. akhirnya nggak kepakai juga. Hanya saja.. Angka-angka di sana membuat berkunang-kunang. tetapi itu tdk menjawab pertanyaannya. Selain itu. Dia selalu menghindar seolah cewek2 yg sudah meluangkan waktu memperhatikannya itu adalah kutu pengganggu.." ujar Marko.sesuatu yg sering dilakukan. Marko terlalu tdk acuh terhadap semua perhatian semua cewek2 itu. otak kiri. hmm." jelas Sophie sesabar mungkin. Tapi mungkin dia bagus di bahasa. kan setiap orang bakatnya berbeda-beda. Main seberapa besar lo kenal temen dekat lo. Menurut gue itu udah cukup. Sophie tampak gemas. "Maksud gue. Marko selalu bilang malas memikirkannya. Dia tersenyum lebar ketika mendapatkan ilham tersebut. Cowok itu sebenarnya tampangnya lumayan. Marko lebih senang menekuni hobi dgn handycam-nya. "Kenapa sih kita harus belajar fisika?" gumamnya." seru Sophie. Segala macem differensial lah. bahkan beberapa teman sekelas Sophie terang-terangan bertanya apakah Marko punya pasangan. PS sudah kembali merebut perhatian Marko. Marko sering kurang bersemangat dalam hal apa pun. tetapi sering sekali menolak. yg ditangkap dgn tepat waktu. "Soal itung-itungan itu matematika dasar. Sophie bungkam." . Kenapa nggak difokusin sesuai bakat aja sih. serta game-game di PS-nya. Bagus di gambar. ada yg lemah di matematika. Yg lebih parah. Sophie sering mengajak Marko untuk kumpul bersama teman-teman sekolah yg lain. apa oon. Sophie menatap kertas di hadapannya. "Otak kanan. gimana kalau pelajaran hari ini.. Sophie memikirkan ide lain. Komaaarrr! Tiap orang kan." Sophie menjawab tanpa ragu. Dia mengetuk-ngetukan pensil ke kepala. Sophie menggeleng-gelengkan kepala sendiri. "Jadi. tapi nggak bisa matematika yg ada dia bakalan ditipu terus. beda-beda." potong Marko terkekeh. Rasanya ingin sekali menimpuk kepala cowok itu dgn buku." "Bilang aja males. Terlebih kalau Sophie kesulitan dgn pelajaran hitungan seperti sekarang. Daripada diejak terus oleh Marko. Benar apa yg dibilang Marko. "Lo tanya aja sama yg bikin kurikulum. "Otak kanan gue yg lebih bersinar.

" Tetapi. akibatnya stik PS ikut terlempar terpaksa berakhir tdk sesuai rencana. "Ck. Apa yg hadir pd Sophie adalah satu kesatuan. Marko selalu suka mengamati ekspresi Sophie disituasi seperti sekarang. "Kita mulai dari sekarang!" Marko mengernyit." . kepo. menunggu Marko bersiap-siap. "Udah siap belum?" "Udah. Kita kan udah temenan lama. Sementara Marko kertasnya tetap kosong selama beberapa menit. Sophie mengangkat tangannya gembira. "Iya. mati kan tuh pemain gue. mengikuti Sophie ke meja. Komaarrr! Pasti seru deh. Itu berarti gue. menatap Sophie ogah2-an..Marko mengernyit.. Dia menggaruk-garukkan kepalanya yg tdk gatal. "Lo kan bisa main lagi lain kali!" Sophie masih menggoyang tubuh Marko. Sophie membuat daftar itu. Entah sejak kapan. dia sudah maklum dgn semua sifat2 gadis itu. udah. "Bawel.. Satu lembar diberikannya untuk Marko. Soph. nyebelin. satu untuk dirinya sendiri. Perlahan. Ketika Marko meletakkan pulpen dan Sophie langsung menyerobot kertas itu. Oke?!" Sophie menatap Marko seperti guru mengajari muridnya. Sophie memainkan pensilnya. Matanya mengerling pada Sophie yg bersemangat. "Hah?!" Sophie melotot." ujarnya jengkel. Lepasin ah!" ujar Marko. tatapan membujuk dari mata Sophie. Tdk banyak yg ditulisnya. sotoy. iya." Dengan antusias. susah untuk Marko tolak. Sekarang. "Ayo dong. Komaarrr! Banyak tanya deh.. Marko kembali berpaling ke PS-nya.nih!" katanya mengguncang-guncang lengan Marko." "Ayo dong. bu guru!" "Tulis tujuh sifat buruk temen lo. Tak lama kemudian. "Buat apa sih?" "Tulis aja. Marko duduk di sebelah Sophie. Selama ini dia tdk pernah memikirkan sifat buruk Sophie. Marko harus menulis apa saja sifat buruk Sophie. Mendingan main PS deh. mengamatinya menyobek kertas. "Mainan apa tuh? Pasti gaje. Dia mengibas tangan Sophie. "Selesai!" Marko masih menulis. Soph.

Semua ditulis Marko dalam satu baris saja.
"Ih! Ketahuan nggak niat banget nih anak." Sophie mendelik. Menyorongkan kertas miliknya
kpd Marko. "Liat nih punya gue! Baca!"
Di kertas itu, tertulis dgn rapi daftar sifat buruk Marko.
Pemalas!
Nggak peduli lingkungan!
Gampang patah semangat. Cemen!
Nggak punya mimpi. Kacian deh.
Penakut numero uno. Ama balon aja takut!
Susah ngungkapin perasaan.
Tukang dendam!
***
Kenapa tujuh, bukan delapan?
Pertanyaan itu terjawab sudah. Di tepian ranjang, Marko duduk menunduk. Selama ini dia tdk
menyadari jika Tujuh Misi Rahasia Sophie berasal dari sesuatu yg amat dekat dengannya.
"Tujuh Misi Rahasia Sophie... Berasal dari sini." Marko mengangsurkan kertas ditangannya kpd
Imel. "Dari tujuh sifat buruk gue." gumamnya dgn pandangan menerawang.
Imel menrima kertas itu dgn pandangan haru. Namun dia paham betapa terpukulnya Marko
sekarang.
"Sophie ingin sebelum dia pergi, gue jadi orang.... Yg lebih baik."
Marko menahan tangis. Sesak di dadanya kembali lagi. Layar laptop sedang menampilkan
Sophie yg bicara sendiri.
'nggak salah kan, pilihan gue? Cuma Imel yg cocok buat orang sejellek dan senyebelin Marko.'
Adegan di dalam video berganti dgn adegan dr rekaman lain. Marko mengamati rekaman itu dgn
tatapan hampa. Itu adalah ketika Marko secara tdk sengaja bertemu dgn Imel di lobi apartemen
Marko. Ternyata semua sudah diatur Sophie.
'Sophie, ngapain sih ngajak ketemuan pagi-pagi? Ngapain juga ketemu di sini, bukan di tower
kita?'
Suara Imel terdengar dr laptop. Imel memandangi video itu, sekarang dia mengerti.
'nggak apa-apa. Eh, lo tadi ketemu Marko, kan? Ciee.'

'ya ampun, Sophie. Ih!
Marko menghadap ke arah jendela Sophie. Imel bergerak mendekatinya, meraih tangan Marko
dan menggemgamnya. Hatinya sama sesak dgn Marko. Tubuh Marko gemeteran. Kepalanya
merunduk. Beberapa detik kemudian, Marko tak bisa menahan bobolnya tangis dr matanya.
Seluruh badanya berguncang karena ledakan emosi. Perlahan, Imel mengelus rambut Marko. Air
mata ikut mengaliri pipinya. Dia Merengkuh Marko dalam pelukannya.
Sayup-sayup suara Sophie menyelinap di antara tangisnya. Suara yg akan Marko rindukan. Dan
binar mata seperti bintang yg tak akan pernah Marko lupakan.
'Bangun siang. Nggak mau capek. Manja! Trus lo tuh nggak peduli ama lingkungan, mau ada
orang yg ada masalah kek, sebodo amat! Egois! Dan yg bikin gue bete, lo nggak punya mimpi!
Trus lo tuh gampang patah semangat. Komaarrr! Lo nggak tahu betapa beruntungnya lo. Trus
berikutnya, hmm... Lo cemen! Ama balon aja takut! Susah ngungkapin perasaan lo. Kerjaanya
nyangkal melulu. Dan yg terakhir lo itu... Tukang dendam!
Marko, lo inget nggak pas kita di rooftop. Pas gue bilang, pada jam, menit dan detik yg sama,
belum tentu orang yg terjebak macet di bawah sana adalah orang yg sama. Seperti sekarang.
Mungkin saat lo nonton rekaman ini, pada jem, menit, detik yg sama, seperti kita waktu di
rooftop, lo lagi bersama orang lain. Seseorang yg mungkin akan jadi orang yg istimewa dalam
hidup lo.
Selamat tinggal, Marko. Sampai jumpa lagi.'
Suara Sophie menghilang, video rekaman itu berakhir di ujung ucapan perpisahan.

EPILOG
"Udah siap belum?"
"Sebentar, sebentar," Marko membungkuk, mengotak-atik kameranya di atas tripod. Dari lensa,
dia mengamati sosok Imel yg duduk dgn anggun di posisi yg biasa ditempati Sophie. Sofa biru
itu tdk berubah, kotak2 kayu yg bergelimpangan, payung pantai yg robrk, serta manekin bekas
semua masih ada di tempat itu. Hanya kurang satu sosok untuk menjadikannya lengkap, Sophie.
Senyum Imel meredakan lamunan Marko, dia ingat untuk menyetel posisi handycam hingga pas
mengarah ke sofa. Diam-diam Marko sudh merekam Imel lebih dulu. Beberapa menit kemudian,
barulah dia mengacungkan jempol, memberi isyrat jika rekaman akan di mulai. Imel menepuk
bagian sofa yg kosong di sebelahnya, menyuruh Marko untuk cepat duduk.
Keduanya saling pandang sejenak, lalu tawa mereka pecah.
"Oke," ujar Imel, matanya terarah ke kamera.
"Oke," Marko menyikut Imel pelan.
"Baiklah," Imel tersenyum lagi. "Kenalin, gue Imel. Dan kalian pasti tahu siapa yg disebelah gue
sekarang." dia menunjuk sosok yg duduk di sampingnya.
"Hai, gue Marko." sahut Marko, pandangannya berkeliling. Senyum tipis muncul dibibirnya.
"Kalian pasti udh kenal Marko sebagai asisten Sophie. Dan gue disini, sebagai asisten Marko."
katanya terkekeh. "Udah beberapa bulan sejak kita semua di tinggal Sophie. Di sini, gue dan
Marko, mau ngirim pesan untuk Sophie." Tawa pelan Imel menghilang, pandangannya
menyendu, seperti ada keharuan menyeruak dlm dirinya.
"Yep, siapa tahu di planetnya sekarang, ada internet yg bisa ngakses YouTube dr dunia ini,"
tambah Marko.
Keduanya kembali bersitatap, sama2 tersenyum, tampak begitu kompak.
"Ini beberapa video yg gue buat bersama Imel," Marko meneruskan berbicara ke arah kamera.
"Semua di kompilasi di sini. Kalau kalian ngikutin Tujuh Rasia Misi Sophie, gue dan Imel harap
kalian bakal suka video ini. Terima kasih banget buat semua yg udh ngikutin semua video
Sophie dr awal. Juga buat semua yg udh ngasih komentar2. Itu berarti banget buat Sophie."
Marko terdiam sejenak, menarik napas panjang. Dia mengumpulkan kekuatan utk mengatakan
serangkaian pesan yg sudah di siapkan sejak kemarin. Jantungnya berdetak kencang saat
bibirnya perlahan mulai bergerak. Perasaan kehilangan kembali menderanya. Sesakit apa pun itu,
Marko tahu, tak akan membuat Sophie kembali. Bersama Imel, Marko belajar untuk mengenang
Sophie bukan untuk mengingat ketidakadilan karena Sophie harus pergi di usia teramat muda,

adegannya menjadi gadis laundry yg sedang bersiap- . penjual kopi keliling. "Kayaknya. *** Potongan video 1 memperlihatkan trotoar yg kosong. Lalu... juga mungkin bagi banyak orang lain. Video berganti dgn kemunculan Mas Tarjo. Dia bekerja dgn semangat meski hari masih gelap. tanpa lo. terdengar tegar. Lo kan bawel dan sotoy. aula panti yg meriah dan tampak ramai karena ada perayaan." ujar Marko. Tdk lama. Dia mendoakan Sophie dan berterima kasih atas kebaikan yg pernah diberikan. Soph. Tak ada lagi canggung di sana. Habis itu. menggemggam jari-jari Marko kian erat. Imel dan Marko bertukar pandangan. Senyum lebar menghiasi bibir si tukang sapu." ujar Imel. gue dan Imel sering main ke sini. Dari kejauhan muncul seseorang yg membawa bungkusan besar. Tukang sapu. Kini. dia udah ketawa lagi.. Suara anak2 kecil terdengar dr berbagai penjuru. Kursi itu benar2 membantunya berjualan. seperti itulah Marko mengingat Sophie. kalau lo bisa lihat video ini. Orang itu berhenti didekat tukang sapu & menyerahkan sebuah nasi bungkus. tentunya semua nggak akan pernah sama lagi. kita bakal mulai sekarang aja untuk ngasih lihat videonya buat kalian semua. 'Mereka nanyain lo.. Rooftop ini juga udah nggak kesepian lagi. Ketika Marko menghampiri Mas Tarjo dan menceritakan apa yg terjadi kpd Sophie. video menyorot pohon yg pernah Marko panjat untuk mengambil balon.' suara Marko muncul di antara potongan video. 'Ketika gue bilang lo udah pergi. Tapi gue nggak yakin lo bakal kesepian sih. Kami semua berterima kasih karena lo udah menginspirasi banget. bagian terhangat dari kenangan-kenangannya. di ambil diam2 dr area bersama apartemen. Sophie yg selalu bersemangat dan tak terduga adalah inspirasi bagi Marko. Arya nangis paling keras. video menampilkan koridor yg begitu akrab. Anak berumur empat tahun itu juga masih menyapa Marko dgn panggilan Papa. Muncul gambar situasi kios laundry dan seorang cewek yg menjaganya. Arya tampak malu2 saat ada sepasang suami-istri yg akan mengadopsinya. yg tersisa adalah kelembutan yg muncul dari kedua sorot mata itu. tak ada lagi kejengkelan Marko kepada Imel. Sekarang. Potongan video selanjutnya. Selanjutnya. Dia mengahmpiri satu demi satu pembeli yg memanggilnya penuh semangat. pria itu keliatan terpukul. Imel bawain dia balon.' Terlihat Imel yg bermain dgn anak2 panti. Tangan Imel bergerak meraih jari-jari Marko. Ibu pengurus panti kelihatan terharu ketika pertama kali Arya memeluk kedua orangtua barunya. tampak sedang menyapu jalanan. Tapi. "Soph. Lo nggak boleh kesepian di sana. Tapi. adegan dlm video berganti.. Happy watching.tetapi sebagai inspirasi. Kemudian. . Dia menduduki kursi roda pemberian Sophie. Arya tampak lekat dgn gadis itu. yg bisa dilihat di video 1 Sophie.

' Layar video itu menggelap. Sementara yg lainnya mengipasi barberkyu yg sedang di panggangnya.. gue selalu ngerasa lo merhatiin kami semua. .facebook. Sekarang gambar video tersebut lebih stabil. Mereka meminta Bian untuk memainkan biolanya. -. Marko dan Imel mendekati meja panjang. Lo selalu hidup di setiap ingatan. Livia.. Marko balas menggengamnya. lensa kamera mentorot kpd remaja tanggung yg sudah punya sasaran baru. Kode Morse yg dibuat bersama oleh Marko dan Imel. Muncul titik-titik cahaya dalam kegelapan..-.siap untuk pergi bersama si cowok pelanggan.. . . di mana pun lo sekarang. Semoga video ini menghibur lo di sana.. . --. Keduannya tersenyum. Marko dan Imel mendekati Bian. Meja telah siap. Berikutnya Oma Pingkan datang bersama orang tua Imel. bukan lagi si tante seksi. Tiga kursi tersebut ternyata disediakan untuk Bian dan kedua orang tuanya. Marsya menyediakan kursi buat Oma. Mama Marko datang membawa makanan. 'Sophie ... Semua terlihat akrab. Lo nggak akan pernah benar-benar pergi. Suasana makin ramai. . Senyum gadis itu amat lebar ketika menggantung tulisan 'TUTUP' di pintu laundry. di setiap hati dr orang-orang yg pernah lo bantu. --. Cewek itu kelihatan malu-malu saat si remaja tanggung mendekatinya... Mereka menyambutnya. Tapi masih ada tiga kursi yg kosong.-.. Di situ terlihat.. --. Sophie. Sesekali... Sumber: https://www. Masih dari area bersama... Yg tersisa tinggal bintang-bintang di langit gelap.. Tdk lama kemudian. mereka duduk mengitari meja.-.com/pages/Kumpulan-cerbungcerpen-dan-novelremaja/398889196838615?fref=photo . Kami selalu kangen sama lo... Marsya dan Imel sedang menyiapkan meja. Terlihat. mereka melambaikan tangan ke arah kamera.. Mama Imel membantu menyiapkan meja. Mereka makan sambil berbincang. tangan Imel menyentuh telapak tangan Marko. Mama Sophie. .. 'Kami sayang lo Sophie' Cahaya terakhir mengecil.--. Perlahan.. Di sisi lain kolam renang tampak meja panjang..-. redup dan menghilang.