Anda di halaman 1dari 5

Modalitas fisioterapi pada Pencegahan dan Penanganan Pcar Hipertrofik

Laser (Light Amplification by Stimulated Emission of Radiation) merupakan salah satu
modalitas terapi yang dapat dipakai untuk memperbaiki sikatriks atrofik pasca akne,
Meskipun pada beberapa tipe sikatriks atrofik pasca akne akan memberikan hasil yang
maksimal jika dilakukan terapi kombinasi. Sinar akan berinteraksi dengan jaringan melalui 4
cara, yaitu refleksi, absorbsi, berpendar (scattering), dan transmisi.
Refleksi adalah pemantulan sinar pada permukaan jaringan tanpa masuk ke dalam
jaringan. Sekitar 4-7% sinar direfleksikan pada stratum korneum. Jumlah sinar yang
direfleksikan meningkat sesuai dengan bertambah besarnya sudut sinar ketika mengenai
jaringan dan paling minimal saat sinar jatuh tegak lurus terhadap jaringan. Sinar laser
diabsorbsi oleh sel target yang spesifik (kromofor). Kromofor mengabsorbsi secara selektif
panjang gelombang tertentu, meskipun terdapat beberapa panjang gelombang yang diabsorbsi
secara tumpang tindih. Hal ini merupakan dasar utama penggunaan laser dalam klinis.
Kromofor endogen terdiri atas melanin, hemoglobin, air dan kolagen, sedangkan kromofor
eksogen contohnya adalah tinta tato.
Menurut hukum Grothus-Draper, sinar harus diabsorbsi oleh jaringan untuk terjadinya
efek pada jaringan. Absorbsi foton dari sinar laser menimbulkan efek pada jaringan. Absorbsi
energi oleh kromofor akan mengubah energi tersebut menjadi energi termal. Pendaran
(scattering) terutama disebabkan oleh struktur heterogen dalam jaringan. Pada kulit terutama
disebabkan karena kolagen dermis. Pendaran sinar laser diperlukan untuk mengurangi secara
cepat fluence yang diabsorbsi oleh kromofor target dan juga menyebabkan efek klinis pada
jaringan sekitar. Pendaran sinar laser akan menurun dengan bertambahnya panjang
gelombang. Namun aturan ini tidak berlaku untuk sinar laser di luar daerah mid-infrared
dalam spektrum elektromagnetik.
Selanjutnya sebagian sinar akan ditransmisi ke jaringan subkutan tanpa mempengaruhi
jaringan yang dilewati dan tidak mengubah komponen sinar. Semakin besar panjang
gelombang, semakin banyak sinar yang ditransmisikan karena pendaran sinar laser yang
terjadi berkurang. Teori fototermolisis selektif menjelaskan bahwa absorbsi energi laser
secara spesifik oleh kromofor target tanpa menyebabkan kerusakan termal yang berarti pada
jaringan sekitar. Agar fototermolisis selektif tercapai, sinar laser yang dihasilkan harus
memiliki panjang gelombang yang sesuai dengan kromofor target. Hal penting lainnya adalah
pulse duration atau pulse width sinar laser harus lebih kecil dari pada thermal relaxation time
(TRT) kromofor untuk mencegah penyebaran energi termal ke luar kromofor target. Jika

kerusakan jaringan reversible (<50°C). 26 Mekanisme kerja : Laser skin resurfacing teknik ablatif merupakan laser dengan energi tinggi yang menyebabkan ablasi fototermal. Suhu lebih dari 60°C menyebabkan denaturasi sebagian besar protein. Laser skin resurfacing dibagi menjadi 3 kelompok utama.11. parallel cooling dan postcooling. memanaskan jaringan dengan menggunakan air sebagai kromofor. Laser nonablatif hanya mengakibatkan kerusakan jaringan yang reversible. suhu lebih dari 70°C menyebabkan denaturasi DNA. Energi laser dengan teknik ablatif dihantarkan pada ambang batas (treshold) ablasi kulit. Terdapat 3 prinsip utama dalam penghantaran mekanisme pendingin. Efek fototermal laser pada jaringan dapat irreversible dan reversible terbagi dalam beberapa tingkatan. Oleh karena itu panjang gelombang. dan fluence sinar laser sangat penting diperhatikan agar efek fototermolisis selektif terjadi. baik yang ablatif maupun yang nonablatif. Laser infrared. pulse duration. Efek fototermal merupakan efek pada jaringan akibat produksi energi panas karena absorpsi energi laser. dan difusi termal. koagulasi dan nekrosis (50-100°C). Panas yang ditimbulkan oleh laser akan menyebabkan kerusakan epidermis dan dapat berakibat terbentuknya bula. Laser Teknik Balatif Modalitas : Laser ablatif yang sering dipakai dalam terapi sikatriks atrofik pasca akne adalah laser CO2 dan Er:YAG. laser non-ablatif. denaturasi protein dan hialinisasi kolagen terjadi pada suhu 60°-140°C.23 Kerusakan sel mulai terjadi saat suhu jaringan mencapai 5°-10°C. Tatalaksana sikatriks pasca akne dengan menggunakan laser dikategorikan dalam laser skin resurfacing. Evaporasi air dari jaringan dengan pengerutan sel. yaitu laser ablatif. Mekanisme laser . Deaktivasi enzim sel terjadi pada suhu 40°-45°C dan bersifat reversibel. Kerusakan juga terjadi pada jaringan sekitar karena difusi termal dan pendaran sinar laser. hiperkromasia. Hal ini karena dengan pemanasan cepat saat jaringan menyerap cukup energi laser untuk menguapkan air dalam jaringan. dispigmentasi. atau sikatriks. Efek fotomekanik/fotoakustik merupakan efek pada jaringan secara mekanik akibat kerusakan kromofor target karena absorbsi laser.pulse width lebih besar dari TRT. Untuk mengurangi hal tesebut terdapat mekanisme pendingin. yaitu vaporisasi (>100°C). maka kerusakan termal nonspesifik terjadi karena difusi panas. dan laser fraksional. ruptur membran. Fluence harus cukup tinggi untuk menghancurkan kromofor. yaitu precooling. Hal ini menyebabkan koagulasi yang terlihat pucat secara makroskopik.

Pada laser Er:YAG kedalaman akibat kerusakan termal lebih dangkal dengan waktu penyembuhan lebih cepat dibandingkan dengan laser CO2. Agar residual thermal damage (RTD) minimal.resurfacing pada laser ablatif adalah ablasi epidermis. Laser CO2 Laser CO2 memiliki panjang gelombang 10600 nm dengan kromofor air intraselular dan ekstraselular dalam jaringan. power . Sel kulit mengandung 85-90% air. Spektrum sinar ini sangat dekat dengan puncak absorbsi air. Laser CO2 pulsed energi tinggi dengan pulse duration kurang dari 1 milidetik dapat menembus kira-kira 20-30 μm ke dalam jaringan dengan kerusakan termal karena difusi panas sekitar 50-150 μm. Kedalaman penetrasi laser Er:YAG terbatas 2-5 μm jaringan per J/cm2 dengan kerusakan termal karena difusi panas sekitar 10-15 μm. Karena laser CO2 mempunyai kemampuan koagulasi. pulse width kurang dari TRT. jaringan elastin sehat. maka biasanya tidak disertai perdarahan. Ablasi epidermis dan kerusakan dermal selektif menyebabkan reepitelisasi dan penyembuhan luka (wound repair) di atas dermal bed yang berkontraksi. yaitu 2940 nm.21. Sehingga didapatkan hasil minimal pada remodeling dermis dan stimulasi kolagen serta pengerutan kolagen lebih sedikit dibandingkan dengan laser CO2. pemanasan dermis dengan remodelling kolagen (densitas kolagen meningkat. kerusakan dermis. Parameter laser untuk daerah wajah adalah energi 300 mJ. 24. Laser teknik ablatif dalam terapi sikatriks atrofik pasca akne Walia dan Alster melakukan penelitian terhadap 60 pasien (tipe kulit Fitzpatrick I-V) dengan sikatriks atrofik pasca akne (sikatriks icepick dan sikatriks atrofik lainnya) menggunakan terapi laser CO2 short-pulsed energi tinggi.End point ditentukan oleh adanya daerah pucat pada usapan ringan di daerah sikatriks atau berwarna kekuningan setelah dilakukan radiasi laser. dan fluence dipilih hanya untuk denaturasi kolagen pada bagian atas dermis. Terapi laser Er:YAG memberikan hasil yang baik pada sikatriks boxcar dangkal. Koefisien absorbsinya terhadap air 12-18 kali lebih besar dibandingkan dengan laser CO2. dan perbaikan vaskularisasi dermis). Laser Er: YAG Laser Er:YAG memiliki panjang gelombang dalam interval spektrum infra merah. 29 Ablasi total yang terjadi adalah ablasi epidermis dan sebagian dermis. serta kontraksi termal yang menyebabkan pengerutan kolagen sehingga terjadi pengencangan jaringan (tissue tightening). harus digunakan densitas power yang cukup untuk terjadinya vaporisasi jaringan.

Terdapat dua penelitian lain yang menyebutkan bahwa terapi sikatriks atrofik pasca akne dengan menggunakan dual-mode ataupun long-pulsed laser Er:YAG pada tipe kulit Fitzpatrick III-V memberikan hasil yang efektif dan aman. teknik pelaksanaan. fluence 400 mJ. dan luas handpiece scanning 8 mm2. dan end point terapi. Didapatkan hasil 75% pasien terjadi perbaikan klinis yang berlangsung sampai 18 bulan pasca terapi laser CO2. Teknik ablatif dalam terapi sikatriks atrofik pasca akne Walia dan Alster melakukan penelitian terhadap 60 pasien (tipe kulit Fitzpatrick I-V) dengan sikatriks atrofik pasca akne (sikatriks icepick dan sikatriks atrofik lainnya) menggunakan terapi laser CO2 short-pulsed energi tinggi. Parameter laser untuk daerah wajah adalah energi 300 mJ. Woo dkk. meneliti 158 pasien dengan berbagai tipe sikatriks atrofik pasca akne yang diterapi dengan beberapa tipe laser Er:YAG. diterapi menggunakan laser Er:YAG 2 kali dengan interval 1 bulan. Didapatkan hasil bahwa sikatriks boxcar dangkal dan icepick memberikan respons yang baik terhadap tiga tipe laser Er:YAG. namun pada sikatriks rolling dan boxcar dalam diperlukan Er:YAG long-pulsed untuk mendapatkan efek termal guna keberhasilan terapi. Penelitian lain memberikan hasil yang berbeda meskipun menggunakan teknik laser yang sama.60 W. Hal ini dapat disebabkan antara lain karena perbedaan tipe sikatriks. parameter laser yang dipilih. parameter laser yang dipilih. dan end point terapi. Seluruh wajah diterapi dengan 2 pass tanpa tumpang tindih. pulse duration 300 μs. teknik pelaksanaan. Penelitian lain memberikan hasil yang berbeda meskipun menggunakan teknik laser yang sama. dan repetition rate 2 Hz. infeksi atau sikatriks hipertrofik selama 3 bulan pengamatan. Hal ini dapat disebabkan antara lain karena perbedaan tipe sikatriks. meneliti 158 pasien dengan berbagai tipe . dispigmentasi. power 60 W. Dengan parameter tesebut kedalaman yang dicapai sekitar 20 μm setiap pass dan pass tambahan dilakukan pada sikatriks yang lebih dalam. Parameter terapi yang dipakai adalah spot size 6 mm. dan luas handpiece scanning 8 mm2.Woo dkk. Tay dan Kwok melakukan penelitian terhadap 9 orang Asia (tipe kulit IV-V) dengan sikatriks atrofik pasca akne derajat ringan sampai sedang berat. Didapatkan hasil seluruh sikatriks atrofik mengalami perbaikan klinis mulai dari ringan sampai sedang dan tidak ditemukan efek samping eritema. Didapatkan hasil 75% pasien terjadi perbaikan klinis yang berlangsung sampai 18 bulan pasca terapi laser CO2. Seluruh wajah diterapi dengan 2 pass tanpa tumpang tindih. yaitu short-pulsed. variable-pulsed (short pulse dan long pulse) dan dual-mode (short ablative pulse dan coagulative long pulse).

Dengan parameter tesebut kedalaman yang dicapai sekitar 20 μm setiap pass dan pass tambahan dilakukan pada sikatriks yang lebih dalam. dispigmentasi. pulse duration 300 μs. Tay dan Kwok melakukan penelitian terhadap 9 orang Asia (tipe kulit IV-V) dengan sikatriks atrofik pasca akne derajat ringan sampai sedang berat. yaitu shortpulsed. Parameter terapi yang dipakai adalah spot size 6 mm. Didapatkan hasil seluruh sikatriks atrofik mengalami perbaikan klinis mulai dari ringan sampai sedang dan tidak ditemukan efek samping eritema. dan repetition rate 2 Hz. diterapi menggunakan laser Er:YAG 2 kali dengan interval 1 bulan. namun pada sikatriks rolling dan boxcar dalam diperlukan Er:YAG long-pulsed untuk mendapatkan efek termal guna keberhasilan terapi. Didapatkan hasil bahwa sikatriks boxcar dangkal dan icepick memberikan respons yang baik terhadap tiga tipe laser Er:YAG. fluence 400 mJ. infeksi atau sikatriks hipertrofik selama 3 bulan pengamatan. variable-pulsed (short pulse dan long pulse) dan dual-mode (short ablative pulse dan coagulative long pulse).sikatriks atrofik pasca akne yang diterapi dengan beberapa tipe laser Er:YAG. Terdapat dua penelitian lain yang menyebutkan bahwa terapi sikatriks atrofik pasca akne dengan menggunakan dual-mode ataupun long-pulsed laser Er:YAG pada tipe kulit Fitzpatrick III-V memberikan hasil yang efektif dan aman. .