Anda di halaman 1dari 3

R.

Dimas Bagus Prabowo
20090310117
UMY 2
REFLEKSI KASUS HIDUP
I. Deskripsi kasus
Seorang perempuan berusia 39 tahun datang ke IRD mengaku dipukul dan ditendang
oleh suaminya pada hari yang sama saat datang ke IRD untuk meminta surat visum tanpa
membawa surat permintaan dari penyidik. Korban mengaku dipukul dengan tangan
kosong dibagian wajah satu kali dan ditendang tanpa alas kaki di bagian perut satu kali.
Saat ini korban mengeluh nyeri kepala dan nyeri perut. Hasil pemeriksaan didapatkan
luka memar di bagian mata dan sekitar mata kiri. Pada bagian perut tidak didapatkan
jejas. Dokter juga memeriksa bagian tubuh korban yang kemungkinan juga terdapat jejas
akibat benturan di belakang korban, yaitu bagian kepala belakang, punggung dan
pinggang tidak didapatkan jejas. Dokter kemudian menulis hasil pemeriksaan di rekam
medis, memberikan terapi, dan mengedukasi korban untuk segera melapor ke kepolisian
sektor terdekat untuk meminta surat permintaan visum, sehingga Visum et Repertum
dapat dibuat.
II. Perasaan terhadap pengalaman
Saya merasa sedih dan empati terhadap korban karena mengalami kekerasan dalam
rumah tangga. Terlebih korban mengaku sudah beberapa kali mengalami perlakuan
serupa dan masih tinggal serumah dengan suaminya. Korban belum berani melaporkan
kejadian ini pada polisi dengan pertimbangan masih ingin membesarkan anak-anaknya
dengan keluarga yang lengkap (bukan orang tua tunggal).
III.

Evaluasi
Dalam kasus ini saya merasa dokter tersebut sudah melakukan tindakan yang tepat
karena sudah memeriksa, memberikan terapi, dan mengedukasi korban tetapi tetap tidak
membuat Visum et Repertum karena tidak ada surat permintaan penyidik.

IV.Analisis

untuk mengungkap kasus dan membuat perkara menjadi lebih terang agar kasus bisa terselesaikan. keracunan ataupun mati yang diduga karena peristiwa yang merupakan tindak pidana. “Setiap orang yang diminta pendapatnya sebagai ahli kedokteran kehakiman atau dokter atau ahli lainnya wajib memberikan keterangan ahli demi keadilan. pembunuhan. Pada kasus tersebut. penyidik membutuhkan bantuan dari ahli. Hal ini dikarenakan. Seorang dokter juga berkewajiban memberikan keterangan ahli seperti yang diminta penyidik yang berwenang tersebut. penganiayaan. “Dalam hal penyidik untuk kepentingan peradilan menangani seorang korban baik luka. seperti yang diatur dalam Pasal 179 KUHAP yang berbunyi. maupun korban meninggal. dimaksudkan untuk memenuhi rumusan delik dalam KUHP. dan berfungsi sebagai alat bukti yang sah di pengadilan sebagaimana tercantum dalam Pasal 184 KUHAP. Korban dengan luka ringan merupakan salah satu hasil tindak pidana tersebut. peranan ilmu kedokteran forensik berfungsi membantu penegakan hukum antara lain pembuatan visum et repertum terhadap seseorang yang dikirim oleh polisi (penyidik). Peranan dokter maupun ahli kedokteran kehakiman tersebut tertuang dalam Pasal 133 ayat 1 KUHAP yang berbunyi.”.” Surat keterangan ahli ini dinyatakan dalam surat yang disebut visum et repertum. kecelakaan kerja. “keterangan yang diberikan oleh seorang yang memiliki keahlian khusus tentang hal yang diperlukan untuk membuat terang suatu perkara pidana guna kepentingan pemeriksaan.Dalam ilmu kedokteran forensik. ia berwenang mengajukan permintaan keterangan ahli kepada ahli kedokteran kehakiman atau dokter dan atau ahli lainnya. Yang dimaksud keterangan ahli tertuang dalam Pasal 1 butir 28 KUHAP yang berbunyi. Visum et Repertum juga berguna dalam proses penyidikan. sesuai dengan Pasal 133 ayat 2 KUHAP.” . salah satunya dokter maupun ahli kedokteran kehakiman. dokterlah seseorang yang paling memahami tubuh manusia. korban dengan luka sedang merupakan hasil dari tindak penganiayaan. dan korban dengan luka berat. perkosaan. baik hidup atau mati. yaitu berupa penganiayaan ringan (pasal 352 KUHP). Keterangan ahli yang berupa Visum et Repertum (VER) tersebut adalah keterangan yang dibuat oleh dokter atas permintaan penyidik yang berwenang mengenai hasil pemeriksaan medik terhadap manusia. berdasarkan keilmuannya dan di bawah sumpah untuk kepentingan peradilan. ataupun bagian atau diduga bagian dari tubuh manusia. Tujuan pemeriksaan forensik pada korban hidup adalah untuk mengetahui penyebab luka/sakit dan derajat parahnya luka atau sakitnya tersebut. Peristiwa yang dapat mengakibatkan tindak pidana antara lain peristiwa kecelakaan lalu lintas.

Pada kasus perlukaan. Dokter harus menuliskan luka-luka. saya akan menerapkan hal yang sama yang dilakukan oleh dokter tersebut dan menerapkan pelayanan sesuai alur dan prosedur pelayanan korban KtP/A di RS menurut KEPMENKESRI NOMOR 1226/Menkes/SK/XII/2009. Daftar Pustaka Ilmu Kedokteran Forensik. Seorang dokter untuk membantu peradilan. Rencana Jika kelak saya sudah menjadi dokter secara resmi dan mendapatkan kasus serupa. cedera. atau penyakit yang ditemukan.VER merupakan alat bukti yang sah dan memiliki nilai otentik karena dibuat atas sumpah jabatan sebagai seorang dokter. VII. wajib membuktikan adanya luka atau memar.FKUI KUHP KUHAP . serta derajat perlukaan. V. Kesimpulan Pada kasus ini dokter sudah melakukan tindakan yang tepat. pada visum et repertum. jenis benda penyebab. Sesuai dengan Staatsblad 350 tahun 1937 yang menyatakan bahwa visum et repertum hanya sah bila dibuat oleh dokter yang sudah mengucapkan sumpah sewaktu mulai menjabat sebagai dokter. korban yang dimintakan visum et repertumnya adalah kasus dengan dugaan adanya tindak kekerasan yang diancam hukuman oleh KUHP. sehingga dokter harus menentukan derajat luka dengan benar. VI. Derajat luka sangat diperlukan untuk menentukan hukuman yang akan diterima oleh korban.