Anda di halaman 1dari 28

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian
1. Keadaan georafis
Puskesmas Moramo merupakan salah satu dari 17 puskesmas yang
di Kabupaten Konwe selatan, Provinsi Sulawesi Tenggara Puskesmas
Moramo merupakan salah satu dari beberapa puskesmas dengan rawat inap
terletak di ibu kota kecamatan Moramo (Kelurahan Lapuko) jarak dari ibu
kota kabupaten (Andoolo) kurang lebih 80 km kea rah barat dari ibu kota
provinsi (Kendari) kurang lebih 50 km kea rah utara dengan batas wilayah
sebagai berikut:
1.1. Sebelah utara
1.2. Sebelah timur
1.3. Sebelah selatan
1.4.

: Kecamatan Moramo Utara
: Kecamatan Laonti
: Kecamatan Kolono, Lainea
Sebelah barat

: Kecamatan Konda

(Puskesmas Moramo,2012).
Luas wilayah kerja puskesmas Moramo yaitu 584 km 2 secara
administrasi jumlah desa/kelurahan seluruhnya di wilayah kerja puskesmas
Moramo adalah satu kelurahan 21 desa (Puskesmas Moramo,2012).
2. Keadaan Demografis
Jumlah penduduk diwilayah kerja Puskesmas Moramo Kecamatan
Moramo Kabupaten Konawe selatan tahun 2012 sebanyak 13.035 jiwa
(5462 jiwa laki laki dan 7468 jiwa perempuan) dengan jumlah kepala
keluarga sebanyak 3680 KK (Puskesmas Moramo,2012).
3. Sumber daya Puskesmas
3.1. Sarana dan prasarana
Sarana kesehatan yang terdapat diwilayah kerja Puskesmas Moramo
kecamatan Moramo kabupaten konawe selatan tahun 2012 terdiri dari:
64

1 unit puskesmas induk, 2 unit puskesmas pembantu, 1 unit puskesdes,
4, 6 unit polindes dan 6 unit posyandu.
3.2. Tenaga
Jumlah tenaga dan klasifikasi pendidikan dapat dilihat pada tabel 4.1.
Dibawah ini.
Tabel 4.1.
Jumlah Tenaga Dan Klasifikasi Pendidikan Puskesmas Moramo
Tahun 2012
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13

Jenis tenaga
Dokter umum
Dokter gigi
Sarjana Kesehatan Masyarakat
S1-Keperawatan
Akademi perawat
Akademi bidan
Akademi Gizi
Akademi gigi
SPK
Apoteker
D1 Kebidanan
Pekarya
SMA
Total
Sumber :Puskesmas Moramo, 2012
B. Hasil penelitian

Jumlah
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
5
34

1. Karakteristik Responden
Untuk mengetahui hasil penelitian, maka perlu dilakukan analisis
terhadap data-data yang telah dikumpulkan selama penelitian. Analisis hasil
penelitian ini dibagi atas analisis data-data umum dan analisis variable
penelitian. Analisis

data-data

umum

ini

sifatnya

mendeskripsikan

karakteristik responden, sedangkan analisis variable mendeskripsikan
variable penelitian dengan menggunakan tehnik kuantitatif. Analisis
karakteristik responden di sajikan dalam tabel-tabel berikut :
1.1.

Umur

65

Umur responden mulai dari kurang dari 20 tahun hingga diatas 40 tahun dan responden yang berumur 20 .6%).8 15.6 9.2 Distribusi Responden Menurut Umur Di Wilayah Kerja Puskesmas Moramo Kabupaten Konawe Selatan Tahun 2013 N Jumlah Umur (Tahun) o 1 2 3 4 5 6 < 20 20-24 25-29 30-34 35-40 >40 Total Sumber : Data Primer Diolah. Pendidikan Tabel 4.2.2.4 31. Dan responden paling sedikit adalah umur diatas 40 tahun yaitu 2 orang (3.4 3.3.5 40.6 18.24 tahun merupakan jumlah terbanyak yaitu 26 orang (40.Tabel 4.3 .1 100 Berdasarkan tabel 4. 1. 2013 n % 8 26 12 10 6 2 64 12.1%). Distribusi Responden Berdasarkan Pendidikan Di Wilayah Kerja Moramo Kabupaten Konawe Selatan Tahun 2013 No Tingkat Pendidikan 1 2 SD SMP 66 Jumlah n 6 20 % 9.

8%).3 4 SMA Perguruan Tinggi Total Sumber : Data Primer Diolah.4%). Analisis Univariat 2. 2013 28 10 64 43. Tingkat pendidikan responden mulai dari pendidikan sekolah dasar hingga perguruan tinggi dan responden dengan pendidikan sekolah menengah atas merupakan jumlah terbanyak yaitu 28 orang (43. 2013 Berdasarkan tabel 4.3. jumlah terbanyak adalah responden ibu rumah tangga yaitu sebanyak 32 orang (50. 2.4 3 PNS 1 1.6 4 Pedagang 9 14.4.7 Total 64 100 Sumber : Data Primer Diolah.6 100 Berdasarkan tabel 4.8 15. Menunjukkan bahwa dari 64 responden.1.0 2 Wiraswasta 15 23.Pekerjaan Tabel 4.1 5 Tani 4 6. Dan responden paling sedikit adalah dengan tingkat pendidikan sekolah dasar yaitu 6 orang (9.3 6 Buruh 3 4.3.0%) dan yang paling sedikit adalah responden dengan pekerjaan sebagai PNS sebanyak 1 orang (1.6%). 1.4 Distribusi Responden Berdasarkan Pekerjaan Di Wilayah Kerja Moramo Kabupaten Konawe Selatan Tahun 2013 Jumlah N Pekerjaan o N % 1 IRT 32 50. Kejadian Pneumonia 67 .

2013 n 41 23 64 % 64.1 35.9 100 Berdasarkan tabel 4.9%). Responden dengan pengetahuan kategori kurang yaitu 41 orang (64.Pengetahuan Tabel 4. 2013 n 32 32 64 % 50. 2. 2.6 Distribusi Responden Berdasarkan Pengetahuan Di Wilayah Kerja Puskesmas Moramo kabupaten Konawe Selatan Tahun 2013 1 2 Jumlah Pengetahuan No Kurang Cukup Total Sumber : Data Primer Diolah.6. Kejadian pneumonia pada bayi umur 9-11 bulan pada kelompok kasus 32 bayi (50%) dan pada kelompok control 32 bayi (50%).2.1%) dan kategori cukup sebanyak 23 orang (35.0 50.0 100 Berdasarkan tabel 4.Sikap Tabel 4.Tabel 4.5.7 68 .3.5 Distribusi kejadian pneumonia pada bayi umur 9-11 bulan diwilayah kerja puskesmas Moramo kabupaten Konawe Selatan tahun 2013 Jumlah Kejadian Pneumonia No 1 2 Kasus Control Total Sumber : Data Primer Diolah.

6%).8 Distribusi Berdasarkan Pemberian ASI Eksklusif Di Wilayah Kerja Puskesmas Moramo kabupaten Konawe Selatan Tahun 2013 No Pemberian ASI Eksklusif 1 2 Tidak Ya Total Sumber : Data Primer Diolah.Distribusi Responden Berdasarkan Sikap Di Wilayah Kerja Puskesmas Moramo kabupaten Konawe Selatan Tahun 2013 Jumlah Sikap No 1 2 Kurang Cukup Total Sumber : Data Primer Diolah.4 40.6%) dan yang tidak memberikan sebanyak 38 orang (59. 2.7 responden dengan sikap dalam kategori kurang merupakan jumlah terbanyak yaitu 38 orang (59.4%).Pemberian ASI Eksklusif Tabel 4.6 100 tabel 4.8. responden % 59. 2.4%) dan dalam kategori cukup sebanyak 26 orang (40. 2013 Berdasarkan Eksklusif tabel Jumlah n 38 26 64 4.Imunisasi lengkap Tabel 4. 2013 Berdasarkan n 38 26 64 % 59.5.6 100 yang memberikan ASI yaitu 26 orang (40.9 Distribusi Berdasarkan Imunisasi Lengkap Di Wilayah Kerja Puskesmas Puskesmas Moramo kabupaten Konawe Selatan Tahun 2013 No Imunisasi Lengkap 69 Jumlah n % .4.4 40.

4 100 tabel 4.2 32.9 responden dengan imunisasi lengkap sebanyak 38 orang (59.Kepadatan hunian Tabel 4.1.4%) dan yang tidak lengkap yaitu 26 orang (40. dengan kepadatan hunian yang memenuhi syarat sebanyak 21 orang (32.11 Pengaruh Pengetahuan Ibu Terhadap Kejadian ISPA Pneumonia Pada Bayi Umur 9-11 Bulan Di Wilayah Kerja Puskesmas Moramo Kabupaten Konawe Selatan Tahun 2013 70 .8%) dan yang tidak memenuhi syarat yaitu 43 orang (67.6. 2013 Berdasarkan 26 38 64 40. 3. Pengaruh pengetahuan ibu terhadap kejadian ISPA Pneumonia Tabel 4. 2.8 100 4.1 2 Tidak Lengkap Lengkap Total Sumber : Data Primer Diolah. Analisis Bivariat 3.10 Distribusi Berdasarkan Kepadatan Hunian Di Wilayah Kerja Puskesmas Puskesmas Moramo kabupaten Konawe Selatan Tahun 2013 No Jumlah Kepadatan Hunian 1 2 Tidak Memenuhi Syarat Memenuhi Syarat Total Sumber : Data Primer Diolah.2%). 2013 Berdasarkan tabel n 43 21 64 % 67.6 59.10.6%).

2013. Dengan demikian.6 15 23.591-15.911.9 32 50 32 50 64 100 p = 0.4 41 64.911 95% CI : 1.4 17 26. Pengaruh sikap ibu Pneumonia Tabel 4.6%).No 1 2 3 4 Pengetahuan Kurang Cukup Total Hasil uji Kejadian ISPA Pneumonia Jumlah Ya (Kasus) Tidak (Kontrol) n % n % n % 26 40.4%).157 Sumber : Data Primer Diolah. Sedangkan nilai lower limit dan uppper limit (1. Berdasarkan hasil uji statistik dengan chi-square test dan crosstabs risk estimate diperoleh nilai p value : 0.9%) dan jumlah penderita ISPA pneumonia yaitu 6 respondent (9.157) tidak melewati angka 1.2. Ha yang menyatakan bahwa pengaruh pengetahuan ibu terhadap kejadian ISPA Pneumonia pada bayi umur 9-11 bulan diwilayah kerja puskesmas Moramo kabupaten Konawe Selatan tahun 2013 diterima. Tabel diatas menunjukkan hasil analisis pengaruh pengetahuan terhadap kejadian ISPA pneumonia bahwa dari 64 responden dengan pengetahuan dalam kategori cukup sebanyak 23 (35. Sedangkan respondent dengan pengetahuan dalam kategori kurang jumlah sebanyak 41 (64. 3.1 6 9.004 nilai OR:4.12 71 terhadap kejadian ISPA .6 23 35.591– 15.1%) dan jumlah penderita ISPA pneumonia yaitu 26 respondent (40.6%) dan bukan penderita 15 responden (23.4%) dan bukan penderita 17 responden (26.004 OR=4.

72 .1 13 20.6%) dan jumlah penderita ISPA pneumonia yaitu 7 respondent (10.002 nilai OR:5.745-15.3 38 59. Sedangkan nilai lower limit dan uppper limit (1.4%) dan jumlah penderita ISPA pneumonia yaitu 25 respondent (39.4 7 10. Tabel diatas menunjukkan hasil analisis pengaruh sikap terhadap kejadian ISPA pneumonia bahwa dari 64 responden dengan sikap dalam kategori cukup sebanyak 26 (40.220. Dengan demikian.611) tidak melewati angka 1.9%) dan bukan penderita 19 responden (29.6 32 50 32 50 64 100 p = 0.9 19 29.745– 15.7 26 40.220 95% CI : 1.611 Sumber : Data Primer Diolah. Sedangkan respondent dengan sikap dalam kategori kurang jumlah sebanyak 38 (59. Ha yang menyatakan bahwa pengaruh sikap ibu terhadap kejadian ISPA Pneumonia pada bayi umur 911 bulan diwilayah kerja puskesmas Moramo kabupaten Konawe Selatan tahun 2013 diterima. 2013.3%).7%).002 OR=5. Berdasarkan hasil uji statistik dengan chi-square test dan crosstabs risk estimate diperoleh nilai p value : 0.Pengaruh Sikap Ibu Terhadap Kejadian ISPA Pneumonia Pada Bayi Umur 9-11 Bulan Di Wilayah Kerja Puskesmas Moramo Kabupaten Konawe Selatan Tahun 2013 No 1 2 3 4 Sikap Kurang Cukup Total Hasil uji Kejadian ISPA Pneumonia Jumlah Ya (Kasus) Tidak (Kontrol) n % n % n % 25 39.1%) dan bukan penderita 13 responden (20.

4%) dan jumlah penderita ISPA pneumonia lebih banyak yaitu 27 respondent (42. Pengaruh pemberian ASI Eksklusif terhadap kejadian ISPA Pneumonia Tabel 4.8 19 29. Tabel diatas menunjukkan hasil analisis pengaruh pemberian ASI EKsklusif terhadap kejadian ISPA pneumonia bahwa dari 64 responden dengan status ASI EKsklusif sebanyak 24 (37.409–25. 2013. Dengan demikian.13 Pengaruh Pemberian ASI EKsklusif Terhadap Kejadian ISPA Pneumonia Pada Bayi Umur 9-11 Bulan Di Wilayah Kerja Puskesmas Moramo Kabupaten Konawe Selatan Tahun 2013 No 1 2 3 4 Pemberian ASI EKsklusif Tidak Ya Total Hasil uji Kejadian ISPA Pneumonia Jumlah Ya (Kasus) Tidak (Kontrol) N % n % n % 27 42.8%) dibanding yang bukan penderita 19 responden (29.3. Berdasarkan hasil uji statistik dengan chi-square test dan crosstabs risk estimate diperoleh nilai p value : 0.3 40 62. Ha yang menyatakan bahwa pengaruh pemberian ASI EKsklusif terhadap kejadian ISPA Pneumonia 73 .7 24 37.000 nilai OR:7. Sedangkan nilai lower limit dan uppper limit (2.5 32 50 32 50 64 100 p = 0.2%) dibanding bukan penderita 13 responden (20.3%).5%) dan jumlah penderita ISPA pneumonia lebih sedikit yaitu 5 respondent (7.857) tidak melewati angka 1.3.409-25.2 13 20.892.000 OR=7.7%). Sedangkan respondent dengan tidak ASI Eksklusif jumlah sebanyak 40 (59.857 Sumber : Data Primer Diolah.5 5 7.892 95% CI : 2.

6%) dibanding bukan penderita 9 responden (14.4%) dibanding yang bukan penderita 23 responden (35.4 23 35.896 95% CI : 1.pada bayi umur 9-11 bulan diwilayah kerja puskesmas Moramo kabupaten Konawe Selatan tahun 2013 diterima. Pengaruh imunisasi lengkap terhadap kejadian ISPA Pneumonia Tabel 4.4.6 15 23.042 OR=2.4 32 50 32 50 64 100 p = 0.6 9 14. Sedangkan nilai lower limit dan uppper limit (1. 2013. 3. Berdasarkan hasil uji statistik dengan chi-square test dan crosstabs risk estimate diperoleh nilai p value : 0.9 38 59.14 Pengaruh Imunisasi Lengkap Terhadap Kejadian ISPA Pneumonia Pada Bayi Umur 9-11 Bulan Di Wilayah Kerja Puskesmas Moramo Kabupaten Konawe Selatan Tahun 2013 No 1 2 3 4 Imunisasi Lengkap Tidak lengkap Lengkap Total Hasil uji Kejadian ISPA Pneumonia Jumlah Ya (Kasus) Tidak (Kontrol) n % n % n % 17 26. Dengan demikian.4%) dan jumlah penderita ISPA pneumonia lebih sedikit yaitu 15 respondent (23.896. Ha yang menyatakan bahwa 74 .6%) dan jumlah penderita ISPA pneumonia lebih banyak yaitu 17 respondent (26.027-8.1 26 40.042 nilai OR:2.027–8.172 Sumber : Data Primer Diolah. Tabel diatas menunjukkan hasil analisis pengaruh imunisasi lengkap terhadap kejadian ISPA pneumonia bahwa dari 64 responden dengan status imunisasi lengkap sebanyak 38 (59.9%).172) tidak melewati angka 1.1%). Sedangkan respondent dengan status imunisasi tidak lengkap jumlah sebanyak 26 (40.

75 .824 95% CI: 1.239-11.4%). Tabel diatas menunjukkan hasil analisis pengaruh kepadatan hunian terhadap kejadian ISPA pneumonia bahwa dari 64 responden kepadatan hunian memenuhi syarat sebanyak 21 (32.801 Sumber : Data Primer Diolah.15 Pengaruh Kepadatan Hunian Terhadap Kejadian ISPA Pneumonia Pada Bayi Umur 9-11 Bulan Di Wilayah Kerja Puskesmas Moramo Kabupaten Konawe Selatan Tahun 2013 No 1 2 3 4 Kepadatan Hunian Tidak Memenuhi Syarat Memenuhi Syarat Total Hasil uji Kejadian ISPA Pneumonia Tidak Ya (Kasus) (Kontrol) N % n % 26 40.4%) dibanding yang bukan penderita 15 responden (23.4 15 23.5.2 6 9. Pengaruh kepadatan hunian terhadap kejadian ISPA Pneumonia Tabel 4.6%).017 OR=3.8 32 50 32 50 64 100 p = 0.4 21 32. Sedangkan respondent dengan status kepadatan hunian tidak memenuhi syarat jumlah sebanyak 43 (67.2%) dan jumlah penderita ISPA pneumonia lebih banyak yaitu 26 respondent (40.8%) dan jumlah penderita ISPA pneumonia lebih sedikit yaitu 6 respondent (9.6%) dibanding bukan penderita 17 responden (26. 3.6 17 26. 2013.pengaruh imunisasi lengkap terhadap kejadian ISPA Pneumonia pada bayi umur 9-11 bulan diwilayah kerja puskesmas Moramo kabupaten Konawe Selatan tahun 2013 diterima.6 Jumlah n 43 % 67.

510 7. Analisis Multivariat Table 4. 4.783 3.801) tidak melewati angka 1.528 0.006 Berdasarkan hasil uji regresi logistic yakni untuk mengetahui variabel bebas yang berpengaruh atau memberikan kontribusi terbesar dengan variabel terikat sesuai dengan tujuan penelitian ini ada beberapa hal yang di ambil dari out put analisis multivariate dengan meggunakan regresi logistic sebagai berikut: 4.1.496 1.472 Kepadatan hunian constant 0. Hasil dari table model sumari Nagelkerke R square menunjukan bahwa nilanya 0.Berdasarkan hasil uji statistik dengan chi-square test dan crosstabs risk estimate diperoleh nilai p value : 0.824. Ha yang menyatakan bahwa pengaruh kepadatan hunian terhadap kejadian ISPA Pneumonia pada bayi umur 9-11 bulan diwilayah kerja puskesmas Moramo kabupaten Konawe Selatan tahun 2013 diterima.017 nilai OR:3. Dengan demikian. 340 Hosmer and Lemeshow test Value Chi Square 5.933 Sign.16 Analisis multivariate dengan regresi logistic model enter hosmer and lemeshow test Variabel penelitian Pengetahuan Sikap Pemberian ASI Eksklusif Imunisasi lengkap Nagelkerke R square 0. Sedangkan nilai lower limit dan uppper limit (1.431 Exp (B) 1. 0. 340 artinya secara bersama sama ke lima 76 .239-11.

Kejadian pneumonia pada masa balita berdampak jangka panjang yang akan muncul pada masa dewasa. melalui persamaan regresi logistic yaitu: πj Logit (πj) =In 1−π j = β0+ β1xj1+ β2xj2+ β3xj3+ β4xj4 Constant = 0. sikap 1.528. Hasil dari variabel yang berpengaruh pengaruh terhadap kejadian ISPA Pneumonia pada penelitian ini adalah.1.008. kepadatan hunian 0. Kejadian ISPA Pneumonia Pneumonia adalah penyakit ISPA yang merupakan penyebab umum kematian pada bayi dan balita.472.22% di sebabkan oleh variabel lainya. Pembahasan univariat 1. Pemberian ASI Eksklusif dengan nilai Exp (B) paling tinggi yaitu 7.783. pemberian ASI Eksklusif 7. C. 2006). imunisasi lengkap 3. yaitu penurunan fungsi paru (Putro.783 artinya besaran pengaruh imunisasi lengkap terhadap kejadian ISPA pneumonia sebesar 7. Penyakit ini ditandai dengan batuk yang disertai dengan kesukaran bernapas atau cepat dan tarikan dada ke dalam saat bernafas (Rizanda. Pembahasan 1. 2006).510.496. Pengetahuan 1. Mengenai besaran hubungan dapat di jelaskan 4.variabel memberikan pengaruh sebesar 34% sedangkan yang 66% di pengaruhi oleh variabel lain yang tidak di teliti dalam penelitian ini. Artinya nilai koefisiensi konstanta pada persamaan regresi tersebut mengandung makna bahwa apabila nilai variabel ke lima di tingkatkan maka besarnya angka pengaruh terhadap kejadian ISPA Pneumonia. 77 .2.78% sedangkan 92.

1. Faktor predisposisi yang lain untuk terjadinya pneumonia adalah adanya kelainan anatomi kongenital (contoh fistula trakeaesofagus. campak. gangguan neuromuskular. paparan asap rokok secara pasif dan faktor lingkungan (polusi udara) merupakan faktor resiko untuk terjadinya pneumonia. kontaminasi perinatal dan gangguan klirens mukus/sekresi seperti pada fibrosis kistik. prilaku pada hakikatnya adalah suatu aktifitas dari manusia itu sendiri (Notoatmodjo.Beberapa keadaan seperti gangguan nutrisi (malnutrisi). usia muda. gangguan fungsi imun (penggunaan sitostatika dan steroid jangka panjang. Pengetahuan merupakan hasil dari tahu 78 .2. terbentuknya prilaku dan perubahan prilaku karena proses interaksi antara individu dengan lingkungan. 2006). pertusis.1%) dan kategori cukup sebanyak 23 orang (35. kepadatan hunian. Masih kurang nya pengetahuan sebagian responden tersebut disebabkan dalam menjawab kuisioner menunjukan bahwa mereka tidak mengetahui penyebab dan gejala pneumonia. defisiensi Zn. gangguan sistem imun berkaitan penyakit tertentu seperti HIV). aspirasi benda asing atau disfungsi silier (Retno. defisiensi vitamin A. Berkaitan dengan pengetahuan dengan prilaku sesuai teori bahwa terbentuknya prilaku dapat terjadi karena proses kematangan dan dari proses interaksi dengan lingkungan.9%). Pengetahuan Hasil penelitian menunjukkan responden dengan pengetahuan kategori kurang yaitu 41 orang (64. kelengkapan imunisasi. penyakit jantung bawaan). 2007). dan mereka menganggap bila ada gejala seperti batuk dan sesak nafas di anggap penyakit biasa.

Menurut Notoatmodjo (2007). Pengetahuan merupakan faktor yang sangat penting dalam membentuk tindakan seseorang (over behavior). 1. Sikap Hasil penelitia persentase responden dengan sikap dalam kategori kurang merupakan jumlah terbanyak yaitu 38 orang (59. pengetahuan seseorang tentang sesuatu objek juga mengandung dua aspek yaitu aspek positif dan negatif. Kedua aspek inilah yang akhirnya akan menentukan sikap seseorang terhadap objek tertentu. Kaitan ini didasarkan oleh asumsi bahwa kepercayaan dan perasaan banyak mempengaruhi perilaku.dan ini terjadi setelah orang melakukan pengindraan terjadi melalui panca indra manusia (Efendi. Menurut Syahrani (2012).4%) dan dalam kategori cukup sebanyak 26 orang (40. Kecenderungan berperilaku secara konsisten 79 . bahwa sikap menunjukkan bagaimana perilaku atau kecenderungan berperilaku yang ada dalam diri seseorang yang berkaitan dengan objek sikap yang dihadapinya.3. Pengetahuan dapat mendorong seseorang untuk berusaha memperoleh informasi lebih banyak mengenai sesuatu yang dianggap perlu dipahami lebih lanjut atau dianggap penting. Semakin banyak aspek positif dari objek yang diketahui. 2009). Ibu sebagai pemegang peran pengasuh bagi anak wajib mengetahui segala keperluan dan kekurangan yang belum terpenuhi pada anak.6%). akan menumbuhkan sikap makin positif terhadap objek tersebut. Hal ini mendorong orang tua (ibu) untuk mengembangkan sikap yang menuntun pada tindakan sebagai hasil atau output dari pengetahuan terhadap hal – hal yang berhak diperoleh anak salah satunya adalah perawatan.

Seperti yang diungkapkan oleh Suyono (2012).selaras dengan kepercayaan dan perasaan ini membentuk sikap individual. vitamin. 2008). jamur dan lain-lain. bahwa tingkat pengetahuan seseorang yang semakin tinggi akan berdampak pada arah yang lebih baik. Menurut Ruesli (2010). mineral dan ASI yang diperas. 1. Pemberian ASI Eksklusif Hasil penelitian responden yang memberikan ASI Eksklusif 1. yang dimaksud dengan pemberian ASI eksklusif disini adalah bayi hanya diberikan ASI tanpa makanan atau minuman lain termasuk air putih kecuali obat.4.4%). virus. ASI mengandung zat kekebalan terhadap infeksi diantaranya protein. Bahkan bayi baru lahir yang hanya mendapat sedikit ASI pertama (koloustrum) tidak memerlukan tambahan cairan karena bayi dilahirkan dengan cukup cairan didalam tubuhnya. Sehingga ibu yang berpengetahuan baik akan lebih objektif dan terbuka wawasannya dalam mengambil suatu keputusan atau tindakan yang positif terutama dalam hal memberikan perawatan pada balita yang sakit terutama ISPA. laktoferin. Oleh karena itu pemberian ASI eksklusif mengurangi tingkat kematian bayi yang disebabkan berbagai penyakit yang umum menimpa anak-anak seperti diare dan radang paru. serta mempercepat pemulihan bila sakit dan membantu menjarangkan kelahiran (LINKAGES. Imunisasi lengkap 80 . imunoglobulin dan antibodi terhadap bakteri.6%) dan yang tidak memberikan sebanyak 38 orang (59. Kandungan dalam ASI yang diminum bayi selama pemberian ASI eksklusif sudah mencukupi kebutuhan bayi dan sesuai kesehatan bayi.5. yaitu 26 orang (40.

Hasil penelitian responden dengan imunisasi lengkap sebanyak 38 orang (59. Penyakit pneumonia lebih mudah menyerang anak yang belum mendapat imunisasi campak dan DPT (Difteri. Salah satu strategi pencegahan untuk mengurangi kesakitan dan kematian akibat pneumonia adalah dengan pemberian imunisasi. Pertusis.6%). Dari seluruh kematian balita. Polio I-IV (pada usia 2-11 bulan). dan Campak (pada usia 9-11 bulan). maka diperlukan imunisasi untuk tetap mempertahankan kekebalan yang ada pada balita. Imunisasi yang tidak lengkap merupakan faktor risiko yang dapat meningkatkan insidens ISPA terutama pneumonia. sekitar 38% dapat dicegah dengan pemberian imunisasi secara efektif. Kekebalan dapat dibawa secara bawaan. dapat dilakukan dengan memberikan imunisasi seperti imunisasi DPT dan campak. sebanyak 21 orang (32. Dikarenakan kekebalan bawaan hanya bersifat sementara. Kepadatan hunian Hasil penelitian dengan kepadatan hunian yang memenuhi syarat 1. Melalui imunisasi diharapkan dapat menurunkan angka kesakitan dan kematian penyakit yang dapapat dicegah dengan imunisasi. DPT IIII (pada usia 2-11 bulan). dengan adanya kekebalan ini balita terhindar dari penyakit. Imunisasi yang dianjurkan sesuai dengan pemberian imunisasi nasional yaitu BCG (pada usia 0-11 bulan). keadaan ini dapat dijumpai pada balita umur 5-9 bulan.8%) dan yang tidak memenuhi syarat yaitu 43 orang 81 . Tetanus) oleh karena itu untuk menekan tingginya angka kematian karena pneumonia.6.Imunisasi merupakan salah satu cara menurunkan angka kesakitan dan angka kematian pada bayi dan anak.4%) dan yang tidak lengkap yaitu 26 orang (40. Hepatitis B I-III (pada usia 0-9 bulan).

khususnya bayi yang relatif rentan terhadap penularan penyakit (Dinkes RI. Semakin banyak penghuni rumah berkumpul dalam suatu ruangan kemungkinan mendapatkan risiko untuk terjadinya penularan penyakit akan lebih mudah. Pengaruh Pengetahuan Ibu Terhadap Kejadian ISPA Pneumonia Pada Bayi Umur 9-11 Bulan Di Wilayah Kerja Puskesmas Moramo Kabupaten Konawe Selatan Tahun 2013. Kondisi hunian yang terlalu padat dan ventilasi udara kurang dapat meningkatkan suhu udara didalam rumah. 2. Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting dalam membentuk tidakan seseorang.1.9%) dan jumlah penderita ISPA 82 .(67. Kepadatan rumah dalam penelitian ini ditentukan dengan melihat perbandingan jumlah orang yang menghuni dirumah tersebut dengan luas rumah. Pembahasan Bivariat 2. sehingga rumah lebih terasa panas karena uap air yang dihasikan dari metabolisme tubuh dan benda-banda yang ada dalam ruangan. Pengetahuan merupakan hasil dari tahu. 2007). Hasil penelitian ada pengaruh pengetahuan terhadap kejadian ISPA pneumonia bahwa dari 64 responden dengan pengetahuan dalam kategori cukup sebanyak 23 (35.2%). 2007). dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu (Notoatmodjo. Rumah dikatakan padat jika jumlah penghuni x 8 m² > dari luas rumah dan rumah dikatakan tidak padat jika jumlah penghuni x 8 m² < luas rumah Variabel kepadatan rumah erat kaitannya dengan ventilasi udara rumah.

9 kali jika dibandingkan dengan ibu yang mempunyai pengetahuan yang tepat.6%) dan bukan penderita 15 responden (23. Dimana peningkatan pengetahuan tersebut mempunyai hubungan yang positip dengan perilaku. Semakin tinggi tingkat pengetahuan ibu tentang pneumonia maka kemungkinan anak menderita pneumonia semakin rendah. Penelitian ini juga sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Paramitha (2012). Menyebutkan bahwa salah satu hal yang mempengaruhi perilaku atau tindakan sesorang tersebut adalah pengetahuan.2 Jika pengetahuan ibu untuk mengatasi pneumonia tidak tepat ketika bayi atau balita menderita pneumonia.6%). 83 .1%) dan jumlah penderita ISPA pneumonia yaitu 26 respondent (40.4%).4%) dan bukan penderita 17 responden (26..pneumonia yaitu 6 respondent (9. Begitu pula sebaliknya apabila seorang ibu memiliki pengetahuan yang rendah maka kemungkinan anak menderita pneumonia semakin tinggi. akan mempunyai risiko meninggal karena pneumonia sebesar 4. Dalam teori yang diungkapkan oleh Notoatmodjo (2007). Sedangkan respondent dengan pengetahuan dalam kategori kurang jumlah sebanyak 41 (64. Tingkat pendidikan ibu akan berpengaruh terhadap tindakan perawatan oleh ibu kepada anak-yang menderita ISPA. terdapat hubungan antara tingkat pengetahuan dengan perawatan ISPA pada balita. Pengetahuan ibu yang rendah di pengaruhi oleh tingkat pendidikan ibu yang rendah yang merupakan faktor risiko yang dapat meningkatkan angka kematian ISPA terutama Pneumonia.

2008). Pengaruh Sikap Ibu Terhadap Kejadian ISPA Pneumonia Pada Bayi Umur 9-11 Bulan Di Wilayah Kerja Puskesmas Moramo Kabupaten Konawe Selatan Tahun 2013. akan menumbuhkan sikap makin positif terhadap objek tersebut. Semakin banyak aspek positif dari objek yang diketahui. Sikap merupakan kesiapan untuk bereaksi terhadap suatu objek dengan cara-cara tertentu.745– 15.2. 84 .611) Pengetahuan seseorang tentang sesuatu objek juga mengandung dua aspek yaitu aspek positif dan negatif.1%) dan bukan penderita 13 responden (20.7%).2.9%) dan bukan penderita 19 responden (29. Kedua aspek inilah yang akhirnya akan menentukan sikap seseorang terhadap objek tertentu. kesiapan dimaksud merupakan kecenderungan potensial untuk bereaksi dengan cara tertentu apabila individu dihadapkan pada suatu stimulasi yang menghendaki adanya respon (Azwar . nilai lower limit dan uppper limit (1. Sedangkan respondent dengan sikap dalam kategori kurang jumlah sebanyak 38 (59.220. Sikap adalah suatu bentuk evaluasi atau reaksi perasaan terhadap suatu objek adalah perasaan mendukung atau memihak (favorable) maupun perasaan tidak mendukung atau tidak memihak (unforable) pada objek tersebut. Hasil penelitian diperoleh ada pengaruh sikap terhadap kejadian ISPA pneumonia bahwa dari 64 responden dengan sikap dalam kategori cukup sebanyak 26 (40.3%) dengan hasil uji statistic nilai OR:5.4%) dan jumlah penderita ISPA pneumonia yaitu 25 respondent (39.6%) dan jumlah penderita ISPA pneumonia yaitu 7 respondent (10.

ASI yang diberikan pada bayi hingga usia 6 bulan selain sebagai bahan makanan bayi juga berfungsi sebagai pelindung dari penyakit dan infeksi. Hasil uji statistik dengan chi-square test dan crosstabs risk estimate diperoleh nilai p value : 0. karena dapat mencegah pneumonia oleh bakteri dan virus (Rahmat.8%) dibanding yang bukan penderita 19 responden (29.4%) dan jumlah penderita ISPA pneumonia lebih banyak yaitu 27 respondent (42.892.7%).3%).857). 2012). Untuk mencegah risiko pneumonia pada balita yang disebabkan karena malnutrisi.5%) dan jumlah penderita ISPA pneumonia lebih sedikit yaitu 5 respondent (7.Penelitian ini juga sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Notoatmodjo (2008). sebaiknya dilakukan dengan pemberian ASI pada bayi 85 . 2.000 nilai OR:7. Sedangkan nilai lower limit dan uppper limit (2.2%) dibanding bukan penderita 13 responden (20. Ada hubungan antara sikap ibu dengan kejadian pneumonia pada balita di IRNA anak RSMH Palembang tahun 2008. Pengaruh pemberian ASI Eksklusif Terhadap Kejadian ISPA Pneumonia Pada Bayi Umur 9-11 Bulan Di Wilayah Kerja Puskesmas Moramo Kabupaten Konawe Selatan Tahun 2013. Riwayat pemberian ASI yang buruk menjadi salah satu faktor risiko yang dapat meningkatkan kejadian pneumonia pada balita. Hasil analisis ada pengaruh pemberian ASI EKsklusif terhadap kejadian ISPA pneumonia bahwa dari 64 responden dengan status ASI EKsklusif sebanyak 24 (37.3. Sedangkan respondent dengan tidak ASI Eksklusif jumlah sebanyak 40 (59.409–25.

sehingga usus bayi setelah berumur 6 bulan mampu menolak faktor 86 . 2012).47 kali dibanding dengan balita yang mendapatkan ASI eksklusif dan hasil uji statistik didapat ada hubungan yang bermakna antara riwayat pemberian ASI eksklusif balita dengan kejadian pneumonia (p value=0. kedua bayi pada usia 6 bulan sistem pencernaanya mulai matur. Setelah 6 bulan bayi mulai dikenalkan dengan makanan lain dan tetap diberikan ASI sampai berumur 2 tahun.. balita yang mendapat ASI secara ekslusif lebih tahan infeksi dibanding balita yang tidak mendapatkannya (Rahmat. Anak balita yang tidak mendapatkan ASI eksklusif mempunyai peluang mengalami pneumonia sebanyak 4. Penelitian ini juga sejalan dengan penelitian Hartati (2011) Hasil analisis hubungan antara riwayat pemberian ASI dengan kejadian pneumonia pada penelitian ini didapatkan anak balita yang tidak mendapatkan ASI eksklusif lebih banyak yaitu 108 balita (78. Oleh karena itu. α=0.05). Mengapa pengenalan makanan tambahan dimulai pada usia 6 bulan dan bukan 4 bulan. ASI eksklusif adalah pemberian ASI sedini mungkin setelah lahir sampai bayi berumur 6 bulan tanpa pemberian makanan tambahan lain.7 %).neonatal sampai umur 2 tahun. Pertama komposisi ASI cukup untuk perkembangan bayi sampai usia 6 bulan.003 . tidak terkontaminasi serta mengandung faktor-faktor antibodi sehingga dapat memberikan perlindungan dan ketahanan terhadap infeksi virus dan bakteri. Karena ASI terjamin kebersihannya.3 %) dibandingkan dengan balita yang mendapatkan ASI eksklusif adalah 30 balita (21.

diare.alergi ataupun kuman yang masuk. Sedangkan respondent dengan status imunisasi tidak lengkap jumlah sebanyak 26 (40.6%) dibanding bukan penderita 9 responden (14.9%). alergi.1%).6%) dan jumlah penderita ISPA pneumonia lebih banyak yaitu 17 respondent (26. protein. pneumonia. 2010). Hasil uji statistik nilai OR:2.896. meningitis. 87 . hormon. Unsur ini mencakup hidrat arang. dan nilai lower limit . Nutrisi dalam ASI mencakup hampir 200 unsur zat makanan.4%) dibanding yang bukan penderita 23 responden (35. unsur kekebalan faktor pertumbuhan. Hasil penelitian diperoleh ada pengaruh imunisasi lengkap terhadap kejadian ISPA pneumonia bahwa dari 64 responden dengan status imunisasi lengkap sebanyak 38 (59.172).4%) dan jumlah penderita ISPA pneumonia lebih sedikit yaitu 15 respondent (23. anti alergi. lemak. 2010). ASI mengandung nutrisi. Pengaruh Imunisasi Lengkap Eksklusif Terhadap Kejadian ISPA Pneumonia Pada Bayi Umur 9-11 Bulan Di Wilayah Kerja Puskesmas Moramo Kabupaten Konawe Selatan Tahun 2013. dalam jumlah yang proporsional Karena zat-zat protektif yang terkandung dalam ASI. 2. bronchitis.uppper limit (1. serta sejumlah penyakit pernafasan (Ambarwati. serta anti inflamasi. vitamin dan mineral.4.027– 8. bayi yang diberi ASI memiliki kemungkinan kecil untuk terjangkit infeksi telinga (otitis media). Imunisasi merupakan suatu upaya untuk menimbukan atau meningkatkan kekebalan tubuh seseorang secara aktif terhadap suatu penyakit (Proverowati .

Cara yang terbukti paling efektif saat ini adalah dengan pemberian imunisasi campak dan DPT. vaksinasi membantu mencegah anak-anak dari infeksi yang berkembang langsung yang menyebabkan pneumonia. Hib dan vaksin pneumokokus. imunisasi dapat mencegah infeksi yang dapat menyebabkan pneumonia sebagai komplikasi dari penyakit (misalnya. Imunisasi membantu mengurangi kematian anak dari pneumonia dalam dua cara. imunisasi DPT. pertusis. UNICEF-WHO. Bayi dan balita yang pernah terserang campak akan mendapat kekebalan alami terhadap pneumonia sebagai komplikasi campak. campak dan pertusis). misalnya Haemophilus influenzae tipe b (Hib). diupayakan imunisasi lengkap. Kedua.Penenilitian Penelitian ini juga sejalan dengan penelitian Hartati (2011) . 88 . Faktor anak balita riwayat imunisasi campak. Sebagian besar kematian ISPA berasal dari jenis ISPA yang berkembang dari penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi seperti difteri. Untuk mengurangi faktor yang meningkatkan kematian ISPA. berhubungan dengan kejadian pneumonia. maka peningkatan cakupan imunisasi akan berperan besar dalam upaya pemberantasan ISPA. campak. Bayi dan balita yang mempunyai status imunisasi lengkap bila menderita ISPA dapat diharapkan perkembangan penyakitnya tidak akan menjadi lebih berat. (2006) menjelaskan terdapat tiga vaksin memiliki potensi untuk mengurangi kematian anak dari pneumonia yaitu vaksin campak. Pertama.

Hasil uji statistik diperoleh kesimpulan tingkat kepadatan hunian mempunyai hubungan yang bermakna secara statistik dengan kejadian pneumonia (p = 0. Keadaan tempat tinggal yang padat dapat meningkatkan faktor polusi dalam rumah yang telah ada. Penelitian menunjukkan ada hubungan bermakna antara kepadatan dan kematian dari bronkopneumonia pada bayi.uppper limit (1.2%) dan jumlah penderita ISPA pneumonia lebih banyak yaitu 26 respondent (40.5.2. dan pendidikan memberi korelasi yang tinggi pada faktor ini (Prabu. tetapi disebutkan bahwa polusi udara. Besarnya risiko menderita pneumonia dapat dilihat dari nilai OR = 2. Sedangkan respondent dengan status kepadatan hunian tidak memenuhi syarat jumlah sebanyak 43 (67. tingkat sosial.4%). Hasil penelitian ada pengaruh kepadatan hunian terhadap kejadian ISPA pneumonia bahwa dari 64 responden kepadatan hunian memenuhi syarat sebanyak 21 (32.7 artinya anak balita yang 89 . Penenilitian Penelitian ini juga sejalan dengan penelitian Yuwono (2008). 2009).8%) dan jumlah penderita ISPA pneumonia lebih sedikit yaitu 6 respondent (9.801).6%). nilai lower limit .824.6%) dibanding bukan penderita 17 responden (26.4%) dibanding yang bukan penderita 15 responden (23. Pengaruh Kepadatan Hunian Eksklusif Terhadap Kejadian ISPA Pneumonia Pada Bayi Umur 9-11 Bulan Di Wilayah Kerja Puskesmas Moramo Kabupaten Konawe Selatan Tahun 2013.239-11. hasil uji statistik risk estimate diperoleh OR:3.028).

tinggal di rumah dengan tingkat hunian padat memiliki risiko terkena pneumonia sebesar 2. Tingkat kepadatan hunian yang tidak memenuhi syarat disebabkan karena luas rumah yang tidak sebanding dengan jumlah keluarga yang menempati rumah. pemberian ASI Eksklusif. sikap.78% sedangkan 92.783 artinya besaran pengaruh imunisasi lengkap terhadap kejadian ISPA pneumonia sebesar 7. Luas rumah yang sempit dengan jumlah anggota keluarga yang banyak menyebabkan rasio penghuni dengan luas rumah tidak seimbang. yaitu pengetahuan. Berdasarkan hasil uji regresi logistic yakni untuk mengetahui variabel bebas yang berpengaruh atau memberikan kontribusi terbesar dengan variabel terikat sesuai dengan tujuan penelitian ini ada beberapa hal yang di ambil dari out put analisis multivariate dengan meggunakan regresi logistic Hasil dari variabel yang berpengaruh pengaruh terhadap kejadian ISPA Pneumonia pada penelitian ini adalah. Pemberian ASI Eksklusif dengan nilai Exp (B) paling tinggi yaitu 7. 3. Kepadatan hunian ini memungkinkan bahteri maupun virus dapat menular melalui pernapasan dari penghuni rumah yang satu ke penghuni rumah lainnya (Tulus.22% di sebabkan oleh variabel lainya 90 . 2008). imunisasi lengkap dan kepadatan hunian. Risiko balita terkena pneumonia akan meningkat jika tinggal di rumah dengan tingkat hunian padat.7 kali lebih besar. Pembahasan Multivariat Faktor ibu dan bayi yang berhubungan dengan kejadian pneumonia pada analisis menunjukkan dari 5 variabel yang diteliti.

untuk mencegah pneumonia diperlukan perbaikan yang menyeluruh. lingkungan kurang sehat. gizi kurang atau buruk. Itu sebabnya. pada anak di bawah usia satu tahun diperlukan imunisasi dasar yang lengkap sehingga daya tahan tubuhnya baik. kita harus membentuk kekebalan tubuh anak sejak dini. Pemberian ASI terbukti mampu menurunkan angka terkena penyakit pneumonia pada bayi dan balita. yaitu HIB (Haemophilus Influenzae type B) dan pneumokokus. Selain itu. Imunisasi ini diberikan sebanyak tiga kali dalam kurun waktu satu tahun (Ranuh. cukup istirahat dan rutin olah tubuh. 2011). 91 . adalah imunisasi yang khusus Salah untuk menangkis pneumonia. serta kurangnya ASI Eksklusif.Faktor risiko pneumonia terjadi karena daya tahan tubuh bayi kurang baik. Salah satu caranya adalah dengan menjaga keseimbangan nutrisi. Artinya. Dahulukan imunisasi wajib satu imunisasi yang dari dianjurkan pada imunisasi anjuran.