Anda di halaman 1dari 226

Pajak Penghasilan Final 1% bagi Wajib

Pajak dengan Peredaran Bruto Tertentu
(Peraturan Pemerintah Nomor 46 Tahun 2013)

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA
DIREKTORAT JENDERAL PAJAK
DIREKTORAT PERATURAN PERPAJAKAN II

2014

Pajak Penghasilan Final 1% bagi Wajib Pajak dengan Peredaran Bruto Tertentu

Pajak Penghasilan Final 1% bagi Wajib Pajak dengan
Peredaran Bruto Tertentu
(Peraturan Pemerintah Nomor 46 Tahun 2013)

Diterbitkan oleh Tim Penyusun
Kementerian Keuangan Republik Indonesia
Direktorat Jenderal Pajak
Direktorat Peraturan Perpajakan II
Tahun 2014
Jl. Gatot Subroto Kav. 40-42
Jakarta Selatan 12190
Telp. (021) 5250208, Fax. (021) 5732064
Website: http://www.pajak.go.id

ii

Direktorat Peraturan Perpajakan II

Pajak Penghasilan Final 1% bagi Wajib Pajak dengan Peredaran Bruto Tertentu

2014

DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ....................................................................................... i
DAFTAR ISI

............................................................................................ iii

LATAR BELAKANG ...................................................................................... 1
MAKSUD DAN TUJUAN PP 46/2013 ............................................................ 3
RUANG LINGKUP ....................................................................................... 4
MUATAN PASAL .......................................................................................... 5
HAL-HAL KHUSUS TERKAIT PENGENAAN PAJAK PENGHASILAN YANG
BERSIFAT FINAL .......................................................................................... 8
LAMPIRAN I PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 46 TAHUN 2013 TENTANG PAJAK PENGHASILAN
ATAS PENGHASILAN DARI USAHA YANG DITERIMA ATAU
DIPEROLEH WAJIB PAJAK YANG MEMILIKI PEREDARAN
BRUTO TERTENTU............................................................. 13
LAMPIRAN II
PERATURAN
MENTERI
KEUANGAN
REPUBLIK
INDONESIA NOMOR 107/PMK.011/2013 TENTANG TATA
CARA PENGHITUNGAN, PENYETORAN, DAN PELAPORAN
PAJAK PENGHASILAN ATAS PENGHASILAN DARI USAHA
YANG DITERIMA ATAU DIPEROLEH WAJIB PAJAK YANG
MEMILIKI PEREDARAN BRUTO TERTENTU...................... 29
LAMPIRAN III PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 197/PMK.03/2013 TENTANG PERUBAHAN
ATAS PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR
68/PMK.03/2010 TENTANG BATASAN PENGUSAHA KECIL
PAJAK PERTAMBAHAN NILAI............................................ 51
LAMPIRAN IV PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 198/PMK.03/2013 TENTANG PENGEMBALIAN
PENDAHULUAN KELEBIHAN PEMBAYARAN PAJAK
BAGI WAJIB PAJAK YANG MEMENUHI PERSYARATAN
TERTENTU.......................................................................... 57

Direktorat Peraturan Perpajakan II

iii

2014

Pajak Penghasilan Final 1% bagi Wajib Pajak dengan Peredaran Bruto Tertentu

LAMPIRAN V PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR
PER-32/PJ/2013 TENTANG TATA CARA PEMBEBASAN
DARI PEMOTONGAN DAN/ATAU PEMUNGUTAN PAJAK
PENGHASILAN BAGI WAJIB PAJAK YANG DIKENAI
PAJAK PENGHASILAN BERDASARKAN PERATURAN
PEMERINTAH NOMOR 46 TAHUN 2013 TENTANG PAJAK
PENGHASILAN ATAS PENGHASILAN DARI USAHA YANG
DITERIMA ATAU DIPEROLEH WAJIB PAJAK YANG
MEMILIKI PEREDARAN BRUTO TERTENTU .....................

75

LAMPIRAN VI PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR
PER-37/PJ/2013 TENTANG TATA CARA PENYETORAN
PAJAK PENGHASILAN ATAS PENGHASILAN DARI USAHA
YANG DITERIMA ATAU DIPEROLEH WAJIB PAJAK YANG
MEMILIKI PEREDARAN BRUTO TERTENTU MELALUI
ANJUNGAN TUNAI MANDIRI (ATM) ...................................

97

LAMPIRAN VII SURAT EDARAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR
SE-42/PJ/2013 TENTANG PELAKSANAAN PERATURAN
PEMERINTAH NOMOR 46 TAHUN 2013 TENTANG PAJAK
PENGHASILAN ATAS PENGHASILAN DARI USAHA YANG
DITERIMA ATAU DIPEROLEH WAJIB PAJAK YANG
MEMILIKI PEREDARAN BRUTO TERTENTU .....................

103

LAMPIRAN V III SURAT EDARAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR
SE-32/PJ/2014 TENTANG PENEGASAN PELAKSANAAN
PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 46 TAHUN 2013
TENTANG PAJAK PENGHASILAN ATAS PENGHASILAN
DARI USAHA YANG DITERIMA ATAU DIPEROLEH WAJIB
PAJAK YANG MEMILIKI PEREDARAN BRUTO TERTENTU... 115
LAMPIRAN IX SIMULASI PENGISIAN SPT................................................. 123
LAMPIRAN X

SLIDE PRESENTASI I ......................................................... 129

LAMPIRAN XI

SLIDE PRESENTASI II ....................................................... 151

LAMPIRAN XII QUESTIONS AND ANSWERS.............................................. 195

iv

Direktorat Peraturan Perpajakan II

Jakarta.SAMBUTAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Semoga segala gagasan dan upaya yang dilakukan dalam mewujudkan kesejahteraan dan keadilan melalui pemungutan pajak dapat terwujud sesuai harapan bersama. selaku Direktur Jenderal Pajak. upaya penyempurnaan serta kemudahan menjadi perhatian khusus agar pelaku UKM dapat melaksanakan hak dan kewajibannya dalam pemenuhan pembayaran pajak. Kesadaran dan kepedulian sangat diharapkan oleh karena pajak merupakan andalan sumber penerimaan Negara untuk mewujudkan kesejahteraan bangsa. Guna memenuhi harapan dimaksud. Pemenuhan pembayaran pajak bukan merupakan pekerjaan dan tanggung jawab pemerintah semata. Oleh karenanya. A. Menghimpun pembayaran pajak sesuai rencana yang ditetapkan merupakan suatu kegiatan yang perlu disikapi bersama. Agustus 2014 Direktur Jenderal Pajak. analisis serta melakukan pengawasan dan penyempurnaan administrasi menuju kearah pelayanan pajak yang lebih baik. namun menjadi keharusan dan tanggung jawab semua pihak. saya menyambut baik terbitnya buku berjudul “Pajak Penghasilan Final 1% Bagi Wajib Pajak Dengan Peredaran Bruto Tertentu. Khusus mengenai pemungutan pajak pada sektor Usaha Kecil dan Menengah (UKM). pemerintah berupaya melakukan kajian.” Kiranya buku ini dapat memberikan berbagai informasi dan menjadi panduan bagi seluruh pelaku UKM dalam memenuhi hak dan kewajiban perpajakannya. Fuad Rahmany . Pemungutan pajak disadari seringkali menimbulkan persoalan rasa keadilan dan kepastian dalam perumusan kebijakan serta pelaksanaannya. Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Pada pertengahan tahun 2014. materi sosialisasi Peraturan Pemerintah Nomor 46 Tahun 2013 dan Question and Answer di bagian akhir buku ini. Penghargaan saya sampaikan kepada segenap pegawai Direktorat Peraturan Perpajakan II dan pihak-pihak lain yang telah ikut berkontribusi dalam penyusunan buku ini. peraturan-peraturan terkait dengan Peraturan Pemerintah Nomor 46 Tahun 2013. Jakarta. Hutagaol .M. Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. simulasi pengisian SPT. hal ini nampak dengan banyaknya pertanyaan yang ditujukan kepada Direktorat Jenderal Pajak terkait pelaksanaan peraturan tersebut. Agustus 2014 Direktur Peraturan Perpajakan II P. Masyarakat sangat antusias dengan terbitnya Peraturan Pemerintah Nomor 46 Tahun 2013 tersebut.KATA PENGANTAR Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Buku panduan ini disusun dengan sistematika antara lain penjelasan umum mengenai Peraturan Pemerintah Nomor 46 Tahun 2013. Semoga buku ini dapat memberikan manfaat bagi Wajib Pajak yang dikenai Pajak Penghasilan Final 1% dari sektor usaha dalam melaksanakan kewajiban perpajakannya sesuai dengan ketentuan yang berlaku sehingga penerimaan pajak yang berasal dari Wajib Pajak tersebut dapat dioptimalkan. Pemerintah telah menerbitkan Peraturan Pemerintah Nomor 46 Tahun 2013 yang mengatur perlakuan Pajak Penghasilan bagi Wajib Pajak yang memiliki peredaran bruto tertentu dari sektor usaha. John L. Sambutan dari para pemangku kepentingan yang sangat membutuhkan buku tersebut sangat positif. Direktorat Jenderal Pajak telah melakukan sosialisasi dan diseminasi kepada masyarakat terkait dengan pemenuhan hak dan kewajiban perpajakan Wajib Pajak yang memiliki peredaran bruto tertentu dari sektor usaha. Sejak terbitnya Peraturan Pemerintah Nomor 46 Tahun 2013. Hal ini dapat tercermin dari tingginya permintaan akan buku tersebut baik yang berbentuk buku maupun e-book yang dapat diunduh secara gratis di situs Direktorat Jenderal Pajak. Direktorat Jenderal Pajak telah menerbitkan buku “Pajak Penghasilan Final 1% Bagi Wajib Pajak Dengan Peredaran Bruto Tertentu”.

DIREKTORAT JENDERAL PAJAK .

.

Menurut data yang dihimpun Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah. Dapat disimpulkan bahwa suatu negara akan dapat menjadi suatu negara yang berhasil apabila pemungutan pajak dapat dioptimalkan. dana pendidikan. 9. 4. Dana penerimaan pajak ini selanjutnya dikelola oleh negara untuk pembiayaan rutin dan pembangunan dalam bentuk antara lain: 1. dana kesehatan masyarakat. subsidi listrik. jumlah pengusaha kecil dan menengah di Indonesia sangat besar dan berkontribusi secara signifikan bagi perekonomian nasional. TNI dan POLRI. dengan kontribusi yang mendekati angka 70% di tahun 2013. pelabuhan dan bandara). pembelian alat-alat pertahanan dan keamanan negara. dana keamanan dan ketertiban. 7. 5. Seperti diketahui. antara lain tercapainya pertumbuhan penerimaan pajak yang berkelanjutan seiring dengan pertambahan jumlah pembayar pajak. Nilai strategis dalam perekonomian Indonesia ini di masa depan diharapkan dapat terwujud melalui kontribusi pembayaran pajak yang sesuai dengan kontribusi pengusaha kecil dan menengah terhadap perekonomian. perlu diciptakan suatu kondisi yang dapat menarik pengusaha kecil Direktorat Peraturan Perpajakan II 1 . pembayaran gaji PNS. subsidi BBM. pembangunan infrastruktur transportasi (jalan.Pajak Penghasilan Final 1% bagi Wajib Pajak dengan Peredaran Bruto Tertentu 2014 LATAR BELAKANG Usaha Kecil dan Menengah (UKM) memiliki nilai yang strategis di dalam perekonomian Indonesia. Dari uraian kontribusi penerimaan pajak dan alokasi belanja negara diatas. Untuk itu. 8. 3. penerimaan pajak adalah penopang utama dalam postur Anggaran Penerimaan dan Belanja Negara (APBN) negara kita. Bantuan Langsung Sementara Masyarakat (BLSM). 2. 6. terlihat bahwa keuangan negara sangat bergantung pada penerimaan pajak yang berhasil dikumpulkan. Banyak manfaat yang akan diperoleh apabila pengusaha kecil dan menengah dapat dirangkul untuk berperan serta secara aktif dalam pembiayaan negara melalui sistem perpajakan.

penyetoran dan pelaporannya. akan meningkatkan rasa keadilan yang selama ini belum terwujud secara merata. Peningkatan peran serta pengusaha kecil menengah dalam membayar pajak. masih banyak pengusaha baik orang pribadi maupun badan usaha yang belum membayar pajak secara benar. Dengan adanya sistem pemungutan pajak yang sederhana terkait penghitungan. 2 Direktorat Peraturan Perpajakan II . antara lain melalui aturan perpajakan yang sederhana sehingga pengusaha kecil dan menengah lebih mudah dalam menjalankan kewajiban perpajakannya. Sedangkan pada sisi lain. karyawan. satpam yang mempunyai penghasilan melebihi Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) sudah membayar pajak melalui pemotongan Pajak Penghasilan yang dilakukan oleh pemberi kerja. Kenyataan pada saat ini. pegawai. diharapkan kepatuhan sukarela membayar pajak menjadi lebih meningkat.2014 Pajak Penghasilan Final 1% bagi Wajib Pajak dengan Peredaran Bruto Tertentu dan menengah berperan serta dalam pembiayaan negara melalui pajak. buruh.

Mengedukasi masyarakat untuk transparansi. kemudahan dan penyederhanaan aturan 2. Meningkatkan penerimaan PPh dari Wajib Pajak yang memiliki peredaran bruto tertentu. 3. Direktorat Peraturan Perpajakan II 3 . Kemudahan bagi masyarakat dalam melaksanakan kewajiban perpajakan. Hasil akhir yang diharapkan dari dikeluarkannya PP 46/2013 adalah: 1. 3. Kepatuhan sukarela meningkat. 4. Sedangkan tujuan dari diterbitkannya PP 46/2013 adalah: 1. Memberikan kesempatan masyarakat untuk berkontribusi dalam penyelenggaraan negara. 4.Pajak Penghasilan Final 1% bagi Wajib Pajak dengan Peredaran Bruto Tertentu 2014 MAKSUD DAN TUJUAN PP 46/2013 Penerbitan PP 46/2013 dimaksudkan untuk: 1. Perluasan partisipasi dalam pembayaran pajak. 2. 3. Penerimaan pajak meningkat sehingga kesempatan untuk mensejahterakan masyarakat meningkat. 2. Meningkatnya pengetahuan tentang manfaat perpajakan bagi masyarakat. Terciptanya kondisi kontrol sosial dalam memenuhi kewajiban perpajakan. Memberikan perpajakan. Mengedukasi masyarakat untuk tertib administrasi.

Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-37/PJ/2013 tentang Tata Cara Penyetoran Pajak Penghasilan atas Penghasilan dari Usaha yang Diterima atau Diperoleh Wajib Pajak yang Memiliki Peredaran Bruto Tertentu Melalui Anjungan Tunai Mandiri (ATM). Peraturan Menteri Keuangan Nomor 107/PMK. 4 Direktorat Peraturan Perpajakan II . dan Pelaporan Pajak Penghasilan atas Penghasilan dari Usaha yang Diterima atau Diperoleh Wajib Pajak yang Memiliki Peredaran Bruto Tertentu. 6. 4. Penyetoran. 3. Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2009.011/2013 tentang Tata Cara Penghitungan. 2. Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008. Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-32/PJ/2013 tentang Tata Cara Pembebasan dari Pemotongan dan/atau Pemungutan Pajak Penghasilan bagi Wajib Pajak yang Dikenai Pajak Penghasilan Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 46 Tahun 2013 tentang Pajak Penghasilan atas Penghasilan dari Usaha yang Diterima atau Diperoleh Wajib Pajak yang Memiliki Peredaran Bruto Tertentu. Peraturan Pemerintah Nomor 46 Tahun 2013 tentang Pajak Penghasilan atas Penghasilan dari Usaha yang Diterima atau Diperoleh Wajib Pajak yang Memiliki Peredaran Bruto Tertentu. 5.2014 Pajak Penghasilan Final 1% bagi Wajib Pajak dengan Peredaran Bruto Tertentu RUANG LINGKUP Ruang lingkup pembahasan dalam buku ini adalah ketentuan pepajakan sebagai berikut: 1.

Wajib Pajak yang memiliki peredaran bruto tertentu adalah Wajib Pajak yang memenuhi kriteria sebagai berikut: a.Pajak Penghasilan Final 1% bagi Wajib Pajak dengan Peredaran Bruto Tertentu 2014 MUATAN PASAL 1. Direktorat Peraturan Perpajakan II 5 .800. Tidak termasuk Wajib Pajak orang pribadi adalah Wajib Pajak orang pribadi yang melakukan kegiatan usaha perdagangan dan/atau jasa yang dalam usahanya: a.000.800. baik yang menetap maupun tidak menetap.000.000. dan d. penghasilan yang dikecualikan sebagai objek pajak. jasa sehubungan dengan pekerjaan bebas. 3. Wajib Pajak orang pribadi atau Wajib Pajak badan tidak termasuk bentuk usaha tetap.00 (empat miliar delapan ratus juta rupiah) dalam 1 (satu) Tahun Pajak.000. tidak termasuk penghasilan dari jasa sehubungan dengan pekerjaan bebas. atau b. dikenai Pajak Penghasilan yang bersifat final. Atas penghasilan dari usaha yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak yang memiliki peredaran bruto tertentu.00 (empat miliar delapan ratus juta rupiah) pada butir 2 huruf b ditentukan berdasarkan peredaran bruto dari usaha seluruhnya. penghasilan yang diterima atau diperoleh dari luar negeri. Wajib Pajak badan yang dalam jangka waktu 1 (satu) tahun setelah beroperasi secara komersial memperoleh peredaran bruto melebihi Rp4. tidak termasuk peredaran bruto dari: a. b. dan b.800. menggunakan sarana atau prasarana yang dapat dibongkar pasang.000. dengan peredaran bruto tidak melebihi Rp4. Tidak termasuk Wajib Pajak badan adalah: a. menggunakan sebagian atau seluruh tempat untuk kepentingan umum yang tidak diperuntukkan bagi tempat usaha atau berjualan. Wajib Pajak badan yang belum beroperasi secara komersial. 2. menerima penghasilan dari usaha. 4. dan b. usaha yang atas penghasilannya telah dikenai Pajak Penghasilan yang bersifat final dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan tersendiri.000.00 (empat miliar delapan ratus juta rupiah). termasuk dari usaha cabang. Peredaran bruto yang tidak melebihi Rp4. 5. c.

9. dalam hal Wajib Pajak baru terdaftar setelah PP ini berlaku. Atas penghasilan dari usaha yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak yang memiliki peredaran bruto tertentu yang berdasarkan ketentuan Undang-Undang Pajak Penghasilan dan peraturan pelaksanaannya wajib dilakukan pemotongan dan/atau pemungutan Pajak Penghasilan yang tidak bersifat final. untuk setiap tempat kegiatan usaha. b. 7. c. 6 Direktorat Peraturan Perpajakan II . Pengenaan Pajak Penghasilan didasarkan pada peredaran bruto dari usaha dalam 1 (satu) tahun dari Tahun Pajak terakhir sebelum Tahun Pajak yang bersangkutan. dasar peredaran bruto adalah akumulasi peredaran bruto dari bulan berdiri s. Pajak Penghasilan terutang dihitung berdasarkan tarif 1% (satu persen) dikalikan dengan dasar pengenaan pajak berupa jumlah peredaran bruto setiap bulan. kerugian pada tahun dikenai PPh final 1% (satu persen) tidak dapat dikompensasikan pada tahun berikutnya. bulan sebelum PP ini berlaku. b. seperti konstruksi. Wajib Pajak yang hanya menerima atau memperoleh penghasilan yang dikenai Pajak Penghasilan yang bersifat final. 8. a. dasar peredaran bruto adalah peredaran bruto bulan pertama disetahunkan. dapat dibebaskan dari pemotongan dan/atau pemungutan Pajak Penghasilan oleh pihak lain dengan tata cara sebagaimana diatur dalam Peraturan Direktur Jenderal Pajak yang mengatur mengenai pembebasan dari pemotongan dan/atau pemungutan Pajak Penghasilan oleh pihak lain. tidak diwajibkan melakukan pembayaran angsuran pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25 Undang-Undang Pajak Penghasilan. dalam hal Wajib Pajak baru terdaftar pada Tahun Pajak yang sama sebelum PP ini berlaku.2014 Pajak Penghasilan Final 1% bagi Wajib Pajak dengan Peredaran Bruto Tertentu 6. 10. tidak dikenai PPh yang bersifat final berdasarkan PP ini.d. 11. Ketentuan kompensasi rugi adalah : a. tahun dikenai PPh final 1% (satu persen) tetap menjadi bagian dari periode 5 (lima) tahun tersebut. berturut-turut sampai dengan 5 tahun. Penghasilan yang telah dikenai PPh dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan tersendiri. yang disetahunkan.

Wajib Pajak menerima Bukti Penerimaan Negara (BPN) dengan teraan NTPN dalam bentuk cetakan struk ATM. bank. Dalam hal Wajib Pajak menyetor PPh terutang melalui ATM. Wajib Pajak yang telah melakukan penyetoran Pajak Penghasilan dianggap telah menyampaikan Surat Pemberitahuan Masa Pajak Penghasilan. maka atas penghasilan tersebut dikenai PPh sesuai dengan ketentuan umum. Ketentuan mengenai pelaporan Surat Pemberitahuan Masa Pajak Penghasilan sebagaimana dimaksud pada butir 16 diberlakukan mulai Masa Pajak Januari 2014 sehingga atas keterlambatan pelaporan (sesuai tanggal validasi NTPN) masa Juli-Desember 2013 tidak dikenakan sanksi administrasi berupa denda sebesar Rp100.00 (seratus ribu rupiah). Wajib Pajak yang menerima atau memperoleh penghasilan lain selain yang dikenai PPh Pasal 4 ayat (2) sesuai ketentuan PP ini. dapat dikreditkan terhadap PPh terutang Tahun Pajak yang sama kecuali untuk penghasilan yang pengenaan pajaknya bersifat final. 16. Dalam hal Wajib Pajak menyetor Pajak Penghasilan (PPh) terutang melalui kantor pos atau bank yang ditunjuk oleh Menteri Keuangan. BPN dalam bentuk cetakan struk ATM tersebut kedudukannya disamakan dengan Surat Setoran Pajak (SSP). sesuai dengan tanggal validasi Nomor Transaksi Penerimaan Negara yang tercantum pada SSP atau struk ATM.000. Wajib Pajak menggunakan Surat Setoran Pajak yang divalidasi dengan Nomor Transaksi Penerimaan Negara (NTPN) oleh kantor pos atau bank persepsi. atau Anjungan Tunai Mandiri (ATM) pada bank persepsi yang ditunjuk oleh Menteri Keuangan paling lama tanggal 15 (lima belas) bulan berikutnya setelah Masa Pajak berakhir.Pajak Penghasilan Final 1% bagi Wajib Pajak dengan Peredaran Bruto Tertentu 2014 12. 13. Direktorat Peraturan Perpajakan II 7 . 15. 17. Wajib Pajak wajib menyetor Pajak Penghasilan terutang melalui kantor pos. 14. Jika ada angsuran PPh Pasal 25 atau PPh yang dipotong/dipungut pihak lain. Wajib Pajak yang melakukan pembayaran Pajak Penghasilan wajib menyampaikan Surat Pemberitahuan Masa Pajak Penghasilan paling lama 20 (dua puluh) hari setelah Masa Pajak berakhir.

8 Hal-hal yang perlu diperhatikan terkait dengan pengenaan Pajak Penghasilan yang bersifat final diatur sebagai berikut: Wajib Pajak yang memiliki peredaran bruto tertentu wajib mendaftarkan diri untuk memperoleh Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) bagi setiap tempat usaha di Kantor Pelayanan Pajak yang wilayah kerjanya meliputi tempat usaha Wajib Pajak dan di Kantor Pelayanan Pajak yang wilayah kerjanya meliputi tempat tinggal atau tempat kedudukan Wajib Pajak. kolom Uraian diisi dengan “Penghasilan Usaha WP yang Memiliki Peredaran Bruto Tertentu”. Penentuan peredaran bruto untuk dikenakan Pajak Penghasilan yang bersifat final bagi Wajib Pajak badan yang baru beroperasi secara komersial untuk pertama kali ditentukan berdasarkan peredaran bruto dari usaha 1 (satu) Tahun Pajak setelah Tahun Pajak beroperasi secara komersial. kolom KAP/KJS diisi dengan “411128/420”. wajib menyampaikan Surat Pemberitahuan Masa Pajak Penghasilan Pasal 4 ayat (2) ke Kantor Pelayanan Pajak sesuai tempat kegiatan usaha Wajib Pajak terdaftar dengan mengisi baris pada angka 11 formulir Surat Pemberitahuan Masa Pajak Penghasilan Pasal 4 ayat (2): a. b. dengan menggunakan Surat Setoran Pajak atau sarana administrasi lain yang disamakan dengan Surat Setoran Pajak dengan mengisi Kode Akun Pajak 411128 dan Kode Jenis Setoran 420 sebagaimana telah diatur dalam Peraturan Direktur Jenderal Pajak yang mengatur mengenai Bentuk Formulir Surat Setoran Pajak. Direktorat Peraturan Perpajakan II . Wajib Pajak wajib menyetor Pajak Penghasilan yang bersifat final ke kantor pos atau bank yang ditunjuk oleh Menteri Keuangan. 5. Wajib Pajak yang menyetor Pajak Penghasilan yang bersifat final tetapi Surat Setoran Pajaknya tidak mendapat validasi dengan Nomor Transaksi Penerimaan Negara (NTPN). 2.2014 Pajak Penghasilan Final 1% bagi Wajib Pajak dengan Peredaran Bruto Tertentu HAL-HAL KHUSUS TERKAIT PENGENAAN PAJAK PENGHASILAN YANG BERSIFAT FINAL 1. 4. Wajib Pajak dengan jumlah Pajak Penghasilan Pasal 4 ayat (2) nihil tidak wajib melaporkan Surat Pemberitahuan Masa Pajak Penghasilan Pasal 4 ayat (2). 3. pengenaan Pajak Penghasilan yang bersifat final selanjutnya untuk Wajib Pajak yang bersangkutan ditentukan berdasarkan peredaran bruto Tahun Pajak sebelumnya.

Atas penghasilan dari usaha yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak yang memiliki peredaran bruto tertentu. atau 2) dikreditkan terhadap Pajak Penghasilan yang terutang untuk Tahun Pajak yang bersangkutan. 8. 7. atas pemungutan Pajak Penghasilan Pasal 22 oleh bendahara pemerintah dengan menggunakan Surat Setoran Pajak yang telah diisi atas nama rekanan: 1) dapat diajukan permohonan pemindahbukuan ke setoran Pajak Penghasilan Pasal 4 ayat (2) sesuai dengan ketentuan mengenai tata cara pembayaran pajak melalui pemindahbukuan. atau 3) dikreditkan terhadap Pajak Penghasilan yang terutang untuk Tahun Pajak yang bersangkutan. atas pemotongan dan/atau pemungutan Pajak Penghasilan oleh pihak lain dengan bukti pemotongan dan/atau pemungutan. yang dipotong dan/atau dipungut oleh pihak lain diatur sebagai berikut: a. sesuai dengan ketentuan mengenai tata cara pembayaran pajak melalui pemindahbukuan. atau 2) dapat diajukan permohonan pengembalian pajak yang seharusnya tidak terutang sesuai dengan ketentuan mengenai tata cara pengembalian atas kelebihan pembayaran pajak yang seharusnya tidak terutang. Pajak Penghasilan atas penghasilan dari usaha yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak dengan peredaran bruto tertentu yang disetor tidak menggunakan Kode Akun Pajak 411128 dan Kode Jenis Setoran 420 dapat diajukan permohonan pemindahbukuan oleh Wajib Pajak ke setoran Pajak Penghasilan Pasal 4 ayat (2) dengan Kode Akun Pajak 411128 dan Kode Jenis Setoran 420. b. Permohonan pembebasan dari pemotongan dan/atau pemungutan Pajak Penghasilan oleh pihak lain dapat diajukan sesuai dengan ketentuan Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-32/PJ/2013 tentang Tata Cara Pembebasan dari Pemotongan dan/atau Pemungutan Pajak Penghasilan bagi Wajib Pajak yang Dikenai Pajak Penghasilan Berdasarkan Direktorat Peraturan Perpajakan II 9 .Pajak Penghasilan Final 1% bagi Wajib Pajak dengan Peredaran Bruto Tertentu 2014 6. termasuk Pemungutan Pajak Penghasilan Pasal 22 atas impor: 1) dapat diajukan permohonan pengembalian pajak yang seharusnya tidak terutang sesuai dengan ketentuan mengenai tata cara pengembalian atas kelebihan pembayaran pajak yang seharusnya tidak terutang.

b. 10 Direktorat Peraturan Perpajakan II . dapat mengajukan pengurangan angsuran Pajak Penghasilan Pasal 25 sesuai dengan ketentuan yang mengatur mengenai penghitungan besarnya angsuran pajak dalam tahun berjalan dalam hal-hal tertentu. 11. Penghitungan untuk pelaporan Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan Tahun Pajak 2013: a. 9. Atas penghasilan dari usaha yang dikenai Pajak Penghasilan yang bersifat final menurut ketentuan PP 46/2013 dilaporkan dalam Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan pada kelompok penghasilan yang dikenai pajak final dan/atau bersifat final pada: a. 10. c. lampiran III bagian A butir 16 (Penghasilan Lain yang Dikenakan Pajak Final dan/atau Bersifat Final.2014 Pajak Penghasilan Final 1% bagi Wajib Pajak dengan Peredaran Bruto Tertentu Peraturan Pemerintah Nomor 46 Tahun 2013 tentang Pajak Penghasilan atas Penghasilan dari Usaha yang Diterima atau Diperoleh Wajib Pajak yang Memiliki Peredaran Bruto Tertentu. b. untuk menentukan penghasilan kena pajak dikurangi terlebih dahulu dengan Penghasilan Tidak Kena Pajak setahun. angsuran Pajak Penghasilan Pasal 25 Undang-Undang Pajak Penghasilan Masa Pajak Januari 2013 sampai dengan Juni 2013 dikreditkan terhadap Pajak Penghasilan yang terutang untuk Tahun Pajak yang bersangkutan. peredaran usaha dihitung berdasarkan seluruh peredaran usaha selama Tahun Pajak 2013. Angsuran pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25 Undang-Undang Pajak Penghasilan untuk Masa Pajak Juli 2013 sampai dengan Desember 2013 bagi Wajib Pajak yang memiliki peredaran bruto tertentu yang juga menerima atau memperoleh penghasilan yang dikenai Pajak Penghasilan berdasarkan tarif umum Undang-Undang Pajak Penghasilan. lampiran IV bagian A butir 14 dengan mengisi “Penghasilan Usaha Wajib Pajak yang Memiliki Peredaran Bruto Tertentu” (Formulir 1771-IV) bagi Wajib Pajak badan. Formulir 1770-III) bagi Wajib Pajak orang pribadi. bagi Wajib Pajak orang pribadi. tidak termasuk peredaran usaha pada Masa Pajak Juli 2013 sampai dengan Desember 2013 yang dikenai Pajak Penghasilan Pasal 4 ayat (2).

DIREKTORAT JENDERAL PAJAK LAMPIRAN I PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 46 TAHUN 2013 TENTANG PAJAK PENGHASILAN ATAS PENGHASILAN DARI USAHA YANG DITERIMA ATAU DIPEROLEH WAJIB PAJAK YANG MEMILIKI PEREDARAN BRUTO TERTENTU .

.

penyetoran. perlu menetapkan Peraturan Pemerintah tentang Pajak Penghasilan atas Penghasilan dari Usaha yang Diterima atau diperoleh Wajib Pajak yang Memiliki Peredaran Bruto Tertentu. Direktorat Peraturan Perpajakan II 13 . perlu memberikan perlakuan tersendiri ketentuan mengenai penghitungan. Menimbang : a. 2. b. Mengingat : 1.Pajak Penghasilan Final 1% bagi Wajib Pajak dengan Peredaran Bruto Tertentu 2014 PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 46 TAHUN 2013 TENTANG PAJAK PENGHASILAN ATAS PENGHASILAN DARI USAHA YANG DITERIMA ATAU DIPEROLEH WAJIB PAJAK YANG MEMILIKI PEREDARAN BRUTO TERTENTU DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4893). bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan untuk melaksanakan ketentuan Pasal 4 ayat (2) huruf e dan Pasal 17 ayat (7) Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008 tentang Perubahan Keempat atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan. bahwa untuk memberikan kemudahan kepada Wajib Pajak orang pribadi dan badan yang memiliki peredaran bruto tertentu. dan pelaporan Pajak Penghasilan yang terutang. Pasal 5 ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008 tentang Perubahan Keempat atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 133.

Pasal 1 Dalam Peraturan Pemerintah ini. Undang-Undang Pajak Penghasilan adalah Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008 tentang Perubahan Keempat atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan. 2.800. Tahun Pajak adalah jangka waktu 1 (satu) tahun kalender kecuali bila Wajib Pajak menggunakan tahun buku yang tidak sama dengan tahun kalender. dikenai Pajak Penghasilan yang bersifat final. yang dimaksud dengan: 1. (2) Wajib Pajak yang memiliki peredaran bruto tertentu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah Wajib Pajak yang memenuhi kriteria sebagai berikut: a.00 (empat miliar delapan ratus juta rupiah) dalam 1 (satu) Tahun Pajak. (3) Tidak termasuk Wajib Pajak orang pribadi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) adalah Wajib Pajak orang pribadi yang melakukan 14 Direktorat Peraturan Perpajakan II . Wajib Pajak orang pribadi atau Wajib Pajak badan tidak termasuk bentuk usaha tetap. dan b.2014 Pajak Penghasilan Final 1% bagi Wajib Pajak dengan Peredaran Bruto Tertentu MEMUTUSKAN: Memutuskan : PERATURAN PEMERINTAH TENTANG PAJAK PENGHASILAN ATAS PENGHASILAN DARI USAHA YANG DITERIMA ATAU DIPEROLEH WAJIB PAJAK YANG MEMILIKI PEREDARAN BRUTO TERTENTU. tidak termasuk penghasilan dari jasa sehubungan dengan pekerjaan bebas. Pasal 2 (1) Atas penghasilan dari usaha yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak yang memiliki peredaran bruto tertentu.000.000. dengan peredaran bruto tidak melebihi Rp4. Menerima penghasilan dari usaha.

menggunakan sarana atau prasarana yang dapat dibongkar pasang.000. Direktorat Peraturan Perpajakan II 15 . (4) Tidak termasuk Wajib Pajak badan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) adalah: a. Wajib Pajak tetap dikenai tarif Pajak Penghasilan yang telah ditentukan berdasarkan ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sampai dengan akhir Tahun Pajak yang bersangkutan.800.Pajak Penghasilan Final 1% bagi Wajib Pajak dengan Peredaran Bruto Tertentu 2014 kegiatan usaha perdagangan dan/atau jasa yang dalam usahanya: a.00 (empat miliar delapan ratus juta rupiah) dalam suatu Tahun Pajak.000. baik yang menetap maupun tidak menetap. atau b.800.00 (empat miliar delapan ratus juta rupiah).000.000.000. Pasal 3 (1) Besarnya tarif Pajak Penghasilan yang bersifat final sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 adalah 1% (satu persen).00 (empat miliar delapan ratus juta rupiah) pada suatu Tahun Pajak. (4) Dalam hal peredaran bruto Wajib Pajak telah melebihi jumlah Rp4. (2) Pengenaan Pajak Penghasilan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) didasarkan pada peredaran bruto dari usaha dalam 1 (satu) tahun dari Tahun Pajak terakhir sebelum Tahun Pajak yang bersangkutan.000. (3) Dalam hal peredaran bruto kumulatif Wajib Pajak pada suatu bulan telah melebihi jumlah Rp4. Wajib Pajak badan yang belum beroperasi secara komersial.800. dan b. Wajib Pajak badan yang dalam jangka waktu 1 (satu) tahun setelah beroperasi secara komersial memperoleh peredaran bruto melebihi Rp4. menggunakan sebagian atau seluruh tempat untuk kepentingan umum yang tidak diperuntukkan bagi tempat usaha atau berjualan. atas penghasilan yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak pada Tahun Pajak berikutnya dikenai tarif Pajak Penghasilan berdasarkan ketentuan Undang-Undang Pajak Penghasilan.

dikenai Pajak Penghasilan berdasarkan ketentuan Undang-Undang Pajak Penghasilan. Pasal 8 Wajib Pajak yang dikenai Pajak Penghasilan bersifat final berdasarkan Peraturan Pemerintah ini dan menyelenggarakan pembukuan dapat melakukan kompensasi kerugian dengan penghasilan yang tidak dikenai Pajak Penghasilan yang bersifat final dengan ketentuan sebagai berikut: a.2014 Pajak Penghasilan Final 1% bagi Wajib Pajak dengan Peredaran Bruto Tertentu Pasal 4 (1) Dasar pengenaan pajak yang digunakan untuk menghitung Pajak Penghasilan yang bersifat final sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) adalah jumlah peredaran bruto setiap bulan. Pasal 5 Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) tidak berlaku atas penghasilan dari usaha yang dikenai Pajak Penghasilan yang bersifat final berdasarkan ketentuan Peraturan Perundang-undangan di bidang perpajakan. 16 Direktorat Peraturan Perpajakan II . Pasal 6 Atas penghasilan selain dari usaha sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak. (2) Pajak Penghasilan terutang dihitung berdasarkan tarif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1) dikalikan dengan dasar pengenaan pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pasal 7 Pajak yang dibayar atau terutang di luar negeri atas penghasilan dari luar negeri yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak dapat dikreditkan terhadap Pajak Penghasilan yang terutang berdasarkan ketentuan Undang-Undang Pajak Penghasilan dan peraturan pelaksanaannya. kompensasi kerugian dilakukan mulai Tahun Pajak berikutnya berturut-turut sampai dengan 5 (lima) Tahun Pajak.

Pasal 10 Hal khusus terkait peredaran bruto sebagai dasar untuk dapat dikenai Pajak Penghasilan yang bersifat final sebagaimana diatur dalam Peraturan Pemerintah ini. diatur sebagai berikut: 1.Pajak Penghasilan Final 1% bagi Wajib Pajak dengan Peredaran Bruto Tertentu 2014 b. dalam hal Wajib Pajak terdaftar pada Tahun Pajak yang sama dengan Tahun Pajak saat berlakunya Peraturan Pemerintah ini di bulan sebelum Peraturan Permerintah ini berlaku. dalam hal Wajib Pajak yang baru terdaftar sebagai Wajib Pajak sejak berlakunya Peraturan Pemerintah ini. didasarkan pada jumlah peredaran bruto pada bulan pertama diperolehnya penghasilan dari usaha yang disetahunkan. 2. dalam hal Tahun Pajak terakhir sebelum Tahun Pajak berlakunya Peraturan Pemerintah ini meliputi kurang dari jangka waktu 12 (dua belas) bulan. kerugian pada suatu Tahun Pajak dikenakannya Pajak Penghasilan yang bersifat final berdasarkan Peraturan Pemerintah ini tidak dapat dikompensasikan pada Tahun Pajak berikutnya. penyetoran. Pasal 9 Ketentuan lebih lanjut mengenai penghitungan. dan pelaporan Pajak Penghasilan atas penghasilan dari usaha yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak yang memiliki peredaran bruto tertentu dan kriteria beroperasi secara komersial diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan. Tahun Pajak dikenakannya Pajak Penghasilan yang bersifat final berdasarkan Peraturan Pemerintah ini tetap diperhitungkan sebagai bagian dari jangka waktu sebagaimana dimaksud pada huruf a. didasarkan pada jumlah peredaran bruto Tahun Pajak terakhir sebelum Tahun Pajak berlakunya Peraturan Pemerintah ini yang disetahunkan. Direktorat Peraturan Perpajakan II 17 . c. didasarkan pada jumlah peredaran bruto dari bulan saat Wajib Pajak terdaftar sampai dengan bulan sebelum berlakunya Peraturan Pemerintah ini yang disetahunkan. 3.

SUSILO BAMBANG YUDHOYONO Diundangkan di Jakarta pada tanggal13 Juni 2013 MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA REPUBLIK INDONESIA. H. Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 12 Juni 2013 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA.2014 Pajak Penghasilan Final 1% bagi Wajib Pajak dengan Peredaran Bruto Tertentu Pasal 11 Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku pada tanggal 1 Juli 2013. memerintahkan pengundangan Peraturan Pemerintah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. ttd DR. ttd AMIR SYAMSUDIN LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2013 NOMOR 106 Salinan sesuai dengan aslinya KEMENTERIAN SEKRETARIAT NEGARA REPUBLIK INDONESIA 18 Direktorat Peraturan Perpajakan II . Agar setiap orang mengetahuinya.

serta memperhatikan perkembangan ekonomi dan moneter. UMUM Materi pokok yang diatur dalam Peraturan Pemerintah ini mengenai pengenaan Pajak Penghasilan yang bersifat final dan penetapan besaran tarif pajak terhadap penghasilan dari usaha yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak yang memiliki peredaran bruto tertentu.Pajak Penghasilan Final 1% bagi Wajib Pajak dengan Peredaran Bruto Tertentu 2014 PENJELASAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 46 TAHUN 2013 TENTANG PAJAK PENGHASILAN ATAS PENGHASILAN DARI USAHA YANG DITERIMA ATAU DIPEROLEH WAJIB PAJAK YANG MEMILIKI PEREDARAN BRUTO TERTENTU I. PASAL DEMI PASAL Pasal 1 Cukup jelas. untuk melakukan penghitungan. Pengenaan Pajak Penghasilan yang bersifat final tersebut ditetapkan dengan berdasarkan pada pertimbangan perlunya kesederhanaan dalam pemungutan pajak. II. Pasal 2 Direktorat Peraturan Perpajakan II 19 . Tujuan pengaturan ini adalah untuk memberikan kemudahan kepada Wajib Pajak yang menerima atau memperoleh penghasilan dari usaha yang memiliki peredaran bruto tertentu. dan pelaporan Pajak Penghasilan yang terutang. berkurangnya beban administrasi baik bagi Wajib Pajak maupun Direktorat Jenderal Pajak. penyetoran.

bintang sinetron. penyanyi. c. penghasilan dari modal. foto model. Jasa sehubungan dengan pekerjaan bebas meliputi: a. honorarium. dan d.2014 Pajak Penghasilan Final 1% bagi Wajib Pajak dengan Peredaran Bruto Tertentu Ayat (1) Cukup jelas. Berdasarkan arah aliran tambahan kemampuan ekonomis kepada Wajib Pajak. dan sebagainya. pelawak. akuntan. dan penari. bintang film. Ayat (2) Peredaran bruto merupakan peredaran bruto dari usaha. penghasilan dari usaha dan kegiatan. penghasilan dari pekerjaan dalam hubungan kerja dan pekerjaan bebas seperti gaji. royalti. dan keuntungan penjualan harta atau hak yang tidak dipergunakan untuk usaha. penghasilan dapat dikelompokkan menjadi: a. dokter. b. selain peredaran bruto dari usaha yang atas penghasilannya telah dikenai Pajak Penghasilan yang bersifat final berdasarkan ketentuan Peraturan Perundang-undangan di bidang perpajakan. 20 Direktorat Peraturan Perpajakan II . bintang iklan. notaris. arsitek. akuntan. aktuaris. sewa. penghasilan lain-lain. termasuk dari usaha cabang. dan aktuaris. yang terdiri dari pengacara. seperti bunga. olahragawan. pengacara. kru film. peragawan/ peragawati. penghasilan dari praktek dokter. b. notaris. tenaga ahli yang melakukan pekerjaan bebas. penilai. pemain drama. sutradara. pemain musik. pembawa acara. c. dividen. konsultan. seperti pembebasan utang dan hadiah. yang berupa harta gerak ataupun harta tak gerak.

00. petugas penjaja barang dagangan. c.Pajak Penghasilan Final 1% bagi Wajib Pajak dengan Peredaran Bruto Tertentu 2014 d.000.000. perantara. pengarang. Jika tahun buku Wajib Pajak dimulai pada tanggal 1 Juli 2013 dan berakhir pada tanggal 30 Juni 2014 maka tahun buku tersebut berarti Tahun Pajak 2013 karena memenuhi 6 (enam) bulan pertama dari tahun 2013. pelatih. h. f. distributor perusahaan pemasaran berjenjang (multilevel marketing) atau penjualan langsung (direct selling) dan kegiatan sejenis lainnya. Contoh penentuan peredaran bruto: Rajesh merupakan pedagang tekstil yang memiliki tempat kegiatan usaha di beberapa pasar di wilayah yang berbeda. g. peneliti. Berdasarkan pencatatan yang dilakukan diketahui rincian peredaran usaha di tahun 2013 adalah sebagai berikut: a. dan k. bagi Wajib Pajak yang tahun bukunya tidak sama dengan tahun kalender.00. i. dan penerjemah. penceramah.000. agen iklan. agen asuransi. Pasar B sebesar Rp 250. J. Direktorat Peraturan Perpajakan II 21 . Pasar C sebesar Rp 400.000. Tahun Pajak ditentukan berdasarkan tahun buku yang didalamnya termasuk 6 (enam) bulan pertama atau lebih dari 6 (enam) bulan dari tahun buku tersebut. penasihat. Pasar A sebesar Rp 80. penyuluh.00. Namun demikian. dan moderator. e.000. b. pengajar.000. pengawas atau pengelola proyek. Tahun Pajak menurut ketentuan umum perpajakan adalah sama dengan tahun kalender. Misalnya.

000.00). Ayat (3) Wajib Pajak orang pribadi yang tergolong dalam ketentuan ini adalah Wajib Pajak orang pribadi yang melakukan kegiatan usaha perdagangan dan/atau jasa melalui suatu tempat usaha yang dapat dibongkar pasang.000. pedagang asongan.000.000.00 (empat miliar rupiah).000.00 +Rp 250. termasuk yang menggunakan gerobak. karena peredaran bruto CV Andik pada Tahun Pajak 22 Direktorat Peraturan Perpajakan II . dan menggunakan tempat untuk kepentingan umum yang menurut peraturan perundang-undangan bahwa tempat tersebut tidak diperuntukkan bagi tempat usaha atau berjualan. dan sejenisnya. warung tenda di trotoar.000. memiliki peredaran bruto sebesar Rp4.000.000.000. Terhadap Wajib Pajak tersebut atas penghasilannya tidak dikenai Pajak Penghasilan yang bersifat final berdasarkan ketentuan Peraturan Pemerintah ini.2014 Pajak Penghasilan Final 1% bagi Wajib Pajak dengan Peredaran Bruto Tertentu Dengan demikian peredaran bruto usaha perdagangan tekstil Rajesh sebagai dasar pengenaan Pajak Penghasilan yang bersifat final adalah sebesar Rp730. Dengan demikian.000.00+ Rp 400. misalnya pedagang makanan keliling. atas penghasilan dari usaha yang diterima oleh CV Andik pada tahun 2014 dikenai Pajak Penghasilan bersifat final sebesar 1% (satu persen). Pasal 3 Ayat (1) Contoh penentuan pengenaan Pajak Penghasilan yang bersifat final: CV Andik memiliki usaha penjualan gerabah yang berdasarkan pembukuan atau catatan pada Tahun Pajak 2013 (Januari 2013 sampai dengan Desember 2013).000. Ayat (4) Cukup jelas.00 (Rp 80.

000. Pasal 4 Ayat (1) Cukup jelas.000. sebagaimana contoh pada penjelasan ayat (1) dan ayat (2).800. pada bulan Januari sampai dengan Desember 2014 memperoleh peredaran bruto sebesar Rp6.000.00 (empat miliar delapan ratus juta rupiah). sebagaimana contoh pada penjelasan ayat (3). Ayat (3) Jika CV Andik. Ayat (2) Cukup jelas.000.00 (enam miliar rupiah). pada bulan Agustus 2014 memperoleh penghasilan dari usaha penjualan gerabah sebesar Rp50. Ayat (2) Jika CV Andik.000. maka atas penghasilan dari usaha yang diterima oleh CV Andik sampai dengan bulan Desember 2014 (akhir Tahun Pajak 2014) tetap dikenai tarif Pajak Penghasilan yang bersifat final sebesar 1% (satu persen).000. sebagaimana contoh pada penjelasan Pasal 3 ayat (1) dan ayat (2).000. maka penghasilan yang diperoleh CV Andik pada tahun 2015 (tahun berikutnya). Ayat (4) Jika CV Andik.00 (lima puluh juta rupiah). dikenai Pajak Penghasilan sesuai ketentuan Undang-Undang Pajak Penghasilan.000.00 (lima miliar rupiah).000.000. maka Pajak Penghasilan yang bersifat final yang terutang untuk bulan Agustus 2014 dihitung sebagai berikut: Direktorat Peraturan Perpajakan II 23 . pada bulan Januari sampai dengan Oktober 2014 memperoleh peredaran bruto sebesar Rp5.Pajak Penghasilan Final 1% bagi Wajib Pajak dengan Peredaran Bruto Tertentu 2014 2013 tidak melebihi Rp4.

tidak dikenai Pajak Penghasilan yang bersifat final berdasarkan Peraturan Pemerintah ini tetapi mengikuti ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan yang mengatur mengenai pengenaan pajak atas penghasilan tersebut. Pasal 6 Cukup jelas. 24 Direktorat Peraturan Perpajakan II . maka kerugian tersebut dapat dikompensasikan dengan penghasilan pada Tahun Pajak 2011 sampai dengan Tahun Pajak 2015.000. misalnya penghasilan dari usaha jasa konstruksi yang pengenaan pajaknya diatur dengan Peraturan Pemerintah.2014 Pajak Penghasilan Final 1% bagi Wajib Pajak dengan Peredaran Bruto Tertentu Pajak Penghasilan yang bersifat Rp50.000.00 = Rp500.00 (empat miliar delapan ratus juta rupiah).000.000. Pasal 7 Cukup jelas.800. meskipun peredaran bruto usaha Wajib Pajak yang bersangkutan dalam 1 (satu) tahun tidak melebihi Rp 4.000.00 final = 1% x Pasal 5 Atas penghasilan yang dikenai Pajak Penghasilan yang bersifat final dengan ketentuan peraturan perundangundangan perpajakan tersendiri. Pasal 8 Contoh perlakuan kompensasi kerugian: Jika Wajib Pajak PT Pantang Menyerah mengalami kerugian pada Tahun Pajak 2010. Jika Wajib Pajak PT Pantang Menyerah pada Tahun Pajak 2014 dikenai Pajak Penghasilan yang bersifat fmal berdasarkan ketentuan Peraturan Pemerintah ini maka jangka waktu kompensasi kerugian tetap dihitung sampai dengan Tahun Pajak 2015.

Pajak Penghasilan Final 1% bagi Wajib Pajak dengan Peredaran Bruto Tertentu 2014 Jika Wajib Pajak PT Pantang Menyerah pada Tahun Pajak 2014 dikenai Pajak Penghasilan yang bersifat final berdasarkan ketentuan Peraturan Pemerintah ini dan mengalami kerugian berdasarkan pembukuan. Terdaftar sebagai Wajib Pajak sejak bulan Agustus 2013.000. Peredaran bruto selama bulan Agustus 2013 sampai dengan Desember 2013 adalah Rp150. Pasal 10 Contoh penentuan peredaran bruto sebagai dasar dikenainya Pajak Penghasilan dengan Peraturan Pemerintah ini. Tahun Pajak sebelumnya kurang dari 12 (dua belas) bulan. untuk Tahun Pajak pertama.00 (seratus lima puluh juta rupiah). Pasal 9 Cukup je1as. b. Peredaran bruto tahun 2013 disetahunkan adalah: Rp150.00 Karena peredaran bruto disetahunkan di tahun 2013 tidak melebihi Rp4. dalam hal: a. Wajib Pajak baru terdaftar setelah berlakunya Peraturan Pemerintah ini.00 (empat miliar delapan ratus juta rupiah). maka penghasilan yang diperoleh di tahun 2014 dikenai pajak yang bersifat Direktorat Peraturan Perpajakan II 25 .00 x 12/5 = Rp360. dan c.000.000.000. adalah sebagai berikut: 1) PT Maju Jaya menggunakan tahun kalender sebagai Tahun Pajak.000.000. maka atas kerugian tersebut tidak dapat dikompensasikan dengan Tahun Pajak berikutnya. Wajib Pajak baru terdaftar pada Tahun Pajak yang sama dengan tahun berlakunya Peraturan Pemerintah ini pada bulan sebelum bulan berlakunya Peraturan Pemerintah ini.800.000.000.

000.000.000.000.000.000.000. maka penghasilan yang diperoleh di tahun 2014 dikenai Pajak Penghasilan yang bersifat final sesuai dengan Peraturan Pemerintah ini.000.00 Karena penghasilan bulan November 2014 (bulan pertama mulai terdaftar sebagai Wajib Pajak) yang disetahunkan tidak melebihi Rp4. maka penghasilan yang diperoleh mulai pada bulan berlakunya Peraturan Pemerintah ini sampai dengan akhir tahun pajak bersangkutan. TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5424 26 Direktorat Peraturan Perpajakan II .00 (empat miliar delapan ratus juta rupiah).00 (seratus lima puluh juta rupiah).000.000.00 Karena peredaran bruto disetahunkan untuk 3 (tiga) bulan tersebut tidak melebihi Rp 4.00 (empat miliar delapan ratus juta rupiah).00 = Rp180.000. Jumlah peredaran bruto selama 3 (tiga) bulan tersebut adalah Rp150.000.00 (lima belas juta rupiah). Peredaran bruto selama 3 (tiga) bulan yang disetahunkan adalah: Rp150. dikenai pajak yang bersifat final sesuai ketentuan dalam Peraturan Pemerintah ini 3) Gatot Kaca terdaftar sebagai Wajib Pajak baru pada bulan November 2014. Pada bulan November 2014 tersebut.000. Pasal 11 Cukup jelas. memperoleh peredaran bruto sebesar Rp 15.2014 Pajak Penghasilan Final 1% bagi Wajib Pajak dengan Peredaran Bruto Tertentu final sesuai ketentuan dalam Peraturan Pemerintah ini.800.000. Penghasilan bruto bulan November 2014 disetahunkan adalah: 12/1 x Rp15.000.800. 2) PT Daya Tangkap terdaftar 3 (tiga) bulan sebelum berlakunya Peraturan Pemerintah ini pada Tahun Pajak yang sama dengan tahun berlakunya Peraturan Pemerintah ini.00 x 12/3 = Rp600.000.

DAN PELAPORAN PAJAK PENGHASILAN ATAS PENGHASILAN DARI USAHA YANG DITERIMA ATAU DIPEROLEH WAJIB PAJAK YANG MEMILIKI PEREDARAN BRUTO TERTENTU . PENYETORAN.011/2013 TENTANG TATA CARA PENGHITUNGAN.DIREKTORAT JENDERAL PAJAK LAMPIRAN II PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 107/PMK.

.

Penyetoran. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3262) sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2009 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 62. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4999).011/2013 TENTANG TATA CARA PENGHITUNGAN. dan Pelaporan Pajak Penghasilan atas Penghasilan dari Usaha yang Diterima atau Diperoleh Wajib Pajak yang Memiliki Peredaran Bruto Tertentu. perlu menetapkan Peraturan Menteri Keuangan tentang Tata Cara Penghitungan.Pajak Penghasilan Final 1% bagi Wajib Pajak dengan Peredaran Bruto Tertentu 2014 MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 107/PMK. Menimbang : bahwa dalam rangka melaksanakan Pasal 9 Peraturan Pemerintah Nomor 46 Tahun 2013 tentang Pajak Penghasilan atas Penghasilan dari Usaha yang Diterima atau Diperoleh Wajib Pajak yang Memiliki Peredaran Bruto Tertentu. 2. Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1983 Nomor 50. Mengingat : 1. DAN PELAPORAN PAJAK PENGHASILAN ATAS PENGHASILAN DARI USAHA YANG DITERIMA ATAU DIPEROLEH WAJIB PAJAK YANG MEMILIKI PEREDARAN BRUTO TERTENTU DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3263) sebagaimana telah Direktorat Peraturan Perpajakan II 29 . Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1983 Nomor 49. PENYETORAN.

Peraturan Pemerintah Nomor 94 Tahun 2010 tentang Penghitungan Penghasilan Kena Pajak dan Pelunasan Pajak Penghasilan dalam Tahun Berjalan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 161. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4893). DAN PELAPORAN PAJAK PENGHASILAN ATAS PENGHASILAN DARI USAHA YANG DITERIMA ATAU DIPEROLEH WAJIB PAJAK YANG MEMILIKI PEREDARAN BRUTO TERTENTU. Peraturan Pemerintah Nomor 46 Tahun 2013 tentang Pajak Penghasilan atas Penghasilan dari Usaha yang Diterima atau Diperoleh Wajib Pajak yang Memiliki Peredaran Bruto Tertentu (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2013 Nomor 106. Tahun Pajak adalah jangka waktu 1 (satu) tahun kalender kecuali 30 Direktorat Peraturan Perpajakan II . Undang-Undang Pajak Penghasilan adalah Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008. 4. Pasal 1 Dalam Peraturan Menteri ini. PENYETORAN. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5183). yang dimaksud dengan: 1.2014 Pajak Penghasilan Final 1% bagi Wajib Pajak dengan Peredaran Bruto Tertentu MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA beberapa kali diubah terakhir dengan UndangUndang Nomor 36 Tahun 2008 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 133. 2. MEMUTUSKAN : Menetapkan : PERATURAN MENTERI KEUANGAN TENTANG TATA CARA PENGHITUNGAN. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5424). 3.

tenaga ahli yang melakukan pekerjaan bebas. notaris. menerima. perantara. pembawa acara. arsitek. f. foto model. dan penerjemah. dengan peredaran bruto tidak melebihi Rp4. c. penghasilan dari usaha. tidak termasuk penghasilan dari jasa sehubungan dengan pekerjaan bebas.800. dan b. sutradara. penyanyi. pelatih. e. pengawas atau pengelola proyek. dikenai Pajak Penghasilan yang bersifat final.Pajak Penghasilan Final 1% bagi Wajib Pajak dengan Peredaran Bruto Tertentu 2014 MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA bila Wajib Pajak menggunakan tahun buku yang tidak sama dengan tahun kalender. peragawan/peragawati. konsultan. bintang iklan. dan penari. Direktorat Peraturan Perpajakan II 31 . bintang sinetron. yang terdiri dari pengacara. pemain musik. agen iklan. kru film. penceramah. (3) Jasa sehubungan dengan pekerjaan bebas sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf b meliputi: a.. akuntan. penyuluh. pelawak. h.00 (empat miliar delapan ratus juta rupiah) dalam 1 (satu) Tahun Pajak. pengajar. pemain drama. pengarang. peneliti.000.000. dokter. dan aktuaris. dan moderator. g. penasihat. b. olahragawan. bintang film. penilai. (2) Wajib Pajak yang memiliki peredaran bruto tertentu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah Wajib Pajak yang memenuhi kriteria sebagai berikut: a. Wajib Pajak orang pribadi atau Wajib Pajak badan tidak termasuk bentuk usaha tetap. d. Pasal 2 (1) Atas penghasilan dari usaha yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak yang memiliki peredaran bruto tertentu.

tidak termasuk peredaran bruto dari: a. menggunakan sarana atau prasarana yang dapat dibongkar pasang baik yang menetap maupun tidak menetap. Wajib Pajak badan yang dalam jangka waktu 1 (satu) tahun sejak beroperasi secara komersial memperoleh peredaran bruto melebihi Rp4. (5) Tidak termasuk Wajib Pajak badan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) adalah: a.00 (empat miliar delapan ratus juta rupiah) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (2) huruf b ditentukan berdasarkan peredaran bruto dari usaha seluruhnya termasuk dari usaha cabang. atau b.800. Wajib Pajak badan yang belum beroperasi secara komersial.000.000. (2) Peredaran bruto yang tidak melebihi Rp4. dan k. j. jasa sehubungan dengan pekerjaan dimaksud dalam Pasal 2 ayat (3). petugas penjaja barang dagangan.000.2014 Pajak Penghasilan Final 1% bagi Wajib Pajak dengan Peredaran Bruto Tertentu MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA i. menggunakan sebagian atau seluruh tempat untuk kepentingan umum yang tidak diperuntukkan bagi tempat usaha atau berjualan. Pasal 3 (1) Pengenaan Pajak Penghasilan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) didasarkan pada peredaran bruto dari usaha dalam 1 (satu) tahun dari Tahun Pajak terakhir sebelum Tahun Pajak yang bersangkutan.00 (empat miliar delapan ratus juta rupiah). 32 Direktorat Peraturan Perpajakan II bebas sebagaimana . dan b.800. distributor perusahaan pemasaran berjenjang (multilevel marketing) atau penjualan langsung (direct selling) dan kegiatan sejenis lainnya.000. agen asuransi. (4) Tidak termasuk Wajib Pajak orang pribadi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) adalah Wajib Pajak orang pribadi yang melakukan kegiatan usaha perdagangan dan/atau jasa yang dalam usahanya: a.

pengenaan Pajak Penghasilan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) didasarkan pada jumlah peredaran bruto Tahun Pajak terakhir sebelum Tahun Pajak bersangkutan yang disetahunkan. Pasal 5 Direktorat Peraturan Perpajakan II 33 . (3) Dalam hal peredaran bruto dari usaha pada Tahun Pajak terakhir sebelum Tahun Pajak yang bersangkutan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak meliputi jangka waktu 12 (dua belas) bulan. (4) Dalam hal Wajib Pajak baru terdaftar pada tahun pajak 2013 sebelum Peraturan Menteri ini berlaku. c. penghasilan yang dikecualikan sebagai objek pajak. pengenaan Pajak Penghasilan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) didasarkan pada jumlah peredaran bruto dari bulan saat Wajib Pajak terdaftar sampai dengan bulan sebelum berlakunya Peraturan Menteri ini yang disetahunkan. (3) Pajak Penghasilan terutang dihitung berdasarkan tarif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikalikan dengan dasar pengenaan pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (2). (2) Dasar pengenaan pajak yang digunakan untuk menghitung Pajak Penghasilan yang bersifat final sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) adalah jumlah peredaran bruto setiap bulan. Pasal 4 (1) Besarnya tarif Pajak Penghasilan yang bersifat final sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) adalah 1% (satu persen). usaha yang atas penghasilannya telah dikenai Pajak Penghasilan yang bersifat final dengan ketentuan peraturan perundangundangan perpajakan tersendiri.Pajak Penghasilan Final 1% bagi Wajib Pajak dengan Peredaran Bruto Tertentu 2014 MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA b. untuk setiap tempat kegiatan usaha. pengenaan Pajak Penghasilan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) didasarkan pada jumlah peredaran bruto pada bulan pertama diperolehnya penghasilan dari usaha yang disetahunkan. (5) Dalam hal Wajib Pajak baru terdaftar sejak berlakunya Peraturan Menteri ini. penghasilan yang diterima atau diperoleh dari luar negeri. dan d.

800. (2) Dalam hal peredaran bruto Wajib Pajak telah melebihi jumlah Rp4.000. Pasal 7 (1) Wajib Pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (5) dikenai Pajak Penghasilan berdasarkan tarif umum Undang-Undang Pajak Penghasilan sampai dengan jangka waktu 1 (satu) tahun sejak beroperasi secara komersial.00 (empat miliar delapan ratus juta rupiah) pada suatu Tahun Pajak. (2) Dalam hal Jangka waktu 1 (satu) tahun sebagaimana dimaksud pada ayat (1) melewati Tahun Pajak yang bersangkutan. atas penghasilan yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak pada Tahun Pajak berikutnya dikenai Pajak Penghasilan berdasarkan tarif umum Undang-Undang Pajak Penghasilan.000. Wajib Pajak tetap dikenai tarif Pajak Penghasilan yang telah ditentukan berdasarkan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1) sampai dengan akhir Tahun Pajak yang bersangkutan. (2) Pembebasan dari pemotongan dan/atau pemungutan Pajak Penghasilan oleh pihak lain sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan melalui Surat Keterangan Bebas.000. (3) Surat Keterangan Bebas sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diterbitkan oleh Kepala Kantor Pelayanan Pajak tempat Wajib Pajak terdaftar atas nama Direktur Jenderal Pajak berdasarkan permohonan Wajib Pajak. dapat dibebaskan dari pemotongan dan/atau pemungutan Pajak Penghasilan oleh pihak lain.2014 Pajak Penghasilan Final 1% bagi Wajib Pajak dengan Peredaran Bruto Tertentu MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA (1) Dalam hal peredaran bruto kumulatif Wajib Pajak pada suatu bulan telah melebihi jumlah Rp4. ketentuan 34 Direktorat Peraturan Perpajakan II .00 (empat miliar delapan ratus juta rupiah) dalam suatu Tahun Pajak.800.000. Pasal 6 (1) Atas penghasilan dari usaha yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (2) yang berdasarkan ketentuan Undang-Undang Pajak Penghasilan dan peraturan pelaksanaannya wajib dilakukan pemotongan dan/ atau pemungutan Pajak Penghasilan yang tidak bersifat final.

Pasal 8 (1) Wajib Pajak yang dikenai Pajak penghasilan bersifat final sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) yang menyelenggarakan pembukuan dapat melakukan kompensasi kerugian dengan penghasilan yang tidak dikenai Pajak Penghasilan yang bersifat final. tidak diwajibkan melakukan pembayaran angsuran pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25 Undang-Undang Pajak Penghasilan. Tahun Pajak dikenakannya Pajak Penghasilan yang bersifat final sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1). c. Pasal 9 (1) Wajib Pajak yang hanya menerima atau memperoleh penghasilan yang dikenai Pajak Penghasilan yang bersifat final sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1). Direktorat Peraturan Perpajakan II 35 . kerugian pada suatu Tahun Pajak dikenakannya Pajak Penghasilan yang bersifat final sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1). b. (2) Dalam hal Wajib Pajak selain menerima atau memperoleh penghasilan yang dikenai Pajak Penghasilan yang bersifat final sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) juga menerima atau memperoleh penghasilan yang dikenai Pajak Penghasilan berdasarkan tarif umum Undang-Undang Pajak Penghasilan. tetap diperhitungkan sebagai bagian dari jangka waktu sebagaimana dimaksud pada huruf a. (2) Ketentuan kompensasi kerugian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah: a. tidak dapat dikompensasikan pada Tahun Pajak berikutnya.Pajak Penghasilan Final 1% bagi Wajib Pajak dengan Peredaran Bruto Tertentu 2014 MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berlaku sampai dengan akhir Tahun Pajak berikutnya. kompensasi kerugian dilakukan mulai tahun Pajak berikutnya berturut-turut sampai dengan 5 (lima) Tahun Pajak. atas penghasilan yang dikenai Pajak Penghasilan berdasarkan tarif umum tersebut wajib dibayar angsuran pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25 Undang-Undang Pajak Penghasilan.

(2) Wajib Pajak yang melakukan pembayaran Pajak Penghasilan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib menyampaikan Surat 36 Direktorat Peraturan Perpajakan II . diatur ketentuan sebagai berikut: a.2014 Pajak Penghasilan Final 1% bagi Wajib Pajak dengan Peredaran Bruto Tertentu MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA (3) Besarnya angsuran pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25 Undang-Undang Pajak Penghasilan bagi Wajib Pajak yang memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (2) pada Tahun Pajak pertama Wajib Pajak tidak dikenai Pajak Penghasilan yang bersifat final sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1). paling lama tanggal 15 (lima belas) bulan berikutnya setelah Masa Pajak berakhir. bagi Wajib Pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25 ayat (7) huruf b dan huruf c Undang-Undang Pajak Penghasilan. (4) Untuk Wajib Pajak orang pribadi. bagi Wajib Pajak selain Wajib Pajak sebagaimana dimaksud pada huruf a. kecuali untuk penghasilan yang pengenaan pajaknya bersifat final. jumlah penghasilan neto yang disetahunkan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf b dikurangi terlebih dahulu dengan Penghasilan Tidak Kena Pajak. b. Pasal 10 (1) Wajib Pajak wajib menyetor Pajak Penghasilan terutang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (3) ke kantor pos atau bank yang ditunjuk oleh Menteri Keuangan. yang telah mendapat validasi dengan Nomor Transaksi Penerimaan Negara. (5) Angsuran pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25 UndangUndang Pajak Penghasilan dan pajak yang telah dipotong dan/atau dipungut pihak lain boleh dikreditkan terhadap Pajak Penghasilan yang terutang untuk Tahun Pajak yang bersangkutan. dengan menggunakan Surat Setoran Pajak atau sarana administrasi lain yang dipersamakan dengan Surat Setoran Pajak. besaran angsuran pajak adalah sesuai dengan besarnya angsuran pajak sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan yang mengatur mengenai besarnya angsuran pajak bagi Wajib Pajak tersebut. penghitungan besarnya angsuran pajak diberlakukan seperti Wajib Pajak baru sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25 ayat (7) huruf a Undang-Undang Pajak Penghasilan.

Wajib Pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (4) dan ayat (5). Pasal 11 Wajib Pajak yang atas seluruh atau sebagian penghasilannya telah dikenai Pajak Penghasilan yang bersifat final sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1). kewajiban penyampaian Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan adalah sesuai ketentuan sebagaimana diatur dalam Pasal 3 Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2009. dikenai Pajak Penghasilan berdasarkan tarif umum Undang-Undang Pajak Penghasilan.Pajak Penghasilan Final 1% bagi Wajib Pajak dengan Peredaran Bruto Tertentu 2014 MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA Pemberitahuan Masa Pajak Penghasilan paling lama 20 (dua puluh) hari setelah Masa Pajak berakhir. (3) Wajib Pajak yang telah melakukan penyetoran Pajak Penghasilan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). sesuai dengan tanggal validasi Nomor Transaksi Penerimaan Negara yang tercantum pada Surat Setoran Pajak. serta penghasilan dari jasa sehubungan dengan pekerjaan bebas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (3) dan penghasilan yang diterima atau diperoleh dari luar negeri. dianggap telah menyampaikan Surat Pemberitahuan Masa Pajak Penghasilan sebagaimana dimaksud pada ayat (2). Pasal 12 (1) Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) tidak berlaku atas penghasilan dari usaha yang dikenai Pajak Penghasilan yang bersifat final berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan tersendiri. Pasal 13 Tata cara penghitungan Pajak Penghasilan atas penghasilan dari usaha yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak yang memiliki peredaran bruto Direktorat Peraturan Perpajakan II 37 . (2) Atas penghasilan yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak Bentuk Usaha Tetap. dan peraturan pelaksanaannya beserta perubahannya.

bentuk Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11.2014 Pajak Penghasilan Final 1% bagi Wajib Pajak dengan Peredaran Bruto Tertentu MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA tertentu adalah sesuai contoh sebagaimana tercantum dalam Lampiran Peraturan Menteri ini. diberlakukan sama dengan mulai berlakunya Peraturan Pemerintah Nomor 46 Tahun 2013. yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini. diatur dengan Peraturan Direktur Jenderal Pajak. tata cara pembebasan dari pemotongan dan/atau pemungutan Pajak Penghasilan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6. Pasal 15 (1) Kerugian pada bulan Januari 2013 sampai dengan Juni 2013 dapat dilakukan kompensasi dengan penghasilan yang tidak dikenai Pajak Penghasilan yang bersifat final pada Tahun Pajak berikutnya. dan Penghasilan c. (2) Wajib Pajak yang melakukan kompensasi kerugian sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (2) Ketentuan mengenai pelaporan Surat Pemberitahuan Masa Pajak Penghasilan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 ayat (2) diberlakukan mulai masa pajak Januari 2014. Pasal 14 Ketentuan lebih lanjut mengenai : a. b. wajib melampirkan laporan rugi laba bulan Januari 2013 sampai dengan Juni 2013 dalam Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan tahun 2013. Pasal 16 (1) Ketentuan mengenai pengenaan Pajak Penghasilan yang bersifat final sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1). bentuk Surat Setoran Pajak atau sarana administrasi lain yang dipersamakan dengan Surat Setoran Pajak sebagaimana dimaksud pada dalam Pasal 10 ayat (1). 38 Direktorat Peraturan Perpajakan II .

Pajak Penghasilan Final 1% bagi Wajib Pajak dengan Peredaran Bruto Tertentu 2014 MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA Pasal 17 Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. ttd. Agar setiap orang mengetahuinya. ttd. AMIR SYAMSUDIN BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2013 NOMOR 984 Direktorat Peraturan Perpajakan II 39 . MUHAMAD CHATIB BASRI Diundangkan di Jakarta pada tanggal 6 Agustus 2013 MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA REPUBLIK INDONESIA. Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 30 Juli 2013 MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA. memerintahkan pengundangan Peraturan Menteri ini dengan penempatannya dalam Berita Negara Republik Indonesia.

000.2014 Pajak Penghasilan Final 1% bagi Wajib Pajak dengan Peredaran Bruto Tertentu MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA LAMPIRAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 107/PMK.00 Peredaran bruto bengkel B = Rp150.00 (sepuluh juta rupiah) dan dari bengkel B sebesar Rp15. Agus Hidayat yang telah terdaftar sebagai Wajib Pajak sejak tahun 2009 memiliki 2 (dua) buah bengkel yang berada di wilayah yang berbeda. Agus Hidayat wajib menyetorkan PPh yang bersifat final sebesar: a.000. maka paling lambat pada tanggal 17 Februari 2014 (karena tanggal 15 Februari jatuh pada hari Sabtu).00 = Rp100. Misalkan pada bulan Januari 2014.00 (dilaporkan ke KPP Y) 40 Direktorat Peraturan Perpajakan II .000.00 Peredaran bruto yang dijadikan dasar penentuan tarif PPh yang bersifat final adalah jumlah peredaran bruto bengkel A dan bengkel B yakni sebesar Rp250.00 = Rp150. Agus Hidayat menjalankan usaha bengkel reparasi motor sekaligus menjual suku cadangnya.000.000.000. Berdasarkan pencatatannya selama tahun 2013 masing-masing bengkel tersebut memiliki peredaran bruto sebagai berikut: Peredaran bruto bengkel A = Rp100.000.000.000. yakni bengkel A terdaftar di Kantor Pelayanan Pajak (KPP) X dan bengkel B terdaftar di KPP Y.000. Bengkel B PPh = 1% x Rp15.000.000. Agus Hidayat memperoleh peredaran bruto dari bengkel A sebesar Rp10.000.800.00 (dua ratus lima puluh juta rupiah).000. Bengkel A PPh = 1% x Rp10.000. Karena total peredaran bruto selama tahun 2013 kurang dari Rp4.01/2013 TENTANG TATA CARA PENGHITUNGAN.00 (empat miliar delapan ratus juta rupiah) maka atas penghasilan dari usaha yang diterima oleh Agus Hidayat pada tahun 2014 dikenai Pajak Penghasilan yang bersifat final sebesar 1% (satu persen) dari peredaran bruto.00 (lima belas juta rupiah).00 (dilaporkan ke KPP X) b. DAN PELAPORAN PAJAK PENGHASILAN ATAS PENGHASILAN DARI USAHA YANG DITERIMA ATAU DIPEROLEH WAJIB PAJAK YANG MEMILIKI PEREDARAN BRUTO TERTENTU CONTOH PENGHITUNGAN PAJAK PENGHASILAN (PPh) ATAS PENGHASILAN DARI USAHA YANG DITERIMA ATAU DIPEROLEH WAJIB PAJAK YANG MEMILIKI PEREDARAN BRUTO TERTENTU: 1. PENYETORAN.000.000.000.

Amira Ekspedisi.000. X seorang pengusaha dari Singapura. Irine telah terdaftar sebagai Wajib Pajak sejak tahun 2009 di Kantor Pelayanan Pajak (KPP) X.000.000.000. Peredaran bruto yang dijadikan dasar pengenaan PPh yang bersifat final adalah jumlah peredaran bruto butik di Batam saja.000. Berdasarkan pencatatannya selama tahun 2013 masing-masing butik tersebut memiliki peredaran bruto sebagai berikut: Peredaran bruto butik di Batam = Rp3. Selain dari penghasilan usaha butik.000.00 kepada Mr. Tagihan yang dibuat kepada PT Amira Ekspedisi atas jasa perawatan dan reparasi tersebut adalah sebesar Rp1.000.00. Namun demikian. atas pembayaran tagihan tersebut tidak dilakukan pemotongan PPh Pasal 23 oleh PT.00 Dari peredaran bruto butik di Batam sebesar Rp 3. jika Agus Hidayat telah mendapatkan Surat Keterangan Bebas dari Pemotongan dan/atau Pemungutan PPh yang dikeluarkan oleh KPP X.000.000. yakni sebesar Rp3.000.000.000. Penghasilan yang diterima Irine dari sewa apartemen dan butik di Singapura. Atas tagihan tersebut PT Amira Ekspedisi melakukan pemotongan PPh Pasal 23 sebesar 2% x Rp1.00 salah satunya merupakan hasil penjualan sebesar Rp 50. Irine menjalankan usaha butik pakaian.000. Irine juga memperoleh penghasilan dari sewa apartemen di Singapura sebesar Rp100.00 (satu juta lima ratus ribu rupiah).00. Direktorat Peraturan Perpajakan II 41 .000.000.00.Pajak Penghasilan Final 1% bagi Wajib Pajak dengan Peredaran Bruto Tertentu 2014 MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA Pada bulan Maret 2013 sebuah perusahaan swasta bernama PT Amira Ekspedisi melakukan perawatan dan reparasi 5 (lima) motor milik perusahaan tersebut di bengkel A milik Agus Hidayat.00 Peredaran bruto butik di Singapura = Rp5.000.500.500. memiliki butik pakaian di kota Batam dan di Singapura. tidak diperhitungkan dalam menghitung batasan peredaran bruto untuk dapat dikenai PPh bersifat final.000. 2.000.00 = Rp30.000.

Hari Nugroho yang berstatus kawin dengan 2 (dua) tanggungan adalah orang pribadi pengusaha konstruksi yang juga memiliki toko material “Cakar Beton”.900.000. adalah berdasarkan peredaran bruto dari usaha toko material “Cakar Beton” saja yakni sebesar Rp3.500. dan c. Untuk menentukan PPh dari usaha toko material “Cakar Beton” di tahun 2014 dikenai tarif umum atau tarif yang bersifat final.000. Nilai kontrak jasa pelaksanaan konstruksi (termasuk pemakaian material dari toko “Cakar Beton”) Rp900.00.d.000.00 + Rp500.000.000.000.625.500.000. c. Jumlah seluruh penghasilan yang diterima oleh Hari Nugroho pada tahun 2013 diketahui sebagai berikut: a.500.000. Sedangkan peredaran bruto dari jasa pelaksanaan konstruksi dan jasa konsultasi tidak diperhitungkan mengingat jasa pelaksanaan konstruksi dikenai PPh yang bersifat final dengan ketentuan Peraturan Pemerintah tersendiri dan jasa konsultasi termasuk dalam lingkup jasa sehubungan dengan pekerjaan bebas.000. b.000. Hari Nugroho juga aktif memberikan jasa konsultasi kepada klien yang membutuhkan sarannya.00. Kewajiban pembayaran PPh Hari Nugroho di tahun 2014 adalah sebagai berikut: a. untuk setiap bulannya.00 dan PPh yang telah dipotong/dipungut pihak lain di tahun 2013 sebesar 42 Direktorat Peraturan Perpajakan II . yang dikenai PPh bersifat final berdasarkan Peraturan Pemerintah tersendiri. Total peredaran bruto Hari Nugroho pada tahun 2013 adalah sebesar Rp4.00.000.000.000. Desember). Selain usaha tersebut.00 (Rp3. Misalkan biaya dari jasa konsultasi di tahun 2013 sebesar Rp169.00 + Rp900. Angsuran PPh Pasal 25 (Januari s.000. Jasa konsultasi sebesar Rp500.2014 Pajak Penghasilan Final 1% bagi Wajib Pajak dengan Peredaran Bruto Tertentu MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA 3. Penjualan bruto dari toko material “Cakra Beton” Rp3.00.00).000. PPh sebesar 1% bersifat final dari peredaran bruto usaha toko material “Cakar Beton”.000. atas penghasilan dari jasa konsultasi.000. b. PPh dari usaha jasa konstruksi.

00 PPh terutang Rp 24.000.00 PPh terutang jasa konsultasi Rp 38.00 Angsuran PPh Pasal 25 atas jasa konsultasi Rp 2.000.000.000.000.00.750.00 Penghasilan Kena Pajak jasa konsultasi Rp 300.Pajak Penghasilan Final 1% bagi Wajib Pajak dengan Peredaran Bruto Tertentu 2014 MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA Rp14.000. Pada bulan Juli 2013.000. Dengan demikian tarif PPh yang bersifat final yang dikenakan terhadap penghasilan dari usaha yang diterima oleh CV Abadi Mebelindo mulai bulan Juli 2013 adalah sebesar 1% (satu persen).750. dalam hal CV Abadi Mebelindo menyetorkan PPh bersifat final sebesar Rp200.000.00 Biaya kegiatan jasa konsultasi tahun 2013 Rp 169. CV Abadi Mebelindo memperoleh peredaran bruto sebesar Rp20.000.000.00 (tiga ratus sembilan puluh juta rupiah).00 Berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan yang mengatur mengenai penentuan tanggal jatuh tempo penyetoran.375.000.00) 4.000.000.00 Pajak yang dipotong/dipungut pihak lain Rp 14.000.000. dan pelaporan pajak: a.00 (dua puluh juta rupiah) maka paling lambat pada tanggal 15 Agustus 2013 CV Abadi Mebelindo wajib menyetorkan PPh yang bersifat final sebesar: PPh = 1% x Rp20.000.00 pada tanggal 15 Agustus 2013 dan Surat Setoran Pajaknya telah mendapat validasi dengan Nomor Transaksi Penerimaan Negara.00 = Rp200.000.000. maka kewajiban angsuran PPh Pasal 25 di tahun 2014 sebagai berikut: Penghasilan bruto jasa konsultasi tahun 2013 Rp 500. Berdasarkan pembukuannya pada tahun 2012 memiliki peredaran bruto sebesar Rp390. maka CV Abadi Mebelindo menyetor sebelum tanggal jatuh tempo pembayaran dan telah Direktorat Peraturan Perpajakan II 43 . CV Abadi Mebelindo bergerak di bidang usaha industri furnitur terdaftar sebagai Wajib Pajak badan di KPP C sejak tahun 2011.000.00 (1/12 x Rp24.750.000.000.625.000.000.00 PTKP (K/2) Rp 30.

000.000. PT Andalan yang bergerak di bidang usaha industri pengolahan gula didirikan pada tahun 2012 dan pada tahun yang sama mendaftarkan diri sebagai Wajib Pajak badan di KPP Z. b.000. Pada tanggal 1 November 2013 PT Andalan mulai melakukan kegiatan operasi secara komersial berupa produksi gula dalam kemasan. dalam hal CV Abadi Mebelindo menyetorkan PPh bersifat final sebesar Rp200. atas pembelian tersebut Bendahara SD Negeri 03 Jakarta tidak melakukan pemungutan PPh Pasal 22. 5. Pada bulan November 2013 SD Negeri 03 Jakarta membeli kursi dan meja dari CV Abadi Mebelindo sebesar Rp10.00.000. PT Andalan menggunakan tahun buku Januari-Desember. jika CV Abadi Mebelindo telah mendapatkan Surat Keterangan Bebas dari pemotongan dan/atau pemungutan PPh dari KPP C.5% (satu setengah persen) x Rp10. Namun demikian.00 pada tanggal 22 Agustus 2013 dan Surat Setoran Pajaknya telah mendapat validasi dengan Nomor Transaksi Penerimaan Negara. Penyetoran tanggal 22 Agustus yang dilakukan oleh CV Abadi Mebelindo yang sekaligus merupakan tanggal pelaporan Surat Pemberitahuan Masa Pajak Penghasilan tidak termasuk sebagai Surat Pemberitahuan Masa yang terlambat disampaikan karena kewajiban pelaporan Surat Pemberitahuan Masa Pajak Penghasilan diberlakukan mulai masa pajak Januari 2014 sebagaimana dimaksud dalam pasal 16 ayat (2). maka CV Abadi Mebelindo menyetor setelah tanggal jatuh tempo penyetoran (terlambat melakukan penyetoran) dan menyampaikan Surat Pemberitahuan Masa Pajak Penghasilan tanggal 22 Agustus 2013.00 = Rp150. Atas pembelian tersebut Bendahara SD Negeri 03 Jakarta melakukan pemungutan PPh Pasal 22 sebesar 1.2014 Pajak Penghasilan Final 1% bagi Wajib Pajak dengan Peredaran Bruto Tertentu MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA menyampaikan Surat Pemberitahuan Masa Pajak Penghasilan tanggal 15 Agustus 2013. 44 Direktorat Peraturan Perpajakan II .000.000.00 (sepuluh juta rupiah). Sampai dengan bulan Oktober 2013 PT Andalan masih terus melakukan kegiatan investasi dalam bentuk pembangunan pabrik dan instalasi mesin-mesin industri dan belum melakukan kegiatan operasi secara komersial.

00 (empat miliar delapan ratus juta rupiah) maka pengenaan Pajak Penghasilan untuk Tahun Pajak 2015 memperhatikan peredaran bruto Januari sampai dengan Desember 2014. dan Heri Kurnia wajib menyetorkan angsuran Pajak Penghasilan Pasal 25.000.800. Berdasarkan pembukuan yang dilakukan diketahui bahwa peredaran bruto usaha sampai dengan akhir Tahun Pajak 2014 berjumlah Rp5. 6.Pajak Penghasilan Final 1% bagi Wajib Pajak dengan Peredaran Bruto Tertentu 2014 MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA Sesuai ketentuan Pasal 7 Peraturan Menteri ini. Mengingat bahwa 1 (satu) tahun sejak beroperasi secara komersial melewati Tahun Pajak yang bersangkutan maka sesuai ketentuan Pasal 7 ayat (2). maka untuk Tahun Pajak 2013. Heri Kurnia merupakan Wajib Pajak orang pribadi yang melakukan usaha perdagangan mobil bekas yang memiliki 1 (satu) tempat kegiatan usaha sehingga Heri Kurnia termasuk Wajib Pajak orang pribadi pengusaha tertentu.000.800.00 (empat miliar rupiah) sehingga pada Tahun Pajak 2014 Heri Kurnia dikenai PPh yang bersifat final. PT Andalan dikenai Pajak Penghasilan berdasarkan tarif umum Undang-Undang Pajak Penghasilan.000.000. sampai dengan akhir Tahun Pajak 2014.000.000.000.000. Peredaran bruto usaha Tahun Pajak 2013 adalah sebesar Rp4.000.00 (lima miliar rupiah).000. Dengan demikian pada Tahun Pajak 2015 Heri Kurnia dikenai PPh berdasarkan tarif umum Undang-Undang Pajak Penghasilan. sesuai ketentuan angsuran bagi orang pribadi pengusaha tertentu. Wajib Pajak masih dikenai Pajak Penghasilan berdasarkan tarif umum Undang-Undang Pajak Penghasilan. maka mulai Tahun Pajak 2015 PT Andalan dikenai Pajak Penghasilan berdasarkan tarif umum Undang-Undang Pajak Penghasilan. Direktorat Peraturan Perpajakan II 45 .00 (empat miliar delapan ratus juta rupiah). Dalam hal peredaran bruto usaha PT Andalan sampai dengan tanggal 31 Oktober 2014 tidak melebihi Rp4. Dalam hal peredaran bruto usaha PT Andalan sampai dengan tanggal 31 Oktober 2014 (satu tahun sejak mulai beroperasi komersial) telah melebihi Rp4.

00 Biaya-biaya Rp 150. Berdasarkan pembukuan yang dilakukan diketahui bahwa peredaran bruto usaha sampai dengan akhir Tahun Pajak 2014 berjumlah Rp5.000. Penghitungan angsuran PPh Pasal 25 untuk Tahun Pajak 2015 adalah sebagai berikut: Penghasilan bruto sebulan Rp 200.000.000.00 (lima puluh satu juta rupiah).75% dikalikan peredaran bruto pada bulan yang bersangkutan.000.000.000.00 = Rp3.00 (empat ratus juta rupiah). 7.000.5% x Rp600.00 PPh kurang bayar Rp 24.000.000.000. Dengan demikian pada Tahun Pajak 2015 PT Pandiro Anugerah dikenai PPh berdasarkan tarif umum Undang-Undang Pajak Penghasilan. Dengan demikian.00 (dua ratus juta rupiah).000.000.00 1/12 x Rp24.00 (lima miliar rupiah).00) Rp 75.000.000.000.00 PPh terutang (12.00 Angsuran PPh Pasal 25 Rp 2.2014 Pajak Penghasilan Final 1% bagi Wajib Pajak dengan Peredaran Bruto Tertentu MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA Pada bulan Januari 2015 peredaran bruto dari usaha Heri Kurnia adalah sebesar Rp400.000.000.000.000.000.00 Pajak yang dipotong/dipungut pihak lain Rp 51.000.000.000.000.00 Angsuran PPh Pasal 25 untuk bulan selanjutnya sampai dengan bulan Desember 2015 adalah 0.000. Pada bulan Januari 2015 seluruh peredaran bruto PT Pandiro Anugerah adalah sebesar Rp200.000. penghitungan angsuran PPh Pasal 25 untuk bulan Januari 2015 adalah sebagai berikut: PPh Pasal 25 = 0.00 Penghasilan neto sebulan Rp 50.000.00) 46 Direktorat Peraturan Perpajakan II .000.000. dan PPh yang dipotong atau dipungut pihak lain (bukan PPh final) adalah sebesar Rp51.000. Pada Tahun Pajak 2014 Wajib Pajak PT Pandiro Anugerah dikenai PPh yang bersifat final berdasarkan Peraturan Menteri ini.00 Penghasilan neto sebulan disetahunkan Rp 600.000.000.75% x Rp400.000.

000.00 Rp 500. MUHAMAD CHATIB BASRI GIARTO NIP 195904201984021001 Direktorat Peraturan Perpajakan II 47 .000. CV Karya Serasi tidak lagi dikenai PPh yang bersifat final sebesar 1% tetapi dikenai PPh sesuai tarif umum Undang-Undang Pajak Penghasilan.000.b. Penghasilan Kena Pajak 2014 adalah sebesar Rp200.000.000. KEPALA BAGIAN T.000.000. Pada tahun 2013 CV Karya Serasi dikenai PPh yang bersifat final sebesar 1%.00 tidak dapat dikompensasikan pada Tahun Pajak berikutnya.000. CV Karya Serasi bergerak di bidang usaha penjualan alat tulis.000.000.000.00 yaitu laba fiskal tahun 2014 sebesar Rp500. MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA ttd.000.00) 2013 Rp 5. Berdasarkan pembukuan yang dilakukan diketahui hal-hal sebagai berikut: Tahun Peredaran Bruto Laba (Rugi) fiskal 2012 Rp 4.000.000.000.00 dikurangi kompensasi kerugian tahun 2012 sebesar Rp300.00 (Rp 200. ttd.00 *) rugi Juli-Desember 2013 Berdasarkan data tersebut maka CV Karya Serasi dapat melakukan kompensasi kerugian tahun 2012 sebesar Rp300.000. Pada tahun 2014. 8.000.000. sehingga kerugian pada tahun tersebut yakni sebesar Rp200.000.Pajak Penghasilan Final 1% bagi Wajib Pajak dengan Peredaran Bruto Tertentu 2014 MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA Angsuran PPh Pasal 25 untuk bulan selanjutnya sampai dengan bulan Desember 2015 adalah Rp2.000.000.000.00 mulai tahun 2013 sampai dengan tahun 2017.00)*) 2014 Rp 8.000.00.00.U.000.000.000.000. _____________________________________________________________________ Salinan sesuai dengan aslinya KEPALA BIRO UMUM u.00 (Rp 300.

.

DIREKTORAT JENDERAL PAJAK LAMPIRAN III PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 197/PMK.03/2013 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 68/PMK.03/2010 TENTANG BATASAN PENGUSAHA KECIL PAJAK PERTAMBAHAN NILAI .

.

perlu melakukan penyesuaian terhadap ketentuan mengenai batasan pengusaha kecil Pajak Pertambahan Nilai sebagaimana dimaksud dalam huruf a. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan huruf b. perlu menetapkan Peraturan Menteri Keuangan tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Keuangan Nomor 68/PMK. c. bahwa ketentuan mengenai batasan pengusaha kecil Pajak Pertambahan Nilai telah diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 68/PMK. Mengingat : Peraturan Menteri Keuangan Nomor 68/PMK.03/2010 tentang Batasan Pengusaha Kecil Pajak Pertambahan Nilai. b.03/2010 tentang Batasan Pengusaha Kecil Pajak Pertambahan Nilai.Pajak Penghasilan Final 1% bagi Wajib Pajak dengan Peredaran Bruto Tertentu 2014 MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 197/PMK. serta untuk melaksanakan ketentuan Pasal 3A ayat (1) UndangUndang Nomor 8 Tahun 1983 tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 42 Tahun 2009.03/2013 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 68/PMK. bahwa dalam rangka memberikan kemudahan kepada pengusaha yang memiliki peredaran bruto dan/ atau penerimaan bruto tertentu.03/2010 TENTANG BATASAN PENGUSAHA KECIL PAJAK PERTAMBAHAN NILAI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA. Menimbang : a.03/2010 tentang Batasan Pengusaha Kecil Pajak Pertambahan Nilai. Direktorat Peraturan Perpajakan II 51 .

apabila 52 Direktorat Peraturan Perpajakan II . (2) Jumlah peredaran bruto dan/atau penerimaan bruto sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah jumlah keseluruhan penyerahan Barang Kena Pajak dan/atau Jasa Kena Pajak yang dilakukan oleh pengusaha dalam rangka kegiatan usahanya. Ketentuan Pasal 4 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: Pasal 4 (1) Pengusaha wajib melaporkan usahanya untuk dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak.00 (empat miliar delapan ratus juta rupiah). Ketentuan ayat (1) Pasal 1 diubah. sehingga Pasal 1 berbunyi sebagai berikut: Pasal 1 (1) Pengusaha kecil merupakan pengusaha yang selama 1 (satu) tahun buku melakukan penyerahan Barang Kena Pajak dan/atau Jasa Kena Pajak dengan jumlah peredaran bruto dan/atau penerimaan bruto tidak lebih dari Rp4. Pasal I Beberapa ketentuan dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 68/PMK. pengertian tahun buku sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah tahun kalender.03/2010 tentang Batasan Pengusaha Kecil Pajak Pertambahan Nilai diubah sebagai berikut: 1.03/2010 TENTANG BATASAN PENGUSAHA KECIL PAJAK PERTAMBAHAN NILAI. (3) Bagi pengusaha orang pribadi yang dikecualikan dari kewajiban menyelenggarakan pembukuan.000.800.2014 Pajak Penghasilan Final 1% bagi Wajib Pajak dengan Peredaran Bruto Tertentu MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA MEMUTUSKAN: Menetapkan : PERATURAN MENTERI KEUANGAN TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 68/PMK.000. 2.

00 (empat miliar delapan ratus juta rupiah).00 (empat miliar delapan ratus juta rupiah).000.000. Ketentuan Pasal 7 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: Pasal 7 Dalam hal pengusaha telah dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak dan jumlah peredaran bruto dan/atau penerimaan brutonya dalam 1 (satu) tahun buku tidak melebihi Rp4.800.000.000.00 (empat miliar Direktorat Peraturan Perpajakan II 53 .000. 3.00 (empat miliar delapan ratus juta rupiah).800. 4. terhitung sejak saat jumlah peredaran bruto dan/atau penerimaan brutonya melebihi Rp4.000.000. Ketentuan Pasal 5 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: Pasal 5 (1) Apabila diperoleh data dan/atau informasi yang menunjukkan adanya kewajiban perpajakan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (2) tidak dipenuhi pengusaha.800. (2) Kewajiban melaporkan usaha untuk dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan paling lama akhir bulan berikutnya setelah bulan saat jumlah peredaran bruto dan/atau penerimaan brutonya melebihi Rp4.800. Direktur Jenderal Pajak secara jabatan dapat mengukuhkan pengusaha tersebut sebagai Pengusaha Kena Pajak.000.Pajak Penghasilan Final 1% bagi Wajib Pajak dengan Peredaran Bruto Tertentu 2014 MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA sampai dengan suatu bulan dalam tahun buku jumlah peredaran bruto dan/atau penerimaan brutonya melebihi Rp4. (2) Direktur Jenderal Pajak dapat menerbitkan surat ketetapan pajak dan/atau surat tagihan pajak untuk Masa Pajak sebelum pengusaha dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1).

Pasal II Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal 1 Januari 2014. ttd. Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 20 Desember 2013 MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA. MUHAMAD CHATIB BASRI Diundangkan di Jakarta pada tanggal 20 Desember 2013 MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA REPUBLIK INDONESIA. AMIR SYAMSUDIN BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2013 NOMOR 1521 54 Direktorat Peraturan Perpajakan II . ttd. Agar setiap orang mengetahuinya. memerintahkan pengundangan Peraturan Menteri ini dengan penempatannya dalam Berita Negara Republik Indonesia. Pengusaha Kena Pajak dapat mengajukan permohonan pencabutan pengukuhan sebagai Pengusaha Kena Pajak.2014 Pajak Penghasilan Final 1% bagi Wajib Pajak dengan Peredaran Bruto Tertentu MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA delapan ratus juta rupiah).

03/2013 TENTANG PENGEMBALIAN PENDAHULUAN KELEBIHAN PEMBAYARAN PAJAK BAGI WAJIB PAJAK YANG MEMENUHI PERSYARATAN TERTENTU .DIREKTORAT JENDERAL PAJAK LAMPIRAN IV PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 198/PMK.

.

03/2007 tentang Batasan Jumlah Peredaran Usaha. perlu melakukan perubahan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 193/ PMK. Menimbang : a. Jumlah Penyerahan. Jumlah Penyerahan.03/2013 TENTANG PENGEMBALIAN PENDAHULUAN KELEBIHAN PEMBAYARAN PAJAK BAGI WAJIB PAJAK YANG MEMENUHI PERSYARATAN TERTENTU DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA.03/2009. bahwa dalam rangka mengoptimalkan pelaksanaan pengembalian kelebihan pembayaran pajak bagi Wajib Pajak yang memenuhi persyaratan tertentu melalui penelitian dan dalam rangka mengoptimalkan pelaksanaan pemeriksaan pajak untuk menguji kepatuhan pemenuhan kewajiban perpajakan Wajib Pajak. dan Jumlah Lebih Bayar Bagi Wajib Pajak yang Memenuhi Persyaratan Tertentu yang Dapat Diberikan Pengembalian Pendahuluan Kelebihan Pajak sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 54/PMK. jumlah penyerahan. dan jumlah lebih bayar bagi Wajib Pajak yang memenuhi persyaratan tertentu yang dapat diberikan pengembalian pendahuluan kelebihan pajak telah diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 193/PMK.Pajak Penghasilan Final 1% bagi Wajib Pajak dengan Peredaran Bruto Tertentu 2014 MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 198/PMK.03/2007 tentang Batasan Jumlah Peredaran Usaha.03/2009. dan Jumlah Lebih Bayar Bagi Wajib Pajak yang Memenuhi Persyaratan Tertentu yang Dapat Diberikan Pengembalian Pendahuluan Kelebihan Pajak sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 54/PMK. Direktorat Peraturan Perpajakan II 57 . bahwa ketentuan mengenai batasan jumlah peredaran usaha. b.

Undang-Undang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan yang selanjutnya disebut Undang-Undang KUP adalah UndangUndang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2009. MEMUTUSKAN : Menetapkan : PERATURAN MENTERI KEUANGAN TENTANG PENGEMBALIAN PENDAHULUAN KELEBIHAN PEMBAYARAN PAJAK BAGI WAJIB PAJAK YANG MEMENUHI PERSYARATAN TERTENTU. 58 Direktorat Peraturan Perpajakan II . Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4999). Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3262) sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2009 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 62. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud pada huruf a dan huruf b serta untuk melaksanakan ketentuan Pasal 17D UndangUndang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan UndangUndang Nomor 16 Tahun 2009. Mengingat : Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1983 Nomor 49. BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan Menteri ini yang dimaksud dengan: 1.2014 Pajak Penghasilan Final 1% bagi Wajib Pajak dengan Peredaran Bruto Tertentu MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA c. perlu menetapkan Peraturan Menteri Keuangan tentang Pengembalian Pendahuluan Kelebihan Pembayaran Pajak Bagi Wajib Pajak yang Memenuhi Persyaratan Tertentu.

BAB II WAJIB PAJAK YANG DAPAT DIBERIKAN PENGEMBALIAN PENDAHULUAN KELEBIHAN PEMBAYARAN PAJAK BERDASARKAN PERSYARATAN TERTENTU Pasal 2 Wajib Pajak yang memenuhi persyaratan tertentu yang dapat diberikan pengembalian pendahuluan kelebihan pembayaran pajak meliputi: a. Wajib Pajak badan yang menyampaikan Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan lebih bayar restitusi dengan jumlah lebih bayar paling banyak Rp100. 3. Direktorat Peraturan Perpajakan II 59 .000.00 (sepuluh juta rupiah). atau d.000. Undang-Undang Pajak Pertambahan Nilai yang selanjutnya disebut Undang-Undang PPN adalah Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1983 tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 42 Tahun 2009. Pengusaha Kena Pajak yang menyampaikan Surat Pemberitahuan Masa Pajak Pertambahan Nilai lebih bayar restitusi dengan jumlah lebih bayar paling banyak Rp100.000. Wajib Pajak orang pribadi yang menjalankan usaha atau pekerjaan bebas yang menyampaikan Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan lebih bayar restitusi dengan jumlah lebih bayar paling banyak Rp10.000.00 (seratus juta rupiah). Wajib Pajak orang pribadi yang tidak menjalankan usaha atau pekerjaan bebas yang menyampaikan Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan lebih bayar restitusi. c.000. Wajib Pajak yang memenuhi persyaratan tertentu yang dapat diberikan pengembalian pendahuluan kelebihan pembayaran pajak adalah Wajib Pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17D Undang-Undang KUP.Pajak Penghasilan Final 1% bagi Wajib Pajak dengan Peredaran Bruto Tertentu 2014 MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA 2. b.00 (seratus juta rupiah).000.

atau b.2014 Pajak Penghasilan Final 1% bagi Wajib Pajak dengan Peredaran Bruto Tertentu MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA Pasal 3 (1) Selain memenuhi persyaratan tertentu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2. kepatuhan penyampaian Surat Pemberitahuan. kebenaran Surat Pemberitahuan untuk Masa Pajak. (3) Wajib Pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 yang menyampaikan: a. (2) Analisis risiko sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus mempertimbangkan perilaku dan kepatuhan Wajib Pajak yang dapat berupa: a. 60 Direktorat Peraturan Perpajakan II . b. Bagian Tahun Pajak. Surat Pemberitahuan pembetulan yang menyatakan lebih bayar dengan permohonan pengembalian kelebihan pembayaran pajak. kepatuhan dalam melunasi utang pajak. BAB III PENGAJUAN PERMOHONAN PENGEMBALIAN PENDAHULUAN KELEBIHAN PEMBAYARAN PAJAK Pasal 4 (1) Permohonan pengembalian pendahuluan kelebihan pembayaran pajak oleh Wajib Pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2. (2) Permohonan secara tertulis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan cara memberi tanda pada Surat Pemberitahuan yang menyatakan lebih bayar restitusi atau dengan cara mengajukan surat tersendiri. dan c. Surat Pemberitahuan yang menyatakan lebih bayar tanpa ada permohonan kompensasi dan tanpa ada permohonan restitusi. dilakukan dengan menyampaikan permohonan secara tertulis. pengembalian pendahuluan kelebihan pembayaran pajak harus didasarkan pada analisis risiko yang pedomannya ditetapkan oleh Direktur Jenderal Pajak. dan Tahun Pajak sebelum-sebelumnya.

Pajak Penghasilan Final 1% bagi Wajib Pajak dengan Peredaran Bruto Tertentu

2014

MENTERI KEUANGAN
REPUBLIK INDONESIA

dianggap mengajukan permohonan pengembalian pendahuluan
kelebihan pembayaran pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1).
Pasal 5
(1) Dalam hal Wajib Pajak yang memenuhi persyaratan tertentu
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 dan Pasal 3 mengajukan
permohonan pengembalian kelebihan pembayaran pajak sesuai
ketentuan Pasal 17B Undang-Undang KUP, permohonan dimaksud
diproses dengan mekanisme pengembalian pendahuluan kelebihan
pembayaran pajak berdasarkan ketentuan Pasal 17D UndangUndang KUP.
(2)
Atas
penyelesaian
permohonan
pengembalian
kelebihan
pembayaran pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Direktur
Jenderal Pajak memberitahukan kepada Wajib Pajak.
Pasal 6
(1) Dalam hal permohonan pengembalian pendahuluan kelebihan
pembayaran pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 diajukan
oleh Pengusaha Kena Pajak berisiko rendah sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 9 ayat (4c) Undang Undang PPN, pengembalian
kelebihan pembayaran pajak diproses berdasarkan ketentuan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (4c) Undang Undang
PPN.
(2) Dalam hal permohonan pengembalian pendahuluan kelebihan
pembayaran pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 diajukan
oleh Wajib Pajak Dengan Kriteria Tertentu sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 17C Undang-Undang KUP, pengembalian kelebihan
pembayaran pajak diproses berdasarkan ketentuan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 17C Undang-Undang KUP.
Pasal 7
(1) Permohonan pengembalian pendahuluan kelebihan pembayaran
pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 yang tidak memenuhi
ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3, diproses
berdasarkan ketentuan Pasal 17B Undang-Undang KUP.

Direktorat Peraturan Perpajakan II

61

2014

Pajak Penghasilan Final 1% bagi Wajib Pajak dengan Peredaran Bruto Tertentu

MENTERI KEUANGAN
REPUBLIK INDONESIA

(2)
Atas penyelesaian permohonan pengembalian pendahuluan
kelebihan pembayaran pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1),
Direktur Jenderal Pajak memberitahukan kepada Wajib Pajak.
BAB IV
PENGEMBALIAN PENDAHULUAN KELEBIHAN PEMBAYARAN
PAJAK DAN PENERBITAN SURAT KEPUTUSAN PENGEMBALIAN
PENDAHULUAN KELEBIHAN PAJAK (SKPPKP)
Pasal 8
(1) Pengembalian pendahuluan kelebihan pembayaran pajak kepada
Wajib Pajak yang memenuhi persyaratan tertentu sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 2 dan Pasal 3, dilakukan setelah Direktur
Jenderal Pajak melakukan penelitian.
(2) Penelitian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan atas:
a. kelengkapan Surat Pemberitahuan dan lampiran-lampirannya;
b. kebenaran penulisan dan penghitungan pajak;
c. kebenaran kredit pajak atau Pajak Masukan berdasarkan sistem
aplikasi Direktorat Jenderal Pajak; dan
d. kebenaran pembayaran pajak yang dilakukan oleh Wajib Pajak.
Pasal 9
(1) Berdasarkan hasil penelitian sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 8, Direktur Jenderal Pajak menerbitkan Surat Keputusan
Pengembalian Pendahuluan Kelebihan Pajak paling lama:
a. 15 (lima belas) hari kerja sejak permohonan diterima secara
lengkap, untuk permohonan pengembalian pendahuluan
kelebihan pembayaran Pajak Penghasilan orang pribadi;
b. 1 (satu) bulan sejak permohonan diterima secara lengkap, untuk
permohonan pengembalian pendahuluan kelebihan pembayaran
Pajak Penghasilan badan; dan
c. 1 (satu) bulan sejak permohonan diterima secara lengkap, untuk
permohonan pengembalian pendahuluan kelebihan pembayaran
Pajak Pertambahan Nilai.

62

Direktorat Peraturan Perpajakan II

Pajak Penghasilan Final 1% bagi Wajib Pajak dengan Peredaran Bruto Tertentu

2014

MENTERI KEUANGAN
REPUBLIK INDONESIA

(2) Apabila setelah lewat jangka waktu sebagaimana dimaksud pada
ayat (1), Direktur Jenderal Pajak tidak menerbitkan keputusan,
permohonan pengembalian pendahuluan kelebihan pembayaran
pajak dianggap dikabulkan.
(3) Dalam hal permohonan pengembalian pendahuluan kelebihan
pembayaran pajak dianggap dikabulkan sebagaimana dimaksud
pada ayat (2), Direktur Jenderal Pajak menerbitkan Surat Keputusan
Pengembalian Pendahuluan Kelebihan Pajak paling lama 7 (tujuh)
hari kerja setelah jangka waktu sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) berakhir.
(4) Surat Keputusan Pengembalian Pendahuluan Kelebihan Pajak
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (3) dibuat dengan
menggunakan contoh format sebagaimana tercantum dalam
Lampiran yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan
Menteri ini.
Pasal 10
(1) Surat Keputusan Pengembalian Pendahuluan Kelebihan Pajak
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 tidak diterbitkan dalam hal
berdasarkan hasil penelitian menunjukkan:
a. tidak terdapat kelebihan pembayaran pajak;
b. Surat Pemberitahuan beserta lampirannya tidak lengkap;
c. penulisan dan penghitungan pajak tidak benar;
d. kredit pajak atau Pajak Masukan berdasarkan sistem aplikasi
Direktorat Jenderal Pajak tidak benar;
e. pembayaran pajak yang dilakukan oleh Wajib Pajak tidak benar;
atau
f. Wajib Pajak dilakukan Pemeriksaan Bukti Permulaan atau
Penyidikan tindak pidana di bidang perpajakan.
(2) Dalam hal Surat Keputusan Pengembalian Pendahuluan Kelebihan
Pajak tidak diterbitkan sebagaimana dimaksud pada ayat (1),
Direktur Jenderal Pajak memberitahukan secara tertulis kepada
Wajib Pajak dan Surat Pemberitahuan yang menyatakan lebih
bayar tersebut ditindaklanjuti berdasarkan ketentuan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 17 ayat (1) Undang-Undang KUP.

Direktorat Peraturan Perpajakan II

63

2014

Pajak Penghasilan Final 1% bagi Wajib Pajak dengan Peredaran Bruto Tertentu

MENTERI KEUANGAN
REPUBLIK INDONESIA

BAB V
KETENTUAN LAIN-LAIN
Pasal 11
(1) Direktur Jenderal Pajak dapat melakukan pemeriksaan dalam
rangka penerbitan surat ketetapan pajak terhadap Wajib Pajak yang
telah diterbitkan Surat Keputusan Pengembalian Pendahuluan
Kelebihan Pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9.
(2) Pemeriksaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan
sesuai peraturan perundang-undangan dibidang perpajakan yang
mengatur mengenai pemeriksaan.
(3) Jika berdasarkan hasil pemeriksaan sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) Direktur Jenderal Pajak menerbitkan Surat Ketetapan
Pajak Kurang Bayar, jumlah pajak yang kurang dibayar tersebut
ditambah dengan sanksi administrasi berupa kenaikan sebesar
100% (seratus persen) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17D
ayat (5) Undang-Undang KUP.
Pasal 12
(1) Dalam hal diterbitkan Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (3), Wajib Pajak dapat
mengajukan permohonan pengurangan atau penghapusan sanksi
administrasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36 Undang
Undang KUP.
(2)
Atas permohonan pengurangan atau penghapusan sanksi
administrasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Direktur
Jenderal Pajak dapat memberikan pengurangan atau penghapusan
sanksi administrasi sehingga besarnya sanksi administrasi menjadi
paling banyak 48% (empat puluh delapan persen).

64

Direktorat Peraturan Perpajakan II

Pajak Penghasilan Final 1% bagi Wajib Pajak dengan Peredaran Bruto Tertentu 2014 MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA BAB VI KETENTUAN PERALIHAN Pasal 13 Dengan berlakunya Peraturan Menteri ini: 1. dan Jumlah Lebih Bayar Bagi Wajib Pajak Direktorat Peraturan Perpajakan II 65 .03/2007 tentang Batasan Jumlah Peredaran Usaha. b. Bagian Tahun Pajak. dan Tahun Pajak sebelum berlakunya Peraturan Menteri ini yang disampaikan sejak berlakunya Peraturan Menteri ini.03/2007 tentang Batasan Jumlah Peredaran Usaha. 2.03/2009 tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Keuangan Nomor 193/ PMK. dan Jumlah Lebih Bayar Bagi Wajib Pajak yang Memenuhi Persyaratan Tertentu yang Dapat Diberikan Pengembalian Pendahuluan Kelebihan Pajak. Jumlah Penyerahan. Jumlah Penyerahan. Jumlah Penyerahan. BAB VII KETENTUAN PENUTUP Pasal 14 Pada saat Peraturan Menteri ini mulai berlaku: a.03/2009. diselesaikan berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 193/PMK. terhadap permohonan pengembalian kelebihan pembayaran pajak bagi Wajib Pajak yang memenuhi persyaratan tertentu yang belum diselesaikan pengembaliannya sampai dengan berlakunya Peraturan Menteri ini. terhadap Surat Pemberitahuan pembetulan lebih bayar restitusi atas Masa Pajak. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 54/PMK. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 193/PMK.03/2007 tentang Batasan Jumlah Peredaran Usaha. diproses berdasarkan ketentuan sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri ini. dan Jumlah Lebih Bayar Bagi Wajib Pajak yang Memenuhi Persyaratan Tertentu yang Dapat Diberikan Pengembalian Pendahuluan Kelebihan Pajak sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 54/PMK.

MUHAMAD CHATIB BASRI Diundangkan di Jakarta pada tanggal 27 Desember 2013 MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA REPUBLIK INDONESIA. Pasal 15 Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal 1 Januari 2014. Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 27 Desember 2013 MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA. memerintahkan pengundangan Peraturan Menteri ini dengan penempatannya dalam Berita Negara Republik Indonesia. dicabut dan dinyatakan tidak berlaku. ttd. ttd. AMIR SYAMSUDIN BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2013 NOMOR 1556 66 Direktorat Peraturan Perpajakan II .2014 Pajak Penghasilan Final 1% bagi Wajib Pajak dengan Peredaran Bruto Tertentu MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA yang Memenuhi Persyaratan Tertentu yang Dapat Diberikan Pengembalian Pendahuluan Kelebihan Pajak. Agar setiap orang mengetahuinya.

Pajak Penghasilan Final 1% bagi Wajib Pajak dengan Peredaran Bruto Tertentu 2014 MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA Direktorat Peraturan Perpajakan II 67 .

2014 Pajak Penghasilan Final 1% bagi Wajib Pajak dengan Peredaran Bruto Tertentu MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA 68 Direktorat Peraturan Perpajakan II .

Pajak Penghasilan Final 1% bagi Wajib Pajak dengan Peredaran Bruto Tertentu 2014 MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA Direktorat Peraturan Perpajakan II 69 .

2014 Pajak Penghasilan Final 1% bagi Wajib Pajak dengan Peredaran Bruto Tertentu MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA 70 Direktorat Peraturan Perpajakan II .

diisi dengan: Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1983 tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Direktorat Peraturan Perpajakan II 71 . b. Nomor (4) : diisi dengan jumlah lebih bayar menurut Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan atau menurut Surat Pemberitahuan Masa Pajak Pertambahan Nilai. Nomor (3) : diisi dengan Masa/Tahun Pajak yang diberikan pengembalian pendahuluan kelebihan pajak. diisi dengan: Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1983 Nomor 50. Nomor (9) : diisi sesuai dengan dasar hukum diterbitkanya surat keputusan pengembalian pendahuluan kelebihan pajak: a. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4893). dalam hal surat keputusan pengembalian pendahuluan kelebihan pajak terkait dengan Pajak Penghasilan. Nomor (2) : diisi dengan Jenis Pajak. dalam hal surat keputusan pengembalian pendahuluan kelebihan pajak terkait dengan Pajak Pertambahan Nilai. Nomor (7) : diisi dengan nama Wajib Pajak. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3263) sebagimana telah berapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 36 Tabun 2008 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 13.Pajak Penghasilan Final 1% bagi Wajib Pajak dengan Peredaran Bruto Tertentu 2014 MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA PETUNJUK PENGISIAN SURAT KEPUTUSAN PENGEMBALIAN PENDAHULAN KELEBIHAN PAJAK Nomor (1) : diisi dengan nomor keputusan. Nomor (8) : diisi dengan NPWP Wajib Pajak. Nomor (6) : diisi dengan tanggal surat permohonan pengembalian pendahuluan kelebihan pajak. Nomor (5) : diisi dengan nomor surat permohonan pengembalian pendahuluan kelebihan pajak.

GIARTO NIP 195904201984021001 72 Direktorat Peraturan Perpajakan II . MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA. (13) : diisi dengan nama kota tempat keputusan ditetapkan. KEPALA BAGIAN T. dan tanda tangan pejabat yang menandatangani surat keputusan. (10) : diisi dengan jumlah rupiah pengembalian pendahuluan kelebihan pajak dalam angka.2014 Pajak Penghasilan Final 1% bagi Wajib Pajak dengan Peredaran Bruto Tertentu MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA Nomor Nomor Nomor Nomor Nomor Nomor Nomor Nomor Nomor Pajak Penjualan atas Barang Mewah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1983 Nomor 51. (15) : diisi dengan jabatan pejabat yang menandatangani surat keputusan. (16) : diisi dengan nama. KEMENTERIAN ttd. MUHAMAD CHATIB BASRI Salinan sesuai dengan aslinya KEPALA BIRO UMUM u. (17) : diisi dengan jumlah rupiah menurut Wajib Pajak.b. (12) : diisi dengan nama unit Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak yang membawahi Kantor Pelayanan Pajak yang menerbitkan Surat Keputusan Pengembalian Pendahuluan Kelebihan Pajak. (11) : diisi dengan jumlah rupiah pengembalian pendahuluan kelebihan pajak dalam huruf. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3264) sebagimana telah berapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 42 Tahun 2009 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 150.U. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5069). (18) : diisi dengan jumlah rupiah menurut fiskus. NIP. ttd. (14) : diisi dengan tanggal surat keputusan diterbitkan.

DIREKTORAT JENDERAL PAJAK LAMPIRAN V PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR PER-32/PJ/2013 TENTANG TATA CARA PEMBEBASAN DARI PEMOTONGAN DAN/ ATAU PEMUNGUTAN PAJAK PENGHASILAN BAGI WAJIB PAJAK YANG DIKENAI PAJAK PENGHASILAN BERDASARKAN PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 46 TAHUN 2013 TENTANG PAJAK PENGHASILAN ATAS PENGHASILAN DARI USAHA YANG DITERIMA ATAU DIPEROLEH WAJIB PAJAK YANG MEMILIKI PEREDARAN BRUTO TERTENTU .

.

32/PJ/2013 TENTANG TATA CARA PEMBEBASAN DARI PEMOTONGAN DAN/ATAU PEMUNGUTAN PAJAK PENGHASILAN BAGI WAJIB PAJAK YANG DIKENAI PAJAK PENGHASILAN BERDASARKAN PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 46 TAHUN 2013 TENTANG PAJAK PENGHASILAN ATAS PENGHASILAN DARI USAHA YANG DITERIMA ATAU DIPEROLEH WAJIB PAJAK YANG MEMILIKI PEREDARAN BRUTO TERTENTU DIREKTUR JENDERAL PAJAK. Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1983 Nomor 49. Penyetoran. Mengingat : 1. bahwa dalam rangka melaksanakan Pasal 14 huruf c Peraturan Menteri Keuangan Nomor 107/ PMK. Menimbang : a. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3262) sebagaimana telah beberapa Direktorat Peraturan Perpajakan II 75 . bahwa dalam rangka pengawasan pemenuhan kewajiban Pajak Penghasilan Wajib Pajak yang dikenai Pajak Penghasilan yang bersifat final berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 46 Tahun 2013 tentang Pajak Penghasilan atas Penghasilan dari Usaha yang Diterima atau Diperoleh Wajib Pajak yang Memiliki Peredaran Bruto Tertentu. c. b. dan Pelaporan Pajak Penghasilan atas Penghasilan dari Usaha yang Diterima atau Diperoleh Wajib Pajak yang Memiliki Peredaran Bruto Tertentu. berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud pada huruf a dan huruf b.Pajak Penghasilan Final 1% bagi Wajib Pajak dengan Peredaran Bruto Tertentu 2014 PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR PER .011/2013 tentang Tata Cara Penghitungan. perlu menetapkan Peraturan Direktur Jenderal Pajak tentang Tata Cara Pembebasan dari Pemotongan dan/atau Pemungutan Pajak Penghasilan bagi Wajib Pajak yang Dikenai Pajak Penghasilan Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 46 Tahun 2013 tentang Pajak Penghasilan atas Penghasilan dari Usaha yang Diterima atau Diperoleh Wajib Pajak yang Memiliki Peredaran Bruto Tertentu.

Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4893). 4.011/2013 tentang Tata Cara Penghitungan. Peraturan Pemerintah Nomor 46 Tahun 2013 tentang Pajak Penghasilan atas Penghasilan dari Usaha yang Diterima atau Diperoleh Wajib Pajak yang Memiliki Peredaran Bruto Tertentu (Lembaran Negara Republik Tahun 2013 Nomor 106. Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1983 Nomor 50. 76 Direktorat Peraturan Perpajakan II . Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5183). 2. 5. Peraturan Pemerintah Nomor 94 Tahun 2010 tentang Penghitungan Penghasilan Kena Pajak dan Pelunasan Pajak Penghasilan dalam Tahun Berjalan (Lembaran Negara Republik Tahun 2010 Nomor 161. 3. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3263) sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan UndangUndang Nomor 36 Tahun 2008 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 133. Penyetoran. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4999). dan Pelaporan Pajak Penghasilan atas Penghasilan dari Usaha yang Diterima atau Diperoleh Wajib Pajak yang Memiliki Peredaran Bruto MEMUTUSKAN : Menetapkan : PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK TENTANG TATA CARA PEMBEBASAN DARI PEMOTONGAN DAN/ATAU PEMUNGUTAN PAJAK PENGHASILAN BAGI WAJIB PAJAK YANG DIKENAI PAJAK PENGHASILAN BERDASARKAN PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 46 TAHUN 2013 TENTANG PAJAK PENGHASILAN ATAS PENGHASILAN DARI USAHA YANG DITERIMA ATAU DIPEROLEH WAJIB PAJAK YANG MEMILIKI PEREDARAN BRUTO TERTENTU. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 107/ PMK. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5424).2014 Pajak Penghasilan Final 1% bagi Wajib Pajak dengan Peredaran Bruto Tertentu kali diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2009 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 62.

2. Wajib Pajak yang Memiliki Peredaran Bruto Tertentu adalah Wajib Pajak yang dikenai Pajak Penghasilan yang bersifat final berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 46 Tahun 2013 tentang Pajak Penghasilan atas Penghasilan dari Usaha yang Diterima atau Diperoleh Wajib Pajak yang Memiliki Peredaran Bruto Tertentu.Pajak Penghasilan Final 1% bagi Wajib Pajak dengan Peredaran Bruto Tertentu 2014 Pasal 1 Dalam Peraturan Direktur Jenderal ini. Surat Keterangan Bebas Pemotongan dan/atau Pemungutan Pajak Penghasilan bagi Wajib Pajak yang Memiliki Peredaran Bruto Tertentu yang untuk selanjutnya disebut Surat Keterangan Bebas adalah surat keterangan yang menyatakan bahwa Wajib Pajak dikenai Pajak Penghasilan yang bersifat final berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 46 Tahun 2013 tentang Pajak Penghasilan atas Penghasilan dari Usaha yang Diterima atau Diperoleh Wajib Pajak yang Memiliki Peredaran Bruto Tertentu dan dibebaskan dari pemotongan dan/atau pemungutan Pajak Penghasilan oleh pihak lain yang dapat dikreditkan. yang dimaksud dengan : 1. (2) Kepala Kantor Pelayanan Pajak atas nama Direktur Jenderal Pajak menerbitkan Surat Keterangan Bebas sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pasal 4 (1) Permohonan pembebasan dari pemotongan dan/atau pemungutan Pajak Penghasilan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 diajukan secara tertulis kepada Kepala Kantor Pelayanan Pajak tempat Wajib Pajak menyampaikan kewajiban Surat Pemberitahuan Tahunan dengan syarat: Direktorat Peraturan Perpajakan II 77 . Pasal 2 Wajib Pajak yang Memiliki Peredaran Bruto Tertentu yang dikenai Pajak Penghasilan yang bersifat final sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 angka 1 dapat mengajukan permohonan pembebasan dari pemotongan dan/atau pemungutan Pajak Penghasilan yang tidak bersifat final kepada Direktur Jenderal Pajak. Pasal 3 (1) Pembebasan dari pemotongan dan/atau pemungutan Pajak Penghasilan yang dapat dikreditkan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 diberikan oleh Direktur Jenderal Pajak melalui Surat Keterangan Bebas.

d. atau dokumen pendukung sejenis lainnya. surat penolakan permohonan Surat Keterangan Bebas. 78 Direktorat Peraturan Perpajakan II . untuk Wajib Pajak yang telah terdaftar pada Tahun Pajak sebelum Tahun Pajak diajukannya Surat Keterangan Bebas b. ditandatangani oleh Wajib Pajak. menyerahkan dokumen-dokumen pendukung transaksi seperti Surat Perintah Kerja. Pasal 22. (2) Apabila dalam jangka waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) Kepala Kantor Pelayanan Pajak belum memberikan keputusan. permohonan Wajib Pajak dianggap diterima. menyerahkan surat pernyataan yang ditandatangani Wajib Pajak atau kuasa Wajib Pajak yang menyatakan bahwa peredaran bruto usaha yang diterima atau diperoleh termasuk dalam kriteria untuk dikenai Pajak Penghasilan bersifat final disertai lampiran jumlah peredaran bruto setiap bulan sampai dengan bulan sebelum diajukannya Surat Keterangan Bebas. Surat Keterangan Bebas. atau b. Kepala Kantor Pelayanan Pajak harus menerbitkan: a. dan/atau Pasal 23. (3) Dalam hal permohonan Wajib Pajak dianggap diterima sebagaimana dimaksud pada ayat (2). c. Pasal 22 impor. dalam jangka waktu paling lama 5 (lima) hari kerja sejak permohonan diterima secara lengkap. (2) Permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diajukan untuk setiap pemotongan dan/atau pemungutan Pajak Penghasilan Pasal 21. Pasal 5 (1) Atas permohonan pembebasan dari pemotongan dan/atau pemungutan Pajak Penghasilan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2. telah menyampaikan Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan Tahun Pajak sebelum Tahun Pajak diajukan permohonan. Surat Keterangan Pemenang Lelang dari Instansi Pemerintah. Kepala Kantor Pelayanan Pajak wajib menerbitkan Surat Keterangan Bebas dalam jangka waktu 2 (dua) hari kerja setelah jangka waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terlewati. untuk Wajib Pajak yang terdaftar pada Tahun Pajak yang sama dengan Tahun Pajak saat diajukannya Surat Keterangan Bebas.2014 Pajak Penghasilan Final 1% bagi Wajib Pajak dengan Peredaran Bruto Tertentu a. atau dalam hal permohonan ditandatangani oleh bukan Wajib Pajak harus dilampiri dengan Surat Kuasa Khusus sebagaimana dimaksud dalam Pasal 32 Undang-Undang KUP.

mengisi identitas Wajib Pajak pemotong dan/atau pemungut Pajak Penghasilan dan nilai transaksi pada kolom yang tercantum dalam Surat Keterangan Bebas. (2) Permohonan legalisasi fotokopi Surat Keterangan Bebas diajukan secara tertulis kepada Kepala Kantor Pelayanan Pajak tempat Wajib Pajak menyampaikan kewajiban Surat Pemberitahuan Tahunan dengan syarat: a. ditandatangani oleh Wajib Pajak. b. menunjukkan Surat Keterangan Bebas sebagaimana dimaksud pada Pasal 5 ayat (1). 2) pembelian bahan bakar minyak. kecuali untuk transaksi yang dikenai pemungutan Pajak Penghasilan Pasal 22 atas: 1) impor. Pasal 7 (1) Pemotong dan/atau pemungut pajak tidak melakukan pemotongan dan/atau pemungutan Pajak Penghasilan untuk setiap transaksi yang merupakan objek pemotongan dan/atau pemungutan Pajak Penghasilan yang tidak bersifat final apabila telah menerima fotokopi Surat Keterangan Bebas yang telah dilegalisasi oleh Kantor Pelayanan Pajak tempat Wajib Pajak menyampaikan kewajiban Surat Pemberitahuan Tahunan. menyerahkan bukti penyetoran Pajak Penghasilan yang bersifat final berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 46 Tahun 2013 tentang Pajak Penghasilan atas Penghasilan dari Usaha yang Diterima atau Diperoleh Wajib Pajak yang Memiliki Peredaran Bruto Tertentu untuk setiap transaksi yang akan dilakukan dengan pemotong dan/atau pemungut berupa Surat Setoran Pajak lembar ke-3 yang telah mendapat validasi dengan Nomor Transaksi Penerimaan Negara. industri otomotif dan industri farmasi. industri baja. c. d. dan pelumas. industri kertas.Pajak Penghasilan Final 1% bagi Wajib Pajak dengan Peredaran Bruto Tertentu 2014 Pasal 6 Surat Keterangan Bebas sebagaimana dimaksud Pasal 3 berlaku sampai dengan berakhirnya Tahun Pajak yang bersangkutan. bahan bakar gas. 3) pembelian hasil produksi industri semen. atau dalam hal permohonan ditandatangani oleh bukan Wajib Pajak harus dilampiri dengan Direktorat Peraturan Perpajakan II 79 . 4) pembelian kendaraan bermotor di dalam negeri.

satu lembar untuk Kantor Pelayanan Pajak tempat Wajib Pajak menyampaikan kewajiban Surat Pemberitahuan Tahunan. (3) Fotokopi Surat Keterangan Bebas sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diajukan dalam rangkap 3 (tiga). satu lembar untuk diserahkan kepada Kantor Pelayanan Pajak tempat pemotong dan/atau pemungut terdaftar (4) Legalisasi fotokopi Surat Keterangan Bebas sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan dalam jangka waktu 1 (satu) hari kerja sejak permohonan legalisasi diterima lengkap. Pasal 8 Bentuk formulir untuk: (1) permohonan pembebasan dari pemotongan dan/atau pemungutan Pajak Penghasilan sebagaimana dimaksud pada Pasal 4 menggunakan formulir sebagaimana dimaksud dalam Lampiran I. (3) Surat Keterangan Bebas untuk pemotongan dan/atau pemungutan PPh Pasal 21/Pasal 22/Pasal 23 menggunakan formulir sebagaimana dimaksud dalam Lampiran III. (5) Legalisasi fotokopi Surat Keterangan Bebas sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tidak diberikan apabila persyaratan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tidak terpenuhi.2014 Pajak Penghasilan Final 1% bagi Wajib Pajak dengan Peredaran Bruto Tertentu Surat Kuasa Khusus sebagaimana dimaksud dalam Pasal 32 Undang-Undang KUP. 80 Direktorat Peraturan Perpajakan II . (2) surat pernyataan dari Wajib Pajak yang menyatakan bahwa peredaran bruto usaha yang diterima atau diperoleh termasuk dalam kriteria untuk dikenai Pajak Penghasilan bersifat final sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 huruf b menggunakan formulir sebagaimana dimaksud dalam Lampiran II. (6) permohonan legalisasi fotokopi Surat Keterangan Bebas sebagaimana dimaksud pada Pasal 5 ayat (2) menggunakan formulir sebagaimana dimaksud dalam Lampiran VI. yaitu: a. (5) Surat penolakan permohonan Surat Keterangan Bebas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (1) dibuat menggunakan formulir sebagaimana dimaksud dalam Lampiran V. c. b. satu lembar untuk diserahkan Wajib Pajak kepada Wajib Pajak pemotong dan/atau pemungut. (4) Surat Keterangan Bebas untuk pemotongan dan/atau pemungutan PPh Pasal 22 impor menggunakan formulir sebagaimana dimaksud dalam Lampiran IV.

Pasal 9 (1) Setelah Peraturan Direktur Jenderal Pajak ini mulai berlaku. permohonan pembebasan dari pemotongan dan/atau pemungutan Pajak Penghasilan oleh pihak lain bagi Wajib Pajak yang Memiliki Peredaran Bruto Tertentu diajukan sesuai dengan ketentuan Peraturan Direktur Jenderal Pajak ini.Pajak Penghasilan Final 1% bagi Wajib Pajak dengan Peredaran Bruto Tertentu 2014 yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Peraturan Direktur Jenderal Pajak ini. (2) Surat Keterangan Bebas sebagaimana dimaksud dalam Peraturan Direktur Jenderal Pajak nomor PER-1/PJ/2011 bagi Wajib Pajak yang memiliki peredaran bruto tertentu yang diterbitkan sebelum berlakunya Peraturan Direktur Jenderal Pajak ini. Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 25 September 2013 Direktorat Peraturan Perpajakan II 81 . Pasal 10 Peraturan Direktur Jenderal Pajak ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan. tetap berlaku sampai dengan akhir tahun pajak bersangkutan.

2014 Pajak Penghasilan Final 1% bagi Wajib Pajak dengan Peredaran Bruto Tertentu KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL PAJAK LAMPIRAN I PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR PER-32/PJ/2013 TENTANG TATA CARA PEMBEBASAN DARI PEMOTONGAN DAN/ATAU PEMUNGUTAN PAJAK PENGHASILAN BAGI WAJIB PAJAK YANG DIKENAI PAJAK PENGHASILAN BERDASARKAN PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 46 TAHUN 2013 TENTANG PAJAK PENGHASILAN ATAS PENGHASILAN DARI USAHA YANG DITERIMA ATAU DIPEROLEH WAJIB PAJAK YANG MEMILIKI PEREDARAN BRUTO TERTENTU 82 Direktorat Peraturan Perpajakan II .

..1) karena memenuhi kriteria sebagai Wajib Pajak yang Memiliki Peredaran Bruto Tertentu sebagaimana dimaksud dalam Peraturan Pemerintah Nomor 46 Tahun 2013......2) Demikian permohonan ini kami sampaikan....__. Untuk kelengkapan permohonan SKB.....................__.........__.............__.....................__............. Permohonan Surat Keterangan Bebas Pemotongan dan/atau Pemungutan PPh bagi Wajib Pajak yang Memiliki Peredaran Bruto Tertentu Kepada Yth...__.... 3) Pemohon....................__........ Kepala Kantor Pelayanan Pajak ...........__.................__.............. ditandatangani oleh Wajib Pajak atau kuasa Wajib Pajak Direktorat Peraturan Perpajakan II 83 ........ Berkenaan dengan Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor .__........__........................................... bersama ini kami sampaikan Surat Pernyataan Wajib Pajak yang Memiliki Peredaran Bruto tertentu berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 46 Tahun 2013............................ tentang Tata Cara Pembebasan dari Pemotongan dan/atau Pemungutan Pajak Penghasilan bagi Wajib Pajak yang Dikenai Pajak Penghasilan Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 46 Tahun 2013 tentang Pajak Penghasilan atas Penghasilan dari Usaha yang Diterima atau Diperoleh Wajib Pajak yang Memiliki Peredaran Bruto Tertentu.__. Pasal 22..... Pasal 22 impor atau Pasal 23) syarat khusus untuk Wajib Pajak yang baru terdaftar dalam Tahun Pajak yang sama dengan Tahun Pajak saat diajukannya Surat Keterangan Bebas.......................... ..........__........__.......Pajak Penghasilan Final 1% bagi Wajib Pajak dengan Peredaran Bruto Tertentu 2014 Lampiran I PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR : PER-32/PJ/2013 TANGGAL : 25 SEPTEMBER 2013 Nomor Hal : : ... Alamat : ............... ...__.__....__..........................) 1) 2) 3) diisi sesuai dengan jenis pajak (PPh Pasal 21.. (.................20.. mengajukan permohonan untuk memperoleh Surat Keterangan Bebas (SKB) Pemotongan dan/atau Pemungutan PPh Pasal ...................... dengan ini: Nama Wajib Pajak : NPWP : ............. __...

2014 Pajak Penghasilan Final 1% bagi Wajib Pajak dengan Peredaran Bruto Tertentu KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL PAJAK LAMPIRAN II PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR PER-32/PJ/2013 TENTANG TATA CARA PEMBEBASAN DARI PEMOTONGAN DAN/ATAU PEMUNGUTAN PAJAK PENGHASILAN BAGI WAJIB PAJAK YANG DIKENAI PAJAK PENGHASILAN BERDASARKAN PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 46 TAHUN 2013 TENTANG PAJAK PENGHASILAN ATAS PENGHASILAN DARI USAHA YANG DITERIMA ATAU DIPEROLEH WAJIB PAJAK YANG MEMILIKI PEREDARAN BRUTO TERTENTU 84 Direktorat Peraturan Perpajakan II .

__.Pajak Penghasilan Final 1% bagi Wajib Pajak dengan Peredaran Bruto Tertentu 2014 Lampiran II PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR : PER-32/PJ/2013 TANGGAL : 25 SEPTEMBER 2013 SURAT PERNYATAAN WAJIB PAJAK YANG MEMILIKI PEREDARAN BRUTO TERTENTU BERDASARKAN PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 46 TAHUN 2013 Yang bertandatangan di bawah ini: Nama : ................ 1) Wajib Pajak Pengurus Kuasa Nama : ................__......__.........__............__......__.... Alamat Bertindak selaku : .) 1) 2) 3) 4) 5) Beri tanda X pada yang sesuai Diisi dengan nama Wajib Pajak dalam hal yang mengajukan Surat Permohonan adalah Wakil atau Kuasa dari Wajib Pajak Diisi dengan NPWP Wajib Pajak dalam hal yang mengajukan Surat Permohonan adalah Wakil atau Kuasa dari Wajib Pajak Diisi dengan alamat Wajib Pajak dalam hal yang mengajukan Surat Permohonan adalah Wakil atau Kuasa dari Wajib Pajak Ditandatangani oleh Wajib Pajak atau kuasa Wajib Pajak Direktorat Peraturan Perpajakan II 85 ........ saya bersedia diberikan sanksi sesuai ketentuan yang berlaku....5) Meterai Rp6........................__...__.......__.................................................... ..... ............__...... NPWP : __.........__..__...........__.............__...__....__.__........__.... Demikian pernyataan ini dibuat dengan sebenarnya...20....__.................. Apabila dikemudian hari ditemukan bahwa pernyataan ini tidak benar.........................4) dengan ini menyatakan dengan sesungguhnya bahwa peredaran bruto usaha yang diterima atau diperoleh termasuk dalam kriteria untuk dikenai Pajak Penghasilan bersifat final sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 46 Tahun 2013 tentang Pajak Penghasilan atas Penghasilan dari Usaha yang Diterima atau Diperoleh Wajib Pajak yang Memiliki Peredaran Bruto Tertentu..................__........3) Alamat : ... Yang membuat pernyataan.......__...__................__.__.......__..............__....__..(..__..............__...__.__...............2) NPWP : __.........__....__.__.00.......

2014 Pajak Penghasilan Final 1% bagi Wajib Pajak dengan Peredaran Bruto Tertentu KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL PAJAK LAMPIRAN III PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR PER-32/PJ/2013 TENTANG TATA CARA PEMBEBASAN DARI PEMOTONGAN DAN/ATAU PEMUNGUTAN PAJAK PENGHASILAN BAGI WAJIB PAJAK YANG DIKENAI PAJAK PENGHASILAN BERDASARKAN PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 46 TAHUN 2013 TENTANG PAJAK PENGHASILAN ATAS PENGHASILAN DARI USAHA YANG DITERIMA ATAU DIPEROLEH WAJIB PAJAK YANG MEMILIKI PEREDARAN BRUTO TERTENTU 86 Direktorat Peraturan Perpajakan II .

.__............. Nilai transaksi : ...2) ................4) 1) 2) 3) 4) a.......... Jenis transaksi : ...................... Direktur Jenderal Pajak Kepala Kantor Pelayanan Pajak ..................................... Alamat : ..................__. DIGUNAKAN SAAT PENGAJUAN PERMOHONAN LEGALISASI SKB Identitas Wajib Pajak Pemotong dan/atau Pemungut: 3) Nama : ............__............ KANTOR PELAYANAN PAJAK......... Lembar Ke-1 : Untuk Wajib Pajak Lembar Ke-2 : Untuk Pemotong/Pemungut Lembar Ke-3 : Arsip KPP SURAT KETERANGAN BEBAS PEMOTONGAN DAN/ATAU PEMUNGUTAN PPh PASAL 21 / PASAL 22 / PASAL 23 1) BAGI WAJIB PAJAK YANG DIKENAI PPh BERDASARKAN PP NOMOR 46 TAHUN 2013 NOMOR : ........ penyerahan jasa reparasi AC kepada pemotong Pemotong dan/atau pemungut pajak tidak melakukan pemotongan dan/atau pemungutan Pajak Penghasilan apabila telah menerima fotokopi Surat Keterangan Bebas Pemotongan dan/atau Pemungutan Pajak Penghasilan bagi Wajib Pajak yang Memiliki Peredaran Bruto Tertentu yang telah dilegalisasi Direktorat Peraturan Perpajakan II 87 ......................__............__...................) NIP....... (...... Menerangkan bahwa orang pribadi / badan 1) tersebut di bawah ini: Nama Wajib Pajak : NPWP : .............................................__............. Kepala Kantor Pelayanan Pajak ...__..................... karena memenuhi kriteria sebagai Wajib Pajak yang Memiliki Peredaran Bruto Tertentu berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 46 Tahun 2013................................................. Coret yang tidak perlu Diisi dengan tanggal akhir Tahun Pajak bersangkutan Diisi dengan identitas Wajib Pajak pemotong dan/atau pemungut dan nilai transaksi........20........................n.......................................... Kepala Kantor Kepala Seksi Pelayanan (.. a..__..........n........__............................................__.................__........ TANGGAL : ........) NIP.. pada saat pengajuan permohonan legalisasi Surat Keterangan Bebas Diisi dengan jenis penghasilan................................__.......... ..............................__................. Surat Keterangan Bebas ini berlaku sejak diterbitkan sampai dengan tanggal .................__.__....... misalnya penghasilan dari penjualan barang kepada bendahara.......__........__........ dibebaskan dari pemotongan/pemungutan PPh Pasal 21/22/23 1) ......... NPWP : .........................Pajak Penghasilan Final 1% bagi Wajib Pajak dengan Peredaran Bruto Tertentu 2014 Lampiran III PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR : PER-32/PJ/2013 TANGGAL : 25 SEPTEMBER 2013 KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL PAJAK KANTOR WILAYAH DJP ............. __.................

2014 Pajak Penghasilan Final 1% bagi Wajib Pajak dengan Peredaran Bruto Tertentu KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL PAJAK LAMPIRAN IV PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR PER-32/PJ/2013 TENTANG TATA CARA PEMBEBASAN DARI PEMOTONGAN DAN/ATAU PEMUNGUTAN PAJAK PENGHASILAN BAGI WAJIB PAJAK YANG DIKENAI PAJAK PENGHASILAN BERDASARKAN PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 46 TAHUN 2013 TENTANG PAJAK PENGHASILAN ATAS PENGHASILAN DARI USAHA YANG DITERIMA ATAU DIPEROLEH WAJIB PAJAK YANG MEMILIKI PEREDARAN BRUTO TERTENTU 88 Direktorat Peraturan Perpajakan II .

.... a................__............... Surat Keterangan Bebas ini berlaku sejak diterbitkan sampai dengan tanggal ........__................__................... TANGGAL : ...... (..... Alamat : .............................................. .........__.............. Kepala Kantor Pelayanan Pajak ......................................n...............__... KANTOR PELAYANAN PAJAK........................................ 1) 2) Coret yang tidak perlu Diisi dengan tanggal akhir Tahun Pajak bersangkutan Pemotong dan/atau pemungut pajak tidak melakukan pemotongan dan/atau pemungutan Pajak Penghasilan apabila telah menerima fotokopi Surat Keterangan Bebas Pemotongan dan/atau Pemungutan Pajak Penghasilan bagi Wajib Pajak yang Memiliki Peredaran Bruto Tertentu yang telah dilegalisasi Direktorat Peraturan Perpajakan II 89 .__........................................) NIP................................ __......__....__...........__..........__. dibebaskan dari pemungutan PPh Pasal 22 impor.......... karena memenuhi kriteria sebagai Wajib Pajak yang Memiliki Peredaran Bruto tertentu berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 46 Tahun 2013..........__.............__.............. Menerangkan bahwa orang pribadi/badan1) tersebut di bawah ini: Nama Wajib Pajak : NPWP : ...........................2) .........__.................... Direktur Jenderal Pajak Kepala Kantor Pelayanan Pajak ... Lembar Ke-1 : Untuk Wajib Pajak Lembar Ke-2 : Untuk Pemotong/Pemungut Lembar Ke-3 : Arsip KPP SURAT KETERANGAN BEBAS PEMOTONGAN DAN/ATAU PEMUNGUTAN PPh PASAL 22 IMPOR BAGI WAJIB PAJAK YANG DIKENAI PPh BERDASARKAN PP NOMOR 46 TAHUN 2013 NOMOR : ........__.........__...........Pajak Penghasilan Final 1% bagi Wajib Pajak dengan Peredaran Bruto Tertentu 2014 Lampiran IV PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR : PER-32/PJ/2013 TANGGAL : 25 SEPTEMBER 2013 KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL PAJAK KANTOR WILAYAH DJP ..............__...__............................20......

2014 Pajak Penghasilan Final 1% bagi Wajib Pajak dengan Peredaran Bruto Tertentu KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL PAJAK LAMPIRAN V PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR PER-32/PJ/2013 TENTANG TATA CARA PEMBEBASAN DARI PEMOTONGAN DAN/ATAU PEMUNGUTAN PAJAK PENGHASILAN BAGI WAJIB PAJAK YANG DIKENAI PAJAK PENGHASILAN BERDASARKAN PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 46 TAHUN 2013 TENTANG PAJAK PENGHASILAN ATAS PENGHASILAN DARI USAHA YANG DITERIMA ATAU DIPEROLEH WAJIB PAJAK YANG MEMILIKI PEREDARAN BRUTO TERTENTU 90 Direktorat Peraturan Perpajakan II .

......................................................................) NIP............ . dengan ini diberitahukan bahwa permohonan Saudara tidak dapat disetujui....................... a.................Pajak Penghasilan Final 1% bagi Wajib Pajak dengan Peredaran Bruto Tertentu 2014 Lampiran V PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR : PER-32/PJ/2013 TANGGAL : 25 SEPTEMBER 2013 KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL PAJAK KANTOR WILAYAH DJP ... ....... .. Nomor Hal : : Penolakan Permohonan Surat Keterangan Bebas Pemotongan dan/atau Pemungutan PPh bagi Wajib Pajak yang Memiliki Peredaran Bruto Tertentu Kepada Yth........... Demikian untuk dimaklumi ...... Pasal 22.................................................. Direktur Jenderal Pajak Kepala Kantor Pelayanan Pajak ..n........................20. KANTOR PELAYANAN PAJAK..................1) Berkenaan dengan permohonan Surat Keterangan Bebas Pemotongan dan/atau Pemungutan Pajak Penghasilan PPh Pasal .... Pasal 22 impor atau Pasal 23) Direktorat Peraturan Perpajakan II 91 ........ (............. 1) 2) Diisi identitas Wajib Pajak diisi sesuai dengan jenis pajak (PPh Pasal 21....................... nomor ..................................................*) yang Saudara ajukan tanggal ...................... karena tidak memenuhi kriteria sebagai Wajib Pajak yang Memiliki Peredaran Bruto Tertentu berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 46 Tahun 2013......

2014 Pajak Penghasilan Final 1% bagi Wajib Pajak dengan Peredaran Bruto Tertentu KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL PAJAK LAMPIRAN VI PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR PER-32/PJ/2013 TENTANG TATA CARA PEMBEBASAN DARI PEMOTONGAN DAN/ATAU PEMUNGUTAN PAJAK PENGHASILAN BAGI WAJIB PAJAK YANG DIKENAI PAJAK PENGHASILAN BERDASARKAN PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 46 TAHUN 2013 TENTANG PAJAK PENGHASILAN ATAS PENGHASILAN DARI USAHA YANG DITERIMA ATAU DIPEROLEH WAJIB PAJAK YANG MEMILIKI PEREDARAN BRUTO TERTENTU 92 Direktorat Peraturan Perpajakan II .

..__. : __......... .....__.....__.................__.......................__......................................__....................__................. ............ misalnya penghasilan dari penjualan barang kepada bendahara.................__.. 2) 3) 4) 5) Sebagai kelengkapan permohonan legalisasi berikut dilampirkan : Surat Setoran Pajak lembar ke-3 3 (tiga) rangkap fotokopi Surat Keterangan Bebas Demikian permohonan ini kami sampaikan.......__...... Kepala Kantor Pelayanan Pajak ... Pasal 22... mengajukan permohonan untuk memperoleh legalisasi fotokopi Surat Keterangan Bebas (SKB) Pemotongan dan/atau 1 Pemungutan Pph Pasal ............................................ ( ........................__......__...............................__.......__.........Pajak Penghasilan Final 1% bagi Wajib Pajak dengan Peredaran Bruto Tertentu 2014 Lampiran VI PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR : PER-32/PJ/2013 TANGGAL : 25 SEPTEMBER 2013 Nomor Hal : : .......__.__..... : .....__......__..... ) sehubungan transaksi dengan : Nama Pemotongan/Pungutan Pajak NPWP Nilai Transaksi Jenis Transaksi : : : : .. penyerahan jasa reparasi AC kepada pemotong ditandatangani oleh Wajib Pajak atau kuasa Wajib Pajak Direktorat Peraturan Perpajakan II 93 ........................__............__............................ Permohonan Legalisasi Fotokopi Surat Keterangan Bebas Pemotongan dan/atau Pemungutan Pph bagi Wajib Pajak yang Memiliki Peredaran Bruto Tertentu Kepada Yth......__......... __..........................__. ) 1) 2) 3) 4) 5) 6) diiisi sesuai dengan jenis pajak (Pph Pajak 21.... .......__.....__.................................................__.__.......__............__..........__.__..... Pemohon 6)........20..........__........ Yang bertanda tangan di bawah ini : Nama Wajib Pajak NPWP Alamat : ....................__.........__........................................__........................__...................__.......__... Rp ............................ Pasal 22 impor atau Pasal 23) diisi sesuai dengan nama Wajib Pajak pemotong dan/atau pemungut diisi sesuai dengan NPWP Wajib Pajak pemotong dan/atau pemungut diisi sesuai dengan nilai transaksi penyerahan barang dan/atau jasa diisi sesuai dengan jenis-jenis penghasilan............

.

DIREKTORAT JENDERAL PAJAK LAMPIRAN VI PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR PER-37/PJ/2013 TENTANG TATA CARA PENYETORAN PAJAK PENGHASILAN ATAS PENGHASILAN DARI USAHA YANG DITERIMA ATAU DIPEROLEH WAJIB PAJAK YANG MEMILIKI PEREDARAN BRUTO TERTENTU MELALUI ANJUNGAN TUNAI MANDIRI (ATM) .

.

3. Peraturan Pemerintah Nomor 46 Tahun 2013 tentang Pajak Penghasilan atas Penghasilan dari Usaha yang Diterima atau Diperoleh Wajib Pajak yang Memiliki Peredaran Bruto Tertentu (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2013 no 106. Mengingat : 1. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4893). Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3263) sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3262) sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2009 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 62. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4999). Direktorat Peraturan Perpajakan II 97 .37/PJ/2013 TENTANG TATA CARA PENYETORAN PAJAK PENGHASILAN ATAS PENGHASILAN DARI USAHA YANG DITERIMA ATAU DIPEROLEH WAJIB PAJAK YANG MEMILIKI PEREDARAN BRUTO TERTENTU MELALUI ANJUNGAN TUNAI MANDIRI (ATM) DIREKTUR JENDERAL PAJAK. Menimbang : bahwa untuk memberikan kemudahan kepada Wajib Pajak orang pribadi dan badan yang memiliki peredaran bruto tertentu. 2.Pajak Penghasilan Final 1% bagi Wajib Pajak dengan Peredaran Bruto Tertentu 2014 PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR PER . Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1983 Nomor 49.Undang Nomor 36 Tahun 2008 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 133. Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1983 Nomor 50. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia 5424). perlu menetapkan Peraturan Direktur Jenderal Pajak tentang Tata Cara Penyetoran Pajak Penghasilan atas Penghasilan dari Usaha yang Diterima atau Diperoleh Wajib Pajak yang Memiliki Peredaran Bruto Tertentu Melalui Anjungan Tunai Mandiri (ATM).

Peraturan Menteri Keuangan Nomor 184/ PMK. 5. 8. Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-148/ PJ/2007 tentang Pelaksanaan Modul Penerimaan Negara. Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2011 tentang Tata Cara Pelaksanaan Hak dan Pemenuhan Kewajiban Perpajakan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 162. Penyetoran dan Pelaporan Pajak. Penentuan Tanggal Jatuh Tempo Pembayaran dan Penyetoran Pajak. Peraturan Direktur Jenderal Perbendaharaan Nomor PER-78/PB/2006 tentang Penatausahaan Penerimaan Negara Melalui Modul Penerimaan Negara sebagaimana diubah dengan Peraturan Direktur Jenderal Perbendaharaan Nomor PER-25/PB/2012. 6. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 107/ PMK. dan Tata Cara Pembayaran. Penentuan Tempat Pembayaran Pajak. Penentuan Tempat Pembayaran Pajak.2014 Pajak Penghasilan Final 1% bagi Wajib Pajak dengan Peredaran Bruto Tertentu 4.06/2006 tentang Modul Penerimaan Negara sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 37/PMK.05/2007. serta Tata Cara Pengangsuran dan Penundaan Pembayaran Pajak sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 80/PMK. MEMUTUSKAN: Menetapkan : PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK TENTANG TATA CARA PENYETORAN PAJAK PENGHASILAN ATAS PENGHASILAN DARI USAHA YANG DITERIMA ATAU DIPEROLEH WAJIB PAJAK YANG MEMILIKI PEREDARAN BRUTO TERTENTU MELALUI ANJUNGAN TUNAI MANDIRI (ATM) Pasal 1 Dalam Peraturan Direktur Jenderal Pajak ini. yang dimaksud dengan: 98 Direktorat Peraturan Perpajakan II . 9. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia 5268). Penyetoran dan Pelaporan Pajak Penghasilan atas Penghasilan dari Usaha yang Diterima atau Diperoleh Wajib Pajak yang Memiliki Peredaran Bruto Tertentu. 7. 03/2010.03/2007 tentang Penentuan Tanggal Jatuh Tempo Pembayaran dan Penyetoran Pajak.011/2013 tentang Tata Cara Penghitungan. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 99/PMK.

Modul Penerimaan Negara yang selanjutnya disingkat MPN adalah modul penerimaan yang memuat serangkaian prosedur mulai dari penerimaan. Bukti Penerimaan Negara yang selanjutnya disingkat BPN adalah dokumen yang diterbitkan oleh Bank Persepsi atas transaksi penerimaan negara dengan teraan NTPN dan NTB. ATM adalah Anjungan Tunai Mandiri. Wajib Pajak dapat meminta cetak ulang BPN di kantor cabang Bank Persepsi terdekat. Masa Pajak dan jumlah nominal Pajak Penghasilan yang akan dibayar. Pasal 3 (1) Penyetoran Pajak Penghasilan melalui ATM sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 dilakukan dengan memasukkan NPWP. (4) Prosedur cetak ulang BPN sebagaimana dimaksud pada ayat (3) disesuaikan dengan prosedur pada Bank Persepsi yang bersangkutan. pengumpulan data. Wajib Pajak menerima BPN dalam bentuk cetakan struk ATM. 3. penyetoran. pencatatan. Pasal 2 Wajib Pajak dapat melakukan penyetoran Pajak Penghasilan melalui ATM pada Bank Persepsi yang ditunjuk oleh Menteri Keuangan. 2. (3) Dalam hal terdapat kendala pada mesin ATM sehingga BPN sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tidak dapat tercetak atau tercetak namun tidak dapat dibaca. Pajak Penghasilan adalah Pajak Penghasilan yang dikenakan kepada Wajib Pajak yang memiliki peredaran bruto tertentu dan bersifat final sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) Peraturan Pemerintah Nomor 46 Tahun 2013 tentang Pajak Penghasilan atas Penghasilan dari Usaha yang Diterima atau Diperoleh Wajib Pajak yang Memiliki Peredaran Bruto Tertentu. 5. 4. Direktorat Peraturan Perpajakan II 99 . (2) Atas penyetoran sebagaimana dimaksud pada ayat (1). pengikhtisaran sampai dengan pelaporan yang berhubungan dengan penerimaan negara dan merupakan bagian dari Sistem Penerimaan dan Anggaran Negara. Wajib Pajak adalah Wajib Pajak yang memiliki peredaran bruto tertentu yang dikenai Pajak Penghasilan yang bersifat final sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 Peraturan Pemerintah Nomor 46 Tahun 2013 tentang Pajak Penghasilan atas Penghasilan dari Usaha yang Diterima atau Diperoleh Wajib Pajak yang Memiliki Peredaran Bruto Tertentu.Pajak Penghasilan Final 1% bagi Wajib Pajak dengan Peredaran Bruto Tertentu 2014 1.

Jumlah nominal pembayaran. merupakan sarana administrasi lain yang kedudukannya disamakan dengan Surat Setoran Pajak dalam rangka pelaksanaan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan. i. termasuk cetakan ulang dan salinannya. Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP). Kode Jenis Setoran. Kode Akun Pajak. Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 30 Oktober 2013 DIREKTUR JENDERAL PAJAK. g. Nomor Transaksi Bank (NTB). Masa Pajak. b. h. c. f. dan j.2014 Pajak Penghasilan Final 1% bagi Wajib Pajak dengan Peredaran Bruto Tertentu Pasal 4 (1) BPN sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3. maka yang dianggap sah adalah data pembayaran menurut MPN. Tanggal transaksi. e. Pasal 5 Penyetoran Pajak Penghasilan melalui ATM sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 diadministrasikan sebagai penerimaan Negara dengan Kode Akun Pajak 411128 (PPh Final) dan Kode Jenis Setoran 420 (PPh Final Pasal 4 ayat (2) atas Penghasilan dari Usaha yang Diterima atau Diperoleh Wajib Pajak yang Memiliki Peredaran Bruto Tertentu). d. Pasal 6 Peraturan Direktur Jenderal Pajak ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan. 100 Direktorat Peraturan Perpajakan II . Nomor Transaksi Penerimaan Negara (NTPN). (3) BPN sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 setidak-tidaknya mencantumkan elemen-elemen sebagai berikut: a. Nama Wajib Pajak. Tahun Pajak. (2) Apabila terdapat perbedaan antara data pembayaran yang tertera dalam BPN dengan data pembayaran menurut MPN.

Pajak Penghasilan Final 1% bagi Wajib Pajak dengan Peredaran Bruto Tertentu 2014 DIREKTORAT JENDERAL PAJAK LAMPIRAN VII SURAT EDARAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR SE-42/PJ/2013 TENTANG PELAKSANAAN PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 46 TAHUN 2013 TENTANG PAJAK PENGHASILAN ATAS PENGHASILAN DARI USAHA YANG DITERIMA ATAU DIPEROLEH WAJIB PAJAK YANG MEMILIKI PEREDARAN BRUTO TERTENTU Direktorat Peraturan Perpajakan II 101 .

.

Para Kepala Kantor Pelayanan Pajak 3. Penyuluhan. Para Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak 2. 2. Maksud dan Tujuan 1. perlu diterbitkan Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak sebagai acuan dalam pelaksanaan ketentuan penerapan tarif Pajak Penghasilan bagi Wajib Pajak yang memiliki peredaran bruto tertentu.Pajak Penghasilan Final 1% bagi Wajib Pajak dengan Peredaran Bruto Tertentu 2014 KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL PAJAK Yth. dan Pelaporan Pajak Penghasilan atas Penghasilan dari Usaha yang Diterima atau Diperoleh Wajib Pajak yang Memiliki Peredaran Bruto Tertentu.011/2013 tentang Tata Cara Penghitungan. Umum Sehubungan dengan telah diterbitkannya Peraturan Pemerintah Nomor 46 Tahun 2013 tentang Pajak Penghasilan atas Penghasilan dari Usaha yang Diterima atau Diperoleh Wajib Pajak yang Memiliki Peredaran Bruto Tertentu dan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 107/PMK. B. Penerbitan Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak ini dimaksudkan untuk memberikan acuan dalam rangka pelaksanaan ketentuan Pajak Penghasilan bagi Wajib Pajak yang memiliki peredaran bruto tertentu.42/PJ/2013 TENTANG PELAKSANAAN PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 46 TAHUN 2013 TENTANG PAJAK PENGHASILAN ATAS PENGHASILAN DARI USAHA YANG DITERIMA ATAU DIPEROLEH WAJIB PAJAK YANG MEMILIKI PEREDARAN BRUTO TERTENTU A. 1. Penyetoran. Para Kepala Kantor Pelayanan. dan Konsultasi Perpajakan diseluruh Indonesia SURAT EDARAN NOMOR SE . Penerbitan Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak ini bertujuan agar pelaksanaan ketentuan Pajak Penghasilan bagi Wajib Pajak Direktorat Peraturan Perpajakan II 103 .

Materi 1.000.000. dikenai Pajak Penghasilan yang bersifat final. tidak termasuk penghasilan dari jasa sehubungan dengan pekerjaan bebas.000. Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2009. dan b.00 (empat miliar delapan ratus juta rupiah) dalam 1 (satu) Tahun Pajak. Wajib Pajak yang memiliki peredaran bruto tertentu adalah Wajib Pajak yang memenuhi kriteria sebagai berikut: a. dan Pelaporan Pajak Penghasilan atas Penghasilan dari Usaha yang Diterima atau Diperoleh Wajib Pajak yang Memiliki Peredaran Bruto Tertentu.800. E. tidak termasuk penghasilan dari jasa sehubungan dengan pekerjaan bebas. 4. Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008. dengan peredaran bruto tidak melebihi Rp4. dengan peredaran bruto tidak melebihi Rp4. Penyetoran. Peraturan Pemerintah Nomor 46 Tahun 2013 tentang Pajak Penghasilan atas Penghasilan dari Usaha yang Diterima atau Diperoleh Wajib Pajak yang Memiliki Peredaran Bruto Tertentu. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 107/PMK. 2. Dasar 1. D. 104 Direktorat Peraturan Perpajakan II . Ruang Lingkup Ruang lingkup Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak ini meliputi Wajib Pajak orang pribadi dan Wajib Pajak badan tidak termasuk bentuk usaha tetap yang menerima penghasilan dari usaha. C.00 (empat miliar delapan ratus juta rupiah) dalam 1 (satu) Tahun Pajak.2014 Pajak Penghasilan Final 1% bagi Wajib Pajak dengan Peredaran Bruto Tertentu yang memiliki peredaran bruto tertentu dapat berjalan dengan baik dan terdapat keseragaman dalam pelaksanaannya.800.011/2013 tentang Tata Cara Penghitungan.000. menerima penghasilan dari usaha. 3. Wajib Pajak orang pribadi atau Wajib Pajak badan tidak termasuk bentuk usaha tetap. 2. Atas penghasilan dari usaha yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak yang memiliki peredaran bruto tertentu.

Wajib Pajak badan yang belum beroperasi secara komersial. b.00 (empat miliar delapan ratus juta rupiah). dan d.000. c. 7. 8.000. 6. Atas penghasilan dari usaha yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak yang memiliki peredaran bruto tertentu yang berdasarkan ketentuan Undang-Undang Pajak Penghasilan dan peraturan pelaksanaannya wajib dilakukan pemotongan dan/atau pemungutan Pajak Penghasilan yang tidak bersifat final. 4. penghasilan yang diterima atau diperoleh dari luar negeri. Pajak Penghasilan terutang dihitung berdasarkan tarif 1% (satu persen) dikalikan dengan dasar pengenaan pajak berupa jumlah peredaran bruto setiap bulan. menggunakan sebagian atau seluruh tempat untuk kepentingan umum yang tidak diperuntukkan bagi tempat usaha atau berjualan. untuk setiap tempat kegiatan usaha.800. menggunakan sarana atau prasarana yang dapat dibongkar pasang. 5. jasa sehubungan dengan pekerjaan bebas.Pajak Penghasilan Final 1% bagi Wajib Pajak dengan Peredaran Bruto Tertentu 2014 3. penghasilan yang dikecualikan sebagai objek pajak. Wajib Pajak badan yang dalam jangka waktu 1 (satu) tahun setelah beroperasi secara komersial memperoleh peredaran bruto melebihi Rp4. Tidak termasuk Wajib Pajak badan adalah: a. Tidak termasuk Wajib Pajak orang pribadi adalah Wajib Pajak orang pribadi yang melakukan kegiatan usaha perdagangan dan/atau jasa yang dalam usahanya: a.000.000. atau b. tidak termasuk peredaran bruto dari: a. Peredaran bruto yang tidak melebihi Rp4. termasuk dari usaha cabang. baik yang menetap maupun tidak menetap. Pengenaan Pajak Penghasilan didasarkan pada peredaran bruto dari usaha dalam 1 (satu) tahun dari Tahun Pajak terakhir sebelum Tahun Pajak yang bersangkutan. dapat dibebaskan dari pemotongan dan/atau pemungutan Pajak Penghasilan oleh pihak lain dengan tata cara sebagaimana Direktorat Peraturan Perpajakan II 105 . dan b. usaha yang atas penghasilannya telah dikenai Pajak Penghasilan yang bersifat final dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan tersendiri.00 (empat miliar delapan ratus juta rupiah) pada butir 2 huruf b ditentukan berdasarkan peredaran bruto dari usaha seluruhnya.800.

2. sesuai dengan tanggal validasi NTPN yang tercantum pada Surat Setoran Pajak. 12. Wajib Pajak wajib menyetor Pajak Penghasilan terutang sebagaimana dimaksud pada butir 6 ke kantor pos atau bank yang ditunjuk oleh Menteri Keuangan.2014 Pajak Penghasilan Final 1% bagi Wajib Pajak dengan Peredaran Bruto Tertentu diatur dalam Peraturan Direktur Jenderal Pajak yang mengatur mengenai pembebasan dari pemotongan dan/atau pemungutan Pajak Penghasilan oleh pihak lain. Wajib Pajak yang memiliki peredaran bruto tertentu wajib mendaftarkan diri untuk memperoleh Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) bagi setiap tempat usaha di Kantor Pelayanan Pajak yang wilayah kerjanya meliputi tempat usaha Wajib Pajak dan di Kantor Pelayanan Pajak yang wilayah kerjanya meliputi tempat tinggal atau tempat kedudukan Wajib Pajak. tidak diwajibkan melakukan pembayaran angsuran pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25 Undang-Undang Pajak Penghasilan. Wajib Pajak yang telah melakukan penyetoran Pajak Penghasilan sebagaimana dimaksud pada butir 10 dianggap telah menyampaikan Surat Pemberitahuan Masa Pajak Penghasilan sebagaimana dimaksud pada butir 11. 9. Wajib Pajak yang melakukan pembayaran Pajak Penghasilan sebagaimana dimaksud pada butir 10 wajib menyampaikan Surat Pemberitahuan Masa Pajak Penghasilan paling lama 20 (dua puluh) hari setelah Masa Pajak berakhir. Hal-Hal Khusus Terkait Pengenaan Pajak Penghasilan yang bersifat final Hal-hal yang perlu diperhatikan terkait dengan pengenaan Pajak Penghasilan yang bersifat final diatur sebagai berikut: 1. yang telah mendapat validasi dengan Nomor Transaksi Penerimaan Negara (NTPN). 13. Penentuan peredaran bruto untuk dikenakan Pajak Penghasilan yang bersifat final bagi Wajib Pajak badan yang baru beroperasi secara komersial untuk pertama kali ditentukan berdasarkan 106 Direktorat Peraturan Perpajakan II . 10. 11. F. Wajib Pajak yang hanya menerima atau memperoleh penghasilan yang dikenai Pajak Penghasilan yang bersifat final. paling lama tanggal 15 (lima belas) bulan berikutnya setelah Masa Pajak berakhir. Ketentuan mengenai pelaporan Surat Pemberitahuan Masa Pajak Penghasilan sebagaimana dimaksud pada butir 11 diberlakukan mulai Masa Pajak Januari 2014. dengan menggunakan Surat Setoran Pajak atau sarana administrasi lain yang dipersamakan dengan Surat Setoran Pajak.

Atas penghasilan dari usaha yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak yang memiliki peredaran bruto tertentu. Wajib Pajak wajib menyetor Pajak Penghasilan yang bersifat final ke kantor pos atau bank yang ditunjuk oleh Menteri Keuangan. Pajak Penghasilan atas penghasilan dari usaha yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak dengan peredaran bruto tertentu yang disetor tidak menggunakan Kode Akun Pajak 411128 dan Kode Jenis Setoran 420 dapat diajukan permohonan pemindahbukuan oleh Wajib Pajak ke setoran Pajak Penghasilan Pasal 4 ayat (2) dengan Kode Akun Pajak 411128 dan Kode Jenis Setoran 420. atas pemungutan Pajak Penghasilan Pasal 22 oleh bendahara pemerintah dengan menggunakan Surat Setoran Pajak yang telah diisi atas nama rekanan: 1) dapat diajukan permohonan pemindahbukuan Direktorat Peraturan Perpajakan II ke 107 . sesuai dengan ketentuan mengenai tata cara pembayaran pajak melalui pemindahbukuan. wajib menyampaikan Surat Pemberitahuan Masa Pajak Penghasilan Pasal 4 ayat (2) ke Kantor Pelayanan Pajak sesuai tempat kegiatan usaha Wajib Pajak terdaftar dengan mengisi baris pada angka 11 formulir Surat Pemberitahuan Masa Pajak Penghasilan Pasal 4 ayat (2): a. kolom KAP/KJS diisi dengan “411128/420”. kolom Uraian diisi dengan “Penghasilan Usaha WP yang Memiliki Peredaran Bruto Tertentu”. pengenaan Pajak Penghasilan yang bersifat final selanjutnya untuk Wajib Pajak yang bersangkutan ditentukan berdasarkan peredaran bruto Tahun Pajak sebelumnya. Wajib Pajak yang menyetor Pajak Penghasilan yang bersifat final tetapi Surat Setoran Pajaknya tidak mendapat validasi dengan NTPN. 7. 4. dengan menggunakan Surat Setoran Pajak atau sarana administrasi lain yang disamakan dengan Surat Setoran Pajak dengan mengisi Kode Akun Pajak 411128 dan Kode Jenis Setoran 420 sebagaimana telah diatur dalam Peraturan Direktur Jenderal Pajak yang mengatur mengenai Bentuk Formulir Surat Setoran Pajak. yang dipotong dan/atau dipungut oleh pihak lain diatur sebagai berikut: a. 6. Wajib Pajak dengan jumlah Pajak Penghasilan Pasal 4 ayat (2) nihil tidak wajib melaporkan Surat Pemberitahuan Masa Pajak Penghasilan Pasal 4 ayat (2). 2014 peredaran bruto dari usaha 1 (satu) Tahun Pajak setelah Tahun Pajak beroperasi secara komersial.Pajak Penghasilan Final 1% bagi Wajib Pajak dengan Peredaran Bruto Tertentu 3. b. 5.

sampai dengan ditetapkannya Peraturan Direktur Jenderal Pajak yang mengatur mengenai tata cara pembebasan dari pemotongan dan/atau pemungutan Pajak Penghasilan bagi Wajib Pajak yang dikenai Pajak Penghasilan berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 46 Tahun 2013 tentang Pajak Penghasilan atas Penghasilan dari Usaha yang Diterima atau Diperoleh Wajib Pajak yang Memiliki Peredaran Bruto Tertentu. atau 2) dikreditkan terhadap Pajak Penghasilan yang terutang untuk Tahun Pajak yang bersangkutan. atau 3) dikreditkan terhadap Pajak Penghasilan yang terutang untuk Tahun Pajak yang bersangkutan. 8. termasuk pemungutan Pajak Penghasilan Pasal 22 atas import 1) dapat diajukan permohonan pengembalian pajak yang seharusnya tidak terutang sesuai dengan ketentuan mengenai tata cara pengembalian atas kelebihan pembayaran pajak yang seharusnya tidak terutang.2014 Pajak Penghasilan Final 1% bagi Wajib Pajak dengan Peredaran Bruto Tertentu setoran Pajak Penghasilan Pasal 4 ayat (2) sesuai dengan ketentuan mengenai tata cara pembayaran pajak melalui pemindahbukuan. 9. atas pemotongan dan/atau pemungutan Pajak Penghasilan oleh pihak lain dengan bukti pemotongan dan/atau pemungutan. Angsuran pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25 Undang-Undang Pajak Penghasilan untuk Masa Pajak Juli 2013 sampai dengan Desember 2013 bagi Wajib Pajak yang memiliki peredaran bruto tertentu yang juga menerima atau memperoleh penghasilan yang dikenai Pajak Penghasilan berdasarkan tarif umum Undang-Undang Pajak Penghasilan. dapat mengajukan pengurangan angsuran Pajak Penghasilan Pasal 25 sesuai dengan ketentuan yang mengatur mengenai penghitungan 108 Direktorat Peraturan Perpajakan II . b. atau 2) dapat diajukan permohonan pengembalian pajak yang seharusnya tidak terutang sesuai dengan ketentuan mengenai tata cara pengembalian atas kelebihan pembayaran pajak yang seharusnya tidak terutang. Permohonan pembebasan dari pemotongan dan/atau pemungutan Pajak Penghasilan oleh pihak lain sebagaimana dimaksud dalam huruf E butir 8 dapat diajukan sesuai dengan ketentuan Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-1/PJ/2011 tentang Tata Cara Pengajuan Permohonan Pembebasan dari Pemotongan dan/atau Pemungutan Pajak Penghasilan oleh Pihak Lain.

lampiran III bagian A butir 14 (Penghasilan Lain yang Dikenakan Pajak Final dan/atau Bersifat Final. 10. memberikan kesempatan masyarakat untuk berkontribusi dalam penyelenggaraan Negara. 11. bagi Wajib Pajak orang pribadi. G. mengedukasi masyarakat untuk tertib administrasi. peredaran usaha dihitung berdasarkan seluruh peredaran usaha selama Tahun Pajak 2013. angsuran Pajak Penghasilan Pasal 25 Undang-Undang Pajak Penghasilan Masa Pajak Januari 2013 sampai dengan Juni 2013 dikreditkan terhadap Pajak Penghasilan yang terutang untuk Tahun Pajak yang bersangkutan. mengedukasi masyarakat untuk transparansi. Penghitungan untuk pelaporan Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan Tahun Pajak 2013: a. Penghapusan Sanksi Administrasi 1. dipandang perlu memberikan keringanan atas sanksi yang dikenakan terhadap Wajib Pajak yang memiliki peredaran bruto tertentu atas pemenuhan kewajiban penyetoran Pajak Penghasilan Pasal 4 ayat (2) berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 46 Tahun 2013.Pajak Penghasilan Final 1% bagi Wajib Pajak dengan Peredaran Bruto Tertentu 2014 besarnya angsuran pajak dalam tahun berjalan dalam hal-hal tertentu. b. c. memberikan kemudahan dan penyederhanaan aturan perpajakan. untuk menentukan Penghasilan Kena Pajak dikurangi terlebih dahulu dengan Penghasilan Tidak Kena Pajak setahun. c. tidak termasuk peredaran usaha pada Masa Pajak Juli 2013 sampai dengan Desember 2013 yang dikenai Pajak Penghasilan Pasal 4 ayat (2). b. Direktorat Peraturan Perpajakan II 109 . dan d. Sehubungan dengan tujuan Peraturan Pemerintah Nomor 46 Tahun 2013 adalah: a. lampiran IV bagian A butir 16 dengan mengisi “Penghasilan Usaha WP yang Memiliki Peredaran Bruto Tertentu” (Formulir 1771-1V) bagi Wajib Pajak badan. Atas penghasilan dari usaha yang dikenai Pajak Penghasilan yang bersifat final menurut ketentuan Peraturan Pemerintah Nomor 46 Tahun 2013 dilaporkan dalam Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan pada kelompok penghasilan yang dikenai pajak final dan/atau bersifat final pada: a. b. Formulir 1770-III) bagi Wajib Pajak orang pribadi.

Dalam rangka pengawasan terhadap pelaksanaan ketentuan Pajak Penghasilan bagi Wajib Pajak yang memiliki peredaran bruto tertentu: a. dan Pelaporan Pajak Penghasilan atas Penghasilan dari Usaha yang Diterima atau Diperoleh Wajib Pajak yang Memiliki Peredaran Bruto Tertentu kepada Wajib Pajak orang pribadi dan Wajib Pajak badan sebagaimana dimaksud yang berada di wilayah kerja masingmasing.2014 Pajak Penghasilan Final 1% bagi Wajib Pajak dengan Peredaran Bruto Tertentu 2. dengan ini diinstruksikan: 1. dan Kepala Kantor Pelayanan. kepada Kepala Kanwil DJP agar menghapuskan sanksi administrasi Pasal 9 ayat (2a) Undang-Undang KUP dalam Surat Tagihan Pajak yang diterbitkan untuk Masa Pajak Juli sampai dengan Desember 2013. serta melalui pelaksanaan SPN Tahun 2013 untuk tempattempat usaha yang memenuhi kriteria sebagai Wajib Pajak yang memiliki peredaran bruto tertentu di wilayah kerjanya masing-masing.011/2013 tentang Tata Cara Penghitungan. Berdasarkan pertimbangan pada butir 1. Kepala Kantor Wilayah. Penyetoran. 3) pemanfaatan alat keterangan yang diterima dan membandingkannya dengan data Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan yang disampaikan Wajib 110 Direktorat Peraturan Perpajakan II . Penutup Mengingat penerapan ketentuan Pajak Penghasilan sebagaimana dimaksud Peraturan Pemerintah Nomor 46 Tahun 2013 mulai berlaku pada tanggal 1 Juli 2013. 2. Kepala Kantor Pelayanan Pajak. Kantor Pelayanan Pajak yang wilayah kerjanya meliputi tempat Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan Wajib Pajak diadministrasikan melakukan: 1) kegiatan ekstensifikasi dengan memanfaatkan data hasil Sensus Pajak Nasional (SPN) Tahun 2011 dan 2012. Penyuluhan. 2) himbauan kepada Wajib Pajak yang memiliki peredaran bruto tertentu untuk melaksanakan kewajiban pembayaran Pajak Penghasilan Pasal 4 ayat (2) setiap bulan untuk setiap tempat kegiatan usaha. dan Konsultasi Perpajakan untuk melakukan sosialisasi Peraturan Pemerintah Nomor 46 Tahun 2013 tentang Pajak Penghasilan atas Penghasilan dari Usaha yang Diterima atau Diperoleh Wajib Pajak yang Memiliki Peredaran Bruto Tertentu dan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 107/PMK. H.

6) pengiriman alat keterangan ke Kantor Pelayanan Pajak yang wilayah kerjanya meliputi tempat-tempat usaha Wajib Pajak yang memenuhi kriteria sebagai Wajib Pajak yang memiliki peredaran bruto tertentu. 4) pengiriman alat keterangan atas pembayaran Pajak Penghasilan Pasal 4 ayat (2) Wajib Pajak yang memiliki peredaran bruto tertentu kepada Kantor Pelayanan Pajak yang wilayah kerjanya meliputi tempat Surat Direktorat Peraturan Perpajakan II 111 . 4) pengawasan terhadap Wajib Pajak mengenai pemenuhan syarat pengenaan Pajak Penghasilan. yaitu sebesar 1% (satu persen) bersifat final sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 46 Tahun 2013 atau sesuai tarif dalam Pasal 17 Undang-Undang. Kantor Pelayanan Pajak yang wilayah kerjanya meliputi tempat-tempat usaha Wajib Pajak yang memiliki peredaran bruto tertentu melakukan: 1) kegiatan ekstensifikasi dengan memanfaatkan data hasil Sensus Pajak Nasional (SPN) Tahun 2011 dan 2012. 5) pengawasan terhadap kewajiban pembayaran Pajak Penghasilan Pasal 4 ayat (2) Wajib Pajak yang memiliki peredaran bruto tertentu yang mendapat Surat Keterangan Bebas untuk dibebaskan dari pemotongan dan/atau pemungutan Pajak Penghasilan oleh pihak lain. 3) pengawasan terhadap kewajiban pembayaran Pajak Penghasilan Pasal 4 ayat (2) Wajib Pajak yang memiliki peredaran bruto tertentu yang mendapat Surat Keterangan Bebas untuk dibebaskan dari pemotongan dan/atau pemungutan Pajak Penghasilan oleh pihak lain. 2) himbauan kepada Wajib Pajak yang memiliki peredaran bruto tertentu untuk melaksanakan kewajiban pembayaran Pajak Penghasilan Pasal 4 ayat (2) setiap bulan untuk setiap tempat kegiatan usaha.Pajak Penghasilan Final 1% bagi Wajib Pajak dengan Peredaran Bruto Tertentu 2014 Pajak yang memiliki peredaran bruto tertentu yang bersangkutan. serta melalui pelaksanaan SPN Tahun 2013 untuk tempattempat usaha yang memenuhi kriteria sebagai Wajib Pajak yang memiliki peredaran bruto tertentu di wilayah kerjanya masing-masing. b.

Tembusan : 1.2014 Pajak Penghasilan Final 1% bagi Wajib Pajak dengan Peredaran Bruto Tertentu Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan Wajib Pajak diadministrasikan. 4. c. 2. 3. Demikian untuk diketahui dan dilaksanakan sebagaimana mestinya. Sekretaris Direktorat Jenderal Pajak Para Direktur di Lingkungan Direktorat Jenderal Pajak Para Tenaga Pengkaji di Lingkungan Direktorat Jenderal Pajak Kepala Pusat Pengolahan Data dan Dokumentasi Perpajakan 112 Direktorat Peraturan Perpajakan II . Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak diminta untuk melakukan pengawasan atas pelaksanaan Pengenaan Pajak Penghasilan Pasal 4 ayat (2) bagi Wajib Pajak yang memiliki Peredaran Bruto Tertentu oleh Kantor Pelayanan Pajak yang berada di wilayah kerjanya.

DIREKTORAT JENDERAL PAJAK LAMPIRAN VIII SURAT EDARAN NOMOR SE-32/PJ/2014 TENTANG PENEGASAN PELAKSANAAN PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 46 TAHUN 2013 TENTANG PAJAK PENGHASILAN ATAS PENGHASILAN DARI USAHA YANG DITERIMA ATAU DIPEROLEH WAJIB PAJAK YANG MEMILIKI PEREDARAN BRUTO TERTENTU .

2014 114 Pajak Penghasilan Final 1% bagi Wajib Pajak dengan Peredaran Bruto Tertentu Direktorat Peraturan Perpajakan II .

00 (empat miliar delapan ratus juta rupiah) dalam 1 (satu) Tahun Pajak.000. di seluruh Indonesia SURAT EDARAN NOMOR SE-32/PJ/2014 TENTANG PENEGASAN PELAKSANAAN PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 46 TAHUN 2013 TENTANG PAJAK PENGHASILAN ATAS PENGHASILAN DARI USAHA YANG DITERIMA ATAU DIPEROLEH WAJIB PAJAK YANG MEMILIKI PEREDARAN BRUTO TERTENTU A. Penetapan Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak ini bertujuan agar pelaksanaan ketentuan Pajak Penghasilan bagi Wajib Pajak yang memiliki peredaran bruto tertentu dapat berjalan dengan baik dan terdapat keseragaman dalam pelaksanaannya. 2. Ruang Lingkup Ruang lingkup Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak ini meliputi Wajib Pajak orang pribadi dan Wajib Pajak badan tidak termasuk bentuk usaha tetap yang menerima penghasilan dari usaha.Pajak Penghasilan Final 1% bagi Wajib Pajak dengan Peredaran Bruto Tertentu 2014 jkl KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL PAJAK Yth. B. Dasar … KP:PJ. 3. perlu ditetapkan Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak sebagai acuan dalam pelaksanaan ketentuan Pajak Penghasilan bagi Wajib Pajak yang memiliki peredaran bruto tertentu. 2. Umum Sehubungan dengan banyaknya pertanyaan terkait pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 46 Tahun 2013 (PP 46 Tahun 2013) tentang Pajak Penghasilan atas Penghasilan dari Usaha yang Diterima atau Diperoleh Wajib Pajak yang Memiliki Peredaran Bruto Tertentu. dan Konsultasi Perpajakan. Para Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak. tidak termasuk penghasilan dari jasa sehubungan dengan pekerjaan bebas.000. 1.800. Penetapan Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak ini dimaksudkan untuk memberikan acuan dalam rangka pelaksanaan ketentuan Pajak Penghasilan bagi Wajib Pajak yang memiliki peredaran bruto tertentu. Penyuluhan.032/PJ. D. dengan peredaran bruto tidak melebihi Rp4. Maksud dan Tujuan 1.0301 Direktorat Peraturan Perpajakan II 115 . Para Kepala Kantor Pelayanan. Para Kepala Kantor Pelayanan Pajak. C.

2) penghasilan yang diterima atau diperoleh di luar negeri. Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2009. seperti bunga. kecuali: 1) penghasilan yang diterima atau diperoleh dari jasa sehubungan pekerjaan bebas sebagaimana dimaksud dalam PP 46 Tahun 2013. 3. Materi 1. dan keuntungan penjualan harta atau hak yang tidak dipergunakan untuk usaha. 4. Berdasarkan memori penjelasan Pasal 4 ayat (1) Undang-Undang Pajak Penghasilan dijelaskan bahwa aliran penghasilan bagi Wajib Pajak dapat dikelompokkan menjadi: 1) penghasilan dari pekerjaan dalam hubungan kerja dan pekerjaan bebas seperti gaji. aktuaris. b. dan 4) penghasilan yang dikecualikan sebagai objek pajak. Peraturan Pemerintah Nomor 46 Tahun 2013 tentang Pajak Penghasilan atas Penghasilan dari Usaha yang Diterima atau Diperoleh Wajib Pajak yang Memiliki Peredaran Bruto Tertentu. 2. notaris. Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-37/PJ/2013 tentang Tata Cara Penyetoran Pajak Penghasilan atas Penghasilan dari Usaha yang Diterima atau Diperoleh Wajib Pajak yang Memiliki Peredaran Bruto Tertentu Melalui Anjungan Tunai Mandiri (ATM). E.032/PJ.0301 116 Direktorat Peraturan Perpajakan II . dan 4) penghasilan lain-lain. 2. Dengan demikian penghasilan yang dikenai Pajak Penghasilan berdasarkan PP 46 Tahun 2013 adalah penghasilan yang diterima atau diperoleh dari kegiatan usaha. penghasilan dari praktek dokter. pengacara. adalah saat pertama kali dilakukannya penjualan jasa dan/atau saat diterima atau diperolehnya pendapatan/penghasilan. a.011/2013 tentang Tata Cara Penghitungan. royalti. akuntan. sewa. 6. dan Pelaporan Pajak Penghasilan atas Penghasilan dari Usaha yang Diterima atau Diperoleh Wajib Pajak yang Memiliki Peredaran Bruto Tertentu. Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor SE-42/PJ/2013 tentang Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 46 Tahun 2013 tentang Pajak Penghasilan atas Penghasilan dari Usaha yang Diterima atau Diperoleh Wajib Pajak yang Memiliki Peredaran Bruto Tertentu. 2) penghasilan dari usaha dan kegiatan. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 107/PMK. a.2014 Pajak Penghasilan Final 1% bagi Wajib Pajak dengan Peredaran Bruto Tertentu -2- D. 5. dividen. 3) penghasilan dari modal. dan sebagainya. Penentuan saat beroperasi secara komersial bagi Wajib Pajak badan. dan/atau 2) dagang … KP:PJ. Penghasilan yang dikenai PP 46 Tahun 2013. seperti pembebasan utang dan hadiah. Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008. Penyetoran. 3) penghasilan yang telah dikenai Pajak Penghasilan yang bersifat final dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan tersendiri. yang berupa harta gerak ataupun harta tak gerak. Dasar 1. honorarium. Penentuan saat beroperasi secara komersial sebagaimana dimaksud dalam PP 46 Tahun 2013 bagi Wajib Pajak badan adalah saat Wajib Pajak melakukan kegiatan operasi secara komersial untuk pertama kali bagi Wajib Pajak yang bergerak di sektor: 1) jasa.

032/PJ.Pajak Penghasilan Final 1% bagi Wajib Pajak dengan Peredaran Bruto Tertentu 2014 -3- 2) dagang dan industri. d. Wajib Pajak badan yang baru beroperasi secara komersial sebagaimana dimaksud pada huruf b dikenai Pajak Penghasilan berdasarkan tarif umum Undang-Undang Pajak Penghasilan sampai dengan jangka waktu 1 (satu) tahun sejak beroperasi secara komersial. Karena baru beroperasi secara komersial. Karena baru beroperasi secara komersial. e. Karena baru beroperasi secara komersial. maka Wajib Pajak dikenai Pajak Penghasilan berdasarkan tarif umum Undang-Undang Pajak Penghasilan untuk Tahun Pajak 2013 dan Tahun Pajak 2014 (jangka waktu 1 tahun sejak beroperasi secara komersial 1 Agustus 2013 sampai dengan 31 Juli 2014 dan diteruskan sampai dengan 31 Desember 2014). Pengenaan Pajak Penghasilan yang bersifat final berdasarkan PP 46 Tahun 2013 bagi Wajib Pajak badan sebagaimana dimaksud pada huruf b untuk Tahun Pajak selanjutnya. Untuk pengenaan Pajak Penghasilan pada Tahun Pajak 2015 memperhatikan besarnya peredaran bruto Tahun Pajak 2014. b. Perlakuan … KP:PJ. c.0301 Direktorat Peraturan Perpajakan II 117 . Contoh: 1) Wajib Pajak badan dengan tahun buku sama dengan tahun takwim. f. baru beroperasi secara komersial pada tanggal 1 Januari 2013. Untuk pengenaan Pajak Penghasilan pada Tahun Pajak 2015 memperhatikan besarnya peredaran bruto Tahun Pajak 2014. Penentuan peredaran bruto untuk dikenakan Pajak Penghasilan yang bersifat final berdasarkan PP 46 Tahun 2013 bagi Wajib Pajak badan yang baru beroperasi secara komersial untuk pertama kali. adalah saat pertama kali dilakukannya penjualan barang dan/atau saat diterima atau diperolehnya pendapatan/penghasilan. ditentukan berdasarkan peredaran bruto dari usaha dalam 1 (satu) Tahun Pajak setelah Tahun Pajak beroperasi secara komersial. maka Wajib Pajak dikenai Pajak Penghasilan berdasarkan tarif umum Undang-Undang Pajak Penghasilan untuk Tahun Pajak 2013 dan Tahun Pajak 2014 (jangka waktu 1 tahun sejak beroperasi secara komersial 2 Januari 2013 sampai dengan 1 Januari 2014 dan diteruskan sampai dengan 31 Desember 2014). Karena baru beroperasi secara komersial. 3. 2) Wajib Pajak badan dengan tahun buku sama dengan tahun takwim. ketentuan pengenaan Pajak Penghasilan berdasarkan tarif umum Undang-Undang Pajak Penghasilan dimaksud berlaku sampai dengan akhir Tahun Pajak berikutnya setelah Tahun Pajak saat beroperasi secara komersial. maka Wajib Pajak dikenai Pajak Penghasilan berdasarkan tarif umum Undang-Undang Pajak Penghasilan untuk Tahun Pajak 2013 (jangka waktu 1 (satu) tahun sejak beroperasi secara komersial 1 Januari 2013 sampai dengan 31 Desember 2013). 4) Wajib Pajak badan dengan tahun buku sama dengan tahun takwim. baru beroperasi secara komersial pada tanggal 2 Januari 2013. baru beroperasi secara komersial pada tanggal 1 Agustus 2013. baru beroperasi secara komersial pada tanggal 1 Juli 2013. Untuk pengenaan Pajak Penghasilan pada Tahun Pajak 2014 memperhatikan besarnya peredaran bruto Tahun Pajak 2013. Dalam hal jangka waktu 1 (satu) tahun sejak beroperasi secara komersial sebagaimana dimaksud pada huruf c melewati Tahun Pajak saat beroperasi secara komersial. 3) Wajib Pajak badan dengan tahun buku sama dengan tahun takwim. Untuk pengenaan Pajak Penghasilan pada Tahun Pajak 2015 memperhatikan besarnya peredaran bruto Tahun Pajak 2014. maka Wajib Pajak dikenai Pajak Penghasilan berdasarkan tarif umum UndangUndang Pajak Penghasilan untuk Tahun Pajak 2013 dan Tahun Pajak 2014 (jangka waktu 1 tahun sejak beroperasi secara komersial 1 Juli 2013 sampai dengan 30 Juni 2014 dan diteruskan sampai dengan 31 Desember 2014). ditentukan berdasarkan peredaran bruto Tahun Pajak sebelumnya.

Reksa dana adalah suatu bentuk kegiatan usaha yang melakukan penghimpunan dana dari masyarakat pemodal. Atas sisa lebih yang diterima atau diperoleh badan atau lembaga nirlaba yang bergerak dalam bidang pendidikan dan/atau bidang penelitian dan pengembangan. c. dan seluruh penghasilan yang terkait dengan pemberian kredit/pinjaman. Berdasarkan definisi reksa dana sebagaimana dimaksud pada huruf a. tidak termasuk pembayaran pokok kredit/pinjaman. Perlakuan Pajak Penghasilan bagi Wajib Pajak bank/bank perkreditan rakyat/koperasi simpan pinjam/lembaga pemberi dana pinjaman. Sehingga. maka atas sisa lebih tersebut merupakan objek pajak yang dikenai Pajak Penghasilan berdasarkan ketentuan umum Undang-Undang Pajak Penghasilan. a. yang telah terdaftar pada instansi yang membidanginya. Bagi Wajib Pajak bank atau bank perkreditan rakyat atau koperasi simpan pinjam atau lembaga pemberi dana pinjaman yang memenuhi kriteria sebagai Wajib Pajak yang dikenai Pajak Penghasilan berdasarkan PP 46 Tahun 2013. c.2014 Pajak Penghasilan Final 1% bagi Wajib Pajak dengan Peredaran Bruto Tertentu -4- 3. kecuali bagi Wajib Pajak selain bank/bank perkreditan rakyat. atas penghasilan dari usaha yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak dikenai Pajak Penghasilan bersifat final sebesar 1% (satu persen) dari jumlah peredaran bruto setiap bulan. Perlakuan … KP:PJ. Dalam hal Wajib Pajak bank atau bank perkreditan rakyat atau koperasi simpan pinjam atau lembaga pemberi dana pinjaman tidak memenuhi kriteria sebagai Wajib Pajak yang dikenai Pajak Penghasilan berdasarkan PP 46 Tahun 2013. Perlakuan Pajak Penghasilan bagi Wajib Pajak reksa dana. serta diskonto Sertifikat Bank Indonesia. b. b. 4. 2) penghasilan berupa bunga deposito dan tabungan atas simpanan di bank lain. untuk selanjutnya diinvestasikan dalam portofolio efek oleh manajer investasi yang dapat berbentuk perseroan atau kontrak investasi kolektif sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal. Perlakuan Pajak Penghasilan bagi Wajib Pajak badan atau lembaga nirlaba yang bergerak dalam bidang pendidikan dan/atau bidang penelitian dan pengembangan. maka Wajib Pajak reksa dana dikenai Pajak Penghasilan yang bersifat final sesuai PP 46 Tahun 2013 beserta ketentuan pelaksanaannya. a. atas penghasilan yang diterima Wajib Pajak dikenai Pajak Penghasilan berdasarkan ketentuan umum UndangUndang Pajak Penghasilan. yang ditanamkan kembali dalam bentuk sarana dan prasarana kegiatan pendidikan dan/atau penelitian dan pengembangan. Peredaran bruto yang menjadi dasar pengenaan pajak bagi Wajib Pajak bank atau bank perkreditan rakyat atau koperasi simpan pinjam atau lembaga pemberi dana pinjaman adalah jumlah seluruh penghasilan usaha jasa perbankan/peminjaman. 6. maka aliran penghasilan yang diperoleh Wajib Pajak reksa dana termasuk dalam kategori penghasilan yang berasal dari usaha sebagaimana dimaksud dalam penjelasan Pasal 4 ayat (1) Undang-Undang Pajak Penghasilan.0301 118 Direktorat Peraturan Perpajakan II . fee. b. Dalam hal ketentuan persyaratan penanaman kembali sisa lebih sebagaimana dimaksud pada huruf a tidak terpenuhi. dalam hal Wajib Pajak reksa dana memenuhi kriteria PP 46 Tahun 2013.032/PJ. 5. a. antara lain: 1) pendapatan bunga. Dengan demikian perlakuan perpajakan bagi Wajib Pajak badan atau lembaga nirlaba yang bergerak dalam bidang pendidikan dan/atau bidang penelitian dan pengembangan mengacu pada ketentuan umum Undang-Undang Pajak Penghasilan. komisi. dalam jangka waktu paling lama 4 (empat) tahun sejak diperolehnya sisa lebih tersebut bukan merupakan objek pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (3) huruf m Undang-Undang Pajak Penghasilan.

dianggap telah menyampaikan SPT Masa Pajak Penghasilan sebagaimana dimaksud pada huruf b. Wajib … KP:PJ.000. Berdasarkan ketentuan Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris dan Peraturan Pemerintah Nomor 37 Tahun 1998 tentang Peraturan Jabatan Pejabat Pembuat Akta Tanah. b. dan 2) dapat dipersamakan dengan notaris sebagai Wajib Pajak orang pribadi yang melakukan pekerjaan bebas.000. Wajib Pajak menerima Bukti Penerimaan Negara (BPN) dengan teraan Nomor Transaksi Penerimaan Negara (NTPN) dalam bentuk cetakan struk ATM yang kedudukannya disamakan dengan SSP. c. Bagi Wajib Pajak orang pribadi pengusaha yang memiliki peredaran bruto melebihi Rp4. a.75% dari jumlah peredaran bruto setiap bulan dari masing-masing tempat kegiatan usaha.032/PJ. Wajib Pajak yang telah melakukan penyetoran Pajak Penghasilan sebagaimana dimaksud pada huruf a dan telah mendapatkan validasi NTPN. maka pengenaan Pajak Penghasilan bagi Wajib Pajak tersebut mengacu pada ketentuan tarif umum UndangUndang Pajak Penghasilan dan pembayaran angsuran pajaknya mengacu pada ketentuan Pasal 25 ayat (7) Undang-Undang Pajak Penghasilan yaitu sebesar 0. Wajib Pajak yang melakukan pembayaran Pajak Penghasilan sebagaimana dimaksud pada huruf a wajib menyampaikan SPT Masa Pajak Penghasilan paling lama 20 (dua puluh) hari setelah Masa Pajak berakhir.00 (empat miliar delapan ratus juta rupiah) dalam 1 (satu) Tahun Pajak dan memenuhi kriteria sebagai Wajib Pajak OPPT. b.800. paling lama tanggal 15 (lima belas) bulan berikutnya setelah Masa Pajak berakhir. ditegaskan bahwa Wajib Pajak orang pribadi yang berprofesi sebagai PPAT: 1) mempunyai persamaan kewenangan dengan Notaris. Penegasan kembali ketentuan penyetoran dan pelaporan Surat Pemberitahuan (SPT) Masa Pajak Penghasilan Pasal 4 ayat (2) bagi Wajib Pajak yang dikenai Pajak Penghasilan yang bersifat final berdasarkan PP 46 Tahun 2013.000. e.Pajak Penghasilan Final 1% bagi Wajib Pajak dengan Peredaran Bruto Tertentu 2014 -5- 6.0301 Direktorat Peraturan Perpajakan II 119 . Wajib Pajak wajib menyetor Pajak Penghasilan terutang ke kas negara melalui: 1) kantor pos atau bank yang ditunjuk oleh Menteri Keuangan dengan menggunakan Surat Setoran Pajak (SSP).000. 8. Bagi Wajib Pajak orang pribadi pengusaha yang memiliki peredaran bruto tidak melebihi Rp4. 7. atas penghasilan dari usaha yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak orang pribadi pengusaha tersebut dikenai Pajak Penghasilan bersifat final sebesar 1% (satu persen) dari jumlah peredaran bruto setiap bulan. d.00 (empat miliar delapan ratus juta rupiah) dalam 1 (satu) Tahun Pajak yang memenuhi kriteria sebagai Wajib Pajak OPPT dan kriteria sebagai Wajib Pajak yang dikenai Pajak Penghasilan berdasarkan PP 46 Tahun 2013. Ketentuan mengenai pelaporan Surat Pemberitahuan Masa Pajak Penghasilan sebagaimana dimaksud pada huruf b diberlakukan mulai Masa Pajak Januari 2014. yaitu merupakan pejabat umum yang diberikan kewenangan membuat akta otentik tertentu yakni akta yang berkaitan dengan dengan pertanahan. Perlakuan Pajak Penghasilan bagi Wajib Pajak Orang Pribadi Pengusaha Tertentu (Wajib Pajak OPPT).800. sehingga atas keterlambatan pelaporan (sesuai tanggal validasi NTPN) masa Juli-Desember 2013 tidak dikenakan sanksi administrasi berupa denda sebesar Rp100. b.000. a. dengan tanggal pelaporan sesuai tanggal NTPN yang tercantum pada SSP atau cetakan struk ATM. Perlakuan Pajak Penghasilan bagi Wajib Pajak Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT). a.00 (seratus ribu rupiah). 2) Anjungan Tunai Mandiri (ATM) bank-bank tertentu. Dengan demikian perlakuan perpajakan bagi Wajib Pajak PPAT mengacu pada ketentuan umum Undang-Undang Pajak Penghasilan.

2014 120 Pajak Penghasilan Final 1% bagi Wajib Pajak dengan Peredaran Bruto Tertentu Direktorat Peraturan Perpajakan II .

DIREKTORAT JENDERAL PAJAK LAMPIRAN IX SIMULASI PENGISIAN SPT .

.

Pajak Penghasilan Final 1% bagi Wajib Pajak dengan Peredaran Bruto Tertentu 2014 Simulasi Pengisian SSP 041 4 20 Diisi dengan: • Kode Akun Pajak 411128 (Untuk Jenis Pajak PPh Final) dan • Kode Jenis Setoran 420 (untuk pembayaran PPh Final peredaran bruto tertentu) PPh Pasal 4 ayat (2) Bulan Agustus 2013 Direktorat Peraturan Perpajakan II 123 .

I Halaman 2 Jumlah Bagian B Kolom 5] 2. ANGSURAN PPh PASAL 25 TAHUN PAJAK BERIKUTNYA a. LAMPIRAN . PPh KURANG/ LEBIH BAYAR (KOTAK PILIHAN) YANG SESUAI / LAMPIRAN TERSENDIRI TH PEMBUKUAN SPT PEMBETULAN KE .I Halaman 1 Jumlah Bagian A atau Formulir 1770 . BUNGA SIMPANAN YANG DIBAYARKAN OLEH KOPERASI KEPADA ANGGOTA KOPERASI 13. PENJUALAN SAHAM DI BURSA EFEK 4.6) D. PPh YANG LEBIH DIPOTONG/DIPUNGUT 17. JUMLAH KREDIT PAJAK (17a+17b+17c) 19. JUMLAH PENGHASILAN NETO (1 + 2 + 3 + 4) 5 6 B. PENGEMBALIAN/PENGURANGAN PPh PASAL 24 YANG TELAH DIKREDITKAN 13 14. DIKEMBALIKAN DENGAN SKPPKP PASAL 17 D (WP TERTENTU F. PPh YANG KURANG DIBAYAR (PPh PASAL 29) PPh YANG LEBIH DIBAYAR (PPh PASAL 28 A) (16-18) PERHATIAN : • PENGHASILAN YANG TIDAK TERMASUK OBJEK PAJAK PENGHASILAN ISTERI YANG DIKENAKAN PAJAK SECARA TERPISAH SEBELUM MENGISI BACALAH BUKU PETUNJUK PENGISIAN • tgl bln thn NAMA WAJIB PAJAK BAGIAN A : 0 BL TH s. PPh YANG HARUS DIBAYAR SENDIRI b.8) 10. PENGHASILAN NETO DALAM NEGERI DARI USAHA DAN/ATAU PEKERJAAN BEBAS E. PPh TERUTANG 7 8. DIKEMBALIKAN DENGAN SKPPKP PASAL 17 C (WP PATUH) b. DIREKTORAT JENDERAL PAJAK PENGHASILAN YANG DIKENAKAN PAJAK FINAL DAN/ATAU BERSIFAT FINAL 16 17b c. PENGHASILAN ISTRI DARI SATU PEMBERI KERJA 16. PENGHASILAN NETO DALAM NEGERI SEHUBUNGAN DENGAN PEKERJAAN 2 [Diisi dari Formulir 1770 . DISKONTO SBI. PPh PASAL 25 BULANAN b.. PENGHASILAN NETO LUAR NEGERI 4 [Apabila memiliki penghasilan dari luar negeri agar diisi dari Lampiran Tersendiri. ZAKAT / SUMBANGAN KEAGAMAAN YANG BERSIFAT WAJIB 7.d BL NORMA BERI TANDA " X " DALAM : NO (1) 1. KREDIT PAJAK Pengisian SPT Tahunan PPh Wajib Pajak Orang Pribadi RUPIAH *) 1. PERMOHONAN : PPh Lebih Bayar pada 19. SEWA ATAS TANAH DAN/ATAU BANGUNAN JENIS PENGHASILAN (2) 19 DIRESTITUSIKAN c. 3) 4 BL NORMA TAHUN PAJAK IDENTITAS • USAHA/PEKERJAAN BEBAS YANG MENYELENGGARAKAN PEMBUKUAN • DARI NORMA PENGHITUNGAN PENGHASILAN NETO SATU ATAU LEBIH PEMBERI KERJA • DARI • YANG DIKENAKAN PPh FINAL DAN/ATAU BERSIFAT FINAL • DARI PENGHASILAN LAIN FORMULIR KEMENTERIAN KEUANGAN RI DIREKTORAT JENDERAL PAJAK PERHATIAN TAHUN PAJAK FORMULIR 1770 Pajak Penghasilan Final 1% bagi Wajib Pajak dengan Peredaran Bruto Tertentu DASAR PENGENAAN PAJAK/PENGHASILAN BRUTO PPh TERUTANG (Rupiah) (3) (4) . PENYALUR/DEALER/AGEN PRODUK BBM 12. lihat buku petunjuk] 5. PENGHASILAN KENA PAJAK C.d. 6. TABUNGAN.b mohon • • • 17a 18. 10. DIVIDEN 15. BANGUNAN YANG DITERIMA DALAM RANGKA BANGUNAN GUNA SERAH 9. HADIAH UNDIAN 5. SPT TAHUNAN PPh WAJIB PAJAK ORANG PRIBADI 10 HB/ 11. JUMLAH (1 s. PENGHASILAN KENA PAJAK (9 -10) 16. KOMPENSASI KERUGIAN 8 9. JUMLAH PENGHASILAN NETO SETELAH PENGURANGAN ZAKAT /SUMBANGAN KEAGAMAAN YANG SIFATNYA WAJIB ( 5.2014 SPT TAHUNAN PPh WAJIB PAJAK ORANG PRIBADI MEMPUNYAI PENGHASILAN : • SEBELUM MENGISI BACALAH BUKU PETUNJUK PENGISIAN NPWP : NAMA WAJIB PAJAK : JENIS USAHA/PEKERJAAN BEBAS : NO. FISKAL LUAR NEGERI 20. PENGHASILAN NETO [Diisi dari Formulir 1770 . PPh YANG DIPOTONG / DIPUNGUT OLEH PIHAK LAIN. TELEPON/FAKSIMILI : PERUBAHAN DATA : ISI DENGAN HURUF CETAK / DIKETIK DENGAN TINTA HITAM 2 0 BL TH s. PENGHASILAN NETO DALAM NEGERI LAINNYA 3 [Diisi dari Formulir 1770 .III 1770 . PESANGON. TUNJANGAN HARI TUA DAN TEBUSAN PENSIUN YANG DIBAYAR SEKALIGUS 6. PENGHASILAN TIDAK KENA PAJAK TK/ K/ 9 K/I/ PH/ 11 12. SURAT BERHARGA NEGARA 2. PENGHASILAN LAIN YANG DIKENAKAN PAJAK FINAL DAN/ATAU BERSIFAT FINAL 17. BUNGA DEPOSITO. PPh TERUTANG (TARIF PASAL 17 UU PPh X ANGKA 11) 12 13.III KEMENTERIAN KEUANGAN RI …………………………………………………………………………………………………………………………. STP PPh PASAL 25 (HANYA POKOK PAJAK) a.d • BERI TANDA " X " DALAM KLU : TIDAK ADA 1 A.I Halaman 2 Jumlah Bagian C Kolom 5] 3. JUMLAH PPh TERUTANG ( 12 + 13) 15.I Halaman 2 Jumlah Bagian D Kolom 3] 4. PPh YANG DIBAYAR SENDIRI (14-15) a. 16) Direktorat Peraturan Perpajakan II TH PEMBUKUAN (KOTAK PILIHAN) YANG SESUAI PENGHASILAN YANG DIKENAKAN PAJAK FINAL DAN/ATAU BERSIFAT FINAL 15 Diisi dengan Jumlah PPh Pasal 4 ayat (2) yang Telah Disetor 124 • 2 : NPWP 17c TGL LUNAS ISI DENGAN HURUF CETAK / DIKETIK DENGAN TINTA HITAM 14 18 b. PPh YANG DIBAYAR / DIPOTONG DI LUAR NEGERI DAN PPh DITANGGUNG PEMERINTAH [Diisi dari formulir 1770 -II Jumlah Bagian A Kolom 7] a. USAHA JASA KONSTRUKSI Diisi Jumlah Peredaran Bruto Selama Satu Tahun Pajak 11. HONORARIUM ATAS BEBAN APBN / APBD 7. PENGALIHAN HAK ATAS TANAH DAN/ATAU BANGUNAN 8. BUNGA/DISKONTO OBLIGASI 3.………. JUMLAH PENGHASILAN NETO SETELAH KOMPENSASI KERUGIAN (7 . PENGHASILAN DARI TRANSAKSI DERIVATIF 14. *) Pengisian kolom-kolom yang berisi nilai rupiah harus tanpa nilai desimal (contoh penulisan lihat buku petunjuk hal. DIPERHITUNGKAN DENGAN UTANG PAJAK d.

10c 12..……………. BACA DAHULU BUKU PETUNJUK PENGISIAN KOMPENSASI KERUGIAN FISKAL (Diisi dari Lampiran Khusus 2A Jumlah Kolom 8) 2 ………………………………… 3 PENGHASILAN KENA PAJAK (1-2) ……. 13.………………. PPh Ps..………………….…… b.d.………… b. Tarif PPh Ps.. 3.……………… PPh FINAL DAN DISKONTO SBI / SBN 4. PPh YANG HARUS DIBAYAR SENDIRI b.……………. Diisi dengan “Penghasilan Usaha WP yang Memiliki Peredaran Bruto Tertentu” a..………………. 10b STP PPh Ps. 25 (Hanya Pokok Pajak) ……. TAHUN PAJAK PERHATIAN : Pengisian SPT Tahunan PPh Wajib Pajak Badan TAHUN PAJAK 2 0 PAJAK PENGHASILAN WAJIB PAJAK BADAN : IDENTITAS FORMULIR IDENTITAS SPT TAHUNAN 1771 KEMENTERIAN KEUANGAN RI DIREKTORAT JENDERAL PAJAK NPWP 2014 BLN THN 5... Tarif PPh Ps.……… 8.………………. PENGHASILAN USAHA PENYALUR / DEALER / AGEN PRODUK BBM 6.………. 29) PPh YANG LEBIH DIBAYAR (PPh Ps. DASAR PENGENAAN PAJAK (Rupiah) (2) BUNGA DEPOSITO / TABUNGAN. 1. FAKS : - - s... Khusus Restitusi untuk Wajib Pajak dengan Kriteria Tertentu : JENIS PENGHASILAN 2. FORMULIR NAMA WAJIB PAJAK • SEBELUM MENGISI.IV (3) PENGHASILAN NETO FISKAL 1 (Diisi dari Formulir 1771-I Nomor 8 Kolom 3) …………………………………………………………………. PPh YANG LEBIH DIPOTONG / DIPUNGUT (6 – 7 – 8c)…. PELAYARAN / PENERBANGAN ASING 11. 3) A.. KREDIT PAJAK LUAR NEGERI 8b (Diisi dari Lampiran Khusus 7A Jumlah Kolom 8) ……….. PPh TERUTANG (Rupiah) (4) (5) BUNGA / DISKONTO OBLIGASI PENGHASILAN PENJUALAN SAHAM PPh YANG LEBIH DIBAYAR PADA ANGKA 11.…………………………………. PENGHASILAN PENJUALAN SAHAM MILIK PERUSAHAAN MODAL VENTURA 13. PENGHASILAN KENA PAJAK (1) (2) 1. 31E ayat (1) SPT TAHUNAN PAJAK PENGHASILAN WAJIB PAJAK BADAN KEMENTERIAN KEUANGAN RI DIREKTORAT JENDERAL PAJAK PPh FINAL DAN PENGHASILAN YANG TIDAK TERMASUK OBJEK PAJAK 4 NPWP : NAMA WAJIB PAJAK : PERIODE PEMBUKUAN : 2 0 A A s. lihat Buku Petunjuk Pengisian SPT) a.……. D. b. 11..b MOHON : TGL b. PENGHASILAN PENGALIHAN HAK ATAS 7....……… 9. PENGHASILAN PERSEWAAN ATAS DIPERHITUNGKAN DENGAN UTANG PAJAK TANAH / BANGUNAN Pengembalian Pendahuluan (Pasal 17C atau Pasal 17D UU KUP) Diisi dengan Jumlah PPh Pasal 4 ayat (2) yang Telah Disetor Diisi Jumlah Peredaran Bruto Selama Satu Tahun Pajak TANAH / BANGUNAN IMBALAN JASA KONSTRUKSI : 8.………………….………………………………………………… JUMLAH (10a + 10b) ……. c. PPh YANG DIBAYAR SENDIRI 10a a. a.………… 7. 14.……………….. PENGAWAS KONSTRUKSI 9. b... 6.….…………………. PPh YANG KURANG DIBAYAR (PPh Ps...…………………………………. 7 (1) 8c c.…………………………………………………………………………. JUMLAH PPh TERUTANG (4 + 5) ….. PELAYARAN DALAM NEGERI 12... 28A) (9 – 10c)…. a. 24) YANG TELAH DIPERHITUNGKAN TAHUN LALU ………………………………………. PERENCANA KONSTRUKSI c.… BAGIAN A 6 NO..a DISETOR TANGGAL ……… a.…. PPh DITANGGUNG PEMERINTAH (Proyek Bantuan Luar Negeri) …….………… PPh TERUTANG (Pilih salah satu sesuai dengan dengan kriteria Wajib Pajak.……………………... PELAKSANA KONSTRUKSI b.. NEGARA DOMISILI KANTOR PUSAT (khusus BUT) PEMBUKUAN / LAPORAN KEUANGAN : NAMA KANTOR AKUNTAN PUBLIK : NPWP KANTOR AKUNTAN PUBLIK : NAMA AKUNTAN PUBLIK : N P W P AKUNTAN PUBLIK : NAMA KANTOR KONSULTAN PAJAK : N P W P KANTOR KONSULTAN PAJAK : NAMA KONSULTAN PAJAK : NPWP KONSULTAN PAJAK : : DIAUDIT OPINI AKUNTAN TIDAK DIAUDIT RUPIAH *) *) Pengisian kolom-kolom yang berisi nilai rupiah harus tanpa nilai desimal (contoh penulisan lihat buku petunjuk hal.……………….IV 1771 . Untuk lebih jelasnya. TELEPON : PERIODE PEMBUKUAN : SPT PEMBETULAN KE-… • ISI DENGAN HURUF CETAK/DIKETIK DENGAN TINTA HITAM • BERI TANDA "X" PADA (KOTAK PILIHAN) YANG SESUAI KLU : NO. 25 BULANAN …. : 9 10. c..……………….. 3. 17 ayat (2b) X Angka 3 …………………….………………. 17 ayat (1) Huruf b X Angka 3 ………….Pajak Penghasilan Final 1% bagi Wajib Pajak dengan Peredaran Bruto Tertentu : JENIS USAHA : NO.…. JUMLAH ( 8a + 8b ) …….. PERWAKILAN DAGANG ASING 10.……………….. PPh TERUTANG 4.……………………………………. (Lihat Buku Petunjuk) 5.………………...d. Tarif PPh Ps. a. PENILAIAN KEMBALI AKTIVA TETAP TRANSAKSI DERIVATIF YANG DIPERDAGANGKAN DI BURSA Penghasilan Usaha WP yang Memiliki Peredaran Bruto Tertentu …………………………………………………………… JUMLAH BAGIAN A JBA Direktorat Peraturan Perpajakan II 125 .…. 2. PENGEMBALIAN / PENGURANGAN KREDIT PAJAK LUAR NEGERI 5 (PPh Ps. PPh KURANG/ LEBIH BAYAR LAMPIRAN .….………………. DIRESTITUSIKAN TARIF (%) (3) YANG DIPERDAGANGKAN DI BURSA EFEK 11 PPh YANG KURANG DIBAYAR PADA ANGKA 11. KREDIT PAJAK B. C. KREDIT PAJAK DALAM NEGERI 8a (Diisi dari Formulir 1771-III Jumlah Kolom 5) ……….

.

DIREKTORAT JENDERAL PAJAK LAMPIRAN X SLIDE PRESENTASI I .

.

Pajak Penghasilan Final 1% bagi Wajib Pajak dengan Peredaran Bruto Tertentu 2014 Kementerian Keuangan Republik Indonesia Direktorat Jenderal Pajak 2013 Peraturan Pemerintah Nomor 46 Tahun 2013 tentang Pajak Penghasilan atas Penghasilan dari Usaha yang Diterima atau Diperoleh Wajib Pajak yang Memiliki Peredaran Bruto Tertentu  LATAR BELAKANG  DASAR HUKUM  POKOK-POKOK KETENTUAN PP  POKOK-POKOK KETENTUAN PERATURAN PELAKSANAAN  SIMULASI DAN CONTOH  CARA PEMBAYARAN PAJAK Direktorat Peraturan Perpajakan II 129 .

 Mengedukasi masyarakat untuk transparansi.  Kemudahan bagi masyarakat dalam melaksanakan kewajiban perpajakan  Mengedukasi masyarakat untuk tertib administrasi.2014 Pajak Penghasilan Final 1% bagi Wajib Pajak dengan Peredaran Bruto Tertentu Tujuan Kebijakan Pajak Penghasilan Atas Wajib Pajak Yang Memiliki Peredaran Bruto Tertentu Maksud PP No 46 /2013 Tujuan PP No 46 /2013  Kemudahan dan penyederhanaan aturan perpajakan.  Memberikan kesempatan masyarakat untuk berkontribusi dalam penyelenggaraan negara 130  Meningkatnya pengetahuan tentang manfaat perpajakan bagi masyarakat  Terciptanya kondisi kontrol sosial dalam memenuhi kewajiban perpajakan Direktorat Peraturan Perpajakan II Hasil yang diharapkan .

Pajak Penghasilan Final 1% bagi Wajib Pajak dengan Peredaran Bruto Tertentu 2014 Dasar Hukum  Pasal 4 ayat (2) huruf e UU PPh : Atas penghasilan tertentu lainnya dapat dikenai PPh yang bersifat final yang diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Pemerintah. Direktorat Peraturan Perpajakan II 131 . • Penentuan tarif pajak tersendiri tersebut didasarkan atas pertimbangan kesederhanaan. keadilan. • Tarif tersebut tidak boleh melebihi tarif tertinggi PPh Orang Pribadi (30%).  Pasal 17 ayat (7) UU PPh : • Dengan Peraturan Pemerintah dapat ditetapkan tarif pajak tersendiri atas penghasilan tertentu yang pajaknya bersifat final. dan perluasan partisipasi dalam pembayaran pajak.

 Tidak termasuk Penghasilan dari usaha adalah penghasilan dari jasa sehubungan dengan pekerjaan bebas.2014 Pajak Penghasilan Final 1% bagi Wajib Pajak dengan Peredaran Bruto Tertentu Objek Pajak  Penghasilan dari usaha yang diterima atau diperoleh wajib pajak dengan peredaran bruto tidak melebihi Rp4. 132 Direktorat Peraturan Perpajakan II . termasuk dari usaha cabang.8 miliar dalam 1 tahun.  Peredaran bruto merupakan peredaran bruto dari usaha.

yang menerima penghasilan dari usaha dengan peredaran bruto tidak melebihi Rp4. pengajar. dan penerjemah. Direktorat Peraturan Perpajakan II 133 . kru film. notaris/PPAT. arsitek. pengacara. agen asuransi. konsultan. pelawak. foto model. petugas penjaja barang dagangan. perantara. f. penyuluh. distributor perusahaan pemasaran berjenjang (multilevel marketing) atau penjualan langsung (direct selling) dan kegiatan sejenis lainnya. dan k. d. sutradara. pemain drama. Subjek Pajak  Orang pribadi  Badan. dan penari. pelatih. e. g. h. pengawas atau pengelola proyek. bintang iklan. pembawa acara. penasihat. dan aktuaris. akuntan. peneliti. i. c. penceramah. penilai. tidak termasuk BUT. dan moderator. peragawan/peragawati. pengarang. bintang film. pemain musik. bintang sinetron. j. penyanyi. agen iklan. olahragawan. b.8 miliar dalam 1 (satu) Tahun Pajak. dokter.Pajak Penghasilan Final 1% bagi Wajib Pajak dengan Peredaran Bruto Tertentu 2014 Jasa Sehubungan dengan Pekerjaan Bebas a.

8 miliar.8 miliar dalam 1 tahun dikenai PPh final dengan tarif sebesar 1% (satu persen) dari jumlah peredaran bruto setiap bulan dari setiap tempat usaha  Pajak Penghasilan terutang dihitung berdasarkan tarif 1% (satu persen) dikalikan dengan dasar pengenaan pajak. misalnya pedagang makanan keliling.2014 Pajak Penghasilan Final 1% bagi Wajib Pajak dengan Peredaran Bruto Tertentu Pengecualian Subjek Pajak  WP OP yang melakukan kegiatan usaha perdagangan dan/atau jasa yang dalam usahanya menggunakan sarana atau prasarana yang dapat dibongkar pasang. yaitu jumlah peredaran bruto setiap bulan dari setiap tempat usaha 134 Direktorat Peraturan Perpajakan II .  WP badan yang belum beroperasi secara komersial atau yang dalam jangka waktu 1 (satu) tahun setelah beroperasi secara komersial memperoleh peredaran bruto melebihi Rp4. dan sejenisnya. pedagang asongan. Tarif  Atas penghasilan dari usaha yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak dengan peredaran bruto tidak melebihi Rp4. baik yang menetap maupun tidak menetap dan menggunakan sebagian atau seluruh tempat untuk kepentingan umum yang tidak diperuntukkan bagi tempat usaha atau berjualan. warung tenda di trotoar.

Pajak Penghasilan Final 1% bagi Wajib Pajak dengan Peredaran Bruto Tertentu

2014

Saat Mulai Berlakunya PP

Dasar Penentuan Dikenakan PPh Final (1)
Pengenaan PPh didasarkan pada peredaran bruto dari usaha
dalam 1 (satu) tahun dari Tahun Pajak terakhir sebelum Tahun
Pajak yang bersangkutan yang tidak melebihi Rp4,8 Miliar.
2012
Omzet
perdagangan Rp4
miliar

2013

2014

2013
 dikenai PPh Umum
s.d sebelum berlaku
PP 46 Tahun 2013
 PPh final 1% Juli
2014
s.d. Des 2013
meskipun total
omzet tahun berjalan
misalnya Rp5 miliar

Jika omzet 2013
Rp5 miliar maka
tahun 2014
dikenai dengan
2015
Tarif Umum
Ketentuan UU PPh

Dalam hal pada tahun berjalan, peredaran bruto sudah melebihi Rp4,8 miliar,
tetap dikenai PPh final sampai dengan akhir Tahun Pajak dan tahun
berikutnya dikenai ketentuan PPh umum.

Direktorat Peraturan Perpajakan II

135

2014

Pajak Penghasilan Final 1% bagi Wajib Pajak dengan Peredaran Bruto Tertentu

Dasar Penentuan Untuk Dikenakan PPh Final (2)
 Wajib Pajak Orang Pribadi
 Peredaran bruto tahun terakhir (setahun atau disetahunkan,
dalam hal tahun terakhir meliputi kurang dari 12 bulan).
 Dalam hal WP baru terdaftar pada Tahun Pajak yang sama
sebelum PP ini berlaku  dasar Peredaran Bruto adalah:
akumulasi peredaran bruto dari bulan berdiri s.d. bulan
sebelum PP ini berlaku, yang disetahunkan.
 Dalam hal WP baru terdaftar setelah PP ini berlaku  dasar
peredaran bruto adalah: peredaran bruto bulan pertama
disetahunkan.
 Bagi Wajib Pajak badan yang baru beroperasi secara komersial
untuk pertama kali ditentukan berdasarkan peredaran bruto dari
usaha 1 (satu) Tahun Pajak setelah Tahun Pajak beroperasi
secara komersial. Untuk tahun selanjutnya, ditentukan
berdasarkan peredaran bruto Tahun Pajak sebelumnya.

Penghasilan yang Dikenai PPh Final
Tersendiri
 Penghasilan yang telah dikenai PPh dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan perpajakan tersendiri
(a.l. konstruksi), tidak dikenai PPh yang bersifat final
berdasarkan PP ini.
 Peredaran bruto usaha Wajib Pajak yang bersangkutan
dalam 1 (satu) tahun tidak melebihi Rp4,8 miliar tidak
dikenai PPh yang bersifat final berdasarkan PP ini,
tetapi mengikuti ketentuan peraturan perundangundangan perpajakan yang mengatur mengenai
pengenaan pajak atas penghasilan tersebut.

136

Direktorat Peraturan Perpajakan II

Pajak Penghasilan Final 1% bagi Wajib Pajak dengan Peredaran Bruto Tertentu

2014

Penghasilan dari Luar Negeri
Pajak yang dibayar atau terutang di luar negeri atas
penghasilan dari luar negeri yang diterima atau
diperoleh Wajib Pajak dapat dikreditkan terhadap Pajak
Penghasilan yang terutang berdasarkan ketentuan
Undang-Undang Pajak Penghasilan dan peraturan
pelaksanaannya.
(sesuai ketentuan Pasal 24 UU PPh dan aturan pelaksanaan yang mengatur
tentang Kredit Pajak Luar Negeri)

Kompensasi Rugi
Ketentuan kompensasi rugi adalah :
o berturut-turut sampai dengan 5 tahun.
o tahun dikenai PPh final 1% tetap menjadi bagian dari
periode 5 tahun tsb.
o kerugian pada tahun dikenai PPh final 1% tidak dapat
dikompensasikan pada tahun berikutnya.

Direktorat Peraturan Perpajakan II

137

2014

Pajak Penghasilan Final 1% bagi Wajib Pajak dengan Peredaran Bruto Tertentu

Dasar Penentuan Peredaran Bruto
Peredaran bruto yang tidak melebihi Rp4,8 Miliar dalam
1 (satu) Tahun Pajak ditentukan berdasarkan peredaran
bruto dari usaha seluruhnya, termasuk dari usaha
cabang, tidak termasuk peredaran bruto dari:
 Jasa sehubungan dengan pekerjaan bebas;
 penghasilan yang diterima atau diperoleh di luar
negeri;
 usaha yang atas penghasilannya telah dikenai Pajak
Penghasilan yang bersifat final dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan perpajakan
tersendiri; dan
 penghasilan yang dikecualikan sebagai objek pajak.

138

Direktorat Peraturan Perpajakan II

bukan PPh Pasal 25. Atas pembayaran tersebut dipotong PPh Pasal 23 kecuali pemilik bengkel menyerahkan SKB Potput yang telah dilegalisasi. dapat dibebaskan dari pemotongan dan/atau pemungutan PPh oleh pihak lain. yang berdasarkan ketentuan UU PPh wajib dilakukan pemotongan dan/atau pemungutan PPh yang tidak bersifat final.yang telah dilegalisasi Angsuran Masa  Setoran bulanan merupakan PPh Pasal 4 ayat (2). o Toko ATK menjual buku kepada sekolah negeri.Pajak Penghasilan Final 1% bagi Wajib Pajak dengan Peredaran Bruto Tertentu 2014 Pemotongan/Pemungutan PPh  Penghasilan dari usaha yang diterima atau diperoleh WP yang dikenai PPh bersifat final menurut PP ini. Bendahara sekolah memungut PPh Pasal 22 kecuali pemilik toko menyerahkan SKB Potput. tidak wajib PPh Pasal 25. maka atas penghasilan tersebut dikenai PPh sesuai dengan ketentuan umum. kecuali untuk penghasilan yang pengenaan pajaknya bersifat final. Direktorat Peraturan Perpajakan II 139 .  Jika ada penghasilan lain selain yang dikenai PPh Pasal 4 ayat (2) sesuai ketentuan PP ini.  Jika ada angsuran PPh Pasal 25 atau PPh yang dipotong/dipungut pihak lain boleh dikreditkan terhadap PPh terutang tahun pajak ybs.  Jika penghasilan semata-mata dikenai PPh final.  Pembebasan dari pemotongan dan/atau pemungutan PPh oleh pihak lain diberikan melalui Surat Keterangan Bebas dengan Tata Cara sebagaimana dimaksud PER-32/PJ/2013 Contoh: o Bengkel mobil menerima pembayaran atas jasa reparasi mobil.

03/2009. dan Wajib Pajak lainnya yang harus membuat laporan keuangan berkala. angsuran pajak diperlakukan seperti Wajib Pajak Baru sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25 ayat (7) huruf a UU PPh.  SSP berfungsi sekaligus sebagai SPT Masa PPh Pasal 4 ayat (2). BUMD. o Formulir SPT Tahunan menggunakan Form 1770 untuk Wajib Pajak orang pribadi dan 1771 untuk Wajib Pajak badan masih mengakomodasi 140 Direktorat Peraturan Perpajakan II .  Penyampaian Surat Pemberitahuan Masa Pajak Penghasilan paling lama 20 (dua puluh) hari setelah Masa Pajak berakhir. Wajib Pajak masuk bursa.d Desember 2013  SPT Tahunan : o Dilaporkan pada kelompok penghasilan yang dikenai pajak final dan/atau bersifat final.2014 Pajak Penghasilan Final 1% bagi Wajib Pajak dengan Peredaran Bruto Tertentu Angsuran Masa Angsuran pajak pada Tahun Pajak pertama Wajib Pajak tidak dikenai Pajak Penghasilan yang bersifat final:  bagi Wajib Pajak bank. Jika SSP telah divalidasi dengan NTPN dianggap telah lapor SPT Masa PPh Pasal 4 ayat (2). Kewajiban pelaporan ditiadakan untuk pelaporan Surat Pemberitahuan Masa Pajak Penghasilan masa pajak Juli s. BUMN. dan WP OPPT sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25 ayat (7) huruf b dan huruf c UU PPh. dan  bagi selain Wajib Pajak diatas. besaran angsuran pajak adalah sesuai dengan besarnya angsuran pajak sebagaimana diatur dalam PMK 255/PMK.03/2008 std PMK 208/PMK. Penyetoran dan Pelaporan  Penyetoran paling lama tanggal 15 (lima belas) bulan berikutnya setelah Masa Pajak berakhir.

Wajib Pajak datang ke ATM Bank/Pos Persepsi dan memilih menu pembayaran “PPh Final Bruto Tertentu”. Bukti Pembayaran adalah Struk ATM. 2. b.Pajak Penghasilan Final 1% bagi Wajib Pajak dengan Peredaran Bruto Tertentu 2014 Cara Pembayaran Pajak Wajib Pajak dapat melakukan Pembayaran Pajak melalui: 1. Direktorat Peraturan Perpajakan II 141 . Wajib Pajak datang ke Loket Bank/Pos Persepsi dengan membawa SSP yang telah diisi. Bukti Pembayaran adalah dokumen Bukti Penerimaan Negara (BPN). b. Loket Bank/Pos Persepsi a. Anjungan Tunai Mandiri (ATM) a.

00 = Rp730.000.00 + Rp400.000.000.000.000.000.000.00 Pasar C Rp400.000.000.d Desember 2013 sebesar Rp4.00 142 Direktorat Peraturan Perpajakan II .2014 Pajak Penghasilan Final 1% bagi Wajib Pajak dengan Peredaran Bruto Tertentu Penentuan Peredaran Bruto CV Andik memiliki usaha penjualan gerabah dan memiliki peredaran bruto: • Januari s.000.000.000.000.00 • Januari s.d Oktober 2014 sebesar Rp5.000.000.000.000.00 + Rp250.00 Pasar B Rp250.00 Peredaran bruto usaha perdagangan tekstil Rajesh sebagai dasar pengenaan Pajak Penghasilan yang bersifat final adalah sebesar: Dasar Pengenaan PPh Final= Rp80.000.000.00 2013 2015 2014 2013 2014 Penentuan Peredaran Bruto Rajesh Memiliki Tiga Toko Tekstil Pasar A Rp80.000.

dikenai pajak yang bersifat final sesuai ketentuan dalam Peraturan Pemerintah ini.000.00 (empat miliar delapan ratus juta rupiah).000. maka penghasilan yang diperoleh mulai pada bulan berlakunya Peraturan Pemerintah ini sampai dengan akhir tahun pajak bersangkutan (Juli s.000.00.00 Peredaran bruto usaha sebagai dasar pengenaan Pajak Penghasilan yang bersifat final adalah sebesar Rp3.000.00 Karena peredaran bruto disetahunkan untuk 3 (tiga) bulan tersebut tidak melebihi Rp4. X di Singapura sebesar Rp50.000.000.000.000. Desember 2013).000.000.00 Di dalamnya termasuk omset penjualan ke Mr.000.000.000.000.00 Penghasilan Sewa Apartemen di Singapura Rp100.000.000 IRINE (Pengusaha Butik Pakaian) Butik di Singapura Rp5.000.800.Pajak Penghasilan Final 1% bagi Wajib Pajak dengan Peredaran Bruto Tertentu 2014 Penentuan Peredaran Bruto Butik di Batam Rp3.d.00 Penghasilan yang diterima Irine dari sewa apartemen dan butik di Singapura. tidak diperhitungkan dalam menghitung batasan peredaran bruto untuk dapat dikenai PPh bersifat final Penentuan Peredaran Bruto Jumlah peredaran bruto selama 3 (tiga) bulan Rp150.00 x 12/3 = Rp600.00 1 April 2013 Terdaftar sebagai Wajib Pajak 30 Juni 2013 1 Juli 2013 Mulai Berlakunya PP 46 Tahun 2013 Peredaran bruto 3 (tiga) bulan yang disetahunkan adalah: Rp150.000. Direktorat Peraturan Perpajakan II 143 .000.000.

00 dalam hal WP tidak memiliki SKB Bendahara Pemerintah WP dibebaskan dari Pemungutan apabila memiliki SKB Kewajiban CV Abadi Mebelindo: menyetorkan PPh bersifat final sebesar Rp200. maka CV Abadi Mebelindo terlambat melakukan penyetoran dan dianggap menyampaikan SPT Masa PPh Pasal 4 ayat (2) tanggal 22 Agustus 2013.00= Rp300.000. maka penghasilan yang diperoleh di tahun 2014 dikenai Pajak Penghasilan yang bersifat final sesuai dengan Peraturan Pemerintah ini.2014 Pajak Penghasilan Final 1% bagi Wajib Pajak dengan Peredaran Bruto Tertentu Penentuan Peredaran Bruto Gatut Kaca terdaftar sebagai Wajib Pajak baru pada bulan November 2014. memperoleh peredaran bruto sebesar Rp15.000. Dalam hal SSP-nya telah mendapat validasi dengan NTPN.000. ABADI MEBELINDO Rekanan Pemerintah yang termasuk dalam kriteria WP yang dikenai PPh Final Juli 2013 Pembayaran senilai Rp20.00 paling lambat pada tanggal 15 Agustus 2013.00 (empat miliar delapan ratus juta rupiah).00 = Rp180. Pada bulan November 2014 tersebut.000.000.   dalam hal CV Abadi Mebelindo menyetorkan pada tanggal 22 Agustus 2013 dan SSP-nya telah mendapat validasi dengan NTPN.000.00 Karena penghasilan bulan November 2014 (bulan pertama mulai terdaftar sebagai Wajib Pajak) yang disetahunkan tidak melebihi Rp4.000. 144 Direktorat Peraturan Perpajakan II .00 Bendahara Pemerintah memungut PPh Pasal 22 sebesar 1.000.800.00 (lima belas juta rupiah). h6 Conto Pemotongan/Pemungutan oleh Pihak Lain Penyerahan Barang CV.000.000.000.5% x Rp20.000. dianggap telah menyampaikan SPT Masa PPh Pasal 4 ayat (2) tanggal 15 Agustus 2013.000.000. peredaran bruto November 2014 disetahunkan: 12/1 x Rp15.

kerugian tersebut dapat dikompensasikan dengan penghasilan pada Tahun Pajak 2011 sampai dengan Tahun Pajak 2015. Berdasarkan ketentuan UU PPh. 2012 2011 2014 2013 2015 Dikenai PPh Final dan mengalami kerugian 2010 Jangka Waktu Kompensasi Kerugian Rugi pada Tahun Pajak 2010 Kompensasi atas Kerugian Tahun 2010 tidak dapat dikompensasi di Tahun Pajak 2014 Kerugian dari penghasilan yang dikenai PPh Final pada Tahun Pajak 2014 tidak dapat dikompensasi ke Tahun Pajak berikutnya Kementerian Keuangan Republik Indonesia Direktorat Jenderal Pajak 2013 Cara Pembayaran Pajak Melalui ATM dalam Rangka Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 46 Tahun 2013 15 Direktorat Peraturan Perpajakan II 145 .Pajak Penghasilan Final 1% bagi Wajib Pajak dengan Peredaran Bruto Tertentu 2014 Kompensasi Rugi Wajib Pajak PT Pantang Menyerah mengalami kerugian pada Tahun Pajak 2010.

2014 Pajak Penghasilan Final 1% bagi Wajib Pajak dengan Peredaran Bruto Tertentu Cara Pembayaran Pajak Contoh Menu Pembayaran Pajak PPh Final dengan Peredaran Bruto Tertentu melalui ATM : 1. Pilih PAJAK 146 2. Pilih PPH FINAL BRUTO TERTENTU Direktorat Peraturan Perpajakan II . Pilih BAYAR / BELI 2. Pilih LAINNYA Cara Pembayaran Pajak Contoh Menu Pembayaran Pajak PPh Final dengan Peredaran Bruto Tertentu melalui ATM : 1.

Pajak Penghasilan Final 1% bagi Wajib Pajak dengan Peredaran Bruto Tertentu 2014 Cara Pembayaran Pajak Contoh Menu Pembayaran Pajak PPh Final dengan Peredaran Bruto Tertentu melalui ATM : 1. Masukkan Masa Pajak 4. Masukkan Pajak Terutang Direktorat Peraturan Perpajakan II 147 . Masukkan NPWP 2. Konfirmasi NPWP Cara Pembayaran Pajak Contoh Menu Pembayaran Pajak PPh Final dengan Peredaran Bruto Tertentu melalui ATM : 3.

Konfirmasi Pembayaran Cara Pembayaran Pajak Contoh Struk ATM Pembayaran Pajak PPh Final dengan Peredaran Bruto Tertentu : 148 Direktorat Peraturan Perpajakan II .2014 Pajak Penghasilan Final 1% bagi Wajib Pajak dengan Peredaran Bruto Tertentu Cara Pembayaran Pajak Contoh Menu Pembayaran Pajak PPh Final dengan Peredaran Bruto Tertentu melalui ATM: 2.

DIREKTORAT JENDERAL PAJAK LAMPIRAN XI SLIDE PRESENTASI II .

.

Pajak Penghasilan Final 1% bagi Wajib Pajak dengan Peredaran Bruto Tertentu 2014 Kementerian Keuangan Republik Indonesia Direktorat Jenderal Pajak Pelaporan SPT Tahunan Wajib Pajak Badan dan Orang Pribadi Kategori Wajib Pajak PP Nomor 46 Tahun 2013 PJ.091/KUP/S/005/2014-01 Agenda • Sekilas PP Nomor 46 Tahun 2013 • Studi Kasus • Cara Pengisian SPT Tahunan PPh Direktorat Peraturan Perpajakan II 151 .

152 Direktorat Peraturan Perpajakan II .2014 Pajak Penghasilan Final 1% bagi Wajib Pajak dengan Peredaran Bruto Tertentu Sekilas PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 46 TAHUN 2013 Objek Pajak  Penghasilan dari usaha yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak dengan peredaran bruto tidak melebihi Rp4.  Tidak termasuk Penghasilan dari usaha adalah penghasilan dari jasa sehubungan dengan pekerjaan bebas. termasuk dari usaha cabang.  Peredaran bruto merupakan peredaran bruto dari usaha.8 miliar dalam 1 tahun.

8 miliar.8 miliar dalam 1 (satu) Tahun Pajak.Pajak Penghasilan Final 1% bagi Wajib Pajak dengan Peredaran Bruto Tertentu 2014 Subjek Pajak Orang Pribadi Badan. misalnya pedagang makanan keliling.  WP Badan yang belum beroperasi secara komersial atau yang dalam jangka waktu 1 (satu) tahun setelah beroperasi secara komersial memperoleh peredaran bruto melebihi Rp4. sejenisnya. Direktorat Peraturan Perpajakan II 153 . baik yang menetap maupun tidak menetap dan menggunakan sebagian atau seluruh tempat untuk kepentingan umum yang tidak diperuntukkan bagi tempat usaha atau berjualan. yang menerima penghasilan dari usaha dengan peredaran bruto tidak melebihi Rp4. pedagang dan asongan. Pengecualian Subjek Pajak  WP OP yang melakukan kegiatan usaha perdagangan dan/atau jasa yang dalam usahanya menggunakan sarana atau prasarana yang dapat dibongkar pasang. warung tenda di trotoar. tidak termasuk BUT.

saat berlaku PP 46 Tahun 2013  PPh final 1% Juli s.8 miliar dalam 1 tahun dikenai PPh final dengan tarif sebesar 1% (satu persen) dari jumlah peredaran bruto setiap bulan dari setiap tempat usaha  Pajak Penghasilan terutang dihitung berdasarkan tarif 1% (satu persen) dikalikan dengan dasar pengenaan pajak. 154 Direktorat Peraturan Perpajakan II . penghasilan bruto sudah melebihi Rp4.d.8 miliar. tetap dikenai PPh final sampai dengan akhir Tahun Pajak dan tahun berikutnya dikenai ketentuan PPh umum.8 Miliar. yaitu jumlah peredaran bruto setiap bulan dari setiap tempat usaha PPh Terutang = 1% x Peredaran Bruto Setiap Bulan Dasar Penentuan Dikenakan PPh Final (1) Pengenaan PPh didasarkan pada peredaran bruto dari usaha dalam 1 (satu) tahun dari Tahun Pajak terakhir sebelum Tahun Pajak yang bersangkutan yang tidak melebihi Rp4.2014 Pajak Penghasilan Final 1% bagi Wajib Pajak dengan Peredaran Bruto Tertentu Tarif  Atas penghasilan dari usaha yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak dengan peredaran bruto tidak melebihi Rp4. Des 2013 meskipun total omzet tahun berjalan misalnya Rp5 miliar 2014 Jika omzet 2013 Rp5 miliar maka tahun 2014 dikenai dengan Tarif Umum Ketentuan UU PPh Dalam hal pada tahun berjalan. 2012 Omzet perdagangan Rp4 miliar 2013  dikenai PPh Umum s.d.

yang disetahunkan.  Dalam hal WP baru terdaftar pada Tahun Pajak yang sama sebelum PP ini berlaku  dasar Peredaran Bruto adalah: akumulasi peredaran bruto dari bulan berdiri s. bulan sebelum PP ini berlaku.8 miliar untuk dapat dikenai PPh final : penghasilan bruto tahun terakhir (setahun atau disetahunkan. dalam hal tahun terakhir meliputi kurang dari 12 bulan).d. Direktorat Peraturan Perpajakan II 155 .Pajak Penghasilan Final 1% bagi Wajib Pajak dengan Peredaran Bruto Tertentu 2014 Dasar Penentuan Dikenakan PPh Final (2) 2013 2014 2015 Dasar Penentuan Untuk Dikenakan PPh Final (3)  Dasar penghasilan bruto Rp4.  Dalam hal WP baru terdaftar setelah PP ini berlaku  dasar peredaran bruto adalah: penghasilan bruto bulan pertama disetahunkan.

8 miliar tidak dikenai PPh yang bersifat final berdasarkan PP ini. tetapi mengikuti ketentuan peraturan perundangundangan perpajakan yang mengatur mengenai pengenaan pajak atas penghasilan tersebut.l. 156 Direktorat Peraturan Perpajakan II . tidak dikenai PPh yang bersifat final berdasarkan PP ini.2014 Pajak Penghasilan Final 1% bagi Wajib Pajak dengan Peredaran Bruto Tertentu Dasar Penentuan Untuk Dikenakan PPh Final (4) Untuk Wajib Pajak Badan: Penentuan peredaran bruto untuk dikenakan Pajak Penghasilan yang bersifat final berdasarkan PP 46 Tahun 2013 bagi Wajib Pajak badan yang baru beroperasi secara komersial untuk pertama kali ditentukan berdasarkan peredaran bruto dari usaha 1 (satu) Tahun Pajak setelah Tahun Pajak beroperasi secara komersial.  Peredaran bruto usaha Wajib Pajak yang bersangkutan dalam 1 (satu) tahun tidak melebihi Rp4. konstruksi). Pengenaan Pajak Penghasilan yang bersifat final selanjutnya untuk Wajib Pajak yang bersangkutan ditentukan berdasarkan peredaran bruto Tahun Pajak sebelumnya. Penghasilan yang Dikenai PPh Final Tersendiri  Penghasilan yang telah dikenai PPh dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan tersendiri (a.

Direktorat Peraturan Perpajakan II 157 .  Ketentuan kompensasi rugi adalah : o berturut-turut sampai dengan 5 tahun. (sesuai ketentuan Pasal 24 UU PPh dan aturan pelaksanaan yang mengatur tentang Kredit Pajak Luar Negeri) Kompensasi Rugi  WP yang menyelenggarakan pembukuan dapat melakukan kompensasi kerugian dengan penghasilan yang tidak dikenai Pajak Penghasilan yang bersifat final. o kerugian pada tahun dikenai PPh final 1% tidak dapat dikompensasikan pada tahun berikutnya.Pajak Penghasilan Final 1% bagi Wajib Pajak dengan Peredaran Bruto Tertentu 2014 Penghasilan dari Luar Negeri Pajak yang dibayar atau terutang di luar negeri atas penghasilan dari luar negeri yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak dapat dikreditkan terhadap Pajak Penghasilan yang terutang berdasarkan ketentuan Undang-Undang Pajak Penghasilan dan peraturan pelaksanaannya. o tahun dikenai PPh final 1% tetap menjadi bagian dari periode 5 tahun tsb.

2014 Pajak Penghasilan Final 1% bagi Wajib Pajak dengan Peredaran Bruto Tertentu Skema Kompensasi Rugi 2012 2011 2014 2013 2015 Dikenai PPh Final dan mengalami kerugian 2010 Jangka Waktu Kompensasi Kerugian Rugi pada Tahun Pajak 2010 Kompensasi atas Kerugian Tahun 2010 tidak dapat dikompensasi di Tahun Pajak 2014 Kerugian dari penghasilan yang dikenai PPh Final pada Tahun Pajak 2014 tidak dapat dikompensasi ke Tahun Pajak berikutnya Pengisian SPT Tahunan PPh WP Badan terkait Aturan PP Nomor 46 Tahun 2013 158 Direktorat Peraturan Perpajakan II .

000) (675. Subulussalam. PT Murai Batu memiliki peredaran bruto pada tahun 2012 sebesar Rp.567.000) (3.000 Rp Rp (700. jelas.000.000) (5. 678.8-107.234. Laporan Laba Rugi PT MURAI BATU Laporan Laba/Rugi Periode 1 Jan s.000.000.000 + (25.125.000 (400.000.000.000.000.000) (15.375. 46 Tahun 2013. PT Murai Batu bergerak dalam bidang usaha perdagangan alat tulis kantor.000 Rp 1. dan ditandatangani sebagaimana telah ditentukan dalam peraturan perpajakan yang berlaku.000) + 2.000) 100.000. Data Wajib Pajak selengkapnya sebagai berikut : Nama Wajib Pajak NPWP Jenis Usaha Alamat : : : : PT Murai Batu 01.000) + 165.000 + (125. jelas.600. 31 Des 2013 Peredaran Usaha Harga Pokok Penjualan Saldo Awal Pembelian Tersedia Dijual Persediaan Akhir Harga Pokok Penjualan Laba Bruto Usaha Biaya Administrasi dan Umum Biaya Gaji Biaya Penyusutan Biaya Alat Tulis Kantor Biaya Perjalanan Dinas Biaya Bunga Biaya Sewa Gedung Biaya Telepon dan Listrik Total Biaya Laba Neto Usaha Pendapatan dan Biaya Lain Pendapatan Bunga Tabungan Pajak Bunga Tabungan Total Pendapatan dan Biaya Lain LABA NETO Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp 865.000.000.9. lengkap.000 Peringatan: Simulasi kasus ini hanya berlaku terbatas untuk contoh kasus yang telah disebutkan dan tidak menggugurkan kewajiban bagi Wajib Pajak untuk mengisi SPT-nya secara benar.000. dan ditandatangani sebagaimana telah ditentukan dalam peraturan perpajakan yang berlaku. lengkap.000) + 106. Direktorat Peraturan Perpajakan II 159 .000.000 sehingga memenuhi kriteria untuk dikenai PPh berdasarkan PP No.000 Rp Rp (59.000) (3.000) + (800.000 Perdagangan Jalan Harapan Indah No. Aceh Tenggara Peringatan: Simulasi kasus ini hanya berlaku terbatas untuk contoh kasus yang telah disebutkan dan tidak menggugurkan kewajiban bagi Wajib Pajak untuk mengisi SPT-nya secara benar.000.Pajak Penghasilan Final 1% bagi Wajib Pajak dengan Peredaran Bruto Tertentu 2014 Deskripsi Wajib Pajak PT Murai Batu berdiri sejak Januari 2011 dan telah terdaftar sebagai Wajib Pajak pada KPP Pratama Subulussalam.600.000.000) (2.d.000.500.000) + Rp 107.000) (5.

000.000.000.000.000 40.000 Peringatan: Simulasi kasus ini hanya berlaku terbatas untuk contoh kasus yang telah disebutkan dan tidak menggugurkan kewajiban bagi Wajib Pajak untuk mengisi SPT-nya secara benar.500.654.456. Rp.000 Rp 405. lengkap.000. Rp.000. 51.000 Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp PPh (1 %) 950.000.000 Pengadaan Barang Rp.000 (46.000 PPh Final sesuai PP 46 Masa Pajak Juli Agustus September Oktober Nopember Desember Jumlah Peredaran Bruto Rp 95. lengkap.000) 55. Rp.600.000.000. Rp.000.000 80.000 80.000 2 Juli 2013 PPh Pasal 4 ayat (2) Tahun 2013 Pemotong/Pemungut NPWP Pemotong/Pemungut Jenis Transaksi/Penghasilan DPP PPh Dipotong/ Dipungut : : : : : Bank X 21. PPh Pasal 22 Tahun 2013 Peredaran Bruto Januari – Desember 2013 Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober Nopember Desember Jumlah : : : : : : : : : : : : : Rp.000 700.000. jelas.600.000.000 800. Rp. 600.123. 2.125.000.000 50.000 EKUITAS Modal Laba Ditahan TahunTahun Sebelumnya Laba Tahun Berjalan Jumlah EKUITAS + Rp 500.000 95.000 865. Rp.000 Bunga Bank Rp.000.000.000. Rp.000 Rp (24.000 Rp 583. Rp.000 600.000.000 Rp 100.600.000 120.000.000 Total KEWAJIBAN dan EKUITAS Rp 683.000 60.000.000 + + Peringatan: Simulasi kasus ini hanya berlaku terbatas untuk contoh kasus yang telah disebutkan dan tidak menggugurkan kewajiban bagi Wajib Pajak untuk mengisi SPT-nya secara benar.000.000 180.000.000 500. 400.000 Rp 70.000 60.321.000 90.050.225.000.000. Rp.000 Rp.000.000.000 683.000 250.000) Rp. 160 Direktorat Peraturan Perpajakan II .000 628.000. 40.000 Laba/Rugi Fiskal Tahun Pajak sebelumnya Rugi Tahun Pajak : 2011 Laba Tahun Pajak : 2012 Rp.2014 Pajak Penghasilan Final 1% bagi Wajib Pajak dengan Peredaran Bruto Tertentu Neraca PT MURAI BATU NERACA Per 31 Desember 2013 AKTIVA KEWAJIBAN Aktiva Lancar Kas Bank Piutang Dagang Persediaan Jumlah Aset Lancar Rp Rp Rp Rp Rp 98.000 4.000 Rp 60.000 Rp.000 70. dan ditandatangani sebagaimana telah ditentukan dalam peraturan perpajakan yang berlaku. jelas.7-XXX.000 Aktiva Tetap Aktiva Tetap Akumulasi Penyusutan Jumlah Aset Tetap Total AKTIVA Rp Rp Rp Rp 101.600.000.375.000 500.000 Hutang Bank Jumlah KEWAJIBAN + + + Rp 100.225.000 50.000. Rp.000 100. 80.000 Pemotong/Pemungut NPWP Pemotong/Pemungut Jenis Transaksi/Penghasilan DPP PPh Dipotong/ Dipungut Tanggal Transaksi : : : : : : Bendahara Instansi X 00.000.000.000) Rp 107.000.000 Rp Rp 50.000 70.000 Rp 50.7-XXX. Rp. dan ditandatangani sebagaimana telah ditentukan dalam peraturan perpajakan yang berlaku. Rp. (75.

000 2.750. 30.000 Garis Lurus Rp.750.000 Mobil Jumlah Januari 2011 Rp.000 Rp.500 1.000.000 Rp.750.000.000.500.000.000.750.000 Rp.000 Rp. 250.000 Rp.000 Garis Lurus Rp. 500.000 Mesin Ketik Meja Kursi Januari 2011 Januari 2011 Rp. 7.000. 500.500.000 Rp.000 Garis Lurus Rp. 750. 750. 250.000 1.000. 1.000 Rp. 1.375.500.000.750. 125.500.000 Rp. 60.000 Garis Lurus Rp.000 2. lengkap.000 Peringatan: Simulasi kasus ini hanya berlaku terbatas untuk contoh kasus yang telah disebutkan dan tidak menggugurkan kewajiban bagi Wajib Pajak untuk mengisi SPT-nya secara benar.000 Rp. BAGAIMANA PENGISIAN CONTOH KASUS 1 KE SPT TAHUNAN PPh WP BADAN (FORMULIR 1771)? Direktorat Peraturan Perpajakan II 161 .000 Rp. 2.000 3.000. jelas.000 Garis Lurus Rp.Pajak Penghasilan Final 1% bagi Wajib Pajak dengan Peredaran Bruto Tertentu 2014 Rincian Biaya Biaya untuk periode Januari – Juni 2013 : Harga Pokok Penjualan Biaya Gaji Biaya Penyusutan Biaya Alat Tulis Kantor Biaya Perjalanan Dinas Biaya Bunga Biaya Sewa Gedung Biaya Telepon dan Listrik Jumlah Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp 380.000. 80.000 Rp. dan ditandatangani sebagaimana telah ditentukan dalam peraturan perpajakan yang berlaku. 375.000 Lemari Motor Januari 2011 Januari 2011 Rp.000 Rp. 875.000 Rp.000 Rp.500. 20.437. 15.000 Rp.500 Rincian Aset Tetap dan Biaya Penyusutan Harta Berwujud Bulan / Tahun Perolehan Harga Perolehan Akumulasi Penyusutan Awal Tahun 2013 Nilai Sisa Buku Fiskal Awal Tahun 2013 Metode Penyusutan Penyusutan Fiskal Tahun 2013 Komputer Januari 2011 Rp.000 7.000.000 Rp.000 Garis Lurus Rp.000.000 10. 1. 101. 3.000 Rp. 1. 1. 7.000.500. 14. 3.000 Rp. 70.687. 10.000 408.000.

Lampiran Khusus : 1) Lampiran Khusus 1A 2) Lampiran Khusus 2A 3) Lampiran Khusus 8A-2 B. Form Induk dan Lampiran : 1) Form 1771 – VI 2) Form 1771 – V 3) Form 1771 – IV 4) Form 1771 – III 5) Form 1771 – II 6) Form 1771 – I 7) Form 1771 – Induk LAMPIRAN KHUSUS : LAMPIRAN KHUSUS 1A LAMPIRAN KHUSUS 2A LAMPIRAN KHUSUS 8A-2 162 Direktorat Peraturan Perpajakan II .2014 Pajak Penghasilan Final 1% bagi Wajib Pajak dengan Peredaran Bruto Tertentu Pengisian SPT Contoh Kasus 1 Dalam Kasus 1 Formulir yang harus diisi oleh PT Murai Batu sebagai berikut : A.

Lemari dan Motor dimasukkan ke Kelompok 1 Peringatan: Simulasi kasus ini hanya berlaku terbatas untuk contoh kasus yang telah disebutkan dan tidak menggugurkan kewajiban bagi Wajib Pajak untuk mengisi SPT-nya secara benar. 51. Direktorat Peraturan Perpajakan II 163 . lengkap. jelas.000 Diambil dari penghitungan Netto Fiskal Form 1771-I Peringatan: Simulasi kasus ini hanya berlaku terbatas untuk contoh kasus yang telah disebutkan dan tidak menggugurkan kewajiban bagi Wajib Pajak untuk mengisi SPT-nya secara benar. Mesin Ketik.Pajak Penghasilan Final 1% bagi Wajib Pajak dengan Peredaran Bruto Tertentu 2014 1.000.000.000) Rp. jelas. 2. Pengisian Form Lampiran Khusus 2A: Laba/Rugi Fiskal Tahun Pajak sebelumnya Rugi Tahun Pajak : 2011 Laba Tahun Pajak : 2012 Rp. (75. Meja Kursi. Pengisian Form Lampiran Khusus 1A: Mobil dimasukkan ke bagian Kelompok 2 Komputer. dan ditandatangani sebagaimana telah ditentukan dalam peraturan perpajakan yang berlaku. dan ditandatangani sebagaimana telah ditentukan dalam peraturan perpajakan yang berlaku. lengkap.

dan ditandatangani sebagaimana telah ditentukan dalam peraturan perpajakan yang berlaku. 164 Direktorat Peraturan Perpajakan II .2014 Pajak Penghasilan Final 1% bagi Wajib Pajak dengan Peredaran Bruto Tertentu 3. lengkap. 3. Pengisian Form Lampiran Khusus 8A-2 (2/2): Transkrip Elemen dari Laporan Laba/Rugi diisi berdasarkan Laporan Laba/Rugi Wajib Pajak Peringatan: Simulasi kasus ini hanya berlaku terbatas untuk contoh kasus yang telah disebutkan dan tidak menggugurkan kewajiban bagi Wajib Pajak untuk mengisi SPT-nya secara benar. jelas. lengkap. Pengisian Form Lampiran Khusus 8A-2 (1/2): Transkrip Elemen dari Neraca diisi berdasarkan Neraca Wajib Pajak Peringatan: Simulasi kasus ini hanya berlaku terbatas untuk contoh kasus yang telah disebutkan dan tidak menggugurkan kewajiban bagi Wajib Pajak untuk mengisi SPT-nya secara benar. dan ditandatangani sebagaimana telah ditentukan dalam peraturan perpajakan yang berlaku. jelas.

Pajak Penghasilan Final 1% bagi Wajib Pajak dengan Peredaran Bruto Tertentu 2014 FORM INDUK DAN LAMPIRAN : FORM 1771 – VI FORM 1771 – V FORM 1771 – IV FORM 1771 – III FORM 1771 – II FORM 1771 – I FORM 1771 – INDUK Rekonsiliasi Fiskal dan Penghitungan PPh Terutang: Direktorat Peraturan Perpajakan II 165 .

166 Direktorat Peraturan Perpajakan II . lengkap. dan ditandatangani sebagaimana telah ditentukan dalam peraturan perpajakan yang berlaku. Pengisian Form 1771 – V : Diisi dengan Daftar Pemilik Modal di PT Murai Batu meliputi rincian Nama.000. Alamat. Alamat. Pengisian Form 1771 – VI : Diisi dengan Daftar Penyertaan Modal pada Perusahaan Afiliasi (dalam contoh kasus ini tidak ada) Diisi dengan Daftar Utang dari Pemegang Saham dan/atau Perusahaan Afiliasi (dalam contoh kasus ini tidak ada) Diisi dengan Daftar Piutang dari Pemegang Saham dan/atau Perusahaan Afiliasi (dalam contoh kasus ini tidak ada) Peringatan: Simulasi kasus ini hanya berlaku terbatas untuk contoh kasus yang telah disebutkan dan tidak menggugurkan kewajiban bagi Wajib Pajak untuk mengisi SPT-nya secara benar. lengkap. 2. dan ditandatangani sebagaimana telah ditentukan dalam peraturan perpajakan yang berlaku.2014 Pajak Penghasilan Final 1% bagi Wajib Pajak dengan Peredaran Bruto Tertentu 1. NPWP dan jabatan Peringatan: Simulasi kasus ini hanya berlaku terbatas untuk contoh kasus yang telah disebutkan dan tidak menggugurkan kewajiban bagi Wajib Pajak untuk mengisi SPT-nya secara benar. Berdasarkan neraca jumlah modal PT Murai Batu adalah 500. NPWP dan Jumlah Modal Disetor serta persentase kepemilikan modal. jelas. jelas.000 Diisi dengan Daftar Susunan Pengurus dan Komisaris meliputi Nama.

dan ditandatangani sebagaimana telah ditentukan dalam peraturan perpajakan yang berlaku. lengkap. Peringatan: Simulasi kasus ini hanya berlaku terbatas untuk contoh kasus yang telah disebutkan dan tidak menggugurkan kewajiban bagi Wajib Pajak untuk mengisi SPT-nya secara benar.Pajak Penghasilan Final 1% bagi Wajib Pajak dengan Peredaran Bruto Tertentu 2014 2. jelas. jelas.000. dan ditandatangani sebagaimana telah ditentukan dalam peraturan perpajakan yang berlaku. Pengisian Form 1771 – IV : Diisi dengan PPh Final atas Bunga Tabungan dengan tarif 20 % Diisi dengan Perhitungan Penghasilan Usaha Dengan Peredaran Bruto Tertentu sesuai dengan PP – 46 dengan tarif 1 %. Pengisian Form 1771 – V : Diisi dengan Daftar Pemilik Modal di PT Murai Batu meliputi rincian Nama. Alamat. lengkap.000 Diisi dengan Daftar Susunan Pengurus dan Komisaris meliputi Nama. Berdasarkan neraca jumlah modal PT Murai Batu adalah 500. Alamat. NPWP dan Jumlah Modal Disetor serta persentase kepemilikan modal. 3. Direktorat Peraturan Perpajakan II 167 . NPWP dan jabatan Peringatan: Simulasi kasus ini hanya berlaku terbatas untuk contoh kasus yang telah disebutkan dan tidak menggugurkan kewajiban bagi Wajib Pajak untuk mengisi SPT-nya secara benar.

Dipindahkan ke Form 1771-I Peringatan: Simulasi kasus ini hanya berlaku terbatas untuk contoh kasus yang telah disebutkan dan tidak menggugurkan kewajiban bagi Wajib Pajak untuk mengisi SPT-nya secara benar. dan ditandatangani sebagaimana telah ditentukan dalam peraturan perpajakan yang berlaku. lengkap. Pengisian Form 1771 – II : Diisi berdasarkan data rincian HPP dan Biaya di Laporan Laba/Rugi PT Murai Batu. 5. lengkap. dan ditandatangani sebagaimana telah ditentukan dalam peraturan perpajakan yang berlaku. 168 Direktorat Peraturan Perpajakan II .2014 Pajak Penghasilan Final 1% bagi Wajib Pajak dengan Peredaran Bruto Tertentu 4. jelas. jelas. Pengisian Form 1771 – III : Diisi dengan Kredit Pajak Dalam Negeri dalam kasus ini PPh Pasal 22 terkait Pengadaan Barang : Peringatan: Simulasi kasus ini hanya berlaku terbatas untuk contoh kasus yang telah disebutkan dan tidak menggugurkan kewajiban bagi Wajib Pajak untuk mengisi SPT-nya secara benar.

jelas.000 = 1.000. Penghasilan Neto dari Usaha Januari – Juni : 405. dan ditandatangani sebagaimana telah ditentukan dalam peraturan perpajakan yang berlaku.000 = 24.000. yaitu sebagai berikut : 1.500 = 54.000 – 400.037. 7. dan ditandatangani sebagaimana telah ditentukan dalam peraturan perpajakan yang berlaku.000 – 51.000.000 Dihitung dengan menggunakan Tarif PPh Pasal 31E ayat (1) Diisi dengan kredit pajak dalam Negeri (dari Form 1771-III) Peringatan: Simulasi kasus ini hanya berlaku terbatas untuk contoh kasus yang telah disebutkan dan tidak menggugurkan kewajiban bagi Wajib Pajak untuk mengisi SPT-nya secara benar.000. Penghasilan Neto Bunga Tabungan : 2.562.000 – 350.000.600.500 Total = 56. Pengisian Form 1771 – I : Diisi dengan peredaran usaha dari laporan Laba/Rugi Diisi dari Form 1771-II Diisi dengan pendapatan dari luar usaha (i. Pengisian Form 1771 – Induk (1/2) : Diisi dengan tahun pajak Diisi dengan identitas Wajib Pajak (PT Murai Batu) Diisi dengan status Pembukuan/Laporan Keuangan (dalam hal ini PT Murai Batu tidak diaudit) Diisi dari Form 1771-II Diisi dengan Laba/Rugi Fiskal Tahun Pajak sebelumnya : 75. lengkap. Peringatan: Simulasi kasus ini hanya berlaku terbatas untuk contoh kasus yang telah disebutkan dan tidak menggugurkan kewajiban bagi Wajib Pajak untuk mengisi SPT-nya secara benar. 2.Pajak Penghasilan Final 1% bagi Wajib Pajak dengan Peredaran Bruto Tertentu 2014 6. jelas. lengkap.437.e : dari Tabungan) pada Laporan Laba/Rugi Diisi dengan jumlah seluruh Penghasilan Neto atas Penghasilan yang dikenai PPh Final.000. Direktorat Peraturan Perpajakan II 169 .500 Dipindahkan ke Formulir 1771 Huruf A Angka 1.

Pengisian Form 1771 – Induk (2/2) : Diisi dengan perhitungan Angsuran PPh Pasal 25 Tahun Berjalan (DIKOSONGKAN KARENA MEKANISME PP 46) Diisi dengan PPh Final dan Penghasilan Tidak termasuk Objek Pajak (dari Formulir 1771-IV Diisi dengan chek list lampiran yang dilaporkan Diisi dengan Tanda Tangan dan Nama Pengurus/Kuasa Peringatan: Simulasi kasus ini hanya berlaku terbatas untuk contoh kasus yang telah disebutkan dan tidak menggugurkan kewajiban bagi Wajib Pajak untuk mengisi SPT-nya secara benar. jelas.2014 Pajak Penghasilan Final 1% bagi Wajib Pajak dengan Peredaran Bruto Tertentu 7. lengkap. dan ditandatangani sebagaimana telah ditentukan dalam peraturan perpajakan yang berlaku. Pengisian SPT Tahunan PPh WP Badan terkait Aturan PP Nomor 46 Tahun 2013 170 Direktorat Peraturan Perpajakan II .

d.000 Peringatan: Simulasi kasus ini hanya berlaku terbatas untuk contoh kasus yang telah disebutkan dan tidak menggugurkan kewajiban bagi Wajib Pajak untuk mengisi SPT-nya secara benar.000. 678.000.000 sehingga memenuhi kriteria untuk dikenai PPh berdasarkan PP No. Subulussalam.000) + 165.000) + 106.000.000) (5.500. lengkap.234.000) 100.000.000. jelas.000) (675.600.000.000.000 + (25.000. jelas.000 + (125. PT Murai Batu bergerak dalam bidang usaha perdagangan alat tulis kantor. Aceh Tenggara Perbedaan dengan Contoh Kasus 1 adalah pada contoh 2 PT Murai Batu tidak mengalami kerugian pada tahuntahun sebelumnya dan memiliki PPh Pasal 25 yang telah dibayar pada Masa Pajak 2013 Peringatan: Simulasi kasus ini hanya berlaku terbatas untuk contoh kasus yang telah disebutkan dan tidak menggugurkan kewajiban bagi Wajib Pajak untuk mengisi SPT-nya secara benar.000 Rp Rp (59.000) + (800. lengkap.000 Rp 1.000) + 2. dan ditandatangani sebagaimana telah ditentukan dalam peraturan perpajakan yang berlaku.000.000) + Rp 107.600.9. dan ditandatangani sebagaimana telah ditentukan dalam peraturan perpajakan yang berlaku.375.8-107.000.000 Perdagangan Jalan Harapan Indah No.000) (5.000.000. Direktorat Peraturan Perpajakan II 171 .Pajak Penghasilan Final 1% bagi Wajib Pajak dengan Peredaran Bruto Tertentu 2014 Deskripsi Wajib Pajak PT Murai Batu berdiri sejak Januari 2011 dan telah terdaftar sebagai Wajib Pajak pada KPP Pratama Subulussalam.000) (2.000. PT Murai Batu memiliki peredaran bruto pada tahun 2012 sebesar Rp.567. Laporan Laba Rugi PT MURAI BATU Laporan Laba/Rugi Periode 1 Jan s.000. 46 Tahun 2013.125.000 Rp Rp (700.000 (400.000.000) (3.000) (3. Data Wajib Pajak selengkapnya sebagai berikut : Nama Wajib Pajak NPWP Jenis Usaha Alamat : : : : PT Murai Batu 01. 31 Des 2013 Peredaran Usaha Harga Pokok Penjualan Saldo Awal Pembelian Tersedia Dijual Persediaan Akhir Harga Pokok Penjualan Laba Bruto Usaha Biaya Administrasi dan Umum Biaya Gaji Biaya Penyusutan Biaya Alat Tulis Kantor Biaya Perjalanan Dinas Biaya Bunga Biaya Sewa Gedung Biaya Telepon dan Listrik Total Biaya Laba Neto Usaha Pendapatan dan Biaya Lain Pendapatan Bunga Tabungan Pajak Bunga Tabungan Total Pendapatan dan Biaya Lain LABA NETO Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp 865.000) (15.

000 50.000 Hutang Bank Jumlah KEWAJIBAN + + + Rp 100.000.000.000 Rp 80.125. Rp.000 800.000 Rp. 172 Direktorat Peraturan Perpajakan II .000 700.000. 40.000 90. 600. dan ditandatangani sebagaimana telah ditentukan dalam peraturan perpajakan yang berlaku.000.000.654.000 350.000 Rp 235.000. Rp.7-XXX.000 200. lengkap.000 50.000) 55.000.000 Rp Rp 50.000 200. dan ditandatangani sebagaimana telah ditentukan dalam peraturan perpajakan yang berlaku.000 PPh Final sesuai PP 46 Peredaran Bruto 95.000.650.000.000 Pemotong/Pemungut NPWP Pemotong/Pemungut Jenis Transaksi/Penghasilan DPP PPh Dipotong/ Dipungut Tanggal Transaksi PPh Pasal 25 200. Rp. Rp.000. PPh Pasal 22 Tahun 2013 Peredaran Bruto Januari – Desember 2013 Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober Nopember Desember Jumlah : : : : : : : : : : : : : Rp.000 Rp 60. Rp.600.000.000 Rp 405.000 100.000 80.000 250.000 350.000 Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp PPh (1 %) 950.321.000 120.225.000 350. 80. Rp.000 180.000 Rp 107.000 500.000.000 Pengadaan Barang Rp. lengkap.600.000 Peringatan: Simulasi kasus ini hanya berlaku terbatas untuk contoh kasus yang telah disebutkan dan tidak menggugurkan kewajiban bagi Wajib Pajak untuk mengisi SPT-nya secara benar.000.000 60.000 Rp.375.7-XXX.000 600.000.2014 Pajak Penghasilan Final 1% bagi Wajib Pajak dengan Peredaran Bruto Tertentu Neraca PT MURAI BATU NERACA Per 31 Desember 2013 AKTIVA KEWAJIBAN Aktiva Lancar Kas Bank Piutang Dagang Persediaan Jumlah Aset Lancar Rp Rp Rp Rp Rp 357.000 2 Juli 2013 PPh Pasal 4 ayat (2) Tahun 2013 Pemotong/Pemungut NPWP Pemotong/Pemungut Jenis Transaksi/Penghasilan DPP PPh Dipotong/ Dipungut : : : : : Bank X 21.000 Masa Pajak Juli Agustus September Oktober Nopember Desember Jumlah PPh Pasal 25 Masa Pajak Januari 2013 Februari 2013 Maret 2013 April 2013 Mei 2013 Juni 2013 Jumlah : : : : : : Bendahara Instansi X 00.000.000. 2.000 Rp 100.050.000 + + Peringatan: Simulasi kasus ini hanya berlaku terbatas untuk contoh kasus yang telah disebutkan dan tidak menggugurkan kewajiban bagi Wajib Pajak untuk mengisi SPT-nya secara benar. Rp.000 4.000.000 (46. 400.600.600.000.000.000 Rp 842. Rp. Rp.000.123.000 EKUITAS Modal Laba Ditahan TahunTahun Sebelumnya Laba Tahun Berjalan Jumlah EKUITAS + Rp 500.000 40.500.000.225.000 500.000.000 Rp 50.000. Rp.000 865.000 Rp 70.000.000 1.000.000.000 887. jelas.000 60. jelas.000 70.000 Total KEWAJIBAN dan EKUITAS Rp 942.000. Rp.000 Bunga Bank Rp.456.000.000 942.000.000 95. Rp.000 Aktiva Tetap Aktiva Tetap Akumulasi Penyusutan Jumlah Aset Tetap Total AKTIVA Rp Rp Rp Rp 101.000 70.

dan ditandatangani sebagaimana telah ditentukan dalam peraturan perpajakan yang berlaku. 80.375. 750.000 Garis Lurus Rp.000.500.000 Rp.000 Rp.000.500. 875. 1.000 Mobil Jumlah Januari 2011 Rp. 60.000 Peringatan: Simulasi kasus ini hanya berlaku terbatas untuk contoh kasus yang telah disebutkan dan tidak menggugurkan kewajiban bagi Wajib Pajak untuk mengisi SPT-nya secara benar.000 Rp.000.000.750.000 2.000 Rp. 250. 7. 500.000 Rp.750. BAGAIMANA PENGISIAN CONTOH KASUS 2 KE SPT TAHUNAN PPh WP BADAN (FORMULIR 1771)? Direktorat Peraturan Perpajakan II 173 .000.000 Rp. 375.000 Rp.000 Rp.687.000.000. 20.000 Garis Lurus Rp. 14. jelas.000 Mesin Ketik Meja Kursi Januari 2011 Januari 2011 Rp.000 Rp.000 Rp.000 1.000 7.000 Garis Lurus Rp. 3. 7.750.000 Rp.000 Garis Lurus Rp.000 Rp.000 408.500.750.000.000. lengkap. 15. 1. 10.Pajak Penghasilan Final 1% bagi Wajib Pajak dengan Peredaran Bruto Tertentu 2014 Rincian Biaya Biaya untuk periode Januari – Juni 2013 : Harga Pokok Penjualan Biaya Gaji Biaya Penyusutan Biaya Alat Tulis Kantor Biaya Perjalanan Dinas Biaya Bunga Biaya Sewa Gedung Biaya Telepon dan Listrik Jumlah Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp 380.000 Garis Lurus Rp.000. 500. 70.000.000 Lemari Motor Januari 2011 Januari 2011 Rp. 30.000 Rp.000 Rp.000 Garis Lurus Rp.500 1.000 2.000.437.500.000. 250. 750. 3. 2.500. 1.000 3.000 Rp.000.000 Rp.000 10.000 Rp.500. 125. 1.000 Rp. 1. 101.750.500 Rincian Aset Tetap dan Biaya Penyusutan Harta Berwujud Bulan / Tahun Perolehan Harga Perolehan Akumulasi Penyusutan Awal Tahun 2013 Nilai Sisa Buku Fiskal Awal Tahun 2013 Metode Penyusutan Penyusutan Fiskal Tahun 2013 Komputer Januari 2011 Rp.

Lampiran Khusus : 1) Lampiran Khusus 1A 2) Lampiran Khusus 8A-2 B.2014 Pajak Penghasilan Final 1% bagi Wajib Pajak dengan Peredaran Bruto Tertentu Pengisian SPT Contoh Kasus 2 Dalam Kasus 2 Formulir yang harus diisi oleh PT Murai Batu sebagai berikut : A. Form Induk dan Lampiran : 1) Form 1771 – VI Pada contoh kasus 2) Form 1771 – V 2 tidak perlu 3) Form 1771 – IV mengisi Lampiran 4) Form 1771 – III Khusus 2 A karena PT Murai Batu 5) Form 1771 – II tidak mengalami 6) Form 1771 – I kerugian fiskal 7) Form 1771 – Induk LAMPIRAN KHUSUS : LAMPIRAN KHUSUS 1A LAMPIRAN KHUSUS 8A-2 174 Direktorat Peraturan Perpajakan II .

Lemari dan Motor dimasukkan ke Kelompok 1 Peringatan: Simulasi kasus ini hanya berlaku terbatas untuk contoh kasus yang telah disebutkan dan tidak menggugurkan kewajiban bagi Wajib Pajak untuk mengisi SPT-nya secara benar. 2.Pajak Penghasilan Final 1% bagi Wajib Pajak dengan Peredaran Bruto Tertentu 2014 1. lengkap. Mesin Ketik. jelas. jelas. Pengisian Form Lampiran Khusus 1A: Mobil dimasukkan ke bagian Kelompok 2 Komputer. Meja Kursi. Pengisian Form Lampiran Khusus 8A-2 (1/2): Transkrip Elemen dari Neraca diisi berdasarkan Neraca Wajib Pajak Peringatan: Simulasi kasus ini hanya berlaku terbatas untuk contoh kasus yang telah disebutkan dan tidak menggugurkan kewajiban bagi Wajib Pajak untuk mengisi SPT-nya secara benar. dan ditandatangani sebagaimana telah ditentukan dalam peraturan perpajakan yang berlaku. lengkap. dan ditandatangani sebagaimana telah ditentukan dalam peraturan perpajakan yang berlaku. Direktorat Peraturan Perpajakan II 175 .

lengkap. FORM INDUK DAN LAMPIRAN : FORM 1771 – VI FORM 1771 – V FORM 1771 – IV FORM 1771 – III FORM 1771 – II FORM 1771 – I FORM 1771 – INDUK 176 Direktorat Peraturan Perpajakan II . Pengisian Form Lampiran Khusus 8A-2 (2/2): Transkrip Elemen dari Laporan Laba/Rugi diisi berdasarkan Laporan Laba/Rugi Wajib Pajak Peringatan: Simulasi kasus ini hanya berlaku terbatas untuk contoh kasus yang telah disebutkan dan tidak menggugurkan kewajiban bagi Wajib Pajak untuk mengisi SPT-nya secara benar. dan ditandatangani sebagaimana telah ditentukan dalam peraturan perpajakan yang berlaku.2014 Pajak Penghasilan Final 1% bagi Wajib Pajak dengan Peredaran Bruto Tertentu 2. jelas.

Direktorat Peraturan Perpajakan II 177 . Pengisian Form 1771 – VI : Diisi dengan Daftar Penyertaan Modal pada Perusahaan Afiliasi (dalam contoh kasus ini tidak ada) Diisi dengan Daftar Utang dari Pemegang Saham dan/atau Perusahaan Afiliasi (dalam contoh kasus ini tidak ada) Diisi dengan Daftar Piutang dari Pemegang Saham dan/atau Perusahaan Afiliasi (dalam contoh kasus ini tidak ada) Peringatan: Simulasi kasus ini hanya berlaku terbatas untuk contoh kasus yang telah disebutkan dan tidak menggugurkan kewajiban bagi Wajib Pajak untuk mengisi SPT-nya secara benar. jelas. lengkap. dan ditandatangani sebagaimana telah ditentukan dalam peraturan perpajakan yang berlaku.Pajak Penghasilan Final 1% bagi Wajib Pajak dengan Peredaran Bruto Tertentu 2014 Rekonsiliasi Fiskal dan Penghitungan PPh Terutang: 1.

Berdasarkan neraca jumlah modal PT Murai Batu adalah 500. 3.000. Alamat. Pengisian Form 1771 – V : Diisi dengan Daftar Pemilik Modal di PT Murai Batu meliputi rincian Nama. jelas. Pengisian Form 1771 – IV : Diisi dengan PPh Final atas Bunga Tabungan dengan tarif 20 % Diisi dengan Perhitungan Penghasilan Usaha Dengan Peredaran Bruto Tertentu sesuai dengan PP – 46 dengan tarif 1 %.000 Diisi dengan Daftar Susunan Pengurus dan Komisaris meliputi Nama. 178 Direktorat Peraturan Perpajakan II . lengkap. jelas. NPWP dan jabatan Peringatan: Simulasi kasus ini hanya berlaku terbatas untuk contoh kasus yang telah disebutkan dan tidak menggugurkan kewajiban bagi Wajib Pajak untuk mengisi SPT-nya secara benar.2014 Pajak Penghasilan Final 1% bagi Wajib Pajak dengan Peredaran Bruto Tertentu 2. Alamat. lengkap. dan ditandatangani sebagaimana telah ditentukan dalam peraturan perpajakan yang berlaku. Peringatan: Simulasi kasus ini hanya berlaku terbatas untuk contoh kasus yang telah disebutkan dan tidak menggugurkan kewajiban bagi Wajib Pajak untuk mengisi SPT-nya secara benar. dan ditandatangani sebagaimana telah ditentukan dalam peraturan perpajakan yang berlaku. NPWP dan Jumlah Modal Disetor serta persentase kepemilikan modal.

Direktorat Peraturan Perpajakan II 179 . dan ditandatangani sebagaimana telah ditentukan dalam peraturan perpajakan yang berlaku. jelas. lengkap. Pengisian Form 1771 – III : Diisi dengan Kredit Pajak Dalam Negeri dalam kasus ini PPh Pasal 22 terkait Pengadaan Barang : Peringatan: Simulasi kasus ini hanya berlaku terbatas untuk contoh kasus yang telah disebutkan dan tidak menggugurkan kewajiban bagi Wajib Pajak untuk mengisi SPT-nya secara benar. Dipindahkan ke Form 1771-I Peringatan: Simulasi kasus ini hanya berlaku terbatas untuk contoh kasus yang telah disebutkan dan tidak menggugurkan kewajiban bagi Wajib Pajak untuk mengisi SPT-nya secara benar. 5. jelas. dan ditandatangani sebagaimana telah ditentukan dalam peraturan perpajakan yang berlaku.Pajak Penghasilan Final 1% bagi Wajib Pajak dengan Peredaran Bruto Tertentu 2014 4. Pengisian Form 1771 – II : Diisi berdasarkan data rincian HPP dan Biaya di Laporan Laba/Rugi PT Murai Batu. lengkap.

Pengisian Form 1771 – I : Diisi dengan peredaran usaha dari laporan Laba/Rugi Diisi dari Form 1771-II Diisi dengan pendapatan dari luar usaha (i.500 Total = 56.500 Dipindahkan ke Formulir 1771 Huruf A Angka 1.e : dari Tabungan) pada Laporan Laba/Rugi Diisi dengan jumlah seluruh Penghasilan Neto atas Penghasilan yang dikenai PPh Final.562.600. jelas.037. jelas.000 = 1.000.2014 Pajak Penghasilan Final 1% bagi Wajib Pajak dengan Peredaran Bruto Tertentu 6.000. pada contoh kasus 2. yaitu sebagai berikut : 1.000. dan ditandatangani sebagaimana telah ditentukan dalam peraturan perpajakan yang berlaku.437. Penghasilan Neto dari Usaha Januari – Juni : 405. 180 Direktorat Peraturan Perpajakan II . 2. 7. dan ditandatangani sebagaimana telah ditentukan dalam peraturan perpajakan yang berlaku.000 – 350. lengkap. Penghasilan Neto Bunga Tabungan : 2. ini dikosongkan karena tidak ada kerugian fiskal tahun sebelumnya Dihitung dengan menggunakan Tarif PPh Pasal 31E ayat (1) Diisi dengan kredit pajak dalam Negeri (dari Form 1771-III) Diisi dengan PPh Pasal 25 yang telah dibayar Peringatan: Simulasi kasus ini hanya berlaku terbatas untuk contoh kasus yang telah disebutkan dan tidak menggugurkan kewajiban bagi Wajib Pajak untuk mengisi SPT-nya secara benar. lengkap.000 – 400.500 = 54. Pengisian Form 1771 – Induk (1/2) : Diisi dengan tahun pajak Diisi dengan identitas Wajib Pajak (PT Murai Batu) Diisi dengan status Pembukuan/Laporan Keuangan (dalam hal ini PT Murai Batu tidak diaudit) Diisi dari Form 1771-II Berbeda dengan Contoh 1. Peringatan: Simulasi kasus ini hanya berlaku terbatas untuk contoh kasus yang telah disebutkan dan tidak menggugurkan kewajiban bagi Wajib Pajak untuk mengisi SPT-nya secara benar.

dan ditandatangani sebagaimana telah ditentukan dalam peraturan perpajakan yang berlaku. jelas. Pengisian SPT Tahunan PPh WP Orang Pribadi terkait Aturan PP Nomor 46 Tahun 2013 Direktorat Peraturan Perpajakan II 181 . lengkap.Pajak Penghasilan Final 1% bagi Wajib Pajak dengan Peredaran Bruto Tertentu 2014 7. Pengisian Form 1771 – Induk (2/2) : Diisi dengan perhitungan Angsuran PPh Pasal 25 Tahun Berjalan (DIKOSONGKAN KARENA MEKANISME PP 46) Diisi dengan PPh Final dan Penghasilan Tidak termasuk Objek Pajak (dari Formulir 1771-IV) Diisi dengan chek list lampiran yang dilaporkan Diisi dengan Tanda Tangan dan Nama Pengurus/Kuasa Peringatan: Simulasi kasus ini hanya berlaku terbatas untuk contoh kasus yang telah disebutkan dan tidak menggugurkan kewajiban bagi Wajib Pajak untuk mengisi SPT-nya secara benar.

6-615.000 11. jelas.000.000 271.000 20.000 Medika Total Peringatan: Simulasi kasus ini hanya berlaku terbatas untuk contoh kasus yang telah disebutkan dan tidak menggugurkan kewajiban bagi Wajib Pajak untuk mengisi SPT-nya secara benar.000 7 Juli 25.000 10 Oktober 23.000.000 21.000.000 158.000 11 November 22. dan ditandatangani sebagaimana telah ditentukan dalam peraturan perpajakan yang berlaku.000 14.000.000 25.750.000.000 20.000 11.000 8 Agustus 24.000 275.000.2014 Pajak Penghasilan Final 1% bagi Wajib Pajak dengan Peredaran Bruto Tertentu Deskripsi Studi Kasus A. Data-Data Selama tahun pajak 2013 penghasilan yang diterima adalah sebagai berikut: No.000 23.000 22.000.500.500.000. Deskripsi Studi Kasus B.000.000 14.250.000 14.000 26.900.000.000 2 Februari 24.000.000 25.750. dan ditandatangani sebagaimana telah ditentukan dalam peraturan perpajakan yang berlaku.000.000. Ahmad Rais telah mengajukan ijin menyampaikan surat pemberitahuan penggunaan Norma Penghitungan Penghasilan Neto untuk perhitungan PPh Tahun Pajak 2013 ke KPP Pratama Surabaya Rungkut. lengkap.000 22.500.000 13.000.000. penghasilan dari praktek dokter di klinik pribadinya yang berlokasi di Surabaya. 182 Direktorat Peraturan Perpajakan II .000 12.000 13.000 6 Juni 20. Informasi Umum Dokter Ahmad Rais seorang Wajib Pajak yang berprofesi sebagai dokter anak dengan status belum menikah bertempat tinggal di Surabaya dengan NPWP 05.250. Penghasilan yang diterima selama tahun 2013 diperoleh dari beberapa sumber yaitu penghasilan jasa dokter dari praktek di Rumah Sakit Medika Utama.000.000 4 April 21.000.000.000 5 Mei 25.000. Peringatan: Simulasi kasus ini hanya berlaku terbatas untuk contoh kasus yang telah disebutkan dan tidak menggugurkan kewajiban bagi Wajib Pajak untuk mengisi SPT-nya secara benar.000.000 12 Desember 25.321.150. dan penghasilan dari usaha apotek yang dimilikinya.500.000 23.000 12.616.000.000.000. Bulan Penghasilan jasa dokter di Rumah Sakit Penghasilan dari Jumlah praktek dokter di Peredaran klinik pribadinya Bruto Apotek 1 Januari 23.000 9 September 22.000 15.000.000 3 Maret 20.000 15.000 12.000 20.000. lengkap.000.250. jelas.000.000.000 24.000.

762.000.500.00.000 1.500. dan ditandatangani sebagaimana telah ditentukan dalam peraturan perpajakan yang berlaku.500 1.500. 1 2 3 4 5 6 Bulan Juli Agustus September Oktober November Desember Total PPh Pasal 4 ayat (2) yang bersifat final 220.625. jelas.500.650.000 1.500 240.500.000 1.500.000 15.000 600.000 1.000.000 1.000 1.000 1.800.000 1.500.000 1.000 Peringatan: Simulasi kasus ini hanya berlaku terbatas untuk contoh kasus yang telah disebutkan dan tidak menggugurkan kewajiban bagi Wajib Pajak untuk mengisi SPT-nya secara benar.500.000 1.500. Deskripsi Studi Kasus B.000 1.000 1.000 1.000 500.000 1. jelas. Bulan 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Total PPh Pasal 21 atas Penghasilan jasa dokter di Rumah Sakit Medika 575.000 16.000 PPh Pasal 25 1.Pajak Penghasilan Final 1% bagi Wajib Pajak dengan Peredaran Bruto Tertentu 2014 Deskripsi Studi Kasus B. Direktorat Peraturan Perpajakan II 183 .500 Peringatan: Simulasi kasus ini hanya berlaku terbatas untuk contoh kasus yang telah disebutkan dan tidak menggugurkan kewajiban bagi Wajib Pajak untuk mengisi SPT-nya secara benar. dan ditandatangani sebagaimana telah ditentukan dalam peraturan perpajakan yang berlaku.500 1.275.000 230.000 525.000 260.687.500. Sehingga sejak masa Juli 2013 atas usaha apotek tersebut termasuk dikenai Pajak Penghasilan yang bersifat final menurut Peraturan Pemerintah nomor 46 Tahun 2013.000 252. Data-Data Data pembayaran PPh yang dibayar sendiri dan PPh yang dipotong/dipungut oleh pihak lain sebagai berikut: No.875.000 1.000.000 1.450.402. lengkap. Data-Data Peredaran bruto atas usaha apotek selama tahun 2012 adalah sebesar Rp1.875.000 1.000.000. lengkap. Pajak Penghasilan yang dibayar adalah sebagai berikut: No.500.000 1.000 200.

500.755.250 Peringatan: Simulasi kasus ini hanya berlaku terbatas untuk contoh kasus yang telah disebutkan dan tidak menggugurkan kewajiban bagi Wajib Pajak untuk mengisi SPT-nya secara benar. lengkap. 103 A 3 Mobil 4 Tabungan di Bank Harapan Cabang Surabaya 5 Deposito di Bank Mulia Cabang Rungkut Nilai Perolehan (Rp) Tahun Perolehan 550.000 40.000. Pembahasan Studi Kasus Menghitung PPh yang terutang untuk tahun pajak 2013 No. jelas.  Daftar harta dan kewajiban  Daftar Harta Pada akhir Tahun 2013 Uraian Aset No 1 Rumah di Jalan Rungkut Madya 10 2 Tanah di Siwalankerto no. E.000 Prakt ik di klinik pribadi 45% x Rp158. 5% x 50.000 193. 123.000.000 b.500.250 PPh yang terutang 24.000 2 Penghasilan neto dari usaha Penghasilan usaha apot ik bulan Januari sampai dengan Juni 2013 39.750.255.300. dan ditandatangani sebagaimana telah ditentukan dalam peraturan perpajakan yang berlaku. Prakt ik di Rumah S akit Medika 45% x Rp275.000.000 2. 24.000. jelas. lengkap.000 71.505.755.000 2010 2009 175. A.000 16. Data-Data Data-data lain selama tahun 2013 sebagai berikut: membayar zakat melalui Badan Amil Zakat sebesar Rp16.000.000 2012 Peringatan: Simulasi kasus ini hanya berlaku terbatas untuk contoh kasus yang telah disebutkan dan tidak menggugurkan kewajiban bagi Wajib Pajak untuk mengisi SPT-nya secara benar. 15% x 143.000 (30% x Rp131.00.000 Zakat Jumlah Penghasilan net o set elah zakat 218.000 2005 2007 225. Jumlah Penghasilan Net o 234.000 PT KP (T K): W ajib Pajak sendiri 24.00) B.2014 Pajak Penghasilan Final 1% bagi Wajib Pajak dengan Peredaran Bruto Tertentu Deskripsi Studi Kasus B.000.000 21.300.563.000.063.555. dan ditandatangani sebagaimana telah ditentukan dalam peraturan perpajakan yang berlaku.000 b.000 Jumlah PTKP D.000.000. 184 Direktorat Peraturan Perpajakan II .000 Penghasilan net o dari usaha dan pekerjaan bebas 195.000.500.300.000 Penghasilan Kena Pajak PPh T erutang a.055.000 300. C. Jumlah (Rp) Uraian Penghitungan penghasilan neto 1 Penghasilan neto dari pekerjaan bebas: a.900.

555.00 Besarnya angsuran PPh Pasal 25 yang harus dibayar setiap masa pajak pada tahun 2014 setelah bulan disampaikannya SPT Tahunan adalah sebesar Rp 211.250.937.500.668.000. 21 Tahun Pajak 2013 Rp 234.937. BAGAIMANA PENGISIAN CONTOH KASUS 3 KE SPT TAHUNAN PPh WP OP (FORMULIR 1770)? Direktorat Peraturan Perpajakan II 185 .(-) Rp.000. lengkap.543.000. 2.000.00 Rp 15. 000.300.00 Rp 24.250.00 Rp 39.250.543.625.000.455.168.00  Kredit Pajak PPh Ps.00 15% x Rp104.000.250.000.Pajak Penghasilan Final 1% bagi Wajib Pajak dengan Peredaran Bruto Tertentu 2014 Pembahasan Studi Kasus Penghitungan angsuran PPh Pasal 25 untuk Tahun Pajak 2014:         Penghasilan Neto seluruhnya Penghasilan Neto Usaha Apotik Jumlah Pghsln Neto setelah pengurangan usaha apotek Zakat atas Penghasilan Jumlah Penghasilan Neto setelah pengurangan zakat PTKP TK/0 Penghasilan Kena Pajak PPh Terutang: 5% x Rp 50.00 Rp 15.000.500.00  Angsuran bulanan PPh Ps.000.00 -------------------------(+) Rp 18.00 : Rp 211. Peringatan: Simulasi kasus ini hanya berlaku terbatas untuk contoh kasus yang telah disebutkan dan tidak menggugurkan kewajiban bagi Wajib Pajak untuk mengisi SPT-nya secara benar.25 Tahun Pajak 2013: 1/12 x Rp2.455.00 Rp 16.255. dan ditandatangani sebagaimana telah ditentukan dalam peraturan perpajakan yang berlaku.00 -------------------------.00 (-) Rp 178.000.755.00 (-) Rp 195.00.00 (-) Rp 154.000. jelas.00 Rp 2.300.

000. 186 Direktorat Peraturan Perpajakan II . dan ditandatangani sebagaimana telah ditentukan dalam peraturan perpajakan yang berlaku.2014 Pajak Penghasilan Final 1% bagi Wajib Pajak dengan Peredaran Bruto Tertentu STEP 1 Isi Tahun Pajak .000 c 2007 2010 Peringatan: Simulasi kasus ini hanya berlaku terbatas untuk contoh kasus yang telah disebutkan dan tidak menggugurkan kewajiban bagi Wajib Pajak untuk mengisi SPT-nya secara benar.IV TAHUN PAJAK FORMULIR Masukkan Harta. jelas.000 3 Mobil 4 Tabungan di Bank Harapan Cabang Surabaya 40. jelas.……….060.009. lengkap.000 NOP: 65. dan Susunan Keluarga SPT TAHUNAN PPh WAJIB PAJAK ORANG PRIBADI • • • HARTA PADA AKHIR TAHUN KEWAJIBAN/UTANG PADA AKHIR TAHUN DAFTAR SUSUNAN ANGGOTA KELUARGA SEBELUM MENGISI BACALAH BUKU PETUNJUK PENGISIAN NPWP : 0 5 NAMA WAJIB PAJAK : A H M 3 2 A D • ISI DENGAN HURUF CETAK / DIKETIK DENGAN TINTA HITAM 1 R 6 1 6 A I S 6 6 1 • 2 0 BL x 0 1 0 0 TH 1 3 3 1 s.000.000 2012 b 225.32.IV KEMENTERIAN KEUANGAN RI DIREKTORAT JENDERAL PAJAK PERHATIAN • LAMPIRAN .0245.000.000.d NORMA BERI TANDA " X " DALAM 5 1 BL 2 1 TH 3 PEMBUKUAN (KOTAK PILIHAN) YANG SESUAI 0 BAGIAN A : HARTA PADA AKHIR TAHUN NO.000.000 - 6 7 8 9 10 dst JUMLAH BAGIAN A No a 1.000 NOP: 62.0 2 Tanah di Siwalankerto no.0123.000. ISI DENGAN HURUF CETAK / DIKETIK DENGAN TINTA HITAM : 0 5 NPWP IDENTITAS • SEBELUM MENGISI BACALAH BUKU PETUNJUK PENGISIAN TAHUN PAJAK FORMULIR 1770 Tahun Pajak • 6 BERI TANDA " X " DALAM (KOTAK PILIHAN) YANG SESUAI 0 0 0 6 1 5 R A I S Identitas Wajib Pajak KLU : 8 6 2 0 2 3 0 2 0 2 7 4 LAMPIRAN TERSENDIRI / - X TIDAK ADA Peringatan: Simulasi kasus ini hanya berlaku terbatas untuk contoh kasus yang telah disebutkan dan tidak menggugurkan kewajiban bagi Wajib Pajak untuk mengisi SPT-nya secara benar. 103 A 2007 300. Metode Pembukuan.007.000 2005 2 Tanah di Siwalankerto No.000.7 4 Tabungan di Bank Harapan Cabang Surabaya 5 Deposito di Bank Mulia Cabang Rungkut c b 2010 2009 2012 40.000. lengkap.070. dan ditandatangani sebagaimana telah ditentukan dalam peraturan perpajakan yang berlaku. 3842752. TELEPON/FAKSIMILI : 0 3 1 PERUBAHAN DATA : 6 1 6 2 0 1 3 0 1 1 3 BL s.d Periode Pembukuan 1 2 1 3 TH BL x NORMA TH PEMBUKUAN SPT PEMBETULAN KE . Kewajiban.033.000 2009 5 Deposito di Bank Mulia Cabang Rungkut 175.290.000.58. 103 A 300.000 - 175. STEP 2 1770 . dan Identitas Metode Pencatatan SPT TAHUNAN PPh WAJIB PAJAK ORANG PRIBADI MEMPUNYAI PENGHASILAN : USAHA/PEKERJAAN BEBAS YANG MENYELENGGARAKAN PEMBUKUAN • DARI NORMA PENGHITUNGAN PENGHASILAN NETO DARI ATAU LEBIH PEMBERI KERJA • YANGSATU DIKENAKAN PPh FINAL DAN/ATAU BERSIFAT FINAL • DARI PENGHASILAN LAIN • KEMENTERIAN KEUANGAN RI DIREKTORAT JENDERAL PAJAK PERHATIAN • 3 2 1 NAMA WAJIB PAJAK : A H M A D JENIS USAHA/PEKERJAAN BEBAS : D O K T E R NO.000.0 3 Mobil 225.000 JBA Harga Perolehan Tahun Perolehan 1 Rumah di Jalan Rungkut Madya 10 Uraian Aset 550.000 BPKB: L. JENIS HARTA (1) a TAHUN PEROLEHAN HARGA PEROLEHAN (Rupiah) (3) (4) (2) KETERANGAN (5) 1 Rumah di Jalan Rungkut Madya 10 2005 550.000.032.

PENGHA SILA N ISTRI DA RI SA TU PEMBERI KERJA - 16.000 1.625.II SPT TAHUNAN PPh WAJIB PAJAK ORANG PRIBADI DAFTAR PEMOTONGAN/PEMUNGUTAN PPh OLEH PIHAK LAIN.551.000 1.500 6 Desember 240. BANTUAN / SUMBANGAN / HIBAH 2.000 2 Agustus 200.331.551. PENGA LIHA N HA K A TA S TA NA H DA N/A TA U BA NGUNA N - - 8. d TH 2 1 3 TH PEM BUKUAN (KOTAK PILIHAN) YANG SESUAI 0 DASAR PENGENAAN PAJAK/PENGHASILAN BRUTO PPh TERUTANG (Rupiah) (3) (4) - - - - - - - - (2) 1.5-615.500 10 RS MEDIKA 02.402. PENY A LUR/DEA LER/A GEN PRODUK BBM 12.000 11/05//MS/2013 28 MEI 2013 PPH PASAL 21 1. BEASISWA - - 5.000 12 RS MEDIKA 02.331. HA DIA H UNDIA N 5.402. SEWA A TA S TA NA H DA N/A TA U BA NGUNA N - - 10. SURA T BERHA RGA NEGA RA 2. PENJUA LA N SA HA M DI BURSA EFEK 4. PERSEKUTUAN.d TH NORMA 3 1 2 1 BL 3 No TH PEMBUKUAN 0 DAFTAR PEMOTONGAN/PEMUNGUTAN PPh OLEH PIHAK LAIN.875.000 1.000 1.000 13/07//MS/2013 29 JULI 2013 PPH PASAL 21 1.762.5-615.000 07/11//MS/2013 28 NOVEMBER 2013 PPH PASAL 21 1.000 500.875.II LAMPIRAN . DWIGUNA.331.402.000 4 RS MEDIKA 02.000 9 RS MEDIKA 02.000 1.551.275.5-615.650.d.Pajak Penghasilan Final 1% bagi Wajib Pajak dengan Peredaran Bruto Tertentu 2014 STEP 3 Masukkan Peredaran Bruto Dari Usaha Dagang/Jasa dan PPh Pasal 4 (2) Final Yang Terhutang FORMULIR SPT • • • DIREKTORAT JENDERAL PAJAK • PER H ATI AN : TAHUNAN PPh W AJIB PAJAK ORANG PRIBADI PENGHASILAN YANG DIKENAKAN PAJAK FINAL DAN/ATAU BERSIFAT FINAL PENGHASILAN YANG TIDAK TERMASUK OBJEK PAJAK NAMA WAJIB PAJAK : 0 5 : A H PENGHASILAN YANG NO • M 3 2 A D • ISI DENGAN HURUF CETAK / DIKETIK DENGAN TINTA HITAM 1 R 6 1 6 A I S 6 6 1 5 0 1 BL x 0 1 3 s.5-615. WARISAN 3.000 04/03//MS/2013 28 MARET 2013 PPH PASAL 21 500.000 10/01//MS/2013 31 JANUARI 2013 PPH PASAL 21 575.000 7 RS MEDIKA 02.800. USA HA JA SA KONSTRUKSI - - 11.000 1. BUNGA DEPOSITO.000 525.687. jelas.331. KLAIM ASURANSI KESEHATAN.000 15/06//MS/2013 28 JUNI 2013 PPH PASAL 21 1. PENGHA SILA N DA RI TRA NSA KSI DERIV A TIF - 14. JUMLA H (1 s.III KEM ENTERIAN KEUANGAN RI - PPh Pasal 4 Ayat (2) Final 1 Juli 220. PPh YANG DIBAYAR / DIPOTONG DI LUAR NEGERI DAN PPh DITANGGUNG PEMERINTAH NAMA PEMOTONG/PEMUNGUT PAJAK (1) (2) NPWP PEMOTONG/PEMUNGUT PAJAK (3) BUKTI PEMOTONGAN/PEMUNGUTAN NOMOR Bulan (KOTAK PILIHAN) YANG SESUAI JENIS PAJAK : PPh PASAL 21/ 22/23/24/26/DTP *) JUMLAH PPh YANG DIPOTONG / DIPUNGUT (Rupiah) (7) TANGGAL (4) (5) (6) 1 RS MEDIKA 02.5-615.000 13/04//MS/2013 30 APRIL 2013 PPH PASAL 21 525.500 Total 140. BUNGA SIMPA NA N Y A NG DIBA Y A RKA N OLEH KOPERA SI KEPA DA A NGGOTA KOPERA SI - 13. PESA NGON. FIRMA.000 20/02//MS/2013 27 FEBRUARI 2013 PPH PASAL 21 600.5-615. KONGSI 4. PERKUMPULAN.331.331. TA BUNGA N.551.000 2 RS MEDIKA 02.762.500 PENGHASILAN YANG TIDAK TERMASUK OBJEK PAJAK NO SUMBER/JENIS PENGHASILAN PENGHASILAN BRUTO (Rupiah) (1) (2) (3) - 1.875.000 21/08//MS/2013 29 AGUSTUS 2013 PPH PASAL 21 1. DIV IDEN - 15. PENGHA SILA N LA IN Y A NG DIKENA KA N PA JA K FINA L DA N/A TA U BERSIFA T FINA L 17.000 600.000 05/09//MS/2013 30 SEPTEMBER 2013 PPH PASAL 21 1.650. lengkap.500 1.551.800. - - JBB PENGHASILAN ISTERI YANG DIKENAKAN PAJAK SECARA TERPISAH (Rupiah) - PENGHASILAN NETO ISTERI YANG DIKENAKAN PAJAK SECARA TERPISAH STEP 4 1770 .331.000 Pindahkan Jumlah Bagian A Kolom 7 ke Formulir 1770 Angka 15 Direktorat Peraturan Perpajakan II 187 .5-615.551.5-615. dan ditandatangani sebagaimana telah ditentukan dalam peraturan perpajakan yang berlaku.500 1.000 4 Oktober 260. BUNGA /DISKONTO OBLIGA SI 3.331. PPh YANG DIBAYAR/DIPOTONG DI LUAR NEGERI DAN PPh DITANGGUNG PEMERINTAH KEMENTERIAN KEUANGAN RI DIREKTORAT JENDERAL PAJAK PERHATIAN : • SEBELUM MENGISI BACALAH BUKU PETUNJUK PENGISIAN NPWP NAMA WAJIB PAJAK BAGIAN A : NO : 0 5 : A H M 3 2 A D • ISI DENGAN HURUF CETAK / DIKETIK DENGAN TINTA HITAM 1 R 6 1 6 A I S 6 6 1 • TAHUN PAJAK FORMULIR Masukkan Daftar Bukti Potong PPh Pasal 21/22/23/24/26/DTP 2 BERI TANDA " X " DALAM 0 0 1 BL x 5 0 1 0 1 3 s. DISKONTO SBI.331.5-615.500.000 15.551.5-615.551.000 13 14 a a 1 Januari 2 Februari 3 Maret 4 April 5 Mei 6 Juni 7 Juli 8 Agustus 9 September 10 Oktober 11 November 12 Desember PPh Pasal 21 atas Penghasilan di RS Medika Total 15 dst JUMLAH BAGIAN A JBA 575.III 1770 . BA NGUNA N Y A NG DITERIMA DA LA M RA NGKA BA NGUNA N GUNA SERA H - - 9.250. PENGHASILAN LAIN YANG TIDAK TERMASUK OBJEK PAJAK - JUMLAH BAGIAN B BAGIAN C : Peringatan: Simulasi kasus ini hanya berlaku terbatas untuk contoh kasus yang telah disebutkan dan tidak menggugurkan kewajiban bagi Wajib Pajak untuk mengisi SPT-nya secara benar.000 15. TUNJA NGA N HA RI TUA DA N TEBUSA N PENSIUN Y A NG DIBA Y A R SEKA LIGUS - - 6.000 20/10//MS/2013 30 OKTOBER 2013 PPH PASAL 21 1.875.000 3 September 230.000 6 RS MEDIKA 02.331.551. 16) BAGIAN B : 3 1 BL NORM A BERI TANDA " X " DALAM 0 1 - - Bulan N o DIKENAKAN PAJAK FINAL DAN/ATAU BERSIFAT FINAL JENIS PENGHASILAN (1) 0 PENGHASILAN ISTERI YANG DIKENAKAN PAJAK SECARA TERPISAH SEBELUM MENGISI BACALAH BUKU PETUNJUK PENGISIAN NPWP BAGIAN A : 2 TAHUN PAJAK LAMPIRAN . HONORA RIUM A TA S BEBA N A PBN / A PBD - - 7.000 3 RS MEDIKA 02.687.500 1. KECELAKAAN.275.000 8 RS MEDIKA 02. JIWA.331. BAGIAN LABA ANGGOTA PERSEROAN KOMANDITER TIDAK ATAS SAHAM.331.5-615.625.500.000 1.551. BEASISWA 6.000 5 RS MEDIKA 02.551.500 11 RS MEDIKA 02.000 1.5-615.551.000 5 November 252.000 12/12//MS/2013 30 DESEMBER 2013 PPH PASAL 21 1.

6. Halaman 2. Bagian B. 3) RUPIAH *) 1. JUMLAH PENGHASILAN NETO SETELAH PENGURANGAN ZAKAT /SUMBANGAN KEAGAMAAN YANG SIFATNYA WAJIB ( 5. PENGHASILAN NETO DALAM NEGERI LAINNYA [Diisi dari Formulir 1770 .d • 6 1 5 1 2 1 3 TH BL x NORMA ISI DENGAN HURUF CETAK / DIKETIK DENGAN TINTA HITAM R A TAHUN PAJAK FORMULIR Masukkan Penghasilan dari Usaha/Pekerjaan Bebas /Sehubungan Pekerjaan/Penghasilan Lainnya BERI TANDA " X " DALAM TH PEMBUKUAN Jumlah peredaran bruto dari usaha apotek sejak bulan Januari 2013 s/d Juni 2013 (KOTAK PILIHAN) YANG SESUAI 0 0 0 I S Jumlah peredaran bruto dari penghasilan jasa dokter di RS Medika sejak bulan Januari 2013 s/d Desember 2013 BAGIAN B: PENGHASILAN NETO DALAM NEGERI DARI USAHA DAN/ATAU PEKERJAAN BEBAS (BAGI WAJIB PAJAK YANG MENGGUNAKAN NORMA PENGHITUNGAN PENGHASILAN NETO ) NO..00 DAGANG 30% + 39. Bagian B. Kolom Penghasilan Neto (Lihat STEP-5) . Halaman 2.000 6 16. Kolom Penghasilan Neto (Lihat STEP-5) *) Pengisian kolom-kolom yang berisi nilai rupiah harus tanpa nilai desimal (contoh penulisan lihat buku petunjuk hal. dan ditandatangani sebagaimana telah ditentukan dalam peraturan perpajakan yang berlaku. Bagian C. dan D Pindahan Dari Lampiran – I. PENGHASILAN NETO [Diisi dari Formulir 1770 . jelas. 188 1 234.I Halaman 2 Jumlah Bagian C Kolom 5] ] 3.555.I 1770 . PENGHASILAN NETO LUAR NEGERI [Apabila memiliki penghasilan dari luar negeri agar diisi dari Lampiran Tersendiri.555.000. PENGHASILAN NETO DALAM NEGERI SEHUBUNGAN DENGAN PEKERJAAN 234.000. Kolom Jumlah Penghasilan Neto (Lihat STEP-5) Direktorat Peraturan Perpajakan II Pindahan Dari Lampiran – I. ZAKAT / SUMBANGAN KEAGAMAAN YANG BERSIFAT WAJIB 7.000 JBB Pindahkan Angka Ini ke STEP-6 234.055.900.300. Bagian D.I SPT TAHUNAN PPh WAJIB PAJAK ORANG PRIBADI PENGHITUNGAN PENGHASILAN NETO DALAM NEGERI YANG MENGGUNAKAN NORMA PENGHITUNGAN PENGHASILAN NETO KEMENTERIAN KEUANGAN RI DIREKTORAT JENDERAL PAJAK PERHATIAN : • • • PENGHASILAN NETO DALAM NEGERI SEHUBUNGAN DENGAN PEKERJAAN • PENGHASILAN DALAM NEGERI LAINNYA • SEBELUM MENGISI BACALAH BUKU PETUNJUK PENGISIAN NPWP : 0 5 NAMA WAJIB PAJAK : A H M A D 3 2 1 6 1 6 6 2 0 1 3 0 1 1 3 BL s.6) Peringatan: Simulasi kasus ini hanya berlaku terbatas untuk contoh kasus yang telah disebutkan dan tidak menggugurkan kewajiban bagi Wajib Pajak untuk mengisi SPT-nya secara benar.I Halaman 1 Jumlah Bagian A atau Formulir 1770 .500. PENGHASILAN NETO DALAM NEGERI DARI USAHA DAN/ATAU PEKERJAAN BEBAS A. C.00 JUMLAH BAGIAN B 45% 195.I Halaman 2 Jumlah Bagian D Kolom 3] 4. lihat buku petunjuk] 5.555. JENIS USAHA PEREDARAN USAHA (Rupiah) NORMA (%) PENGHASILAN NETO (Rupiah) (1) (2) (3) (4) (5) 1 131.000. Halaman 2.000 Pindahkan Jumlah Bagian B Kolom (5) ke Formulir 1770 Angka 1 STEP 6 Isi Penghasilan Neto Yang Diambil Dari Lampiran –I.000 7 218.255.000 2 [Diisi dari Formulir 1770 . Halaman 2.2014 Pajak Penghasilan Final 1% bagi Wajib Pajak dengan Peredaran Bruto Tertentu STEP 5 HALAMAN 2 LAMPIRAN . JUMLAH PENGHASILAN NETO (1 + 2 + 3 + 4) 3 - 4 - 5 ………………………………………………………………………………………………………………………….I Halaman 2 Jumlah Bagian B Kolom 5] 2.000 Jumlah peredaran bruto dari penghasilan praktek dokter di klinik pribadinya sejak bulan Januari 2013 s/d Desember 2013 2 INDUSTRI 3 JASA 4 PEKERJAAN BEBAS 5 USAHA LAINNYA 433. lengkap.000 Pindahan Dari Lampiran – I.

PENGEMBALIAN/PENGURANGAN PPh PASAL 24 YANG TELAH DIKREDITKAN 9 218.000 5 …………………………………………………………………………………………………………………………. PPh TERUTANG (TARIF PASAL 17 UU PPh X ANGKA 11) 12 13.I Halaman 2 Jumlah Bagian D Kolom 3] 4. ZAKAT / SUMBANGAN KEAGAMAAN YANG BERSIFAT WAJIB 7. lihat buku petunjuk] 5.000 10 24. PPh YANG HARUS DIBAYAR SENDIRI 16.438. PENGHASILAN NETO DALAM NEGERI DARI USAHA DAN/ATAU PEKERJAAN BEBAS A.250 13 14. STP PPh PASAL 25 (HANYA POKOK PAJAK) E. 24. Induk) dan PPh Terhutang (Bagian C.250 Peringatan: Simulasi kasus ini hanya berlaku terbatas untuk contoh kasus yang telah disebutkan dan tidak menggugurkan kewajiban bagi Wajib Pajak untuk mengisi SPT-nya secara benar.000 11 193. PENGHASILAN KENA PAJAK (9 -10) 12. dan ditandatangani sebagaimana telah ditentukan dalam peraturan perpajakan yang berlaku.063. DIKEMBALIKAN DENGAN SKPPKP PASAL 17 D (WP TERTENTU Pindahan dari formulir 1770-II. PENGHASILAN NETO DALAM NEGERI SEHUBUNGAN DENGAN PEKERJAAN B.000 7 218.I Halaman 2 Jumlah Bagian C Kolom 5] ] 3. JUMLAH PPh TERUTANG ( 12 + 13) Lakukan pengisian dengan mengikuti hasil perhitungan atau pengisian dari baris diatasnya. PPh K U R A N G/ L EB I H B A YA R PPh YANG KURANG DIBAYAR (PPh PASAL 29) X PPh YANG LEBIH DIBAYAR (PPh PASAL 28 A) 20.063.755. KREDIT PAJAK 15. PENGEMBALIAN/PENGURANGAN PPh PASAL 24 YANG TELAH DIKREDITKAN 13 14. FISKAL LUAR NEGERI 19. X DIRESTITUSIKAN b. PENGHASILAN NETO LUAR NEGERI - 4 [Apabila memiliki penghasilan dari luar negeri agar diisi dari Lampiran Tersendiri. JUMLAH PENGHASILAN NETO SETELAH PENGURANGAN ZAKAT /SUMBANGAN KEAGAMAAN YANG SIFATNYA WAJIB ( 5. Bagian Kolom 7 Lakukan perhitungan berupa pengurangan atau penjumlahan seperti biasa. JUMLAH PENGHASILAN NETO SETELAH KOMPENSASI KERUGIAN (7 .055.6) C.061. PPh YANG DIBAYAR / DIPOTONG DI LUAR NEGERI DAN PPh DITANGGUNG PEMERINTAH [Diisi dari formulir 1770 -II Jumlah Bagian A Kolom 7] a. PPh TERUTANG 1 8. KOMPENSASI KERUGIAN 6 16.555.250 15 15. PENGHASILAN NETO [Diisi dari Formulir 1770 .300.Pajak Penghasilan Final 1% bagi Wajib Pajak dengan Peredaran Bruto Tertentu 2014 STEP 7 Isi Penghasilan Kena Pajak (Bagian B. PPh YANG DIPOTONG / DIPUNGUT OLEH PIHAK LAIN. PPh TERUTANG (TARIF PASAL 17 UU PPh X ANGKA 11) 13. PPh PASAL 25 BULANAN b. PENGHASILAN TIDAK KENA PAJAK K/ TK/ 0 K/I/ PH/ HB/ 11. PPh YANG DIBAYAR SENDIRI a. PENGHASILAN NETO DALAM NEGERI LAINNYA 3 [Diisi dari Formulir 1770 . Induk) *) Pengisian kolom-kolom y ang berisi nilai rupiah harus tanpa nilai desimal (contoh penulisan lihat buku petunjuk hal. 3) RUPIAH *) 1.750) c.b mohon TGL (16-18) LUNAS 14 24. lihat dalam deskripsi studi kasus Asumsikan WP mengajukan restitusi atas SPT LB-nya Direktorat Peraturan Perpajakan II 189 . JUMLAH PPh TERUTANG ( 12 + 13) D. - 14 24.500. JUMLAH KREDIT PAJAK (17a+17b+17c) b.555.063. JUMLAH PENGHASILAN NETO (1 + 2 + 3 + 4) 234. PERMOHONAN : PPh Lebih Bayar pada 19.063. Untuk PPh Pasal 25.250 17a 16.000 16 8.055. PENGHASILAN KENA PAJAK 234. - 17b c.250 tgl a. x b.8) 10. PPh TERUTANG Isi Kredit Pajak(Bagian D. DIKEMBALIKAN DENGAN SKPPKP PASAL 17 C (WP PATUH) d. DIPERHITUNGKAN DENGAN UTANG PAJAK bln thn - 18 16.000 2 [Diisi dari Formulir 1770 . jelas.I Halaman 2 Jumlah Bagian B Kolom 5] 2. PPh YANG LEBIH DIPOTONG/DIPUNGUT (14-15) 17. a.500.I Halaman 1 Jumlah Bagian A atau Formulir 1770 .500.000 - 17c 18. Induk) 12. lengkap. 6.000 12 24.625. STEP 8 C.. Induk) dan PPh Kurang/Lebih Bayar (Bagian E.000 19 (8.000 - 8 9.

...... PERNYATAAN Dengan menyadari sepenuhnya akan segala akibatnya termasuk sanksi-sanksi sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku..... PERHITUNGAN WAJIB PAJAK ORANG PRIBADI PENGUSAHA TERTENTU c.2014 Pajak Penghasilan Final 1% bagi Wajib Pajak dengan Peredaran Bruto Tertentu STEP 9 F . LAMPIRAN SELAIN FORMULIR 1770 ................ DAFTAR JUMLAH PENGHASILAN DAN PEMBAYARAN PPh PASAL 25 (KHUSUS UNTUK ORANG PRIBADI PENGUSAHA TERTENTU) BUKTI PEMOTONGAN/PEMUNGUTAN OLEH PIHAK LAIN/DITANGGUNG PEMERINTAH DAN YANG DIBAYAR/DIPOTONG DI LUAR NEGERI k.. Induk).............. ...................... FOTOKOPI FORMULIR 1721-A1 DAN/ATAU 1721-A2 (4LEMBAR) l. PERHITUNGAN PPh TERUTANG BAGI WAJIB PAJAK KAWIN PISAH HARTA DAN/ATAU MEMPUNYAI NPWP SENDIRI PERHITUNGAN KOMPENSASI KERUGIAN FISKAL j......... x WAJIB PAJAK NAMA LENGKAP : A H M A D NPWP : 0 5 3 2 1 KUASA TANGGAL: 2 0 . x d...............................  LENGKAP........ b... 1/12 X JUMLAH PADA ANGKA 16 b............... f............ Induk)........... lengkap dan jelas. X PERHITUNGAN DALAM LAMPIRAN TERSENDIRI Perhitungan PPh Pasal 25 menggunakan lampiran tersendiri G...I SAMPAI DENGAN 1770 ..... SURAT KUASA KHUSUS (BILA DIKUASAKAN) g..... ANGSURAN PPh PASAL 25 TAHUN PAJAK BERIKUTNYA DIHITUNG SEBESAR 21 211.. Lampiran (Bagian G............... dan  JELAS 190 Direktorat Peraturan Perpajakan II .....0 3 ..... dan Bagian Identitas 21......... c.................. A N GSU R A N PPh PA SA L 25 T A H U N PA JA K B ER I K U T N YA Isi Perhitungan Angsuran PPh Pasal 25 (Bagian F........................ saya menyatakan bahwa apa yang telah saya beritahukan di atas beserta lampiran-lampirannya adalah benar.......... SSP LEMBAR KE-3 PPh PASAL 29 h.... x PERHITUNGAN ANGSURAN PPh PASAL 25 TAHUN PAJAK BERIKUTNYA ....2 0 1 4 R A I S 6 1 6 6 6 1 5 Check out kotak yang tersedia sesuai dengan dokumen yang dilampirkan TANDA TANGAN Isi dengan identitas Wajib Pajak dan tanda tangani 0 0 0 Isilah SPT Tahunan Anda dengan  BENAR....IV (BAIK YANG DIISI MAUPUN YANG TIDAK DIISI) HARUS DILAMPIRKAN PULA : x a.. e................ LABA RUGI / REKAPITULASI BULANAN PEREDARAN BRUTO DAN/ATAU PENGHASILAN LAIN DAN BIAYA i...937 DIHITUNG BERDASARKAN : a.. FOTOKOPI TANDA BUKTI PEMBAYARAN FISKAL LUAR NEGERI (TBPFLN) NERACA DAN LAP.......

Pajak Penghasilan Final 1% bagi Wajib Pajak dengan Peredaran Bruto Tertentu 2014 • Untuk keperluan penyuluhan. softcopy slide dapat dibagikan kepada wajib pajak hanya dalam bentuk . • Jika diperlukan.pdf (untuk menjaga isi dari materi dan menghindari penyalahgunaan) Direktorat Peraturan Perpajakan II 191 . bahan presentasi ini (slide) dapat dimodifikasi atau dikondisikan sesuai dengan keperluan seperti dengan menambah atau mengurangi slide yang ada.

.

DIREKTORAT JENDERAL PAJAK LAMPIRAN XII QUESTIONS AND ANSWERS .

.

Wajib Pajak badan yang belum beroperasi secara komersial. Memberikan kesempatan masyarakat untuk berkontribusi dalam penyelenggaraan negara.00 (empat miliar delapan ratus juta rupiah) dalam 1 (satu) Tahun Pajak. baik yang menetap maupun tidak menetap. Q2 Apa saja kriteria yang digunakan untuk menentukan Wajib Pajak termasuk dalam kriteria WP PP 46 Tahun 2013? Wajib Pajak yang dikenai Pajak Penghasilan berdasarkan PP 46 Tahun 2013 adalah Wajib Pajak orang pribadi atau Wajib Pajak badan tidak termasuk bentuk usaha tetap.000.800. tidak termasuk penghasilan dari jasa sehubungan dengan pekerjaan bebas.Pajak Penghasilan Final 1% bagi Wajib Pajak dengan Peredaran Bruto Tertentu Q1 2014 Mengapa diterbitkan PP 46 Tahun 2013 ini? Penerbitan PP 46 Tahun 2013 dimaksudkan untuk: 1. atau 2. Wajib Pajak orang pribadi yang dikecualikan adalah Wajib Pajak orang pribadi yang melakukan kegiatan usaha perdagangan dan/atau jasa yang dalam usahanya: 1. Wajib Pajak badan yang dalam jangka waktu 1 (satu) tahun setelah beroperasi secara komersial memperoleh peredaran bruto melebihi Rp4. Mengedukasi masyarakat untuk tertib administrasi. dengan peredaran bruto tidak melebihi Rp4.000. Mengedukasi masyarakat untuk transparansi. Direktorat Peraturan Perpajakan II 195 . yang menerima penghasilan dari usaha. menggunakan sebagian atau seluruh tempat untuk kepentingan umum yang tidak diperuntukkan bagi tempat usaha atau berjualan. Memberikan kemudahan dan penyederhanaan dalam pemungutan pajak.000. Wajib Pajak badan yang dikecualikan adalah: 1. menggunakan sarana atau prasarana yang dapat dibongkar pasang.00 (empat miliar delapan ratus juta rupiah). 3. 2. 4.800. dan 2.000.

maka peredaran bruto Wajib Pajak tersebut dikenakan PPh final berdasarkan PP 46 Tahun 2013 pada Tahun Pajak yang besangkutan. b. 196 Direktorat Peraturan Perpajakan II . 2. maka peredaran bruto pada bulan pertama diperolehnya penghasilan dari usaha disetahunkan.00 (empat miliar delapan ratus juta rupiah).00 (empat miliar delapan ratus juta rupiah). Dalam hal setelah disetahunkan peredaran bruto tidak melebihi Rp4. Pengenaan Pajak Penghasilan yang bersifat final selanjutnya untuk Wajib Pajak yang bersangkutan ditentukan berdasarkan peredaran bruto Tahun Pajak sebelumnya. dan 2.00 (empat miliar delapan ratus juta rupiah). Apabila peredaran bruto dalam suatu Tahun Pajak tersebut tidak melebihi Rp4. maka pada Tahun Pajak 2013 sejak 1 Juli 2013 Wajib Pajak tersebut dikenakan PPh final berdasarkan PP 46 Tahun 2013. baik yang menetap maupun tidak menetap.800. Contoh usaha sektor informal yaitu pedagang kaki lima (PKL). PP ini mengecualikan PKL yang didefinisikan oleh PP ini sebagai Wajib Pajak orang pribadi yang dalam usaha dagang/jasanya: 1. Wajib Pajak Orang Pribadi a.000.000. Apabila terdaftar di Tahun Pajak 2013 sebelum 1 Juli 2013. tenaga. Apabila terdaftar setelah 1 Juli 2013.800. berlaku ketentuan sebagai berikut: 1.2014 Q3 Pajak Penghasilan Final 1% bagi Wajib Pajak dengan Peredaran Bruto Tertentu Bagaimana tata cara penetapan/penentuan peredaran bruto Wajib Pajak dalam PP ini? Secara umum. maka jumlah peredaran bruto dari bulan saat Wajib Pajak terdaftar sampai dengan bulan Juni 2013 terlebih dahulu disetahunkan. maka Wajib Pajak dimaksud dikenai ketentuan PPh menurut PP ini pada Tahun Pajak berikutnya. yang bekerja dengan keterbatasan baik modal.000. Dalam hal setelah disetahunkan peredaran bruto tidak melebihi Rp4. Q4 Mengapa PP ini tidak berlaku bagi usaha sektor informal? Usaha sektor informal yaitu unit usaha kecil yang melakukan kegiatan produksi dan/atau distribusi barang dan jasa untuk menciptakan lapangan kerja dan penghasilan bagi mereka yang terlibat.000. menggunakan sebagian atau seluruh tempat untuk kepentingan umum yang tidak diperuntukkan bagi tempat usaha atau berjualan. fisik.800. Untuk itu. penetapan/penentuan Wajib Pajak PP 46 Tahun 2013 adalah berdasarkan jumlah peredaran bruto setahun yang dicatat atau dibukukan oleh Wajib Pajak. menggunakan sarana atau prasarana yang dapat dibongkar pasang.000. Wajib Pajak badan Penentuan peredaran bruto untuk dikenakan Pajak Penghasilan yang bersifat final berdasarkan PP 46 Tahun 2013 bagi Wajib Pajak badan yang baru beroperasi secara komersial untuk pertama kali ditentukan berdasarkan peredaran bruto dari usaha 1 (satu) Tahun Pajak setelah Tahun Pajak beroperasi secara komersial.000. Namun dalam hal Wajib Pajak baru terdaftar. maupun keahlian. Pada umumnya para PKL memiliki penghasilan yang masih di bawah Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP).

penghasilan dari usaha dan kegiatan. c. c. penghasilan dari praktek dokter. dividen. dan keuntungan penjualan harta atau hak yang tidak dipergunakan untuk usaha. seperti pembebasan utang dan hadiah. 3) penghasilan yang telah dikenai Pajak Penghasilan yang bersifat final dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan tersendiri. penghasilan lain-lain. b. sewa. 2) penghasilan yang diterima atau diperoleh di luar negeri. notaris. maka penghasilan dari penjualan tebu yang dilakukan perusahaan tersebut merupakan penghasilan dari usaha. penghasilan dari modal. yaitu penghasilan dari usaha. Dengan demikian penghasilan yang dikenai Pajak Penghasilan berdasarkan PP 46 Tahun 2013 adalah penghasilan yang diterima atau diperoleh dari kegiatan usaha.Pajak Penghasilan Final 1% bagi Wajib Pajak dengan Peredaran Bruto Tertentu Q5 2014 Apa pengertian dari usaha? Apa maksud dari dicantumkannya petikan Pasal 4 ayat (1) UU PPh di dalam Penjelasan Pasal 2 ayat (2) PP 46 Tahun 2013? Penjelasan Pasal 2 ayat (2) PP 46 Tahun 2013 adalah “Berdasarkan arah aliran tambahan kemampuan ekonomis kepada Wajib Pajak. honorarium. atau d di atas. pengacara. dan sebagainya. karena tidak dapat dikelompokkan dalam kelompok aliran penghasilan huruf a. Berdasarkan arah aliran tambahan kemampuan ekonomis kepada Wajib Pajak. Selama pabrik belum berproduksi. perusahaan tersebut melakukan penjualan tebu dari kebun miliknya. Dicantumkannya Penjelasan Pasal 2 ayat (2) PP 46 Tahun 2013 sebenarnya adalah sebagai jembatan untuk menjelaskan mengenai usaha. penghasilan dari pekerjaan dalam hubungan kerja dan pekerjaan bebas seperti gaji. yang berupa harta gerak ataupun harta tak gerak. royalti. penghasilan dapat dikelompokkan menjadi: a. akuntan. Contoh: Suatu perusahaan bergerak dalam bidang pengolahan industri gula. seperti bunga. dan d. kecuali: 1) penghasilan yang diterima atau diperoleh dari jasa sehubungan pekerjaan bebas sebagaimana dimaksud dalam PP 46 tahun 2013. aktuaris. Direktorat Peraturan Perpajakan II 197 . Sehingga bisa terlihat bahwa yang menjadi sasaran PP 46 Tahun 2013 ini adalah Poin b di atas. dan 4) penghasilan yang dikecualikan sebagai objek pajak.

b. dan/atau dagang dan industri. ketentuan pengenaan Pajak Penghasilan berdasarkan tarif umum Undang-Undang Pajak Penghasilan dimaksud berlaku sampai dengan akhir Tahun Pajak berikutnya setelah Tahun Pajak saat beroperasi secara komersial. Bagaimana penentuan saat beroperasi komersial bagi Wajib Pajak badan? c. Penentuan peredaran bruto untuk dikenakan Pajak Penghasilan yang bersifat final berdasarkan PP 46 Tahun 2013 bagi Wajib Pajak badan yang baru beroperasi secara komersial untuk pertama kali. Bagaimana penentuan peredaran bruto untuk dikenakan Pajak Penghasilan yang bersifat final berdasarkan PP 46 Tahun 2013 bagi Wajib Pajak badan yang baru beroperasi secara komersial? a. Wajib Pajak badan yang baru beroperasi secara komersial untuk pertama kali dikenai Pajak Penghasilan berdasarkan tarif umum UU PPh sampai dengan jangka waktu 1 (satu) tahun sejak beroperasi secara komersial. ditentukan berdasarkan peredaran bruto Tahun Pajak sebelumnya.2014 Pajak Penghasilan Final 1% bagi Wajib Pajak dengan Peredaran Bruto Tertentu Q6 a. Ketentuan “beroperasi secara komersial” hanya diperuntukkan bagi Wajib Pajak badan. jasa. Penentuan saat beroperasi komersial sebagaimana dimaksud dalam PP 46 Tahun 2013 bagi Wajib Pajak badan yang bergerak di sektor: 1) 2) c. Apakah ketentuan “beroperasi secara komersial” hanya berlaku untuk Wajib Pajak Badan? b. untuk Tahun Pajak selanjutnya. 198 Direktorat Peraturan Perpajakan II . Pengenaan Pajak Penghasilan yang bersifat final berdasarkan PP 46 Tahun 2013 bagi Wajib Pajak badan yang baru beroperasi komersial tersebut. ditentukan berdasarkan peredaran bruto dari usaha dalam 1 (satu) Tahun Pajak setelah Tahun Pajak beroperasi secara komersial. Hal ini untuk mengantisipasi kemungkinan timbulnya kerugian di awal usaha yang tidak dapat dikompensasikan dalam SPT Tahunan PPh Wajib Pajak. adalah saat pertama kali dilakukannya penjualan jasa dan/atau saat diterima atau diperolehnya pendapatan/penghasilan. adalah saat pertama kali dilakukannya penjualan barang dan/atau saat diterima atau diperolehnya pendapatan/penghasilan. Dalam hal jangka waktu 1 (satu) tahun sejak beroperasi secara komersial tersebut melewati Tahun Pajak saat beroperasi secara komersial.

2) Wajib Pajak badan dengan tahun buku sama dengan tahun takwim. Untuk pengenaan Pajak Penghasilan pada Tahun Pajak 2015 memperhatikan besarnya peredaran bruto Tahun Pajak 2014. Untuk pengenaan Pajak Penghasilan pada Tahun Pajak 2015 memperhatikan besarnya peredaran bruto Tahun Pajak 2014 Q7 Apakah jasa sehubungan dengan pekerjaan bebas bisa dilakukan oleh Badan atau hanya berlaku bagi Orang Pribadi sesuai definisi Pasal 1 Angka 24 UU KUP? Pasal 1 Angka 24 UU KUP: Pekerjaan bebas adalah pekerjaan yang dilakukan oleh orang pribadi yang mempunyai keahlian khusus sebagai usaha untuk memperoleh penghasilan yang tidak terikat oleh suatu hubungan kerja.Pajak Penghasilan Final 1% bagi Wajib Pajak dengan Peredaran Bruto Tertentu 2014 Contoh: 1) Wajib Pajak badan dengan tahun buku sama dengan tahun takwim. Karena baru beroperasi secara komersial. baru beroperasi secara komersial pada tanggal 1 Agustus 2013. pekerjaan bebas terbatas hanya untuk pekerjaan yang dilakukan oleh orang pribadi. 4) Wajib Pajak badan dengan tahun buku sama dengan tahun takwim. Karena baru beroperasi secara komersial. baru beroperasi secara komersial pada tanggal 1 Januari 2013. maka Wajib Pajak dikenai Pajak Penghasilan berdasarkan tarif umum UU PPh untuk Tahun Pajak 2013 (jangka waktu 1 (satu) tahun sejak beroperasi komersial 1 Januari 2013 sampai dengan 31 Desember 2013). Dengan demikian. maka Wajib Pajak dikenai Pajak Penghasilan berdasarkan tarif umum Undang-Undang Pajak Penghasilan untuk Tahun Pajak 2013 dan Tahun Pajak 2014 (jangka waktu 1 tahun sejak beroperasi komersial 1 Agustus 2013 sampai dengan 31 Juli 2014 dan diteruskan sampai dengan 31 Desember 2014). Karena baru beroperasi secara komersial. Karena baru beroperasi secara komersial. maka Wajib Pajak dikenai Pajak Penghasilan berdasarkan tarif umum UU PPh untuk Tahun Pajak 2013 dan Tahun Pajak 2014 (jangka waktu 1 tahun sejak beroperasi komersial 1 Juli 2013 sampai dengan 30 Juni 2014 dan diteruskan sampai dengan 31 Desember 2014). baru beroperasi secara komersial pada tanggal 1 Juli 2013. Untuk pengenaan Pajak Penghasilan pada Tahun Pajak 2015 memperhatikan besarnya peredaran bruto Tahun Pajak 2014. baru beroperasi secara komersial pada tanggal 2 Januari 2013. 3) Wajib Pajak badan dengan tahun buku sama dengan tahun takwim. maka Wajib Pajak dikenai Pajak Penghasilan berdasarkan tarif umum UU PPh untuk Tahun Pajak 2013 dan Tahun Pajak 2014 (jangka waktu 1 tahun sejak beroperasi komersial 2 Januari 2013 sampai dengan 1 Januari 2014 dan diteruskan sampai dengan 31 Desember 2014). Untuk pengenaan Pajak Penghasilan pada Tahun Pajak 2014 memperhatikan besarnya peredaran bruto Tahun Pajak 2013. Direktorat Peraturan Perpajakan II 199 .

2014 Pajak Penghasilan Final 1% bagi Wajib Pajak dengan Peredaran Bruto Tertentu Q8 Apa yang dimaksud dengan jasa sehubungan dengan pekerjaan bebas? Apa maksud dari frase “kegiatan sejenis lainnya”? Jenis jasa sehubungan dengan pekerjaan bebas sebagaimana dimaksud dalam PP 46 Tahun 2013. Namun.011/2013. Berdasarkan ketentuan tersebut. Selanjutnya. Wajib Pajak yang menerima penghasilan sehubungan dengan pekerjaan bebas tidak termasuk dalam kriteria Wajib Pajak yang memiliki peredaran bruto tertentu. UU KUP mendefinisikan pekerjaan bebas sebagai pekerjaan yang dilakukan oleh orang pribadi yang mempunyai keahlian khusus sebagai usaha untuk memperoleh penghasilan yang tidak terikat oleh suatu hubungan kerja. Dengan demikian. Ini untuk mengantisipasi jika nantinya terdapat kegiatan yang sejenis dengan MLM dan direct selling. maka peredaran bruto berdasarkan pembukuan. 200 Direktorat Peraturan Perpajakan II . atas Wajib Pajak berbentuk badan usaha yang melakukan usaha jasa konsultan tidak dikecualikan dari pengenaan PPh Final menurut PP 46 Tahun 2013. jika Wajib Pajak menyelenggarakan pencatatan. peredaran bruto disesuaikan dengan pencatatan/pembukuan yang diselenggarakan oleh Wajib Pajak. Frase “kegiatan sejenis lainnya” hanya mengacu ke Penjelasan Pasal 2 ayat (2) huruf k PP 46 Tahun 2013 dan Pasal 2 ayat (3) huruf k PMK-107/PMK. Q10 Apakah peredaran bruto yang menjadi Dasar Pengenaan Pajak didasarkan pada pembukuan atau berdasarkan penghasilan bruto yang telah diterima secara tunai? Pasal 28 ayat (5) UU Nomor 28 Tahun 2007: Pembukuan diselenggarakan dengan prinsip taat asas dan dengan stelsel akrual atau stelsel kas. Bagaimana perlakuan PPh bagi Wajib Pajak yang menjalankan usaha jasa konsultasi dengan bentuk usaha Firma? Q9 Berdasarkan ketentuan dalam PP 46 Tahun 2013. maka peredaran bruto dihitung berdasarkan cash basis (sesuai Pasal 4 ayat (1) PER4/PJ/2009). Pasal 4 ayat (1) PER-4/PJ/2009: Pencatatan peredaran dan/atau penerimaan bruto dan/atau penghasilan bruto oleh Wajib Pajak orang pribadi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 meliputi seluruh peredaran dan/atau penerimaan dan/atau penghasilan bruto yang telah diterima secara tunai. Jika Wajib Pajak menyelenggarakan pembukuan.

bagaimana perlakuan PPhnya? 1. Direktorat Peraturan Perpajakan II 201 . Q12 Apabila Wajib Pajak orang pribadi memperoleh penghasilan dari beberapa sumber. dan jumlah PPh final terutangnya wajib dilaporkan dalam Lampiran III SPT Tahunan PPh Wajib Pajak orang pribadi 1770 dalam kolom Penghasilan yang Telah Dikenakan PPh Final. dan dagang. 3. konsultan.Pajak Penghasilan Final 1% bagi Wajib Pajak dengan Peredaran Bruto Tertentu Q11 2014 Apakah Wajib Pajak yang masuk dalam kriteria PP 46 Tahun 2013 (Wajib Pajak yang memiliki Peredaran Bruto Tertentu atau Wajib Pajak PBT) ini tetap diwajibkan melakukan pembukuan? PP 46 Tahun 2013 hanya mengatur mengenai pengenaan PPh yang bersifat final bagi Wajib Pajak yang memiliki peredaran bruto tertentu dari usaha. sehingga kewajiban pembukuan tetap ada sesuai dengan ketentuan umum di Pasal 28 Undang-Undang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (UU KUP). seperti pekerjaan sebagai karyawan. dikenakan tarif sebesar 1% dari peredaran bruto setiap bulan. Q13 Apakah penghasilan dari usaha dagang pada soal Q12 yang dikenai PP 46 Tahun 2013 tidak digabung dalam penghitungan Penghasilan Kena Pajak Wajib Pajak? Tidak. jumlah peredaran bruto dari usaha dagang tersebut selama 1 (satu) Tahun Pajak. Penghasilan dari usaha dagang yang telah dikenai Pajak Penghasilan final berdasarkan PP 46 Tahun 2013 tidak digabung dalam penghitungan Penghasilan Kena Pajak untuk menghitung PPh Terutang Wajib Pajak pada akhir Tahun Pajak. Penghitungan penghasilan neto dapat menggunakan pembukuan atau norma penghitungan penghasilan neto dan dilaporkan dalam SPT Tahunan PPh Wajib Pajak orang pribadi. PPh yang telah dipotong oleh pihak lain (PPh Pasal 21) dapat dikurangkan dari PPh terutang. Pada akhir tahun pajak. PPh atas penghasilan Wajib Pajak dari kegiatan dagang yang memenuhi kriteria dalam PP 46 Tahun 2013. PPh atas penghasilan Wajib Pajak sebagai konsultan diperlakukan sebagai penghasilan dari pekerjaan bebas. PPh bersifat final wajib dilaporkan dalam Lampiran III SPT Tahunan PPh Wajib Pajak orang pribadi 1770 dalam kolom Penghasilan yang Telah Dikenakan PPh Final. PPh atas penghasilan Wajib Pajak sebagai karyawan merupakan objek PPh Pasal 21 yang dipotong oleh pemberi kerja dan dapat dikreditkan dalam SPT Tahunan PPh Wajib Pajak orang pribadi. seluruh penghasilan Wajib Pajak selain yang dikenai PPh Final dijumlahkan dalam SPT Tahunan PPh untuk menghitung PPh terutang. Namun demikian. 2.

2. Pajak Penghasilan Final 1% bagi Wajib Pajak dengan Peredaran Bruto Tertentu Bagaimana ketentuan tentang pengenaan norma penghitungan bagi Wajib Pajak orang pribadi? Batasan Wajib Pajak orang pribadi yang boleh menggunakan norma penghitungan penghasilan neto adalah Wajib Pajak orang pribadi yang peredaran brutonya kurang dari Rp4.000.800. Namun demikian. Pengacara. Bagi Wajib Pajak orang pribadi yang memiliki peredaran bruto kurang dari Rp4. 2. Akuntan. maka penghitungan pajaknya tetap dapat menggunakan ketentuan Pasal 31E. Q16 Apabila Wajib Pajak Peredaran Bruto Tertentu memiliki usaha di beberapa lokasi. sepanjang Wajib Pajak badan telah memperoleh Surat Keputusan untuk mendapatkan fasilitas perpajakan dimaksud.00 (limapuluh miliar rupiah). 202 Direktorat Peraturan Perpajakan II .000.2014 Q14 1. maka perhitungan PPh Final Pasal 4 ayat (2) didasarkan atas peredaran bruto usaha di setiap lokasi usaha. Terkait dengan ketentuan Pasal 31E.000. Wajib Pajak orang pribadi yang memenuhi kriteria PP 46 Tahun 2013 dikenai PPh bersifat final dengan tarif sebesar 1% (satu persen) dari peredaran bruto setiap bulan.800. bagaimana cara perhitungan PPh Final Pasal 4(2)? Dalam hal Wajib Pajak PBT memiliki usaha di beberapa lokasi usaha yang berbeda. sebagai contoh antara lain Dokter. sepanjang Wajib Pajak badan tidak memenuhi kriteria PP 46 Tahun 2013 dan mempunyai peredaran bruto tidak lebih dari Rp50. Notaris. Terkait dengan ketentuan Pasal 31A dan Tax Holiday. Q15 Bagaimana dengan pelaksanaan pemberian fasilitas PPh sebagaimana diatur dalam UU PPh Pasal 31A dan Pasal 31E serta tax holiday setelah berlakunya PP ini? 1. maka perhitungan PPh Final Pasal 4 ayat (2) dilakukan untuk setiap setiap gerai/toko dengan mendasarkan kepada peredaran bruto masing-masing gerai/toko.000.000. dan merupakan Wajib Pajak PBT berdasarkan jumlah peredaran bruto usaha dari ketiga gerai/toko tersebut. Sebagai contoh.000.00 (empat miliar delapan ratus juta rupiah) dalam 1 (satu) tahun.000. apabila Wajib Pajak memiliki 3 (tiga) gerai/toko. maka tidak dikenakan ketentuan sesuai dengan PP ini.00 (empat miliar delapan ratus juta rupiah) dalam 1 (satu) tahun dan tidak memenuhi kriteria PP ini dapat menggunakan norma penghitungan penghasilan neto.

000.107/PMK. yang mana yang termasuk "peredaran bruto" untuk menentukan apakah badan tersebut memenuhi batasan peredaran bruto tidak lebih dari Rp4. dan keuntungan penjualan harta atau hak yang tidak dipergunakan untuk usaha. 2) penghasilan dari usaha dan kegiatan. Pajak Penghasilan yang bersifat final berdasarkan PP 46 Tahun 2013 hanya dikenakan atas penghasilan dari usaha dan kegiatan saja. Dalam hal pendapatan sewa peralatan merupakan diversifikasi usaha dari perusahaan manufaktur tersebut sehingga peralatan dimaksud memang ditujukan untuk disewakan. akuntan.00 (empat miliar delapan ratus juta rupiah) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (2) huruf b ditentukan berdasarkan peredaran bruto dari usaha seluruhnya termasuk dari usaha cabang. honorarium.800. notaris. dividen. Berdasarkan Penjelasan Pasal 2 ayat (2) huruf b PP 46 Tahun 2013: Peredaran bruto merupakan peredaran bruto dari usaha. pendapatan bunga pinjaman dan pendapatan dari penjualan aktiva berupa kendaraan bermotor bagi perusahaan manufaktur.000. Secara khusus. dan 4) penghasilan lain-lain. Dengan demikian. b.00 (empat miliar delapan ratus juta rupiah)? a. Jika suatu perusahaan yang bergerak di bidang manufaktur. penghasilan dapat dikelompokkan menjadi: 1) penghasilan dari pekerjaan dalam hubungan kerja dan pekerjaan bebas seperti gaji.000. penghasilan yang dikecualikan sebagai objek pajak. namun dalam tahun yang sama mendapatkan dividen.800.Pajak Penghasilan Final 1% bagi Wajib Pajak dengan Peredaran Bruto Tertentu Q17 2014 a. dan d). c). mendapatkan bunga pinjaman. b).000. kemudian mendapatkan uang sewa dari menyewakan peralatannya kepada pihak lain dan ada penjualan aktiva berupa kendaraan bermotor. dan sebagainya. pendapatan dividen. Direktorat Peraturan Perpajakan II 203 . penghasilan dari praktek dokter. termasuk dari usaha cabang. tidak termasuk peredaran bruto dari: a). arah aliran tambahan kemampuan ekonomis kepada Wajib Pajak. yang berupa harta gerak ataupun harta tak gerak.011/2013: Peredaran bruto yang tidak melebihi Rp4. jasa sehubungan dengan pekerjaan bebas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (3). sewa. bukan merupakan penghasilan dari usaha yang dikenai PPh Final berdasarkan PP 46 Tahun 2013. Berdasarkan penjelasan Pasal 2 ayat (2) PP 46 Tahun 2013. seperti bunga. usaha yang atas penghasilannya telah dikenai Pajak Penghasilan yang bersifat final dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan tersendiri. penghasilan dari usaha yang tidak termasuk dalam perhitungan peredaran bruto berdasarkan PP 46 Tahun 2013 diatur dalam Pasal 3 ayat (2) PMK. royalti. seperti pembebasan utang dan hadiah. penghasilan yang diterima atau diperoleh di luar negeri. maka atas penghasilan dari usaha sewa peralatan tersebut dikenai PPh final berdasarkan PP 46 Tahun 2013. 3) penghasilan dari modal. Apakah yang dimaksud dengan "peredaran bruto"? b. pendapatan sewa peralatan. pengacara. selain peredaran bruto dari usaha yang atas penghasilannya telah dikenai Pajak Penghasilan yang bersifat final berdasarkan ketentuan Peraturan Perundang-undangan di bidang perpajakan. Dari penghasilan tersebut. aktuaris.

2. Dengan demikian. Bagi Wajib Pajak Orang Pribadi yang memiliki peredaran bruto melebihi Rp4. PP 46 Tahun 2013 mengatur pengenaan PPh atas penghasilan dari usaha.00 (empat miliar delapan ratus juta rupiah) dalam 1 (satu) Tahun Pajak dan memenuhi kriteria sebagai Wajib Pajak OPPT. Q19 Bagi Bagaimana perlakuan Pajak Penghasilan bagi Wajib Pajak Orang Pribadi Pengusaha Tertentu (Wajib Pajak OPPT) dengan berlakunya PP 46 Tahun 2013? Wajib Pajak Orang Pribadi yang memiliki peredaran bruto tidak melebihi Rp4.2014 Q18 Pajak Penghasilan Final 1% bagi Wajib Pajak dengan Peredaran Bruto Tertentu Apakah penjualan aktiva perusahaan dapat diperhitungkan sebagai peredaran bruto? Berdasarkan aliran tambahan kemampuan ekonomis kepada Wajib Pajak. Penghasilan dari pekerjaan dalam hubungan kerja dan pekerjaan bebas.000. Penghasilan dari modal yang berupa harta gerak ataupun harta tak gerak.800.000.75% dari jumlah peredaran bruto setiap bulan dari masing-masing tempat kegiatan usaha. Penghasilan lain-lain.800. penghasilan dapat dikelompokkan menjadi: 1.000. maka pengenaan Pajak Penghasilan bagi Wajib Pajak tersebut mengacu pada ketentuan tarif umum Undang-Undang Pajak Penghasilan dan pembayaran angsuran pajaknya mengacu pada ketentuan Pasal 25 ayat (7) Undang-Undang Pajak Penghasilan yaitu sebesar 0. penjualan aktiva perusahaan yang dapat digolongkon sebagai penghasilan dari modal tidak termasuk dalam peredaran bruto dari usaha yang dikenakan PPh Final. 3. 204 Direktorat Peraturan Perpajakan II . maka atas penghasilan dari usaha yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak orang pribadi pengusaha tersebut dikenai Pajak Penghasilan bersifat final sebesar 1% (satu persen) dari jumlah peredaran bruto setiap bulan.00 (empat miliar delapan ratus juta rupiah) dalam 1 (satu) Tahun Pajak yang dan memenuhi kriteria sebagai Wajib Pajak OPPT maupun kriteria sebagai Wajib Pajak yang dikenai Pajak Penghasilan berdasarkan PP 46 Tahun 2013. 4. Penghasilan dari usaha dan kegiatan.000.

Dengan demikian. kontrak karya maupun perjanjian kerjasama pengusahaan pertambangan tetap berlaku sampai dengan berakhirnya kontrak dimaksud (sanctity of contract). atau perjanjian kerjasama pengusahaan pertambangan yang masih berlaku pada saat berlakunya PP 46 Tahun 2013? Ketentuan perpajakan yang diatur dalam kontrak bagi hasil. Direktorat Peraturan Perpajakan II 205 . penghasilan dari usaha dan kegiatan” Dengan demikian. dapat dikenakan PPh Final berdasarkan PP 46 Tahun 2013? Berdasarkan Penjelasan Pasal 2 ayat (2) huruf b PP 46 Tahun 2013: ”Peredaran bruto merupakan peredaran bruto dari usaha. kontrak karya ataupun perjanjian kerjasama pengusahaan pertambangan mengacu kepada ketentuan perpajakan yang diatur dalam kontrak/perjanjian dimaksud meskipun pada saat mulai diberlakukannya PP 46 Tahun 2013 Wajib Pajak memiliki peredaran bruto kurang dari Rp4. atas penghasilan yang diterima/diperoleh Wajib Pajak dari persewaan harta selain tanah dan/atau bangunan dikenakan PPh Final berdasarkan PP 46 Tahun 2013 sepanjang merupakan penghasilan dari kegiatan usaha Wajib Pajak. Q21 Apakah penghasilan yang diterima dari penyewaan harta selain tanah & bangunan. penghasilan dapat dikelompokkan menjadi: b.00 (empat miliar delapan ratus juta rupiah) dalam 1 (satu) tahun. selain peredaran bruto dari usaha yang atas penghasilannya telah dikenai Pajak Penghasilan yang bersifat final berdasarkan ketentuan Peraturan Perundang-undangan di bidang perpajakan. kontrak karya.Pajak Penghasilan Final 1% bagi Wajib Pajak dengan Peredaran Bruto Tertentu Q20 2014 Bagaimana perlakuan PPh atas Wajib Pajak yang terikat dengan kontrak bagi hasil.000.800. termasuk dari usaha cabang. perlakuan PPh atas Wajib Pajak yang terikat dengan kontrak bagi hasil.000. Berdasarkan arah aliran tambahan kemampuan ekonomis kepada Wajib Pajak.

Namun demikian. maka penghasilan tersebut termasuk dalam penghasilan dari usaha yang dapat dikenai Pajak Penghasilan berdasarkan PP 46 Tahun 2013. atas penghasilan dari usaha yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak yang memiliki peredaran bruto tertentu. Wajib Pajak badan yang memiliki penghasilan dari dividen tidak memenuhi kriteria untuk dikenai Pajak Penghasilan sesuai ketentuan dalam PP 46 Tahun 2013.2014 Q22 Pajak Penghasilan Final 1% bagi Wajib Pajak dengan Peredaran Bruto Tertentu Terdapat perusahaan investasi yang penghasilannya berupa dividen. Mempertimbangkan hal tersebut. maka atas penghasilan tersebut bukan merupakan objek Pajak Penghasilan. dalam hal Wajib Pajak merupakan perusahaan modal ventura yang melakukan usaha sesuai dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 18/PMK. maka untuk penghitungan peredaran bruto atas penghasilan tersebut menggunakan kurs yang dipakai dalam sistem pembukuan Wajib Pajak yang dianut dan dilakukan secara taat asas. dan memperoleh penghasilan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (3) huruf k Undang-Undang Pajak Penghasilan. Dalam hal Wajib Pajak menerima/memperoleh penghasilan dalam mata uang asing (valas). Berdasarkan asal aliran tambahan kemampuan ekonomis Wajib Pajak. Sebagai pengecualian. 206 Direktorat Peraturan Perpajakan II . dalam hal dividen merupakan penghasilan usaha dari Wajib Pajak (misalnya Wajib Pajak perusahaan Reksa Dana). Apakah terhadap perusahaan investasi ini dikenakan PP 46 Tahun 2013? Sesuai Pasal 2 ayat (1) PP 46 Tahun 2013. penghasilan berupa dividen termasuk dalam penghasilan dari modal sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1) Undang-Undang Pajak Penghasilan yang merupakan objek pemotongan PPh Pasal 23 bagi WP Badan dan objek pemotongan PPh sebagaimana dimaksud Pasal 17 ayat (2c) UU PPh bagi Orang Pribadi.010/2012 tentang Perusahaan Modal Ventura. Q23 Untuk transaksi bisnis yang memakai valas namun menyelenggarakan pembukuan dengan mata uang rupiah dengan kurs tengah BI. apakah penghitungan omsetnya mengacu ke pembukuan atau memakai kurs pajak (KMK)? Berdasarkan penjelasan Pasal 4 ayat (1) huruf l dan Pasal 6 ayat (1) huruf e UU PPh: “Keuntungan atau kerugian selisih kurs mata uang asing diakui berdasarkan sistem pembukuan yang dianut dan dilakukan secara taat asas sesuai dengan Standar Akuntansi Keuangan yang berlaku di Indonesia”. dikenai Pajak Penghasilan yang bersifat final.

Namun. Juni 2013 wajib melampirkan laporan rugi laba bulan Januari 2013 s. kewajiban pembukuan tetap mengikuti ketentuan umum sebagaimana yang diatur dalam Pasal 28 UU Nomor 6Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2009. Juni 2013 dalam SPT Tahunan PPh tahun 2013 sesuai Pasal 15 PMK-107/PMK.d. Dengan demikian.Pajak Penghasilan Final 1% bagi Wajib Pajak dengan Peredaran Bruto Tertentu Q24 2014 Apakah Wajib Pajak yang dikenakan PPh Final berdasarkan PP 46 Tahun 2013 wajib membuat pembukuan terpisah sesuai PP 94 Tahun 2010. Laporan Keuangan yang dilampirkan di SPT Tahunan sama seperti biasa (meliputi 1 tahun buku). Dalam ketentuan tersebut diatur bahwa Wajib Pajak orang pribadi yang melakukan kegiatan usaha atau pekerjaan bebas dan Wajib Pajak badan di Indonesia wajib menyelenggarakan pembukuan. khusus untuk Wajib Pajak yang ingin melakukan kompensasi atas kerugian bulan Januari s. yaitu tahun 2013? PP 46 Tahun 2013 hanya mengatur mengenai pengenaan PPh yang bersifat final bagi Wajib Pajak dengan peredaran bruto tertentu. termasuk untuk tahun pertama.011/2013. adalah Wajib Pajak orang pribadi yang melakukan kegiatan usaha atau pekerjaan bebas yang diperbolehkan menghitung penghasilan neto dengan menggunakan Norma Penghitungan Penghasilan Neto.d. Direktorat Peraturan Perpajakan II 207 . Lebih lanjut diatur bahwa Wajib Pajak yang dikecualikan dari kewajiban menyelenggarakan pembukuan tetapi wajib melakukan pencatatan.

yang telah terdaftar pada instansi yang membidanginya. penghasilan berupa bunga deposito dan tabungan atas simpanan di bank lain. komisi. b. serta diskonto Sertifikat Bank Indonesia (khusus bagi bank/bank perkreditan rakyat). pendapatan bunga. atas penghasilan dari usaha yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak dikenai Pajak Penghasilan bersifat final sebesar 1% (satu persen) dari jumlah peredaran bruto setiap bulan. tidak termasuk pembayaran pokok kredit. fee. Dalam hal ketentuan persyaratan penanaman kembali sisa lebih sebagaimana tidak terpenuhi. Q26 Bagaimana perlakuan Pajak Penghasilan bagi Wajib Pajak badan atau lembaga nirlaba yang bergerak dalam bidang pendidikan dan/atau bidang penelitian dan pengembangan? Atas sisa lebih yang diterima atau diperoleh badan atau lembaga nirlaba yang bergerak dalam bidang pendidikan dan/atau bidang penelitian dan pengembangan. yang ditanamkan kembali dalam bentuk sarana dan prasarana kegiatan pendidikan dan/atau penelitian dan pengembangan. dan seluruh penghasilan yang terkait dengan pemberian kredit. Dengan demikian perlakuan perpajakan bagi Wajib Pajak badan atau lembaga nirlaba yang bergerak dalam bidang pendidikan dan/atau bidang penelitian dan pengembangan mengacu pada ketentuan umum UU PPh.2014 Q25 Pajak Penghasilan Final 1% bagi Wajib Pajak dengan Peredaran Bruto Tertentu Bagaimana perlakuan Pajak Penghasilan bagi Wajib Pajak Badan bank/bank perkreditan rakyat atau Wajib Pajak yang bergerak dalam bidang jasa peminjaman uang (misalnya koperasi simpan pinjam)? Bagi Wajib Pajak bank/bank perkreditan rakyat atau Wajib Pajak yang bergerak dalam bidang jasa peminjaman uang yang memenuhi kriteria sebagai Wajib Pajak yang dikenai Pajak Penghasilan berdasarkan PP 46 Tahun 2013. dalam jangka waktu paling lama 4 (empat) tahun sejak diperolehnya sisa lebih tersebut bukan merupakan objek pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (3) huruf m UU PPh. Peredaran bruto yang menjadi dasar pengenaan pajak bagi Wajib Pajak bank/bank perkreditan rakyat atau Wajib Pajak yang bergerak dalam bidang jasa peminjaman uang adalah jumlah seluruh penghasilan usaha jasa perbankan atau simpan pinjam antara lain: a. maka atas sisa lebih tersebut merupakan objek pajak yang dikenai Pajak Penghasilan berdasarkan ketentuan umum UU PPh. 208 Direktorat Peraturan Perpajakan II .

Berdasarkan kriteria. ditegaskan bahwa: a. yaitu merupakan pejabat umum yang diberikan kewenangan membuat akta otentik tertentu yakni akta yang berkaitan dengan pertanahan. Dengan demikian perlakuan perpajakan bagi Wajib Pajak PPAT mengacu pada ketentuan umum Undang-Undang Pajak Penghasilan. Notaris merupakan Wajib Pajak orang pribadi yang melakukan pekerjaan bebas. Bagaimana perlakuan Pajak Penghasilan bagi perusahaan atas penghasilan dari luar usaha pokoknya tersebut? Walaupun kegiatan Wajib Pajak berupa pengelolaan arena olah raga dan mini market merupakan kegiatan di luar usaha pokok Wajib Pajak. perusahaan juga melakukan kegiatan di luar usaha pokok berupa pengelolaan arena olahraga dan mini market. maka penghasilan tersebut merupakan penghasilan dari usaha yang atas penghasilannya dapat dikenai Pajak Penghasilan bersifat final berdasarkan PP 46 Tahun 2013. Q29 Suatu perusahaan memiliki usaha pokok sebagai developer yang atas penghasilannya dikenai Pajak Penghasilan yang bersifat final. untuk selanjutnya diinvestasikan dalam portofolio efek oleh manajer investasi yang dapat berbentuk perseroan atau kontrak investasi kolektif sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal. dividen merupakan penghasilan dari modal. dan b. Selain menjalankan usaha tersebut. namun karena penghasilan tersebut merupakan penghasilan yang alirannya bersumber dari usaha Wajib Pajak yang tidak dikenai Pajak Penghasilan yang bersifat final yang diatur tersendiri. maka PPAT dapat dipersamakan dengan notaris sebagai Wajib Pajak orang pribadi yang melakukan pekerjaan bebas. Namun jika dividen diperoleh dari lingkup kegiatan usaha seperti yang diperoleh Wajib Pajak reksa dana maka dividen menjadi dapat dikenai PPh berdasarkan PP 46 Tahun 2013.Pajak Penghasilan Final 1% bagi Wajib Pajak dengan Peredaran Bruto Tertentu Q27 2014 Bagaimana perlakuan Pajak Penghasilan bagi Wajib Pajak reksa dana? Reksa dana adalah suatu bentuk kegiatan usaha yang melakukan penghimpunan dana dari masyarakat pemodal. Q28 Bagaimana perlakuan Pajak Penghasilan bagi Wajib Pajak Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT)? Berdasarkan ketentuan Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris dan Peraturan Pemerintah Nomor 37 Tahun 1998 tentang Peraturan Jabatan Pejabat Pembuat Akta Tanah. Contoh penghasilan yang diperoleh Wajib Pajak reksa dana yaitu dividen. Direktorat Peraturan Perpajakan II 209 . Wajib Pajak orang pribadi yang berprofesi sebagai PPAT mempunyai persamaan kewenangan dengan Notaris.

2014

Pajak Penghasilan Final 1% bagi Wajib Pajak dengan Peredaran Bruto Tertentu

Q30

Bagaimana halnya dengan setoran PPh Pasal 25 yang telah dibayar sekaligus dimuka untuk
Tahun Pajak 2013?

Atas angsuran PPh Pasal 25 Masa Pajak Juli sampai Desember 2013 yang sudah disetor sebelum
diberlakukannya PP 46 Tahun 2013, dapat dipindahbukukan (Pbk) ke setoran Pajak PPh Pasal 4 ayat
(2) yang terutang.

Q31

Bagaimana dengan PTKP yang digunakan dalam menghitung PPh Tahun Pajak 2013 Wajib
Pajak Peredaran Bruto Tertentu (Wajib Pajak PBT), apakah dihitung penuh 1 (satu) tahun?

Untuk menghitung PPh Wajib Pajak PBT Tahun Pajak 2013, digunakan PTKP penuh 1 (satu) tahun
meskipun penghasilan yang diperhitungkan hanya penghasilan Wajib Pajak PBT masa pajak Januari
sampai dengan Juni 2013.

Q32

Apakah kerugian fiskal tahun-tahun pajak sebelumnya dapat dikompensasikan?

1. Dalam ketentuan PP ini, Wajib Pajak dapat mengkompensasikan kerugiannya dari tahuntahun pajak sebelumnya dengan syarat:
a. dilakukan mulai Tahun Pajak berikutnya sampai dengan 5 (lima) Tahun Pajak;
b. Tahun Pajak dikenakannya PPh yang bersifat final berdasarkan PP 46 Tahun 2013
menjadi bagian dari periode 5 tahun kompensasi kerugian tetapi kerugian dari Tahun
Pajak sebelumnya tidak dapat dikompensasikan pada Tahun Pajak dikenakan PPh yang
bersifat final tersebut;
c. kerugian pada suatu Tahun Pajak yang dikenakannya PPh yang bersifat final
berdasarkan PP 46 Tahun 2013 tidak dapat dikompensasikan pada Tahun Pajak
berikutnya.
2.

210

Untuk Tahun Pajak 2013, Wajib Pajak dapat mengkompensasikan kerugian Tahun Pajak
sebelumnya dengan penghasilan yang tidak dikenai PPh yang bersifat final yaitu penghasilan
periode bulan Januari s.d. Juni 2013. Demikian pula apabila dalam periode bulan Januari s.d
Juni 2013, Wajib Pajak mengalami kerugian maka dapat mengkompensasikan kerugian
tersebut pada Tahun Pajak berikutnya sepanjang pada tahun berikutnya Wajib Pajak tidak
termasuk kriteria PP 46 Tahun 2013.

Direktorat Peraturan Perpajakan II

Pajak Penghasilan Final 1% bagi Wajib Pajak dengan Peredaran Bruto Tertentu

Q33

2014

Dalam Contoh Penghitungan Angka 7 Lampiran PMK-107/PMK.011/2013, disebutkan
bahwa:
“Angsuran PPh Pasal 25 untuk bulan selanjutnya sampai dengan bulan Desember
2015 adalah Rp 2.000.000”
(sesuai dengan data penghasilan dan biaya bulan Januari).
Sedangkan dalam PMK-255/PMK.03/2008 disebutkan:
“Besarnya angsuran Pajak Penghasilan Pasal 25 untuk Wajib Pajak baru adalah
sebesar Pajak Penghasilan yang dihitung berdasarkan penerapan tarif umum
atas penghasilan neto sebulan yang disetahunkan, dibagi 12 (dua belas)”.
Jadi, cara yang mana yang seharusnya diterapkan?

Berdasarkan Pasal 9 ayat (3) PMK-107/PMK.011/ 2013:
Besarnya angsuran pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25 UU PPh bagi Wajib Pajak yang
memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (2) pada Tahun Pajak pertama
Wajib Pajak tidak dikenai Pajak Penghasilan yang bersifat final sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 2 ayat (1), diatur ketentuan sebagai berikut:
a. bagi Wajib Pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25 ayat (7) huruf b dan huruf c UU PPh,
besaran angsuran pajak adalah sesuai dengan besarnya angsuran pajak sebagaimana diatur
dalam Peraturan Menteri Keuangan yang mengatur mengenai besarnya angsuran pajak bagi
Wajib Pajak tersebut;
b. bagi Wajib Pajak selain Wajib Pajak sebagaimana dimaksud pada huruf a, penghitungan
besarnya angsuran pajak diberlakukan seperti Wajib Pajak baru sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 25 ayat (7) huruf a UU PPh.
Dengan demikian, penghitungan angsuran PPh Pasal 25 adalah sebagai berikut:
a. untuk Wajib Pajak yang sebelumnya dikenai Pajak Penghasilan berdasarkan PP 46 Tahun
2013, maka mengikuti ketentuan PMK-107/PMK.011/2013.
b. untuk Wajib Pajak yang baru terdaftar sebagai Wajib Pajak, penghitungan angsuran PPh
Pasal 25 pada tahun pertama mengikuti PMK-255/PMK.03/2008 sebagaimana telah diubah
terakhir dengan PMK-208/PMK.03/2009.

Direktorat Peraturan Perpajakan II

211

2014

Q34

Pajak Penghasilan Final 1% bagi Wajib Pajak dengan Peredaran Bruto Tertentu

Dalam pengisian SPT Tahunan PPh OP Tahun 2013, apakah Wajib Pajak yang dikenakan PP
46 Tahun 2013 berhak mendapatkan PTKP setahun atau penghasilannya yang
disetahunkan?

Berdasarkan Huruf f Angka 11 SE-42/PJ/2013:
Penghitungan untuk pelaporan Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan Tahun Pajak 2013:
a. peredaran usaha dihitung berdasarkan seluruh peredaran usaha selama Tahun Pajak 2013,
tidak termasuk peredaran usaha pada Masa Pajak Juli 2013 sampai dengan Desember 2013
yang dikenai Pajak Penghasilan Pasal 4 ayat (2);
b. bagi Wajib Pajak orang pribadi, untuk menentukan Penghasilan Kena Pajak dikurangi terlebih
dahulu dengan Penghasilan Tidak Kena Pajak setahun;
c. angsuran Pajak Penghasilan Pasal 25 Undang-Undang Pajak Penghasilan Masa Pajak Januari
2013 sampai dengan Juni 2013 dikreditkan terhadap Pajak Penghasilan yang terutang untuk
Tahun Pajak yang bersangkutan.
Maka, Wajib Pajak tetap berhak mendapatkan PTKP setahun, namun penghasilannya tidak
disetahunkan.

Berdasarkan Pasal 9 ayat (1) PMK-107/PMK.011/2013 dan Huruf e Angka 9 SE42/PJ/2013 disebutkan bahwa:

Q35

“Wajib Pajak yang hanya menerima atau memperoleh penghasilan yang dikenai
Pajak Penghasilan yang bersifat final, tidak diwajibkan melakukan pembayaran
angsuran pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25 Undang-Undang Pajak
Penghasilan.”
Apakah Wajib Pajak yang seluruh penghasilannya dikenakan PPh Final berdasarkan PP 46
Tahun 2013 tetap wajib melaporkan PPh Pasal 25 Nihil?

Berdasarkan Pasal 9 ayat (1) PMK-107/PMK.011/2013, atas Wajib Pajak yang seluruh
penghasilannya dikenai PPh Final berdasarkan PP 46 Tahun 2013, maka tidak ada kewajiban
pembayaran angsuran PPh Pasal 25. Dengan demikian, Wajib Pajak tersebut juga tidak mempunyai
kewajiban melaporkan SPT PPh Pasal 25 Nihil.

212

Direktorat Peraturan Perpajakan II

Pajak Penghasilan Final 1% bagi Wajib Pajak dengan Peredaran Bruto Tertentu

Q36

2014

Bagaimanakah ketentuan penyetoran dan pelaporan Surat Pemberitahuan (SPT) Masa
Pajak Penghasilan Pasal 4 ayat (2) bagi Wajib Pajak yang dikenai Pajak Penghasilan yang
bersifat final berdasarkan PP 46 Tahun 2013? Bagaimana juga kewajiban pelaporan SPT
Masa Pasal 4 ayat (2) bagi Wajib Pajak yang pada suatu masa pajak memiliki peredaran
usaha nihil?

Wajib Pajak wajib menyetor Pajak Penghasilan terutang ke kas negara melalui:
a. kantor pos atau bank yang ditunjuk oleh Menteri Keuangan dengan menggunakan Surat
Setoran Pajak (SSP); atau
b. Anjungan Tunai Mandiri (ATM) bank-bank tertentu; Wajib Pajak menerima Bukti
Penerimaan Negara (BPN) dengan teraan Nomor Transaksi Penerimaan Negara (NTPN)
dalam bentuk cetakan struk ATM yang kedudukannya disamakan dengan SSP;
paling lama tanggal 15 (lima belas) bulan berikutnya setelah Masa Pajak berakhir.
Wajib Pajak yang melakukan pembayaran Pajak Penghasilan yang bersifat final berdasarkan PP
46 Tahun 2013 wajib menyampaikan SPT Masa Pajak Penghasilan paling lama 20 (dua puluh)
hari setelah Masa Pajak berakhir. Ketentuan mengenai pelaporan Surat Pemberitahuan Masa
Pajak Penghasilan tersebut diberlakukan mulai Masa Pajak Januari 2014.
Wajib Pajak yang telah melakukan penyetoran Pajak Penghasilan yang bersifat final
berdasarkan PP 46 Tahun 2013 dan telah mendapatkan validasi NTPN, dianggap telah
menyampaikan SPT Masa Pajak Penghasilan dengan tanggal pelaporan sesuai tanggal NTPN yang
tercantum pada SSP atau cetakan struk ATM, sehingga tidak perlu lagi melaporkan SPT Masa
PPh Pasal 4 ayat (2).
Wajib Pajak dengan jumlah Pajak Penghasilan Pasal 4 ayat (2) nihil tidak wajib melaporkan SPT
Masa Pajak Penghasilan Pasal 4 ayat (2).

Q37

Bagaimana pelaksanaan penerbitan Surat Keterangan Bebas (SKB) bagi Wajib Pajak
Peredaran Bruto Tertentu (Wajib Pajak PBT)?

Sesuai dengan PER 32/PJ/2013, SKB berlaku untuk 1 (satu) Tahun Pajak dan harus dilegalisasi
pada saat Wajib Pajak akan bertransaksi dengan pemotong/pemungut.

Direktorat Peraturan Perpajakan II

213

2014
Q38

Pajak Penghasilan Final 1% bagi Wajib Pajak dengan Peredaran Bruto Tertentu

a. Apakah SKB terkait pemotongan/pemungutan terhadap Wajib Pajak yang
dikenakan PP Nomor 46 Tahun 2013 wajib disetujui?
b. Jika tidak wajib dan jika KPP tidak mengabulkan permohonan SKB Wajib Pajak,
apakah kredit pajak yang diterima Wajib Pajak tersebut bisa dikreditkan?
Mengingat sesuai Pasal 20 ayat (3) UU PPh, pemotongan/pemungutan bisa
dikreditkan, kecuali untuk penghasilan yang pengenaan pajaknya bersifat final.
(Pertimbangan KPP tidak menyetujui misalnya, KPP menduga Wajib Pajak rawan
mempermainkan omset, sedangkan bukti pemotongan/pemungutan adalah salah satu
sumber data KPP)

a. Berdasarkan Pasal 5 ayat (1) PER-32/PJ/2013 diatur bahwa Kepala Kantor Pelayanan Pajak
dapat menerbitkan surat penolakan permohonan SKB dalam jangka waktu paling lama 5
(lima) hari kerja sejak permohonan diterima secara lengkap.
Maka, permohonan SKB bisa saja ditolak (tidak dikabulkan).
b. Berdasarkan Huruf F Angka 7 SE-42/PJ/2013:
Atas penghasilan dari usaha yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak yang memiliki
peredaran bruto tertentu, yang dipotong dan/atau dipungut oleh pihak lain diatur sebagai
berikut:
1) atas pemungutan Pajak Penghasilan Pasal 22 oleh bendahara pemerintah dengan
menggunakan Surat Setoran Pajak yang telah diisi atas nama rekanan:
a) dapat diajukan permohonan pemindahbukuan ke setoran Pajak Penghasilan Pasal 4
ayat (2) sesuai dengan ketentuan mengenai tata cara pembayaran pajak melalui
pemindahbukuan; atau
b) dapat diajukan permohonan pengembalian pajak yang seharusnya tidak terutang
sesuai dengan ketentuan mengenai tata cara pengembalian atas kelebihan
pembayaran pajak yang seharusnya tidak terutang; atau
c) dikreditkan terhadap Pajak Penghasilan yang terutang untuk Tahun Pajak yang
bersangkutan.
2) atas pemotongan dan/atau pemungutan Pajak Penghasilan oleh pihak lain dengan bukti
pemotongan dan/atau pemungutan, termasuk pemungutan Pajak Penghasilan Pasal 22
atas impor:
a) dapat diajukan permohonan pengembalian pajak yang seharusnya tidak terutang
sesuai dengan ketentuan mengenai tata cara pengembalian atas kelebihan
pembayaran pajak yang seharusnya tidak terutang; atau
b) dikreditkan terhadap Pajak Penghasilan yang terutang untuk Tahun Pajak yang
bersangkutan.
Maka, Wajib Pajak memiliki beberapa pilihan terkait kredit pajak tersebut:
a) Untuk SSP bisa dikreditkan di SPT Tahunan, pengembalian PMK-10/PMK.03/2013,
atau Pemindahbukuan (Pbk).
b) Untuk Bukti Pemotongan bisa dikreditkan atau pengembalian PMK-10/PMK.03/2013
(tidak bisa Pbk).

214

Direktorat Peraturan Perpajakan II

Pajak Penghasilan Final 1% bagi Wajib Pajak dengan Peredaran Bruto Tertentu

Q39

2014

Apabila dikemudian hari diketahui bahwa peredaran bruto Wajib Pajak PBT tahun
sebelumnya ternyata lebih dari Rp4.800.000.000,00 (empat miliar delapan ratus juta
rupiah), bagaimana dengan perlakuan PPh atas Tahun Pajak berjalan yang telah menggunakan
ketentuan PP 46 Tahun 2013?

Apabila di kemudian hari diketahui ternyata Wajib Pajak tidak berhak menggunakan aturan sesuai
PP 46Tahun 2013 karena peredaran bruto tahun sebelumnya lebih dari Rp4.800.000.000,00
(empat miliar delapan ratus juta rupiah), maka akan dilakukan koreksi sehingga atas peredaran
bruto tersebut dikenai PPh terutang sesuai ketentuan yang berlaku.

Direktorat Peraturan Perpajakan II

215

2014

216

Pajak Penghasilan Final 1% bagi Wajib Pajak dengan Peredaran Bruto Tertentu

Direktorat Peraturan Perpajakan II

Pajak Penghasilan Final 1% bagi Wajib Pajak dengan Peredaran Bruto Tertentu 2014 TIM PENYUSUN Pengarah : Penanggung Jawab : Redaktur : Koordinator : Poltak Maruli John Liberty Hutagaol Goro Ekanto Nurbaeti Munawaroh 1.S Ikha Yuni Hapsari Indradi Irine Diani Tyasnita Muhammad Shodiq Oka Wina Pebrina Sagala Raisita Agus Wahyono Samuel Nugroho Tri U Stefanus Hajar Banu Sujita Tanti Agustin Teguh Rulianto Direktorat Peraturan Perpajakan II 217 . Bambang Eko Nugroho 2. Sudiro Anggota Aulia Rais Adi Putra Tarigan Edward Parulian Donald Tua I.

maka pelaksanaannya mengacu pada peraturan perpajakan yang berlaku. 218 Direktorat Peraturan Perpajakan II . Apabila terdapat ketidaksesuaian antara materi dalam buku ini dengan peraturan perpajakan. dan dimutakhirkan sesuai dengan kebutuhan. Buku panduan ini disusun dan ditelaah oleh berbagai pihak di bawah koordinasi Direktorat Peraturan Perpajakan II. diperbaharui.2014 Pajak Penghasilan Final 1% bagi Wajib Pajak dengan Peredaran Bruto Tertentu PERINGATAN Buku ini merupakan buku panduan yang dipersiapkan DJP dalam melaksanakan Peraturan Pemerintah Nomor 46 Tahun 2013. Buku ini senantiasa diperbaiki.