Anda di halaman 1dari 11

Fraktur Terbuka pada Regio Cruris Dextra

Vennaya Masyeba
102013423
Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Jl. Arjuna Utara No.6 Kebon jeruk, Jakarta Barat Telp. (021) 56942061
vennaya@gmail.com
Abstrak
Tulang merupakan salah satu bagian yang penting dari tubuh kita, selain untuk menopang
tubuh, tulang juga sebagai alat gerak yang berkerja sama dengan otot dan syaraf. Tulang lah
yang membantu kita untuk beraktifitas sehari-hari. Jika terjadi fraktur atau patah tulang maka
kegiatan sehari-hari kita dapat terganggu sesuai dengan seberapa parah fraktur yang dialami.
Kecelakaan merupakan salah satu penyebab patah tulang yang sering terjadi pada masyarakat
kita. Fraktur itu sendiri memiliki jenis-jenis dan komplikasi nya masing-masing. Untuk
mendalami mengenai fraktur maka akan dibahas di bawah ini.
Abstract
Bone is one of the important parts of our body, in addition to support the body, the bones as
well as locomotors who work with the muscles and nerves. Bone was the one who helped us
to your everyday activities. If there is a fracture or a fracture then our daily activities can be
interrupted in accordance with the severity of the fracture is experienced. Accidents are one
of the causes of fractures that often occur in our society. Fracture itself has types and its
complications respectively. To explore on the fracture will be discussed below.

Anamnesis
Anamnesis adalah pengambilan data yang dilakukan oleh seorang dokter dengan cara
melakukan serangkaian wawancara dengan pasien (autoanamnesis) atau keluarga pasien (allo
anamnesis) atau dalam keadaan tertentu dengan penolong pasien. Berbeda dengan wawancara
biasa, anamnesis dilakukan dengan cara yang khas, berdasarkan pengetahuan tentang
penyakit dan dasar-dasar pengetahuan yang ada di balik terjadinya suatu penyakit serta
bertolak dari masalah yang dikeluhkan oleh pasien. Berdasarkan anamnesis yang baik dokter
akan menentukan beberapa hal mengenai hal-hal seperti, penyakit atau kondisi yang paling
mungkin mendasari keluhan pasien (kemungkinan diagnosis), penyakit atau kondisi lain yang
menjadi kemungkinan lain penyebab munculnya keluhan pasien (diagnosis banding), faktorfaktor yang meningkatkan kemungkinan terjadinya penyakit tersebut (faktor predisposisi dan
faktor risiko), kemungkinan penyebab penyakit (kausa/etiologi), faktor-faktor yang dapat

1

pemeriksaan ketok (perkusi). Biasanya penderita fraktur datang dengan suatu trauma (traumatik fraktur). Pada pemeriksaan fisik secara komprehensif seorang dokter perlu memperhatikan beberapa hal. jatuh dari ketinggian atau jatuh di kamar mandi pada orang tua. ekstremitas atas maupun bawah. ekspresi wajah pasien yang ditunjukkan karena nyeri. misalnya otak. kelainan gerak. baik yang hebat maupun trauma ringan dan diikuti dengan ketidakmampuan untuk menggunakan anggota gerak.3 Pada pemeriksaan inspeksi. Teknik pemeriksaan fisik meliputi pemeriksaan visual atau pemeriksaan pandang (inspeksi). pemeriksaan tanda-tanda vital.2 Pemeriksaan Fisik Pemeriksaan fisik mempunyai nilai yang sangat penting untuk memperkuat temuan-temuan dalam anamnesis. perlu diperhatikan adanya syok. misalnya pada fraktur patologis.memperbaiki dan yang memperburuk keluhan pasien (faktor prognostik. pemeriksaan leher. termasuk upaya pengobatan). juga kemungkinan kerusakan pada organ-organ lain. Penderita biasanya datang karena adanya nyeri. membandingkan dengan bagian yang sehat. lidah kering atau basah.4 Pemeriksaan fisis pada pasien dengan fraktur dilakukan untuk mencari lokasi dan tanda-tanda yang biasa menyertai adanya fraktur. pembengkakan. sumsum tulang belakang atau organ-organ dalam rongga toraks. atau adanya faktor predisposisi. telinga. hidung. karena fraktur tidak selamanya terjadi di daerah trauma dan mungkin fraktur terjadi pada daerah lain. pemeriksaan kulit. punggung. panggul dan abdomen. dan pemeriksaan dengar dengan menggunakan stetoskop (auskultasi). penganiayaan. adanya 2 . pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang medis yang diperlukan untuk menentukan diagnosisnya. Pada pemeriksaan awal penderita. kelenjar limfe yang penting menentukan diagnosis. perlu ditambahkan juga anamnesis yang berhubungan terhadap keluhan pasien. Trauma dapat terjadi karena kecelakaan lalu lintas. gangguan fungsi anggota gerak. mata. jantung. anemia atau perdarahan. dan tenggorokan.3.1 Pada kasus ini. abdomen. kecelakaan pada pekerja oleh karena mesin atau karena trauma olah raga. thoraks atau dada. yang perlu diperhatikan adalah keadaan umum penderita secara keseluruhan. pemeriksaan raba (palpasi). memperhatikan posisi anggota gerak. deformitas. yaitu keadaan umum pasien. Anamnesis harus dilakukan dengan cermat. krepitasi atau datang dengan gejala-gejala lain. kepala. tertimpa benda berat.

disamping itu juga dapat menyebabkan kerusakan pada jaringan lunak seperti pembuluh darah dan saraf. krepitasi yang dapat diketahui dengan perabaan dan harus dilakukan secara hati-hati. leukosit meningkat 3 . perhatikan kondisi mental penderita. ekstravasasi darah subkutan dalam beberapa jam sampai beberapa hari. rotasi dan kependekan. perhatikan adanya deformitas berupa angulasi. aksonotmesis atau neurotmesis. Hb (Hemoglobin) yang mungkin meningkat (Hemokonsentrasi) atau juga dapat menurun (perdarahan). apakah terdapat luka pada kulit dan jaringan lunak untuk membedakan fraktur tertutup atau terbuka. CT Scan/ MRI (Magnetic Resonance Imaging).3 Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan penunjang pada pasien fraktur menurut Doenges adalah pemeriksaan rontgen.3 Selain palpasi perlu ditambahkan pemeriksaan pergerakan pada kasus fraktur karena tidak dibutuhkan auskultasi dan perkusi. antara lain temperatur setempat yang meningkat. refilling (pengisian) arteri pada kuku. setiap gerakan akan menyebabkan nyeri hebat sehingga uji pergerakan tidak boleh dilakukan secara kasar. warna dan temperatur kulit pada bagian distal daerah trauma. pemeriksaan vaskuler pada daerah distal trauma berupa palpasi arteri radialis. nyeri tekan yang bersifat superfisial biasanya disebabkan oleh kerusakan jaringan lunak yang dalam akibat fraktur pada tulang. arteri dorsalis pedis. untuk memperlihatkan fraktur juga dapat digunakan untuk mengidentifikasi kerusakan jaringan lunak. Pemeriksaan Laboratorium seperti. Pergerakan dengan mengajak penderita untuk menggerakkan secara aktif dan pasif sendi proksimal dan distal dari daerah yang mengalami trauma.3 Pada pemeriksaan palpasi. untuk menentukan lokasi atau luasnya fraktur. Kelainan saraf yang didapatkan harus dicatat dengan baik karena dapat menimbulkan masalah asuransi dan tuntutan (klaim) penderita serta merupakan patokan untuk pengobatan selanjutnya.tanda-tanda anemia karena perdarahan. Pada penderita dengan fraktur. yang perlu dilakukan secara hati-hati oleh karena penderita biasanya mengeluh sangat nyeri. pengukuran tungkai terutama pada tungkai bawah untuk mengetahui adanya perbedaan panjang tungkai. lakukan survei pada seluruh tubuh apakah ada trauma pada organ-organ lain. arteri tibialis posterior sesuai dengan anggota gerak yang terkena. Perlu juga pemeriksaan neurologis yang berupa pemeriksaan saraf secara sensoris dan motoris serta gradasi kelainan neurologis yaitu neuropraksia. dan keadaan vaskularisasi. Hal-hal yang perlu diperhatikan.

Satu atau kedua kondilus bisa terlibat disertai dengan hilangnya keharmonisan permukaan sendi tibia proksimal. Graft tulang dan fragmen fraktur disokong dengan pin transversa atau sekrup. Tomogram diperlukan untuk menggambarkan cedera ini secara lengkap. memuntir atau trauma sumbu pada daerah ini dapat menimbulkan berbagai fraktur dataran tibia. Maka. dapat dilakukan artrotomi.sebagai respon stress normal setelah trauma. Untuk depresi sentral. kemudian direduksi dengan membongkar fragmen ke dalam posisi melalui lubang yang terletak pada korteks tibia. dilakukan bila kerusakan vaskuler dicurigai. Bila depresi sendi lebih dari 5 mm. industri dan atletik dikarenakan permukaan anterior tibia yang terletak subkutis di seluruh panjangnya. fraktur tibia sering merupakan fraktur yang terbuka. Tibia merupakan salah satu tulang yang sering terpapar pada banyak jenis trauma kendaraan. Kominutiva luas disertai pergeseran kondilus umumnya memerlukan plat penunjang untuk sokongan adekuat. dan graft tulang. Arteriogram.5 Diagnosis Working Diagnosis Diagnosis kerja atau working diagnosis untuk kasus ini ialah Fraktur terbuka tibia 1/3 tengah dextra derajat II. maka pemulihan bedah diperlukan. bisa pula dengan tongkat ketiak untuk menghindari pemikulan berat badan pada sendi. cukup diatasi dengan terapi konservatif. Juga dikarenakan lokasinya yang subkutis. kreatinin.6 Manifestasi klinis 4 . Trauma seringkali dapat menimbulkan kominutiva yang meluas ke korteks metafisis tibia. Bila ada depresi sentral dan pergeseran kurang dari 5 mm. biasanya dengan imobilisasi dengan gips sampai efusi dan nyeri tekan teratasi. serta infeksi dan penyatuan tertunda dan non-union lebih sering ditemukan. Permukaan sendi tibia bagian proksimal merupakan bidang datar atau dataran tempat bertumpunya 2 kondilus femoris yang membulat. trauma meningkatkan beban kreatinin untuk klien ginjal. Trauma yang membengkokkan. suplai darah ke tibia kurang daripada tulang lain. atau bila kominutiva menyebabkan pergeseran angularis pada kondilus.6 Differential Diagnosis Diagnosis banding pada kasus ini adalah fraktur tertutup korpus tibia. fraktur tibia proksimal.

misalnya jatuh dengan tangan berjulur dan menyebabkan fraktur klavikula. adanya deformitas dengan nyeri tekan (+) dan pembengkakan. kehilangan fungsi.Nyeri pada daerah tibia.8 o Cedera tidak langsung berarti pukulan langsung berada jauh dari lokasi benturan. o Infeksi (osteomielitis) : dapat terjadi sebagai akibat infeksi akut atau dapat timbul sebagai salah satu proses yang progresif. Cedera Traumatik Cedera traumatik pada tulang dapat disebabkan oleh : o Cedera langsung berarti pukulan langsung terhadap tulang sehingga tulang patah secara spontan. biasanya disebabkan kegagalan absorbsi Vitamin D atau oleh karena asupan kalsium atau fosfat yang rendah. 8 Patofisiologi 5 . lambat dan sakit nyeri. o Rakhitis : suatu penyakit tulang yang disebabkan oleh defisiensi Vitamin D yang mempengaruhi semua jaringan skelet lain. perubahan warna kulit di sekitar tulang tibia dan memar.Secara Spontan Disesbabkan oleh stress tulang yang terus menerus misalnya pada penyakit polio dan orang yang bertugas dikemiliteran. Pemukulan biasanya menyebabkan fraktur melintang dan kerusakan pada kulit di atasnya. 3.7 Etiologi 1. 2.8 o Fraktur yang disebabkan kontraksi keras yang mendadak dari otot yang kuat. Fraktur Patologik Dalam hal ini kerusakan tulang akibat proses penyakit dimana dengan trauma minor dapat mengakibatkan fraktur dapat juga terjadi pada berbagai keadaan berikut : o Tumor Tulang (Jinak atau Ganas) : pertumbuhan jaringan baru yang tidak terkendali dan progresif.

terdapat luka yang panjangnya kurang dari 1 cm dan luka relatif masih bersih dengan sedikit atau bahkan tidak ada sama sekali kontaminasi. Fraktur tipe IIIA ini berupa fraktur segmental atau kominutif yang parah. Fraktur tipe III ke dalam 3 sub-tipe. patah hanya terjadi pada sebagian dari garis tengah tulang.  Fraktur tipe II Pada fraktur tipe atau derajat II. Pada fraktur ini tidak dijumpai otot yang mati dan ketidakstabilan fraktur berkisar dari sedang sampai parah. Pada fraktur tipe IIIA ini masih ada sejumlah jaringan lunak yang cukup untuk menutupi fraktur. Fraktur complete adalah patah pada seluruh garis tengah tulang dan biasanya mengalami pergeseran (bergeser pada posisi normal). Fraktur tertutup (fraktur simple) tidak menyebabkan robeknya kulit. yaitu:  Fraktur tipe IIIA Biasanya dikarenakan oleh trauma/benturan dengan energi yang besar. ialah fraktur dengan laserasi kulit yang panjangnya lebih dari 1 cm. Luka biasanya memiliki panjang lebih dari 10 cm. yaitu:  Fraktur tipe I Pada fraktur tipe atau derajat I. disertai dengan kerusakan jaringan lunak dan biasanya juga disertai dengan perdarahan dengan/tanpa kontaminasi luka. Fraktur derajat I ini umum disebabkan karena trauma dengan energi yang tidak begitu besar. Pola frakturnya sederhana.  Fraktur tipe IIIB 6 . misalnya spiral atau oblikpendek. Pola frakturnya kompleks dengan instabilitas fraktur. Fraktur terbuka (fraktur kompleks) merupakan fraktur dengan luka pada kulit atau membran mukosa sampai ke patahan tulang.Jenis-jenis fraktur 1.8 2. Luka dapat terjadi karena perforasi dari dalam keluar oleh salah satu ujung tulang yang patah. atau berkisar antara 1-10 cm dengan adanya kerusakan kecil/tidak adanya kerusakan pada jaringan lunak. Fraktur terbuka digradasi menjadi 3 tipe.  Fraktur tipe III Pada fraktur tipe atau derajat III. Fraktur in complete.

Kompresi: fraktur di mana tulang mengalami kompresi (terjadi pada tulang belakang). namun ada beberapa generalisasi dari 7 . Jenis ukuran fraktur adalah: 1. Fraktur tipe IIIB ini umum disertai dengan kontaminasi berat dan memerlukan donor jaringan untuk menutup luka. fraktur juga digolongkan sesuai pergeseran anatomis fragmen tulang. Depresi: fraktur dengan tulang patahan terdorong ke dalam (sering terjadi pada tulang tengkorak dan tulang wajah). 8. Impaksi: fraktur di mana fragmen tulang lainnya rusak. 2. Greenstick: fraktur di mana salah satu sisi tulang patah sedang sisi lainnya membengkok. 6. medula spinalis. 5. Spiral: fraktur memuntir seputar batang tulang. 9. Penatalaksanaan Fraktur Tulang Terbuka Tatalaksana utama dari pasien dengan fraktur tulang terbuka. Menurut Smeltzer. penyakit paget. Avulasi: tertariknya fragmen tulang dan ligamen atau tendon pada perlekatannya.  Fraktur tipe IIIC Fraktur terbuka apapun yang sudah menciderai pembuluh darah arteri dan membutuhkan perbaikan segera. 10. fraktur bergeser/tidak bergeser. abdomen dan pelvis yang harus dilakukan sebelum memulai tatalaksana untuk fraktur terbukanya sendiri.Disertai dengan kehilangan jaringan lunak yang luas dengan tulang yang sudah terekspos dan lapisan periosteal yang terbuka. Communitive: fraktur dengan tulang pecah menjadi beberapa fragmen. 3. umunnya dimulai dengan protocol Advance Trauma Life Support (ATLS) yang mencakup pemeriksaan status neurologik. Oblique: fraktur yang membentuk sudut dengan garis tengah tulang (lebih tidak stabil dibanding batang tulang). 7. Walaupun hal ini masih diperdebatkan. kepala. Patologik: fraktur yang terjadi pada bawah tulang berpenyakit (kista tulang. metastasis tumor tulang). Transversal: fraktur sepanjang garis tengah tulang.7 Medica Mentosa Untuk fraktur tulang terbuka. terapi secara farmakologik umumnya berkisar pada pemberian antibiotik. 4.

antibotik yang sudah dibuat. Selain itu. Tepi kulit yang sudah rusak digunting sampai ke perbatasan dengan kulit yang sehat. tulang pun juga harus dibuang apabila sudah tidak melekat dengan jaringan lunak sekitarnya.  Debridement Dilakukan dengan tujuan untuk menghindari adanya jaringan rusak yang tertinggal dan kontaminasi yang meluas. dapat pula dilakukan potret luka secara digital untuk rekam medis. tambahkan pula penisilin atau klindamisin. Cidera tipe II atau tipe III. Lemak subkutan yang longgar juga dibuang bersamaan dengan otot yang rusak parah atau yang non-kontraktil. Hal ini cukup menunjang untuk cidera tipe I. Untuk stabilisasi ini dapat 8 . fragmen sendi yang besar dikecualikan dalam hal ini dengan alasan untuk perbaikan stabilitas sendi. yang meliputi:  Pra-operasi Melakukan evaluasi sebelum operasi dengan menilai secara akurat status neurologik dan vaskuler pasien. debridement bertujuan untuk menghilangkan jaringan rusak yang dapat menjadi tempat berkembangbiaknya bakteri. sebaiknya ditambah dengan antibiotik spectrum Gram-negatif yang adekuat. Setelah tatalaksana awal dengan antibiotik selesai dilakukan.7 Untuk cidera dengan risiko infeksi oleh bakteri anaerobik atau cidera dengan luka yang sudah terkontaminasi parah. antara lain: Semua pasien dengan fraktur terbuka. Selain menghilangkan jaringan mati. sebaiknya mendapat cefazolin (sefalosporin generasi pertama) atau antibiotik dengan spektrum bakteri Garam positif yang ekuivalen. Luka fraktur terbuka dilapisi dengan kasa steril yang lembut. umunnya digunakan antibiotik dari golongan aminoglikosida seperti gentamisin.  Stabilisasi Untuk membantu mengurangi trauma-trauma ringan yang dapat terjadi dan memberikan kestabilan untuk penyembuhan jaringan. Irigasi ini juga dilakukan untuk memperkecil kemungkinan bakteri-bakteri sisa yang dapat menginfeksi jaringan yang masih sehat. Secara singkat.  Irigasi Luka dibersihkan dengan sejumlah besar cairan saline untuk menghilangkan sejumlah besar kontaminasi dan perdarahan yang dapat memperjelas lebih dalam kontaminasi dan jaringan yang rusak. berikutnya ialah pelaksanaan tindakan operasi.

Debridement dalam kurun waktu 6 jam diperlukan untuk tetap menjaga kemungkinan infeksi rendah.7 Non-medica mentosa Terapi non-farmakologik pada pasien fraktur tulang terbuka ialah dengan berusaha untuk mengembalikan fungsi tulang yang mengalami fraktur seperti sediakala. Sebagai tambahan. Stabilisasi ini masih mengundang kontroversi karena penggunaan alat fiksasi dapat menjadi sumber potensial infeksi. Antibiotik tersebut umumnya diteruskan sampai 72 jam diikuti dengan penutupan luka. Setelah melakukan tindakan awal.Faktor kunci dalam mencegah infeksi ialah dengan stabilisasi fraktur secepat mungkin.2 gram setiap 6 jam dapat ditambahkan untuk spektrum bakteri anaerob. Seringkali tindakan memasang alat fiksasi setelah memperbaiki pembuluh darah. dilakukan perbaikan fraktur 9 . lokasi dan pola fraktur dan kondisi kesehatan pasien secara keseluruhan. Profilaksis tetanus juga penting untuk diingat. metronidazole dengan dosis 500 mg setiap 12 jam atau penisilin dengan dosis 1. antara lain dengan melakukan fisioterapi dan terapi okupasi. Antibiotik aminoglikosida (spektrum Gram-negatif) seperti gentamisin dengan dosis 120 mg setiap 12 jam atau 240 mg setiap hari dapat ditambahkan untuk fraktur tipe II dan III. Kemudian.7 Penatalaksanaan Fraktur Tibia Terbuka Medica mentosa Pada fraktur tibia terbuka. dilakukan irigasi luka dan kemudian luka fraktur dilapisi dengan kasa steril.dilakukan beberapa metode fiksasi yang disesuaikan dengan kualitas jaringan lunak sekitar. berakhir pada gangguan rekonstruksi vaskuler. perlu dilakukan pemberian antibiotik secara intravena untuk mencegah infeksi berlanjut sebagai tindakan awal. Fiksasi internal dengan plat dan sekrup biasa dilakukan pada fraktur tipe I dan fraktur artikuler yang membutuhkan reposisi anatomis. Secara umum. setelah debridement primer. Pada fraktur tipe IIIC.positif) seperti sefalotin dengan dosis 1-2 gram setiap 6-8 jam dan biasa cukup baik untuk fraktur tipe I. sebaiknya dilakukan fiksasi eksternal terlebih dahulu sebelum melakukan perbaikan pembuluh darah yang rusak. fiksasi eksternal dilakukan apabila pasien memerlukan irigasi dan debridement yang lebih dari sekali misalnya pada fraktur tipe III dan kadang-kadang donor jaringan juga diperlukan. Antibiotik yang diberikan dapat berupa generasi pertama sefalosporin (spektrum Gram.

Pada fraktur terbuka tipe II.9 Prognosis Prognosis pada fraktur tibia terbuka. Infeksi pada daerah sekitar pin. kegagalan penyambungan. Banyak faktor yang ikut mempengaruhi hal ini. Risiko non. kemungkinan infeksi 10-50%. komplikasi lain dari sebuah fraktur tulang terbuka dapat berupa non-union. antara lain kehilangan dari salah satu bagian kaki dan ketergantungan pada kaki prostetik.9 10 .7 Komplikasi Infeksi ialah komplikasi yang paling jelas dari sebuah fraktur tulang terbuka. Selain infeksi. Pada fraktur terbuka tipe III. II. kemungkinan infeksi 0-2%. yang merupakan komplikasi lanjut. mal-union.dengan cara memasang nail a intramedullar untuk fraktur tipe I. Risiko infeksi biasanya dikaitkan dengan keparahan dari cidera yang terjadi pada fraktur terbuka tipe I. Sedangkan. untuk mencegah infeksi meluas namun tentu saja hal ini masih kontroversi dan memiliki beberapa kerugian. mengingat biasanya cidera tulang derajat tinggi misalnya derajat III sering diiringi dengan adanya infeksi dan kegagalan penyatuan tulang. Namun kemungkinan amputasi masih bisa diperoleh apabila terjadi infeksi. merupakan komplikasi umum pada penanganan dengan external fixator yang biasanya juga ditemani dengan osteomyelitis kronik. salah satunya berkaitan dengan kerusakan pada pembuluh darah yang menghambat suplai darah ke zona yang mengalami fraktur. delayed union. kemungkinan infeksi 2-10%. dan III. Apabila pasien merupakan salah satu partisipan aktif dari olahraga atau pekerjaan yang membutuhkan pergerakan kaki yang baik maka amputasi mustahil dilakukan. subakut dan kronik dan dapat baru muncul berbulan-bulan atau bertahun tahun setelah cidera. atau rasa sakit pada kaki setelah tindakan salvage. Tindakan amputasi terkadang diperlukan.union pada fraktur tulang terbuka lebih besar dibandingkan dengan fraktur tulang tertutup pada derajat yang sama. Kehilangan periosteum tulang juga menjadi salah satu faktor yang menghambat penyembuhan tulang. Tindakan salvage merupakan salah satu tindakan di samping amputasi namun tindakan ini memerlukan lebih banyak prosedur dan waktu operasi dibandingkan dengan tindakan amputasi. Bahkan. dapat pula ditemani dengan keberadaan ostemomyelitis baik yang akut. Fiksasi eksternal diperuntukkan untuk fraktur tipe IIIA dan IIIB. fraktur tibia terbuka memiliki rata-rata infeksi dan non-union yang lebih besar. semakin tinggi derajat cidera tulang yang terjadi maka umumnya akan lebih sulit untuk diterapi.

25-7.84-85. 5. Buku ajar ilmu penyakit dalam. Edisi ke-8. 2007. Alwi I. Rasjad C.Kesimpulan Fraktur dapat dibedakan sesuai dengan jenis-jenis nya yang memiliki komplikasi dan penatalaksanaan sesuai dengan jenis fraktur apa yang mengenai tulang tersebut. Edisi ke-3.h. At a glance: ilmu bedah. 3.p. h. Jonathan G.h. Moran CG. AO principles of fracture management: specific fractures.h. Pengantar ilmu bedah ortopedi. Patel   M. L.355-61. Sabiston.p. Jakarta: Penerbit Yarsif Watampone. 2009. 4. Switzerland: AO Publishing. 7. Setiati S.h. Borley NR. 2. Jakarta: Erlangga 2006.p. Jakarta: InternaPublishing. Setiyohadi B. At a glance anamnesis dan pemeriksaan fisik. Buckley RE. Edisi ke-3.   Open   tibia   fractures.   Available   from   URL: http://emedicine. Sudoyo AW. 2007. Hand book of nursing diagnosis. Komplikasi juga dapat terjadi pada fraktur. dan semakin berat frakturnya makan prognosisnya pun akan semakin buruk. 27 Maret 2015. 6. Diagnosis fisik: evaluasi diagnosis dan fungsi di bangsal.384. 1-17. 11 .com/article/1249761-overview#a010. Jakarta: Penerbit Erlangga. 8. Schneiderman H. Buku ajar bedah. Willms JL.2003. Jakarta: EGC. 364-70. Simadibrata M. Carpenito.2000.762.   Medscape   2011   May   23. J. editor. Ruedi TP. Algranati PS. Daftar Pustaka 1. 9.90-6. 2005.medscape. volume 1. Jakarta: EGC. Grace PA.2007.30-2. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.