Anda di halaman 1dari 27
LAPORAN PENDAHULUAN TINEA A. Pengertian Tinea Tinea adalah salah satu penyakit kulit yang disebabkan oleh jamur.Jamur yang berperan dalam penyakit tinea adalah dermatofita.Dermatopita merupakan sekelompok jamur miselium yang menginfeksi keratin stratum korneum, rambut, dan kuku. (chadrasoma,2006). Tinea adalah penyakit pada jaringan yang mengandung zat tanduk, misalnya lapisan teratas pada kulit pada epidermis, rambut, dan kuku, yang disebabkan golongan jamur dermatofita(jamur yang menyerang kulit), (Adhi Djuanda, 2000). Tinea yang merupakan salah satu dermatositosis adalah Infeksi fungus superficial pada kulit yang disebabkan oleh spesies dermatofilia Micosporum, Epidermophyton, atau Trycophyton. Dari ketiga defenisi diatas dapat disimpulkan bahwas, Tinea adalah penyakit yang disebabkan oleh dermatofit, yang menyerang pada lapisan teratas dari kulit (epidermis). B. Macam-Macam Tinea Menurut Robin Graham-Brown (2005) macam-macam tinea terbagi dalam beberapa macam yaitu: 1. Tinea Vesikolor Tinea vesikolor infeksi yang sering dijumpai ini disebabkan olehpityrosporum orbicularis, yang hanya menginfeksi stratum korneum, rambut, dan kuku jarang terkena.Tinea vesikolor merupakan macula asimtomatik (daerah diskolorasi, hiperpigmentasi pada ras kulit terang dan hipopigmentasi pada ras kulit gelap).Sering dijumpai lesi multiple. 2. Tinea Pedis (athlete’s food) Penyakit ini merupakan infeksi dermatofit yang tersering, biasanya terdapat rasa gatal pada daerah di sela-sela jari kaki yang berskuma, terutama diantara jari ketiga dengan keempat, dan keempat dengan kelima, atau pada telapak kaki. 3. Tinea Kruris Penyakit ini lebih sering terjadi pada laki-laki dan jarang terjadi pada perempuan.Tepi eritematosa yang berskuama pelan-pelan menjalar kebawah paha bagian dalam dan meluas kearah belakang kedaerah prinium dan bokong. 4. Tinea Korposis Tinea ini secara khas mempunyai bagian tepi yang meradang, sedangkan bagian tengahnya bersih, tetapi penampakan seperti ini relatif jarang. 5. Tinea Manum Gambaran dari tinea ini biasanya pada telapak tangan terdapat lesi eritematoma dengan sedikit skuama, sedangkan pada punggung tangan gaambaran peradangan lebih jelas. 6. Tinea Unguium Penyakit ini biasanya menyerang bagian tepi-tepi kuku biasanya dari bagian distal berupa guratan-guratan kekuningan pada lempengan kuku. Kemudian semakin lama seluruh kuku menjadi makin tebal, berubah warna, dan rapuh 7. Tinea Kapatis Tinea kapatis biasanya menyerang pada anak-anak, jarang pada orang dewasa.Hal ini kemungkinan dikarenakan perubahan kandungan asam lemak dalam sebum pada saat menjelang pubertas. D. Etiologi Penyebab tinea adalah jamur dermatofita yang merupakan kelompok jamur berfilamen, yang terbagi dalam tiga genus yaitu, Trychophyton, Mycrosporum, dan Epidermophyton.Jamur ini dapat menginfeksi jaringan kreatin manusia maupun binatang (Mansjoer Arief, 2000). E. Patofisiologi Infeksi dimulai dari kolonisasi hifa, dimulai dengan kolonisasi hifa atau cabangcabangnya dalam jaringan keratin yang mati.Hifa ini menghasilkan enzim keratolitik yang berdifusi kedalam jaringan epidermis, dan menimbulkan reaksi peradangan.Pertumbuhan jamur dengan pola radial didalam stratum korneum menyebabkan timbulnya lesi kulit, dengan batas yang jelas dan meninggi yang disebut ring wrom. (Mansjoer Arief, 2000). F. Pemeriksaan Penunjang Menurut Mansjoer Arief (2000), pemeriksaan penunjang yang bisa dilakukan pada penderita penyakit tinea, bahan pemeriksaan berupa kerokan kulit, rambut dan kuku. terlebih dahulu tempat kelainan dibersihkan dengan alkohol 70% kemudian dilakukan : 1. Kulit berambut halus (glabrous skin ). Kelainan dikerok dengan pisau tumpul steril. Sisik kulit dikumpulkan pada gelas obyek. 2. Kulit berambut. Spesimen yang harus diambil adalah skauma, tunggul rambut dan isi rambut folikel. Sampel rambut diambil dengan forsep dan skauma dikerok dengan skapel tumpul. Rambut yang diambil adalah rambut yang goyah (mudah dicabut) pada daerah lesi. Pemeriksaan dengan lampu Wood dilakukan sebelum pengumpulan bahan untuk melihat kemungkinan adanya flouresensi didaerah lesi pada kasus-kasus tinea kapitis tertentu. 3. Kuku, bahan diambil dari permukaan kuku yang sakit, dipotong lalu dikerok sedalam dalamnya hingga mengenai seluruh tebal kuku. bahan dibawah kuku diambil juga.Sediaan basah dibuat dengan meletakkan bahan diatas gelas obyek, kemudian ditambah 1-2 tetes larutan KOH 20%.Tunggu 15-20 menit untuk melarutkan jaringan. Pemanasan diatas api kecil mempercepat proses pelarutan. Pada saat mulai keluar uap, pemanasan cukup. Bila terjadi penguapan, akan terbentuk kristal KOH sehingga mengganggu pembacaan. G. Penatalaksanaan Penatalaksanaan tinea menurut Mansjoer Arief (2000). 1. Penatalaksanaan medis 2. Diagnosis yang tepat 3. Penentuan obat dilakukan dengan mempertimbangkan efektivitas, keamanan, daerah yang terkena yakni lokasi dan luas lesi. Stadium penyakit (akut atau kronis), jamur penyebab, karena adanya perbedaan kepekaan terhadap obat, serta harga sehingga dapat ditentukan apakah akan diberikan obat oral, topikal, atau pun kombinasi. 4. Mengefektifkan cara penggunaan obat : Obat-obat sistemik dan topikal yang digunakan antara lain : Sistemik : a. Griseofulvin Bersifat pungistatik dan bekerja hanya terhadap dermatofit.Dosis 0,5 -1 gram untuk orang dewasa dan 0,25 -0,5 gram untuk anak-anak sehari atau 10-25 mg/ kg BB. Dosis tunggal atau terbagi dan absopsi meningkat bila diberikan bersama makanan berlemak. Sediaan mikrosize500 mg, setara dengan sediaan ultra mikrosize 333 mg. Lama pengobatan bergantung pada lokasi penyebab, dan keadaan komunitas.Obat diberikan sampai gejala klinis membaik. Biasanya lebih kurang 1 bulan. Efeksampingnya ringan,misalnya sakit kepala mual atau diare dan reakasi fotosensitifitas pada kulit. b. Golongan asol Ketonasol efektif untuk dermatofitosis.Pada kasus-kasus resisten terhadap griseofulfin, obat tersebut dapat diberikan 200mg /hari selama 3-4 minggu pada pagi hari setelah makan.Ketokonasal merupakan kontra indikasi untuk pasien kelainan hati. Itrakonazole merupakan derivat triazol yang berspekterum aktifitas invitro luas dan bersifat fungistatik.Dosis 100 mg perhari selama 2 minggu atau 200 mg per hari selama 1 minggu, memberi hasil baik pada tinea. Pada tinea ungulium dengan dosis 400 mg perhari selama seminggu tiap bulan dalam 2-3 bulan. 5. Penatalaksanaan keperawatan a. Menghilangkan atau mencegah fakto predisposisi. Fakttor tersebut antara lain adalah kelembabapan karena keringat atau lingkungan yang panas, iritasi oleh baju, orang sakit yang berbaring lama, friksi lipatan kulit pada orang gemuk, imunitas rendah. b. Manghilangkan sumber penularan baik dari manusia, hewan,tanah maupun benda disekeliling yang mengandung elemen jamur. Spora dermatofit dapat bertahan hidup dalam waktu yang lama. c. Mengoptimalkan kepatuhan pasien dengan menerangkan perjalan penyakitnya, pemilihan obat yang tepat dapat diterima oleh pasien, dan bila dianggap perlu diterangkan juga tentang biaya pengobatan. H. Komplikasi a. Tinia pedis Jamur mungkin menyebar secara lokal ke kaki-kaki, kuku-kuku jari kaki, tangantangan, kuku-kuku jari tangan, dan pada dasarnya area tubuh mana saja. b. Tinia kursis Pada penderita Tinea kruris dapat terjadi komplikasi infeksi sekunder oleh organisme candida atau bakteri. Pemberian obat steroid topikal dapat mengakibatkan eksaserbasi jamur sehingga menyebabkan penyakit menyebar. I. Pencegahan Penyakit tinea ini sangat erat hubungannya dengan pola kebersihan, baik dari kebersihan diri, lingkungan maupun hewan ternak peliharaan, maka dari itu penyakit tinea sangat mudah sekali menyebar dan terjadi, namun penyakit ini juga dapat dicegah, cara pencegahannya antara lain : a. Menggunakan pakaian longgar dan sedapat mungkin terbuat dari bahan katun. b. Menggunakan kaos kaki dari bahan katun dan menghindari memakai kaos kaki yang lembab. c. Mengganti pakaian setiap hari dengan pakaian kering. (untuk yang kos-kosan hendaknya tidak membiasakan diri memakai pakian yang tergantung berhari-hari tanpa d. e. f. g. h. dicuci). Menggunakan sepatu yang tidak lembab (jangan lupa menjemur sepatu). Mengeringkan handuk setelah setiap kali digunaka. Menghindari memakai pakaian orang lain yang sedang menderita infeksi jamur kulit. Mandi dengan air bersih segera setelah mandi di tempat-tempat umum. Jika perlu, menaburkan bedak atau bedak anti jamur terutama di sela-sela jari kaki dan pelipatan kulit. DAFTAR PUSTAKA Graham-brown robin. 2005. Lecture Notes DermatologiEdisi 8. Jakarta :Erlangga Chadrasoma, parakrama. 2006. RingkasanPatologiAnatomi.Jakarta :BukuKedokteranEGC Djuanda A. 1993. IlmuPenyakitKulit Dan KelaminEdisi 2. Jakarta :FakultasKedokteranUI.S Masjoer, Arief. 2000. KapitaSelektaKedokteran. Jakarta :Media Aesculapius Nanda Internasional.(2009). Diagnosis Keperawatan NANDA 2009-2011.Jakarta: Kedokteran EGC. ASUHAN KEPERAWATAN TINEA PEDIS A. PENGKAJIAN 1. a. Identitas Klien Nama Klien : Tn. S Buku Jenis Kelamin : Laki-Laki Umur : 20 Tahun Agama : Islam Pekerjaan : Mahasiswa Suku : Serawai Alamat : Jln. Sumatra 6, Kel.Sukamerindu, Bengkulu Tanggal masuk : 19-01-2015 Tanggal pengkajian : 20-01-2015 b. Identitas penanggung jawab Nama : Tn.M Umur : 50 Tahun Pekerjaan : PNS Alamat : Jln. Sumatra 6, Kel. Sukamerindu, Bengkulu Hubungan dengan pasien : Bapak 2. Riwayat kesehatan a. Keluhan Utama Gatal-gatal,khususnya pada bagian lipatan dan sela-sela jari kaki dan tangan . b. Riwayat Kesehatan Sekarang Pada saat pengkajian tanggal 20-01-2015 pukul 09.00 klien mengatakan adanya lesi, , susah tidur,gatal-gatal pada lipatan dan sela jari kaki serta tangan. Dengan tanda-tanda vital TD=110/80 mmHg, N=80x/menit, P=20x/menit,S=36 C. c. Riwayat Kesehatan Masa Lalu Klien mengatakan belum pernah mengalami penyakit yang sama dengan penyakit yang dialami saat ini. 3. Riwayat Kesehatan Keluarga Dalam keluarga terdapat penderita penyakit menular (tinea). 4. Pemeriksaan Fisik Keadaan umum : composmentis TD = 110/80 mmHg N = 80x/menit P = 20x/menit S = 36 C 5. Pemeriksaan Head To Toe GCS=15 (V=5 M=6 E=4) Pemeriksaan fisik untuk mencari karakter/tanda tinea pedis yang meliputi:  Kepala I : Ditribusi : Merata Tekstur Kebersihan : : Halus Kurang bersih ada n s p e k s i ketombe P : Tidak ada a nyeri tekan l p a s i  Wajah I : n s p e Kesimetrisan : Simetris k s i P : Ekspresi Tidak ada : a tekan pada wajah Tenang nyeri l p a s i  Kulit I : Warna : Coklat n (Sawo s Matang) p e k s i Lesi Turgor : : Ada Buruk Pupil : Isokor Konjungtiv : An Anemis  Mata I : n s p e k s i a Sklera Kesimetrisa P : n Ketajaman Adanya a nyeri tekan An Ikterik Simetris : Tajam Tidak : Baik Bagian : Bersih dalam kesimetrisa : Simetris : Simetris l p a s i  Telinga I : Sturktur n luar s p e k s i n  Hidung I : Bentuk n Hidung s p e k s i Tidak Ada : Lesi Bagian : Baik Bentuk : Simetris Warna : Pucat Bibir Mokosa : Kering : Merah Keputihan P : Luar Tidak a nyeri tekan ada l p a s i  Mulut I : n s p e k s i Bibir  Lidah I : n s p e Warna k s i Lesi Gerakan Gigi : : : Tidak ada Baik Tidak ada caries  Dada I : Bentuk : Normal Chest Lesi Kesimetrisa : : Tidak ada lesi Simetris n s p e k s i P : n Nyeri tekan a pada dada l p a s i P : e r k u s i Resonan gigi A : Vesikuler u s k u lt a s i  Abdomen I : Warna(saw n o matang) s p e k s i Tidak ada A : lesi Simetris Bising usus u : 15x/menit s k u l t a s i Timpani  Ekstermitas Bawah I : Bisa Berjalan n s p e k s i Bisa berdiri Kelengkapan jari : Normal Adanya lesi dibagian lipatan jari-jari  Ekstermitas Atas I : Jari lengkap n s p e k s i Warna (sawo P : matang) Ada lesi Tidak ada a nyeri tekan l p a s i 6. Kebutuhan Sehari-Hari No Kebutuhan Sehari-Hari Di Di RS Rumah 1 nutrisi - makanan pola makan jenis makanan porsi makan - minum jenis minuman jumlah masalah eliminasi - BAB Frekuensi 2 Warna Konsistensi Keluhan Bau - BAK Frekuensi Warna Bau Keluhan Istirahat dan tidur - Jumlah tidur Siang Malam Gangguan saat tidur 2- 1- 3x/hari 2x/hari Nasi,sa Nasi,bu yur,lau bur k pauk ½ porsi Tidak tentu Air putih,su Air su putih,te 6-8 h 6-8 gelas/h ari gelas/h ari Tidak ada Tidak ada 2x/hari Khas 1x/hari Personal hygiene 3 - Mandi Menggunakan sabun Gosok gigi Dengan pasta gigi Pola aktivitas Khas Lembe k Tidak ada Lembe k Tidak ada Khas Khas 6x/hari Khas 4 5x/hari Khas Khas Tidak Khas ada Tidak ada 5 1-2 jam/har 2 jam/har i 4-5 i jam/har 8 i jam/har i Suasan a Tidak terang, ada berisik, dan gatal 2- Hanya 3x/hari dilap- Ya lap Ya Tidak Ya Ya Mandir Ya i Mandir i +dibant u keluara ga dan perawat 7. Analisa Data No Data senjang Proble Etiolog m i Gatal- Ganggu gatal an pola (pruritu tidur 1 Ds :  Pasien mengatakan susah tidur Do :    Pasien nampak gelisah Mata pasien nampak sayu Terdapat mata panda pada  mata pasien Pasien nampak garuk bagian khususnya menggarukyang bagian gatal, lipatan, seperti sela jari kaki dan s) Ganggu an pola tidur tangan. 2 Ds :  Pasien mengatakan gatal-gatal Adanya Kerusa yang berlebih disela-sela jari lesi kan integrit kaki dan tangan Kerusa Do :   Kulit pasien tampak lesi kan khususnya bagian lipatan dan jaringa sela jari kaki dan tangan. Turgor kulit buruk n as kulit B. DIAGNOSA KEPERAWATAN 1. Gangguan pola tidur berhubungan dengan gatal / pruritus 2. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan lesi akibat dari garukan. C. INTERVENSI (NURSING CARE PLANING) Nama : Tn.S Hari/tanggal : Selasa 20-01-2015 Diagnosa : Tinea Pedis NO D I A TUJUA N INTERVENSI RASIONAL 1. G N O S A D i a g n o s a Setelah dilakukan Mandiri: 1. Untuk mengetahui faktor-faktor penyebab klien tidak selama 1x24 jam: penyebab tidak bisa tidur dan bisa tidur. Klien dapat penunjang keberhasilan tidur. 2. Agar klien mengerti menjelaskan dan 2. Beri penjelasan pada klien dengan pola tidur klien. mampu menerapkan dan keluarga penyebab tehnik untuk gangguan pola tidur. 3. Agar perkembangan jamur mempermudah tidur. 3. Anjurkan klien mandi air terhenti. 1 hangat sebelum tidur dan KH: mengoleskan obat salep  Klien dapat (sesuai terapi) pada daerah menjelaskan lesi. 4. Agar klien mengerti faktor-faktor 4. Atur prosedur tindakan medis tentang tindakan yang penghambat atau keperawatan untuk diberikan selama tidur dan memberi sedikit mungkin priode tidur. dapat mengidentifi gangguan selama periode tindakan keperawatan 1. Identifikasi kasi tehnik untuk tidur. mempermudah Kolaborasi : tidur 2. D i a g n o s a 2 Setelah 5. Untuk membantu proses 5. Kolaborasi dalam pemberian: penyembuhan  Antihistamin/ anti gatal dilakukan Mandiri : tindakan keperawatan 1. Kaji keadaan kulit. mengetahui kondisi dan keadan selama 1x24 jam: Kondisi 1. Untuk umum klien. 2. Untuk mengetahui klien menunjukkan 2. Kaji perubahan warna kulit. kemajuan dalam perbaikan integritas perubahan kulit yang dialami klien. 3. Untuk mencegah kulit. 3. Pertahankan agar area luka KH : tetap bersih dan kering. 4. Jelaskan perubahan yang  Area terbebas dari infeksi lanjut dan kulit bersih, kering, dan lembab Anjurkan klien untuk memakai pakaian ( baju, terjadinya infeksi. 4. Untuk memodifikasi lingkungan untuk mempercepat proses penyembuhan. celana, dalam, kaus kaki) yang . mudah keringat. 5. Kolaborasi menyerap dengan dokter dalam pemberian terapi. 5. Agar terapi pengobatan memberi pada dapat perubahan kondisi dialami klien. C. IMPLEMENTASI DAN EVALUASI dan yang Nama : Tn.S Diagnosa : Tinea Pedis NO DX 1 Mandiri : Hari/tanggal :Rabu,21-01-2015 IMPLEMENTASI S EVALUASI : pasien mengatakan 1. Mengidentifikasi faktor-faktor penyebab tidak bisa sudah tidak da lagi tidur dan penunjang keberhasilan tidur. gangguan tidur. 2. Memberi penjelasan pada klien dan kelurga O :tidur pasien nampak penyebab gangguan pola tidur. nyenyak 3. Menganjurkan klien untuk mandi air hangat A : masalah teratasi sebelum tidur. 4. Menganjurkan menggunakan bedak anti gatal P : Intervensi di hentikan 5. Mengatur prosedur tindakan medis atau keperawatan untuk memeberi sedikit mungkin gangguan selama periode tidur. Kolaborasi : 6. Memberikan obat antihistamin / antigatal 2 1. Mengkaji keadaan kulit. 2. Mengkaji perubahan warna kulit. 3. Mempertahakanagar area luka tetap bersih dan kering. 4. Menganjurkan klien untuk memakai pakaian yang mudah menyerap keringat. 5. Berkolaborasi dengan dokter dalamm pemberian terapi. S : pasien mengatakan gatal berkurang O : turgor kulit nampak membaik A : masalah teratasi P : Intervensi di hentikan ASUHAN KEPERAWATAN A. Pengkajian Anemnesis dilakukan untuk mengklasifikasikan suatu pemahaman sehingga perlu ada kesepakatan antara pemeriksa dan pasien.Wawancara harus efektif dan harus memahami perasaan pasien sehingga pasien lebih terbuka.Dibawah ini adalah wawancara pada pasien gangguan sistem integumen, sebagai data fokus. a) Biodata b) Keluhan utama c) Riwayat penyakit sekarang d) Riwayat penyakit dahulu e) Riwayat penyakit keluarga f) Riwayat psikososial g) Kebiasaan sehari-hari h) Pemeriksaan fisik B. Diagnosa keperawatan 1. Gangguan pola tidur / istirahat b.d gatal/pruritus 2. Gangguan konsep diri (body image) b.d perubahan penampilan fisik 3. Kerusakan integritas kulit b.d lesi akibat efek dari garuk C. Intervensi 1. Gangguan pola tidur / istirahat b.d gatal/pruritus Tujuan : klien dapat menjelaskan dan mampu menerapkan tehnik untuk mempermudah tidur dalam waktu 1x24 jam Kriteria hasil : Klien dapat menjelaskan faktor-faktor dapat mengidentifikasi tehnik untuk mempermudah tidur Intervensi penghambat tidur dan Rasional Identifikasi faktor-faktor penyebab tidak Untuk mengetahui penyebab klien tidak bisa tidur dan penunjang keberhasilan tidur bisa tidur. Beri penjelasan pada klien dan keluarga Agar klien mengerti dengan pola tidur klien penyebab gangguan pola tidur. Anjurkan klien mandi air hangat sebelum Agar perkembangan jamur terhenti tidur dan mengoleskan obat salep (sesuai terapi) pada daerah lesi Kolaborasikan dengan tim medis dalam Untuk membantu proses penyembuhan. pemberian antihistamin/antigatal Atur prosedur tindakan medis atau Agar klien mengerti tentang tindakan yang keperawatan untuk memberi sedikit diberikan selama priode tidur. mungkin gangguan selama periode tidur 2. Gangguan konsep diri (body image) b.d perubahan penampilan fisik Tujuan : klien mampu menunjukkan peningkatan konsep diri dalam waktu 3x24 jam Kriteria hasil : a. Dapat menyatakan dan menunjukkan peningkatan konsep diri. b. Dapat menunjukkan adaptasi yang baik dan menguasai kemampuan diri. Intervensi Rasional Dorong klien untuk menyatakan perasannya, Agar klien dapat mengekspresikan perasaan terutama cara ia merasakan sesuatu, berpikir, yang dirasakan atau memandang dirinya sendiri. Dorong klien untuk mengajukan pertanyaan Untuk mengevaluasi atas tindakan yang telah mengenai masalah kesehatan, pengobatan, diberikan. dan kemajuan pengobatan dan kemungkinan hasilnya Beri informasi yang dapat dipercaya dan Agar klien menguatkan informasi yang telah diberikan keadaannya yakin dan percaya atas Kaji kembali tanda dan gejala gangguan Untuk mengetahui kondisi atau perubahan harga diri, gangguan citra tubuh, dan yang terjadi pada klien perubahan penampilan peran. Beri penjelasan dan penyuluhan tentang Agar klien memahami tentang konsep diri konsep diri yang positif klien 3. Kerusakan integritas kulit b.d lesi akibat efek dari garuk Tujuan : kondisi klien menunjukkan kemajuan dalam perbaikan integritas kulit dalam waktu 7x24 jam Kriteria hasil : Area terbebas dari infeksi lanjut dan kulit bersih, kering, dan lembab Intervensi Rasional Kaji keadaan kulit Untuk mengetahui kondisi dan keadan umum klien. Kaji perubahan warna kulit Untuk mengetahui perubahan kulit yang dialami klien. Pertahankan agar area luka tetap bersih dan Untuk mencegah terjadinya infeksi kering Anjurkan klien untuk memakai pakaian Untuk memodifikasi lingkungan untuk ( baju, celana, dalam, kaus kaki) yang mudah mempercepat proses penyembuhan klien menyerap keringat Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian Agar terapi dan pengobatan dapat memberi terapi perubahan pada kondisi yang dialami klien. BAB III PENUTUP A. KESIMPULAN Tinea adalah salah satu penyakit kulit yang disebabkan oleh jamur.Jamur yang berperan dalam penyakit tinea adalah dermatofita.Dermatopita merupakan sekelompok jamur miselium yang menginfeksi keratin stratum korneum, rambut, dan kuku. (chadrasoma,2006). Macam-macam tinea a. Tinea vesikolor b. Tinea pedis (athlete’s food) c. Tinea kruris d. Tinea korposis e. Tinea manum f. Tinea unguium g. Tinea kapatis B. SARAN a. Klien sebaiknya lebih kooperatif dalam proses penyembuhan guna untuk mempercepat penyembuhan. b. Keluarga pasien sebaiknya lebih memperhatikan klien dan membantu klien dalam proses penyembuhan c. Klien harus memperhatikan masalah pola asupan gizi untuk mempercepet penyembuhan. DAFTAR PUSTAKA Graham-brown robin. 2005. Lecture Notes DermatologiEdisi 8. Jakarta :Erlangga Chadrasoma, parakrama. 2006. RingkasanPatologiAnatomi.Jakarta :BukuKedokteranEGC Djuanda A. 1993. IlmuPenyakitKulit Dan KelaminEdisi 2. Jakarta :FakultasKedokteranUI.S Masjoer, Arief. 2000. KapitaSelektaKedokteran. Jakarta :Media Aesculapius Nanda Internasional.(2009). Diagnosis :BukuKedokteran EGC. Keperawatan NANDA 2009-2011.Jakarta