Anda di halaman 1dari 22

Diagnosis Rinosinusitis Maksilaris Akut serta

Penatalaksanaannya
Nama : Theodora Abdiel Purwa Dolorosa
NIM : 102011066
Kelompok : B10
Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Jl. Arjuna Utara No. 6, Jakarta Barat 11510
Email : theodora.dolorosa@yahoo.com

Pendahuluan
Indonesia sebagai negara berkembang yang terletak pada iklim tropis, memiliki
berbagai ragam budaya, kesenian, flora, fauna dan juga berbagai macam jenis penyakit.
Sebagai negara yang berkembang, sanitasi di Indonesia masih kurang memadai dengan
lonjakan penduduk yang ada. Pemerintah tidak dapat menangani banyaknya wilayah di
Indonesia, dan banyaknya penduduk saat ini. Oleh karena iklim yang baik di Indonesia,
banyaknya penyakit yang lebih marak berkembang di Indonesia dibandingkan dengan negara
lain.
Rinosinusitis berasal dari 2 kata, yaitu rinitis dan sinusitis, adalah suatu infeksi pada
hidung dan sinus paranasal. Berdasarkan perjalanan penyakitnya, infeksi dapat berlangsung
akut maupun kronis, dengan batasan waktu kurang atau lebih dari 12 minggu.
Melalui anamnesis, pemeriksaan fisik dan penunjang, differential diagnosis, working
diagnosis, etiologi, epidemiologi, patofisiologi, gejala klinis, penatalaksanaan, komplikasi,
serta prognosis, tinjauan pustaka ini mencoba untuk menjelaskan faktor yang mempengaruhi
pasien datang dengan keluhan pada skenario 9, yaitu pilek tidak sembuh-sembuh, mengeluh
sering sakit kepala, serta terdapat nyeri di sekitar pipi bila ditekan. Dengan demikian diambil
hipotesis bahwa OS menderita Rinosinusitis Maksilaris Akut.

Pembahasan
Skenario 9 :
Seorang perempuan usia 28 tahun datang ke poliklinik THT dengan keluhan pilek tidak
sembuh-sembuh sejak 2 minggu yang lalu. Pasien juga mengeluh sakit kepala dan nyeri di
pipi bila ditekan.
Mind Mapping

Anamnesis

Pemeriksaan
Fisik

Penunjang

Pencegahan
Diagnosa
Perempuan 28 tahun mengeluh pilek tidak
sembuh-sembuh disertai sakit kepala dan nyeri
tekan dipipi sejak 2 minggu yang lalu.

Prognosi

Komplikasi

Gejal
a
Etiolog
i

Terap

Epidemiolog
Patofisiolog

1. Anamnesis
Anamnesis atau wawancara medis merupakan tahap awal dari rangkaian
pemeriksaan pasien, baik secara langsung pada pasien yang bersangkutan atau secara
tidak langsung melalui keluarga maupun relasi terdekatnya. Setelah anamnesis, kita
dapat merumuskan masalah-masalah pasien dan dilanjutkan dengan proses
pengkajiannya. Kemudian ditetapkan rencana pengelolaan terhadap pasien, yaitu
rencana pemeriksaan untuk diagnosis, pengobatan, maupun penyuluhannya, dan
diikuti dengan pelaksanaan rencana tersebut beserta evaluasi atau tindak lanjutnya.1
Untuk dapat menegakkan diagnosis suatu penyakit atau kelainan di telinga,
hidung, dan tenggorok diperlukan kemampuan dan keterampilan melakukan
anamnesis dan pemeriksaan organ-organ tersebut. Kemampuan ini merupakan bagian
dari pemeriksaan fisik yang merupakan syarat bila terdapat keluhan atau gejala yang
berhubungan dengan kepala dan leher. Banyak penyakit sistemis yang bermanifestasi
2

di daerah telinga, hidung, dan tenggorok demikian juga sebaliknya. Untuk


mendapatkan kemampuan dan keterampilan ini, perlu latihan yang berulang.
Pemeriksaan sebaiknya dilakukan dalam ruangan yang tenang tersedia sebuah
meja kecil tempat meletakkan alat-alat pemeriksaan dan obat-obatan atau meja khusus
ENT instrument unit yang sudah dilengkapi dengan pompa pengisap, kursi pasien
yang dapat berputar dan dinaikturunkan tingginya serta kursi untuk memeriksa dan
meja tulis.
Data anamnesis, terdiri atas beberapa kelompok data penting sebagai berikut:
Identitas. Identitas meliputi nama lengkap pasien, umur atau tanggal lahir, jenis
kelamin, nama orang tua atau penanggung jawab, alamat, pendidikan, pekerjaan, suku
bangsa dan agama.1
Keluhan Utama. Keluhan utama merupakan bagian paling penting dari anamnesis
dan pemeriksaan fisik. Anamnesis ini biasanya memberikan informasi terpenting
untuk mencapai diagnosis banding, dan memberikan wawasan vital mengenai
gambaran keluhan yang menurut pasien paling penting.4 Pada skenario 13, keluhan
utama pasien adalah pilek tidak sembuh-sembuh, mengeluh sering sakit kepala, serta
terdapat nyeri di sekitar pipi bila ditekan.
Keluhan utama penyakit atau kelainan di hidung adalah sumbatan hidung,
sekret di hidung dan tenggorok, bersin, rasa nyeri di daerah muka dan kepala,
perdarahan dari hidung, dan gangguan penghidu.1
Sumbatan hidung dapat terjadi oleh beberapa faktor. Apakah keluhan
sumbatan ini terjadi terus menerus atau hilang timbul, pada satu atau kedua lubang
hidung atau bergantian. Adakah sebelumnya riwayat kontak dengan bahan alergen,
trauma hidung, pemakaian obat tetes hidung dekongestan untuk jangka waktu yang
lama, perokok, atau peminum alkohol berat. Apakah mulut dan tenggorok merasa
kering.1
Sekret di hidung pada satu atau kedua rongga hidung, bagaimana konsistensi
sekret tersebut, encer, bening seperti air, kental, nanah, atau bercampur darah. Apakah
sekret ini keluar hanya pada pagi hari, atau pada waktu-waktu tertentu misalnya pada
musim hujan. Sekret hidung yang disebabkan karena infeksi hidung biasanya
bilateral, jernih sampai purulen. Sekret yang jernih seperti air dan jumlahnya banyak,
khas untuk alergi hidung. Bila sekretnya kuning kehijauan biasanya berasal dari
sinusitis hidung, dan bila bercampur darah dari satu sisi, hati-hati adanya tumor
hidung. Pada anak bila sekret yang terdapat hanya satu sisi dan berbau, kemungkinan

terdapat benda asing di hidung. Sekret dari hidung yang turun ke tenggorok disebut
sebagai post nasal drip, kemungkinan berasal dari sinus paranasal.1
Bersin yang berulang-ulang merupakan keluhan pasien alergi hidung. Perlu
ditanyakan apakah bersin ini timbul akibat menghirup sesuatu yang diikuti keluar
sekret yang encer dan rasa gatal di hidung, tenggorok, mata, dan telinga.1
Rasa nyeri di daerah muka dan kepala yang ada hubungannya dengan keluhan
di hidung, pipi, dan tengah kepala dapat merupakan tanda-tanda infeksi sinus
(sinusitis). Rasa nyeri atau rasa berat ini dapat timbul bila menundukkan kepala dan
dapat berlangsung dari beberapa jam sampai beberapa hari.1
Perdarahan dari hidung yang disebut epitaksis dapat berasal dari bagian
anterior atau posterior rongga hidung. Perdarahan dapat berasal dari satu atau kedua
lubang hidung. Sudah berapa kali dan apakah mudah dihentikan dengan cara
memencet hidung saja. Adakah riwayat trauma sebelumnya dan menderita penyakit
kelainan darah, hipertensi, dan pemakaian obat-obatan anti koagulansia.1
Gangguan penghidu dapat berupa hilangnya penciuman (anosmia) atau
berkurang (hiposmia). Perlu ditanyakan apakah sebelumnya ada riwayat infeksi
hidung, infeksi sinus, trauma kepala, dan keluhan ini sudah berapa lama.1
Riwayat Penyakit Sekarang (RPS). RPS adalah cerita kronologis, terinci dan jelas
mengenai keadaan kesehatan pasien sejak sebelum keluhan utama sampai pasien
datang berobat.1
Riwayat Penyakit Dahulu (RPD). RPD penting untuk mencatat secara rinci semua
masalah medis yang pernah timbul sebelumnya dan terapi yang pernah diberikan,
seperti adakah tindakan operasi dan anastesi sebelumnya, kejadian penyakit umum
tertentu.1
Riwayat Pribadi dan Sosial. Secara umum menanyakan bagaimana kondisi sosial,
ekonomi dan kebiasaan-kebiasaan pasien seperti merokok, mengkonsumsi alkohol,
dan hal yang berkaitan. Asupan gizi pasien juga perlu ditanyakan, meliputi jenis
makanannya, kuantitas dan kualitasnya. Begitu pula juga harus menanyakan
vaksinasi, pengobatan, tes skrining, kehamilan, riwayat obat yang pernah dikonsumsi,
atau mungkin reaksi alergi yang dimiliki pasien. Selain itu, harus ditanyakan juga
bagaimana lingkungan tempat tinggal pasien. Sedangkan riwayat sosial penting untuk
memahami latar belakang pasien, pengaruh penyakit yang diderita terhadap hidup dan

keluarga mereka. Selain itu yang juga perlu diperhatikan adalah riwayat berpergian
(penyakit endemik).1
Riwayat Keluarga. Riwayat keluarga berguna untuk mencari penyakit yang pernah
diderita oleh kerabat pasien karena terdapat kontribusi genetik yang kuat pada
berbagai penyakit.1

2. Pemeriksaan
Pemeriksaan Fisik
Hidung dan sinus

Inspeksi hidung eksternal

Inspeksi melalu speculum,


o Mukosa nasal yang melapisi septum dan turbinat, perhatikan warnanya dan
pembengkakan

Pembengkakan dan kemerahan pada rhinitis virus, bengkak dan pucat


pada rhinitis alergika; polip; ulkus karena penggunaan kokain

o Septum nasal terhadap posisi dan integritas

Deviasi, perforasi

Palpasi sinus frontalia dan maksilaris untuk adanya nyeri tekan


o Nyeri tekan pada sinusitis akut. 2
Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan radiologis untuk mendapatkan informasi dan untuk mengevaluasi
sinus paranasal adalah:2

Pemeriksaan foto kepala dengan berbagai posisi yang khas.

Pemeriksaan CT-Scan

Dengan pemeriksaan radiologis tersebut para ahli radiologi dapat memberikan


gambaran anatomi atau variasi anatomi, kelainan-kelainan patologis pada sinus
parasinalisdan struktur tulang sekitarnya, sehingga dapat memberikan diagnosis yang
lebih dini. 2
Pemeriksaan Foto Kepala
5

Pemeriksaan foto kepala untuk mengevaluasi sinus parasanal terdiri atas berbagai
macam posisi, antara lain: 2
a.

Foto kepala posisi anterior-posterior (AP atau posisi Caldwell)

b.

Foto kepala lateral

c.

Foto kepala posisi Waters

d.

Foto kepala posisi Submentoverteks

e.

Foto Rhese

f.

Foto basis kranii dengan sudut optimal

g.

Foto proyeksi Towne


Pemeriksaan foto polos kepala adalah pemeriksaan yang paling baik dan paling
utama untuk mnegevaluasi sinus parasanal. Karena banyaknya unsur-unsur tulang dan
jaringan lunak yang tumpang tindih pada daerah sinus parasanal, kelainan-kelainan
jaringan lunak, erosi tulang kadang-kadang sulit dievaluasi. Pemeriksaan ini dari sudut
biaya cukup ekonomis dan pasien hanya mendapat radiasi yang minimal. 2
Pada beberapa rumah sakit/klinik di Indonesia untuk mengevaluasi sinus
parasanal cukup melakukan pemeriksaan foto AP dan lateral serta posisi Waters.
Apabila pada foto di atas belum dapat menentukan atau belum diperoleh informasi
yang lengkap, baru dilakukan pemotretan dengan posisi-posisi yang lain. 2
Semua pemeriksaan harus dilakukan dengan proteksi radiasi yang baik, arah
sinar yang cukup teliti dan digunakan focal spot yang kecil (0.6 mm atau lebih kecil).
Posisi pasien paling baik adalah posisi duduk. Apabila dilakukan pada posisi tiduran,
paling tidak foto Waters dilakukan pada posisi duduk, diusahakan untuk memperoleh
hasil yang dapat mengevaluasi air fluid level dalam sinus-sinus. Apabila pasien tidak
dapat duduk, dianjurkan melakukan foto lateral dengan film diletakkan pada posisi
kontralateral dan sinar X horizontal. 2

Gambar 1. Gambaran suatu sinus yang opak.5

Foto AP kepala (Posisi Caldwell)


Foto ini diambil pada posisi menghadap kaset, bidang midsagital kepala tegak
lurus pada film. Idealnya pada film tampak piramid tulang petrosum diproyeksi
pada 1/3 bawah orbita atau pada dasar orbita. Hal ini dapat tercapai apabila orbitomeatal line tegak lurus pada film dan sentrasi membentuk sudut 150 kaudal.

Foto lateral kepala


Foto lateral kepala dilakukan dengan kaset terletak sebelah lateral dengan sentrasi
di lusr kantus mata, sehingga dinding posterior dan dasar sinus maksilaris
berhimpit satu sama lain.

Foto posisi Waters


Foto waters dilakukan dengan posisi di mana kepala menghadap kaset, garis
orbitomeatus membentuk sudut 37 derajat dengan kaset. Sentrasi sinsr kira-kira di
bawah garis interororbital. Pada foto Waters, secara idea piramid tulang petrosum
diproyeksikan pada dasar sinus maksilsris sehingga kedua sinus maksilaris dapst
dievaluasi seluruhnya. Foto Waters umumnya dilakukan pada keadaan mulut
tertutup. Pada posisi mulut terbuka akan dapat menilai daerah dinding posterior
sinus sfenoid dengan baik.

Foto kepala posisi submentoverteks


Posisi submentoverteks diambil dengan meletakkan film pada verteks, kepala
pasien menengadah sehingga garis infraorbito meatal sejajar dengan film. Sentrasi
tegak lurus kaset dalam bidang midsagital melalui sella tursika ke arah verteks.
Banyak variasi-variasi sudut sentrasi pada posisi submentoverteks, agar supaya
mendapatkan gambaran yang baik pada bagiam basis kranii, khususnya sinus
frontalis dan dinding posterior sinus maksilaris.

Foto posisi Rhese


Posisi Rhese atau oblique dapat mengevaluasi bagian posterior sinus etmoid,
kanalis optikus dan lantai dasar orbita sisi lain.

Foto posisi Towne


Posisi Towne dengan berbagai variasi sudut angulasi antara 30 derajat - 60 derajat
ke arah orbitomeatal. Sentrasi dari depan kira-kira 8 cm di atas glabela dari foto
polos kepala dalam bidang midsagital. Proyeksi ini adalah proyeksi yang paling
baik untuk menganalisis dinding posterior sinus maksilaris, fisura orbitalis inferior,
kondilus mandibularis dan arkus zygomatikus posterior. 2
Pada sinusistis maksilaris, pada foto polis sinus sfenoidalis tampak normal,
tetapi

apabila

dilakukan

pemeriksaan

bakteriologik

67%-75%

kasus

memperlihatkan foto polos sinus sfenoidalis.


Kira-kira 50% pada kasus kasus sinusitis sfenoidalis memperlihatkan foto
polos sinus sfenoidalis yang normal, tetapi apabila dilakukan pemeriksaan CTscan, maka tampak kelainan pada mukosa berupa penebalan, pada sinusitis
tampak:

penebalan mukosa

Air-fluid level (kadang -kadang)

Perselubungan homogen atau tidak homogen pada satu atau lebih sinus
paranasal

Penebalan dinding sinus dengan sklerotik (pada kasus kasus kronik)


Pada sisnusistis, mula mula tampak penebalan dinding sinus, dan yang
paling sering diserang adalah sinus maksilaris, tetapi pada sinusitis kronik tampak
juga sebagai penebalan dinding sinus yang disebabkan karena timbulnya fibrosis
dan jaringan oarut yang menebal. Foto polos tak dapat membedakan antara
penebalan mukosa dan gambaran fibrotik jaringan parut, dimana hanya tampak
sebagai penebalan dinding sinus. CT scan dengan penyuntikan kontras dimana
apabila terjadi enhance menunjukkan adanya inflamasi aktif, tetapi bila tidak
terjadi enhance biasanya jaringan fibrotik dan jaringan parut.
Pada kasus kasus sinusistis bakterial akut dengan pemeriksaan posisi
waters, sukar membedakan perselubungan sinus maksilaris yang disebabkan
8

sinusistis murni atau disebabkan oleh air-fluid level. Untuk kasus-kasus semacam
ini perlu dibuatkan posisi waters dalam keadaan duduk. Hampir 50% kasus kasus
dengan perselubungan pada salah satu sinus maksilaris pada pemotretan posisi
tiduran, ternyata setelah difoto duduk, terdapat air-fluid level.2
Air-fluid level akan tampak pula pada kasus-kasus:
a. Pada pasien-pasien yang mengalami pencucian sinus maksilaris, biasanya

minimal 3-4hari baru sinus tersebut kosong. Apa bila pemotretan dilakukan
dlama 3-4 hari setelah pencucian sinus, maka akan tampak gambaran sinus
tersebut suram. Hal ini dapat didiagnosis sebagai sinusitis karena reinfeksi.
b. Pada pasien dengan trauma kepala yang disertai fraktur atau tidak fraktur pada

dinding sinus.
c. Pada penyakit golongan blood dyscrasias seperti penyakit von willebrand di

mana terjadi pendarahan pada permukaan mukosa. Hal ini berbeda pada pasienpasien hemofilia, di mana terjadi pendarahan pada ruangan sendi.2

3. Gejala Klinis
Gejala subyektif terdiri dari gejala sistemik dan gejala lokal. Gejala sistemik
ialah demam dan rasa lesu. Gejala lokal pada hidung terdapat ingus kental yang
kadang-kadang berbau dan dirasakan mengalir ke nasofaring. Dirasakan hidung
tersumbat, rasa nyeri didaerah infraorbita dan kadang-kadang menyebar ke alveolus,
sehingga terasa nyeri di gigi. Nyeri alih dirasakan di dahi dan di depan telinga.
Penciuman terganggu dan ada perasaan penuh dipipi waktu membungkuk ke depan.
Terdapat perasaan sakit kepala waktu bangun tidur dan dapat menghilang hanya bila
peningkatan sumbatan hidung sewaktu berbaring sudah ditiadakan.2
Gejala obyektif, pada pemeriksaan sinusitis maksila akut akan tampak
pembengkakan di pipi dan kelopak mata bawah. Pada rinoskopi anterior tampak
mukosa konka hiperemis dan edema. Pada sinusitis maksila, sinusitis frontal dan
sinusitis etmoid anterior tampak mukopus atau nanah di meatus medius. Pada
rinoskopi posterior tampak mukopus di nasofaring (post nasal drip).

Gambar 1. Pembengkakan pipi pada pasien sinusitis.2

4. Diagnosis
Working Diagnosis
Rinosinusitis Maksilaris Akut
Rinosinusitis adalah suatu peradangan pada sinus yang terjadi karena alergi
atau infeksi virus, bakteri maupun jamur. Secara klinis, rinosinusitis dapat
dikategorikan sebagai rinosinusitis akut bila gejalanya berlangsung dari beberapa hari
sampai 4 minggu, rinosinusitis subakut bila berlangsung dari 4 minggu sampai 3
bulan dan rinosinusitis kronis bila berlangsung lebih dari 3 bulan.3
Rinosinusitis bisa terjadi pada salah satu dari keempat sinus yang ada, yaitu
maksilaris, etmoidalis, frontalis, atau sfenoidalis. Bila mengenai beberapa sinus
disebut multisinusitis, sedangkan bila mengenai semua sinus paranasal disebut
pansinusitis. Namun pada tinjauan pustaka ini, akan lebih dibahas mengenai sinus
maksilaris, yaitu sesuai keluhan pada skenario 9.
Sinus maksilaris disebut juga antrum Highmore, yang telah ada saat lahir. Saat
lahir sinus bervolume 6-8 ml, sinus kemudian berkembang dengan cepat dan akhirnya
mencapai ukuran maksimal yaitu 15 ml saat dewasa. Merupakan sinus terbesar dan
terletak di maksila pada pipi yang berbentuk segitiga. Dinding anterior sinus adalah
permukaan fasial os maksilaris yang disebut fosa kanina, dinding posteriornya adalah
permukaan infra-temporal maksilaris, dinding medialnya adalah dinding lateral
rongga hidung, dinding superiornya adalah dasar orbita dan dinding inferiornya
adalah prosesus alveolaris dan palatum. Ostium sinus maksilaris berada disebelah
superior dinding medial sinus dan bermuara ke hiatus semilunaris melalui
infundibulum etmoid.3
Sinus maksilaris ini sering terinfeksi oleh karena merupakan sinus paranasalis
yang terbesar, letak ostiumnya yang lebih tinggi dari dasar sehingga aliran sekret dari
sinus maksila hanya tergantung dari gerakan silia, dasar dari anatomi sinus maksila
sangat berdekatan dengan akar gigi rahang atas, yaitu P1 dan P2 dan M1, M2 dan M3,
kadang-kadang juga gigi caninus, bahkan akar-akar gigi tersebut dapat menonjol ke
dalam sehingga infeksi gigi geligi mudah naik ke atas menyebabkan sinusitis dan

10

karena ostium sinus maksila terletak di meatus medius, disekitar hiatus semilunaris
yang sempit sehingga mudah tersumbat.3

Differensial Diagnosis
Sinusitis Etmoidalis
Sinusitis etmoidalis akut terisolasi lebih lazim pada anak, seringkali
bermanifestasi sebagai selulitis orbita. Pada dewasa, seringkali bersama-sama dengan
sinusitis maksilaris, serta dianggap sebagai penyerta sinusitis frontalis yang tak dapat
dielakkan. Gejala berupa nyeri dan nyeri tekan di antara kedua mata dan di atas
jembatan hidung, drainase dan sumbatan hidung. Pada anak, dinding lateral labirin
etmoidalis (lamina papirasea) seringkali merekah dan karena itu cenderung lebih
sering menimbulkan selulitis orbita. 3
Sinusitis Frontalis
Sinusitis frontalis akut hampir selalu bersama-sama dengan infeksi sinus
etmoidalis anterior. Sinus frontalis berkembang dari sel-sel udara etmoidalis anterior,
dan duktus nasalis frontalis yang berlekuk-lekuk berjalan amat dekat dengan sel-sel
ini. Maka faktor-faktor predisposisi infeksi sinus frontalis akut adalah sama dengan
faktor-faktor untuk infeksi sinus lainnya. Penyakit ini terutama ditemukan pada
dewasa, dan selain daripada gejala infeksi yang umum, pada sinusitis frontalis
terdapat nyeri kepala yang khas. Nyeri berlokasi di atas alis mata, biasanya pada pagi
hari dan memburuk menjelang tengah hari, kemudian perlahan-lahan mereda hingga
menjelang malam. Pasien biasanya menyatakan bahwa dahi terasa nyeri yang hebat
pada palpasi atau perkusi di atas daerah sinus yang terinfeksi. Transiluminasi dapat
terganggu, dan radiogram sinus memastikan adanya penebalan periosteum atau
kekeruhan sinus menyeluruh, atau suatu air-fluid level. 3
Sinusitis Sfenoidalis.
Pada sinusitis sfenoidalis rasa nyeri terlokalisasi di vertex, oksipital, di belakang bola
mata, dan di daerah mastoid. Namun penyakit ini lebih lazim menjadi bagian dari
pansinusitis, sehingga gejalanya sering menjadi satu dengan gejala infeksi sinus
lainnya.3

11

5. Etiologi
Prinsip utama dalam menangani infeksi sinus adalah menyadari bahwa hidung
dan sinus paranasalis hanyalah sebagaian dari sistem pernapasan total. Penyakit yang
menyerang bronkus dan paru paru juga dapat menyerang hidung dan sinus
paranasalis. Oleh karena itu, dalam kaitannya dengan proses infeksi, seluruh saluran
napas dengan perluasan-perluasan anatomik harus dianggap sebagai suatu kesatuan.
Infeksi mula-mula dapat menyerang seluruh sistem pernapasan, namun dalam derajat
yang berbeda-beda, dan perubahan patologik dan kondisi klinis yang ditimbulkannya,
tergantung pada predominansi infeksi pada daerah tertentu, sehingga timbul sinusitis,
laringitis, pneumonitis dan seterusnya. Hubungan antara saluran pernapasan atas dan
bawah ini menyebabkan apa yang disebut sebagai sindrom sinobronkial.3
Telah sangat diketahui bahwa berbagai faktor fisik, kimia, saraf, hormonal dan
emosional dapat mempengaruhi mukosa hidung, demikian juga mukosa sinus dalam
derajat yang lebih rendah. Secara umum, sinusitis kronik lebih lazim pada iklim yang
dingin dan basah. Defisiensi gizi, kelemahan, tubuh yang tidak bugar, dan penyakit
sistemik umum perlu dipertimbangkan dalam etiologi sinusitis. Perubahan dalam
faktor-faktor lingkungan, misalnya dingin, panas, kelembaban, dan kekeringan,
demikian pula polutan atmosfer termasuk asap tembakau, dapat merupakan
predisposisi infeksi. Dalam daftar faktor predisposisi umum ini harus ditambahkan
paparan terhadap infeksi sebelumnya, misalnya common cold. 3
Faktor-faktor lokal tertentu juga dapat menjadi predisposisi penyakit sinus.
Faktor-faktor ini akan dijelaskan pada masing-masing penyakit sinus, namun secara
umum berupa delormitas rangka, alergi, gangguan geligi, benda asing dan neoplasma.
Agen etiologi sinusitis dapat berupa virus, bakteri atau jamur: 3

Virus.
Sinusitis virus biasanya terjadi selama infeksi saluran napas atas; virus yang lazim

menyerang hidung, laring, dan faring juga menyerang sinus. Mukosa sinus paranasalis berjalan
kontinu dengan mukosa hidung, dan penyakit virus yang menyerang hidung perlu dicurigai
dapat meluas ke sinus.

Bakteri.
Edema dan

hilangnya fungsi silia normal pada infeksi virus meciptakan suatu

lingkungan yang ideal untuk perkembangan infeksi bakteri. Infeksi ini seringkali melibatkan
lebih dari satu bakteri. Organisme penyebab sinusitis akut mungkin sama dengan penyebab

12

otitis media. Yang sering ditemukan dalam frekuensi yang makin menurun adalah
Streptococcus pneumoniae, Haemophilus influenzae, bakteri anerob, Branhamella catarrhalis,
strep tokok alfa, Staphylococcus aureus, dan Streptococcus pyogenes. Selama suatu fase akut,
sinusitis kronik dapat disebabkan oleh bakteri yang sama seperti yang menyebabkan sinusitis
akut.

Sinusitis kronik biasanya berkaitan dengan drainase yang tidak adekuat


ataupun fungsi mukosiliar yang terganggu, maka agen infeksi yang terlibat cenderung
oportunistik, di mana proporsi terbesar merupakan bakteri anaerob. Akibatnya, biakan
rutin tidak memadai dan diperlukan pengambilan sampel secara hati-hati untuk bakteri
anaerob. Bakteri aerob yang sering ditemukan dalam frekuensi yang makin menurun
antara lain Staphylococcus aureus, Streptococcus viridans, Haemophilus influenzae,
Neisseria flavus, Staphylococcus epidermidis, Streptococcus pneumoniae, dan
Escherichia coli. Bakteri anaerob termasuk Peptostreptococcus, Coryne-bacterium,
Bacteroides, dan Veillonella. Infeksi campuran antara organisme aerob dan anaerob
seringkali terjadi. 3

6. Epidemiologi
Sinus berkembang pada masa kanak-kanak dan remaja, dan kemudian saat
sinus-sinus tersebut menjadi rentan infeksi. Sinus maksilaris dan etmoidalis sudah
terbentuk sejal lahir, dan biasanya hanya kedua sinus ini yang terlibat dalam sinusitis
di masa kanak-kanak. Sinus frontalis mulai berkembang dari sinus etmoidalis anterior
pada usia sekitar 8 tahun dan menjadi penting secara klinis menjelang usia 12 tahun,
terus berkembang hingga usia 25 tahun. Sinusitis frontalis akut biasanya jadi pada
usia dewasa muda. Pada sekitar 20 persen populasi, sinus frontalis tidak ditemukan
atau rudi-menter, dan karenanya tidak mempunyai makna klinis. Sinus sfenoidalis
mulai mengalami pneumati-sasi sekitar usia 8 hingga 10 tahun dan terus berkembang
hingga akhir usia belasan atau awal dua-puluhan. 4

7. Patofisiologi
Beberapa teori yang dikemukakan sebagai fungsi sinus paranasal antara lain
sebagai pengatur kondisi udara, sebagai penahan suhu, membantu keseimbangan
kepala, membantu resonansi suara, peredam perubahan tekanan udara dan membantu
produksi mukus untuk membersihkan rongga hidung.5
Fungsi sinus paranasal dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti pertahanan
mukosilier, ostium sinus yang tetap terbuka dan pertahanan tubuh baik lokal maupun
13

sistemik.

Seperti

pada

mukosa

hidung, di dalam

sinus juga terdapat

mukosa bersilia dan

palut

atasnya. Di dalam

sinus silia bergerak

secara teratur untuk

mengalirkan lendir

menuju

ostium

jalur-jalur yang sudah

lendir

alamiahnya

di

mengikuti

tertentu polanya.5

Gambar 2. Pergerakan silia dalam drainase cairan sinus.5


Bila terjadi edema di kompleks osteomeatal, mukosa yang letaknya
berhadapan akan saling bertemu, sehingga silia tidak dapat bergerak dan lendir tidak
dapat dialirkan. Maka terjadi gangguan drainase dan ventilasi didalam sinus, sehingga
silia menjadi kurang aktif dan lendir yang di produksi mukosa sinus menjadi lebih
kental dan merupakan media yang baik untuk tumbuhnya bakteri patogen. Bila
sumbatan berlangsung terus, akan terjadi hipoksia dan retensi lendir sehingga timbul
infeksi oleh bakteri anaerob. Bakteri yang sering ditemukan pada sinusitis kronik
adalah Streptococcus pneumoniae, Haemophilus influenzae, Moraxella catarrhalis,
Streptococcus B hemoliticus, Staphylococcus aureus, kuman anaerob jarang
ditemukan. Selanjutnya terjadi perubahan jaringan menjadi hipertrofi, polipoid atau
pembentukan polip dan kista.5

Gambar 3. Perubahan mukosa pada sinus yang terinfeksi.5

14

Reaksi peradangan

berjalan menurut tahap-tahap tertentu yang khas.

Pelebaran kapiler darah akan memperlambat aliran darah sehingga akan


mengeluarkan fibrin dan eksudat serta migrasi leukosit menembus dinding pembuluh
darah membentuk sel-sel nanah dalam eksudat. Tetapi bilamana terjadi pada selaput
lendir, maka pada saat permulaan vasodilatasi terjadi peningkatan produksi mukus
dari kelenjar mukus sehingga nanah yang terjadi bukan murni sebagai nanah, tetapi
mukopus.5

8. Penatalaksanaan
Sinusitis maksilaris akut umumnya diterapi dengan antibiotik spektrum luas
seperti amoksisilin, ampisilin atau eritromisin plus sulfonimid, dengan alternatif lain
berupa amoksisilin/klavulanat, sefaklor, sefuroksim, dan trimetoprim plus sulfonamid.
Dekongestan seperti pseudocfedrin juga bermanfaat, dan tetes hidung poten seperti
fenilefrin (Neo-Syncphrinc) atau oksimctazolin dapat digunakan selama beberapa hari
pertama infeksi namun kemudian harus dihentikan. Kompres hangat pada wajah, dan
analgetik seperti aspirin dan asetaminofen berguna untuk meringankan gejala. Pasien
biasanya memperlihatkan tanda-tanda perbaikan dalam dua hari, dan proses penyakit
biasanya menyembuh dalam 10 hari, kendatipun konfirmasi radiologik dalam hal
kesembuhan total memerlukan waktu dua minggu atau lebih. 7

Tabel 1. Antibiotic oral untuk sinusitis akut.6

15

Kegagalan

penyembuhan

dengan suatu terapi aktif mungkin


menunjukkan organisme tidak lagi
peka

terhadap

antibiotik,

atau

antibiotik tersebut gagal mencapai


lokasi infeksi. Pada kasus demikian,
ostium

sinus

dapat

sedemikian

edematosa sehingga drainase sinus


Gambar 4. Irigasi antrum. Sekret
purulent dalam sinus maksilaris dapat
diirrigasi dengan menusukan jarum
emnembus meatus inferior.3

terhambat
abses
terdapat

dan

sejati.
suatu

terbentuk
Bila

suatu

demikian,

indikasi

irigasi

antrum segera. 7
Pada sinusitis kronik dapat dilakukan pembedahan dengan functional
endoscopic sinus surgery (FESS) melalui kompleks ostiomeatal. Sering kali
diperlukan modifikasi daerah ostia untuk mendapatkan penyaliran yang baik misalnya
membuang ujung anterior konka media. Adanya polip harus dibuang dengan
pembedahan. 7
Pada sinusitis maksilaris kronik yang tidak sederhana dapat dikerjakan operasi
Caldwell-Luc, yaitu sinusotomi maksila yang dapat dilakukan melalui irisan pada
daerah fosa kanina. Tulang dinding anterior sinus maksilaris direseksi melalui mulut
untuk mencapai sinus guna mengeluarkan mukosa yang terinfeksi, kista, serta debris
epitel. Pembedahan ini tidak boleh dilakukan pada anak karena dapat merusak gigi
primordial.7

9. Komplikasi
a) Komplikasi Orbita
Sinus etmoidalis merupakan penyebab komplikasi pada orbita yang tersering.
Pembengkakan orbita dapat merupakan manifestasi sinusitis etmoidalis akut,
namun sinus frontalis dan sinus maksilaris juga terletak di dekat orbita dan dapat
pula menimbulkan infeksi isi orbita. Terdapat lima tahapan:
1. Peradangan atau reaksi edema yang ringan. Terjadi pada isi orbita akibat
infeksi sinus etmoidalis di dekatnya. Seperti dinyatakan sebelumnya, keadaan
ini terutama ditemukan pada anak, karena lamina papirasea yang memisahkan
orbita dan sinus etmoidalis seringkah merekah pada kelompok umur ini.
16

2. Selulitis orbita. Edema bersifat difus dan bakteri telah secara aktif menginvasi
isi orbita namun pus belum terbentuk.
3. Abses subperiosteal. Pus terkumpul di antara periorbita dan dinding tulang
orbita menyebabkan proptosis dan kemosis.
4. Abses orbita. Pada tahap ini, pus telah menembus periosteum dan bercampur
dengan isi orbita. Tahap ini disertai gejala sisa neuritis optik dan kebutaan
unilateral yang lebih serius. Keterbatasan gerak otot ckstraokular mata yang
terserang dan kemosis konjungtiva merupakan tanda khas abses orbita, juga
proptosis yang makin bertambah.
5. Trombosis sinus kavernosus. Komplikasi ini merupakan akibat penyebaran
bakteri melalui saluran vena ke dalam sinus kavernosus di mana selanjutnya
terbentuk suatu tromboflebitis septik. Secara patognomonik, trombosis sinus
kavernosus terdiri dari oftalmoplcgia, kemosis konjungtiva, gangguan
penglihatan yang berat, kelemahan pasien dan tanda-tanda meningitis oleh
karena letak sinus kavernosus yang berdekatan dengan saraf kranial II, III, IV
dan VI, serta berdekatan juga dengan otak.
Pengobatan komplikasi orbita dari sinusitis berupa pemberian antibiotik
intravena dosis tinggi dan pendekatan bedah khusus untuk membebaskan pus dari
rongga abses. Manfaat terapi antikoagulan pada trombosis sinus kavernosus masih
belum jelas. Pada kasus tromboflebitis septik, masuk logika bila dikatakan terapi
antikoagulan hanya akan menyebarkan (diseminata) trombus yang terinfeksi. Perlu
diingat bahwa angka kematian setelah trombosis sinus kavernosus dapat setinggi
80%. Pada penderita yang berhasil sembuh, angka morbiditas biasanya berkisar
antara 60 hingga 80%, di mana gejala sisa trombosis sinus kavernosus seringkah
berupa atrofi optik. 8
b) Mukokel
Mukokel adalah suatu kista yang mengandung mukus yang timbul dalam
sinus. Kista ini paling sering ditemukan pada sinus maksilaris, sering disebut
sebagai kista retensi mukus dan biasanya tidak berbahaya. Dalam sinus frontalis,
etmoidalis dan sfenoidalis, kista ini dapat membesar dan melalui atrofi tekanan
mengikis struktur di sekitarnya. Dengan demikian, kista ini dapat bermanifestasi
sebagai pembengkakan pada dahi atau fenestra nasalis dan dapat menggeser mata

17

ke lateral. Dalam sinus sfenoidalis, kista dapat menimbulkan diplopia dan


gangguan penglihatan dengan menekan saraf di dekatnya.
Piokel adalah mukokel terinfeksi. Gejala piokel hampir sama dengan
mukokel meskipun lebih akut dan lebih berat. Eksplorasi sinus secara bedah untuk
mengangkat semua mukosa yang terinfeksi dan berpenyakit serta memastikan
suatu drainase yang baik, atau oblitcrasi sinus merupakan prinsip-prinsip terapi. 8
c) Komplikasi Intrakranial
Meningitis Akut. Di samping trombosis sinus kavernosus yang telah
dijelaskan di atas, salah satu komplikasi sinusitis yang terberat adalah
meningitis akut. Infeksi dari sinus paranasalis dapat menyebar sepanjang
saluran vena atau langsung dari sinus yang berdekatan, seperti lewat
dinding posterior sinus frontalis atau melalui lamina kribriformis di dekat
sistem sel udara etmoidalis.
Abses Dura. Adalah kumpulan pus di antara dura dan tabula interna
kranium seringkali mengikuti sinusitis frontalis. Proses ini mungkin timbul
lambat sehingga pasien mungkin hanya mengeluh nyeri kepala, dan
sebelum pus yang terkumpul mampu menimbulkan tekanan intrakranial
yang memadai, mungkin tidak terdapat gejala neurologik lain. Abses
subdural adalah kumpulan pus di antara dura mater dan araknoid atau
permukaan otak. Gejala-gejala kondisi ini serupa dengan abses dura yaitu
nyeri kepala yang membandel dan demam tinggi dengan tanda-tanda
rangsangan meningen. Gejala utama tidak timbul sebelum tekanan
intrakranial meningkat atau sebelum abses memecah ke dalam ruang
subaraknoid.
Abses Otak. Setelah sistem vena dalam mukoperiosteum sinus terinfeksi,
maka dapat dimengerti bahwa dapat terjadi perluasan metastastik secara
hematogen ke dalam otak. Namun, abses otak biasa nya terjadi melalui
tromboflebitis yang meluas secara langsung. Dengan demikian, lokasi
abses yang lazim adalah pada ujung vena yang pecah, meluas menembus
dura dan araknoid hingga ke perbatasan antara substansia alba dan grisca
korteks serebri. Pada titik inilah akhir saluran vena permukaan otak
bergabung dengan akhir saluran vena serebralis bagian sentral.
18

Kontaminasi substansi otak dapat terjadi pada puncak suatu sinusitis


supuratif yang berat, dan proses pembentukan abses otak dapat berlanjut
sekalipun penyakit pada sinus telah memasuki tahap resolusi normal. Oleh
karena itu, kemungkinan terbentuknya abses otak perlu dipertimbangkan
pada semua kasus sinusitis frontalis, etmoidalis dan sfenoidalis supuratif
akut yang berat, yang pada fase akut dicirikan oleh suhu yang meningkat
tajam dan menggigil sebagai sifat infeksi intravena. Kasus seperti ini perlu
diobservasi selama beberapa bulan. Hilangnya napsu makan, penurunan
berat badan, kakeksia sedang, demam derajat rendah sore hari, nyeri kepala
berulang, serta mual dan muntah yang tak dapat dijelaskan mungkin
merupakan satu-satunya tanda infeksi yang berlokasi dalam hemisfer
serebri. 8
Komplikasi-komplikasi intrakranial ini sekali-sekali tidak boleh ditafsirkan
selalu berjalan mengikuti urutan dari meningitis ke abses lobus frontalis. Komplikasi
ini dapat terjadi setiap saat dengan hanya sedikit atau tanpa keterlibatan varian
lainnya. Pengobatan infeksi supuratif intrakranial yang berat kembali berupa terapi
antibiotik yang intensif, drainase secara bedah pada ruangan yang meng-ilami abses
dan pencegahan penyebaran infeksi. 8

10. Prognosis
Pada sinusitis akut yang diberikan terapi adekuat memiliki prognosis yang baik, yaitu
dapat sembuh sempurna tanpa meninggalkan skuele. Tetapi tidak menutup
kemungkinan sinusitis tersebut residif. Namun, jika penanganan tidak adekuat dan
pasien tidak menurut maka kemungkinan dari sinusitis akut menjadi kronik akan
sangat besar. 9

11. Pencegahan

Mandi air hangat sedikit lebih lama, karena uap hangat yang terembus dari air mandi
ini akan mencairkan dahak yang kental dan sulit dikeluarkan. Mandi sauna juga
sangat baik bagi penderita penyakit sinusitis.

19

Perbanyak minum air putih sehingga dapat mengengencerkan dahak. Jika dahal lebih
encer, semakin kecil kemungkinan terjadinya sumbatan.

Berhenti merokok bagi perokok aktif, karena rokok berefek mengeringkan selaput
lendir lunak di dalam saluran lendir.

Gunakan pelaga sumbatan oral atau semprotan pelega sumbatan hidung hanya untuk
jangka pendek.

Keluarkan lendir hidung secara perlahan, tutup 1 lubang hidung pada saat
mengeluarkan lendir dari lubang hdiung yang lain.

Penderita sinusitis perlu lebih cermat merawat kesehatan gigi dan gusi, karena ada
kalanya kuman-kuman yang terdaat pada gigi dan gusi menyebrang ke area sinus.

Hendaknya selalu mencuci tangan, walaupun jarak antara tangan dan sinus relatif
jauh. Sering terjadi, penyakit sinusitis berlangsung setelah seseorang menderita pilek
atau alergi yang tidak sembuh-sembuh. Virus dari pilek ini sering terbawa tangan
yang kotor.9

Penutup
Kesimpulan
Rinosinusistis merupakan penyakit yang residif, lebih banyak menyerang anak anak daripada
orang dewasa. Bila penanganan tepat maka sinusitis tidak akan menjadi kronik dan
menimbulkan komplikasi yang berbahaya. Pengobatan yang diberikan dapat berupa bed rest
dengan posisi kepala yg lebih tinggi selama 10 hari dan pemberian antibiotik yang sesuai
dengan kausa dari sinusitis tersebut. Bila dengan pengobatan antibiotic saja tidak bisa
sembuh, maka perlu dilakukan drainase.

20

Daftar Pustaka
1. Markum HMS. Anamnesis dan pemeriksaan fisik. Jakarta: Interna Publishing;
2011.h.11-25, 47-8, 61, 155-65.
2. Soepardi EA, Iskandar N, Bashiruddim J, Restuti RD. Telinga hidung tenggorok
kepala dan leher. Jakarta: Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia;
2007.h.139-53.
3. Welsby PD. Pemeriksaan fisik dan anamnesis klinis. Jakarta: EGC; 2010.h.181-3.
4. Gleadle Jonathan. At a glance anamnesis dan pemeriksaan fisik. Jakarta: Penerbit
Erlangga; 2007.h.12-21.
5. Mangunkusumo, Endang, Nusjirwan R. Buku ajar ilmu kesehatan telinga hidung
tenggorok kepala leher. 5th Ed. Jakarta: Gaya Baru; 2004.h.120-124.
6. Cody, Taylor. Pemeriksaan hidung dan sinus-sinus, penyakit telinga hidung dan
tenggorokan. Jakarta: EGC; 2004.
21

7. Disease of ear, nose, and throat. Edisi 4. New Delhi: Gopson Paper Ltd; 2007.h.145-8.
8. Rusdy GM. Sinus paranasal sinusitis

dalam

radiologi

diagnostik.

Cetakan kedua, Yogyakarta: Penerbit Pustaka Cendekia Press


Yogyakarta; 2008.h . 116-9.
9. Soetjipto D, Mangunkusomo E. Sinus paranasal. Jakarta: Balai Penerbit FKUI;
2007.h.145-9.

22