Anda di halaman 1dari 47

TEORI DASAR

TEORI DASAR
1. Pendahuluan
2. Konstruksi
3. Medan putar
4. Prinsip kerja motor induksi
5. Slip
6. Kopel

1. Pendahuluan
Berdasarkan
fungsi

Sumber
tegangan

Mesin Tak Serempak

Kelebihan dan
kekurangan

Pemakaian
Putaran

►Berdasarkan fungsi dibedakan menjadi generator induksi
dan motor induksi. Generator induksi jarang atau tidak
pernah di gunakan untuk melayani kepentingan umum.
►Motor induksi dalam pemakaian sehari-hari digunakan
dalam perindustrian (sistem 3 fasa) dan rumah tangga
(sistem 1 fasa).
►Sumber tegangan dihubungkan pada salah satu elemen
nya (stator atau rotor), sedang elemen lainnya hanya
karena dihasilkan tegangan induksi. Oleh sebab itu
motor tak serempak dinamakan juga motor induksi.
►Keuntungan/kelebihan:
- tidak memerlukan arus dc untuk penguatan medan
(eksitasi), hanya perlu arus ac
- lebih ekonomis untuk kecepatan tinggi
- tingkat pengaturan kecepatan cukup baik (rotor belit)
►Kekurangan:
- kecepatan motor berkurang dengan bertambahnya
kopel beban

Prinsip fungsi motor .Gambar 1-1.

kecuali pada shaded pole motor . f) : p dimana. f) : p dimana. f = frekuensi -----.Hz n = putaran rotor – rpm p = jumlah pasang kutub ► Mesin Tak Serempak / Asinkron → n ҂ (60.Hz n = putaran rotor – rpm p = jumlah pasang kutub ns = (60.rpm ►Pada mesin tak serempak tidak ada kutub magnet seperti pada mesin serempak. f = frekuensi -----. f) : p ns = putaran sinkron / putaran medan putar .Putaran: ► Mesin Serempak/Sinkron → f = (p x n) : 60 → n = (60.

Konstruksi Konstruksi dasar Stator Rumah stator Inti stator Rotor Rotor sangkar Rotor belit .2.

dua atau tiga macam tegangan → merubah kecepatan putaran motor . Lembaran baja plat antara (0.►Konstruksi dasar stator ♦ Rumah stator → terbuka dan tertutup → berfungsi mekanis.019) inch ♦ Alur stator → tempat belitan stator → terbuka. tertutup sebagian → tertutup ♦ Belitan stator → dapat digunakan untuk satu.014÷0. harus kokoh → terbuat dari besi cor/baja cor/besi plat yang dilengkung ♦ Inti stator → fungsi elektris yang penting → terbuat dari bahan plat baja silikon berlaminasi. campuran silikon 1%÷3%.

.

.

.

.

menggambarkan perubahan putaran dengan perubahan jumlah kutub a. belitan motor 2 kutub yang dihubungkan seri c. belitan motor 4 kutub. belitan motor 2 kutub yang dihubungkan paralel .Gambar belitan motor induksi. tiaptiap kutub hubungan seri b.

8 kutub 4 kutub Gambar rangkaian untuk merubah-ubah jumlah kutub .

1-8. Perhatikan gambar 1-7.►Konstruksi dasar rotor 1. dan 1-9 . mengatur kecepatan rotor . a.tahanan luar pada rangkaian rotor berfungsi untuk: a).belitan stator dan belitan rotor mempunyai jumlah kutub yang sama.jumlah fasa belitan rotor = jumlah fasa belitan stator .alur-alur disekeliling rotor dipasang belitan . membatasi arus start yang besar. Rotor belit .dilengkapi dengan cincin seret untuk menghubungkan tahanan luar pada rangkaian rotor . menghasilkan kopel start yang besar b). dan c).

Gambar 1-7 Rotor belit sebuah motor induksi Gambar 1-8 Pelaksanaan hubungan motor induksi rotor belit dengan tahanan asut .

9.Gambar 1. Pelaksanaan hubungan motor induksi rotor delit dengan tahanan asut .

badan rotor . dibuat dari baja silikon c).2. cincin hubung singkat. poros. Rotor sangkar ♦ belitan rotor berupa batang konduktor telanjang yang dimasukkan kedalam alur di sekeliling rotor. batang-batang rotor. dibuat dari tembaga atau aluminium Perhatikan gambar 1-10 . Pada kedua sisi/ujung-ujungnya disambung pendek dengan cincin. ♦ bagian-bagian: a). dibuat dari tembaga (Cu)/ aluminium (Al) d). dibuat dari baja giling b).

(a) (b) Gambar : Konstruksi rotor sangkar. a). Untuk kapasitas rendah s/d menengah. b) kapasitas besar .

Alur rotor sangkar . dan alur ganda (gb. sedang bagian dasar alur (B) diisi dengan bahan R yang rendah dan X yang tinggi .alur normal.Teori skin effect . bagian puncak (T) diisi dengan bahan dengan R yang tinggi tetapi X rendah. . alur dalam.pemakaian alur dalam dan alur ganda bertujuan untuk memperoleh tahanan yang tinggi pada rangkaian rotor saat start agar mendapat kan kopel start yang besar dan tahanan yang rendah pada waktu bekerja untuk mendapatkan efisiensi yang baik. 1-11) .alur dalam diisi dengan satu batang rotor .alur ganda diisi dengan dua batang rotor.

Alur dalam Gb. Alur ganda .Gambar : beberapa macam alur rotor sangkar Rotor bagian permukaan (Top) Rotor bagian dasar (bottom) Gb.

Gambar rotor sangkar tunggal dari Bradley Gambar rotor sangkar ganda dari Boucherot Gambar rotor sangkar dari Heemaf .

Gambar konstruksi rotor batang tunggal Gambar konstruksi rotor batang ganda/ rangkap .

.

.

3. dan I3 sebagai fungsi waktu c. arah MR untuk t1 → α = 90º listrik d. I2. dan c-c yang dihubung kan sumber tegangan tiga fasa yang masing-masing bergeser 120º listrik. stator tiga fasa dengan kumparan a-a. Medan Putar ►Medan putar disebut juga medan magnet stator yang dapat di bangkitkan dengan sebuah magnet listrik atau magnet permanen yang diputar. arah MR untuk t3 → α = 300º listrik . ►Fungsi utama dari stator adalah menghasilkan medan putar. b. arah MR untuk t2 → α = 180º listrik e. distribusi arus I1. b-b. ►Perhatikan gambar 1-14 a. ►Dengan adanya medan putar atau fluksi yang berputar ini maka akan terjadi perputaran dari rotornya.

I2 dan I3 sebagai fungsi waktu (t) . dan c-c yang dihubung kan sumber tegangan dengan beda fasa masing-masing 120º listrik Gambar 1-14(b) Distribusi arus I1.I3 I2 Gambar 1-14(a) Stator 3 fasa dengan kumparan a-a. b-b.

Diagram MMF (medan putar) yang dihasilkan oleh kumparan 3 fasa pada saat t1 . dan e. Betulkah gambar di atas? Gambar 1-14f. d. t2 dan t3. Medan putar yang dihasilkan oleh stator 3 fasa untuk t1.Gambar 1-14c.

►Dari gb. posisi I1 dengan I2. atau I3 dengan I2 . t3.1-14b I1 = Im sin α → I1 menghasilkan Ma I2 = Im sin (α-120º) → I2 menghasilkan Mb I3 = Im sin (α-240º) → I3 menghasilkan Mc Im = I maksimum → menghasilkan M ►Dari analisis secara vektor untuk 3 waktu t1. dan. t2. t3.. ternyata harga MR untuk sistem tiga fasa tetap konstan 3/2 M Buktikan! ►Jadi dari analisis secara vektor dan matematika dapat disimpul kan bahwa medan putar itu berputar dengan nilai/harga yang konstan. . atau I1 dengan I3. t2.. ►Dari analisis secara matematika untuk 3 waktu t1. dan. ditukar tempatnya. ternyata medan putar itu berputar (dengan kecepatan sinkron = ns) ►Untuk membalik arah putaran.

Bila kopel mula yang dibangkitkan oleh gaya F pada rotor cukup besar untuk mengatasi kopel beban. maka medan putar ini akan memotong batang konduktor rotor. ns = (60. maka rotor akan berputar dan mempunyai arah yang sama dengan arah medan putar. maka pada stator akan dibangkitkan suatu medan putar. 2. Apabila kumparan stator 3 fasa dihubungkan pada sumber tegangan 3 fasa. Karena belitan rotor merupakan rangkaian tertutup.f) : p rpm Karena berputar. Prinsip kerja motor induksi 1. . maka e2 akan mengalirkan arus rotor i2.4. 3. Medan putar ini mempunyai kecepatan berputar berdasarkan persamaan. Dengan adanya arus i2 dalam medan magnet akan membangkitkan gaya F pada rotor. Akibatnya pada rotor dibangkitkan tegangan induksi (ggl) sebesar e2 dimana e2 adalah tegangan induksi pada saat rotor berputar.

Akibatnya tidak dibangkitkan gaya F (F = 0) sehingga kopelnya (T) sama dengan nol. Perbedaan kecepatan ns dan nr disebut slip (S) dan dinyatakan dengan S = (ns – nr) rpm.4. Kopel (T) motor induksi akan timbul bila nr < ns . Biasanya dinyatakan dalam % S ={ (ns – nr) / ns} x 100% 5. maka tidak akan terinduksi tegangan e2 (e2 = 0). Hal ini berarti agar tegangan e2 tetap terinduksi. Di atas telah dijelaskan bahwa tegangan induksi e2 akan timbul bila batang konduktor rotor terpotong oleh medan putar. diperlukan adanya perbedaan relatif antara kecepatan medan putar ns dengan kecepatan berputar rotor nr. dan arus i2 tidak mengalir pada belitan rotor (i2 = 0). Bila terjadi nr = ns atau S = 0.

S SLIP (S) e2 = sse2. Slip (S) ►Pengaruh slip (S) pada besaran-besaran rotor f2 = f1.5. S x2 = ssx2. S z2 ? i2 ? (cosφ)2 ? .

sse2 f2 50 Hz ssx2 25 Hz 0% 100% S 0% Gambar 1-18. Hubungan S dengan f2. e2.dan x2 100% S .

Soal-soal latihan 1. Sebuah motor induksi 3 fasa. slip ring dihubung singkat. dan c). frekuensi rotor bila rotor berputar 600 rpm. kalkulasi kecepatan rotor pada beban penuh itu. 8 kutub. Sebuah generator 3 fasa. 12 kutub berputar pada kecepatan 500 rpm untuk mencatu sebuah motor induksi 3 fasa. Sebuah pompa triple ram diputar dengan kecepatan 60 rpm oleh sebuah motor induksi 3 fasa. . b. carilah perbandingan total gigi motor dengan pompa. Hitung arus / fasa dan faktor kerja bila: a.kecepatan rotor bila slip 4%. 3. rotor dihubungkan pada tahanan luar(rheotat) hubungan Υ dengan tahanan 3Ω/fasa. 4 kutub. dicatu dari sistem 50 Hz. Jika slip motor 4%. b). 2. kecepatan sinkron. Motor induksi 3 fasa. 4. mempunyai belitan rotor hubungan Υ mempunyai tegangan induksi antar cincin seret 80 V pada saat standstill. Rotor mempunyai tahanan dan reaktansi per fasa 1 Ω dan 4 Ω. Jika slip motor pada beban penuh 3%. 50 Hz. 8 kutub. Hitunglah: a).

Perbandingan kumparan rotor dengan kumparan stator 0. dicatu dengan tegangan 400 V antar line. dan impedansi rheostat per fasa (6 +j2) Ω. Tegangan induksi rotor sebuah motor induksi 3 fasa. Rotor hubungan Υ dari sebuah motor induksi mempunyai impedansi saat standstill (0. 8. Hitung arus rotor dan faktor kerja saat: a) starting. Tahanan dan reaktansi saat standstill per fasa adalah 0.65. Sebuah motor induksi 3 fasa mempunyai tegangan induksi 72V antar cincin seret saat standstill. 6. Hitung a).4 + j4) Ω/fasa.5.03. Kecepatan motor. 6 kutub.2Ω dan 2Ω. . b) bila berputar dengan dihubung singkat pada slip 0. Motor mempunyai tegangan induksi 80 V antar cincin seret saat standstill bila dihubungkan pada catu tegangan normal. Cari: a) arus rotor saat standstill dengan rheostat dihubungkan dalam rangkaian.5 Ω dan 3. b) pada slip 4% dengan cincin seret dihubungsingkat. 7. Rotor dihubungkan Υ. Hitung arus rotor per fasa saat slip 3%.5 Ω. 440 V membuat 180 rpm. Harga tahanan hubungan Υ untuk starting 4 Ω/fasa. dan b) slip dalam prosen. Tahanan rotor dan reaktansi saat standstill berturut-turut 0. Sebuah motor induksi 3 fasa mempunyai kumparan stator dihubungkan Δ dan berputar pada frekuensi 50 Hz.

Kalkulasi arus rotor dan faktor kerja tiap fasa bila slip ring dihubungsingkat dan motor berputar dengan slip 4%. Hitung arus rotor dan faktor kerja tiap fasa saat rotor standstill dan dihubungkan pada rangkaian hubungan Υ dengan tahanan 8Ω dan induktansi 0. Tahanan kumparan rotor/fasa 0.025H.9.025H. Motor induksi 3 fasa 50 Hz.15 Ω dan induktansi 0. Impedansi kumparan start diabaikan . dengan rotor dihubungkan Υ menginduksikan tegangan efektif 400 V antar slip-ring saat standstill.

maka tidak terjadi perpotong an fluksi dengan batang-batang rotor a-b. maka akan terjadi fluksi yang besar nya konstan dan berputar berlawanan arah dengan jarum jam pada kecepatan sinkron. Akibatnya tidak ter jadi tegangan induksi pada konduktor a dan b (ea dan eb nol). ♦ Selanjutnya bila belitan rotor ditempatkan dalam stator dan diputar dengan arah yang sama dengan arah fluksi di atas juga pada kecepatan sinkron (nr = ns). .1-16 ♦ Bila kumparan stator dihubungkan dengan sumber tegangan tiga fasa yang seimbang. sehingga tidak ada arus yang mengalir pada belitan rotor (i2=0) Karena kopel (T) fungsi dari arus rotor maka T = 0. Perhatikan gb.Kopel (T) ►Terjadinya kopel.

Gambar 1-19a dan 1-19b rotor yang terdiri dari satu belitan .

♦ Bila belitan rotor dipertahankan tetap (tidak berputar. maka akan terjadi kekuatan/gaya pada konduktor a dan b sebesar: F = 0.1 B. ♦ Dalam keadaan dimana konduktor a dan b dialiri arus dan ke duanya berada dalam medan magnet yang mempunyai kepadat an fluksi B. Besar tegangan rotor e2 adalah jumlah dari ea dan eb (e2 = ea + eb ) dan berbanding lurus dengan kecepatan perubahan fluksi yang terpotong oleh rotor e2 = sse2. nr=0). S. i2. fluksi atau medan putar akan menginduksikan tegangan pada batang a dan b (ea dan eb) dengan frekuensi yang sama dengan frekuensi jala-jala (f2 = f1). .L dyne B = kepadatan fluksi dalam garis-garis/cm2 L = panjang efektif konduktor dalam cm i2 = arus yang mengalir pada konduktor rotor dalam Amper.

I2maks ♦ Hal ini sama halnya bahwa rotor menerima tenaga dalam bentuk pulsa. dan e2 berbanding lurus dengan B.V x 10-8 Volt. dimana V adalah kecepatan keliling dalam inch/detik. i2 akan sefasa dengan e2 dan sefasa dengan B. ♦ Bentuk gelombang T sebagai fungsi dari waktu mempunyai frekuensi 2x f2.♦ Besar kopel T = F x konstanta (jari-jari rotor). Untuk harga S tertentu. V akan tetap.L. . sehingga menghasilkan kopel T juga berbentuk pulsa.. Kopel T sebanding dengan perkalian B dan i2 . Gb. Perkalian ini kalau digambarkan seperti gb. reaktansi rotor x2 akan kecil dan dianggap sama dengan nol (x2 = 0). Bila i2 sefasa dengan B kopel (T) akan selalu positif.1-20a dan akan menghasilkan harga positif dari T. Arus rotor i2 = e2/r2 ♦ Besar tegangan rotor : e2 = B. →Trata-rata = ½ Bmaks. ♦ Bila motor bekerja dengan slip rendah (S<<) atau mendekati kecepatan sinkron.1-20a ♦ Jika x2 diabaikan.

1-20a. Hubungan antara i2. dengan e2 dan T pada cos φ = 1 .I2 e2 B Gb.

►Bila motor bekerja dengan S yang lebih besar (S>). S e2 (r2 )  ( x 2 ) 2 2 . maka: S> e2> → e2 = sse2. S i2  x2> → x2 = ssx2.

Kopel T yang dihasilkan oleh arus reaktif iR . Bentuk gelombang B dengan i2 dengan adanya reaktansi (x) c.►Semakin besar S maka i2 juga akan bertambah dan semakin induktif → (cos φ) semakin kecil ►i2 mengikuti e2 dan B ►Bentuk gelombang kopel dapat diperoleh dengan mengalikan ordinat i2 dan B ►i2 dapat diuraikan menjadi arus komponen berupa Watt ip dan arus reaktif iR ►Perhatikan gb. Hubungan antara i2 dengan e2 dan kopel T pada cos φ =1 b.1-20 a. Kopel T dari rotor yang terdiri dari satu belitan d. Kopel T yang dihasilkan oleh arus ip dengan cos φ =1 e.

.

.

Ip B B iR .

► 1. 5. Komponen dari arus rotor ip adalah yang sefasa dengan e2 akan menghasilkan kopel positif Komponen dari arus rotor iR yang mengikuti e2 dengan sudut 90º listrik akan menghasilkan kopel yang berosilasi yang rata-ratanya sama dengan nol . dan akan menyebabkn arus rotor yang semakin mengikuti pada rangkaian rotor. 2. Kesimpulan. Kopel (T) yang terjadi pada kecepatan sinkron adalah nol Pertambahan slip (S) akan menyebabkan bertambahnya tegangan rotor (e2) sampai pada suatu batas akan menaikkan kopel Pertambahan slip (S) akan menyebabkan bertambahnya reaktansi rotor (x2). 3. 4.