Anda di halaman 1dari 19

LEARNING TASKS

Sistem Muskuloskletal
To 22 : Asuhan Keperawatan pada anak dengan kelainan muskuloskletal
Dosen : Ns, Fransisca Shanti, S.Kep, M.Kep, Sp.Kep.An
Pendahuluan
Gangguan sistem muskuloskletal tidak hanya dialami oleh orang dewasa dan akibat trauma,
tetapi juga bisa pada anak-anak oleh berbagai faktor salah satunya faktor genetik dan gangguan
pada saat kehamilan
Tasks
Diskusikan dalam kelompok SGD Anda tentang beberapa kelainan sistem muskuloskletal yang
sering ditemukan. Deskripsikan dalam sebuah makalah kelainan tersebut menggunakan beberapa
literatur dan evidence base yang Anda temukan. Makalah paling tidak mencakup tentang
pengertian, faktor resiko dan faktor penyebab (termasuk faktor saat kehamilan), manifestasi
klinis, penanganan dan perawatan di rumah sakit atau perawatan jangka panjajng di rumah. Akan
lebih baik jika makalah Anda juga mendeskripsikan bagaimana tanggapan masyarakat di
lingkungan Anda terhadap kelainan tersebut dan bagaimana perawatannya sesuai pendapat
masyaarakat yang berkembang saat ini.
Pembagian tugas pembahasan
-

Talipes (Klp 1 dan 2)

. Insiden keseluruhan clubfoot adalah 1 sampai 2 per seribu kelahiran hidup .29 per 1000 kelahiran hidup . 50% bersifat bilateral. dan rotasi media dari tibia (Priciples of Surgery.1995). Lebih sering ditemukan pada bayi laki-laki daripada perempuan (2:1). adduksi dari kaki depan. atau berbagai kombinasi (t. t. Epidemiologi Insidens congenital talipes equinovarus yaitu 1 dari setiap 1000 kelahiran hidup. equinovalgus. 1. atau t. Pengertian Talipes atau club food atau CTEV ( Congenital Talipes Equino-varus) adalah kaki yang berputar dari keluar dari posisi normalnya. varus). 0.6 per seribu kelahiran hidup pada Kaukasia . Kejadian di Amerika Serikat adalah sekitar 2. valgus). Insiden clubfeet sendiri sangat bervariasi tergantung dari ras dan jenis kelamin.57 per seribu di . Schwartz. Congenital Talipes Equino Varus adalah deformitas kaki yang tumitnya terpuntir ke dalam garis tungkai dan kaki mengalami plantar fleksi (Smeltzer. kalkaneus). Talipes adalah berasal dari talus berarti pergelangan kaki dan pes berarti telapak kaki. abduksi dan inversi (t. t. Talipes mungkin dalam dorsofleksi (t. dalam fleksi plantar (t. inversi dari tungkai. cubbling mungkin mengenai satu atau dua kaki mungkin ringan atau berat dan mungkin berhubungan dengan kelainan yang lain atau terjadi karena sendirinya. kalkaneovalgus. kalkaneovarus. 2005). Talipes adalah suatu kelainan bawaan di mana kaki terpelintir keluar dari bentuk atau posisi normalnya.1. Club foot /CTEV (Congeintal Talipes Equino Varus) adalah kelainan yang meliputi fleksi dari pergelangan kaki. equinovarus). (Hemilton. 2002) 2. abduksi dan eversi (t. equinus).

0. dimana hal ini kemungkinan dikarenakan berkurangnya perfusi arteri tibialis anterior selama masa perkembangan. Penyebab/ Faktor predisposisi Etiologi yang sebenarnya dari CTEV tidak diketahui dengan pasti. maka terdapat kemungkinan 3-4% anak mereka mengalami kelainan ini . defek plasma sel primer Irani & Sherman telah melakukan pembedahan pada 11 kaki dengan CTEV dan 14 kaki normal. Jika salah satu orang tua mempunyai kelainan ini. 3. hipotesis vaskular Atlas dkk (1980). c. diikuti rotasi bagian anterior ke arah medial dan plantar. b. tetapi banyak penelitian menyebutkan bahwa tidak ditemukan adanya kelainan histologis dan eektromiografik.5 per seribu di Maoris .81 per seribu di Polinesia dan setinggi 49 per seribu kelahiran hidup pada fullblooded Hawaii .5 menjadi 7. perkembangan fetus yang terhambat e. akan tetapi banyak teori mengenai etiologi CTEV. Dikatakan bahwa kaki bayi ditahan pada posisi equinovarus karena kompresi eksterna uterus.Orientals. Pada bayi dengan CTEV didapatkan adanya muscle wasting pada bagian ipsilateral.35 per seribu dalam bahasa Cina. Parker (1824) dan Browne (1939) mengatakn bahwa adanya oligohidramnion mempermudah terjadinya penekanan dari luar karena keterbatasan gerak fetus. f. Ditemukan bahwa pada kasus CTEV leher dari talus selalu pendek. d. Mereka mengemukakan hipotesa bahwa hal tersebut dikarenakan defek dari plasma sel primer. Faktor Risiko Faktor risiko untuk terjadinya penyakit Talipes adalah keturunan dimana 25% kasusu didapatkan ada riwayat kelainan ini dalam keluarga. Jika anak pertama mengalami kelainan ini. Didapatkan adanya bloking vaskular setinggi sinus tarsalis. faktor mekanik intra uteri adalah teori tertua dan diajukan pertama kali oleh Hipokrates. maka terdapat kemungkinan anak kedua mengalami kelainan yang sama. defek neuromuskular beberapa peneliti percaya bahwa CTEV selalu dikarenakan adanya defek neuromuskular. herediter Wynne dan Davis mengemukakan bahwa adanya faktor poligenik mempermudah fetus terpapar faktor-faktor eksterna (infeksi Rubella. antara lain : a. menemukan adanya abnormalitas pada vaskulatur kasus-kasus CTEV. penggunaan Talidomide). 6. 6.

Gangguan saraf dan jaringan ikat yang mengakibatkan kekakuan pada sendi-sendi anggota gerak (arthrogryposis) 4. dapat kongenital atau akibat kontraktur atau gangguan keseimbangan otot-otot Talipes equinovalgus : deformitas kaki yang tumitnya terangkat dan terpuntir ke luar dari garis tengah tubuh .dan jika kedua orangtua mempunyai kelainan ini. maka terdapat 15% kemungkinan anak mereka mengalami kelainan ini. kelainan-kelainan yang dapat menyertai CTEV: 1Gangguan perkembangan sendi panggul sehingga terjadi sendi yang terpisah 2 Penutupan yang tidak sempurna dari bagian belakang tulang belakang (spina bifida) 3.Kurang sempurna atau tudak terbentuknya tulang tibia (tulang kering) 4.Klasifikasi Deformitas talipes diantaranya : Talpes calcaneovarus : deformitas pada bagian anterior kaki yang terangkat dan arkus longitudinal kaki tinggi secara abnormal Talipes calcaneovagus : deformitas kaki pada tumit yang terputar ke luar garis tengah badan dan bagian anterior kaki terangkat Talipes calcaneovarus : deformitas kaki pada tumit yang terputar ke arah garis tengah badan dan bagian anterior terangkat Talipes calcaneus : dorsofleksi dimana jari-jari lebih tinggi daripada tumit Talipes cavovalgus : deformitas yang arkus longitudinal kakinya tinggi secara abnormal dan tumit terputar ke luar dari garis tengah tubuh Talipes cavovarus: deformitas yang arkus longitudinal kakinya tinggi secara abnormal dan tumit terputar ke dalam dari garis tengah tubuh Talipes cavus : arkus longitudinal kaki yang sangat tinggi.

Ini merupakan clubfoot yang khas. Ponsetti . tumit varus pada subtalar. Dengan jenis kaki seperti ini arkus lebih tinggi (cavus) dan kaki dalam keadaan equinus (plantar flexi). Hal ini diperkirakan akibat perubahan inervasi intrauterin karena penyakit neurologis. Hal ini mengakibatkan penurunan arkus longitudinal. Manifestasi Klinis Beberapa teori mengenai patogenesis CTEV antara lain: a. Retraksi fi brosis sekunder karena peningkatan jaringan fi brosa di otot dan ligamen. Pada penelitian postmortem. deformitas forefoot adduksi dan supinasi melalui sendi midtarsal. (salter) Talipes varus : inversi atau membengkok ke dalam 5. Talipes valgus : eversi atau membengkok ke luar.Talipes equinovarus : deformitas kaki yang tumitnya terputar ke dalam garis tungkai dan kaki mengalami plantar fleksi. Terhambatnya perkembangan fetus pada fase fi bular b. d. Telah ditemukan adanya abnormalitas histokimiawi pada kelompok otot peroneus pasien CTEV. Kurangnya jaringan kartilagenosa talus c. Teori ini didukung oleh insiden CTEV pada 35% bayi spina bifi da. Keadaan ini disertai dengan meningginya tepi dalam kaki (supinasi) dan pergeseran bagian anterior kaki sehingga terletak di medial axis vertikal tungkai (adduksi). tumit varus pada subtalarequinus pada ankle dan deviasi medial seluruh kaki dalam hubungan dengan lutut. atau dapat spasmodik sebagai akibat spasme refleks otot-otot yang mengontrol kaki. Keadaan ini dapat kongenital dan permanen. seperti stroke. Faktor neurogenik. Talipes equinus : plantar fleksi dimana jari-jari lebih rendah daripada tumit Talipes planovalgus : deformitas kaki yang tumitnya terputar keluar dari garis tengah tungkai dan tepi luar bagian anterior kaki lebih tinggi daripada tepi dalamnya.

Tumit tampak kecil dan kosong. tendon Achilles terbuat dari jaringan kolagen yang sangat padat dan tidak dapat teregang. Tulang kalkaneus tidak hanya berada dalam posisi ekuinus. sehingga bagian plantar dapat terlihat. Tulang navikular dan kuboid bergeser ke arah lebih medial. Karena bagian lateralnya tidak tertutup. pada perabaan tumit akan terasa lembut (seperti pipi). Teori ini didukung oleh adanya perubahan motor neuron pada spinal cord anterior bayi-bayi tersebut. menggunakan mikroskop elektron.menemukan adanya jaringan kolagen yang sangat longgar dan dapat teregang di semua ligamen dan struktur tendon (kecuali Achilles). CTEV dikatakan merupakan sequela dari prenatal polio-like condition. tetapi bagian anteriornya mengalami rotasi ke arah medial disertai rotasi ke arah lateral pada bagian posteriornya. tumit akan terisi kembali dan pada perabaan akan terasa lebih keras (seperti meraba hidung atau dagu). Zimny dkk. f. e. Periksa juga dengan posisi bayi supine untuk mengevaluasi adanya rotasi internal dan varus. menemukan mioblast pada fasia medialis yang dihipotesiskan sebagai penyebab kontraktur medial. Sejalan dengan terapi. maka leher talus dapat dengan mudah teraba di sinus tarsalis. Periksa kaki bayi dalam keadaan tengkurap. Hal ini sejalan dengan adanya variasi serupa insiden kasus poliomyelitis di komunitas. Terjadi kontraktur jaringan lunak plantar pedis bagian medial. 6. Maleolus medialis menjadi sulit diraba dan . Pergelangan kaki berada dalam posisi ekuinus dan kaki berada dalam posisi supinasi (varus) serta adduksi. Normalnya leher talus tertutup oleh tulang navikular dan badan talus. Lakukan pemeriksaan lengkap untuk mengidentifikasi kelainan lain. Diagnosis dan Manifestasi Klinis Cari riwayat adanya CTEV atau penyakit neuromuskuler dalam keluarga. karena distorsi posisi anatomis CTEV yang membuat tampak terlihat adanya kelainan insersi tendon. Anomali insersi tendon (Inclan) Teori ini tidak didukung oleh penelitian lain. Deformitas serupa dapat ditemui pada mielomeningokel dan artrogriposis. Sebaliknya. Variasi iklim Robertson mencatat adanya hubungan antara perubahan iklim dengan insiden CTEV.

Garis AP digambar melalui pusat dari aksis tulang talus (sejajar dengan batas medial) serta melalui pusat aksis tulang kalkaneus (sejajar dengan batas lateral). Nilai normalnya adalah antara 25-40°. Seiring dengan terapi. Sudut dari dua sisi (AP and lateral) ditambahkan untuk menghitung indeks talokalkaneus. Pengambilan foto radiologis lateral dengan kaki yang ditahan pada posisi maksimal dorsofleksi adalah metode yang paling dapat diandalkan untuk mendiagnosis CTEV yang tidak dikoreksi. Posisi lateral diambil dengan kaki fleksi terhadap plantar sebesar 30º. Secara tradisional. diikuti dengan talus yang juga mengalami derotasi. tulang kalkaneus akan berotasi ke arah eksternal. 7. Posisi ini penting untuk mengetahui posisi relatif talus dan kalkaneus dan mengukur sudut talokalkaneal dari posisi AP dan lateral. Garis lateral digambar melalui titik tengah antara kepala dan badan tulang talus serta sepanjang dasar tulang kalkaneus. Jarak yang normal terdapat antara tulang navikular dan maleolus menghilang. Posisi kaki selama pengambilan foto radiologis sangat penting. sedang pada CTEV nilainya berkisar antara 35° dan negatif 10°.pada umumnya menempel pada tulang navikular. Nilai normalnya antara 35-50°. Tulang tibia sering mengalami rotasi internal. 8. dikatakan abnormal. CTEV dikategorikan menjadi dua macam. Posisi anteroposterior (AP) diambil dengan kaki fleksi terhadap plantar sebesar 30º dan posisi tabung 30° dari keadaan vertikal. Garis AP dan lateral talus normalnya melalui pertengahan tulang navikular dan metatarsal pertama. Garis anteroposterior talokalkaneus hampir sejajar pada kasus CTEV. Dengan demikian akan terbentuk sudut talokalkaneus yang adekuat. pada kaki yang sudah terkoreksi akan memiliki nilai lebih dari 40°. Bila sudut kurang dari 20°. Gambaran Radiologis Gambaran radiologis CTEV adalah adanya kesejajaran tulang talus dan kalkaneus. Gambaran AP dan lateral juga dapat diambil pada posisi kaki dorso fleksi dan plantar fleksi penuh. yaitu : . Penanganan 1. baik dengan casting maupun operasi. Penanganan di rumah sakit pada pasien talipes ! Jawaban : Tujuan penanganan dari terapi medis adalah untuk mengoreksi deformitas yang ada dan mempertahankan koreksi yang telah dilakukan sampai terhentinya pertumbuhan tulang.

casting dan pemasangan gips. Sistem ini terdiri dari 6 kategori. equines. kekosongan tumit/emptiness of the heel (EH). seorang ahli ortopaedist di Inggris. Ponseti. dipertahankan 10 hitungan. Untuk hindfoot. Dilakukan peregangan pada jaringan yang mengerut secara bertahap tanpa kekerasan. masing-masing 3 dari hindfoot dan midfoot. Sedangkan untuk kategori midfoot. Sistem ini dinamakan The Pirani Scoring System.- CTEV yang dapat dikoreksi dengan manipulasi. dr. - CTEV resisten yang memberikan respon minimal terhadap penatalaksanaan dengan pemasangan gips dan dapat relaps ccepat walaupun sepertinya berhasil dengan terapi manipulatif. terbagi menjadi kelengkungan batas lateral/curvature of the lateral border (CLB). Shafiq Pirani. dan derajat dorsofleksi yang terjadi/degree of dorsiflexion (DF). Metode ini dikembangkan dari penelitian kadaver dan observasi klinik yang dilakukan oleh dr.  Mengoreksi (memperbaiki) cavus Bagian pertama metode ponseti adalah mengoreksi cavus dengan memposisikan kaki depan dalam alignment yang tepat dengan kaki belakang. Metode ini dikembangkan oleh dr. varus dan mempertahankan dengan menggunakan gips. a) Konservatif Dilakukan manipulasi terhadap bagian kaki yang adduksi. kategori terbagi menjadi tonjolan posterior/posterior crease (PC). Pada kategori ini dibutuhkan intervensi operatif. tonjolan di sisi medial/medial crease (MC) dan tereksposnya kepala lateral talus/uncovering of the lateral head of the talus (LHT). Ignacio Ponseti dari Universitas Iowa. Dilakukan berulang selama 10-15 menit. kita dapat mengidentifikasi tingkat keparahan dan memonitor perkembangan suatu kasus CTEV selama koreksi dilakukan. Dengan menggunakan sistem ini. langkah-langkah yang harus diambil adalah sebagai berikut : . Saat ini terdapat suatu sistem penilaian yang dirancang oleh prof.

Saat kaki diletakkan dalam posisi pronasi. untuk mengoreksi cavusnya. maka langkah pertama dalam koreksi kaki adalah dengan cara mengangkat metatarsal pertama dengan lembut. Apabila ditemukan adany cavus. sementara kita melakukan gerakan abduksi pada forefoot dengan arah supinasi. cavus akan meningkat. Sepertitertulis pada langkah kedua. maka forefoot dapat diposisikan abduksi seperti yang tertulis dalam langkah pertama. Koreksi dilakukan melalui lengkung normal dari persendian subtalus. hal tersebut dapat menyebabkan tulang kalkaneus berada di bawah talus. Untuk mendapatkan koreksi kaki yang optimal pada kasus CTEV. Apabila hal ini terjadi. Kaki berada dalam posisi adduksi dan plantar pedis mengalami fleksi pada sendi subtalar. maka tulang kalkaneus tidak dapat berotasi dan menetap pada posisi varus. Pada akhir langkah pertama. Tujuan pertama adalah membuat kaki dalam posisi abduksi dan dorsofleksi. Cavus kaki akan meningkat bila forefoot berada dalam posisi pronasi.Deformitas utama yang terjadi pada kasus CTEV adalah adanya rotasi tulang kalkaneus ke arah intenal (adduksi) dan fleksi plantar pedis. Hal ini dapat dilakukan dengan cara meletakkan jari telunjuk operator di maleolus medialis untuk menstabilkan kaki dan kemudian mengangkat ibu jari dan diletakkan di bagian lateral dari kepala talus. Setelah cavus terkoreksi. maka kaki akan berada pada posisi abduksi maksimal tetapi tidak . Hal ini dapat menyebabkan tejadinya bean-shaped foot. maka tulang kalkaneus harus bisa dengan bebas dirotasikan kebawah talus.

Mulai dengan tiga atau empat putaran disekeliling jari-jari kaki. Kaki yang bermasalah diposisikan abduksi (rotasi ekstrim) hingga 70°.Langkah-langkah pemasangan gips Manipulasi awal. sebelum gips dipasang. Tumit tidak disentuh sedikitpun agar calcaneus bisa abduksi bersamasama dengan kaki Memasang gips yang tipis untuk memudahkan molding. kaki dimanipulasi lebih dahulu. Kaki harus dipegang pada jari-jari gips dilingkarkan di atas jari-jari pemegang agar tersedia ruang yang cukup untuk pergerakan jari-jari Langkah selanjutnya setelah pemasangan gips adalah pemakaian sepatu yang dipasangkan pada lempengan Dennis Brown. Pertahankan kaki dalam posisi koreksi yang maksimal dengan cara memegang jari-jari dan cou ter pressure pada caput tulus selama pemasangan gips Pemasangan gips di bawah lutut terlebih dahulu kemudian lanjutkan gips sampai paha atas. kemudian ke proksimal sampai lutut Pasang gips dengan teliti. with the unaffected foot set at 45° of abduction. Sepatu ini juga memiliki bantalan di . Saat memasang gips diatas tumit dan di kencangkan.

Sepatu ini digunakan 23 jam sehari selama 3 bulan. khususnya pada sudut vertikal dan medial kaki. TERAPI OPERATIF a.insisi posterior arah vertikal. medial. Insisi Beberapa pilihan untuk insisi. antara lain :  Cincinnati : jenis ini berupa insisi transversal. antara lain : o Tiga insisi terpisah . dilanjutkan ke bagian belakang pergelangan kaki setinggi sendi tibiotalus. antara lain : .tumit untuk mencegah kaki terselip dari sepatu. kemudian dipakai saat tidur siang dan malam selama 3 tahun. beberapa operator memilih beberapa jalan.  Insisi Turco curvilineal medial atau posteromedial : insisi ini dapat menyebabkan luka terbuka. dan lateral o Dua insisi terpisah . mulai dari sisi anteromedial (persendian navikular-kuneiformis) kaki sampai ke sisi anterolateral (bagian distal dan medial sinus tarsal).Curvilinear medial dan posterolateral Banyak pendekatan bisa dilakukan untuk bisa mendapatkan terapi operatif di semua kuadran. Beberapa pilihan yang dapat diambil. Untuk menghindari hal ini.

ligamen plantaris panjang dan pendek  Medial : struktur-struktur medial. Koreksi yang dilakukan kemudian dipertahankan dengan pemasangan kawat di persendian talokalkaneus. Luka tersebut dapat . serta pelepasan ligamen talonavikular dan subtalar Pendekatan manapun yang dilakukan harus bisa menghasilkan paparan yang adekuat. dan pemanjangan FDL  Posterior : kapsulotomi persendian kaki dan subtalar. abductor hallucis. Hal ini juga dapat dilakukan menggunakan gips.  Fasia plantar pedis dan otot-otot intrinsik Aksis longitudinal dari talus dan kalkaneus harus dipisahkan sekitar 20° dari proyeksi lateral. serta ligamen kalkaneofibular  Lateral : struktur-struktur lateral.  Ligamen tibiofibular inferior  Ligamen fibulocalcaneal  Kapsul dari sendi talonavikular dan subtalar.  Kapsul pergelangan kaki posterior dan ligamen Deltoid. Strukturstruktur yang harus dilepaskan atau diregangkan adalah sebagai berikut :  Tendon Achilles  Pelapis tendon dari otot-otot yang melewati sendi subtalar. pelepasan talonavicular dan subtalar. terutama pelepasan ligamen talofibular posterior dan tibiofibular. pesendian kalkaneokuboid. atau talonavikular atau keduanya. selubung tendon. Luka paska operasi yang terjadi tidak boleh ditutup dengan paksa. FHL. Plantar : Plantar fascia. flexor digitorum brevis. tibialis posterior. selubung peroneal.

eksisi dorsolateral dari persendian kalkaneokuboid [prosedur Dillwyn Evans] atau osteotomi tulang kalkaneus untuk mengoreksi varus). Dapat juga dilakukan pencangkokan kulit untuk menutupi defek luka paska operasi. Penatalaksanaan dengan operasi harus mempertimbangkan usia dari pasien : 1.dibiarkan terbuka agar membentuk jaringan granulasi atau bahkan nantinya dapat dilakukan cangkok kulit. dia juga mungkin memerlukan terapi fisik . Perban hanya boleh dipasang longgar dan harus diperiksa secara reguler. Harus diperhatikan keadaan luka paska operasi. jika pemakaian sepatu tidak disiplin bisa dipastikan kaki akan kambuh. 2. Apabila penutupan kulit pasca operasi sulit dilakukan. Apabila anak berusia lebih dari 10 tahun. untuk kemudian memungkinkan terjadinya penyembuhan primer atau sekunder. 2. sepatu dipakai 23 jam sehari pada 3 bulan pertama selanjutnya dipakai di malam hari sampai usia 3 tahun atau 4 tahun . Penanganan di Rumah Setelah pengobatan baik pembedahan atau operasi . Anak Anda juga harus memiliki pemeriksaan rutin sampai dia berhenti tumbuh .). Sebuah kekambuhan ringan kaki pengkor adalah umum . maka dapat dilakukan tarsektomi lateralis atau arthrodesis. maka hal tersebut membutuhkan pembentukan ulang tulang/bony reshaping (misal. Untuk anak lebih dari 5 tahun. maka lebih baik luka tersebut dibiarkan terbuka agar dapat terjadi reaksi ganulasi. kaki yang terkena dampak akan terus menjadi lebih kecil (sering ukuran sepatu 1 ½ . Jika anak Anda menjalani operasi . maka koreksi dapat dilakukan hanya melalui prosedur jaringan lunak. Peran orang tua sangat penting dalam mengaplikasikan metode ini. Selain itu. 3. Pada anak kurang dari 5 tahun. anak Anda biasanya memakai splints semacam sepatu kusus dengan bar pengait diantara sepatu untuk jangka waktu untuk menjaga kaki pengkor dari mulai terbentuk lagi. bahkan setelah pengobatan berhasil .

dan bermain . Tapi setelah pengobatan yang paling anak mampu memakai sepatu nyaman dan untuk berjalan. Sebagian besar kasus melaporkan tingkat kepuasan 75-90%. yang dipengaruhi oleh derajat pendataran . Peneliti lain melaporkan rerata tingkat kesuksesan sebesar 10-35%. Diagnosa Banding • Postural clubfoot – terjadi karena posisi fetus dalam uterus. Prognosis Kurang lebih 50% kasus CTEV bayi baru lahir dapat dikoreksi tanpa tindakan operatif. Forefoot mengarah ke garis tengah tubuh. Teknik Ponseti (termasuk tenotomi tendon Achilles) dilaporkan memiliki tingkat kesuksesan sebesar 89%. 11. Hasil memuaskan didapatkan pada kurang lebih 81% kasus. dan betis kaki akan lebih kecil . Postural clubfoot memberi respons baik pada pemasangan gips serial dan jarang relaps. baik dari segi penampilan maupun fungsi kaki. atau berada pada aposisi adduksi. komplikasi • Infeksi (jarang) • Kekakuan dan keterbatasan gerak: kekakuan yang muncul awal berhubungan dengan hasil yang kurang baik. • Nekrosis avaskular talus: sekitar 40% kejadian nekrosis avaskular talus muncul pada teknik kombinasi pelepasan medial dan lateral. • Metatarsus adductus (atau varus) – suatu deformitas tulang metatarsal saja. Faktor utama yang mempengaruhi hasil fungsional adalah rentang gerakan pergerakan kaki. Abnormalitas ini dapat dikoreksi dengan manipulasi dan pemasangan gips serial. berlari .atau kurang ) dan kaku dari kaki terpengaruh . Jika anak Anda tidak berjalan pada saat dia berusia 18 bulan . Jenis abnormalitas kaki ini dapat dikoreksi secara manual. • Overkoreksi yang mungkin karena: • Pelepasan ligamen interoseum dari persendian subtalus 10. Anda mungkin perlu untuk melihat spesialis untuk memastikan bahwa anak Anda tidak memiliki masalah kesehatan lain 9.

Ot) sering juga masyarakat sekitar menganggap bahwa penyakit ini merupakan hasil ilmu guna-guna dari orang lain yang memiliki masalah dengan penderita. Anggapan masyarakat terkait penyakit Talipes Talipes ( congenital talipes equnino varus) umumnya dikenal sebagai kaki pengkor atau kaki bengkok . apalagi jika orang pintar (dukun) tersebut memiliki . Kelahiran bayi dengan kelainan bawaan dapat memberikan pengalaman yang menyedihkan bagi orang tua. Sering kali ibu yang melahirkan anak dengan talipes menganggap bahwa nasib mereka buruk dan akan merasa malu serta cemas tentang anggapan masyarakat sekitar. masyarakat sering menilai bahwa keadaan ini hal yang tabu.kubah dari tulang talus. kebanyakan masyarakat awam yang melihat fenomena talipes yang terjadi secara kongenital. dengan rentang 10-50%.Mukini Partono. Bagaimana perawatannya sesuai pendapat masyaarakat yang berkembang saat ini Perawatan talipes sesuai pendapat masyarakat yang berkembang saat ini. Memiliki bayi dengan kelainan akan menimbulkan berbagai reaksi yang jelas membuat orang tua sangat tertekan dan bagi beberapa kelompok masyarakat. sehingga dianggap kutukan dan bisa menjadi pembawa sial. Ini adalah suatu kondisi dimana seorang anak mendapatkan salah satu atau kedua kaki mengarah ke bawah dan ternyata ke dalam. Rerata tingkat kekambuhan deformitas mencapai 25%. hal ini akan menyebabkan anak dan keluarga merasa malu terhadap kondisi ini. 11. Tiga puluh delapan persen pasien CTEV membutuhkan tindakan operatif lebih lanjut (hampir dua pertiganya adalah prosedur pembentukan ulang tulang). hal ini dikaitkan dengan stigma tertentu pada ibunya. Dan tidak jarang masyarakat awam membawa bayinya yang menderita talipes ke orang pintar (dukun). Dalam lingkungan masyarakat penyakit ini sering dihubungkan dengan hasil perbuatan buruk dimasa lalu dan merupakan kesalahan orang tua atau sang anak sendiri karena penyakit ini adalah penyakit yang didapat di dalam kandungan (Kongenital) dan penyebabnya masih belum pasti . Talipes pada orang dewasa akan menyebabkan kelainan gaya berjalan (pola berjalan). Sp. disini peran perawat harus dapat memberikan motivasi kepada pasien dan keluarga pasien dan juga memberikan edukasi bahwa penyakit ini bukan karena kesalahan orang tua dalam mengandung melainkan karena ada faktor-faktor tertentu yang dapat menyebabkannya 12. kemungkinan dikarenakan faktor keturunaan (Dr. Hasil terbaik didapatkan pada anak-anak yang dioperasi pada usia lebih dari 3 bulan (biasanya dengan ukuran lebih dari 8 cm).

Available from: www.jam terbang tinggi maka dengan mudah masyarakat akan membawa bayinya ke orang pintar (dukun) daripada di bawa ke rumah sakit. Treatment of Congenital Talipes Equinovarus in Infancy and Early Chlidhood.com [21 Maret 2015].jbjs.I. Clubfoot [Internet].com Soule RE. et al. Penyakit Kongenital Talipes. Principle of Surgery 8 Edition. Copeland III . DAFTAR PUSTAKA Soule.com Nordin S.emedicine.com .M. E. Kler. mary persis. 2005. 463-466 Dr.1995. 2008. W. E. Treatment of congenital talipes equinovarus in infancy and early childhood [Internet]. Controversies in congenital clubfoot: literature review [Internet].com [21 Maret 2015]. Beenken. Dalam Schwartz. Available from: www. The Breast. Selain itu dilihat dari segi ekonomi juga masyarakat akan lebih milih ke dukun yang dikarenakan jika di bawa ke rumah sakit akan terbentur dengan biaya yang mahal. 2007 [cited 2008 Jul 29]. p. www. 2002 [cited 2008 jul 29].EGC Bland.jpn-online. 2005 Treatment Methods of Congenital Talipes Equinovarus-three case reports.Ot 2010. SpenserShires. www.Jakarta: Pustaka Media Patel M.mjm.S. 2008 [cited 2008 Jul 5].Mukini Partono. Hemilton. R. J. New York : Mc Graw Hill Company.jbjs. Available from: www. Dasar-dasar Keperawatan Mternitas.. Sp. Jakarta. K..

com . Birth defect risk factor series: talipes equinovarus (clubfoot) [Internet]. Available from: www. Available from: www. Available from: www. 2008 [cited 2008 Jul 29].com Kler J. Congenital talipes equinovarus (clubfoot): disorder of the foot but not the hand [Internet].podiatry. Gomal J.Meidzybrodzka Z.gjm. Available from: www. 2006 [cited 2008 Jul 2]. 2005 [cited 2005 Jul 7]. A reliable and valid method of assessing the amount of deformity in the congenital clubfoot deformity [Internet].ubc. 2008 [cited 2008 Jul 5]. Available from: www.com Pirani S. Turco’s postero–medial release for congenital talipes equinovarus 2007 [Internet].com Anonym. Clubfoot deformity [Internet].jpn-online. 2005 [cited 2008 Jul 5]. Available from: www. 2002 [cited 2008 Jul 29].com Hussain S. Treatment methods of congenital talipes equinovarus-three case reports [Internet].com Anonym. Key insight to treating talipes equinovarus [Internet].statehealth.com Harris E.dubaibone. 1991 [cited 2008 Jul 2]. Available from: www.anatomisociety.

A SAGUNG DIAH GAYATRI DIPPA 1302105026 .HASIL SMALL GROUP DISSCUSION ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN KELAINAN MUSKULOSKLETAL ( TALIPES ) OLEH : SGD 1 I GUSTI AYU CITRA KUSMALA DEWI 1302105001 NI KADEK AMARA DEWI 1302105008 NI WAYAN LUH WAHYUNI 1302105011 A.

A PURNAMA JAYANTI 1302105078 MADE AYU WEDASWARI WIDYA 1302105080 PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS UDAYANA 2015 .I DEWA MADE SURYA WIBAWANTARA 1302105034 NI PUTU PEBRIANI WIDIASIH 1302105039 I GUSTI AYU SRI MAHARANI DEVI 1302105056 HARISTA MIRANDA SALAM 1302105059 A.