Anda di halaman 1dari 9

Indikasi tindakan ini :

Fraktur intra-artikular, misalnya fraktur meleolus, kondilus, olekranon patela


Reduksi tertutup yang mengalami kegagalan, misalnya, fraktur radius dan ulna disertai

malposisi yang hebat (fraktur yang tidak stabil)


Bila terdapat interposisi jaringan diantara kedua fragmen
Bila diperlukan fiksasi rigig, misalnya pada fraktur leher femur
Bila terdapat kontraindikasi pada imobilisasi eksterna, sedangkan diperlukan mobilisasi

yang cepat, misalnya fraktur pada orang tua


Fraktur avulsi, misalnya pada kondilusi humeri
Reduksi terbuka dengan fiksasi eksterna (OREF). Fiksasi eksterna digunakan untuk

mengobati fraktur terbuka dengan kerusakan jaringan lunak. Alat ini memberikan dukungan
yang stabil untuk fraktur kominutif (hancur atau remuk). Pin yang telah terpasang dijaga agar
tetap posisinya, kemudian dikaitkan pada kerangkanya. Fiksasi memberikan kenyamanan
bagi klien yang mengalami kerusakan fragmen tulang.
Asuhan keperawatan dimulai dari perawatan sebelum operasi karena klien mendapatkan
penjelasan yang luas tentang pemasangan OREF. Dengan demikian, sebelum operasi klien
telah siap untuk menerima tindakan medis. Klien sangat dipersiapkan secara psikologis
sebelum pemasangan fisator eksternal. Alat ini mengerikan dan terlihat asing bagi klien.
Pemasangan OREF akan memerlukan waktu yang lama dengan masa penyembuhan antara 68 bulan. Oleh karena itu, secara psikologis klien harus terbiasa dengan adanya alat yang
terpasang pada kakinya selama proses penyembuhan tulang.
Perawatan luka steril dilakukan perawat setiap hai untuk mencegah timbulnya infeksi
karena adanya benda asing dari luar masuk kedalam tubuh. Setiap tempat pemasangan pin
perlu dikaji mengenai adanya kemerahan., keluhan nyeri tekan, nyeri pada daerah sekitar
tusukan fiksasi eksternal, dan longgarnya pin.
Perawat perlu mengetahui kriteria klien yang perlu menjalani pembedahan dengan
reduksi terbuka dan fiksasi eksternal. Hal tersebut bertujuan untuk memberikan informasi
kepada klien dan keluarga sebagai tindaka kolaboratif dengan tim medis mengenai
perencanaan pembedahan yang sesuai kondisi klien dan sebagai bahan perencanaan asuhan
keperawatan.

Indikasi pembedahan dengan reduksi dan fiksasi eksternal


1.
2.
3.
4.
5.

Fraktur dengan grade II dan grade III


Fraktue terbuka disertai hilangnya jaringan atau tulang yang parah
Fraktur dengan infeksi atau pseudoartrosis
Fraktur yang miskin jaringan ikat
Kadang-kadang pada fraktur tungkai bawah penderita diabetes melitus.

Setelah dilakukan pembedahan dan pemasangan OREF, dering didapatkan komplikasi,


baik yang bersifat segera maupun komplikasi tahap lanjut.
Komplikasi dari pembedahan dengan pemasangan fiksasi ekternal adalah infeksi
(osteomielitis), kerusakan pembuluh daran dan saraf, kekakuan sendi bagian proksimal dan
distal, kerusakan periosteum yang parah sehingga terjadi delayed union atau non-union. Atau
emboli lemak.

Eksisi fragmen tulang dan pergantian dengan prostesis. Pada fraktur leher femur dan
sendi siku orang tua, biasanya terjadi nekrosis avaskular dari fragmen atau non-union.
Oleh karena itu, dilakukan pemasangan prostesis, yaitu alat dengan komposisi metal
tertentu untuk mengantikan bagian yang nekrosis. Prostesis juga seringdigunakan setelah
klien diamputasi.
Sasaran utama asuhan keperawatan pada klien setelah amputasi dan dilakukan

pemasangan prostesis meliputi pengurangan nyeri, tidak adanya gangguan persepsi sensori,
penyembuhan luka, penerimaan terhadap perubahan citra tubuh, resolusi proses bersedih,
perawatan diri secara mandiri, pengembalian monbilitas fisik, dan tidak adanya komplikasi.
Untuk melaksanakan asuhan keperawatan yang komprehensif pada klien fraktur terbuka
tersebut. Pada prinsipnya, fraktur terbuka adlalah fraktur yang berhungan dengan lingkungan
luar melalui kulit karena adanya pintu masuk kuman yang memungkinkan terjadinnya
kontaminasi bakteri sehingga timbul masalah keperawatan berupa tingginya resiko infeksi.
Perawat perlu mengenal jenis-jenis luka akibat fraktur terbuka, misalnya tusukan tulang yang
tajam keluar menembus kulit atau dari luar uleh karena tertembus peluru atau trauma
langsung.

Fraktur terbuka merupakan suatu keadaan darurat yang memerlukan penanganan yang
terstandar untuk mengurangi masalah resiko syok hivopolemik akibat pendarahan dan resiko
infeksi akibat masuknya kuman. Selain mencegah infeksi, juga harap terjadi penyembuhan
fraktur dan restorasi fungsi anggota gerak. Beberpa hal penting dilakukan dalam
penatalaksana fraktur terbuka dengan operasi, yaitu dilakukan dengan segera, secra hati-hati,
debridemen berulang-ulang, stabilitasi fraktur, penutupan kulit, bone grafiting yag dini, serta
pemberian antibiotik yang adekuat.
Pada fraktur terbuka (yang berhubungan dengan terbuka memanjang sampai permukaan
kulit dan ke arah cedera tulang) terdapat resiko infeksi osteogasgangren dan tetanus. Tujuan
penangannannya meminimalkan kemungkinan infeksi pada jaringan dan tulang untuk
mempercepat penyembuhan luka dan tulang. Klien dibawa keruangan operasi tempat luka
dibersihkan, debridemen (benda asing dan jaringan diangkat), dan diirigasi. Fragmen tulang
mati diangkat. Mungkin perlu dilakukan graft tulang untuk menjebatani defek, namun harus
yakin bahwa rsepien masih sehat dan mampu memfasilitasi penyatuan.
Fraktur direduksi dengan hati-hati dan stabilitas dengan fiksasi. Setiap kerusakan pada
pembuluh darah, jaringan lunak, otot, saraf, dan tendon diperbaiki. Ekstremitas ditinggikan
untuk meminimalkan terjadi edema. Status neurovaskular dikaji sesering mungkin. Suhu
tubuh klien diperiksa dengan intrerval teratur, kemudian klien dipantau untuk mengetahui
adanya tannda-tanda infeksi.
Penutupan primer mungkin tidak dapat dicapai karena adanya edema dan potensial
iskemia, cairan luka yang tidak dapat keluar, dan infeksi anaerob. Luka sangat terkontaminasi
sebaiknya tidak dijahit, dibalut dengan balutan steril, dan tidak ditutup sampai diketahui
bahwa darah luka tersebut tidak mengalami infeksi.
Pada tahap awal penatalaksanaan, sebaiknya klien diberikan profilaksis tetanus serum
yang bertujuan untuk menghindari resiko tetanus karena kuman tetanus sangat menyukai
keadaan seperti luka pada fraktur terbuka. Biasanya klien diberikan antibiotik intravena
untuk mencegah atau menangani infeksi serius. Luka ditutup dengan jahitan atau skin graf
atau falp kulit autoge pada hari kelima dalapai hari ke tujuh atau pada saat luka dalam
keadaan baik.

Perawatan luka selalu diberikan perawat agar masalah keperawatan gangguan intregritas
jaringan dapat diatasi sehingga mengurangi dampak resiko tinggi infeki. Selain itu,
diharapkan terjadi pertumbuhan jaringan yang baik. Perawatan luka dilakukan , baik pada
klin pascaoperasi maupun pada klien dengan luka pascatrauma setelah golden period yang
biasanya merupakan klien rujukan dari daerah.
1. Kasifikasi fraktur terbuka. Karena perawatan luka ini masih dalam area abu-abu antara
medik dan perawat, perawat perlu membekali diri dengan mengetahui prinsip-prinsip
perawatan luka yang baik. Pengetahuan perawatan luka, keterampilan yang baik, dan
diimbangi perawatan luka, yaitu mengrangi resiko tinggi infeksi dan meningkatkan
penyembuhan luka.
Komplikasi fraktur terbuka
1. Perdarahan, syok hipovolemik sampai kematian
2. Septikemia, toksemia karena infeksi piogenik
3. Tetanus
4. Gangren
5. Perdarahan skunder
6. Osteomielitis kronik
7. Non-union dan mal-union
8. Kekakuan sendi
9. Komplikasi lain karena peawatan yang lama
10. Delayed union
Grade
I

Keadaan klinis
Luka kecil yang panjangnya kurang dari 1 cm biasanya karena luka tusukan dari
dalam kulit yang menembus keluar. Ada sedikit kerusakan jaringan dan tidak ada
tanda-tanda trauma tulang hebat pada jaringan lunak. Fraktur yang terjadi biasanya

II

bersifat simpel transversal oblik pendek atau sedikit kominutif.


Laserasi kulit melebihi 1 cm tetapi tidak ada kerusakan jaringan yang parah atau
avulsi kulit. Ada kerusakan yang sedang pada jaringan dngan sedikit kontaminasi

IIIA

fraktur.
Adanya kerusakan yang lebih parah pada jaringan lunak termasuk otot, kulit, dan
struktur neuorovaskuler dengan kontaminasi yang berat. Tipe ini biasanya disebabkan

IIIB

oleh trauma dengan kecepatan tinggi.


Fraktur disertai trauma hebat dengan kerusakan dan kehilangan jaringan terdapat

pendorongan (stripping) periosteum tulang terbuka kontaminasiyang berat dan fraktur


kominuitif yang hebat.
Frakturterbuka yang disertai dengan kerusakan arteri memerlukan perbaikan tanpa

IIIC

memerhatikan tingkat kerusakan jaringan lunak.

2. Perawatan lanjut dan rehabilitas fraktur. Tujuan pengobatan fraktur adalah sebagai
berikut.
a. Menghilangkan nyeri
b. Mendapatlan dan mempertahankan posisi yang memadai dari fragmen fraktur.
c. Mengharapkan dan mengusahakan union
d. Mengembalikan fungsi secara optimaldengan cara mempertahan fungsi. Otot dan
sendi, mencegah atrofi otot, adhesi dan kekakuan sendi, mencegah komplikasi
seperti dekubitus, trombosis vena infeksi saluran kemih, serta pembentukan batu
ginjal.
e. Mengembalikan fungsisecara maksimal merupakan tujuan akhir pengobatan
fraktur. Sejak awla klien harus dituntun secara psikologis untuk membantu
penyembuhan dan pemberian fisioterapi memperkuat otot-otot serta gerakan
sendi, baik secara isometrik (latihan aktif statik) pada setiap otot yang berada pada
lingkup fraktur maupun isotonik, yaitu latihan aktif dinamik pada otot-otot
tungkai dan punggung.

Proses keperawatan klien fraktur


Pengkajian
Pengkajian merupakan tahap awal dan landasan dalam proses keperawatan untuk klien
itu diperlukan kecermatan dan ketelitian dalam menangani masalah-masalah klien sehingga
dapat menentukan tindakan keperawatan yang tepat. Keberhasilan proses keperawatan sangat
bergantung pada tahai ini. Untuk mengetahui tahap-tahap pengkajian dalam proses keperawatan
lebih lanjut.

Dalam tahap pengkajian, perawat juga perlu mengetahui pola-pola fungsi kesehatan sebagai
berikut.
1. Pola presepsi dan tata laksana hidup sehat. Pada kasus fraktur, klien biasanya merasa
takut akan mengalami kecacatan pada dirinya. Oleh karena itu, klien harus menjalani
penatalaksanaan kesehatan untuk membenbantu penyembuhan tulangnya. Selain itu juga
dilakukan pengkajian yang meliputi kebiasaan hidup klien, seperti penggunaan obat
steroid yang dapat mengganggu metabolism kalsium, pengonsumsian alcohol yang dapat
mengganggu keseimbangan klien, dan apakah klien melakukan olah raga atau tidak.
2. Pola nutrisi dan metabolism. Klien fraktur harus mengonsumsi nutrisi melebihi
kebutuhan sehari-harinya, seperti kalsium, zat besi, protein, vitamin C, dan lainnya untuk
membantu proses penyembuhan tulang. Evaluasi terhadap pola nutrisi klien dapat
membantu menentukan penyebab masalah musculoskeletal dan mengantisipasi
komplikasi dari nutrisi yang tidak adekuat, terutama pada lansia. Selain itu, obesitas juga
menghambat degenerasi dan mobilitas klien.
3. Pola eliminasi untuk kasus fraktur humerus, tidak ada gangguan pada pola eliminasi,
namun perlu juga dikaji frekuensi, konsistensi, warna, serta bau feses pada pola eliminasi
alvi. Pada pola eliminasi urin dikaji frekuensi, kepekatan, warna, bau, dan jumlahnya.
Pada kedua pola ini juga dikaji adanya kesulitan atau tidak.
4. Pola tidur dan istirahat. Semua klien fraktur biasanya merasa nyeri, geraknya terbatas
sehingga hal ini dapat mengganggu pola dan kebutuhan tidur klien. Selain itu, pengkajian
juga dilaksanakan pada lamanya tidur, suasana lingkungan, kebiasaan tidur, kesulitan
tidur, dan penggunaan obat tidur.
5. Pola aktivitas karena adanya nyeri dan gerak yang terbatas, semua bentuk aktivitas klien
menjadi berkurang dank lien butuh banyak bantuan dari orang lain. Hal lain yang perlu
dikaji adalah bentuk aktivitas klien terutama pekerjaan klien karena ada beberapa bentuk
pekerjaan berisiko untuk terjadinya fraktur dibandingkan pekerjaan lain.
6. Pola hubungan dan peran klien akan menghilangkan peran dalam keluarga dan
masyarakat karena klien harus menjalani rawat inap.
7. Pola persepsi dan konsep diri. Dampak yang timbul pada klien fraktur adalah timbul
ketakutan akan kecacatan akibat fraktur, rasa cemas, rasa ketidakmampuan untuk
melakukan aktivitas secara optimal, dan gangguan ditra diri.

8. Pola sensori dan kognitif, pada klien fraktur, daya rabanya berkurang terutama pada
bagian distal fraktur, sedangkan pada indra yang lain dan kognitifnya tidak mengalami
gangguan, selain itu juga timbul rasa nyeri akibat fraktur.
9. Pola reproduksi seksual. Dampak pada klien fraktur yaitu klien tidak dapat melakukan
hubungan seksual karena harus menjalani rawat inap, mengalami keterbatasan gerak,
serta merasa nyeri. Selain itu juga perlu dikaji status perkawinannya termasuk jumlah
anak dan lama perkawinan.
10. Pola penanggulangan stress. Pada klien fraktur timbul rasa cemas akan keadaan dirinya,
yaitu ketakutan timbul kecacatan pada diri dan fungsi tubuhnya. Mekanisme koping yang
ditempuh klien tidak efektif.
11. Pola tatanilai dan keyakinan. Klien fraktur tidak dapat melaksanakan ibadah dengan baik,
terutama frekuensi dan konsentrasi dalam beribadah. Hal ini dapat disebabkan oleh rasa
nyeri dan keterbatasan gerak klien.
PEMERIKSAAN FISIK
Pemeriksaan fisik dibagi menjadi dua, yaitu pemeriksaan umum (status general) untuk
mendapatkan gambaran umum dan pemeriksaan setempat (local). Hal ini diperlukan untuk dapat
melaksanakan perawatan total (total care) karena ada kecenderungan bahwa spesialis hanya
memperlihatkan daerah yang lebih sempit, tetapi lebih mendalam.
Hal yang harus diketahui dalam pemeriksaan fisik klien fraktur adalah sebagai berikut.
1. Gambaran umum. Perawat pemeriksa perlu memerhatikan pemeriksaan secara umum
yang meliputi hal-hal sebagai berikut.
Keadaan umum. Keadaan baik atau buruknya klien. Hal yang perlu dicatat adalah
tanda-tanda sebagai berikut.
Kesadaran klien: apatis, spoor, koma, gelisah, kompos mentis yang bergantung

pada keadaan klien.


Kesakitan, keadaan penyakit: akut, kronis, ringan, sedang berat, dan pada kasus

fraktur biasanya akut.


Tanda-tanda vital tidak normal karena ada gangguan, baik fungsi maupun bentuk.
Secara sistemik, dari kepala sampai kelamin.
Perawat harus memperhitungkan keadaan proksimal serta bagian distal klien,
terutama mengenai status neurovascular.
2. Keadaan local pemeriksaan pada system musculoskeletal adalah sebagai berikut.
Look (inspeksi). Perhatikan apa yang dapat dinilai, antara lain sebagai berikut.

Sikatriks (jaringan parut, baik yang lamai maupun buatan seperti bekas

oprasi)
Fistula
Warna kemerahan atau kebiruan (livid) atau hiperpigmentasi.
Benjolan, pembengkakan, atau cekungan dengan hal-hal yang tidak biasa

(abnormal)
Posisi dan bentuk ekstremitas (deformitas)
Posisi jalan (gait waktu masuk ke kamar periksa)
Feel (palpasi). Pada waktu akan palpasi, terlebih dahulu posisi klien diperbaiki
mulai dari posisi netral (posisi anatomi). Pada dasarnya, hal ini merupakan
pemeriksaan yang memberikan informasi dua arah, baik pemeriksa maupun klien.
Hal-hal yang perlu dicatat adalah sebagai berikut.
Perubahan suhu disekitar trauma (hangat) dan kelembapan kulit.
Apabila ada pembengkakan, apakah terdapat fluktuasi atau edema terutama

disekitar persendian.
Nyeri tekan (tenderness), krepitasi, letak kelainan (1/3 proksimal, tengah atau

distal)
Tonus otot pada waktu relaksasi atau kontraksi, benjolan yang terdapat
dipermukaan atau melekat pada tulang. Selain itu, periksa status
neuromuscular. Apabila ada benjolan, perawat perlu mendeskripsikan
permukaannya, konsistensinya, pergerakan terhadap dasar atau permukaan,

nyeri atau tidak, dan ukurannya.


Move (pergerakan terutama rentang gerak). Setelah melakukan pemeriksaan feel,
perawat perlu pemeriksaan dengan menggerakkan ekstremitas, kemudian
mencatat apakah terdapat keluhan nyeri pada pergerakan. Pencatatan rentang
gerak ini perlu dilakukan agar dapat mengevaluasi keadaan sebelum dan
sesudahnya. Gerakan sendi dicatat dengan ukuran derajat, dari tiap arah
pergerakan mulai dari titik 0(posisi netral) atau dalam ukuran metric. Pemeriksaan
ini menentukan apakah ada gangguan gerak (mobilitas)atau tidak pergerakan yang

dilihat adalah gerakan aktif sdan pasif.


PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
1. Pemeriksaan radiologi. Sebagai penunjang, pemeriksaan yang penting adalah
pencitraan menggunakan rontgen (sinar-x). untuk mendapatkan gambaran tiga dimensi
dari keadaan dan kedudukan tulang yang sulit, kita memerlukan dua proyeksi, yaitu AP
atau PA dan lateral. Dalam keadaan tertentu diperlukan proyeksi tambahan (khusus) jika

ada indikasi untuk memperlihatkan patologi yang dicari karena adanya superposisi. Perlu
disadari bahwa permintaan sinar-x harus atas dasar indikasi kegunaan. Pemeriksaan
penunjang dan hasilnya dibaca sesuai dengan permintaan.
Selain foto polos sinar-x (plane x-ray) mungkin diperlukan teknik khusus, seperti hal-hal
berikut.
Tomografi, menggambarkan tidak hanya satu struktur saja, tetapi juga struktur
tertutup yang sulit divisualisasikan. Pada kasus ini ditemukan kerusakan struktur
yang kompleks, tidak hanya pada satu struktur saja, tetapi pada struktur lain yang

juga mengalami kerusakan.


Mielografi, menggambarkan cabang-cabang saraf spinal dan pembuluh darah diruang

tulang vertebra yang mengalami kerusakan akibat trauma.


Artrografi, menggambarkan jaringan ikat yang rusak karena rudapaksa,
Computed tomografi scanning, menggambarkan potongan secara transversal dari

tulang tempat terdapatnya struktur tulang yang rusak.


2. Pemeriksaan laboratorium. Pemeriksaan laboratorium yang lazim di gunakan untuk
mengetahui lebih jauh kelainan yang terjadi meliputi hal-hal sebagai berikut.
Kalsium serum dan fosfor serum meningkat pada tahap penyembuhan tulang.
Fosfatase alkali meningkat pada saat kerusakan tulang dan menunjukkan kegiatan

osteoblastik dalam membentuk tulang.


Enzim otot seperti kreatinin kinase, laktat dehidrogenase (LDH-5), aspartat amino

transferase (AST) dan aldolase meningkat pada tahap penyembuhan tulang.


3. Pemeriksaan lain-lain. Pada pemeriksaan kultur mikroorganisme dan tes sensitivitas
didapatkan mikroorganisme penyebab infeksi.
Elektromiografi terdapat kerusakan konduksi saraf akibat fraktur.
Artroskopi didapatkan jaringan iikat yang rusak atau sobek karena trauma yang

berlebihan.
Indium imagingpada pemeriksaan ini didapatkan adanya infeksi pada tulang.
MRI menggambarkan semua kerusakan akibat fraktur.