Anda di halaman 1dari 11

MAKALAH PENGENDALIAN

EKTOPARASIT

Disusun Oleh :
Kelompok 1

PROGRAM STUDI KEDOKTERAN HEWAN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2015

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Ektoparasit adalah parasit yang hidupnya menumpang di bagian luar dari tempatnya
bergantung atau pada permukaan tubuh inangnya (host). Sebagian terbesar dari kelompok
ektoparasit yaitu golongan serangga (Kelas Insecta), dan lainnya adalah kelompok akari
(Kelas Arachnida)
Berdasarkan sifat ektoparasit dikenal adanya ektoparasit obligat dan fakultatif. Yang
bersifat obligat artinya seluruh stadiumnya, mulai dari pradewasa sampai dewasa, hidup
bergantung kepada inangnya. Yang menjadi inang ektoparasit adalah manusia, hewan mamalia
dan unggas. Sebagai contoh, kutu penghisap darah (Anoplura), menghabiskan seluruh waktunya
diantara permukaan tubuh inang, yaitu pada bulu dan rambut mamalia. Kutu ini hidup bersama
inang, dan makan darah atau jaringan inangnya (manusia atau hewan). Kelompok yang bersifat
fakultatif artinya ektoparasit itu menghabiskan waktunya sebagian besar di luar inangnya.
Mereka datang mengganggu inang hanya pada saat makan atau menghisap darah ketika
diperlukannya
Hal lain yang lebih membahayakan lagi dari ektoparasit ini adalah peranannya sebagai
vektor penular berbagai macam agens penyakit atau inang antara dari agens penular penyakit
Pengendalian ektoparasit merupakan usaha untuk menekan populasi dari ektoparasit yang
merugikan sampai berada di bawah batas kemampuan dalam menginfeksi maupun menularkan
penyakit sehingga angka kesakitan dapat diturunkan
Upaya-upaya pengendalian ektoparasit untuk mengurangi kejadian penyakit atau penularan
penyakit

telah

banyak

dilakukan.Pengendalian

tersebut

meliputi

pengendalian

fisik,

pengendalian hayati, pengendalian kimiawi, pengendalian genetic maupun pengendalian


terpadu.Pengendalian fisik dilakukan dengan mengelola lingkungan sehingga keadaan
lingkungan tidak sesuai bagi perkembang biakan ektoparasit,pengendalian hayati dilakukan
dengan memanfaatkan organisme predator dan patogen, pengendalian kimiawi dilakukan dengan
menggunakan insektisida sintetis untuk membunuh ektoparasit, pengendalian genetik dilakukan

dengan menyebarkan pejantan mandul ke dalam ekosistem (terutama pada ektoparasit jenis
nyamuk), dan pengendalian terpadu dilakukan dengan menggabungkan berbagai teknik
pengendalian yang ada (Wakhyulianto, 2005).
Pengendalian hayati atau sering disebut pengendalian biologis dilakukan dengan
mengunakan kelompok hidup, baik dari golongan mikroorganisme, hewan infertebrata, atau
hewan vertebrata. Sebagai pengendalian hayati dapat berperan sebagai patogen, parasit, atau
pemangsa.
1.2 Tujuan Makalah
1.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengendalian Hama pada Hewan Ternak
Pada prinsipnya hama tidak dapat diberantas habis, kecuali di dalam suatu lokasi yang
amat terbatas dan benar-benar terisolasi dari populasi-populasi lainnya.Oleh karena itu tidak
digunakan istilah pemberantasan melainkan pengendalian hama.
Jadi selama lapangan atau areal yang kita hadapi masih berupa lingkungan yang
mempunyai hubungan bebas secara fisik, biologis serta sosial-ekonomis dengan lingkungan di
sekitarnya, maka prinsip pengendalian adalah hanya menekan populasi
hama sampai ke tingkat yang tidak membahayakan, tidak merugikan atau tidak merupakan
gangguan bagi manusia.
Cara-cara pengendalian hama pada hewan ternak dapt dilakukan secara fisik/ mekanik
(pengelolaan lingkungan), kimia (insektisida), agen biotik (musuh alami) dan paduan dari caracara tersebut (pengendalian terpadu).
Cara-cara tersebut dapat dilakukan sepanjang hasilnya dapat efektif dan efisien tertuju
kepada stadium hama yang paling rawan (terhadap tindakan itu), mudah dilaksanakan, tidak
memerlukan biaya terlalu besar, aman bagi manusia maupun makhluk bukan sasaran, serta dapat
diterima oleh kalangan masyarakat.
Selain itu perlu diingat bahwa bahwa tindakan ini tidak mengganggu kelestarian dan
keseimbangan alam lingkungan yang bersangkutan, dalam jangka pendek maupun jangka
panjang.
Pemilihan cara pengendalian harus disesuaikan dengan spesies hama yang akan ditindak
serta dengan situasi dan kondisi setempat.sebagai contoh untuk kandang ternak di lokasi lokasi
tertentu akan lebih mudah dan efektif apabila yang dijadikan sasaran adalah stadium
pradewasanya, misalnya jentik nyamuk atau belatung lalat. Untuk lokasi lainnya, mungkin hanya
dewasanya saja atau kedua- duanya dapat ditindak sekaligus ataupun bergantian. Tindakan
sanitasi lingkungan serta pemasangan barier fisik seperti kawat kasa mungkin lebih tepat bagi

peternakan tertentu.

Urutan langkah pengendalian yang ideal adalah sebagai berikut:


1. Mengetahui identitas hama sasaran.
Apakah hama yang akan dikendalikan, lalat,tungau atau kutu jenis apa
2. Mengetahui sifat dan cara hidup (bioekologi) hama sasaran.
Bagaimana daur hidup, habitat, waktu dan perilaku makan, waktu dan perilaku beristirahat,
jarak terbang atau pemencarannya? Informasi ini penting untuk bahan penyusunan strategi
pengendalian. Sebagai contoh habitat lalat pradewasa adalah tumpukan kotoran hewan, sampah,
dan tempat-tempat pembusukan lainnya, maka sasaran pengendaliannya adalah dengan
menghilangkan habitat yang disukai lalat
3. Memilih alternatif cara pengendalian
Apakah cara-cara selain penggunaan pestisida bisa dilakukan? Ataukan harus digunakan
pestisida? Andaikan ada cara lain diterapkan lalu, diselang-seling dengan penggunaan pestisida
dapat dilakukan? Untuk menjawab hal ini perlu monitoring populasi hama secara terus
menerus,sehingga dapat dipilih apakah perlu menggunakan pestisida ataukah cukup dengan
pengelolaan lingkungan atau keduanya.
4. Memilih pestisida.
Apabila keadaan mengharuskan penggunaan pestisida, maka yang harus diingat adalah
kemungkinan terjadinya berbagai akibat samping seperti kemungkinan keracunan langsung pada
ternak dan makhluk bukan-sasaran lainnya, pencemaran dan timbulnya resistensi pada populasi
hama serangga sasaran setelah beberapa generasi. Golongan pestisida bermacam-macam dan
masing-masing mempunyai target kerja terhadap serangga yang berbeda. Penggunaan yang terus
menerus tidak terkendali dapat menimbulkan resistensi danmengganngu ekosistem alam. Contoh
insektisida yang saat ini banyak digunakan adalah golongan piretroid sintetik seperti sipermetrin,
bifentrin, permetrin dll

5. Menentukan cara aplikasinya


Bagaimana cara aplikasi juga merupakan satu persoalan yang krusial. Di mana
dilakukannya, kapan waktunya, dengan cara apa,formulasi mana yang paling tepat, serta siapa
yang akan melakukannya. Cara-cara aplikasi yang dapat dilakukan untuk hama penggannggu di
peternakan dan permukiman adalah space spraying (penyemrotan ruang), residual spraying
(penyemprotan permukaan), baiting (pengumpanan) atau fumigasi. Sebagai contoh pada aplikasi
space spray , waktu merupakan hal yang sangat penting. Karena bersifat nonresidual, maka
penyemprotan harus dilakukan pada saat serangga sasaran dalam keadaan aktif.
Jadi, kalau melihat pertimbangan-pertimbangan di atas maka pengendalian hama itu
sebenarnya memerlukan latar belakang pengetahuan yang luas, tidak sekedar menyemprot tanpa
tanggung jawab. Apabila urutan langkah ini dijalankan maka pengendalian hama akan terlaksana
secara konsepsional sesuai dengan program integrated pest management.
Masalah hama di lingkungan peternakan dan permukiman sesungguhnya merupakan hasil
rekayasa manusia pemukimnya sendiri, dengan menyediakan tempat- tempat untuk perkembangbiakan, mencari makan dan untuk berisitirahat dan berlindung. Beberapa jenis serangga tertentu
seperti lalat dan kecoa telahmengadaptasikan diri dengan kehidupan hean ternak dan manusia di
lingkungan permukimannya.
Oleh karena itu, cara pengendalian hama peternakan dan permukiman yang paling tepat
adalah menjaga kebersihan dan kesehatan lingkungannya, agar tidak dapat digunakan sebagai
tempat berkembang biak, tempat mencari makan atau tempat berlindung dan bersembunyi.
Ketika populasi hama sudah mencapai tingkat mengganggu, merugikan atau bahkan
membahayakan terhadap ternak dan orang yang tinggal di sekitarnya, maka perlu ditindak
dengan menggunakan pestisida tapi dengan penuh kehati-hatian.
2.2 Pengendalian Vektor
Dalam buku Parasitologi kedokteran karya Arjatmo Tjokronegoro dikemukakan bahwa
tujuan pengendalian vektor adalah :

1.Mengurangi atau menekan populasi vektor serendah rendahnya sehingga tidak berarti lagi
sebagai penular penyakit.
2.Menghindarkan terjadinya kontak antara vektor dan manusia.
Pengendalian vektor dapat digolongkan dalam pengendalian alami (Natural control ) dan
pengendalian buatan ( Artifical applied control )
1.Pengendalian Secara Alami.
Pengendalian ini yaitu berhubungan dengan faktor-faktor ekologi yang bukan merupakan
tindakan manusia. Faktor faktor tersebut diantaranya adalah topografi, ketinggian, iklim, dan
musuh alami.
2.Pengendalian Secara Buatan.
Cara pengendalian ini adalah cara pengendalian yang dilakukan atas usaha manusia dan
dapat dibagi menjadi :
a.Pengendalian Lingkungan ( Environment Control )
Pengendaliandilakukan dengan cara mengelola lingkungan ( environment management)
yaitu memodifikasi atau memanipulaasi lingkungan, sehingga terbentuk lingkungan yang tidak
cocok ( kurang baik ) yang dapat mencegah atau membatasi perkembangan vektor.
b.Pengendalian Kimiawi
Pengendalian ini menggunakan bahan kimia yang berkhasiat membunuh serangga
(insektisida ) atau hanya untuk menghalau serangga.
c.Pengendalian Mekanik
Pengendalian ini dilakukan dengan cara menggunakn alat

Yang langsung dapat

membunuh, menangkap atau menghalau serangga. Contohnya seperti menggunakan baju


pelindung, memasak kawat kasa dijendela merupakan cara untuk menghindarkan hubungan
( kontak ) antara manusia dan vektor.
d.Pengendalian Fisik

Pengendalian ini menggunakan alat fisika untuk pemanasan, pembukuan dan penggunaan
alat listrik untuk pengadaan angin, penyinaran cahaya yang dapat membunuh atau untuk
menggangu kehidupan serangga.

e.Pengendalian Biologi
Dengan memperbanyak pemangsa dan parasit sebagai musuh alami bagi serangga, dapat
dilakukan pengendalian serangga yang menjadi vektor atau hospes perantara. Beberapa parasit
dari golongan nematoda, bakteri , protozoa, jamur dan virus dapat dipakai sebagai pengendali
larva nyamuk. Arthropoda juga dapat dipakai sebagai pengendali nyamuk dewaasa. Predator atau
pemangsa yang baik untuk pengendali larva nyamuk terdiri dari beberapa jenis ikan, larva
nyamuk yang berukuran lebih besar, juga larva capung dan crustaceae.

f. Pengendalian Genetika
Pengendalian tujuan mengganti populasi serangga yang berbahaya dengan populasi baru
yang tidak merugikan. Beberapa cara dalam pengendalian ini seperti mengubah kemampuan
reproduksi dengan jalan memandulkan serangga jantan. Pemandulan ini dapat dilakukan dengan
menggunakan bahan kimia.
Insektisida
Insektisida adalah bahan yang mengandung persenyawaan kimia yang digunakan untuk
membunuh serangga.Menurut bentuknya insektisida dapat berupa bahan padat, larutan dan gas,
sedangkan menurut cara masuknya ke dalam serangga, insektisida dibagi dalam :
1.Racun Kontak.
Insektisida masuk kedalam tubuh serangga dengan perantara tarsus ( jari- jari kaki ) pada
waktu istirahat dipermukaan yang mengandung residu insektisida. Pada umumnya dipakai untuk
memberantas serangga yang mempunyai bentuk mulut tusuk isap.

2.Racun Perut.
Insektisida masuk kedalam badan serangga melalui mulut, jadi harus dimakan. Biasanya
serangga yang diberantas dengan menggunakan insektisida ini mempunyai bentuk bentuk mulut
untuk menggigit, lekat isap, karet isap dan bentuk menghisap.
3.Racun Pernafasan.
Insektisida masuk melalui sistem pernafasan dan juga melalui permukaan badan serangga.
Insektisida ini dapat digunakan untuk memberantas semua jenis serangga tanpa harus
memperhatikan bentuk mulutnya. Penggunaan insektisida ini harus hati- hati sekali terutama bila
digunakan untuk memberantas serangga di ruang tertutup.
Berikut beberapa Jenis jenis Insektisida:
1.Fenitrotion 40 wp.
Digunakan untuk pengendalian vektor malaria ( Anopheles sp ), Bersifat sedikit menguap,
penggunaanya dengan penyemprotan residu di dinding rumah.
2.Temofos.
Digunakan untuk pengendalian larva Aedes Aegypti., nama dagangnya abate 1%.
Penggunaannya dengan cara ditaburkan pada tempat penampungan air atau bak mandi.
3.Malation.
Digunakan untuk memberantas Nyamuk dewasa, Penggunaanya dengan cara
penyemprotan, Biasanya digunakan untuk fogging.
4.Dieldrin.
Digunakan sebagai residual spray bersama-sama dengan DDT dan BHC untuk
pemberantasan nyamuk malaria, jika dalam penggunaanya kurang hati-hati dapat mengakibatkan
terjadinya absorbsi melalui kulit, Dieldrin digunakan untuk pemberantasan serangga yang telah
resisten terhadap DDT, yaitri lalat, nyamuk, lipas, semut dan juga triatoma.
5.Bediocarp.
Tergolong insektisida yang mempunyai efek bunuh yang cepat terhadap serangga,
digunakan terutama untuk pengendalian vektor malaria dan vektor penyakit Chages. Dapat pula
digunakan untuk penggendalian serangga lain seperti lalat, pinjal, sengkenit, lipas dan kutu
busuk.

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
3.2 Saran

DAFTAR PUSTAKA

Anonim, Hati-Hati, Banyak Parasit di Farm Kita


Anonim,2013.ENTOMOLOGI

http://vitasernavianti.wordpress.com/2013/10/27/makalah-

entomologi/ diakses 10 April 2015


Anonim,2010. Ektoparasit
Upik, Kesumawati . Bioteknologi Berbagai Jenis Serangga Pengganggu Pada Hewan Ternak
di Indonesia dan Pengendaliannya.FKH IPB:Bogor
http://info.medion.co.id/index.php/artikel/broiler/penyakit/hati-hati-banyak-parasit-di-farm-kita
diakses 10 April 2015
http://upikke.staff.ipb.ac.id/2010/06/04/apakah-ektoparasit-itu/
April 2015

diakses

10