Anda di halaman 1dari 12

1

GOOD PRODUCTION PRACTICE (GPP)


Karena berdampak bagi kesehatan manusia, ada peningkatan permintaan untuk lebih
memperhatikan manajemen risiko oleh semua pihak yang terlibat dalam produksi dan
pemanfaatan pakan. Mengingat hubungan langsung antara keamanan pakan dan keamanan
produk makanan yang berasal dari hewan ternak, penting bahwa pembuatan pakan dan produksi
pakan pada umumnya ditangani dengan bagian-bagian penting dari rantai produksi pangan.
Pedoman ini mendefinisikan keamanan pakan sebagai semua kondisi dan tindakan yang
diperlukan untuk menjamin keamanan dan kesesuaian pakan pada semua tahap dari rantai
produksi pakan. Oleh sebab itu, Good Production Practice (GPP) harus diperhatikan oleh setiap
perusahaan demi kemanan produk. Berikut ini ada 10 poin GPP yang seharusnya diterapkan oleh
perusahaan:

1.

Mengidentifikasi dan Melacak Hewan yang Diobati


a. Identifikasi Obat Hewan
Pada tahap pra-produksi, penggunaan obat hewan merupakan suatu keharusan
agar produktivitas ternak dapat dipertahankan atau ditingkatkan. Dari pengamatan di
lapang, pemakaian antibiotik terutama pada peternakan ayam pedaging cenderung
berlebihan tanpa bahwa pemakaian obat yang dilakukan oleh peternak sendiri telah
menyebabkan penyimpangan residu obat pada produk ternak sebesar 6365%. Keadaan
ini kemungkinan besar berkaitan dengan dosis dan waktu henti obat yang tidak diikuti.
Waktu henti pemberian obat hewan yang tidak dipatuhi menyebabkan terjadinya residu
obat hewan pada produk ternak. Penggunaan obat hewan harus sesuai dengan ketentuan
yang berlaku dengan memperhatikan antara lain waktu henti dan kesesuaian dosis. Selain
itu, penyimpanan obat hewan juga harus mengikuti petunjuk yang ada. Penggunaan
pestisida dan bahan kimia lain untuk sanitasi lingkungan (kandang) juga harus hati-hati
agar tidak mengkontaminasi pakan atau sumber air minum.
b. Kemungkinan identifikasi lainnya meliputi:
Cap
Tag atau penandaan
Brand atau pelabelan
Ear notch
Electronic ID

2
Leg band
2.

Menjaga Obat dan Pencatatan (Recording)


Rencana pengobatan:
a. Mengidentifikasi hewan yang diobati
Ternak yang dipelihara secara rutin harus diperiksa kesehatannya. Pencatatan harus
dilakukan pada hewan yang sakit, termasuk perlakuan yang diberikan untuk memberikan
obat.
b. Menentukan tanggal pengobatan
Penentuan tanggal untuk pemberian obat harus sesuai dengan keperluan, tingkat
keparahan, efisiensi, dan lama terapi pengobatan.
c. Nama obat yang diberikan
Untuk menentukan obat yang akan diberikan, perlu mengetahui nama obat apa yang akan
diberikan serta harus sesuai dengan fungsi dan tujuan terapi pengobatannya.
d. Metode pemberian obat
Cara atau metode untuk memberikan obat dapat melalui per-oral, parenteral, topical, atau
inhalasi. Menentukan metode atau cara pemberian obat harus sesuai dengan kondisi dari
ternak atau hewan yang akan diberikan obat serta tingkat efisiennya juga perlu
diperhatikan.
e. Disertakan cara pemberian obat
Setelah menentukan cara pemberian obat atau metode yang digunakan perlu dicatat untuk
data perkembangan kesehatan dan mengevaluasi hasil pengobatan sebelumnya untuk
melakukan tindakan atau pengobatan selanjutnya sehingga dapat dilakukan perubahan
atau perbaikan tatalaksana berikutnya supaya tidak terulang penyakitnya atau supaya ada
peningkatan produksi.
f. Jumlah obat yang diberikan
Pengobatan pada ternak atau hewan harus menentukan jumlah atau dosis yang akan
diberikan sesuai dengan jenis hewan, umur hewan, berat badan hewan, dan tingkat
keparahan dari penyakitnya sehingga dapat tercapai tujuan dari pengobatan yang
diberikan.
g. Mencatat waktu saat pemberian obat
Waktu yang benar saat pemberian obat adalah saat dimana obat yang diresepkan harus
diberikan. Dosis obat harian diberikan pada waktu tertentu dalam sehari, sehingga kadar
obat dalam plasma dapat dipertahankan. Jika obat mempunyai waktu paruh yang panjang,
obat diberikan sekali sehari. Obat-obat dengan waktu paruh pendek diberikan beberapa

3
kali sehari pada selang waktu yang tertentu. Beberapa obat diberikan sebelum makan dan
yang lainnya diberikan pada saat makan atau bersama makanan.
h. Mencatat lokasi injeksi
Injeksi adalah suatu metode untuk memasukkan liquid ke dalam tubuh dengan
menggunakan spuit dan jarum melalui kedalaman kulit tertentu agar bahan-bahan dapat
didorong masuk kedalam tubuh. Tindakan injeksi merupakan salah satu tindakan medis
yang paling sering dikerjakan. Lebih dari 90% tindakan injeksi dikerjakan untuk tujuan
terapeutik, sementara 5-10% untuk tindakan preventif. Tindakan injeksi harus dikerjakan
secara aman. Empat hal yang harus diperhatikan dalam tindakan injeksi yaitu: rute
injeksi, lokasi injeksi, teknik dan alat.
i. Mencatat informasi tentang obat yang diberikan serta pengobatannya
Mencatat informasi yang sesuai mengenai obat yang telah diberikan seperti manfaat dan
efek samping obat terhadap pengobatan sangat perlu. Dalam memberikan obat juga harus
memperhatikan resep obat yang diberikan harus tepat dan hitungan yang tepat pada dosis
yang diberikan sesuai resep.
j. Mencatat apabila diberikan vaksinasi rutin
Vaksinasi rutin ternak sangat diperlukan untuk mencegah penyakit yang sulit
disembuhkan atau penyakit yang tidak dapat diberantas dengan cara lain.
k. Mencatat apabila menggunakan obat untuk membantu mencegah penyakit ketika hewan
mengalami stress saat perjalanan atau pengiriman
Sebelum atau saat diangkut, ternak tidak boleh diberi obat penenang atau stimulator
lainnya, sehingga apabila diberikan obat harus dicatat agar dapat dilakukan proses
penyelisihan pemotongan pada ternak tersebut atau tidak.
l. Harus menyimpan catatan obat tertulis setidaknya 12 bulan setelah pemasaran ternak
Catatan obat tertulis setidaknya 12 bulan terakhir sangat penting karena untuk
mengetahui ternak yang akan dipotong dalam keadaan sehat atau tidak, karena ternak
yang dipotong harus bebas dari penyakit.
m. Menyimpan pemberian obat dan pengobatan yang diberikan pada ternak dalam buku
untuk menjaga informasi ini
Dokumentasi yang benar sangat diperlukan untuk mencatat informasi yang sesuai
mengenai obat yang telah diberikan yang meliputi nama obat, dosis, rute (tempat suntikan
atau injeksi jika perlu), waktu dan tanggal, dan inisial atau tanda tangan dokter atau
perawat yang merawat dan memberi pengobatan pada ternak tersebut.

4
3.

Penyimpanan, Pelabelan, dan Perhitungan yang Benar untuk Semua Produk Obat dan
Pakan
Sebelum mengunakan obat, sebaiknya harus benar-benar diperiksa terlebih dahulu
mengenai keamanan dari obat itu sendiri. Karena apabila kita salah menggunakan atau
menyimpan obat tersebut maka dapat membahayakan pasien. Yang harus kita perhatikan
pada kemasan obat sebelum menggunakannya yaitu:
Bacalah label
Pada kemasan obat akan terdapat label mengenai kegunaan obat, dosis, aturan pakai, cara
penyimpanan, dan lain-lain.
Ikuti petunjuk pada label
Informasi yang dituliskan pada label obat harus kita patuhi demi keamanan pasien karena
telah diuji di laboratorium. Apabila kita salah dalam menggunakan obat karena tidak
sesuai dengan petunjuk, maka kemungkinan bisa menimbulkan bahaya bagi pasien.
Perhatikan withdrawl time, dosis, penyakit yang dapat disembuhkan dengan obat tersebut,
spesies, dan tanggal kadaluarsa
Sebelum menggunakan obat kita harus memeriksa terlebih dahulu kesesuaian obat
dengan penyakit yang diderita pasien, dosis dan tanggal kadaluarsa demi kemananan
pasien.
Hindari kontaminasi pada obat
Cara penyimpanan obat dengan baik dan benar sesuai dengan petunjuk dapat
meminimalisir kontaminasi pada obat.
Cara penyimpanan produk obat harus sangat diperhatikan karena cara penyimpanan
obat ang benar dapat menjaga komponen obat itu sendiri. Selain itu cara penanganan obat
sampai masuk ke tubuh pasien juga harus diperhatikan agar obat dapat bekerja secara efektif
menuju target organ. Dan pembuangan sampah atau bekas obat juga tidak bisa sembarangan
karena dapat membahayakan lingkungan sekitar. Petunjuk mengenai penyimpanan,
penanganan, dan pembuangan obat yang benar yaitu:
Identifikasi produk yang perlu disimpan di lemari pendingin
Jangan menyimpan syringe obat yang telah digunakan
Buanglah syringe dan jarum yang telah digunakan dengan benar (kantong khusus,
diletakkan di wadah, diberi plastic pengaman pada wadah, dan dikumpulkan bersamaan
dengan bahan-bahan bio-hazardous)
Kontrol suhu obat sesuai dengan petunjuk pada label
Hindari paparan sinar matahari yang terlalu lama
Simpan obat yang tersisa dengan benar

5
4.

Memperoleh dan Menggunakan Resep Obat Dokter Hewan dari Dokter Hewan yang
Mempunyai Lisensi
Semua yang dapat mencegah, mengurangi, atau menghilangkan gejala penyakit, dan
memperbaiki kemampuan fisiologi tubuh atau memperkuat kondisi tubuh, atau jenis bahan
ataupun pencampuran bahan yang membantu diagnosis penyakit disebut obat. Dilihat dari
kenampakan obat dibedakan menjadi obat suntik, obat makan, obat luar, peralatan medis.
Klasifikasi obat dibedakan berdasarkan (FDAT, 2013):
a. Obat resep: harus dengan resep dokter, diracik oleh apoteker yang ahli dibidangnya; obat
diracik sesuai resep dari dokter, disertai penjelasan penggunaan obat.
b. Obat OTC (Over the Counter): tidak perlu resep dokter, dapat dibeli di berbagai apotek,
penjelasan penggunaan obat oleh apoteker berdasarkan keterangan dalam petunjuk
pemakaian obat.
c. Obat paten: dapat dibeli di swalayan atau toko obat biasa sebanyak 2 jenis atau di apotek
dan warga masyarakat boleh memilih dan membeli sendiri dan penggunaan obat dapat
ditemukan dalam petunjuk pemakaian obat.
FDA (Food and Drug Administration) adalah Badan Pengawas Makanan dan Obatobatan di Amerika Serikat yang menerbitkan ketentuan baru yaitu "Interim Final Rules of
Registration on Food Facilities dan Prior Notice on Imported Food Shipment. Makanan
yang dimaksud adalah semua jenis makanan yang dikonsumsi baik untuk manusia maupun
binatang di Amerika Serikat sebagaimana didefinisikan dalam peraturan ini. Contoh
makanan termasuk (DJPLNI, 2003):
Suplemen-suplemen diet dan bahan-bahan diet
Minuman bayi
Berbagai jenis minuman
Buah-buahan dan sayuran
Ikan dan makanan dari laut
Produk susu dan telur
Hasil-hasil pertanian yang belum dimasak untuk digunakan sebagai bagian dari makanan
Makanan dalam kaleng yang dibekukan

6
Bahan-bahan pembuat roti, makanan ringan dan manisan, termasuk permen karet
Makanan-makanan hidup untuk hewan
Makanan hewan atau pakan ternak
Makanan dikecualikan adalah 1) Makanan yang dibawa dengan perseorangan atau
yang dipergunakan untuk keperluan perseorangan seperti untuk dikonsumsi sendiri, keluarga
teman, atau tidak untuk dijual atau didistribusikan); 2) Makanan yang diekspor tanpa
meningggalkan pelabuhan sampai kedatangan untuk ekspor; 3) Daging, telur dan produk
unggas yang tertuang dalam yurisdiksi US-Department of Agriculture (USDA); dan
makanan yang dibuat secara individual di tempat tinggal masing-masing dan dikirim secara
individual sebagai "personal gift" (contoh untuk alasan yang bukan bisnis) ke seseorang di
Amerika Serikat (DJPLNI, 2003).
Gunakan obat yang telah terdaftar pada Food and Drug Administration. Departermen
ini mampu mendeteksi, mencegah dan mengawasi produk-produk termaksud untuk
melindungi keamanan, keselamatan dan kesehatan konsumennya baik di dalam maupun di
luar negeri. Food and Drug Administration melakukan pengaturan regulasi dan standarisasi
produk, memberikan lisensi dan sertifikasi industri di bidang farmasi berdasarkan cara-cara
produksi yang baik, evaluasi produk sebelum diizinkan beredar, post marketing vigilance
termasuk sampling dan pengujian laboratorium, pemeriksaan sarana produksi dan distribusi,
penyidikan dan penegakan hukum, pre-audit dan pasca-audit iklan dan promosi produk riset
terhadap pelaksanaan kebijakan pengawasan obat dan makanan, pemberi informasi dan
edukasi publik termasuk peringatan publik, yang bertujuan menjamin keamanan,
keselamatan dan kesehatan konsumen (FDAT, 2013).
5.

Teknik Administrasi yang Baik dan Waktu Pengendaliannya


Tipe sistem pemberian:
1. Itramuscular (IM)
Letak penggunaannya dibawah kulit
Pada saat injeksi tidak boleh menahan atau menyekik serta tidak diperbolehkan pada
panggul
Injeksi menggunakan ukuran jarum yang tepat dan sesuai
2. Subkutan (SC)

7
Injeksi dilakukan pada tempat yang bersih dan kering
Dilakukan pada lipatan kulit di bawa leher
Menggunakan kulit yang tertutup pada siku atau panggul
3. Intraperitoneal (IP)
Injeksi pada itraperitonial ini harus mendapat instruksi dari dokter hewan atau yang
berwenang dan di gunakan pada luka yang serius yang dialami hewan.
4. Intravena (IV)
Injeksi pada itraperitonial ini harus mendapat instruksi dari dokter hewan atau yang
berwenang dan di gunakan pada luka yang serius yang dialami hewan.
5. Intranasal (IN)
Pemberian pada hidung terbuka untuk absorpsi yang lebih cepat. Pemberian ini pun atas
saran dokter hewan atau yang berwenang.
6. Pemberian secara Oral
Pemberian secara oral ini, biasanya untuk obat-obat yang memiliki onset kerja yang
panjang.
7. Pemberian secara Topikal
Pemberian yang dilakukan dengan cara mengoleskan pada area diatas permukaan kulit.
Pemberian secara topikal ini biasanya pada pemakaian obat luar.
8. Pemberian dengan Air Minum
Pemberian yang dilakuakn dengan mencampurkan pada tempat minum hewan
9. Pemberian Zat Penambah Makanan
Pemberian yang dilakukan dengan cara mencampur pada pakan yang akan diberikan pada
hewan. Seperti penambahan vitamin, calsium dll.
Sanitasi
Ada beberapa sanitasi yang dilakuakan setelah melakukan vaksinasi, seperti:
Membersihkan botol-botol vaksin dan jarum
Tidak menempatkan kembali jarum yang sudah digunakan pada botol vaksin
Ganti jarum setiap 10 sampai 15 kali pemakaian
Membuang jarum dengan menekkuknya

8
Menggunakan tempat injeksi yang bersih
Mengatur botol-botol dan bungkusan laiannya
6.

Lakukan Uji Residu Antibiotik Apabila Memungkinkan


Penggunaan obat-obatan dalam usaha peternakan hampir tidak dapat dihindarkan,
karena ternak diharapkan selalu berproduksi secara optimal yang berarti kesehatan ternak
harus selalu terjaga.Untuk memenuhi tuntutan produksi ternak yang tinggi, maka
ketersediaan obat hewan sangat diperlukan, disamping penggunaan bibit unggul dan
pemuliaan yang memakan waktu yang relatif lama. Antibiotik digunakan untuk membasmi
mikroba penyebab terjadinya infeksi.
Pada dasarnya suatu infeksi dapat ditangani oleh sistem pertahanan. Berdasarkan
Standar Nasional Indonesia (SNI No. 01-6366-2000) batas maksimum residu antibiotik
dalam makanan yang masih boleh dikonsumsi untuk antibiotik amoksisilin, ampisilin, dan
kloramfenikol adalah 0,01 g/g dan batas maksimum residu antibiotik tetrasiklin adalah 0,1
g/g. Keberadaan residu antibiotik dalam makanan asal hewan erat kaitannya dengan
penggunaan antibiotik untuk pencegahan dan pengobatan penyakit serta penggunaan sebagai
imbuhan pakan. Pencampuran bahan baku imbuhan pakan dalam ramuan yang dilakukan
sendiri ditempat peternakan yang kurang dapat dijamin ketepatan takarannya dapat
menyebabkan residu pada pangan asal hewan (Masrianto, 2013).
Penilaian terhadap daging bergantung pada kadar dan jenis residu yang ditemukan
pada produk tersebut. Produk asal ternak yang mengandung residu obat diatas Batas
Maksimum Residu (BMR) sebaiknya tidak dikonsumsi apalagi diekspor. Namun pada
kenyataannya residu obat hewan pada daging banyak diatas BMR (Darsono, 1996).
Pengawasan terhadap residu dan cemaran mikroba dalam pangan asal hewan sangat
penting terutama dalam kaitannya dengan perlindungan kesehatan dan keamanan konsumen.
Berkaitan dengan hal tersebut, upaya untuk menyediakan pangan asal hewan yang aman,
sehat, utuh, dan halal (ASUH) terus dilakukan. Salah satunya adalah dengan pengawasan
melalui program monitoring dan surveilans residu dan cemaran mikroba.
Monitoring dan surveilans residu antibiotik secara bioassay menunjukkan bahwa
rata-rata 80% sampel yang diperiksa mengandung cemaran mikroba. Cemaran residu
antibiotik pada produk-produk peternakan masing-masing pada daging ayam adalah 4,25;

9
hati ayam adalah 28,6; dan daging sapi masing-masing 78,8% mengandung residu antibiotik
tetrasiklin. Setiap residu akan hilang dalam suatu produk peternakan dalam waktu seminggu
setelah pemberian terakhir (Agustina, 2000).

7.

Menentukan Manajemen Program Kesehatan yang Efisien dan Efektif


a. Mencegah lebih baik daripada mengobati
b. Masalah kesehatan dikontrol oleh manajemen
c. Membangun relasi antara dokter hewan/klien/pasien
d. Meninjau produksi dan mencatat finansial
Biosecurity:
Kebiasaan yang digunakan dalam menjaga hewan peliharaan dari serangan penyakit atau
hewan lain
Kebiasan yang dilakukan seperti: meberiakan vaksinasi kepada hewan secara rutin, selalu
menjaga kebersihan kandang, tempat pakan dan minum.
Kebiasaan yang digunakan dalam menghindari penyakit dalam kawanan/ kumpulan
Selalu melakukan kontrol dan pemerikasan secara rutin kepada sekelompok atau
kawanan hewan pemeliharaan.
Mengganti pakaian pada saat di farms
Agar tidak terkontaminasi, maka para pekerja di farms diharuskan mengganti pakaian
setelah dan sesudah bekerja di area frams.
Bersihkan dan disinfeksi kendaraan transport
Selalu membersihkan kendaraan yang digunakan sebagai transport hewan dan selalu di
disinfeksi.
Mengontrol rodent dan burung
Mengontrol rodent dan burung-burung yang bersifat sebagai vektor penyebaran suatu
penyakit.
Membatasi lalu lintas manusia antara farms
Selalu mengontrol lalu lintas manusia sebagai pembawa suatu agen penyakit yang dapat
menyebar pada area farms.

8.

Menjaga Kesehatan Hewan Melalui Manajemen Pemeliharaan yang Baik


Salah satu faktor yang menentukan kesehatan dari hewan adalah manajemen
pemeliharaannya. Apabila manajemen pemeliharaan dilakukan dengan baik maka akan
meminimalisir kejadian penyakit pada hewan sehingga peternak tidak akan mengalami
kerugian ekonomis seperti menurunnya produksi susu sapi, pengeluaran biaya pengobatan

10
untuk hewan yang sakit dan sebagainya. Beberapa hal yang harus diperhatikan antara lain
yaitu:
1. Bangunan, Lokasi dan Fasilitas
Konstruksi bangunan pada peternakan harus memadai dan sesuai standar dari populasi
hewan yang ada, lokasi bangunan harus jauh dari pemukimam atau pedesaan dengan
persediaan sumber air yang cukup, fasilitas atau peralatan yang digunakan terbuat dari
material non toxic, tidak bersifat korosif mudah dibersihkan dan harus bebas dari
kontaminasi bakteri, insekta, helminth atau agen pathogen lainnya. Ketika suhu di luar
ruangan mencapai di bawah 32 , semua hewan domestik harus dipindahkan ke ruangan
tertutup.
2. Pakan dan Minum
Pakan dan minum yang diberikan harus memenuhi gizi yang seimbang dan bebas dari
kontaminasi bakteri. Peralatan pakan ataupun minum harus dibersihkan secara rutin untuk
mencegah berkembangnya agen penyakit seperti bakteri, nyamuk, virus. Pakan yang
disediakan tergantung dari umur, spesies, kondisi, dan ukuran hewan.
3. Personal Higiene
Transimisi dari penyakit tidak hanya melalui lingkungan, kontaminasi pakan dan minum
akan tetapi peternak yang tidak menjaga kebersihan dari dirinya juga dapat beresiko
mentransmisikan agen penyakit kepada hewan. Seperti contoh tidak mencuci tangan
dengan bersih sebelum dan sesudah melakukan pemerahan susu pada sapi, tidak
menggunakan glove saat melakukan palpasi rectal dan lain sebagainya.
4. Penyimpanan Hasil Produk
Hasil produksi dari hewan ternak terutama sapi seperti susu atupun daging, harus dijaga
kebersihannya segera setelah sapi diperah ataupun sapi dipotong. Apabila pada sapi
potong dapat dilakukan pemeriksaan postmortem terlebih dahulu. Hasil produksi yang
baik sebaiknya dipisahkan dari hasil produksi yang kurang baik ataupun dari bahan-bahan
kimia agar tidak tejadi kontaminasi.
9.

Kualitas Pakan
Penyimpanan pakan ternak merupakan salah satu faktor yang menentukan kualitas
pakan. Hindari penyimpanan pakan pada tempat yang lembab, berdebu, atau tempat-tempat

11
yang memungkinkan terjadinya kontaminasi bakteri, burung, tikus atau agen patogen
lainnya. Pemberikan pakan pada hewan harus sesuai dengan standart gizi yang dibutuhkan.

Gambar 1. Beberapa Contoh Produk Pakan Hewan


10. Jaminan Kualitas dan Mutu Produk
Pengembangan kualitas dan mutu produk hewan dapat dilakukan dengan cara
monitoring kesehatan hewan, manajemen pemeliharaan yang baik, mengadakan dan
mengikuti sosialisasi tentang produk-produk hewan, mengikuti perkembangan teknologi,
reproduksi, kesehatan maupun manajemen pemeliharaan tentang hewan ternak terkini guna
meningkatkan kuliatas dan mutu dari produk yang akan dihasilkan.

DAFTAR PUSTAKA
ACVM Standard For Good Manufacturing Practice. New Zealand. ISBN 0-478-07572-3. 24
ACVM 01/07.
Agustina, H., dkk. 2000. Monitoring dan Surveillance Residu Cemaran Mikroba di Kalimantan
Selatan, Kalimantan Timur dan Kalimantan Barat. Dilavet 9 (3): 1-5.
Darsono, R. 1996. Deteksi Residu Oksitetrasiklin dan Gambaran Patologi Anatomi Hati dan
Ginjal Ayam Kampung yang Dijual di Lima Pasar Kodya Surabaya. Media Kedokteran
Hewan 12 (3): 178-182.
Direktorat Jenderal Perdagangan Luar Negeri Indonesia (DJPLNI). 2003. Upaya Penyesuaian
terhadap Ketentuan Interim Final Rules of Registration On Food Facilities dan Prior
Notice of Imported Food Shipment dalam The Public Health Security and Bioterrorism

12
Preparedness and Response Act of 2002 (The Bioterrorism Act). Surat edaran. Nomor:
843/DAGLU/X/2003.
Food and Drug Administration Taiwan (FDAT). 2013. Pedoman Penggunaan Obat secara Aman
Bagi Imigran Baru. Taiwan: DEPKES.
Masrianto. 2013. Uji Residu Antibiotik pada Daging Sapi yang Dipasarkan di Pasar Tradisional
Kota Banda Aceh. Banda Aceh: Medikal Veterinaria. ISSN: 0853-1943.