Anda di halaman 1dari 17

FLOWMETER

A. TUJUAN
Tujuan dari pelaksanaan praktikum ini adalah memahami
pengoprasian alat flowmeter dan menentukan perbandimgn laju alir (Q) dan
pressure
drop (h).
B. PERINCIAN KERJA

Pengukuran laju alir dalam pipa apermukaan halus 10 mm.


Pengukuran laju alir dalam pipa permukaan halus 17 mm.
Pengukuran laju alir dalam pipa permukaan kasar 17 mm.
Pengukuran laju alir dalam pipa elbow sudut45o.
Pengukuran laju alir dalam pitot static tube.
Pengukuran laju alir dalam venturi meter.
Pengukuran laju alir dalam orifice meter.

C. ALAT YANG DIGUNAKAN

Instrument Flowmeter

Stopwatch

Pressure Indicator

D. DASAR TEORI
Flowmeter adalah alat yang digunakan untuk mengukur massa atau laju
aliran volumetrik cairan atau gas. Sebelum menetapkan flowmeter, juga dianjurkan untuk
menentukan apakah aliran informasi akan lebih berguna jika disajikan dalam unit massa
atau volumetrik. Ketika mengukur aliran bahan yang mempunyai tekanan, aliran
volumetrik tidak terlalu berarti, kecuali kepadatan adalah konstan. Ketika kecepatan
(volumetric aliran) dari cairan mampat diukur, faktor gelembung udara akan menyebabkan
kesalahan, karena itu, udara dan gas harus dipindahkan sebelum mencapai fluida meter.
(Noor Yudha Priyantini, 2010). Tidak semua fluida yang berpindah dinamakan fluida
bergerak. Yang dimaksud fluida bergerak adalah jika fluida tersebut bergerak lurus
terhadap sekitar. Aliran fluida dikatakan aliran garis lurus apabila aliran fluida yang
mengalir mengikuti suatu garis (lurus melengkung) yang jelas ujung pangkalnya. Aliran

garis lurus juga disebut aliran berlapis atau aliran laminar (laminar flow). Kecepatankecepatan partikel di tiap titik pada garis arus, searah dengan garis singgung di titik itu.
Dengan demikian garis arus tidak pernah berpotongan. Pada fluida yang tak
termampatkan, hasil kali antara kelajuan aliran fluida dan luas penampangnya selalu tetap.
Jadi A.v = konstan, atau disebut debit (Q).
Debit adalah volume fluida ( m3 ) yang mengalir melewati suatu penampang dalamm
selang waktu tertentu. Dirumuskan dengan persamaan berikut:
Q = V/ t. ..(2.1)
Keterangan : Q = debit ( m3 / s )
: V = volume fluida ( m3 )
: t = waktu fluida mengalir (s)
(Fathor Rohman, 2009) Sistem kontrol fluida adalah sebuah alat yang dapat mengatur
jumlah debit air yang akan dikeluarkan. Dengan sistem digital, sistem kontrol ini dirancang
untuk mempermudah dalam pengemasan atau penakaran cairan dengan batas keluaran
yang ditentukan. Rancangan alat ini berupa perangkat keras dimana perangkat yang satu
dengan yang lainya berhubungan dan saling mendukung, adapun perangkat keras tersebut
terdiri dari Mikrokontroler, piringan derajat, optocoupler, water meter termodivikasi,
solenoid, pompa air dan LCD karakter. Sedangkan perangkat lunaknya berupa program
pada mikrokontroler dengan menggunakan bahasa pemrograman assembly sehingga dapat
mengontrol perangkat tersebut baik berupa input maupun output.
Pengukuran

aliran

pada

saluran

terbuka

dilakukan

dengan

menggunakan weir.Weir adalah sebuah obstruksi yang dilalui cairan di


dalam sebuah aliran terbuka. Weir merupakan dam penahan dimana
cairan ditampung ke dalamnya dan cairan dalam weir merupakan laju
aliran. Istilah beda permukaan bending biasanya diartikan tinggi cairan
diatas ambang bendungan tepat di hulu dimana pengisian bending
diberi tanda H yang dinyatakan dalam meter.
Weir mempunyai bentuk bermacam-macam yaitu segiempat
(rectangular),
segiempat

segitiga

( V-notch)

merupakan

salah

dan

trapesium

satu

bentuk

(cipoletti).

Weir

weir

yang

sudah lama digunakan karena bentuknya sederhana, konstruksinya


mudah dan akurat. Weir trapesium merupakan benutuk weir yang cukup
banyak digunakan. Aliran fluida proposional dengan lebar dibawah

cekungan

weir

trapesium.

Weir

segitiga

mempunyai

jangkauan

kapasitas yang lebih besar dan praktis dibandingkan dengan bentuk


weir

lainnya.

Kalau

sudut

dari weir segitiga

sama

dengan , seperti ditunjukan pada gambar dibawah ini.


Prinsip kerjanya adalah pengukuran aliran pada saluran terbuka
menggunakan weir (bendungan) dilengakpi dengan Vernier Height
Gauge (pengukur perubahan ketinggian ) yang mempunyai suatu scale
line (garis pembacaan). Mula mula posisi ujung Vernier Height Gauge
tepat diatas permukaan aliran fluida dan scale line nya menunjukkan
angka

nol.

Ketika

aliran

suatu

fluida

melalui

weir

mengalami

peningkatan laju, maka ketinggian dari fluida tersebut meningkat.


Ketinggian dari fluida akan
terbaca pada Vernier Height Gauge sehingga laju alir dari suatu
fluida sebanding dengan ketinggian dari Vernier Height Gauge dengan
beberapa faktor pembanding seperti kemiringan bukaan weir dan
panjang puncak weir.
Weir hanya dapat digunakan apabila liquida mengalir dalam
channel terbuka, tidak dapat digunakan untuk liquida dalam pipa.
Perhitungan pada aliran terbuka lebih rumit dari pada aliran dalam pipa
dikarenakan:

Bentuk penampang yang tidak teratur (terutama sungai)


Sulit menentukan kekasaran (sungai berbatu sedangkan pipa

tembaga licin)
Kesulitan pengumpulan data di lapangan.

Untuk menghitung perbedaan head turun, maka digunakan


turunan dari persamaan Bernouli sebagai berikut;
A0 2 12
Q=CdA 0{1
} 2 g h
A1

( )

Q
Cd
A0
A1

=
=
=
=

laju alir
coefisien discharge (Cd = 0.98
Luas Throat atau ventury
Luas pipa keluaran

h
g

=
=

head turun
gravitasi

a. Pengukurankuantitas
Pengukuraninimemberikanpetunjuk yang sebandingdengankuantitas total yang
telahmengalirdalamwaktutertentu.
Pengukurankuantitasdiklasifikasikanmenurut :
a. Pengukurgravimetriataupengukuranberat
b. Pengukurvolumetriuntukcairan
c. Pengukurvolumetriuntuk gas
b. Pengukuranlajualiran
LajualiranQ merupakanfungsiluaspipaAdankecepatanV daricairan yang
mengalirlewatpipa, yakni:
Q=A.V......................................................................................(1.1)
tetapi dalam praktek, kecepatan tidak merata, lebih besar di pusat. Jadi kecepatan
terukur rata-rata dari cairan atau gas dapat berbeda dari kecepatan rata-rata
sebenarnya. Gejala ini dapat dikoreksi sebagai berikut:
Q=K.A.V..................................................................................(1.2)
dimana K adalah konstanta untuk pipa tertentu dan menggambarkan hubungan
antara kecepatan rata-rata sebenarnya dan kecepatan terukur.
c. Pengukuran metoda diferensial tekanan
Pada prinsipnya beda luas penampang melintang dari aliran dikurangi dengan yang
mengakibatkan naiknya kecepatan, sehingga menaikan pula energi gerakan atau
energi kinetis. Karena energi tidak bisa diciptakan atau dimusnahkan (Hukum
kekekalan energi), maka kenaikan energi kinetis ini diperoleh dari energi tekanan
yang berubah.

Kecepatan kritis dinamakan

juga angka Reynold, dituliskan tanpa

dimensi
di mana :
D = dimensi penampang arus fluida, biasanya diameter
= kerapatan fluida
V = kecepatan fluida
= kecepatan absolut fluida
Batas kecepatan kritis untuk pipa biasanya berada diantara 2000 sampai 2300.
Venturimeter
Bagian dari venturimeter yaitu :

Bagian pertama pipa yang berbentuk kerucut dengan diameternya mengecil


Bagian kedua pipa dengan diameter tertentu.
Pada bagian ketiga pipa berbentuk kerucut dengan diameter membesar.

Dengan menggunakan persamaan Bernouli:

..................................................................
(1.3)
maka untuk venturimeter berlaku persamaan :

.................................................................
(1.4)
Dengan :
Q : Debit Aliran, ft3/det

Cv : Koefisien Discharger Venturimeter


A1 : Luas Penampang Pipa, ft2
A2 : Luas Penampang Nozzle,ft2
: Berat Jenis Fluida, lbm/ft3
gc : Konstanta Gravitasi, 32,174 lbm ft/lbf det
p : Penurunan Tekanan, lbf/ft2
h : Beda Tinggi Fluida pada Manometer

Orifice
Orifice terdiri dari dua buah pipa dengan diameter sama yang dihubungkan
oleh sebuah plat berlubang kecil atau disebut orifice yang terpasang secara
konsentris.
Untuk Orificemeter berlaku persamaan :

...................................................................
(1.5)
Dengan :
Q : Debit Aliran, ft3/det
Cv : Koefisien Discharger Venturimeter
A1 : Luas Penampang Pipa, ft2
A2 : Luas Penampang Nozzle,ft2
: Berat Jenis Fluida, lbm/ft3
gc : Konstanta Gravitasi, 32,174 lbm ft/lbf det
p : Penurunan Tekanan, lbf/ft2
h : Beda Tinggi Fluida pada Manometer

E. PROSEDUR PERCOBAAN
1) Menyambungkan dua kabel kontak pada saklar yang disediakan.
2) Menekan tombol on pada alat flowmeter.
3) Dipersiapkan pipa yang akan digunakan yaitu flowmeter dengan :
10 mm smooth bore pipe.
17 mm smooth bore pipe.
17 mm artfical roughened pipe.
45o Elbow.
Pitot Static Tube.
Venture Meter.
Orifice Meter.
4) Membuka semua katub dan Nyalakan alat Pompa flowmeter hingga fluida
mengalir pada pipa untuk menghilangkan gelembung. Kecepatan aliran fluida
diatur melalui katup yang terdapat pada pompa.
5) Memasang selang pengukur beda tekanan Harus diperhatikan cara
pemasangan selang sebab jika terbalik akan menghasilkan (-) pada alat ukur
laju alir.
6) Menutup semua katub terkecuali pipa yang akan di ukur beda tekanan, aliran
fluida yang mengalir dalam pipa yang dinginkan.
7) Setelah fluida mengalir dengan kecepatan tertentu, maka diukur beda tekanan
pada elektrik (mm H2O)
8) Setelah itu, beralih ke plug pada bak penampungan sehingga dapat diukur
volume dan waktu nya.
9) Setelah itu, laju fluida diperbesar dengan memutar katup hingga terjadi
perubahan beda tekanan.
10) Dan diukur kembali volume dan waktunya.
11) Percobaan di lakukan secara berturut-turut hingga di peroleh 5 data pada
masing-masing pipa yang telah di tentukan.

12) Untuk menonaktifkan instrument flowmeter maka terlebih dahulu tombol


on/off pada alat harus di tekan terlebih dahulu kemudian memutar keran laju
alir kea rah kanan untuk menutup.
13) Setelah itu kabel kontak boleh di cabut pada colokan listrik.

F. DATA PENGAMATAN
Data data perolehan pada analisa laju alir fluida pada pipa:
10 mm smooth bore pipe. L( 1 meter )
NO

V (LITER)

WAKTU (S)

HEAD
(mmH2O)

1
2
3
4
5

10
10
10
10
10

132
105
47
40
35

255
520,23
875,43
1104,06
1460,2

17 mm smooth bore pipe. L( 1 meter )


NO

V (LITER)

WAKTU (S)

1
2
3
4
5

10
10
10
10
10

28
27
21
17
15

HEAD
(mmH2O)
181,06
215,83
330,19
469,4
548,08

17 mm artfical roughened pipe.L ( 1 meter )


NO

V (LITER)

WAKTU (S)

1
2
3
4
5

10
10
10
10
10

158
144
123
109
105

HEAD
(mmH2O)
155,13
231,17
300,14
458,23
521,08

45o Elbow. d ( 25 mm )
NO

V (LITER)

WAKTU (S)

1
2
3
4
5

10
10
10
10
10

36
32
29
28
25

HEAD
(mmH2O)
1,63
3,21
5,03
7,52
9,08

Pitot Static Tube.d ( 24 mm )


NO

V (LITER)

WAKTU (S)

10

58

HEAD
(mmH2O)
3,22

2
3
4
5

10
10
10
10

46
42
37
32

6,2
8,7
12,74
14,32

Venture Meter. Cd ( 0.98 ), D1 ( 18 mm), D2 ( 39 mm)

NO

V (LITER)

WAKTU
(S)

HEAD
(mmH2O)

1
2
3
4
5

10
10
10
10
10

124
114
111
103
55

12,13
16,67
20,31
29,11
34,42

Orifice Meter. Cd ( 0.6 ), D1 ( 18 mm), D2 ( 39 mm )

NO

V (LITER)

WAKTU (S)

1
2
3
4
5

10
10
10
10
10

128
116
113
107
103

HEAD
(mmH2O)
13,05
18,26
24,26
33,64
38,44

G. PERHITUNGAN
Dari beberapa data dapat diambil satu acuan perhitungan sebagai metode perolehan
hasil perhitungan :
1) Mencari volume dalam m3 dalam 10 mm smooth bore pipe

Percobaan pertama.

V =L

V =0.01

m3
L

V
(m^3)
0,01
0,01
0,01
0,01
0,01

V =10 L

1 m3
1000 L

m3

2) Mencari Laju (Q) dalam m3/s dalam 10 mm smooth bore pipe.


Percobaan pertama.
V
Q=
t

Q=

0,01
132

Q= 7,57576E-

Q
(m^3/s)
7,57576E-05
9,52381E-05
0,000212766
0,00025
0,000285714

05 m3 s

3) Mencari Kecepatan ( u ) dalam 10 mm smooth bore pipe.


Percobaan pertama.
u=

u=

Q
2
d
4
7,57576E-05
7,57576E-05
u = 0.9645755413 m/s
U
0,9645754
13
1,2126090
9
2,7090203
08
3,1830988
62
3,6378272
71

4) Mencari h (head lose) harus dalam m H2O, jadi dika diketahui


255 mm H2O pada percobaan pertama untuk 10 mm smooth bore
pipe.
Head
(mH2O)
0,255
0,52023
0,87543
1,10406
1,4602

h=

255
1000

h=0.255

5) Untuk logaritma kecepatan (U)


Percobaan pertama.
log u
0,015663
81
0,083720
82
0,432812
261
0,502850
127
0,560842
074

6)

log H
-0,59346
-0,2838
-0,05778
0,042993
0,164412

Log u = log 0,964575413


log u= -0,01566381

Untuk logaritma head lose (H)

log ( h )=log 0,255

( h )=
-0,59346
log

7) Mencari bilangan renold (Re) pada percobaan pertama pada 10


mm smooth bore pipe.

uD

0,964575413 0.01 998


0.00115

8370,83706

Diperoleh data Reynold :


Re
8370,83706
10523,33802
23509,58493
27623,7623
31570,01405

8) Mencari Faktor Gesek (f) pada percobaan pertama pada 10


mm smooth bore pipe.
0.316
f 0.25

0.316
8370,837060.25

f = 0,033036563
F
0,033036563
0,031199577
0,025519716
0,024511302
0,023706552

9) Mencari head lose calculated ( h clc ) pada percobaan pertama


pada 10 mm smooth bore pipe.
h clc

h clc

f L u2
2 d g

0,033036563 1 0,9645754132
2 0.01 9.81

h clc 0,156663647
h calc

0,156663647
0,233825213
0,954555887
1,265807391
1,599018669

Berdasarkan perhitungan di atas dapat di terapkan juga pada pipa selanjutnya


yakni:
17 mm smooth bore pipe.
17 mm artfical roughened pipe.
10) Mencari Q dan U pada pipa 450 Elbow sama dengan prosedur di atas!
Selanjutnya mencari K pada pipa 450 Elbow Percobaan pertama!.

K=

h 2 g
2
u

0,565884242 m/s 2

0,00163 m 2 9,81 m/ s2
K=

K
0,09986
9162
0,15539
7415
0,19998
7468
0,27872
2933
0,26829
0112

11) Rumus Mencari U teori pada pitot static tube.


Pada Percobaan pertama.

u teori= 2 g h

u teori= 2

9,81 m
0,01213 mH 2 O=0,487842803m/s
s
U teori
0,25134
916
0,34877
4999
0,41315
1304
0,49995
8798
0,53005
5091

12) Mencari Q teori berdasarkan pada percobaan pertama dengan pipa pitot
static tube.
Q teori ( A ) x ( u teori )

Q teori 0,000452389) x (0,25134916)


Q teori = 0,000114
Q
teori
0,0001
14
0,0001
58
0,0001
87
0,0002
26
0,0002
4

13) Mencari Error berdasarkan pada percobaan pertama dengan venturi meter.
%eror

Q besarQ kecil
Q besar

%eror

0,0001245168,06452E-05
100 =35
0,000124516
Error
35%
40%
44%
50%
13%

14) Untuk mencari Q teori pada pipa Venturi meter dan orifice meter di gunakan
rumus berikut.
2 0,5

[ ( )]

A1
Qteori=cd A 1 1
A2

A 1=

2
D
4

A 2=

2
D
4

2
A 1= 0,018 =0,000254469
4

2
A 2= 0,039 =0,001194591
4

[ (

0,000254469
Qteori=0,980,000254469 m 1
0,001194591
2

2 0,5

)]

= 0,000124

516

Perhitungan di atas merupakan hasil dari percobaan pertama pada


Venturi meter.
Q teori
0,00012
4516

0,00014
597
0,00016
112
0,00019
2893
0,00020
9749