Anda di halaman 1dari 16

ANATOMI TONSIL

Tonsil adalah massa yang terdiri dari jaringan limfoid


dan ditunjang oleh j aringan ikat dengan kriptus didalamnya.
Terdapat tiga macam tonsil, yaitu tonsil faringeal (adenoid),
tonsil palatina dan tonsil lingual.

Tonsila Faringeal
Adenoid atau bursa faringeal/faringeal tonsil merupakan
massa limfoid yang berlobus dan terdiri dari jaringan limfoid
yang sama dengan yang terdapat pada tonsil. Lobus atau segmen
tersebut tersusun teratur seperti suatu segmen dengan selah
atau

kantung

diantaranya.Adenoid

bertindak

sebagai

kelenjar

limfe yang terletak di perifer, yang duktus eferennya menuju


kelenjar limfe leher yang terdekat. Dilapisi epitel selapis
semu bersilia yang merupakan kelanjutan epitel pernafasan dari
dalam hidung dan mukosa sekitar nasofaring.

Adenoid mendapat

suplai darah dari A. Karotis Interna dan sebagian kecil cabang


palatina A. Maksilaris. Darah vena dialirkan sepanjang pleksus
faringeus

ke

dalam

Vena

Jugularis

Interna.

Aliran

limfe

melalui kelenjar interfaringeal yang kemudian masuk ke dalam


kelenjar

Jugularis.

Persarafan

sensoris

Nasofaringeal, cabang N IX serta N. Vagus.

melalui

N.

Tonsila Lingualis
Tonsila

Lingualis

merupakan

kumpulan

jaringan

limfoid

yang tidak berkapsul dan terdapat pada basis lidah diantara


kedua tonsil palatina, dan meluas ke arah anteroposterior dari
papila sirkumvalata ke epiglotis.
kripta

yang

dangkal

dengan

Pada permukaannya terdapat

jumlah

yang

sedikit.

Sel-sel

limfoid ini sering mengalami degenerasi disertai deskuamasi


sel-sel epitel dan bakteri, yang akhirnya membentuk detritus.
Tonsila lingualis mendapat perdarahan dari A. Lingualis yang
merupakan

cabang

dari

A.

Karotis

Eksterna.

Darah

vena

dialirkan sepanjang V. Lingualis ke Vena Jugularis Interna.


Aliran

limfe

menuju

ke

kelenjar

servikalis

profunda.

Persarafannya melalui cabang lingual N. IX.


Tonsila Palatina
Tonsila palatine yang lebih dikenal sebagai tonsil dalam
pengertian

sehari-hari

berbentuk

oval

tonsilaris,
(arkus

di

terletak

dengan
bagian

palatina

berat
depan

anterior),

dalam

fossa

sekitar

dibatasi
sedangkan

1,5
oleh
di

tonsilaris,
gram.

Fossa

pilar

anterior

bagian

belakang

dibatasi oleh pilar posterior (arkus palatina posterior), yang


kemudian bersatu di pole atas dan selanjutnya bersama-sama
dengan m. Palatina membentuk palatum molle.
Permukaan
fibrosa

yang

lateral

kuat

dan

tonsil

dilapisi

berhubungan

oleh

dengan

kapsula
fascia

faringobasilaris yang melapisi m.Konstriktor Faringeus. Kapsul


tonsil tersebut masuk ke dalam jaringan tonsil , membentuk
septa yang mengandung pembuluh darah dan saraf tonsil.
Permukaan tonsil merupakan permukaan bebas dan mempunyai
lekukan

yang

berjumlah

merupakan

sekitar

10-20

muara
buah,

kripta

tonsil.

berbentuk

Kripta

celah

tonsil

kecil

yang

dilapisi oleh epitel berlapis gepeng. Kripta yang paling besar


terletak di pole atas, sering menjadi tempat pertumbuhan kuman
karena kelembaban dan suhunya sesuai untuk pertumbuhan kuman,

dan

juga

karena

tersedianya

substansi

makanan

di

daerah

tersebut.
Kutub bawah tonsil melekat pada lipatan mukosa
yang disebut
terdapat

plika triangularis dimana pada bagian bawahnya

folikel

yang

kadang

membesar.

Plika

ini

penting

karena sikatriks yang terbentuk setelah proses tonsilektomi


dapat

menarik

folikel

tersebut

ke

dalam

fossa

tonsilaris,

sehingga dapat dikelirukan sebagai sisa tonsil.


Pole

atas

tonsil

terletak

pada

cekungan

yang

berbentuk bulan sabit, disebut sebagai plika semilunaris. Pada


plika ini terdapat massa kecil lunak, letaknya dekat dengan
ruang supratonsil dan disebut glandula salivaris mukosa dari
Weber,

yang

peritonsil.

penting
Pada

saat

peranannya

dalam

tonsilektomi,

pembentukan

jaringan

areolar

abses
yang

lunak, antara tonsil dangan fossa tonsilaris mudah dipisahkan.


Di sekitar tonsil terdapat tiga ruang potensial
yang secara klinik sering menjadi tempat penyebaran infeksi
dari tonsil, yaitu :
Ruang peritonsil (ruang supratonsil)
Berbentuk hampir segitiga dengan batas-batas :
o

Anterior

: M. Palatoglossus

Lateral dan Posterior

Dasar segitiga

: M. Palatofaringeus
: Pole atas tonsil

Dalam ruang ini terdapat kelenjar salivari Weber, yang bila


terinfeksi dapat menyebar ke ruang peritonsil, menjadi abses
peritonial.
Ruang retromolar
Terdapat tepat di belakang gigi molar tiga berbentuk oval,
merupakan sudut yang dibentuk oleh ramus dan korpus mandibula.
Di

sebelah

medial

terdapat

m.

Buccinator,

sementara

pada

bagian posteromedialnya terdapat m. Pterigoideus Internus dan


bagian

atas

terdapat

fasikulus

longus

m.temporalis.

bila

terjadi abses hebat pada daerah ini akan menimbulkan gejala

utama trismus disertai sakit yang amat sangat, sehingga sulit


dibedakan dengan abses peritonsilar.

Ruang

parafaring

(ruang

faringomaksilar

ruang

pterigomandibula)
Merupakan

ruang

yang

lebih

besar

dan

luas

serta

banyak

terdapat pembuluh darah besar, sehingga bila terjadi abses


berbahaya sekali. Adapun batas-batas ruang ini adalah :
o

Superior

Inferior

Medial

: basis cranii dekat foramen jugulare


: os hyoid
: m. Konstriktor faringeus superior

Lateral

ramus

asendens

mandibula,

tempat

m.Pterigoideus Interna dan


bagian posterior kelenjar parotis
o

Posterior
Ruang

: otot-otot prevertebra.

parafaring

ini

terbagi

(tidak

sama

besar)

oleh

prosessus styloideus dan otot-otot yang melekat pada prosessus


styloideus tersebut.
o

Ruang pre-styloid, lebih besar, abses dapat timbul oleh karena


:

radang

tonsil,

mastoiditis,

parotitis,

karies

gigi

atau

tindakan operatif.
o

Ruang post-styloid, lebih kecil, di dalamnya terdapat : A.


Karotis

Interna,

V.

Jugularis,

N.

Vagus

dan

saraf-saraf

simpatis.
Tonsil

diperdarahi

oleh

beberapa

cabang

pembuluh

darah,

yaitu :
o

A.Palatina Asendens, cabang

A. Fasialis memperdarahi bagian

postero inferior
o

A.Tonsilaris,

cabang

A.Fasialis

memperdarahi

daerah

antero

inferior
o

A.Lingualis Dorsalis, cabang A.Maksilaris Interna memperdarahi


daerah antero media

A.Faringeal Asendens, cabang A.Karotis Eksterna memperdarahi


daerah postero superior

A.Palatina Desendens dan cabangnya, A.Palatina Mayor dan Minor


memperdarahi daerah antero superior.
Darah vena dialirkan melalui pleksus venosus perikapsular
ke V. Lingualis dan pleksus venosus faringeal, yang kemudian
bermuara

ke

V.

Jugularis

Interna.

Pembuluh

vena

tonsil

berjalan dari palatum, menyilang bagian lateral kapsula dan


selanjutnya menembus dinding faring.

Tonsil
Aliran

limfe

dari

pembuluh

limfe

kemudian

membentuk

berjalan

menembus

tidak

mempunyai

parenkim

eferen

yang

pleksus
m.

sistem

tonsil
terletak

pada

ditampung
pada

permukaan

Konstriktor

limfatik

aferen.

pada

ujung

trabekula,
luar

Faringeus

yang

tonsil

dan

Superior,

selanjutnya menembus fascia bucofaringeus dan akhirnya menuju


kelenjar servikalis profunda yang terletak sepanjang pembuluh
darah besar leher, di belakang dan di bawah arkus mandibula.
Kemudian aliran limfe dilanjutkan ke nodulus limfatikus daerah
dada untuk selanjutnya bermuara ke dalam duktus torasikus.
Inervasi tonsil terutama melalui N. Palatina Mayor dan
Minor (cabang N V) dan N. Lingualis (cabang N IX). Nyeri pada
tonsilitis sering menjalar ke telinga, hal ini terjadi karena
N

IX

juga

mempersarafi

membran

timpani

dan

mukosa

telinga

tengah melalui Jacobsons Nerve.


2. FISIOLOGI TONSIL
Tonsil mempunyai peranan penting dalam fase-fase
awal kehidupan, terhadap infeksi mukosa nasofaring dari udara
pernafasan sebelum masuk ke dalam saluran nafas bagian bawah.
Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa parenkim tonsil mampu
menghasilkan

antibodi.

Tonsil

memegang

peranan

dalam

menghasilkan Ig-A, yang menyebabkan jaringan lokal resisten


terhadap organisme patogen.
Sewaktu baru lahir, tonsil secara histologis tidak
mempunyai
Setelah

centrum

germinativum,

antibodi

dari

ibu

biasanya

habis,

ukurannya

barulah

kecil.

mulai

terjadi

pembesaran tonsil dan adenoid, yang pada permulaan kehidupan


masa

anak-anak

dianggap

normal

dan

dapat

dipakai

sebagai

indeks aktifitas sistem imun. Pada waktu pubertas atau sbelum


masa pubertas, terjadi kemunduran fungsi tonsil yang disertai
proses involusi.
Terdapat dua mekanisme pertahanan , yaitu spesifik dan non
spesifik.
Mekanisme Pertahanan Non-Spesifik
Mekanisme
tonsil

dan

pertahanan

spesifik

kemampuan

limfoid

berupa

lapisan

untuk

mukosa

menghancurkan

mikroorganisme. Pada beberapa tempat lapisan mukosa ini sangat


tipis, sehingga menjadi tempat yang lemah dalam pertahanan
dari masuknya kuman ke dalam jaringan tonsil. Jika kuman dapat
masuk ke dalam lapisan mukosa, maka kuman ini dapat ditangkap
oleh sel fagosit. Sebelumnya kuman akan mengalami opsonisasi
sehingga menimbulkan kepekaan bakteri terhadap fagosit.
Setelah terjadi proses opsonisasi maka sel fagosit
akan bergerak mengelilingi bakteri dan memakannya dengan cara
memasukkannya dalam suatu kantong yang disebut fagosom. Proses
selanjutnya adalah digesti dan mematikan bakteri. Mekanismenya
belum

diketahui

konsumsi

pasti,

oksigen

superoksidase
bakterisidal.

yang

tetapi

diduga

yang

diperlukan

akan

membentuk

terjadi

peningkatan

untuk

pembentukan

H2O2,

yang

bersifat

H2O2 yang terbentuk akan masuk ke dalam fagosom

atau berdifusi di sekitarnya, kemudian membunuh bakteri dengan


proses oksidasi.
Di dalam sel fagosit terdapat granula lisosom.
Bila fagosit kontak dengan bakteri maka membran lisosom akan

mengalami
fagosom

ruptur

dan

membentuk

enzim

rongga

hidrolitiknya

digestif,

yang

mengalir

dalam

selanjutnya

akan

menghancurkan bakteri dengan proses digestif.

Mekanisme Pertahanan Spesifik


Merupakan

mekanisme

pertahanan

yang

terpenting

dalam

pertahanan tubuh terhadap udara pernafasan sebelum masuk ke


dalam saluran nafas bawah. Tonsil dapat memproduksi Ig-A yang
akan menyebabkan resistensi jaringan lokal terhadap organisme
patogen.

Disamping

itu

tonsil

dan

adenoid

juga

dapat

menghasilkan Ig-E yang berfungsi untuk mengikat sel basofil


dan sel mastosit, dimana sel-sel tersebut mengandung granula
yang berisi mediator vasoaktif, yaitu histamin.
Bila ada alergen maka alergen itu akan bereaksi
dengan Ig-E, sehingga permukaan sel membrannya akan terangsang
dan

terjadilah

proses

degranulasi.

Proses

ini

menyebabkan

keluarnya histamin, sehingga timbul reaksi hipersensitifitas


tipe I, yaitu atopi, anafilaksis, urtikaria, dan angioedema.
Dengan teknik immunoperoksidase, dapat diketahui
bahwa Ig-E dihasilkan dari plasma sel, terutama dari epitel
yang menutupi permukaan tonsil, adenoid, dan kripta tonsil.
Mekanisme
masuk

ke

dalam

netralisasi

dari

kerja

proses

Ig-A

adalah

immunologi,

infeksi

virus,

mencegah

sehingga

Ig-A

substansi

dalam

mencegah

proses

terjadinya

penyakit autoimun. Oleh karena itu Ig-A merupakan barier untuk


mencegah

reaksi

imunologi

serta

untuk

menghambat

proses

bakteriolisis.
3. TONSILITIS
Tonsilitis adalah
jaringan

peradangan umum dan pembengkakan dari

tonsila yang biasanya disertai dengan pengumpulan

leukosit,

sel-sel

epitel

mati,

dan

bakteri

pathogen

dalam

kripta.
3.1. Tonsilitis Akut
3.1.1. Etiologi
Tonsilitis bakterial supurativa akut paling sering
disebabkan

oleh

Grup

Streptococcus

beta

hemolitikus.

Meskipun pneumokokus, stafilokokus dan Haemophilus influenzae


juga

virus

streptokokus

patogen
non

dapat

hemolitikus

dilibatkan.
atau

Kadang-kadang

streptokokus

viridans,

ditemukan pada biakan, biasanya pada kasus-kasus berat.


3.1.2.

Patofisiologi
Infeksi

bakteri

pada

lapisan

epitel

jaringan

tonsil akan menimbulkan reaksi radang berupa keluarnya lekosit


polimorfonuklear

sehingga

terbentuk

detritus.

Detritus

ini

merupakan kumpulan lekosit, bakteri yang mati, dan epitel yang


terlepas. Secara klinis detritus ini mengisi kripta tonsil dan
tampak sebagai bercak kuning.
dari penyebab tonsilitis

Perbedaan strain atau virulensi

dapat menimbulkan variasi dalam fase

patologi sebagai berikut:


1. Peradangan biasa pada area tonsil saja
2. Pembentukan eksudat
3. Selulitis pada tonsil dan daerah sekitarnya
4. Pembentukan abses peritonsilar
5. Nekrosis jaringan
Bentuk tonsillitis akut dengan detritus yang jelas
disebut tonsillitis folikularis, bila bercak-bercak detritus
ini menjadi satu, membentuk alur alur maka akan terjadi
tonsillitis lakunaris. Bercak detritus ini dapat melebar

sehingga terbentuk membrane semu (pseudomembran) yang menutupi


tonsil.
3.1.3.

Gejala dan Tanda


Gejala dan

tanda yang sering ditemukan adalah

nyeri tenggorokan, nyeri waktu menelan dan pada kasus berat


penderita menolak makan dan minum melalui mulut.

Biasanya

disertai demam dengan suhu tubuh yang tinggi, rasa nyeri pada
sendi-sendi, tidak nafsu makan dan nyeri pada telinga. Rasa
nyeri

di

telinga

Glosofaringeus.
disertai

ini

karena

Seringkali

nyeri

tekan.

nyeri

disertai
Pada

alih

melalui

adenopati

pemeriksaan

servikalis

tampak

tonsil

membengkak, hiperemis dan terdapat detritus berbentuk folikel,


lakuna,

atau

tertutup

oleh

membrane

semu.

Kelenjar

submandibula membengkak dan nyeri tekan.


3.1.4.

Pengelolaan

Pada

umumnya

penderita

dengan

tonsillitis

akut

serta

demam sebaiknya tirah baring, pemberian cairan adekuat serta


diet ringan.

Analgetik oral efektif untuk mengurangi nyeri.

Terapi antibiotik dikaitkan dengan biakan dan sensitivitas


yang tepat.
jika

Penisilin masih merupakan obat pilihan, kecuali

terdapat

penisilin.

resistensi

atau

penderita

sensitive

terhadap

Pada kasus tersebut eritromisin atau antibiotik

spesifik yang efektif melawan organisme sebaiknya digunakan.


Pengobatan
hari.

sebaiknya

Jika

diberikan

hasil

biakan

selama

didapatkan

lima

sampai

sepuluh

streptokokus

beta

hemolitikus terapi yang adekuat dipertahankan selama sepuluh


hari untuk menurunkan kemungkinan komplikasi non supurativa
seperti nefritis dan jantung rematik.
Efektivitas

obat

kumur

masih

dipertanyakan,

terutama

apakah cairan dapat berkontak dengan dinding faring, karena


dalam

beberapa

hal

tonsila palatina.

cairan

ini

tidak

mengenai

lebih

dari

Akan tetapi pengalaman klinis menunjukkan

bahwa dengan berkumur yang dilakukan secara rutin menambah


rasa nyaman pada penderita dan mungkin mempengaruhi beberapa
tingkat perjalanan penyakit.
3.2. Tonsilitis Kronis
Tonsilitis kronis merupakan penyakit yang paling sering
terjadi dari semua penyakit tenggorokan yang berulang.
predisposisi

timbulnya

tonsilitis

kronik

adalah

Faktor

rangsangan

yang menahun dari rokok, beberapa jenis makanan, hygiene mulut


yang

buruk,

pengaruh

cuaca,

kelelahan

fisk

dan

pengobatan

tonslitis akut yang tidak adekuat. Radang pada tonsil dapat


disebabkan

kuman

Pneumococcus,
piogenes.

Grup

Streptococcus

Streptococcus

Gambaran

klinis

viridans

bervariasi

beta
dan

dan

hemolitikus,
Streptococcus

diagnosa

sebagian

besar tergantung pada infeksi.

3.2.1

Gambaran Klinis

Gejala
tenggorok,

dan
rasa

tanda

yang

mengganjal

sering
pada

ditemukan
tenggorokan,

adalah

nyeri

tenggorokan

terasa kering, nyeri pada waktu menelan, bau mulut , demam


dengan suhu tubuh yang tinggi, rasa lesu, rasa nyeri di sendisendi, tidak nafsu makan dan rasa nyeri di telinga (otalgia).
Rasa nyeri di telinga ini dikarenakan nyeri alih (referred
pain) melalui n. Glossopharingeus (n.IX).
Gambaran klinis pada tonsilitis kronis bervariasi, dan
diagnosis pada umunya bergantung pada inspeksi.

Pada umumnya

terdapat dua gambaran yang termasuk dalam kategori tonsilitis


kronis, yaitu:
1. Tonsilitis kronis hipertrofikans,
yaitu

ditandai

pembesaran

pembentukan jaringan parut.

tonsil

dengan

hipertrofi

Kripta mengalami stenosis,

dan
dapat

disertai dengan eksudat, seringnya purulen keluar dari kripta


tersebut.

2. Tonsilitis kronis atrofikans,


Yaitu

ditandai

sekelilingnya

dengan

tonsil

hiperemis

dan

yang

pada

kecil

(atrofi),

kriptanya

di

dapat

keluar

tonsilitis

kronis

sejumlah kecil sekret purulen yang tipis.


Dari
didapatkan

hasil

biakan

bakteri

tonsil,

dengan

pada

virulensi

rendah

dan

jarang

ditemukan Streptococcus beta hemolitikus.

3.2.2.

Pengelolaan
Antibotika

kumur

yang

spektrum

mengandung

tonsilitis

sangat

terganggu,

maka

antipiretik

desinfektan.

sering

terapi

luas,

timbul

pilihan

dan

Pada

obat

keadaan

dimana

merasa

sangat

pengangkatan

tonsil

pasien

adalah

dan

(tonsilektomi).
3.2.3.

Komplikasi
Radang kronis tonsil dapat menimbulkan komplikasi

ke daerah sekitarnya berupa Rhinitis kronis, Sinusitis atau


Otitis media secara perkontinuitatum. Komplikasi jauh terjadi
secara hematogen atau limfogen dan dapat timbul endokarditis,
arthritis,

miositis,

nefritis,

uveitis,

irdosiklitis,

dermatitis, pruritus, urtikaria dan furunkulosis.


3.3. TONSILITIS MEMBRANOSA
3.3.1.

Tonsilofaringitis Difterika

Frekuensi penyakit ini sudah menurun berkat keberhasilan


imunisasi pada bayi dan anak. Penyebab tonsillitis difteri
adalah Corynebacterium diphteriae, kuman yang termasuk gram
positif dan hidup di saluran nafas bagian atas yaitu hidung
faring dan laring.
Tonsillitis difteri sering ditemukan pada anak berusia
kurang dari 10 tahun dan frekuensi tertinggi pada usia 2-5

tahun

walaupun

pada

orang

dewasa

dibagi

dalam

masih

mungkin

menderita

penyakit ini.
Gambaran

klinik

golongan

yaitu

gejala

umum, gejala lokal, dan gejala akibat eksotoksin.


Gejala umum seperti juga gejala infeksi lainnya: kenaikan
suhu

tubuh

biasanya

subfebris,

nyeri

kepala,

tidak

nafsu

makan, badan lemah, nadi lambat, serta keluhan nyeri menelan.


Gejala lokal yang tampak berupa tonsil membengkak ditutupi
bercak putih kotor yang makin lama makin meluas dan bersatu
membentuk

membran

semu

(pseudomembran).

Membran

ini

dapat

meluas ke palatum mole, uvula, nasofaring,laring, trakea, dan


bronkus yang dat menyumbat saluran nafas. Membran semu ini
melekat erat pada dasarnya, sehingga bila diangkat akan mudah
berdarah.

Pada

perkembangan

berjalan

terus,

kelenjar

penyakit
limfe

ini

bila

leher

infeksinya

akan

membengkak

sedemikian besarnya sehingga leher menyerupai leher sapi (bull


neck) atau disebut juga Burgemeesters hals.
eksotoksin

yang

menimbulkan
terjadi

dikeluarkan

oleh

kuman

Gejala akibat

difteri

ini

akan

kerusakan jaringan tubuh yaitu pada jantung dapat

miokarditis

samapi

decompensasio

cordis,

mengenai

saraf kranial menyebabkan kelumpuhan otot palatum dan otototot pernafasan dan pada ginjal menimbulkan albuminoria.
Diagnosa

tonsillitis

difteri

ditegakakan

berdasarkan

gambaran klinik dan pemeriksaan preparat langsung kuman yang


diambil dari permukaan

bawah membrane semu dan didapatkan

kuman Corynebacterium diphteriae.

Meskipun dengan perawatan

semua gejala klinis telah hilang, tetapi kuman difteri masih


dapat tinggal dalam tonsil (dan faring) bahkan kadang-kadang
didapat

karier

penyakitnya.
secepatnya,

difteri

tidak

pernah

mengalami

gejala

Pada karier yang ditemukan sebaiknya diterapi


disusul

adenoidektomi.
3.3.2.

yang

Tonsilitis Septik

tindakan

tonsilektomi

maupun

Penyebab dari tonsillitis septik adalah


streptokokus hemolitikus yang terdapat dalam susu sapi
sehingga dpat timbul epidemi. Oleh karena di Indonesia susu
sapi dimasak dulu dengan cara pasturisasi sebelum diminum maka
penyakit ini jarang ditemukan.
3.3.3.

Vincents Angina
Disebabkan oleh basilus fusiforme, penyakit ini sering

terjadi pada orang-orang dengan higine mulut yang buruk.

Pada

tonsil

yang

terbentuk

bercak-bercak

pseudomembran

nekrotik

berwarna putih keabuan dikelilingi areola yang hiperemis dapat


menutup

salah

satu

tonsil

ataupun

keduanya.

Lesi

menyebar ke palatum molle, faring dan rongga mulut.

dapat

Lesi yang

terjadi disebabkan oleh bakteri yang terdapat pada membran


mukosa

yang

menyebabkan

nekrosis

membran

mukosa

tersebut.

Dapat juga terbentuk pseudomembran pada laring dan trakehea


yang

bila

dilepas

akan

bedarah.

Infeksi

dapat

disertai

pembesaran kelenjar getah bening submaksilar atau servikalis.

3.3.4.

Penyakit Kelainan Darah


Tidak jarang tanda pertama leukemia akut, angina

agranulositosis dan infeksi mononucleosis timbul di faring


atau tonsil yang tertutup membran semu. Kadang-kadang terdapat
perdarahan selaput lendir mulut dan faring serta pembesaran
kelenjar submandibula.
Leukemia akut
Gejala pertama berupa epistaksis, perdarahan di mukosa mulut,
gusi dan dibawah kulit sehingga kulit tampak bercak kebiruan.

Tonsil membengkak di tepi membran semu tetapi tidak hiperemis


dan rasa nyeri hebat di tenggorok.
Angina Agranulositosis
Penyebabnya ialah akibat keracunan obat dari golongan
amidopirin, sulfa dan arsen. Pada pemeriksaan tampak ulkus di
mukosa mulut dan faring serta disekitar ulkus tampak gejala
radang. Ulkus ini juga dapat ditemukan di genitalia dan
saluran cerna.
Infeksi Mononukleosis
Pada penyakit ini terjadi tonsilofaringitis ulseromembranosa
bilateral. Membran semu yang menutupi ulkus mudah diangkat
tanpa timbul perdarahan.

Terdapat pebesaran kelenjar limfa

leher, ketiak dan region inguinal. Gambaran darah khas yaitu


terdapat leukosit, mononucleosis dalam jumlah besar. Tanda
khas yang lain adalah kesanggupan serum pasien untuk
beraglutinasi terhadap sel darah merah domba ( reaksi Paul
Bunner).

4. TONSILEKTOMI
Tonsila yang sehat dapat membantu proses imunitas tubuh.
Akan

tetapi,

fungsinya

pada

dalam

tonsila

proses

yang

imunitas.

patologis

akan

berkurang

Tonsila

yang

patologis

berkaitan

dengan

berkurangnya

transpor

antigen,

produksi

antibody, serta infeksi kronis bakterial.


Tonsilektomi dilakukan jika terjadi infeksi yang berulang
atau kronik, gejala sumbatan serta curiga adanya keganasan.
Indikasi tonsilektomi secara umum:
1.

Sumbatan

hyperplasia tonsil dengan sumbatan jalan nafas

sleep apnea

gangguan menalan

gangguan bicara

2.

Infeksi

infeksi telinga tengah berulang

rhinitis dan sinusitis yang kronis

peritonsiler abses

abses kelenjar limfe leher berulang

tonsilitis kronis dengan nafas bau

tonsil sebagai fokal infeksi dari organ lain

tonsilitis

kronis

dengan

gejala

nyeri

tenggorok

berulang
3. Kecurigaan adanya tumor jinak atau ganas
The

American

Academy

of

OtolaryngologyHead

and

Neck

Surgery (AAO-HNS) menjabarkan indikasi-indikasi klinis untuk


prosedur tonsilektomi sebagai berikut :

1.

Indikasi Absolut
Pembesaran

tonsil

yang

menyebabkan

obstruksi

saluran

pernafasan bagian atas, disfagia berat, gangguan tidur, atau


komplikasi kardiopulmonal.
2.

Abses

peritonsilar

medikamentosa

dan

yang

prosedur

tidak

responsif

terhadap

kecuali

prosedur

drainase,

dilakukan saat fase akut.


3.

Tonslitis yang menyebabkan kejang demam.

4.

Tonsil

yang

harus

dibiopsi

untuk

melihat

patologi

jaringannya.

1.

Indikasi Relatif

3 atau lebih episode infeksi dalam 1 tahun walaupun dengan


terapi yang adekuat.

2.

Nafas berbau atau rasa tidak enak pada mulut yang persisten
akibat tonsilitis kronis yang tidak responsif terhadap terapi.

3.

Tonsilitis kronis atau rekuren pada karier streptococus


yang tidak responsif terhadap terapi.

4.

Hipertrofi

tonsil

unilateral

yang

memiliki

kemungkinan

keganasan.
Kontraindikasi Tonsilektomi
1.

Infeksi pernafasan bagian atas yang berulang

2.

Infeksi sistemik atau kronis

3.

Demam yang tidak diketahui penyebabnya

4.

Pembesaran tonsil tanpa gejala-gejala obstruksi

5.

Rhinitis alergika

6.

Asma

7.

Diskrasia darah

8.

Ketidakmampuan yang umum atau kegagalan untuk tumbuh

9.

Tonus otot yang lemah

10. Sinusititis

DAFTAR PUSTAKA
1.

MOORE

2.

BUKU UI

3.

BOEIS