Anda di halaman 1dari 2

POLIPLOIDI DAN MONOPLOIDI

Poliploidi
Ploipoloidi teejadi karea penggandaan perangkat kromosom secara keseluruhan.
Individu yang tergolong diploid dapat muncul turunan yang ttriploid mauoun tetraploid.
Poliploidi juga dapat menghasilkan individu yang pentaploid, heksaploid, dan sebagainya.
Fenomena ini lebih sering dijumpai pada spesies tumbuhan. Di kalangan kebanyakan spesies
hewan memang jarang dijumpai, tetapi pada kelompok kadal, amfibi, dan ikan poliploidi
lazim dijumpai. Poliploidi alami terutama dijumpai pada hewan hermaprodit seperti cacing
dan planaria, juga pada hewan betina partenogenetik (yang menghasilkan turunan viabel
tanpa fertilisasi) semacaam kumbang, kupu malam, sow bugs, udang, ikan mas, serta
salamander. Spesies poliploidi dijumpai pada seluruh kelompok besar tumbuhan, sekitar 47%
tumbuhan berbiji tertutup tergolong poliploidi. Fenomena poliploidi juga umum dijumpai
pada paku-pakuan, tetapi jarang dijumpain pada Gymnospermae.
Dalam hubungan dengan jarang dijumpainya fenomena poliploidi di kalangan hewan,
berikut beberapa alasan atau penjelasan.
1. Polipoidi mengganggu keseimbangan antara autosom dan romosom kelamin yang
bermanfaat untuk determinasi kelamin.
2. Kebanyakan hewan melakukan fertilisasi silang, dalam hal ini satu individu
poliploidi yang abru terbentuk tidak dapat bereprodusi sendiri.
3. Hewan memiliki perkembangan yang lebih kompleks, yang dapat dipengaruhi
oleh perubahan yang disebabkan oleh poliploidi, misalnya dalam kaitannya
dengan ukuran sel yang akhirnya mengubah ukuran ogan.
4. Jikan di kalangan tumbuhan individu poliploidi sering timbul dari duplikasi pada
hibrid, teteapi di kalangan hewan hibrid biasanya inviabel atau steril.
Oleh karena poliploidi jarang dijumpai di kalangan hewan (misalnya sebagai akibat
hibrid atau turunan yang terbentuk bersifat inviabel), maka deteksi fenomena tersebut pada
kelompok hewan seringkali dilakukan melalui telaah secara langsung dan spontan terhadap
janin yang teraborsi. Sudah diketahui bahwa aborsi spontan awal janin manusia maupun
hewan lain terutama bersangkut paut dengan poliploidi.
Jumlah perangkat kromosom yang ganjil pada poliploidi biasanya tidak bertahan dari
generasi ke generaasi. Suatu makhluk hidup poliploidi yang mempunyai jumlah kromosom
homolog yang tidak seimbang memang biasanya tidak menghasilkan gamet yang secara
genetik seimbang. Maka prangkat kromosom triploid-pentaploid dan sebagainya biasanya
tidak dijumpai pada spesies yang bereproduksi secara generatif. Dalam hubungannya dengan

poliploidi yang berjumlah kromosom homolog yang seimbang (jumah kromosom genap),
kelompok tersebut lebih berpeluang fertil. Hal tersebut berkaitan dengan masih adanya
peluang kromosom berpasangan selama meiosis.
Poliploidi dapat terjadi secara spontan maupun sebagai akibat perlakuan. Poliploidi
sering terjadi akibat rusaknya aparatus spindel selama satu atau lebih pembelahan meiosis
ataupun selama pembelahan mitosis. Jika gamet yang tidak mengalami reduksi (diploid)
bergabung dengan gamet normal (haploid) maka zigot yang terbentuk tergolong triploid, dan
jika kedua gamet yang bergabung itu diploid maka zigot yang terbentuk tergolong tetraploid.
Jika berkenaan dengan mitosis, dalam hal ini replikasi kromosom berlangsung tanpa diikuti
oleh pembelahan sel. Pada individu diploid kondisi ini dapat berakibat terbentuknya
kelompok sel tetraploid, yang akhirnya menghasilkan gamet diploid.
Berdasarkan asal usul kejadiannya, poliploidi dibedakan menjadi autopoliploidi dan
autottetraploidi. Autopoliploidi teidak melibatkan spesies yang lain. Seluruh perangkat
kromosom yang sudah mengganda berasal dari spesies yang sama. Autotetraploid terjadi
aibat pembuahan suatu gamet diploid oleh satu gamet haploid. Gamet diploid tersebut terjadi
akibat kegagalan pemisahan kromosom selama meiosis. Pada kejadian allopoliploidi
melibatkan spesies yang lain. Ada perangkat kromosom yang berasal dari spesies yang lain
yang berkerabat dekat.
Endopoliploidi aadalah peningkatan jumlah perangkat kromosom yang terjai akibat
replikasi selama endomitosis yang berlangsung dalam inti sel somatik. Pada sel itu replikasi
dan pemisahan kromosom berlangsung tanpa diikuti pembelahan inti. Proses yang mengarah
pada endopoliploidi itulah yang disebut endomitosis.
Monoploidi
Kejadian yang menyebabkan suatu makhluk hidup yang biasa tergolong diploid hanya
mempunyai satu perangkat kromosom disebut monoploidi. Istilah ini biasanya digunakan
khusus di kalangan sel gamet. Monoploid jarang terjadi mungkin karena banyak individu
monoploid tidak dapat hidup akibat pengaruh gen mutan letal. Namun spesies tertentu justru
memiliki individu monoploid sebagai satu bagian yang normal dalam siklus hidupnya.
Contoh spesies semacam itu misalnya kelompok tawon, semut sertam lebah. Individu
monoploid pada kelompok terrsebut berkembang dari telur yang tidak dibuahi.