Anda di halaman 1dari 10

Infeksi Ruang Leher Bagian dalam, Kajian

Retrospektif dari 46 pasien


Rameez M. Mumtaz, Asif A. Arain, Anwar Suhail, Shaheryar A. Rajput,
Mohammad Adeel, Nabeel H.Hassan
Departemen bedah otolaringologi, kepala dan leher, Universitas Rumah Sakit Aga
Khan, Karachi, Pakistan.
Departemen bedah otolaringologi, kepala dan leher, Rumah sakit spesialis dan pusat
penelitian King Faisal , Riyadh, Kerajaan Saudi Arabia
ABSTRAK
Tujuan : untuk mempelajari presentasi klinis, penanganan dan hasil dari Infeksi
ruang leher bagian dalam (IRLD)
Pengaturan dan desain : sebuah seri kasus retrospektif yang dilakukan dibagian
perguruan tinggi Rumah sakit universitas dari 2001 sampai 2011
Bahan dan Cara : Sebuah tinjauan retrospektif dari grafik pasien yang dirawat
dengan infeksi ruang leher dalam (IRLD) di lakukan di departemen kami dari tahun
2.001-2.011 . Empat puluh enam pasien memenuhi kriteria dan dilibatkan dalam
penelitian tersebut. Sebuah Performa terstruktur digunakan untuk pengumpulan data
dan variabel-variabel berikut dicatat termasuk demografi (umur dan jenis kelamin),
penyakit penyerta (diabetes mellitus, HIV), gejala, etiologi, Lokasi Infeksi,
bakteriologi, Modalitas pencitraan kultur , intervensi bedah, dan rawat inap rumah
sakit.
Hasil : Usia rata-rata pasien kami adalah 30,8 tahun; 32 adalah laki-laki dan 14
adalah perempuan. Sakit leher adalah gejala yang paling umum ditemukan pada 38
pasien (82,60%) dan tempat yang paling umum terlibat adalah ruang parapharyngeal
yang terlihat pada 20 pasien (43,47%). Etiologi IRLD di sebagian besar pasien kami,
yaitu tidak diketahui diikuti oleh masalah gigi 18 (39%) dan Masalah di tonsil di 12
(26%) dan 10 (22%) pasien. Dari 46 pasien, 36 mengalami intervensi dan 26 kasus
ini memiliki hasil kultur positif. Organisme yang paling umum dibudidayakan adalah
Streptococcus terlihat pada 8 pasien (22,2%). Sepuluh pasien (21,73%) yang diobati
secara medis saja. Rata-rata Rawat inap rumah sakit adalah 3,33 hari dengan minimal
2 hari dan maksimal 17 hari tinggal. Tidak ada catatan kematian dalam seri pasien
kami.
Journal of Cranio-Maxillary Diseases/Vol 3/Issue 1/ January 2014

Page

Kesimpulan : Infeksi ruang leher dalam ( IRLD ) masih merupakan tantangan


didalam otolaringologi. Presentasi ini mungkin dapat tertutupi dan kultur bakteri
mungkin tidak menyakinkan hasilnya, tetapi masih butuh diagnosis dini dan
penatalaksanaan yang cepat entah itu konservatif maupun bedah. CT skan merupakan
modal dasar untuk membedakan diantara selulitis dan abses. Kebanyakan pasien
memerlukan intervensi bedah dan trakeostomi harus dipertimbangkan jika
perlindungan terhadap jalan nafas diperlukan
Kata kunci : infeksi ruang leher dalam, odinofagi, ruang parafaringeal, ruang parotis,
ruang peritonsil, ruang retrofaring, ruang submandibula, trakeostomi

KATA PENGANTAR
Infeksi ruang leher dalam ( IRLD) berarti infeksi yang terjadi pada ruang yang
memiliki potensial dan bidang fasial, baik dengan pembentukan abses ataupun
selulitis. Di masa lalu, infeksi ini sangat umum terjadi, namun dengan munculnya
antibiotik spektrum luas, angka kejadian infeksi ini menurun.
Terlepas dari menggunakan antibiotik, IRLD masih merupakan masalah serius dan
masalah kematian yang signifikan. Infeksi ini berpotensi mengancam kehidupan dan
dapat menyebar dengan cepat menuju ke komplikasi. Komplikasi yang mengancam
jiwa telah dilaporkan 10 20% bahkan dalam literatur baru pada kasus IRLD.

Journal of Cranio-Maxillary Diseases/Vol 3/Issue 1/ January 2014

Page

Sebelum munculnya antibiotik, infeksi tonsil dan peritonsil merupakan sumber infeksi
di 70% kasus dari IRLD, tetapi sekarang masalah gigi sudah dianggap sebagai
penyebab paling umum. Penyebab lainnya adalah penyalah gunaan obat intervena dan
benda asing. Kajian lain mencangkup nyeri leher, nyeri menelan, pembengkakkan
leher, obstruksi jalan nafas ( terutama ludwig angina), demam, kelemahan dan
kelelahan.
IRLD umumnya polimikroba. Streptokokus, peptostreptokokus spp, staphilokokus
aureus dan bakteri anaerop adalah organisme yang paling umum didapatkan dari
kultur dari IRLD. Komplikasi utama terdiri dari obstruksi pernafasan, mediastinitis,
trombosis vena jugularis, emfisema pleura, trombosis sinus kavernosus, perikarditis ,
shok sepsis dan bahkan kematian.
Pengelolaan IRLD secara tradisional berdasarkan pembedahan drainase abses yang
diikuti dengan antibiotik atau terapi nonoperasi menggunakan antibiotik yang tepat
pada kasus selulitis. Diagnosis yang tepat dan tatalaksana yang cepat efektif dalam
mengatasi penyakit dan memberikan obat tanpa komplikasi apapun. Dokter harus tahu
tentang presentasi , tempat infeksi, etiologi, investigasi dan kegunaan medis dari
terapi dan operasi .tujuan utama dari pembelajaran kami adalah untuk berbagi
pengalaman kami terutama dalam hal presentasi, daerah yang sering terlibat,
penatalaksanaan dan hasil.
BAHAN DAN CARA
Kami melakukan serangkaian kasus pada pasien dengan IRLD. Kami secara
retrospektif meninjau grafik pasien yang dirawat dengan IRLD disebuah rumah sakit
pendidikan dinegara kita antara tahun 2001 sampai 2011. Kami menyertakan Semua
pasien yang dirawat dengan IRLD . kami tidak menyertakan semua pasien yang
mempunyai infeksi yang berhubungan dengan tumor atau mereka yang memiliki data
yang tidak lengkap. Total 46 kasus dari IRLD telah menjadi kriteria kami. Variabel
yang diamati meliputi demografi ( usia dan jenis kelamin), penyakit penyerta sepeti
diabetes militus , kecanduan , gejala , lokasi infeksi, bakteriologi ,kultur bakteri,
modalitas penggunaan pencitraan gambar, rawat inap dan hasil. Semua pasien kami
dimulai dengan antibiotik empiris ( amoksisilin klavulanat ditambah metronidazol )
yang kemudian diubah jika diperlukan sesuai dengan kultur dan laporan sensitivitas
atau dengan pendapat dari spesialis penyakit infeksi
Journal of Cranio-Maxillary Diseases/Vol 3/Issue 1/ January 2014

Page

HASIL
Rata rata umur pasien kami adalah 30.8 tahun dengan usia minimal 5 tahun dan
maksimal 75 tahun. Total 46 pasien, 32 laki-laki dan 14 perempuan.
Hanya 9 pasien yang memiliki diabetes militus. Selain itu, ada status penurunan daya
tahan tubuh seperti HIV, dll, terlihat pada setiap pasien.. yang paling sering sepeti
kecanduan benda yang dikunyah seperti daun sirih dan tembakau, terlihat pada 22
pasien, sedangkan 4 pasien kami adalah perokok. Nyeri leher adalah gejala yang
paling umum ditemukan pada 38 pasien (82,60%), diikuti oleh nyeri menelan pada 30
pasien ( 5,21%) dan demam pada 28 pasien ( 60,86%).
Pada pasien kami ruang yang paling umum terlibat adalah ruang parafaringeal yang
terlihat pada 20 pasien ( 43,47%). Ruang parotis hanya terlihat pada 2 pasien (4.34%).
Sebagian besar pasien kami (36

78,26%) menjalani CT-scan, 4 (8.60%) telah

menjalani USG leher, dan sisanya 6 pasien (13,43%) tidak melakukan pencitraan
apapun.
Etiologi dari IRLD pada mayoritas pasien kami meliputi 18 (39%) tidak diketahui
diikuti oleh masalah gigi, tonsil dan tuberkulosis terlihat pada 12 orang ( 26%), 10
(22%) dan 4(9%) pasien. (Figur 1)
Tabel 1 : mempresentasikan gejala dari infeksi ruang leher dalam
Nyeri Leher

38 (82,60%)

Nyeri menelan

30 (65,21%)

Demam

28 (60,86%)

Pembengkakkan leher

24 (52,17%)

Kesulitan Jalan Nafas

4 (8.6%)

Torticolis

2 (4.34%)

Journal of Cranio-Maxillary Diseases/Vol 3/Issue 1/ January 2014

Page

Dari 46 pasien, 36 orang menjalani intervensi dan spesimen nanah dari semua pasien
dikirim untuk di kultur dan tes sensitivitas. 26 kasus memiliki hasil kultur positif.
Organisme yang paling sering dikultur adalah streptokokus, (8 , 22.2%), diikuti oleh
Staphylococcus (6 , 16.6%). Tidak ada pertumbuhan pada 10 pasien (27,7%) ( tabel 3)
Campur tangan dalam hal operasi atau aspirasi langsung telah dilakukan disebagian
besar pasien yang berjumlah 36 pasien (78.26%), sementara hanya 10 pasien
(21,73%) yang diobati secara medis saja. Dua puluh empat pasien (56,23%)
membutuhkan pendekatan eksternal untuk insisi dan drainase, 6 pasien )13.04%)
membutuhkan aspirasi intra-oral, sedangkan 6 pasien (13,04%) membutuhkan kedua
macam pendekatan tersebut. 2 pasien (4.34 %) membutuhkan trakeostomy untuk
mengamankan jalan nafas. Rata-rata rawat inap berkisar antara 3.33 hari dengan
angka minimum 2 hari dan maksimum 17 hari. Tidak ada catatan kematian dalam seri
pasien kami.
DISKUSI
Penggunaan antibiotik yang luas telah berhasil menurunkan insidensi IRLD akan
tetapi, masih cukup umum dikalangan sekitar. Jumlah pasien dalam study ini adalah
Journal of Cranio-Maxillary Diseases/Vol 3/Issue 1/ January 2014

Page

sebanyak 46 dan seluruh pasien tersebut dirawat di rumah sakit untuk pengobatan.
Manajemen dan diagnosis DNSI masih merupakan masalah bagi otolaryngologists.
Sebagian besar pasien dalam penelitian ini adalah laki-laki 32 (69,5%), tetapi ada
studi yang melaporkan distribusi yang sama di kedua jenis kelamin atau dominasi
perempuan dengan rasio dari 1.16/1.

Huang et al. mempublikasikan studi IRLD di mana DM menjadi faktor risiko yang
paling umum di antara penyakit sistemik lainnya yang berkaitan dengan terjadinya
IRLD dan tercatat sebagai kejadian besar sebanyak 30,3%. Namun, kejadian DM
dilaporkan sangat rendah (2,3%) dengan laporan terbaru dari Bakir et al. Dalam seri
kami, DM terlihat di 9 pasien (19,5%) saja.
Dua puluh dua pasien kami mengkonsumsi semacam permen kunyah yang membuat
kecanduan yang sangat lazim di wilayah kami. Kecanduan ini menyebabkan
kebersihan mulut yang buruk yang dilaporkan mempengaruhi kerentanan host untuk
penyakit sistemik dengan pembentukan subgingiva biofilm yang bertindak sebagai
reservoir dari Gram-negatif bakteri, dan melalui periodentium yang sebagai reservoir
mediator inflamasi. Meskipun begitu, karena sifat retrospektif penyakit itu kita tidak
Journal of Cranio-Maxillary Diseases/Vol 3/Issue 1/ January 2014

Page

dapat melaporkan tentang kebersihan mulut yang tepat dari pasien kami, kami percaya
bahwa usia muda di populasi studi kami bisa menjadi sekunder bagi higenitas mulut
yang buruk akibat dari kebiasaan mengunyah tersebut.
Presentasi klinis pada pasien kami kurang lebih sama dibandingkan dengan penelitian
lain yang telah dilakukan pada IRLD, yang menunjukkan bahwa untuk infeksi ruang
dalam kepala dan leher presentasi nya adalah sama, yaitu, leher bengkak, nyeri leher,
nyeri menelan, disfagia, atau manifestasi sistemik seperti demam, malaise, atau gejala
obstruksi jalan napas. Dari semua ini, nyeri leher adalah gejala yang paling umum
terlihat pada 38 (82,60%) pasien yang mirip dengan yang ditunjukkan dalam
penelitian lain.
Sethi et al. melakukan penelitian pada 64 pasien dengan IRDL dan melaporkan bahwa
penyebab infeksi yang tidak diketahui ada pada 39% pasien, infeksi gigi dikaitkan
dengan 31% kasus, dan benda asing ditemukan sebagai agen etiologi dalam 27%
kasus. Dalam studi lain, Parischar et al. ulasan 210 pasien dengan IRDL dan infeksi
gigi ditemukan sebagai etiologi yang paling umum dan banyak yang terlihat pada 77
pasien diikuti oleh penyalahgunaan obat intravena dalam 21 kasus. Bottin et al.,
Huang et al., Marioni et al., dan Eftekharian et al. melaporkan bahwa masalah
odontogenik adalah faktor penyebab yang paling umum untuk menyebabkan IRDL
terlihat pada 42%, 42%, 38,8%, dan 49% kasus, masing-masing. Dalam penelitian
kami, 18 pasien (39%) tidak memiliki etiologi yang jelas diikuti oleh jaringan dental,
masalah tonsil, dan tuberkulosis di 12 (26%), 10 (22%), dan 4 (9%) kasus, masingmasing.
Tung et al. [10] dan Gerd Jrgen menunjukkan studi mereka mengenai IRDL bahwa
ruang parapharyngeal adalah tempat yang paling umum terkena infeksi yang terlihat
pada 71 (38,4%) dan 138 (59%) kasus, masing-masing. Demikian pula pada pasien
kami, keterlibatan ruang paraphyrngeal adalah masalah yang paling umum terlihat
pada 20 pasien (43,47%) diikuti oleh submandibular dan keterlibatan ruang
peritonsillar yang ditunjukkan dalam 10 pasien (8.69%) di masing-masing kelompok.
Temuan ini sama dengan yang dilaporkan oleh [6] dan Staflor et al. Namun dalam
laporan Parhiscar et al. oleh Meher et al., ruang submandibular adalah tempat yang
paling umum ditemukan nya fokus infeksi.

Journal of Cranio-Maxillary Diseases/Vol 3/Issue 1/ January 2014

Page

Gerd Jrgen et al. melaporkan bakteri streptococci, anaerob, dan S. aureus sebagai
bakteri organisme yang paling umum. Temuan ini konsisten dengan laporan lain
dalam literatur. Salih Bakir et al. menunjukkan bahwa 20 (58,8%) dari 34 pasien
yang hasil kulturnya positif memiliki pertumbuhan polimikroba dan organisme yang
paling umum adalah anaerobik Peptostreptococcus (21,3%) dan Staphylococcus
epidermidis (19,7%). Namun, dalam penelitian kami, ada 26 pasien dengan kultur
positif dan yang paling umum organismenya adalah Streptococcus pada 8 pasien
(22,2%), diikuti oleh Staphylococcus pada 6 pasien (16,6%). Kultur negatif pada
pasien yang tersisa yang mungkin karena penggunaan antibiotik pada waktu kultur
dikirim.
CT scan dengan kontras adalah alat yang paling sesuai untuk pencitraan tidak hanya
untuk diagnosis ruang leher yang sedang infeksi, tetapi juga menyoroti ekstensi dari
penyakit. CT scan tidak hanya bermanfaat dalam membedakan antara selulitis dan
abses, tetapi juga memiliki peran penting dalam evaluasi komplikasi yang serius. CT
scan juga membantu untuk memutuskan apakah intervensi bedah diindikasikan karena
pasien memiliki bukti radiologis selulitis merespon dengan baik untuk perawatan
medis, sedangkan mereka dengan abses memiliki komplikasi yang lebih besar dan
biasanya memerlukan manajemen bedah karena agresifitas penyakit nya pada kondisi
ini. Demikian pula, USG juga memainkan peran penting dalam mendeteksi abses
awal formasi. CT scan dilakukan di 36 (78,26%) pasien dan USG dilakukan hanya
dalam 4 (8.60%) pasien.
Di seluruh dunia, manajemen IRDL biasanya dilakukan drainase untuk abses yang
purulen melalui Pendekatan eksternal. Berbeda dengan ini, Plaza Mayor et al.
dianjurkan untuk menggunakan antibiotik spektrum luas secara intravena bersama
dengan-dosis tinggi oral atau kortikosteroid intravena untuk hampir semua kasus
dengan IRDL. Salih Bakir et al. dalam studi mereka pada 173 kasus dari IRDL
menunjukkan bahwa 78 pasien (40,5%) yang berhasil diobati dengan hanya antibiotik
intravena dan dalam 95 pasien yang tersisa (59,5%), dilakukan intervensi bedah.
Telah diidentifikasi dalam literatur bahwa pada pasien dengan selulitis atau minimal
abses, IV antibiotik saja tidak cukup di sebagian besar kasus IRDL. Namun, dalam
kasus pembentukan abses yang signifikan terlihat pada CT scan, bedah drainase
adalah teknik yang paling cocok mengobati IRDL. Dalam semua pasien kami,
amoksisilin-klavulanat intravena dan metronidazole merupakan terapi empiris yang
Journal of Cranio-Maxillary Diseases/Vol 3/Issue 1/ January 2014

Page

kemudian dimodifikasi sesuai dengan hasil kultur atau setelah ulasan penyakit
menular oleh dokter. Rezim ini juga telah digambarkan sebagai pilihan pertama untuk
pengobatan empiris IRDL oleh Bakir et al. dalam penelitian mereka.
Dalam seri kami, intervensi bedah dilakukan pada 78% dari pasien, yang sebanding
dengan hasil Ali et al., di mana mereka juga melakukan intervensi bedah pada 79%
dari pasien mereka tapi ini berbeda dengan laporan oleh Parhiscar dan Har-el et al.,
yang semua pasien mereka melakukan insisi dan drainase.
Pengendalian jalan nafas adalah masalah yang menantang pada pasien dengan IRDL.
Penyebab umum dari patensi jalan nafas adalah edema laring dan dorongan lidah yang
ke atas dan ke belakang, terutama pada Ludwig angina. Ali Eftekharian et al.
melakukan trakeostomi di 10 dari 112 pasien. Sembilan dari mereka memiliki Ludwig
angina. Trakeostomi juga dilakukan dalam dua pasien kami dan keduanya memiliki
infeksi ruang mandibula sub. Tidak ada mortalitas dalam penelitian kami.
KESIMPULAN
Infeksi ruang dalam leher masih merupakan masalah yang sulit pada THT. Kadang
tidak ada gejala kllinis yang muncul dan kultur bakteri yang tidak konklusif, tetapi
masih perlu untuk mendiagnosis secara dini dan manajemen pengobatan yang tepat
baik itu konservatif atau bedah. CT scan adalah modalitas standar untuk membedakan
antara selulitis dan abses. Sebagian besar pasien perlu intervensi bedah dan
trakeostomi harus dipertimbangkan jika perlindungan jalan nafas diperlukan.

REFERENSI
1. Wang L-F, Kuo W-R, Tsai S-M, Huang K-J. Characterizations of life-threatening
deep cervical space infections: a review of one hundred ninety-six cases.
American journal of otolaryngology. 2003;24:111-117.
2. Har-El G, Aroesty JH, Shaha A, Lucente FE. Changing trends in deep neck
abscess: a retrospective study of 110 patients. Oral surgery, oral medicine, oral
pathology. 1994;77:446-450.
3. Bakir S, Tanriverdi MH, Gn R, et al. Deep neck space infections: a retrospective
review of 173 cases. American journal of otolaryngology. 2012;33:56-63.
4. Boscolo-Rizzo P, Stellin M, Muzzi E, et al. Deep neck infections: a study of 365
cases highlighting recommendations for management and treatment. European
Archives of Oto-Rhino-Laryngology. 2012;269:1241-1249.
5. Weed H, Forest L. Deep neck infection. Otolaryngology: Head and Neck Surgery.
1998;3:2515-2524.
Journal of Cranio-Maxillary Diseases/Vol 3/Issue 1/ January 2014

Page

6. PARHISCAR A, HAR-EL G. Deep neck abscess: a retrospective review of 210


cases. The Annals of otology, rhinology and laryngology. 2001;110:1051-1054.
7. Sethi DS, Stanley RE. Deep neck abscesseschanging trends. The Journal of
Laryngology and Otology. 1994;108:138-143.
8. Hasegawa J, Hidaka H, Tateda M, et al. An analysis of clinical risk factors of deep
neck infection. Auris Nasus Larynx. 2011;38:101-107.
9. Ungkanont K, Yellon RF, Weissman JL, Casselbrant ML, Gonzalez-Valdepena H,
Bluestone CD. Head and neck space infections in infants and children.
Otolaryngology-Head and Neck Surgery. 1995;112:375-382.
10. Huang TT, Liu TC, Chen PR, Tseng FY, Yeh TH, Chen YS. Deep neck infection:
analysis of 185 cases. Head and neck. 2004;26:854-860.
11. Bottin R, Marioni G, Rinaldi R, Boninsegna M, Salvadori L, Staffieri A. Deep
neck infection: a present-day complication. A retrospective review of 83 cases
(1998-2001). European Archives of Oto-Rhino-Laryngology. 2003;260:576-579.
12. Mayor GP, Milln JMS, Martnez-Vidal A. Is conservative treatment of deep neck
space infections appropriate? Head and neck. 2001;23:126-133.
13. Gidley PW, Ghorayeb BY, Stiernberg CM. Contemporary management of deep
neck space infections. OtolaryngologyHead and Neck Surgery. 1997;116:16-22.
14. Ridder GJ, Eglinger CF, Technau-Ihling K, Laszig R. Deep neck abscess
masquerading hypopharyngeal carcinoma. Otolaryngology--Head and Neck
Surgery. 2000;123:659-660.
15. Anil S, Al-Ghamdi HS. The impact of periodontal infections on systemic diseases.
An update for medical practitioners. Saudi medical journal. 2006;27:767-776.
16. Meher R, Jain A, Sabharwal A, Gupta B, Singh I, Agarwal A. Deep neck abscess:
a prospective study of 54 cases. Journal of Laryngology and Otology.
2005;119:299-302.
17. Marioni G, Rinaldi R, Staffieri C, et al. Deep neck infection with dental origin:
analysis of 85 consecutive cases (2000-2006). Acta Oto-Laryngologica.
2008;128:201-206.
18. Eftekharian A, Roozbahany NA, Vaezeafshar R, Narimani N. Deep neck
infections: a retrospective review of 112 cases. European Archives of Oto-RhinoLaryngology. 2009;266:273-277.
19. Ridder GJ, Technau-Ihling K, Sander A, Boedeker CC. Spectrum and
management of deep neck space infections: an 8-year experience of 234 cases.
Otolaryngology--Head and Neck Surgery. 2005;133:709-714.
20. Stalfors J, Adielsson A, Ebenfelt A, Nethander G, Westin T. Deep neck space
infections remain a surgical challenge. A study of 72 patients. Acta OtoLaryngologica. 2004;124:1191-1196.
21. Smith II JL, Hsu JM, Chang J. Predicting deep neck space abscess using
computed tomography. American journal of otolaryngology. 2006;27:244-247.
22. Marioni G, Staffieri A, Parisi S, et al. Rational diagnostic and therapeutic
management of deep neck infections: analysis of 233 consecutive cases. The
Annals of otology, rhinology and laryngology. 2010;119:181-187

Journal of Cranio-Maxillary Diseases/Vol 3/Issue 1/ January 2014

Page