Anda di halaman 1dari 9

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.

1. Landasan Teori
Dalam organisasi bisnis terdapat sejumlah aktivitas yang mendukung

kelangsungan hidup perusahaan tersebut. Semua aktivitas itu saling berkaitan


dengan cara yang sedemikian rupa sehingga dapat mempengaruhi tujuan
organisasi. Pencapaian tujuan ini ditunjang oleh perencanaan, pengendalian, dan
evaluasi yang baik dari organisasi, melalui anggaran. Anggaran yang merupakan
komponen penting dalam organisasi perlu disusun dengan sebaik mungkin dengan
melibatkan karyawan (anggaran partisipatif) sehingga diharapkan meningkatkan
kesadaran dan motivasi kerja mereka. Namun dalam setiap aktivitas selalu
terdapat kelemahan yang mungkin dapat dimanfaatkan oleh karyawan (penyusun
anggaran) untuk merendahkan pendapatan atau meninggikan biaya demi
kepentingan diri sendiri yang biasanya disebut senjangan anggaran. Hal ini dapat
terjadi karena adanya perbedaan informasi (asimetri informasi) antara manajer
atas dengan manajer bawah.
2. 1. 1. Anggaran
Menurut Nafarin (2004:12) anggaran adalah suatu rencana keuangan
periodik yang disusun berdasarkan program yang telah disahkan. Anggaran
(budget) merupakan rencana tertulis mengenai kegiatan suatu organisasi yang
dinyatakan secara kuantitatif dan umumnya dinyatakan dalam satuan uang untuk

jangka waktu tertentu. Sejalan dengan pendapat di atas, Mulyadi (2001:488)


dalam buku Akuntansi Manajemen, mengemukakan bahwa anggaran merupakan
suatu rencana kerja yang dinyatakan secara kuantitatif, yang diukur dalam satuan
moneter standar dan satuan ukuran yang lain, yang mencakup jangka waktu satu
tahun. Anggaran merupakan suatu rencana kerja jangka pendek yang disusun
berdasarkan rencana kegiatan jangka panjang yang ditetapkan dalam proses
penyusunan anggaran (programming).
Sedangkan menurut Garison dan Noreen (2000:402) anggaran adalah
rencana rinci tentang perolehan dan penggunaan sumber daya keuangan dan
sumber daya akan datang yang diekspresikan dalam istilah-istilah keuangan yang
formal.
2. 1. 2. Anggaran Parisipatif
Anggaran partisipatif didefinisikan sebagai keikutsertaan manajer-manajer
pusat pertanggungjawaban dalam hal yang berkaitan dengan penyusunan
anggaran. Melaksanakan anggaran partisipatif berarti mengikutsertakan operating
managers dalam memutuskan bersama dengan komite anggaran mengenai
rangkaian kegiatan dimasa yang akan datang yang akan ditempuh oleh operating
managers tersebut dalam pencapaian sasaran anggaran. Tingkat partisipatif dalam
operating manager dalam penyusunan anggaran akan mendorong moral kerja yang
tinggi dan inisiatif para manajer. Moral kerja ditentukan oleh seberapa besar
seseorang mengidentifikasikan dirinya sebagai bagian dari organisasi.
Suatu proses anggaran bisa bersifat dari atas ke bawah atau dari bawah
ke atas. Dengan penyusunan anggaran dari atas ke bawah, manajemen senior

menetapkan anggaran bagi tingkat yang lebih rendah. Dengan penyusunan


anggaran dari bawah ke atas manajer di tingkat yang lebih rendah berpartisipatif
dalam menentukan besarnya anggaran. Tetapi, pendekatan dari atas ke bawah
jarang berhasil. Pendekatan tersebut mengarah kepada kurangnya komitmen dari
sisi pembuat anggaran dan hal ini membahayakan keberhasilan rencana tersebut.
Penyusunan anggaran dari bawah ke atas kemungkinan besar akan menciptakan
komitmen untuk mencapai tujuan anggaran. Tetapi, jika dikendalikan dengan
tidak hati-hati, pendekatan ini dapat menghasilkan jumlah yang sangat mudah
atau yang tidak sesuai dengan tujuan keseluruhan dari perusahaan.
Keterlibatan (partisipatif) berbagai pihak dalam membuat keputusan dapat
terjadi dalam penyusunan anggaran. Dengan menyusun anggaran secara
partisipatif diharapkan kinerja para manajer dibawahnya akan meningkat. Hal ini
didasarkan pada pemikiran bahwa ketika suatu tujuan atau standar yang dirancang
secara partisipatif disetujui, maka karyawan akan bersungguh-sungguh dalam
tujuan atau standar yang ditetapkan dan karyawan juga memiliki rasa tanggung
jawab pribadi untuk mencapainya karena ikut serta terlibat dalam penyusunannya.
Kesungguhan

dalam

mencapai

tujuan

organisasi

oleh

bawahan

akan

meningkatkan efektivitas organisasi karena memiliki konflik potensial antara


individu dengan tujuan organisasi dapat dikurangi bahkan dihilangkan.
Arah aliran data anggaran dalam suatu sistem partisipatif berawal dari
level tanggung jawab yang lebih rendah kepada level tanggung jawab yang lebih
tinggi. Setiap orang yang mempunyai tanggung jawab atas pengendalian biaya
harus menyusun estimasi anggarannya sendiri dan kemudian menyerahkannya

kepada level manajemen yang lebih tinggi. Estimasi itu kemudian di-review dan
dikonsolidasikan dalam gerakannya kearah level manajemen yang lebih tinggi.
Anggaran partisipatif terutama dilakukan oleh manajer yang memegang
pusat-pusat pertanggungjawaban dengan menekankan pada keikutsertaan mereka
dalam

proses

penyusunan

dan

penentuan

sasaran

yang

menjadi

tanggungjawabnya. Dengan dilibatkannya manajer dalam penyusunan anggaran,


akan menambah informasi bagi atasan mengenai lingkungan yang sedang dan
akan dihadapi serta membantu menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan
anggaran.

Manajemen Atas

Manajemen Bawah
Supervisor
Gmbar 2.1

Supervisor

Manajemen Bawah
Supervisor

Supervisor

: Arah Aliran Data Anggaran Dalam Sistem Anggaran Partisipatif

Disamping itu, partisipatif dapat mengurangi tekanan dan kegelisahan para


bawahan karena mereka dapat mengetahui suatu yang relevan dan dapat diterima
serta dicapai. Keikutsertaan dalam penyusunan anggaran merupakan suatu cara
efektif untuk menciptakan keselarasan tujuan setiap pusat pertanggungjawaban
dengan tujuan organisasi secara umum. Terdapat juga pendapat bahwa partisipatif
akan mengarah pada komunikasi yang positif karena dengan partisipatif akan
terjadi mekanisme pertukaran informasi (Sirajuddin : 2010).
Banyak penelitian telah menunjukkan bahwa anggaran partisipatif (yaitu
proses dimana pembuat anggaran terlibat dan mempunyai pengaruh dalam

penentuan besar kecilnya anggaran) mempunyai dampak positif terhadap motivasi


manajerial karena dua alasan:
1. Kemungkinan ada penerimaan yang lebih besar atas cita-cita anggaran jika
anggaran dipandang berada dalam kendali pribadi manajer, dibandingkan
bila dilaksanakan secara eksternal. Hal ini mengarah kepada komitmen
pribadi yang lebih besar untuk mencapai cita-cita tersebut.
2. Hasil penyusunan anggaran partisipatisi adalah pertukaran informasi yang
efektif. Besar anggaran yang disetujui merupakan hasil dari keahlian dan
pengetahuan pribadi dari pembuat anggaran, yang paling dekat dengan
lingkungan produk/pasar. Lebih lanjut lagi, pembuat anggaran mempunyai
pemahaman yang lebih jelas mengenai pekerjaan mereka melalui interaksi
dengan atasan selama fase peninjauan.
2. 1. 3. Asimetri Informasi
Asimetri informasi merupakan ketidakseimbangan informasi yang dimiliki
oleh manajer atas dan manajer bawah. Hal ini terjadi karena manajer bawah
berkaitan langsung dengan kegiatan operasional sehari-hari.
Dunk mendefinisikan Asimetri Informasi sebagai suatu keadaan apabila
informasi yang dimiliki bawahan melebihi informasi yang dimiliki oleh
atasannya. Anggaran yang disusun secara Bottom-up menyebabkan informasi
mengenai komponen dalam anggaran lebih diketahui oleh manajemen tingkat
bawah (lower level managers). Dalam penelitian Christensen (1982), Merchant
(1985), Pope (1984) dan Young (1985) menunjukkan bahwa bawahan yang
merahasiakan informasi yang relevan dalam pembuatan anggaran akan
menimbulkan senjangan anggaran. Adanya asimetri informasi memungkinkan
adanya konflik yang terjadi antara manajemen atas dan manajemen bawah untuk

saling mencoba memanfaatkan pihak lain untuk kepentingan sendiri. Eisenhardt


(1989) mengemukakan tiga asumsi sifat dasar manusia yaitu:
-

Manusia pada umumnya mementingkan diri sendiri (Self Interest).


Manusia memiliki daya pikir terbatas mengenai persepsi masa mendatang

(Bounded Rationality), dan


Manusia selalu menghindari resiko (Risk Adverse).
Berdasarkan asumsi sifat dasar manusia tersebut menyebabkan bahwa

informasi yang dihasilkan manusia untuk manusia lain selalu dipertanyakan


realibilitinya dan dapat dipercaya tidaknya informasi yang disampaikan.

2. 1. 4. Senjangan Anggaran
Partisipatif dalam pembuatan anggaran dapat menyebabkan keinginan
untuk membesar-besarkan atau mengecilkan anggaran. Senjangan anggaran juga
disebut kelonggaran anggaran. (Cyert dan March) mendefinisikan kelonggaran
anggaran sebagai perbedaan antara total sumber daya yang ada di perusahaan
dengan total sumber daya yang diperlukan untuk mempertahankan koalisi
organisasi yang bertanggungjawab atas kelonggaran anggaran tersebut. (Schiff
dan Lewin) berpendapat bahwa manajer yang cenderung menghabiskan anggaran
untuk mendapatkan kepuasan aspirasi pribadi pada tahun-tahun yang bagus
akan cenderung mengubah kelonggaran anggaran menjadi laba di tahun-tahun
yang buruk.
Senjangan anggaran didefinisikan sebagai tindakan bawahan yang
mengecilkan kapasitas produktifnya ketika dia diberi kesempatan untuk
menentukan standar kerjanya (Young 1985). Hal ini dapat terjadi karena adanya
kecenderungan bagi pembuat anggaran untuk menganggarkan pendapatan agak
lebih rendah dan pengeluaran agak lebih tinggi, dari estimasi terbaik mereka

mengenai jumlah-jumlah tersebut. Oleh karena itu, anggaran yang dihasilkan


adalah target yang lebih mudah bagi mereka untuk dicapai.
Dunk (1993) berdasarkan telaah literatur atas hasil penelitian lainnya
menyatakan bahwa terdapat tiga variabel yang sudah terbukti mempengaruhi
terjadinya senjangan anggaran, tiga variabel tersebut dibagi dalam tiga level,
yaitu:
1. Level organisasional
o Partisipatif dalam penyusunan anggaran.
o Informasi yang asimetri.
o Gaya penilaian yang superior.
Pengaruh bersama dari gaya penilaian dan informasi yang asimetri.
o Kemampuan superior dalam mendeteksi senjangan anggaran.
o Realisasi rencana pengurangan gaji.
o Ketidakjelasan tugas.
2. Level lingkungan situasi yang membingungkan
3. Level individual menyukai resiko
2.

2. Penelitian Terdahulu
Penelitian mengenai pengaruh anggaran partisipatif terhadap kesenjangan

anggaran telah dilakukan oleh sejumlah peneliti. Veronica dan Krisnadewi (2008)
meneliti tentang Pengaruh Partisipatif Penganggaran, Penekanan Anggaran,
Komitmen Organisasi, dan Kompleksitas Tugas Terhadap Slack Anggaran pada
Bank Perkreditan Rakyat (BPR) di Kabupaten Bandung yang menyimpulkan
bahwa partisipatif penganggaran, penekanan anggaran, komitmen organisasi, dan
kompleksitas tugas, baik secara simultan maupun parsial, berpengaruh signifikan
terhadap slack anggaran pada BPR di Kabupaten Bandung.
Penelitian yang dilakukan oleh Hafsah (2008) tentang Pengaruh Asimetri
Informasi dan Komitmen Organisasi terhadap Hubungan antara Anggaran
partisipatif dan Kesenjangan Anggaran dengan Subjek Penelitian adalah manajer
pusat pertanggungjawaban perusahaan go publik yang berlokasi di Sumatra Utara.
Dari penelitian ini disimpulkan bahwa analisis interaksi antara asimetri informasi,

komitmen organisasi dan anggaran partisipatif menghasilkan dua temuan.


Pertama, tidak ditemukan pengaruh interaktif yang signifikan antara asimetri
informasi dan anggaran partisipatif terhadap kesenjangan anggaran. Kedua, tidak
ditemukan pengaruh interaktif yang signifikan antara komitmen organisasi dan
anggaran partisipatif terhadap kesenjangan anggaran.
Berdasarkan dari penelitian yang dilaksanakan oleh Dunk dan peneliti lain
yang telah dikemukakan diatas maka dalam penelitian ini diangkat judul
mengenai Pengaruh Anggaran partisipatif terhadap Senjangan Anggaran dengan
Asimetri Informasi sebagai Variabel Moderasi. Peneliti ini merupakan replikasi
dari penelitian Dunk (1993) dan Hafsah (2008).

2. 3. Hipotesis Penelitian
Menurut Wiener (1982) dan Darlis (2001), Komitmen Organisasi adalah
suatu dorongan dari dalam diri individu untuk berbuat sesuatu agar dapat
menunjang keberhasilan organisasi sesuai dengan tujuan dan lebih mengutamakan
kepentingan organisasi. Jika individu mengejar kepentingan pribadi dan
perbedaan informasi yang dimiliki maka individu tersebut dalam partisipatif
penganggaran akan berusaha melakukan senjangan anggaran agar kinerjanya
terlihat baik.
2. 3. 1. Pengaruh anggaran partisipatif terhadap senjangan anggaran.
Hasil penelitian Onsi(1973), Camman(1976), Merchant, dan Dunk (1993)
menunjukkan bahwa partisipatif dalam penyusunan anggaran dapat mengurangi
senjangan anggaran. Hal ini terjadi karena bawahan membantu memberikan
informasi pribadi tentang prospek masa depan sehingga anggaran yang disusun
menjadi lebih akurat

Ho 1 : Diduga terdapat pengaruh signifikan antara anggaran partisipatif terhadap


senjangan anggaran.
2. 3. 2. Pengaruh asimetri informasi terhadap senjangan anggaran.
Dalam penelitian Christensen (1982), Merchant (1985), Pope (1984) dan
Young (1985) menunjukkan bahwa bawahan yang merahasiakan informasi yang
relevan dalam pembuatan anggaran akan menimbulkan senjangan anggaran.
Terjadinya asimetri informasi karena adanya ketidak seimbangan dalam
kempemilikan informasi antara manajer atas dan bawah. Hal itu terjadi karena
manajer bawah lebih terlibat langsung dalam operasional sehari-hari perusahaan
jika dibandingkan dengan manajer atas
Ho 2 : Diduga terdapat pengaruh signifikan antara asimetri informasi terhadap
senjangan anggaran.
2. 3. 3. Pengaruh anggaran partisipatif terhadap senjangan anggaran
sebagai asimetri informasi sebagai variabel moderasi.
Pasrtisipasi anggaran atau keikut sertaan manajer tingkat bawah dalam
penetapan anggaran akan mendorong terjadinya senjangan anggaran. Manajer
menciptakan senjangan dengan mengestimasikan pendapatan lebih rendah dan
biaya lebih tinggi. Manajer melakukan hal ini agar target anggaran dapat dicapai
sehingga kinerja manajer terlihat baik. Terjadinya senjangan anggaran karena
adanya manajer tingkat bawah memiliki informasi-informasi penting dalam
penentuan anggaran jika dibandingkan dengan manajer tingkat atas atau disebut
juga dengan aimetri informasi.
Ho 3 : Diduga terdapat pengaruh signifikan antara anggaran partisipatif terhadap
senjangan anggaran dengan asimetri informasi sebagai variabel moderasi.