Anda di halaman 1dari 2

Tugas Seni Budaya

Busana Tradisional Gorontalo

Gorontalo adalah salah satu suku bangsa yang tinggal di wilayah Gorontalo. Mereka percaya
bahwa nenek moyang mereka berasal dari pengembara yang turun dari langit, yang disebut
hulontalangi. Sebelum kedatangan bangsa Eropa, daerah Gorontalo sudah mendapat pengaruh
dari Ternate, Tidore dan Bugis yang datang lebih dulu. Hal ini terlihat dari agama Islam yang
dianut dan tata cara berbusana.
Sama halnya yang dialami dengan pembuatan bahan sandang, cara berbusana orang Gorontalo
pun dari masa ke masa mengalami perkembangan. Sehingga, kalau berbicara mengenai busana
adat, maka acuannya adalah busana yang dikenakan pada upacara-upacara resmi, seperti
menghadiri pesta atau busana yang dipakai oleh mempelai dalam suatu upacara perkawinan.
Busana Adat Perkawinan
Dalam melaksanakan rangkaian upacara adat perkawinan pada masyarakat Gorontalo, pengantin
wanita maupun pria memakai beberapa jenis busana yang disesuaikan dengan tahapan upacara.
Tahap pertama adalah upacara mengantar harta (modutu), yaitu penyerahan sejumlah harta
berupa uang atau barang kepada pihak mempelai wanita. Pada upacara ini, biasanya mempelai
pria hanya tinggal di rumah dengan memakai busana bebas, sedangkan mempelai wanita
memakai busana pengantin, disebut wolimomo. Busana wolimomo terdiri dari baju blus
berlengan pendek seperti bolero dan kain sarung. Pada bagian depan baju diberi selembar kain
yang dirempel, sedangkan bagian lainnya diberi hiasan warna kuning keemasan. Bahan baju
wolimomo terbuat dari jenis kain beludru, brokat atau jenis bahan lainnya yang sesuai. Warna
baju yang umumnya dipakai adalah warna-warna terang dan mencolok, seperti kuning, merah,
hijau dan ungu.
Perhiasan dan aksesori yang dipakai pada busana ini adalah tusuk konde (sunthi) yang dibuat
dari logam disepuh keemasan dan terdiri atas 12 buah. Bentuk sunthi biasanya menyerupai
kepala burung, oleh karena itu disebut sunthi burungi. Busana ini bagi wanita Gorontalo dapat
melambangkan peralihan dari masa remaja ke masa ibu rumah tangga.
Tahap kedua dalam perkawinan adat Gorontalo adalah akad nikah (akaji). Busana yang dipakai
oleh pengantin wanita adalah baju madipungu, bisa juga memakai baju gelenggo atau boqo
tunggohu. Perbedaan ketiga jenis baju ini terletak pada panjang dan pendeknya lengan baju.
Kelengkapan busana madipungu terdiri dari baju, kain sarung dan berbagai aksesori. Bentuk baju
madipungu adalah baju blus lengan panjang seperti baju kurung dimana pada bagian leher
membentuk huruf "V". Bahan yang digunakan biasanya kain satin, beludru, brokat atau bahan
kain lainnya. Busana bagian bawah berupa sarung atau rok panjang yang dipakai di luar baju.
1

Tugas Seni Budaya

Busana adat perkawinan pada masyarakat Gorontalo sangat kaya akan berbagai perhiasan yang
dikenakan. Aksesori yang menempel di baju maupun perhiasan yang dikenakan menunjukkan
status pemakainya. Kelengkapan pada baju madipungu biasanya berupa aksesori, seperti kain
lapis dada warna hitam yang dihiasi kuning emas, disebut hamsei; kain beludru warna hitam
yang menempel di leher, disebut hotu; selimut (waluto); dan hiasan emas pada baju dan kain
(tambio). Sedangkan perhiasan yang dipakai adalah sunthi (tusuk konde) dan huheyidu (hiasan
rambut) pada bagian kepala; rante madale (kalung leher) dan padeta (gelang) yang melekat di
kedua pergelangan tangan.
Adapun busana pria yang dikenakan pada acara akad nikah adalah baju boqo takowa atau
takowa, celana panjang (talala) dan beberapa aksesori. Bentuk baju sama dengan baju kemeja
lengan panjang, tetapi bagian kerahnya berdiri tegak. Di bagian depan baju diberi kancing dan
tiga buah saku, satu di kiri atas dan sisanya di bawah. Bagian dada baju dan saku diberi hiasan
corak kain krawang dengan memakai benang emas. Seperti halnya baju, celana panjang juga
diberi hiasan tambio (hiasan corak keemasan). Sedangkan pada kedua sisi kiri dan kanan celana
ditempeli pita warna kuning keemasan disebut pihi.
Warna celana yang dipakai biasanya sama dengan baju atas, demikian juga dengan busana yang
dipakai oleh pengantin wanita. Warna yang dipilih adalah salah satu dari warna merah, kuning,
hijau, ungu dan merah hati. Pilihan warna itu menunjukkan bahwa di masa dulu pernah terdapat
lima kerajaan di Gorontalo. Jenis aksesori yang dipakai pada baju takowa adalah payunga, yaitu
sejenis tutup kepala yang dihiasi kain warna-warni. Aksesori lainnya adalah ikat pinggang
(etango), yang terbuat dari emas sepuhan serta keris pusaka (patatimbo) yang diselipkan di
bagian depan pinggang.
Rangkaian terakhir dari upacara perkawinan adat Gorontalo adalah bersanding di pelaminan
(mopo pipide). Pada rangkaian ini, busana yang dipakai oleh pengantin wanita adalah busana
kebesaran yang dipakai oleh istri raja di zaman dahulu. Busana kebesaran ini disebut biliu, terdiri
atas baju lengan panjang, kain panjang atau sekarang dapat diganti dengan rok panjang, dan
aksesori. Sedangkan busana pengantin pria memakai baju paluwala, yaitu sama dengan baju
takowa yang terdiri dari baju dan celana panjang. Perbedaannya terletak pada aksesori dan
perhiasan yang digunakan, lebih lengkap dan menunjukkan keagungan.