Anda di halaman 1dari 32

MAKALAH

MANAJEMEN MUTU TERPADU DALAM PENDIDIKAN


Diajukan untuk memenuhi tugas pengelolaan pendidikan

Dosen:
Nurdin, M.Pd.

Disusun oleh:
Fenny Rahayu Ferina (1300380)
Pendidikan Kimia B 2013

FAKULTAS PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN


ALAM
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
BANDUNG
2014

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan ke Hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena
berkat limpahan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyusun
makalah ini tepat pada waktunya. Makalah ini manajemen mutu terpadu dalam
pendidikan.
Lahirnya ide penulisan ini, selain untuk memenuhi tugas mata kuliah
Pengelolaan Pendidikan, tetapi juga untuk menggambarkan pemahaman
mahasiswa mengenai manajemen mutu terpadu dalam pendidikan.
Untuk memenuhi tujuan di atas, kami menganggap perlu adanya referensi
yang dapat dijadikan sarana untuk memahami pentingnya mengetahui manajemen
mutu terpadu dalam pendidikan. Kami berharap pembuatan makalah ini dapat
menambah pengetahuan dan pemahaman mahasiswa.
Dalam penyusunan makalah ini, penulis banyak mendapat tantangan dan
hambatan, akan tetapi dengan bantuan dari berbagai pihak tantangan itu bisa
teratasi. Oleh karena itu, penulis mengucapkan terima kasih yang sebesarbesarnya kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan makalah
ini, semoga bantuannya mendapat balasan yang setimpal dari Tuhan Yang Maha
Esa.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan baik dari
bentuk penyusunan maupun materinya. Kritik konstruktif dari pembaca sangat
penulis harapkan untuk penyempurnaan makalah selanjutnya.
Akhir kata semoga makalah ini dapat memberikan manfaat kepada kita
sekalian.
Bandung, 1 Desember 2014
Penulis

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR....................................................................................i
DAFTAR ISI................................................................................................ii
DAFTAR GAMBAR..................................................................................iii
DAFTAR TABEL........................................................................................iv
BAB I PENDAHULUAN.............................................................................1
A. LATAR BELAKANG..................................................................1
B. RUMUSAN MASALAH.............................................................2
C. TUJUAN MAKALAH.................................................................3
D. MANFAAT..................................................................................4
E. METODE PEMBUATAN MAKALAH.......................................4
BAB II PEMBAHASAN..............................................................................5
1. Pengertian Manajemen Mutu Terpadu Pendidikan.......................5
2. Perkembangan Konsep Mutu........................................................7
3. Karakteristik TQM........................................................................9
4. Prinsip mutu..................................................................................9
5. Konsep Mutu Pendidikan............................................................11
6. Standar Mutu Pendidikan............................................................11
7. Manfaat Manajemen Mutu Terpadu............................................13
8. Implementasi Manajemen Mutu Terpadu dalam Pendidikan......14
9. Manajemen Mutu Terpadu di Sekolah........................................20
10. Masalah Penerapan Manajemen Mutu Terpadu........................22
11. Analisis Masalah dan Pemecahan Masalah...............................23
12. Strategi Manajemen Mutu Terpadu...........................................25
13. Tanggapan Penulis....................................................................26
BAB III PENUTUP....................................................................................28
A. SIMPULAN...............................................................................28
B. SARAN......................................................................................29
DAFTAR PUSTAKA.................................................................................30
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1.1 Prinsip-prinsip manajemen mutu terpadu........................................ 10
Gambar 1.2. Manfaat Total Quality Management............................................... 13
Gambar 1.3 Komitmen Kualitas dalam TQM...................................................... 19
ii

DAFTAR TABEL
Tabel 1.1 Indikator sekolah bermutu dan tidak bermutu...................................... 12

iii

iv

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan dianggap sebagai suatu investasi yang paling berharga dalam
bentuk peningkatan kualitas sumber daya insani untuk pembangunan suatu
bangsa. Sering kali kebesaran suatu bangsa diukur dari sejauhmana
masyarakatnya mengenyam pendidikan. Semakin tinggi pendidikan yang
dimiliki oleh suatu masyarakat, maka semakin majulah bangsa tersebut.
Kualitas pendidikan tidak saja dilihat dari kemegahan fasilitas pendidikan
yang dimiliki, tetapi sejauhmana output (lulusan) suatu pendidikan dapat
membangun

sebagai manusia

yang

paripurna

sebagaimana

tahapan

pendidikan tersebut.
Penyelenggaraan pendidikan di Indonesia dilakukan dalam tiga jalur, yaitu
pendidikan formal, pendidikan non formal, dan pendidikan informal.
Sumbangan pendidikan terhadap pembangunan bangsa tentu bukan hanya
sekedar penyelenggaraan pendidikan, tetapi pendidikan yang bermutu, baik
dari sisi input, proses, output, maupun outcome. Input pendidikan yang
bermutu adalah guru-guru yang bermutu, peserta didik yang bermutu,
kurikulum yang bermutu, fasilitas yang bermutu, dan berbagai aspek
penyelenggaraan pendidikan yang bermutu.proses pendidikan yang bermutu
adalah proses pembelajaran yang bermutu. Output pendidikan yang bermutu
adalah lulusan yang memiliki kompetensi yang disyaratkan. Dan outcome
pendidikan yang bermutu adalah lulusan yang mampu melanjutkan ke jenjang
pendidikan lebih tinggi atau terserap pada dunia usaha atau dunia industri.
Pendidikan harus bermutu karena pendidikan pada saat ini, dalam hal ini
pendidikan persekolahan dihadapkan pada berbagai tantangan, baik nasional
maupun internasional. Tantangan nasional muncul dari dunia ekonomi, sosial,
budaya, politik dan keamanan. Tantangan dunia internasional menunjukan
bahwa Indonesia saat ini akan menghadapi berbagai persaingan global,
1

seiring dengan berlangsungnya globalisasi, khususnya dalam perdagangan


(ekonomi). Globalisasi menghantarkan pada perubahan lingkungan strategis
bangsa dimata bangsa-bangsa lainnya di dunia ini. Selain globalisasi,
perkembangan teknologi informasi juga menjadi tantangan besar bagi bangsa
Indonesia.
Pemecahan masalah nasional dan persaingan global ini menuntut
dimilikinya sumber daya manusia yang kompeten dibidangnya yang disertai
dengan kepemilikan akhlak mulia. Dimana penyelenggaraan kenegaraan dan
kemsayarakatan yang bebas dari korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN)
menjadi salah satu indikator darikepemilikan akhlak mulia ini. Pembangun
bangsa yang seimbang antara jasmani dan rohani akan memberikan kemajuan
yang pesat, sebagaimana tertera didalam Pancasila, yaitu Ketuhanan Yang
Maha Esa. Jawaban untuk tantangan nasional dan internasional adalah
pendidikan yang bermutu. Pendidikan yang bermutu merupakan kunci
untuk membangun manusia yang kompeten yang beradab.
Sekolah sebagai salah satu institusi pendidikan merupakan lembaga yang
berfungsi sebagai agent of change, bertugas untuk membangun peserta
didik agar sanggup memecahkan masalah nasional dan internasional.
Penyelenggaraan sekolah harus diorientasikan pada pembentukan manusia
yang kompeten dan beradab.
Manajemen peningkatan mutu pendidikan dalam bab ini merupakan
sebuah kajian mengenai bagaimana sebuah pendidikan persekolahan harus
dikelola secar efektif, efisien, dan berkeadilan untuk mewujudkan mutu
pendidikan (persekolahan) sebgaimana diharapkan.
B. Rumusan Masalah
Makalah ini dibuat untuk memenuhi tujuan-tujuan yang bermanfaat bagi
para pembelajar supaya mengetahui lebih dalam mengenai manajemen mtu
terpadu pendidikan. Adapun rumusan masalah yang hadir dalam makalah ini,
diantaranya :
2

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Apa itu manajemen mutu terpadu pendidikan?


Bagaimana perkembangan konsep mutu?
Bagaimanakah karakteristik TQM?
Apa sajakah prinsip dari mutu?
Bagaimanakah konsep mutu pendidikan?
Apa saja yang menjadi standar mutu pendidikan?
Apa manfaat dari manajemen mutu terpadu?
Bagaimana implementasi manajemen mutu terpadu dalam bidang

pendidikan?
9. Apa itu manajemen mutu terpadu di sekolah?
10. Apa yang menjadi masalah penerapan manajemen mutu terpadu?
11. Bagaimana analisa masalah dan pemecahan masalah yang terjadi pada
TQM?
12. Bagaimana strategi manajemen mutu terpadu?
13. Bagaimana tanggapan penulis tentang TQM?
C. Tujuan Penulisan Makalah
Setelah membahas keenam belas jenis landasan ini, pembaca di harapkan
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

bisa memiliki pehamana sebagai berikut:


Untuk mengetahui konsep manajemen mutu terpadu pendidikan.
Untuk mengetahui perkembangan konsep mutu.
Untuk mengetahui karakteristik TQM.
Untuk mengetahui prinsip dari mutu.
Untuk mengetahui konsep mutu pendidikan.
Untuk mengetahui standar mutu pendidikan.
Untuk mengetahui manfaat dari manajemen mutu terpadu.
Untuk mengetahui implementasi manajemen mutu terpadu dalam bidang

pendidikan.
9. Untuk mengetahui manajemen mutu terpadu di sekolah.
10. Untuk mengetahui masalah penerapan manajemen mutu terpadu.
11. Untuk mengetahui analisa masalah dan pemecahan masalah yang terjadi
pada TQM.
12. Untuk mengetahui strategi manajemen mutu terpadu.
13. Untuk mengetahui tanggapan penulis tentang TQM.
D. MANFAAT
Dalam penyusunan makalah ini, diharapkan dapat memberikan manfaat
sebagai penambah wawasan baru bagi para pembaca mengenai manajemen
mutu terpadu pendidikan, khususnya bagi para mahasiwa agar dapat
memahami dengan baik isi makalah ini.
E. METODE PEMBUATAN MAKALAH
3

Metode yang digunakan dalam penulisan makalah ini adalah studi pustaka
yang dilakukan dengan mencari dan membaca berbagai literatur berupa media
cetak dan elektronik.

BAB II
PEMBAHASAN
1. Pengertian Manajemen Mutu Terpadu Pendidikan
Konsep Manajemen Mutu Terpadu merupakan bangunan konsep yang
a.

terdiri dari tiga unsur yaitu manajemen, mutu, terpadu dan pendidikan.
Pengertian Manajemen
Manajemen adalah suatu proses atau kerangka kerja yang
melibatkan bimbingan atau pengarahan suatu kelompok orang-orang ke
arah tujuan-tujuan organisasional atau maksud-maksud yang nyata. (Tery
& Rue, 2009:1)
Manajemen merupakan serangkaian proses yang terdiri atas
perencanaan (planning), pengorganisasian (organizing), pelaksanaan
(actuating), pengawasan (controlling), dan penganggaran (budgeting).

b.

(Nawawi, 2005: 52)


Pengertian Mutu
Menurut Crosby

(1979:58)

mutu

ialah

conformance

requirement, yaitu sesuai yang disyaratkan atau distandarkan.


4

to

Menurut Deming (1982:176) mutu ialah kesesuaian dengaan


kebutuhan pasar atau konsumen.
Menurut Feigenbaum (1986:7) mutu adalah kepuasan pelanggan
c.

sepenuhnya (full customer satisfaction).


Pengertian Terpadu
Kata terpadu merupakan terjemahan dari kata total (bahasa
Inggris). Total dalam konsep Total Quality Management diartikan sebagai
pengintegrasian seluruh staff, penyalur pelanggan dan stakeholders
lainnya.Hal ini berarti semua orang yang ada didalam organisasi dilibatkan
dalam menyelesaikan produk atau melayani pelanggan. Dengan kata lain,
konsep total dalam TQM, atau konsep terpadu dalam MMT ini diartikan
bahwa setiap orang berperan dalam menyukseskan seluruh proses

d.

pekerjaan atau aktivitas. (Sallis, 1993)


Pengertian Pendidikan
Pendidikan adalah segala situasi hidup yang mempengaruhi
pertumbuhan individu sebagai pengalaman belajar yang berlangsung
dalam segala lingkungan dan sepanjang hidup. (Jean Piaget,1896)
Pendidikan adalah memberikan pembekalan yang tidak ada pada
masa

kanak-kanak,

tapi

dibutuhkan

pada

masa

dewasa.

(J.J.

Rousseau,1712-1718)
Pendidikan adalah pengaruh lingkungan terhadap individu untuk
menghasilkan perubahan perubahan yang tetap dalam kebiasaan perilaku,
pikiran dan sifatnya. (Thompson)
e. Pengertian Manajemen Mutu Terpadu Pendidikan
Manajemen Mutu Terpadu merupakan sebuah konsep yang
mengaplikasikan berbagai prinsip mutu untuk menjamin suatu produk
barang/jasa memiliki spesifikasi mutu sebagaimana ditetapkan secara
menyeluruh dan berkelanjutan.
Menurut Hadari Nawari (2005:46) Manajemen Mutu Terpadu
adalah manejemen fungsional dengan pendekatan yang secara terus
menerus difokuskan pada peningkatan kualitas, agar produknya sesuai
dengan standar kualitas dari masyarakat yang dilayani dalam pelaksanaan
tugas pelayanan umum (public service) dan pembangunan masyarakat
(community development). Konsepnya bertolak dari manajemen sebagai
5

proses atau rangkaian kegiatan mengintegrasikan sumber daya yang


dimiliki, yang harus diintegrasi pula dengan pentahapan pelaksanaan
fungsi fungsi manajemen, agar terwujud kerja sebagai kegiatan
memproduksi sesuai yang berkualitas. Setiap pekerjaan dalam manajemen
mutu terpadu harus dilakukan melalui tahapan perencanaan, persiapan
(termasuk bahan dan alat), pelaksanaan teknis dengan metode kerja/cara
kerja yang efektif dan efisien, untuk menghasilkan produk berupa barang
atau jasa yang bermanfaat bagi masyarakat.
Pengertian lain dikemukakan oleh Santoso yang dikutip oleh Fandy
Tjiptono dan Anastasia Diana (1998) yang mengatakan bahwa TQM
merupakan sistem manajemen yang mengangkat kualitas sebagai strategi
usaha dan berorentasi pada kepuasan pelanggan dengan melibatkan
seluruh anggota organisasi. Di samping itu Fandy Tjiptono dan Anastasia
Diana (1998) menyatakan pula bahwa Total Quality Management
merupakan suatu pendekatan dalam menjalankan usaha yang mencoba
untuk memaksimumkan daya saing organisasi melalui perbaikan terus
menerus atas produk, jasa, manusia, proses dan lingkungannya.
Menurut Cassio seperti yang dikutip oleh Hadari Nawawi (2005 :
127), ia memberi pengertian bahwa TQM, a philosophy and set of
guiding principles that represent the foundation of a continuosly
improving organization, include seven broad components :
1. A focus on the customer or user of a product or service, ensuring the
customers need an expectations are satisfied consistenly.
2. Active leadership from executives to establish quality as a
fundamental value to be incorporated into a companys managemen
philosophy.
3. Quality concept (e.g. statistical process control or computer assisted
design, engineering, and manufacturing) that are thoroughly
integrated throughout all activities of or a company.
4. A corporate culture, established and reinforced by top executives,
that involves all employees in contributing to quality improvement.

5. A focus on employee involvement, teamwork, and training at all


levels in order to strengthen employee commitment to continous
quality improvement.
6. An approach to problem solving that is base on continously
gathering, evaluating, and acting on facts and data is a systematic
manner.
7. Recognition of supliers as full partners in quality management
process.
2. Perkembangan Konsep Mutu
Perkembangan konsep mutu terbagi menjadi lima tahapan, yaitu antara lain:
Pertama, dikenal sebagai era Tanpa mutu. Masa ini dimulai sebelum
abad ke-18 dimana produk yang dibuat tidak diperhatikan mutunya. Hal
seperti ini mungkin terjadi karena pada saat itu belum ada persaingan
(monopoli). Dalam era modern saat ini, praktik seperti ini masih bisa
dijumpai.
Kedua, dikenal dengan era Inspeksi. Era ini mulai berlanagsung sekitar
tahun 1800-an, dimana pemilihan produk akhir dilakukan dengan cara
melakukan inspeksi sebelum dilepas ke konsumen. Tanggung jawab mutu
produk diserahkan sepenuhnya ke departemen inspeksi (QC). Departemen
QC akhirnya selalu jadi sasaran bila ada produk cacat yang lolos ke
konsumen. Disisi lain, biaya mutu menjadi bengkak karena produk
seharusnya sudah bisa dicegah masuk ke proses berikutnya pada saat
departemen terkait menemukan adanya cacat dibagiannya masing-masing
sebelum diperiksa oleh petugas inspeksi.
Ketiga, dieknal sebagai Statistical Quality Control Era (Pengendalian
mutu secara statistik). Era ini dimulai tahun 1930 oleh Walter Shewart dari
Bell Telephone Laboratories. Departemen inspeksi dilengkapi dengn alat
dan metode statistik untuk mendeteksi penyimpangan yang terjadi pada
produk yang dihasilkan departemen produksi. Departemen produksi
menggunakan data tersebut untuk melakukan perbaikan terhadap sistem dan
proses.
Keempat, Dikenal dengan era Quality Assurance Era. Era ini mulai
berkembang tahun 1950-an. Konsep mutu meluas dari sebatas tahap
7

produksi (hilir) ke tahap desain (hulu) dan berkoordinasi dengan departemen


jasa (Maintenance, PPIC, Gudang, dll). Manajemen mulai terlibat dalam
penentuan pemasok (suppliers). Konsep biaya mutu mulai dikenal, bahwa
aktivitas pencegahan akan mengurangi pengeluaran daripada upaya
perbaikan cacat yang sudah terjadi. Desain yang salah misalnya akan
mengakibatkan kesalahan produksi. Contoh era ini adalah penggunaan ISO
9000 versi 1994.
Kelima, dikenal dengan era Strategic Quality Manageement / Total
Quality Management (TQM). Dalam era ini keterlibatan manajemen puncak
sangat besar dalam menjadikan kualitas sebagai modal untuk menempatkan
perusahaan siap bersaing dengan kompetitor. Contoh era ini adalah
penggunaan Sistem manajemen Mutu ISO 9000 versi 2000 dan 2008.
3. Karakteristik TQM
Hadari Nawawi (2005: 127) mengemukakan sebagai berikut:
1. Fokus pada pelanggan, baik pelanggan internal maupun eksternal
2. Memiliki opsesi yang tinggi terhadap kualitas
3.

Menggunakan pendekatan ilmiah dalam pengambilan keputusan dan


pemecahan masalah.

4. Memiliki komitmen jangka panjang.


5. Membutuhkan kerjasama tim
6. Memperbaiki proses secara kesinambungan
7. Menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan
8. Memberikan kebebasan yang terkendali
9. Memiliki kesatuan yang terkendali
10. Adanya keterlibatan dan pemberdayaan karyawan.
4. Prinsip Mutu
Menurut Deming ada 14 prinsip mutu yang harus dilakukan organisasi/
perusahaan jikan menghendaki dicapainya mutu, yaitu:
1) Menciptakan konsistensi tujuan untuk pengembangan produk dan
jasa dengan adanya tujuan suasana bisnis yang kompetitif.
2) Adopsi filosofi baru

3) Menghentikan ketergantungan pada adanya inspeksi dan digantikan


dengan upaya pencapaian mutu.
4) Menghentikan anggapan bahwa penghargaan dalam bisnis adalah
terletak pada harga.
5) Peningkatan sistem produksi dan layanan secara terus menerus guna
peningkatan mutu dan produktivitas.
6) Pelatihan dalam pekerjaan
7) Kepepimpinan lembaga
8) Menghilangkan rasa takut
9) Hilangkan penghalang antar departemen/biro
10) Mengurangi slogan peringatan-peringatan dan target, dan mengganti
dengan pemantapan metode-metode yang dapat meningkatkan mutu
kerja.
11) Kurangi standar kerja yang menentukan kuota berdasarkan jumlah.
12) Hilangkan penghambat yang dapat merampas hak asasi manusia
untuk merasa bangga terhadap kecakapan kerjanya.
13) Lembagakan suatu program pendidikan dan peningkatan diri yang
penuh semangat.
14) Setiap orang dalam perusahaan berkerja sama dalam mendukung
proses transformasi.
Prinsip manajemen mutu terpadu menurut Naidu, Babu, & Rajendra
(2000:37)
Fokus pada
pelanggan

Melakukannya
dengan benar

Melakukannya
bersama-sama

Berkomunikasi dan
mendidik

Mengukur dan
mencatat

Gambar 1.1 Prinsip-prinsip manajemen mutu terpadu


5. Konsep Mutu Pendidikan
Menurut Townsend dan Butterworth (1992:35) dalam bukunya Your
Childs Scholl, ada sepuluh faktor penentu terwujudnya proses pendidikan
yang bermutu, yakni:
1) Keefektifan kepemimpinan kepala sekolah
2) Partisipasi dan masa tanggung jawab guru dan staf
3) Proses belajar mengajar yang efektif
4) Pengembangan staf yang terprogram
5) Kurikulum yang relevan
6) Memiliki visi dan misi yang jelas
7) Iklim sekolah yang kondusif
8) Penilaian diri terhadap kekuatan dan kelemahan
9) Komunikasi efektif baik internal dan ekternal
10) Keterlibatan orang tua dan masyarakat secara instrinsik.
Dalam konsep yang lebih luas, mutu pendidikan memiliki makna sebagai
suatu kadar proses dan hasil pendidikan secara keseluruhan yang ditetapkan
sesuai dengan pendekatan dan kriteria tertentu. (Surya.2002:12)
6. Standar Mutu Pendidikan
Menurut UUSPN No.20 Tahun 2003, bahwa pendidikan adalah usaha
sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses
pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi
dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengenalan diri,
kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan
dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Pengertian tersebut memberikan
pengertian bahwa pendidikan merupakan jasa yang harus memiliki suatu
standarisasi penilain terhadap mutu dari jasa yang diberikan kepada
pelanggan pendidikan tersebut.
Standar mutu pendidikan di Indonesia ditetapkan dalam suatu
Standarisasi Nasional dan dikenal dengan Standar Nasional Pendidikan
(SNP). Menurut Peratutan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 tahun
2005 tentang SNP pasal 1 ayat (1) memberikan pengertian bahwa SNP
adalah kriteria minimal tentang sistem pendidikan di seluruh wilayah hukum
NKRI. Standar Nasional Pendidikan tersebut meliputi:
a) Standar kompetensi lulusan
b) Standar isi
10

c) Standar proses
d) Standar pendidik dan tenaga kependidikan
e) Standar sarana dan prasarana
f) Standar pengelolaan
g) Standar pembiayaan
h) Standar penilaian pendidikan
Sekolah sebagai penyelenggara pendidikan dalam pelaksanaan tugasnya
juga harus memiliki standarisasi sekolah yang bermutu sehingga mamppu
bersaing dalam memberikan pelayanan terbaik bagi pelanggan. Pendapat
Engkoswara (2010) menerangkan indikator-indikator sekolah yang bermutu
dan tidak bermutu yang diadaptasi dari pandangan para ahli yaitu sebagai
berikut:
Tabel 1.1 Indikator sekolah bermutu dan tidak bermutu
Sekolah bermutu

Sekolah tidak bermutu

1. Masukan yang tepat

1.Masukan yang banyak

2. Semangat kerja tinggi

2.Pelaksanaan kerja santai

3. Gairah motivasi belajar tinggi

3.Aktivitas belajar santai

4. Penggunaan biaya, waktu,

4.Boros menggunakan sumber-sumber

fasilitas, tenaga yang


profesional
5. Kepercayaan berbagai pihak

5.Kurang peduli terhadap lingkungan

6. Tamatan yang bermutu

6.Lulusan hasil katrol

7. Keluaran yang relevan dengan

7.Keluaran tidak produktif

kebutuhan masyarakat

R
B

7. Manfaat Manajemen Mutu Terpadu


A
Menurut
Nasution (2001) manfaat TQM dapat dikelompokkan menjadi dua,
I
yaitu
dapat memperbaiki posisi persaingan dan meningkatkan keluaran

bebas
K dari kerusakan seperti tampak pada gambar berikut :
A
HARGA YANG
LEBIH TINGGI

M
U
T

MEMPERBAIK
I POSISI
PERSAINGAN

11

MENINGKATKAN
PENGHASILAN

MENINGKATKAN
PERSAINGAN
ASAR
Meningkatkan
keluaran
yang

Mengurangi

Meningkatkan

biaya operasi

laba

bebas dari

Sumber : Nasution, (2001)


Gambar. 1.2. Manfaat Total Quality Management
Berikut ini adalah manfaat-manfaat umum sebuah Total Quality
Management yang efektif yang telah dipertimbangkan masak-masak
(Faure,1999) ; (1) pelanggan-pelanggan yang puas dan setia karena barang
dan jasa selalu diproduksi sesuai dengan kebutuhan-kebutuhan mereka. (2)
biaya-biaya operasional yang berkurang sebagai akibat pemborosan
dihilangkan dan efisiensi ditingkatkan sebagai suatu hasil dari penghapusan
ketidak sesuaian. (3) daya saing dan profitabilitas diperbaiki karena biayabiaya kegiatan operasional berkurang. (4) semangat pegawai ditingkatkan
karena mereka bekerja dengan efisien.
8. Implementasi Manajemen Mutu Terpadu dalam Bidang Pendidikan
Dalam ajaran Total Quality Management, lembaga pendidikan (sekolah)
harus menempatkan siswa sebagai klien atau dalam istilah perusahaan
sebagai stakeholdersyang terbesar, sehingga suara siswa harus disertakan
dalam setiap pengambilan keputusan strategis langkah organisasi sekolah.
Tanpa suasana yang demokratis, manajemen tidak mampu menerapkan
TQM dan yang terjadi adalah kualitas pendidikan didominasi oleh pihakpihak tertentu yang sering kali memiliki kepentingan yang bersimpangan
dengan hakikat pendidikan.
Penerapan TQM berarti pula adanya kebebasan untuk berpendapat.
Kebebasan berpendapat akan menciptakan iklim yang dialogis antara siswa
dan guru, siswa dan kepala sekolah, serta guru dan kepala sekolah, atau
12

singkatnya, kebebasan berpendapat dan keterbukaan antara seluruh warga


sekolah. Pentafsiran ilmu pengetahuan tidak lagi bersifat one way
communication, melainkan two way communication. Proses dua arah ini
merupakan bagian dari substansi TQM dalam meningkatkan kualitas
dilembaga pendidikan.
Di lingkungan organisasi non profit, khususnya pendidikan, penetapan
kualitas produk dan kualitas proses untuk mewujudkannya, merupakan
bagian yang tidak mudah dalam pengimplementasian Manajemen Mutu
Terpadu (TQM). Kesulitan ini disebabkan oleh

karena ukuran

produktivitasnya tidak sekedar bersifat kuantitatif, misalnya hanya dari


jumlah lokal dan gedung sekolah atau laboratorium yang berhasil dibangun,
tetapi juga berkenaan dengan aspek kualitas yang menyangkut manfaat dan
kemampuan memanfaatkannya.
Demikian juga jumlah lulusan yang dapat diukur secara kuantitatif,
sedang kualitasnya sulit untuk ditetapkan kualifikasinya. Sehubungan
dengan itu di lingkungan organisasi bidang pendidikan yang bersifat non
profit, menurut Hadari Nawari (2005 : 47) ukuran produktivitas organisasi
bidang pendidikan dapat dibedakan sebagai berikut:
1. Produktivitas Internal, berupa hasil yang dapat diukur secara kuantitatif,
seperti jumlah atau prosentase lulusan sekolah, atau jumlah gedung dan
lokal yang dibangun sesuai dengan persyaratan yang telah ditetapkan.
2. Produktivitas Eksternal, berupa hasil yang tidak dapat diukur secara
kuantitatif, karena bersifat kualitatif yang hanya dapat diketahui setelah
melewati tenggang waktu tertentu yang cukup lama.
Masih menurut Hadari Nawawi (2005 : 47), bagi organisasi pendidikan,
adaptasi

manajemen

mutu

terpadu

dapat

dikatakan

sukses,

jika

menunjukkan gejala gejala sebagai berikut :


1. Tingkat konsistensi produk dalam memberikan pelayanan umum dan
pelaksanaan pembangunan untuk kepentingan peningkatan kualitas SDM
terus meningkat.
2. Kekeliruan dalam bekerja yang berdampak menimbulkan ketidakpuasan
dan komplain masyarakat yang dilayani semakin berkurang.
3. Disiplin waktu dan disiplin kerja semakin meningkat

13

4. Inventarisasi aset organisasi semakin sempurna, terkendali dan tidak


berkurang/hilang tanpa diketahui sebab sebabnya.
5. Kontrol berlangsung efektif terutama dari atasan langsung melalui
pengawasan melekat, sehingga mampu menghemat pembiayaan,
mencegah penyimpangan dalam pemberian pelayanan umum dan
pembangunan sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
6. Pemborosan dana dan waktu dalam bekerja dapat dicegah.
7. Peningkatan ketrampilan dan keahlian bekerja terus dilaksanakan
sehingga metode atau cara bekerja selalu mampu mengadaptasi
perubahan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, sebagai
cara bekerja yang paling efektif, efisien dan produktif, sehingga kualitas
produk dan pelayanan umum terus meningkat.
Berkenaan dengan kualitas dalam pengimplementasian TQM, Wayne F.
Cassio dalam bukunya Hadari Nawawi mengatakan : Quality is the extent
to which product and service conform to customer requirement. Di
samping itu Cassio juga mengutip pengertian kualitas dari The Federal
Quality Institute yang menyatakan quality as meeting the customers
requiremet the first time and every time, where costumers can be internal as
wellas external to the organization. Senada dengan itu Goetsh dan Davis
seperti yang dikutip oleh Fandy Tjiptono dan Anastasia Diana (1996) yang
mengatakan: kualitas merupakan suatu kondisi dinamis yang berhubungan
produk, jasa, manusia, proses dan lingkungan yang memenuhi atau melebihi
harapan.
Dilihat dari pengertian kualitas yang terakhir seperti tersebut di atas,
berarti kualitas di lingkungan organisasi profit ditentukan oleh pihak luar di
luar organisasi yang disebut konsumen, yang selain berbeda beda, juga
selalu berubah dan berkembang secara dinamis.
Manajemen Mutu Terpadu di lingkungan suatu organisasi non profit
termasuk pendidikan tidak mungkin diwujudkan jika tidak didukung dengan
tersedianya sumber sumber untuk mewujudkan kualitas proses dan hasil
yang akan dicapai. Di lingkungan organisasi yang kondisinyan sehat,
terdapat

berbagai

sumber

kualitas

yang

dapat

mendukung

pengimplementasian TQM secara maksimal. Menurut Hadari Nawawi (2005


14

: 138 141), beberapa di antara sumber sumber kualitas tersebut adalah


sebagai berikut:
1. Komitmen Pucuk Pimpinan (Kepala Sekolah) terhadap kualitas.
Komitmen ini sangat penting karena berpengaruh langsung pada
setiap

pembuatan

keputusan

dan

kebijakan,

pemilihan

dan

pelaksanaan program dan proyek, pemberdayaan SDM, dan


pelaksanaan kontrol. Tanpa komitmen ini tidak mungkin diciptakan
dan dikembangkan pelaksanaan fungsi fungsi manajemen yang
berorentasi pada kualitas produk dan pelayanan umum.
2. Sistem Informasi Manajemen
Sumber ini sangat penting karena usaha mengimplementasikan
semua fungsi manajemen yang berkualitas, sangat tergantung pada
ketersediaan informasi dan data yang akurat, cukup/lengkap dan
terjamin kekiniannya sesuai dengan kebutuhan dalam melaksanakan
tugas pokok organiasi.
3. Sumber daya manusia yang potensial
SDM di lingkungan sekolah sebagai aset bersifat kuantitatif dalam
arti dapat dihitung jumlahnya. Disamping itu SDM juga merupakan
potensi yang berkewajiban melaksanakan tugas pokok organisasi
(sekolah) untuk mewujudkan eksistensinya. Kualitas pelaksanaan
tugas pokok sangat ditentukan oleh potensi yang dimiliki oleh SDM,
baik yang telah diwujudkan dalam prestasi kerja maupun yang masih
bersifat potensial dan dapat dikembangkan.
4. Keterlibatan semua Fungsi
Semua fungsi dalam organisasi sebagai sumber kualitas, sama
pentingnya satu dengan yang lainnnya, yang sebagai satu kesatuan
yang tidak dapat dipisahkan. Untuk itu semua fungsi harus dilibatkan
secara maksimal, sehingga saling menunjang satu dengan yang
lainnya.
5. Filsafat Perbaikan Kualitas secara Berkesinambungan
Sumber sumber kualitas yang ada bersifat sangat mendasar,
karena tergantung pada kondisi pucuk pimpinan (kepala sekolah),
yang selalu menghadapi kemungkinan dipindahkan, atau dapat
memohon untuk dipindahkan. Sehubungan dengan itu, realiasi TQM
15

tidak boleh digantungkan pada individu kepala sekolah sebagai


sumber kualitas, karena sikap dan perilaku individu terhadap kualitas
dapat berbeda. Dengan kata lain sumber kualitas ini harus
ditransformasikan pada filsafat kualitas yang berkesinambungan
dalam merealisasikan TQM.
Semua sumber kualitas di lingkungan organisasi pendidikan dapat dilihat
manifestasinya melalui dimensi dimensi kualitas yang harus direalisasikan
oleh pucuk pimpinan bekerja sama dengan warga sekolah yang ada dalam
lingkungan tersebut. Menurut Hadari Nawawi (2005 : 141), dimensi kualitas
yang dimaksud adalah :
1. Dimensi Kerja Organisasi
Kinerja dalam arti unjuk perilaku dalam bekerja yang positif,
merupakan gambaran konkrit dari kemampuan mendayagunakan
sumber sumber kualitas, yang berdampak pada keberhasilan
mewujudkan, mempertahankan dan mengembangkan eksistensi
organisasi (sekolah).
2. Iklim Kerja
Penggunaan sumber sumber kualitas secara intensif akan
menghasilkan iklim kerja yang kondusif di lingkungan organisasi. Di
dalam iklim kerja yang diwarnai kebersamaan akan terwujud
kerjasama yang efektif melalui kerja di dalam tim kerja, yang saling
menghargai dan menghormati pendapat, kreativitas, inisiatif dan
inovasi untuk selalu meningkatkan kualitas.
3. Nilai Tambah
Pendayagunaan sumber sumber kualitas secara efektif dan efisien
akan memberikan nilai tambah atau keistimewaan tambahan sebagai
pelengkap dalam melaksanakan tugas pokok dan hasil yang dicapai
oleh organisasi. Nilai tambah ini secara kongkrit terlihat pada rasa
puas dan berkurang atau hilangnya keluhan pihak yang dilayani
(siswa).
4. Kesesuaian dengan Spesifikasi

16

Pendayagunaan sumber sumber kualitas secara efektif dan efisien


bermanifestasi pada kemampuan personil untuk menyesuaikan proses
pelaksanaan pekerjaan dan hasilnya dengan karakteristik operasional
dan standar hasilnya berdasarkan ukuran kualitas yang disepakati.
5. Kualitas Pelayanan dan Daya Tahan Hasil Pembangunan
Dampak lain yang dapat diamati dari pendayagunaan sumber
sumber kualitas yang efektif dan efisien terlihat pada peningkatan
kualitas dalam melaksanakan tugas pelayanan kepada siswa.
6. Persepsi Masyarakat
Pendayagunaan sumber sumber kualitas yang sukses di lingkungan
organisasi pendidikan dapat diketahui dari persepsi masyarakat (brand
image) dalam bentuk citra dan reputasi yang positip mengenai kualitas
lulusan baik yang terserap oleh lembaga pendidikan yang lebih tinggi
ataupun oleh dunia kerja.
Secara singkat dapat digambarkan diagram komitmen kualitas dalam
Manajemen Mutu Terpadu adalah sebagai berikut :

TQM

KOMITMEN PADA KUALITAS

SUMBER SUMBER
KUALITAS

PERBAIKAN KUALITAS
SECARA BERKELANJUTAN

FUNGSI FUNGSI MANAJEMEN :


PERENCANAAN, PENGORGANISASIAN, PELAKSANAAN, PENGANGGARAN,
KONTROL
PELAKSANAAN PEKERJAAN
SECARA BERKUALITAS
17
HASIL :
PELAYANAN UMUM DAN
PEMBANGUNAN FISIK/NON FISIK

Gambar 1.3 Komitmen Kualitas dalam TQM


9. Manajemen Mutu Terpadu di Sekolah
Manajemen peningkatan mutu sekolah adalah suatu metode peningkatan
mutu yang bertumpu pada sekolah itu sendiri, mengaplikasikan sekumpulan
teknik, mendasarkan pada ketersediaan data kuantitatif & kualitatif, dan
pemberdayaan semua komponen sekolah untuk secara berkesinambungan
meningkatkan kapasitas dan kemampuan organisasi sekolah. Komponen
yang terkait dengan mutu pendidikan yang termuat dalam buku Panduan
Manajemen Sekolah (2000: 191) yaitu:
siswa : kesiapan dan motivasi belajarnya,
guru : kemampuan profesional, moral kerjanya (kemampuan

personal), dan kerjasamanya (kemampuan sosial).


kurikulum : relevansi konten dan operasionalisasi

pembelajarannya,
sarana dan prasarana : kecukupan dan keefektifan dalam mendukung

proses pembelajaran,
Masyarakat (orang tua, pengguna lulusan, dan perguruan tinggi)

proses

partisipasinya dalam pengembangan program-program pendidikan


sekolah.
Penyusunan program

peningkatan

mutu

dapat

dilakukan

dengan

mengaplikasikan empat teknik. Berdasarkan Panduan Manajemen Sekolah


(2000:200-202) dijelaskan sebagai berikut:
1. School review
Suatu proses dimana seluruh komponen sekolah bekerja sama
khususnya dengan orang tua dan tenaga profesional (ahli) untuk

18

mengevaluasi dan menilai efektivitas sekolah, serta mutu lulusan.


School review dilakukan untuk menjawab pertanyaan berikut:
a) Apakah yang dicapai sekolah sudah sesuai dengan harapan
orang tua siswa dan siswa sendiri?
b) Bagaimana prestasi siswa?
c) Faktor apakah yang menghambat upaya untuk meningkatkan
mutu?
d) Apakah faktor-faktor pendukung yang dimiliki sekolah?
2. Benchmarking
Suatu kegiatan untuk menetapkan standar dan target yang akan
dicapai dalam suatu periode tertentu. Benchmarking dapat
diaplikasikan untuk individu, kelompok ataupun lembaga.
Tiga pertanyaan mendasar yang akan dijawab oleh benchmarking
adalah :
a)
Seberapa baik kondisi kita?
b)
Harus menjadi seberapa baik?
c)
Bagaimana cara untuk mencapai yang baik tersebut?
Langkah-langkah yang dilaksanakan adalah :
a) Tentukan fokus
b) Tentukan aspek/variabel atau indikator
c) Tentukan standar
d) Tentukan gap (kesenjangan) yang terjadi.
e)
Bandingkan standar dengan kita
f)
Rencanakan target untuk mencapai standar
g)
Rumuskan cara-cara program untuk mencapai target
3. Quality assurance
Suatu teknik untuk menentukan bahwa proses pendidikan telah
berlangsung sebagaimana seharusnya. Dengan teknik ini akan dapat
dideteksi adanya penyimpangan yang terjadi pada proses. Teknik
menekankan

pada

monitoring

yang

berkesinambungan,

dan

melembaga, menjadi subsistem sekolah.


Quality assurance akan menghasilkan informasi, yang :
a) Merupakan umpan balik bagi sekolah
b) Memberikan jaminan bagi orang tua siswa bahwa sekolah
senantiasa memberikan pelayanan terbaik bagi siswa.
Untuk melaksanakan quality assurance menurut maka sekolah
harus:
a) Menekankan pada kualitas hasil belajar
b) Hasil kerja siswa dimonitor secara terus menerus

19

c) Informasi dan data dari sekolah dikumpulkan dan dianalisis


untuk memperbaiki proses di sekolah.
d) Semua pihak mulai kepala sekolah,

guru,

pegawai

administrasi, dan juga orang tua siswa harus memiliki


komitmen untuk secara bersama mengevaluasi kondisi
sekolah yang kritis dan berupaya untuk memperbaiki.
4. Quality control
Suatu sistem untuk mendeteksi terjadinya penyimpangan kualitas
output yang

tidak sesuai dengan standar. Quality control

memerlukan indikator kualitas yang jelas dan pasti, sehingga dapat


ditentukan penyimpangan kualitas yang terjadi.
10. Masalah Penerapan Manajemen Mutu Terpadu
Dijelaskan oleh Hanafiah, bahwa masalah dalam penerapan menejemen
mutu terpadu adalah
1. Sikap mental para pengelola pendidikan, baik yang memimpin
maupun yang dipimpin. Yang dipimpin bergerak karena perintah
atasan, bukan karena rasa tanggung jawab. Yang memimpin
sebaliknya, tidak memberi kepercayaan, tidak memberi kebebasan
berinisiatif, mendelegasikan wewenang.
2. Tidak adanya tindak lanjut dari evaluasi program. Hampir semua
program dimonitor dan dievaluasi dengan baik, Namun tindak
lanjutnya tidak dilaksanakan. Akibatnya pelaksanaan pendidikan
selanjutnya tidak ditandai oleh peningkatan mutu.
3. Gaya kepemimpinan yang tidak mendukung. Pada umumnya
pimpinan tidak menunjukkan pengakuan dan penghargaan terhadap
keberhasilan kerja stafnya. Hal ini menyebabkan staf bekerja tanpa
motivasi.
4. Kurangnya rasa memiliki pada para pelaksana pendidikan.
Perencanaan strategis yang kurang dipahami para pelaksana, dan
komunikasi dialogis yang kurang terbuka. Prinsip melakukan sesuatu
secara benar dari awal belum membudaya. Pelaksanaan pada
umumnya akan membantu sustu kegiatan, kalau sudah ada masalah
yang timbul. Hal inipun merupakan kendala yang cukup besar dalam
20

peningkatan dan pengendalian mutu. (M. Jusuf Hanafiah dkk,


1994:8).
11. Analisis Masalah dan Pemecahan Masalah
Sikap mental bawahan yang bekerja bukan atas tanggung jawab, tetapi
hanya karena diperintah atasan akan membuat pekerjaan yang dilaksanakan
hasilnya tidak optimal. Guru hanya bekerja berdasarkan petunjuk dari atas,
sehingga guru tidak bisa berinisitiaf sendiri. Sementara itu pimpinan sendiri
punya sikap mental yang negatif dimana ia tidak bisa memberikan
kesempatan bagi bawahan untuk berkarir dengan baik, bawahan harus
mengikuti pada petunjuk atasan, bawahan yang selalu dicurigai, bawahan
yang tidak bisa bekerja sesuai dengan caranya. Kenyatan ini karena profil
kepala sekolah yang belum menampilkan gaya entrepeneur dan gaya
memimpin situasional.
Program peningkatan mutu pendidikan tidak akan jalan jika setelah
diadakannya monitoring dan evaluasi tanpa ditindaklanjuti. Fungsi
pengawasan (controlling) dalam manajemen berguna untuk membuat agar
jalannya pelaksanaan manajemen mutu sesuai dengan rencana yang telah
ditentukan sebelumnya. Pengawasan bertujuan untuk menilai kelebihan dan
kekurangan. Apa-apa yang salah dintinjau ulang dan segera diperbaiki.
Agar program
dapat dimonitor dan ditindaklanjuti maka perlu
melibatkan semua pihak untuk berpartisipasi dalam pengambilan keputusan.
Pengambilan keputusan partisipatif ialah suatu cara pengambilan keputusan
yang terbuka dan demokratis yang melibatkan

seluruh stakeholders di

dewan sekolah. Gaya kepemimpinan yang tidak mendukung, akan


mengakibatkan gagalnya pelaksanaan manajemen peningkatan mutu.
Kepala sekolah harus senantiasa memahami sekolah sebagai suatu sistem
organik. Untuk itu kepala sekolah harus lebih berperan sebagai pemimpin
dibandingkan sebagai manager. Sebagai leader maka kepala sekolah harus :
1. Lebih banyak mengarahkan daripada mendorong atau memaksa
2. Lebih bersandar pada kerjasama dalam menjalankan tugas
dibandingkan bersandar pada kekuasaan atau SK.
3. Senantiasa menanamkan kepercayaan pada diri guru dan staf
administrasi. bukannya menciptakan rasa takut.
21

4. Senantiasa menunjukkan bagaimana cara melakukan sesuatu


daripada menunjukkan bahwa ia tahu sesuatu.
5. Senantiasa
mengembangkan
suasana
antusias

bukannya

mengembangkan suasana yang menjemukan


6. Senantiasa memperbaiki kesalahan yang ada daripada menyalahkan
kesalahan pada seseorang, bekerja dengan penuh ketangguhan
bukannya ogah-ogahan karena serba kekurangan (Boediono,1998).
Dalam MMT (Manajemen Mutu Terpadu) keberhasilan sekolah
diukur dari tingkat kepuasan pelanggan, baik internal maupun eksternal.
Sekolah dikatakan berhasil jika mampu memberikan pelayanan sama atau
melebihi harapan pelanggan. Dilihat jenis pelanggannya, maka sekolah
dikatakan berhasil jika :
a) Siswa puas dengan layanan sekolah, antara lain puas dengan
pelajaran yang diterima, puas dengan perlakuan oleh guru maupun
pimpinan, puas dengan fasilitas yang disediakan sekolah. Pendek
kata, siswa menikmati situasi sekolah.
b) Orang tua siswa puas dengan layanan terhadap anaknya maupun
layanan kepada orang tua, misalnya puas karena menerima laporan
periodik tentang perkembangan siswa maupun program-program
sekolah.
c) Pihak pemakai/penerima lulusan (perguruan tinggi, industri,
masyarakat) puas karena menerima lulusan dengan kualitas sesuai
harapan
d) Guru dan karyawan puas dengan pelayanan sekolah, misalnya
pembagian

kerja,

hubungan

antarguru/karyawan/pimpinan,

gaji/honorarium, dan sebagainya. (Panduan Manajemen Sekolah,


2000:193).
12. Strategi Manajemen Mutu Terpadu
Berhasil atau gagalnya pencapaian tujuan pendidikan merupakan
tanggung jawab kita bersama. Konsep pemberian tanggung jawab
pendidikan pada pemerintah, orang tua, dan masyarakat merupakan
konsep terpadu berdasarkan prinsip gotong-royong yang diakui sebagai
tradisi kehidupan budaya masyarakat kita. Gotong-royong menuntut
tiadanya penonjolan otoritas kekuasaan, sekaligus merupakan cerminan
22

dari demokrasi yang sedang dan terus kita kembangkan. Selama ini iklim
dalam lembaga pendidikan kita belum mendukung budaya demokratis itu.
Kekuasaan masih sangat menonjol dalam dunia pendidikan kita. Keadaan
ini harus diperbaiki dengan penerapan manajemen pendidikan yang lebih
mengedepankan prinsip demokrasi.
Pendidikan demokratis seharusnya

mengembangkan

warga

masyarakat yang mudah memimpin tetapi sulit untuk memaksa. Dalam


masyarakat demokratis, pendidikan menyajikan kebenaran dan nilai tetapi
dalam bentuk yang terbuka atas pemikiran kritis. Guru yang demokratis
menghargai tradisi bangsanya tetapi memiliki pandangan yang kritis
dengan menyajikannya sebagai subjek modifikasi dan pengembangan,
bukan terkungkung oleh berbagai otoritas dan rasa tidak aman.
Lembaga pendidikan tidak mungkin menjadi tumpuan harapan
untuk merintis bagi tumbuh-berkembangnya sikap demokratis yang
memiliki fungsi korektif, sikap kritis dan kreatif tanpa diberikan
kepercayaan

dan

kebebasan.

Memperhatikan

berbagai

kelemahan

pendidikan kita selama ini seperti diuraikan di bagian depan dan


mengantisipasi perkembanganm global, maka tugas pokok lembaga
pendidikan adalah melakukan pembaruan dalam pendidikan khususnya
lagi dalam manajemen pendidikan yang lebih prospektif dan antisipatif.
Mengingat bahwa sebagai sebuah institusi pendidikan kinerjanya sangat
ditentukan oleh model manajemen yang digunakan dalam memproses
semua sumber daya yang ada bagi keberhasilandan mutu penampilan
organisasi.
13. Tanggapan Penulis
Total Quality Management (TQM) atau Manajemen Mutu Terpadu dalam
bidang pendidikan tujuan akhirnya adalah meningkatkan kualitas, daya
saing bagi output (lulusan) dengan indikator adanya kompetensi baik
intelektual maupun skill serta kompetensi sosial siswa/lulusan yang tinggi.
Dalam mencapai hasil tersebut, implementasi TQM di dalam organisasi
pendidikan (sekolah) perlu dilakukan dengan sebenar-benarnya. Dengan
memanfaatkan semua entitas kualitas yang ada dalam organisasi maka
23

pendidikan kita tidak akan jalan di tempat seperti saat ini. Implementasi
TQM di organisasi Pendidikan khususnya negeri memang tidak mudah.
Adanya hambatan dalam budaya kerja, unjuk kerja dari guru dan karyawan
sangat mempengaruhi. Tidak perlu dipungkiri bahwa budaya kerja, unjuk
kerja dan disiplin pegawai negeri sipil di negara kita ini sangat rendah. Ini
sangat mempengaruhi efektifitas implementasi TQM.
Menurut penulis, yang paling pertama diperbaiki adalah budaya kerja,
unjuk kerja dan disiplin dari pelaksana sekolah (guru, karyawan dan kepala
sekolah). Pelaksana sekolah selalu bersemangat untuk maju, bersemangat
terus untuk menambah kemampuan dan ketrampilannya yang pada akhirnya
akan meningkatkan unjuk kerja mereka di hadapan siswa. Apabila semua
pelaksana sekolah sudah mempunyai budaya kerja, unjuk kerja dan disiplin
yang tinggi, maka implementasi TQM dapat secara nyata berjalan dan akan
menjadikan organisasi pendidikan (sekolah) akan semakin maju, eksis,
memiliki brand image yang semakin tinggi dan pada akhirnya dapat
menciptakan kader kader bangsa yang berkualitas dan dapat disejajarkan
dengan bangsa lain.
Rendahnya budaya kerja, unjuk kerja dan disiplin kerja pelaksana
seokolah (PNS) memang sangat dipengaruhi oleh sistem penghargaan
negara (gaji) yang rendah terhadap PNS. Ini menyebabkan tidak sedikit
kewajiban di organisasi pendidikan khususnya menjadi sambilan bagi
PNS dan justru yang utama berada di kegiatan luar organisasi karena adanya
tuntutan ekonomi yang semakin berat.

24

BAB III
PENUTUP
A. Simpulan
Menurut Hadari Nawari (2005:46) Manajemen Mutu Terpadu adalah
manejemen fungsional dengan pendekatan yang secara terus menerus
difokuskan pada peningkatan kualitas, agar produknya sesuai dengan standar
kualitas dari masyarakat yang dilayani dalam pelaksanaan tugas pelayanan
umum

(public

service)

dan

pembangunan

masyarakat

(community

development).
Konsep Total Quality Manajemen (TQM) pertama kali di kemukakan oleh
Nancy Warren, seorang behavioral scientist di United State Navy. Istilah TQM
ini mengandung makna every process, every job, dan every person.
Yang termasuk karakteristik TQM menurut Hadari Nawawi (2005 : 127)
yaitu mengemukakan tentang karakteristik TQM sebagai berikut: Fokus pada
pelanggan. Memiliki opsesi yang tinggi terhadap kualitas. Menggunakan
pendekatan ilmiah dalam pengambilan keputusan dan pemecahan masalah.
Memiliki komitmen jangka panjang.
Dalam ajaran Total Quality Management, lembaga pendidikan (sekolah)
harus menempatkan siswa sebagai klien atau dalam istilah perusahaan
sebagai stakeholdersyang terbesar, sehingga suara siswa harus disertakan
dalam setiap pengambilan keputusan strategis langkah organisasi sekolah.
Tanpa suasana yang demokratis, manajemen tidak mampu menerapkan TQM
dan yang terjadi adalah kualitas pendidikan didominasi oleh pihak-pihak
tertentu yang sering kali memiliki kepentingan yang bersimpangan dengan
hakikat pendidikan.
Penerapan TQM berarti pula adanya kebebasan untuk berpendapat.
Kebebasan berpendapat akan menciptakan iklim yang dialogis antara siswa dan
guru, siswa dan kepala sekolah, serta guru dan kepala sekolah, atau singkatnya,
25

kebebasan berpendapat dan keterbukaan antara seluruh warga sekolah.


Pentafsiran ilmu pengetahuan tidak lagi bersifat one way communication,
melainkan two way communication. Proses dua arah ini merupakan bagian dari
substansi TQM dalam meningkatkan kualitas dilembaga pendidikan.
Total Quality Management (TQM) atau Manajemen Mutu Terpadu dalam
bidang pendidikan tujuan akhirnya adalah meningkatkan kualitas, daya saing
bagi output (lulusan) dengan indikator adanya kompetensi baik intelektual
maupun skill serta kompetensi sosial siswa/lulusan yang tinggi. Dalam
mencapai hasil tersebut, implementasi TQM di dalam organisasi pendidikan
(sekolah) perlu dilakukan dengan sebenar-benarnya.
B. SARAN PENULIS
Sejalan dengan kesimpulan di atas, penulis merumuskan saran sebagai
berikut:
1. Pembaca harus memahami manajemen mutu terpadu pendidikan.
2. Dalam penulisan makalah ini, penulis yakin masih banyak kekurangan
yang belum dapat disempurnakan oleh penulis, oleh karena itu semoga
teman-teman yang membaca dapat menyempurnakan kekurangankekurangan itu.

DAFTAR PUSTAKA
Agus, Endri. (2013). Manajemen Mutu Terpadu dalam Pendidikan. [Online].
Tersedia:http://endriagusnugroho.blogspot.com/2013/11/manaje
men-mutu-terpadu-dalam-pendidikan.html (1 Desember 2014)

26

Amtu, Onisimus. (2011). Manajemen Pendidikan di Era Otonomi Daerah.


Bandung: Alfabeta.
Departemen Pendidikan Nasional. (2001). Manajemen Peningkatan Mutu
Berbasis Sekolah edisi tiga. Jakarta: Proyek Peningkatan Mutu
SLTP Jakarta.
Fattah, Prof. Dr. Nanang. (2012). Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan. Bandung:
PT Remaja Rosdakarya.
Hadis, Prof. Dr. H. Abdul. (2010). Manajemen Mutu Pendidikan. Bandung:
Alfabeta.
Makawimbang, Jerry H. (2011). Supervisi dan Peningkatan Mutu Pendidikan.
Bandung: Alfabeta.
Mundir. (2012). Konsep Manajemen Mutu Terpadu Vol 2 No.1. [online]. Tersedia:
http://jurnaljp3.files.wordpress.com/2013/09/mundir1.pdf

(1

Desember 2014)
Nawawi, Hadari. (2005); Manajemen Strategik. Yogyakarta: Gadjah Mada Pers
Suharsaputra, Dr. Uhar. (2011). Administrasi Pendidikan. Jogjakarta: Aditama.
Sallis, Edward. 1993. Total Quality Management in Education. Diterjemahkan ke
dalam Bahasa Indonesia oleh Ahmad Ali Riyadi dan Fahrurrozi,
November 2010 dengan judul Manajemen Mutu Terpadu
Pendidikan. Yogyakarta: IRCiSoD
Tim Dosen Administrasi Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia. (2011).
Manajemen Pendidikan. Bandung: Alfabeta.
Tjiptono, Fandi dan Anastasia Diana. (1998). Total Quality Management (TQM),
Yogyakarta: Andi Offset
Umiarso & Gojali, Imam. (2011). Manajemen Mutu Sekolah di Era Otonomi
Pendidikan cetakan ke dua. Jogjakarta: IRCiSoD

27