Anda di halaman 1dari 24

BAB I

PENDAHULUAN

Transfusi darah merupakan salah satu bagian penting dari pelayanan


kesehatan, bila digunakan dengan benar, transfusi dapat menyelamatkan jiwa
pasien dan meningkatkan derajat kesehatan. World Health Organization (WHO)
dalam Global Database on Blood Safety melaporkan bahwa 20% populasi dunia
berada di negara maju dan sebanyak 80% telah memakai darah donor yang aman,
sedangkan 80% populasi dunia yang berada di negara berkembang hanya 20%
memakai darah donor yang aman, keputusan melakukan transfusi harus selalu
berdasarkan penilaian yang tepat dari segi klinis penyakit dan hasil pemeriksaan
laboratorium. Indikasi tepat transfusi darah dan komponen darah adalah untuk
mengatasi kondisi yang menyebabkan morbiditas dan mortalitas bermakna yang
tidak dapat diatasi dengan cara lain.1
Transfusi darah masif adalah transfusi darah sebanyak lebih dari 1-2 kali
volum darah dalam waktu lebih dari 24 jam, atau lebih besar dari 50% volume
darah dalam waktu singkat (misalnya, 5 unit dalam 1 jam untuk pasien dengan
berat 70kg). Ada juga yang mendefinisikan transfusi darah masif pada pediatri
adalah transfusi komponen darah setara dengan satu atau lebih volume darah
dalam 24 jam atau separuh volume darah dalam 12 jam.2,3
Morbiditas dan mortalitas cenderung meningkat pada beberapa pasien,
bukan disebabkan oleh banyaknya volume darah yang ditransfusikan, tetapi
karena trauma awal, kerusakan jaringan dan organ akibat perdarahan dan
hipovolemia. Seringkali penyebab dasar dan risiko akibat perdarahan mayor yang
menyebabkan komplikasi, dibandingkan dengan transfusi itu sendiri. Namun,
transfusi masif juga dapat meningkatkan risiko komplikasi.1,3

Keputusan melakukan transfusi harus selalu berdasarkan penilaian yang


tepat dari segi klinis penyakit dan hasil pemeriksaan laboratorium. Transfusi dapat
mengakibatkan penyulit akut atau lambat dan membawa risiko transmisi infeksi
antara lain HIV, hepatitis, sifilis dan risiko supresi sistem imun tubuh.1
WHO telah mengembangkan strategi untuk transfusi darah yang aman
dan meminimalkan risiko tranfusi. Strategi tersebut terdiri dari: 1. pelayanan
transfusi darah yang terkoordinasi secara nasional. 2. pengumpulan darah hanya
dari donor sukarela dari populasi risiko rendah. 3. pelaksanaan skrining terhadap
semua darah donor dari penyebab infeksi, antara lain HIV, virus hepatitis, sifilis
dan lainnya. 4. pelayanan laboratorium yang baik di semua aspek, termasuk
golongan darah, uji kompatibilitas, persiapan komponen, penyimpanan dan
transportasi darah/komponen darah; mengsurangi transfusi darah yang tidak perlu
dengan penentuan indikasi transfusi darah dan komponen darah yang tepat, dan
indikasi cara alternatif transfusi.1,2

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Komponen Darah


Darah tersusun atas korpuskuli (45%) dan cairan kekuningan bernama
plasma darah (55%). Korpuskuli (Gambar 1.) terdiri atas eritrosit atau sel darah
(99%), lekosit atau sel darah putih (0,2%) dan trombosit atau platelet atau kepingkeping darah (0,61,0%). Sedangkan plasma darah tersusun atas solven (pelarut)
berupa H2O atau air (91,5%) dan solut (zat terlarut) yang terdiri atas protein (7%)
dan bahan lain (1,5%).4,5

Gambar 1. Sel-sel Darah

1. Eritrosit
Eritrosit (gambar 2) memiliki bentuk bulat pipih dengan cekungan di kedua
permukaannya (bikonkaf). Eritrosit memiliki diameter 78 Pm dengan tebal 12
Pm. Jumlah eritrosit dalam setiap milimeter kubik darah adalah 56 juta eritrosit.
Hal ini berarti, pada tubuh manusia, terdapat sekitar 30 miliar eritrosit. Jumlah
eritrosit di dalam tubuh manusia bervariasi, sesuai dengan jenis kelamin, usia, dan
ketinggian tempat orang tersebut tinggal. 4,5
Sel darah merah (eritrosit) berfungsi mengangkut atau mengedarkan oksigen
dan karbon dioksida. Kemampuan mengikat oksigen dan karbondioksida oleh sel
darah merah adalah karena adanya hemoglobin. Hemoglobin (gambar 3) adalah
suatu protein yang memiliki daya ikat kuat terhadap O2 dan CO2. 4,5

Gambar 2. Eritrosit (sel darah merah)

Gambar 3. Struktur hemoglobin

2. Leukosit
Leukosit memiliki nukleus namun tak memiliki hemoglobin. Rentang hidup
leukosit adalah beberapa jam hingga beberapa hari. Leukosit bersifat amuboid
atau tidak memiliki bentuk yang tetap. Orang yang kelebihan leukosit menderita
penyakit leukimia, sedangkan orang yang kekurangan leukosit menderita penyakit
leukopenia. Jumlah lekosit adalah 4.000-11.000. 4,5
Leukosit digolongkan menjadi dua yaitu granulosit dan agranulosit. Ciri dari
granulosit atau lekosit granuler adalah memiliki granula pada sitoplasma. Ada 3
macam granulosit, yaitu netrofil atau polimorf (10-12 m), eosinofil (10-12 m)
dan basofil (8-10 m). Ciri dari agranulosit adalah tidak memiliki granula pada
4

sitoplasma. Ada 2 macam agranulosit yaitu limfosit (7-15 m) dan monosit (14-19
m). Leukosit bertanggung jawab terhadap sistem imun tubuh dan bertugas untuk
memusnahkan benda-benda yang dianggap asing dan berbahaya oleh tubuh, misal
virus atau bakteri. Secara rinci, fungsi dari masing-masing jenis lekosit adalah:
1.

Netrofil berfungsi melakukan fagositosis (melahap agen penyerang,


misalnya bakteri)

2.

Eosinofil berfungsi menyerang allergen

3.

Basofil berfungsi menyerang allergen

4.

Limfosit berfungsi menghasilkan antibodi untuk melawan antigen

5.

Monosit berfungsi melakukan fagositosis.4,5

Gambar 4. Struktur berbagai jenis leukosit

3. Trombosit

Selain eritrosit dan trombosit terdapat sel darah matur lainnya yaitu
megakariosit. Megakariosit adalah sel dengan sitoplasma tersusun atas fragmenfragmen. Setiap fragmen yang dibatasi oleh membran sel dinamakan trombosit.
Diameter trombosit adalah (2-4 m). Trombosit berjumlah 200.000-500.000. 4,5
Peran dari trombosit adalah dalam proses koagulasi darah yaitu dengan cara
mengubah fibrinogen menjadi fibrin. Fibrin membuat jala pada sel-sel darah dan
koagulan, yang kemudian menghentikan darah yang keluar dan juga membantu
mencegah masuknya bakteri. 4,5
4. Plasma Darah
Plasma darah adalah cairan berwarna kuning jernih terdiri atas solven berupa
H2O, dengan proporsi 91,5% dan solut dengan proporsi 8,5% terutama protein
(7%) dan solut lainnya (1,5%). Keseluruhan solut protein dinamakan protein
plasma, khususnya albumin yang menempati 55% dari protein plasma, selebihnya
adalah globulin (38%) dan fibrinogen (7%).

4,5

Komposisi yang terdapat pada

plasma darah dapat dilihat pada tabel 1.


Tabel 1. Komposisi plasma darah
KONSTITUEN
SOLVEN: AIR

DESKRIPSI
90% air diperoleh dari absorpsi melalui saluran pencernaan,
10% dari respirasi seluler. Air berperan sebagai pelarut,
mengikat bahan padat dan menyerap panas.

SOLUT:
PROTEIN
- Albumin

Berfungsi mempertahankan dan mengatur tekanan darah


serta memelihara tekanan osmotik cairan sehingga terjadi
keseimbangan antara cairan di dalam dan di luar pembuluh

- Globulin

darah.

- Fibrinogen

Berupa imunoglobulin yang disebut antibodi


Berperan dalam proses proses koagulasi darah

NITROGEN NON Mengandung nitrogen tetapi bukan protein, misalnya urea,


PROTEIN

asam urat, kreatin, kreatinin dan garam amonium. Bahanbahan ini adalah sisa metabolisme protein yang akan
diekskresikan

BAHAN

Merupakan hasil pencernaan yang dimasukkan ke dalam

MAKANAN

pembuluh darah untuk didistribusikan ke sel-sel, di


antaranya

asam

amino

dari

protein,

glukosa

dari

karbohidrat, asam lemak, gliserol dan gliserida dari lipid


BAHAN

Berupa enzim untuk katalisator reaksi-reaksi kimia serta

REGULATOR

hormon yang mengatur pertumbuhan dan perkembangan

GAS-GAS

Dalam plasma, gas oksigen dan karbondioksida dalam porsi

PERNAFASAN

lebih sedikit, karena sebagian besar diangkut oleh


hemoglobin eritrosit

ELEKTROLIT

Yang tergolong elektrolit antara lain kation (ion positif)


yaitu Na+, K+, Ca2+ dan Mg2+ dan anion yaitu Cl-, PO43-,
SO42- dan HCO3-. Bahan ini membantu mempertahankan
tekanan osmotik, pH normal dan keseimbangan cairan.

2.2.

Transfusi Darah Masif pada Anak

Transfusi darah adalah suatu rangkaian proses pemindahan darah donor ke


dalam sirkulasi darah resipien sebagai upaya pengobatan sedangkan transfusi
7

darah masif memiliki definisi yang berbeda-beda karena ditentukan berdasarkan


pola penggunaan darah pada suatu rumah sakit. Perdarahan masif sendiri diartikan
sebagai perdarahan lebih dari sepertiga volum darah dalam waktu < 30 menit.2
Transfusi darah masif adalah transfusi darah sebanyak lebih dari 1-2 kali
volum darah dalam waktu lebih dari 24 jam, atau lebih besar dari 50% volum
darah dalam waktu singkat (misalnya, 5 unit dalam 1 jam untuk pasien dengan
berat 70kg).2 Ada juga yang mendefinisikan transfusi darah masif pada pediatri
adalah transfusi komponen darah setara dengan satu atau lebih volume darah
dalam 24 jam atau separuh volume darah dalam 12 jam. 3 Secara umum faktor
konversi volume darah yang digunakan dapat dilihat pada tabel 2.
Tabel 2. Volume Darah Berdasarkan Usia

Tujuan transfusi darah adalah: (1) mengembalikan dan mempertahankan


volume yang normal peredaran darah, (2) mengganti kekurangan komponen
seluler atau kimia darah, (3) meningkatkan oksigenasi jaringan, (4) memperbaiki
fungsi homeostasis, (5)tindakan terapi khusus.8

2.3.
Indikasi dan Prosedur Tranfusi Darah
Secara garis besar Indikasi Tranfusi darah adalah :
Untuk mengembalikan dan mempertahankan suatu volume peredaran darah
yang normal, misalnya pada anemia karena perdarahan, trauma bedah, atau
luka bakar luas.
8

Untuk mengganti kekurangan komponen seluler atau kimia darah, misalnya


pada anemia, trombositopenia, hipotrombinemia, dan lain-lain.
Kehilangan darah (tabel 2) sampai sekitar 20% EBV (Estimated Blood

Volume), akan menimbulkan gejala hipotensi, takikardi dan penurunan tekanan


vena sentral.8
Tabel 3. Derajat Kehilangan Darah
Gejala Klinis

Kompensasi

Dekompensasi

Irreversibel

Kehilangan Darah %

25%

25-40%

>40%

Frekuensi Jantung

Takikardia +

Takikardia ++

Takikardia/Bradikardi

Volume Nadi

Normal/Menurun

Menurun +

Menurun ++

Pengisian Kapiler

Normal/Meningkat Meningkat +

Meningkat --

Kulit

Dingin, pucat

Dingin, mottled

Pucat mati

RR

Takipnue +

Takipnue ++

Sighing respiration

Tingkat Kesadaran

Agitasi ringan

Berkooperasi

Bereaksi hanya pada


rasa sakit atau tidak
responsive

Prosedur pelaksanaan tranfusi darah:


Banyak laporan mengenai kesalahan tatalaksana tranfusi, misalnya
kesalahan pemberian darah milik pasien lain. Untuk menghindari berbagai
kesalahan, maka perlu diperhatikan :
1.
Identitas pasien harus dicocokan secara lisan maupun tulisan
2.
Identitas dan jumlah darah dalam kemasan dicocokkan dengan formulir
3.

4.

permintaan darah
Tekanan darah, frekuensi denyut jantung dan suhu harus diperiksa
sebelumnya, serta diulang secra rutin.
Observasi ketat, terutama pada 15menit pertama setelah tranfusi darah
dimulai. Sebaiknya 1unit darah diberikan dalam waktu 1-2 jam tergantung
9

status kardiovaskuler dan dianjurkan tidak lebih dari 4 jam mengingat


kemungkinan proliferasi bakteri pada suhu kamar.8.9

2.4. Sediaan Darah Untuk Transfusi


Sediaan darah untuk transfusi ada bermacam-macam sesuai dengan
kandungan komponen darahnya. Komponen darah dalam sediaan transfusi antara
lain sel darah merah, trombosit/platelet, produk plasma, cyroprecipitate, faktor
koagulasi, dan albumin. Komponen darah biasanya disesuaikan dengan kebutuhan
pasien dan pasien pediatri memiliki keperluan komponen darah yang unik dan
berbeda dari pasien dewasa.
1. Darah lengkap/whole blood (WB)
Jenis sediaan darah ini merupakan sediaan yang sering digunakan pada
transfusi perdarahan masif, misalnya pada perdarahan akut, syok hipovolemik,
dan bedah mayor dengan perdarahan > 1500ml.1 Pada pediatri, WB biasanya
digunakan untuk neonatus yang akan menjalani operasi kardiovaskular. Selain itu
juga biasa digunakan untuk bayi prematur karena memiliki hemoglobin fetal
dalam persentase yang tinggi.5
Satu unit darah lengkap (500ml) mengandung sel darah merah/red blood
cell (RBC), plasma, faktor pembekuan, platelet, sel darah putih/white blood cell
(WBC).5 Transfusi WB berfungsi untuk menjaga oksigensasi jaringan yang
adekuat karena memiliki kapasitas pembawa oksigen paling besar. Selain itu WB
dapat menaikkan kadar Hb resipien sebesar 1gr%.6,7

Whole Blood : 6 x Hb x BB
Ket:
Hb
BB

: Target Hb Hb pasien
: Berat badan

10

2. Packed Red Blood Cell (PRC) dan washed PRC


PRC merupakan produk hasil dari WB yang diproses dengan cara
sentrifugasi atau dengan teknik apheresis untuk pemisahan plasma sehingga
volume hematokritnya mencapai 70-80%. Sediaan ini digunakan pada perdarahan
lambat, anemia, atau pada kelainan jantung. Untuk menaikkan Hb sebesar 1gr/dl
diperlukan PRC 4ml/kg atau 1 unit dapat menaikkan kadar Ht sebesar 3-5%.7,8
Pilihan produk eritrosit untuk anak dan remaja adalah suspensi standar
yang dipisahkan dari darah lengkap dengan pemusingan dan disimpan
dalam anti koagulan pada nilai hematokrit kira-kira 60 %. Dosis biasanya
adalah 10-15 ml/ kg berat badan. Untuk neonatus produk pilihan adalah
konsentrat PRC ( hematokrit 70-90 %) yang ditransfusikan perlahan-lahan
(2-4 jam) dengan dosis 15 ml/kg berat badan. Sedangkan menurut hasil
penelitian Rascher,1991 bahwa pemberian transfusi PRC dengan kecepatan 3
m1/kg/jam tidak menyebabkan beban volume akut. 10 Satu unit PRC dapat
menaikkan PCV 3-4 % atau Hb 1 g/dL. Sedangkan Miller menetapkan
formula: 4
A= Hb tubuh : Blood Volume (70 ml/kgBB) x Hb(g/dL)
B= Hb post transfusion : Blood volume (70 ml/kgBB)x desired (g/dL)
C= Defisit Hb (gram) = B-A
D= Volume darah transfusi (misalnya PRC) dalam ml : (B-A) g / 23
Asumsi bahwa 1 ml PRC mempunyai hematokrit 70 % yang berisi 0,23 g HB
dan 100 ml (1 dL) berisi 23 g Hb.

Karena transfusi diberikan pada nilai hematokrit tinggi maka


kecepatan transfusi harus rendah, dan jenis antikoagulan yang dipakai
adalah yang diyakini paling aman. Darah dari donor yang ditambahkan anti
koagulan AS-3 tidak menunjukkan reaksi transfusi yang nyata dan pada
pemeriksaan post tranfusi didapatkan nilai hematokrit, pH, natrium, kalium,
kalsium, laktat dan glukosa menunjukkan hasil yang lebih baik bila
11

dibandingkan pemakaian antikoagulan ACPD. 4

PRC: 3 x Hb x BB

3. Plasma

Ket:
Hb
BB

: Target Hb Hb pasien
: Berat badan

Plasma mengandung protein, koloid, nutrien, kristaloid, hormon, dan


vitamin. Protein plasma yang paling banyak adalah albumin. Salah satu protein
plasma lainnya adalah faktor koagulasi, seperti fibrinogen, faktor von Willebrand,
faktor VIII, dan faktor X. Satu unit FFP diperoleh dari mengendapkan darah
lengkap selama 72 jam. Tujuan utama transfusi sediaan FFP adalah untuk
mengatasi defisiensi faktor koagulasi misalnya pada DIC (disseminated
intravascular coagulation), selain itu juga diberikan setelah transfusi darah masif,
setelah terapi warfarin dan koagulopati pada penyakit hepar (tabel 4).7
Tujuan dari pemberian transfusi plasma ialah mempertahankan
keseimbangan sistem hemostatik dan yang juga penting ialah mengetahui
kadar minimal faktor tersebut yang dapat mencapai kadar hemostatik.
Misalnya untuk mengontrol perdarahan sendi pada hemofilia A diperlukan
kadar F VIII plasma 30-40 U per dL.

4,6

Fresh frozen plasma FFP atau (Plasma beku segar)


Komponen plasma yang dipisahkan dari komponen darah. Plasma beku
segar ditransfusikan untuk menggantikan kekurangan protein plasma yang nyata
secara klinis, yang untuk itu tidak terdapat konsentrat yang lebih murni. Transfusi
plasma beku segar digunakan untuk mengatasi perdarahan aktif karena defisiensi
faktor II, V,VII, X, dan XI. Sedangkan defisiensi faktor VIII dan fibrinogen
diterapi dengan kriopresipitat.
Dosis atau kebutuhan akan plasma beku segar bervariasi menurut faktor
spesifik yang akan diganti seperti terlihat pada tabel 5. Transfusi plasma segar

12

tidak lagi dianjurkan untuk terapi penderita dengan hemofilia A dan B yang berat,
karena tersedia konsentrat faktor VIII dan IX yang lebih aman.4,5,6

FFP : 10 x Hb x BB

Ket:
Hb : Target Hb Hb pasien
Tabel
BB4. Karakteristik
: Berat badanFaktor-Faktor Koagulasi
Kadar
Faktor

hemostatik

Peningkatan kadar
dalam plasma (dengan Waktu paruh

minimal

dosis 1 U/kg)

Fibrinogen (I)

75 150 mg/dL

(*)

45

hari

Protrombin (II)

15 40

U/dL

1.0 U/dL

hari

FV

10 25

U/dL

1.5 U/dL

1236

jam

F VII

5 10

U/dL

1.0 U/dL

46

jam

F VIII

30 50

U/dL

2.0 U/dL

12 15 jam

P IX

20 0

U/dL

1.0 U/dL

18 30 jam

F X

10- 20

U/dL

1.0 U/dL

1,5 2 jam

F XI

10 30

U/dL

2.0 U/dL

13

F XIII

15

U/dL

1-3 U/dL

3 10 hari

30 50

U/dL

2.0 U/dL

hari

F von
Willebrand

12

5
jam

(*) Khusus Fibrinogen, 10-20 ml dapat menaikkan kadar fibrinogen


plasma 50-11 mg/dL . Dikutip dari Cable, 1981.

13

4. Trombosit
Pemberian transfusi trombosit diindikasikan untuk mencegah resiko
pendarahan akibat trombositopenia. Pedoman untuk dukungan trombosit
pada anak, remaja dan bayi dapat dilihat pada tabel 3. Transfusi trombosit
harus diberikan pada penderita dengan trombosit di bawah 50. 000 /ml, jika
ada perdarahan atau direncanakan untuk mengalami prosedur invasif. 4,5
Pemberian transfusi trombosit diindikasikan untuk mencegah resiko
pendarahan akibat trombositopenia. Pedoman untuk dukungan trombosit
pada anak, remaja dan bayi dapat dilihat pada tabel 3. Transfusi trombosit
harus diberikan pada penderita dengan trombosit di bawah 50. 000 /ml, jika
ada perdarahan atau direncanakan untuk mengalami prosedur invasif.
Penelitian pada penderita trombositopenia dengan gagal sumsum tulang
menunjukkan bahwa perdarahan spontan meningkat tajam bila trombosit
turun menjadt < 20.000 /ml. Atas dasar ini banyak dokter anak menganjurkan
transfusi profilaksis untuk mempertahankan trombosit > 20.000 /ml. Pada tabel 5
dipaparkan mengenai pedoman transfusi trombosit pada anak.
Pada kelainan-kelainan kualitatif trombosit misalnya pada penyakit hati
lanjut, insufisiensi ginjal dan setelah operasi pintas kardiopulmonal transfusi
trombosit dibenarkan hanya jika perdarahan nyata terjadi. Pada kasus ini
waktu perdarahan lebih dari 2 kali dari nilai normal mungkin diambil sebagai
bukti diagnostik bahwa telah ada disfungsi trombosit .4,5
Tabel 5. Pedoman Transfusi Trombosit pada Anak
Anak-anak dan Remaja:
Trombosit < 50 x 10 9 L (50.000 mm 3) dan perdarahan
Trombosit < 50 x 10 9 L (50.000 mm 3) dan prosedur invasif
Trombosit < 20 x 109 I_ (20.000 mm 3) dan kegagalan sumsum tulang
dengan faktor resiko perdarahan tambahan

14

Defek trombosit, kualitatif dan perdarahan atau prosedur invasif


Bayi berusia 4 bulan atau kurang:
Trombosit < 100 x 10 9 L(100.000 mm 3) dan perdarahan
Trombosit < 50 x 10 9 L(50.000 mm 3) dan prosedur invasif
Trombosit < 20 x 10 9 L (20.000 mm 3) dan secara klinis stabil
Trombosit < 10 x 10 9 L (10.000 mm 3) dan secara klinis tidak stabil
Dikutip dari Strause, 2000
Homeostasis pada neonatus berbeda dengan pada anak yang Iebih besar
dan potensi terjadinya perdarahan serius lebih besar. Insidensi perdarahan
intra kranial lebih besar pada penderita trombositopenia dan akan lebih
meningkat pada berat badan lahir rendah. 4,5
Tujuan ideal transfusi trombosit adalah menaikkan angka trombosit
menjadi > 50.000 /mm 3 dan untuk neonatus menjadi 100.000 / mm 3. Ini dapat
dicapai dengan transfusi konsentrat standar trombosit, yang dibuat dari
beberapa unit darah lengkap segar atau tromboferetis otomatis. Satu unit
konsentrat mengandung 10.000 trombosit / mm 3. Sedangkan PMI menetapkan
satu unit konsentrat mengandung 15.000 trombosit / mm 3. Sedian trombosit
adalah, platelet rich plasma (PRP) yang dibuat dengan memisahkan plasma
dan trombosit dari darah segar yang dibuat dengan melakukan sentrifugasi.
Masa simpan trombosit 48-72 jam. 4,5
Trombosit = Kadar diharapkan ( kadar awal / kenaikan perunit.)

5. Granulosit

15

Transfusi granulosit harus dipertimbangkan pada institusi-institusi


dimana penderita neutropenia selalu meninggal karena infeksi bakteri dan
jamur yang progresif, meskipun obat antimikroba telah digunakan secara
optimal. 1.8.
Transfusi granulosit harus dipertimbangkan pada institusi-institusi
dimana penderita neutropenia selalu meninggal karena infeksi bakteri dan
jamur yang progresif, meskipun obat antimikroba telah digunakan secara
optimal. 1.8 Tabel 6 menunjukkan pedoman terapi granulosit pada anak.

Tabel 6. Pedoman Terapi Granulosit pada Anak


Anak dan remaja:

Neutropenia < 0.5 x 109 /L dan infeksi bakteri yang tidak memberikan
respon yang memadai terhadap terapi anti mikroba

Defek kualitatif neutrofil dan infeksi bakteri dan jamur yang tidak
memberikan respon yang memadai terhadap respon anti mikroba

Bayi dalam 4 bulan pertama kehidupan:

Netrofil < 3.0 x 10 9/L (minggu I) atau <1.0 x I0 9 /L (setelahnya) dan


infeksi bakteri fulminan
Peran transfusi granulosit yang ditambahkan bersama antibiotika pada

penderita neutropenia berat (0.5 X 10 9 /L) yang disebabkan gagal sumsum


tulang lama pada anak dengan dewasa. Pada anak yang mengalami infeksi
dengan kegagalan sumsum tulang yang berlangsung lama misalnya pada
neoplasma maligna yang resisten terhadap terapi, anemia aplastik, dan
resipien pencangkokan sumsum tulang akan memperoleh manfaat yang Iebih
baik bila diberikan transfusi granulosit bersama antibiotika. Transfusi
granulosit juga digunakan pada sepsis dengan netropenia berat yang tidak
responsif terhadap antimikroba. 4,5
16

Neonatus biasanya Iebih peka terhadap infeksi bakteri berat namun


pada sepsis yang fulminan dimana dijumpai neutropenia relatif < 0.3 X
10 9 /L selama minggu pertama dan < 0,1 X 10 9 /L sesudahnya mempunyai
resiko besar meninggal bila hanya diterapi antibiotika. Dosis transfusi
granulosit pada neonatus adalah 1-2 x 10 9 /kg berat badan tiap transfusi
granulosit. Bayi dan anak yang Iebih besar harus mendapat dosis total 1 x
10 10 /kg berat badan tiap transfusi granulosit. Dosis yang dipilih untuk
remaja adalah 2-3 x 10 10 /kg berat badan tiap transfusi granulosit. Transfusi
granulosit harus diberikan setiap hari sampai infeksi menyurut atau netrofil
darah sampai 0,5 x10 9 /L. 4,6
Tabel 7. Sediaan transfusi darah
Komponen

Volume

Komposisi

(ml)
Darah

500

lengkap/whole

Hematokrit

neonatus/pediatri
250ml RBC
250ml plasma

blood (WB)

Dosis untuk

10ml/kgBB

dalam

<35-40%

waktu >2-4 jam

63ml antikoagulan
Packed Red Blood

250

Cell (PRC)

200ml RBC
50ml plasma

10ml/kgBB dalam

<50-80%

waktu >2-4 jam

CPD/CPDA
Washed PRC

200

180ml RBC
20ml isotonic saline

10ml/kgBB dalam
waktu >2-4 jam

(0.9%)
Platelet

300

3x1013 platelet

10ml/kgBB

<104-105 WBC dan plasma


Fresh Frozen
Plasma

180-300

Protein plasma,

10-15 ml/kgBB

imunoglobulin,

ditransfusi dalam

komplemen, faktor

waktu >1 jam atau

koagulasi (II, VII, IX, X,

IV push

17

VIII, XIII, , vWF,


fibrinogen), dan albumin

2.5 Komplikasi Transfusi Darah Masif


Transfusi darah memiliki risiko tinggi menyebabkan reaksi pada resipien.
Reaksi tersebut menjadi salah satu penyebab mayor morbiditas dan kematian yang
diinduksi oleh transfusi. Reaksi transfusi pada paru dapat diklasifikasikan menjadi
dua yaitu primer dan sekunder. Ada tiga reaksi primer yaitu

Transfusion-

associated circulatory overload (TACO), transfusion-related acute lung injury


(TRALI), dan transfusion-associated dyspnea (TAD). Sedangkan reaksi sekunder
merupakan reaksi transfusi lain seperti reaksi hemolitik, anafilaktik, dan infeksi
bakteri yang ditransmisi oleh transfusi.8,9,10
1. Transfusion-associated circulatory overload (TACO)
Transfusion-associated circulatory overload (TACO) dikarakteristikkan
dengan adanya 4 dari 5 gejala yaitu distres pernapasan akut, takikardia, hipertensi
relatif, edema pulmoner natriuretik, dan keseimbangan cairan positif. 10,11 TACO
biasanya terjadi dalam waktu 6 hingga 24 jam sejak awal transfusi atau 1-2 jam
setelah transfusi selesai. Pemeriksaan x-ray dada menunjukkan edema interstisial,
kemungkinan berkaitan dengan kardiomegali, merefleksikan patofisiologi dari
gagal jantung akut. TACO dapat terjadi pada transfusi masif atau transfusi cepat
(rapid transfusion).11
Kejadian TACO dapat dihindari dengan asesmen pre-transfusi yang baik
mengenai keadaan gagal jantung, gangguan fungsi ginjal, hipoalbumin, dan
kelebihan cairan. Dalam keadaan normal kelebihan cairan atau sirkulasi yang
18

overload akibat transfusi dapat ditoleransi oleh tubuh. Namun pada pasien yang
memiliki gangguan keseimbangan cairan, terutama cairan paru, seperti pada orang
tua dan anak-anak, risiko mengalami TACO lebih tinggi.10 Hal tersebut terjadi
terutama jika produk darah diberikan dalam bentuk unit dibanding dengan
perhitungan pemberian menggunakan mililiter per kilogram.11
Terapi pada TACO adalah dengan memposisikan pasien dalam keadaan
duduk, menggunakan alat bantu kardiorespirator, furosemid 80 mg IV dan pantau
urine output.11
2. Transfusion-related Acute Lung Injury (TRALI)
TRALI merupakan reaksi transfusi yang berbahaya dan sering menyebabkan
ancaman kematian, terjadi dalam waktu 6 jam sejak awal transfusi. Reaksi ini
terjadi pada 1:5000 populasi yang mendapatkan transfusi general, dan
insidensinya meningkat pada transfusi masif. 11 TRALI dikarakteristikkan oleh
adanya edema paru non kardiogenik, hipoksemia, dan distres pernapasan pada
daerah temporal yang berkaitan dengan transfusi darah. Selain itu karakteristik
lain yang sering muncul adalah sianosis, hipotensi, dan demam.10
Terapi pada TRALI lebih bersifat suportif dan acute lung injury (ALI)
biasanya dapat sembuh dengan cepat, dimana infiltrasi paru dapat hilang dalam
waktu 96 jam. Terapi suportif pada TRALI terdiri dari ventilator, restriksi cairan
derajat sedang (tidak ada indikasi penggunaan diuretik kecuali suspek TACO).11
Reaksi TRALI dan TACO ini dapat dicegah dengan asesmen pre-transfusi
yang baik. Selain itu diperlukan pemantauan pada tingkat transfusi, tekanan arteri,
saturasi oksigen, tingkat pernapasan, dan keseimbangan cairan selama transfusi.
TACO dan TRALI sulit dibedakan dan dapat terjadi bersamaan. Berikut
adalah tabel mengenai perbedaan beberapa parameter yang ditemukan pada
TRALI dan TACO.

19

Tabel 8. Perbedaan parameter pada TRALI dan TACO10


Parameter

TRALI

Temuan klinis
Temperatur tubuh

Demam

Tekanan darah

ditemukan
Hipotensi

TACO
mungkin Tidak ada perubahan
Hipertensi, tekanan sistolik
post-transfusi

Nadi
Pernapasan
Vena pada leher
Auskultasi paru (jantung)

>30mmHg
Takikardi
Dispneu akut
Distensi (+/-)
Crackles, rales (S3 gallop

+/Dispneu akut
Tidak ada perubahan
Crackles

+/-)
Positif
kadang Signifikan

Keseimbangan cairan
+/Respon pada pemberian Minimal,
diuretik
Temuan tambahan
Chest radiograph

mengalami perburukan
Infiltrat bilateral baru

Infiltrat bilateral (sentral)


baru,

Echocardiography

Normal

Pulmonary artery occlusion

fraksi ejeksi
<18mmHg

pressure
Central venous pressure

Normal/tidak

Edema fluid
Temuan laboratorium
WBC
BNP

meningkat

atau

pembesaran

siluet

kardiak, Kerleys B line


penurunan Penurunan fraksi ejeksi
>18mmHg
ada Meningkat

perubahan
Eksudat

Transudat

Leukopenia transien (+/-)


<100-200 pg/ml

Tidak ada perubahan


>500-1200 pg/ml

3. Dilutional Coagulopathy
Darah yang disimpan lalu diberikan secara masif sering mengalami
kekurangan faktor V dan VIII. Mutu atau derajat faktor V pada darah simpan
sampai 21 hari sekitar 30% atau lebih, sedangkan derajat yang dibutuhkan untuk
hemostasis antara 15-50%. Selama pemberian darah masif dengan bahan-bahan
20

yang kekurangan faktor-faktor pembeku, maka selama itu pula perdarahan akan
timbul, dan demikian selanjutnya.12, 13, 14
Derajat faktor VIII pada darah simpan 21 hari berkisar antara 15-50%.
Kecenderungan terjadinya perdarahan biasanya sesudah penderita mendapat
transfusi banyak dan cepat dengan menggunakan campuran anticoagulant
dextrose (ACD). Ini terjadi bila kita memberikan darah 20-30 unit, dan untuk
penderita debil dan anak kecil lebih berkurang lagi. Manifestasi kliniknya yaitu
terdapatnya oozing pada daerah operasi, perdarahan pada gusi, petechiae dan
echymosis. Untuk mengatasi ini biasanya penderita mendapat darah
anticoagulant dextrose (ACD) lagi. Etiologi kecenderungan perdarahan ini
kemungkinan adalah terjadinya dilutional thrombocytopenia, kekurangan
faktor-faktor labil, dan DIC.12,13,14
4. Keadaan Asam-Basa
Bila larutan anticoagulant dextrose (ACD) diberikan pada darah, maka pHnya akan menurun sampai 7.0, hal ini disebabkan terutama karena keasaman
larutan ACD. pH darah akan terus turun sampai kira-kira 6.5 sesudah sampai 21
hari disimpan, karena adanya glikolisis yang terus menerus dan pembentukan
asam laktat dan peruvat oleh metabolisme sel. Lagi pula karena botol atau kantong
plastik darah tidak memungkinkan terjadinya mekanisme pelepasan CO2, maka
PaCO akan naik dari 150 sampai 210 torr.12,13,14
Howland dan Schweizer menganjurkan untuk tiap 5 unit darah
anticoagulant dextrose yang ditransfusikan perlu diberikan 44.6 mEq natrium
bikarbonat. Keasaman darah anticoagulant dextrose hanya mempengaruhi
penderita yang dalam keadaan syok atau penderita dengan respirasi tidak normal,
atau adanya kompensasi dari ginjal. Miler berkesimpulan bahwa pemberian
natrium bikarbonat secara empirik tidak perlu dan bukan merupakan indikasi,
sehingga tidak logis bila pemberian natrium bikarbonat digunakan sebagai
profilaksi untuk penderita yang tidak dapat kita perkirakan keasamannya. Tiap
pemberian natrium bikarbonat harus didasarkan atas hasil analisis gas darah dan
21

ini bisa dikerjakan setiap pemberian darah 5 unit. Asidosis terjadi sebagai akibat
hipoksia sel darah merah selama penyimpanan. Sesudah transfusi ion hidrogen
dikembalikan ke sel darah merah atau sebagai buffer oleh plasma resipien.13
5. Hiperkalemia
Darah dari bank darah berisi ion K antara 17-24 mEq/L pada penyimpanan
21-33 hari. Hiperkalemia merupakan problem yang jarang terjadi. Pada darah
simpan akan terjadi pengurangan isi kalium pada eritrosit dan kenaikkan dalam
plasma.12,13
6. Hipotermia
Transfusi masif yang menggunakan darah dingin dapat meningkatkan
pelepasan energi untuk menaikkan temperatur tubuh, menaikkan pemakaian O2,
afinitas hemoglobin dan O2, kebocoran ion K dari sel darah merah dan kerusakan
metabolisme sitrat.13
Umumnya telah diketahui bahwa pemberian beberapa unit darah dingin akan
menurunkan temperatur resipien. Dengan cara memanaskan darah dari bank darah
sesuai dengan panas tubuh sebelum diberikan pada penderita, maka secara
bermakna akan mengurangi angka kejadian aritmi dan cardiac arrest selama
transfusi masif. Walaupun Bayan menekan bahwa pemanasan darah hanya untuk
transfusi masif, banyak yang percaya bahwa whole blood yang diberikan
beberapa unit juga perlu dipanaskan bila diberikan selama operasi.12, 13
Suatu penurunan temperatur pada esofagus sebanyak 0.51oC dapat
mengakibatkan penderita menggigil sesudah operasi, sehingga menyebabkan
peningkatan kebutuhan oksigen dan cardiac out put. Pemberian darah hangat
sesuai dengan panas tubuh juga dapat menghindari menurunnya kecepatan
metabolisme sitrat sehingga dapat mengurangi intoksikasi sitrat.12, 13
Transfusi dengan darah dingin sebanyak 5 unit dalam waktu 30 menit akan
dapat menurunkan temperatur 4 C. pada 33 C, hipotermi dapat menyebabkan
asidosis metabolik dan depressi cardiac out put. Perubahan posisi tubuh atau
22

respirasi dapat menyebabkan cardiac arrest. Darah harus dihangatkan terlebih


dahulu sebelum diberikan pada penderita dengan kecepatan tinggi dan dalam
jumlah besar.12, 13
7. Post transfusion hepatitis (PTH)
Penemuan yang penting yaitu adanya Australian Antigen (HAA) dan
hubungannya yang positif dengan hepatitis serum merupakan harapan baru untuk
mengurangi PTH. Kebanyakan darah yang diberikan adalah darah yang dibeli dari
setiap orang sehingga penularan hepatitis bisa saja terjadi.12, 13

BAB III
KESIMPULAN
Transfusi darah merupakan salah satu bagian penting dari

pelayanan

kesehatan, bila digunakan dengan benar, transfusi dapat menyelamatkan jiwa


pasien dan meningkatkan derajat kesehatan. Walaupun demikian, transfusi darah
23

belum dapat dihilangkan secara mutlak resiko dan efek sampingnya.Haruslah


terpatri dalam benak kita bahwa transfusi darah adalah upaya untuk
menyelamatkan jiwa dan mencegah perburukan, dan jangan dilakukan sematamata untuk mempercepat penyembuhan. Untuk itulah indikasi transfusi haruslah
ditegakkan dengan sangat hati- hati, karena setiap transfusi yang tanpa indikasi
adalah suatu kontraindikasi
Ada beberapa kepentingan khusus yang harus menjadi perhatian pada
transfusi darah pada anak, meliputi: anemia fisiologis, kemampuan jantung
paru yang masih terbatas dan derajat penyakit jantung parunya. Berat badan
dan umur merupakan karakteristik tersendiri pada transfusi darah pada anak.
Reaksi transfusi saat ini sudah jarang dijumpai mengingat kemampuan
bank darah (PMI) untuk melakukan skrening pratransfusi sudah baik. Namun
kewaspadaan harus tetap ditingkatkan terhadap kemungkinan terjadi hal-hal
yang fatal akibat reaksi hemolitik, timbulnya infeksi dan perubahan volume
sistemik.

24

Anda mungkin juga menyukai