Anda di halaman 1dari 21

Struktur dan Mekanisme Fungsi Jantung

Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana


Jl. Arjuna Utara No. 6 Jakarta Barat

PENDAHULUAN
Sistem sirkulasi meliputi tiga komponen yaitu Jantung yang berfungsi sebagai pompa
yang melakukan tekanan terhadap darah agar timbul gradien dan darah dapat mengalir ke
seluruh tubuh. Pembuluh darah yang berfungsi sebagai saluran untuk mendistribusikan
darah dari jantung ke semua bagian tubuh dan mengembalikannya kembali ke jantung.
Darah yang berfungsi medium transportasi dimana darah akan membawa oksigen dan
nutrisi.
Darah berjalan melalui sistim sirkulasi ke dan dari jantung melalui dua lengkung
vaskuler (pembuluh darah) yang terpisah. Sirkulasi paru terdiri atas lengkung tertutup
pembuluh darah yang mengangkut darah antara jantung dan paru. Sirkulasi sistemik terdiri
atas pembuluh darah yang mengangkut darah antara jantung dan sistim organ. Walaupun
secara anatomis jantung adalah satu organ, sisi kanan dan kiri jantung berfungsi sebagai dua
pompa yang terpisah. Jantung terbagi atas separuh kanan dan kiri serta memiliki empat ruang,
masing-masing terdiri dari dua atrium dan dua ventrikel.
Struktur Makroskopis Jantung
Jantung merupakan organ utama dalam system kardiovaskuler. Jantung dibentuk oleh
organ-organ muscular, apex dan basis cordis, atrium kanan dan kiri serta ventrikel kanan dan
kiri. Ukuran jantung kira-kira panjang 12 cm, lebar 8-9cm serta tebal kira-kira 6 cm. Berat
jantung sekitar 7-15 ons atau 200 sampai 425 gram dan sedikit lebih besar dari kepalan
tangan. Setiap harinya jantung berdetak 100.000 kali dan dalam masa periode itu jantung
memompa 2000 galon darah atau setara dengan 7.571 liter darah.1

Gambar 1. Jantung tampak Posterior.

Letak dan Posisi Jantung


Posisi jantung terletak diantar kedua paru dan berada ditengah tengah dada, bertumpu
pada diaphragm thoracis dan berada kira-kira 5 cm diatas processus xiphoideus. Pada tepi
kanan cranial berada pada tepi cranialis pars cartilaginis costa III dextra, 1 cm dari tepi lateral
sternum. Pada tepi kanan caudal berada pada tepi cranialis pars cartilaginis costa VI dextra, 1
cm dari tepi lateral sternum. Tepi kiri cranial jantung berada pada tepi caudal pars cartilaginis
costa II sinistra di tepi lateral sternum, tepi kiri caudal berada pada ruang intercostalis 5, kirakira 9 cm dikiri linea medioclavicularis.1

Gambar 2. Letak Jantung

Ruang Jantung
Jantung terbagi menjadi 4 ruang, yaitu:
1. Atrium Dextra
Atrium kanan yang berdinding tipis ini berfungsi sebagai tempat penyimpanan darah dan
sebagai penyalur darah dari vena-vena sirkulasi sistemik yang mengalir ke ventrikel kanan.
Darah yang berasal dari pembuluh vena ini masuk ke dalam atrium kanan melalui vena kava
superior, vena kava inverior dan sinus koronarius. Dalam muara vena kava tidak terdapat
katup - katup sejati. Yang memisahkan vena kava dari atrium jantung ini hanyalah lipatan
katup atau pita otot. Oleh karena itu, peningkatan tekanan atrium kanan akibat bendungan
darah disisi kanan jantung akan dibalikan kembali ke dalam vena sikulasi sistemik. Sekitar
75% aliran balik vena kedalam atrium kanan akan mengalir secara pasif kedalam ventrikel
kanan melalui katup trikuspidalis. 25% sisanya akan mengisi ventrikel selama kontraksi
atrium. Pengisian ventrikel secara aktif ini disebut atrialkick. Hilangnya atrialkick pada
disritmia jantung dapat menurunkan pengisian ventrikel sehingga menurunkan curah
ventrikel.1,2
2. Ventrikel Dextra
Pada kontraksi ventrikel, setiap ventrikel harus menghasilkan kekuatan yang cukup besar
untuk dapat memompa darah yang diterimanya dari atrium ke sirkulasi pulmonar maupun

sirkulasi sistemik. Ventrikel kanan berbentuk bulan sabit yang unik, guna menghasilkan
kontraksi bertekanan rendah yang cukup untuk mengalirkan darah kedalam arteri pulmonalis.
Sirkulasi paruh merupakan sistem aliran darah bertekanan rendah, dengan resistensi yang
jauh lebih kecil terhadap aliran darah ventrikel kanan, dibandingkan tekanan tinggi sirkulasi
sistemik terhadap aliran darah dari ventrikel kiri. Oleh karena itu, beban kerja ventrikel kanan
jauh lebih ringan dari pada ventrikel kiri. Akibatnaya, tebal dinding ventrikel kanan hanya 1/3
dari dinding ventrikel kiri. Untuk menghadapi tekanan paru yang meningkat secara perlahan,
seperti pada kasus hipertensi pulmonar progresif maka sel otot ventrikel kanan mengalami
hipertrofi untuk memperbesar daya pompa agar dapat mengatasi peningkatan resistensi
pulmonar dan dapat mengosongkan ventrikel. Tetapi pada kasus resistensi paru yang
meningkat secara akut (seperti pada emboli paru masif) maka kemampuan pemompaan
venrikel kanan tidak cukup kuat sehingga dapat tejadi kematian.1,2
3. Atrium Sinistra
Atrium kiri menerima darah teroksigenasi dari paru-paru melalui ke empat vena
pulmonalis. Antara vena pumonalis dan atrium kiri tidak terdapat katup sejati. Oleh karena
itu, perubahan tekanan atrium kiri mudah membalik secara retrograd ke dalam pembuluh
paru-paru. Peningkatan akut tekanan atrium kiri akan menyebabkan bendungan paru. Atrium
kiri memiliki dinding yang tipis dan bertekanan rendah. Darah mengalir dari atrium kiri ke
dalam ventrikel kiri melalui katup mitralis.1,2
4. Ventrikel Sinistra
Ventrikel kiri menghasilkan tekanan yang cukup tinggi untuk mengatasi tahanan sirkulsi
sistemik dan mempertahankan aliran darah kejaringan perifer. Ventrikel kiri mempunyai otototot yang tebal dengan bentuk yang menyerupai lingkaran sehingga mempermudah
pembentukan tekanan tinggi selama ventrikel berkontraksi. Bahkan sekat pembatas kedua
ventrikel (septum interventrikularis) juga membantu memperkuat tekanan ynang ditimbulkan
oleh seluruh ruang ventrikel selama kontraksi. Pada saat kontraksi, tekanan ventrikel kiri
meningkat sekitar lima kali lebih tinggi dari pada ventrikel kanan.1,2

Katub Jantung
Fungsi katup jantung adalah untuk mempertahankan aliran satu arah. Darah mengalir
melalui jantung dalam satu arah tetap dari vena ke atrium ke ventrikel ke arteri. Adanya
empat katup jantung satu arah memastikan darah mengalir satu arah. Katup-katup terletak
sedemikian rupa sehingga mereka membuka dan menutup secara pasif karena perbedaan
tekanan, serupa dengan tekanan pintu satu arah. Gradient tekanan ke arah depan mendorong
katup terbuka, seperti anda membuka pintu dengan mendorong salah satu sisinya,sementara
gradient tekanan ke arah belakang mendorong katup menutup, seperti anda mendorong ke
pintu sisi lain yang berlawanan untuk menutupnya. Perhatikan bahwa gradient ke arah
belakang dapat mendorong katup menutup, tetapi tidak dapat membukanya: yaitu, katup
jantung bukan seperti pintu ayun ditempat minuman. Keempat katup jantung berfungsi untuk
mempertahankan aliran darah searah melalui bilik - bilik jantung. Ada 2 jenis katup:3
Katup antrioventrikularis (AV), yang memisahkan atrium dengan ventrikel dan katup
semilunaris, yang memisahkan arteria pulmonalis dan aorta dari ventrikel yang bersangkutan.
Katup- katup ini membuka dan menutup secara pasif, menanggapi tekanan dan volume dalam
bilik dan pembuluh darah jantung.3

Katup mitral (bikuspid) dan trikuspid letaknya mendatar, selama sistolik ventrikel tepi
daun katup yang bebas saling menyentuh dan adanya tarikan korda mencegah terjadinya
eversi M. Papilaris bisa mengalami ruptur sebagai komplikasi infark miokard. Secara
klinis terdengar sebagai murmur pansistolik yang menandai adanya aliran regurgitasi

darah dari ventrikel ke atrium.3


Katup aorta dan pulmonal terdiri dari tiga daun katup semilunaris yang berbentuk
cangkir. Selama diastolik ventrikel tekanan darah yang ada di atas katup menyebabkan
terjadinya pengisian dan kemudian penutupan katup.3

Gambar 3. Katup Jantung

Perdarahan Jantung
Jantung mendapatkan darah dari arteria coronaria dextra dan kiri, yang berasal dari
aorta ascendens tepat di atas valva aortae. Arteriae coronariae dan cabang-cabang utamanya
terdapat di permukaan jantung, terletak di dalam jaringan ikat subepicardial.4
Arteria coronaria dextra berasal dari sinus anterior aortae dan berjalan kedepan di
antara truncus pulmonalis dan auricula dextra. Arteri ini berjalan turun hampir vertikal di
dalam sulcus atrioventriculare dextra, dan pada pinggir inferior

jantung pembuluh ini

melanjut ke posterior sepanjang sulcus atrioventricularis untuk beranastomosis dengan ateria


coronaria kiri di dalam sulcus interventricularis posterior. Cabang-cabang arteria coronaria
dextra berikut ini mendarahi atrium dextrum dan ventriculus dexter, sebagian dari atrium
sinistrum dan ventriculus sinister, dan septum atrioventriculare.4
Arteria coronaria kiri, yang biasanya lebih besar dibandingkan dengan arteria
coronaria dextra, mendarahi sebagian besar jantung, termasuk sebagian besar atrium sinister,
ventriculus sinister, dan septum ventriculare. Arteria ini berasal dari posterior kiri sinus aortae
aorta ascendens dan berjalan ke depan di antara truncus pulmonalis dan auricula kiri.
Kemudian pembuluh ini berjalan di sulcus atrioventricularis dan bercabang dua menjadi
ramus interventricularis anterior dan ramus circumflexus.4

Terdapat anastomosis di antara cabang-cabang terminal arteria coronaria dextra dan


kiri (sirkulasi kolateral), tetapi biasanya tidak cukup besar untuk me-nyediakan suplai darah
yang cukup untuk otot jantung apabila sebuah cabang besar tersumbat oleh suatu penyakit.
Penyumbatan mendadak dari sebuah cabang-cabang besar atau salah satu arteria coronaria
biasanya menyebabkan kematian otot jantung(infark miokardium), walaupun kadang-kadang
sirkulasi kolateral cukup untuk mempertahankan suplai ke otot.4

Gambar 4. Arteria Coronaria


Sebagian besar darah dari dinding jantung mengalir ke atrium kanan melalui sinus
coronarius, yang terletak pada bagian posterior sulcus atrioventricularis dan merupakan
lanjutan dari vena cardiaca magna. Pembuluh ini bermuara ke atrium dextrum sebelah kiri
vena cava inferior.Vena cardiaca parva dan vena cardiaca media merupakan cabang sinus
coronarius. Sisanya dialirkan ke atrium dextrum melalui vena ventriculi dextri anterior dan
melalui vena-vena kecil yang bermuara langsung ke ruang-ruang jantung.4

Gambar 5. Vena Coronaria

Struktur Mikroskopis Jantung

1. Epikardium
Epikardium adalah lapisan paling luar dari jantung, tersusun dari lapisan sel-sel
mesotelial yang berada di atas jaringan ikat. Pada epikardium terdapat perikardium.
Perikardium merupakan lapisan jantung sebelah luar yang merupakan selaput yang
membungkus jantung dimana teridiri antara lapisan fibrosa dan serosa, dalam cavum
pericardii berisi 50 cc yang berfungsi sebagai pelumas agar tidak ada gesekan antara
perikardium dan epikardium. Epikardium adalah lapisan paling luar dari jantung yang
dibentuk oleh lamina viseralis dari perikardium. Epikardium berupa membrana serosa yang
padat dengan ketebalan yang bervariasi, banyak mengandung serabut elastis yang berbentuk
lembaran, terutama dibagian provundal. Epikardium melekat erat pada miokardium,
membungkus vasa, nervi dan corpus adiposum, jaringan lemak banyak ditemukan pada
jantung. Kumpulan ganglion padat terdapat pada subepikardium terutama pada tempat
masuknya vena kava kranialis. Lamina parietalis perikardium juga berupa membran serosa
yaitu suatu membran yang terdiri dari jaringan ikat yang mengandung jala serabut elastis,
kolagen, fibroblast, makrofafiksans dan ditutup oleh mesothelium. Epikardium tersusun atas
lapisan sel-sel mesotelial yang berada diatas jaringan ikat. Jantung bekerja selama kita masih
hidup, karena itu membutuhkan makanan yang dibawa oleh darah, pembuluh darah yang
terpenting dan memberikan darah untuk jantung dari aorta asendens dinamakan arteri
coronaria.5
2. Miokardium
Miokardium, terdiri dari otot polos. Miokardium pada ventrikel kiri lebih tebal
dibandingkan pada ventrikel kanan. Sel otot yang khusus pada atrium dapat menghasilkan
atriopeptin, ANF (Atrial Natriuretic Factor), kardiodilatin dan kardionatrin yang berfungsi
untuk mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit. Miokardium terdiri dari 2 jenis
serat otot yaitu serat konduksi dan serat kontraksi. Serat konduksi pada jantung merupakan
modifikasi dari serat otot jantung dan menghasilkan impuls. Serat konduksi terdiri dari 2
nodus di dinding atrium yaitunodus SA dan AV, bundle of HIS dan serat purkinje. Serat
purkinje merupakan percabangan dari nodus AV dan terletak di subendokardial. Sel purkinje
mengandung sitoplasma yang besar, sedikit miofibril, kaya akan mitokondria dan glikogen
serta mempunyai 1 atau 2 nukleus yang terletak di sentral. Serat kontraksi merupakan serat
silindris yang panjang dan bercabang. Setiap serat terdirihanya 1 atau 2 nukleus di sentral.
Serat kontraksi mirip dengan otot lurik karena memiliki striae. Sarkoplasmanya mengandung

banyak mengandung mitokondria yang besar. Ikatan antara dua serat otot adalah melalu
fascia adherens, macula adherens ( desmosom), dangap junction.5
3. Endokardium
Endokardium, merupakan bagian dalam dari atrium dan ventrikel. Endokarium homolog
dengan tunika intima pada pembuluh darah. Endokardium terdiri dari endotelium dan lapisan
subendokardial. Endotelium pada endokardium merupakan epitel selapis pipih dimana
terdapat tight/occluding junction dan gap junction lapisan subendokardial terdiri dari jaringan
ikat longgar. Di lapisan subendokardial terdapat vena, saraf, dan sel purkinje.5

Gambar 6. Lapisan-lapisan Jantung

Sistem Sirkulasi
1. Sirkulasi Pulmonal
Darah yang kembali dari sirkulasi sistemik (dari seluruh tubuh) masuk ke atrium kanan
melalui vena besar yang dikenal sebagai vena kava. Darah tersebut telah diambil O2-nya dan
ditambahi dengan CO2. Darah yang miskin akan oksigen tersebut mengalir dari atrium kanan
melalui katup trikuspidalis ke ventrikel kanan, yang memompanya keluar melalui arteri
pulmonalis ke paru. Dengan demikian, sisi kanan jantung memompa darah yang miskin
oksigen ke sirkulasi paru. Di dalam paru, darah akan kehilangan CO2-nya dan menyerap O2
segar sebelum dikembalikan ke atrium kiri melalui vena pulmonalis. Darah kaya oksigen
yang kembali ke atrium kiri ini melalui katub bikuspid atau mitral kemudian mengalir ke

dalam ventrikel kiri, bilik pompa yang memompa atau mendorong darah ke semua sistim
tubuh kecuali paru.6
2. Sirkulasi Sistemik
Darah kaya oksigen kemudian mengalir ke dalam ventrikel kiri, bilik pompa yang
memompa atau mendorong darah ke semua sistim tubuh kecuali paru melalui arteri besar
yang membawa darah menjauhi ventrikel kiri yag disebut aorta. Aorta bercabang menjadi
arteri besar dan mendarahi berbagai jaringan tubuh.6
Darah arteri yang sama tidak mengalir dari jaringan ke jaringan. Jaringan akan
mengambil O2 dari darah dan menggunakannya untuk menghasilkan energi. Dalam
prosesnya, sel-sel jaringan akan membentuk CO 2 sebagai produk buangan atau produk sisa
yang ditambahkan ke dalam darah. Kemudian darah yang menjadi kekurangan O 2 dan
mengandung CO2 berlebih akan kembali ke sisi kanan jantung dan memasuki siklus paru.
Selesailah satu siklus dan terus menerus berulang siklus yang sama setiap saat.6
Kedua sisi jantung akan memompa darah dalam jumlah yang sama. Volume darah yang
beroksigen rendah yang dipompa ke paru oleh sisi jantung kanan memiliki volume yang sama
dengan darah beroksigen tinggi yang dipompa ke jaringan oleh sisi kiri jantung. Sirkulasi
paru adalah sistim yang memiliki tekanan dan resistensi rendah, sedangkan sirkulasi sistemik
adalah sistim yang memiliki tekanan dan resistensi yang tinggi. Oleh karena itu, walaupun
sisi kiri dan kanan jantung memompa darah dalam jumlah yang sama, sisi kiri melakukan
kerja yang lebih besar karena ia memompa volume darah yang sama ke dalam sistim dengan
resistensi tinggi. Dengan demikian otot jantung di sisi kiri jauh lebih tebal daripada otot di
sisi kanan sehingga sisi kiri adalah pompa yang lebih kuat.6
Darah mengalir melalui jantung dalam satu arah tetap yaitu dari vena ke atrium ke
ventrikel ke arteri. Adanya empat katup jantung satu arah memastikan darah mengalir satu
arah. Katup jantung terletak sedemikian rupa sehingga mereka membuka dan menutup secara
pasif karena perbedaan gradien tekanan. Gradien tekanan ke arah depan mendorong katup
terbuka sedangkan gradien tekanan ke arah belakang mendorong katup menutup.6

Gambar 7. Sirkulasi Darah


3. Sirkulasi Koroner
Sirkulasi koroner memperdahari dinding jantung.
a. Arteri koroner kanan dan kiri merupakan cabang aorta tepat di atas katup semilunar
aorta. Arteri ini terletak di atas sulkus koronarius.
1) Cabang utama dari arteri koroner kiri adalah sebagai berikut:
Arteri interventrikuler anterior, yang mensuplai darah ke bagian anterior
ventrikel kanan dan kiri serta membentuk satu cabang, arteri marginalis kiri

yang mensuplai darah ke ventrikel kiri.


Arteri sirkumfleksa mensuplai darah ke atrium kiri dan ventrikel kiri. Di sisi
posterior, arteri sirkumfleksa beranastomosis (menyatu) dengan arteri koroner

kanan.
2) Cabang utama dari arteri koroner kanan adalah sebagai berikut:
Arteri interventrikular posterior, yang mensuplai darah untuk kedua dinding

ventrikel.
Arteri marginalis kanan yan mensuplai darah untuk atrium kanan dan ventrikel

kanan.
b. Vena jantung (besar, sedang dan oblik) mengalirkan darah dari miokardium ke sinus
koroner yang kemudian bermuara di atrium kanan.
c. Darah mengalir melalui arteri koroner terutama saat otot-otot jantung berelaksasi
karena arteri koroner juga tertekan pada saat kontraksi berlangsung.
d. Ada beragam anatomi sirkulasi koroner pada manusia. Sebagian besar orang memiliki
sirkulasi koroner yang seimbang, tetapi ada orang tertentu yang memiliki dominan
koroner kanan atau dominan koroner kiri.7

Mekanisme Kerja Jantung


1. Aktivitas Listrik Jantung
Kontraksi sel otot jantung untuk menyemprotkan darah dipicu oleh potensial aksi yang
menyapu ke seluruh membran sel otot. Jantung berkontraksi atau berdenyut secara ritmis
akibat potensial aksi yang dihasilkannya sendiri, suatu sifat yang dinamai otoritmisitas.
Terdapat dua jenis khusus sel otot jantung:6
a. Sel kontraktil, yang membentuk 99% dari sel-sel otot jantung, melakukan kerja
mekanis memompa darah. Sel-sel ini dalam keadaan normal tidak membentuk sendiri
potensial aksinya.6
b. Sebaliknya, sel-sel jantung sisanya yang sedikit tetapi sangat penting yaitu sel
otoritmik, tidak berkontraksi tetapi khusus memulai dan menghantarkan potensial aksi
yang menyebabkan kontraksi sel-sel jantung kontraktil.6
Berbeda dengan sel saraf dan sel otot rangka, yang membranya tetap berada pada potensial
istirahat yang konstan yang kecuali apabila dirangsang. Sel-sel otoritmik jantung tidak
memiliki potensial istirahat. Sel-sel tersebut memperlihatkan aktivitas pemacu(pacemaker
activity), yaitu membrane meraka secara perlahan mengalami depolarisasi atau bergeser atara
potensial-potensial aksi sampai ambang tercapai, pada saat membrane mengalami potensial
aksi. Melalui siklus pergeseran dan pembentukan potensial aksi yang berulang-ulang tersebut,
sel-sel otoritmis ini secara siklis mencetuskan potensial aksi, yang kemudian menyebar
keseluruh jantung untuk mencetuskan denyut secara berirama tanpa perangsangan saraf
apapun. Sel-sel jantung yang mampu mengalami otoritmisitas ditemukan dilokasi-lokasi
berikut ini:
1. Nodus sinoatrium (SA), daerah kecil khusus di dinding atrium kanan dekat lubang(muara)
vena kava superior.
2. Nodus atrioventrikel (AV), sebuah berkas kecil sel-sel otot jantung khusus didasar atrium
kanan dekat septum, tepat diatas peraturan atrium dan ventrikel.
3. Berkas his (berkas atrioventrikel), suatu jaras sel-sel khusus yang berasal darinodus AV
dan masuk ke septum antar ventrikel, tempat berkas tersebut bercabang membentuk
berkas kanan dan kiri yang berjalan ke bawah melalui septum, melingkari ujung bilik
septum, melingkari ujung bilik ventrikel dan kembali ke atrium di sepanjang diding luar.
4. Serat purkinje, serat-serat terminal halus yang berjalan dari berkas his dan menyebar ke
seluruh miokardium ventrikel seperti ranting-ranting pohon.6

Sel-sel jantung yang memiliki kecepatan pembentukan potensial aksi tertinggi terletak di
nodus SA. Sekali potensial aksi timbul disalah satu otot jantung, potensial aksi tersebut akan
menyebar ke seluruh miokardium melalui gap junction dan system penghantar khusus. Oleh
karena itu, nodus SA, yang dalam keadaan normal memperlihatkan kecepatan otoritmisitas
tertinggi, yaitu 70-80 potensial aksi/menit, menjalankan bagian jantung sisanya dengan
kecepatan ini dikenal sebagai pemacu (pacemaker, penentu irama) jantung. Jaringan
otoritmik lain tidak mampu menjalankan kecepatan mereka yang rendah, karena mereka
sudah diaktifkan oleh potensial aksi yang berasal dari nodus SA sebelum mereka mencapai
kambang dengan irama mereka yang lebih lambat. Analogi berikut memperlihatkan
bagaimana nodus SA mendorong bagian jantung lain dengan kecepatan pemacunya. Misalnya
sebuah kereta terdiri dari seratus gerbong, tiga diantaranya adalah lokomotif yang mampu
berjalan sendiri, Sembilan puluh tujuh gerbong lainya harus ditarik agar dapat bergerak.
Salah satu lokomotif (nodus SA) dapat berjalan sendiri 70 mil/jam, lokomotif lain (nodusAV)
50 mil/jam dan lokomotif terakhir (serabut purkinje) 30 mil/jam. Apabila seluruh gerbong
tersebut disatukan lokomotif yang mampu berjalan dengan kecepatan 70 mil/jam akan
menarik gerbong lainya dengan kecepatan tersebut. Lokomotif yang bergerak lebih lambat
akan tertarik dengan kecepatan lebih tinggi oleh lokomotif tercepat dan demikian, tindak
mampu berjalan dengan kecepatan mereka sendiri yang lebih lambat selama mereka ditarik
oleh lokomotif tercepat. Kesembilan puluh tujuh gerbong lainya (sel-sel pekerja kontraktil,
nonotoritmik), yang tidak mampu berjalan sendiri, akan berjalan dengan kecepatan apapun
yangditentukan oleh lokomotif tercepat yang menarik mereka. Apabila karena suatu hal
lokomotif tercepat rusak (kerusakan pada nodusSA), lokomotif tercepat kedua (nodus AV)
akan mengambil alih dan kereta akan berjalan dengan kecepatan 50 mil/jam yaitu, apabila
nodus SA nonfungsional. Nodus AV akan menjalankan aktivitas pemacu Jaringan otoritmik
bukan nodus SA adalah pemacu laten yang dapat mengambil alih, walaupun dengan keceptan
yang lebih rendah, apabila pemacu normal tidak bekerja. Apabila hantaran impuls antara
atrium dan ventrikel terhambat, atrium akan terus berdenyut dengan kecepatan 70 kali/menit
dan jaringan ventrikel yang tidak dijalankan oleh kecepatan nodus SA yang lebih tinggi,
berdenyut dengan kecepatan 30 kali/menit yang dimulai oleh sel otoritmik ventrikel (serabut
purkinje). Situasi ini dapat diperbandingkan dengan rusaknya lokomotif ke dua(nodus AV),
sehingga lokomotif utama (nodus SA)terputus dari lokomotif ketiga(serabut purkinje) dan
gerbong lainya. Lokomotif utama terus melaju dengan kecepatan 70 mil/jam sementara
bagian kereta lainya berjalan dengan kecepatan 30 mil/jam. Fenomena seperti itu, yang
dikenal sebagai blok jantung total(complete heart block), timbul apabila jaringan penghantar

antara atrium dan ventrikel rusak dan tidak berfungsi. Kecepatan denyut ventrikel
30kali/menit hanya akan dapat menunjang gaya hidup yang sangat santai pada kenyataanya
pasien biasanya menjadi koma. Pada keadaan-keadaan dengan kecepatan denyut jantung
sangat rendah, misalnya kegagalan nodus SA atau blok jantung, dapat digunakan alat pacu
buatan (aktifisial pacemaker). Alat yang ditanam tersebut secara ritmis menghasilkan impuls
yang menyebar keseluruh jantung untuk menjalakan baik atrium maupun ventrikel dengan
kecepatan lazim.6
Kontraksi otot jantung untuk mendorong darah dicetuskan oleh potensial aksi yang
menyebar melalui membran sel otot. Jantung berkontraksi atau berdenyut secara berirama
akibat potensial aksi yang ditimbulkan sendiri, suatu sifat yang dikenal dengan otoritmisitas.
Terdapat dua jenis khusus sel otot jantung yaitu 99% sel otot jantung kontraktil yang
melakukan kerja mekanis, yaitu memompa. Sel sel pekerja ini dalam keadaan normal tidak
menghasilkan sendiri potensial aksi. Sebaliknya, sebagian kecil sel sisanya adalah sel
otoritmik tidak berkontraksi tetapi mengkhususkan diri mencetuskan dan menghantarkan
potensial aksi yang bertanggungjawab untuk kontraksi sel sel pekerja. Kontraksi otot
jantung dimulai dengan adanya aksi potensial pada sel otoritmik. Penyebab pergeseran
potensial membran ke ambang masih belum diketahui. Secara umum diperkirakan bahwa hal
itu terjadi karena penurunan siklis fluks pasif K + keluar yang langsung bersamaan dengan
kebocoran lambat Na+ ke dalam. Di sel sel otoritmik jantung, antara potensial potensial
aksi permeabilitas K+ tidak menetap seperti di sel saraf dan sel otot rangka. Permeabilitas
membran terhadap K+ menurun antara potensial potensial aksi, karena saluran K +
diinaktifkan, yang mengurangi aliran keluar ion K+ mengikuti penurunan gradien konsentrasi
mereka. Karena influks pasif Na+ dalam jumlah kecil tidak berubah, bagian dalam secara
bertahap mengalami depolarisasi dan bergeser ke arah ambang. Setelah ambang tercapai,
terjadi fase naik dari potensial aksi sebagai respon terhadap pengaktifan saluran Ca 2+ dan
influks Ca2+ kemudian fase ini berbeda dari otot rangka, dengan influks Na+ bukan Ca2+ yang
mengubah potensial aksi ke arah positif. Fase turun disebabkan seperti biasanya, oleh efluks
K+ yang terjadi karena terjadi peningkatan permeabilitas K+ akibat pengaktifan saluran K+.
Setelah potensial aksi usai, inaktivasi saluran saluran K + ini akan mengawali depolarisasi
berikutnya. Sel sel jantung yang mampu mengalami otortmisitas ditemukan pada nodus SA,
nodus AV, berkas His dan serat purkinje.6

Gambar 8. Potensial Aksi Jantung

Enzim Yang Bekerja pada Jantung


Enzim kardiovaskular dibagi kepada dua yaitu enzim fungsional dan non fungsional :
Enzim fungsional :

Dibuat didalam hati umumnya


Terdapat dalam sirkulasi darah
Substratnya juga dalam sirkulasi
Kontinu/ intermiten
Kadarnya > dalam jaringan

Contoh : Lipoprotein, pseudocholinesterase, proenzim pembekuan darah dan pemecahan


pembekuan darah.6
Enzim non-fungsional :

Tak berfungsi dalam darah


Substrat tidak ada dalam darah
Kadarnya < dibanding di jaringan
Kehadiran di plasma dengan kadar > dp N merupakan indikasi : kenaikan kecepatan

kerusakan jaringan.
Indikator ini dapat membantu D/ & P/ suatu penyakit
Contoh : transaminase (SGOT), SGPT (glutamic pyruvate transaminase), LDH (lactic
dihydrogenase)

SGPT atau juga dinamakan ALT (alanin aminotransferase) merupakan enzim yang banyak
ditemukan pada sel hati serta efektif untuk mendiagnosis destruksi hepatoseluler.6

Enzim ini dalam jumlah yang kecil dijumpai pada otot jantung, ginjal dan otot rangka.
Pada umumnya nilai tes SGPT/ALT lebih tinggi daripada SGOT/AST pada kerusakan
parenkim hati akut, sedangkan pada proses kronis didapat sebaliknya.
Kondisi yang meningkatkan kadar SGPT/ALT adalah :

Peningkatan SGOT/SGPT > 20 kali normal : hepatitis viral akut, nekrosis hati

(toksisitas obat atau kimia)


Peningkatan 3-10 kali normal : infeksi mononuklear, hepatitis kronis aktif, sumbatan

empedu ekstra hepatik, sindrom Reye, dan infark miokard (SGOT>SGPT)


Peningkatan 1-3 kali normal : pankreatitis, perlemakan hati, sirosis Laennec, sirosis
biliaris.
SGOT atau juga dinamakan AST (Aspartat aminotransferase) merupakan enzim yang

dijumpai dalam otot jantung dan hati, sementara dalam konsentrasi sedang dijumpai pada otot
rangka, ginjal dan pankreas. Konsentrasi rendah dijumpai dalam darah, kecuali jika terjadi
cedera seluler, kemudian dalam jumlah banyak dilepaskan ke dalam sirkulasi. Pada infark
jantung, SGOT/AST akan meningkat setelah 10 jam dan mencapai puncaknya 24-48 jam
setelah terjadinya infark. SGOT/AST akan normal kembali setelah 4-6 hari jika tidak terjadi
infark tambahan.6
Kadar SGOT/AST biasanya dibandingkan dengan kadar enzim jantung lainnya,
seperti CK (creatin kinase), LDH (lactat dehydrogenase). Pada penyakit hati, kadarnya akan
meningkat 10 kali lebih dan akan tetap demikian dalam waktu yang lama.
Kondisi yang meningkatkan kadar SGOT/AST :

Peningkatan tinggi ( > 5 kali nilai normal) : kerusakan hepatoseluler akut, infark

miokard, kolaps sirkulasi, pankreatitis akut, mononukleosis infeksiosa


Peningkatan sedang ( 3-5 kali nilai normal ) : obstruksi saluran empedu, aritmia
jantung, gagal jantung kongestif, tumor hati (metastasis atau primer), distrophia
muscularis

Peningkatan ringan ( sampai 3 kali normal ) : perikarditis, sirosis, infark paru, delirium
tremeus, cerebrovascular accident (CVA).6

Elektrokardiogram (EKG)

Rekaman (catatan) yang dihasilkan adalah eletrokardiogram atau EKG. Sebenarnya


istilah yang digunakan adalah EKG, karena teknik ini dikembangkan oleh seorang ilmuan
berbahasa jerman, Willian Einthoven, dan kardia adalah kata untuk jantung dalam bahasa
jerman. Terdapat tiga pokok penting yang perlu diingat ketika mempertimbangkan apa yang
sebenarnya diwakili oleh EKG.6
1. EKG adalah suatu rekaman mengenai sebagian aktivitas listrik di cairan-cairan tubuh
yang diinduksi oleh impuls jantung yang mencapai permukan tubuh, bukan rekaman
langsung aktivitas listrik jantung yang sebenarnya.6
2. EKG adalah rekaman kompleks yang menggambarkan penyebaran keseluruhan aktivitas
di jantung selama reporalisasi dan depolarisasi. EKG bukan merupakan catatan mengenai
sebuah potensial aksi di sebuah sel pada saat. Pada setiap saat rekaman mewakili jumlah
aktivitas listrik di semua sel otot jantung, yang sebagian mungkin sedang mengalami
potensial aksi, sementara yang lain mungkin belum diaktifkan.6
3. Rekaman mencerminkan perbandingan voltase yang terdektesi oleh elektroda di dua titik
yang berbeda di tubuh. Untuk menghasilkan perbandingan standar, rekaman EKG rutin
terdiri dari dua belas system elektroda konvensional atau lead. Sewaktu sebuah
mesinelektroda kardiogram dihubungkan dengan elektroda pencatatan di dua titik pada
tubuh, susunan spesifik dari tiap-tiap pasangan koneksi itu disebut lead. Kedua belas lead
tersebut masing-masing merekam aktivitas listrik dijantung dari lokasi yang berbedaenam susunan listrik dari ekstermitas dan enam lead dada di berbagai tempat disekitar
jantung. Kedua belas lead tersebut digunakan secara rutin di semua rekaman EKG
sebagai dasar untuk perbandingan dan untuk mengenali adanya deviasi dari normal.6

Komponen pada Rekaman EKG


Interpretasi mengenai konfigurasi gelombang yang direkam dari setiap lead
bergantung pada pengetahuan menyeluruh mengenai rangkaian penyebaran eksitasi di
jantung serta posisi jantung relative terhadap penempatan elektroda. EKG normal
memperlihatkan tiga bentuk gelombang tersendiri: gelombang P, kompleks QRS dan
gelombang T (lihat gambar). (huruf-huruf tersebut tidak menyatakan hal khusus kecuali
urutan gelombang. Eithoven sekedar menggunakan alphabet tengah ketika member nama
gelombang-gelombang tersebus).6
Gelombang P mewakili depolarisasi atrium.

Kompleks QRS mewakili depolarisasi ventrikel


Gelombang T mewakili repolarisasi ventrikel.
Hal-hal penting berikut mengenai perekaman EKG juga perlu diketahui:
1. Pembentukan potensial aksi di nodus SA tidak menimbulkan aktivitas listrik yang mampu
mencapai permukan tubuh, sehingga depolarisasi nodus SA tidak menimbulkan
gelombang. Dengan demikian, gelombang yang pertama tercatat, gelombang P, terjadi
ketika impuls menyebar keseluruh atrium.6
2. Pada EKG normal, tidak terdapat gelombang terpisah untuk repolarisasi atrium secara
normal berlangsung bersamaan dengan depolrisasi ventrikel dan tertutupi oleh kompleks
QRS.6
3. Gelombang P jauh lebih kecil dari pada kompleks QRS karena atrium memiliki masa otot
yang jauh lebih kecil dari pada ventrikel, sehingga menghasilkan lebih sedikit aktivitas
listrik.6
4. Terdapat tiga keadaan pada saat aliran arus di otot jantung tidak terjadi dan EKG tetap
berda di garis dasar.
a. Selama pelambatan nodus AV. Pelambatan ini tercermin dalam interval waktu antara
akhir gelombang P dan permulaan gelombang QRS. Interval ini dikenal sebagai
segmen PR (disebut segmen PR dan bukan segmen PQ karena defleksi Q kecil dan
kadang-kadang tidak tampak, sedangkan defleksi R adalah gelombang yang dominan
pada kompleks QRS). Arus mengalir melalui nodus AV, tetapi kekuatannya terlalu
kecil untuk dapat terdeteksi oleh elektroda EKG.
b. Ketika ventrikel mengalami depolarisasi sempurna dan sel-sel kontraktil jantung
sedang berada dalam fase datar dari potensial aksi sebelum kembali mengalami
repolarisasi, tergambar segmen ST. Segmen ini adalah interval antara QRS dan T,
segmen ini bersesuaian dengan waktu selama pengaktifan ventrikel selesai dan
ventrikel berkontraksi serta mengosongkan isinya.
c. Ketika otot jantung beristirahat total dan sedang berlangsung proses pengisian
ventrikel, setelah gelombang T dan sebelum gelombang P berikutnya. Segmen waktu
ini disebut interval TP.6

Gambar 9. Elektrokardiogram

Siklus Jantung
Jantung memompa darah ke seluruh tubuh melalui serangkaian gerakan yang disebut
siklus jantung. Pertama, ruang jantung bagian atas disebut atrium, berelaksasi dan berisi
darah, sedangkan ruang jantung bagian bawah berkontraksi memompa darah keluar dari
jantung melalui aorta dan arteri pulmonal. Selanjutnya, ruang jantung bagian bawah
berelaksasi, memberikan darah mengalir masuk ke dalamnya dari ruang jantung bagian atas
yang berkontraksi. Kemudian siklus ini berulang. Setiap siklus berakhir sekitar 0.8 detik.
Siklus ini berlangsung kira-kira 70-80 kali per menit.8
Kecepatan dan irama siklus jantung diatur oleh sistem konduksi. Sistem konduksi
terdiri dari jaringan neuromuskular khusus yang mengirimkan impuls keluar. Impuls tersebut
kemudian mencapai sel-sel miokardium, yang berespons dengan jalan berkontraksi.8

Impuls dimulai pada nodus S-A (sinoatrial) di atrium kanan dan menyebar menuju ke

dua atrium.
Atrium berkontraksi
Impuls dari nodus S-A mencapai nodus A-V(atrioventrikular) di dalam atrium kanan.
Pesan dari nodus A-V selanjutnya menyebar melalui berkas HIS di dalam septum
ventrikel. Dari sini mereka melanjutkannya ke serabut Purkinje menuju dinding-

dinding ventrikel.
Ventrikel berkontraksi, mendorong darah keluar.8

Kontraksi kedua atrium pendek, sedangkan kontraksi ventrikel lebih lama dan lebih kuat.
Dan yang dari ventrikel kiri adalah yang terkuat karena harus mendorong darah ke seluruh

tubuh untuk mempertahankan tekanan darah arteri sistematik. Meskipun ventrikel kanan
juga memompa volume darah yang sama, tetapi tugasnya hanya mengirimkannya ke sekitar
paru-paru di mana tekanannya jauh lebih rendah.4

Gambar 10. Sistem Konduksi

Pompa Jantung
Daya pompa jantng, pada orang yang sedang istirahat jantungnya berdebar sekitar 70
kali permenit dan memompa 70 ml setiap denyut (volume denyutan adalah 70 ml). Jumlah
darah yang setiap menit dipompa dengan demikian adalah 70 x 70 ml atau sekitar 5 liter.
Sewaktu banyak bergerak kecepatan jantung dapat menjadi 150 kali setiap menit dan volume
denyut lebih dari 150 ml yang membuat daya pompa jantung 20 sampai 25 liter setiap menit.4
Tiap menit sejumlah volume yang tepat sama kembali dari vena ke jantung. Akan
tetapi, bila pengembalian dari vena tidak seimbang dan ventrikel gagal mengimbanginya
dengan daya pompa jantung, maka terjadi payah jantung. Vena-vena besar dekat jantung
menjadi membengkak berisi darah sehingga tekanan dalam vena naik. Dan kalau keadaan ini
tidak cepat ditangani maka terjadi udema.4
Udema karena payah jantung sebagian karena adanya tekanan-balik di dalam vena
yang meningkatkan perembesan cairan keluar dari kapiler dan sebagian karena daya pompa
jantung rendah yang juga mengurangi pengantaran darah ke ginjal. Maka ginjal akan
mengeluarkan garam. Penimbunan garam menyebabkan penimbunan air.4

Kesimpulan
Sistem peredaran darah yang terdapat di dalam tubuh kita meliputi jantung sebagai
pompanya, pembuluh darah sebagai saluran yang menghubungkan dan darah sebagai media
transport. Kontraksi yang ditimbulkan oleh jantung karena adanya aliran listrik yang
menyebabkan timbulnya potensial aksi sehingga jantung dapat berkontraksi (sistole) dan
kemudian dapat kembali ke bentuk semula atau relaksasi (diastole). Jika terjadi suatu
gangguan, maka akan menyebabkan menurunnya daya kerja jantung tersebut. Irama dan
aktivitas listrik jantung dapat diukur dengan EKG.
Daftar Pustaka
1. Watson R. Anatomi dan fisiologi. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC; 2002.h.255257
2. Gibson J. Fisiologi dan anatomi modern untuk perawat. Edisi ke-2. Jakarta: Penerbit
Buku Kedokteran EGC; 2003.h.98
3. Faiz O, Moffat D. At a glance series anatomi. Jakarta: Penerbit Erlangga; 2004.h.15-21
4. Pearce EC. Anatomi dan fisiologi untuk paramedis. Jakarta: Gramedia; 2009.h.128,143153
5. Singh I. Teks dan atlas histologi manusia. Jakarta: Binarupa Aksara; 2006.h.115-20
6. Sherwood L. Fisiologi manusia dari sel ke sistem. Edisi ke-6. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC; 2011.h.256-93,333-47
7. Sloane E. Anatomi dan fisiologi untuk pemula. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC;
2004.h.231
8. Hegner BR, Caldwell E. Asisten keperawatan: suatu pendekatan proses keperawatan.

Edisi ke-6. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC; 2003.h.54-8