Anda di halaman 1dari 17

Penulis,

AGUNG MAHENDRA
10213349 (2EA32)

FAKULTAS EKONOMI MANAJEMEN


UNIVERSITAS GUNADARMA

KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah menganugerahkan berbagai ilmu dan
pelajaran kepada para hamba Nya yang mau menuntut ilmu. Juga atas kehendak- Nya yang
akhirnya saya dapat menyelesaikan tugas makalah ini dengan tepat pada waktu nya.
Makalah ini di susun sebagai bagian dari usaha menyiapkan mahasiswa untuk menjadi warga
Negara yang kritis,rasional, dan bertanggung jawab mendukung Negara Kesatuan Republik
Indonesia yang cerdas dan demokratis.
Upaya pemerintah dan rakyat menyelenggarakan kehidupannya, memerlukan suatu
konsepsi yang berupa Wawasan Nasional/Wawasan Nusantara yang di maksudkan untuk
menjamin kelangsungan hidup, keutuhan wilayah serta jati diri.
Dalam rangka merespon hal tersebut, mata kuliah Pendidikan Kewarganegaraan
mengakomodasikan bukan hanya isu-isu sentral kewarganegaraan yang telah menjadi wacana
dalam kehidupan masyarakat dan bangsa Indonesia, tetapi juga nilai-nilai budaya bangsa
termasuk budi pekerti.
Saya berterima kasih kepada seluruh pihak yang telah membantu pembuatan makalah
ini terutama kepada dosen Pendidikan Kewarganegaraan yaitu Bapak Sri Waluyo atas saran
dan kritik membangun yang dapat melengkapi dari makalah ini.
Seperti peri bahasa tak ada gading yang tak retak saya sangat menyadari makalah
ini masih sangat jauh dari kata sempurna. Maka dari itu saya sangat mengharapkan saran dan
kritik dari para pembaca untuk penyempurnaan makalah ini di masa mendatang. Dan semoga
makalah ini bermanfaat bagi para mahasiswa khusus nya dan masyarakat pada umum nya.

Jakarta, 10 April 2015

Penulis

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ..................................................................................................... ii


DAFTAR ISI .................................................................................................................. iii
BAB I PENDAHULUAN ............................................................................................... 1
1. Latar Belakang ..................................................................................................... 1
2. Tujuan Wawasan Nusantara ................................................................................ 3
BAB II PEMBAHASAN ............................................................................................... 4
1. Pengertian Wawasan Nusantara ........................................................................... 4
2. Landasan Wawasan Nasional .............................................................................. 4
3. Fungsi Wawasan Nusantara ................................................................................. 6
4. Implementasi Wawasan Nusantara ...................................................................... 7
5. Tantangan Implementasi dari Wawasan Nusantara ............................................. 9
BAB III PENUTUP...................................................................................................... 11
1. Kesimpulan ....................................................................................................... 11
2. Saran .................................................................................................................. 11
DAFTAR PUSTAKA DAN REFERENSI ................................................................. 12

BAB I PENDAHULUAN
1. Latar Belakang.
Wawasan Nusantara merupakan sebuah cara pandang geopolitik Indonesia yang bertolak dari
latar belakang pemikiran sebagai berikut ((S. Sumarsono, 2005).

Latar belakang pemikiran filsafat Pancasila adalah Nilai-nilai pancasila mendasari


pengembangan wawasan nusantara. Nilai-nilai tersebut adalah:
o Penerapan Hak Asasi Manusia (HAM), seperti memberi kesempatan
menjalankan ibadah sesuai dengan agama masing- masing.
o Mengutamakan kepentingan masyarakat daripada individu dan golongan.
o Pengambilan keputusan berdasarkan musyawarah untuk mufakat.
Latar belakang pemikiran aspek kewilayahan Indonesia adalah
Pengaruh geografi merupakan suatu fenomena yang perlu diperhitungkan, karena
Indonesia kaya akan aneka Sumber Daya Alam (SDA) dan suku bangsa
Latar belakang pemikiran aspek sosial budaya Indonesia adalah Indonesia terdiri atas
ratusan suku bangsa yang masing-masing memiliki adat istiadat, bahasa, agama,
dan kepercayaan yang berbeda - beda, sehingga tata kehidupan nasional yang
berhubungan dengan interaksi antargolongan mengandung potensi konflik yang
besar.mengenai berbagai macam ragam budaya.
Latar belakang pemikiran aspek kesejarahan Indonesia adalah Indonesia diwarnai oleh
pengalaman sejarah yang tidak menghendaki terulangnya perpecahan dalam lingkungan
bangsa dan negara Indonesia. Hal ini dikarenakan kemerdekaan yang telah diraih oleh
bangsa Indonesia merupakan hasil dari semangat persatuan dan kesatuan yang sangat
tinggi bangsa Indonesia sendiri. Jadi, semangat ini harus tetap dipertahankan untuk
persatuan bangsa dan menjaga wilayah kesatuan Indonesia.

Latar belakang pemikiran filsafat Pancasila menjadikan Pancasila sebagai dasar


pengembangan Wawasan Nusantara tersebut. Setiap sila dari Pancasila menjadi dasar dari
pengembangan wawasan itu.

Sila 1 (Ketuhanan yang Mahaesa) menjadikan Wawasan Nusantara merupakan wawasan


yang menghormati kebebasan beragama.
Sila 2 (Kemanusiaan yang Adil dan Beradab) menjadikan Wawasan Nusantara
merupakan wawasan yang menghormati dan menerapkan HAM (Hak Asasi Manusia).
Sila 3 (Persatuan Indonesia) menjadikan Wawasan Nusantara merupakan wawasan yang
mengutamakan kepentingan bangsa dan negara.
Sila 4 (Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam
Permusyawaratan/Perwakilan) menjadikan Wawasan Nusantara merupakan wawasan
yang dikembangkan dalam suasana musyawarah dan mufakat.
Sila 5 (Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia) menjadikan Wawasan Nusantara
merupakan wawasan yang mengusahakan kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia.

Latar belakang pemikiran aspek kewilayahan Indonesia menjadikan wilayah Indonesia


sebagai dasar pengembangan wawasan itu. Dalam hal ini kondisi obyektif geografis
Indonesia menjadi modal pembentukan suatu negara dan menjadi dasar bagi pengambilanpengambilan keputusan politik. Adapun kondiri obyektif geografi Indonesia telah mengalami
perkembangan sebagai berikut.

Saat RI merdeka (17 Agustus 1945), kita masih mengikuti aturan dalamTerritoriale Zee
En Maritime Kringen Ordonantie tahun 1939 di mana lebar laut wilayah Indonesia adalah
3 mil diukur dari garis air rendah dari masing-masing pantai pulau Indonesia.
o Dengan aturan itu maka wilayah Indonesia bukan merupakan kesatuan.
o Laut menjadi pemisah-pemecah wilayah karena Indonesia merupakan negara
kepulauan.
Indonesia kemudian mengeluarkan Deklarasi Djuanda (13 Desember 1957) berbunyi:
berdasarkan pertimbangan-pertimbangan maka pemerintah menyatakan bahwa segala
perairan di sekitar, di antara, dan yang menghubungkan pulau-pulau yang termasuk
negara Indonesia dengan tidak memandang luas atau lebarnya adalah bagian-bagian yang
wajar daripada wilayah daratan negara Indonesia, dan dengan demikian bagian daripada
perairan pedalaman atau nasional berada di bawah kedaulatan mutlak negara Indonesia.
Lalu lintas yang damai di perairan pedalaman in bagi kapal-kapal asing dijamin selama
dan sekedar tidak bertentangan dengan/mengganggu kedaulatan dan keselamatan negara
Indonesia. Penentuan batas lautan teritorial (yang lebarnya 12 mil) diukur dari garis yang
menghubungkan titik-titik ujung yang terluar pada pulau-pulau negara Indonesia.
o Jadi, pulau-pulau dan laut di wilayah Indonesia merupakan satu wilayah yang utuh,
kesatuan yang bulat dan utuh.
o Indonesia kemudian mengeluarkan UU No 4/Prp Tahun 1960 tentang Perairan
Indonesia yang berisi konsep kewilayahan Indonesia menurut Deklarasi Djuanda itu.
Maka Indonesia mempunyai konsep tentang Negara Kepulauan (Negara Maritim).
Dampaknya: jika dulu menurut Territoriale Zee En Maritime Kringen
Ordonantie tahun 1939 luas Indonesia adalah kurang lebih 2 juta km2 maka
menurut Deklarasi Djuanda dan UU No 4/prp Tahun 1960 luasnya menjadi 5 juta
km2 (dimana 65% wilayahnya terdiri dari laut/perairan).
o Pada 1982, Konferensi PBB tentang Hukum Laut Internasional III mengakui pokokpokok asas Negara Kepulauan (seperti yang digagas menurut Deklarasi Djuanda).
Asas Negara Kepulauan itu diakui dan dicantumkan dalam UNCLOS 1982
(United Nation Convention on the Law af the Sea).
Dampak dari UNCLOS 1982 adalah pengakuan tentang bertambah luasnya ZEE
(Zona Ekonomi Eksklusif) dan Landas Kontinen Indonesia.
o Indonesia kemudian meratifikasi UNCLOS 1982 melalui UU No 17 Tahun 1985
(tanggal 31 Desember 1985).
o Sejak 16 November 1993 UNCLOS 1982 telah diratifikasi oleh 60 negara dan
menjadi hukum positif sejak 16 November 1994.
o Perjuangan selanjutnya adalah perjuangan untuk wilayah antariksa nasional, termasuk
GSO (Geo Stationery Orbit).
o Jadi wilayah Indonesia adalah (Prof. Dr. Priyatna dalam S. Sumarsono, 2005, hal 74)

Wilayah territorial 12 mil dari Garis Pangkal Laut.


Wilayah ZEE (Zona Ekonomi Eksklusif) 200 mil dari Pangkal Laut.
Wilayah ke dalam perut bumi sedalam 40.000 km.
Wilayah udara nasional Indonesia setinggi 110 km.
Batas antariksa Indonesia.
Tinggi = 33.761 km.
Tebal GSO (Geo Stationery Orbit) = 350 km.
Lebar GSO (Geo Stationery Orbit) = 150 km.

Latar belakang pemikiran aspek sosial budaya Indonesia menjadikan keanekaragaman


budaya Indonesia menjadi bahan untuk memandang (membangun wawasan) nusantara
Indonesia. Menurut Hildred Geertz sebagaimana dikutip Nasikun (1988), Indonesia
mempunyai lebih dari 300 suku bangsa dari Sabang sampai Merauke. Adapun menurut
Skinner yang juga dikutip Nasikun (1988) Indonesia mempunyai 35 suku bangsa besar yang
masing-masing mempunyai sub-sub suku/etnis yang banyak.
Latar belakang pemikiran aspek kesejarahan Indonesia menunjuk pada sejarah perkembangan
Indonesia sebagai bangsa dan negara di mana tonggak-tonggak sejarahnya adalah:
20 Mei 1908 = Kebangkitan Nasional Indonesia.
28 Okotber 1928 = Kebangkitan Wawasan Kebangsaan melalui Sumpah Pemuda.
17 Agustus 1945 = Kemerdekaa Republik Indonesia.

2. Tujuan Wawasan Nusantara.


Tujuan wawasan nusantara terdiri dari dua, yaitu:
1. Tujuan nasional, dapat dilihat dalam Pembukaan UUD 1945, dijelaskan bahwa tujuan
kemerdekaan Indonesia adalah "untuk melindungi segenap bangsa Indonesia dan
seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk mewujudkan kesejahteraan umum,
mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang
berdasarkan kemerdekaan perdamaian abadi dan keadilan sosial".
2. Tujuan ke dalam adalah mewujudkan kesatuan segenap aspek kehidupan baik alamiah
maupun sosial, maka dapat disimpulkan bahwa tujuan bangsa Indonesia adalah
menjunjung tinggi kepentingan nasional, serta kepentingan kawasan untuk
menyelenggarakan dan membina kesejahteraan, kedamaian dan budi luhur serta
martabat manusia di seluruh dunia.

BAB II PEMBAHASAN
1. Pengertian Wawasan Nasional
Wawasan Nasional adalah cara pandang suatu bangsa yang telah menegara tentang diri
dan lingkungannya dalam eksistensinya yang serba terhubung (interaksi & interelasi)
serta pembangunannya di dalam bernegara di tengah-tengah lingkungannya baik nasional,
regional, maupun global. Suatu negara dan bangsa akan terikat erat apabila ada
pemahaman yang mendalam tentang perbedaan dalam negara atau bangsa itu sebagai
anugrah, yang pada akhirnya akan memperkaya khasana budaya negara atau bangsa
tersebut. Disamping itu, perbedaan ini merupakan satu titik yang sangat rentan terhadap
perpecahan jika tidak diberikan pemahaman wawasan nasional dan wawasan nusantara
yang tepat bagi bangsa dan negara. Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara
keanekaragaman (pendapat, kepercayaan, hubungan, dsb) memerlukan suatu perekat agar
bangsa yang bersangkutan dapat bersatu guna memelihara keutuhan negaranya. Suatu
bangsa

dalam

menyelengarakan

kehidupannya

tidak

terlepas

dari

pengaruh

lingkungannya, yang didasarkan atas hubungan timbal balik atau kait-mengait antara
filosofi bangsa, idiologi, aspirasi, dan cita-cita yang dihadapkan pada kondisi sosial
masyarakat, budaya dan tradisi, keadaan alam dan wilayah serta pengalaman sejarah.
Upaya pemerintah dan rakyat menyelengarakan kehidupannya, memerlukan suatu
konsepsi yang berupa Wawasan Nasional yang dimaksudkan untuk menjamin
kelangsungan hidup, keutuhan wilayah serta jati diri.
2. Landasan Wawasan Nusantara
a. Paham Kekuasaan.
Paham kekuasaan yang kita kenal selama ini memberikan suatu impuls untuk
menciptakan suatu formula pengaturan kenegaraan yang sejatinya membutuhkan koreksi
di berbagai sisi. Dibawah ini adalah beberapa paham kekuasaan yang kita kenal:
1) Machiavelli
paham ini memandang harus adanya suatu kekuatan politik yang besar guna
mempertahankan kedigdayaan suatu negara. ada beberapa cara untuk memelihara
stabilitas politik yaitu:

penghalalan segala cara untuk mempertahankan dan merebut kekuasaan

menjaga eksistensi kekuasaan rezim, termasuk membenarkan politik Devide Et


Impera

pertahanan politik dengan adu kekuatan, siapa yang kuat dia yang bertahan dan
sebaliknya siapa yang lemah dia yang tersingkir

2) Paham kaisar Napoleon Bonaparte


Napoleon merupakan penganut paham Machiavelli, dia menambahkan bahwasannya
untuk mempertahankan suatu negara diperlukan dukungan penuh dari kondisi sosial
budaya berupa penciptaan ilmu pengetahuan dan teknologi sehingga mampu
melahirkan kondisi pertahanan dan keamanan yang solid.
3) Jenderal Causewitz
pandangan ini adalah suatu dasar dari perang dunia I dimana perang dianggap sebagai
suatu hal yang harus dilakukan untuk mempertahankan kekuasaan dan pencapaian
tujuan nasional suatu negara. paham ini pula yang melegitimasi usaha ekspansi Rusia
dalam memperluas kekuasaannya.
b. Teori-Teori Geopolitik
1) Riederich Ratzel
There is in this small planet, sufficient space for only one great state. itulah
semboyan dari frederich Ratzel yang terkenal. teori menyatakan bahwa :

Pertumbuhan negara dapat dianalogikan (disamakan) dengan pertumbuhan


organisme (mahluk hidup) yang memerlukan ruang hidup, melalui proses
lahir, tumbuh, berkembang, mempertahankan hidup tetapi dapat juga
menyusut dan mati.

Negara identik dengan suatu ruang yang ditempati oleh kelompok politik
dalam arti kekuatan. Makin luas potensi ruang makin memungkinkan
kelompok politik itu tumbuh (teori ruang)

Suatu bangsa dalam mempertahankan kelangsungan hidupnya tidak terlepas


dari hukum alam. Hanya bangsa yang unggul yang dapat bertahan hidup terus
dan langgeng.

Semakin tinggi budaya bangsa semakin besar kebutuhan atau dukungan


sumber daya alam. Apabila tidak terpenuhi maka bangsa tsb akan mencari
pemenuhan kebutuhan kekayaan alam diluar wilayahnya (ekspansi). Apabila
ruang hidup negara (wilayah)sudah tidak mencukupi, maka dapat diperluas
dengan mengubah batas negara baik secara damai maupun dengan
kekerasan/perang.

2) James Burnham.
James Burnham adalah seorang pionir dalam pengembangan geopolitik
antikomunisme sebuah aksioma geopolitik bahwa jika ada satu daya berhasil
mengatur [Eurasia] Heartland dan hambatan luar, kekuatan itu pasti akan
menguasai dunia.
3) Karl Haushofer (1896-1946)
Pendapat ini berkembang di Jerman dinawah kekuasaaan Adolf Hitler,
berkembang pula di Jepang berupa ajaran Hako Ichiu yang berlandaskan
mliterisme dan paham fasisme. pokok teori Haushofer yaitu:

Suatu bangsa dalam mempertahankan hidupnya tidak terlepas dari hukum


alam, sehingga hal ini menjurus pada ekspansionisme.

Kekuasaan imperium daratan yang kompak akan dapat menandingi kekuasaan


imperium Maritim dalam penguasaan laut.

Beberapa negara besar dunia akan menguasai Eropa, Afrika, Asia Barat, Asia
Timur Raya.

3. Fungsi Wawasan Nusantara


a. Wawasan nusantara sebagai konsepsi ketahanan nasional, yaitu wawasan nusantara
dijadikan konsep dalam pembangunan nasional, pertahanan keamanan, dan
kewilayahan.
b. Wawasan nusantara sebagai wawasan pembangunan mempunyai cakupan kesatuan
politik, kesatuan ekonomi, kesatuan sosial dan ekonomi, kesatuan sosial dan politik,
dan kesatuan pertahanan dan keamanan.
c. Wawasan nusantara sebagai wawasan pertahanan dan keamanan negara merupakan
pandangan geopolitik Indonesia dalam lingkup tanah air Indonesia sebagai satu
kesatuan yang meliputi seluruh wilayah dan segenap kekuatan negara.
d. Wawasan nusantara sebagai wawasan kewilayahan, sehingga berfungsi dalam
pembatasan negara, agar tidak terjadi sengketa dengan negara tetangga. Batasan dan
tantangan negara Republik Indonesia adalah:

Risalah sidang BPUPKI tanggal 29 Mei-1 Juni 1945 tentang negara Republik
Indonesia dari beberapa pendapat para pejuang nasional. Dr.
Soepomo menyatakan Indonesia meliputi batas Hindia Belanda, Muh.
Yamin menyatakan Indonesia
meliputi Sumatera, Jawa, Sunda Kecil,Borneo, Selebes, Maluku-

Ambon, Semenanjung Melayu, Timor, Papua, Ir. Soekarno menyatakan bahwa


kepulauan Indonesia merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.
Ordonantie (UU Belanda) 1939, yaitu penentuan lebar laut sepanjang 3 mil laut
dengan cara menarik garis pangkal berdasarkan garis air pasang
surut atau countour pulau/darat. Ketentuan ini membuat Indonesia bukan sebagai
negara kesatuan, karena pada setiap wilayah laut terdapat laut bebas yang berada
di luar wilayah yurisdiksi nasional.
Deklarasi Juanda, 13 Desember 1957 merupakan pengumuman pemerintah RI
tentang wilayah perairan negara RI, yang isinya:
a. Cara penarikan batas laut wilayah tidak lagi berdasarkan garis pasang
surut (low water line), tetapi pada sistem penarikan garis lurus (straight base
line) yang diukur dari garis yang menghubungkan titik - titik ujung yang
terluar dari pulau-pulau yang termasuk dalam wilayah RI.
b. Penentuan wilayah lebar laut dari 3 mil laut menjadi 12 mil laut.
c. Zona Ekonomi Ekslusif (ZEE) sebagai rezim Hukum Internasional, di mana

batasan nusantara 200 mil yang diukur dari garis pangkal wilayah laut
Indonesia. Dengan adanya Deklarasi Juanda, secara yuridis formal, Indonesia
menjadi utuh dan tidak terpecah lagi.
4. Implementasi Wawasan Nusantara
a. Kehidupan politik
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam mengimplementasikan wawasan
nusantara, yaitu:
1) Pelaksanaan kehidupan politik yang diatur dalam undang-undang, seperti
UU Partai Politik,

UU Pemilihan

Umum,

dan

UU

Pemilihan

Presiden.

Pelaksanaan undang-undang tersebut harus sesuai hukum dan mementingkan


persatuan bangsa.Contohnya seperti dalam pemilihan presiden, anggota DPR,
dan kepala daerah harus menjalankan prinsip demokratis dan keadilan, sehingga
tidak menghancurkan persatuan dan kesatuan bangsa.
2) Pelaksanaan kehidupan bermasyarakat dan bernegara di Indonesia harus sesuai
dengan hukum yang berlaku. Seluruh bangsa Indonesia harus mempunyai dasar
hukum yang sama bagi setiap warga negara, tanpa pengecualian. Di Indonesia
terdapat

banyak

produk

hukum

yang

dapat

diterbitkan

oleh provinsi dan kabupaten dalam bentuk peraturan daerah (perda) yang tidak
bertentangan dengan hukum yang berlaku secara nasional.
3) Mengembangkan

sikap

hak

asasi

manusia

dan

sikap pluralisme untuk

mempersatukan berbagai suku, agama, dan bahasa yamg berbeda, sehingga


menumbuhkan sikap toleransi.
4) Memperkuat

komitmen

politik

terhadap

partai

politik

dan lembaga

pemerintahan untuk meningkatkan semangat kebangsaan, persatuan dan kesatuan.


5) Meningkatkan peran Indonesia dalam kancah internasional dan memperkuat korps
diplomatik sebagai upaya penjagaan wilayah Indonesia terutama pulau-pulau
terluar dan pulau kosong.
b. Kehidupan ekonomi
1) Wilayah

nusantara

mempunyai

potensi

ekonomi

yang

tinggi,

seperti

posisi khatulistiwa, wilayah laut yang luas, hutan tropis yang besar, hasil tambang
dan minyak yang besar, serta memeliki penduduk dalam jumlah cukup besar. Oleh
karena itu, implementasi dalam kehidupan ekonomi harus berorientasi pada sektor
pemerintahan, pertanian, dan perindustrian.
2) Pembangunan ekonomi harus memperhatikan keadilan dan keseimbangan antar
daerah. Oleh sebab itu, dengan adanya otonomi daerah dapat menciptakan upaya
dalam keadilan ekonomi.
3) Pembangunan ekonomi harus melibatkan partisipasi rakyat, seperti dengan
memberikan fasilitas kredit mikro dalam pengembangan usaha kecil.
c. Kehidupan sosial
Tari pendet dari Bali merupakan budaya Indonesia yang harus dilestarikan sebagai
implementasi dalam kehidupan sosial.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam kehidupan sosial, yaitu :
1) Mengembangkan kehidupan bangsa yang serasi antara masyarakat yang berbeda,
dari segi budaya, status sosial, maupun daerah. Contohnya dengan pemerataan
pendidikan di semua daerah dan program wajib belajar harus diprioritaskan bagi
daerah tertinggal.
2) Pengembangan budaya Indonesia, untuk melestarikan kekayaan Indonesia, serta
dapat

dijadikan

kegiatan pariwisata yang

memberikan

sumber pendapatan

nasional maupun

daerah.

Contohnya

dengan

pelestarian

budaya,

pengembangan museum, dan cagar budaya.


d. Kehidupan pertahanan dan keamanan
Membagun TNI Profesional merupakan implementasi dalam kehidupan pertahanan
keamanan.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam kehidupan pertahanan dan keamanan,
yaitu :
1) Kegiatan pembangunan pertahanan dan keamanan harus memberikan kesempatan
kepada setiap warga negara untuk berperan aktif, karena kegiatan tersebut
merupakan kewajiban setiap warga negara, seperti memelihara lingkungan tempat
tinggal,

meningkatkan

kemampuan

disiplin,

melaporkan

hal-hal

yang

mengganggu keamanan kepada aparat dan belajar kemiliteran.


2) Membangun rasa persatuan, sehingga ancaman suatu daerah atau pulau juga
menjadi ancaman bagi daerah lain. Rasa persatuan ini dapat diciptakan dengan
membangun solidaritas dan hubungan erat antara warga negara yang berbeda
daerah dengan kekuatan keamanan.
3) Membangun TNI yang profesional serta menyediakan sarana dan prasarana yang
memadai bagi kegiatan pengamanan wilayah Indonesia, terutama pulau dan
wilayah terluar Indonesia.
5. Tantangan Implementasi dari Wawasan Nusantara
a. PemberdayaanMasyarakat.
Kondisi nasional (pembangunan) yang tidak merata mengakibatkan keterbelakangan
dan ini merupakan ancaman bagi integritas. Pemberdayaan masyarakat di perlukan
terutama untuk daerah-daerah tertinggal.
b. Dunia Tanpa Batas.
Perkembangan IPTEK dan perkembangan masyarakat global di kaitkan dengan dunia
tanpa batas dapat merupakan tantangan Wawasan Nusantara, mengingat
perkembangan tersebut akan dapat mempengaruhi masyarakat Indonesia dalam pola
pikir, pola sikap, dan pola tindak di dalam masyarakat, berbangsa, dan bernegara.
c. Adanya Era Kapitalisme

Wilayah nusantara mempunyai potensi ekonomi yang tinggi, seperti posisi


khatulistiwa, wilayah laut yang luas, hutan tropis yang besar, hasil tambang dan

minyak yang besar, serta memeliki penduduk dalam jumlah cukup besar. Oleh
karena itu, implementasi dalam kehidupan ekonomi harus berorientasi pada sektor
pemerintahan, pertanian, dan perindustrian.

Pengembangan budaya Indonesia, untuk melestarikan kekayaan Indonesia, serta


dapat dijadikan kegiatan pariwisata yang memberikan sumber pendapatan
nasional maupun daerah. Contohnya dengan pelestarian budaya, pengembangan
museum, dan cagar budaya.

Pelaksanaan kehidupan politik yang diatur dalam undang-undang, seperti UU


Partai Politik, UU Pemilihan Umum, dan UU Pemilihan Presiden. Pelaksanaan
undang-undang tersebut harus sesuai hukum dan mementingkan persatuan
bangsa.Contohnya seperti dalam pemilihan presiden, anggota DPR, dan kepala
daerah harus menjalankan prinsip demokratis dan keadilan, sehingga tidak
menghancurkan persatuan dan kesatuan bangsa.

Pelaksanaan kehidupan bermasyarakat dan bernegara di Indonesia harus sesuai


denga hukum yang berlaku. Seluruh bangsa Indonesia harus mempunyai dasar
hukum yang sama bagi setiap warga negara, tanpa pengecualian. Di Indonesia
terdapat banyak produk hukum yang dapat diterbitkan oleh provinsi dan
kabupaten dalam bentuk peraturan daerah (perda) yang tidak bertentangan dengan
hukum yang berlaku secara nasional.

Memperkuat komitmen politik terhadap partai politik dan lembaga pemerintahan


untuk menigkatkan semangat kebangsaan dan kesatuan.

Meningkatkan peran Indonesia dalam kancah internasional dan memperkuat korps


diplomatik ebagai upaya penjagaan wilayah Indonesia terutama pulau-pulau
terluar dan pulau kosong.

BAB III PENUTUP


1. Kesimpulan
Dari rumusan-rumusan diatas ternyata tidak ada satupun yang menyatakan tentang perlu
adanya persatuan, sehingga akan berdampak konflik antar bangsa karena kepentingan
nasionalnya tidak terpenuhi. Dengan demikian Wawasan Nusantara sebagai cara pandang
bangsa Indonesia dan sebagai visi nasional yang mengutamakan persatuan dan kesatuan
bangsa masih tetap valid baik saat sekarang maupun mendatang, sehingga prospek wawasan
nusantara dalam era mendatang masih tetap relevan dengan norma-norma global. Dalam
implementasinya perlu lebih diberdayakan peranan daerah dan rakyat kecil, dan terwujud
apabila dipenuhi adanya faktor-faktor dominan : keteladanan kepemimpinan nasional,
pendidikan berkualitas dan bermoral kebangsaan, media massa yang memberikan informasi
dan kesan yang positif, keadilan penegakan hukum dalam arti pelaksanaan pemerintahan
yang bersih dan berwibawa. Didalam mewujudkan implemestasi wawasan nusantara
diperlukan kesadaran WNI untuk :
a. Mengerti, memahami, menghayati tentang hak dan kewajiban warganegara serta
hubungan warganegara dengan negara, sehingga sadar sebagai bangsa Indonesia.
b. Mengerti, memahami, menghayati tentang bangsa yang telah menegara, bahwa dalam
menyelenggarakan kehidupan memerlukan konsepsi wawasan nusantara sehingga
sadar sebagai warga negara yang memiliki cara pandang.
2. Saran
Saya sebagai penulis sangat menyadari akan kekurangan dalam makalah yang telah saya
sajikan ini. Sebagai masyarakat Indonesia, Negara ini tidak akan maju dan berkembang jika
hanya mengandalkan pemerintah, tetapi masyarakat harus berperan aktif dalam
pembangunan bangsa ini dan mengawasi jalannya pemerintahan.

DAFTAR PUSTAKA DAN REFERENSI


1. Suradinata,Ermaya. (2005). Hukum Dasar Geopolitik dan Geostrategi dalam
Kerangka Keutuhan NKRI.. Jakarta: Suara Bebas. Hal 12-14.
2. Sunardi, R.M. (2004). Pembinaan Ketahanan Bangsa dalam Rangka Memperkokoh
Keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Jakarta:Kuaternita Adidarma. ISBN
979-98241-0-9,Hal 179-180.
3. Alfandi, Widoyo. (2002). Reformasi Indonesia: Bahasan dari Sudut Pandang
Geografi Politik dan Geopolitik. Yogyakarta:Gadjah Mada University. ISBN 979420-516-8.
4. Hidayat, I. Mardiyono, Hidayat I.(1983). Geopolitik, Teori dan Strategi Politik dalam
Hubungannya dengan Manusia, Ruang dan Sumber Daya Alam. Surabaya:Usaha
Nasional.Hal 85-86.
5. Sumarsono, S, et.al. (2001). Pendidikan Kewarganegaraan. Jakarta: Gramedia
Pustaka Utama. Hal 12-17.
6. http://id.shvoong.com/social-sciences/political-science/2203413-pengertianwawasan-nasional/#ixzz1qtE7NdA3
7. http://novieanggraeni.wordpress.com/2011/04/02/paham-kenegaraan-teorigeopolitik-dan-wawasan-nusantara/
8. http://christiancitizenship.wordpress.com/2009/11/02/g-wawasan-nusantara/