Anda di halaman 1dari 12

Nama : Nendra suhendra

Npm : 230110140047

Jenis ikan pada wilayah garis weber, wallace dan peralihan


1. Zona garis wallace
Dalam membahas ilmu geografi tumbuhan dan hewan, kita tidak terlepas dari seorang
ahli ilmu alam dari Inggris, yaitu Alfred Russel Wallace (1823-1913). Dia mempelopori
penyelidikan secara modern tentang Geografi hewan terlepas dari teori Darwin. Dia mendalilkan
suatu garis khayal sebagai pemisah antara dunia hewan Australis dan Asiatis. Alfred Russel
Wallace mengadakan penelitian mengenai penyebaran hewan di Indonesia. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa ada perbedaan hewan di Indonesia bagian Barat dengan hewan di Indonesia
bagian Timur.
Menurut istilah, garis Wallace adalah sebuah garis hipotetis yang memisahkan wilayah
geografi hewan Asia dan Australasia. Bagian barat dari garis ini berhubungan dengan spesies
Asia; di timur kebanyakan berhubungan dengan spesies Australia. Garis ini melalui Kepulauan
Melayu, antara Borneo dan Sulawesi; dan

antara Bali (di

barat)

dan Lombok (di

timur).

Kawasan Wallacea: meliputi wilayah Pulau Sulawesi, Kepulauan Maluku, Sumba, Sumbawa,
Lombok dan Timor. Memiliki hewan-hewan khas (terutama di Pulau Sulawesi) tidak sama
dengan hewan oriental dan hewan Australia, misal: Anoa, burung Mako, kera hitam.Adanya garis
ini juga tercatat oleh Antonio Pigafetta tentang perbedaan biologis antara Filipina dan Kepulauan
Maluku, tercatat dalam perjalanan Ferdinand Magellan pada 1521. Garis ini lalu diperbaiki dan
digeser ke Timur (daratan pulau Sulawesi) oleh Weber. Batas penyebaran flora dan fauna Asia
lalu ditentukan secara berbeda-beda, berdasarkan tipe-tipe flora dan fauna. Garis ini lalu
dinamakan "Wallace-Weber".

Jenis ikan pada wilayah garis Wallace :

1. Mujair
Ikan Mujair adalah sejenis ikan air tawar yang biasa dikonsumsi. Penyebaran alami ikan
ini adalah perairan Afrika dan di Indonesia pertama kali ditemukan oleh Pak Mujair di muara
Sungai Serang pantai selatan Blitar, Jawa Timur pada tahun 1939. Meski masih menjadi misteri,
bagaimana ikan itu bisa sampai ke muara terpencil di selatan Blitar, tak urung ikan tersebut
dinamai mujair untuk mengenang sang penemu.
Nama ilmiahnya adalah Oreochromis mossambicus, dan dalam bahasa Inggris dikenal
sebagai Mozambique tilapia, atau kadang-kadang secara tidak tepat disebut "Java tilapia".
Klasifikasi ilmiah :
Kerajaan: Animalia
Filum : Chordata
Kelas
: Actinopterygii
Ordo
: Perciformes
Famili : Cichlidae
Genus : Oreochromis
Spesies : O. mossambicus
Nama binomial
Oreochromis
mossambicus
(W. Peters), 1852
Ciri-ciri :
Ikan berukuran sedang, panjang total maksimum yang dapat dicapai ikan mujair adalah
sekitar 40 cm. Bentuk badannya pipih dengan warna hitam, keabu-abuan, kecoklatan atau
kuning.
Sirip punggungnya (dorsal) memiliki 15-17 duri (tajam) dan 10-13 jari-jari (duri berujung
lunak); dan sirip dubur (anal) dengan 3 duri dan 9-12 jari-jari.
Kebiasaan :
Ikan mujair mempunyai toleransi yang besar terhadap kadar garam (salinitas), sehingga
dapat hidup di air payau. Jenis ikan ini memiliki kecepatan pertumbuhan yang relatif cepat, tetapi
setelah dewasa kecepatannya ini akan menurun.

Mujair juga sangat peridi. Ikan ini mulai berbiak pada umur sekitar 3 bulan, dan setelah
itu dapat berbiak setiap 1 bulan sekali. Setiap kalinya, puluhan butir telur yang telah dibuahi
akan dierami dalam mulut induk betina, yang memerlukan waktu sekitar seminggu hingga
menetas. Hingga beberapa hari setelahnya pun mulut ini tetap menjadi tempat perlindungan
anak-anak ikan yang masih kecil, sampai anak-anak ini disapih induknya.
Dengan demikian dalam waktu beberapa bulan saja, populasi ikan ini dapat meningkat
sangat pesat. Apalagi mujair cukup mudah beradaptasi dengan aneka lingkungan perairan dan
kondisi ketersediaan makanan.
Tidak mengherankan apabila ikan ini dianggap invasif dan menimbulkan berbagai
masalah baru di perairan yang didatanginya, seperti halnya di Singapura, dan di California
Selatan, Amerika Serikat. Tidak luput pula adalah berbagai waduk dan danau-danau di Indonesia
yang 'ditanami' ikan ini, seperti misalnya Danau Lindu di Sulawesi Tengah.

2. Arwana asia

Arwana silver, Osteoglossum


bicirrhosum
Klasifikasi ilmiah :
Kerajaan: Animalia
Filum : Chordata
Kelas

: Actinopterygii

Ordo

: Osteoglossiformes

Famili : Osteoglossidae
(Bonaparte, 1832)
Arwana Asia (Scleropages formosus), atau Siluk Merah adalah salah satu spesies ikan air
tawar dari Asia Tenggara. Ikan ini memiliki badan yang panjang; sirip dubur terletak jauh di
belakang badan. Arwana Asia umumnya memiliki warna keperak-perakan. Arwana Asia juga
disebut "Ikan Naga" karena sering dihubung-hubungkan dengan naga dari Mitologi Tionghoa
Arwana Asia adalah spesies asli sungai-sungai di Asia Tenggara khususnya Indonesia.
Ada empat varietas warna yang terdapat di lokasi:

Hijau, ditemukan di Indonesia, Vietnam, Birma, Thailand, dan Malaysia

Emas dengan ekor merah, ditemukan di Indonesia

Emas, ditemukan di Malaysia

Merah, ditemukan di Indonesia

Arwana Asia terdaftar dalam daftar spesies langka yang berstatus "terancam punah" oleh
IUCN tahun 2004. Jumlah spesies ini yang menurun dikarenakan seringnya diperdagangkan
karena nilainya yang tinggi sebagai ikan akuarium, terutama oleh masyarakat Asia. Pengikut
Feng Shui dapat membayar harga yang mahal untuk seekor ikan ini.
Arwana adalah ikan bertulang air tawar dari keluarga Osteoglossidae, juga dikenal
sebagai bonytongues. Arwana sebenarnya termasuk jenis ikan purba yang hingga kini belum
punah. Banyak nama yang melekat padanya,di antara ikan siluk, ikan kayangan, ikan kalikasi,
dan ikan kelasa.
Ciri-ciri fisik ikan arwana :
Secara morfologis (ciri-ciri fisik), badan dan kepala arwana agak padat. Tubuhnya pipih dan
punggungnya datar, hampir lurus dari mulut hingga sirip punggung. Garis lateral atau gurat sisi
yang terletak di samping kiri dan kanan tubuh arwana panjangnya antara 20-24 cm. Bentuk
mulutnya mengarah keatas dan mempunyai sepasang sungut pada bibir bawah. Ukuran mulutnya
lebar dan rahangnya cukup kokoh. Giginya berjumlah 15-17. Bagian insangnya di lengkapi
dengan penutup insang. Letak sirip punggungnya berdekatan dengan pangkal sirip ekor (caudal).
Sirip anusnya lebih panjang dari pada sirip punggung (dorsal), hampir mencapai sirip perut
(ventral). Panjang arwana dewasa sangat variatif, antara 30-80 cm. Bentuk badannya gepeng dan
bersisik besar meliuk-liuk indah saat berenang di akuarium. Ditambah tumbuhnya dua sungut di
ujung bibir bawah membuat ikan ini mirip liong atau naga. Karena itu, tidak mengherankan jika
sebagian masyarakat menyabutnya dengan kimliong atau ikan naga emas. Layaknya naga,
arwanajuga dianggap sebagai symbol keberhasilan, keperkasaan, dan kejayaan.

3. Pesut
Klasifikasi ilmiah :
Kerajaan:

Animalia

Filum:

Chordata

Kelas:

Mammalia

Ordo:

Cetacea

Famili:

Delphinidae

Genus:

Orcaella

Spesies:

O. brevirostris

Nama binomial
Orcaella

brevirostris

(Owen in Gray, 1866)


Pesut atau lumba-lumba air tawar adalah spesies mamalia air yang menghuni wilayah
perairan tawar di India, Indocina, Filipina dan Kalimantan.
Nama dan sejarah taksonomi :
Tidak ada catatan fosil. Pesut pertama kali dideskripsikan oleh Sir Richard Owen tahun
1866 berdasarkan satu spesiemen yang ditemukan tahun 1852, di pelabuhan Vishakhapatnum di
pantai timur India. Pesut adalah salah satu spesies dari genus Orcaella. Kadang-kadang pesut
terdaftar dalam beragam famili yang terdiri dari ia sendiri dan pada Monodontidae dan dalam
Delphinapteridae. Sekarang ada persetujuan bahwa pesut termasuk famili Delphinidae.
Secara genetis, pesut berhubungan dekat dengan paus pembunuh. Nama spesies
brevirostris berasal dari bahasa Latin yang berarti berparuh pendek. Tahun 2005, analisis genetik
menunjukkan bahwa lumba-lumba sirip pendek Australia merupakan spesies kedua dari genus
Orcaella.
Seluruh tubuh berwarna kelabu hingga biru tua, bagian bawahnya berwarna lebih pucat.
Tidak ada pola yang khas. Sirip punggung kecil dan membulat di tengah punggung. Dahinya

tinggi dan membulat; tidak bermoncong. Sirip tangan lebar membulat. Spesies di Kalimantan
yang mirip adalah Porpoise tak bersirip, Neophocaena phocaenoides, mirip tapi tidak punya sirip
punggung: lumba-lumba bungkuk, Sausa chinensis, lebih besar, moncong lebih panjang dan sirip
punggung lebih besar.
Dalam berbagai bahasa Orcaella brevirostris (nama Latin) adalah: Inggris: Irrawaddy
dolphin, Dialek lokal Chilika: Baslnyya Magaratau Bhuasuni Magar (lumba-lumba penghasil
minyak), Oriya: Khem dan Khera, Perancis: Orcelle, Spanyol: Delfn del Irrawaddy, Jerman:
Irrawadi Delphin, Burma: Labai, Indonesia: Pesut, Melayu: Lumbalumba, Khmer: Phsout, Lao:
Phaka and Filipino: Lampasut. Dalam bahasa Thai, salah satu namanya adalah pa loma hooa
baht, karena kepalanya yang membundar dianggap menyerupai mangkuk rahib Budhha, hooa
baht.
Deskripsi :
Penampilan pesut mirip dengan beluga, meski lebih berkerabat dengan orka. Spesies ini
mempunyai melon (jaringan berlemak dan berminyak di kepala). Moncongnya tidak khas. Sirip
punggung yang terletak dua pertiga posterior di punggung, pendek, tumpul, dan segitiga. Sirip
tangan panjang dan lebar. Secara keseluruhan ia berwarna cerah, namun lebih putih di bawah
tubuh daripada di punggung. Pesut dewasa beratnya lebih dari 130 kg dan panjangnya 2,3 m
psaat dewasa. Panjang maksimum yang tercatat adalah jantan 2,75 m dari Thailand.[4]
Perkembangbiakan :
Lumba-lumba ini dianggap mencapai kedewasaan seksual pada 7 sampai 9 tahun. Di
belahan bumi utara, perkawinan dilaporkan berlangsung pada bulan Desember sampai Juni.
Masa hamilnya 14 bulan, melahirkan seekor anak setiap 2 hingga 3 tahun. Saat lahir panjangnya
1 m dan beratnya 10 kg. Anak itu disapih setelah berumur dua tahun. Umur pesut dapat mencapai
30 tahun.
2. Zona garis weber
Garis Weber adalah sebuah garis khayal pembatas antara dunia flora dan fauna di paparan
sahul dan di bagian lebih barat Indonesia. garis ini membujur dari utara ke selatan antara
kepulauan Maluku dan Papua serta antara Nusa Tenggara Timur dengan Australia. Garis ini

dicetuskan oleh Max Carl Wilhelm Weber atau Max Wilhelm Carl Weber (lahir di Bonn, 5
Desember 1852 meninggal di Berbeek , 7 Februari 1937 pada umur 84 tahun) adalah seorang
ilmuwan ahli ilmu hewan (zoologis) dan biogeografi berkebangsaan Jerman-Belanda. Weber
secara khusus tertarik dengan kedalaman laut di selat Lombok, yaitu selat yang memisahkan
antara Pulau Bali dengan Pulau Lombok, dimana sebelumnya Wallace menyatakan bahwa selat
antara Pulau Bali dan Pulau Lombok menjadi tanda pemisah bagi fauna yang bercirikan Asia
dan fauna yang bercirikan Australia. Tetapi penemuan Weber mengindikasikan

bahwa

kedalaman laut di Selat Lombok hanya sekitar 312 m yang berarti selat Selat Lombok tidak
begitu dalam. Sehingga demikian setelah ditelaah lebih dalam lagi, terutama kondisi fauna di
kepulauan Indonesia Timur khususnya di Celebes dan Maluku, menurut Weber, garis pemisah
yang kuat antara fauna Asia dan Australia tidaklah ada, akan tetapi semakin menuju ke arah
timur dari kepulauan nusantara, maka fauna bercirikan Asia semakin berkurang, dan sebaliknya,
fauna yang bercirikan Australia semakin banyak.

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Weber ini oleh sebagian peneliti dianggap telah
memindahkan garis Wallace lebih ke arah timur yang mana kemudian garis ini dinamakan
dengan Garis Weber, meski Weber sendiri tidak begitu menyetujui garis imajiner pemisah
sebagaimana garis imajiner Wallace. Garis imajiner Weber dipopulerkan oleh Paul Pelseneer di
tahun 1904. Dalam pandangan modern secara umum dapat diterima bahwa antara garis Wallace
dan garis Weber merupakan zona transisi yang disebut Wallacea. Ilmuwan dapat memberikan
gambaran bahwa garis Wallace antara Borneo dan Celebes merupakan ujung dari lempengan
benua Asia, sedangkan garis Weber antara Celebes dan Kepulauan Maluku mencerminkan
keseimbangan fauna antara fauna yang bercirikan Asia dengan Australia. Sekembalinya Weber
dari penjelajahan di Hindia Timur, ia menerbitkan hasil penelitiannya dalam suatu publikasi
ilmiah yang berjudul Zoologische Ergebnisse einer Reise in Niederlndisch Ost-Indien.
Secara umum, titik utama penelitian Weber adalah tentang biologi kelautan yang
difokuskan pada jalur migrasi invertebrate laut dan ikan-ikan pelagis (yang menghuni lapisan
laut menengah dan atas). Dalam melakukan penelitia, ia bersama teman-temannya menemukan
cukup banyak

ikan-ikan dan hewan laut jenis baru, contohnya seperti kerang lentera (filum
Brachiopoda), yang ditemukan di beberapa kepualauan di bagian timur nusantara seperti di
daerah Banda, Ambon, Seram, Kei, Sulawesi, Sulu dan Selayar. Sedangkan menurut Tomascik
(1997), ekspedisi Siboga di nusantara berhasil menemukan sebanyak 70 spesies dan 27 genera
karang ahermatypic, termasuk 3000 spesies sponge (rumput laut). Selain itu peta batimetri (peta
konfigurasi dasar laut) yang pertama untuk nusantara dihasilkan pula dari ekspedisi ini.

Garis Webber merupakan garis yang membatasi antara jenis flora dan fauna Indonesia bagian
tengah dan timur atau tipe Peralihan dan tipe Australis. Garis ini ditentukan berdasarkan
hipotesis dari Max Wilhelm Carl Weber.
Weber

: Ikan Mujair, Ikan Bettah, Ikan arwana

1. Mujair
Klasifikasi ilmiah :
Kerajaan: Animalia
Filum : Chordata
Kelas
: Actinopterygii
Ordo
: Perciformes
Famili : Cichlidae
Genus : Oreochromis

Spesies : O. mossambicus
Nama binomial
Oreochromis
mossambicus
(W. Peters), 1852
Ciri-ciri :
Ikan berukuran sedang, panjang total maksimum yang dapat dicapai ikan mujair adalah
sekitar 40 cm. Bentuk badannya pipih dengan warna hitam, keabu-abuan, kecoklatan atau
kuning.
Sirip punggungnya (dorsal) memiliki 15-17 duri (tajam) dan 10-13 jari-jari (duri berujung
lunak); dan sirip dubur (anal) dengan 3 duri dan 9-12 jari-jari.
Kebiasaan :
Ikan mujair mempunyai toleransi yang besar terhadap kadar garam (salinitas), sehingga
dapat hidup di air payau. Jenis ikan ini memiliki kecepatan pertumbuhan yang relatif cepat, tetapi
setelah dewasa kecepatannya ini akan menurun.
Mujair juga sangat peridi. Ikan ini mulai berbiak pada umur sekitar 3 bulan, dan setelah
itu dapat berbiak setiap 1 bulan sekali. Setiap kalinya, puluhan butir telur yang telah dibuahi
akan dierami dalam mulut induk betina, yang memerlukan waktu sekitar seminggu hingga
menetas. Hingga beberapa hari setelahnya pun mulut ini tetap menjadi tempat perlindungan
anak-anak ikan yang masih kecil, sampai anak-anak ini disapih induknya.
Dengan demikian dalam waktu beberapa bulan saja, populasi ikan ini dapat meningkat
sangat pesat. Apalagi mujair cukup mudah beradaptasi dengan aneka lingkungan perairan dan
kondisi ketersediaan makanan.
Tidak mengherankan apabila ikan ini dianggap invasif dan menimbulkan berbagai
masalah baru di perairan yang didatanginya, seperti halnya di Singapura, dan di California
Selatan, Amerika Serikat. Tidak luput pula adalah berbagai waduk dan danau-danau di Indonesia
yang 'ditanami' ikan ini, seperti misalnya Danau Lindu di Sulawesi Tengah.

3. Zona peralihan
Zona peralihan adalah wilayah yang terdapat keanekaragaman hayati berasal dari zona oriental
dan zona australasia. Zona ini meliputi Sulawesi dan Nusa tenggara. Pada wilayah ini terdapat
pohon eukaliptus dan hewan oposum yang lebih mirip dengan tumbuhan dan hewan dari zona
Australasia. Di Indonesia bagian tengah juga terdapat hewan khas Indonesia yaitu anoa di
Sulawesi, dan babirusa. Burung maleo yag sangat langka terdapat di Sulawesi. Biawak komodo
di pulau Komodo.
Jenis ikan pada zona peralihan :
1. Ikan duyung
Ikan duyung atau dugong (dugong dugon) merupakan sejenis hewan laut yang
merupakan salah satu daripada empat spesies Sirenia atau lembu laut yang masih bertahan hidup
selain manatee. ikan duyung bukanlah termasuk dalam bangsa ikan. ia merupakan satu-satunya
hewan yang mewakili keluarga Dungongidae. ia juga merupakan satu-satunya sirenia yang bisa
ditemukan di kawasan perairan sekurang-kurangnya di 37 negara di wilayah Indo-Pasifik.

Daftar pustaka
https://www.academia.edu/8922055/1_GARIS_WALLACE
http://id.wikipedia.org/wiki/Garis_Wallace
http://id.wikipedia.org/wiki/Mujair
http://id.wikipedia.org/wiki/Pesut
http://id.wikipedia.org/wiki/Arwana_asia
http://ichi-ku.blogspot.com/2013/03/fauna-tipe-peralihan.html