Anda di halaman 1dari 11

PENENTUAN KADAR ASAM SALISILAT DALAM

SAMPEL SERBUK SALISYL DENGAN TITRASI


ASAM-BASA

OLEH
KELOMPOK 8
AYU NUR FITRIYANI

( P07134013038 )

NI KADEK LINA WINATI

( P07134013040)

NI MADE AYU JUNI ANGGRENI

( P07134013042 )

I KADEK MARDANA

( P07134013044 )

PUTU RATNA MULIARTINI

( P07134013046 )

NI MADE ITA PURNAMADEWI

( P07134013048 )

KEMENTERIAN KESEHATAN RI
POLITEKNIK KESEHATAN DENPASAR
JURUSAN ANALIS KESEHATAN
2015

BAB I
PENDAHULUAN

I.

Latar Belakang
Zaman sekarang penyakit kulit semakin beraneka macam. Karena banyak
bahan berbahaya yang sekarang masuk ke tubuh kita. Bahan itu biasanya
disebut dengan toksik. Bahan tersebut dapat masuk ke tubuh melalui makanan,
obat bahkan kosmetik yang sering digunakan. Toksik-toksik tersebut dapat
menyebabkan dampak negatif bagi kesehatan manusia sekarang seperti
timbulnya penyakit kulit seperti gatal pada kulit, jerawat,ketombe dan masih
banyak lagi.
Untuk itu biasanya banyak orang menggunakan obat-obatan untuk
mengurangi rasa sakit. Obat-obat tersebut dapat berbentuk salap, kapsul
sampai bedak. Biasanya didalam obat-obatan tersebut terdapat kandungan
asam salisilat. Asam salisilat pada awalnya ditemukan oleh Indian Amerika
pada kulit pohon dan daun pohon willow dan meadow sweet. Keterangan ini
didapat dari hasil penelusuran tulisan Hippocrates. Dia menulis tentang bubuk
pahit yang dikenal dapat mengurangi sakit, nyeri, dan demam.Suku Indian
Amerika akan mengunyah kulit yang mengandung bentuk asli dari asam
salisilat yang dikenal dengan acetyl salicylic acid, dan digunakan untuk
menyembuhkan sakit kepala dan penyakit lainnya yang memerlukan antiinflamasi.
Asam salisilat digunakan pula sebagai bahan utama untuk aspirin. Ketika
digunakan untuk jerawat, asam salisilat akan mencegah sel-sel kulit mati
menutup folikel rambut sehingga mencegah penyumbatan pori-pori yang
dapat menyebabkan jerawat. Asam salisilat juga membantu menghilangkan
sel-sel kulit mati dari lapisan kulit. Untuk mengobati kutil, diperlukan dosis
asam salisilat yang tinggi. Asam salisilat akan melunakkan kutil sehingga

lebih mudah diangkat. Asam salisilat juga banyak terkandung dalam beberapa
sayuran seperti brokoli, paprika, dan mentimun.
Salisilat sering digunakan untuk mengobati segala keluhan ringan dan
tidak berarti sehingga banyak terjadi penyalahgunaan obat bebas ini.
Keracunan salisilat yang berat dapat menyebabkan kematian, tetapi umumnya
keracunan salisilat bersifat ringan. Untuk mengetahui kadar asam salsilat yang
ada dalam obat maka dilakukan penentuan kadar asam salisilat pada bubuk
menggunakan metode titrasi asam-basa.
II.

Tujuan
1. Tujuan Umum
Mahasiswa mampu melakukan penetapan kadar asam salisilat dalam
sampel serbk dengan titrasi asam-basa.
2. Tujuan Khusus
a. Mampu melakukan pembakuan larutan asam dan basa.
b. Mampu melakukan titrasi asam-basa ( titrasi balik dan titrasi
langsung )
c. Mampu melakukan penetapan kadar asam salisilat dalam sampel
serbuk.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Asam Salisilat
Asam salisilat adalah obat keratolitik (obat yang menghilangkan lapisan
luar kulit) yang digunakan untuk mengobati berbagai kondisi kulit. Asam salisilat
(asam ortohidroksibenzoat) merupakan asam yang bersifat iritan local, yang dapat
digunakan secara topical. Terdapat berbagai turunan yang digunakan sebagai obat
luar, yang terbagi atas 2 kelas, ester dari asam salisilat dan ester salisilat dari asam
organic. Di samping itu digunakan pula garam salisilat. Turunannya yang paling
dikenal adalah asam asetilsalisilat. Asam salisilat mendapatkan namanya dari
spesies dedalu (bahasa latin: salix), yang memiliki kandungan asam tersebut
secara alamiah. Salisilat umumnya bekerja melalui kandungan asamnya. Hal
tersebut dikembangkan secara menetap ke dalam salisilat baru. Selain sebagai
obat, asam salisilat juga merupakan hormon tumbuhan.
Asam salisilat merupakan turunan dari senyawa aldehid. Senyawa ini juga
biasa disebut o-hidroksibensaldehid, o-formilfenol atau 2-formilfenol. Senyawa
ini stabil, mudah terbakar dan tidak cocok dengan basa kuat, pereduksi kuat, asam
kuat, dan pengoksidasi kuat. Turunan yang terpenting dari asam salisilat ini adalah
asam asetil salisilat yang lebih dikenal sebagai asetosal atau aspirin.
Sifat-sifat fisik dari asam salisilat

1.

Penampakan

Tidak berwarna menjadi kuning pada


larutan dengan bau kenari pahit

2.

Titik lebur

1-20C

3.

Titik didih

1970C

4.

Kerapatan

4,2

5.

Tekanan uap

1 mmHg pada 330C

6.

Daya ledak

1,146 g/cm3

7.

Titik nyala

760C

8.

Titik leleh

1590C

Sifat-sifat lain yang dimiliki oleh asam salisilat adalah sebagai berikut :
1. Panas jika dihirup, ditelan dan apabila terjadi kontak dengan kulit
2. Iritasi pada mata
3. Iritasi pada saluran pernafasan
4. Iritasi pada kulit (Asri ; 2012)
Asam salisilat larut dalam air dengan perbandingan 1:500, larut dalam
etanol (1:4), larut dalam kloroform (1:45) dan larut dalam eter (1:3). Konstanta
disosiasinya yakni 3.0dan 13.4 (250) dan koefisien partisi (oktanol/air) sebesar 2,3.
Titrasi Asam-Basa
Titrasi merupakan suatu metode untuk menentukan kadar suatu zat dengan
menggunakan zat lain yang sudah diketahui konsentrasinya. Titrasi biasanya
dibedakan berdasarkan jenis reaksi yang terlibat di dalam proses titrasi, sebagai
contoh bila melibatkan reaksi asam basa maka disebut sebagai titrasi asam basa,
titrasi redox untuk titrasi yang melibatkan reaksi reduksi oksidasi, titrasi
kompleksometri untuk titrasi yang melibatkan pembentukan reaksi kompleks dan
lain sebagainya.

Zat yang akan ditentukan kadarnya disebut sebagai titrant dan biasanya
diletakkan di dalam Erlenmeyer, sedangkan zat yang telah diketahui

konsentrasinya disebut sebagai titer dan biasanya diletakkan di dalam buret. Baik
titer maupun titran biasanya berupa larutan.
Titrasi asam basa disebut juga titrasi adisi alkalimetri. Kadar atau
konsentrasi asam basa larutan dapat ditentukan dengan metode volumetri dengan
teknik titrasi asam basa. Volumetri adalah teknik analisis kimia kuantitatif untuk
menetapkan kadar sampel dengan pengukuran volume larutan yang terlibat reaksi
berdasarkan kesetaraan kimia. Kesetaraan kimia ditetapkan melalui titik akhir
titrasi yang diketahui dari perubahan warna indicator dan kadar sampel untuk
ditetapkan melalui perhitungan berdasarkan persamaan reaksi.
Titrasi asam basa merupakan teknik untuk menentukan konsentrasi larutan
asam atau basa. Reaksi yang terjadi merupakan reaksi asam basa (netralisasi).
Larutan yang konsentrasinya sudah diketahui disebut larutan baku. Titik ekuivalen
adalah titik ketika asam dan basa tepat habis bereaksi dengan disertai perubahan
warna indikatornya. Titik akhir titrasi adalah saat terjadinya perubahan warna
indicator. Indicator yang digunakan pada titrasi asam basa adalah yang memiliki
rentang pH dimana titik ekuivalen berada. (Arrofath ; 2014)
Indicator asam basa digunakan untuk membedakan larutan yang bersifat
asam dan basa serta memperkirakan besarnya pH larutan dengan cara mengetahui
trayek pH indicator. Dalam titrasi asam basa, phenolphthalein merupakan
indicator yang sering digunakan karena sangat mudah diamati perubahan
warnanya (memiliki kisaran pH 8,0-9,6). Bila dalam keadaan tidak terionisasi,
indicator ini tidak akan mengalami perubahan warna. Sedangkan dalam
lingkungan basa, phenolphthalein akan terionisasi dan menghasilkan warna
merah. Dalam titrasi asam basa, indicator yang digunakan harus dapat berubah
warna tepat pada saat titik ekuivalennya tercapai.

BAB III
PROSEDUR KERJA

I. Alat dan Bahan


1. Alat
a. Erlenmeyer
b. Pipet tetes
c. Pipet volume
d. Gelas beaker
e. Labu Ukur
f. Biuret + Statif
g. Klem
h. Neraca Analitik
i. Corong gelas
2. Bahan
a. NaOH
b. HCl
c. Asam Oksalat
d. Asam salisilat
e. Indikator Phenolptalein
f. Kloroform
g. Aquadest
II. Prosedur Kerja
1. Cara Pembuatan Larutan
a. Pembuatan Larutan Baku Asam Oksalat 0,1 N

Ditimbang 3,15
gram asam
Dikocok
sampai
oksalat dihidrat
homogen

Asam oksalat dihidrat


dilarutkan dengan
Dipindakan ke labu ukur
aquadest 20 mL.
500 mL, ditepatkan
dengan aquadest

b. Pembuatan Larutan Baku NaOH 0,1 N


c.
d.
NaOH dilarutkan 20 mL
e. Ditimbang 2 gram
aquadest menggunakan
f. NaOH
g.
beaker glass
h.
Dipindahkan ke labu ukur
Dikocok Larutan
sampaiBaku HCl 0,1 N
i. Pembuatan
500 mL dan ditepatkan
j. homogen
dengan aquadest
k.
l.
Dimasukkan ke dalam labu
m. Diambil 5 mL HCl
ukur 500 mL yang telah
n. 37%
berisi 50 mL aquadest.
o.
Dikocok hingga homogen
p.
Ditepatkan sampai tanda
Dikocok
hingga
q. Pembuatan
Larutan
indikator Phenolptalein
batas1%
dengan aquadest.
r. homogen
s.
t.
Ditimbang 0,1
Dilarutkan dengan etanol
u.
gram
10 mL
v.
phenolptalein
Dipindahkan ke labu ukur 100
w.
Dikocok hingga
mL, ditepatkan menggunakan
2. Langkah Kerja
homogen
a. Pembakuan Larutan NaOH
aquadest
x.
y.
z. Dipipet 10 mL asam
Ditambahkan 3
aa.oksalat ke erlenmeyer
tetes indicator
ab.Dititrasi Larutan asam
PP
Dimasukkan larutan
ac.
oksalat dengan NaOH
ad. Dilakukan titrasinya sebanyak 3 kalibaku NaOH ke biuret
hingga berubah warna
mejadi merah muda stabil

b. Pembakuan Larutan HCl


c.
d.
e.
f.

i.

Dipipet 10 mL
NaOH ke
erlenmeyer

Ditambahkan 3 tetes
indicator PP

Dimasukkan larutan baku


Dititrasi Larutan asam
HCl ke dalam buret
g. Dilakukan
titrasinya
sebanyak
3
kali
oksalat dengan NaOH
h. hingga berubah warna
Penetapan
Kadar Senyawa Asam Salisilat dalam sampel serbuk
mejadi jernih

j. TITRASI LANGSUNG
k.
l.

100 mg serbuk
ditimbang ke
erlenmeyer

m.Diuapkan pada suhu 80n. 90C


o.
p.
q.
r.Ditambahkan etanol 2 mL,
s.dikocok.
TITRASI
BALIK
Ditambahkan
t.aquadest 8 mL.
u.ditambahkan 3 tetes PP.
v. 100 mg serbuk
w. ditimbang ke
x. erlenmeyer
y.Ditetesi 3 tetes PP.
z.larutan baku HCl
aa.
dimasukkan ke buret.

Dititrasi sampel dengan HCl


sampai warna menjadi
jernih.

Ditambakan 30 ml
kloroform. dikocok
Disaring menggunakan
kertas saring, 10 mL masingmasing larutan dimasukkan
ke tabung yang berbeda
Dimasukkan larutan baku
NaOH ke buret. Dititrasi
sampel dengan NaOH
sampai warna merah muda
Ditambakan 30 ml
NaOH. dikocok
Disaring menggunakan kertas
saring, 10 mL masing-masing
larutan dimasukkan ke
erlenmeyer yang berbeda

ab.

ad.

DAFTAR PUSTAKA
ac.

Anonim. 2014. Laporan Praktikum Kimia Titrasi Asam Basa. Online :


http://

arrofathtekperunib.blogspot.com/2014/10/laporan-praktikum-

kimiatitrasi-asam-basa.html ( diakses 24 Maret 2015 )


ae.

Asri.2012.

Asam

Salisilat.

Online

http://

asri77.blogspot.com/2012/04/asam-salisilat.html ( diakses 24 Maret 2015 )


af.
ag.
ah.

Khopkar, S.M. (2003). Kimia Analitis. Jakarta : UI-Press