Anda di halaman 1dari 33

BAB I

PENDAHULUAN

Hernia inguinalis merupakan kasus bedah digestif terbanyak setelah


appendicitis. Sampai saat ini masih merupakan tantangan dalam peningkatan
status kesehatan masyarakat karena besarnya biaya yang diperlukan dalam
penanganannya dan hilangnya tenaga kerja akibat lambatnya pemulihan dan
angka rekurensi. Dari keseluruhan jumlah operasi di Perancis tindakan bedah
hernia sebanyak 17,2 % dan 24,1 % di Amerika Serikat. 1
Hernia ialah penonjolan dari suatu struktur / bentuk, viscus atau organ dari
tempat yang seharusnya, protrusi atau penonjolan isi suatu rongga melalui defek
atau bagian lemah dari dinding rongga bersangkutan.2-3
Hernia inguinalis dibagi menjadi hernia ingunalis lateralis dan hernia
ingunalis medialis dimana hernia ingunalis lateralis ditemukan lebih banyak dua
pertiga dari hernia ingunalis medialis. Hernia lebih dikarenakan kelemahan
dinding belakang kanalis inguinalis. Hernia ingunalis lebih banyak ditemukan
pada pria daripada wanita, untuk hernia femoralis sendiri lebih sering ditemukan
pada wanita.Sedangkan jika ditemukan hernia ingunalis pada pria kemungkinan
adanya hernia ingunalis atau berkembangnya menjadi hernia ingunalis sebanyak
50 % Perbandingan antara pria dan wanita untuk hernia ingunalis 7 : 1. Prevalensi
hernia ingunalis pada pria dipengaruhi oleh umur. 1

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Anatomi dan Fisiologi


Region inguinal harus dipahami, pengetahuan tentang region ini penting
untuk terapi operatif dari hernia. Sebagai tambahan, pengetahuan tentang
posisi relative dari saraf, pembuluh darah dan struktur vas deferen,
aponeurosis dan fascia. 4
* Kanalis Inguinalis
Kanalis inguinalis pada orang dewasa panjangnya kira-kira 4 cm dan
terletak 2-4 cm kearah caudal ligamentum inguinal. Kanal melebar diantara
cincin internal dan eksternal. Kanalis inguinalis mengandung salah satu vas
deferens atau ligamentum uterus. Funikulus spermatikus terdiri dari serat-serat
otot cremaster, pleksus pampiniformis, arteri testicularis n ramus genital
nervus genitofemoralis, ductus deferens, arteri cremaster, limfatik, dan
prosesus vaginalis. 4-6
Kanalis inguinalis harus dipahami dalam konteks anatomi tiga dimensi.
Kanalis inginalis berjalan dari lateral ke medial, dalam ke luar dan cepal ke
caudal. Kanalis inguinalis dibangun oleh aponeurosis obliquus ekternus
dibagian superficial, dinding inferior dibangun oleh ligamentum inguinal dan
ligamentum lacunar. Dinding posterior (dasar) kanalis inguinalis dibentuk oleh
fascia transfersalis dan aponeurosis transverses abdominis. Dasar kanalis
inguinalils adalah bagian paling penting dari sudut pandang anatomi maupun
bedah. 4,6
Pembuluh darah epigastric inferior menjadi batas superolateral dari
trigonum Hesselbach. Tepi medial dari trigonum dibentuk oleh membrane
rectus, dan ligamentum inguinal menjadi batas inferior. Hernia yang melewati
trigonum Hesselbach disebut sebagai direct hernia, sedangkan hernia yang
muncul lateral dari trigonum adalah hernia indirect. 6

Gambar 1. Segitiga Hesselbach's


* Aponeurosis Obliqus External
Aponeurosis otot obliquus eksternus dibentuk oleh dua lapisan: superficial
dan profunda. Bersama dengan aponeurosis otot obliqus internus dan
transversus abdominis, mereka membentuk sarung rectus dan akhirnya linea
alba, external oblique aponeurosis menjadi batas superficial dari kanalis
inguinalis. Ligamentum inguinal terletak dari spina iliaca anterior superior ke
tuberculum pubicum. 4,6

Gambar 2. Otot Oblique

* Otot Oblique internus


Otot obliq abdominis internus menjadi tepi atas dari kanalis inguinalis .
bagian medial dari internal oblique aponeurosis menyatu dengan serat dari
aponeurosis transversus abdominis dekat tuberculum pubicum untuk
membentuk conjoined tendon. adanya conjoined tendon yang sebenarnya te;ah
banyak diperdebatkan, tetapi diduga oleh banyak ahli bedah muncul pada 10%
pasien. 4-6
* Fascia Transversalis
Fascia transversalis dianggap suatu kelanjutan dari otot transversalis dan
aponeurosisnya. Fascia transversalis digambarkan oleh Cooper memiliki 2
lapisan: "The fascia transversalis dapat dibagi menjadi dua bagian, satu
terletak sedikit sebelum yang lainnya, bagian dalam lebih tipis dari bagian
luar; ia keluar dari tendon otot transversalis pada bagian dalam dari spermatic
cord dan berikatan ke linea semulunaris.4,6

Gambar 3. Fascia Transversalis


* Ligamentum Cooper
Ligamentum Cooper terletak pada bagian belakang ramus pubis dan
dibentuk oleh ramus pubis dan fascia. Ligamentum cooper adalah titik fixasi
yang penting dalam metode perbaikan laparoscopic sebagaimana pada teknik
McVay. 4
* Preperitoneal Space

preperitoneal space terdiri dari jaringan lemak, lymphatics, pembuluh darah


dan saraf. Saraf preperitoneal yang harus diperhatikan oleh ahli bedah adalah
nervus cutaneous femoral lateral dan nervus genitofemoral. nervus cutaneous
femoral lateral berasal dari serabut L2 dan L3 dan kadang cabang dari nervus
femoralis. Nervus ini berjalan sepanjang permukaan anterior otot iliaca dan
dibawah fascia iliaca dan dibawah atau melelui perlekatan sebelah lateral
ligamentum inguinal pada spina iliaca anterior superior. 6
Nervus genitofemoral biasanya berasal dari L2 atau dari L1 dan L2 dan
kadang dari L3. Nervus genitofemoral turun didepan otot psoas dan terbagi
menjadi cabang genital dan femoral. Cabang genital masuk ke kanalis
inguinalis melalui cincin dalam sedangkan cabang femoral masuk ke hiatus
femoralis sebelah lateral dari arteri. ductus deferens berjalan melalui
preperitoneal space dari caudal ke cepal dan medial ke lateral ke cincin interna
inguinal.
Jaringan lemak, lymphatics, ditemukan di preperitoneal space, dan jumlah
jaringan lemak sangat bervariasi. 3-6

Gambar 4. Anatomi anterior

Gambar 5. Anatomi posterior


B. Definisi
Hernia didefinisikan adalah suatu penonjolan abnormal organ atau
jaringan melalui daerah yang lemah (defek) yang diliputi oleh dinding.
Meskipun hernia dapat terjadi di berbagai tempat dari tubuh kebanyakan
defek melibatkan dinding abdomen pada umumnya daerah inguinal. Pada
hernia abdomen, isi perut menonjol melalui defek atau bagian lemah dari
lapisan muskulo-aponeurotik dinding perut. Hernia terdiri atas cincin,
kantong, dan isi hernia.1,7
C. Klasifikasi Hernia
Menurut sifat dan keadaannya hernia dibedakan menjadi :3

Hernia reponibel: bila isi hernia dapat keluar masuk. Usus keluar jika
berdiri atau mengedan dan masuk lagi bila berbaring atau didorong masuk
perut, tidak ada keluhan nyeri atau gejala obstruksi usus.

Hernia irreponibel / hernia akreta yaitu bila isi kantong hernia tidak dapat
dikembalikan kedalam rongga. Biasanya disebabkan oleh perlengketan isi

kantong pada peritoneum kantong hernia. Tidak ada keluhan rasa nyeri

ataupun tanda sumbatan usus.


Hernia inkarserata yaitu bila isi hernia terjepit oleh cincin hernia, berarti isi
kantong terperangkap, tidak dapat kembali ke dalam rongga perut disertai
terjadinya gangguan pasase usus. Hernia inkarserata dengan obstruksi
berisi usus, dimana lumennya tertutup. Biasanya obstruksi terjadi pada
leher kantong hernia. Jika obstruksi terjadi pada kedua tepi usus, cairan
berakumulasi di dalamnya dan terjadi distensi (closed loop obstruction).
Biasanya suplai darah masih baik, tetapi lama kelamaan dapat terjadi
strangulasi3. Hernia ini merupakan penyebab obstruksi nomor satu di
Indonesia.
Gambar
Hernia

6.

inkarserata dengan ileus obstruksi usus2

Hernia strangulata yaitu bila isi hernia terjepit oleh cincin hernia, isi
kantong

terperangkap

dan

terjadi

gangguan pasase usus serta gangguan


vaskularisasi

sehingga

nekrosis.

Jika

abdominal bukan

dapat

terjadi

isi
usus,

hernia
misalnya

omentum, nekrosis yang terjadi bersifat


steril, tetapi strangulasi usus yang paling
sering terjadi dan menyebabkan nekrosis
yang terinfeksi (gangren). Mukosa usus
terlibat

dan

dinding

usus

menjadi

Gambar 7 . Hernia Strangulata 2

permeabel terhadap bakteri, yang bertranslokasi dan masuk ke dalam


kantong dan dari sana menuju pembuluh darah. Bila strangulasi hanya
menjepit sebagian dinding usus, hernianya disebut hernia Richter.
Komplikasi hernia Richter adalah strangulasi sehingga terjadi perforasi
usus, dan pada hernia femoralis
Klasifikasi hernia yang

dibagi berdasarkan regionya, yaitu: hernia

inguinalis, hernia femoralis, hernia umbilikalis, dan hernia skrotalis.3

Hernia Inguinalis, yaitu: kondisi prostrusi (penonjolan) organ intestinal


masuk ke rongga melalui defek atau bagian dinding yang tipis atau lemah
dari cincin inguinalis. Materi yang masuk lebih sering adalah usus halus,
tetapi bisa juga merupakan suatu jaringan lemak atau omentum.
Predisposisi terjadinya hernia inguinalis adalah terdapat defek atau
kelainan berupa sebagian dinding rongga lemah. Penyebab pasti hernia
inguinalis terletak pada lemahnya dinding, akibat perubahan struktur fisik
dari dinding rongga (usia lanjut), peningkatan tekanan intraabdomen

(kegemukan, batuk yang kuat dan kronis, mengedan akibat sembelit, dll).
Hernia Femoralis, yaitu: suatu penonjolan organ intestinal yang masuk
melalui kanalis femoralis yang berbentuk corong dan keluar pada fosa
ovalis di lipat paha. Penyebab hernia femoralis sama seperti hernia
inguinalis.

Hernia Umbilikus, yaitu: suatu penonjolan (prostrusi) ketika isi suatu


organ abdominal masuk melalui kanal anterior yang dibatasi oleh linea
alba, posterior oleh fasia umbilicus, dan rektus lateral. Hernia ini terjadi
ketika jaringan fasia dari dinding abdomen di area umbilicus mengalami

kelemahan.
Hernia Skrotalis, yaitu: hernia inguinalis lateralis yang isinya masuk ke
dalam skrotum secara lengkap. Hernia ini harus cermat dibedakan dengan
hidrokel atau elevantiasis skrotum.

D. Etiologi
Penyebab terjadinya hernia adalah1,7-8:
a) Lemahnya dinding rongga perut. Dapat sejak lahir atau didapat kemudian
dalam hidup
b) Akibat dari pembedahan sebelumnya
c) Kongenital
Hernia kongenital sempurna
Bayi sudah menderita hernia karena adanya defek pada tempat

tempat tertentu.
Hernia kongenital tidak sempurna
Bayi dilahirkan normal (kelainan belum tampak) tapi mempunyai
defek pada tempat-tempat tertentu (predisposisi) dan beberapa bulan
(0-1 tahun) setelah lahir akan terjadi melalui defek tersebut karena
dipengaruhi oleh kenaikan tekanan intraabdominal (mengejan, batuk,

menangis)
d) Aquisial adalah hernia yang bukan disebabkan karena adanya defek
bawaan tetapi disebabkan oleh faktor lain yang dialami manusia, antara
lain:
Tekanan intraabdominal yang tinggi, yaitu pada pasien yang sering

mengejan pada saat buang air besar atau buang air kecil.
Konstitusi tubuh. Pada orang kurus terjadinya hernia karena jairngan
ikatnya yang sedikit, sedangkan pada orang gemuk disebabkan
karena jaringan lemak yang banyak sehingga menambah beban

jaringan ikat penyokong.


Distensi diding abdomen karena peningkatan tekanan intaabdominal
1. Mengangkat beban berat
9

2.
3.
4.
5.

Batuk PPOK
Tahanan saat miksi BPH atau karsinoma
Tahanan saat defekasi konstipasi atau obstruksi usus besar
Distensi abdomen yang mungkin mengindikasikan adanya

gangguan intraabdomen
6. Perubahan isi abdomen, misalnya : adanya asites, tumor jinak

atau ganas, kehamilan, lemak tubuh.


Kelemahan dinding abdomen terjadi karena :
1. Umur yang semakin bertambah
2. Malnutrisibaik makronutrien (protein,

kalori)

atau

mikronutrien (misalnya: Vit. C)


3. Kerusakan atau paralisis dari saraf motorik
4. Abnormal metabolisme kolagen.
Merokok
Diabetes mellitus

E. Patofisiologi Hernia Inguinalis Lateralis


Kanalis inguinalis dalam kanal yang normal pada fetus. Pada bulan
ke-8 dari kehamilan, terjadi desensus vestikulorum melalui kanal tersebut.
Penurunan testis akan menarik peritoneum ke daerah skrotum sehingga terjadi
tonjolan peritoneum yang disebut dengan prosesus vaginalis pritonea. Bila
bayi lahir umumnya prosesus telah mengalami obliterasi, sehingga isi rongga
perut tidak dapat melalui kanalis tersebut. Tetapi dalam beberapa hal sering
belum menutup, karena yang kiri turun terlebih dahulu dari yang kanan, maka
kanalis inguinalis yang kanan lebih sering terbuka. Dalam keadaan normal,
kanal yang terbuka ini akan menutup pada usia 2 bulan.1,7
Bila prosesus terbuka sebagian, maka timbul hidrokel. Bila kanal
terbuka terus, karena resesus tidak berobliterasi maka akan timbul hernia
inguinalis lateral kongenital. Biasanya hernia pada orang dewasa ini terjadi
karena dengan bertambahnya umur, organ dan jaringan tubuh mengalami
proses degenerasi. Pada orang tua kanalis tersebut telah menutup. Namun
karena daerah ini merupakan locus minoris resistance, maka pada keadaan
yang menyebabkan tekanan intraabdominal meningkat seperti batuk-batuk
kronik, bersin yang kuat, mengangkat barang-barang berat, dan mengejan.
Kanal yang sudah tertutup dapat terbuka kembali dan timbul hernia inguinalis
lateralis karena terdorongnya sesuatu jaringan tubuh dan keluar melalui defek

10

tersebut. Akhirnya menekan dinding rongga yang

telah melemas akibat

trauma, hipertrofi prostat, asites, kehamilan, obesitas, dan kelainan kongenital


dan dapat terjadi pada semua.7
Pria lebih banyak dari wanita, karena adanya perbedaan proses
perkembangan alat reproduksi pria dan wanita semasa janin. Potensial
komplikasi terjadi perlekatan antara isi hernia dengan dinding kantong hernia
sehingga isi hernia tidak dapat dimasukkan kembali. Terjadi penekanan
terhadap cincin hernia, akibat semakin banyaknya usus yang masuk cincin
hernia menjadi sempit dan menimbulkan gangguan penyaluran isi usus.
Timbulnya edema bila terjadi nekrosis. Bila terjadi penyumbatan dan
perdarahan akan timbul perut kembung, muntah, konstipasi. Bila inkaserata
dibiarkan, maka lama kelamaan akan timbul edema sehingga terjadi
penekanan pembuluh darah dan terjadi nekrosis.7
F. Gambaran Klinis
Hernia inguinal sering terlihat sebagai tonjolan intermitten yang
secara

berangsur-angsur

meningkat

dalam

ukuran

dan

menjadi

ketidaknyamanan yang progresif dan persisten yang progresif. Kadang hanya


sedikit nyeri, sakit atau rasa terbakar didaerah lipat paha yang mungkin
didapatkan

sebelum

perkembangan

dari

penonjolan

yang

nyata.

Ketidaknyamanan ini memperjelas onset dari symtomp hernia yang sering


dideskripsikan sebagai rasa sakit dan sensasi terbakar. Gejala itu mungkin
tidak hanya didapatkan didaerah inguinal tapi juga menyebar ke daerah
pinggul, belakang, kaki, atau ke daerah genital. Disebut "Reffered pain"
gejala ketidaknyamanan ini dapat mempercepat keadaan yang berat dan
menyusahkan.6
Gejala ketidaknyamanan pada hernia biasanya meningkat dengan
durasi atau intensitas dari kerja, tapi kemudian dapat mereda atau menghilang
dengan istirahat, meskipun tidak selalu.6 Rasa tidak enak yang ditimbulkan
oleh hernia selalu memburuk disenja hari dan membaik pada malam hari, saat
pasien berbaring bersandar dan hernia berkurang. Nyeri lipat paha tanpa
hernia yang dpat terlihat, biasanya tidak mengindikasikan atau menunjukkan
mula timbulnya hernia. Kebanyakan hernia berkembang secara diam-diam,
tetapi beberapa yang lain dicetuskan oleh peristiwa muscular tunggal yang
11

sepenuh tenaga. Secara khas, kantong hernia dan isinya membesar dan
mengirimkan impuls yang dapat teraba jika pasien mengedan atau batuk.
Biasanya pasien harus berdiri saat pemeriksaan, karena tidak mungkin
meraba suatu hernia lipat paha yang bereduksi pada saat pasien berbaring.
Hidrokel bertransiluminasi, tetapi hernia tidak.9
Hernia yang tidak dapat dideteksi oleh pemeriksaan fisik, dapat dilihat
dengan ultra sonografi atau tomografi komputer. Strangulasi menimbulkan
nyeri hebat dalam hernia yang diikuti dengan cepat oleh nyeri tekan,
obstruksi interna, dan tanda atau gejala sepsis. Reduksi dari hernia strangulasi
adalah kontraindikasi jika ada sepsis atau isi dari sakus yang diperkirakan
mengalami gangrenosa.9
Jenis
Reponibel/bebas

Reponibel
+

nyeri
-

Obstruksi
-

Sakit
-

Toksik
-

Irreponibel/akreta

Inkarserata

Strangulata

++

++

++

G. Diagnosa
a. Anamnesa
Pada anamnesis penderita akan mengeluhkan adanya penonjolan
dilipatan paha dengan atau tanpa disertai nyeri.
b. Pemeriksaan fisik
Daerah inguinalis pertama-tama diperiksa dengan inspeksi, sering
benjolan muncul dalam lipat paha dan terlihat cukup jelas. Kemudian jari
telunjuk diletakkan disisi lateral kulit skrotum dan dimasukkan sepanjang
funikulus spermatikus sampai ujung jari tengah mencapai annulus
inguinalis profundus. Suatu kantong yang diperjelas dengan batuk
biasanya dapat diraba pada titik ini. Jika jari tangan tak dapat melewati
annulus inguinalis profundus karena adanya massa, maka umumnya
diindikasikan adanya hernia. Hernia juga diindikasikan, bila seseorang
meraba jaringan yang bergerak turun ke dalam kanalis inguinalis
sepanjang jari tangan pemeriksa selama batuk.3,5
12

Walaupun tanda-tanda yang menunjukkan apakah hernia itu indirek


atau direk, namun umumnya hanya sedikit kegunaannya, karena
keduanya biasanya memerlukan penatalaksanaan bedah, dan diagnosis
anatomi yang tepat hanya dapat dibuat pada waktu operasi. Gambaran
yang menyokong adanya hernia indirek mencakup turunnya kedalam
skrotum, yang sering ditemukan dalam hernia indirek, tetapi tak lazim
dalam hernia direk. Hernia direk lebih cenderung timbul sebagai massa
yang terletak pada annulus inguinalis superfisialis dan massa ini biasanya
dapat direposisi kedalam kavitas peritonealis, terutama jika pasien dalam
posisi terbaring. Pada umumnya pada jari tangan pemeriksa didalam
kanalis inguinalis, maka hernia inguinalis indirek maju menuruni kanalis
pada samping jari tangan, sedangkan penonjolan yang langsung keujung
jari tangan adalah khas dari hernia direk.3
* Tiga teknik pemeriksaan sederhana yaitu finger test, Ziemen test dan
Thumb test.
Cara pemeriksaannya sebagai berikut:
Pemeriksaan Finger Test :
1.Menggunakan jari ke 2 atau jari ke 5.
2.Dimasukkan lewat skrortum melalui anulus
eksternus ke kanal inguinal.
3. Penderita disuruh batuk:
- bila impuls diujung jari berarti hernia inguinalis
lateralis.
- bila impuls disamping jari hernia inguinalis medialis.

Pemeriksaan Ziemen Test :


1.Posisi berbaring, bila ada benjolan masukkan dulu (biasanya oleh
penderita).

13

2.Hernia kanan diperiksa dengan tangan kanan.


3.Penderita disuruh batuk bila rangsangan pada :

jari ke 2 : hernia inguinalis lateralis.


jari ke 3 : hernia ingunalis medialis.
jari ke 4 : hernia femoralis.

Pemeriksaan Thumb Test :


Anulus internus ditekan dengan ibu jari dan
penderita disuruh mengejan
-bila keluar benjolan berarti hernia inguinalis
medialis.
-bila tidak keluar benjolan berarti hernia inguinalis
lateralis.

H. Pemeriksaan Penunjang

Leukosit > 10.000 18.000/mm3


Serum elektrolit meningkat

PEMERIKSAAN RADIOLOGIS

Pemeriksaan ultrasonografi juga berguna untuk membedakan hernia


inkaserata dari suatu nodus limfatikus patologis atau penyebab lain

dari suatu massa yang teraba di inguinal.


CT scan dapat digunakan untuk mngevaluasi pelvis untuk mencari
adanya hernia obturator.

I. Diagnosa Banding
a. Keganasan : limfoma, retroperitoneal sarcoma, metastasis, tumor testis
b. Penyakit testis primer: varicocele, epididimitis, torsio testis, hidrokel,
testis ectopic, undescenden testis

14

c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.

Aneurisma artery femoralis


Nodus limfatikus
Kista limfatikus
Kista sebasea
Psoas abses
Hematoma
Ascites

J. Penanganan
Operasi elektif dilakukan untuk mengurangi gejala dan mencegah
komplikasi seperti inkaserasi dan strangulasi. Pengobatan non operatif
direkomendasikan hanya pada hernia yang asimptomatik. Prinsip utama
operasi hernia adalah herniotomy: membuka dan memotong kantong hernia.
Herniorraphy: memperbaiki dinding posterior abdomen kanalis ingunalis.1,4
Herniotomy
Insisi 1-2 cm diatas ligamentum inguinal dan aponeurosis obliqus
eksterna dibuka sepanjang kanalis inguinalis eksterna. Kantong hernia
dipisahkan dari m.creamester secara hati-hati sampai ke kanalis inguinalis
internus, kantong hernia dibuka, lihat isinya dan kembalikan ke kavum
abdomen kemudian hernia dipotong. Pada anak-anak cukup hanya melakukan
herniotomy dan tidak memerlukan herniorrhapy.1,4
Herniorrhapy
Dinding posterior diperkuat dengan menggunakan jahitan atau nonabsorbable mesh dengan tekhnik yang berbeda-beda. Meskipun tekhnik
operasi dapat bermacam-macam tekhnik bassini dan shouldice paling banyak
digunakan. Teknik operasi liechtenstein dengan menggunakan mesh diatas
defek mempunyai angka rekurensi yang rendah.1,4
K. Komplikasi
Komplikasi hernia bergantung pada keadaan yang dialami oleh isi
hernia. Isi hernia dapat tertahan dalam kantong hernia pada hernia irreponibel;
ini dapat terjadi kalau hernia terlalu besar atau terdiri dari omentum, organ

15

ektraperitoneal (hernia geser) atau hernia akreta. Disini tidak timbul gejala
klinik kecuali berupa benjolan. Dapat pula terjadi isi hernia tercekik oleh
cincin hernia sehingga terjadi hernia strangulate yang menimbulkan gejala
obstruksi usus yang sederhana. Sumbatan dapat terjadi total atau parsial
seperti pada hernia richter. Bila cincin hernia sempit, kurang elastis atau lebih
kaku seperti pada hernia femoralis dan hernia obturatoria, lebih sering terjadi
jepitan parsial. Jarang terjadi inkarserasi retrograde yaitu dua segmen usus
terperangkap didalam kantong hernia dan satu segmen lainnya berada dalam
rongga peritoneum seperti huruf W.4
Jepitan hernia akan menyebabkan gangguan perfusi jaringan isi
hernia. Pada permulaaan terjadi bendungan vena sehingga terjadi udem organ
atau struktur didalam hernia dan transudasi kedalam kantong hernia.
Timbulnya udem menyebabkan jepitan pada cincin hernia makin bertambah
sehingga akhirnya peredaran darah jaringan terganggu. Isi hernia menjadi
nekrosis dan kantong hernia berisi transudat berupa cairan serosanguinus.
Kalau isi hernia terdiri dari usus, dapat terjadi perforasi yang akhirnya dapat
menimbulkan abses local, fistel atau peritonitis jika terjadi hubungan dengan
rongga perut.4
L. Prognosis
Tergantung dari umur penderita, ukuran hernia serta kondisi dari isi
kantong hernia. Prognosis baik jika infeksi luka, obstruksi usus segera
ditangani. Penyulit pasca bedah seperti nyeri pasca herniorraphy, atrofi testis
dan rekurensi hernia umumnya dapat diatasi.
BAB III
LAPORAN KASUS

A Identitas
Nama

: S.A

Umur

: 69 tahun

16

Jenis Kelamin

: Laki-laki

Pendidikan

: SMP

Pekerjaan

: Petani

Alamat

: Solamandung II RT/RW -/001 Kec. Bolaang Kab.


Bolaang Mongondou, Prov. SULUT

Bangsa

: Indonesia

Agama

: Islam

No Rekam Medik

: 43.06.49

MRS

:27 November 2014 jam 01:43 wita

Anamnesis
Anamnesis utama
Anamnesis diberikan oleh penderita
Keluhan utama:
Penderita datang dengan keluhan benjolan dilipatan paha kanan
sampai kantong buah zakar
Riwayat penyakit sekarang :
Penderita merasa ada benjolan di daerah lipatan paha sebelah
kanan sampai kantong buah zakar sejak + 8 bulan lalu. Awalnya benjolan
timbul di daerah lipatan paha pada + 3 tahun yang lalu. Benjolan keluar
bila penderita mengedan atau mengangkat beban berat dan masuk saat
penderita beristirahat dalam posisi tiduran. Benjolan dirasakan semakin
membesar hingga ke daerah kantong buah zakar, sejak 8 bulan lalu
benjolan tidak dapat masuk kembali tanpa disertai nyeri, mual (-), muntah
(-), buang angin + 8 jam SMRS, buang air besar biasa terakhir + 1 hari
SMRS dan buang air kecil biasa, nyeri dan harus mengedan saat buang air
kecil disangkal penderita, pancaran kencing lancar dan tidak terputusputus, sesudah kencing terasa lampias, kencing masih bisa ditahan oleh
penderita, kencing malam hari 2 kali dalam semalam. Kemudian
penderita memeriksakan kondisinya ke dokter puskesmas bolaang, oleh

17

dokter mendiagnosa penderita mengalami hernia inguinalis lateralis


dekstra. Oleh dokter penderita disarankan untuk melakukan operasi.
Awalnya penderita dirujuk ke rumah sakit Kotamubagu yang selanjutnya
penderita diberi rujukan ke RSUP Prof. Dr. R.D Kandou Malalayang
Manado.
Riwayat penyakit dahulu
Riwayat penyakit jantung, paru, hati, ginjal, kencing manis dan
darah tinggi disangkal penderita.
Riwayat Keluarga
Hanya penderita yang sakit seperti ini dalam keluarga.
Keadaan Sosial, Ekonomi, Kebiasaan dan Lingkungan
Penderita memiliki pekerjaan petani kebiasaan mengangkat beban berat
saat bekerja seperti hasil panen.
Penderita tinggal di rumah permanen 2 lantai beratap seng, lantai keramik,
dinding beton. Rumah di huni oleh 3 orang yang terdiri dari 3 orang
dewasa,. WC dan kamar mandi di dalam rumah.
Sumber air minum
: Sumur
Sumber penerangan listrik
: PLN
Penanganan sampah
:Dibuang pada tempat pembuangan sampah
dan dibakar

M. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan Fisik Umum
Keadaan Umum
: Cukup
Kesadaran
: Compos Mentis
Tekanan Darah

: 120/80 mmHg

Nadi

: 82x/menit

Respirasi

: 20x/menit

Suhu

: 36,7C

GCS

: E4V5M6

Berat Badan

: 80 kg

18

Tinggi Badan
: 170 cm
Kepala
Kepala berbentuk simetris. Kedua konjungtiva tidak anemis, sklera tidak
ikterik. Telinga berbentuk normal dan tidak ada sekret yang keluar dari
liang telinga. Hidung berbentuk normal dengan kedua septum intak, tidak
ada sekret yang keluar dari hidung. Pada gigi ditemukan adanya karies
dentis. Tonsil T1/T1 tidak hiperemis, faring tidak hiperemis.
Leher
Trakea letak tengah. Tidak ditemukan adanya pembesaran kelenjar getah
bening di leher.
Dada
Bentuk simetris normal.
Jantung
Bunyi jantung I dan II normal, bising jantung tidak ada.
Paru-paru
Suara pernapasan vesikuler, tidak ditemukan adanya ronkhi dan wheezing
di kedua lapangan paru.
Abdomen
Inspeksi
: datar
Auskultasi
: bising usus (+) normal
Palpasi
: lemas, nyeri tekan (-)
Perkusi
: timpani
Status Lokalis
Regio Inguinalis dekstra :
Inspeksi

: benjolan(+) ukuran 5x7 cm batas tidak tegas,


warna sama dengan daerah sekitarnya, benjolan
tidak masuk ke intraabdominal saat pasien posisi
berbaring/tidur.

Palpasi

: teraba massa (+) kenyal, nyeri tekan (-)


Pemeriksaan finger test tidak dilakukan karena
adanya massa pada anulus inguinalis profundus.

Regio Skrotum dekstra :


Inspeksi

: benjolan(+) ukuran + 15 x 10 cm, gerakan


peristaltik usus (+) warna sama dengan daerah
sekitarnya, benjolan tidak masuk ke intraabdominal

Palpasi
Auskultasi
Lain-lain

saat pasien posisi berbaring/tidur.


: testis +/+, teraba massa (+) kenyal
: BU (+)
: transluminasi test (-)
19

Rectal Toucher
TSA cekat, ampula kosong, mukosa licin, NT (-), prostat pole tidak teraba.
Sarung tangan: feses (-), lendir (-), darah (-)
Anggota gerak
Edema pada kedua tungkai tidak ada, varises tidak ada.
Refleks
Refleks fisiologis positif normal, tidak terdapat refleks patologis.
Kulit
Turgor kulit (+) normal.
N. Resume Masuk
Laki-laki, usia 69 tahun tanggal 27 november 2014 datang ke
RSUP prof Kandou dengan keluhan benjolan dilipatan paha kanan sampai
kantong buah zakar. benjolan dialami sejak + 8 bulan. Awalnya benjolan
timbul di daerah lipatan paha pada + 3 tahun yang lalu. Benjolan keluar
bila penderita mengedan atau mengangkat beban berat dan masuk saat
penderita beristirahat dalam posisi tiduran. Benjolan dirasakan semakin
membesar hingga ke daerah kantong buah zakar, sejak 8 bulan lalu
benjolan tidak dapat masuk kembali tanpa disertai nyeri, mual (-), muntah
(-), buang angin + 8 jam SMRS, buang air besar biasa terakhir + 1 hari
SMRS dan buang air kecil biasa, nyeri dan harus mengedan saat buang air
kecil disangkal penderita, pancaran kencing lancar dan tidak terputusputus, sesudah kencing terasa lampias, kencing masih bisa ditahan oleh
penderita, kencing malam hari 2 kali dalam semalam.
O. Diagnosa Kerja
Hernia inguinalis lateral dekstra irreponibel
P. Sikap/ Terapi/ Rencana
IVFD RL 20 gtt/mnt
Ceftriaxone 1gr 2 x 1 IV
Ranitidine 1 mg 3 x 1 IV
Herniotomy + MESH elektif
Masuk rumah sakit.
Cek Darah Lengkap, GDS, SGOT, SGPT, Ur, Kr, Na, K, Cl
X-Foto thorax
EKG

20

Q. Follow Up Ruangan
27 November 2014 Jam 08.30
S
:O
: Keadaan umum
: tampak sakit sedang
Kesadaran
: compos mentis
Tekanan darah
: 100/60 mmHg
Nadi
: 72 x/menit
Respirasi
: 22 x/menit
Suhu badan
: 36,5 C
Kepala
: conjungtiva anemis (-) sklera ikterus (-)
Abdomen :
Inspeksi
: datar
Palpasi
: lemas, nyeri tekan (-)
Auskultasi
: BU (+) Normal
Perkusi
: tympani
Status Lokalis :
Regio Inguinalis dekstra :
Inspeksi

: benjolan(+) ukuran 5x7 cm batas tidak


tegas,

warna

sekitarnya,

sama

benjolan

intraabdominal

saat

dengan
tidak

daerah

masuk

pasien

ke

posisi

berbaring/tidur.
Palpasi

: teraba massa (+) kenyal, nyeri tekan (-)


Pemeriksaan finger test jari tidak dilakukan

karena adanya massa.


Regio Skrotum dekstra :
Inspeksi
: benjolan (+) ukuran + 15 x 10 cm,
gerakan peristaltik usus (+) warna sama
dengan daerah sekitarnya, benjolan tidak
masuk ke intraabdominal saat pasien posisi
Palpasi
Auskultasi
Lain-lain
A

berbaring/tidur.
: testis +/+, teraba massa (+) kenyal
: BU (+)
: transluminasi test (-)

: Hernia inguinalis lateralis dekstra irreponibel


P
: IVFD RL 20 gtt/m
- Ceftriaxone 2x1gr IV
- Ranitidin inj 3 x 1 amp IV
- konsul Anestesi
21

- pre OP : ACC operasi


Pemeriksaan Laboratorium (27 November 2014)
Hematologi
MCH
: 30,2 pg
MCHC
: 32,6 g/dl
MCV
: 92,6 fl
Leukosit
: 11.300/mm3
Eritrosit
: 3,67 x106/mm3
Hemoglobin
: 11,1 gr/dL
Hematokrit
: 34 %
Trombosit
: 121 x103/mm3
Kimia darah
Glukosa darah sewaktu
: 81 mg/dl
Creatinin darah
: 1,3 mg/dl
Ureum darah
: 55 mg/dl
Natrium darah
: 139 mmol/L
Kalium darah
: 3,5 mmol/L
Chlorida darah
: 109 mmol/L
Fungsi Hepar
SGOT
SGPT

: 24 mg/dL
: 12 mg/dL

EKG (27 November 2014)


Kesan : dalam batas normal
X-foto thorax (27 November 2014)
Kesan : dalam batas normal
28 November 2014
S
:O
: Keadaan umum
: tampak sakit sedang
Kesadaran
: compos mentis
Tekanan darah
: 100/60 mmHg
Nadi
: 72 x/menit
Respirasi
: 22 x/menit
Suhu badan
: 36,5 C
Kepala
: conjungtiva anemis (-) sklera ikterus (-)
Abdomen :
Inspeksi : datar
Palpasi
: lemas, nyeri tekan (-)
Auskultasi : BU (+) normal
Perkusi : tympani
Status Lokalis :
Regio Inguinalis dekstra :

22

Inspeksi

: benjolan(+) ukuran 5x7 cm batas tidak tegas,


warna sama dengan daerah sekitarnya, benjolan
tidak masuk ke intraabdominal saat pasien posisi
berbaring/tidur.

Palpasi

: teraba massa (+) kenyal, nyeri tekan (-)


Pemeriksaan finger test tidak dilakukan karena
adanya massa.

Regio Skrotum dekstra :


Inspeksi

: benjolam (+) ukuran + 15 x 10 cm, gerakan


peristaltik usus (+) warna sama dengan daerah
sekitarnya, benjolan tidak masuk ke intraabdominal

Palpasi
Auskultasi
Lain-lain

saat pasien posisi berbaring/tidur.


: testis +/+, teraba massa (+) kenyal
: BU (+)
: transluminasi test (-)

A : Hernia inguinalis lateralis dekstra irreponibel


P : IVFD RL 20 gtt/m
- Ceftriaxone 2x1gr IV
- Ranitidin inj 3 x 1 amp IV
- Operasi hari ini
R. Laporan Operasi
-

Penderita dalam posisi tidur terlentang (supine) dan dilakukan spinal

anestesi
A dan Antiseptik lapangan operasi
Pemasangan doek steril untuk mempersempit lapangan operasi
Dilakukan insisi oblique 2 cm medial sias sampai tuberkulum

pubikum
Insisi diperdalam sampai tampak aponeurosis MOE (Muskulus

Obligus Abdominis Eksternus)


Aponeurosis MOE dibuka secara tajam
Funikulus spermatikus dibebaskan dari jaringan sekitarnya dan dikait
pita dan kantong hernia diidentifikasi. Kantung hernia dibuka tampak

usus halus I loop + 20cm. Viabel


Isi kantung hernia dimasukan kembali ke dalam rongga abdomen,
Perdarahan dirawat, dilakukan herniotomi lanjut pemasangan MESH
difiksasi pada tubekulum pubikum, conjoint tendon dan sekitar anulus
inguinal internus.
23

kontrol perdarahan
Luka operasi ditutup lapis demi lapis
Operasi selesai

Operasi mulai
Operasi selesai
Lama operasi
KU post Operasi
Perdarahan
Diuresis
Diagnosa Post Op
Terapi

: 19.45 WITA
: 21.45 WITA
: 2 jam
: T: 130/90 mmHg, N: 80 x/m, R: 24 x/m, S; 36,8oC
: 30 cc
: 65 cc
: Hernia inguinalis lateralis dekstra irreponibel post
hernioplasty (herniotomi dan MESH)
: IVFD RL 20 gtt/menit
- Ceftriaxone 1gr 2 x 1 IV
- Ranitidine 1 mg 3 x 1 IV
- Ketorolac 3% 1 mg 3 x 1 IV
- Cek DL post operasi
- Puasa sampai bising usus (+)

24

S.

Follow Up Ruangan

29 November 2014
S

: nyeri luka operasi (+) BAB (-), Flatus (+)

: Keadaan umum

: tampak sakit sedang

Kesadaran

: compos mentis

Tekanan darah

: 100/60 mmHg

Nadi

: 72 x/menit

Respirasi

: 22 x/menit

Suhu badan

: 36,5 C

Kepala

: conjungtiva anemis (-) sklera ikterus (-)

Abdomen :
Inspeksi : datar
Palpasi : lemas, nyeri tekan (-)
Auskultasi: BU (+)
Perkusi : tympani
Status lokalis :
Regio Ingunalis dekstra : Luka operasi tertutup verband,
rembesan darah (+), nyeri (+)
Verban (+), nyeri (+)
darah (+) pus (-)

: Hernia inguinalis lateralis dekstra irreponibel post post herniotomy +


MESH (H1)

: IVFD RL 20 gtt/m
-ceftriaxone 2x1gr IV
- Ranitidin inj 3 x 1 amp IV
- Ketorolac 3% inj 3 x1 amp IV
- Asam tranexamat 3 x1 amp IV

25

- diet air putih sedikit-sedikit


- rawat luka
- aff kateter
Pemeriksaan Laboratorium (28 November 2014)
Hematologi
MCH
: 31,2 pg
MCHC
: 33,1 g/dl
MCV
: 91,2 fl
Leukosit
: 12.100/mm3
Eritrosit
: 3,87 x106/mm3
Hemoglobin
: 10,8 gr/dL
Hematokrit
: 34 %
Trombosit
: 118 x103/mm3
30 November 2014
S

: nyeri luka operasi (+), BAB (+)

: tampak sakit sedang


Kesadaran

: compos mentis

Tekanan darah

: 100/60 mmHg

Nadi

Respirasi

: 22 x/menit

Suhu badan : 36,5 C

Kepala

: conjungtiva anemis (-) sklera ikterus (-)

: 72 x/menit

Abdomen :
Inspeksi

: datar

Palpasi

: lemas, nyeri tekan (-)

Auskultasi

: BU (+)

Perkusi

: tympani

Status lokalis :
Regio Ingunalis dekstra : Luka operasi terawat tertutup verband,
rembesan darah (-), nyeri (+)
Verban (+), nyeri (+)
darah (-) pus (-)

26

: Hernia inguinalis lateralis dekstra irreponibel post herniotomy +


MESH(H2)

: -cefadroxil tab 3x 500mg


- Ranitidin tab 3 x 150 mg
- ibu profen tab 3x200mg
- diet lunak
- rawat luka
- aff infus

1 Desember 2014
S

: nyeri luka operasi (+) , BAB (+)

: tampak sakit sedang


Kesadaran

: compos mentis

Tekanan darah

: 100/60 mmHg

Nadi

Respirasi

: 22 x/menit

Suhu badan : 36,5 C

Kepala

: conjungtiva anemis (-) sklera ikterus (-)

: 72 x/menit

Abdomen :
Inspeksi

: datar

Palpasi

: lemas, nyeri tekan (-)

Auskultasi

: BU (+)

Perkusi

: tympani

Status lokalis :
Regio Ingunalis dekstra : Luka operasi terawat tertutup verband,
rembesan darah (-), nyeri (+)

Verban (+), nyeri (+)


darah (-) pus (-)

: Hernia inguinalis lateralis dekstra irreponibel post post herniotomy +


MESH (H3)

27

: -cefadroxil tab 3x 500mg


- Ranitidin tab 3 x 150 mg
- ibu profen tab 3x200mg
- rawat luka
- rawat jalan

BAB IV
PEMBAHASAN

A Diagnosis
Seorang laki-laki, usia 69 tahun datang ke RSUP prof Kandou dengan
keluhan benjolan dilipatan paha kanan sampai kantong buah zakar. Awalnya
benjolan timbul di daerah lipatan paha pada + 3 tahun yang lalu. Benjolan
keluar bila penderita mengedan atau mengangkat beban berat dan masuk saat
penderita beristirahat dalam posisi tiduran. Benjolan dirasakan semakin
membesar hingga ke daerah kantong buah zakar, sejak 8 bulan lalu benjolan
tidak dapat masuk kembali tanpa disertai nyeri, mual (-), muntah (-), buang
angin + 8 jam SMRS, buang air besar biasa terakhir + 1 hari SMRS dan
buang air kecil biasa, nyeri dan harus mengedan saat buang air kecil
disangkal penderita, pancaran kencing lancar dan tidak terputus-putus,
sesudah kencing terasa lampias, kencing masih bisa ditahan oleh penderita,
kencing malam hari 2 kali dalam semalam. Penderita memiliki kebiasaan
mengangkat beban berat saat bekerja.
Dari pemeriksaan fisik ditemukan di regio ingunalis dekstra adanya
benjolan dengan ukuran + 5x7 cm, batas atas tidak tegas, kenyal, tidak ada
nyeri tekan, warna benjolan sama dengan daerah sekitarnya. Sedangkan
diregio skrotum dekstra tampak pembengkakan ukuran + 15 x 10 cm warna
sama

dengan

daerah

sekitarnya,

28

adanya

gerakan

peristaltik

usus,

Transluminasi test (-), teraba massa konsistensi kenyal, saat diauskultasi


terdengar bunyi usus (+).
Berdasarkan kepustakaan hernia ingunalis lebih banyak ditemukan
pada pria daripada wanita. Hal ini dikarenakan hernia ingunalis pada pria
dipengaruhi oleh umur dan penyebab pasti hernia inguinalis terletak pada
lemahnya dinding, akibat perubahan struktur fisik dari dinding rongga (usia
lanjut), peningkatan tekanan intra abdomen (kegemukan, batuk yang kuat dan
kronis, mengedan akibat sembelit, mengangkat beban berat dll).1,3
Keluhan batuk lama disangkal pasien namun pekerjaan penderita sebagai
petani sering mengangkat beban berat seperti hasil panen dimana ini akan
meningkatkan tekanan intra abdomen dan menjadi salah satu faktor
predisposisi terjadinya hernia tidak buang angin dan susah buang air besar
disangkal pasien sehingga kita bisa menyingkirkan kemungkinan inkarserata
(hernia yang disertai gangguan pasase) pada pasien ini.
Pemeriksaan fisik yang dilakukan pada pasien juga mendukung diagnosis
hernia inguinal irreponible dekstra dimana pada daerah inguinal kanan
ditemukan benjolan dari inguinal kanan ke skrotum, berbentuk lonjong dimana
ini menandakan hernia inguinalis lateralis. Benjolan juga kenyal. Warna kulit
sama dengan warna kulit di sekitarnya ( menyingkirkan adanya radang).
Dari

pemeriksaan

penunjang

seperti

pemeriksaan

laboratorium

ditemukan leukositosis 13.100. EKG dan roentgen thorax tidak ditemukan


adanya kelainan sehingga diagnosis hernia scrotalis dekstra irreponible bisa
ditegakkan.

T. Penanganan
Penanganan pada pasien ini dilakukan operasi Herniotomy dan
hernioplasthy. Operasi elektif dilakukan untuk mengurangi gejala dan
mencegah komplikasi seperti inkarserata dan strangulasi. Pengobatan non
operatif direkomendasikan hanya pada hernia yang asimptomatik.1,4
Herniotomy dengan menginsisi 1-2 cm diatas ligamentum inguinal
dan aponeurosis obliqus eksterna dibuka sepanjang kanalis inguinalis
eksterna. Kantong hernia dipisahkan dari m.cremaster secara hati-hati sampai

29

ke kanalis inguinalis internus, kantong hernia dibuka, lihat isinya dan


kembalikan ke kavum abdomen kemudian hernia dipotong.1,4
Pada pasien ini dilakukan herniorrhapy dengan dinding posterior di
perkuat

dengan

menggunakan

menggunakan

mesh.

Teknik

operasi

liechtenstein dengan menggunakan mesh, dapat menghasilkan defek yang


mempunyai angka rekurensi rendah.1,4

U. Komplikasi
Komplikasi akibat tidakan operatif. Kebanyakan komplikasi yang
mengikuti hernia adalah komplikasi prosedur intra-abdomen dan ditemukan
di tempat-tempat yang sesuai, seperti: infeksi luka, abses residual, sumbatan
usus akut, ileus paralitik, fistula tinja eksternal, fistula tinja internal, dan
perdarahan. Jarang menimbulkan kematian.
V. Prognosis
Prognosis pada kasus ini adalah dubia ad bonam, Dikarenakan
penderita hernia inguinalis lateral dekstra irreponible yang tidak disertai
komplikasi dan penanganan yang tepat dan baik maka prognosis penderita ini
baik. Selain itu pada follow up tidak didapatkan keluhan yang berarti dan

penderita dipulangkan dengan kondisi baik.

30

BAB V
KESIMPULAN

Penderita pada kasus ini didiagnosis dengan hernia inguinalis lateralis


dekstra irreponibel yang ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik
dan pemeriksaan penunjang.
Diagnosis hernia inguinalis lateralis dekstra irreponibel didapatkan dari
keluhan benjolan di daerah lipatan paha sebelah kanan sampai kantong buah
zakar. Benjolan semakin lama semakin membesar dan tidak mengecil saat
penderita tidur, tidak disertai nyeri, tidak ada mual dan muntah,buang angin ada,
buang air besar dan buang air kecil biasa.
Pada prinsipnya penanganan utama hernia inguinalis pada usia lanjut
dengan operasi hernia adalah herniotomy dan pemasangan MESH untuk
mengurangi gejala dan mencegah komplikasi.
Prognosis pada kasus ini adalah dubia ad bonam, karena operasi berjalan
dengan lancar tanpa komplikasi serta obstruksi usus segera ditangani. Selain itu
pada follow up tidak didapatkan keluhan yang berarti dan penderita dipulangkan
dengan kondisi baik.

31

DAFTAR PUSTAKA

1. Townsend, Courtney M. 2004. Hernias. Sabiston Textbook of Surgery. 17th


Edition. Philadelphia. Elsevier Saunders. 1199-1217.
2. Widjaja, H, Anatomi abdomen, Jakarta, EGC, 2007, Hal : 21-25.
3. Sjamsuhidayat R, Wim de Jong, 2005, Buku Ajar Ilmu Bedah, Edisi 2,
Jakarta, EGC,Hal: 523-537.
4. Dr. P. Bhatia & Dr. S. J. John. Laparoscopic Hernia Repair (a step by step
approach). Edisi I. Penerbit Global Digital Services, Bhatia Global Hospital
& Endosurgery Institute. New Delhi. 2003. (Ebook, di akses 10 juli 2010)
5. A. Mansjoer, Suprohaita, W.K. Wardhani, W. Setiowulan. Kapita Selekta
Kedokteran. Edisi III, Jilid II. Penerbit Media Aesculapius, Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta. 2000. Hal 313-317
6. H G, Burhitt & O.R.G. Quick. Essential Surgery . Edisi III. 2003. Hal 348356
7. Brunicardi, F Charles. 2005. Inguinal Hernias. Schwartzs Principles of
Surgery. Eighth edition. New York. Mc Graw-Hill. 1353-1394.
8. Henry MM, Thompson JN , 2005, Principles of Surgery, 2 nd edition, Elsevier
Saunders, page 431-445
9. C. Palanivelu. Operative Manual ofLaparoscopic Hernia Surgery. Edisi I.
Penerbit GEM Foundation. 2004. Hal 39-58.

32

DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN.................................................................................................1
BAB II TINJAUAN PUSTAKA........................................................................................2
A.

Anatomi dan Fisiologi............................................................................................2

B.

Definisi...................................................................................................................6

C.

Klasifikasi Hernia...................................................................................................6

D.

Etiologi...................................................................................................................9

E.

Patofisiologi Hernia Inguinalis Lateralis..............................................................10

F.

Gambaran Klinis...................................................................................................11

G.

Diagnosa...............................................................................................................12

H.

Pemeriksaan Penunjang........................................................................................14

I.

Diagnosa Banding................................................................................................15

J.

Penanganan..........................................................................................................15

K.

Komplikasi...........................................................................................................16

L.

Prognosis..............................................................................................................16

BAB III LAPORAN KASUS...........................................................................................17


A.

Identitas................................................................................................................17

B.

Pemeriksaan Fisik................................................................................................19

C.

Resume Masuk.....................................................................................................20

D.

Diagnosa Kerja.....................................................................................................21

E.

Sikap/ Terapi/ Rencana.........................................................................................21

F.

Laporan Operasi...................................................................................................23

G.

Follow Up Ruangan..............................................................................................26

BAB IV PEMBAHASAN................................................................................................30
A.

Diagnosis..............................................................................................................30

B.

Penanganan..........................................................................................................31

C.

Komplikasi...........................................................................................................32

D.

Prognosis..............................................................................................................32

BAB V KESIMPULAN..................................................................................................32
DAFTAR PUSTAKA.......................................................................................................34

33